Anda di halaman 1dari 18

i

ANALISIS SUMBER DAYA ALAM DALAM KONTEKS PERMASALAHAN


LINGKUNGAN
DAERAH STUDI KAB. KUANTAN SINGINGI

Disusun oleh :
Muhamad Indra Kurnia
#173410075

5 B Planologi

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota


Fakultas Teknik
Universitas Islam Riau
Pekanbaru
2020
i

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadiran ALLAH SUBHANAHU WA
TA’ALA,berkat rahmat dan hidayah-Nya, makalah yang berjudul “ANALISIS SUMBER
DAYA ALAM DALAM KONTEKS PERMASALAHAN LINGKUNGAN “ selesai penulis
rangkum dan disusun berdasarkan pemikiran dari penulis serta beberapa referensi jurnal,
untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisi Sumber Daya dan Lingkungan.

Makalah ini di buat dan di susun dengan tujuan,mahasiswa maupun pembaca dapat
memahami dan dapat mengetahui tentang bagaimana sumber daya alam dan lingkungan
yang menjadi sumber pendapatan masyarakat maupun daerah khususnya di Provinsi Riau
memiliki sejumlah permasalahan yang sangat serius.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang telah membantu dalam


proses penyusunan makalah ini, jika masih banyak terdapat kekurangan di dalamnya, maka
untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari para pembaca
agar makalah ini lebih baik ke depannya.

Pekanbaru, 6 Januari 2020

(Penulis)
ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I.........................................................................................................................................1

PENDAHULUAN.....................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................4

1.3 Tujuan Penulisan Makalah..........................................................................................4

BAB II.......................................................................................................................................5

PEMBAHASAN.......................................................................................................................5

2.1 SDA Dan Permasalahan Pemanfaatannya........................................................................5

2.2 Pengertian Pertambangan.................................................................................................5

2.3 Pengertian Pencemaran Lingkungan................................................................................5

2.4 Studi Kasus (Dampak Peti di Kuansing)..........................................................................6

2.5 Solusi Peti di Riau..........................................................................................................11

BAB III....................................................................................................................................13

PENUTUP...............................................................................................................................13

3.1 Simpulan.........................................................................................................................13

3.2 Saran...............................................................................................................................14

DAFTAR PUSAKA................................................................................................................15
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber daya alam (SDA) merupakan sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk
berbagai kepentingan dan memenuhi kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih
sejahtera. Sumber daya alam terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air,
permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya, dimana sumberdaya alam ada yang
dapat di perbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui.

Indonesia merupakan negara dengan keragaman sumberdaya alam yang


melimpah dengan dilewati oleh garis katulistiwa yang menjadikan wilayah
Indonesia memiliki iklim tropis, sehingga berdampak pada luasnya hutan hujan
tropis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, selain itu Negara Indonesia
memilik banyak gunung api yang masih aktif berdampak pada kesuburan tanah,
Indonesia juga dihimpit oleh dua samudera menambah keragamannya sumber
hayati yang tersedia. Melimpahnya sumber daya alam yang tersedia belum banyak
dimanfaatkan secara menyeluruh oleh berbagai pihak. Dimana pembangunana
yang semakin meningkat, dan diiringi dengan bertambahnya jumlah penduduk
yang berdapak pada peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya
yang semakin meningkat.
Hal tersebutlah yang mneyebabkan kenaikan yang begitu besar akan
ketergantungan hasil tambang,baik minyak,batubara,emas,ataupun gas. Semakin
besar skala kegiatan pertambangan,makin besar pula areaa dampak yang
ditimbulkan. Perubahan lingkungan akibat kegiaaatan pertambangan dapat
bersifat permanen,atau tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula.
Pencemaran lingkungan adalah suatu keadaan yang terjadi karena perubahan
kondisi tata lingkungan (tanah, udara dan air) yang tidak menguntungkan
(merusak dan merugikan kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan) yang
disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing (seperti sampah, limbah industri,
minyak, logam berbahaya, dsb.) sebagai akibat perbuatan manusia, sehingga
mengakibatkan lingkungan tersebut tidak berfungsi seperti semula.
2

PETI atau yang sering kita sebut penambangan liar memang kini menjadi
ancaman bagi kehidupan masyarakat yang mengandalkan kehidupannya dari
sektor perikanan. Itu sebabnya petani keramba, petani kolam pembenihan rakyat,
bahkan Balai Benih Ikan Teso mengaku aktifitasnya sudah tersendat-sendat.
Malah hasil penelitian kualitas air di Balai Benih Ikan Teso dan di aliran anak-
anak Sungai sekitaran lokasi menunjukkan logam berat seperti Merkuri/Air raksa
(Hg) jauh diambang baku mutu. Dalam waktu tertentu, logam merkuri akan
terakumulasi pada biota perairan, baik tumbuhan maupunhewannya. Kondisi ini
harus diwaspadai. Banyak laporan yang terkait dengan kasus pencemaran
Merkuri, dan dikenal dengan Penyakit Minamata. Penyakit Minamata adalah
penyakit syaraf yang disebabkan oleh racun metilmerkuri. Gejala awal adalah
mati rasa anggota badan dan daerah sekitar tumit, gangguan panca indera dan
kesulitan dalam melakukan aktifitas seharihari. Selain itu penderita juga
mengalami kurangnya koordinasi antar syaraf, lemah dan tremor, kemampuan
berbicara lemah dan lambat serta kemampuan pandangan dan pendengaran
kurang. Penyakit tersebu memburuk dan menyebabkan kelumpuhan, pergerakan
di luar kesadaran, kerusakan otak serta kematian.

Pada tingkat ringan, penderita mengeluh mulutnya kebal sehingga tidak peka
terhadap rasa dan suhu, hidung tidak peka bau, mudah lelah dan sering sakit
kepala. Pada tingkat berat penderita terserang sarafnya, termasuk otak, sehingga
tidak bisa mengendalikan gerakan tangan dan kakinya, telinga berdering sampai
tuli, daya pandang mata menyempit, dan bicara susah. Hal yang mengerikan
banyak bayi yang dilahirkan dengan cacat bawaan. Metil merkuri berbahaya
memang bagi wanita hamil.

Di lain kisah, Juli 2003 penambang emas tradisional di daerah Wonogiri


menggunakan merkuri yang berwarna putih untuk memisahkan emas dari logam
yang lain. Merkuri yang berwarna putih keperakan dan cair akan mengikat emas,
sedang logam yang lain akan tersisihkan. Campuran merkuri dan emas
ditempatkan pada satu cawan yang terbuat dari keramik. Pada cawan
dihembuskan nyala api. Jarak antara nyala api dengan hidung orang kurang lebih
10 cm. Pada saat nyala api membakar campuran merkuri dan emas, cairan merkuri
menguap dan logam emas tertinggal. Pada saat logam merkuri menguap, sangat
3

dimungkinkan uap merkuri akan terhisap oleh pekerja. Apabila paparan ini terus
berlanjut akan mengakibatkan keracunan dan kematian.

Disamping itu kegiatan PETI di Kuansing sebenarnya telah lama terjadi.


Namun kini kondisinya lebih parah lagi. Mengingat para pelaku PETI di Jambi
juga turut hijrah ke Kuansing. Mengingat sejak dua tahun lalu, aktivitas di Sungai
Batanghari dihentikan oleh seluruh terkait di Provinsi itu. Karena ada ancaman
dari Departemen Kelautan dan Perikanan memfinalti Dinas Perikanan dan
Kelautan Jambi, bahwa dana APBN tidak akan mengucur untuk pengembangan
keramba selagi ada aktifitas PETI.

Maraknya PETI dan menyadari dampak buruk aktivitas itu bagi lingkungan
dan manusia, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kuansing sudah melaporkan hal
tersebut kepada aparat setempat. Berbagai rapat koordinasi di Kabupaten telah
berkali dilakukan. Hingga akhirnya ada delapan poin kesepakatan di tingkat
Pemkab Kuansing. Intinya PETI harus dihentikan, penambang akan dibina, dan
yang penambang lokal akan dialihkerjakan ke sektor lain
4

1.2 Rumusan Masalah.


Berdasarkan pada latar belakang yang telah di jelaskan maka dapat dibuat
perumusan masalah sebagai berikut;
1. Apa hubungan SDA dan pencemarannya
2. Apa pengertian pencemaran lingkungan.
3. Dampak peti terhadap lingkungan dan masyarakat di Taluk Kuantan
4. Solusi aktifitas peti di Riau

1.3 Tujuan Penulisan Makalah.


Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penulisan ini adalah untuk:
1. Mengetahui apa itu masalah dalam SDA
2. Mengetahui apa itu pertambangan liar/peti.
3. Mengetahui dampak peti terhadap lingkungan.
4. Mengetahui solusi yang dicapai untuk memberantas peti.
5

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SDA Dan Permasalahan Pemanfaatannya


Sumber daya alam yang jumlahnya semakin terbatas dan mengalami
kerusakan merupakan suatu kendala bagi berlangsungnya pembangunan
nasional.Oleh karena itu, dalam menangani persoalan tersebut harus mendapatkan
perhatian yang serius, karena apabila tidak dilakukan dengan serius justru akan
membahayakan kehidupan manusia itu sendiri.Untuk itu sangatlah penting
melakukan inventarisasi dan evaluasi sumber daya alam agar dalam pemanfaatan
potensi sumber daya alam tersebut, baik sumber daya alam hayati maupun non
hayati lebih hati-hati dan sangat diperlukan bagi pembangunan terutama pada era
industri pabrik maupun pertambangan pada saat ini.
Sumber daya alam sebagai modal dasar dalam pembangunan, memang
harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat
banyak dengan cara-cara yang tidak menimbulkan kerusakan.Cara-cara yang
digunakan hendaknya dapat memelihara dan mengembangkan potensi sumber
daya alam tersebut, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar dalam
menunjang pembangunan.
2.2 Pengertian Pertambangan
Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian,
penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian
(mineral, batubara, panas bumi, migas).Indonesia merupakan salah satu daerah
penghasil tambang batu bara terbesar di dunia.Kegiatan penambangan apabila
dilakukan di kawasan hutan dapat merusak ekosistem hutan. Apabila tidak
dikelola dengan baik, penambangan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan
secara keseluruhan dalam bentuk pencemaran air, tanah dan udara.
2.3 Pengertian Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan adalah suatu keadaan yang terjadi karena
perubahan kondisi tata lingkungan (tanah, udara dan air) yang tidak
menguntungkan (merusak dan merugikan kehidupan manusia, hewan dan
tumbuhan) yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing (seperti sampah,
6

limbah industri, minyak, logam berbahaya, dsb.) sebagai akibat perbuatan


manusia, sehingga mengakibatkan lingkungan tersebut tidak berfungsi seperti
semula.

Sebagai negara yang mempunyai julukan pari-paru dunia, indonesia


mempunyai banyak sekali pulau yang terselimuti oleh hutan lebat. Namun pada
bebrapa dekade belakang ini,banyak negara mengencam akan kelestarian alam
yang terjadi di indonesia. Hal tersebut dikarenakan semakin banyaknya industri-
industri pertambangan yang mulai muncul di indonesia. Tak pelak industri
pertambangan baru tersebut melakukan sesuatu hal yang merusak lingkungan agar
mendapatkan keuntungan yang besar.Berkurangnya sumber keseimbangan alam
seperti hutan, air dan tanah yang subur sebagian besar disebabkan oleh kegiatan
pertambangan yang menghasilkan polutan yang sangat besar sejak awal
eksploitasi sampai proses produksi dan hanya mementingkan keuntungan pribadi
tanpa memperhatikan faktor kelestarian lingkungan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai penduduk terbesar.


Angka pertumbuhan penduduk negara indonesia pun cukup besar, hal tersebutlah
yang mneyebabkan kenaikan yang begitu besar akan ketergantungan hasil
tambang,baik minyak,batubara,emas,ataupun gas. Semakin besar skala kegiatan
pertambangan,makin besar pula areaa dampak yang ditimbulkan. Perubahan
lingkungan akibat kegiaaatan pertambangan dapat bersifat permanen,atau tidak
dapat dikembalikan kepada keadaan semula.

2.4 Studi Kasus (Dampak Peti di Kuansing)


Gambaran jumlah penghasilan masyarakat yang tinggal di DAS sebelum
dan setelah ada aktivitas PETI di Kabupaten Kuantan Singingi, rata-rata terjadi
penurunan dari Rp. 3.300.000,- (tiga juta tiga ratus ribu rupiah) menjadi Rp.
3.104.000,- (tiga juta seratus empat ribu rupiah) per bulan. Hasil uji statistik (Uji
t) didapatkan nilai p 0,001 maka dapat disimpulkan ada pengaruh atau perbedaan
yang signifikan antara penghasilan sebelum bekerja PETI dan sesudah bekerja
PETI, seperti pada gambar berikut.
7

Berdasarkan hasil kuesioner yang diisi oleh responden (masyarakat DAS),


sebanyak 81,9% responden mengatakan bahwa aktivitas PETI ini memberikan
kontribusi terhadap pertumbuhan pembangunan di desa seperti sumbangan untuk
tempat ibadah. Namun 99% responden mengatakan bahwa aktivitas PETI
berpengaruh negatif mengakibatkan terjadinya keresahan dan konflik antara
pelaku PETI dengan aparat keamanan dan terkadang dengan masyarakat sekitar.
Aktivitas PETI juga berpengaruh terhadap penggunaan air sungai untuk kebutuhan
sehari-hari, tidak digunakan lagi sebagai sumber air minum, untuk memasak,
mandi, mencuci pakaian (lihat gambar berikut).

Gambar 6

Data pada gambar di atas, didukung oleh hasil wawancara mendalam


terhadap informan (KBLH2, Camat10 dan KD113), bahwa aktivitas PETI
berpengaruh negatif terhadap penurunan jumlah rata-rata penghasilan masyarakat
sekitar daerah aliran sungai (DAS) yang tidak terlibat aktivitas PETI, sehingga
mereka merasa terganggu dan dirugikan akibat dari aktivitas PETI dan kesulitan
mendapatkan air bersih, masyarakat DAS tidak bisa lagi memanfaatkan air sungai
untuk kebutuhan sehari-hari, seperti untuk air minum/memasak, mandi, mencuci
pakaian dan kakus (MCK), minum ternak, budi daya ikan keramba, ikan sungai
sudah sulit didapat. Masyarakat DAS juga kesulitan mendapatkan ikan sungai,
sehingga mereka terpaksa membeli ikan dari daerah lain seperti dari Kabupaten
Kampar dan Provinsi Sumatera Barat. Aktivitas PETI juga sering menimbulkan
terjadinya konflik antara pelaku PETI dengan aparat keamanan, petugas Pemda
dan petugas perusahaan baik berupa perang mulut, bentrokan fisik, bahkan
terkadang sampai melakukan anarkis/merusak mobil aparat Pemerintah daerah
8

dan membakar bagian gudang perusahaan (PT. DPN) yang ikut melakukan
penertiban PETI.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Mahgfirah et al (2013)


di Desa Sungai Alah Kecamatan Hulu Kuantan Kabupaten Kuansing yang
menyatakan bahwa kegiatan PETI berkontribusi terhadap masyarakat sekitar
berupa bantuan kegiatan desa untuk masyarakat, memberikan alokasi dana untuk
kegiatan jalur, bantuan untuk perbaikan Mushollah, membuat jalan ke tepian
sungai, dan bantuan untuk kegiatan sosial.

Berbeda dengan hasil penelitian Pasaribu (2010) di Kecamatan Batang


Toru, Tapanuli Selatan yang menyatakan bahwa kegiatan penambangan emas
berdampak positif terhadap peningkatan sosial ekonomi masyarakat dilihat dari
meningkatnya pendapatan masyarakat (sekitar 26,56%), terjadi peningkatan
sarana pendidikan, sarana kesehatan dan pengembangan wilayah kecamatan.
Diasumsikan ada perbedaan kriteria responden dan status usaha penambangan
emas. Dalam penelitian ini responden yang dipilih adalah masyarakat yang tinggal
di sekitar daerah aliran sungai dan tidak terlibat dalam aktivitas PETI serta status
usaha penambangan emas illegal milik perorangan. Sedangkan pada penelitian
Pasaribu (2010) menggunakan responden (masyarakat desa) yang berdekatan
dengan perusahaan tambang emas dan tidak menjelaskan secara eksplisit kriteria
responden apakah terlibat atau tidak dengan kegiatan penambangan emas
tersebut. Sangat mungkin responden yang digunakannya adalah bagian dari
keluarga para penambang emas atau ada hubungan kerja dengan kegiatan
penambangan emas sehingga jumlah penghasilannya meningkat.

Hasil penelitian di Kuansing tidak ditemukan pengaruh aktivitas PETI


terhadap peningkatan sarana pendidikan, sarana kesehatan dan pengembangan
wilayah kecamatan seperti yang terjadi di Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Aktivitas PETI di Kuansing hanya menguntungkan para pemodal, pekerja dan
sebagian orang yang ikut terlibat dalam aktivitas PETI, seperti pemilik lahan,
oknum aparat yang melindungi, penjual merkuri dan alat-alat PETI, keluarga
pelaku PETI dan mereka yang merasa diuntungkan.
9

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Mahgfirah et al (2013)


yang menyatakan bahwa kegiatan PETI di Desa Sungai Alah Kecamatan Hulu
Kuantan Kabupaten Kuansing memberikan pengaruh negatif terhadap masyarakat
sekitar, khususnya kepada masyarakat nelayan, yaitu terjadi penurunan jumlah
nelayan 59% dari tahun 2008 ke tahun 2013. Hal ini disebabkan karena
berkurangnya jumlah pendapatan para nelayan dari waktu ke waktu dan semakin
sulitnya mendapatkan ikan di sungai akibat dari pencemaran air sungai.

Menurut Somantri (2011), dampak aktivitas PETI di Lombok Barat


mengakibatkan menurunnya tingkat kehadiran siswa di sekolah, banyak siswa
yang lebih memilih menambang emas dari pada masuk sekolah, kasus pencurian
dan perampokan meningkat, banyak masyarakat yang mengabaikan kegiatan
agama (mesjid menjadi sepi), begitu juga pada kegiatan sosial, seperti saat acara
kematian, sulit mencari warga untuk mengurus jenazah dan masih banyak lagi
perubahan kebiasaan masyarakat di wilayah tersebut dan lingkungan hidup
tercemar. Tidak seharusnya karena alasan ekonomi harus mengorbankan
lingkungan sekitar, kesehatan dan generasi selanjutnya.

Kegiatan PETI di berbagai daerah, khususnya di Kuansing telah


menimbulkan lebih banyak kerugian bagi masyarakat sekitar DAS dan persoalan
akibat kerusakan lingkungan sungai dan risiko gangguan kesehatan jangka
panjang, baik bagi Negara maupun bagi masyarakat sekitar bila dibandingkan
dengan manfaatnya bagi para pelaku. Negara kehilangan pendapatan karena
illegal, para penambang tidak membayar pajak, royalty, terjadi pemborosan
sumber daya, sementara lingkungan menjadi rusak dan ekosistem terganggu, air
sungai tercemar karena cara penambangan dan pengolahan yang tidak mengikuti
kaidah (good mining practice).

Dampak aktivitas PETI terhadap pencemaran lingkungan sungai, kondisi


sosial ekonomi pekerja dan masyarakat DAS, serta gangguan kesehatan dapat
digambarkan sebagai berikut:
10

Gambar 7

Dampak aktivitas PETI terhadap lingkungan, yaitu terjadinya pencemaran air


sungai dan air bendungan irigasi ditinjau dari tingkat kekeruhan dan kadar Hg,
parameter DO, BOD dan COD yang melibihi NAB, sehingga mengakibatkan
kehidupan berbagai jenis biota sungai seperti ikan, udang, kerang-kerangan dan
lainnya terganggu dan mati, air sungai tidak dapat lagi dimanfaatkan untuk
kebutuhan sehari-hari. Pengaruh aktivitas PETI terhadap sosial ekonomi, yaitu
PETI meningkatkan penghasilan ekonomi pekerja dan pemodal, namun PETI
telah merugikan masyarakat sekitar DAS, masyarakat telah kesulitan mendapatkan
air bersih dan aktivitas PETI sering menimbulkan konflik antara para pelaku PETI
dengan aparat kepolisian, petugas Pemda dan petugas perusahaan baik berupa
“perang mulut”, bentrokan fisik, bahkan sampai melakukan anarkis/merusak
mobil aparat Pemerintah daerah dan membakar bangunan perusahaan (PT.DPN)
yang ikut melakukan penertiban PETI. Pengaruh aktivitas PETI terhadap
kesehatan, yaitu pekerja PETI di Kabupaten Kuansing mengalami berbagai gejala
gangguan kesehatan, kecelakaan kerja, dan jika PETI terus dibiarkan dalam
jangka panjang maka dapat berdampak terhadap masalah kesehatan masyarakat
yang terakumulasi merkuri dan kehilangan generasi berikutnya.

Menurut Hendrik L. Blum dalam Notoatmodjo (2007), lingkungan merupakan


salah satu faktor dominan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
Pada penelitian ini, lingkungan air sungai yang tercemar dapat berisiko terhadap
berbagai gangguan kesehatan pada pekerja PETI dan masyarakat sekitar yang
menggunakan air sungai, mengkonsumsi ikan, udang, kerang-kerangan yang
terakumulasi Hg. Lingkungan sungai yang tercemar juga dapat menimbulkan
masalah sosial ekonomi masyarakat sekitar, seperti masyarakat DAS dan nelayan
kehilangan mata pencaharian akibat pencemaran air sungai dan kesulitan
11

mendapatkan ikan sungai, kesulitan sumber air bersih sehingga memerlukan biaya
untuk penyediaan air bersih.

2.5 Solusi Peti di Riau


Berdasarkan informasi dari beberapa informan, bahwa pada tahun 2013
sudah dibentuk Tim Terpadu Pemberantasan PETI oleh Pemerintah Kabupaten
Kuantan Singingi bekerjasama dengan Polres Kuansing dalam melakukan upaya
sosialisai, edukasi, advokasi dan penertiban PETI. Upaya lintas sektor yang sudah
dilakukan Pemda dan stakeholder pada tahun 2013-2014, namun dalam
pelaksanaannya masih terdapat beberapa masalah sebagai berikut.

Tabel 1 Upaya yang Pernah Dilakukan oleh Pemda dan Stakeholders

No Upaya yang Bentuk Kegiatan Masalah


dilakukan
1 Sosialisasi & Seminar, penyuluhan, menyebarkan brosur, Kegiatan sosialisasi dan edukasi belum
Edukasi poster, leaflet, baliho dan spanduk. sampai ke masyarakat desa, sehingga
dampak mereka tidak mengetahui dampak PETI.
PETI
2 Koordinasi dan - Bupati pernah meminta bantuan - Komitmen (Pemerintah, aparat
Advokasi Pemerintah Provinsi dan Polda Riau keamanan dan masyarakat) untuk
melalui Forkopimda terkait solusi PETI menertibkan PETI secara
- Bupati telah mengirimkan surat kepada berkelanjutan, dan diperlukan dana
Tim khusus Presiden dan kementerian operasional yang cukup besar untuk
terkait (BLH, ESDM, Mendagri) terkait penertiban PETI, anggaran Pemda
Kuansing terbatas.
solusi masalah PETI di Kuansing (tahun
- Pemerintah Pusat belum merespon
2013).
surat dari Bupati terkait solusi PETI di
Kuansing.
3 Penertiban PETI Tim gabungan Polda Riau, Pemda & Polres Upaya penertiban PETI yang dilakukan
Kuansing telah melakukan penertiban razia aparat keamanan sering mendapatkan
PETI (menangkap beberapa pelaku dan perlawanan secara fisik dari para pelaku
membakar lebih dari 438 rakit PETI, PETI. Penertiban PETI yang dilakukan
menyita barang bukti) yang beroperasi di belum efektif, aktivitas PETI kembali
sepanjang aliran Sungai Kuantan, Singingi, terjadi. Ada oknum aparat yang terlibat
Kukok (PT DPN). PETI dan melakukan pungutan liar.
Upaya sosialisasi dan edukasi tentang dampak aktivitas PETI terhadap
kesehatan dan lingkungan sebaiknya lebih sering dan rutin dilakukan sampai ke
pelosok desa di Kuansing sehingga informasinya sampai kepada semua sasaran.
Menurut Notoatmodjo (2007), sasaran promosi kesehatan terdiri dari sasaran
primer, sekunder dan tersier. Sasaran primer, yaitu para pelaku PETI dan
kelompok masyarakat yang terkena dampak pencemaran air sungai dan
rentan/berisiko terhadap gangguan kesehatan akibat aktivitas PETI. Sasaran
12

sekunder, yaitu para tokoh masyarakat baik formal maupun informal yang
disegani atau berpengaruh bagi para pelaku PETI. Sasaran tersiernya, yaitu
pembuat keputusan atau penjabat dari semua sektor, diperlukan komunikasi antara
stakeholders dalam penanganan PETI, daerah kesulitan menyelesaikan persoalan
pertambangan emas liar karena sumber persoalannya ada di Pusat. Masih terjadi
sentralisasi pengelolaan pertambangan ESDM, sebagaimana diatur dalam UU
Pemerintahan Daerah No 23/2014 Pasal 14, bahwa kewenangan penyelenggaraan
urusan pemerintahan bidang ESDM dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah
Provinsi. Berbeda dengan UU Pertambangan Minerba (No 4/2009) Pasal 20-26,
menyatakan bahwa wilayah pertambangan rakyat (WPR) ditetapkan oleh
bupati/walikota setelah berkonsultasi dengan DPRD kab/kota.
Menurut hasil penelitian Nuraina (2012) di Aceh, bahwa sampai saat ini di
beberapa Daerah Kabupaten/Kota belum memiliki Qanun (Peraturan daerah)
untuk mengatur pertambangan. Sementara kedudukan Qanun tersebut sebagai
syarat utama dalam melakukan penetapan WPR maupun menerbitkan ijin
pertambangan rakyat (IPR).
Aktivitas PETI yang terjadi di berbagai daerah termasuk di Kabupaten
Kuantan Singingi telah mengakibatkan pencemaran lingkungan sungai dan biota
di dalamnya, berdampak pada keselamatan dan kesehatan pekerja, berisiko
terhadap masalah kesehatan masyarakat sekitar, dikhawatirkan akan menjadi
“bom waktu” seperti kasus Minamata Disease di Jepang. Oleh karena itu
diperlukan kebijakan dari Pemerintah Pusat (Presiden) melalui Kementerian
Dalam Negeri, Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, dan
Kementerian Kesehatan untuk saling berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi,
Kabupaten/Kota, aparat penegak hukum dan melibatkan Stakeholders yang terkait
untuk merumuskan rancangan strategis penyelamatan lingkungan dan penanganan
aktivitas PETI di daerah. Disamping itu, juga diperlukan upaya penertiban
terhadap para oknum aparat keamanan yang terlibat, sehingga Bupati Kuantan
Singingi perlu mendatangi atau meminta bantuan Kapolri dan Panglima TNI
untuk menertibkan para oknum anggotanya.

BAB III
13

PENUTUP
3.1 Simpulan
1. Aktivitas PETI telah berdampak negatif terhadap kualitas air sungai dan air
bendungan irigasi ditinjau dari tingkat kekeruhan yang melibihi NAB
(tercemar), sehingga mengakibatkan kehidupan biota di sungai menjadi
terganggu dan mati.
2. Aktivitas PETI meningkatkan penghasilan ekonomi pekerja dan pemodal,
namun PETI telah merugikan masyarakat sekitar DAS, air sungai tidak dapat
lagi dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat kesulitan air bersih
dan ikan dari sungai, serta sering menimbulkan konflik.
3. Solusi penanganan aktivitas PETI di Kabupaten Kuansing.
a. Komitmen dan Kebijakan. Diperlukan komitmen bersama dan kebijakan
pemerintah daerah untuk menertibkan atau menghentikan PETI:
Mengaktifkan Tim terpadu penertiban PETI, mengalokasikan dana
operasional yang dititipkan melalui anggaran BLH, menyiapkan Satgas
preventif dan repsesif dengan tugas dan tanggung jawab, sarana operasional,
rencana dan pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi program
penertiban secara berkelanjutan.
b. Diseminasi Informasi. Diperlukan diseminasi informasi agar semua pihak
satu pandangan bahwa aktivitas PETI telah mengakibatkan kerusakan
lingkungan dan pencemaran sungai, sehingga diperlukan keterlibatan
berbagai pihak, dinas dan instansi terkait untuk merumuskan program
pencegahan dan penanganan, pemberdayaan masyarakat dan reklamasi.
c. Sosialisasi dan Edukasi. Tim terpadu penertiban PETI (bersinergi)
melanjutkan upaya sosialisasi dan edukasi secara rutin tentang dampak
PETI terhadap pencemaran lingkungan sungai dan risiko gangguan
kesehatan yang tepat sasaran
d. Kerjasama dan Koordinasi. Unsur pimpinan daerah Kuansing perlu
meningkatkan kerjasama dan koordinasi, keterlibatan dinas dan instansi
terkait serta dukungan komponen masyarakat sangat diperlukan untuk
mengamankan kebijakan penanganan aktivitas PETI dan menyelamatkan
lingkungan sungai di Kuansing secara berkelanjutan.
14

e. Penertiban PETI dan Penegakan Hukum. Penertiban PETI dapat dilakukan


secara bertahap dan berkelanjutan, serta penengakan hukum secara tegas
terhadap para pelaku PETI (pekerja dan pemodal), oknum aparat yang
terlibat dan melakukan Pungli sehingga menimbulkan efek jera.
f. Pengendalian Sosial. Pemerintah daerah dan swasta perlu menyiapkan
program pengendalian sosial pasca penutupan aktivitas PETI dengan
menyiapkan lapangan kerja bagi masyarakat, empowerment, meningkatkan
keterampilan dan penghasilan masyarakat, diversifikasi, Pemda dapat
menggunakan anggaran dana desa (ADD) untuk membantu masyarakat
desa.

3.2 Saran
Dalam makalah ini penambangan emas tak berizin di daerah Taluk
Kuantan Kabupaten Kuansing yaitu beberapa hal permasalahan sumber daya alam
terutama pada masalah lingkungan didaerah terebut sangatlah parah dan tidak
sesuia aturan yang mengakibatkan kerugian kepada masyarakat itu sendiri.
Penulis berkeinginan memberikan saran kepada pembaca agar ikut mempelajari
tentang aspek aspek pencemaran lingkungan. Semoga dengan makalah ini para
pembaca dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan serta kesadarannya akan
menjaga lingkungan yang tentunya ini akan sangat berguna untuk kelangsungan
hidup di masa mendatang.

DAFTAR PUSAKA
15

Nopriadi ,Mei 2016,dampak aktifitas penambangan emas tanpa izin (peti) terhadap
perncemaran air sosial ekonomi dan solusinya di daerah Kuansing,
Pekanbaru: Universitas Andalas
Mahgfirah, Eni Yulinda, Lamun Bathara (2013). The Impact Of Gold Mine Without
Permit (PETI) Fishermen Of The Economic And Social Village Sungai Alah
Subdistrict Of Hulu Kuantan District Kuantan Singingi Province Riau
(Artikel).
Somantri, ND., (2011). Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Provinsi Nusa
Tenggara Barat. Artikel. (30 November).
Notoatmodjo S., (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Penerbit PT
Rineka Cipta, Jakarta.
Nuraina (2012). Kebijakan Pengelolaan Pertambangan Emas Rakyat Ditinjau Dari
Aspek Keberlangsungan Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Provinsi
Aceh. KLH Kabupaten Aceh Utara.

UU Pemerintahan Daerah No 23/2014 Pasal 14