Anda di halaman 1dari 4

Achatina fulica merupakan hewan yang mempunyai cangkang sebagai pelindung

tubuhnya yang bentuknya seperti kerucut dan panjang. Warna dari cangkang bekiciot
adalah coklat tua ataupun coklat muda dengan corak kuning,namun hal itu semua
disesuaikan dengan lingkungan bekicot berada. Bekicot merupakan hewan yang
memakan tumbuhan busuk,hewan,alga serta jamur. Hewan ini memiliki pengaruh
yang negative bagi tanaman karena dapat meyebabkan kerusakan sehingga bekicot
dijadikan hewan uji karena untuk mengetahui perilaku harian serta jarak edar dari
bekicot itu sendiri,sehingga nantinya dapat diketahui untuk melakukan bagaimana
cara agar dapat mengendalikan populasi dari bekicot sebagai hama dari suatu
tanaman dengan melihat perilaku sehariannya. Hal lain yang dijadikan dasar bekicot
sebagai hewan uji karena bekicot memiliki kecepatan dalam berjalan yang lambat
sehingga mempermudah dalam melihat seberapa jauh pergerakan yang terjadi pada
bekicot hal ini menurut (Khairunnisa,2016).

Bekicot termasuk kedalam kelas Gastropoda yang artinya hewan yang memiliki
kaki berupa perutnya. Bekicot adalah hewan yang sering beraktifitas pada saat malam
hari,sedangkan saat siang hari bekicot cenderung inaktif atau menyembunyikan diri
dibalik cangkangnya. Banyak orang menganggap bahwa hewan ini merupakan hewan
yang sangat menjijikkan karena memiliki struktur tubuh yang lunak serta mempunyai
lendir.Bekicot sendiri merupakan hewan yang hidup di wilayah tropis yang sering
mucul saat musim hujan tiba. Berikut ini adalah klasifikasi bekicot yang digunakan
dalam kegiatan praktikum:

Kingdom : Animalia

Filum : Molusca

Kelas : Gastropoda

Ordo : Pulmonata

Sub Ordo : Stylommatophora


Famili : Achatinidae

Genus : Achatina

Spesies : Achatina fulica

Praktikum ini juga melakukan penimbangan berat bekicot sebelum melakukan


pengujian aktivitas jarak edar selama 24 jam. Berat badan bekicot ini termasuk
kedalam variable control dalam praktikum ini. Dalam hal ini terdapat 10 bekicot yang
diukur berat badannya. Berat badan bekicot yang pertama adalah 42 gram,kemudian
setelah dilakukan pengamatan aktivitas jarak edar selama 24 jam berat badan bekicot
tetap 42gram artinya tidak ada penambahan atau pengurangan berat badan. Kemudian
pada bekicot yang kedua dengan berat badan sekitar 47 gram kemudian setelah
pengamatan 24 jam berat badannya berkurang sehingga menjadi 48 gram. Bekicot
yang ketiga dengan berat awal sebesar 31 gram dan setelah pengamatan berat
akhirnya menjadi 30 gram. Bekicot keempat dengan berat badan 29 gram setelah
pengamatan berat akhirnya di dapat sebesar 30 gram. Bekicot kelima juga mengalami
kenaikan berat badan dari berat awal 38 gram kemudian berat ahir menjadi 39 gram.
Bekicot keenam mengalami penurunan berat badan,dari berat awal sebesar 38 gram
kemudian berat akhirya menjadi 37 gram.Bekicot ketujuh mengalami penurunan
berat badan dengan berat badan awal sebesar 30 gram kemudian setelah pengamatan
di dapat berat akhir sebesar 29 gram. Kemudian bekicot kedelapam dengan berat
badan awal sebesar 35 dan setelah pengamatan berat badan bekicot mengalami
kenaikan sebesar 1 gram menjadi 36 gram. Berat bekicot kesembilan dengan berat
awal sebesar 41 kemudian setelah pengamatan berat bekicot menjadi 43 gram artinya
bekicot mengalami kenaikan berat badan sebesar 2 gram,dan bekicot kesepuluh yang
juga mengalami kenaikan berat badan cukup tinggi dengan berat awal sebesar 38
gram kemudian mengalami kenaikan berat badan sebesae 6 gram sehingga berat
badannya menjadi 44 gram. Sehingga disimpulkan bahwa berat badan bekicot pada
saat akhir yaitu setelah pengamatan 24 jam rata-rata mengalami kenaikan yaitu pada
bekicot 2,4,5,8,9 dan 10 hal ini sesuai dengan teori bahwa berat bekicot akhir libih
berat dibandingkan berat awal dikarenakan bekicot mengalami aktifitas untuk
mencari makan saat malam dan kemungkinan bekicot tersebut memiliki wilayah yang
disekitarnya terdapat sumber makanan yang banyak. Sedangkan untuk bekicot yang
mengalami penurunan berat badan dapat diakibatkan karena bekicot tersebut terlalu
aktif sehingga melakukan pergerakan yang cepat yang menggunakan energy sehingga
berat badannya menurun.

Analisis pertama yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara factor abiotic
dengan aktivitas jarak edar bekicot adalah analisis korelasi. Nilai korelasi pertama
adalah hubungan antara pH tanah terhadap jarak edar Acatina fulica . pH ternyata
berkorelasi positif dengan r=0,301, sehingga diartikan bahwa kenaikan pH tanah
diikuti dengan peningkatan aktifitas jarak edar Acantina fulica. Perubahan pH tanah
berkontribusi sebesar 30.1% diikuti dengan peningkatan aktivitas jarak edar Acatina
fulica.

Faktor yang kedua yaitu rH udara yang menunjukkan nilai korelasi positif dengan
r=0,478, hal ini dapat diartikan bahwa kenaikan Rh tanah diikuti dengan peningkatan
aktifitas jarak edar Acantina fulica. Perubahan Rh udara berkontribusi sebesar 47.8%
diikuti dengan peningkatan aktivitas jarak edar Acatina fulica. Hal ini dapat terjadi
karena bekicot merupakan hewan nocturnal yang beraktifitas di malam hari. Pada saat
malam hari kelembabapan udara tinggi sehingga hal ini berhubungan dengan suhu
yang diikuti menurunnya suhu udara sehingga aktifitas yang ditunjukkan dengan
jarak edarnya juga semakin tinggi,sebaliknya jika suhu naik maka akan menurunkan
aktivitas jarak edar pada bekicot sehingga jarak edarnya rendah.

Faktor yang ketiga yaitu suhu yang juga berhubungan dengan Rh udara. Pengaruh
suhu terhadap aktifitas jarak edar Acatina fulica yaitu berkorelasi negative dengan
r=0,391, artinya kenaikan suhu diikuti dengan penurunan aktifitas jarak edar
Acantiina fulica. Perubahan suhu berkontribusi sebesar 39.1% diikuti dengan
penurunan aktivitas jarak edar Acatina fulica. Artinya seperti yang sudah dijelaskan
diatas bahwa penurunan suhu akan menunjukkan aktifitas Acatina fulica yang
ditunjukkan dengan jarak edarnya yang semakin tinggi,sebaliknya jika suhu naik
maka akan menurunkan aktivitas jarak edar pada bekicot sehingga jarak edarnya
rendah.

Faktor keempat yaitu Rh tanah terhadap jarak edar Acatina fulica berkorelasi
positif dengan r=0,183, artinya kenaikan suhu diikuti dengan peningkatan aktifitas
jarak edar Acatina fulica. Perubahan Rh tanah berkontribusi sebesar 18.3% diikuti
dengan peningkatan aktivitas jarak edar Acatina fulica. Faktor yang kelima yaitu
pengaruh kecepatan angina terhadap jarak edar Acatina fulica. Kecepatan angin
terhadap jarak edar Acatina fulica berkorelasi negative dengan r=0,103, sehingga
memiliki arti bahwa artinya kenaikan kecepatan angina diikuti dengan penurunan
aktifitas jarak edar Acatina fulica. Perubahan kecepatan angin berkontribusi sebesar
10.3% diikuti dengan penurunan aktivitas jarak edar Acatina fulica. Sehingga
disimpulkan bahwa apabila angin berhembus terlalu kencang maka menyebabkan
pergerakan dari Acatina fulica mulai berkurang. Faktor yang terakhir adalah pengaruh
intensitas cahaya terhadap jarak edar Acatina fulica. Dalam table korelasi
menunjukkan bahwa pengaruh intensitas cahaya terhadap jarak edar bekicot
berkorelasi negative dengan r=0,304, artinya kenaikan intensitas cahaya diikuti
dengan penurunan aktifitas jarak edar Acatina fulica. Perubahan intensitas cahaya
berkontribusi sebesar 30.4% diikuti dengan penurunan aktivitas jarak edar Acatina
fulica. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa di kelompok kami r terbesar
adalah Rh Udara sebesar 47.8 %, artinya kenaikan Rh udara diikuti dengan
peningkatan aktifitas jarak edar Acatina fulica.