Anda di halaman 1dari 20

SEDULUR PAPAT LIMA PANCER

Sugih Tanpa Bandha

Digdaya Tanpa Aji

Nglurug Tanpa Bala

Menang Tanpa Ngasorake

Gusti Iku Adoh Tanpa Wangenan

Cedhak Tanpa Senggolan

1
SEDULUR PAPAT LIMA PANCER

Dalam budaya jawa (kejawen), penyebutan “Kakang Kawah Adi

Ari-Ari” keberadaannya masih tersamar. Apalagi di zaman modern

sekarang ini. Mitos saudara kembar yang ghaib ini cenderung diabaikan.

Ini konsekuensi dari zaman maju. Dunia material cenderung meningkat,

sedang kaweruh spiritual orang jawa kian gersang. Kita mencoba untuk

memahami kembali Puasa Weton yang bagi orang jawa dipercayai dapat

memberikan pencerahan spiritual dengan berbagai mitosnya yang penuh

dengan kesakralan dan religiusitas.

Hakikat Puasa menurut “Wulang Reh”. Sri Pakubuwono IV telah

memberikan wewaler, peringatan, pada anak cucunya untuk pengekangan

nafsu. Peringatan itu tertuang dalam karyannya Serat Wulang Reh, yang

ditulis pada hari ahad kliwon, wunku sungsang, tanggal ke-19, bulan

besar, mongso ke-delapan, windu sancaya dan di beri sengkalan : Tata -

Guna – Swareng - Nata ( 1735 ).

Ia bergelar : Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono

Senopati Ing Ngalogo Abdur Rahman Sayyidin Panotogomo IV. Nama

kecilnya adalah Bandoro Raden Mas Gusti sumbadyo, Putra Pakubuwono

III dengan Kanjeng Ratu Kencana. Dalam pupuh II Tembang Kinanthi ia

menulis :

2
“Podho Gulangen Ing Kalbu, Ing Sasamita Amrih Lantip, Ojo

pijer mangan nendra, ing kaprawiran den kesthi, Pesunen sariraniro ,

Sudanen dhahar lan guling”

(Wahai, asahlah di dalam hatimu biar tajam menangkap isyarat-

isyarat ghaib. Jangan terlalu banyak makan dan tidur, kurangilah hal

tersebut, cita citakan kaprawiran “keluhuran budi”, agar bisa mengekang

diri) .

Inti yang cepat ditangkap dari wejangan ini menyangkut pada

pengendalian diri dan cara yang harus ditempuh adalah dengan berpuasa.

Hakekat Puasa adalah pengekangan diri, karena alam duniawi banyak

memberi godaan. Silau dengan kemewahan, apalagi kalau sedang

mendapat suka-cita yang berlebihan, maka kaprayitnan batin

(kewaspadaan) akan terkurangi. Manusia akhirnya akan terbelenggu

nafsunya. Nafsu yang bersumber dari dirinya sendiri.

Nafsu merupakan sikap angkara yang dalam Wulang Reh di

sebutkan terdiri dari 4 macam, yaitu :

1. Lawwamah, artinya serakah.

Bertempat di perut, lahirnya dari mulut ibarat hati bersinar hitam.

Akibatnya bisa menimbulkan dahaga, kantuk dan lapar.

2. Amarah, artinya garang.

Bisa menimbulkan angkara murka, iri dan emosional. Ia berada di

empedu, timbulnya lewat telinga bak hati bercahaya merah.

3. Sufiyah

3
Nafsu yang menimbulkan birahi, rindu, keinginan dan kesenangan.

Sumber dari Limpa timbul lewat mata bak hati bercahaya kuning.

4. Muthmainah

Berarti rasa ketentraman. Punya watak yang senang dengan

kebaikan, keutamaan dan keluhuran budi. Nafsu ini timbulnya dari

tulang, timbul dari hidung bagai hati bersinar putih.

Lelaku Puasa. Ritualnya dimulai dengan reresik raga

(membersihkan badan). Badan harus bersih dari kotoran dunia, caranya

dengan siram jamas (mandi besar). Kalau perlu menggunakan kumkuman

(rendaman) bunga lima warna: Mawar, Melati, Kenanga, Kanthil putih,

Kanthil kuning.

Waktu mandi membaca doa “Ingsun Adus Ing Banyu Suci, Kang

adus badan sejati, Kakosokan nyowo sejati, Amulyaaken kersane

Pangeran”.

(Aku mandi di air suci, yang mandi badan sejati, membersihkan

nyawa sejati, memuliakan takdir Illahi).

Lelaku, jangka waktu puasa ini sehari semalam yang dimulai pukul

24.00 WIB diakhiri pukul 24.00 WIB hari berikutnya. Lelaku puasa yang

lebih bersifat khusus. Jangka waktunya 3 hari. Keistimewaan puasa ini

menurut pinisepuh (para arif) jawa terletak pada nilai amalannya.

Seseorang yang melakukan puasa dina dulur ini, nilai amalannya hampir

4
sama dengan puasa 40 hari. Keistimewaan lain adalah terletak pada

mustikanya. Puasa ini diyakini dapat menyelesaikan problematika hidup

yang sangat berat dalam waktu yang sangat mendesak.

Tiga weton dan buang sengkala. Ritual Puasa dina dulur ini

selama 3 hari, dan harus tepat pada hari “Selasa Kliwon, Rabu Legi dan

Kamis Pahing”. Tentu saja ini dari hitungan kalender jawa, atau

umumnya dalam satu bulan terdapat 3 hari yang berurutan ini. Tinggal kita

saja yang menentukan ada kesiapan atau tidaknya niatan yang mantap

untuk menjalankan lelaku puasa khusus ini. Jangka waktunya juga sama

dengan waktunya puasa puasa kejawen lainnya. Dimulai (sahur) pada

pukul 24.00 WIB diakhiri (berbuka) pada pukul 24.00 WIB hari berikutnya.

Demikian juga kesiapan jiwa raga seseorang yang hendak berpuasa.

Di pagi harinya, sebelum hari (H) ia wajib melakukan pembersihan

diri dengan cara "siram jamas" (mandi besar) lebih baik kalau

menggunakan kumkuman (rendaman) bunga setaman yang baru dibeli di

pasar.

Cara mandi jamas ini tidak boleh sembarangan. Rendaman bunga

yang tercecer itu harus dikumpulkan dan dilarung (dibuang) di

sungai. Hal ini didasarkan pada mitos "sengkala" (nasib buruk / dosa-

dosa). Termasuk sifat buruk dan nafsu dalam diri manusia harus dibuang

jauh. Larung dimaknakan dibuang jauh. Sedangkan sungai (muaranya

menuju lautan bebas) sebagai simbol dunia luas dan tak terbatas.

5
Bubur Lima Warna. Akan lebih sempurna bila dalam ritual larung

ini disertakan sesajen berupa bubur lima warna. Hitam, putih, Merah,

Kuning dan merah di beri titik putih. Lima warna ini berarti menghormat

pada “Keblat Papat Limo Pancer” (keblat 4, 5 bumi tempat berpijak).

Hitam berada di utara, merah di selatan, kuning bertempat di barat

dan putih berada di timur.

Khusus filosofi bubur merah bertitik putih, sebenarnya diartikan

penghormatan kepada orang tua. Bisa juga sesepuh (leluhur kita) baik

yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Namun dalam

khasanah kiblat tadi dimaknakan pancer. Tentang bubur lima macam ini

bisa kita kaitkan dengan simbolisasi bunga lima warna. Dan semua unsur

ini dimaksudkan sebagai pelengkap sebelum melakukan puasa dino dulur.

Tetapi jauh dibalik ini semua ada mitos bahwa semua unsur itu sebagai

pendukung (kekuatan batin) dalam melaksanakan puasa. Sekaligus

penguat dan peneguh iman seseorang dalam menjalankan ritual

puasanya.

Saudara-Saudara Halus / Sedulur Papat Kalimo Pancer . Orang

Jawa tradisional percaya eksistensi dari sedulur papat (saudara empat)

yang selalu menyertai seseorang di mana saja dan kapan saja, selama

orang itu hidup di dunia. Mereka memang ditugaskan oleh kekausaan

alam untuk selalu dengan setia membantu, mereka tidak tidak punya

badan jasmani, tetapi ada baik dan kamu juga harus mempunyai

hubungan yang serasi dengan mereka yaitu:

6
a. Kakang kawah, saudara tua kawah, dia keluar dari gua garba ibu

sebelum kamu, tempatnya di timur warnanya putih.

b. Adi ari-ari, adik ari-ari, dia dikeluarkan dari gua garba ibu sesudah

kamu, tempatnya di barat warnanya kuning.

c. Getih, darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan,

tempatnya di selatan warnanya merah.

d. Puser, pusar yang dipotong sesudah kelahiranmu, tempatnya di utara

warnanya hitam.

Selain sedulur papat diatas, yang lain adalah Kalima Pancer,

pancer kelima itulah badan jasmani kamu. Merekalah yang disebut

sedulur papat kalimo pancer, mereka ada karena kamu ada.

Sementara orang menyebut mereka keblat papat lima tengah, (empat

jurusan yang kelima ada ditengah).

Mereka berlima itu dilahirkan melalui ibu, mereka itu adalah Mar

dan Marti, berbentuk udara. Mar adalah udara, yang dihasilkan karena

perjuangan ibu saat melahirkan bayi, sedangkan Marti adalah udara yang

merupakan rasa ibu sesudah selamat melahirkan si jabang bayi.

Secara mistis Mar dan Marti ini warnanya putih dan kuning, kamu

bisa meminta bantuan Mar dan Marti hanya sesudah kamu melaksanakan

tapa brata (laku spiritul yang sungguh-sungguh). Mereka itu selalu

bersama kamu, menjaga kamu di manapun kamu berada. Mungkin

kamu tidak menyadari bahwa mereka itu menolongmu dalam setiap

7
saat kegiatanmu, mereka akan senang, bila kamu memperhatikan

mereka, mengetahui akan keberadaan mereka.

Adalah bijaksana untuk meminta mereka supaya berpartisipasi

dalam setiap kegiatan yang kamu lakukan, seperti: minum, makan,

belajar, bekerja, meyopir, mandi dan lain-lain. Dalam batin kamu

mengundang mereka, misalnya:

1. Semua saudara halusku, saya mau makan, bantulah saya

(ewang-ewangono) artinya mereka itu akan membantumu,

sehingga kamu selamat pada saat makan dam makanan itu

juga baik untukmu.

2. Semua saudara halusku, bantulah saya untuk menyopir mobil

dengan selamat sampai kantor. Ini artinya kamu akan menyopir

dengan selamat sampai ke kantor, tidak ada kecelakaan yang

terjadi pada kamu, pada mobil dan yang lain-lain.

3. Semua saudara halusku, saya akan bekerja, bantulah saya

supaya bisa meyelesaikan pekerjaan ini dengan baik dan lain-

lain.

Tetapi kamu jangan meminta partisipasi mereka pada waktu kamu

mau tidur, untuk hal itu kamu harus berkata : saya mau tidur lindungilah

saya (reksanen) pada waktu saya tidur, kalau ada yang mengganggu

8
atau membahayakan, bangunkanlah saya, sambil membaringkan

badan di tempat tidur sebelum menutup mata, dengan meletakkan

tangan kanan di dada, menyentuh jantung, katakanlah: “saya juga

hidup”.

***** Dengan mengenali mereka artinya kamu memperhatikan

mereka dan sebaliknya mereka pun mengurusi kamu. Kalau kamu tidak

memperhatikan mereka, mereka tidak akan berbuat apapun untuk

menolongmu, mereka mengharap supaya secepatnya kamu kembali ke

asalmu, supaya mereka itu secepatnya terbebas dari kewajibannya untuk

mendampingimu. Ketika kamu kembali ke alam kelanggengan, mereka

juga akan pergi dan berharap diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha

Kuasa untuk dilahirkan sebagai manusia dengan jiwa dan raga dalam

hidup baru mereka di dunia *****.

Weton adalah peringatan hari lahir seseorang yang terjadi setiap 35

hari sekali. Untuk orang Jawa tradisional, mengetahui wetonnya itu

penting dan harus diingat kapan wetonnya itu, dengan mengetahui

tanggal, bulan, tahun kelahiran, seseorang bisa ditentukan hari wetonnya.

1. Pada saat weton biasanya akan dibuat semacam sesaji

sederhana yang berupa secawan bubur merah putih dan satu

gelas air hangat. Pemberian ini adalah untuk saudara-saudara

halus, dengan mengatakan: ini untuk semua saudara halusku,

aku selalu ingat kamu, mengenali kamu, maka itu bantulah dan

9
jagalah aku. Sesaji sederhana ini juga untuk mengingatkan dan

bersyukur kepada ibu dan ayah, karena melalui merekalah

kamu dilahirkan dan hidup di dunia ini. Selanjutnya untuk

mengingat dan menghormati para leluhur dab yang paling

penting untuk mengingat dan memuji Sang Pencipta Hiduo,

Tuhan Yang Maha Kuasa.

Cara yang lengkap untuk meyebut saudara-saudara halus kita

tersebut adalah :

Mar marti, kakang kawah, adi ari-ari, getih puser sedulur papat,

kalimo

- Bantulah saya (katakan apa keperluanmu)

- Jagalah saya pada waktu saya tidur

Sebaiknya kamu menyebut nama mereka dengan lengkap

sehingga kamu menjadi biasa dengan mereka (jumbuh) misalnya untuk

beberapa bulan. Sesudah itu kamu boleh memanggil mereka semua:

“saudara halusku”. Pada saat kamu berdoa atau meditasi, kamu

menyebut dengan nama lengkap, juga pada saat kamu memberikan sesaji

untuk mereka, katakanlah nama mereka satu demi satu. Kamu hendaknya

tahu bahwa kakang kawah dan adi ari-ari adalah yang paling banyak

membantu kamu.

10
Kakang kawah selalu berusa dengan sebaik-baiknya supaya

semua keinginan dan usahamu terealisir sedangkan adi ari-ari selalu

berusaha menyenangkan kamu. Oleh karena itu pada saat kamu akan

melakukan hal yang penting atau sebelum berdoa, sesudah menyebutkan

nama lengkap mereka satu persatu, ulangi lagi dengan menyebut kakang

kawah dan adi ari-ari untuk membantumu.

2. Selain memberikan sesaji kepada saudara-saudara halus kamu

bisa menyucikan diri, antara lain dengan cara berpuasa selama

24 jam, hanya makan buah dan sayuran, makan nasi putih dan

minum air putih, tidur sesudah tengah malam atau tidak tidur

sama sekali dan lain-lain. Ada juga yang melakukan selama tiga

hari berturut-turut, yaitu satu hari sebelum weton, pada saat

weton dan sehari sesudah weton yang disebut Ngapit. Dengan

selalu meminta partisipasi dari saudara-saudara halusmu, ini

berarti kamu aktif secara lahir maupun batin.

Yang melakukan sesuatu itu bukan hanya aku, tetapi Ingsun yaitu

aku-lahir, luar (jobo) bersama dengan aku dari batin (jero). Maka itu

orang Jawa yang mau melakukan hal penting berkata: Niat Ingsun.

Dengan melakukan laku spiritual seperti tersebur di atas, biasanya

orang berharap supaya hidupnya selamat dan sejahtera, atau untuk

11
penghayatan ilmu sejati merasa lebih dekat kepada hidup sejati atau

kasunyatan.

Penjaga Ghoib (SEDULUR PAPAT LIMA PANCER)

Siang dan malam keempat pendekar ghoib ini setia menunggu kita.

Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman.

Saudara penjaga ghoib ini bukan jin. Semakin lama belajar ajaran-ajaran

leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek

moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama,

bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para

leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat

dan takhayul.

Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan

secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para

leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini

juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ilmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita

dulu boleh diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu

membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah

bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh

nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau

12
nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu

Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu

sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan

animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai,

berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama

damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh,

sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa.

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan

aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak

kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun

orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan

terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap

maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang

sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran kejawen yang membahas tentang adanya

malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMA

PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri

kita dikelilingi oleh empat makhluk ghoib yang tidak kasat mata (metafisik).

Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan

di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam

kelanggengan).

13
Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami

konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia

dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa

ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim

oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara

manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini

kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara”

ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu

melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini

melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG

FISIK. Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau

plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin

dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah

SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin

kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah

SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut

nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA

MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN,

CERMIN TUHAN (Imago Dei).

14
Saudara ghoib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman

Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang

menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar

mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan

demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti

Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT

MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-

belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat

akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan memberikan pengajaran tidak

langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu

disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:

1. JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),

2. IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),

3. MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan

4. IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai

SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup

untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke

dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya

15
adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG

AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (lima pancer) itulah kita

ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur

papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang

mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa

menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara

berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan

seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU

SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang

mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada, disitu

keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita

tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat

bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita

akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu

beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal

pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur

papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati

Among tuwuh ing kuwasanira

16
Nganakaken saciptane

Kakang kawah puniku

Kang rumeksa ing awak mami

Anekakaken sedya

Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika

Kang mayungi ing laku kuwasaneki

Anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi

Angrowangi Allah kang kuwasa

Andadekaken karsane

Puser kuwasanipun

Nguyu uyu sambawa mami

Nuruti ing panedha

Kuwasanireku

Jangkep kadang ingsun papat

Kalimane pancer wus dadi sawiji

Nunggal sawujudingwang

Artinya: (Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan

hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta

terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak

dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar

arahannya.

17
Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan

kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan

kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah

empat saudara itu. Kelimanya sebagai pusat sudah jadi satu. Manunggal

dalam perwujudan saya saat ini).

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, paham “sedulur papat lima

pancer” sangat kental. Yang dimaksud dengan sedulur papat lima pancer

yaitu saudara yang menemani sang jabang bayi saat lahir. Yang secara

umum banyak orang mengenal dengan istilah kakang kawah adhi ari-ari,

yang disebut ini baru dua dari 5 bersaudara.

Adapun nama – nama sedulur papat , yaitu : Watman, Wahman,

Rahman, Ariman. Sedang penyebutan lima pancer sendiri yaitu si jabang

bayi yang lahir.

 Watman berarti “Wat” kondisi si Ibu yang sedang mengalami

perasaan pertama untuk melahirkan, mengejan.

 Wahman berarti kawah, jalan lahir, terbukanya jalan lahir.

 Rahman berarti darah yang keluar.

 Ariman berarti ari-ari atau plasenta yang keluar setelah si

jabang bayi.

Nama-nama di atas biasanya dipanggil apabila si jabang bayi sedang atau

memerlukan bantuan dari para “sedulur”nya.

18
Setelah Islam masuk di Jawa, konsep ini masih ada. Hanya saja mereka

dianggap malaikat-malaikat penjaganya. Adapun nama-namanya berubah

seperti Jibril, Mikail, Izroil, Israfil

Dalam konsep sedulur papat lima pancer, masyarakat Jawa juga

menggunakan hari pasaran legi, pahing, pon, wage dan kliwon yang

dihubungkan dengan arah mata angin.

 Legi dengan posisi di Timur

 Pahing dengan posisi di Selatan

 Pon dengan posisi di Barat

 Wage dengan posisi di Utara

 Kliwon dengan posisi di Tengah

19
Seperti pada kepercayaan lama/kuno, sisi timur merupakan sisi

yang tertua. Karena itu kenapa Legi ada di posisi timur. Kliwon

menunjukkan posisi sentral, posisi yang tertinggi. Seperti si jabang bayi

yang ada diposisi pancer / pusat.

Kembali lagi ke sedulur papat lima pancer, di dalam keyakinan

Kejawen orang dapat menemui sedulurnya, dapat saling berkomunikasi.

Adapun rupa sedulurnya mirip dengan si jabang bayi itu sendiri, dan

mereka akan menjaga sampai titi wanci-nya.

Teguh – Rahayu – Slamet

Rasa Sejati Sejatineng Rasa

Urip Sejati Sejatineng Urip

Tajam tapi tidak melukai. Pandai namun tidak menggurui

Bertanyalah kepada yang TAHU. Memintalah kepada yang PUNYA

20

Anda mungkin juga menyukai