Anda di halaman 1dari 14

FUNGSI AGAMA BAGI MASYARAKAT

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Islam dan Budaya Lokal

Dosen Pengampu: Drs. H. Abd. Wahib Syakour, M.Pd.I

Disusun Oleh:

1. Yoga Fachriza : 1940110077


2. Nailis Fitria Ningsih : 1940110107
3. Salisatul Hidayah : 1940110088

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLALM
TAHUN 2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sebagai agama Universal, Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang berlaku
untuk  semua tempat dan semua zaman. Ajaran-ajaran dasar yang bersifat universal,
absolut, mutlak benar, tidak berubah dan tidak boleh diubah menurut para ulama
jumlahnya kurang lebih 500 ayat atau kurang lebih 14% dari seluruh ayat Al-Qur’an.
Perincian tentang maksut dan pelaksanaan ajaran-ajaran dasar yang terkandung dalam
Al-Qur’an disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat dan zaman tertentu. Dengan
demikian timbulah aliran-aliran dan madzab-madzab dalam ajaran-ajaran Islam.
Dalam akidah atau teologi, timbul lima aliran, yaitu: Khawarij, Murji’ah,
Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Dalam fiqih atau hukumIslam, muncul
empatb madzab:Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali. Dalam politik lahir tiga aliran:
Sunni, Khawarij dan Syi’ah. Aliran dan madzab yang timbul berbeda-beda sesuai
dengan situasi dan kondisi tempat serta zamannya masing-masing.
Karena semuanya adalah penjabaran dan penafsiran dari ajaran-ajaran dasar
Al-Qur’an, maka semuanya berada dalam kebenaran. Tidak dibenarkan  bahwa hanya
satu dari madzab dan aliran yang berbeda-beda itu yang benar dan selain itu
dinyatakan salah. Mengenai pernyataan ini, Nabi dalam Hadisnya mengatakan
“Perbedaan dikalangan umatku adalah rahmat”. Karena itu kecenderungan manusia
berbeda-beda, dengan perbedaan dapat menjumpai keserasian dalam dirinya.1

B. Rumusan Masalah
Dari permasalahan tersebut di atas maka dapat diambil beberapa rumusan
masalah, diantaranya adalah:
1. Bagaimanakah kondisi kepercayaan masyarakat saat ini?
2. Bagaimanakah ajaran kepercayaan yang benar menurut islam?
3. Bagaimanakah Peran dan fungsi agama dalam masyarakat?

1 Harun Nasution, ISLAM RASIONAL Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan,


1995) , hlm. 33

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kepercayaan Masyarakat
Tidak dapat dipungkiri bahawa Indonesia merupakan Negara yang sangat
terkenal  pluralism, baik dari segi sosial budaya maupun agama. Agama merupakan
suatu kepercayaan yang dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan sesuai
dengan yang dianjurkan di dalam ajaran agamanya. Mayoritas masyarakat Indonesia
menganut agama Islam, akantetapi sebelum munculnya agama ini terdapat berbagai
macam system kepercayaan yang dianut dan dijadikan pedoman dalam kehidupannya,
kepercayaan tersebut sangat beraneka ragam, diantaranya adalah:
1. Dinamisme
Berasal dari bahasa Yunani ‘Dynamis’ artinya kekuatan atau kesaktian,
maksudnya kekuatan atau kesaktian yang gaib karena orang primitive masih
delap dengan kekuatan tersebut.
2. Animisme
Berasal dari perkataan latin ’anima’ disebut artinya roh atau jiwa. Orang
primitive mempunyai kepercayaan bahwa semua yang kita lihat seperti manusia,
hewan, tumbuhan memiliki roh. Perbedaan dinamis yaitu mempercayai adanya
manna atau kekuatan  dan kesaktian yang abstrak, sedangkan animisme
mempercayai adanya roh.
3. Polytheisme
Dari poly artinya banyak dan theos artinya tuhan atau dewa. Orang primitive
mempunyai kepercayaan bahwa di dunia ini terdapat banyak dewa, dan dewa ini
mempunyai tugas tertentu, di antaranya dewa api, dewa anggin, dewa taufan,
dewa guntur, dewa perang, dewa kesuburan, dewa kecantikan, dan banyak dewa
lainya. Mesir kuno, orang percaya dewa matahari disebut ’Dewa ra’.
Di India disebut ’Dewa Surya’. Dan di Persia disebut ’Dewa Meithra. Pada
awalnya mempercayai banyak dewa itu, satu sama lain sederajat kekuasaanya
tetapi lama kelamaan ada yang dianggap lebih tinggi kesaktianya, sehingga lebuh
dihormati dan di puja, seperti agama Mesir Kuno dikenal Dewa Osiris, Isis

2
(istrinya) dan Herus (anaknya) juga di Arab Jahiliyah kita mengenal Dewa Al-
Lata, Al-Uzza, dan Hubal.
4. Henotheisme
Suatu kepercayaan terhadap satu dewa saja yang dipuja, dan dewa dewa lain
di abaikan, tetapi jika percaya dengan satu dewa besar dan dewa lain masih dipuja
kepercayaan ini masih masuk polytheisme.
5. Primitive Monotheisme
Dalam masyarakat primitive kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha
Esa (supreme being, wujud agung) kepercayaan hanya ada satu tuhan dan tidak
ada tuhan atau dewa lain yang lebih rendah atau saingan dewa bangsa lain. Hanya
saja gambaran adanya wujud agung menurut orang primitive masih sederhana
sekali, sehingga gambaran tuhan berbeda sekali dengan kitap suci agama besar.2

B. Kepercayaan Yang Benar Menurut Islam


Islam merupakan suatu kepercayaan yang dianut dan dijadikan pedoman oleh
umatnya yaitu kaum muslimin. Orang-orang islam meyakini bahwa satu-satunya
agama yang benar, diridhai dan diterima oleh Allah SWT adalah agama Islam.
Adapun agama-agama lain selain Islam tidak akan diterima oleh Allah SWT. Agama
selain Islam yaitu Nasrani, Yahudi, Kong Hu Chu, Hindu, Budha, dan agama yang
lainnya tidak akan diterima oleh Allah SWT.
Ajaran agama islam merupakan ajaran yang khaq atau benar sesuai dengan
firman Allah dalam QS. Ali- Imran ayat 19 yaitu :
          
          
      
Artinya :
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat
cepat hisab-Nya.

Selain itu Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa:

2AsiknyaHidupDenganIlmu http://asiknyahidupdenganilmu.blogspot.com/2011/06/
macam-macam-kepercayaan.html diakses pada Senin, 01 Desember 2014 Pukul 10.10
WIB.

3
‫اْ ِإل ْسالَ ُم َي ْعلُ ْو َوالَ يُ ْعلَى‬

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.”


[HR. Ad-Daruquthni (III/ 181 no. 3564), tahqiq Syaikh ‘Adil Ahmad ‘Abdul
Maujud dan Syaikh ‘Ali Mu’awwadh, Darul Ma’rifah, th. 1422 H) dan al-Baihaqy
(VI/205) dari Shahabat ‘Aidh bin ‘Amr al-Muzany Radhiyallahu anhu. Lihat Irwaa-ul
Ghalil (V/106 no. 1268) oleh Syaikh al-Albany rahimahullah]

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 83 yaitu:

         
    

Artinya :
Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal
kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik
dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.
\
Selain itu Allah SWT juga berfirman dalam QS,Ali- Imran ayat 85 yaitu:

           
 

Artinya :
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah
akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang
yang rugi.

Didalam firman Allah ini sudah terlihat jelas bahwa ajaran yang paling benar
didalam Islam adalam agama islam,hal ini selaras juga dengan firman Nabi
Muhammad SAW bahwa agama Islam merupakan agama yang paling tinggi dan tidak
ada yang mampu menandingi kebenarannya. Karena agama-agama yang lain telah
mengalami penyimpangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor
manusia.  
Kemudian ayat-ayat di atas juga menjelaskan bahwa orang Yahudi dan
Nasrani tidak senang kepada Islam serta mereka tidak ridha sampai umat Islam
mengikuti mereka. Mereka berusaha untuk menyesatkan umat Islam dan me-
murtadkan umat Islam dengan berbagai cara. Saat ini gencar sekali dihembuskan
propaganda penyatuan agama, yang menyatakan konsep satu Tuhan tiga agama. Hal

4
ini tidak bisa diterima, baik secara nash (dalil Al-Qur-an dan As-Sunnah) maupun
akal.
Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allah sebagai Rabb-nya, Islam
sebagai agamanya, dan Muhammad SAWsebagai Nabinya, tidak boleh ikut serta
dalam seminar-seminar, perkumpulan, pertemuan, yayasan dan organisasi mereka.
Tidak boleh pula menjadi anggota mereka. Bahkan ia wajib menjauhinya,
mewaspadainya dan takut terhadap akibat buruknya. Ia harus menolaknya, dan
menampakkan penolakannya secara terang-terangan serta mengusirnya dari negeri
kaum Muslimin.
Pemerintah muslim wajib menegakkan sanksi murtad terhadap pengikut
propaganda tersebut, setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak adanya penghalang.
Hal itu dilakukan demi menjaga keutuhan agama dan sebagai peringatan terhadap
orang-orang yang mempermainkan agama, dan dalam rangka mentaati Allah dan
Rasul-Nya serta demi tegaknya syari’at Islam yang suci.3

C. Peran dan Fungsi Agama Dalam Masyarakat


Peran agama dalam masyarakat adalah, Pertama agama sebagai motivator
(pendorong) agama memberikan dorongan batin atau motif, akhlak dan moral
manusia yang mendasari dan melandasi cita-cita dan perbuatan manusia dalam
seluruh asapek hidup dan kehidupan, termasuk dalam usaha dan pembangunan.
Agama sebagai motivasi memberikan pengaruh dalam mendorong individu untuk
melakukan suatu aktivitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang
keyakinan agamadinilai mempunyai unsur kesucian, serta ketaatan.4
Sedangkan agama sebagai nilai etika karena dalam melakukan suatu tindakan
seseorang akan terikat kepada ketentuan antara mana yang boleh dan mana yang tidak
boleh menurut ajaran aganma yang dianutnya. Motivasi mendorong seseorang untuk
berkreasi, berbuat kebajikan maupun berkorban. Sedangkan nilai etika mendorong
seseorang untuk berlaku jujur, menepati janji, menjaga amanah, dan sebagainya.
Kedua, agama sebagai creator (pencipta) dan innovator (pembaharu),
memberikan semangat dorongan untuk bekerja kreatif (mempunyai kemampuan untuk
mencipta) dan produktif (banyak menghasilkan) dengan penuh dedikasi (pengabdian)

3Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, al-Ibthal Linazhariyyatil Khalthi baina Diinil
Islam wa Ghairihi minal Adyaan, cet. Daar ‘Alamul Fawa-id, cet II/ th. 1421 H
4Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarat: Ghalia Indonesia-UMM Press,
2002),  hlm. 38.

5
untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik dan kehidupan khirat yang baik
pula. Oleh karena itu, disamping bekerja kreatif, agama mendorong pula adanya
pembaruan dan penyempurnaan (inovatif).
Ketiga, agama sebagai integrator (menyatu padukan), baik individual maupun
social, dalam arti bahwa agama mengintregasikan dan menyerasikan segenap aktivitas
manusia, baik sebagai perseorangan maupun anggota masyarakat, yaitu integrasi dan
keserasian sebagai insan yang taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, serta integrasi
dan keserasian antara manusia sebagai makhluk social dalam hubungannya dengan
sesame dan lingkungannya.
Sebagai intergrator-individual, agama dapat menghindarkan manusia dari
pribadi kepribadian yang goyang dan pecah. Sebagai integrator-sosial, mempunyai
fungsi sebagai perekat atau fungsi kohesif (berhubungan) antara manusia terhadap
sesamanya, didorong oleh rasa kemanusiaan, kasih sayang terhadap sesamanya,
altruisme (mementingkan kepentingan orang lain), dan lain-lain.
Keempat, agama sebagai sublimator (memperindah), agama menyandukan dan
mengkuduskan segala perbuatan manusia, sehingga perbuatan manusia, bukan hanya
yang bersifat keagamaan saja, tetapi setiap perbuatan dijalan kan dengan tulus ikhlas
dan penuh pengabdian karena keyakinan agama, bahwa segala pekerjaan yang baik
merupakan bagian pelaksanaan ibadah insan terhadap Sang pencipta atau al-kholiqnya
atau Tuhan Yang Maha Esa.
Kelima, agama sebagai sumber inspirasi (ilham) budaya bangsa Indonesia,
melahirkan hasil budaya fisik berupa cara pakaian yang sopan dan indah, gaya
arsitektur, dan lain-lain, serta hasil budaya nonfisik seperti seni budaya yang
menafaskan agama kehidupan beragama yang jauh dari syirik dan musyrik.

a. Fungsi Agama dalam Masyarakat


Adapun fungsi agama dalam masyarakat ada enam hal, yaitu:
Pertama, agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang diluar
jangkauan manusia yang melibatkan takdir dan kesejahteraan, dan terhadap mana
manusia memberikan tanggapan serta menghubungkan dirinya, menyediakan bagi
pemelukya suatu dukungan, dan rekonsiliasi (perdamaian).5 Manusia

5M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola)

6
membutuhkan dukungan moral disaat menghadapi ketidakpastian, membutuhkan
rekonsiliasi dengan masyarakat bila diasingkan dari tujuan dan norma-normanya.
Kedua, agama menawarkan suatu hubungan trasendental (bersifat jauh dari
dunia empiris) melalui pemujaan dan upacara ibadat, karena itu memberikan
dasar emosional bagi rasa aman baru dan identitas yang lebih kuat di tengah
ketitdakpastian dan ketidakmungkinan kondisi manusia dan arus serta perubahan
kerangka acuan ditengah pertikaian dan kekaburan pendapat serta sudut pandang
manusia.
Ketiga, agama mensucikan norma-norma dan nilai masyrakat yang telah
terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok diatas keinginan individu
dan disiplin kelompok diatas dorongan hati individu. Dengan demikian agama
memperkuat legitimasi (pembenaran menurut hukum) pembagian fungsi, fasilitas
dan ganjaran yang merupakan cirri khas suatu masyarakat.
Keempat, agama juga melakukan fungsi yang bisa bertentangan dengan
fungsi sebelumnya. Agama dapat pula memberikan standar nilai dalam arti
dimana norma-norma yang telah terlembaga, dapat dikaji secarakritis dan
kebetulan masayarakat sedang membutuhkannya. Hal ini mungkin sekali benar
khusus dalam hubungan dengan agamayang menitik beratkan transendensi (dalam
teologi, istilah ini berarti bahwa tuhan itu berada jauh diluar alam) Tuhan, dan
konsekuensi superioritasnya pada dan kemerdekaannya dari masyarakat yang
mapan.
Kelima, agama melakukan fungsi-fungsi identitas yang penting. Kita telah
menyinggung salah satu aspek fungsi ini dalam membicarakan fungsi hubungan
trasendentals yang ada dalam agama. Melalui penerimaan nilai-nilai yang
terkandung dalam agama dan kepercayaan-kepercayaan tentang hakikat dan
takdir manusia, individu mengembangkan aspek penting pemahaman diri batasan
diri. Melalui peran penting msnusia di dalam ritual agama dan doa, mereka juga
melakukan unsur-unsur signifikan (mengandung arti penting) yang ada dalam
identitasnya.
Keenam, agama menyangkut pertumbuhan dan kedewasaan individu, dan
perjalanan hidup melalui tinngkat usia yang ditentukan oleh masyarakat.
Psikologi telah menunjukkan bahwa pertumbuhan individu menghadapi

7
serangkaian karakteristik (ciri khas)  yang terjadi pada berbagai tingkat usia
manusia, serangkaian peristiwa yang dijumpai dari sejak lahir sampai mati.6
Fungsi agama ditinjau dari kajian sosiologis, ada dua macam. Pertama
disebut fungsi manifest, dan yang kedua fungsi latent. Fungsi manifest adalah
fungsi yang disadari yang bisanya merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh
pelaku-pelaku ajaran agama. Sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang
tersembunyi, yang kurang disadari oleh pelaku-pelaku ajaran agama. Masalah
agama tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena
agama itu sendiri ternyata diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam prakteknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain sebagai
berikut :
1. Fungsi Edukatif (pendidikan)
Ajaran agama yang dianut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi.
Ajaran agama secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua
unsur suruhan dan larangan mempunyai latar belakang mengarahkan
bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan
yang baik menurut ajaran agama masig-masing.
2. Fungsi Penyelamat
Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah
keselamaan yang meliputi dua alam yaitu : dunia dan akhirat. Dalam
mencapai keselamatan itu agama mengajarkan kepada penganutnya
melalui: pengenalan memalui masalah syakral, berupa keimana kepada
Tuhan. Pelaksanaan pengenalan kepada unsur (zat supranatural) tu
tertujuan agar dapat berkomunikasi dengan baik secara langsung maupun
dengan perantara.

3. Fungsi sebagai Pendamain


Melalui agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai
kedamaian batin melalui tuntunan agama. Rasa berdosa dan rasa bersalah
akan segera menjadi hilang dari batinnya, apabila seseorang pelanggar

6Thomas F. O’Dea, Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal.


Terjemahan (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1995), hlm. 26.

8
telah menebus dosanya melalui tobat, pensucian, atau pun penebusan
dosa.7
4. Fungsi sebagai Social Control (pengawasan siosial)
Ajaran agama oleh penganutnya dinggap sebagai norma sehingga dalam
hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan sosial secara individu
maupun kelompok karena; pertama, agama secara instansi, merupakan
norma bagi pengikutnya, kedua, agama secara dogatis (ajaran)
mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis (wahyu, kenabian).8
5. Fungsi sebagai Pemupuk Rasa Solidaritas (kesetiakawanan)
Para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memiliki
kesamaan dalam satu kesatuan; iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini
akan membina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan,
bahkan kadang-kadang dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh.
6. Fungsi Transformatif (berubah-ubah)
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau
kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya. Kehidupan baru diterimanya berdasarkan ajaran agama yang
dipeluknya itu kadangkala mampu mengubah kesetiaannya kepada adat
atau norma yang dianut sebelumnya.
7. Fungsi Kreatif (kemampuan menciptakan sesuatu yang baru)
Ajaran agama menolong dan mengajak para penganutnya untuk bekerja
produktif bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga untuk
kepentingan orang lain. Penganut agama bukan saja disuruh bekerja
secara rutin dalam pola hidup yang sama, akan tetapi juga dituntut untuk
melakukan inovasi penemu baru.9

8. Fungsi Sublimatif
Segala usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma
agama, bila dilakukan atas niatan yang tulus, karena untuk Allah
merupakan ibadah. Agama yang berlaku atas masyarakat bagaikan obat

7Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarat: Ghalia Indonesia-UMM Press,


2002), hlm. 54-55.
8John M. Echols, Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2005)
9M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola)

9
bius; agama meringankan penderitaan, namun tidak menghlangkan
kondisi-kondisi yang menimbulkan penderitaan itu.10

10Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarat: Ghalia Indonesia-UMM Press,


2002), hlm. 56.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahawa Indonesia merupakan Negara yang sangat
terkenal  pluralism, baik dari segi sosial budaya maupun agama. Agama merupakan
suatu kepercayaan yang dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan sesuai
dengan yang ajaran agamanya. kepercayaan tersebut sangat beraneka ragam,
diantaranya adalah: Dinamisme, Animisme, Polytheisme, Henotheisme, Primitive
Monotheisme.
Akantetapi dari berbagai aliran yang ada sejak zaman dahulu maka Ajaran
agama islam merupakan ajaran yang khaq atau benar sesuai dengan firman Allah
dalam QS. Ali- Imran ayat 19 yaitu,

         


          
       

Artinya

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada


berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat
cepat hisab-Nya.

Peran agama dalam masyarakat adalah sebagai motivator (pendorong) agama


memberikan dorongan batin atau motif, akhlak dan moral manusia yang mendasari
dan melandasi cita-cita dan perbuatan manusia dalam seluruh asapek hidup dan
kehidupan, termasuk dalam usaha dan pembangunan.
Fungsi agama ditinjau dari kajian sosiologis, ada dua macamyaitu: Fungsi
manifest adalah fungsi yang disadari yang bisanya merupakan tujuan yang ingin
dicapai oleh pelaku-pelaku ajaran agama. Sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang
tersembunyi, yang kurang disadari oleh pelaku-pelaku ajaran agama.
B. Saran

11
Demikian makalah yang dapat kami selesaikan, Kami sadar dalam pembuatan
makalah ini masih jauh mendekati kesempurnaan, untuk itu kritik saran yang
membangun sangat kami tunggu untuk perbaikan dalam pembuatan makalah kami
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh mahasiswa,
khususnya dalam hal memahami perbedaan antara satu dengan yang lain.

12
Daftar Pustaka

Al Barry, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola

Echols, John M., Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2005.

Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama, Jakarat: Ghalia Indonesia-UMM Press, 2002.

Nasution, Harun ISLAM RASIONAL, Gagasan dan Pemikiran, Bandung: Mizan, 1995

O’Dea, Thomas F, Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal. TerjemahanJakarta:


Rajagrafindo Persada, 1995.

Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid,al-Ibthal Linazhariyyatil Khalthi baina Diinil Islam
wa Ghairihi minal Adyaan, cet. Daar ‘Alamul Fawa-id, cet II/ th. 1421 H

AsiknyaHidupDenganIlmu http://asiknyahidupdenganilmu.blogspot.com/2011/06/macam-
macam-kepercayaan.html diakses pada Senin, 01 Desember 2014 Pukul 10.10 WIB.

Thomas F. O’Dea, Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal. Terjemahan, Jakarta:


Rajagrafindo Persada, 1995.

13