Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

TUBERCULOSIS PARU
I. KONSEP DASAR TORI
A. Pengertian
Tuberkulosis atau TB adalah penyakit infeksius yang terutama
menyerang parenkim paru. Tuberculosis paru adalah suatu penyakit
menular yang disebabkan oleh basil mikrobacterium tuberkolusis
yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian
bawah (Wijaya, 2013, Hal. 137).
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang paling
sering mengenai parenkim paru, biasanya disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosis (Smeltzer, 2014. Hal 525).
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB (Myobacterium tuberculosis). Sebagian
besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ
tubuh lainnya. (Depkes RI, 2007).
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama
menyerang parenkim paru Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke
bagian tubuh lainnya, termasuk meningens, ginjal, tulang, dan
nodus limfe. (Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, 2002 ).
B. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien
Menurut Depkes (2006), klasifikasi penyakit TB dan tipe pasien
digolongkan:
1. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
a. Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis
yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk
pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
b. Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang
organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak,
selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin,
dan lain-lain.
2. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis,
yaitu pada TB Paru:
a. Tuberkulosis paru BTA positif.
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS
hasilnya BTA positif.
2) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto
toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan
kuman TB positif.
4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3
spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya
hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT.
b. Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA
positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
1) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
2) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran
tuberkulosis.
3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT.
4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi
pengobatan.
3. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit
TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan
tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan.
Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan
gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far
advanced”), dan atau keadaan umum pasien buruk.
TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
a. TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis
eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi,
dan kelenjar adrenal.
b. TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier,
perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB
tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat
kelamin.
4. Tipe Pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan
sebelumnya. Ada beberapa tipe pasien yaitu:
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4
minggu).
b. Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberculosis dan telah dinyatakan
sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali
dengan BTA positif (apusan atau kultur).
c. Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan
atau lebih dengan BTA positif.
d. Kasus setelah gagal (failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif
atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih
selama pengobatan.
e. Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki
register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
f. Kasus lain :
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas.
Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien
dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai
pengobatan ulangan.
C. Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Myobacterium tuberculosae,
sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um
dan tebal 0,3-0,6/Um. Tergolong dalam kuman Myobacterium
tuberculosae complex adalah :
1. M. Tuberculosae
2. Varian Asian
3. Varian African I
4. Varian African II
5. M. bovis.
Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid
inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam
alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga
lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan
hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat
tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman
bersifat dormant, tertidur lama selama bertahun-tahun dan dapat
bangkit kembali menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Di dalam
jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam
sitoplasma makrofag.
Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian
disenanginya karena banyak mengandung lipid (Asril Bahar,2001).
Cara penularan TB (Depkes, 2006)
1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.
a. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman
ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).
Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan
dahak.
b. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan
dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat
mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari
langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan
selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan
lembab.
c. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya
kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat
kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien
tersebut.
d. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB
ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan
lamanya menghirup udara tersebut.
D. Patofisiologi
Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran
pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit.
Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara (airborne),
yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil
tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran
pencernaan merupakan tempat masuk utama jenis bovin, yang
penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
Tuberkulosis adalh penyakit yang dikendalikan oleh respon
imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan
limfosit (biasanya sel T) adalah sel imunoresponsifnya. Tipe
imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang
diaktifkan di tempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini
disebut sebagai reaksi hipersensitivitas (lambat)
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif
padat dan seperti keju, lesi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa.
Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di
sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan
respon berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa
membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu
kapsul yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer paru-paru dinamakan
fokus Gohn dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening
regional dan lesi primer dinamakan kompleks Gohn respon lain
yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana
bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi
tuberkular yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke
dalam percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat akan terulang
kembali ke bagian lain dari paru-paru, atau basil dapat terbawa
sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat
menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan
parut bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan
tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan rongga
bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat
mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh
dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang
tidak terlepas keadaan ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu
lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi
tempat peradangan aktif. Penyakit dapat menyebar melalui getah
bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar
getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil dapat
menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini
dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya
sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu
fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini
terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga
banyak organisme masuk kedalam sistem vaskular dan tersebar ke
organ-organ tubuh.
E. Manifestasi Klinis
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-
3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan
yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan
lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,
berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih
dari satu bulan (Depkes, 2006).
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-
macam atau malah banyak pasien ditemikan Tb paru tanpa keluhan
sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan. Gejala tambahan yang
sering dijumpai (Asril Bahar. 2001):
1. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-
kadang dapat mencapai 40-41°C. Serangan demam pertama
dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali.
Begitulah seterusnya sehingga pasien merasa tidak pernah
terbebas dari demam influenza ini.
2. Batuk/Batuk Darah
Terjadi karena iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk
membuang produk-produk radang keluar. Keterlibatan bronkus
pada tiap penyakit tidaklah sama, maka mungkin saja batuk baru
ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni
setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan
bermula. Keadaan yang adalah berupa batuk darah karena
terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah
pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi
pada ulkus dinding bronkus.
3. Sesak Napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak
napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah
lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-
paru.
4. Nyeri Dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi
radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien
menarik/melepaskan napasnya.
5. Malaise
Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala
malaise sering ditemukan berupa anoreksia (tidak ada nafsu
makan), badan makin kurus (berat badan turun), sakit kepala,
meriang, nyeri otot, dan keringat pada malam hari tanpa
aktivitas. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi
hilang timbul secara tidak teratur.
F. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis TB menurut Depkes (2006):
1. Diagnosis TB paru
a. Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2
hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).
b. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan
ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional,
penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis
merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto
toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai
penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
c. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan
pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga
sering terjadi overdiagnosis.
d. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan
aktifitas penyakit.
e. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk
suspek TB paru.
2. Diagnosis TB ekstra paru.
a. Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya
kaku kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura
(Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada
limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis TB dan lainlainnya.
b. Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis
kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat
(presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan
bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik,
misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto
toraks dan lain-lain.
Diagnosis TB menurut Asril Bahar (2001):
1. Pemeriksaan Radiologis
Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang
praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis. Lokasi lesi
tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apikal
lobus atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat juga
mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus
menyerupai tumor paru.
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah
Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya
kadang-kadang meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga
tidak spesifik. Pada saat tuberkulosis baru mulai sedikit
meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah
limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah mulai
meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit
kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap
darah mulai turun ke arah normal lagi.
b. Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan
ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah
dapat dipastikan. Disamping itu pemeriksaan sputum juga
dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang
sudah diberikan.
c. Tes Tuberkulin
Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu
sedang atau pernah mengalami infeksi M. Tuberculosae, M.
Bovis, vaksinasi BCG dan Myobacteria patogen lainnya.
G. Penatalaksanaan
1. Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan
rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman
terhadap OAT.
2. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip
sebagai berikut:
a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa
jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai
dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT
tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis
Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat
dianjurkan.
b. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed
Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
c. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap
intensif dan lanjutan.
1) Tahap awal (intensif)
a) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat
setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk
mencegah terjadinya resistensi obat.
b) Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan
secara tepat, biasanya pasien menular menjadi
tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
c) Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA
negatif (konversi) dalam 2 bulan.
2) Tahap Lanjutan
a) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat
lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih
lama
b) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
persister sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan
3. Jenis, sifat dan dosis OAT
Dosis yang
direkomendasikan (mg/kg)
Jenis OAT Sifat
3x
Harian
seminggu
Isoniazid (H) Bakterisid 5 10
(4-6) (8-12)
Rimpanficin (R) Bakterisid 10 10
(8-12) (8-12)
Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 35
(20-30) (30-40)
Streptomycin (S) Bakterisid 15 15
(12-18) (12-18)
Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 30
(15-20) (20-35)

4. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia


a. Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia:
1) Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
2) Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat
sisipan (HRZE) : Kategori Anak: 2HRZ/4HR
b. Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam
bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT),
sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam
bentuk OAT kombipak.
c. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat
dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan
pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu
pasien.
d. Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu
Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol. Paduan
OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang
mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket,
dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan
menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai
selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1)
masa pengobatan.
e. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan
TB:
1) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan
sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek
samping.
2) Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga
menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan
mengurangi kesalahan penulisan resep
3) Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga
pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan
kepatuhan pasien
H. Komplikasi
Komplikasi pada penderita tuberkulosis stadium lanjut (Depkes
RI, 2005) :
1. Hemoptosis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang
dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau
tersumbatnya jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
3. Bronkiektasis ( pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis
(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif)
pada paru.
4. Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan :
kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal dan
sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency)
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
B. Diagnosa Keperawatan\
C. Intervensi
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
keperawatan
Bersihan jalan Setelah diberikan 1. Kaji ulang 1. Penurunan bunyi
napas tidak tindakan fungsi napas indikasi
efektif keperawatan pernapasan: atelektasis, ronki
berhubungan kebersihan jalan bunyi napas, indikasi akumulasi
dengan sekret napas efektif, kecepatan, secret/ketidakmamp
kental atau dengan criteria irama, uan membersihkan
sekret darah, hasil: kedalaman jalan napas
kelemahan, 1.Mempertahank dan sehingga otot
upaya batuk an jalan napas penggunaan aksesori digunakan
buruk, edema pasien. otot aksesori. dan kerja
trakeal/faringeal. 2.Mengeluarkan pernapasan
sekret tanpa meningkat.
bantuan.
3.Menunjukkan 2. Catat 2. Pengeluaran sulit
prilaku untuk kemampuan bila sekret tebal,
memperbaiki untuk sputum berdarah
bersihan jalan mengeluarkan akibat kerusakan
napas. secret atau paru atau luka
4.Berpartisipasi batuk efektif, bronchial yang
dalam program catat karakter, memerlukan
pengobatan jumlah evaluasi/intervensi
sesuai kondisi. sputum, lanjut .
5.Mengidentifika adanya
si potensial hemoptisis.
komplikasi dan
melakukan 3. Berikan pasien 3. Meningkatkan
tindakan tepat. posisi semi ekspansi paru,
atau Fowler, ventilasi maksimal
Bantu/ajarkan membuka area
batuk efektif atelektasis dan
dan latihan peningkatan gerakan
napas dalam. sekret agar mudah
dikeluarkan.

4. Bersihkan 4. Mencegah
sekret dari obstruksi/aspirasi.
mulut dan Suction dilakukan
trakea, suction bila pasien tidak
bila perlu. mampu
mengeluarkan
sekret.

5. Pertahankan 5. Membantu
intake cairan mengencerkan
minimal 2500 secret sehingga
ml/hari kecuali mudah dikeluarkan.
kontraindikasi.

6. Lembabkan 6. Mencegah
udara/oksigen pengeringan
inspirasi. membran mukosa.

Kolaborasi:
7. Berikan obat: 7. Menurunkan
agen kekentalan sekret,
mukolitik, lingkaran ukuran
bronkodilator, lumen
kortikosteroid trakeabronkial,
sesuai berguna jika terjadi
indikasi. hipoksemia pada
kavitas yang luas.
Gangguan Setelah diberikan 1. Kaji dispnea, 1. Tuberkulosis paru
pertukaran gas tindakan takipnea, dapat rnenyebabkan
berhubungan keperawatan bunyi meluasnya
dengan pertukaran gas pernapasan jangkauan dalam
berkurangnya efektif, dengan abnormal. paru-pani yang
keefektifan kriteria hasil: Peningkatan berasal dari
permukaan 1. Melaporkan upaya bronkopneumonia
paru, tidak terjadi respirasi, yang meluas menjadi
atelektasis, dispnea. keterbatasan inflamasi, nekrosis,
kerusakan 2. Menunjukkan ekspansi pleural effusion dan
membran perbaikan dada dan meluasnya fibrosis
alveolar kapiler, ventilasi dan kelemahan. dengan gejala-gejala
sekret yang oksigenasi respirasi distress.
kental, edema jaringan 2. Evaluasi 2. Akumulasi secret
bronchial adekuat perubahan- dapat menggangp
dengan GDA tingkat oksigenasi di organ
dalam rentang kesadaran, vital dan jaringan.
normal. catat tanda-
3. Bebas dari tanda
gejala distress sianosis dan
pernapasan. perubahan
warna kulit,
membran
mukosa, dan
warna kuku.

3. Demonstrasik 3. Meningkatnya
an/anjurkan resistensi aliran
untuk udara untuk
mengeluarkan mencegah kolapsnya
napas dengan jalan napas.
bibir
disiutkan,
terutama
pada pasien
dengan
fibrosis atau
kerusakan
parenkim.

4. Anjurkan 4. Mengurangi
untuk bedrest, konsumsi oksigen
batasi dan pada periode
bantu respirasi.
aktivitas
sesuai
kebutuhan.

5. Monitor GDA. 5. Menurunnya saturasi


oksigen (PaO2) atau
meningkatnya PaC02
menunjukkan
perlunya
penanganan yang
lebih. adekuat atau
perubahan terapi.

Kolaborasi:
6. Berikan 6. Membantu
oksigen mengoreksi
sesuai hipoksemia yang
indikasi. terjadi sekunder
hipoventilasi dan
penurunan
permukaan alveolar
paru.
Gangguan Setelah diberikan 1. Catat status 1. Berguna dalam
keseimbangan tindakan nutrisi mendefinisikan
nutrisi, kurang keperawatan paasien: derajat masalah dan
dari kebutuhan diharapkan turgor kulit, intervensi yang tepat
berhubungan kebutuhan nutrisi timbang berat
dengan adekuat, dengan badan,
kelelahan, batuk kriteria hasil: integritas
yang sering, 1. Menunjukkan mukosa
adanya produksi berat badan mulut,
sputum, meningkat kemampuan
dispnea, mencapai menelan,
anoreksia, tujuan dengan adanya bising
penurunan nilai usus, riwayat
kemampuan laboratoriurn mual/rnuntah
finansial. normal dan atau diare.
bebas tanda 2. Kaji ulang 2. Membantu intervensi
malnutrisi. pola diet kebutuhan yang
2. Melakukan pasien yang spesifik,
perubahan disukai/tidak meningkatkan intake
pola hidup disukai. diet pasien.
untuk 3. Monitor intake 3. Mengukur keefektifan
meningkatkan dan output nutrisi dan cairan.
dan secara
mempertahan periodik.
kan berat 4. Catat adanya 4. Dapat menentukan
badan yang anoreksia, jenis diet dan
tepat. mual, muntah, mengidentifikasi
dan tetapkan pemecahan masalah
jika ada untuk meningkatkan
hubungannya intake nutrisi.
dengan
medikasi.
Awasi
frekuensi,
volume,
konsistensi
Buang Air
Besar (BAB).
5. Anjurkan 5. Membantu
bedrest. menghemat energi
khusus saat demam
terjadi peningkatan
metabolik.
6. Lakukan 6. Mengurangi rasa
perawatan tidak enak dari
mulut sputum atau obat-
sebelum dan obat yang digunakan
sesudah yang dapat
tindakan merangsang muntah.
pernapasan.
7. Anjurkan 7. Memaksimalkan
makan sedikit intake nutrisi dan
dan sering menurunkan iritasi
dengan gaster.
makanan
tinggi protein
dan
karbohidrat.

Kolaborasi:
8. Rujuk ke ahli 8. Memberikan bantuan
gizi untuk dalarn perencaaan
menentukan diet dengan nutrisi
komposisi adekuat unruk
diet. kebutuhan metabolik
dan diet.
9. Awasi 9. Nilai rendah
pemeriksaan menunjukkan
laboratorium. malnutrisi dan
(BUN, protein perubahan program
serum, dan terapi.
albumin).
Nyeri akut Setelah diberikan 1. Observasi 1. Nyeri merupakan
berhubungan tindakan karakteristik respon subjekstif
dengan keperawatan nyeri, mis yang dapat diukur.
inflamasi paru, rasa nyeridapat tajam,
batuk menetap berkurang atau konstan ,
terkontrol, ditusuk.
dengan KH: Selidiki
1. Menyatakan perubahan
nyeri karakter
berkurang /lokasi/intensit
atauterkontrol as nyeri.
2. Pasien tampak 2. Pantau TTV 2. Perubahan frekuensi
rileks jantung TD
menunjukan bahwa
pasien mengalami
nyeri, khususnya bila
alasan untuk
perubahan tanda
vital telah terlihat.
3. Berikan 3. Tindakan non
tindakan analgesik diberikan
nyaman mis, dengan sentuhan
pijatan lembut dapat
punggung, menghilangkan
perubahan ketidaknyamanan
posisi, musik dan memperbesar
tenang, efek terapi analgesik.
relaksasi/latih
an nafas
4. Tawarkan 4. Pernafasan mulut
pembersihan dan terapi oksigen
mulut dengan dapat mengiritasi dan
sering. mengeringkan
membran mukosa,
potensial
ketidaknyamanan
umum.
5. Anjurkan dan 5. Alat untuk
bantu pasien mengontrol
dalam teknik ketidaknyamanan
menekan dada sementara
dada selama meningkatkan
episode keefektifan upaya
batukikasi. batuk.
6. Kolaborasi 6. Obat ini dapat
dalam digunakan untuk
pemberian menekan batuk non
analgesik produktif,
sesuai meningkatkan
indikasi kenyamanan
Hipertermi Setelah diberikan 1. Kaji suhu 1. Mengetahui
berhubungan tindakan tubuh pasien peningkatan suhu
dengan proses keperawatan tubuh, memudahkan
inflamasi aktif. diharapkan suhu intervensi
tubuh kembali 2. Beri kompres 2. Mengurangi panas
normal dengan air hangat dengan pemindahan
KH : panas secara
1. Suhu tubuh konduksi. Air hangat
36°C-37°C mengontrol
pemindahan panas
secara perlahan
tanpa menyebabkan
hipotermi atau
menggigil.
3. Berikan/anjur 3. Untuk mengganti
kan pasien cairan tubuh yang
untuk banyak hilang akibat
minum 1500- evaporasi
2000 cc/hari
(sesuai
toleransi)
4. Anjurkan 4. Memberikan rasa
pasien untuk nyaman dan pakaian
menggunakan yang tipis mudah
pakaian yang menyerap keringat
tipis dan dan tidak
mudah merangsang
menyerap peningkatan suhu
keringat tubuh.
5. Observasi 5. Mendeteksi dini
intake dan kekurangan cairan
output, tanda serta mengetahui
vital (suhu, keseimbangan cairan
nadi, tekanan dan elektrolit dalam
darah) tiap 3 tubuh. Tanda vital
jam sekali merupakan acuan
atau sesuai untuk mengetahui
indikasi keadaan umum
pasien.
6. Kolaborasi : 6. Pemberian cairan
pemberian sangat penting bagi
cairan pasien dengan suhu
intravena dan tubuh yang tinggi.
pemberian Obat khususnya
obat sesuai untuk menurunkan
program. panas tubuh pasien.
Intoleransi Setelah diberikan 1. Evaluasi 1. Menetapkan
aktivitas tindakan respon pasien kemampuan atau
berhubungan keperawatan terhadap kebutuhan pasien
dengan pasien aktivitas. memudahkan
ketidakseimbang diharapkan Catat laporan pemilihan intervensi.
an antara suplai mampu dispnea,
dan kebutuhan melakukan peningkatan
oksigen. aktivitas dalam kelemahan
batas yang atau
ditoleransi kelelahan.
dengan kriteria 2. Berikan 2. Menurunkan stress
hasil: lingkungan dan rangsanagn
1. Melaporkan tenang dan berlebihan,
atau batasi meningkatkan
menunjukan pengunjung istirahat.
peningkatan selama fase
toleransi akut sesuai
terhadap indikasi.
aktivitas yang 3. Jelaskan 3. Tirah baring
dapat diukur pentingnya dipertahankan
dengan istirahat selama fase akut
adanya dalam untuk menurunkan
dispnea, rencana kebutuhan metabolic,
kelemahan pengobatand menghemat energy
berlebihan, an perlunya untuk penyembuhan.
dan tanda vital keseimbanga
dalam rentan n aktivitas
normal. dan istirahat.
4. Bantu pasien 4. Pasien mungkin
memilih posisi nyaman dengan
nyaman untuk kepala tinggi, tidur di
istirahat. kursi atau menunduk
ke depan meja atau
bantal.
5. Bantu 5. Meminimalkan
aktivitas kelelahan dan
perawatan diri membantu
yang keseimbanagnsuplai
diperlukan. dan kebutuhan
Berikan oksigen.
kemajuan
peningkatan
aktivitas
selama fase
penyembuhan
.
Kurang Setelah diberikan 1. Kaji ulang 1. Kemampuan belajar
pengetahuan tindakan kemampuan berkaitan dengan
tentang kondisi, keperawatan belajar pasien keadaan emosi dan
pengobatan, tingkat misalnya: kesiapan fisik.
pencegahan pengetahuan perhatian, Keberhasilan
berhubungan pasien kelelahan, tergantung pada
dengan tidak meningkat, tingkat kemarnpuan pasien.
ada yang dengan kriteria partisipasi,
menerangkan, hasil: lingkungan
interpretasi yang 1. Menyatakan belajar,
salah, informasi pemahaman tingkat
yang didapat proses pengetahuan,
tidak penyakit/progn media, orang
lengkap/tidak osisdan dipercaya.
akurat, kebutuhan 2. Berikan 2. Informasi tertulis
terbatasnya pengobatan. Informasi dapat membantu
pengetahuan/ko 2. Melakukan yang spesifik mengingatkan
gnitif perubahan dalam bentuk pasien.
prilaku dan tulisan
pola hidup misalnya:
untuk jadwal minum
memperbaiki obat.
kesehatan
umurn dan 3. Jelaskan 3. Meningkatkan
menurunkan penatalaksan partisipasi pasien
resiko aan obat: mematuhi aturan
pengaktifan dosis, terapi dan mencegah
ulang frekuensi, putus obat.
luberkulosis tindakan dan
paru. perlunya
3. Mengidentifika terapi dalam
si gejala yang jangka waktu
mernerlukan lama. Ulangi
evaluasi/interv penyuluhan
ensi. tentang
4. Menerima interaksi obat
perawatan Tuberkulosis
kesehatan dengan obat
adekuat lain.

4. Jelaskan 4. Mencegah keraguan


tentang efek terhadap pengobatan
samping obat: sehingga mampu
mulut kering, menjalani terapi.
konstipasi,
gangguan
penglihatan,
sakit kepala,
peningkatan
tekanan
darah.

5. Anjurkan 5. Kebiasaan minurn


pasien untuk alkohol berkaitan
tidak minurn dengan terjadinya
alkohol jika hepatitis
sedang terapi
INH.

6. Rujuk 6. Efek samping


perneriksaan etambutol:
mata saat menurunkan visus,
mulai dan kurang mampu
menjalani melihat warna hijau.
terapi
etambutol.

7. Berikan 7. Debu silikon beresiko


gambaran keracunan silikon
tentang yang mengganggu
pekerjaan fungsi paru/bronkus.
yang berisiko
terhadap
penyakitnya
misalnya:
bekerja di
pengecoran
logam,
pertambanga
n,
pengecatan.

8. Review 8. Pengetahuan yang


tentang cara cukup dapat
penularan mengurangi resiko
Tuberkulosis penularan/ kambuh
dan resiko kembali. Komplikasi
kambuh lagi. Tuberkulosis: formasi
abses, empisema,
pneumotorak,
fibrosis, efusi pleura,
empierna,
bronkiektasis,
hernoptisis, u1serasi
Gastro, Instestinal
(GD, fistula
bronkopleural,
Tuberkulosis laring,
dan penularan
kuman.
Risiko tinggi Setelah diberikan 1. Review 1. Membantu pasien
infeksi tindakan patologi agar mau mengerti
penyebaran / keperawatan penyakit fase dan menerima terapi
aktivitas ulang tidak terjadi aktif/tidak yang diberikan untuk
infeksi penyebaran/ aktif, mencegah
berhubungan aktivitas ulang penyebaran komplikasi.
dengan infeksi, dengan infeksi melalui
pertahanan kriteria hasil: bronkus pada
primer tidak 1. Mengidentifika jaringan
adekuat, fungsi si intervensi sekitarnya
silia menurun/ untuk atau aliran
statis sekret, mencegah/me darah atau
malnutrisi, nurunkan sistem limfe
terkontaminasi resiko dan resiko
oleh lingkungan, penyebaran infeksi melalui
kurang informasi infeksi. batuk, bersin,
tentang infeksi 2. Menunjukkan/ meludah,
kuman. melakukan tertawa.,
perubahan ciuman atau
pola hidup menyanyi.
untuk 2. Identifikasi 2. Orang-orang yang
meningkatkan orang-orang beresiko perlu
lingkungan yang beresiko program terapi obat
yang. aman. terkena untuk mencegah
infeksi seperti penyebaran infeksi.
anggota
keluarga,
teman, orang
dalam satu
perkumpulan
3. Anjurkan 3. Kebiasaan ini untuk
pasien mencegah terjadinya
menutup penularan infeksi.
mulut dan
membuang
dahak di
tempat
penampunga
n yang
tertutup jika
batuk.
4. Gunakan 4. Mengurangi risilio
masker setiap penyebaran infeksi.
melakukan
tindakan.
5. Monitor 5. Febris merupakan
temperatur. indikasi terjadinya
infeksi.
6. Identifikasi 6. Pengetahuan tentang
individu yang faktor-faktor ini
berisiko tinggi membantu pasien
untuk untuk mengubah
terinfeksi gaya hidup dan
ulang menghindari/mengur
Tuberkulosis angi keadaan yang
paru, seperti: lebih buruk.
alkoholisme,
malnutrisi,
operasi
bypass
intestinal,
menggunakan
obat penekan
imun/
kortikosteroid,
adanya
diabetes
melitus,
kanker.
7. Tekankan 7. Periode menular
untuk tidak dapat terjadi hanya
menghentikan 2-3 hari setelah
terapi yang permulaan
dijalani. kemoterapi jika
sudah terjadi kavitas,
resiko, penyebaran
infeksi dapat
berlanjut sampai 3
Kolaborasi: bulan.
8. Pemberian 8. INH adalah obat
terapi INH, pilihan bagi penyakit
etambutol, Tuberkulosis primer
Rifampisin. dikombinasikan
dengan obat-obat
lainnya. Pengobatan
jangka pendek INH
dan Rifampisin
selama 9 bulan dan
Etambutol untuk 2
bulan pertama.
9. Pemberian 9. Obat-obat sekunder
terapi diberikan jika obat-
Pyrazinamid obat primer sudah
(PZA)/Aldina resisten
mide, para-
amino salisik
(PAS),
sikloserin,
streptomisin.
10. Monitor 10. Untuk
sputum BTA. mengawasi
keefektifan obat dan
efeknya serta respon
pasien terhadap
terapi

D. Implementasi
Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah
disusun.
E. Evaluasi
Evaluasi dilakukan setelah implementasi dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8
vol 3. Jakarta: EGC

Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis,


edisi 6. Jakarta: EGC

Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis. Depkes RI : Jakarta.

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta:


Media Aesculapius

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC)


Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2001. Buku Ajar


Ilmu Penyakit Dalam edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI : Jakarta.

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-


2006. Jakarta: Prima Medika

Tambayong, J. 2003. Patofisiologi untuk Keperawatan. EGC : Jakarta