Anda di halaman 1dari 3

NAMA : FILKY NANDA MAFILDA

NIM : 181610101137
FAKULTAS : KEDOKTERAN GIGI
KELAS : 77

Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita


Politik identitas mulai dilirik ilmuan sosial pada tahun 1970-an. Bermula di Amerika
Serikat ketika kelompok minoritas merasa terpinggirkan dan merasa teraniaya. Pada fase
awalnya, kelompok yang merasa teraniaya cakupannya hanya permasalahan gender, ras,
etnisitas, namun perkembangannya meluas hingga permasalahan agama, kepercayaan dan ikatan-
ikatan kultural lainnya.

Politik Identitas di Indonesia berkaitan dengan masalah etnisitas, ideologi, agama dan
kepentingan-kepentingan lokal. Pemekaran wilayah menurutnya dapat dipandang sebagai salah
satu wujud politik identitas. Isu-isu yang diangkat adalah tentang keadilan dan pembangunan.

Secara historis, Indonesia sebagai sebuah bangsa, baru dibentuk pada tahun 1920-an.
Pertama dilakukan melalui kegiatan PI (Perhimpunan Indonesia) di Belanda dan
dilaksanakannya Sumpah Pemuda 1928. Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman
budaya (plural). Politik identitas yang sering muncul ke permukaan harus ditangani secara bijak. 
Modal dasar untuk pengawalan keutuhan bangsa adalah pengalaman sejarah berupa pergerakan
nasional, PI, Sumpah Pemuda, Pancasila dan adanya tekad bulat untuk mempertahankan dan
membela keutuhan bangsa dan negara ini. Dalam ranah gerakan sosial keagamaan, Indonesia
mempunyai Muhammadiyah dan NU, sebagai sayap dan telah mengukuhkan dirinya sebagai
benteng demokrasi dan pluralisme di Indonesia. Walaupun seringkali digerogoti oleh kelakuan
politisi, namun Indonesia masih bisa bertahan.

Tantangan lain yang cukup serius terhadap keutuhan bangsa datang dari berbagai gerakan
sempalan agama dengan politik indentitasnya masing-masing. Mereka ini semua anti-Panca sila,
anti-demokrasi, dan anti-pluralisme. Bentuk ekstrem dari gerak an sempalan ini yang sering
melakukan bom bunuh diri di Indonesia punya akar transnasional pada al-Qaedah dengan tokoh
utamanya Osama bin Laden (Saudi) dan Ayman al-Zawahiri (Mesir).
Selain politik identitas yang bermuatan etnisitas, agama dan ideologi politik, Indonesia
juga berhadapan dengan RMS (Republik Maluku Selatan), GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan
GPM (Gerakan Papua Merdeka), sebagai perwujudan dari kegelisahan etnis-etnis ini dari politik
sentralistik Jakarta. Gerakan DI (Darul Islam) juga menggunakan agama sebagai payung ideologi
politik identitas mereka. Namun, gerakan-gerakan politik identitas diatas, relatif masih dapat
diatasi dengan militerisme dan diplomasi persuasif.

Beralih ke realitas politik Indonesia kontemporer, yang menjadi burning issues terkait
politik identitas adalah munculnya gerakan radikal atau setengah radikal yang berbaju Islam di
Indonesia. Gerakan ini mengkampanyekan anti demokrasi dan anti pluralisme, bahkan sampai
pada batas yang jauh yaitu anti nasionalisme. Secara ideologis gerakan ini mendapat inspirasi
dari gerakan islamis dan salafi yang semula berpusat di negara-negara arab.

Walaupun gerakan islami dan salafi ini terdiri dari berbagai faksi di Indonesia, dalam satu
hal mereka punya tuntutan yang sama, yaitu pelaksanaan Syariah Islam dalam kehidupan
bernegara. Faksi-faksi yang dibicarakan adalah MMI (majelis Mujahidin Indonesia), FPI (Front
Pembela Islam) dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Sedangkan PKS (Partai Keadilan Sejahtera)
yang sesungguhnya adalah partai Islamis yang sangat dipengaruhi oleh cita-cita al-Ikhwan al-
Muslimun (Persaudaraan Muslim), bentukan Hassan al-Banna tahun 1928 di Mesir, menempuh
jalan demokrasi untuk mencapai tujuannya. Satu hal yang pasti adalah bahwa semua gerakan
Islam yang sedang kita sorot ini telah menjadikan Islam sebagai politik identitas mereka.
Bedanya adalah MMI, FPI, dan HTI, tidak menyebut diri sebagai gerakan politik, sekalipun
melakukan fungsi politik, sedangkan PKS jelas-jelas sebuah partai politik dan sekaligus partai
dakwah. Semua faksi bersikeras untuk pelaksanaan Syariah dalam kehidupan bernegara. MMI
misalnya sangat menyesalkan tersingkirnya Piagam Jakarta yang berbunyi “dengan kewajiban
menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, pada 18 Agustus 1945 . Bagi MMI,
penolakan arus besar umat islam Indonesia terhadap pelaksanaan syariah secara konstituisonal
dengan sendirinya dapat masuk dalam kategori “kafir, fasiq dan zalim”.

FPI yang didirikan pada 17 Agustus 1998 di Pesantren Al-Umm Ciputat, Tanggerang,
berdasakan latar belakangnya dilahirkan karena adanya anggapan bahwa Umat Islam telah lama
menjadi korban penindasan, seperti di Aceh, Lampung, Tanjung Priok, Haur Koneng dan
Sampang, tetapi tidak terungkap dan tidak mendapat keadilan. Kelompok ini tercatat telah
melakukan tindak kekerasan atas nama agama terhadap gereja, Ahmadiyah dan kelompok lain.
Menurutnya, segala tindakan itu dinilai sebagai bagian dari prinsp nahi munkar (mencegah
kemungkaran). Perbuatan itu adalah tindakan kekerasan dilakukan dengan cara-cara yang
munkar oleh aparat swasta.

Dalam memandang HTI: HTI berbeda dengan MI dan FPI yang bercorak lokal Indonesia.
HTI adalah gerakan politik transnasional yang pertama kali digagas antara lain oleh Taqiyuddin
al Nabhani, sempalan dari al ikhwan. Tujuan akhir dari perjuangan politik mereka adalah
terciptanya sebuah kekhalifahan yang meliputi seluruh dunia islam dibawah satu payung politik.
Bagi HTI, khilafah adalah satu-satunya sistem politik yang sejalan dengan kehendak syariah.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, politik identitas dalam bentuk apapun tidak akan
membahayakan keutuhan bangsa dan negara Indonesia dimasa depan, selama cita-cita para
pendiri bangsa tentang persatuan dan integrasi nasional, semangat Sumpah Pemuda yang telah
melebur sentimen kesukuan, dan Pancasila sebagai dasar filosofi negara tidak dibiarkan
tergantung diawang-awang, tetapi dihayati dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan
penuh tanggung jawab. Kesungguhan dan tanggung jawab inilah yang sering dipermainkan oleh
orang-orang yang larut dalam pragmatisme politik yang tuna moral dan tuna visi.

Korelasi politik identitas dengan identitas nasional


Menurut pendapat saya politik identitas menjadi hal yang lumrah dan digunakan untuk
mengedepankan kepentingan-kepentingan dari anggota-anggota suatu kelompok karena
memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan pada ras,
etnisitas, gender, atau keagamaan. Namun dalam politik identitas harus tetap memperhatikan
ideologi bangsa serta tidak boleh melakukan perlawanan terhadap 4 pilar kebangsaan yaitu,
Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.