Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN KONDISI


RENTAN “ KEHAMILAN AKIBAT PEMERKOSAAN"
Dosen Pengampu : S.SiT, M.Keb

Disusun oleh : Kelompok 5

1. Silvia Astuti (152191008)


2. Nindi Mubarokatun (152191264)

Fakultas Ilmu Kesehatan


Prodi S-1 kebidanan transfer
Universitas Ngudi Waluyo
Tahun 2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
karuni-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Kehamilan Akibat
Pemerkosaan”. Makalah ini disusun berdasarkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan
Kebidanan Pada Perempuan dan Anak dengan Kondisi Rentan Program Studi S1 Kebidanan
Transfer Universitas Ngudi Waluyo.
Penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari kontribusi berbagai pihak. Oleh karena
itu, kami menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ibu , S.SiT.,M.Tr.Keb selaku Dosen Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Pada Perempuan dan
Anak dengan Kondisi Rentan Program Studi S1 Kebidanan Transfer Universitas Ngudi
Waluyo.
2. Rekan-rekan satu kelompok yang sudah bekerjasama dan berusaha semaksimal mungkin
sehingga makalah ini dapat terealisasi dengan baik;
3. Semua pihak yang secara tidak langsung membantu terciptanya makalah ini yang tidak
dapat disebutkan satu per satu.
Kami juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan
makalah ini. Akhirnya kami berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Ungaran, Maret 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang................................................................................. 1
B.       Rumusan Masalah........................................................................... 1
C.       Tujuan Penulisan.............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemerkosaan ...................................................................... 3
B. Pengertian Korban Perkosaan............................................................... 3
C. Dampak Kehamilan Akibat Perkosaan ................................................ 3
D. Issue Kesehatan/Kebidanan Kehamian Akibat Perkosaan (Aborsi) .... 4
E. Aturan Hukum Terkait Issue Kesehatan Tentang Perkosaan............... 5
F. Perlindungan Korban Perkosaan........................................................... 6
G. Peran dan Wewenang Bidan................................................................. 7
BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan......................................................................................... 8
B.  Saran................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia banyak menghadapi masalah
kekerasan, baik yang bersifat masal maupun yang dilakukan secara individual. Masyarakat mulai
merasa resah dengan adanya berbagai kerusuhan yang terjadi dibeberapa daerah di Indonesia.
Kondisi seperti ini membuat perempuan dan anak-anak menjadi lebih rentan untuk menjadi
korban kekerasan.

Bentuk kekerasan terhadap perempuan bukan hanya kekerasan secara fisik, akan tetapi
dapat juga meliputi kekerasan terhadap perasaan atau psikologis, kekerasan ekonomi, dan juga
kekerasan seksual. Hal ini sesuai dengan pendapat Hayati (2000) yang mengatakan bahwa
kekerasan pada dasarnya adalah semua bentuk perilaku, baik verbal maupun non-verbal, yang
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, terhadap seseorang atau sekelompok orang
lainnya, sehingga menyebabkan efek negatif secara fisik, emosional, dan psikologis terhadap
orang yang menjadi sasarannya.

Kasus perkosaan yang marak terjadi di Indonesia , menunjukkan bahwa pelaku tidak
hanya menyangkut pelanggaran hukum namun terkait pula dengan akibat yang akan dialami oleh
korban dan timbulnya rasa takut masyarakat secara luas. Akibat dari ini di Indonesia secara
normatif tidak mendapatkan perhatian selayaknya, hal ini disebabkan oleh karena hukum pidana
(KUHP) masih menempatkan kasus perkosaan ini sama dengan kejahatan konvensional lainnya,
yaitu berakhir sampai dengan dihukumnya pelaku. Kondisi ini terjadi oleh karena KUHP masih
mewarisi nilai-nilai pembalasan dalam KUHP.

Dari sudut pandang ini maka menghukum pelaku menjadi tujuan utama dalam proses
peradilan pidana, oleh karena itu semua komponen dalam proses peradilan pidana mengarahkan
perhatian dan segala kemampuannya untuk menghukum si pelaku dengan harapan bahwa dengan
dihukumnya pelaku dapat mencegah terulangnya tindak pidana tersebut dan mencegah pelaku
lain untuk tidak melakukan perbuatan yang sama ini dan masyarakat merasa tentram karena
dilindungi oleh hukum, seperti yang ada dalam KUHP pada pasal 285 yaitu “Barang siapa yang
dengan kekerasan atau dengan ancaman memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh
dengan dia, karena perkosaan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun”

Adapun yang dimaksud dengan tindakan perkosaan adalah tindakan yang melanggar
hukum. Tindakan perkosaan tersebut telah merugikan orang lain yaitu orang yang telah
diperkosa tersebut. Seperti yang sudah ada dalam KUHP Ancaman hukuman dalam pasal 285 ini
ialah pria yang memaksa wanita, dimana wanita tersebut bukan istrinya dan pria tersebut telah
bersetubuh dengan dia dengan ancaman atau perkosaan.

1
Seperti yang sudah dijelaskan diatas apa yang dimaksud dengan tindak pidana perkosaan. Maka
masyarakat harus bisa berhati-hati dan lebih waspada terhadap tindak pidana perkosaan dan
kasus pemerkosaan menjadi masalah yang harus segera dibenahi di Indonesia agar tidak merusak
citra dan moral bangsa Indonesia.

B. Rumusan Masalah
a. Apa itu perkosaan ?
b. Pengertian Korban Perkosaan
c. Dampak Kehamilan Akibat Perkosaan
d. Issue Kesehatan/Kebidanan Kehamilan Akibat Perkosaan (Aborsi)
e. Aturan/Hukum Terkait Issue Kesehatan Tentang Aborsi
f. Perlindungan Korban pemerkosaan
g. Peran dan Wewenang Bidan

C. Tujuan
a. Untuk mengetahui apa itu perkosaan.
b. Untuk mengetahui apa itu korban perkosaan.
c. Untuk mengetahui dampak kehamilan akibat perkosaan.
d. Untuk mengetahui issue kesehatan/kebidanan kehamilan akibat perkosaan (aborsi)
e. Untuk mengetahui aturan/hukum terkait issue kesehatan tentang aborsi
f. Untuk mengetahui perlindungan korban pemerkosaan
g. Untuk mengetahui peran dan wewenang bidan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemerkosaan

Pemerkosaan adalah suatu tindakan kriminal di saat si korban dipaksa untuk melakukan
hubungan seksual , khususnya penetrasi dengan alat kelamin, di luar kemauannya sendiri. Istilah
pemerkosaan dapat pula digunakan dalam arti kiasan, misalnya untuk mengacu kepada
pelanggaran yang lebih umum seperti perampokan , penghancuran, penangkapan atas warga
masyarakat yang terjadi pada saat sebuah kota atau negara dilanda perang .

Perkosaan adalah suatu tindakan melakukan hubungan seks dengan orang lain dengan
cara memaksa demi mendapat kepuasan seksual yang sementara. Para wanita sudah barang tentu
sangat resah dengan tindak pemerkosaan yang memang dari sejak jaman nenek moyang dahulu
kala sudah ada. Pemerkosa yang umumnya adalah laki-laki / pria tidak hanya mengincar
perempuan dewasa saja, namun juga para gadis yang muda termasuk anak di bawah umur yang
terkadang menjadi korban.

B. Pengertian Korban Perkosaan

pengertian korban perkosaan adalah suatu usaha melampiaskan nafsu seksual oleh
seseorang laki-laki terhadap seorang perempuan dengan cara menurut moral dan/atau hukum
yang berlaku adalah melanggar (Soetandyo Wignjosoebroto, 1997: 25). Agus Purwadianto
berpendapat bahwa perkosaan merupakan istilah hukum, sehingga bila didefinisikan perkosaan
adalah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap seseorang wanita di luar
pernikahan oleh kekerasan atau ancaman kekerasan (Agus Purwadianto, 1981: 57).

C. Dampak Kehamilan Akibat Perkosaan


1) Dampak fisik
2) Dampak psikologis
3) Dampak sosial

Dan beberapa akibat / efek dampak buruk pada korban pemerkosaan :

a. Aborsi
b. Menjadi stress hingga mengalami gangguan jiwa
c. Cidera ata luka-luka akibat penganiayaan
d. Kehilangan keperawanan / kesucian
e. Menjadi trauma pada laki-laki dan hubungan seksual
f. Bisa menjadi seorang lesbian atau homo yang menyukai sesama jenis
g. Masa depan suram karena dikanal sebagai korban perkosaan

3
h. Sulit mencari jodoh karena sudah tidak perawan
i. Bisa membalas dendam pada oang lain
j. Hamil di luar nikah yang sangat tidak diinginkan
k. Anak hasil perkosaan bisa dibenci orang tua, kerabat, tetangga, dll
l. Merusak mental seorang anak karena belum waktunya mengenal seks
m. Menjadi pasrah dan terus melakukan hubungan seks pranihah
n. Merasa kotor dan akhirnya terjun sebagai psk untuk mendapat uang.
o. Terkena penyakit menular seksual yang berbahaya, dll.

Dilihat dari besarnya efek yang dapat ditimbulkan dari pemerkosaan seharusnya seorang
pemerkosa diberikan hukuma yang sangat berat dan membuat jera seperti dicambuk, kerja sosial,
hukuman seumur hidup, dicap seperti pki, dan lain sebagainya. Namun orang yang melakukan
fitnah pun harus diberikan hukuman yang sama beratnya jika berbohong telah diperkosa seperti
dalam cerita ayat-ayat cinta karena terkadang fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Untuk mencegah terjadinya perkosaan hukum memang harus tegas dan membuat takut
orang yang akan memperkosa orang lain. Di samping itu di sekolah harus diajarkan mengenai
pendidikan seksologi yang baik dan sehat agar tidak terjadi kesalahan eksperimen,
ketidaktahuan, kekhilafan, kepolosan, ketidakberdayaan dan lain sebagainya.

Terkadang pelaku perkosaan adalah orang dekat yang tidak kita sangka-sangka seperti
teman sepermainan, teman satu sekolah, tetangga, paman, sepupu, dan lain sebagainya. Tidak
menutup kemungkinan pula seorang wanita dewasa dan remaja mengajak berhubungan seks
dengan paksaan pada anak laki-laki dan perempuan. Semua patut diwaspadai namun tetap dalam
batasan yang wajar agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang merusak hubungan harmonis
antar individu.

D. Issue Kesehatan /Kebidanan Kehamilan Akibat Perkosaan/Aborsi

Seorang  perempuan berusia 15 tahun di Jambi, WA, dilaporkan dipenjara selama enam
bulan karena melakukan aborsi. Ia melakukan aborsi setelah diperkosa berulang kali oleh
kakaknya sendiri, Alhasil hamil.Setelah usia kehamilannya masuk usia 6 bulan, WA lalu
mengaborsi bayi dalam kandungannya. Aborsi itu dilakukan atas saran si ibu karena ia merasa
malu atas perbuatan kedua anaknya itu. Setelah diaborsi, bayi tersebut dibuang dan ditemukan
oleh warga sehingga polisi kemudian melakukan penyelidikan lanjutan.

Hasil persidangan menyatakan WA bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama 6


bulan karena mengaborsi kandungnya yang sudah berusia 6 bulan.
Hal ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Banyak yang menyayangkan keputusan ini
karena sejatinya WA dianggap sebagai korban rudapaksa kakaknya. Lalu bagaimana sebenarnya
hukum aborsi menurut undang-undang yang berlaku di Indonesia?

4
E. Aturan/Hukum Terkait Issue Kesehatan Tentang Aborsi
a. Tindak Pidana Aborsi Berdasarkan UU Kesehatan

Hampir sama dengan Pasal 346 KUHP, ketentuan aborsi menurut UU Kesehatan juga
diatur dalam pasal 75 ayat (1) UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan: Setiap
orang dilarang melakukan aborsi.

Larangan yang dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:

1. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat danatau
cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut
hidup di luar kandungan; atau
2. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.

Namun dalam UU Kesehatan juga terdapat pengecualian yang diatur dalam pasal 75 ayat
(2) UU Kesehatan. UU Kesehatan sekaligus juga telah mengatur batas legal suatu tindakan
aborsi yang dituangkan dalam Pasal 76 UU Kesehatan.
Aborsi yang dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan dengan batasan:

1. Usia kehamilan belum berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertana haid terakhir,
kecuali dalam hal kedaruratan medis.

2. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang
memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri

3. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan

4. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan

5. Dilakukan di penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
menteri.

Lebih lanjut, khususnya bagi korban perkosaan, kehamilan akibat perkosaan juga harus
bisa dibuktikan. Setidaknya, korban perkosaan menunjukkan bukti:

1. Keterangan usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan, yang dinyatakan oleh surat
keterangan dokter
2. Keterangan dari penyidik kasus, psikolog, dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan
perkosaan.

5
3. Jika semua terbukti bahwa dia adalah korban perkosaan dan usia kandungannya belum
mencapai enam minggu, maka pilihan tindakan aborsi boleh dilakukan oleh petugas
kesehatan yang terampil di lokasi penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat.

Namun apabila korban perkosaan tidak memenuhi batasan legal dalam pasal 76 UU
Kesehatan, misalnya usia kehamilan sudah lebih dari enam minggu, maka aborsinya akan masuk
dalam tindakan ilegal.

Untuk sanksinya menurut UU Kesehatan ini, bagi siapa saja yang sengaja melakukan
aborsi dan tidak sesuai dengan ketentuan dalam pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah)
Maka dilihat dari kasus A di atas, karena usia kehamilannya sudah 6 bulan saat janin
digugurkan, tentu menyalahi auran di UU Kesehatan.

F. Perlindungan Korban Perkosaan

Salah satu wujud perlindungan oleh negara adalah penyelenggaraan peradilan. Selain
kelengkapan perundang-undangan, LPSK, penegak hukum, instansi pemerintah terkait, dan
pihak-pihak lain yang relevan, maka fungsi peradilan memegang peranan penting. Fungsi
pengadilan selain sebagai pemutus perkara, juga menerima laporan pelaksanaan kompensasi,
atau restitusi, mengumumkannya serta memerintahkan instansi atau pihak-pihak untuk
melaksanakan putusan dan sebagainya. Dengan menerapkan sanksi hukum kepada pelaku, maka
secara tidak langsung hal itu merupakan suatu bentuk perhatian perlindungan secara hukum
kepada korban kejahatan. Perlindungan hukum kepada wanita yang menjadi korban kejahatan ini
bukanhanya terbatas kepada dihukumnya pelaku, namun juga kepada akibat-akibatyang
menimpanya, seperti kehamilan akibat perkosaan.

Korban tindak kekerasan seksual memiliki hak-hak yang wajib ditegakkan, rasa sakit
hati, penderitaan, ketakutan dan berbagai macam dampak buruk yang menimpa dirinya paska
tindakan itu mendapatkan perhatian yang serius dari hukum. Korban tidak boleh diabaikan
sendirian memperjuangkan nasib yang menimpanya, namun wajib dijembatani oleh penegak
hukum dalam memperjuangkan nasibnya. Perlindungan hukum terhadap korban dalam sistem
peradilan pidana merupakan hak yang diberikan oleh undang-undang kepada korban dalam
upaya memberikan rasa aman sertakepastian hukum yang dapat diterima oleh korban.

LPSK merupakan lembaga yang diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk


melindungi korban dalam sistem peradilan pidana. Korban dalam hal ini dapat memperoleh
perlindungan dengan cara melakukan permohonan tertulis sebagaimana yang diatur dalam pasal
29 UU NO. 13 Tahun 2006.

6
G. Peran dan Wewenang Bidan

1. Bersikap dengan baik, penuh perhatian dan empati


2. Memberikan asuhan untuk menangani gangguan kesehatannya, misalnya mengobati
cidera, pemberian kontrasepsi darurat
3. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan apa yang sebenarnya terjadi
4. Memberikan asuhan pemenuhan kebutuhan psikologis
5. Memberikan konseling dalam membuat keputusan
6. Membantu memberitahu pada keluarga.

7
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perkosaan sebagai salah satu bentuk kekerasan jelas dilakukan dengan adanya paksaan
baik secara halus maupun kasar. Pemerkosaan terjadi tidak semata-mata karena ada kesempatan,
namun pemerkosaan dapat terjadi karena pakaian yang dikenakan korban menimbulkan hasrat
pada sipelaku untuk melakukan tindakan pemerkosaan, serta pemerkosaan bisa juga disebabkan
karena rendahnya rasa nilai, moral, asusila dan nilai kesadaran beragama yang rendah yang
dimiliki pelaku pemerkosaan. Hal ini akan menimbulkan dampak sosial bagi perempuan yang
menjadi korban perkosaan tersebut.

Bentuk kekerasan terhadap perempuan bukan hanya kekerasan secara fisik, akan tetapi
dapat juga meliputi kekerasan terhadap perasaan atau psikologis, kekerasan ekonomi, dan juga
kekerasan seksual. Kekerasan pada dasarnya adalah semua bentuk perilaku, baik verbal maupun
non-verbal, yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, terhadap seseorang atau
sekelompok orang lainnya, sehingga menyebabkan efek negatif secara fisik, emosional, dan
psikologis.

B. Saran

Pemerkosaan di Indonesia termasuk masalah yang harus segera di benahi oleh kita semua
karena sebagaimana kita ketahui bahwa tindak pemerkosaan dapat merusak citra dan moral
bangsa. Maka dari itu pemerintah dan masyarakat harus bekerja keras dalam menaggulangi
tindak pidana pemerkosaan salah satunya dengan menanamkan sikap dan perilaku kehidupan
keluarga dan lingkungan masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai moral, budaya, adat istiadat
dan ajaran agama masing-masing serta menindaklanjuti dengan penegakan hukum sesuai
ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

8
DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unila.ac.id/8502/2/bab%202.pdf

Bambang Walluyo, S.H, M.H., Viktimologi, Perlindungan Korban dan Saksi, Sinar Grafika,
Jakarta, 2011.

Syahrial Martanto Wiryawan, Melly Setyowati, Pemberian Bantuan Dalam Undang-Undang


Perlindungan Saksi dan Korban. ICW, Jakarta, 2007.

Abar, A. Z & Tulus Subardjono. 1998. Perkosaan dalam Wacana Pers National, kerjasama PPK
& Ford Foundation. Yogyakarta.

Davison, G. C, and Neale, J. M. 1990. Abnormal Psychology. New York: John Wiley & Sons.

Harkrisnowo, H. 2000. Hukum Pidana Dan Perspektif Kekerasan Terhadap Perempuan


Indonesia. Jurnal Studi Indonesia Volume 10 (2) Agustus 2000.

Haryanto. 1997. Dampak Sosio-Psikologis Korban Tindak Perkosaan Terhadap Wanita.


Yogyakarta: Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada.