Anda di halaman 1dari 12

PEMAJAKAN WAJIB PAJAK LUAR NEGERI

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri dari Indonesia,
Undang-undang PPh menganut dua system pengenaan pajak berikut:
1.      Pemenuhan sendiri (self assessment system) kewajiban perpajakannya bagi Wajib Pajak
Luar Negeri yang menjalankan usaha/melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia
2.      Pemotongan (withholding system) oleh pihak yang wajib membayar bagi Wajib Pajak Luar
Negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia
Pada bagian ini dibahas mengenai pemajakan Wajib Pajak Luar Negeri yang menerima
atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.
Ketentuan yang mengatur mengenai pemotongan atas penghasilan yang bersumber di
Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri selain bentuk usaha tetap
diatur di Pasal 26 ayat 26 ayat (1) Undang-undang PPh.
a.         PPh atas Dividen, Bunga, Royalti dan Penghasilan Lainnya
Atas penghasilan berupa berikut ini:
a.    Dividen
b.    Binga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang.
c.    Royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
d.   Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan
e.    Hadiah dan penghargaan
f.     Pensiun dan pembayaran berkala lainnya
g.    Premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya
h.    Keuntungan karena pembebasan utang
Dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan,
atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, sibjek pajak dalam
negeri, pengeyelnggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar
negeri lainnya kepada wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia
dipotong pajak PPh Pasal 26 sebesar 20% dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib
membayarkan.
Dengan demikian, misalnya suatu badan subjek pajak dalam negeri membayarkan
royalty sebesar Rp 100.000.000 kepada wajib pajak luar negeri, maka subjek pajak dalam
negeri tersebut berkewajiban untuk memotong  pajak penghasilan sebesar 20% dari Rp
100.000.000 = Rp 20.000.000
Sebagai contoh lain, seorang atlet dari luar negeri yang ikut mengambil bagian dalam
perlombaan lari marathon di Indonesia, dan kemudian merebut hadiah uang Rp
200.000.000, maka atas hadiah tersebut dikenai pemotongan pajak penghasilan sebesar
20% dari Rp 200.000.0000 = Rp 40.000.000. Pemotongan pajak penghasilan oleh pemotngan
pajak, dilakukan pada akhir bulan
a.       Dibayarkan penghasilan
b.      Disediakan untuk dibayarkannya penghasilan atau
c.       Jatuhtemponya pembayarannya penghasilan yang bersangkutan, tergantung peristiwa
yang terjadi terlebih dahulu
Dengan demikian, maka saat terutangnya pajak penghasilan ada;ah pada saat
pembayarannya, saat disediakan untuk dibayarkan (seperti: dividen) dan jatuh tempo
(sepertiL budan dan sewa), saat yang ditentukan dalam kontrak atau perjanjian atau
faktur (seperti: royalti, imbalan jasa teknik atau jasa manajemen atau jasa lainnya)
Yang dimaksud dengan “saat disediakan untuk dibayarkan” adalah seperti:
a.       Untuk perushaan yang tidak go public, adalah saat dibukukan sebagai utang dividen yang
akan dibayarkan, yaitu pada saat pembagian dividen diumumkan atau ditentukan dalam
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Demikian pula apabila perusahaan yang
bersangkutan dalam tahun berjalan membagikan dividen sementara (dividen interim),
maka PPh Pasal 26 terutang pada saat diumumkan atau ditentukan dalam rapat direksi
atau pemegang saham sesuai dengan anggaran dasar perseroan yang bersangkutan.
b.      Untuk perusahaan yang go public adalah pada tanggal penuntan kepemilikan pemegang
saham yang berhak  atas dividen (recording date). Dengan kata lain, pemotongan PPh
Pasal 26 atas dividen baru da[at dilakukan setelah para pemegang saham yang berhak
“menerima atau memperoleh” dividen tersebut diketahui, meskipun dividen tersebut
belum diterima secara tunai.
Yang dimaksud dengan “saat jatuh tempo pembayaran” adalah saat kewajiban untuk
melakukan pembayaran yang didasarkan atas kesepakatan, baik yang tertulis maupun
tidak tertulis dalam kontrak atau perjanjian atas faktur.
Sebagai catatan, dalam hal wajib pajak luar negeri tersebut berdomisili di negara mitra
P3B (treaty partner) maka pengenaan pajak dan termasuk tariff pajaknya tunduk pada
ketentuan P3B. Berdasarkan Pasal 26 ayat (1a) diatur bahwa negara domisili dari wajib
pajak luar negeri tesebut adalah negara tempat tinggal atau tempat kedudukan wajib
pajak luar negeri yang sebenarnya menerima mandaat dari penghasilan tesebut (beneficial
owner)
b.        PPh atas Premi Asuransi
Berdasarkan Pasal 26 ayat (2) atas penghasilan dari premi asuransi yag dibayarkan
kepada perusahaan asuransi luar negeri dipotong pajak 20% dari perkiraan penghasilan
neto. Besarnya perkiraan penghasilan neto adalah sebagai berikut:
a.       Atas premi dibayar tertanggung maupun kepada perusahaan asuransi di luar negeri, baik
secara langsung maupun melalui pialang, sebesar 50% dan jumlah premi yang dibayar.
b.      Atas premi yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada
perusahaan asuransi di luar negeri, bai secara langsung maupun melalui pialang, senbersar
10% dari jumlah premi yaitu dibayar.
c.       Atas premi yang dibayar oleh perusahaan re-asuransi yang berkedudukan di Indonesia
kepada perusahaan asuransi di luar negeri, baik secara lansgung maupun melalui pialang,
sebesar 5% dari jumlah premi yang dibayar.
Dengan demikian, besarnya perkiraan penghasilan neto perusahaan asuransi luar negeri
serta tariff efektif PPh Pasal 26 adalah sebagai berikut:

Perkiraan Penghasilan Tarif Efektif PPh Pasal


N Pembayaran Premi di
Neto dari Jumlah 26 dari Jumlah Premi
o Indonesia
Premi yang Dibayar yang Dibayar

1 Tertanggung 50% 10%


2 Perusahaan Asuransi 10% 2%
3 Perusahaan Reasuransi 5% 1%

Pembayaran premi asuransi atau premi re asuransi dapat dilakukan oleh pembayar
premi di Indonesia secara langsung kepada perusahaan asuransi di luar negeri atau melalui
pialang. Pihak pembayar premi atau pemotong pajak re asuransi yang dibayarkan kepada
perusahaan asuransi atau perusahaan pembayar premi atau pemotong PPh Pasal 26 adalah:
a.    Tertanggung, yaitu pemegang polis yang membayar premi asuransi kepada perusahaan
asuransi di luar negeri, atau
b.    Perusahaan asuransi di Indoensia yang mereasuransikan sebagian atau seluruh
tanggungannya kepada perusahaan asuransi di luar negeri, atau
c.    Perusahaan re asuransi di Indonesia yang mengasuransikan kembali sebagian atau seluruh
tanggungannya kepada perusahaan asuransi di luar negeri.
Pada saat melakukan pemotongan PPh Pasal 26, pihak membayar premi tersebut wajib
membuat Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 dalam rangkap 3, yaitu: lembar
pertama diberikan kepada perusahaan asurans di luar negeri, lembar kedua untuk
dikirimkan kepada kantor pelayanan pajak setempat, lembar ketiga untuk arsip
pemotongan pajak.
Pemotongan pajak tersebut wajib menyetorkan PPh Pasal 26 setiap bulan kepada bank
presepsi atau kantor pos dan giro selambat-lambatnya tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim
berikutnya setelah bulan saat terutang pajak.
Pemotong pajak wajib melaporkan pemotongan serta penyetoran PPh Pasal 26 yang
telah dilakukan selambat-lambatnya tanggal 20 (dua puluh) bulan takwim berikutnya
setelah bulan saat terutangnya pajak dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT)
Masa PPh Pasal 26 dengan melampirkan:
a.       Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal 26
b.      Lembar kedua Bukti Pemotongan PPh Pasal 26
c.       Lembar ketiga Surat Setoran Pajak (SSP)
c.         PPh atas Penjualan Harta
Berdasarkan Pasal 26 ayat (2) atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di
Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh wajib
pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indoensia dipotong pajak 20% dari perkiraan
penghasilan neto. Lebih lanjut dalam pengenaan PPh tersebut bersifat final. Terhadap
wajib pajak luar negeri yang berkedudukan di negara-negara yang telah mempunyai
Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Indonesia, pemotongan pajak
hanya dilakukan apabila berdasarkan P3B yang berlaku, hak pemajakannya ada pada  pihak
Indonesia.
Besarnya perkiraan penghasilan neto adalah 25% dari harga jual, sehingga tariff
efektifnya sebesar 5% dari harga jual. Penjualan atas pengalihan harta tersebut adalah
penjualan atau pengalihan harta berupa penghiasan mewah, berlian, emas, intan, jam
tangan mewah, barang antic, lukisan, mobil, motor, kapal pesiar, dan/atau pesawat
terbang ringan.
Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indoensia yang diterima atau
diperoleh wajib pajak luar negeri dipotong pajak penghasilan Pasal 26 oleh pembeli yang
ditunjuk sebagai pemotong pajak dan kepada penghasilan Pasal 26. Bagi wajib pajak orang
pribadi luar negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan dari penjualan atau
pengalihan harta yang besarnya tidak melebihi Rp 10.000.000 untuk setiap jenis transaksi,
dikecualikan dari pemotongan pajak penghasilan Pasal  26. Pembeli yang ditunjuk sebagai
pemotong pajak adalah badan pemerintah subjek pajak badan dalam negeri, penyelengara
kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya dan orang
pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk sebagai pemotong pajak. Orang
pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk sebagai pemotong pajak adalah:
a.    Pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notari penilai, dan aktuaris, yang
melakukan pekerjaan bebas
b.    Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan.
Kepada kantor pelayanan pajak tempat orang pribadi wajib pajak dalam negeri
terdaftar menerbitkan Surat Keputusan Penunjukan Orang Pribadi Wajib Pajak Dalam
Begeri sebagai Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 26. Pemotong pajak penghasilan Pasal 26
wajib:
a.    Memotong pajak penghasilan pasal 26 yang terbutang pada saat dilakukan pembayaran
atau saat terutangnya penghasilan, tergantung peristiwa mana yang terjadi lebih dahulu,
dan
b.    Menyetorkan pajak penghasilan Pasal 26 dengan menggunakan nama wajib pajak luar
negeri yang menjual atau mengalihkan harta paling lama tanggal 10 bulan berikutnya
setelah bulan terjadinya transaksi ke kas negara melalui kantor pos atau bank yang
ditunjuk oleh Mentri Keuangan.
Dalam hal tanggal jatuh tempo penyetoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertepatan dengan hari libur, termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, maka satt
penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Penyetoran pajak penghasilan
dilakukan dengan menggunakan surat setoran pajak atau sarana administrasi lain yang
disamakan dengan surat setoran pajak. Pemotong pajak penghasilan Pasal 26 memberikan
tanda bukti pemotongan kepada wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap (BUT)
yang dipotong pajak pengjasilan setiap melakukan pemotongan.
Pemotongan pajak penghasilan Pasal 26 wajib melaporkan pajak penghasilan Pasal 26
yang dipotong dengan surat pemberitahuan masa kepada kantor pelayanan pajak tempat
wajib pajak terdaftar palig lama tanggal 20 bulan berikutnya. Dalam hal tanggal jatuh
tempo pelaporan bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur
nasional, maka satt penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
d.        PPh atas Penjualan Saham
Atas pengasilan dari penjualan saham Perseroan yang diperoleh wajib pajak luar negeri
(WP LN) selain bentuk usaha tetap (BUT) dipotong PPh Pasal 26 sebesar 20% dari perkiraan
penghasilan neto. Besarnya perkiraan penghasilan neto sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) adalah 25% dari harga jual, sehingga besarnya PPh Pasal 26 adalah 20% x 25% atau 5%
dari harga jual. Pembayaran PPh tersebut bersifat final.
Penghasilan dari penjualan saham di dalam negeri yang diperoleh atau diterima WP LN
dipotong pajak oleh pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong pajak dan kepadanya
diberikan bukti pemotongan PPh Pasal 26. Perseroan hanya mencatat akta pemindahan ha
katas saham yang dijual apabila kepadanya dibuktikan oleh WP LN bahwa PPh Pasal 26
yang terutang telah dibayar lunas dengan menyerahkan fotokopi bukti pemotongan PPh
Pasal 26 dengan menunjukkan aslinya. Dalam hal pembelinya adalah WP LN, maka yang
ditunjuk sebagai pemungut pajak adalah perseoran.
Pemotongan pajak wajib memotong dan menyetorkan PPh Pasal 26 yang terutang
selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwin berikutnya setelah bulan saat terutangnya
pajak di bank persepsi atau kantor pos, dan melaporkannya kepada Dirjen Pajak selambat-
lambatnya 20 hari setelah masa pajak berakhir. Pelaksanaan pemungutan dan penyetoran
pajak dilakukan oleh perseroan dengan menggunakan nama WP LN pemegang saham
selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwim beriktunya setelah bulan saat terutangnya
pajak di bank persepsi atau kantor pos, dan melaporkannya kepada Direktur Jendral Pajak
selambat-lambatnya 20 hari setelah masa pajak berakhir.

II.            PEMAJAKAN ORANG ASING/EKSPATRIAT


Orang asing / ekspatriat adalah orang yang berkewarganegaraan asing yang tinggal di
Indonesia. Ketentuan perpajakan di Indonesia mendasarkan pengenaan pajak lebih kepada
faktor domisili, keberadaan, dan niat berada di Indonesia. Dengan demikian, ekspatriat
dari sudut pandang kepentingan pemajakan bisa berstatus sebagai wajib pajak dalam
negeri Indonesia, maupun sebagai wajib pajak luar negeri Indonesia.
a.         Orang Asing dengan Status Subjek Pajak Luar Negeri
Ekspatriat dianggap sebagai subjek pajak luar negeri jika tidak bertempat tinggal di
Indonesia, berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan.
Ekspatriat sebagai subjek pajak luar negeri sekaligus menjadi wajib pajak karena
menerima dan / atau memperoleh peghasilan yang bersumber dari Indonesia.
Pasal 26 UU PPh mengenai mekanisme pemenuhan kewajiban perpajakannya melalui
pemotongan yang dilakukan oleh pemotong pajak, yaitu pihak yang melakukan
pembayaran atas penghasilan tersebut. Pajak penghasilan yang dipotong sebesar 20% dari
jumlah bruto. Dalam hal karyawan tersebut memiliki SKD dari negara mitra P3B maka
dikenakan tarif sesuai P3B. Objek pemotongan PPh Pasal 26 berupa dividen, bunga
termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian
utang, royalty, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, imbalan
sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan, hadiah dan penghargaan, pensiun dan
pembayaran berkala lainnya, premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya, dan
keuntungan karena pembebasan utang.
Pajak yang dipotong tersebut bersifat final. Ekspatriat dengan status wajib pajak luar
negeri tidak punya kewajiban memiliki NPWP dan tidak punya kewajiban melaporkan SPT.
b.        Orang Asing dengan Status Subjek Pajak Dalam Negeri
Ekspatriat dianggap sebagai subjek pajak dalam negeri apabila bertempat tinggal di
Indonesia, berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau
dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal
di Indonesia.
Subjek pajak orang pribadi dalam negeri menjadi wajib pajak apabila telah menerima
atau memperoleh penghasilan yang besarnya melebihi PTKP sebagai berikut :
a.       Rp 36.000.000 untuk wajib pajak orang pribadi.
b.      Rp 36.000.000 untuk wajib pajak, kawin.
c.       Rp 3.000.000 untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) UU PPh.
d.      Rp 3.000.000 ttambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda
dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya,
paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga.
Sehubungan dengan pemilikan NPWP wajib pajak orang pribadi yang menerima
peghasilan di atas PTKP wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP. Kewajiban
untuk memiliki NPWP ini berlaku sama untuk ekspatriat yang berstatus sebagai subjek
pajak dalam negeri.
Penghasilan yang menjadi objek pajak tunduk pada ketentuan pasal 4 UU PPh, yaitu
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik
yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi
atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apa pun.
UU PPh menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian yang luas,
yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima
atau diperoleh wajib pajak dari manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi
atau menambah kekayaan wajib pajak tersebut. Tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh wajib pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan
wajib pajak tersebut untuk ikut bersama – sama memikul biaya yang diperlukan
pemerintah Indonesia untuk kegiatan rutin dan pembangunan.
Penghasilan dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis wajib pajak
orang pribadi dalam negeri dikelompokkan menjadi :

·         Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja.

·         Penghasilan dari pekerjaan bebas.

·         Penghasilan dari usaha dan kegiatan.

·         Penghasilan dari modal.


·         Penghasilan lain – lain.
Sebagai wajib pajak dalam negeri, penghasilan yang dikenakan PPh akan menganut
prinsip world wide income, yaitu penghasilan baik dari dalam dan luar negeri dengan
nama dan dalam bentuk apa pun akan dikenakan pajak dan dilaporkan di Indonesia.
1.      Penghasilan dan Pekerjaan Dalam Hubungan Kerja (Karyawan)
Apabila seorang ekspatriat bekerja sebagai karyawan di Indonesia dengan status subjek
pajak dalam negeri maka atas pembayaran berupa gaji tunjangan honorarium dilakukan
pemotongan pajak oleh pemberi kerja atau pihak yang membayarkan berdasarkan
ketentuan Pasal 21 UU PPh.
Ekspatriat sebagai pegawai tetap yang kewajiban pajak subjektifnya baru dimulai
setelah bulan Januari atau berakhirnya sebelum bulan Desember (mulai bekerja tidak pada
awal tahun pajak, atau berhenti bekerja sebelum akhir tahun pajak), PPh Pasal 21
terutang dihitung berdasarkan jumlah seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh,
baik yang bersifat teratur maupun tidak teratur, yang disetahunkan.
Untuk mencegah penghindaran pajak atas menetapkan standar gaji karyawan asing.
Yang dimaksud dengan standar gaji karyawan asing adalah besaran penghasilan bruto 1
bulan sehubungan dengan pekerjaan berupa gaji dan imbalan lain yang diterima atau
diperoleh karyawan asing yang bekerja dalam bidang – bidang di luar bidang pengeboran
minyak dan gas bumi. Pedoman standar gaji karyawan asing ini digunakan dalam hal
berikut :
a.       Terhadap petunjuk bahwa pembukuan wajib pajak tidak benar sehingga tidak dapat
dihitung besarnya pajak yang seharusnya terutang
b.      Diperoleh bukti yang menunjukkan bahwa terdapat pembayaran gaji karyawan asing yang
tidak seluruhnya dibukukan untuk pelunasan pajak penghasilan Pasal 21 atau Pasal 26 yang
terutang.
c.       Pemeriksaan tidak mendapatkan data yang digunakan untuk menentukan jumlah gaji
karyawan asing dalam rangka menetapkan jumlah Pajak Penghasilan Pasal 21 atau Pasal 26
yang terutang.
Penggunaan pedoman standar gaji karyawan asing tersebut harus memperhatikan hal
berikut :
a.       Kebangsaan dari karyawan asing yang bersangkutan.
b.      Jenis usaha dari perusahaan tempat karyawan asing memperoleh penghasilan (pemberi
kerja).
c.       Kedudukan atau jabatan karyawan asing dalam perusahaan tempat yang bersangkutan
bekerja.
2.      Penghasilan dari Usaha atas Pekerjaan Bebas
Untuk ekspatriat yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas penghitungan
penghasilannya bisa melalui dua pendekatan, yaitu dihitung dengan menggunakan norma
penghasilan neto atau dihitung dari pembukuan.
Norma penghasilan neto adalah suatu presentase tertentu yang sudah ditentukan oleh
Direktur  Jenderal Pajak yang digunakan untuk menentukan penghasilan neto dari wajib
pajak. Jadi, penghasilan neto dihitung dengan mengalikan penghasilan  bruto dengan
presentase norma penghasilan neto. Besarnya presentase norma telah ditentukan dalam
KEP-536/PJ./2000. Wajib Pajak yang boleh menggunakan norma perhitungan adalah wajib
pajak orang pribadi yang memenuhi syarat-syarat berikut.
a.       Peredaran bruto dalam 1 tahun tidak mencapai Rp. 4.800.000.000.
b.      Memberitahukan kepada Dirjen Pajak dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun
buku.
c.       Menyelenggarakan pencatatan.
Jika wajib pajak tersebut tidak menyampaikan pemberitahuan kepada Dirjen Pajak
seperti diatas, maka dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan. Dalam hal wajib
pajak menghitung penghasilan neto menggunakan pembukuan maka penghasilan neto
ditentukan dari data-data pembukuan, dengan terlebih dahulu memperhatikan ketentuan
perpajakan, misalnya perlakuan biaya yang dapat dikurangkan (pasal 6 UU PPh) dan biaya
yang tidak dapat dikurangkan (pasal 9 UU PPh).
Dalam pasal 6 UU PPh wajib pajak diperbolehkan mengurangkan biaya-biaya sebagai
berikut:
a.       Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha;
b.      Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat
lebih dari 1 tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A.
c.       Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
d.      Kerugian  karena penjualan atau penghasilan harta yang dimilki dan digunakan dalam
perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
e.       Kerugian selisih kurs mata uang asing.
f.       Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia.
g.      Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan.
h.      Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat tertentu.
i.        Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang
ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
j.        Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
k.      Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
dan
l.        Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintahan.
Bagi wajib pajak yang menyelenggarakan pembukuan, apabila penghasilan bruto
setelah pengurangan didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan
penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 tahun. Namun
ada beberapa pengeluaran/biaya yang menurut ketentuan pajak sesuai dengan pasal 9 UU
PPh tidak dapat dikurangkan, antara lain :
a.       Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau
orang yang menjadi tanggungannya
b.      Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna dan beasiswa, yang dibayar oleh
Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut
dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan;
c.       Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam
bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyelidikan makanan dan minuman bagi seluruh
pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah
tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
d.      Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan;
e.       Pajak Penghasilan;
f.       Pembentukan atau pemupukan dana cadangan
g.      Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda
yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.
Dalam perhitungsn penghasilan kena pajak kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak
dalam negeri juga diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 UU PPh. PPh terutang untuk orang pribadi dihitung
dengan mengalikan tarif pasal 17 terhadap penghasilan kena pajak. Adapun besarnya tarif
pasal 17 adalah sebagai berikut :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak


Sampai dengan Rp 50.000.000 5%
Diatas Rp 50.000.000 - Rp 250.000.000 15%
Diatas Rp 250.000.000 - Rp 500.000.000 25%
Diatas Rp 500.000.000 30%

3.      Penghasilan Lainnya
Beberapa jenis penghasilan lainnya sesuai dengan ketentuan UU PPh dilakukan
pemotongan atau pemungutan PPh oleh pihak ketiga atau dilakukan pelunasan oleh wajib
pajak sendiri, baik yang bersifat final maupu  tidak final.
Beberapa penghasilan yang dikenai PPh Final diantaranya adalah dividen, bunga tabungan
dan deposito, hadiah undian, penjuakan saham dibursa, pengalihan dan persewaan tanah
dan bangunan.
Terdapat beberapa jenis penghasilan menjadi objek pemotongan dan pemungutan PPh
Pasal 22. Terdapat beberapa penghasilan yang menjadi objek pemotongan dan
pemunguran PPh Pasal 23.
4.      Penghitungan PPh Kurang atau Lebih dibayar
Pada ahkir tahun pajak ekspatriat dengan status sebagai wajib pajak dalam negeri harus
menghitung PPh kurang bayar (PPh Pasal 29) atau lebih bayar dan menyampaikan SPT
Tahunan PPh Orang Pribadi. PPh kurang bayar ( PPh Pasal 29) atau lebih bayar dihitung
dengan menggunakan penghasilan kena pajak dengan kredit pajak baik yang dipotong
pihak lain maupun dibayar sendiri (PPh Pasal 25).
5.      Penentuan Kembali Besarnya Penghasilan yang Diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri dari Pemberi Kerja yang Memiliki Hubungan Istimewa dengan Perusahaa
Lain yang tidak Didirikam dan Tidak Bertempat Kedudukan di Indonesia
Pasal 18 ayat (3d) UU PPh mengatur bahwa besarnya penghasilan yang diperoleh wajib
pajak orang pribadi dalam negeri dari pemberi kerja yang memiliki hubungan istimewa
dengan perusahaan lain yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
dapat ditentukan kembali, dalam gak pemberi kerja mengalihkan seluruh atau sebagian
penghasilan wajib pajak orang pribadi dalam negeri tersebut ke dalam bentuk biaya atau
pengeluaran lainnya yang diabyarkan kepada perusahaan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia tersebut.
Sebagai peraturan pelaksana diterbitkan Permenkeu No 139/PMK.03/2010, yang pada
intinya mengatur seperti berikut :
a.       Besarnya penghasilan yang diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan
dengan pekerjaan, kegiatan, atau jasa dari pemberi kerja yang memiliki hubungan
istimewa dengan perusahaan di luar negeri dapat ditentukan kembali, dalam hal pemberi
kerja mengalihkan seluruh atau sebagian penghasilan wajib pajak orang pribadi dalam
negeri dimaksud dalam bentuk pembebanan biaya atau pembayaran pengeluaran lainnya
kepada perusahaan di luar negeri.
b.      Wajib pajak orang pribadi dalam negeri sebagaimana dimaksud pada poin 1 adalah
pegawai dari perusahaan di luar negeri yang memiliki hubungan istimewa dengan pemberi
kerja.
c.       Biaya atau pengeluaran lainnya yang dibebankan atau dibayarkan oleh pemberi kerja
kepada perusahaan luar negeri yang mempunyai hubungan istimewa, antara lain berupa
biaya atau pengeluaran sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, atau jasa
lainnya.
d.      Besarnya penghasilan wajib pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan
pekerjaan, kegiatan atau jasa tersebut ditentukan kembali dengan memperhatikan tingkat
penghasilan yang wajar yang seharusnya diperoleh oleh wajib pajak orang pribadi yang
bersangkutan.
Ketentuan ini adalah untuk mencegah praktik penghindaran pajak yang dilakukan pada
perusahaan-perusahaan asing yang mempekerjakan orang pribadi asal negaranya.

III.            PEMAJAKAN TENAGA KERJA INDONESIA (TKI) YANG BEKERJA DI LUAR NEGERI


a.    TKI Bekerja di Luar Negeri Lebih dari 183 Hari
Pekerja Indonesia di Luar Negeri yang bekerja di luar negeri lebih dari 183 hari dalam
jangka waktu 12 bulan merupakan subjek pajak luar negeri, sehingga atas penghasilan
yang diterima atau diperoleh pekerja Indonesia di luar negeri sehubungan dengan
pekerjaannya di luar negeri dan telah dikenai pajak di luar negeri, tidak dikenai pajak
penghasilan di Indonesia.38 Namun, dalam hal pekerja Indonesia di luar negeri tersebut
menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia maka atas penghasilan tersebut
dikenai pajak penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku.
Perlu diperhatikan orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia yang kemudian
pergi keluar negeri tetap dianggap bertempat tinggal di Indonesia, apabila keberadaannya
di luar negeri berpindah-pindah dan berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan. Orang pribadi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri dianggap
tidak bertempat tinggal di Indonesia apabila bertempat tinggal tetap di luar negeri yang
dibuktikan dengan salah satu dokumen tanda pengenal resmi yang masih berlaku sebagai
penduduk di luar negeri, yaitu:
a.    green card,
b.    identity card,
c.    student card,
d.   pengesahan alamat di luar negeri pada paspor oleh kantor perwakilan Republik Indonesia
diluar negeri,
e.    surat keterangan dari kedutaan besar Republik Indonesia atau kantor perwakilan Republik
Indonesia di luar negeri, atau
f.     tertulis resmi di paspor oleh kantor imigrasi negara setempat.
Untuk kepentingan administrasi perpajakan tenaga kerja Indonesia yang sebelumnya
sudah terdaftar sebagai wajib pajak orang pribadi di Indonesia dan memiliki NPWP dapat
dinyatakan sebagai wajib pajak non efektif. Wajib Pajak Non Efektif (WP NE) adalah wajib
pajak yang tidak melakukan pemenuhan kewajiban perpajakannya baik berupa
pembayaran maupun penyampaian Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) dan/atau Surat
Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan, yang nantinya dapat diaktifkan kembali.
Wajib pajak yang memenuhi kriteria tersebut mengajukan permohonan sebagai WP NE
ke KPP, dengan melampirkan fotokopi paspor dan kontrak kerja atau dokumen yang
menyatakan bahwa wajib pajak berada di luar negeri lebih dari 183 hari dalam dalam
jangka waktu 12 bulan. Permohonan perubahan status WP NE akan diselesaikan dalam
jangka waktu 10 hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap. Bagi wajib pajak
yang telah mendapatkan label “NE” tetap tercantum dalam master file wajib pajak
dengan ketentuan sebagai berikut:
a.    Tidak diterbitkan surat teguran sekalipun wajib pajak tidak menyampaikan SPT Masa atau
SPT Tahunan.
b.    Tidak turut diawasi pembayaran masa/bulanannya dan tidak diterbitkan STP atas sanksi
administrasi karena tidak menyampaikan SPT.
Apabila TKI suatu saat tidak lagi bekerja di luar negeri dan kembali ke Indonesia maka
dapat mengajukan permohonan untuk diaktifkan kembali dan berubah status menjadi
wajib pajak efektif.
b.   TKI Bekerja di Luar Negeri  tidak Lebih dari 183 Hari
Dalam hal tenaga kerja Indonesia bekerja di luar negeri kurang dari 183 hari, maka
statusnya masih sebagai wajib pajak dalam negeri. Kewajiban perpajakannya akan sama
dengan wajib pajak orang pribadi dalam negeri lainnya. Wajib pajak tersebut akan
dikenakan pajak menggunakan prinsip world wide income, yaitu dikenakan pajak di
Indonesia baik atas penghasilan yang diperoleh dari dalam negeri maupun di luar negeri.
Atas penghasilan yang dibayar, dipotong atau terutang di luar negeri sesuai dengan Pasal
24 UU PPh dapat dikreditkan di Indonesia.