Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan

DESENTRALISASI PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT: SUATU PELUANG DAN TANTANGAN
Oleh FAIZAL RUMAGIA, S.Pi, M.Si *)

I. PENDAHULUAN Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sumberdaya pesisir dan laut yang berlimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal bagi sebesar -besarnya kemakmuran rakyat, bahkan eksploitasi sumberdaya tersebut selama ini telah memperdalam kesenjangan antara golongan pelaku usaha, khususnya antara perikanan rakyat dan moderen. Dalam kaitan dengan ketersediannya, potensi sumberdaya wilayah pesisir dan laut ini secara garis besar dapat dibagi kedalam tiga kelompok, yaitu sumberdaya dapat pulih ( renewable resources ), sumberdaya tak dapat pulih ( non-renewable resources), dan jasa-jasa lingkungan ( enviromental

services). Ketiga potensi inilah walaupun telah dimanfaatkan, tetapi masih belum
optimal dan terkesan tidak terencana dan terpogram dengan baik. Pemerintah Indonesia pada tanggal 7 Mei 1999 menetapkan U U No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan adanya UU ini membawa implikasi baru bagi pembangunan di wilayah pesisir. Bila sebelumnya seluruh wilayah perairan laut Indonesia berada pada wewenang pemerintah pusat, maka dengan UU No. 22 tahun 199 9, pemerintah daerah memiliki wewenang atas sebagian wilayah perairan laut. Pelaksanaan UU No. 22 tahun 1999 ini minimal memiliki dua implikasi terhadap kegiatan sumberdaya pesisir dan laut, khususnya dalam hal perwilayahan daerah penagkapan ikan, yaitu : (1) Daerah propinsi harus dengan lebih pasti mengetahui potensi perikanan serta batas -batas wilayahnya sebagai dasar untuk menentukan jenis dan tipe kegiatan perikanan yang sesuai di daerahnya, (2) Daerah propinsi harus mampu mengalokasikan 4 mil laut dar i 12 mil laut yang berada di bawah wewenangnya kepada kota/kabupaten yang selanjutnya dikelola

pemanfaatannya. Pembangunan sumberdaya pesisir dan laut pada saat ini menjadi andalan bagi bangsa Indonseia untuk melakukan pemulihan ekonomi akibat krisis yang berlangsung sejak tiga tahun lalu. Sesuai dengan kebijakan politik untuk memacu desentralisasi, maka pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut akan lebih banyak didelegasikan kepada pemerintah daerah. Hal ini tentu saja memberikan peluang *) Staf Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair Ternate

1

6.000 ha. dkk.1 juta ha. No.8%. Potensi Lestari ikan Laut Indonesia.00 4. dan rumput laut. 5.00 ton per tahun.786. Sementara itu.35 63. Tabel 1. Dengan demikian masih terdapat 41 % potensi yang belum termanfaatkan atau sekitar 2. budidaya lau t. 3. kerang-kerangan. 2 . 4. 1. ekosistem. kakap.50 1. dan kebijakan pembangunan pesisir dan laut selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya tersebut yang lestari memihak pada kepentingan masyarakat dan lingkungan.2 juta ton. Perairan Indonesia memiliki potensi lestari i kan laut sebesar 6.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan yang lebih besar bagi daerah untuk mengelola dan memanfaatkan potensi pesisir dan kelautannya bagi kesejahteraan daerah. Jenis Ikan Ikan Pelagis Besar Ikan Pelagis Kecil Ikan Domersal Ikan Karang Konsumsi Udang Penaid Lobster Cumi-cumi Potensi Lestari ( ribu ton ) 975. II. Namun disisi lain juga menciptakan kemungkinan eksploitasi sumberdaya hanya un tuk memacu pertumbuhan daerah. yaitu masing-masing 3.05 3. budidaya pantai (tambak).6 juta ton per tahun. 2. dan bioteknologi kelauta n. Sedangkan potensi produksi budidaya ikan dan kerang serta rumput laut adalah 46.99 74. beronang. Secara terperinci dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.25 dan Sumber : (Aziz. 2. (2) sumberdaya tak dapat pulih. POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT INDONESIA Potensi pembangunan yang terdapat di wilayah pesisir dan laut secara umum dapat dibagi menjadi tiga kelompok . 971. dan (3) jasa -jasa lingkungan. 1998) Dari potensi tersebut sampai pada tahun 1998 baru dimanfaatkan sekitar 58. potensi pengembangan budidaya laut untuk berbagai jenis ikan (kerapu. 1.700 ha. dan 26. yaitu : (1) sumberdaya dapat pulih.80 28.235. Ditambah lagi degan kondisi umum sumberdaya manusia. dan lain -lain). Sumberdaya Dapat Pulih ( Renewable Resources) Potensi sumberdaya dapat pulih terdiri dari sumberdaya perikanan tangkap. 7.

namun baru 16. Sebagai negara bahari ternyata pangsa pasar angkutan laut baik antar pulau maupun antar negara masih dikuasai oleh armada niaga berbendara asing. dan energi kelautan. Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata bahari yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia. pelayaran. Dari keseluruhan potensi produksi budidaya laut tersebut.8 milyar barel terdapat di laut dalam. BPPT dari 60 cekungan minyak yang terkandung dalam alam Indonesia. Dewasa ini pariwisata berbasis kelautan (wisata bahari) telah menjadi salah satu produk pariwisata yang menarik. sedangk an 29 cekungan belun terjamah. potensi kelautan lainnya yang dapat dikembangkan secara optimal adalah sumberdaya tidak dapat pulih. terutama untuk pengembangan pariwisata. 3 . 2. Sedangkan sisanya sebesar 89. Dari 40 cekungan itu 10 cekungan telah diteliti secara intensif. Menurut Catatan Dewan Kelautan Nasional. sisanya masih dikuasai oleh armada niaga asing. Sumberdaya Tidak Dapat Pulih ( Non-Renewable Resources) Selain sumberdaya kelautan dapat pulih seperti diuraikan di atas. Potensi jasa lingkungan kelautan yang masih memerlukan sentuhan pendayagunaan secara profesional adalah jasa transportasi laut (perhubungan laut). sedang ekspor baru mencapai 4 persen. sekitar 70 persen atau 40 cekungan terdapat di laut.2 milyar barel setara minyak.5 milyar barel beruapa kekayaan yang belum ter jamah. keragaman fauna dan flora seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis.4 persen. Cadangan minyak yang belum terjamah itu diperkirakan 57. yang terwujud dalam bentuk ke kayaan alam yang indah (pantai).5 milyar barel diantarnya sudah dieksploitasi. Diperkirakan ke-40 cekungan itu berpotensi menghasilkan 106. sampai saat ini hanya sekitar 35 persen yang sudah direalisasikan. 7.400 ton per tahun. yang lebih dari separuhnya atau sekitar 32. 2. 11 cekungan baru diteliti sebagian.3 milyar barel terkandung di lepas pantai. Menurut Deputi Bidang Pengembangan Kekayaan Alam. 2. kemampuan daya angkut armada niaga nasional untuk muatan dalam negeri baru mencapi 54.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan dan 482. 3.7 milyar barel yang diketahui dengan pasti. Jasa-Jasa Lingkungan ( Enviriomental Services) Pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan juga dapat dilakukan terhadap jasa -jasa lingkungan.

Spesies 4 . Kerusakan Fisik Lingkungan Pesisi r Tingkat intensitas pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan di sebagian besar wilayah pesisir tertentu telah menimbulkan sejumlah dampak negatif terhadap kondisi fisik lingkungan pesisir dan laut. laju pertumbuhan penduduk berkisar 1. berpijah. 2001). Walaupun pada saat ini telah terjadi pergeseran latar belakang pendidikan ke arah yang semakin tinggi.) 3. Sulawesi. Secara ringkas kondisi saat ini kerusakan lingkungan pesisir tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Hutan mangrove merupakan ekosistem yang paling produktif dan merupakan sumber hara u ntuk perikanan pantai.5 persen per tahun. PERMASALAHAN PENGELOALAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT Disamping tantangan pengembangan potensi keluatan tersebut di atas. sehingga mendekati tahun 2018 Indonesia akan memiliki junlah sumberdaya manusia lebih kurang 256 juta jiwa.6 persen dan menjelang tahun 2018 diperkirakan akan menurun menjadi 1. Sebanyak 157 juta dari 256 juta diperkirakan tinggal di Pulau Jawa dan Bali. 1. Kenyataan diatas juga terjadi di dalam proporsi SDM setiap pemerintah daerah yang memiliki wilayah pesisir dan laut. Dari jumlah yang demikian besar. Kerusakan Fisik Habitat Ekosistem Pesisir dan Lautan Kerusakan fisik baitat ekosistem wilayah pesisir dan laut di ndonesia umumnya terjadi pada huta n mangrove dan terumbu karang. profil tenaga kerja yang ada pada saat i ni diperkirakan 74% berpendidikan dasar termasuk 13% buta huruf.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan III. sebanyak 10. mengingat beberapa propinsi/kabupaten/kota tersebut merupakan daerah dengan luasanan wilayah laut yang sangat besar (Aceh.3%. Hal ini tentu saja sangat ironis. namun masih timbul pertanyaan apakah kualifikasi pendidikan sumberdaya manusia tersebut dapat mendukung pengembangan dan penguasaan IPTEK kelautan seperti yang diharapkan. yang berpendidikan tinggi kurang lebih 2. Kualitas Sumberdaya Manusia Kelautan Sampai dengan tahun 2000.9% berpendidikan SLTP dan 13% SLTA. Hutan ini menyokong kehidupan sejumlah besar sepesies binatang dengan menyediakan tempat berbiak. dll. dan sebagian besar di wilayah pesisir (BPS. dalam rangka menetapkan kebijakan pengelol aan sumberdaya pesisir dan laut. dan makan. Pemerintah Daerah dalam upaya pelaksanaan desentralisasi dihadapkan pula pada berbagai permasalahan yang meliputi berbagai aspek antara lain : 3. 2.

i it . i t t t l i t l i . ji i . ) t j i I t i i i i t t t i l t t j i i t l t l j i ti i i . t i ti t . l it i t t i i ) t i t i l i . t i i. t . l li .Desentralisasi Pengel laan S m erdaya Pesisir dan aut: Suatu Peluang dan antangan t . t t i t i. . i . t li iti ti . l P i t ti i . t t i j i j . i i l j .S l i t £ ¤ ¥ ¢ ¡ ¥   ti 5 . i f i . Perkembangan Luasan Hutang Mangrove di Indonesia P i i I i . . ) ti t li 6000 Luasan Mangrove ( 000 hektar) 5000 4000 3000 ? ? 2000 1000 0 1980 1 1985 2 Tahun 1990 3 Gambar 1. i I .B lt t . i i li t t i i ili i l i . i j )l t i . li j i i i t l . .

dan sedimentasi akibat meningkatnya erosi dan lahan atas. Kondisi Terumbu Karang di Indonesia Pada umumnya. kegiatan pariwisata yang kurang bertanggung jawab. kerusakan terumbu karang disebabkan oleh kegiatankegiatan perikanan yang bersifat desktruktif. % rusak berat Gambar ).   Berdasarkan hasil penelitian Coral R f R habilition and Management Project . dan juga akti itas penambangan karang untuk bahan bangunan. tetapi dapat pula membahayakan kesehatan atau bahkan mematikan manusia yang memanfaatkan biot atau perairan yang tercemar. bahan beracun cyanida). % baik. terumbu karang tersebut. pencemaran merupakan faktor yang paling penting.48% Sangat Baik Gambar 2. Selain itu a pencemaran juga dapat menurunkan nilai estetik perairan laut dan pesisir yang a terkena pencemaran. P c m S im i Dari sekian banyak penyebab kerusakan lingkungan laut dan pesisir. % kondisinya masih baik. ORE AP) dari luasan seluruhnya hanya tinggal .39% Rusak 22. % rusak serta . yaitu penggunaan bahanbahan peledak. 28. dan . Kondisi terumbu arang di Indonesia telah banyak yang rusak. b.53% Baik 6. ari kondisi 42. ternyata terumbu karang di kawasan barat indonesia memiliki kondisi yang lebih buruk dibandingkan dengan terumbu karang di kawasan tengah dan timur Indonesia.Desentralisasi Pengel laan Sum erdaya Pesisir dan aut: Suatu Peluang dan antangan perairan Indonesia. al ini disebabkan karena pencemaran tidak saja dapat merusak atau mematikan komponen biotik hayati) perairan.59% Rusak Berat ¨ © § ¦ 6 . reklamasi pantai.

dan Nusa Tenggara Timur. DI Aceh. iau. Posisi strategis tersebut disamping memberikan manfaa t secara ekonomi. pestisida. dan jalur -jalur laut atau se lat yang dilalui oleh tangker. dilain pihak juga mengandung resiko terhadap bahay a kerugian dari segi ekologis. Lampung dan Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. dan Maluku. unsur hara. DKI Jakarta. Sumatera Barat. Selat Makasar. dapat disimpulkan bahwa kawasan -kawasan yang termasuk kategori tingkat pencemaran yang tinggi merupakan kawasan -kawasan pesisir yang padat penduduk. tingkat pencemaran sedang. Jawa Timur. Kawasan dengan kategori tingkat pencemaran sedang adalah Propinsi Kalimantan Barat. yaitu tingkat pencemaran tinggi. Kerugian secara ekologis tersebut berdampak cukup luas baik secara ekonomis ma upun kerusakan sumberdaya alam. Tingkat beban pencemaran (pollution load) di Indonesia dapat dib agi atas tigga kategori. Perairan Indonesia merupakan jalur transportasi yang strategis yang menghubungkan negara -negara dari benua Asia maupun Eropa yang akan menuju ke Asia Tenggara maupun Australia ataupun sebaliknya. dan kegiatan pertanian. Jawa Tengah. Nusa Ten ggara Barat. 7 . dan sampah. Kawasan yang termasuk kategori tingkat pencamaran yang tinggi adalah Propinsi Barat. Jambi. Kalimantan Timur. serta terletak diantara negara-negara produsen minyak dibagian barat dan negara -negara konsumen di bagian Timur. Jika dianalisis secara mendalam. Tabel 2 di bawah ini menyajikan beberapa kasus tumpahan minyak besar yang terjadi di perairan Indonesia. Sulawesi Tenggara. Dari seluruh perairan Indonesia. Sulawesi Utara. kawasan industri dan juga pertanian. Sumber utama pencemaran pesisir dan lautan terdiri dari tiga jenis kegiatan. yaitu kegiatan industri. kegiatan rumah t angga. Sementara itu bahan utama yang terkandung dalam buangan limbah dan ketiga sumber tersebut berupa sedimen. Pelabuhan. Bali.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan Tingkat pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan lautan di Indonesia pada saat ini telah berada pada kondi si yang sangat memperhatinkan. Bengkulu. wilayah yang rentan terhadap pencemaran yang dikaibatkan oleh tumpahan minyak adalah Selat Malaka. Sumatera Utara. Sulawesi Tengah. dan tingkat pencemaran rendah. DI Yogyakarta. Sumatera Selatan. Sedangkan kawasan dengan tingkat pencemaran rendah adalah Propinsi Irian Jaya. organisme patogen.

10. Aceh DI 5. Kaltim Selat Malaka 7. 1984 1992 Delta Mahakam. 9. Bali 4. 6. 1. 15. 2. HHC Yang Memuat 9000 ton Asphalt Curah Kandasnya MT. 12. 18. Tenggelamnya KM.Cirebon Sumber : Mass Media dan Berbagai Sumber.2001 No. Natuna Sea Menumpahkan 4000 ton Minyak Mentah Tenggelamnnya Tanker Stedfast Yang Mengangkut 1. 1979 Lhokseumawe. 16. 13. Bocornya Kapal Tanker olden Win yang Mengangkut 1500 Kilo Liter Minyak Tanah. 2000 2000 Cilacap Batam 19. King Fisher Dengan Menumpahkan 640 ribu liter Minyak dan Mencemari teluk Cilacap Sepanjang 38 Km. 2001 Tegal .Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan Tabel 2. 8. Kejadian Tumpahan Minyak di perairan Indonesia dari Tahun 1975 . 11. 27 Dengan Muatan Solar obeknya Tanker MT. 1975 1979 Selat Malaka Buleleng. 8 . Tahun 1975 Lokasi Selat Malaka Kejadian Kandasnya Showa Maru dan Menumpahkan 1 juta barel solar minyak Tabrakan Kapal Tanker Isugawa Maru dengan Kapal Siver Palace Pecahnya Kapal Tanker Choya Maru dan Menumpahkan 300 ton Bensin. Sumburan Liar Pemboran minyak Milik Total indonesia Tabrakan Kapal MT. 14. Bandar Ayu Dengan Kapal Ikan Tenggelamnnya KM. 1993 1994 1996 1997 1997 1997 1997 1997 1998 1999 Selat Malaka Cilacap Natuna Kepulauan iau Kepulauan iau Selat Makasar Selat Makasar Selat Madura Tanjungpriok Cilacap 17. Batamas II yang memuat MF Tabrakan Tanker rapin lobal dengan Evoikos Kebocoran Pioa Transfer Minyak Caltex Tenggelamnya Tanker Mission Vikin Amblasnya Platform E -20 UN CAL Tenggelamnya Tanker SETDC Kandasnya Kapal Pertamina Supply No.200 ton Limbah Minyak. cean Blessing Dengan MT Nagasaki Spirit Menumpahkan 5000 barel Minyak Tertabraknya Tanker Maersk Tabrakan Antara Tanker MV. 3.

dan Jawa. Over Eksploitasi Sumberdaya Hayati Laut Banyak sumberdaya alam di wilayah pesisir dan laut te lah mengalami overeksploitasi. et al. Penyebab dari tingginya laju sedimentasi ini adalah karena sistem pengelolaan kegiatan di lahan atas tidak dilakukan dengan benar. Sebagai contoh adalah sumberdaya perikanan laut. seperti HPH. Kalimantan. namun dibeberapa kawasan (perairan). meskipun secara agregat (nasional) sumberdaya perikanan laut baru dimanfaatkan sekitar 58% dari total potensi lestarinya (MSY) (Aziz. Setiap tahun sekitar 1 juta m 3 endapan dari kedua sungai tersebut diendapkan di Segera Anakan (ECI. Landasan utama politik desentralisasi adalah  Atas dasar itu dirumuskan sejumlah peraturan. dan Jawa mengalami pendangkalan yang sangat besar. IV. 1. per tahun. tetapi juga disebabkan karena kualitas lingkungan laut sebagai habitat hidup i kan mengalami penurunan atau kerusakan oleh pencemaran dan degradasi hutan mangrove. c. Pasal 18 UUD 1945. asuhan.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan Sementara itu. khusunya azas konservasi tanah. Beberapa muara sungai di Sumatera. dan mencari makan bagi sebgian besar biota laut tropis. padang lamun. 1995). Sebagai contoh laju sedimentasi di Sungai Citandui sebesar 5 juta m Sungai Cikonde sebesar 770 ribu m 3 3 per tahun. Kondisi overfishing ini bukan hanya disebabkan oleh tingkat penangkapan yang melampaui potensi sumberdaya perikanan. Laju sedimentasi yang cukup tinggi terutama terjadi di S umatera. Kalimantan. dan lain-lain yang cenderung mengabaikan pembangunan yang berwawasan lingkungan. baik pada masa Preseden Soekarno maupun Presiden Soeharto. dan terumbu karang yang merupakan tempat pemijahan. sampai akhirnya lahir UU no 5 tahun 1974. Akibatnya lingkup kekuasaan ( space 9 . beberapa stok sumberda ya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih ( overfis ing ). laju sedimentasi yang masuk ke perairan pesisir juga terus meingkat. Paradigma Desentralisasi Pembangunan Daerah Wacana tentang desentralisasi semakin berkembang sejalan dengan dasar dasar hukum yang menyertainya. pertanian. akib at tingginya laju se dimentasi. 1997). maka dis persi kekuasan tidak terjadi. Akan tetapi karena wacana perdebatan tentang desentralisasi berlangsung di alam politik yang tidak kompetitif. sementara tingkat ketergantungan daerah terhadap pusat tinggi. Kekuasaan yang sebenarnya terkonsentrasikan di pusat. DESENTRALISASI PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 4.

22 Tahun 1999. dan hanya sedikit yang dikembalikan ke dae rah asal (Aceh. Inilah peraturan baru. Pengaturan kepentingan administratif. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. alasan demi kepentingan ekonomi nasional. yang diharapkan membawa warna lain te rhadap praktek desentralisasi. Keuntungan dan eksploitasi sumberdaya alam dinikmati oleh hanya sebagian masyarakat dan digunakan untuk membangun daerah -daerah yang sudah berkembang di Pulau Jawa. konservasi dan pengelolaan kekayaan laut sebatas 12 mil laut. Kewenangan-kewenangan daerah atas wilayah laut tersebut ak an membantu penyelesaian permasalahan di laut yang membutuhkan tindakan cepat dan strategis. iau dan  lain-lain). e. Pengaturan tataruang. Pemerintah Pusat telah memberikan otonomi yang lebih jelas dan nyata termasuk kewenangan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut. Kondisi di atas memberikan pengaruh yang kuat dalam prakt ek-praktek pengelolaan sumberdaya alam . Irian. d. 4. karena jika undang undang ini dapat direalisasikan dalam pengertian yang sebenarnya. Praktek-praktek desentralisasi inilah antara lain yang mendorong lahirnya UU No. c. Kewenangan Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Berdasarkan Undang -Undang No. Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah Pusat. maka otonomi seluas-luasnya dapat berkembang. Eksplorasi. Pendekatan sentralistik. Bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara khusunya di laut. Hal tersebut berlangsung begitu lama dan sedikit -demi sedikit membentuk cara pandang yang keliru yang menganggap apa yang menguntungkan pusat pasti merugikan daerah dan demikian pula sebaliknya. Permasalahan -permasalahan tersebut diantaranya menyangkut pengamanan laut dari jarahan nelayan -nelayan asing yang melakukan pencurian 10 . Harapan ini tidak terlalu berlebihan. baik dari segi struktur maupun isi. b.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan of power ) atau lingkup kewenangan ( space of aut ority ) tetap tidak mengal ami perubahan yang signifikan. eksploitasi. Ke wenangan tersebut meliputi: a. dan keserakahan segelintir pemilik modal telah merusak hampir keseluruhan sumberdaya alam yang ada di daerah dan hanya menyisakan kerusakan lingkunga n dan kemiskinan serta marginalisasi masyarakat. 2.

Tanpa pendekatan kebijakan dan kelembagaan yang punya kewenangan yang jelas dan terpadu. Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia adalah merupakan bagian terpenting dalam pembangunan. eksploit asi. telah menjadikan beban yang berat bagi sumberdaya pesisir dan laut di Indonesia.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan dengan cara pengeboman dan p eracunan ikan. sehingga peningkatan kemampuan sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut mutlak diprioritaskan oleh setiap daerah yang menjadikan pesisir dan laut sebagai tumpu an pertumbuhan daerah. 3. daerah juga dapat membentuk dan atau mengembangkan lembaga teknis/dinas untuk menangani kewenangan -kewenangan di bidang eksplorasi. Implikasi Desentralisasi Terhadap Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Pelaksanaan otonomi daerah da lam hal ini desentralisasi pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut. serta bantuan keamanan dan kedaultan negara. akan memberikan implikasi dan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang berbeda ³lebih baik atau lebih buruk´ dibandingkan dengan praktek -praktek pengelolaan sumberdaya dimasa lalu. Seperti halnya hutan. Khusus untuk sumberdaya pesisir dan laut . dan pengelolaan sumberdaya laut. Kelembagaan Dalam era desentralisasi . 4. konservasi. penegakan hukum. Terhadap sumberdaya pesisir laut. Hal ini jelas menghancurkan dan merusak sistem tradisional pengelolaan berkelanjutan 11 . penataan ruang. pengambilan biota dilindungi. hal ini menjadi sangat penting mengingat seluruh daerah propinsi dan sebagian besar daerah kabupaten memiliki wilayah laut yang luas. maka masalah pengelolaan sum berdaya pesisir dan laut dimasa lalu akan terulang kembali di daerah. b. implikasi dan konsekuensi tersebut diantaranya adalah : a. setiap daerah harus membenahi struktur dan peran serta integrasi fungsi kelembagaan yang ada. sumberdaya ini telah mengalami kerusakan yang sangat parah akibat beban eksploitasi komersial yang hanya bertujuan untuk mengejar ke untungan jangka pendek semata. serta masalah kerusakan ekosistem lainnya. Praktek Pengelolaan Sepanjang tiga dekade yang lalu. Selain kewenangan tersebut. administrasi. c.

c) Implikasi dan konsekuensi desentralisasi harus disadari dan diantisipasi oleh semua pihak baik pusat maupun daerah. Pemerintah daerah dan masyarakat sebagai pemain utama di daerahnya harus saling m enedukung dan mengontrol pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir dan laut di wilayahnya. V. Dalam era desentralisasi ini. Konsep -konsep penentuan nasib sendiri (self determination) ini telah luas diterima dalam prinsip prinsip international. Padahal mereka harus diberi keleluasaan untuk melindungi dirinya dan budayany a serta menolak perubahan yang berdampak negatif bagi penghidupannya. seringkali tidak terwakili aspirasinya dalam proses pembangunan.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan yang dilakukan oleh masyarakat dan menjadikan masyarakat nelayan sebagai golongan paling miskin diantara kelompok masyarakat miskin lainnya di Indonesia. praktek -praktek pengelolaan tersebut di atas harus diatur sedemikian rupa sehingga tujuan ekonomi tidak akan mengorbankan aspek kelestarian lingkungan. senantiasa harus memperhatikan efisiensi pemanfataan ruang dan sumberdaya pesisir. karena umumnya disain pembangunan dibuat berdasarkan aspirasi kelompok dominan ( minstream). Partisipasi Masyarakat Pendekatan pembangunan selama ini yang bersifat masif dan seragam tidak membawa dampak postif terhadap masyarakat. Masyarakat khususnya masyarakat adat yang berada di kawasan pesisir dan laut. masyarakat khususnya masyarakat adat tidak diuntungkan. dan akses terhadap birokrasi. modal. pemberdayaan masyakarat pesisir. maka dalam penetapan program dan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan laut. namun di Indonesia pelaksanaannya masih relatif sangat jauh. b) Desentralisasi pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk mengefektifkan dan mendekatkan pengelolaan sumberdaya alam ke pemerintah daerah dan masyarakat. PENUTUP a) Sebagai sumberdaya yang sangat strategis bagi pembangunan nasional. Sehingga pemberian kewenangan kepada daerah harus dipandang sebagai hak dan kewajiban untuk melaksanakannya secara bertanggung jawab dan demi kepentingan masyarakat. bukan pemberian kedaulatan. Sebagai satu kesatuan sosial. dan memperkaya serta meningkatkan mutu sumberdaya alam. dalam kekuasaan. 12 . peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. d.

S. Coastal Zone anagement Hand Book . I [ epublik Indonesia]. Jakarta. 2001.. BPS Pusat. Sitepu. Pelestarian dan Pen gelolaan Sumberdaya Alam di Wilaya Pesisir Tropis ..  Cicin-Sain.  anagement: Clark. Undang-Undang No. . Jakarta. Jakarta. 1996. The Ecology of The Indonesian Seas ± Part ne and Two. and . Island Press. Nontji and K. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu . Pradnya Paramita. PT. Jakarta.Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut: Suatu Peluang dan Tantangan DAFTAR PUSTAKA BPS [Biro Pusat Statistik].P. Knecht. Laporan Ta unan 1999 ± 2000 . T. 2000. 1999. 1997. 34 Tentang Peri mbangan Keuangan antara Pemerinta Pusat dan Daera . Singapore . Supriharyono. Lewis Publishers. T e Ecology of Indonesia Series . M. Integrated Coastal and Ocean Concepts and Practices .  DKP [Departemen Kelautan dan Perikanan ]. J.J. Mah. Undang-Undang No. Jakarta. B. 8. A. 2001. M.       13 . Jakarta. J. Vol. ais. 2001. 32 Tentang Pemerinta an Daera . inting dan M. S. J. Peripcus. Moosa.. ramedia Pustaka Utama. 1999. Tomascik. Indonesia Dalam Angka . A. . I [ epublik Indonesia ]. W. 1998. Dahuri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful