Anda di halaman 1dari 2

Klaim Batik oleh Malaysia

Filky Nanda Mafilda/ 181610101137


Fakultas Kedokteran Gigi
Malaysia adalah salah satu negara yang menjadi tetangga dari negara kita yaitu
Indonesia. Klaim Pemerintah Malaysia terhadap budaya Indonesia sangat meresahkan
masyarakat Indonesia, dikarenakan klaim tersebut menambah banyak khasanah budaya. Kain
batik merupakan salah satu khasanah budaya Indonesia yang pertama kali diklaim oleh Malaysia.
Tiba-tiba malaysia memperkenalkan batik sebagai barang buatan asli Malaysia ke mancanegara
diawal tahun 2000. Para pengrajin batik di Indonesia, sempat mengeluhkan tindakan Pemerintah
Malaysia yang akan mematenkan batik sebagai barang buatan mereka. Tidak hanya itu, banyak
budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia seperti lagu Rasa Sayange, Tari Reog Ponorogo,
Lagu Jali-jali, makanan Rendang yang berasal dari Padang, dan yang baru Bahasa Indonesia.

Aksi protes atas klaim dari Malaysia ini telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
Mereka juga menyatakan bahwa pemerintah Indonesia kurang tegas dalam menyikapi klaim dari
Malaysia. Saat ini Pemerintah Indonesia masih melakukan penelitian atas khasanah budaya
Indonesia. Menteri kebudayaan dan pariwisata bapak Jero Wacik menyatakan, Pemerintah
Indonesia dan Malaysia telah melakukan kesepakatan untuk menentukan batas area kepemilikan.
Kebudayaan ini boleh digunakan oleh Malaysia, namun tetap merupakan milik Indonesia.
Pihaknya berjanji dalam waktu dekat akan menyebarluaskan hasil penelitian dan kesepakatan ini
pada masyarakat.

Analisis

Batik Indonesia sebenarnya telah dikenal bangsa lain sejak zaman kerajaan Jenggala,
Airlangga, dan Majapahit, namun saat itu bahan utamanya didatangkan dari China.
Penyebabnya, kain sebagai bahan dasar membatik sulit diperoleh di Indonesia. Untuk itu,
batik memang harus diklaim Indonesia dan bukan negara lain yang mengaku-ngaku.
Menanggapi pengakuan tersebut, kepala bidang Perdagangan dalam negeri, dinas
Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Arifin T. Hariadi merasa bangga karena batik
sebagai warisan nenek moyang Indonesia bisa memperoleh pengakuan internasional.
Menurutnya, klaim yang dilakukan Malaysia dengan alasan memproduksi batik, tentu perlu
dilihat bahwa produk itu bukan batik sebenarnya alias “printing” (kain bermotif batik
produksi pabrik). Kita juga patut bersyukur karena konsep  batik kita sulit ditiru karena
memiliki ciri khas tertentu, karena itu dengan adanya pengakuan dunia melalui UNESCO,
maka kita sebagai warga negara, harus lebih mencintai produk batik  dalam negeri.

Pengakuan UNESCO terhadap budaya batik itu merupakan proses panjang yang
melalui pengujian dan sidang tertutup. Sebelumnya, pada 11-14 Mei 2009 telah dilakukan
sidang tertutup dalam penentuan dihadapan enam negara di Paris. Dan pada tanggal 2 Oktober
di Abu Dhabi, merupakan sidang terbuka sebagai acara pengukuhan. Dalam keterangan pers
departemen kebudayaan dan Pariwisata, menyebutkan bahwa hari kedua dari sidang
UNESCO “Intergovernmental Committee for Safeguarding of The Intangible Cultural
Heritage” di Abu Dhabi, antara lain membahas evaluasi nominasi inskripsi pada daftar
representatif mengenai Budaya bukan benda Warisan Manusia.

Sudah ada dasar hukum tentang budaya cagar alam yang disebutkan “perlindungan
adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan dan kehancuran atau kemusnahan
dengan cara penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan dan pemugaran cagar budaya”
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Untuk mempertahankan
budaya kita, bangsa Indonesia telah mengaturnya dalam UUD 1945 amandemen ke 4, pasal
32 yang terdiri dari 2 ayat.