Anda di halaman 1dari 6

Hubungan kerjasama antara Afrika dengan Jerman

Hubungan Jerman dengan Afrika Selatan merujuk pada hubungan bilateral antara Jerman dan Afrika
Selatan. Hubungan diplomatik telah berlangsung sejak 1994. Hal itu bermula dari kunjungan mantan
presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela dan Thabo Mbeki ke Jerman dan juga kunjungan mantan
kanselir Helmut Josef Michael Kohl serta mantan presiden federal yakni Roman Herzog dan Johannes
Rau ke Afrika Selatan.
Sejarah; Pertemuan antara Jerman dan Afrika Selatan telah berlangsung pada masa Perang Dunia
I, tepatnya saat Afrika Barat Daya Jerman masih berdiri. Afrika Barat Daya Jerman sendiri merupakan
koloni kekaisaran Jerman yang ada pada 1884 hingga 1915. Sejak itu Afrika Selatan dan Jerman
mengalami sejarah perjalanan panjang hingga akhirnya menjalin hubungan diplomatik dari 1994 sampai
sekarang.
 Kerja Sama; Dalam menjalin hubungan bilateral, Jerman dan Afrika melakukan kerja sama satu
sama lain. Berikut adalah bidang-bidang kerja sama yang dilakukan oleh Jerman dan Afrika
Selatan:

 Ekonomi; Jerman merupakan mitra penting kedua setelah Tiongkok dalam hal kerja sama
ekonomi bagi Afrika Selatan. Tercatat ada 600 perusahaan asal Jerman di Afrika Selatan yang
berinvestasi dengan nilai lebih dari 6 milyar euro. Sebagian besar di antaranya merupakan
perusahaan di bidang otomotif, kimia, mekanik dan teknik elektro. Berkat kehadiran perusahaan-
perusahaan Jerman pula, Afrika Selatan dapat mengatasi masalah pengangguran karena hampir
100.000 orang di Afrika Selatan telah mendapatkan pekerjaan. Di sisi yang sama, Afrika Selatan
juga merupakan pasar yang potensial bagi Jerman. Hal itu dikarenakan kerja sama yang dilakukan
dengan Afrika Selatan dapat menjadi gerbang bagi Jerman untuk memperluas jaringan di negara-
negara Afrika lainnya.

Dampak ekonomi kedua negara semakin terasa setelah Trade and Development Cooperation Agreement
(TDCA) (Perjanjian Kerjasama Pengembangan dan Perdagangan) disepakati pada awal tahun 2000. Pada
1999, Jerman mengimpor barang-barang senilai 2,5 milyar euro dari Afrika Selatan. Sejak era TDCA
berlaku, jumlah transaksi meningkat sampai 63 persen hingga 2006 dengan tercapainya ekspor Afrika
Selatan ke Jerman dengan total sebesar 4.126 milyar euro. [21]

Pada 2014, perdagangan kedua negara menghasilkan transaksi dengan nilai yang lebih tinggi, yakni
sebesar 132 milyar euro. Jerman berhasil mengekspor produk-produknya ke Afrika Selatan dengan nilai
sebesar 8.3 milyar dan sebaliknya, Afrika Selatan juga berhasil mengekspor produk-produknya ke Jerman
sebesar 4.8 milyar euro. Jumah ini kemudian meningkat pada 2015 dengan tercapainya jumlah transaksi
perdagangan sebesar 15.5 milyar euro. Keseriusan antara Jerman dan Afrika Selatan dalam menjalin kerja
sama di bidang ekonomi ditunjukkan dengan pertemuan antara Presiden Jacob Zuma dengan Kanselir
Angela Merkel di Berlin pada November 2014 silam.

 Pendidikan
Hubungan bilateral antara Jerman dengan Afrika Selatan tak hanya tampak pada bidang ekonomi, tapi
juga dapat dilihat pada sektor pendidikan. Tercatat ada 4 sekolah Jerman yang yang tersebar di 4 kota
berbeda di Afrika Selatan, yakni Hermannsburg, Johannesburg, Cape Town and Pretoria.[20] Kemudian
guna meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan, kedua negara melakukan kerja sama lewat perjanjian
pendidikan kejuruan yang disepakati sejak 2013. Melalui kesepakatan tersebut kedua negara berfokus
pada kegiatan penasehat dalam kerangka hukum, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi dan
pembentukan kapasitas untuk penelitian dan konseling kejuruan.[
 Budaya
Goethe Institut sebagai pusat kebudayaan Jerman dapat ditemukan di Johannesburg, Afrika Selatan.
Tidak hanya kursus Bahasa Jerman dan ujian Bahasa Jerman, Goethe Institut juga menyediakan
perpustakaan yang dapat dimanfaatkan bagi warga Afrika Selatan untuk mengenal budaya Jerman lebih
lanjut. Kegiatan lainnya adalah pameran foto dan diskusi. Di samping itu Goethe Institut juga aktif
memberikan informasi terkait acara budaya Jerman di Afrika Selatan melalui website, baik itu
dilaksanakan oleh Goethe Institut sendiri ataupun oleh pihak lain

2. Hubungan Filipina dengan Indonesia Hubungan Filipina dengan Indonesia adalah hubungan
diplomatik bilateral antara negara Indonesia dan Filipina. Sejak hubungan diplomatik secara resmi
dimulai pada 1949, Indonesia dan Filipina menikmati hubungan bilateral yang hangat dalam semangat
kekeluargaan.

Bentuk kerja sama;

 Perdagangan

Perdagangan bilateral cenderung terus positif dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Departemen
Perdagangan Indonesia, angka itu telah meningkat dari $1,12 miliar pada tahun 2003 menjadi $2,9 miliar
pada tahun 2009 dan $3,89 pada tahun 2010.

 Pariwisata dan konektivitas; Selama Forum Pariwisata ASEAN 2012 di Manado, Sulawesi
Utara, Pemerintah Indonesia dan Filipina memulai kerjasama pariwisata bilateral pertama
mereka. Prakarsa ini akan meningkatkan konektivitas antara kedua negara dengan
mengoperasikan kapal pesiar dan pembukaan jalur penerbangan langsung antara Davao di
Filipina ke Manado. Kedua negara juga aktif mendukung Master Plan ASEAN Connectivity,
yang akan meningkatkan mobilitas yang lebih besar di kawasan ini.

 Terorisme lintas batas dan separatism; Indonesia dan Filipina bekerja sama untuk
mengeksplorasi cara-cara memerangi terorisme dan bentuk-bentuk kejahatan transnasional lain
yang mengancam perbatasan mereka dan secara lebih luas di Asia Tenggara. Presiden Indonesia
telah menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu pemerintah Filipina dalam pembicaraan
damai dengan kelompok separatis Islam yang aktif di perbatasan. Sementara Filipina telah
membantu Indonesia dalam negosiasi dengan pemberontak, dan berperan sebagai monitor selama
Proses Perdamaian Aceh pada tahun 2005.

 Sengketa wilayah

Indonesia dan Filipina berbagi perbatasan maritim terutama pada Laut Sulawesi. Pada masa lalu kedua
negara terlibat dalam sengketa teritorial atas pulau Miangas (Kasus Pulau Palmas). Itu terjadi antara
Belanda dan Amerika Serikat dan dimenangkan oleh Hindia Belanda pada tahun 1932. Kini tidak ada
perselisihan teritorial antara Indonesia dan Filipina. Pada bulan Maret 2011, para pemimpin dari kedua
negara sepakat untuk menandatangani nota kesepahaman untuk meningkatkan kerjasama di bidang
keamanan, pertahanan, perbatasan, perlindungan pekerja migran, pendidikan dan olahraga. Indonesia
memberi dukungan kepada proposal Filipina untuk menggariskan dan memisahkan bagian-bagian yang
dipersengketakan di Laut Cina Selatan dari klaim daerah yang tak terbantahkan dalam penyusunan Kode
Tata Berperilaku yang akan mengikat negara-negara yang mempersengketakan kepulauan Spratly.

1. Penanggulangan bencana
Baik kepulauan Indonesia dan Filipina adalah kawasan yang rentan terhadap bencana alam, seperti gempa
bumi, letusan gunung berapi, tsunami, dan topan. Dalam semangat solidaritas dan kemanusiaan, kedua
negara sering saling membantu dalam waktu kesulitan. Pemerintah Indonesia pada hari Senin 10
Desember 2012 datang membantu ribuan korban Topan "Pablo" (Bopha) di Visayas dan Mindanao,
menyumbangkan $ 1 juta dan empat ton barang-barang bantuan melalui Angkatan Bersenjata Filipina.
Selain bantuan keuangan, pemerintah Indonesia juga memberikan 1.000 selimut militer, 3.000 bungkus
siap makan saji dan 50 kotak mie instan.

Pada November 2013, Pemerintah Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa barang dan
logistik senilai $ 1 million untuk membantu korban Topan Haiyan di Filipina Tengah sebagai bagian dari
solidaritas ASEAN. Palang Merah Indonesia juga mengirimkan bantuan darurat sebanyak 688.862 ton.
Tiga Pesawat Hercules TNI Angkatan Udara dikerahkan membawa pasokan ke daerah yang terkena
dampak bencana. Bantuan logistik termasuk pesawat, makanan, generator dan obat-obatan. Palang Merah
Indonesia juga mengerahkan kapal kargo KM Emir sarat dengan muatan persediaan darurat dan juga 30
relawan Palang Merah Indonesia.

3. Hubungan Indonesia dengan Uni Eropa

1. Kerja Sama Politik dan Keamanan

Indonesia dan Uni Eropa setiap tahun menyelenggarakan dialog politik dan dialog khusus mengenai hak
asasi manusia. Dialog Keamanan sendiri diluncurkan pada bulan Mei 2016 dalam rangka memperkuat
kerja sama di bidang tersebut, termasuk di dalamnya pemberantasan ekstremisme dan terorisme.
Peningkatan kapasitas dan pelatihan pemberantasan terrorisme merupakan salah satu bagian dari kerja
sama ini juga termasuk proyek masyarakat sipil dalam pencegahan dan pemberantasan radikalisasi.
Sebagai contoh, pada tahun 2005, Uni Eropa mendirikan Aceh Monitoring Mission (AMM) yang berada
dibawah European Security and Defence Policy dan terus berkontribusi dalam proses perdamaian melalui
peningkatan kapasitas masyarakat jangka panjang, reintegrasi dan program pelatihan polisi. [4]

Menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia sendiri, ada sejumlah isu yang menjadi prioritas Indonesia
dalam menjalin hubungan dengan Uni Eropa.

2. Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan

Indonesia dan Uni Eropa memiliki hubungan ekonomi yang dekat. Hal ini terbukti dari tingginya minat
perusahaan-perusahaan Eropa untuk melakukan ekspor ke Indonesia. Perusahaan tersebut juga memiliki
minat berinvestasi yang besar dikarenakan besarnya pertumbuhan pasar Indonesia. Saat ini, perusahaan-
perusahaan Eropa yang beroperasi di Indonesia telah mempekerjakan lebih dari 1,1 juta orang.

Perdagangan

Perdagangan bilateral antara Uni Eropa dan Indonesia dalam komoditas non-migas mencapai € 25,1
milliar pada tahun 2016. Dari jumlah tersebut, € 14,6 milliar merupakan hasil dari ekspor Indonesia ke
Uni Eropa. Pada tahun 2016, Uni Eropa merupakan tujuan terbesar ketiga dari ekspor non-migas
Indonesia setelah Amerika Serikat dan Tiongkok. Ekspor utama Indonesia ke Uni Eropa adalah lemak
dan minyak hewani atau nabati, mesin dan peralatan, tekstil, alas kaki serta produk plastik dan karet.
Minyak kelapa sawit dari Indonesia merupakan komoditas yang paling banyak diekspor ke Uni
EropaNilai perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa di bidang jasa berjumlah € 6,1 milliar.
2. Investasi

Uni Eropa merupakan sumber Foreign Direct Investment (FDI) terbesar keempat untuk Indonesia. Dari
jumlah FDI yang masuk ke Indonesia, Uni Eropa menyumbang sebesar 9% atau € 2,3 miliar dibelakang
Singapura (31,7%), Jepang (18,6%) dan Tiongkok (9,3%).

3. Perjanjian Kemitraan Ekonomi Menyeluruh Indonesia - Uni Eropa


Putaran Keempat Negosiasi Perjanjian Kemitraan Menyeluruh Indonesia-Uni Eropa yang dilaksanakan di
Solo, 19-23 Februari 2018.
Perjanjian Kemitraan Ekonomi Menyeluruh Indonesia - Uni Eropa (Indonesia - European Union
Comprehensive Economic Partnership Agreement - IEU CEPA) merupakan perjanjian ekonomi antara
Indonesia dengan Uni Eropa dalam hal perdagangan bebas. Tujuan dari perjanjian ini adalah untuk
memfasilitasi dan membuka akses pasar yang baru, meningkatkan perdagangan di antara Uni Eropa dan
Indonesia serta menambah investasi. Kesepakatan untuk merundingkan perjanjian ini didasarkan pada
hasil kajian bersama yang dilakukan pada 2010. Pada 4 Mei 2011, hasil kajian bersama yang berjudul
Invigorating the Indonesia-European Union Partnership Towards a Comprehensive Economic
Partnership Agreement disampaikan kepada pihak Indonesia dan pihak Uni Eropa. Kajian ini dibuat oleh
tim yang terdiri atas berbagai latar belakang seperti dari kalangan pemerintahan, akademisi dan kelompok
bisnis dari kedua pihak. Pada 2012, Indonesia dan Uni Eropa melakukan pembahasan scoping paper
untuk menentukan cakupan dan kedalaman komitmen yang nantinya dirundingkan. Karena adanya
transisi pemerintah, pembahasan scoping paper sampai mengalami vakum dan baru dapat diselesaikan
pada April 2016 ketika Presiden Joko Widodo mengunjungi Brussels, Belgia. Akhirnya, negoisasi antara
Indonesia dan Uni Eropa pertama kali diluncurkan pada 18 Juli 2016 dan putaran pertama atau kick-off
meeting dilaksanakan di Brussels pada 20-21 September 2016. Kemudian, putaran kedua dilaksanakan
pada 24-27 Januari 2017 di Bali. Putaran ketiga kembali dilaksanakan di Brussels pada 11-15 September
2017. Sedangkan putaran keempat dilaksanakan pada 19-23 Februari 2018 di Solo, Jawa Tengah. Putaran
kelima dilaksanakan pada 9-13 Juli 2018 di Brussels, Belgia.
Perjanjian Kemitraan Sukarela - Penegakkan Hukum Tata Kelola Perdagangan di bidang Kehutanan

Peresmian lisensi FLEGT-VPA yang dihadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Perwakilan Tinggi
Uni Eropa untuk urusan Luar Negeri dan Keamanan, Federica Mogherini, dan Komisioner Uni Eropa
bidang lingkungan hidup, kelautan dan perikanan, Kermanu Vella di Brussels.

Perjanjian Kemitraan Sukarela - Penegakkan Hukum Tata Kelola Perdagangan di bidang Kehutanan
(Forest Law Enforcement, Governance and Trade - Voluntary Partnership Agreement /FLEGT- VPA)
merupakan perjanjian kerja sama penanggulangan perdagangan kayu ilegal dan tata kelola hutan yang
berkesinambungan. Uni Eropa dan Indonesia menandatangani perjanjian ini pada 30 September 2013 dan
berlaku sejak 1 Mei 2014. Indonesia meratifikasi FLEGT VPA dengan mengeluarkan Peraturan Presiden
No. 21 Tahun 2014 dan melalui Parlemen Uni Eropa pada bulan Maret 2014. Kesepakatan ini sendiri
diperoleh setelah melalui proses perundingan yang panjang sejak tahun 2007. Setelah hampir 10 tahun
melakukan negosiasi, pada 15 November 2016, perjanjian ini sudah bisa terlaksana secara penuh dengan
adanya pengakuan terhadap Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang sudah sesuai dengan legalitas
standar Uni Eropa. SLVK sendiri merupakan sistem perdagangan kayu dengan mengutamakan perhatian
terhadap prinsip legalitas, pelacakan jejak kayu (traceability) dan keberlanjutan (sustainability) yang
dalam penyusunannya melibatkan banyak pemangku. Pada hari yang sama, kapal pengiriman yang
membawa kayu Indonesia yang bersertifikasi dikirim ke Belgia dan Inggris melalui Pelabuhan Tanjung
Priok. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara tropis pertama yang mampu mendapat lisensi produk
kayu dibawah FLEGT. Dalam hubungan perdagangan produk kayu, Indonesia merupakan eksportir
terbesar ke Uni Eropa. Total perdagangan produk kayu antara Indonesia dengan Uni Eropa mencapai €
485 juta pada tahun 2015.

4. Kerja Sama Pembangunan

Dalam kerja sama bidang pembangunan, Uni Eropa telah memberikan bantuan pembangunan sebesar €
500 juta dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Bantuan pembangunan tersebut utamanya digunakan untuk
mempromosikan pendidikan dasar bagi semua kalangan dan tata kelola pemerintah (terutama dalam
penegakkan hukum dan pengelolaan finansial), bantuan dalam rangka upaya melawan perubahan iklim
dan laju deforestasi serta bantuan pembangunan di bidang perdagangan. Kerja sama dengan Uni Eropa
dirancang sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan Indonesia yang tercantum dalam Rancangan
Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Indonesia sendiri sudah tidak lagi dimasukkan menjadi negara
penerima bantuan pembangunan Uni Eropa dalam periode program 2014-2022. Namun, sebagian besar
program bantuan yang berada dalam periode anggaran 2007-2013 dengan alokasi dana bantuan sebesar €
356 juta, masih dalam proses impelementasi dan berjalan hingga 2019.

Dalam program Kerja Sama Tematik dan Regional Uni Eropa (EU Thematic and Regional Cooperation),
Uni Eropa membantu Indonesia dalam mendukung sektor-sektor yang menjadi prioritas kebijakan, antara
lain:

 Pendidikan Tinggi. Kerja sama di sektor pendidikan tinggi antara Indonesia dan Uni Eropa
dilakukan melalui penyelenggaraan Pemeran Pendidikan Tinggi Eropa, pemberian beasiswa dan
bantuan proyek Erasmus+;
 Perdagangan. Keberlanjutan dari dukungan terhadap Bantuan untuk Perdagangan (Aid for
Trade).
 Infrastruktur Hijau dan Pertumbuhan Hijau. Bantuan melalui Fasilitas Investasi Asia (Asian
Investment Facility) dan implementasi prinsip produksi dan konsumsi berkelanjutan di bawah
naungan SWITCH Asia.
 Perubahan Iklim dan Kehutanan. Bantuan ini memberikan pembiayaan regional baru dalam
pengelolaan lahan gambut dan biodiversitas serta pembiayaan tematik dan global dalam
mendukung pencegahan deforestasi dan sertifikasi produk-produk kehutanan (FLEGT).
 Dukungan terhadap berbagai proyek dari masyarakat sipil.

5. Kerja Sama Sosial Budaya

Dalam bidang sosial budaya, Indonesia dan Uni Eropa melakukan pendekatan people-to-people dalam
melakukan kerja sama. Uni Eropa menawarkan sejumlah beasiswa dan bantuan dana untuk para pelajar
Indonesia, peneliti dan staf universitas. Sebanyak 9.600 pelajar Indonesia kini belajar di Eropa. Dari
jumlah tersebut 1.600 pelajar mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa dan negara-negara anggotanya, serta
225 diantaranya merupakan penerima beasiswa Erasmus+ mundus. Sebagai timbal balik, lebih dari 100
pelajar Eropa 6.dan akademisi kini menempuh pendidikan dan mengajar di Indonesia berkat adanya
beasiswa Erasmus+.
Tugas Teori Makro 1

Tentang:
Hubungan Bilateral Antar Negara Di dunia

Disusun Oleh:
Muhammad Irsyad Haiqal_1910512003
Jurusan S1 Ilmu Ekonomi Univesitas Andalas
2020/ Semester 2