Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak adalah aset bangsa dan generasi penerus bangsa yang akan
menentukan masa depan bangsa dan negara kita. Oleh karena itu, perhatian dan
harapan yang besar perlu diberikan kepada anak. Setiap orang dewasa,
masyarakaat, dan pemerintah berkewajiban untuk menghormati, melindungi, dan
memenuhi hak – hak anak sejak anak masih di dalam kandungan, memenuhi
kebutuhan dasar anak dalam bentuk asih (kebutuhan fisik biologis termasuk
pelayanan kesehatan), asah (kebutuhan kasih saying dan emosi), dan asuh
(kebutuhan stimulasi dini) agar anak bertumbuh dan berkembang sesuai dengan
potensi yang dimilikinya.
Kesehatan gigi dan mulut pada anak merupakan faktor yang harus
diperhatikan sedini mungkin karena kerusakan gigi pada usia anak dapat
memengaruhi pertumbuhan gigi pada usia selanjutnya. Salah satu kerusakan gigi
pada usia anak yang sering dijumpai ialah karies rampan. Karies ini mengenai
beberapa gigi, termasuk gigi yang biasanya bebas karies yaitu gigi anterior
bawah, dan banyak dijumpai pada gigi sulung anak karena mengonsumsi
makanan dan minuman kariogenik atau pada anak balita yang sering mengudap
makanan kariogenik diantara makanan utamanya. Riskesdas 2013 menunjukkan
75,0% penduduk Indonesia memiliki riwayat karies gigi dengan prevalensi
tingkat keparahan gigi Indeks DMF-T nasional yaitu 4,6 (atau 5 gigi per orang).
Sedangkaan Kemenkes menargetkan Indonesia bebas karies 2030 pada umur 12
tahun.
Menurut penelitian Pontunuwu (dalam Afiati dkk, 2014) menjelaskan bahwa
pengetahuan yang tepat memengaruhi perilaku kesehatan dalam meningkatkan
kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut. Namun, pengetahuan seseorang
tentang perilaku memelihara kesehatan gigi dan mulut seringkali terdapat
ketidakselarasan. Menurut Suratri dkk (2016) pengetahuan dan sikap ibu

1
terhadap kesehatan atau perawatan gigi dan mulut anak cukup baik akan tetapi
perilakunya yang belum sesuai dengan pengetahuan dan sikapnya, ini terlihat
pada hanya 50% anak yang sakit gigi dibawa berobat ke pelayanan gigi dan
mulut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu balita?
2. Bagaimana karakteristik balita?
3. Kesehatan gigi dan mulut pada balita?
1.3 Tujuan
1. Memahami pengertian dari balita
2. Memahami karkteristik balita
3. Memahami kesehatan gigi dan mulut pada balita

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Balita

Balita adalah anak usia kurang dari lima tahun sehingga bayi usia dibawah
satu tahun juga termasuk golongan ini. Balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan
menjadi dua yaitu anak usia lebih dari satu tahun sampai tiga tahun yang dikenal
dengan batita dan anak usia lebih dari tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal
dengan usia prasekolah (Proverawati dan wati, 2010).

Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau
lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H,
2006). Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010), Balita adalah istilah
umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat
usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan
kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara
dan berjalan sudah bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas.
Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia.
Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan
pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh
kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan
pernah terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan.

2.2 Karakteristik Balita

Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1 – 3
tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004). Anak usia 1-3 tahun
merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang
disediakan orang tuanya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa
usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Namun

3
perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu
diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar.
Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi
sering.

Pada usia pra-sekolah (usia 3-5 tahun) anak menjadi konsumen aktif. Mereka
sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini berat badan anak
cenderung mengalami penurunan, disebabkan karena anak beraktivitas lebih
banyak dan mulai memilih maupun menolak makanan yang disediakan orang
tuanya.

2.3 Kesehatan Gigi dan Mulut Balita


WHO merekomendasikan kelompok usia tertentu untuk diperiksa yaitu
kelompok usia 5 tahun untuk gigi sulung. Tingkat karies gigi pada kelompok usia
ini lebih cepat berubah daripada gigi permanen dan usia 5 tahun merupakan usia
anak mulai sekolah. Analisis data Riskesdas 2013 tidak menggambarkan status
kesehatan gigi dan mulut usia 5 tahun. Penyakit karies gigi pada anak usia mulai
sekolah (5 tahun) saat ini masih belum mendapat perhatian dan penanganan yang
memadai. Hal ini disebabkan antara lain kurangnya data dan informasi penyakit
karies gigi yang menyerang anak usia tersebut yaitu decayed, extraction, filled
teeth (def-t) beserta pengaruh-pengaruh buruk lainnya, sedangkan data tersebut
sangat dibutuhkan sebagai masukan bagi program dalam upaya pencegahan
penyakit gigi melalui sekolah pada jenjang yang lebih awal, yaitu prasekolah.

Karies merupakan proses patologik berupa kerusakan pada jaringan keras


gigi dimulai dari email, dentin, dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas
jasad renik dalam karbohidrat yang dapat diragikan. Karakteristiknya ialah
terjadi demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan
bahan organik. Karies dapat mengenai gigi sulung dan gigi tetap, namun proses
kerusakan gigi sulung lebih cepat menyebar dan lebih parah dibanding gigi tetap.
Faktorpenyebab adanya perbedaan ini ialah karena struktur email gigi susu
kurang padat dan lebih tipis dibanding gigi tetap.

4
Karies yang sering dijumpai pada anak-anak ialah karies rampan. Karies
rampan adalah lesi karies yang terjadi cepat, menyebar secara luas dan
menyeluruh sehingga cepat mengenai pulpa. Karies ini mengenai beberapa gigi,
termasuk gigi yang biasanya bebas karies yaitu gigi anterior bawah, dan banyak
dijumpai pada gigi sulung anak karena mengonsumsi makanan dan minuman
kariogenik atau pada anak balita yang sering mengudap makanan kariogenik
diantara makanan utamanya.

Karies rampan merupakan penyakit multifaktorial karena mencakup


beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya karies. Karies rampan ini terjadi
karena ketidakseimbangan mineralisasi dalam waktu lama di dalam rongga mulut
yang diakibatkan peningkatan konsumsi karbohidrat yaitu sering mengonsumsi
makanan dan minuman kariogenik yang tinggi kandungan sukrosanya. Karies
rampan ini sering ditemukan pada anak usia di bawah 5 tahun dengan
penyebaran tertinggi pada anak usia 4 tahun dimana pada usia tersebutgigi anak
msih rentan terhadap asam dan anak belum tahu mmbersihkan gigi geliginya
sendiri.

Karies rampan yang spesifik ialah baby bottle caries. Terdapat pada anak-
anak yang berhubungan dengan riwayat masa bayi, misalnya tertidur dengan
botol susu masih di dalam rongga mulut yang berisi sirup atau jus (mengandung
gula), pemberian air susu ibu dengan periode lama, atau memakai dot kosong
yang dicelupkan dalam madu, sirup, atau gula. Frekuensi makanan karbohidrat
yang tinggi pada anak dengan kebiasaan tidur minum susu botol merupakan
penyebab utama dari penularan bakteri kariogenik.

2.4 Cara Merawat Gigi pada Balita

Menjaga kesehatan gigi anak sejak dini penting dilakukan agar anak terbebas
dari karies karena kebiasaan anak yang mayoritas menyukai makan makanan
kariogenik. Merawat kesehatan gigi merupakan cara terbaik untuk menjaga gigi
dan mulut anak tetap sehat. Dari usia bayi sampai umur 5 tahun (balita), perlu

5
mengajarkan pentingnya perawatan gigi agar tidak terjadi kerusakan maupun
penyakit gigi dan mulut pada saat dewasa.

Pengetahuan orang tua juga sangat penting dalam mendasari terbentuknya


perilaku yang dapat mendukung ataupun tidak mendukung kebersihan gigi dan
mulut pada anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun
secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. Orang tua dengan pengetahuan
rendah mengenai kesehataan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari
perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak, Eriska
(Sariningrum, 2009).

Berikut beberapa tips merawat gigi susu anak; (a) Bersihkan gigi anak sejak
bayi sesering mungkin yaitu, sehabis mengkonsumsi ASI dan makanan
tambahan. Gunakan bahan-bahan yang lembut seperti tisu, kasa atau lap lembut.,
(b) Ajarkan kebiasaan menggosok gigi dengan cara yang benar. Berikan contoh
secara langsung dan jangan memaksa anak untuk menyikat gigi., (c) Ajarkan
pada anak untuk tidak menggosok gigi terlalu menekan karena dapat
menyebabkan kerusakan gusi anak., (d) Cara merawat gigi anak agar tidak
mudah retak, hindari minuman dingin setelah makan makanan panas atau
sebaliknya., (e) Beritahu pada anak tentang manfaat meminum air putih dapat
menjaga kesehatan mulut dan gigi secara alami., (f) Biasakan anak untuk
mengunyah makanan menggunakan gigi geraham kanan dan kiri secara
seimbang. Tujuannya agar pertumbuhan rahang sempurna., (g) Jangan biarkan
anak menggigit dan merobek kemasan jajanan memakai gigi karena selain
menimbulkan nyeri, hal ini bisa membuat gigi anak goyang, (Naja, 2013).

Dari beberapa tips di atas, salah satu yang sering kita lakukan adalah
menggosok gigi. Kebiasaan menggosok gigi adalah kebiasaan sehat yang perlu
dilakukan anak untuk menjaga kebersihan gigi dan mulutnya. Terlebih lagi ketika
usia anak semakin bertambah dan anak mulai mengkonsumsi berbagai jenis
makanan, diantaranya makanan yang manis seperti jus buah, permen dan coklat.
Makanan manis seperti itu dapat merusak kesehatan gigi anak dan bisa

6
menimbulkan masalah gigi berlubang, gigi berwarna hitam keropos dan bau
mulut tidak sedap. Oleh karena itu, penting sekali bagi para orang tua untuk
mengajarkan cara menggosok gigi secara teratur kepada anak, (Saraswati, 2012).

Namun, kegiatan untuk memperkenalkan dan mengajari gosok gigi ke anak


tentu tidaklah mudah. Beberapa tips di bawah ini dapat membantu mengajari
anak menggosok gigi secara benar dengan cara yang menyenangkan. Pertama,
untuk memudahkan anak belajar gosok gigi sebaiknya mulai kenalkan
pentingnya menjaga kebersihan mulut ke anak sejak usia dini. Kedua, setelah
gigi anak mulai tumbuh (biasanya setelah usia anak 6 bulan), bisa dibelikan sikat
gigi anak dengan kepala sikat yang kecil dan bulu sikat gigi yang lembut.
Usahakan untuk membeli sikat gigi dengan warna yang cerah agar lebih menarik
untuk digenggam oleh anak. Ketiga, bantu anak untuk memegang sikat gigi
kecilnya dan mengarahkan untuk menggosokannya di gigi anak. Keempat,
pastikan anak juga mengetahui bahwa orang tuanya dan anggota keluarga lainnya
juga menggosok gigi secara rutin. Kelima, jangan malu untuk membuka mulut
lebar-lebar ke anak dan jelaskan pentingnya menggosok semua gigi secara
keseluruhan. Keenam, ajarkan anak cara menyikat gigi dengan tekanan yang
cukup kuat tapi tetap lembut agar tidak melukai gusinya. Ketujuh, ketika
membeli sikat gigi, pasta gigi dan gelas plastik untuk berkumur, sebaiknya
mengajak si kecil dan biarkan ia untuk memilih sendiri perlengkapan menyikat
gigi yang disukainya, (Saraswati, 2012).

7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010), Balita adalah istilah umum
bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Tingkat karies
gigi pada kelompok usia ini lebih cepat berubah daripada gigi permanen dan usia
5 tahun merupakan usia anak mulai sekolah. Karies yang sering dijumpai pada
anak-anak ialah karies rampan. Karies rampan adalah lesi karies yang terjadi
cepat, menyebar secara luas dan menyeluruh sehingga cepat mengenai pulpa.
Dari usia bayi sampai umur 5 tahun (balita), perlu mengajarkan pentingnya
perawatan gigi agar tidak terjadi kerusakan maupun penyakit gigi dan mulut pada
saat dewasa. Menggosok gigi merupakan salah satu cara yang baik untuk
merawat gigi pada anak.