Anda di halaman 1dari 7

NAMA : AGUNG RAKSABUANA

NIM : 031238329

UPBJJ : BOGOR

TUGAS :3

MATAKULIAH : MANAJEMEN RISIKO DAN ASURANSI

1.) Semua pembelian asuransi menyangkut kontrak, yaitu perjanjian yang mengikat
secara hukum dan menimbulkan hak serta kewajiban bagi pihak-pihak yang
bersangkutan.

a. Jelaskan jenis kontrak asuransi

Jawab :

Kontrak dalam asuransi dapat dapat dibedakan menjadi kontrak bersyarat dan
kontrak cacat hukum. Penjelasan masing-masing kontrak adalah sebagai berikut.

- Kontrak Bersyarat (Voidable Contract)

Kontrak bersyarat memungkinkan satu pihak memilih memutuskan perjanjian


karena tindakan atau ketiadaan tindakan (wan prestasi) dari pihak lainnya. Pihak
yang memiliki hak untuk memutuskan kontrak dapat juga memilih agar kontrak
ditegakkan. Sebagai contoh: penanggung tidal( lagi terikat memenuhi
kewajibannya, jika diketahui bahwa tertanggung melakukan penipuan (defrand),
tertanggung dapat menuntut penanggung ke pengadilan, jika penanggung, secara
melawan hukum, menolak pembayaran klaim.

- Kontrak yang Cacat Hukum (Void Contract)

Kontrak cacat hukum, jib dan semula kekurangan sate atau lebih persyaratan
untuk menjadi kontrak yang berlaku. Contoh: kontrak asuransi yang dibeli untuk
maksud Regal seperti maksud memperoleh uang pertanggungan dengan
membakar rumah yang dipertanggungkan, sate pihak tidak mampu secara hukum
seperti seseorang dinyatakan tidak waras membeli asuransi. Dalam hal-hal
tersebut kontrak tersebut dianggap tidak pernah ada (void ab italic)). Dalam
asuransi properti dikenal adanya ikatan (blinder) yaitu kontrak sementara yang
sering digunakan sebelum keluamya polls asuransi formal. Ikatan hams
memenuhi semua persyaratan kontrak hukum. Maksud diadakannya ikatan
adalah memberikan perlindungan seketika selama waktu prows permintaan akan
asuransi. Ikatan bisa lisan atau tertulis. Ikatan lisan seperti lewat telepon, hams
segera diikuti dengan dokumen tertulis. Ikatan tertulis hams menyebut jumlah
uang pertanggungan, jangka waktu kecfektifan ikatan, dan pihak-pihak dalam
ikatan. Dalam asuransi jiwa tidak menggunakan ikatan karena agen-agennya
tidak memiliki kewenangan mengikat perusahaannya. Perlindungan sementara
diberikan dalam bentuk penerimaan bersyarat (conditional receipt) yaitu
tergantung pada dipenuhinya persyaratan atau bukti dapat diasuransikannya
(insurability) calon tertanggung, misalnya keadaan kesehatan. Jika persyaratan
atau bukti tersebut dipenuhi, perlindungan mulai berlaku setelah pembayaran
premi pertama.

b. Jelaskan syarat-syarat kontrak asuransi

Jawab :

Hak dan kewajiban pihak-pihak yang terikat dalam kontrak asuransi pada
dasarnya diatur oleh UU No. 40/2014 tentang Perasuransian. Karena kontrak
asuransi pada umumnya merupakan suatu ikatan maka Kitab Undang-undang
Hukum Perdata dan Hukum Dagang masih tetap mengatur perasuransian,
sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang No. 40/2014. Suatu
kontrak merupakan perjanjian yang didasarkan pada hukum. Kitab Undang-
undang Hukum Perdata Pasal 1320 menentukan, untuk sahnya sebuah kontrak
maka harus dipenuhi ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh hukum.
Ketentuan-ketentuan umum yang harus dipenuhi menurut Pasal 1320 adalah
yang berikut ini.

1. Harus Ada Persetujuan dari Pihak-Pihak yang Mengikatkan Diri

Kontrak dimulai bila seseorang mengajukan usulan untuk mempertulcarkan


sesuatu yang berharga dengan orang lain. Itu berarti bahwa salah satu pihak
menawarkan dan tawaran diterima balk oleh pihak lain. Penawaran tersebut harus
cukup terinci dan dikomunikasikan secara jelas. Penerimaan penawaran bars
tanpa syarat, dan dikomunikasikan secara jelas. Semua pihak dalam suatu
kontrak harus sepakat atas syarat-syarat yang tepat sama. Harus terjadi
kesamaan pikiran (meeting of the minds). Untuk membuat suatu kontrak, satu
pihak memberi penawaran kepada pihak lainuntuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu. Pihak kedua dapat menerima, menolak atau membuat konter
penawaran. Jika terjadi kesepakatan, maka kedua belah pihak terikat untuk
melaksanakan kontrak tersebut.
Dalam asuransi, tawaran biasanya dilakukan melalui permohonan
pertanggungan oleh talon nasabah. Metode yang paling sederhana yang biasa
dipergunakan dalam asuransi kerugian adalah permohonan lisan kepada agen.
Dalam asuransi jiwa atau kesehatan penawaran mesti dilakukan dengan
permohonan tertulis.

Sebelum suatu kontrak efektif, penerimaan permohonan itu adalah penting.


Dalam asuransi kerugian, agen biasanya mempunyai wewenang untuk mengikat
atau menerima permohonan itu bahkan tanpa menerima pembayaran dari
pemohon. jika diperlukan perlindungan bisa dimulai segera, walau baru dengan
permohonan lisan dan dengan persetujuan lisan oleh agen. "Binder tertulis" atau
kontrak sementara bisa diterbitkan oleh agen dengan ketentuan bahwa kontrak
tertulis akan disiapkan biasanya dalam 15 sampai 30 hari, tetapi hal ini tidak
esensial untuk menjadi efektifnya perjanjian itu.

Dalam asuransi jiwa, metode dan waktu penerimaan persetujuan berbeda


dengan asuransi kerugian. Lamaran tertulis dan pembayaran premi pertama
biasanya disampaikan sekaligus kepada agen. Agen lalu memberikan "kuitansi
bersyarat". Penerimaan (acceptance) ini merupakan saatnya ketika pelamar
memenuhi standar underwriting, yang meliputi pemeriksaan kesehatan jika
diperlukan. Kemudian coverage yang diminta menjadi efektif pada waktu
penyerahan lamaran beserta pembayaran premi. Andai kata premi pada waktu itu
belum dibayar maka asuransi itu belum efektif. Sekiranya pelamar tidak dapat
memenuhi standar underwriting dad penanggung, pihak penanggung boleh
membuat suatu counter offer dengan kontrak lain yang mungkin diterima awn
ditolak atas penyampaiannya oleh agen.

2. Tujuannya Harus Legal (Lawful Objective)

Pengadilan tidak akan mendukung jika maksud perjanjian tidak legal atau
bertentangan dengan politik pemerintah. Misalnya perjanjian menjadi tidak sah
jika yang diasuransikan adalah mobil curian. Contoh lain, perjanjian ilegal jika
misalnya orang mengasuransikan rumahnya dengan niat is akan membakar
rumah itu dengan sengaja dengan harapan akan mendapat santunan asuransi.

3. Kedua Belah Pihak Haru Kompeten (Capacity)

Tidak semua orang secara hukum memiliki kemampuan untuk melakukan


kontrak. Misalnya anak di bawah umur, orang sakit jiwa, dan pemabuk atau
pecandu tidak kompeten untuk melakukan perjanjian yang mengikat. Perusahaan
asuransi yang belum mempunyai izin usaha menipakan pihak yang tidak
kompeten.

4. Harus Ada Imbalan yang Dipertukarkan (Compensation)

Persyaratan terakhir untuk sahnya sebuah kontrak adalah imbalan yang


dipertukarkan oleh kedua belah pihak untuk persetujuan itu, misalnya, adanya hak
atau kewajiban. Dalam kontrak asuransi, penanggung memberikan kompensasi
berupa janji bersyarat (contingent promise) untuk mcmbayar tertanggung. Artinya,
penanggung sepakat membayar hanya jika peristiwa tertentu terjadi. Jika
peristiwa tersebut tidak terjadi, penanggung tidak perlu melakukan pernbayaran.
Sebagai ganti untuk janji penanggung, tertanggung memberikan dua hal yaitu:
uang dan janji untuk menepati ketentuan dalam kontrak asuransi.

Sebagian besar kontrak asuransi berupa kontrak unilateral yaitu bahwa hanya
penanggung yang membuat janji yang dapat ditegakkan. Tertanggung tidak
berjanji untuk membayar premi, dan tidak dapat dituntut atas kegagalannya
membayar. Hanya saja, tertanggung tidak dapat mendapatkan klaim yang
dijanjikan. jika premi tidak membayar (pada waktunya).

2.) Jelaskan tinjauan usaha perasuransian di Indonesia dilihat dari unsur


kepemilikan !

Jawab :

Dilihat dari sudut pandang kepemilikannya, semua perusahaan yang bergerak


dalam sektor asuransi dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yang meliputi
Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Swasta Nasional, dan Badan
Usaha Milik Usaha Patungan. Secara singkat berikut diberikan ulasannya.

1. Badan Usaha Milik Negara

Badan Usaha Milik Negara, sesuai dengan namanya semua saham atau
sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah, yang dalam hal ini
Departemen Keuangan RI. Badan usaha milik negara, secara hukum berbentuk
Perseroan Terbatas yang diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas,
namun dengan memperhatikan beberapa ketentuan khusus. Biasanya
perseroan terbatas diberi tambahan di belakangnya dengan kata 'Persero'.
Badan Usaha Milik Negara mempunyai visi dan misi yang disejalankan dengan
kepentingan Pcmerintah dalam menjalankan kebijakannya, terutama yang terkait
dengan keuangan, perbankan, perekonomian, perindustrian, perdagangan,
perhubungan, dan sebagainya. Adapun perusahaan-perusahaan milik negara
dimaksud meliputi:

a. PT Asuransi Jiwasraya

Perusahaan ini merupakan Badan Usaha Milik Negara, menjual produk


asuransi jiwa, baik secara individual maupun secara kelompok.

b. PT Asuransi Jasa Indonesia

Atau seringkali disingkat dengan panggilan Asuransi Jasindo. Perusahaan ini


merupakan Badan Usaha Milik Negara, menjual produk asuransi umum atau
asuransi kerugian.

c. PT Asuransi Kredit Indonesia

Atau seringkali disingkat dengan panggilan PT Askrindo. Perusahaan ini


merupakan Badan Usaha Milik Negara yang menjual produk asuransi atas
jaminan kredit bagi para nasabah bank yang mendapatkan pinjaman kredit.

d. PT Asuransi Ekspor Indonesia

Atau seringkali disingkat dengan panggilan ASH. Perusahaan ini merupakan


Badan Usaha Milik Negara, menjual produk asuransi berupa pemberian jaminan
atas barang-barang yang diekspor ke negara lain.

e. PT Reasuransi Umum Indonesia

Atau seringkali disingkat dengan panggilan REINDO. Perusahaan ini


merupakan Badan Usaha Milik Negara, menjual produk asuransi bagi
perusahaan asuransi yang mengalami kelebihan kapasitas daya tampung risiko.
Dengan demikian maka perusahaan ini merupakan lembaga asuransi khusus
bagi perusahaan asuransi.

f. PT Asuransi Jasa Raharja

Badan Usaha Milik Negara ini, melaksanakan program asuransi sosial dalam
hal pemberian santunan kepada korban kecelakaan lain lintas jalan raya.

g. PT Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri

Atau seringkali disingkat dengan panggilan PT Taspen. Perusahaan ini


merupakan Badan Usaha Milik Negara, melaksanakan program asuransi sosial
bagi para Pegawai Negeri Sipil. Program yang diberikan ialah santunan berupa
tunjangan hari tua dan pembayaran upah pensiun.
h. PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Atau scring kali disingkat dengan panggilan PT Jamsostck. Pcrusahaan ini


merupakan Badan Usaha Milik Negara, melaksanakan program asuransi sosial
bagi seluruh tenaga kerja. Program yang diberikan ialah memberikan santunan
kepada tenaga kerja yang mengalami kecelakaan selama menjalankan tugas
pekerjaannya. Santunan diberikan baik untuk biaya pengobatan maupun untuk
santunan meninggal dunia.

i. PT Asuransi Kesehatan

Atau seringkali disingkat dengan panggilan PT ASKES. Perusahaan ini


merupakan Badan Usaha Milik Negara, menjual produk yang berupa asuransi
kesehatan balk bagi para Pegawai Negeri Sipil, maupun bagi masyarakat yang
memerlukannya.

2. Badan Usaha Milk Swasta Nasional

Pengertian milik swasta di sini adalah swasta nasional. Demikian juga dengan
bentuk badan hukumnya, bisa berbentuk Perseroan Terbatas dan bisa juga
dalam bentuk Koperasi. Perusahaan swasta nasional sepenuhnya tunduk
kepada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas.
Apabila perseroan terbatas dimaksud telah mampu menjadi perusahaan publik
maka juga harus tunduk kepada Undang-Undang tentang Pasar Modal.

Pada perusahaan swasta nasional yang berbentuk koperasi, maka dengan


sendirinya harus tunduk kepada Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun
1992, yang pada tanggal 30 Oktober telah dikeluarkan Undang-Undang
Koperasi yang ban Nomor 17 Tahun 2012.

3. Badan Usaha Milik Usaha Patungan

Sesudah orde baru memegang Pemerintahan pada tahun 1966, maka secara
berangsur masuklah pars investor asing ke Indonesia, dalam bentuk
Pcnanaman Modal Asing. Bcrsamaan dcngan itu mereka juga membawa mitra
usahanya atau perusahaan-perusahaan yang terkait dengan perusahaan yang
menanamkan modalnya di Indonesia. Salah satu mitra usaha mereka adalah
perusahaan asuransi. Namun, sesuai dengan ketentuan yang ada di Indonesia
tidak dibenarkan adanya perusahaan asuransi yang pemiliknya adalah pemodal
asing murni, maka jalan keluarnya mereka melakukan usaha patungan (joint-
ventures), dengan mitra asuransi nasional balk dengan badan usaha milik
negara maupun dengan badan usaha milik swasta nasional. Dewasa ini
perusahaan asuransi dengan bentuk usaha patungan telah melakukan usaha
baik dalam usaha asuransi kerugian maupun usaha asuransi jiwa. Hingga buku
ini ditulis belum terlihat adanya usaha patungan yang membuka usaha dalam
usaha reasuransi.

Sumber :

Suryanto. "Manajemen Resiko dan Asuransi" 1-9/ ADBI4211/ 3sks-- Cet. 1; Ed. 2--
Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2019.