Anda di halaman 1dari 26

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

ASUHAN KEPERAWATAN

“OSTEOMIELITIS “

Dosen Pembimbing :

Sahran,M.Kep

Disusun Oleh Kelompok VI :

1. Tri Gunawan
2. Valerian Haidar
3. Venni Harmeilawati Rizki
4. Vany Puspita
5. Veny Eka Marisca
6. Welda Anjelina

PRODI DIII KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

TAHUN AJARAN 2019/2020


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung
jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal
adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen,
bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini.
Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai
macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul pada sistem itu sendiri,
sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek
pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah
nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan
sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Salah satu gangguan tersebut adalah osteomielitis. Osteomielitis adalah radang
tulang yang disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain
juga dapat menyebabkannya, gangguan ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar
melalui tulang, melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa, dan periosteum
(Dorland, 2002).
Osteomyelitis merupakan inflamasi pada tulang yang disebabkan infeksi
piogenik atau non-piogenik seperti Micobacterium tuberkulosa atau Staphylococcus
aureus. Infeksi dapat terbatas pada sebagian kecil tempat pada tulang atau melibatkan
beberapa daerah seperti sum-sum, perioesteum, dan jaringan lunak disekitar tulang.
Kunci keberhasilan penatalaksanaan osteomyelitis adalah diagnosis dini dan operasi
yang tepat serta pemilihan jenis antibiotik yang tepat. Secara umum, dibutuhkan
pendekatan multidisipliner yang melibatkan ahli orthopaedi, spesialis penyakit
infeksi, dan ahli bedah plastik pada kasus berat dengan hilangnya jaringan lunak.
Dari penelitian yang dilakukan Riset total insiden tahunan terjadinya
osteomyelitis pada anak adalah 13 dari 100.000 orang. Osteomyelitis paling sering
terjadi pada anak dibawah 3 tahun. Dengan diagnosis dan perawatan awal yang tepat,
prognosis untuk osteomyelitis adalah baik. Jika ada penundaan yang lama pada
diagnosis atau perawatan, dapat terjadi kerusakan yang parah pada tulang atau
jaringan lunak sekelilingnya yang dapat menjurus pada defisit-defisit yang permanen.
Umumnya, pasien-pasien dapat membuat kesembuhan sepenuhnya tanpa komplikasi-
komplikasi yang berkepanjangan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi osteomielitis
2. Bagaimana Klasifikasi Osteomielitis
3. Bagaimana Etiologi osteomielitis
4. Bagaimana Manifestasi klinis
5. Bagaimana Komplikasi osteomielitis
6. Bagaimana Patofisiologi osteomielitis
7. Bagiaman Pemeriksaan penunjang osteomyelitis
8. Bagaimana Penatalaksanaan Medis ostemielitis
9. Bagaiman Pencegahan osteomielitis
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Apa itu Definisi osteomielitis
2. Untuk mengetahui Bagaimana Klasifikasi Osteomielitis
3. Untuk mengetahui Bagaimana Etiologi osteomielitis
4. Untuk mengetahui Bagaimana Manifestasi klinis
5. Untuk mengetahui Bagaimana Komplikasi osteomielitis
6. Untuk mengetahui Bagaimana Patofisiologi osteomielitis
7. Untuk mengetahui Bagiaman Pemeriksaan penunjang osteomyelitis
8. Untuk mengetahui Bagaimana Penatalaksanaan Medis ostemielitis
9. Untuk mengetahui Bagaimana Pencegahan osteomielitis
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan
daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan
terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum
(pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomielitis dapat
menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan
kehilangan ekstremitas. (Brunner, suddarth. (2001).  Beberapa ahli memberikan
defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang
disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus
influensae (Depkes RI, 1995)
2. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan
oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang
disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus
influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus.

B. Klasifikasi Osteomielitis (Henderson, 1997)


Dari uraian di atas maka dapat diklasifikasikan dua macam osteomielitis, yaitu:
1. Osteomielitis Primer ,yaitu penyebarannya secara hematogen dimana
mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi
darah.
2. Osteomielitis Sekunder ,yaitu terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya
akibat dari bisul, luka fraktur dan sebagainya

Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:

1. Osteomielitis akut
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau
sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada
anak-anak dari pada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari
infeksi di dalam darah. (osteomielitis hematogen).Osteomielitis akut terbagi
menjadi 2, yaitu:
a) Osteomielitis hematogen
Merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah. Osteomielitis
hematogen akut biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari
daerah yang jauh. Kondisi ini biasannya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang
sering terinfeksi biasa merupakan daerah yang tumbuh dengan cepat dan
metafisis menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan
bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai
perkembangan klinis dan onset yang lambat
b) Osteomielitis direk
Disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat
trauma atau pembedahan. Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder
akibat inokulasi bakteri yang menyebabkan oleh trauma, yang menyebar dari
focus infeksi atau sepsis setelah prosedur pembedahan. Manifestasi klinis
dari osteomielitis direk lebih terlokasasi dan melibatkan banyak jenis
organisme.
2. Osteomielitis sub-akut
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi pertama atau
sejak penyakit pendahulu timbul.
3. Osteomielitis kronis
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama
atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis sub-akut dan kronis
biasanya terjadi pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena ada luka atau
trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya osteomielitis yang terjadi pada
tulang yang fraktur.

C. Etiologi (Henderson, 1997)


Bisa disebabkan oleh bakteri,antara lain :
1. Staphylococcus aureus sebanyak 90%
2. Haemophylus influenzae (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun.
3. Streptococcus hemolitikus
4. Pseudomonas aurenginosa
5. Escherechia coli
6. Clastridium perfringen
7. Neisseria gonorhoeae
8. Salmonella thyposa
Bagian tulang bisa mengalami infeksi melalui 3 cara,yaitu :
1. Aliran darah
Aliran darah bisa membawa suatu infeksi dari bagian tubuh yang lain ke tulang.
Infeksi biasanya terjadi di ujung tulang tungkai dan lengan (pada anak-anak) dan
di tulang belakang (pada dewasa).
Orang yang menjalani dialisa ginjal dan penyalahgunaaan obat suntik ilegal,
rentan terhadap infeksi tulang belakang (osteomielitis vertebral). Infeksi juga bisa
terjadi jika sepotong logam telah ditempelkan pada tulang, seperti yang terjadi
pada perbaikan panggul atau patah tulang lainnya.
2. Penyebaran langsung
Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui patah tulang terbuka,
selama pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus
tulang.Infeksi ada sendi buatan, biasanya didapat selama pembedahan dan bisa
menyebar ke tulang di dekatnya.
3. Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya.
Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah
beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang
mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di
kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau diabetes (kencing manis).
Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi, bisa menyebar ke tulang tengkorak.

D. Manifestasi klinis (Henderson, 1997)


1) Demam
2) Nafsu makan menurun
3) Nyeri tekan saat pemeriksaan fisik
4) Gangguan sendi karena adanya pembengkakan
E. Komplikasi (Brunner, suddarth. (2001)
Komplikasi osteomyelitis dapat terjadi akibat perkembangan infeksi yang tidak
terkendali dan pemberian antibiotik yang tidak dapat mengeradikasi bakteri
penyebab. Komplikasi osteomyelitis dapat mencakup infeksi yang semakin
memberat pada daerah tulang yang terkena infeksi atau meluasnya infeksi dari
fokus infeksi ke jaringan sekitar bahkan ke aliran darah sistemik.
Secara umum komplikasi osteomyelitis adalah sebagai berikut:
1. Abses Tulang
2. Bakteremia
3. Fraktur Patologis
4. Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan prosthetic)
5. Sellulitis pada jaringan lunak sekitar.
6. Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium.

F. Patofisiologi (Brunner, suddarth. (2001)


Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang.
Organisme patogenik lainnya yang sering dijumpai pada Osteomielitis meliputi :
Proteus, Pseudomonas, dan Escerichia Coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi
resistensi penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobik. Awitan
Osteomielitis stelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama
(akut fulminan – stadium 1) dan sering berhubngan dengan  penumpukan
hematoma atau infeksi superficial. Infeksi awitan lambat  (stadium 2) terjadi antara
4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3)
biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah
pembedahan. Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi,
peningkatan vaskularisasi, dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombisis pada
pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dan nefrosis
tulang sehubungan dengan penigkatan tekanan jaringan dan medula. Infeksi
kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum dan dapat
menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya. Kecuali bila proses infeksi
dapat dikontrol awal, kemudian akan membentuk abses tulang. Pada perjalanan
alamiahnya, abses dapat keluar spontan namun yang lebih sering harus dilakukan
insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya
terbentuk daerah jaringan mati (sequestrum) tidak mudah mencari dan mengalir
keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada
jaringan lunak lainnya. Terjadi pertumbuhan tulang baru(involukrum) dan
mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan,
namun sequestrum infeksius kronis yang ada tetap rentan mengeluarkan abses
kambuhan sepanjang hidup penderita. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.

Pathway
G. Pemeriksaan penunjang (Brunner, suddarth. (2001)
1) Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju
endap darah
2) Pemeriksaan titer antibody – anti staphylococcus
3) Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti
dengan uji sensitivitas
4) Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi
oleh bakteri  salmonella
5) Pemeriksaan biopsy tulang
Merupakan proses pengambilan contoh tissue tulang yang akan digunakan
untuk  serangkaian tes.
6) Pemeriksaan ultra sound
Yaitu pemeriksaan yang dapat memperlihatkan adannya efusi pada sendi
7) Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan
radiologik. Setelah 2 minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat
difus dan kerusakan tulang dan pembentukan tulang yang baru.
Pemeriksaan tambahan :
1) Bone scan : dapat dilakukan pada minggu pertama
2) MRI : jika terdapat fokus gelap pada T1 dan fokus yang terang pada T2, maka
kemungkinan besar adalah osteomielitis.

H. Penatalaksanaan Medis (Brunner, suddarth. (2001)


1) Istirahat dan pemberian analgetik untuk menghilangkan nyeri.  Sesuai kepekaan
penderita dan reaksi alergi penderita
2) Penicillin cair 500.000 milion unit IV  setiap 4 jam.
3) Erithromisin 1-2gr IV setiap 6 jam.
4) Cephazolin 2 gr IV setiap 6 jam
5) Gentamicin 5 mg/kg BB IV selama 1 bulan.
6) Pemberian cairan intra vena dan kalau perlu tranfusi darah
7) Drainase bedah apabila tidak ada perubahan setelah 24 jam pengobatan antibiotik
tidak menunjukkan perubahan yang berarti, mengeluarkan jaringan nekrotik,
mengeluarkan nanah, dan menstabilkan tulang serta ruang kososng yang
ditinggalkan dengan cara mengisinya menggunakan tulang, otot, atau kulit sehat.
8) Istirahat di tempat tidur untuk menghemt energi dan mengurangi hambatan aliran
pembuluh balik
9) Asupan nutrisi tinggi protein, vit. A, B,C,D dan K.
a) Vitamin K : Diperlukan untuk pengerasan tulang karena vitamin K dapat
mengikat kalsium.Karena tulang itu bentuknya berongga, vitamin K
membantu mengikat kalsium dan menempatkannya ditempat yang tepat.
b) Vitamin A,B dan C  : untuk dapat membantu pembentukan tulang.
c) Vitamin D :Untuk membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur
untuk kalsium dan fosfor pada tubuh agar ada di dalam darah yang
kemudian diendapkan pada proses pengerasan tulang. Salah satu cara
pengerasan tulang ini adalah pada tulang kalsitriol dan hormon paratiroid
merangsang pelepasan kalsium dari permukaan tulang masuk ke dalam
darah.

I. Pencegahan osteomielitis (Depkes RI, 1995).


1) Berhenti merokok
Merokok dapat menyumbat arteri dan meningkatkan tekanan darah Anda,
yang keduanya buruk bagi sirkulasi Anda. Hal ini juga dapat melemahkan
sistem kekebalan tubuh. Jika Anda merokok, sangat disarankan Anda berhenti
sesegera mungkin.
2) Diet sehat
Makanan berlemak tinggi dapat menyebabkan penumpukan simpanan lemak
di arteri Anda, dan kelebihan berat badan dapat menyebabkan tekanan darah
tinggi. Untuk meningkatkan sirkulasi Anda, diet tinggi serat rendah lemak
dianjurkan, termasuk banyak buah segar dan sayuran (setidaknya lima porsi
sehari) dan biji-bijian.
3) Mengelola berat badan Anda
Jika Anda kelebihan berat badan atau obesitas, cobalah untuk menurunkan
berat badan dan kemudian mempertahankan berat badan yang sehat dengan
menggunakan kombinasi dari diet kalori terkontrol dan olahraga teratur.
4) Mengurangi alkohol
Jika Anda minum alkohol, jangan melebihi batas harian yang
direkomendasikan,tiga sampai empat unit per hari untuk pria 2-3 unit sehari
untuk wanita .Sebuah unit alkohol kira-kira setengah pint bir yang normal-
kekuatan, segelas kecil anggur atau ukuran tunggal (25ml) roh. Secara teratur
melebihi batas alkohol yang direkomendasikan akan meningkatkan baik
tekanan darah dan kadar kolesterol, yang akan membuat sirkulasi Anda buruk.
5) Olahraga teratur
Olahraga teratur akan menurunkan tekanan darah Anda, membuat jantung dan
sistem peredaran darah lebih efisien dan dapat membantu meningkatkan sistem
kekebalan tubuh lemah. Sebagai contoh, Anda bisa melakukan lima sampai 10
menit latihan ringan sehari sebelum secara bertahap meningkatkan durasi dan
intensitas aktivitas Anda sebagai kebugaran Anda mulai membaik.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. Identifikasi klien
Terdiri dari nama, jenis kelamin, usia, status perkawinan, agama, suku bangsa,
pendidikan,bahasa yang digunakan, pekerjaan dan alamat.
b. Keluhan Utama pasien osteomielitis adalah nyeri local, pembengkakan, eritema,
dan demam.
c. Riwayat keperawatan
1) Riwayat kesehatan masa lalu
Identifikasi adanya trauma tulang, fraktur terbuka,atau infeksi lainnya
(bakteri pneumonia,sinusitis,kulit atau infeksi gigi dan infeksi saluran kemih)
pada masa lalu. Tanyakan mengenai riwayat pembedahan tulang.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Apakah klien terdapat pembengkakan,adanya nyeri dan demam.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah dalam keluarga yang menderita penyakit keturunan.
4) Riwayat psikososial
Adakah ditemukan depresi, marah ataupun stress.
d. Kebiasaan sehari-hari
1) Pola nutrisi : anoreksia, mual, muntah.
2) Pola eliminasi : adakah retensi urin dan konstipasi.
3) Pola aktivitas : pola kebiasaan
e. Pemeriksaan fisik
1) Kaji gejala akut seperti nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam dan
keluarnya pus dari sinus disertai nyeri.
2) Kaji adanya faktor resiko (misalnya lansia, diabetes, terapi kortikosteroid
jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
3) Identifikasi adanya kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. (pada
osteomielitis akut)
4) Observasi adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, dan adanya cairan
purulen.
5) Identisikasi peningkatan suhu tubuh.
6) Area sekitar tulang yang terinfeksi menjadi bengkak dan terasa lembek bila
di palpasi.
f. Pengkajian nyeri

P : Provokatif / Paliatif : Apa kira-kira Penyebab timbulnya rasa nyeri...?

Q : Qualitas / Quantitas : Seberapa berat keluhan nyeri terasa..?. Bagaimana


rasanya..?. Seberapa sering terjadinya..?

R : Region / Radiasi : Lokasi dimana keluhan nyeri tersebut dirasakan /


ditemukan..? Apakah juga menyebar ke daerah
lain / area penyebarannya..

S : Skala Seviritas : Skala kegawatan dapat dilihat menggunakan


GCS (Glasgow's Coma Scale) ) untuk gangguan
kesadaran, skala nyeri / ukuran lain yang berkaitan
dengan keluhan

T : Timing : Kapan keluhan nyeri tersebut mulai ditemukan /


dirasakan..? Seberapa sering keluhan nyeri tersebut
dirasakan / terjadi...? Apakah terjadi secara
mendadak atau bertahap..?
B. Analisa Data

No Data Senjang Etiologi Masalah


.
1. Gejala dan tanda mayor Berhubungan dengan Hipertermia
Data Subjektif : proses penyakit (mis.
(tidak tersedia) infeksi)
Data Objektif :
1. Suhu tubuh diatas nilai
normal

Gejala dan tanda minor


Data Subjektif :
(tidak tersedia)
Data Objektif :
1. Kulit merah
2. Kejang
3. Takikardi
4. Takipnea
5. Kulit terasa hangat

2. Gejala dan tanda mayor Berhubungan dengan Gangguan Mobilitas Fisik


Data Subjektif : nyeri
1. Mengeluh sulit
menggerakkan
ekstremitas
Data Objektif :
1. Kekuatan otot menurun
2. Rentang gerak (ROM)
menurun

Gejala dan tanda minor


Data Subjektif :
1. Nyeri saat bergerak
2. Enggan melakukan
pergerakan
3. Merasa cemas saat
bergerak
Data Objektif :
1. Sendi kaku
2. Gerakan tidak
terkoordinasi
3. Gerakan terbatas
4. Fisik lemah

3. Gejala dan tanda mayor Berhubungan dengan Nyeri Akut


Data Subjektif : agen pencedera
1. Mengeluh nyeri fisiologis
Data Objektif : (mis.inflamasi, iskemia)
1. Tampak meringis
2. Bersikap protektif (mis.
waspada, posisi
menghindari nyeri)
3. Gelisah
4. Frekuensi nadi
meningkat
5. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor


Data Subjektif:
(tidak tersedia)
Data Objektif:
1. Tekanan darah
meningkat
2. Pola napas berubah
3. Nafsu makan berubah
4. Proses berpikir
terganggu
5. Menarik diri
6. Berfokus pada diri
sendiri
7. Diaforesis

4. Gejala dan tanda mayor Berhubungan dengan Risiko Infeksi


Data Subjektif : penyakit kronis (mis.
(tidak tersedia) diabetes mellitus)
Data Objektif :
(tidak tersedia)

Gejala dan tanda minor


Data Subjektif :
(tidak tersedia)
Data Objektif :

5. Gejala dan tanda mayor Berhubungan dengan Gangguan Integritas Kulit


Data Subjektif : faktor mekanis (mis.
(tidak tersedia) penekanan pada tonjolan
Data Objektif : tulang, gesekan)
1. Kerusakan jaringan
dan/atau lapisan kulit

Gejala dan tanda minor


Data Subjektif :
(tidak tersedia)
Data Objektif :
1. Nyeri
2. Perdarahan
3. Kemerahan
4. Hematoma
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

PERENCANAAN
DIAGNOSA
NO. Tujuan/Kriteria Hasil Rencana Tindakan RASIONAL
KEPERAWATAN
(SLKI) (SIKI)
1. Hipertermia b/d proses Setelah dilakukan asuhan SIKI : Manajemen Hipertermia
penyakit (mis. infeksi) keperawatan selama ...X 24
jam, diharapkan pasien mampu 1. Identifikasi penyebab 1. Mengetahui faktor yang
Data Subjektif : menunjukkan hipertermia dapat menyebabkan
(tidak tersedia) hipertemia pada klien
SLKI : Termoregulasi 2. Monitor suhu tubuh 2. Memantau apakah ada
Data Objektif : perubahan suhu tubuh klien
6. Suhu tubuh diatas Dipertahankan pada ... 3. Sediakan lingkungan yang 3. Membantu meningkatkan
nilai normal Ditingkatkan pada ... dingin suhu tubuh klien
7. Kulit merah 4. Berikan cairan oral 4. Menggantikan cairan yang
8. Kejang 1. Meningkat hilang sehingga klien tidak
9. Takikardi 2. Cukup meningkat mengalami dehidrasi
10. Takipnea 3. Sedang 5. Hindari pemberian 5. Menghindari atau
11. Kulit terasa hangat 4. Cukup menurun antipiretik atau aspirin mencegah efek samping
5. Menurun yang ditimbulkan
Dengan kriteria hasil : 6. Anjurkan tirah baring 6. Mempercepat proses
1. Kulit merah 1/2/3/4/5 penyembuhan
2. Kejang 1/2/3/4/5
3. Pucat 1/2/3/4/5
4. Takikardi 1/2/3/4/5
5. Takipnea 1/2/3/4/5

2. Gangguan mobilitas fisik Setelah dilakukan asuhan SIKI : Dukungan Mobilisasi


b/d nyeri keperawatan selama ...X 24
jam, diharapkan pasien mampu 1. Identifikasi adanya nyeri 1. Mengetahui apakah ada
Data Subjektif : menunjukkan atau keluhan fisik lainnya nyeri atau keluhan fisik lain
2. Mengeluh sulit yang dapat menyebabkan
menggerakkan SLKI : Mobilitas Fisik terganggunya mobilitas
ekstremitas 2. Identifikasi toleransi fisik fisik
3. Nyeri saat bergerak Dipertahankan pada ... melakukan pergerakan 2. Mengetahui apakah pasien
4. Enggan melakukan Ditingkatkan pada ... mengalami intoleransi
pergerakan aktivitas fisik dengan cara
5. Merasa cemas saat 1. Meningkat melakukan gerakan
bergerak 2. Cukup meningkat sederhana pada ekstremitas
3. Sedang 3. Monitor kondisi umum atau bagian tubuh lainnya
Data Objektif : 4. Cukup menurun selama melakukan 3. Memantau perubahan
3. Kekuatan otot 5. Menurun mobilisasi kondisi pasien selama
menurun 4. Libatkan keluarga untuk melakukan mobilisasi
4. Rentang gerak Dengan kriteria hasil : membantu pasien dalam 4. Meminta keluarga
(ROM) menurun 1. Nyeri 1/2/3/4/5 meningkatkan pergerakan membantu dalam pelatihan
5. Sendi kaku 2. Kecemasan 1/2/3/4/5 fisik yang dijalani oleh
6. Gerakan tidak 3. Kaku sendi 1/2/3/4/5 5. Jelaskan tujuan dan pasien
terkoordinasi 4. Gerakan tidak prosedur mobilisasi 5. Memberikan informasi
7. Gerakan terbatas terkoordinasi 1/2/3/4/5 kepada pasien apa tujuan
8. Fisik lemah 5. Kelemahan fisik dan prosedur tindakan
1/2/3/4/5 mobilisasi yang dilakukan
perawat
6. Anjurkan melakukan 6. Melatih pasien melakukan
mobilisasi dini mobilisasi dini
3. Nyeri akut b/d agen Setelah dilakukan asuhan SIKI : Manajemen Nyeri
pencedera fisiologis keperawatan selama ...X 24
(mis.inflamasi, iskemia) jam, diharapkan pasien mampu 1. Identifikasi lokasi, 1. Mengetahui lokasi,
menunjukkan karakteristik, durasi, karakteristik, durasi,
Data Subjektif : SLKI : Kontrol Nyeri frekuensi, kualitas, frekuensi, kualitas, dan
2. Mengeluh nyeri intensitas nyeri intensitas nyeri yang
Dipertahankan pada ... dirasakan klien
Data Objektif : Ditingkatkan pada ... 2. Identifikasi skala nyeri 2. Mengetahui tingkat nyeri
6. Tampak meringis yang dirasakan pada klien
7. Bersikap protektif 1. Menurun 3. Identifikasi faktor yang 3. Mengetahui faktor apa saja
(mis. waspada, posisi 2. Cukup menurun memperberat dan yang dapat memperberat
menghindari nyeri) 3. Sedang memperingan nyeri dan memperingan nyeri
8. Gelisah 4. Cukup meningkat 4. Berikan teknik 4. Memberikan edukasi dan
9. Frekuensi nadi 5. Meningkat nonfarmakologis untuk kemudahan bagi klien
meningkat Dengan kriteria hasil : mengurangi rasa nyeri apabila rasa nyeri tersebut
10. Sulit tidur 1. Melaporkan nyeri muncul klien mampu
11. Tekanan darah terkontrol 1/2/3/4/5 mengontrol nyeri secara
meningkat 2. Kemampuaan mandiri
12. Pola napas berubah mengenali penyebab 5. Jelaskan penyebab, periode, 5. Memberikan informasi
13. Nafsu makan nyeri 1/2/3/4/5 dan pemicu nyeri kepada klien mengenai
berubah 3. Kemampuan penyebab, waktu dan faktor
14. Proses berpikir menggunakan teknik pemicu terjadinya nyeri
terganggu non-farmakologis 6. Jelaskan strategi meredakan 6. Memberikan informasi
15. Menarik diri 1/2/3/4/5 nyeri mengenai langkah-langkah
16. Berfokus pada diri 4. Dukungan orang yang dapat mengurangi rasa
sendiri terdekat 1/2/3/4/5 nyeri
17. Diaforesis 5. Keluhan nyeri 1/2/3/4/5

4. Risiko infeksi b/d Setelah dilakukan asuhan SIKI : Pencegahan Infeksi


penyakit kronis (mis. keperawatan selama ...X 24
diabetes mellitus) jam, diharapkan pasien mampu 1. Monitor tanda dan gejala 1. Mengetahui infeksi yang
menunjukkan infeksi lokal dan sistemik terjadi termasuk ke dalam
Data Subjektif : infeksi lokal atau sistemik
(tidak tersedia) SLKI : Kontrol Risiko 2. Berikan perawatan kulit 2. Mengurangi edema yang
Data Objektif : pada area edema terjadi pada pasien
(tidak tersedia) Dipertahankan pada ... 3. Jelaskan tanda dan gejala 3. Memberikan informasi
Ditingkatkan pada ... infeksi kepada pasien apa saja
tanda dan gejala infeksi
1. Menurun 4. Ajarkan cara mencuci 4. Memberikan edukasi
2. Cukup menurun tangan dengan benar tentang cara mencuci
3. Sedang tangan dengan benar kepada
4. Cukup meningkat 5. Ajarkan cara memeriksa pasien
5. Meningkat kondisi luka atau luka 5. Memberikan informasi
operasi bagaimana cara memeriksa
Dengan kriteria hasil : kondisi luka pasien dan
1. Kemamppuan mencari mengurangi risiko yang
informasi tentang faktor 6. Anjurkan meningkatkan terjadi
risiko 1/2/3/4/5 asupan nutrisi 6. Memenuhi kebutuhan
2. Kemampuan nutrisi pasien
mengidentifikasi faktor
risiko 1/2/3/4/5
3. Kemampuan
melakukan strategi
kontrol risiko 1/2/3/4/5
4. Kemampuan
menghindari faktor
risiko 1/2/3/4/5
5. Kemampuan mengenali
perubahan status
kesehatan 1/2/3/4/5

5. Gangguan integritas kulit Setelah dilakukan asuhan SIKI : Perawatan Integritas


b/d faktor mekanis (mis. keperawatan selama ...X 24 Kulit
penekanan pada tonjolan jam, diharapkan pasien mampu
tulang, gesekan) menunjukkan 1. Identifikasi penyebab 1. Mengetahui faktor apa saja
gangguan integritas kulit yang menyebabkan
Data Subjektif : SLKI : Integritas Kulit dan terjadinya gangguan
(tidak tersedia) Jaringan integritas kulit
2. Ubah posisi tiap 2 jam, jika 2. Mencegah terjadinya iritasi
Data Objektif : Dipertahankan pada ... tirah baring pada kulit pasien
2. Kerusakan jaringan Ditingkatkan pada ... 3. Gunakan produk berbahan 3. Mengurangi risiko iritasi
dan/atau lapisan kulit ringan/alami dan pada kulit pasien
3. Nyeri 1. Meningkat hipoalergik pada kulit
4. Perdarahan 2. Cukup meningkat sensitif
5. Kemerahan 3. Sedang 4. Hindari produk berbahan 4. Menghindari iritasi atau
6. Hematoma 4. Cukup menurun dasar alkohol pada kulit infeksi pada bagian kulit
5. Menurun yang kering yang kering
5. Anjurkan minum air yang 5. Menghindari dehidrasi pada
Dengan kriteria hasil : cukup pasien
1. Nyeri 1/2/3/4/5 6. Anjurkan meningkatkan 6. Memenuhi nutrisi yang
2. Kemerahan 1/2/3/4/5 asupan nutrisi cukup bagi pasien
3. Hematoma 1/2/3/4/5
4. Jaringan parut 1/2/3/4/5
5. Nekrosis 1/2/3/4/5
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada
infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap
inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan
tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah
kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan
ekstremitas. (Brunner, suddarth. (2001).  Staphylococcus aureus hemolitikus
(koagulasi positif) sebanyak 90% dan jarang oleh streptococcus hemolitikus.
Haemophylus influenza (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun. Organism
yang lain seperti : bakteri coli, salmonella thyposa dan sebagainya. Proses spesifik
(M.Tuberculosa). Penyebaran hematogen dari pusat infeksi jauh (tonsilitis, bisul atau
jerawat, ISPA).

B. Saran
Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sebagai
kelompok mengharapkan kritikan dan saran dari dosen pembimbing dan teman –
teman sesama mahasiswa. Selain itu penyakit osteomilitis ini sangat berbahaya dan
kita sebagai perawat harus bisa menerapkan pola hidup sehat agar kesehatan kita tetap
terjaga.
DAFTAR PUSTAKA

Price, S.A., dan Wilson, L. M., 2005, Patofisiologi: Konsep Klinis Prosesproses
Penyakit, Edisi 6, Vol. 2, diterjemahkan oleh Pendit, B. U., Hartanto, H., Wulansari,
p., Mahanani, D. A.,Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Dorland, W.A. Newman, 2002, KamusKedokteran Dorland,


alihbahasaHuriwatiHartanto, dkk., edisi 29, ECG, Jakarta.

Brunner & Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8. Jakarta :
EGC

Argyle H. dan Henderson K. 1997. Friendship and Social Competence Start,


Developmental Psychology, 36 (3), 326--338