Anda di halaman 1dari 13

komponen sistem pendidikan di SD yang seyogianya menjadi fokus atau lingkup

inovasi pendidikan pada jenjang SD. Bagaimana prinsip dan model inovasi yang
patut menjadi pegangan dalam rangka merencanakan dan mengembangkan inovasi
pendidikan SD

Jawab:

Kita akan meliha terlebih dahulu pengertian apa itu INOVASI

1. Pengertian Inovasi
Inovasi adalah suatu ide , gagasan, praktik atau obyek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal
yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi. Oleh sebab itu, inovasi pada dasarnya merupakan
pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru ataupun berupa praktik-praktik tertentu ataupun berupa
produk dari suatu hasil olah pikir dan olah teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang
diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu kedaan
tertentu ataupun proses tertentu yang terjadi di masyarakat  (Ahira: 2011)

Sedangkan  menurut Kusmana (2010: 4) adalah inovasi adalah membuat perubahan  atau memperkenalkan
sesuatu yang baru.

Dari pendapat diatas penulis menarik kesimpulan bahwa inovasi adalah menghasilkan produk baru atau
idea baru dengan tujuan untuk memperbaiki yang sudah ada supaya lebih baik dari keadaan atau situasi
sebelumnya  sehingga meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas.

1. Pengertian Inovasi Pendidikan


Pendidikan adalah suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan
komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan
yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas misalnya sistem pendidikan nasional

Inovasi pendidikan menurut asrori (2011) adalah inovasi dalam bidang pendidikan untuk memecahkan
masalah dalam pendidikan. Inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen
sistem pendidikan, baik dalam arti sempit tingkat lembaga pendidikan maupun arti luas di sistem
pendidikan nasional. Sehingga dapat dikatakan inovasi kurikulum merupakan suatu hal yang dapat terjadi
dalam ruang lingkup pendidikan itu sendiri.

Jadi inovasi pendidikan ialah suatu   ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang
baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi atau diskaveri, yang
digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan sehingga
efisiensi, relevansi, berkualitas dan efektivitas.
Dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Ciri-ciri inovasi pendidikan dapat dikenal dengan beberapa identifikasi, menurut ashby 1967 (dalam
anneahira, 2011) ada empat hal ciri-ciri inovasi pendidikan, yaitu:

o Ketika masyarakat/orang tua mulai sibuk dengan peran keluar sehingga tugas pendidikan anak
sebagian digeser dari orang tua pindah ke guru atau dari rumah ke sekolah.
o Terjadi adopsi kata yang ditulis ke instruksi lisan
o Adanya penemuan alat untuk keperluan percetakan yang mengakibatkan ketersediaan buku lebih
luas.
o Adanya alat elektronika yang bermacam-macam radio, telepon, TV, computer, LCD proyektor,
perekan internet, LAN, dsb ).
3.   Pentingnya inovasi dalam pendidikan

Setiap orang atau individu dalam pendidikan hendaknya berperan melakukan inovasi dalam pendidikan
karena prestasi pendidikan tergantung dari prestasi individu dalam pendidikan. Prestasi individu dalam
pendidikan merupakan bagian dari prestasi pendidikan yang pada gilirannya merupakan prestasi organisasi
pendidikan. Karena itu semua unsur di dalam dunia pendidikan, baik guru maupun yang terlibat dalam
proses pendidikan harus mempunyai niat dan perhatian serta konsistensi yang terintegrasi dan
berkesinambungan. Semua pihak yang berperan serta dalam proses inovasi pendidikan harus  mengetahui
tujuan, sasarannya dan perencanaan maupun strategi yang dipergunakan, sehingga hasilnya dapat
memenuhi harapan dalam pendidikan.

Saat ini adalah era globalisasi dan revolusi informasi, di mana telah mengakibatkan terjadinya persaingan
secara bebas dalam berbagai hal, tidak lagi mengenal batas-batas negara dan teritori. Semuanya bersaing
dan berlomba-lomba meraih kesempatan dalam sistem mekanisme pasar global. Apabila dunia pendidikan
di Indonesia tidak menghasilkan pendidikan yang berkwalitas maka akan kalah di pasaran dan akan
tergerus jaman yang semakin canggih dan inovatif. Inilah tantangan bagi dunia pendidikan pendidikan.
Bagaimana mengantisipasi perubahan tersebut? langkah-langkah apa yang perlu dilakukan sehingga
penyelenggara pendidikan di Indonesia ini mampu menempatkan kualitas sumber daya manusia kita pada
level yang patut diperhitungkan di kancah global? Hal ini merupakan tugas yang tidak ringan, terutama
bagi penyelenggara kegiatan pendidikan. Di sini dibutuhkan manajemen pendidikan yang baik (well
manage) dan strategi pelaksanaan inovasi agar organisasi pendidikan mampu menghasilkan SDM yang
berkualitas.

Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau
inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut, antara lain dalam hal
manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi 
kurikulum, dsb.
Tahap demi tahap arah pentingnya inovasi pendidikan Indonesia antara lain:

o Mengejar ketinggalan-ketinggala yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi


sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajara dengan kemjuan tersebut
o Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga
Negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.
Inovasi pendidikan sangat penting untuk dilakukan sebagaimana diungkapkan antara lain oleh Johnson dan
Jacobson (dalam sisten inovasi, 2009), karna mempunyai fungsi utama  sebagai berikut :

o Menciptakan pengetahuan baru.


o Memandu arah proses pencarian penyedia dan pengguna teknologi, yaitu mempengaruhi arah agar
para pelaku mengelola dan memanfaatkan sumber dayanya.
o Memasok/menyediakan sumber daya, yaitu modal, kompetensi dan sumber daya lainnya.
o Memfasilitasi penciptaan ekonomi eksternal yang positif (dalam bentuk pertukaran informasi,
pengetahuan dan visi).
o Memfasilitasi formasi pasar.
1. Strategi Pendidikan
Dalam melakukan strategi inovasi, Kennedy (1991: 163) (dalam didaktika, 2010) mengemukakan bahwa,
“terdapat tiga jenis strategi inovasi, yaitu: power coercive (strategi pemaksaan), rational empirical (empirik
rasional), dan normative re-educative (pendidikan yang berulang secara normatif)”.
a. Strategi pemaksaaan berdasarkan kekuasaan.

Pola ini dapat dikatakan sebagai suatu pola inovasi yang lebih bersifat top down. Strategi ini seperti
komando karena cenderung bersifat perintah dan memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa
menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya, di mana inovasi itu akan dilaksanakan.
Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya dalam menerapkan ide-ide baru dan
perubahan sesuai dengan kehendak dan pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang
justru sebagai objek utama dari inovasi itu sendiri malahan tidak dilibatkan sama sekali, baik dalam proses
perencanaan maupun pelaksanaannya. Para inovator hanya menganggap pelaksana sebagai objek semata
dan bukan sebagai subjek, sehingga tidak harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses
perencanaan dan pengimplementasiannya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan
dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk
kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya. Contohnya
adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Seperti penerapan kurikulum,
kebijakan desentralisasi pendidikan dan lain-lain.

1. Empirik rasional.
Dalam strategi ini dikenal adanya asumsi dasar bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya
atau akalnya sehingga manusia mampu untuk bertindak secara rasional. Dalam strategi ini inovator
bertugas mendemonstrasikan inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik dan valid untuk
memberikan manfaat bagi penggunanya.  Guru dapat menciptakan strategi atau metode mengajar yang
menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berdasarkan pemikiran, idea, berkaitan dengan situasi dan
kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut.

1. Normatif reedukatif (pendidikan yang berulang)


Adalah suatu strategi inovasi yang didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan yang menekankan
bagaimana klien memahami permasalahan pembaruan, seperti perubahan sikap, skill, dan nilai-nilai yang
berhubungan dengan manusia. Dalam pendidikan, bila sebuah strategi menekankan pada pemahaman
pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat dilakukan berulang kali. Misalnya dalam
pelaksanaan perbaikan sistem belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi berulang
kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan. Kecenderungan
pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik dibandingkan dengan
hasil dari perubahan itu sendiri.

Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau
inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut, antara lain: dalam hal
manajemen pendidikan, metode pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi
kurikulum, dan sebagainya.

Strategi memerlukan motivasi, pendapat Kusmana (2010: 33) bahwa motivasi yang dapat mendorong
lahirnya  inovasi pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Kemauan sekolah atau lembaga pendidikan terhadap tantangan kebutuhan masyarakat


2. Adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah 
yang dihadapi masyarakat
Motivasi dari pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan pendidikan akan mendorong tercapainya tujuan
inovasi pendidikan untuk menjawab tantagan era global. Manajemen pelaksanaan inovasi sendiri dari
sudut proses berhubungan dengan kegiatan perencanaan. Yang mana dalam perencanaan inovasi menuntut
untuk melakukan asesmen situasi dan mengidentifikasi tujuan dari inovasi itu sendiri. Keberhasilan inovasi
akan berjalan baik, jika didukung oleh perencanaan inovasi yang efektif.

1. Sasaran Program Pembaruan (Inovasi) dalam Bidang Pendidikan.


Sasaran yang dimaksud di sini adalah komponen-komponen apa saja dalam bidang pendidikan yang dapat
menciptakan inovasi. Pendidikan adalah suatu sistem maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang
berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau
lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas, misalnya sistem pendidikan nasional.
Berikut ini contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen pendidikan atau komponen sistem
sosial sesuai dengan yang dikemukakan oleh Miles (dalam file.upi.edu, 2011), dengan perubahan isi
disesuaikan dengan perkembangan pendidikan dewasa ini.
o Pembinaan personalia. Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial tentu menentukan
personal (orang) sebagai komponen sistem. Inovasi yang sesuai dengan komponen personel misalnya:
peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, aturan tata tertib siswa, dan sebagainya.
o Banyaknya personal dan wilayah kerja. Sistem sosial tentu menjelaskan tentang berapa jumlah
personalia yang terikat dalam sistem serta dimana wilayah kerjanya. Inovasi pendidikan yang relevan
dengan aspek ini misalnya: berapa ratio guru siswa pada satu sekolah dalam sistem PAMONG pernah
diperkenalkan ini dengan ratio 1 : 200 artinya satu guru dengan 200 siswa). Sekolah Dasar di Amerika satu
guru dengan 27 siswa, perubahan besar wilayah kepenilikan, dan sebagainya.
o Fasilitas fisik. Sistem sosial termasuk juga sistem pendidikan mendayagunakan berbagai sarana
dan hasil teknologi untuk mencapai tujuan. Inovasi pendidikan yang sesuai dengan komponen ini
misalnya: perubahan bentuk tempat duduk (satu anak satu kursi dan satu meja), perubahan pengaturan
dinding ruangan (dinding batas antar ruang dibuat yang mudah dibuka, sehingga pada diperlukan dua
ruangan dapat disatukan), perlengkapan perabot laboratorium bahasa, penggunaan CCTV (TVCT- Televisi
Stasiun Terbatas), dan sebagainya.
o Penggunaan waktu. Suatu sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan penggunaan waktu.
Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya: pengaturan waktu belajar (semester, catur wulan,
pembuatan jadwal pelajaran yang dapat memberi kesempatan mahasiswa untuk memilih waktu sesuai
dengan keperluannya, dan sebagainya.
o Perumusan tujuan. Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang jelas. Inovasi yang
relevan dengan komponen ini, misalnya: perubahan tujuan tiap jenis sekolah (rumusan tujuan TK, SD
disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan tantangan kehidupan), perubahan rumusan tujuan
pendidikan nasional dan sebagainya.
o Prosedur. Sistem pendidikan tentu mempunyai prosedur untuk mencapai tujuan. Inovasi
pendidikan yang relevan dengan komponen ini misalnya: penggunaan kurikulum baru, cara membuat
persiapan mengajar, pengajaran individual, pengajaran kelompok, dan sebagainya.
o Peran yang diperlukan. Dalam sistem sosial termasuk sistem pendidikan diperlukan kejelasan
peran yang diperlukan untuk melancarkan jalannya pencapaian tujuan inovasi yang relevan dengan
komponen ini, misalnya: peran guru sebagai pemakai media (maka diperlukan keterampilan menggunakan
berbagai macam media), peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai anggota team
teaching, dan sebagainya.
o Wawasan dan perasaan. Dalam interaksi sosial biasanya berkembang suatu wawasan dan
perasaan tertentu yang akan menunjang kelancaran pelaksanaan  17 tugas. Kesamaan wawasan dan
perasaan dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan akan
mempercepat tercapainnya tujuan. Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya: wawasan pendidikan
seumur hidup, wawasan pendekatan keterampilan, proses, perasaan cinta pada pekerjaan guru, kesediaan
berkorban, kesabaran sangat diperlukan untuk menunjang pelaksanaan kurikulum SD yang
disempurnakan, dan sebagainya.
o Bentuk hubungan antar bagian (mekanisme kerja). Dalam sistem pendidikan perlu ada kejelasan
hubungan antara bagian atau mekanisme kerja antara bagian dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai
tujuan. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya: diadakan perubahan pembagian tugas antara
seksi di kantor departemen pendidikan dan mekanisme kerja antar seksi, di perguruan tinggi diadakan
perubahan hubungan kerja antara jurusan, fakultas, dan biro registrasi tentang pengadministrasian nilai
mahasiswa, dan sebagainya.
o Hubungan dengan sistem yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam beberapa hal
harus berhubungan atau bekerja sama dengan sistem yang lain. Inovasi yang relevan dengan bidang ini
misalnya: dalam pelaksanaan usaha kesehatan sekolah bekerjasama atau berhubungan dengan Departemen
Kesehatan, data pelaksanaan KKN harus kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat, dan sebagainya.
o Strategi. Yang dimaksud dengan strategi dalam hal ini ialah tahap-tahap kegiatan yang
dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan.
Adapun macam dan pola strategi yang digunakan sangat sukar untuk diklasifikasikan, tetapi secara
kronologis biasanya menggunakan pola urutan sebagai berikut:

ü   Desain. Ditemukannya suatu inovasi dengan perencanaan penyebarannya berdasarkan suatu penelitian
dan obeservasi atau hasil penilaian terhadap pelaksanaan sistem pendidikan yang sudah ada.
ü   Kesadaran dan perhatian. Suatu potensi yang sangat menunjang berhasilnya inovasi ialah adanya
kesadaran dan perhatian sasaran inovasi (baik individu maupun kelompok) akan perlunya inovasi.
Berdasarkan kesadaran itu mereka akan berusaha mencari informasi tentang inovasi.
REPORT THIS AD

ü   Evaluasi. Para sasaran inovasi mengadakan penilaian terhadap inovasi tentang kemampuannya untuk
mencapai tujuan, tentang kemungkinan dapat terlaksananya sesuai dengan kondisi situasi, pembiayaannya
dan sebagainya.
ü   Percobaan. Para sasaran inovasi mencoba menerapkan inovasi untuk membuktikan apakah memang
benar inovasi yang dinilai baik itu dapat diterapkan seperti yang diharapkan. Jika ternyata berhasil maka
inovasi akan diterima dan terlaksana dengan sempurna sesuai strategi inovasi yang telah direncanakan.
1. Inovasi  pendidikan dan paradigma dalam pembelajaran di Indonesia
Pembelajaran dengan inovasi pendidikan memerlukan dukungan/proaktif, dan sikap-sikap positif dari
pihak-pihak terkait, karna tanpa hal tersebut maka tujuan inovasi pendidikan akan menjedi tersendat. Era
globalisasi  yang harus di ikuti oleh negara Indonesia agar tidak tertinggal dari negara-nagara lainnya
mengharuskan inovasi pendidikan untuk mendorong kemajuan dan modernisasi  dalam bidang pendidikan.

Menurut Kusmana (2010:84) dalam rangka modernisasi di era global ini,  ditentukan oleh sumber daya
manusia yang memiliki karakteristik sebagai berikut.

1. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru


2. siap menghadapi perubahan sosial,
3. memiliki pandangan luas,
4. memiliki dorongan rasa ingin tau,
1. berorientasi pada masa sekarang dan masa yang akan datang,
2. berorientasi pada perencanaan,
3. mempercayai perhitungan secara manusiawi,
1. menghargai keterampilan teknik dan menggunakannya sebagai imbalan,
2. berwawasan pendidikan dan pekerjaan,
3. menyadari dan menghargai kemuliaan orang lain,
4. memahami perlunya produksi.
Penulis berpendapat bahwa karakteristik guru yang diperlukan untuk mendukung inovasi dalam
pendidikan di Indonesia adalah sebagaimana di sebutkan diatas, inovasi di  kemudian diarahkan  mengikuti
dan memenuhi tuntutan dunia global yang semakin berkembang pesat, dan terbuka terhadap hal-hal atau
ilmu yang baru secara positif.

Realisasi  inovasi pendidikan  yang sudah dilakukan di Indonesia, beberapa diantaranya adalah sebagai
berikut :

1. Inovasi Kurikulum. Melalui strategi  power coercive  atau model inovasi Top Down Inovation
Inovasi model.
Diawali tahun 1950 ada kurikulum SD “ Rencana Pelajaran Terurai”, tahun 1960 muncul “Kurikulum
Kewajiban Belajar Sekolah Dasar”, tahun 1968 dikenal “Kurikulum 1968”, pengganti kurikulum 1950.
Lalu tahun 1970 muncul “Kurikulum Berhitung”. Pada tahun 1975 “ Kurikulum 1975” yang berfokus pada
pelajaran Matematika dan Pendidikan Moral Pancasila serta Kewarganegaraan. Pada tahun 1984
menyempurnakan kurikulum 1975 dengan model “Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)”.
Dilanjutkan pada tahun 1991 dihentikan, kemudian muncul  “Kurikulum 1994”. Tahun 2004 dikenal
“Kurikulum Berbasis Kompetensi”  (KBK). Dan terakhir tahun 2006 muncul “Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan” (KTSP).

1. Strategi empirik rasional atau model  bottom up Inovation


Model inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk
meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan .Guru dapat menciptakan strategi atau  metode
mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berdasarkan pemikiran, idea, berkaitan dengan
situasi dan kondisi . Biasanya dilakukan oleh para guru di sekolah, bagaimana supaya kegiatan dalam
pembelajaran menjadi lebih menarik.

1. Pembelajaran Berbasis Otak


Jika ditinjau dari bidang neurosains, suatu pembelajaran diartikan sebagai merupakan respons terhadap
rangsangan sepanjang waktu  (Dennison dalam edukasi 2010). Otak manusia merupakan bagian tubuh
manusia yang paling kompleks dan merupakan satu-satunya organ yang senantiasa berkembang sehingga
ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang
menimbulkan rangsangan, otak itu akan berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun.
Banyaknya bukti yang sekarang muncul mengenai belajar dan perkembangan otak menghasilkan suatu
gerakan menuju praktik pendidikan yang mendukung pemahaman intuitif sebelumnya tentang belajar
melalui keterlibatan langsung dengan aktivitas. Beberapa riset sudah menunjukkan bahwa janin yang
masih berada dalam kandungan pun sudah belajar secara intens mengenai dunia di luar. Paradigma
pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan kecerdasan hendaknya mengacu pada perkembangan
otak manusia seutuhnya. Realitas pembelajaran dewasa ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar
lebih banyak mengacu pada target pencapaian kurikulum dibandingkan dengan menciptakan siswa yang
cerdas secara utuh. Sementara itu, kegiatan yang terjadi di dalam ruang belajar masih bersifat konvensional
yakni menempatkan guru pada posisi sentral (teacher centered) dan siswa sebagai objek pembelajaran.

Beberapa sekolah  sudah menerapkan sitem sekolah berbudaya lingkungan. Tidak hanya strategi
Pemberian rangsang terhadap dengan memberikan soal-soal untuk mengevaluasi materi pelajaran tetapi 
soal-soal yang diberikan dikemas seatraktif mungkin sehingga kemampuan berpikir siswa lebih otimal,
seperti melalui teka-teki, simulasi, permainan lingkungan dan sebagainya. Guru tidak hanya memanfaatkan
ruangan kelas untuk belajar siswa, tetapi juga tempat-tempat lainnya, seperti di taman, di lapangan bahkan
diluar kampus. Guru menghindarkan situasi pembelajaran yang dapat membuat siswa merasa tidak
nyaman, mudah bosan atau tidak senang terlibat di dalamnya. Strategi pembelajaran yang digunakan lebih
menekankan pada diskusi kelompok yang diselingi permainan menarik serta variasi lain yang kiranya
dapat menciptakan suasana yang menggairahkan siswa dalam belajar. Selain itu, guru   juga
mengupayakan dengan membuat suasana pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran
yang aktif dan bermakna hanya dapat dilakukan apabila siswa secara fisik maupun psikis dapat beraktivitas
secara optimal. Strategi pembelajaran dikemas sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara aktraktif dan
interaktif, melalui model pembelajaran yang bersifat demonstrasi.

1. Melakukan inovasi pendidikan akhlak berbasis manajemen qolbu


Inovasi ini banyak dilakukan oleh lembaga pesantren/ lembaga keagamaan. Di dalam Qolbu terhimpun
perasaan moral, mengalami dan menghayati tentang salah-benar, baik buruk serta berbagai keputusan yang
harus dipertanggung jawabkannya secara sadar, sehingga kualitas Qalbu akan menentukan apakah dirinya
bisa tampil sebagai subjek, bahkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, ataukah terpuruk dalam
kebinatangan yang hina. Untuk itu perlu upaya untuk membersihkan dan memberikan pencerahan Qolbu,
yaitu dengan cara penyucian jiwa (Tazkiyah An Nafs) yang berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji,
sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela. Dengan kata lain diri dibersihkan dari kotoran dan
kerusakannya diubah menjadi An Nafs Al Lawwamah (jiwa yang mencela) dan akhirnya menjadi An Nafs
Al Muthma’innah. Selanjutnya adalah dengan cara menghapus kecintaan terhadap dunia serta
menghilangkan segenap kesedihan, kedukaan dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang tidak berguna
yaitu dengan cara senantiasa dan terus menerus mengingat Allah (Dzikrullah).

1. PAKEM
PAKEM  adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan.Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan
suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya,
bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika
pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran
tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka
pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan
orang lain.Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang
menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah
perhatiannya tinggi.  Menurut hasil penelitian, tingginya waktu  curah terbukti meningkatkan hasil belajar.
Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak
menghasilkan apa yang harus  dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab
pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif
dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
1. Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL)  merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih
bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebihdipentingkan
daripada hasilDalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.Maksudnya,
guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.Tugas guru mengelola kelas
sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukansesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas
yang dikelola dengan pendekatan kontekstual
1. Cooperative learning Model
Pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung
pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem
kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang  termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok
(Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan  positif, tanggung jawab individual, interaksi
personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative
Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius  yang menekankan
bahwa manusia adalah makhluk sosial.Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam
struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.Pembelajaran
kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran
kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus
saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran
kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan
pelajaran.

1. Active learning Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan


penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil
belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu
pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar
tetap tertuju pada proses pembelajaran.
2. Kendala-kendala Dalam Inovasi Pendidikan
1. a.         Kondisi Umum.
Dalam hal ini perlu langkah perbaikan dalam peraturan perundangan, infrastruktur (fasilitas) dan sarana
pendidikan (formal, non formal, informal) serta tenaga pendidik yang mendukung ketersediaan,
aksesibilitas dan “afordabilitas” bagi seluruh masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas di seluruh
wilayah Indonesia

1. b.         Kelembagaan dan Daya Dukung pelaksana inovasi pendidikan


o Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan seperti inovasi
kurikulum antara lain adalah (1) perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi (2). konflik dan motivasi yang
kurang sehat  (3). lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga
mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan (4). keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi
(5). penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi (6) kurang adanya hubungan sosial dan publikasi
(Subandiyah dalam pakguruonline, 2012). Untuk menghindari masalah-masalah tersebut di atas, dan agar
mau berubah terutama sikap dan perilaku terhadap perubahan pendidikan yang sedang dan akan
dikembangkan, sehinga perubahan dan pembaharuan itu diharapkan dapat berhasil dengan baik, maka
guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya harus dilibatkan.
1. Penolakan dalam Inovasi Pendidikan
Setelah memperhatikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan suatu inovasi pendidikan, misalnya
penolakan para guru tentang adanya perubahan kurikulum dan metode belajar-mengajar, maka perlu
kiranya masalah tersebut dibahas. Namun sebelumnya, pengertian tentang resisten itu perlu dijelaskan
lebih dahulu. Menurut definisi dalam “Cambridge International English Dictionary of English” bahwa
Resistance is to fight against (something or someone) to not be changed by or refuse to accept (something).
Berdasarkan definisi tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penolakan (resistance) itu
adalah melawan sesuatu atau seseorang untuk tidak berubah atau diubah atau tidak mau menerima hal
tersebut.
Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di
lapangan atau di sekolah sebagai berikut:

o Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan
inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggapoleh guru. atau sekolah bukan miliknya,
dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan
atau kondisi sekolah mereka.
o Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang,karena sistem
atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dantidak ingin diubah. Disamping itu
sistem yang mereka miliki dianggap oleh merekamemberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik
sesuai dengan pikiran mereka.
o Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnyaDepdiknas) belum
sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa.
o Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan   k ecenderungan
sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa
terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finasial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan
demikian pihak sekolah atau guruhanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para
inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
o Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru
melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah
mereka.
1. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi pendidikan
Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas, faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan
dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan.

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh
dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses
belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada
tujuan yang hendak di capai. Beberapa penekanan perubahan pikiran yang diperlukan adalah:

o Dari peran guru sebagai transmiter ke fasilitator, pembimbing dan konsultan,


o dari peran guru sebagai sumber pengetahuan menjadi kawan belajar,
o dari belajar diarahkan oleh kurikulum menjadi diarahkan oleh siswa sendiri,
o dari belajar dijadwal secara ketat menjadi terbuka, fleksibel sesuai keperluan,
o dari belajar berdasarkan fakta menuju berbasis masalah dan proyek,
o dari belajar berbasis teori menuju dunia dan tindakan nyata serta refleksi,
o dari kebiasaan pengulangan dan latihan menuju perancangan dan penyelidikan,
o dari taat aturan dan prosedur menjadi penemuan dan penciptaan,
o dari kompetitif menuju kolaboratif,
o dari fokus kelas menuju fokus masyarakat,
o dari hasil yang ditentukan sebelumnya menuju hasil yang terbuka,
o dari belajar mengikuti norma menjadi keanekaragaman yang kreatif
o dari penggunaan komputer sebagai obyek belajar menuju penggunaan komputer sebagai alat
belajar,
o dari presentasi media statis menuju interaksi multimedia yang dinamis,
o dari komunikasi sebatas ruang kelas menuju komunikasi yang tidak terbatas,
o dari penilaian hasil belajar secara normatif menuju pengukuran unjuk kerja yang komprehensif.
Dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai
dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilansuatu inovasi
pendidikan. Dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru
mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagai
motivator dan lain sebagainya. Siswa Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses
belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa
dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman,
kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila
siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan.

Siswa sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang
peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar
melalui penggunaan  intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan
komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga
dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan
dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka
lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa
dalam inovasipendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur- unsur lainnya, karena siswa bisa
sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan
sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya,
siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi
tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.

Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan
perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena
itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan
dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum
memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan
tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan
sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu
hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan
pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

Fasilitas termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan
khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan
hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka
pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama
fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam
mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu
inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan
sebagainya.

Lingkup Sosial Masyarakat. Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung
terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam
pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja
maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya
mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa
melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila
mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya
akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan. Kata Kunci :
inovasi, perubahan, penolakan, kurikulum, siswa, guru, fasilitas, inovator, pelaksana, masyarakat, sekolah,
keterlibatan, top-down-bottom-up, sosial, program, pendidikan

6.   Kesimpulan

Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetapi juga di segala bidang
termasuk bidang pendidikan. Pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga
dalam setiap komponen system pendidikan. Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat
menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga
dapat diperoleh hasil yang maksimal. Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada
outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun
sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak
melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan
yang ada.Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus
melibatakan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti guru
dan siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu atau dua faktor
saja, tapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas.