Anda di halaman 1dari 6

1.

Hubungan Penyakit Sistemik terhadap Tulang di Rongga Mulut


a. Osteoporosis dan Osteopenia
Osteoporosis dan osteopenia merupakan penyakit yang berhubungan. Osteopenia
adalah penyakit menurunya kepadatan mineral tulang (BMD) dimana merupakan
penyakit peralihan dari tulang yang sehat menuju osteoporosis. Osteoporosis adalah
penyakit tulang yang ditandai oleh penurunan kepadatan mineral tulang (BMD) dan
perubahan komposisi dalam tulang, yang mengarah kepada peningkatan kerapuhan
tulang dan peningkatan risiko fraktur. Osteoporosis merupakan hasil
ketidakseimbangan antara laju pembentukan tulang dan resorpsi yang menyebabkan
hilangnya massa mineral tulang. Kehilangan komponen mineral tulang akan
menyebabkan kerusakan tulang yang lebih besar. Kepadatan tulang yang rendah
dapat menyebabkan terjadinya resiko fraktur tulang yang tinggi termasuk tulang
alveolar. Tes kepadatan mineral tulang digunakam untuk mengukur massa tulang
seseorang. BMD diukur mengunkan scan absorbsimetri dual- energy sinar-X. Skor dari
pengukurannya disebut Skor-T.
Skor T : >-1 = Normal
-1 sampai -2.5 = Osteopenia (rendah)
>-2.5 = Osteoporosis

Pada kondisi osteopenia dan osteoporosis mempengaruhi terjadinya resorpsi


tulang alveolar. Menurunnya kadar mineral tulang pada penyakit ini disebabkan
karena proses pengerusakan tulang terjadi berlebihan dan tidak diikuti oleh proses
pembentukan tulang yang cukup. Sel perusak tulang disebut osteoklas dan sel
pembentuk tulang disebut osteoblas. Ketinggian dan kepadatan tulang alveolar diatur
secara seimbang oleh faktor lokal dan sistemik antara pembentukan tulang dan
resorpsi tulang,. Apabila terjadi resorpsi maka pembentukan kepadatan tulang
menjadi berkurang. Resorpsi tulang adalah proses morfologi kompleks yang
berhubungan dengan adanya erosi pada permukaan tulang dan sel osteoklas. Ketika
osteoklas aktif, terjadi pertambahan yang banyak dari enzim hidrolitik yang akan
disekresikan pada daerah border. Enzim ini merusak bagian organik tulang. Proses
resorpsi tulang alveolar terjadi karena adanya peranan mediator inflamasi yang
menstimulasi pernbentukan osteoklas. Sedangkan fungsi osteoblas yaitu membuat,
menyekresikan, dan mengendapkan unsur organik matriks tulang baru yang disebut
osteoid. Maka dari itu, pada kondisi osteoporosis dan osteopenia peran sel osteoklas
secara berlebihan yang tidak diikuti oleh peran sel osteoblas akan menyebabkan
turunnya mineral tulang dan akan terjadi proses resorpsi tulang dan rentan terhadap
resiko fraktur tulang alveolar.

b. Diabetes Melitius
DM adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya gangguan metabolik berupa
hiperglikemia akibat defisiensi dan kegagalan pankreas dalam memproduksi insulin
didalam tubuh. Kecenderungan peningkatan kadar glukosa darah pada penderita DM
juga berpengaruh terhadap kaparahan penyakit periodontal. Keadaan DM juga
menyebabkan terjadinya penurunan fungsi polimorfonuklear (PMNs) yang dapat
meningkatkan derajat keparahan destruksi jaringan periodontal. Selain itu kondisi
DM dapat menunjukkan gejala dan manifestasi didalam rongga mulut diantaranya
adalah peradangan jaringan periodontal atau periodontitis. Peningkatan kadar glukosa
darah (hiperglikemia) pada penderita DM menyebabkan komplikasi berupa
mikrovaskuler yang ditandai dengan peningkatan Advanced glycation end-product
(AGE) pada plasma dan jaringan. Produk AGE terdeposit pada jaringan sebagai
akibat dari hiperglikemi dapat mengubah fenotip makrofag dan sel lain melalui
reseptor khusus reseptor spesifik.  Makrofag merupakan sel utama pada patogenesis
periodontitis karena kemampuannya untuk memproduksi sitokin dalam jumlah besar. 
Makrofag juga bereaksi terhadap respons inflamasi, fibroblas dan limfosit dan
menstimulasi resorpsi tulang, AGE yang dihasilkan mengubah makrofag menjadi sel
dengan fenotip destruktif, yang menghasilkan sitokin pro-inflamasi yang tidak
terkontrol sehingga mengakibatkan kerusakan lokal termasuk kerusakan tulang
alveolar.
c. Hiperparatiroidisme
Fungsi kelenjar paratiroid berfungsi menghasilkan hormon paratiroid (PTH). Hormon
PTH merupakan pengatur utama metabolisme kalsium. Hormon PTH
mempertahankan kadar kalsium plasma dalam tetap dalam batas normal.
Hiperparatiroidisme adalah kondisi ketika kelenjar paratiroid memproduksi terlalu
banyak hormon PTH dalam aliran darah. Tingginya kadar hormon PTH akan
menyebabkan kadar kalsium dalam darah meningkat (hiperkalsemia) Hipersekresi
paratiroid menghasilkan demineralisasi tulang secara umum, peningkatan osteoklas
dengan proliferasi jaringan ikat di ruang sumsum yang membesar, dan pembentukan
kista tulang dan giant cell tumors. Penyakit ini disebut osteitis fibrosa cystic atau von
Recklinghausen’s bone disease. Hilangnya lamina dura dan giant cell tumors di
rahang adalah tanda-tanda lanjut dari penyakit tulang hiperparatiroid. Laporan
penelitian menunjukkan bahwa 25% hingga 50% pasien dengan hipeparatiroid
memiliki manifestasi oral. Manifestasi ini termasuk maloklusi dan mobilitas gigi,
gambaran radiografi yang menunjukkan adanya osteoporosis alveolar dengan
trabekula yang menyatu, pelebaran ruang ligamen periodontal, tidak adanya lamina
dura, dan ruang radiolusen seperti kista. Kista tulang menjadi terisi oleh jaringan
fibrosa dan makrofag dan giant cell. Kista ini telah disebut brown tumor. Brown
tumor adalah lesi tulang yang muncul akibat aktivitas osteoklas berlebih, seperti
hiperparatiroidisme yang akan mempengaruhi resorpsi tulang rahang atas dan rahang
bawah. Pasien yang bememiliki diagnosis hiperparatiroidisme memiliki cendenrung
resiko yang besar terkena osteoporosis yang akan bermanifestasi terhadap rapunya
tulang alveolar.
d. Penyakit Paget
Penyakit paget adalah kondisi dima metabolisme tulang secara signifikan lebih tinggi
dari keadaan normal, dengan proses pembentukan tulang melebihi dari proses
resorpsi. Penyakit ini menghasilkan pembentukan tulang yang berlebihan dan dapat
mempengaruhi satu atau beberapa tulang. Tulang panggul paling sering terkena.
Tulang yang terkena, meskipun memiliki peningkatan pembentukan tulang tetapi
bersifat lemah dan cacat. Ini karena pembentukan serat kolagen yang tidak teratur di
dalam tulang. Pada penyakit ini terdapat kelainan yaitu peningkatan yang signifikan
dari resorpsi tulang. Osteoklas pada penyakit ini memiliki bentuk yang abnormal,
yang berukuran lima kali lebih besar dari osteoklas normal. Penyakit paget
menyebabkan aktivitas osteoblas dan osteoklas menjadi berlebihan. Hal ini dapat
menggangu proses regenerasi tulang baru yang berlangsung lebih cepat dari proses
normal. Proses pembentukan yang cepat inilah yang menyebabkan tulang akan
membesar tapi strukturnya lebih lunak dan lemah yang dapat menyebabkan rentan
terhadap fraktur.

2. Indeks Periodontal Russell

Indeks ini digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva, adanya poket,
fungsi mastikasi dan destruksi periodontal. Seluruh gigi rahang atas dan bawah diperiksa dengan
menggunakan kaca mulut dan probe dengan melihat kondisi giniva apakah ada pendarahan dan
inflamasi serta mengukur kedalaman poket.

Kriteria Indeks Periodontal Russell:

0 : Gingiva normal/ tidak adanya inflamasi dari jaringan pendukung maupun gangguan fungsi
karena kerusakan jaringan pendukung
1 : Gingivitis ringan. Terlihat ada inflamasi ringan pada tepi free gingival, tetapi tidak
mengelilingi gigi
2 : Gingivitis parah, terdapat poket >4mm
6 : Gingivitis dengan pembentukan poket. Perlekatan epitel rusak dan terlihat adanya poket, tidak
ada gangguan mastikasi, gigi melekat kuat dalam soketnya dan tidak ada mobility
8 : Kerusakan tingkat lanjut dan hilangnya fungsi mastikasi. Gigi mengalami mobility dan
perkusi negatif.
Skor periodontal indeks : Jumlah skor seluruh gigi

Jumlah gigi yang di periksa

Kriteria Skor Indeks Periodontal Russell

0-0,2 : Normal

0,3-0,9 : Gingivitis ringan

1-1,9 : Kerusakan destruktif periodontal awal (Reversible)

2-4,9 : Kerusakan destruktif periodontal lanjut (Irreversible)

5-8 : Penyakit terminal

3. Dichomotous bleeding index


Bleeding index digunakan untuk melihat adanya pendarahan gingiva pada gigi.
Dichomotous merupakan isitilah yang digunakan untuk variabel yang hasil pengukurannya
bukan merupakan skor atau angka tetapi dari 2 kategori yaitu ada dan tidak ada. Gigi yang
diperiksa sama dengan Indeks Periodontal Russell yaitu seluruh gigi. Alat yang digunakan yaitu
dental floss/tape yang dilakukan di interproksimal gigi dan dilakukan sebanyak 2 kali dalam
waktu 15 detik kemudian dilihat ada atau tidaknya pendarahan . Skor yang digunakan yaitu
0: Tidak ada pendarahan dan 1: Ada pendarahan

4. Pengaruh Overbite dan Overjet terhadap kondisi periodontal

Overbite : jarak vertikal antara tepi insisiv rahang atas dan tepi insisiv rahang bawah pada saat
oklusi sentris. Overbite normal yaitu sebesar 2-4mm.

Deepbite/ Deep overbite : jarak vertikal yang berlebihan dari gigi insisivus rahang atas dan
insisivus rahang bawah pada saat oklusi sentris.

Deepbite sendiri diklasifikasikan menjadi bebrapa tipe yang dikaitkan dengan akibat yang
ditimbulkan jaringan periodontal.

Tipe I: Mukosa palatal maksila beresiko mengalami trauma dari tepi insisal insisiv mandibula

Tipe II: Margin gingival palatal maksila beresiko mengalami trauma dari tepi insisial gigi
insisvus mandibula

Tipe III: Trauma langsung pada jaringan lunak palatal gigi insisivus maksila/madibula atau
keduanya secara bersamaan

Tipe IV: Gigi insisivivus mandibula menyebabkan atrisi progresif pada permukaan palatal
insisivus maksila akibat kontak secara abnormal dan terus-menerus

Apabila keeadaan deepbite sangat parah dapat akan menjadi traumatik yang akan menimbulkan
adanya resesi gingiva dan mobilitas gigi insisivus maksila akibat kontak trauma yang berlebihan
dari insisivus gigi yang berlawanan.
Overjet: jarak vertikal antara tepi insisiv rahang atas dan tepi insisiv rahang bawah pada saat
oklusi sentris. Overjet normal yaitu sebesar 2-4mm.

Overjet yang berlebih mengakibatkan jarak tepi insisal rahang atas dan rahang bawah
semakin besar, posisi ujung lidah berada di insisal insisivus maksila, bibir atas hipotonus serta
bibir bawah terletak dipalatinal insisivus maksila. Posisi gigi geligi anterior sangat besar
pengaruhnya terhadap pembentukan suara atau bunyi. Kontak antar gigi geligi anterior dengan
bibir maupun lidah akan memberi pengaruh besar terhadap kejelasan kualitas bicara. Overjet
yang berlebihan akan menyebabkan hipotonus bibir yang akan menyebabkan titik artikulasi
dalam pengucapan tidak tepat.. Kelainan pengucapan yang terjadi berupa pengucapan pada vokal
/o/ dan /u/ berdasarkan kondisi bibir yang mengalami hipotonus sedangkan pada konsonan yang
paling berpengaruh adalah konsonan bilabial dan labiodental. Konsonan bilabial adalah
konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir berupa /p/, /b/, /m/, dan
labiodental adalah konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas dan bibir bawah
berupa /f/.