Anda di halaman 1dari 26

PROMOSI KESEHATAN GIGI DAN MULUT

“Strategi Promosi Kesehatan Dalam Pemberdayaan Masyarakat,


Bina Swasana Dan Advokasi Kesehatan”

Oleh :

Delina

P27825119041

POLITEKNIK KEMENKES SURABAYA

PRODI D IV ALIH JENJANG JURUSAN

KEPERAWATAN GIGI

2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulilah atas kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah kami yang berjudul Strategi Promosi
Kesehatan dalam Pemberdayaan Masyarakat, Bina Swasana Dan Advokasi
Kesehatan yang Berhubungan dengan Promosi Kesehatan Gigi dan Mulut dapat
terselesaikan dengan baik. Tak lupa sholawat serta salam kami hanturkan kepada
baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Dengan terselesainya makalah ini kami berharap agar makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
dan diharapkan pula dapat menambah pengetahuan tentang Strategi Promosi
Kesehatan dalam Pemberdayaan Masyarakat, Bina Swasana Dan Advokasi
Kesehata .
Kami ucapkan banyak terima kasih pada pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini kami mulai dari pencarian refrensi pembelajaran
hingga penyusunan makalah ini. Selain itu kami menyadari bahwa makalah kami
masih jauh dari sempurna sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca.

Surabaya, 7 April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………..………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………..………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………...………………………… 1
B. Rumusan Masalah ……………………….…………………………… 2
C. Tujan… ……………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Strategi Promosi Kesehatan.... …………………………… 3

B. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat....…………………………… 3

C. Pengertian Bina Swasana.... ……………………………....………… 5


D. Pengertian Advokasi Kesehatan ....……………………………..……
6
E. Contoh Kasus Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Penerapan Strategi
Promosi Kesehatan ………………………….………….………….… 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………… 22
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 23

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menjaga kesehatan gigi sejak dini sangat penting, karena dapat
mempengaruhi kesehatan tubuh secara umum (Nurani, 2012). Anggapan
orang tua terhadap kesehatan gigi anak masih rendah, karena diketahui
banyak anak usia sekolah mengalami karies gigi dan gigi berlubang (dinkes
kaltim, 2012). Masalah kesehatan dan kebersihan gigi anak kurang karena
pengetahuan orang tua tentang kebersihan dan kesehatan gigi kurang, waktu
dan pelaksanaan gosok gigi yang kurang tepat, serta kurangnya kesadaran
orang tua untuk pemeriksaan gigi sang anak.
Berdasarkan Riset Kesehatan Daerah tahun 2007 diketahui bahwa
prevalensi karies aktif nasional adalah 43,4% dengan provinsi Kalimantan
Timur termasuk 14 provinsi yang memiliki prevalensi karies aktif di atas
prevalensi nasional, yaitu 49,6%. Fakta menarik berdasarkan data yang
dikumpulkan dari 6.183 siswa SD yang sudah di kunjunngi Hanya 50%
yang menyikat gigi 2x sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur, 38%  siswa
yang menjaga pola makan dengan baik, 37% siswa yang rutin mengunjungi
dokter gigi setiap 6 bulan sekali, 60% dari siswa yang diperiksa giginya
masih menderita karies gigi (Indriani, 2011).
Anak tidak melakukan gosok gigi lebih banyak karena ketidak tahuan
orang tua terhadap pengetahuan menggosok gigi serta perhatian orang tua
yang kurang terhadap kesehatan mulut dan gigi anak. Penumpukan sisa sisa
makanan yang terselip di sela gigi yang tidak dibersihkan akan mengeras dan
membentuk plak pada gigi. Itu akibat dari anak yang sering dibiarkan tidak
menyikat gigi setelah makan dan menjelang tidur malam.
Dengan masalah yang dialami anak pada usia sekolah maka
pengetahuan dan skill anak dalam menggosok gigi harus ditingkatkan. Maka
dalam memberikan pengetahuan dan melatih anak dalam menggosok gigi.
Untuk mempermudah dalam meningkatkan pemahaman anak dengan metode
yang cocok untuk anak
.

1
B. Rumusan Masalah
Menjelaskan konsep promosi kesehatan Cara menggosok gigi yang Baik dan
Benar Pada Anak Usia Sekolah.
C. Tujuan
1. Memahami konsep Strategi promosi kesehatan.
2. Memahami konsep pemberdayaan Masyarakat.
3. Memahami konsep Bina Swasana
4. Memahami konsep Advokasi

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. STRATEGI PROMOSI KESEHATAN

Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perlu dilaksanakan


strategi promosi kesehatan paripurna yang terdiri dari (1) pemberdayaan,
yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh
semangat (4) kemitraan. Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan
pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna
membantu individu, keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani
tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.
Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan sosial yang
kondusif dan mendorong dipraktikkannya PHBS serta penciptaan panutan-
panutan dalam mengadopsi PHBS dan melestarikannya. Sedangkan advokasi
adalah pendekatan dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu yang
diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari
segi materi maupun non materi.
1. Pemberdayaan Masyarakat
Dalam upaya promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat
merupakan bagian yang sangat penting dan bahkan dapat dikatakan
sebagai ujung tombak. Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi
kepada individu, keluarga atau kelompok (klien) secara terus-menerus dan
berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta proses membantu
klien, agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar
(aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau
menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek
practice). Oleh sebab itu, sesuai dengan sasaran (klien)nya dapat
dibedakan adanya (a) pemberdayaan individu, (b) pemberdayaan keluarga
dan (c) pemberdayaan kelompok/masyarakat.
Dalam mengupayakan agar klien tahu dan sadar, kuncinya terletak
pada keberhasilan membuat klien tersebut memahami bahwa sesuatu
(misalnya Diare) adalah masalah baginya dan bagi masyarakatnya.

3
Sepanjang klien yang bersangkutan belum mengetahui dan menyadari
bahwa sesuatu itu merupakan masalah, maka klien tersebut tidak akan
bersedia menerima informasi apa pun lebih lanjut. Saat klien telah
menyadari masalah yang dihadapinya, maka kepadanya harus diberikan
informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang bersangkutan.
Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan
menyajikan fakta-fakta dan mendramatisasi masalah. Tetapi selain itu juga
dengan mengajukan harapan bahwa masalah tersebut bisa dicegah dan atau
diatasi. Di sini dapat dikemukakan fakta yang berkaitan dengan para tokoh
masyarakat sebagai panutan (misalnya tentang seorang tokoh agama yang
dia sendiri dan keluarganya tak pernah terserang Diare karena perilaku
yang dipraktikkannya).
Bilamana seorang individu atau sebuah keluarga sudah akan
berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala
oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat
diberikan bantuan langsung. Tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah
dengan mengajaknya kedalam proses pemberdayaan kelompok/masyarakat
melalui pengorganisasian masyarakat (community organization) atau
pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu, sejumlah
individu dan keluarga yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok
untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang
kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari
pemerintah atau dari dermawan). Di sinilah letak pentingya sinkronisasi
promosi kesehatan dengan program kesehatan yang didukungnya dan
program-program sektor lain yang berkaitan. Hal-hal yang akan diberikan
kepada masyarakat oleh program kesehatan dan program lain sebagai
bantuan, hendaknya disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya.
Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan
masyarakat.
Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melalui
kemitraan serta menggunakan metode dan teknik yang tepat. Pada saat ini
banyak dijumpai lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang

4
bergerak di bidang kesehatan atau peduli terhadap kesehatan. LSM ini
harus digalang kerjasamanya, baik di antara mereka maupun antara mereka
dengan pemerintah, agar upaya pemberdayaan masyarakat dapat
berdayaguna dan berhasilguna. Setelah itu, sesuai ciri-ciri sasaran, situasi
dan kondisi, lalu ditetapkan, diadakan dan digunakan metode dan media
komunikasi yang tepat.
2. Bina Suasana
Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang
mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku
yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan
sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada (keluarga di
rumah, organisasi siswa/mahasiswa, serikat pekerja/ karyawan, orang-
orang yang menjadi panutan/idola, kelompok arisan, majelis agama dan
lain-lain, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung
perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk memperkuat proses
pemberdayaan, khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari
fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan bina suasana. Terdapat tiga kategori
proses bina suasana, yaitu (a) bina suasana individu, (b) bina suasana
kelompok dan (c) bina suasana publik.
a. Bina Suasana Individu
Bina suasana individu dilakukan oleh individu-individu tokoh
masyarakat. Dalam kategori ini tokoh-tokoh masyarakat menjadi
individu-individu panutan dalam hal perilaku yang sedang
diperkenalkan. Yaitu dengan mempraktikkan perilaku yang sedang
diperkenalkan tersebut (misalnya seorang kepala sekolah atau pemuka
agama yang tidak merokok). Lebih lanjut bahkan mereka juga bersedia
menjadi kader dan turut menyebarluaskan informasi guna menciptakan
suasana yang kondusif bagi perubahan perilaku individu.
b. Bina Suasana Kelompok
Bina suasana kelompok dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam
masyarakat, seperti pengurus Rukun Tetangga (RT), pengurus Rukun
Warga (RW), majelis pengajian, perkumpulan seni, organisasi Profesi,

5
organisasi Wanita, organisasi Siswa/mahasiswa, organisasi pemuda,
serikat pekerja dan lain-lain. Bina suasana ini dapat dilakukan bersama
pemuka/tokoh masyarakat yang telah peduli. Dalam kategori ini
kelompok-kelompok tersebut menjadi kelompok yang peduli terhadap
perilaku yang sedang diperkenalkan dan menyetujui atau
mendukungnya. Bentuk dukungan ini dapat berupa kelompok tersebut
lalu bersedia juga mempraktikkan perilaku yang sedang diperkenalkan,
mengadvokasi pihak-pihak yang terkait dan atau melakukan kontrol
sosial terhadap individu-individu anggotanya.
c. Bina Suasana Publik
Bina suasana publik dilakukan oleh masyarakat umum melalui
pengembangan kemitraan dan pemanfaatan media-media komunikasi,
seperti radio, televisi, koran, majalah, situs internet dan lain-lain,
sehingga dapat tercipta pendapat umum. Dalam kategori ini media-
media massa tersebut peduli dan mendukung perilaku yang sedang
diperkenalkan. Dengan demikian, maka media-media massa tersebut
lalu menjadi mitra dalam rangka menyebarluaskan informasi tentang
perilaku yang sedang diperkenalkan dan menciptakan pendapat umum
atau opini publik yang positif tentang perilaku tersebut. Suasana atau
pendapat umum yang positif ini akan dirasakan pula sebagai pendukung
atau “penekan” (social pressure) oleh individu-individu anggota
masyarakat, sehingga akhirnya mereka mau melaksanakan perilaku
yang sedang diperkenalkan.
d. Advokasi
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana
untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang
terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini berupa tokohtokoh
masyarakat (formal dan informal) yang umumnya berperan sebagai
narasumber (opinion leader), atau penentu kebijakan (norma) atau
penyandang dana. Juga berupa kelompok-kelompok dalam masyarakat
dan media massa yang dapat berperan dalam menciptakan suasana
kondusif, opini publik dan dorongan (pressure) bagi terciptanya PHBS

6
masyarakat. Advokasi merupakan upaya untuk menyukseskan bina
suasana dan pemberdayaan atau proses pembinaan PHBS secara umum.
Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan
melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu singkat. Pada diri
sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan, yaitu (1)
mengetahui atau menyadari adanya masalah, (2) tertarik untuk ikut
mengatasi masalah, (3) peduli terhadap pemecahan masalah dengan
mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah, (4) sepakat
untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif
pemecahan masalah dan (5) memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukan secara terencana,
cermat dan tepat. Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan
matang, yaitu: Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi Memuat
rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah
Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah Berdasarkan
kepada fakta atau evidence-based Dikemas secara menarik dan jelas
Sesuai dengan waktu yang tersedia Sebagaimana pemberdayaan dan
bina suasana, advokasi juga akan lebih efektif bila dilaksanakan dengan
prinsip kemitraan. Yaitu dengan membentuk jejaring advokasi atau
forum kerjasama. Dengan kerjasama, melalui pembagian tugas dan
saling-dukung, maka sasaran advokasi akan dapat diarahkan untuk
sampai kepada tujuan yang diharapkan. Sebagai konsekuensinya,
metode dan media advokasi pun harus ditentukan secara cermat,
sehingga kerjasama dapat berjalan baik.

B. CONTOH KASUS PADA KESEHATAN GIGI DAN MULUT

a. Hasil Analisis Situasi


Pengkajian berikut dilakukan menurut teori Winshield Survey pada
kelompok usia sekolah di SDN 21 Jawai
1. Sejarah SDN 21 jawai didirikan pada tahun 1998 di kecamatan jawai,
Kabupaten Sambas

7
2. Demografi SDN 21 jawai didirikan pada tahun 1998 di kecamatan
jawai, Kabupaten Sambas, Situasi demografis Wilayah Kecamatan
jawai khususnya SDN 21 Jawai berstruktur dataran rendah dengan
ketinggian dari permukaan laut 250 M dan rata – rata suhu udara
berkisar antara 280C – 340C. Untuk orbitasi di SDN 21 kecamatan
jawai adalah sebagai berikut.
a. Jarak ke Puskesmas Plered : 60,8 Km
b. Jarak ke Kecamatan : 60,8 Km
c. Jarak ke Kabupaten : 60,8 Km
Untuk mendapatkan pelayanan di UPT Puskesmas kecamatan jawai
masih dapat di jangkau dengan kendaraan roda
3. Karakteristik umur dan jenis kelamin rata-rata umur siswa kelas 1 di
SDN 21 jawai berumur 6-7 tahun.
4. Distribusi etnik umunnya 100 % siswa SDN 21 punggur adalah etnik
melayu
5. Morbiditas penyakit yang sering terjadi pada anak sekolah SDN 21
seperti diare, kecacingan, karies gigi, penyakit mata dan telinga
6. tipe keluarga anak sekolah SDN 21 ini pada umumnya orang tua yang
perhatian, orang tua bekerja satu hari penuh, ada orang tua dengan
kemampuan ekonomi yang kurang, dan orang tua dengan kemampuan
ekonomi di atas rata-rata. Perbedaan tipe keluarga dapat
mempengaruhi PHBS pada anak sekolah.
7. Dari Kelompok etnis siswa SDN 21 Jawai, Beberapa di antara budaya
menyatakan bahwa anak sekolah dilarang bermain pada malam hari
karena takut dibawa setan.
8. Dari Nilai dan keyakinan Banyak orang tua yang tidak peduli terhadap
PHBS anaknya, Anak jarang menggosok gigi sebelum tidur,
kebanyakan di dalam keluarga menggunakan satu sikat gigi buat
bersama, menganggap penyalkit gigi tidak berdampak ke hal hal yang
kurang baik bagi kesehatan lain sehingga jarang bahkan ada yang
tidah pernah melakukan pemeriksaan gigi ke poli gigi, praktek dokter

8
gigi atau praktek perawat gigi, meraka melakukan pemeriksaan ketika
sudah ada keluhan sakit.
9. Pengkajian lingkungan fisik, Perumahan dan Lingkungan SDN 21
jawai berada di daerah perkampungan yang jauh dari jalan raya. di 
Lingkungan terbuka , persawahan, sungai, lapangan
10. Kebiasaan cara menjaga kesehatan gigi Siswa SDN 21 jawai menurut
sumber tidak mengenal cara menggosok gigi dengan baik dan benar,
Sebagian besar siswa tidak terbiasa menggosok gigi sebelum dan
sesudah makan Hanya sedikit yang menggosok gigi dan menggunakan
pasta gigi
11. Pihak sekolah bekerja sama dengan pukesmas namun karena jauhnya
jarak sekolah dari piskesmas menyebabkan penanganan kurang
efektiv
12. Media yang biasa di gunakan untuk menyampaikan informasi berupa
papan pengumuman
13. Kelompok pelayanan masyarakat yang sering diikuti oleh siswa SDN
21 jawai kelas 1 adalah TPA
14. Waktu luang siswa kelas 1 SDN biasanya diisi dengan bermain
bersama teman, antara lain bermain di sungai, karet gelang, kelereng
untuk Media hiburannya TV dan radio 
Dilihat dari data siswa kelas 1 SDN 21 jawai yang berjumlah 30 siswa
diperoleh data bahwa anak yang jarang menggosok gigi 10, menggosok
gigi tapi dengan cara yang salah 17 dan yang tidak sama sekali ada tiga
anak.
Berdasarkan hasil survey awal dan wawancara dengan  siswa kelas 1
SDN 21 jawai , 26 diantara 30 anak didik yang diwawancarai mengatakan
bahwa mereka tidak terlalu mengetahui pentingnya gosok gigi dengan baik
dan benar, dan empat lainnya hanya terdiam dan tidak memberikan
jawaban.
b. Identifikasi Masalah
berdasarkan data hasil pemeriksaan siswa kelas 1 SDN 21 jawai data
yang di dapat yaitu :

9
1. Siswa yang diperiksa memiliki status kebersihan mulut baik sebesar
38,46%, siswa dengan status kebersihan mulut cukup sebesar 57,23%
serta 4,31%, siswa mempunyai status kebersihan mulut kurang/buruk.
2. Angka karies tinggi sebesar 78%, dengan kondisi karies pulpa dan
necrose gigi 30,5%, karies dentin 31,7% dan karies email 37,87%
3. Cakupan SD UKGS 25%
c. Masalah
1. Angka karies pada anak sekolah masih tinggi
2. Kebersihan rongga mulut anak sekolah belum terjaga
3. Banyaknya kasus penyakit pulpa dan periodontal
4. Cakupan UKGS masih rendah
d. Prioritas Masalah Menggunakan Tabel Teknik Kriteria Matriks
Penetapan Prioritas Masalah
Teknik Kriteria Matrik Penetapan Prioritas Masalah

IMPORTANCY T R Jml
No Daftar masalah
P S RI DU SB PB PC

Prevalensi karies pada

1 anak sekolah masih 5 4 52 32 2 33 21.600

tinggi
Kebersihan rongga

2 mulut anak sekolah 5 5 44 44 2 42 102.400

belum terjaga
Banyaknya kasus

3 penyakit pulpa dan jar. 4 4 43 32 1 23 6.912

Periodonta
4 Cakupan UKGS rendah 4 3 22 32 1 23 1.728

Kesimpulan dari matrik penetapan prioritas masalah : prioritas


masalah utama adalah kebersihan rongga mulut anak sekolah belum
terjaga

10
Keterangan :
P = Prevalence
S = Severety
RI = Rate of Increase
DU = Degree of Unmeet need
PB = Public concern
PC = Public climate
Diberikan nilai antara 1 sampai dengan 5
e. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatnya pengetahuan, kesadaran dan kepedulian dalam
merawat dan menjaga kesehatan gigi dan mulut.
2. Tujuan Khusus
a. Mempertahankan dan atau meminimalkan angka OHIS dan DMF-T
pada siswa kelas 1 SDN 21 jawai.
b. Menciptakan kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut pada
siswa kelas 1 SDN 21 jawai

f. Alternatif Pemecahan Masalah (Jalan Keluar/Pemecahan

Masalah)
Masalah Penyebab Terjadinya Masalah Alternatif Jalan kelua

11
Kebersihan 1. Kurang pengetahuan 1. Peningkatan Penyuluhan
rongga mulut anak sekolah menjaga tentang kesehatan gigi dan
anak sekolah kesehatan gigi dan mulut serta kegiatan
belum terjaga mulut menyikat gigi bersama di
2. Kurang ketersediaan sekolah
alat bantu penyuluhan 2. Melakukan pendekatan
kesehatan gigi dan berupa musyawarah dan
demonstrasi sikat gigi di mufakat bersama serta
sekolahan. Pemberian edukasi kepada
orang tua/walisiswa
mengenai perawatan gigi
anakmelalui pihak sekolah
3. Peningkatan kerjasama
dengan pihak sekolah
4. Pengaktifan kembali dokter
gigi kecil di Sekolah Dasar
5. Pengusulan pengadaan
sarana DHE

g. Prioritas Jalan Keluar Dengan Tabel Penetapan Prioritas

Jalan Kelua
Penetapan Prioritas Jalan Keluar
Jumlah
Daftar Alternatif Jalan Efektivitas Efisiensi
No MxIxV
Keluar
M I V C
1 Penyuluhan lebih banyak lagi 5 3 4 2 30
tentang kesgilut serta kegiatan
menyikat gigi bersama di
sekolah
2 Pengaktifan kembali dokter gigi 3 3 3 3 9
kecil di SD
3 Pemberian edukasi serta 3 3 3 4 6.75
musyawarah dan mufakat
bersama kepada orang tua/
walisiswa mengenai
perawatan gigi anak

4 Peningkatan kerjasama 4 4 3 3 16
dengan pihak sekolah,

5 Pengusulan sarana DHE di 3 2 2 2 4


sekolah

Keterangan :
M : magnitute (besarnya masalah yg dapat diatasi)
I : importancy (pentingnya kelanggengan hasil)

12
V : vulnerability (sensitifitas masalah) kemampuan menyelesaikan masalah
C : cost (biaya)
Nilai Efektivitas dan Efisiensi : 1 sampai dengan 5
Nilai P (Prioritas ) = M X I X V
C
h. Aplikasi Pemecahan Masalah Kesehatan gigi dan mulut
Dari matriks di atas dapat dilihat bahwa penetapan prioritas utama
permasalahan kesehatan gigi dan mulut adalah kebersihan rongga mulut anak
sekolah belum terjaga. Selanjutnya dari tabel alternatif jalan keluar dan tabel
penetapan prioritas jalan keluar maka program yang diharapkan
menyelesaikan permasalahan yaitu:
1. Peningkatan penyuluhan tentang kesgilut dan kegiatan menyikat gigi
bersama di sekolah.
2. Peningkatan kerjasama dengan pihak sekolah
3. Pengaktifan kembali dokter kecil di SD
4. Musyawarah bersama sekaligus Pemberian edukasi kepada orang
tua/walisiswa mengenai perawatan gigi anak
5. Pengusulan pengadaan sarana DHE di sekolah
i. Gambaran Perancanaan Penyelesaian Permasalahan Kesgilut
No Input Proses Output
1 Peningkatan Kegiatan dilakukan Meningkatkan
Penyuluhan tentang dengan melakukan pengetahuan anak
sekolah tentang
kesgilut serta penyuluhan kesgilut secara
kesgilut.
kegiatan menyikat rutin baik disekolah -Kesadaran akan
gigi bersama maupun masyarakat pentingnya menjaga
disekolah Tenaga : dokter gigi, kesehatan gigi
perawat gigi, guru, dan meningkat.
dokter gigi kecil.

13
2 Peningkatan Kegiatan dilakukan dengan Meningkatkan
kerjasama dengan kerjasama dengan sekolah kerjasama dan
pihak sekolah membentuk kembali dokter hubungan baik antara
gigi kecil dan pelaksanaan pihak Puskesmas
kegiatan-kegiatan UKGS dengan sekolahan.
serta pemantauan kebersihan -Kesadaran akan
gigi dan mulut pentingnya menjaga
siswa dengan cara kesehatan gigi
mengadakan sikat gigi meningkat
bersama rutin setelah jam
istirahat selesai.
Tenaga: dokter gigi,
perawat, kepala sekolah,
guru dan dokter gigi kecil

3 Pengaktifan kembali Kegiatan dilakukan dengan Meningkatnya peran


dokter gigi kecil di pemberian edukasi dan siswa/siswi sekolah
SD pelatihan kepada dokter gigi dalam mengurangi
kecil dan mengikutsertakan permasalahan
dokter gigi kecil dalam kesehatan gigi dan
penyuluhan dan mulut di sekolah
pemantauan mengenai
kesehatan gigi dan mulut di
sekolah.
Tenaga : dokter gigi,
perawat gigi, guru, dan
dokter gigi kecil
4 Pemberian edukasi Kegiatan dilakukan dengan Meningkatnya
kepada orang pemberian edukasi kepada pengetahuan dan peran
tua/walisiswa orang tua/ wali siswa serta orang tua dalam
mengenai mengenai pentingnya menjaga kebersihan
perawatan gigi anak menjaga kebersihan gigi dan gigi dan mulut anak
mulut anak serta bagaimana
cara menjaga kebersihan
kesehatan gigi dan mulut
5 Pengusulan sarana Mengusulkan pengadaan Meningkatnya
DHE di sekolah sarana DHE kepada kepala pemahaman siswa
sekolah dan memberikan tentang kesehatan gigi
bantuan sarana DHE dan mulu
kepada sekolah, contohnya
poster gigi.

14
j. Rencana Operasional
Tahap
No Tujuan Sasaran Waktu Tempat Biaya Pelaksana Indikator
Kegiatan
Memeriksa kondisi Diperoleh data kesehatan gigi
Pendataan siswa kelas Ruang kelas
kesehatan gigi dan 8 - 9 juni
1 Kesehatan 1 SDN 21 1 siswa SDN - Mahasiswa dan mulut siswa kelas 1 SDN
mulut siswa kelas 1 2020
Gigidan Mulut Jawai 21 Jawa
SDN 21 Jawai 21 Jawa
Untuk membuat siswa kelas
Pengolahan 9 – 10 Juni Mahasiswa TK.3 Diperoleh perencanaan untuk
2 perencanaan 1 SDN 21 UKGS -
2020
Data perawatan Jawai Kelompok 1 perawatan

Agar dokter gigi kecil dapat


Pembinaan memahami dan mengerti cara
Mengedukasi cara menjaga kesehatan gigi dan
atau pelatihan Dokter Gigi 11 – 13 Juni Mahasiswa TK.3
3 menjaga sesehatan UKGS - mulut sekaligus dapat membantu
pada dokter kecil 2020
gigi dan mulut Kelompok 1 mengedukasikan cara menjaga
keci
kesehatan gigi yang baik dan
benar
Memaparkan kondisi
Musyawarah kesehatan gigi dan
Ruang kelas Agar data yg didapat dari hasil
Mufakat mulut siswa kelas 1 Giuru dan
14 juni 2020 SDN 21 pemeriksaan kondisi gigi dan
4 sekolah dan SDN 21 Jawai serta wali murid - Mahasiswa
Jawai mulut siswa kelas 1 SDN 21
wali murid perencanaan
Jawai bersifat Transparan
perawatan yg akan
dilakukan.

15
Untuk meningkatkan Menyikat gigi dengan waktu dan
siswa kelas Ruang kelas
mutu kesehatan 15 juni – 6 cara yang tepat Kesadaran
5 Implementasi 1 SDN 21 1siswa SDN - Mahasiswa
siswa kelas 1 SDN 21 juli 2020 tersehadap kesehatan gigi dan
Jawai 21 Jawai
Jawai mulut meningkat

Siswa mengetahui cara


Untuk mengetahui
siswa kelas 17 juni 2020 Ruang kelas menyikat gigi yang baik dan
Sikat Gigi kebersihan gigi dan
6 1 SDN 21 dan 24 juni 1 SDN 21 - Mahasiswa benar dan Diperoleh data hasil
mulut siswa kelas 1
Masal Jawa 2020 Jawai menyikat gigi setelah diberikan
SDN 21 Jawa
penyuluhan

Untuk menjaga gigi siswa kelas Ruang kelas


Pemberian Agar gigi siswa terbebas dari
7 siswa agar terbebas 1 SDN 21 25 juli 2020 kelas 1 SDN - Mahasiswa Karies
TAF Jawai 21 Jawai
dari Karies
Untuk melihat
kedisplinan dalam siswa kelas 17, 24 juni Ruang kelas Agar siswa disiplin akan
8 controlling memelihara 1 SDN 21 dan 1 juli 1 SDN 21 - Mahasiswa menjaga kebersihan gigi dan
kebersihan gigi dan Jawai 2020 Jawai mulut
mulut
Mengevalusi apakah
kesadaran siswa Masyarakat menyikat gigi sudah
siswa kelas Ruang kelas
kelas 1 SDN 21 Jawai 7 - 10 juli
9 Evaluasi 1 SDN 21 1 siswa SDN - Mahasiswa dalam waktu dan cara yang
terhadap kesehatan
Jawai 2020 21 Jawai
gigi dan mulut sudah tepat
meningkat

16
k. Elaksanaan Dan Pergerakan
juni juli Keterangan :
Minggu ke : Minggu ke :
Pendataan
1 2 3 4 1 2 3 4
Pengolahan Data
Pembuatan POA
MMD
Implementasi

Penyuluhan

Sikat Gigi Masal


TAF
Monitoring
conroling
Evaluasi

17
l. Monitoring
NO KEGIATAN Waktu pelaksanaan
1 Penyuluhan pemeliharaan gigi dan mulut 15 juni2020
2 Penyuluhan cara menyikat gigi yang 15 juni 2020
tepat
3 Sikat gigi masal dan pemeriksaan 17 dan 24 juni 2020
4 Pemberian Topikal Aplikasi Fluor 25 juli 2020

m. Controlling

N MASALAH YANG PEMECAHAN MASALAH


O TIMBUL
Pendampingan menyikat gigi

1 Kebersihan rongga Pembagian kertas tabel ceklis waktu menyikat


mulut masih buruk gigi di rumah ( 2 kali sehari , pagi setelah
pada beberapa anak sarapan dan malam sebelum tidur ) dalam
kurun waktu 21 hari..

n. Evaluasi
dapat dilakukan dengan mengkaji secara sistem, yaitu dengan
menguraikan proses suatu kegiatan atau intervensi menurut unsur-unsur
sistem, yaitu: (a) masukan (input), (b) proses (process), (c) keluaran (output),
(d) efek (outcome), (e) dampak (impact), (f) umpan balik (feedback), serta (g)
lingkungan (environment) (Kairupan, 2009).
1. Input
a. jumlah ketersediaan sumber daya manusia sebagai pelaksana kegiatan
promosi kesehatan gosok gigi
b. jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan dan
melaksanakan kegiatan promosi kegiatan gosok gigi
c. jumlah materi dan dana yang digunakan untuk kegiatan promosi
kegiatan gosok gigi
2. Proses

18
a. Jumlah siswa SDN 21 Jawai kelas 1 sebanyak 30 siswa yang memiliki
komitmen tinggi untuk melakukan kegiatan gosok gigi
b. Teori dan konsep dalam pemberian promosi kesehatan gosok gigi
c. Tempat kegiatan promosi kesehatan gosok gigi dan sasarannya
d. Media dalam pemberian promosi kesehatan gosok gigi
3. Hasil
a. Peningkatan pengetahuan terhadap gosok gigi, perubahan tingkah laku
(menggosok gigi dengan benar), dan sikap klien dalam menjalankan
perilaku gosok gigi dengan benar
b. Tujuan diadakannnya promosi kesehatan dapat tercapai atau belum
4. Dampak
a. Pengkajian keberhasilan penyelenggara promosi kesehatan gosok gigi
dalam mempengaruhi siswa SDN 21 Jawai kelas 1 sebanyak 30siswa
b. Dampak kegiatan promosi kesehatan terhadap perilaku gosok gigi siswa
SDN 21 Jawai kelas 1 sebanyak 30 siswa
5. Umpan balik
umpan balik yang diberikan oleh siswa terhadap kegiatan promosi
kesehatan gosok gigi yang dilakukan
6. Lingkungan
lingkungan yang mendukung kegiatan promosi kesehatan gosok gigi.
dari evaluasi kegiatan atau tindakan evaluasi yang, promotor dapat
mengindikasikan apakah evaluasi bersifat posistif (hasil yang diinginkan
terpenuhi) atau negatif (hasil yang tidak diinginkan menandakan bahwa
masalah tidak terpecahkan atau terdapat masalah potensial yang belum
diketahui) dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
a. Apakah siswa siswa SDN 21 Jawai kelas 1 sebanyak 30 siswa mencapai
hasil yang diharapkan?
b. Apakah siswa siswa SDN 21 Jawai kelas 1 sebanyak 30 siswa
menunjukkan perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran
berdasarkan kegiatan promosi kesehatan yang dijalankan?
c. Apakah masalah-masalah terkait gosok gigi sudah dapat teratasi?

19
d. Apakah kebutuhan siswa SDN 21 Jawai kelas 1 sebanyak 30 siswa
terkait program promosi kesehatan sudah dipenuhi?
e. Apakah intervensi yang dilaksanakan harus dipertahankan, diubah atau
dihentikan?
f. Apakah ada masalah yang timbul dimana intervensi yang belum
direncanakan atau diimplementasikan?
g. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pencapaian tujuan atau kurang
tercapainya tujuan?
h.   Apakah prioritas yang harus disusun kembali?
i. Apakah perubahan-perubahan harus dibuat pada tujuan dan hasil yang
diperkirakan?

Pertanyaan-pertanyaan diatas bermanfaat sebagai parameter dalam :


a. Menentukan perkembangan kesehatan siswa terkait dengan promosi
yang telah dilaksanakn
b. Menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan atau program
promosi kesehatan.
c. Menilai pelaksanaan asuhan promosi yang telah dilksanakan
d. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus baru
dalam proses keperawatan gigi.
Sehingga dapat diperoleh data objektif untuk menentukan rencana tindak
lanjut, apakah intervnesi akan terus dilanjutkan (hasil evaluasi positif), diubah
(modifikasi tindakan berdasarkan pengkajian terhadap hambatan-hambatan
yang muncul selama proses promosi kesehatan gosok gigi) atau dihentikan.

20
BAB III

KESIMPULAN

Sasaran promosi Strategi kesehatan diarahkan pada individu / keluarga,


masyarakat, pemerintah / lintas sektor / politisi / swasta, dan petugas atau
pelaksana program. Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perlu
dilaksanakan strategi promosi kesehatan paripurna yang terdiri dari (1)
pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta
dilandasi oleh semangat (4) kemitraan. Pemberdayaan adalah pemberian informasi
dan pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna
membantu individu, keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani
tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS..

Melalui kasus kesehatan gigi dan mulut yang di bahas, Permasalahan


kesehatan pada anak usia sekolah banyak sekali ditemukan salah satunya
kesehatan gigi. Timbulnya penyakit gigi dan mulut dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang saling berinteraksi satu dengan lainnya yakni faktor pendidikan, status
sosial, penghasilan, pola makan, pekerjaan, bahkan budaya manusia itu sendiri.
   Untuk itu, diperlukan pembelajaran menggosok gigi pada anak usia
sekolah dengan benar dengan metode yang baik guna membiasakan anak usia
sekolah untuk selalu menjaga kesehatan gigi dan menghindarkannya dari
kerusakan gigi.

21
DAFTAR PUSTAKA
Ayubi,Dian. 2000. Sesi 7: Rencana Intervensi Promosi Kesehatan
Depatemen Kesehatan RI. 2018. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) Nasional 2018. Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan
Heri D.J Maulana.Promosi Kesehatan. EGC, Jakarta, 2009.2.Soekidjo
Notoatmodjo. 
Maulana, H. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC.
Mannheim, Jennifer.2010. Usia Anak Sekolah. Diakses dari
http://translate.googleusercontent.com/translate_c?
depth=1&ei=xXStUKnoO47yrQehkYEg&hl=id&langpair=en
%7Cid&rurl=translate.google.co.id&u=http://www.nlm.nih.g
ov/medlineplus/ency/article/002017.htm&usg=ALkJrhiFoK3G
lkFZF9h3IbdTSLYY2eJBxw diakses 22 November 20
Palupi. Istiari Dwi. 2004. Malang. Status kesehatan gigi anak dan
factor yang mempengaruhi kesehatan gigi di SDN Karangsoo
III trenggalek.
Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka cipta, Jakarta,2005
Soekidjo Notoatmodjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat . Rineka cipta,
Jakarta, 1998

22