Anda di halaman 1dari 3

Korona Terus Meningkat, Lalu Bagaimana?

Abdurachman
Guru Besar FK Unair
Dewan Pakar IDI Jawa Timur
President Asia-Pacific International Congress of Anatomist-6

Menigkat dan terus meningkat. Kasus positif virus korona di Indonesia semakin bertambah.
Tidak hanya laju pertumbuhan ekonomi yang harus dikoreksi tajam. Bahkan sejumlah laga
besar olahraga harus ditunda akibat keganasan virus korona. Ditambah lagi sejumlah aktivitas
penting yang lain juga harus berubah jadual. Virus korona bukan saja menandai dampak
buruk secara global, tetapi fokus aktifitas kepada penanganan seimbang secara fisik dan
nonfisik merupakan langkah yang sepatutnya dilakukan. Lalu bagaimana?

Opsi Sterilitas dan Imunitas


Menjadikan diri steril, terutama dari droplet/percikan hidung, lubang saluran nafas penderita
korona merupakan upaya yang meluas tampa diminta. Upaya ini paling umum dijalankan
melalui pemakaian masker (umumnya masker bedah). Selebihnya, menjaga tangan agar tetap
steril, mencucinya dengan air dan sabun, serta tidak sesekali menggapai wajah dan mengusap
mata dengan tangan. Bisa juga digunakan hand sanitizer. Upaya ini dilakukan serempak di
seluruh dunia, terlebih World Health Organization (WHO) turut mensosialisasikan. Bukti
konkritnya adalah, harga masker menjadi tidak wajar, setidaknya di beberapa daerah seperti
Depok dan Semarang, bahkan stok habis. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai harus
mengeluarkan fatwa haram bagi siapa pun yang menumpuk masker demi sebuah keuntungan.
Demikian juga hand sanitizer.
Anjuran untuk tetap tenang dari pakar virus, agar ketahanan tubuh stabil sudah
disosialisasikan. Saran pakar yang lain untuk rutin mengonsumsi empon-empon, karena
curcumin yang diteliti mampu meningkatkan imunitas juga ramai menjadi anjuran. Kali ini
pun, kiat ini menuai melambungnya harga kunyit dan jahe di pasaran. Tampak di pinggiran
pasar tradisional ibu-ibu antri membawa setumpuk bahan empon tersebut.
Opsi isolasi bagi siapa pun yang positif korona menjadi ketentuan yang pasti bagi rumah sakit
rujukan di seluruh Indonesia. Pembatasan perjalanan, baik menuju atau dari daerah terinfeksi
korona juga menjadi kebijakan negara. Bahkan, walau kebijakan ini memberikan dampak
buruk pada pendapatan negara secara umum.

Korona dan Cinta


Sementara itu virus korona seperti tak perduli. Korona tidak terpengaruh terhadap seluruh
upaya manusia. Bahkan, seandainya vaksin korona nantinya ditemukan, pastilah korona
sudah memiliki jurus jitu untuk segera bermutasi, karena virus korona memang mudah
bermutasi. Berubah menjadi korona baru, yang tidak sesuai dengan vaksin yang telah
ditemukan. Lalu bagaimana?
Sementara berbagai upaya menghadang korona dilakukan, sementara itu pula penulis teringat
pada kisah-kisah dalam buku international best seller, bertajuk “Love, Miracle, and
Medicine”. Buku itu dibesut oleh Bernie Siegel. Seorang ahli bedah berkebangsaan asli
Amaerika. Di dalam buku itu Siegel berkisah tentang sejumlah penderita keganasan payudara
di negaranya, carcinoma mamma, yang bisa sembuh sempurna bukan karena radioterapi atau
pun kemoterapi. Tetapi melalui terapi love, kasih sayang. Siegel menunjukkan sebanyak 57
orang penderita keganasan payudara bisa sembuh total dari penyakitnya setelah para mereka
mengembangkan sikap, perilaku kasih sayang. Perilaku itu antara lain adalah, kembali ke
desa, memulai bertanam, menyayang tanaman, menyayang binatang peliharaan, menyapa dan
tersenyum kepada tetangga, menggapai hubungan harmonis, dengan keluarga, teman dan
masyarakat sekitar. Singkat kata mereka membiarkan tubuhnya dipenuhi energi positif,
energi cinta, energi kasih sayang.
Perilaku demikian juga dibuktikan Siegel pada beberapa penderita HIV/AIDS. Penyakit oleh
karena virus ini sangat sulit ditangani. Banyak dari mereka lalu menjadi orang-orang yang
menyeru kepada kebaikan, relawan kesembuhan bagi penyakit serupa, setelah mereka
sembuh total dari penyakitnya.
Rupanya, Siegel sampai pada kesimpulan bahwa, cinta sungguh memiliki keajaiban. Bahkan
keajaiban cinta mampu membuktikan kesembuhan terhadap penyakit-penyakit yang dinilai
tidak mampu diobati dengan mudah.

Beberapa Riset
Masaru Emoto (2002), peneliti The Hidden Massage in Water ini melakukan sekian banyak
riset. Pakar dari Jepang ini mampu membuktikan bahwa hadirnya energi positif manusia,
mampu menginduksi air menjadi sempurna. Air didinginkan sampai membeku. Pada titik
beku Emoto menggunakan teknik mikroskopis untuk melakukan pengirisan (slicing). Melalui
hasil penguraian mikroskopis, Emoto menemukan ada perbedaan signifikan pada kristal air.
Air diinduksi energi posistif, dibiarkan sekian waktu lalu dibekukan, memberikan gambaran
kristal yang terbentuk sempurna, tersusun komplek, dan indah. Sebaliknya, kristal air yang
diperoleh dari air yang disimpan beberapa waktu, sambil diinduksi energi negatif terlihat
gambaran kristal air yang rusak, tidak ada kristal yang terbentuk.
Emoto meneliti pengaruh energi positif terhadap benda padat, yaitu nasi. Nasi yang diinduksi
energi positif tahan lama, tidak mudah basi. Nasi yang diinduksi energi negatif cepat
membusuk.
Kelompok peneliti Emotional Freedom Technique (EFT), melakukan suatu riset. Riset
dilakukan kepada Rebecca Marina, Agustus 2003. Marina dikondisikan menjadi sedih. Darah
tepinya dibuat hapusan. Lalu diperiksa di bawah mikroskop cahaya. Hapusan darah Marina
menunjukkan gambaran sel-sel darah merah yang berbentuk ‘tear drop’, tidak bulat
sempurna. Darah yang berbentuk seperti tetes air mata, menimbulkan permasalahan pada saat
melintasi pembuluh darah. Sel-sel darah merah yang berbentuk di luar normal, mengganggu
kelancaran aliran darah, juga menjadikan sel-sel darah merah itu pecah sebelum waktunya.
Masa hidupnya singkat.
Selanjutnya, Marina diinduksi senang, bahagia sebahagia orang jatuh cinta. Hapusan darah
tepi Marina menunjukkan gambaran sel-sel darah merah yang berbentuk bulat seperti cakram,
bi-concave, berjarak memadai satu dan yang lain. Situasi emosional seseorang (energi
seseorang) secara langsung berkorelasi dengan kondisi fisik. Pengaruh ini pada Rebecca
Marina ditunjukkan adanya perubahan bentuk pada sel-sel darahnya.
Percobaan Marina dilanjutkan dengan sel-sel darah putih atau dikenal dengan sistem imun
tubuh. Hasilnya serupa dengan yang diperoleh terhadap sel-sel darah merah. Energi positif
seseorang meningkatkan imunitas, sebaliknya energi negatif menurunkannya.

Energi positif dipancarkan oleh orang yang memiliki sikap, perilaku dan karakter yang baik.
Energi negatif dipancarkan oleh orang yang memiliki sikap dan perilaku buruk. Siegel,
Emoto dan Marina menghasilkan bukti yang sama, bahwa kasih sayang yang tulus
merupakan puncak energi positif. Ia mampu menghalau penyakit setingkat kanker dan
HIV/AIDS.
Jadi, disamping seluruh usaha yang telah dilakukan sejak virus korona muncul di Wuhan.
Upaya berperilaku positif, perilaku kasih sayang yang tulus merupakan sarana yang ampuh
untuk menghindari korona, walaupun korona mudah bermutasi. Upaya kasih sayang yang
tulus pasti bukan dengan jalan memborong semua masker, memborong empon-empon, karena
itu merupakan perilaku egois yang justru akan melemahkan imun tubuh!