Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MIKROBIOLOGI FARMASI

( AKTINOMIKOSIS )

OLEH:

IDAWATI (917312906201.003)

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AVICENNA

KENDARI

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, berkat ridho-Nya kami dapat menyelesaikan
tugas makalah yang berjudul “( AKTINOMIKOSIS )”.
Dalam menyusun makalah ini, terdapat hambatan yang penulis alami, namun
berkat dukungan, dorongan dan semangat sehingga penulis mampu menyelesaikan
makalah ini. Oleh karena itu penulis tidak lupa pada kesempatan ini mengaturkan
terima kasih kepada IBU dosen pembimbing.
Kami menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Semoga makalah “( AKTINOMIKOSIS )”.ini bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan penulis pada khususnya.

Kendari, 23 juni 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah .........................................................................................2
C. Tujuan ..........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Penyakit Aktinomikosis...................................................................3
B. Jamur Penyebab Aktinomikosis.....................................................................4
C. Morfologi Jamur Penyebab Penyakit.............................................................5
a. Klasifikasi Aktinomikosis..................................................................6
b. Ciri-Ciri Aktinomikosis.....................................................................6
D. Gejala Penyakit Aktinomikosis......................................................................7
E. Gmbar Penyakit Aktinomikosis.....................................................................8
F. Penanganan Secara Feeling pencegahan, dan pengobatan.............................9
a. Pencegahan.........................................................................................9
b. pengobatan.........................................................................................9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................................10
B. saran...............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jamur dapat didefinisikan sebagai organisme eukariotik yang mempunyai


inti dan organel. Jamur tersusun dari hifa yang merupakan benangbenang sel
tunggal panjang, sedangkan kumpulan hifa disebut dengan miselium. Miselium
merupakan massa benang yang cukup besar dibentuk dari hifa yang saling
membelit pada saat jamur tumbuh. Jamur mudah dikenal dengan melihat warna
miseliumnya.

Jamur merupakan salah satu penyebab infeksi pada penyakit terutama di


negara-negara tropis. Penyakit kulit akibat jamur merupakan penyakit kulit yang
sering muncul di tengah masyarakat Indonesia. Iklim tropis dengan kelembaban
udara yang tinggi di Indonesia sangat mendukung pertumbuhan jamur.
Banyaknya infeksi jamur juga didukung oleh masih banyaknya masyarakat
Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan sehingga masalah kebersihan
lingkungan, sanitasi dan pola hidup sehat kurang menjadi perhatian dalam
kehidupan seharihari masyarakat Indonesia.

virus maupun jamur mengakibatkan timbulnya penyakit kulit. Penyakit


kulit infeksi jamur merupakan penyakit kulit yang umum terjadi di Indonesia.
Kulit adalah bagian luar yang perlu kita jaga dengan baik karena kulit
mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menjalin kelangsungan hidup.
Fungsi kulit antara lain sebagai fungsi proteksi yaitu kulit berfungsi menjaga
bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik atau mekanis, kemudian kulit juga
mempunyai fungsi absorsi karena kulit yang sehat tidak mudah menyerap air,
larutan dan benda padat, tetapi cairan yang menguap lebih mudah diserap
begitujuga yang larut dalam lemak. Dan kulit mempunyai fungsi sebagai
pengatur suhu, ekresi, persepsi, pembentukan pigmen, keratinisasi dan
pembentuk vitamin D.
Kesehatan kulit perlu dijaga agar kulit bisa bekerja sesuai dengan
fungsinya dan tidak terserang penyakit kulit. Penyakit kulit merupakan suatu
penyakit yang menyerang pada permukaan tubuh, dan disebabkan oleh berbagai
macam penyebab. Penyakit kulit adalah penyakit infeksi yang paling umum
terjadi pada orangorang disegala usia. Sebagian besar pengobatan infeksi kulit
membutuhkan waktu lama untuk menunjukan efek. Tidak banyak statistik yang
membuktikan bahwa frekuensi yang tepat dari penyakit kulit, namun kesan
umum sekitar 10-20 persen pasien mencari nasehat medis jika menderita penyakit
pada kulit.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada pembuatan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Defnisi dari penyakit Aktinomikosis
2. Apa saja jamur penyebab penyakit Aktinomikosis?
3. Bagaimana morfologi jamur dari penyakit Aktinomikosis?
4. Bagaimana gejela infeksi yang terjadi pada penyakit Aktinomikosis?
5. Contoh gambar kasus pada penyakit Aktinomikosis
6. Bagaimana proses penanganan secara Felling, pencegahan dan pengobatan?
C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan makalah pada pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mampu memahami definisi penyakit aktinomikosis
2. Mengetahui jenis jamur penyebab penyakit
3. Mampu mengetahui morfologi jamur pada penyakit Aktinomikosis
4. Mampu mengetahui gejela infeksi dari penyaki Aktinomikosis
5. Memahami gambar kasus pada penyakit
6. Mampu mengetahui penanganan secara Felling, pecegahan dan pengobatan
penyakit Aktinomikosis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Penyakit Aktinomikosis

Pada tahun 1877, Ahli Patologi Otto Bollinger menggambarkan


keberadaan Actinomyces bovis pada sapi, dan tak lama kemudian, James
Israel menemukan Actinomyces israelii pada manusia. Pada tahun 1890, Eugen
Bostroem mengisolir organisme penyebab penyakit dari budidaya gabah, rumput,
dan tanah. Setelah penemuan Bostroem ada kesalahpahaman secara umum
bahwa aktinomikosis adalah mikosis bahwa individu yang terkena yang
mengunyah rumput atau jerami.
Aktinomikosis adalah suatu penyakit infeksi kronik, supuratif dan
bergranul, yang terutamadisebabkan oleh Actinomyces israelii Actinomyces spp.
merupakan bakteri prokaryotik tingkattinggi yang merupakan family
Actinomyceataceae. Bakteri ini pertama kali ditemukan pada awalabad ke- 19
dan sering salah diklasifikasikan sebagai fungi. Kata “ actinomycosis” berasal
dari bahasa Yunani, actino  berarti gambaran radiasi yang terlihat dari granul
sulfur dan mycos  menggambarkan suatu kondisi pada penyakit mikosis

Aktinomikosis merupakan infeksi subakut atau kronis yang jarang


ditemukan (perbandingan 1:300.000).Infeksi ini disebabkan oleh bakteri dari
genus Actinomyces sp. yang pada keadaan normal menjadi mikrobiota pada
daerah orofaring, traktus gastrointestinal, dan genitourinarius Kolonisasi bakteri
ini dapat dipicu oleh rusaknya membran mukosa dan penurunan sistem
kekebalan tubuh, walaupun beberapa laporan kasus menunjukkan penyakit ini
dapat terjadi pada orang-orang yang imuno kompeten.3,4 Distribusi
aktinomikosis terjadi pada daerah servikofasial (50%), abdominopelvis (20%),
toraks (15%), dan organ lain (15%).

Aktinomikosis cukup jarang terjadi dan infeksinya bersifat lokal pada


satu tempat di bagian tubuh. Hal ini dikarenakan bakteri Actinomyces tidak
memiliki kemampuan untuk menembus jaringan tubuh. Akan tetapi pada
beberapa kasus, bakteri Actinomyces dapat berpindah melalui jaringan tubuh
meskipun sangat lambat. Beberapa jenis aktinomikosis yang sudah diidentifikasi
adalah:

 Aktinomikosis oral servikofasialis. Infeksi aktinomikosis jenis ini terjadi


pada mulut, rongga mulut, rahang, leher, serta daerah wajah. Sebagian
besar kasus aktinomikosis oralis disebabkan oleh permasalahan pada
rahang (misalnya cedera rahang) atau permasalahan pada gigi dan gusi
(misalnya karang gigi dan pembusukan gigi).
 Aktinomikosis torakal. Ini merupakan jenis infeksi aktinomikosis yang
terjadi pada paru-paru atau bagian organ pernapasan lainnya. Sebagian
besar infeksi aktinomikosis paru diperkirakan disebabkan oleh terhirupnya
percikan ludah atau cairan yang terkontaminasi Actinomyces ke dalam
organ pernapasan.
 Aktinomikosis abdominal. Infeksi aktinomikosis yang terjadi pada
bagian perut. Penyebab munculnya aktinomikosis abdominal sangat
beragam, salah satunya adalah akibat infeksi usus buntu (apendisitis).
 Aktinomikosis pelvis. Ini merupakan infeksi aktinomikosis yang terjadi
pada bagian pelvis (daerah panggul). Sebagian penderita infeksi jenis ini
adalah wanita akibat penyebaran bakteri dari organ genital menuju pelvis.
Aktinomikosis pelvis sering diasosiasikan dengan penggunaan alat
konstrasepsi IUD. Terutama jika penggunaannya melebihi batas waktu
yang direkomendasikan oleh produsen.

B. Jamur Penyebab Penyakit Aktinomikosis


Aktinomikosis terutama disebabkan oleh salah satu dari beberapa
anggota genus bakteri Actinomyces. Bakteri ini umumnya anaerobik. Pada
hewan, mereka biasanya tinggal di ruang kecil antara gigi dan gusi,
menyebabkan infeksi hanya bila mereka dapat berkembang biak dengan bebas
dalam lingkungan anoksik. Pada manusia sering menyerang orang yang bekerja
sebagai dokter gigi, kebersihan mulut yang buruk, penyakit periodontium,
atau terapi radiasi yang menyebabkan kerusakan jaringan lokal pada mukosa
mulut, yang semuanya mempengaruhi perkembangan penyakit aktinomikosis.
Mereka juga penghuni normal usus buntu, aktinomikosis perut dapat
mengakibatkan pengangkatan usus buntu. Tiga lokasi yang paling umum dihuni
ialah gigi, paru-paru, dan usus. Aktinomikosis tampak menyatu dengan bakteri
lain. Infeksi ini bergantung pada bakteri lain (gram positif, gram negatif,
dan kokus) untuk membantu penyerangan jaringan.

Aktinomikosis seperti yang sudah kita tahu adalah suatu jenis kondisi
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Actinomyces di mana jenis bakteri
ini biasa bertahan hidup di bagian saluran pencernaan, rongga mulut, serta
saluran kemih. Penyakit dapat terjadi oleh bakteri jenis tersebut karena bakteri
mampu menembus lapisan mukosa. Ada jenis bakteri lainnya yang pada
umumnya diketahui menjadi penyebab pada kasus aktinomikosis, yakni seperti
bakteri:

 Actinomyces radingae
 Actinomyces turicensis
 Actinomyces naeslundii
 Actinomyces meyeri
 Actinomyces viscous
 Actinomycs israelii
 Actinomyces odontolyticus
 .Actinomyces merupakan bakteri komensal patogenis fakultatif yang memerlukan
kemampuan untuk menembus lapisan mukosa sehingga dapat menyebabkan
penyakit.
 Actinomyces israelii adalah spesies bakteri Gram positif berbentuk batang di
Dalam Genus Actinomyces. Dikenal Untuk Hidup Secara Komensal Pada Dan
Di dalam manusia, A. israelii adalah patogen oportunistik dan
penyebab aktinomikosis. Ada banyak strain spesies yang beragam secara
fisiologis, meskipun semuanya adalah anaerob yang ketat. Bakteri ini dinamai
berdasarkan ahli bedah Jerman, James Adolf Israel (1848–1926), yang
mempelajari organisme tersebut untuk pertama kalinya pada tahun 1878.
 Penyebaran: Aktinomikosis adalah suatu infeksi menahun yang disebabkan
terutama oleh Actinomyces israelii, bakteri yang bisa ditemukan di gusi, gigi,
dan amandel. Infeksi ini menyebabkan terbentuknya abses di beberapa tempat.
Aktinomises memiliki 4 Smacam bentuk dan paling sering menyerang pria
dewasa. Aktinomikosis kadang terjadi pada wanita yang menggunakan alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR, IUD, spiral). Bentuk aktinomikosis yang khas
adalah suatu pembengkakan yang keras, merah, relatif tidak nyeri dan biasanya
timbul perlahan-lahan. Pembengkakan menjadi berfluktuasi, mengarah ke
permukaan, dan akhirnya mengeluarkan cairan, membentuk saluran sinus
menahun dengan hampir tidak ada kecendrungan menyembuh.

C. Morfologi Jamur Penyebab Penyakit

Salah satu golongan bakteri yang dulunya pernah diklasifikasikan sebagai


jamuryang dapat merugikan khususnya untuk manusia adalah Actinomyces
sp. Actinomycetes kelihatan dari luar seperti jamur dan di dalam banyak buku
dibicarakan sama denganfungi eukariot. Akan tetapi, organisme ini adalah
bakteri gram positif sesuai dengansemua kriteria untuk sel
prokariot.Actinomycetes adalah bakteri Gram positif yang bersifat aerob. Bakteri
ini memilikimorfologi yang mirip dengan fungi yaitu memiliki miselium.
Actinomycetes memilikikadar GC (Guanin dan Sitosin) yang tinggi.
Metabolit sekunder bioaktif yang dihasilkanoleh Actinomycetes termasuk
antibiotika, agen antitumor. Metabolit ini diketahuimemiliki antibakteri,
antijamur, antioksidan, neuritogenik, anti kanker, anti malaria dananti inflamasi.
Actinomycetes memiliki potensi besar untuk mensintesis metabolitsekunder
bioaktif

 Actynomyces israelii memiliki filament yang panjang dan bercabang. A.


israelii memiliki dinding sel bertipe gram positif bila diamati dengan
menggunakan mikroskop elektron. Dalam setiap dinding sel Actinomyces israelii
terdapat 3 tipe mucopeptida berdasarkan asam amino yang terdapat dalam 3
posisi dari struktur peptide dan jembatan interpeptide, yaitu Orn Lys D- glukosa.
Permukaan sel dari bakteri ini relative halus tanpa fimbriae. Sekitar 25-45%
Gambar. Actinomyces israelii karbohidrat membentuk dinding sel dari A.
israelii. Morfologi koloni dari A. israelii dapat diamati dalam media solid. Koloni
A. israelii bisasanya berwarna putih, kasar dan berbentuk seperti gigi geraham.
Dalam media kaldu (broth medium) A. israelii menyimpan granul-granul.
Actinomyces israelii tumbuh baik dalam medium agar yang ditambahkan CO 2
bahkan dapat tumbuh juga dalam medium yang tidak ditambahkan bahan
penyubur. Actinomyces israelii bersifat fakultatif anaerob namun lebih baik
tumbuh dalam kondisi anaerob. Selain itu, bakteri ini bersifat tidak tahan asam.
Suhu optimum pertumbuhannya antara C.
 Klasifikasi  Actinomyces

Kingdom : Bacteria

Filum : Actinobacteria

Class : Actinobacteria

Ordo : Actinomycetales

Family : Actinomycetaceae

Genus : Actinomyces

Spesies : Actinomyces sp

 Ciri-ciri Atinomikosis

 Actinomycetes kelihatan dari luar seperti jamur


 Dinding selnya mengandung asam muramat
 Tidak mempunyai mitrokondria
 Mengandung ribosom 70S (sel eukariot mempunyai ribosom 80S dalam
sitoplasmanya)
 Mempunyai pembungkus nukleus
 Garis tengah selnya berkisar dari 0,5 samapi 2,0 µm
 Dapat dimatikan atau dihambat oleh banyak antibiotika bakteriActinomycetes
dapat bersifat anaerob fakulatif (mampu tumbuh baik jika terdapatO2 bebas
atau tidak adaO2) dapat mampu memfermentasikan karbohidrat
Actynomyces israelii memiliki filament yang panjang dan bercabang. A.
israelii memiliki dinding sel bertipe gram positif bila diamati dengan
menggunakan mikroskop elektron. Dalam setiap dinding sel Actinomyces israelii
terdapat 3 tipe mucopeptida berdasarkan asam amino yang terdapat dalam 3
posisi dari struktur peptide dan jembatan interpeptide, yaitu Orn – Lys –
Dglukosa. Permukaan sel dari bakteri ini relative halus tanpa fimbriae. Sekitar
25-45% karbohidrat membentuk dinding sel dari A. israelii. Morfologi koloni
dari A. israelii dapat diamati dalam media solid. Koloni A. israelii bisasanya
berwarna putih, kasar dan berbentuk seperti gigi geraham. Dalam media kaldu
(broth medium) A. israelii menyimpan granul-granul. Actinomyces israelii
tumbuh baik dalam medium agar yang ditambahkan CO2 bahkan dapat tumbuh
juga dalam medium yang tidak ditambahkan bahan penyubur. Actinomyces
israelii bersifat fakultatif anaerob namun lebih baik tumbuh dalam kondisi
anaerob. Selain itu, bakteri ini bersifat tidak tahan asam. Suhu optimum
pertumbuhannya antara 350 -370 C.
 Klasifikasi Actinomyces israelii

Domain : Bacteria

Phylum : Actinobacteria

Order : Actinomycetales

Family : Actinomycetaceae
Genus : Actinomyces

Species : Actinomyces israelii

D. Gejala Infeksi Penyakit Aktinomikosis

Gejala bergantung pada bagian dari tubuh yang terkena aktinomikosis, yaitu:

 Aktinomikosis serviko-fasial
1. terdapat riwayat manipulasi gigi atau trauma pada area mulut, memiliki
higienitas gigi dan mulut yang buruk.
2. terdapat benjolan yang tidak nyeri atau hanya terkadang nyeri pada area
submadibula dan perimandibula. Benjolan ini dapat bertambah jumlah dan
ukurannya. Pada tahap awal biasanya benjolan teraba lunak namun
menjadi keras seiring berjalan waktu.
3. Benjolan tersebut lama kelamaan dapat mengeluarkan granul berisi
pus.perubahan warna kulit menjadi kemerahan atau kebiruan pada area
yang terkena.
4. kesulitan mengunyah.

 Aktinomikosis torakal
1. riwayat aspirasi (faktor risiko adalah kejang, penyalahgunaan alkohol, dan
kesehatan gigi dan mulut yang buruk).
2. batuk kering atau berdahak, kesulitan bernafas (ngos-ngosan), nyeri dada,
terkadang keluar sputum yang disertai darah (batuk darah).

 Aktinomikosis abnominal
1. riwayat pembedahan pada perut, tertelan benda asing (misalkan tulang
ikan atau ayam), dan sebagainya.
2. munculnya gejala tidak spesifik, seperti demam dengan suhu rendah,
penurunan berat badan, rasa lemah/kelelahan, perubahan pola BAB, mual
dan muntah, nyeri perut samar, adanya benjolan (paling sering pada area
kanan bawah).

 Aktinomikosis pelvis
1. riwayat pemakaian IUD yang lama (jika memakai IUD, perhatikan waktu
untuk lepas IUD). Umumnya pada kasus aktinomikosis pelvis yang
berkaitan dengan pemakaian IUD, pemakaian alat kontrasepsi ini rata-rata
selama 8 tahun.
2. adanya nyeri pada area perut bawah, pendarahan dari vagina atau
keluarnya cairan dari vagina.
3. gejala lain dapat serupa dengan gejala aktinomikosis abdominal.
E. Gambar Kasus penyakit Aktinomikosis

 Aktinomikosis servikofasialis merupakan tipe paling sering terjadi dan


ditemukan dalam 50% dari kasus aktinomikosis.Faktor resiko pencetusnya
adalah kebersihan mulut yang buruk yang menyebabkan terjadinya abses
periodontal atau keroposan gigi, trauma orofasial, benda asing yang
mempenetrasi tepi mukosa seperti tulang ikan. Berikut salah satu contoh
gambar kasus yag terjadi pada Aktinomikosis serviko-fasial
 Aktinomikosis thorakal Infeksi thorakal terjadi pada 15-20% kasus
aktinomikosis dan dapat melibatkan paru-paru, dinding dada atau kedua-
duanya. Aktinomikosis tipe ini sering terjadi pada penderita dengan struktur
gigi yang buruk dan mempunyai gejala yang tidak spesifik seperti penurunan
berat badan, nyeri dada, batuk dan demam. Gejala klinis dan radiologi yang
dimiliki mirip dengan malignansi TB. Apabila bakteri dari paru-paru
menyebar ke kulit, dapat ditemukan beberapa saluran sinus pada kulit bagian
thoraks. Infeksi juga dapat menyebar ke tulang iga dan membentuk
osteomielitis.

 Aktinomikosis abdominal meliputi 20% dari kasus aktinomikosis dan paling


sering terjadi di regio iliosekal, namun bagian primer yang terinfeksi adalah
esofagus, lambung dan anorektal. Pada aktinomikosis tipe ini, organ yang
paling sering terkena infeksi adalah apendiks, diikuti kolon, lambung dan
hepar. Penderita yang terkena aktinomikosis tipe ini sering bermanifestasi
seperti gejala apendisitis yaitu demam, teraba massa dan nyeri tekan pada
bagian kuadran kanan bawah abdomen serta leukositosis.
 Aktinomikosis pelvis sering terjadi pada penggunaan IUD jangka lama,
prolaps uteri dan aborsi septik. Pada tipe ini, gejala klinis yang sering muncul
adalah keluarnya cairan dari vagina, pembengkakan lokal, pembentukan
abses, massa tuba-ovari dan terjadinya penyakit infeksi pelvis dengan gejala
kaku pada pelvis dan mirip keganasan. Penyakit ini umumnya tidak
memberikan manifestasi pada kulit.  Selain itu, terdapat juga gejala yang tidak
spesifik seperti nyeri pada bagian bawah abdomen, demam dan perdarahan
vaginal di luar siklus menstrual.
D. Penanganan secara Feeling, Pencegahan, dan Pengobatan
a. Pencegahan
1. Untuk penyakit Aktinomikosis servikofasialis, kita di anjurkan unrtuk
lebih menjaga kebersihan rongga mulut, terutama pada gigi, gusi dan
lidah, dan menggosok gigi secara teratur agar terhidar dari infeksi jamur
dan penyakit yang menyebabkan munculnya jamur atau bakteri
2. Untuk penyakit Aktinomikosis thorakal, kita perlu menghidari asap rokok
maupun oksigen-oksigen yang mengandung toksik, karena tempat infeksi
dan berkembangya jamur didalam paru-paru atau saluran pernapasan.
3. Untuk Aktinomikosis abdominal, kita tidak di anjurkan untuk lebih
banyak mengomsumsi makanan bji-bijan, dan tulang ayam yang
mengandung bakteri aktinomikosis yang dapat menyebabkan radang usus
buntu.
4. Untuk penyakit Aktinomikosis pelvis, terutama pada wanita lebih
menghidari pengunaan alat kontrasepsi intrauterine (IUD) yang
menyebabkan pendarahan dan keputihan vagina yang tidak teratur atau
abnormal.
b. pengobatan
1. Penggunaan Antibiotik yang merupakan pengobatan utama untuk
aktinomikosis. Diperlukan antibiotik jangka panjang untuk
menghilangkan infeksi sepenuhnya. Suntikan antibiotik awal biasanya
direkomendasikan untuk 2-6 minggu, diikuti dengan pemberian antibiotik
selama 6-12 bulan. Antibiotik untuk mengobati aktinomikosis adalah
benzilpenisilin, yang digunakan untuk injeksi antibiotik, dan tablet
fenoksimetilpenisilin.
2. Operasi. Kadang-kadang, operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki
kerusakan jaringan atau untuk mengeluarkan nanah dari abses yang telah
terbentuk jauh di dalam tubuh kita
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada makalah ini adalah:
1. Aktinomikosis adalah jenis infeksi bakteri yang langka. Aktinomikosis
disebabkan oleh keluarga bakteri yang dikenal sebagai bakteri
actinomycetales. Actinomycetales ditemukan di banyak rongga tubuh, seperti
di dalam mulut, tenggorokan dan usus. Pada wanita, mereka juga dapat
ditemukan di dalam rahim dan saluran tuba fallopi.
2. Bakteri Actinomyces adalah bakteri anaerob, yang berarti mereka berkembang
di bagian-bagian tubuh di mana terdapat tingkat oksigen yang rendah, seperti
jauh di dalam jaringan manusia.
3. Jenis-jenis penyakit aktinomikosis:
a. Aktinomikosis servikofasialis
b. Aktinomikosis abdominal
c. Aktinomikosis pelvis
d. Aktinomikosis thorakal
B. Saran

Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan


jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan
berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari
itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam
kesimpulan di atas. 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?idktg=20&jud


ul=Aktinomikosis&iddtl=215&UID=20080512144033222.124.20
9.68, diakses tanggal 03 Mei 2008

Anonim, 2008, http://www.wikipedia.org/, diakses tanggal 14 Mei 2008

Jawetz, E., dkk., 1995, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, EGC, Jakarta

Johnson, A.G, 1993, Mikrobiologi dan Imunologi, Birupa Aksara, Jakarta

Talaro, K.P., 2008, Foundations in Microbiology, Sixth Edition, McGraw-Hill,


New York

Topley W.W.C. & Sir Graham Wilson, 1998, Microbiology and Microbial
Infections, Ninth Edition, Oxford University Press, New York

www.medicalnewstoday.com

www. emedicine.medscape.com

www.healthline.com

www.amjmed.com