Anda di halaman 1dari 5

ِ َ ‫ن ل ِلطَّيِّب‬

‫ات‬ َ ْ‫ن وَ الطَّيِّبُو‬


َ ْ ‫ات ل ِلطَّيِّبِي‬
ُ َ ‫ت وَ الطَّيِّب‬
ِ َ ‫ن ل ِلْخَبِيْثا‬
َ ْ‫ن وَ اْلخَبِيْث ُــو‬
َ ْ ‫ت ل ِلْخَبِيْثِـي‬
ُ َ ‫اَلْخَـبِيْـثــا‬.
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki
yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik
untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An
Nur:26)

Yang Baik Hanya Untuk yang baik?

Pembahasan kedua yaitu tentang maksud ayat diatas yaitu “wanita


yang baik” dan “wanita yang keji”.Dalam hal ini terjemahan Depag
menggunakan arti wanita yang baik dan pemahaman ini berangkat dari
para ulama yang menyatakan bahwa aisyah menrupakan wanita yang
baik-baik,karena konteks ayat tersebut turun satu paket yaitu ayat 11-
26 dengan ayat sebelumny tentang seseorang menuduh wanita yang
baik-baik berzina.Maka jika diartikan begitu sesuai dengan
perntanyaan diatas

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki
yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-
wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang
dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang
menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Dalam kaidah ushul ditetapkan bahwa kekhususan sesuatu tidak dapat


diterima dan ditetapkan berdasarkan perkiraan,tetapi harus didukung
dengan dalil.Dalam nash ini tidak ada dalil tentang kekhususan
ayat ini.Ayat Quran bermakna umum,artinya berlaku juga untuk
umatnya kecuali ada dalil tentang kekhususan ( bukan berarti
kekhususan ini ada kata-kata ‘khusus’ contohnya pada wajibnya hijab
hanya khusus pada istri nabi walalupun tidak ada kata khusus,dan
tidak ada alasan untuk meniru-niru kekhususan hijab bagi istri nabi).
Ayat ini bersifat umum, bahwa wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, begitu juga sebaliknya. Namun yang perlu dipahami
adalah ayat ini sebuah kondisi atau memang anjuran,sebab para ulama
banyak mengemukakan pendapat tentang hal ini.Syaikh Muhammad
Mutawalli as-Sya’rawi, ulama Mesir pernah berkata: ada dua macam
kalam (kalimat sempurna) dalam bahasa Arab. Pertama; Kalam yang
mengabarkan kondisi atau suasana yang ada.

Lalu bagaimana jika seseorang yang baik mendapatkan wanita yang


tidak baik

Ayat diatas pemahaman saya memang bukan janji Allah tentang


otomatisnya orang yang baik akan mendapat pasangan yang baik,Ayat
tersebut secara umum memberitahukan kita bahwa orang –orang yang
baik akan mendapat pasangan yang baik juga,dengan berusaha
mengondiskan diri menjadi baik dan juga berikhtiar mencari pasangan
yang baik.Namun baik dalam hal ini,pun secara logika dapat diartikan
bermacam-macam.Secara khusus Allah membuat perumpamaan
bagaimana seorang yang baik mendapatkan pasangan yang
tidak baik.

 Mahabbah adalah suatu kecenderungan hati kepada sesuatu. Menurut


imam al-ghazali kecenderungan yang dimaksud adalah kecenderungan hati
untuk mencintai Allah, karena bagi kaum sufi mahabbah yang sebenarnya
bagi mereka hanyalah mahabbah kepada allah, hal ini dapat dilihat dalam
ucapannya, “barangsiapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitanya
dengan mahabbah kepada Allah maka itu addalah suatu kebodohan dan
kesalahan karena hanya Allah yang berhak dicintai”.

Slain itu, Harun Nasution mengemukakan bahawa mahabbah mempunyai


beberapa pengertian:
1. Memeluk dan mematuhi perintah allah, dan membenci sifat yang
melawan Allah.
2. Berserah diri kepada allah
3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali Allah..

Pengertian tersebut sesuai dengan tingkatan kaum muslimin, namun tidak


semuanya mampu menjalani kehidupan kesufian tersebut. Lalu bagaimana
cara kita menerapkan mahabbah daam kehidupan sehari-hari..? Ada tiga
tingkatan penerapan mahabbah dalam kehidupan, antara lain:
1. Mahabbah orang biasa, yaitu dengan selalu mengingat Allah dengan
zikir, memperoleh kesengangan dalam berdialog dengan Allah melalui
zikir yang selalu memuji Nya.
2. Mahabbah orang sidiq, yaitu orang yang mengenal Allah tentang
kebesaran Nya, kekuasaan Nya, dan ilmu Nya. Mahabbah ini sanggup
menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri sebab hatinya penuh
dengan perasaan cinta kepada allah.
3. Mahabbah orang arif, yaitu cinta nya orang yang telah sempurna
ma’rifatnya kepada allah.

Tingakatan penerapan tersebut tidak mudah mudah untuk di capai jika hati
dan pikiran kita belum bersih dari persoalan duniawi. Cara yang dapat kita
lakukan untuk memperoleh Mahabbah antara lain sebagai berikut :
 Tobat, baik dari dosa besar maupun dosa kecil
 Zuhud, yaitu mengasingkan diri dari perkara dunia yang mengotori
hati dan pikiran.
 Wara’ mencoba meninggalkan segala yang didalam nya terdapat
subhat.
 Faqir, hidup sebagai orang fakir.
 Sabar, dalam menghadapi segala macam cobaan.
 Tawakkal kepada Allah.
 Ridha dengan segala yang terjadi

Kesimpulannya, Mahabbah kepada Allah hanya akan dapat diperoeh jika hati dan pikiran kita
bersih dari segala macam penyakit dan kotoran yang merusak amal ibadah yang kita lakukan.
Jadi hal pertama yang harus dilakukan untuk dapat menerapkan Mahabbah dalam kehidupan
adalah mebersihkan hati dan pikiran, setealah itu hendaknya kita selalu melakukan semua
amalan yang dicintai allah dan meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Nya.

Apa maksud Jodoh adalah cerminan diri?

Dalam Islam, tentu hal ini tidak bisa dikatakan salah. Karena terdapat sebuah dalil yang sangat kuat
dalam bab ini. Yakni, apabila seorang ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka sebaiknya ia
persiapkan dirinya untuk menjadi seorang yang siap berubah menjadi lebih baik.

Jika dalam bab ini adalah anda sebagai seorang muslimah, maka kami sarankan untuk merubah
pribadi anda menjadi pribadi wanita yang shalihah dimata agama Islam. Yakni, dengan mempelajari
Tauhid, mengamalkan serta berani mengambil konsekuensi dari Tauhid. Kemudian, mempelajari
bab Aqidah, Fiqh, dan semua keilmuan Islam untuk bekal kehidupan. Selain itu, banyak beribadah
dan memperbaiki kualitas diri sebagai muslimah dengan bercontoh kepada para Shahabiyyah juga
para istri-istri Nabi shallallahu ;alaihi wassalam yang bisa anda dapatkan dengan banyak membaca
biografi para Istri-istri Nabi dan juga para shahabiyah (Shahabat dari kalangan muslimah.)

InsyaaAllah, jika demikian maka saudari akan menjadi pribadi yang baik. Sehingga ayat dibawah ini
akan sangat berlaku bagi anda, biidznillah (Dengan izin Allah.)

Allah Ta’ala,

 
“…..Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita
yang baik pula.”(QS. An Nur: 26)

Dan, perlu diperhatikan bahwa dalil ini adalah dalil yang tidak akan pernah terhapus hingga hari
kiamat. Artinya, hukum dalam ayat ini akan berlangsung abadi. Yakni, seorang muslimah,
insyaaAllah akan mendapatkan muslim yang baik jika dirinnya mau menjadi pribadi yang baik
dimata Allah,  bukan dimata orang lain.

Semoga ini dapat menjawab pertanyaan anda.

Wallahu A’lam.

Di masyarakat pacaran adalah hal yang lumrah, proses mengenal lawan jenis atau


diibaratkan sebagai rasa cinta kasih yang diwujudkan dalam hubungan. Namun, Islam tidak
pernah mengajarkan tentang pacaran, karena dalam kenyataannya dua insan yang berlainan
jenis tidak bisa terhindar dari berdua-duaan, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh
menyentuh. Perbuatan ini sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at Islam.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang laki-laki


bersendirian dengan seorang wanita, kecuali si wanita itu bersama mahramnya.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda:“Allâh telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia
menemuinya: Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina
hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh
kemaluannya.”

Ketua Komisi Dakwah MUI Ustaz Moh Zaitun Rasmin mengatakan, bahwa bagi seseorang yang
ingin menikah janganlah melalui pacaran, sebab caranya yang salah akan mempengaruhi
keberlangsungan rumah tangganya kelak. Dalam Islam yang diajarkan adalah melalui ta’aruf.

“Pacaran dalam Islam tidak boleh kecuali yang dimaksud itu setelah akad nikah. Dalam Islam
yang diajarkan untuk memiliki hunbungan atau ke tahap nikah itu melalui ta’aruf,” kata Rasmin.

Menikah adalah suatu ibadah yang dicontohkan Rasulullah, namun caranya dengan melalui
pacaran tidak pernah dicontohkan oleh beliau. Banyak sekali mudharat dari berpacaran, sebab
perbuatan itu salah satu jalan untuk melakukan zina, sedang Allah jelas-jelas melarang untuk
sekedar mendekatinya, seperti difirmankan oleh-Nya dalam Surat al-Isra ayat 32 : “Dan
janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang
buruk.”

Ustaz Rasmin menjelaskan, bahwa proses ta’aruf, seseorang dapat melibatkan orang-orang
terdekat untuk membantu mencarikan calon. Orang-orang terdekat dirasa lebih tindak tanduk
orang bersangkutan dan dapat mencarikan calon yanng sesuai dengan kriterianya.

“Dalam mencari yang terbaik dibantu dengan orang tua, wali, sahabat yang dipercaya lalu
dipertemukan itu boleh melihat, ngobrol, dan kesempatan untuk berfikir. Kemudian pihak laki-
laki melamar secara resmi dan setelah cocok menentukan maharnya selanjutnya menikah,”
kata Rasmin.

Dalam ta’aruf tidak ada pemaksaan, jika belum cocok salah satu pihak boleh saja menolak.
Namun ketika keduanya cocok, maka dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yakni pihak laki-laki
melamar dan berujung pada pernikahan. Dalam hal mahar, menurut Islam sebaik-baik mahar
adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita,
tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.