Anda di halaman 1dari 14

MODUL 5

PENDIDIKAN ANAK TUNARUNGU DAN ANAK DENGAN GANGGUAN


KOMUNIKASI

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Pengantar Pendidikan


Anak Berkebutuhan Khusus (PDGK 4407) Program S1 PGSD Universitas
Terbuka
Tutor Sumidjan, S.Pd, M.Pd

Disusun Oleh:
KELOMPOK 5 / PGSD BI 2A

NAMA ANGGOTA :
1. ERNA SAHARANI (857790885)
2. ESTRI KURNIAWATI (857790925)
3. FAJAR ARDIANTO (857790964)
4. FANY ITALIANI (857791031)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH SURAKARTA
TAHUN 2020
MODUL 5

PENDIDIKAN ANAK TUNARUNGU DAN ANAK DENGAN GANGGUAN


KOMUNIKASI

Kb. 1 Definisi Dan Klasifikasi, Penyebab, Serta Cara Pencegahan Terjadinya


Tunarungu Dan Gangguan Komunikasi.

A. Definisi dan Klasifikasi Tunarungu


1. Definisi Tunarungu
Tunarungu adalah ketidakmampuan seseorang untuk mendengar, sehingga
mengalami hambatan di dalam memproses informasi bahasa melalui
pendengarannya dengan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing
aid). Sedangkan orang yang kurang dengar (a hard of hearing person), sisa
pendengarannya cukup memungkinkan untuk keberhasilan memproses
informasi bahasa melalui pendengarannya, yang berarti apabila orang kurang
dengar tersebut menggunakan alat bantu dengar, ia masih dapat menangkap
pembicaraan melalui pendengarannya.
2. Klasifikasi Tunarungu
a. Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran yang diperoleh melalui tes
dengan menggunakan audiometer. Ketunarunguan dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1) Tunarungu Ringan (Mild Hearing Loss)
Siswa yang tergolong tunarungu ringan mengalami kehilangan
pendengaran antara 27-40 dB. Ia sulit mendengar suara yang jauh
sehingga membutuhkan tempat duduk yang letaknya strategis.
2) Tunarungu Sedang (Moderate Hearing Loss)
Siswa yang tergolong tunarungu sedang mengalami kehilangan
pendengaran antara 41-55 dB. Ia dapat mengerti percakapan dari
jarak 3-5 feet secara berhadapan (face to face), tetapi tidak mengikuti
diskusi kelas.
3) Tunarungu Agak Berat (Moderately Severe Hearing Loss)
Siswa yang tergolong tunarungu agak berat mengalami kehilangan
pendengaran antara 56-70 dB. Ia hanya dapat mendengar suara dari
jarak dekat, sehingga ia perlu menggunakan hearing aid.
4) Tunarungu Berat (Severe Hearing Loss)
Siswa yang tergolong tunarungu agak berat mengalami kehilangan
pendengaran antara 71-90 dB. Sehingga ia hanya dapat mendengar
suara-suara yang keras dari jarak dekat. Siswa tersebut membutuhkan
alat bantu dengar serta pendidikan yang khusus secara intensif.
5) Tunarungu Berat Sekali (Profound Hearing Loss)
Siswa yang tergolong tunarungu agak berat mengalami kehilangan
pendengaran lebih dari 90 dB. Ia masih mendengar suara yang keras
tetapi lebih menyadari suara melalui getarannya. Ia juga lebih
mengandalkan penglihatannya daripada pendengarannya dalam
berkomunikasi yaitu melalui penggunaan bahasa isyarat dan
membaca ujaran.

B. Penyebab Terjadinya Tunarungu


Adapun penyebab terjadinya tunarungu antara lain;
1. Penyebab Terjadinya Tunarungu Tipe Konduktif
a) Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga luar yang disebabkan
oleh;
1) Tidak terbentuknya lubang telinga bagian luar (atresia meatus
akustikus externus) yang dibawa sejak lahir
2) Terjadinya peradangan pada lubang telinga luar (otitis externa)
b) Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga tengah, yang dapat
disebabkan oleh;
1) Ruda paksa yaitu adanya tekanan/benturan yang keras pada telinga
seperti karena jatuh, tabrkan, tertusuk, dll yang mengakibatkan
perforasi membrane timpani (pecahnya selaput gendang dengar) dan
lepasnya rangkaian tulang pendengaran.
2) Terjadinya peradangan/infeksi pada telinga tengah (otitis media)
3) Otosclerosis yaitu terjadinya pertumbuhan tulang pada kaki tulang
stapes, yang mengakibatkan tulang tersebut tidak dapat bergetar pada
oval window (selaput yang membatasi telinga tengah dan telinga
dalam) sehingga getaran tidak dapat diteruskan ke telinga dalam
sebagaimana mestinya.
4) Tympanisclerosis yaitu adanya lapisan kalsium/zat kapur pada
gendang dengar (membrane timpani) dan tulang
pendengaran,sehingga organ tersebut tidak dapat menghantarkan
getaran ke telinga dalam dengan baik untuk diubah menjadi kesan
suara.
5) Anomali Congenital dari tulang pendengaran atau tidak terbentuknya
tulang pendengaran yang dibawa sejak lahir tetapi gangguan
pendengarannya tidak bersifat progresif.
6) Disfungsi tuba eustachii yaitu akibat alergi atau tumor pada
nasopharynx.
2. Penyebab Terjadinya Tunarungu Tipe Sensorineural
Tunarungu ini dapat disebabkan oleh faktor genetik (keturunan) dan
nongenetik.
a. Ketunarunguan yang disebabkan oleh factor genetik maksutnya adalah
bahwa ketunarunguan yang menurun dari orangtua kepada anaknya.
b. Penyebab ketunarunguan factor nongenetik antara lain;
1) Rubella campak Jerman, yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus
yang sering berbahaya dan sulit didiagnosa secara klinis.
2) Ketidaksesuaian antara darah ibu dan anak. Apabila ibu mempunyai
Rh- mengandung janin dengan Rh+ maka sistem pembuangan anti
bodi pada seorang ibu sampai pada sirkulasi janin dan merusak sel-
sel darah Rh+ pada janin yang mengakibatkan bayi mengalami
kelainan.
3) Meningitis, yaitu radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri
yang menyerang labyrinth melalui sistem sel-sel udara pada telinga
tengah.
4) Trauma akustik, yang disebabkan oleh adanya suara bising dalam
waktu yang lama.

C. Cara Pencegahan Terjadinya Tunarungu


Beberapa cara yang dapat dilakukan pada saat sebelum nikah, hamil, persalinan,
dan setelah kelahiran.
1. Upaya sebelum nikah
a. Menghindari pernikahan sedarah atau pernikahan dengan saudara dekat,
terutama pada keluarga yang mempunyai sejarah tunarungu.
b. Melakukan pemeriksaan darah
c. Melakukan konseling genetika
2. Upaya pada saat hamil
a. Mejaga kesehatan dan memeriksakan kehamilan secara teratur kepada
dokter kandungan/bidan
b. Mengonsumsi gizi yang baik/seimbang
c. Tidak eminum obat sembarangan, karena dapat menyebabkan keracunan
pada janin
d. Malkukan imunisasi anti tetanus
3. Upaya pada saat melahirkan
a. Pada saat melahirkan diupayakan tidak menggunakan alat penyedot
b. Apabila ibu tersebut terkena virus herpes simpleks pada daerah
vaginanya maka kelahiran harus melalui operasi Caesar
4. Upaya setelah kelahiran
a. Melakukan imunisasi dasar serta imunisasi rubella yang sangat penting,
terutama bagi wanita.
b. Apabila anak mengalami sakit influenza, harus dijaga/diobati jangan
sampai terlalu lama, karena virusnya dapat masuk ke rongga telinga
tengah melalui saluran eustaschius, dan dapat menyebabkan peradangan.
c. Menjaga telingan dari kebisingan, seperti menggunakan pelindung
telingan bagi para pekerja pabrik.
D. Definisi Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi yang dikemukakan oleh Irwin (Samuel A, Kirk,
1989:244) adalah penyampaian informasi melalui bicara dan bahasa, tekanan,
kecepatan, intonasi, kualitas suara, pendengaran, dan pemahaman, ekspresi
muka, dan gerak isyarat informal, gerak isyarat yang sistematis, semapur, braille,
impuls elektrik, dsb.
Arti yang lain gangguan komunikasi adalah gangguan dalam
berkomunikasi dengan orang lain, baik dalam posisi sebagai komunikator
maupun komunikan.

E. Klasifikasi Gangguan Komunikasi


Secara klasifikasi gangguan komunikasi dikelompokkan menjadi 2 yaitu;
1. Gangguan Bicara
a. Gangguan artikulasi (disorder of articulation)
Adalah kesulitan dalam pembentukkan bunyi-bunyi, satu kata, maupun
kata-kata, sehingga ucapannya sulit dipahami.
Tipe-tipe gangguan artikulasi antara lain;
1) Subtitusi, yaitu terjadinya penggantian fonem, seperti kata diucapkan
tata, gigi diucapkan gigi
2) Omisi, yaitu terjadinya penghilangan fonem atau adanya huruf-huruf
konsonan yang tidak diproduksi/tidak diucapkan, seperti rumah
diucapkan umah.
3) Distorsi, yaitu berusaha mendekati ucapan yang benar, tetapi terjadi
kekacauan, seperti huruf L diucapkan antara huruf R atau L, kodok
diucapkan tordok, dagu diucapkan dardu.
4) Adisi, yaitu terjadi penambahan huruf-huruf konsonan pada kata
yang diucapkan, seperti foto diucapkan forto.

b. Gangguan kelancaran (disorder of fluency)


1) Gagap (Stuttering)
Adalah kelainan bicara di mana arus bicara yang normal menjadi
terganggu oleh pengulangan atau perpanjangan bunyi, suku kata,
kata, atau ketidakmampuan seseorang untuk memulai mengucapkan
kata, atau jeda waktu yang terlalu lama.
2) Cluttering
Ditandai dengan;
a) Kecepatan bicaranya berlebihan
b) Struktur kalimat yang diucapkannya tidak terorganisir/kacau
c) Cara bicaranya sering kali kacau dengan memutarbalikkan
kata/suku kata serta suara seperti ditelan atau hilang
d) Terjadinya pengulangan yang berlebihan
c. Gangguan suara (disorder of voice)
Ditandai dengan adanya gangguan proses produksi suara yang
diakibatkan oleh sebab-sebab organic maupun fungisional yang
mempengaruhi fungsi larynx pada waktu phonasi.
1) Kelainan kualitas suara
a) Hypernasality, yaitu pengeluaran suara sengau yang berlebihan
selama bicara.
b) Hyponasality/Denasality, yaitu kegagalan untuk menghasilkan
suara-suara nasal secara memadai
c) Suara parau/serak
2) Kelainan pada titi nada
a) Titi nada suara terlalu tinggi atau terlalu rendah
b) Titi nada suara terputus-putus, terjadi perubahan secara spontan,
atau penyekatan yang sebentar-sebentar.
3) Kelainan intensitas suara
a) Bicara terlalu keras atau terlalu lemah
b) Kehilangan suara (aphonia)
4) Fleksibilitas suara
a) Terjadi stereotif perubahan suara, misalnya suara turun pada nada
dan kekerasan setelah setiap berhenti
b) Monotone: kurang variasi dalam nada, suara, dan kekerasannya.
d. Gangguan bicara yang dihubungkan dengan kelainan arofasial, seperti
adanya kelainan lidah, celah bibir, celah langit-langit serta kelainan
pendengaran.
e. Gangguan bicara yang dihubungkan dengan kelainan syaraf (seperti
gangguan bicara pada anak celebral palsy)
1) Gangguan bahasa
2) Keterlambatan dalam berkomunikasi verbal
3) Aphasia yaitu ketidakmampuan dalam berbahasa secara ekspresif
maupun reseptif yang diakibatkan kerusakan sistem syaraf pusat.
2. Gangguan Bahasa
Gangguan bahasa biasanya berkaitan dengan pemahaman dan pengguanaan
bahasa. Akan tetapi seseorang dapat mengalami kedua gangguan tersebut
sekaligus.

F. Penyebab Gangguan Komunikasi


1. Kehilangan pendengaran sejak lahir dapat menyebabkan terjadinya
hambatan dalam perkembangan bicara dan bahasa. Kemampuan berbicara
dan berbahasa diperoleh memlalui proses bunyi bahasa lingkungannya.
Kehilangan pendenganran mengakibatkjan tidak terjadinya proses peniruan
bunyi bahasa melalui pendengarannya sehingga perkembangan bicara dan
bahasa terhambat yang pada ahirnya mengalami gangguan atau hambatan
untuk berkomunikasi secara lisan/oral dengan lingkungan sosialnya.
2. Kelainan organ bicara
Proses bicara terjadi karena adanya mekanisme organ bicara. Organ bicara
terjadi dari organ pernafasan, organ suara (pita suara), serta organ artikulasi
(bibir, lidah, gigi, langit-langit lembut dank eras, anak tekak, dsb). Adanya
kelainan pada struktur orgean bicara tersebut mengakibatkan terganggunya
proses bicara. Kelainan pada organ artikulasi tejadi karena adanya kegagalan
fusi atau bersatunya promeninsia maxilariz dengan promeninsia
medianazaliz yang diikuti dengan tidak menutupnya kedua bibir, rahang, dan
langit-langit (Priyanto, D., 2010)
3. Gangguan emosi yang terjadi pada anak maupun orang tua dapat
mengakibatkan terhambatnya perkembangan bahasa anak. Kemampuan
berbahasa akan berkembang dengan baik dalam hubungan yang harmonis
antara anak dan keluarganya.
4. Keterlambtan perkembangan biasanya kemampuang berbicara akan tampak
membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Namun ada kalanya kemampuan
bicara tersebut datanganya terlambat. Keterlambatan ini disebabkan karena
keterlambatan maturitas (kematangan) dari syaraf pusat yang dibutuhkan
untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak.
5. Mental retardasi
Gangguan komunikasi ini diakibatkan oleh disfungsi otak yang
memperngaruhi adanya ketidak normalan yang luas dari struktur otak,
neurotransmitter sehingga perkembangan mentalnya terhenti atau tidak
lengkap yang berpengaruh pada semua kemamouan koknitif, bahasa,
motoric, dan social.
6. Kerusakan otak
Gangguan komunikasi ini disebabkan oleh adanya kerusakan otak.
7. Lingkungan
Pada masa perkembangan bahasa dan bicara diperlukan dukungan
lingkungan terutama bahasa. Lingkungan oerlu memberikan stimulus dengan
mengajak anak untuk bercakap-cakap, meskipun anak belum bisa merespon
dengan baik.
Kb. 2 Dampak Tunarungu dan Gangguan Komunikasi Bagi Perkembangan Anak

A. DAMPAK TUNARUNGU BAGI ANAK


1. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Bicara Dan Bahasa
Perolehan kemampuan berbicara dan berbahasa erat kaitannya dengan
kemampuan mendengar. Kemampuan berbicara di peroleh melalui tahapan-
tahapan tertentu. Tahapan normal perkembangan bicara yang di kemukakan
oleh Robert M. Smith dan John T. Neiswork (1975) sebagai berikut.
a. Fase reflexive vocalization (0-6 minggu). Pada fase ini bayi
mengomunikasikan rasa lapar, sakit, atau rasa tidak nyaman melalui
tangisan.
b. Fase babling/vocal play(6 minggu-6 bulan). Pada fase ini bayi
mengeluarkan suara-suara seperti berkumur, dan ia mulai bereaksi
terhadap suaranya sendiri, kemudian mengoceh secara berulang-ulang
dengan berbagai tipe suara.
c. Fase lalling (6-9 bulan). Pada fase ini makin sering terjadi self imitation
(mendengar dan mengulangi suara sendiri). Vokalisasi mencakup
pengulangan suku kata yang terdiri dari konsonan dan vokal, seperti ma-
ma-ma, pa-pa-pa.
d. Fase echolalic (9-12 bulan). Fase ini sering di sebut fase memben, karena
bayi meniru suara-suara yang di buat orang lain dan belum mempunyai
arti.
e. Fase true speech (12-18 bulan). Fase ini anak mengatakan kata
pertamanya dan menggunakan bahasa secara sengaja yang bertujuan
sebagai alat berkomunikasi. Kata pertamanya biasanya berupa suku kata
tunggal seperti “ma”, atau 2 suku kata yang sama seperti “mama”.

Bayi yang lahir tunarungu memasuki fase babling (mengoceh) pada


waktu yang sama seperti halnya bayi yang mendengar sebagai kegiatan
alamiah dari pernafasan dan pita suara. Tidak seperti anak yang mendengar,
kegiatan mengoceh pada bayi tunarungu akan segera berhenti, dan
ocehannya secara kualitatif berbeda. Bayi tunarungu tidak dapat mendengar
suaranya dan suara orang lain sehingga ocehannya tidak di perkuat karena
tidak mendengar ocehan yang dapat di tirunya. Bayi mendengar
kemampuan mengoceh berlanjut pada fase berikutnya, sedangkan bayi
tunarungu perkembangannya terhambat sehingga bicaranya tidak terbentuk.
Selanjutnya mereka berkomunikasi dengan menggunakan isyarat dan
mengalami kesulitan berkomunikasi secara verbal.
Kesulitan itu mengakibatkan mereka memiliki kosa kata yang terbatas,
sulit mengartikan ungkapan bahasa yang mengandung kiasan, sulit
mengartikan kata-kata abstrak, serta kurang menguasai irama dan gaya
bahasa. Sehingga pelajaran bahasa harus di berikan sebaik mungkin sesuai
dengan kemampuannya.

2. Dampak Tunarungu Terhadap Kemampuan Akademis


Lanny gunawan (1982:4) menyatakan bahwa “ ketunarunguan tidak
mengakibatkan kekurangan dalam potensi kecerdasan mereka, akan tetapi
siswa tunarungu sering menampakkan prestasi akademik yang lebih rendah
di bandingkan dengan anak mendengar seusianya”. Perkembangan
kecerdasan anak tunarungu tidak sama cepatnya dengan anak yang
mendengar. Anak yang mendengar belajar banyak dari apa yang di
dengarnya, sedangkan hal tersebut tidak terjadi pada anak tunarungu.
Bahasa merupakan kunci masuknya berbagai ilmu pengetahuan
sehingga keterbatasan dalam kemampuan berbahasa menghambat anak
tunarungu untuk memahami berbagai pengetahuan lainnya. Anak tunarungu
cenderung memiliki prestasi akademik yang rendah pada mata pelajaran
yang bersifat verbal seperti bahasa indonesia, IPA, IPS, PPKn,
Matematika(dalam soal cerita), dan seni suara, tetapi pada mata pelajaran
non verbal seperti olah raga dan keterampilan, pada umumnya relatif sama
dengan temannya yang mendengar.

3. Dampak Tunarungu Terhadap Aspek Sosial-Emosional


Pada umumnya keluarga yang mempunyai anak tunarungu mengalami
kesulitan untuk melibatkan anak tersebut dalam kejadian sehari-hari agar ia
tahu apa yang terjadi di lingkungannya. Keadaan seperti itu menyebabkan
mereka memiliki kecenderungan kesulitan dalam penyesuaian diri. Namun,
apabila keluarga memberikan perhatian dan dukungan yang penuh, anak
tunarungu dapat lebih menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sikap-
sikap yang di maksud adalah sebagai berikut:
a. Pergaulan yang terbatas pada sesama tunarungu
Sebagai akibat keterbatasan dalam komunikasi, anak tunarungu
cenderung untuk bergaul dengan sesama tunarungu seperti halnya anak
yang sekolah di SLB-B. Dengan adanya sistem pendidikan integrasi
maupun inklusi dimana anak tunarungu belajar bersama anak
mendengar di sekolah biasa, di harapkan pergaulan anak tunarungu
dapat lebih luas lagi. Oleh karena itu, apabila di kelas anda terdapat
siswa tunarungu, hendaknya anda memberikan pengarahan kepada
siswa lainnya untuk bersikap responsif agar ia merasa bagian dari
kelompoknya.
b. Memiliki sifat egosentris yang melebihi anak normal
Pengamatan anak tunarungu lebih tertumpu pada unsur
penglihatan. Namun daerah pengamatan penglihatan lebih sempit di
bandingkan daerah pengamatan pendengaran. Dengan demikian, anak
tunarungu kurang memiliki kontak dengan dunia sekelilingnya sehingga
mereka lebih memusatkan perhatiannya pada diri sendiri (ego-sentris).
c. Memiliki perasaan takut (khawatir) terhadap lingkungan sekitar.
Pada umumnya anak tunarungu menyadari bahwa mereka kurang
menguasai lingkungan tanpa pendengaran. Hal tersebut menjadikan
mereka bersifat ragu-ragu atau menyimpulkan rasa takut atau khawatir,
yang pada akhirnya ia tergantung pada orang lain dan kurang percaya
diri.
d. Perhatian anak tunarungu sukar di alihkan.
Perhatian mereka sukar di alihkan apabila sudah menyenangi
benda atau pekerjaan tertentu. Keterbatasan bahasa menyebabkan
kesempitan berpikir, sehingga alam pikiran mereka terpaku pada hal-hal
yang kongkrit, dan tidak mudah beralih ke hal lain yang tidak atau
belum nyata.
e. Memiliki sifat polos
Anak tunarungu pada umumnya memiliki sifat polos sehingga
dapat menyampaikan perasaan atau pikirannya kepada orang lain tanpa
beban. Perasaan anak tunarungu umumnya dalam keadaan ekstrem
tanpa nuansa. Misalnya mereka hanya tahu perasaan senang dan tidak
senang. Mereka kurang memahami tentang kurang senang atau senang
sekali.

4. Dampak Tunarungu Terhadap Aspek Fisik Dan Kesehatan


Pada umumnya aspek fisik anak tunarungu tidak banyak mengalami
hambatan. Namun, pada sebagian tunarungu ada yang mengalami gangguan
keseimbangan (terjadi kerusakan pada organ keseimbangan/vestibule)
sehingga cara berjalannya kaku dan agak membungkuk.
Gerakan mata anak tunarungu lebih cepat; hal ini menunjukkan bahwa
ia ingin mengetahui keadaan lingkungan di sekitarnya. Gerakan tangan
sangat cepat/lincah; hal tersebut tampak ketika ia mengadakan komunikasi
dengan menggunakan bahasa isyarat dengan sesama tunarungu.
Pernafasannya pendek; karena tidak terlatih melalui kegiatan berbicara.
Perlu di pahami bahwa aktifitas pernafasan pada waktu berbicara berbeda
dengan pada waktu istirahat(tidak sedang berbicara). Oleh karena itu, anak
tunarungu perlu di berikan latihan pernafasan sebagai persiapan latihan
berbicara.
Dalam aspek kesehatan, secara umum nampaknya sama dengan anak
lain, karena pada umumnya anak tunarungu mampu merawat diri sendiri.
Namun, bagi anak tuna rungu penting untuk memeriksakan kesehatan
telingannya secara periodek agar terhindar dari hal-hal yang dapat
memperberat ketunanetraannya.
B. DAMPAK GANGGUAN KOMUNIKASI BAGI ANAK
Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh gangguan tunanetra di antaranya :
1. Hambatan dalam berinteraksi sosial
Sebagai makhluk sosial, manusia perlu berinteraksi dengan
lingkungannya. Untuk itu di perlukan kemampuan berkomunikasi yang
baik. Anak yang mengalami hambatan/gangguan dalm kemampuan
berkomunikasi, akan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan
lingkungannya.
2. Hambatan dalam pengembangan kemampuan akademik
Dalam pengembangan kemampuan akademik, kemampuan berbahasa
baik secara reseptif maupun ekspresif memegang peranan penting. Ilmu
pengetahuan di sampaikan melalui bahasa, sehingga untuk memahami
pengetahuan seseorang harus memahami bahasa terlebih dahulu. Gangguan
dalam kemampuan berbahasa dapat menghambat seseorang dalam
mengembangkan kemampuan akademiknya.
Kb. 3 Kebutuhan Khusus dan Profil Pendidikan Anak Tunarungu dan
Anak dengan Gangguan Komunikasi

A. Kebutuhan Khusus Anak Tunarungu Dan Anak Dengan Gangguan


Komunikasi
1. Kebutuhan Khusus Anak Tunarungu
Kehilangan pendengaran yang dialami anak tunarungu menimbulkan
berbagai hambatan dalam kehidupannya, termasuk dalam kegiatan
belajarnya. Layanan BKPBI adalah layanan kekhususan yang merupakan
suatu kesatuan antara pembinaan komunikasi dan optimalisasi sisa
pendengaran untuk memersepsi bunyi dan irama. Untuk memahami BKPBI
tersebut, berikut ini dibahas secara terpisah antara layanan bina komunikasi
dan layanan bina persepsi bunyi dan irama.
a. Layanan bina komunikasi
Layanan bina komunikasi merupakan suatu upaya untuk
mengembang- kan kemampuan berkomunikasi anak yang terhambat,
sebagai dampak dari kehilangan pendengarannya. Pengembangan
komunikasi didasari dengan pengembangan kemampuan berbahasa dan
berbicara.
1) Layanan Pengembangan Kemampuan Berbahasa
Dalam pendidikan anak tunarungu, proses pemerolehan bahasa
diberikan di sekolah melalui layanan khusus. Layanan pemerolehan
bahasa tersebut diberikan melalui percakapan dengan memperhatikan
sensori yang dapat diberikan stimulasi. Percakapan merupakan kunci
perkembangan bahasa anak tunarungu (Hollingshead dalam Bunawan
& Yuwati, 2000).
2) Layanan Bina Bicara
a) Latihan prabicara
b) Latihan pernafasan,
c) Latihan pembentukan suara
d) Pembentukan fonem yaitu
e) Penggemblengan, pembetulan, serta penyadaran
irama/aksen
3) Layanan Membaca Ujaran
b. Layanan bina persepsi bunyi dan irama (BPBI)
Merupakan layanan untuk melatih kepekaan/penghayatan anak
tunarungu terhadap bunyi dan irama. Secara khusus, layanan bina
persepsi bunyi dan irama bertujuan agar siswa dapat:
1) mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan atau tanpa menggunakan
alat bantu mendengar;
2) mengidentifikasi bunyi-bunyi termasuk bunyi bahasa;
3) mendiskriminasi bunyi di sekitarnya termasuk irama dan bunyi bahasa
dengan atau tanpa menggunakan alat bantu mendengar;
4) memahami bunyi di sekitarnya sebagai tanda atau lambang serta
memahami bunyi bahasa dengan atau tanpa alat bantu mendengar.
2. Kebutuhan Khusus Anak dengan Gangguan Komunikasi
Kebutuhan khusus anak dengan gangguan komunikasi sangat
bervariasi tergantung jenis gangguannya. Berikut ini adalah
kebutuhan khusus untuk beberapa jenis gangguan komunikasi.
a. Kebutuhan khusus anak dengan gangguan artikulasi.
Anak dengan gangguan artikulasi yang disebabkan oleh gangguan persepsi
pendengaran,
b. Kebutuhan khusus anak yang gagap,
c. Kebutuhan Khusus Anak yang mengalami keterlambatan dalam
komunikasi verbal,
d. Kebutuhan anak dengan gangguan komunikasi karena autis.

B. Profil Pendidikan Khusus Bagi Anak Tunarungu


1. Sistem Pendidikan bagi Anak Tunarungu
Pendidikan khusus bagi anak tunarungu dapat diselenggarakan. Di
sekolah khusus atau melalui sistem segregasi, maupun di sekolah reguler
melalui sistem integrasi dan sistem inklusif atau pendidikan inklusif.
a. Sistem pendidikan segregasi
Sistem pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan yang
terpisah dari sistem pendidikan anak normal.
b. Sistem integrasi
Sistem pendidikan integrasi merupakan sistem pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada siswa tunarungu untuk belajar
bersama- sama dengan siswa mendengar/normal di sekolah
biasa/sekolah reguler.
c. Sistem pendidikan inklusif
Pendidikan inklusif bagi tunarungu merupakan pendidikan
yang memberikan kesempatan bagi siswa tunarungu untuk belajar
bersama-sama dengan siswa mendengar di sekolah biasa/reguler.
2. Metode Komunikasi
Keterbatasan utama yang dialami anak tunarungu adalah terhambatnya
kemampuan berbicara dan berbahasa, Ada beberapa metode yang dapat
digunakan dalam berkomunikasi dengan anak tunarungu,
a. Metode oral-aural
Metode oral-aural merupakan metode berkomunikasi dengan
cara yang lazim digunakan oleh orang mendengar,
b. Metode manual (isyarat)
Metode manual yaitu metode komunikasi dengan
menggunakan bahasa isyarat dan ejaan jari (finger spelling).
3. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Siswa Tunarungu
Prinsip-prinsip umum, adalah prinsip pembelajaran sebagaimana yang
harus dilakukan terhadap siswa yang mendengar atau siswa pada umumnya,
seperti prinsip motivasi, individualisasi, hubungan sosial, dan sebagainya.

Strategi Pembelajaran
Strategi lain yang dapat diterapkan dalam pembelajaran anak tunarungu,
a. Strategi individualisasi
b. Strategi kooperatif
c. Strategi kooperatif
4. Media Pembelajaran
Media pembelajaran dikelompokkan ke dalam media visual, audio, dan
audio-visual. Oleh karena pendengarannya kurang berfungsi maka media yang
digunakan dalam pembelajaran bagi anak tunarungu, lebih menekankan pada
media yang bersifat visual. Bagi anak tunarungu yang tergolong kurang
dengar, dapat digunakan pula media audio dan audio-visual, tetapi
keterserapan pada unsur audionya terbatas.
5. Fasilitas Pendukung
Untuk keefektifan penyelenggaraan pendidikan khusus bagi siswa
tunarungu di sekolah reguler, perlu adanya fasilitas pendukung, antara lain
adanya ruang sumber yang dilengkapi dengan berbagai media - untuk
memfasilitasi pemberian layanan kekhususan, seperti layanan untuk
mengembangkan kemampuan berkomunikasi oral.
6. Penilaian (Asessment)
Penilaian (asessment) merupakan suatu proses yang sistematis untuk
memperoleh informasi tentang kemampuan atau hasil belajar siswa, sebagai
dasar untuk pengambilan keputusan tentang siswa tersebut.

C. Profil Pendidikan Anak Dengan Gangguan Komunikasi


Smith, J.D. (2006:215-217) mengemukakan bahwa dalam upaya
membantu siswa yang mengalami hambatan dalam berbahasa dan
berbicara, guru perlu mengadakan kerja sama dengan tenaga ahli
(professional collaboration), orang tua (collaboration with parent), serta
menciptakan kerja sama teman sebaya (peer collaboration).