Anda di halaman 1dari 16

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/321025648

Iklim Mikro di Sekitar Permukaan Air

Article · November 2017

CITATIONS READS

0 4,833

1 author:

Lesi Mareta
Bogor Agricultural University
3 PUBLICATIONS   1 CITATION   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

IKLIM MIKRO View project

All content following this page was uploaded by Lesi Mareta on 13 November 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Iklim Mikro di Sekitar Permukaan Air
Lesi Mareta (NRP: G251170071)

Program studi Klimatologi Terapan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor – Indonesia.

I. Latar Belakang
Iklim merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan mahluk hidup. Iklim
merupakan kondisi rata – rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi di
bumi. Berdasarkan dimensinya iklim dibagi menjadi tiga yaitu, iklim mikro, iklim maksro, dan
iklim meso. Iklim mikro adalah keadaan yang menggambarkan situasi iklim suatu wilayah di
sekitar organisme, batasan ruang lingkupnya tergantung organisme. Iklim meso merupakan
keadaan rata – rata cuaca yang menggambarkan situasi iklim suatu wilayah yang dimensinya
antara 1 – 100 km. Sedangkan iklim makro adalah keadaan menggambarkan situasi iklim suatu
wilayah yang dimensinya lebih dari 100 km.
Iklim mikro yang berdimensi ± 1 km atau keadaan yang menggambar situasi iklim di
sekitar organisme sangat bergantung dengan jenis permukaan. Jenis permukaan sangat
mempengeruhi prilaku iklim mikropada suatu daerah. Hal ini disebabkan oleh jenis permukaan
memiliki nilai daya pantul atau daya serap sinar radiasi matahari berbeda yang menyebabkan
nilai albedo berbeda. Pada jenis permukaan tanah radiasi matahari akan diserap lebih banyak
karena pada jenis permukaan tanah terdapat unsur hara yang sangat banyak sehingga radiasi
yang diserap akan lebih banyak daripada radiasi yang dipantulakan kembali, berbeda dengan
jenis permukaan air, Pada permukaan air radiasi matahari menembus permukaan air dan hampir
seluruh radiasi matahari terserap oleh lapisan pertama air dan sebagian besar gelombang
pendek terserap pada lapisan ini. Sepuluh hingga 40% dari total radiasi matahari menembus
hingga kedalaman 1 m, tergantung kejernihan air (Geiger, 1995). Dari sudut pandang
miroklimatologi, terdapat perbedaan iklim mikro antara air dan air. Kondisi di atas laut terbuka
sangat berbeda dengan yang diatas danau, sungai sempit atau kolam. Hal inilah yang
menyebabkan diperlukannya sebuah kajian tentang iklim mikro di sekitar air.
II. Tinjauan Pustaka
2.1. Iklim Mikro
Menurut Brown dan Gillespie (dalam Kaka, 2013), iklim mikro merupakan kondisi
yang terbentuk dari radiasi matahari dan terestrial, angin, suhu dan kelembaban udara, serta
presipitasi dalam lingkup ruang luar yang kecil. Sedangkan menurut Handoko (dalam Dina,
2008) menyatakan bahwa iklim mikro merupakan iklim yang membahas atmosfer sebatas
ruang antara perakaran hingga sekitar puncak tajuk tanaman atau sifat atmosfer disekitar tanah.
Frick dan Suskiyanto (dalam Kaka, 2013) menambahkan bahwa faktor lokal yang
mempengaruhi iklim di lapisan udara dekat permukaan bumi taranya adalah karakteristik
vegetasi, badan air yang kecil dan aktivitas manusia yang dapat merubah kemurnian iklim
mikro.
Menurut Grey dan Deneke (1978) (dalam Kaka, 2013), empat elemen utama iklim
mikro yang dominan mempengaruhi manusia yaitu radiasi matahari, suhu udara, kelembaban
udara dan pergerakan udara. Berikut penjelasan keempat elemen utama iklim mikro:

1. Radiasi Matahari
Radiasi dapat diartikan sebagai satu bentuk perpindahan energi oleh suatu benda yang
meliki temperatur mutlak di atas nol tanpa membutuhkan medium untuk mentransmisikannya.
Radiasi dapat dicirikan oleh panjang gelombang penjalarannya. Jadi setiap benda yang
memiliki temperatur mutlak di atas nol dapat memancarkan radiasi dengan panjang gelombang
yang berbeda. Satu set panjang gelombang ini disebut spektrum elektromagnetik.
Matahari merupakan sumber energi utama, sedangkan energi yang dipancarkan oleh
bintang dan benda-benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jauh lebih kecil dari energi
yang dipancarkan oleh matahari. Matahari, yang memiliki suhu permukaan 6.000 K, setiap
menit memancarkan energi sebesar 56×1026 kalori. Energi per satuan luas yang jatuh pada
permukaan berbentuk bola dengan jejari sebesar 1,5×1013 cm (jarak rerata bumi – matahari)
yang memiliki sumbu yang sama dengan matahari (concentric) dapat didefenisikan sebagai:
−1
56 × 1026 kal.𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 2,0 kal. 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡−1. 𝑐𝑚−2
𝑆=
4ᴨ(1,5 × 1013 𝑐𝑚2)
S merupakan konstanta matahari yang juga dipengaruhi oleh perihelion (jarak terdekat bumi
dengan matahari yang terjadi setiap tanggal 4 Januari) dan uphelion (jarak terjauh bumi dengan
matahari yang terjadi setiap tanggal 5 Juli). Aktivitas matahari, misalnya bintik matahari dan
ledakan matahari, juga dapat mempengaruhi nilai konstanta matahari. Ada 6 (enam) faktor
yang mempengaruhi jumlah total energi matahari yang diterima di permukaan bumi, yaitu:
1.1. Posisi lintang
posisi lintang akan menentukan besar kecilnya sudut datang sinar matahari pada
permukaan bumi. Jumlah energi yang diterima oleh permukaan bumi berbanding lurus dengan
besarnya sudut datang.
1.2. Panjang hari
(sun duration), yaitu selisih waktu antara matahari terbit dan matahari terbenam. Makin
panjang selisih waktunya, maka permukaan bumi akan menerima energi yang lebih besar.
1.3. Musim
Faktor ini terkait dengan factor pertama dan kedua yang disebutkan di atas, dimana
daerah lintang tinggi yang hanya memiliki empat musim akan menerima energi yang lebih
sedikit dibandingkan dengan daerah lintang rendah (khatulistiwa).
1.4. Ketebalan lapisan atmosfer
Tidak semua sinar matahari akan sampai pada permukaan bumi. Sebagian sinar
matahari yang melalui atmosfer akan diserap oleh gas-gas, debu dan uap air yang ada di lapisan
atmsofer, dipantulkan kembali, dihamburkan dan sisanya baru diteruskan ke permukaan bumi.
1.5. Albedo (α)
Albedo adalah nisbah atau selisih antara energi radiasi yang dipantulkan oleh
permukaan dan energi radiasi yang masuk ke permukaan (diserap). Permukaan yang memiliki
nilai albedo yang rendah berarti akan menyerap energi lebih banyak. Sebagai contoh, albedo
untuk es atau salju lebih tinggi dari albedo untuk tanah karena es atau salju akan memantulkan
balik hamper seluruh energi radiasi yang sampai ke permukaannya (α = 1) (Iskandar, 2016).
Kemampuan suatu benda meradiasikan energi yang diserapnya disebut emisivitas
sedangkan perbandingan radiasi yang dipantulkan dengan radiasi yang datang pada suatu benda
dinamakan albedo. Emisivitas dan albedo tiap obyek berbeda jumlahnya, dipengaruhi jenis,
karakter dan warna permukaan (Tabel 1) (Kaka, 2013).
1.6. Bentuk rupa bumi (topografi) dan vegetasi
Perbedaan topografi dan keberadaan vegetasi akan berpengaruh terhadap jumlah energi
yang akan dipantulkan oleh permukaan bumi. Daerah dengan bentuk topografi yang rata tentu
akan lebih banyak menerima energi dibandingkan dengan daerah dengan topografi perbukitan.
Hal ini terkait dengan besar sudut dating sinar matahari yang akan sampai ke permukaan bumi.
Demikian pula, permukaan bumi yang ditutupi oleh vegetasi tentu akan menerima energi lebih
sedikit jika dibandingkan dengan daerah yang terbuka (Iskandar, 2016).
Tabel 1. Nilai Albedo dan Emisivitas Beragam Elemen Lanskap
Albedo (%) Emisivitas (%)
Vegetasi
Rumput 20 - 30 90 – 95
Lapangan rumput 3 - 15
Padang rumput 10 - 30
Vegetasi berkayu 5 - 20
Hutan deciduous 10 - 20
Hutan konifer 5 - 16 97 - 98
Hutan rawa 12 97 – 99
Air
Badan air (sudut matahari tinggi) 5 92 - 97

Perkerasan kota
Aspal 5 - 15 95
Beton 10 - 50 71 - 90
Bata 20 - 50 90 - 92
Batu 20 - 35 85 - 95
Atap beraspal dan kerikil 8 - 18 92
Atap genteng 10 - 35 90
Besi berombak 10 - 16 13 - 28
Cat putih 50 - 90 85 - 95
Cat merah, cokelat, hijau 20 - 35 85 - 95
Cat hitam 2 - 15 90 - 98

Gambar 1. Penentu Sudut Matahari: (A) Grafik Deklinasi; (B) Sudut Zenith (Kaka, 2013).
Menurut Brooks (1988) (dalam Kaka, 2013), matahari berperan penting membentuk
iklim dengan memancarkan energi ke bumi melalui sinar ultraviolet, sinar nampak dan infra
merah. Sudut datang matahari dihitung dengan terlebih dulu mengetahui deklinasi matahari
sesuai tanggal (Gambar 1A), menentukan sudut zenith (Gambar 1B) hingga didapatkan sudut
datang matahari. Iklim mikro dipengaruhi oleh lintasan matahari, posisi dan model geografis
yang mengakibatkan pengaruh pada cahaya matahari dan pembayangan serta hal-hal lain pada
kawasan tersebut, misalnya radiasi panas, pergerakan udara, curah hujan, kelembaban udara
dan temperatur udara (Destriana, 2013)
2. Suhu Udara
Suhu merupakan ukuran relatifitas dari kondisi termal yang dimiliki oleh suatu benda.
Relatifitas yang dimaksud adalah bahwa suatu benda dapat saja mengalami perubahan kondisi
termal sebagai akibat perpindahan kalor dari benda yang bersuhu lebih panas ke benda yang
bersuhu rendah sehingga terciptanya suatu kondisi kesetimbangan termal (Nuryati, 2017)
Suhu udara sangat dipengaruhi oleh permukaan bumi tempat persentuhan antara udara
dengan daratan dan lautan. Permukaan bumi tersebut merupakan pemasok panas untuk
terjadinya pemanasan udara. Lautan mempunyai luas dan kapasitas panas yang lebih buruk
tetapi karena udara bercampur secara dinamis, maka pengaruh permukaan lautan secara
vertikal akan lebih dominan. Akibatnya, suhu akan turun menurut ketinggian baik diatas lautan
maupun daratan. Rata-rata penurunan suhu udara menurut ketinggian di Indonesia sekitar 5-
6ºC tiap kenaikan 1000 m (Destriana, 2013)
Keadaan suhu udara pada suatu tempat di permukaan bumi akan ditentukan oleh faktor
lamanya penyinaran matahari, kemiringan sinar matahari, keadaan Awan, keadaan permukaan
bumi, (Sugiyono dan Swarinoto, 2011).
3. Kelembaban Udara
Menurut Allaby (2007) (dalam Kaka, 2013), kelembaban adalah banyaknya kadar uap
air di udara. Istilah ini hanya mewakili air yang hadir dalam bentuk gas. Kelembaban dapat
dihitung dalam beragam cara yaitu mixing ratio, specific humidity dan relative humidity.
Berkaitan dengan laporan cuaca, kelembaban yang dimaksud atau umum digunakan adalah
relative humidity (kelembaban relatif) dimana biasa disingkat RH. Kelembaban relatif adalah
rasio antara massa uap air yang ada dalam satuan massa udara kering (mixing ratio) dengan
jumlah yang dibutuhkan untuk menghasilkan saturasi (saturation mixing ratio) dalam udara
tersebut. Angka kelembaban bernilai 0-100 % dimana 0% artinya udara kering dan 100%
berarti udara jenuh dengan uap air dimana akan terjadi titik-titik air (saturasi).
4. Angin
Angin merupakan pergerakan udara akibat perbedaan tekanan udara di atmosfer. Angin
bergerak dari area bertekanan tinggi ke area bertekanan rendah. Menurut Brooks (1988) (dalam
Kaka,2013) distribusi dan karakteristik angin di suatu wilayah dipengaruhi faktor global dan
lokal seperti distribusi tekanan udara global musiman, rotasi bumi, variasi harian pemanasan
dan pendinginan daratan-lautan, topografi dan kondisi wilayah sekitarnya
III. Pembahasan
Menurut Brown (1987) pada iklim-iklim panas kering, air yang menguap ke udara pada
dasarnya dapat menurunkan suhu udara. Angka penguapan dan angka penyejukan tergantung
kepada luas air, kecepatan angin, kelembaban nisbi dari udara dan suhu air. Air juga dapat
memperbesar kelembaban, tergantung pada pola-pola suhu umumnya. Semakin besar kawasan
air yang terdapat semakin besar dampak yang mungkin terjadi pada iklim mikronya. Bahan-
bahan yang berbeda mempunyai sifat pantulan, serapan, dan pancaran khas yang berbeda pula.
Umpamanya, permukaan air menyerap panas, menyimpannya, dan memancarkannya kembali
ke atmosfir sesudah suatu periode. Proses ini berlangsung untuk menyamakan perbedaan suhu
harian dan musiman di tapak-tapak yang bersebelahan (Snyder dan Catanase, 1989) (dalam
Wijaya, 1992).

3.1. Kolam Air kecil


Penelitian “Studi Beberapa Jenis Material Plaza Terhadap Pembentukan Iklim Mikro dan
Kenyamanan Pengunjung (Kasus di Taman Bunga Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah”
dilakukan Etty Wijaya pada tahun 1992. Penelitian ini bertujuan unruk melakukan studi pada
beberapa jenis material plaza terhadap pembentukan iklim mikro plaza di tempat ternaugi
tanaman dan di dekat kolam air. Hasil Penelitian ini mengatakan bahwa:
1. Iklim Mikro Plaza di Dekat Kolam Air
Hasil pengukuran suhu udara pada ketiga jenis material menunjukkan nilai suhu udara
keramik yang paling tinggi dibandingkan dengan nilai suhu konblok dan rumput (Tabel 2 dan
Gambar 2). Suhu udara pada ketiga jenis material menunjukkan nilai tertinggi di waktu siang
hari. Nilai kelembaban nisbi udara pada ketiga jenis material menunjukkan nilai kelembaban
konblok dan waktu siang hari yang paling rendah (Tabel 3 dan Gambar 3).

Tabel 2. Nilai Rata-Rata Suhu Udara (°C) pada Ketinggian 30 cm dari Berbagai Jenis Material
di Dekat Kolam Air.
Waktu Keramik (°C) Konblok (°C) Rumput (°C)

Pagi 39.6 34.7 38.4


Siang 39.8 38.6 39.1
Sore 36.3 36.7 33.4
Gambar 2. Histogram Suhu Udara (°C) pad a Ketinggian 30 cm dari Berbagai Jenis Material di Dekat
Kolam Air.

Tabel 3. Nilai Rata-Rata Kelembaban Nisbi Udara (%) pada Ketinggian 30 em dari Berbagai Jenis
Material di Dekat Kolam Air.
Waktu Keramik (%) Konblok (%) Rumput (%)

Pagi 59.4 51.8 58.6


Siang 46.7 42.3 47.8
Sore 56.6 54.0 69.6

Gambar 3. Histogram Kelembaban Nisbi Udara (%) pada Ketinggian 30 cm dari Berbagai Jenis
Material di Dekat Kolam Air.

2. Iklim Mikro Plaza di Tempat Ternaungi Tanaman


Hasil pengukuran suhu udara pada ketiga jenis material plaza menunjukkan nilai suhu
udara keramik yang paling tinggi dibandingkan dengan nilai suhu konblok dan rumput (Tabel
4 dan Gambar 4). Suhu udara pada ketiga jenis material menunjukkan nilai tertinggi di waktu
sore hari. Nilai kelembaban nisbi udara pada ketiga jenis material menunjukkan nilai
kelembaban kerarnik dan waktu sore hari yang paling rendah (Tabel 5 dan Gambar 5).
Tabel 4. Nilai Rata-Rata Suhu Udara (°C) padaKetinggian 30 cm dari Berbagai Jenis Material di
Tempat Ternaungi Tanarnan.
Waktu Keramik (°C) Konblok (°C) Rumput (°C)
Pagi 30.7 29.6 30.0
Siang 31.8 31.3 30.7
Sore 33.7 32.4 31.4

Gambar 4. Histogram Suhu Udara (°C) pada Ketinggian 30 cm dari Berbagai Jenis Material di
Tempat Ternaungi Tanaman.

Tabel 5. Nilai Rata-Rata Kelembaban Nisbi Udara (%) pada Ketinggian 30 cm dari Berbagai Jenis
Material di Tempat Ternaungi Tanaman.
Waktu Keramik (%) Konblok (%) Rumput (%)
Pagi 72.9 81.3 77.2
Siang 69.5 75.3 74.2
Sore 62.9 61.6 67.3

Gambar 5. Histogram Kelembaban Nisbi Udara (%) Ketinggian 30 cm dari Berbagai Jenis material di
Tempat Ternaungi Tanaman.
Keberadaan suatu genangan air pada atau di dekat sebuah tapak membantu
menyejukkan iklim mikro tapak. Massa air bertindak sebagai reservoir panas (Todd, 1987).
Air juga memiliki pengaruh penghangatan dan penyejukan. Air dapat juga memperbesar
kelembaban, tergantung pada pola suhu umumnya (Laurie, 1986). Air yang menguap ke udara
pada dasarnya dapat mengurangi suhu udara. Angka penguapan dan angka penyejukan
tergantung kepada luas air atau permukaan kolam, suhu air, arah dan kecepatan angin (Brown,
1987) (dalam Wijaya, 1992). Suhu udara ketiga jenis material yang berada di dekat kolam air
menunjukkan nilai suhu udara yang tinggi dibandingkan dengan tempat terbuka dan tempat
ternaungi tanaman. Hal ini disebabkan tempat dimana pengukuran berlangsung terletak pada
sisi arah datangnya angin dari kolam air, sehingga tidak akan menerima efek penyejukan yang
menguntungkan dari angin yang bertiup melintasi kolam air.
Arah angin terbanyak pada saat itu adalah variasi. suhu udara material rumput lebih
tinggi daripada suhu udara material konblok. Hal ini disebabkan kolam air tempat material
rumput berada merupakan kolam air yang tenang (air dalam keadaan diam), sedangkan kolam
air tempat material konblok berada merupakan kolam air mancur yang airnya senantiasa
bergerak dan mengalir sehingga suhu udara material
konblok lebih rendah dari suhu udara material rumput. Posisi tapak dengan
mengindahkan air sangat mempengaruhi pengaruh air pada iklim mikro tapak. Tapak yang
terletak pada sisi arah datangnya angin dari kolam air tidak akan menerima efek penyejukan
dari angin yang melintasi kolam air tersebut (Todd, 1987) (dalam Wijaya, 1992).

Gambar 6. pengaruh Arah Angin dan Posisi Kolam Air Terhadap Suhu Udara (Wijaya, 1992).

3.2. Sungai
Web dan Walling pada tahun 2009 melakukan penelitian “Temporal variation of river
water temperatures in a Devon river system”. Temperatur air sungai di daerah studi
menunjukkan fluktuasi diurnal yang superimosed pada siklus variasi tahunan. Berbeda dengan
pola yang ditunjukkan oleh waktu musiman, rentang suhu harian cenderung lebih besar ke hulu
anak sungai Barle daripada di jalur air yang lebih besar di sungai Creedy and Exe, dan variasi
harian maksimum yang tercatat selama periode studi 10 tahun adalah 6,1°C, 4,8°C dan 4,3°C
di Brushford,Thorverton dan Cowley berturut - turut. Volume aliran relatif kecil Di Sungai
Barle membuat anak sungai ini lebih peka terhadap perubahan suhu udara diurnal dan
komponen neraca energi yang mengatur suhu sungai, sedangkan naungan lokal dan rembesan
air tanah membatasi besarnya fluktuasi suhu harian di Sungai Creedy. suhu harian air sungai
di lokasi pemantauan tidak konstan dari tahun ke tahun. Rentang harian maksimum, misalnya
bervariasi mulai dari 6,1°C1974 sampai 4,4°C pada tahun 1979 di Brushford, dan dari 4,3°C
pada tahun 1981 menjadi 2,8°C pada tahun 1974 di Cowley (Webb dan Walling, 2009).

Gambar 7. Variation in the daily range of river water temperature (Webb dan Walling,
2009).

Plotting nilai maksimum, rata-rata dan minimum dari rata-rata bulanan Jangkauan
harian suhu sungai selama masa studi (Gbr.4) menunjukkan bahwa besarnya fluktuasi suhu
diurnal bervariasi sepanjang tahun di stasiun pemantauan. Rata-rata harian rendah rentang
ditandai musim dingin pada bulan Oktober sampai Maret sedangkan fluktuasi diurnal yang
lebih besar adalah tipikal ciri dari akhir tahun. perbedaan ini mencerminkan fakta bahwa, pada
periode musim dingin, pemanasan matahari lebih rendah dan volume aliran yang lebih besar
Dengan kapasitas termal yang lebih besar, suhu air cenderung berubah bertahap dari hari ke
hari sebagai respons terhadap perubahan kondisi cuaca. Selama musim dingin, kisaran suhu
harian biasanya berkisar 1°C namun pada beberapa kesempatan terjadi fluktuasi diurnal hanya
0,1°C yang terekam di Cowley dan Thorverton, dan tidak ada perubahansuhu sepanjang hari
di Brushford. Di berbeda dengan musim dingin, musim semi dan musim panas pun ditandai
dengan terjadinya siklus diurnal yang jelas pada suhu air yang mulai pada bulan Maret dan
berlanjut sampai bulan Oktober. Rentang suhu harian paling besar selama musim semi dan
awal musim panas, dan nilai rata-rata selama studi tertinggi di bulan Juni di Brushford dan
Thorverton dan bulan Mei di Cowley. Sama dengan temuan dari penelitian lain (Macan, 1958;
Langford, 1970), rentang suhu harian cenderung lebih tinggi di musim semi daripada di bulan-
bulan musim gugur, meskipun kondisi serupa insolation. Edington (1966) (dalam Webb dan
Walling, 2009)mengemukakan bahwa suhu sungai di Periode musim gugur disangga sebagai
hasil pemanasan progresif dari tanah selama musim panas, dan penjelasan ini mungkin juga
berlaku di area studi sekarang. Gambar 7 menunjukkan bahwa variabilitasnya dalam kisaran
rata-rata harian berkisar dari tahun ke tahun rendah selama bulan - bulan musim dingin di ketiga
lokasi tersebut namun meningkat di bulan - bulan sebelumnya yakni musim semi dan musim
panas. Pernytaan terakhir tersebut berlaku pada sungai Creedy dimana rentang harian hanya
menunjukkan perbedaan kecil antar tahun (Webb dan Walling, 2009).

3.3. Laut
Laut ialah seluruh badan air asin yang saling berhubungan dan menutupi 70% (tepatnya
70,78%) dari permukaan bumi. Laut adalah badan air yang sangat luas. Lesi Mareta (2017)
dalam penelitiannya tentang “Analisis Fenomena Indian Ocean Dipole (iod) Positif Tahun
2012 Dan Fenomena Iod Negatif Tahun 2010 Menggunakan Data Satelit” yang mengamati
tentang temperatur permukaan laut, tekanan angin dan sea level pressure di atas Samudera
Hindia. Penelitian ini menggunakan data satelit temperatur permukaan laut sumber APDRC
dengan resolusi spasial 0.25° × 0.25dengan panjang data Januari 2005 – Desember 2015, data
angin sumber ECMWF , dan data sea level pressure sumber NCEP/NCAR dengan resolusi dan
panjang data sama dengan data temperature permukaan air laut. Pengolahan data menggunakan
software GRADS (Grid Analysis Display System).

a b

c d

Gambar 8. Klimatologi temperatur permukaan laut (warna, °C), pola sirkulasi angin (vektor, 𝑁 𝑚−2),
dan sea level pressure (kontur, millibars (𝑚𝑏)) pada: (a) musim monsun barat (Desember–Februari),
(b) musim peralihan I (Maret – Mei), (c) musim monsun timur (Juni – Agustus) dan (d) musim
peralihan II (September– November) (Mareta, 2017).

Klimatologi temperatur permukaan laut, tekanan angin dan sea level pressure mencapai
puncak pada musim peralihan I (Maret – Mei) dengan nilai temperatur permukaan laut 32°C.
Hal ini disebabkan oleh pada musim peralihan I atau sering disebut musim peralihan musim
monsun barat ke musim monsun timur pergerakan semu matahari berada di kawasan
khatulistiwa. Klimatologi (keadaan normal) musiman temperatur permukaan laut, tekanan
angin dan sea level pressure ditunjukkan oleh Gambar 8.
Penelitian lain dilakukan oleh Kawai dan Madda,2007 tentang “Diurnal Sea Surface
Temperature Variation and Its Impact on the Atmosphere and Ocean” Menurut donlon dkk,
2005 (dalam Kawai dan Madda,2007) membagi lima jenis SST yaitu Interface SST (SSTint)
yaitu temperatur secara teori yakni tepat di pembatas antara udara dan laut, Skin SST (SSTskin)
yaitu temperatur yang mendominasi pada kedalam 10 – 20 µm, Subskin SST (SSTsubskin) yaitu
temperatur di dasar sub lapisan konduksi laminer, Sea temperature at depth (SSTdepth) yaitu
Suhu in situ diukur di bawah lapisan sub laminar konduktif, yang biasanya dilaporkan hanya
sebagai SST atau bagian terbesar SST, dan SSTfnd adalah suhu kolom air bebas dari variabilitas
suhu diurnal atau sama dengan SSTsubskin dengan tidak adanya sinyal diurnal. Pada Gambar
3, suhu bisa berubah secara drastis dengan kedalaman saat termoklin diurnal ini terbentuk.
SSTfnd akan serupa dengan nilai minimum malam hari atau menjelang fajar di kedalaman 1-5
m, tapi perhatikan bahwa kedalaman ini hanya perkiraan kasar dan bisa menyimpang dari
kisaran ini dalam beberapa kasus.
Menurut donlon dkk, 2005 (dalam Kawai dan Madda, 2007) membagi lima jenis SST
yaitu Interface SST (SSTint) yaitu temperatur secara teori yakni tepat di pembatas antara udara
dan laut, Skin SST (SSTskin) yaitu temperatur yang mendominasi pada kedalam 10 – 20 µm,
Subskin SST (SSTsubskin) yaitu temperatur di dasar sub lapisan konduksi laminer, Sea
temperature at depth (SSTdepth) yaitu Suhu in situ diukur di bawah lapisan sub laminar
konduktif, yang biasanya dilaporkan hanya sebagai SST atau bagian terbesar SST, dan SSTfnd
adalah suhu kolom air bebas dari variabilitas suhu diurnal atau sama dengan SSTsubskin
dengan tidak adanya sinyal diurnal. Pada Gambar 9, Suhu bisa berubah secara drastis terhadap
kedalaman. SSTfnd akan serupa dengan nilai minimum malam hari atau menjelang fajar di
kedalaman 1-5 m, tapi perhatikan bahwa kedalaman ini hanya perkiraan kasar dan bisa
menyimpang dari kisaran ini dalam beberapa kasus. Pada penelitian ini menggunakan beberapa
model diantaranya adalah model difusi.
Gambar 9. Skema penyimpangan sea surface temperature (SST) vertikal (°C); (a) pada
siang hari (b) pada malam hari (donlon dkk, 2005) (dalam Kawai dan Madda, 2007).

Gambar 10. Profil suhu vertikal di Mutsu Bay pada 1430 LST pada tanggal 7 Juli 1992. Garis padat
dan lingkaran terbuka mewakili nilai yang diamati. Garis patah dan tanda bintang menunjukkan suhu
yang disimulasikan oleh model penutupan turbulensi orde dua Mellor dan Yamada (1982). Rantai
rantai dan plus mewakili simulasi yang dilakukan oleh model Kawai dan Kawamura (2000) (dalam
Kawa dan Madda, 2007).

Model difusi terbagi menjadi bebrapa kategori, yaitu: (1) menentukan parameter
pencampuran turbulen dan eddy-difusi secara langsung pada empiris atau semi empiris cara;
(2) memperkirakan jumlah turbulensi secara penutupan turbulen di setiap tingkat. Yang
pertama, pemahaman dasar tentang teori Monin Obukhov di lapisan batas permukaan mirip
dengan model yang diusulkan oleh Kondo dkk. (1979) dan Large et al. (1994). Yang terakhir
adalah milik Mellor dan Yamada (MY) (1982), dan dimodifikasi versi MY (mis., Kantha dan
Clayson, 1994). (Kondo dkk. 1979) (dalam Kawa dan Madda, 2007) mengemukakan satu
dimensi sederhana model untuk mereproduksi mengamati perilaku arus permukaan dan suhu
harian permukaan laut pada kedalaman 10 m dekat permukaan laut. Model ini hanya berlaku
pada lapisan batas permukaan. Hasil percobaan numerik menyatkan bahwa suhu harian
permukaan laut bergantung pada kecepatan angin. besar nilaiharian simulasi SST mencapai
puncaknya hampir 2 K saat kecepatan angin pada ketinggian 10 m mencapai 2.5 ms-1 pada
saat equinox pada 35N. Mereka juga menunjukkan Semakin stabil lapisan permukaan lautnya,
semakin cepat penggerak arus permukaan, karena penghambatan tnsfer momentum ke bawah.
Kawai dan Kawamura (2000) memodifikasi model Kondo et al dengan mengganti fungsi geser
berdimensi dibuat transfer turbulen lebih besar untuk kasus stabil. Kawai dan Kawamura
(2000) berhasil mensimulasikan lapisan termoklin diurnal dalam kedalaman 1-m yang diamati
di Mutsu Bay (Yokoyama et al., 1995) dengan menggunakan versi Kondo et al yang telah
dimodifikasi ditunjukkan oleh Gambar 10 (dalam Kawa dan Madda, 2007).

IV. Kesimpulan
Dari beberapa referensi dapat disimpulakan bahwa Iklim mikro disekitar air
dipengaruhi oleh luas penampang air Angka penguapan dan angka penyejukan tergantung
kepada luas air, kecepatan angin, kelembaban nisbi dari udara dan suhu air. Air juga dapat
memperbesar kelembaban, tergantung pada pola-pola suhu umumnya. Semakin besar kawasan
air yang terdapat semakin besar dampak yang mungkin terjadi pada iklim mikronya. Bahan-
bahan yang berbeda mempunyai sifat pantulan, serapan, dan pancaran khas yang berbeda pula.
Umpamanya, permukaan air menyerap panas, menyimpannya, dan memancarkannya kembali
ke atmosfir sesudah suatu periode. Suhu air bisa berubah secara drastis terhadap kedalaman
air, Tingkat kejernihan air akan mempengaruhi nilai albedo air, sehingga dapat mempengaruhi
iklim mikro di sekitar air. Air juga memiliki pengaruh penghangatan dan penyejukan. Air dapat
juga memperbesar kelembaban, tergantung pada pola suhu umumnya
REFERENSI
Destriana, N., 2013. Pengaruh Struktur Vegetasi Terhadap Iklim Mikro di Bebagai Land Use
di Ibu Kota Jakarta. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Geiger, R., dkk. 1995. The Climate Near The Ground. America: United States of America.
Iskandar, I, 2016: Interaksi Laut dan Atmosfer. Palembang: Simetri.

Kaka, M. A., 2013. Perencanaan Ruang Terbuka Hijau Untuk Ameliorasi Iklim Mikro Kota
Depok (Studi Kasus: Kecamatan Beji). Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Mareta, L., 2017. Analisis Fenomena Indian Ocean Dipole (iod) Positif Tahun 2012 Dan
Fenomena Iod Negatif Tahun 2010 Menggunakan Data Satelit. Indralaya: Universitas
Sriwijaya.
Nuryati, dkk. 2017. Aanalisis Kecenderungan Perubahan Suhu Udara Permukaan Kota
Makasar. Makasar: Universitas Hasanudin.
Sugiyono dan Swarinoto, Y. S., 2011. Pemanfaatan Suhu Udara dan Kelembaban Udara Dalam
Persamaan Regresi Untuk Simulasi Prediksi Total Hujan Bulanan di Bandar Lampung.
J.Meteorologi dan Geofisika. 12:3. 271 – 281.
Wada, A., dan Kawai, y., 2007. Diurnal Sea Surface Temperature Variation and Its Impact on
The Atmosphere and Ocean. J. Oceanography. 60. 721 – 744.
Webb, B. W., 2009. Temporal Variation Of Water Temperatures In a Devon River System. J.
Hydrological Sciences. 30:4. 449 – 464.
Wijaya, E., 1992. Studi Beberapa Jenis Material Plaza Terhadap Pembentukan Iklim Mikro
dan Kenyamanan Pengunjung (Kasus di Taman Bunga Keong Mas, Taman Mini
Indonesia Indah).Bogor: Institute Pertanian Bogor.

View publication stats