Anda di halaman 1dari 98

UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)

DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.1 NAMA RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


Nama rencana usaha dan/atau kegiatan dan klasifikasi lapangan usaha menurut
Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 95 Tahun 2015 Tentang Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha Indonesia adalah sebagai berikut :
• Nama : Rumah Potong Ayam (RPA)
• Kelompok : Industri Makanan
• Kode : 10120
• Jenis : Kegiatan Rumah Potong dan Pengepakan Daging Unggas
Berdasarkan peraturan tersebut, jenis usaha ini mencakup kegiatan operasional
rumah potong unggas dan pengepakan daging unggas, termasuk kegiatan pengurusan
hasil sampingan, seperti pemrosesan sisa atau kotoran unggas, pementangan kulit,
penyortiran bulu dan pembersihan lemak. Rumah Potong Ayam dalam dokumen UKL-UPL
ini selanjutnya disebut dengan RPA.

2.2 STATUS DOKUMEN UKL-UPL


Dokumen UKL-UPL ini disampaikan untuk usaha dan/atau kegiatan yang sifatnya
baru, yang berada pada tahap perencanaan. Saat ini telah disusun rencana detail kegiatan
(detailed engineering design – DED) dan dalam persiapan pelengkapan perizinan yang
diperlukan untuk pembangunan RPA.

2.3 LOKASI RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


RPA ini terletak di Jalan Raya Madigondo - Takeran. Secara administrasi lokasi
RPA ini terletak di :
• Desa : Madigondo
• Kecamatan: : Takeran
• Kabupaten : Magetan
• Provinsi : Jawa Timur

2-1
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

RPA ini direncanakan pada lahan seluas 3.922 m2 yang telah dikuasi oleh
Pemrakarsa dengan status Hak Milik, dengan nomor Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor
1142 dan Nomor 1143 (Lampiran 1.3). Batas-batas lahan tersebut adalah sebagai berikut :
• Sebelah utara : Sawah milik penduduk
• Sebelah timur : Sawah milik penduduk
• Sebelah selatan : Jalan Raya Madigondo
• Sebelah barat : Sawah milik penduduk
Lokasi RPA dapat diakses dengan mudah menggunakan perjalanan darat, dengan
kendaraan roda 4 atau roda 2, karena lokasinya berada di tepi Jalan Raya Madigondo.
Meskipun lokasinya berada di wilayah Kabupaten Magetan memiliki jarak yang lebih dekat
dengan wilayah Kabupaten atau Kota Madiun. Dari pusat perkotaan Madiun dapat
ditempuh selama ± 10 menit sejauh ± 5,4 km. Sedangkan jika dari perkotaan Magetan
dapat ditempuh dengan perjalanan selama 30 – 40 menit sejauh ± 20 km. Jarak RPA
dengan beberapa pusat kegiatan dan dengan fasilitas dan permukiman terdekat dirinci
sebagai berikut :
• Jarak RPA dengan pusat kegiatan :
– Pusat Desa Madigondo : 1,5 km
– Pusat Kecamatan Takeran : 3 km
– Pusat Kabupaten Magetan : 20 km
– Pusat Kota Madiun : 5,4 km
• Radius RPA dengan fasilitas dan permukiman terdekat :
– SMPN 1 Takeran : 400 m
– MIN Madigondo : 690 m
– Puskesmas Pembantu Madigondo : 1,2 km
– Dusun Likasan Desa Madigondo : 380 m
– Dusun Gambiran Desa Madigondo : 650 m
– Dusun Ngampel Desa Madigondo : 840 m
– Dusun Tundan Desa Kerang : 260 m
– Dusun Sumbermulyo Desa Jomblang : 610 m
Peta lokasi RPA dapat dilihat pada Gambar 2.1, Gambar 2.2, dan Gambar 2.3.
Batas tapak RPA ditampilkan pada Gambar 2.4. Sedangkan kondisi tapak saat ini dapat
dilihat pada Gambar 2.5.

2-2
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.1 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan Terhadap Kabupaten Magetan

2-3
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.2 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan Terhadap Kecamatan Takeran

2-4
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.3 Peta Lokasi Kegiatan RPA

2-5
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.4 Peta Batas Tapak Kegiatan

2-6
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.5 Kondisi Tapak Kegiatan

2-7
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.4 SKALA/BESARAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


Informasi mengenai skala/besaran dari RPA CV. Arjuna Group secara ringkas
dirangkum pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Skala/Besaran RPA


No Deskripsi Satuan Skala/Besaran
Lahan dan Bangunan
1 Luas lahan m2 3.992
• Bangunan m2 1.712
• Non bangunan m2 2.210
2 Penggunaan untuk bangunan : 1.712
• Bangunan utama m2 1.332
• Bangunan kantor utama m2 120
• Bangunan fasilitas pendukung m2 90
• Bangunan IPAL m2 170
3 Penggunaan non bangunan : 2.210
• Area parkir mobil m2 100
• Area parkir sepeda motor m2 50
• Area unloading m2 240
• Area loading m2 280
• Lain-lain (jalan, halaman, taman) m2 1.540
Kapasitas Kegiatan
1 Kapasitas produksi :
• Produk utama :
– Karkas kg/hari 16.930
• Produk sampingan :
– Jeroan bersih kg/hari 2.112
– Kepala dan leher kg/hari 1.442
– Kaki bawah kg/hari 962
2 Bahan baku dan penolong :
• Bahan baku (ayam sehat) ekor/hari 16.000
• Bahan penolong (marinade) kg/hari 10
Peralatan
1 Alat Produksi :
• Konveyor penggantung ayam (hanging conveyor) set 1
• Pemingsan ayam (electric stunner) set 1
• Peniris darah (bleeding through) unit 2
• Pencelup air panas (automatic scalder) unit 1
• Pencabut bulu (automatic standing plucker) unit 2
• Meja eviserasi (eviceration table) : unit 2
• Perendam karkas (screw chiller) : unit 1
• Peniris karkas (dripping drum) : unit 1
• Penimbang (weighing machine) unit 2
• Mesin pemotong karkas (parting machine) unit 3
• Mesin marinasi (chicken marinator machine) unit 1
• Mesin pengemas (packaging machine) unit 2
• Alat pemotong (pisau) set 20

2-8
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

No Deskripsi Satuan Skala/Besaran


2 Alat Pendingin :
• Air blast freezer set 1
• Blast chiller set 1
• Cold storage freezer set 1
3 Alat Pembersih :
• Pembersih penggantung ayam (shackle wahser) set 1
• Pembersih lantai dan ruangan (power sprayer) set 2
• Tempat cuci tangan (wastafel) set 2
• Pembersih alas kaki (foot bath) set 2
• Alat sterilisasi (knives sterilizer) set 2
4 Alat Pelindung Diri (pelindung kepala, pelindung set tiap 1
badan, pelindung tangan, pelindung kaki) : pekerja
5 Alat Pengangkut :
• Troli keranjang unit 50
• Truk pengangkut bahan baku unit 2
• Truk pengangkut produk unit 2
Tenaga Kerja
1 Kebutuhan tenaga kerja orang 60
• Bagian administrasi dan keuangan orang 5
• Bagian produksi orang 40
• Bagian logistik orang 5
• Bagian pemasaran orang 5
• Bagian umum orang 5
Air Bersih
1 Kebutuhan air bersih : m3/hari 399,92
• Proses produksi (processing) m3/hari 330,72
• Pembersihan ruangan dan peralatan (washing) m3/hari 59,20
• Domestik (domestic) m3/hari 6,00
• Penyiraman (watering) m3/hari 4,00
2 Sumber air bersih : air tanah
– Debit pengambilan liter /menit 300
Energi
1 Energi listrik :
– Jaringan listrik PT. PLN (Persero) VA 11.000
– Generator set kVA 100
2 Minyak dan gas :
– Solar liter/hari 100
– LPG kg/hari 12
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

Informasi detail mengenai skala/besaran kegiatan dijelaskan dalam uraian pada


masing-masing sub bab berikut ini.

2-9
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.4.1 PENGGUNAAN TAPAK


Lahan yang direncanakan sebagai tapak RPA seluas 3.992 m2. Status lahan yang
digunakan tersebut adalah hak milik yang telah dikuasai oleh Pemrakarsa berdasarkan
sertifikat hak milik (SHM) Nomor 1142 dan 1143. Sebelumnya lahan ini diguPnakan untuk
budidaya pertanian tanaman pangan atau sebagai lahan sawah. Dan saat ini berupa lahan
kosong yang telah dipersiapkan untuk tapak proyek.
Lahan yang akan digunakan ini tidak masuk dalam Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan (LP2B) berdasarkan surat dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura,
Perkebunan dan Tanaman Pangan Kabupaten Magetan Nomor 521/421/403.119/2019
perihal Informasi Lahan Berkelanjutan.
Lahan tersebut digunakan sebagai tapak proyek baik untuk atau area non
bangunan atau area terbuka. Jenis bangunan yang direncanakan antara lain bangunan
utama, kantor, rest area untuk sopir, mushola, tempat wudhu dan toliet, dan IPA.
Sedangkan area non bangunan meliputi area parkir mobil, area parkir sepeda motor, area
unloading dan loading kendaraan pengangkut, dan lain-lain (jalan, halaman, taman). Luas
bangunan direncanakan 1.750,5 m2 atau 45,59% dari luas lahan, sedangkan untuk area
terbuka seluas 2.089,5 m2 atau 54,41% dari luas lahan. Rincian penggunaan lahan atau
tapak RPA disampaikan pada Tabel 2.2 Sedangkan layout RPA selengkapnya dapat dilihat
pada Gambar 2.6.

Tabel 2.2 Rencana Penggunaan Tapak RPA


Persentase
No Jenis Penggunaan Luas (m2)
(%)
A BANGUNAN
1 Bangunan Utama 1.332,00 33,96
2 Bangunan Kantor Utama 120,00 3,06
3 Bangunan Fasilitas Pendukung (Rest 90,00 2,29
Area Sopir, Mushola, Toilet, Tempat Cuci)
4 Bangunan IPAL 170,00 4,33
Sub total 1.712,00 43,65
B NON BANGUNAN
1 Area Parkir Mobil 100,00 2,55
2 Area Parkir Sepeda Motor 50,00 1,27
3 Area Unloading Kendaraan 240,00 6,12
4 Area Loading Kendaraan 280,00 7,14
5 Lain-lain (Jalan, Halaman, Taman) 1.540,00 39,27
Sub total 2.210,00 56,35
Total 3.922,00 100,00
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

2-10
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.6 Layout RPA

2-11
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.4.2 KAPASITAS PRODUKSI


Produk RPA ini berupa produk utama dan produk sampingan. RPA didesain
dengan kapasitas produksi utama (karkas) sebesar 16.930 kg/hari atau ± 17 ton/hari.
Sedangkan produk sampingan yang dihasilkan sebesar 4.516 kg/hari atau ± 4,5 ton/hari,
yang terdiri dari jeroan bersih (2.112 kg/hari), kepala dan leher (1.442 kg/hari), serta kaki
bawah (962 kg/hari). RPA ini didesain dengan sistem semi otomatis, yaitu menggunakan
mesin otomatis untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif dan efisien, namun untuk
proses penyembelihan dan pemisahan jeroan dari karkas menggunakan tenaga manusia
sesuai label Halal dari Majelis Ulama Indonesia.
Untuk mengontrol dan mengawasi kualitas produk, Pemrakarsa akan berkoordinasi
dan bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan terkait
dengan penyediaan Dokter Hewan. Untuk menjamin keamanan produk, Pemrakarsa akan
mengurus sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sebagai bukti tertulis yang sah telah
dipenuhinya persyaratan higiene sanitasi sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan
produk, sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 381/KPTS/OT.140/10/2005 Tentang
Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan. Terkait dengan
pengurusan sertifikat ini, Pemrakarsa akan berkoordinasi dan bekerjasama dengan Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan.

2.4.3 BAHAN BAKU DAN BAHAN PENOLONG


Bahan baku dan bahan penolong yang akan digunakan pada RPA di Desa
Madigondo Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan ini secara terperinci disampaikan
pada Tabel 2.3 berikut ini.

Tabel 2.3 Bahan Baku dan Bahan Penolong


Cara
No Nama Bahan Kapasitas Bentuk Fisik Sifat Bahan
Penyimpanan
Bahan Baku
1 Ayam sehat 16.000 ekor/hari Padat Tidak Langsung
(ayam hidup) berbahaya diproses
Bahan Penolong
1 Marinade 10 kg/hari Padat Tidak Drygood Storage
(bubuk) berbahaya
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

Bahan baku yang digunakan untuk produksi karkas ayam adalah ayam sebesar
16.000 ekor/hari. Bahan baku ini berasal dari tempat budidaya ayam pedaging yang dimiliki
Pemrakarsa (kegiatan peternakan pada tempat lain). Untuk mendukung supply bahan baku
yang konstan akan dibentuk kerjasama dengan pemilik usaha peternakan ayam pedaging
yang ada di wilayah sekitarnya.
Laporan Hasil Survey Karkas Ayam Pedaging (Broiler) yang dilakukan oleh Pusat
Data dan Informasi Pertanian – Kementerian Pertanian Tahun 2014, menunjukkan bahwa
berat rata-rata ayam pedaging umur 5 minggu adalah 1,5 kg. Dari ayam hidup tersebut

2-12
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

akan dihasilkan karkas ayam sebesar 70,54%. Sedangkan hasil sampingannya berupa
jeroan kotor (12,69%), kepala dan leher (6,01%), kaki bawah (4,01%), bulu (3,84%) dan
darah (2,91%). Dengan mengacu pada laporan hasil survey tersebut, maka berat ayam
sehat yang digunakan sebagai bahan baku di RPA ini sebesar 24.000 kg/hari. Karkas yang
dihasilkan rata-rata sebesar 16.930 kg/hari. Hasil sampingannya berupa jeroan kotor 3.046
kg/hari, kepala dan leher 1.442 kg/hari, kaki bawah 962 kg/hari, bulu 922 kg/hari, dan
darah 698 kg/hari. Neraca bahan dapat dilihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Neraca Bahan

2.4.4 TATA LETAK BANGUNAN DAN FASILITAS


RPA CV. Arjuna Group di Desa Madigondo ini terdiri dari bangunan utama,
bangunan kantor, bangunan mushola, serta tempat wudhu, toilet dan tempat cuci. RPA
didukung oleh fasilitas dan utilitas yang memadai, antara lain area parkir, area
unloading/loading, fasilitas air bersih, fasilitas pengelolaan limbah, jalan internal, jaringan
energi listrik, serta serta pagar keliling RPA.

A. Bangunan Utama
Bangunan utama ini merupakan bangunan yang menjadi tempat produksi (fasilitas
produksi) daging ayam dari penerimaan ayam hidup hingga pengemasan. Bangunan
utama RPA ini direncanakan seluas 1.332,0 m2. Penataan ruang pada bangunan
utama ini telah didesain searah dengan alur proses produksi dengan luasan ruangan
yang telah mencukupi sesuai dengan kapasitas produksi sehingga kegiatan
pemotongan unggas dapat berjalan dengan baik serta higienis.

2-13
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Sesuai dengan SNI 01-6160-1999 tentang Rumah Potong Unggas, bangunan utama
dalam RPA dipersyaratkan adanya pemisahan antara daerah kotor dan daerah bersih.
RPA yang akan dibangun oleh CV. Arjuna Group di Desa Madigondo Kecamatan
Takeran Kabupaten Magetan ini telah didesain dengan adanya pemisahan daerah
kotor dan daerah bersih.
RPA ini telah dilengkapi dengan ruang pembekuan cepat dan ruang penyimpanan
beku. Selain ruangan untuk fasilitas produksi, dalam bangunan utama RPA juga
terdapat beberapa ruangan untuk peralatan dan bahan, serta fasilitas untuk karyawan
seperti kantor, ruang ganti, dll. Secara terperinci, ruang-ruang dalam bangunan utama
RPA CV. Arjuna Group dapat dilihat pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Ruangan dalam Bangunan Utama RPA


No Ruangan Luas (m2)
A Daerah Kotor
1 Ruang Penerimaan dan Penyembelihan 55,00
2 Defeathering Room 49,50
3 Eviceration Room 66,00
Sub total 170,50
B Daerah Bersih
1 Ruang Penanganan Karkas 224,00
2 Ruang Marinasi dan Parting 15,00
Sub total 239,00
C Ruang Pendingin
1 Chilling Room 94,80
2 Blast Freezer Room 96,00
3 Cold Storage 2 270,00
4 Ante Room 87,75
Sub total 548,55
D Fasilitas Penunjang
1 Kantor Produksi 23,55
2 Kantor Pengiriman 15,00
3 Ruang Ganti Daerah Kotor 53,77
4 Ruang Ganti Daerah Bersih 53,77
5 Evis Cold Storage 9,75
6 Ice Storage 9,75
7 Drygood Storage 25,50
8 Ruang Pemuatan (Loading Dock) 23,85
9 Trolley Washing 19,50
10 Ruang LPG 6,00
11 Ruang Mesin 66,00
12 Ruang Genset 18,00
13 Ruang Teknisi 15,00
14 Mushola 18,00

2-14
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

No Ruangan Luas (m2)


15 Tempat Wudhu 12,00
16 Emergency Exit 4,50
Sub total 373,95
Total 1.332,00
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

2-15
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.8 Denah Bangunan Utama

Gambar 2.9 Tata Letak Ruangan Bangunan Utama

2-16
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Informasi mengenai penggunaan ruang dalam bangunan utama RPA diuraikan


sebagai berikut ini.
1) Daerah Kotor
Daerah kotor merupakan ruangan yang memiliki potensi tingkat pencemaran yang
tinggi. Pada RPA ini, daerah kotor terdiri dari 3 (tiga) ruangan, yaitu Ruang
Penerimaan dan Penyembelihan, Defeathering Room, dan Eviceration Room.
a) Ruang Penerimaan dan Penyembelihan
Ruangan ini dipergunakan untuk penanganan bahan baku yang masuk RPA,
yaitu sebagai tempat penurunan dan penimbangan ayam hidup (receiving
dock), penggantungan, pemingsanan (stunning), penyembelihan halal, dan
penirisan darah. Dalam ruangan ini terdapat peralatan berupa penggantung
ayam (shackle hanger), pemingsan (stunner), dan peniris darah. Luas ruang
untuk penerimaan dan penyembelihan adalah 55,00 m2 (11 m x 5 m).
b) Defeathering Room (Ruang Pencabutan Bulu)
Defeathering room merupakan ruangan yang dipergunakan untuk pencabutan
bulu, yang meliputi sebagai tempat pencelupan air panas (scalding) dan
pencabutan bulu (plucking). Peralatan yang ada dalam defeathering room ini
adalah 1 unit alat pencelupan air panas otomatis (automatic scalder), 2 unit
alat pencabut bulu (plucker), serta 1 unit penampung untuk stok air panas.
Luas ruangan ini adalah 49,50 m2 (11 m x 4,5 m).
c) Eviceration Room (Ruang Eviserasi)
Eviceration room atau ruang eviserasi merupakan ruangan yang dipergunakan
untuk pengeluaran jeroan. Disamping untuk pengeluaran jeroan, ruangan ini
juga dipergunakan untuk pemotongan kepala dan ceker yang selanjutnya
akan disimpang di evis cold storage. Untuk proses pengeluaran jeroan ini
dipergunakan meja eviserasi ukuran 7 m x 1,2 m. Luas eviceration room
adalah 66,00 m2 (11 m x 6 m).
2) Daerah Bersih
Daerah bersih merupakan daerah yang memiliki potensi tingkat pencemaran yang
rendah. Jenis ruangan pada daerah bersih pada RPA meliputi Ruang Penanganan
Karkas, serta Ruang Marinasi dan Parting.
a) Ruang Penanganan Karkas
Ruang penanganan karkas dipergunakan untuk penanganan karkas setelah
proses eviserasi, yang mencakup kegiatan untuk pencucian dan pendinginan
karkas, penirisan, pemisahan tulang dan daging, serta penimbangan dan
packing karkas. Ruangan ini terdiri dari beberapa area penggunaan, yaitu
untuk area pencucian dan pendinginan karkas, ruangan pemisahan daging
dan tulang (boneless), serta area penimbangan dan pengepakan karkas. Luas
ruang penanganan karkas adalah 224,00 m2.

2-17
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

b) Ruang Marinasi dan Parting


Ruang marinasi dan parting ini merupakan ruangan yang termasuk dalam
daerah bersih yang berfungsi sebagai tempat kegiatan pengolahan karkas,
yaitu proses marinasi dan parting. Marinasi merupakan proses perendaman
daging ayam atau karkas yang dalam marinade (bumbu perendam). Setelah
proses marinasi dilakukan selanjutnya daging ayam dipotong beberapa bagian
(parting) sesuai dengan pesanan. Luas ruang untuk marinasi dan parting
adalah 15,00 m2 (3 m x 5 m).
3) Ruang Pendingin
Ruang pendingin berfungsi untuk mendinginkan karkas baik untuk karkas segar
maupun karkas beku setelah proses pemotongan dan/atau pengolahan (marinasi,
parting, debones section), serta telah dikemas. Ruang pendingin dalam RPA ini
terdiri dari 4 (empat) ruangan, yaitu chilling room, blast freezer room, cold storage,
dan ante room.
a) Chilling Room
Chilling room ini merupakan ruangan untuk penyimpanan daging atau karkas
segar dan dingin (fresh), dengan suhu antara 1 - 4 0C. Penyimpanan daging
atau karkas segar dan dingin dalam ruangan ini dalam jangka waktu pendek,
untuk segera dikirim ke konsumen. Luas ruangan chilling room adalah 94,80
m2 (5,925 m x 16 m).
b) Blast Freezer Room
Ruangan ini dipergunakan untuk proses pendinginan cepat atau pembekuan
karkas. Dalam ruangan ini terdapat mesin atau alat berupa Air Blast Freezer –
ABF untuk proses pembekuan. RPA ini didesain dengan 4 unit ruang ABF
dengan luas masing-masing ruangan 24,00 m2 (4 m x 6 m), sehingga luas
total ruangan ini adalah 96,00 m2.
c) Cold Storage
Cold storage atau ruang penyimpanan beku ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan karkas beku (frozen) dari blast freezer, dengan suhu -12 0C.
Jumlah cold storage direncanakan sebanyak 2 unit dengan luas masing-
masing sebesar 135 m2 (15 m x 9 m), sehingga luas total cold storage adalah
270,00 m2.
d) Ante Room
Ante room berfungsi sebagai ruang penyangga agar suhu dalam cold storage
tidak langsung berhubungan dengan suhu ruang terbuka. Fungsinya untuk
menjaga suhu dalam ruang penyimpanan agar tidak terkontaminasi dengan
suhu udara pada saat ruangan terbuka. Ante room RPA didesain dengan
bentuk memanjang sesuai dengan ruang penyimpanan dengan luas 87,85 m2
(2,925 m x 30 m).

2-18
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

4) Fasilitas Penunjang
Fasilitas penunjang ini merupakan ruangan dalam bangunan utama yang secara
umum berfungsi untuk menunjang proses produksi. Fasilitas penunjang mencakup
ruang untuk fasilitas administrasi, ruang ganti, penyimpanan, dan peribadatan.
a) Kantor Produksi
Kantor produksi dalam bangunan utama berfungsi sebagai tempat untuk
pelaksanaan kegiatan perkantoran yang terkait langsung dengan proses
produksi. Kegiatan perkantoran yang dimaksud mencakup penerimaan,
penyimpanan, pengaturan informasi tentang bahan baku dan bahan penolong
yang akan diproses, kapasitas dan jumlah produksi, serta jadwal produksi.
Ruang untuk kantor produksi didesain dengan luas 23,55 m2 ( 3,925 m x 6 m).
b) Kantor Pengiriman
Kantor pengiriman ini merupakan ruangan yang berfungsi untuk pelaksanaan
kegiatan perkantoran yang terkait dengan pengiriman atau distribusi produk
karkas. Perbedaan fungsi kantor pengiriman dan kantor produksi terletak pada
jenis kegiatan pelaporannya, dimana pada kegiatan pada kantor pengiriman
ini adalah pengorganisasian dan pelaporan produk yang disimpan dan produk
yang didistribusikan, serta jadwal distribusi atau pengiriman. Luas ruangan
untuk kantor pengiriman adalah 15 m2 (3 m x 5 m).
c) Ruang Ganti Daerah Kotor
Karyawan diwajibkan menggunakan pakaian kerja dan alat pelindung diri
(APD) sesuai dengan tingkat resiko kerja. Sesuai dengan namanya, ruang
ganti daerah kotor ini diperuntukkan sebagai tempat ganti pakaian bagi
karyawan yang bekerja pada daerah kotor. Ruang ganti daerah kotor
dipisahkan antara karyawan laki-laki dan perempuan dan masing-masing
dilengkapi dengan toilet dan tempat cuci tangan dan tempat cuci alas kaki
(foot bath). Ruang ganti ini terhubung langsung dengan daerah kotor. Luas
ruang ganti daerah kotor adalah 53,77 m2 (3,925 m x 13,7 m).
d) Ruang Ganti Daerah Bersih
Ruang ganti daerah bersih merupakan ruangan yang digunakan sebagai
tempat ganti pakaian karyawan RPA yang bekerja pada daerah bersih.
Sebagaimana ruang ganti daerah kotor, ruang ganti daerah bersih ini juga
dipisahkan untuk karyawan laki-laki dan perempuan dan masing-masing
dilengkapi dengan toilet dan tempat cuci tangan dan kaki. Luas ruang ganti
daerah bersih didesain sama dengan ruang ganti daerah kotor dengan luas
sebesar 53,77 m2 (3,925 m x 13,7 m).
e) Evis Cold Storage
Ruang evis cold storage berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil
sampingan dari proses eviserasi, yaitu jeroan ayam, kepala, dan ceker. Luas
ruangan ini sebesar 9,75 m2 (3 m x 3,25 m).

2-19
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

f) Ice Storage
Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan es. Dalam RPA ini, es
digunakan dalam proses perendaman karkas (chilling) bersama dengan air
dingin dan larutan klorin konsentrasi rendah untuk inaktivasi virus dan
membunuh bakteri. Luas ice storage adalah 9,75 m2 (3 m x 3,25 m).
g) Drygood Storage
Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan penolong, plastik,
kardus, larutan klorin, dan alat bahan penunjang lainnya. Drygood storage
didesain dengan luas 2,50 m2 (3 m x 8,5 m).
h) Ruang Pemuatan (Loading Dock)
Loading dock atau loading ramp Ruangan ini digunakan sebagai tempat
pemuatan produk ke dalam truk pengangkut yang akan dikirim ke konsumen.
Loading dock didesain dengan luas 23,85 m2 (2 m x 11,925 m).
i) Trolley Washing
Ruangan atau area ini berfungsi sebagai tempat penempatan troli yang
digunakan sebagai alat bantu dalam pemindahan produk. Ruangan ini
didesain dengan luas 19,50 m2 (3 m x 6,5 m).
j) Ruang LPG
Ruangan ini berfungsi sebagai tempat instalasi pemanas air yang berbahan
LPG untuk proses pencelupan. Luas ruangan ini 6,00 m2 (1,5 m x 5 m).
k) Ruang Mesin
Ruang mesin ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan mesin untuk proses
pendinginan. Ruangan ini didesain dengan luas 66,00 m2 (3 m x 22 m).
l) Ruang Genset
Ruangan ini digunakan untuk tempat generator set (genset) sebagai pensuplai
energi listrik untuk operasional RPA. Ruang genset didesain dengan luas
sebesar 18,00 m2 (3 m x 6 m).
m) Ruang Teknisi
Ruangan digunakan sebagai tempat teknisi atau ahli mesin produksi. Luas
ruangan ini adalah 15,00 m2 (3 m x 5 m).
n) Mushola
Mushola dalam bangunan utama ini memiliki luas 18,00 m2 (3 m x 6 m).
o) Tempat Wudhu
Luas tempat wudhu adalah 12 m2 (3 m x 4 m).
p) Emergency Exit
Emergency exit merupakan area pintu keluar untuk keadaan darurat. Luas
area ini adalah 4,5 m2 (1,5 m x 3 m).

2-20
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

B. Bangunan Kantor Utama


Bangunan kantor utama ini digunakan sebagai pusat kegiatan administrasi dan
manajemen RPA. Lokasi kantor utama terletak di bagian depan setelah pintu masuk
lokasi RPA. Bangunan kantor utama ini terdiri dari 3 ruangan, yaitu ruang untuk
pimpinan (5 m x 8 m), ruang untuk staf (10 m x 8 m) dan toilet (3 m x 8 m). Luas area
untuk kantor utama adalah 120,00 m2. Denah bangunan kantor utama dapat dilihat
pada Gambar 2.10.

Gambar 2.10 Denah Bangunan Kantor Utama

C. Bangunan Fasilitas Pendukung


Bangunan fasilitas pendukung ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu ruang rest area
sopir, mushola, toliet, serta tempat cuci. Bangunan fasilitas pendukung terletak di
sebelah belakang (utara) bangunan utama. Luas total bangunan fasilitas pendukung
adalah 90,00 m2.
1) Rest Area Sopir
Ruang rest area sopir ini digunakan untuk tempat istrirahat sopir pengangkut
bahan baku, untuk menunggu proses pengistirahatan ayam, pemeriksaan ante
mortem, dan penurunan bahan baku (ayam hidup). Luas ruangan rest area sopir
adalah 30,00 m2 (5 m x 6 m).
2) Mushola
Di RPA ini terdapat 2 ruang mushola, yaitu mushola yang berada pada bangunan
utama dan bangunan mushola pada bangunan fasilitas pendukung. Mushola pada
bangunan fasilitas pendukung ini terletak disebelah rest area sopir, dengan luasan
sebesar 36,00 m2 (6 m x 6 m).
3) Tempat Wudhu dan Toilet
Tempat wudhu dan toliet pada bangunan fasilitas pendukung direncanakan seluas
12 m2 (4 m x 3 m).
4) Tempat Cuci
Ruangan ini digunakan sebagai tempat cuci. Ruangan ini didesain dengan luas
sebesar 12 m2 (4 m x 3 m).

2-21
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Denah ruangan pada bangunan fasilitas pendukung selengkapnya dapat dilihat pada
Gambar 2.11.

Gambar 2.11 Denah Bangunan Fasilitas Pendukung

D. Bangunan IPAL
Bangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ini berfungsi sebagai tempat untuk
pengolahan limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi dan sanitasi. Lokasi
bangunan IPAL terletak di bagian belakang (utara). Luas bangunan IPAL adalah
170,00 m2 (17 m x 10 m). Bangunan IPAL terdiri dari kolam atau bak-bak pengolahan
limbah cair proses dan limbah cair sanitasi, yaitu untuk bak pemisah lemak (3 m x 2
m), kolam ekualisasi (3 m x 8 m), pengendapan awal (2 m x 5 m), anaerob 2 unit (6 m
x 5 m), aerob (12 m x 5 m), dan bak pengendap akhir (2 m x 5 m). Denah bangunan
IPAL dapat dilihat pada Gambar 2.12.

Gambar 2.12 Denah Bangunan IPAL

2-22
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

E. Area Unloading/Loading
1) Area Unloading
Area unloading merupakan area pada RPA yang digunakan untuk kegiatan
unloading atau penurunan bahan baku. Area ini mencakup tempat pengistirahatan
ayam dan pemeriksaan ante mortem, tempat penurunan ayam, dan tempat parkir
truk pengangkut bahan baku. Lokasi area unloading terletak di sebelah utara
bangunan utama. Luas area ini adalah 240,00 m2.
2) Area Loading
Area loading merupakan area pada RPA yang digunakan untuk kegiatan loading
atau pemuatan produk karkas. Area ini mencakup tempat pemuatan dan tempat
parkir kendaraan pengangkut produk. Lokasi area loading terletak di bagian depan
sebelah bangunan utama. Luas area loading adalah 280,00 m2.

F. Area Parkir
1) Area Parkir Mobil
Area parkir mobil diperuntukkan sebagai tempat parkir kendaraan roda 4 bagi
karyawan atau tamu yang berkunjung ke lokasi RPA. Area parkir mobil ini terletak
di bagian depa, sebelah selatan bangunan kantor utama. Area parkir mobil
direncanakan seluas 93,00 m2 (8 m x 11,625 m) dan diprakirakan mampu
menampung 5 unit kendaraan (5 SRP mobil).
2) Area Parkir Sepeda Motor
Area parkir sepeda motor diperuntukkan sebagai tempat parkir kendaraan roda 2
bagi karyawan atau tamu. Area parkir sepeda motor terletak disamping (sebelah
utara) bangunan kantor utama, Luas area parkir sepeda motor sebesar 48,00 m2
(8 m x 6 m), dan diprakirakan mampu menampung 30 unit kendaraan (30 SRP
sepeda motor).

G. Jalan Internal
Jalan internal ini sebagai penghubung antar bangunan atau area yang ada di lokasi
RPA. Lebar jalan internal direncanakan 2,5 m dengan perkerasan paving. Disamping
sebagai akses karyawan, jalan ini juga sebagai akses kendaraan pengangkut menuju
area unloading.

H. Ruang Terbuka Hijau


Keberadaan RTH ini memiliki fungsi estetis dan fungsi ekologis. Disamping untuk
meningkatkan keindahan pada lokasi RPA, vegetasi yang akan ditanam juga dapat
berperan sebagai reduktor gas polutan. Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada RPA
direncanakan dalam bentuk taman yang direncanakan di sekitar area parkir mobil,
sekitar bangunan kantor utama, sekitar area loading, sekitar rest area sopir dan di
sekitar area bangunan IPAL. Disamping berupa tanaman, penyediaan RTH juga
direncanakan dalam bentuk penanaman vegetasi pada pot-pot tanaman.

2-23
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.4.5 PERALATAN
Metode produksi yang digunakan RPA ini adalah semi otomatis, yang didukung
dengan mesin dan peralatan produksi yang modern. Jenis peralatan yang akan digunakan
oleh RPA milik CV. Arjuna Group dapat dikelompokkan menjadi alat produksi, alat
pendukung produksi, dan alat pengangkutan.

A. Alat Produksi
Alat produksi merupakan mesin dan peralatan yang terkait langsung dengan produksi
daging ayam. Pada sistem semi otomatis menggunakan railling system untuk
memindahkan bahan baku (ayam hidup) pada proses penerimaan hingga proses
perendaman karkas. Jenis peralatan yang digunakan meliputi penggantung ayam,
pemingsan ayam, peniris darah, pencelup air panas, pencabut bulu, meja eviserasi,
perendam karkas, peniris, penimbang karkas, mesin marinasi, mesin pemotong
pendingin, dan set pisau poultry.
1. Konveyor Penggantung Ayam (Hanging Conveyor)
Alat ini digunakan untuk menggantungkan bahan baku ayam hidup untuk diproses
lebih lanjut (dari pemingsanan hingga pencucian karkas). Alat penggantung ayam
ini akan melewati beberapa bagian dalam dalam proses produksi, yaitu pada
proses penggantungan ayam, pemingsanan ayam, penyembelihan halal, penirisan
darah, pencelupan air panas, pencabutan bulu, pengeluaran jeroan, dan proses
pemotongan leher dan kepala, hingga menuju proses pendinginan karkas. Pada
konveyor ini terdapat alat penggantung ayam (shackle hangger) yang akan
berputar melewati beberapa proses produksi tersebut. Dengan menggunakan
peralatan ini, proses produksi daging ayam menjadi lebih efektif, efisien, dan
higienis sehingga mengghasilkan produk yang berkualitas dan bermutu tinggi. Di
bawah ini adalah jenis konveyor yang akan digunakan dalam RPA.

Gambar 2.13 Alat Penggantung Ayam Sistem Conveyor (Hanging Conveyor)

2-24
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Spesifikasi konveyor yang akan digunakan adalah :


• Tipe : O Track (lintasan pipa)
• Panjang lintasan : 80 m
• Penggantung :
– Shackle hanger : 400 unit (stainless)
– Roda shackle : nylon
– Rantai penarik : galvanis ∅ 6 mm
– Rangka : pipa galvanis 4”
– Rail : pipa stainless ∅ 42 mm
• Penggerak : Elektro motor 5 HP
Alur konveyor secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.14.

Gambar 2.14 Alur Konveyor

2-25
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2. Pemingsan Ayam (Electric Stunner)


Alat ini digunakan untuk memingsankan ayam hidup agar mempermudah proses
penyembelihan ayam. Jenis alat pemingsan yang akan digunakan adalah
pemingsan elektrik (electrik stunner). Alat ini menggunakan media air pada bak
yang dialiri listrik yang berada pada sistem konyeor.
Spesifikasi pemingsan ayam adalah sebagai berikut :
– Voltase regulator : 0,5 kVA
– Tegangan kerja : DC 600 V / 250 mA
– Listrik : 220 / 50 Hz
– Bahan : plat stainless 1,2 mm
– Rangka : hollow stainless 40 mm x 40 mm
– Bak stuning : plastik

Gambar 2.15 Alat Pemingsan Ayam (Electric Stunner Machine)

3. Peniris Darah (Bleeding Through)


Alat ini berupa meja yang digunakan untuk menampung darah dari ayam yang
tegantung di konveyor setelah disembelih. Setiap ayam yang disembelih akan
melewati jalur 12 m untuk proses penirisan darah. Meja peniris darah memiliki
kemiringan yang diatur sedemikian rupa sehingga darah dapat mengalir menuju ke
luban pembuanan darah yang terhubung dengan saluran menuju instalasi
pengolahan limbah cair. Bahan material berupa stainless untuk mempemudah
proses pembersihan dan menghindari terjadinya korosif.
Spesifikasi meja peniris darah adalah sebagai berikut :
– Jumlah : 2 unit
– Dimensi (p x l x t) : 500 mm x 70 mm x 70 mm
400 mm x 70 mm x 70 mm
– Bahan : plat stainless 1 mm
– Rangka : hollow stainles 40 mm x 40 mm

2-26
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.16 Bak Peniris Darah (Bleeding Through)

4. Pencelup Air Panas (Automatic Scalder)


Alat ini berupa bak yang berisi air panas sebagai tempat untuk mencelupkan atau
merendam ayam yang tergantung di konveyor setelah ditiriskan darahnya, agar
proses pencabutan bulu lebih mudah. Pada bagian bawah bak terdapat pemanas
(burner) yang menggunakan bahan bakar Liquid Petroleum Gas (LPG) yang
ramah emisi dibandingkan dengan bahan bakar solar. Bahan bakar LPG akan
disuplay dari ruang LPG melalui perpipaan.
Spesifikasi automatic scalder adalah sebagai berikut :
– Dimensi (p x l x t) : 300 mm x 70 mm x 100 mm
– Bahan : plat stainless 1,2 mm
– Rangka : hollow stainles 40 mm x 40 mm
– Pemanas : burner, LPG
– Kontrol suhu : termostat

Gambar 2.17 Mesin Pencelup Air Panas (Automatic Scalder)

2-27
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

5. Pencabut Bulu (Automatic Standing Plucker)


Alat ini digunakan untuk mencabut bulu yang terinterasi dengan sistem konveyor.
Berbeda dengan drum plucker, mesin pencabut bulu ini bekerja secara otomatis
dalam pada konveyor. Alat ini terdiri dari 2 unit simetris yang berhadapan, yang
terdiri dari silinder karet berwarna hitam yang agak lentur. RPA ini direncanakan
dengan 2 unit pencabut bulu dengan fungsi yang berbeda, yaitu untuk pencabutan
bulu kasar, dan pencabutan bulu halus, sehingga dihasilkan karkas yang bersih.
Spesifikasi automatic standing plucker adalah sebagai berikut :
– Jumlah : 2 unit
– Dimensi (p x l x t) : 270 mm x 120 m x x180 m
– Bahan : stainless 3 mm, 1 mm
– Rangka : hollow stainless 50 mm x 50 mm
– Disc plucker : 72 unit
– Penggerak : 4 unit motor 2 HP

Gambar 2.18 Mesin Pencabut Bulu (Standing Plucker)

6. Meja Eviserasi (Eviceration Table)


Alat ini berupa meja yang digunakan sebagai tempat pembersihan eviserasi
(jeroan, hati, jantung, usus). Proses eviserasi dilakukan secara semi otomatis,
dimana proses pemotongan kepala dan lehaer, pengeluaran jeroan, serta
pemotongan kaki dan ceker pada konveyor yang berjalan dilakukan dengan
tenaga manusia pada meja eviserasi. Pada bagian tengah meja terdapat celah
berbentuk U sebagai tempat penampungan jeroan yang dibuat miring ke arah
penampung jeroan.
Spesifikasi meja eviserasi adalah sebagai berikut :
– Dimensi (p x l x t) : 700 mm x 120 mm x 70 mm
– Bahan : stainless 1,2 mm
– Rangka : hollow stainless 40 mm x 40 mm

2-28
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.19 Meja Eviserasi

7. Perendam Karkas (Screw Chiller)


Alat ini berfungsi sebagai tempat untuk pencucian dan pendinginan karkas secara
otomatis. Penambahan klorin dan air es dilakukan dilakukan dengan dozing pump.
Air bekas pencucian ini akan dialirkan pada saluran yang menuju instalasi
pengolahan limbah cair.
Spesifikasi screw chiller adalah sebagai berikut :
– Dimensi (p x l x t) : 900 mm x 150 mm x 120 mm
– Bahan : stainless 3 mm
– Penggerak : elektrik motor
– Gear box : WPA 100 dan 80

Gambar 2.20 Mesin Perendam Karkas

2-29
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

8. Peniris Karkas (Dripping Drum)


Alat ini digunakan untuk mengurangi jumlah air yang terbawa saat setelah melalui
proses pencucian dan pendinginan karkasa pada screw chiller, sehingga tidak
perlu menunggu waktu lama untuk proses selanjutnya.
Spesifikasi dripping drum adalah sebagai berikut :
– Dimensi (p x l x t) : 300 m x 70 m x 180 m
– Bahan : plat stainless 2 mm dan 1,2 mm, pipa 0,5”, ASS 12 mm
– Penggerak : elektrik motor
– Gearbox : WPA 80

Gambar 2.21 Mesin Peniris Karkas

9. Penimbang (Weighing Machine)


Alat ini digunakan untuk menimbang berat unggas atau ayam hidup dalam
keranjang dan menimbang berat produk karkas yang dihasilkan. Timbangan yang
digunakan dalam RPA berupa timbangan digital untuk mempermudah proses
pembacaan. Tipe timbangan yang digunakan adalah timbangan duduk top table
dengan kapasitas 10 kg.

Gambar 2.22 Penimbang Karkas

2-30
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

10. Mesin Pemotong Karkas (Parting Machine)


Alat ini berupa mesin pemotong yang menggunakan pisau baja berbentuk cakram
(dics blade) yang bergerak memutar searah dengan menggunakan prinsip rotasi
dan digerakkan motor listrik. Mesin parting ini digunakan untuk memudahkan
pemotongan karkas menjadi beberapa bagian tergantung dari permintaan
konsumen.

Gambar 2.23 Mesin Pemotong Karkas

11. Mesin Marinasi (Chicken Marinator Machine)


Alat ini merupakan mesin untuk mencampur bumbu ayam dengan potongan
karkas ayam dengan cepat dan merata, serta higienis. Dengan menggunakan alat
ini lebih menghemat waktu untuk proses marinasi daripada menggunakan cara
konvensional.

12. Mesin Pengemas (Packaging Machine)


Mesin pengemas berfungsi untuk mengikat kemasan dengan perekat sesuai
dengan pesanan. Prinsip kerja alat tersebut adalah kemasan ditekan ke bawah
sehingga perekat yang berbentuk silinder tersebut mengikat kemasan dan
terpotong karena ada gerigi-gerigi sebagai pemotong perekat.

2-31
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

13. Rak Troli (Blast Freezer Trolley)


Alat ini berupa rak yang dilengkapi dengan roda penggerak, yang digunakan untuk
meletakkan produk yang akan dimasukkan dalam ruang pembekuan cepat (blast
freezer). Rak troli ini terbuat dari bahan stainless dengan jumlah tingkat 12 dan
kapasitas 250 produk kemasan.

Gambar 2.24 Rak Troli (Blast Freezer Trolley)

14. Pisau Stainless


Pisau stainless terbuat dari bahan stainless stell yang berfungsi untuk
mengerjakan semua proses pemotongan dalam RPA. Pisau ini mencakup pisau
penyembelih untuk menyembelih ayam hidup dalam satu kali tarik sesuai kaidah
kehalalan, set pisau eviserasi untuk pemotongan kepala dan leher, pengeluaran
jeroan, serta pemotongan kaki dan ceker, dan pisau boning untuk memisahkan
daging dan tulang.

15. Keranjang
Keranjang berfungsi sebagai tempat untuk menampung bahan baku, produk, dan
hasil sampingan, sehingga jenis keranjang yang digunakan meliputi keranjang
ayam hidup (bahan baku), keranjang karkas (produk), dan dan keranjang evis
(hasil sampingan berupa kepala dan leher, kaki dan ceker). Keranjang terbuat dari
bahan plastik dengan warna yang berbeda untuk membedakan fungsi masing-
masing keranjang.

16. Kipas Angin (Blower)


Alat ini berfungsi untuk memberikan udara segar pada area unloading untuk
mencegah ayam dari kepanasan yang menyebabkan ayam stres selama proses
pengistirahatan ayam, sebelum proses penggantungan ayam. Kipas angin ini
memiliki diameter 1 m yang digerakkan oleh elektrik motor.

2-32
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

B. Alat Pendingin
Alat pendingin ini berfungsi untuk membekukan produk atau mendinginkan produk
dalam ruang pendingin, baik pada air blast freezer room, chiller room, maupun cold
storage. Alat pendingin merupakan unit refrigeran yang terdiri dari condensing unit dan
evaporator. Jenis alat pendingin yang digunakan adalah air blast freezer, blast chiller
dan cold storage freezer. Alat pendingin ini terletak pada ruang mesin dan ruang
genset.
1. Air Blast Freezer
Alat ini untuk membekukan produk karkas yang ada dalam air blast freezer room.
Alat ini terdiri dari condensing unit dan evaporator. Condensing unit menggunakan
kompresor Bitzer semihermetic 4 TES, aircooled condenser, receiver tank, check
valve, filter dryer, sight glass, solenoid valve, accumulator, Hp/Lp pressure switch.
Evaporator menggunakan Muller MHDE, thermo expasion valve emmerson
/danfoss panel kontrol untuk menjalankan unit secara PWS piping, wiring.
2. Blast Chiller
Alat ini untuk mendinginkan ruang penyimpanan produk karkas segar (chilling
room). Blast chiller terdiri dari condensing unit dan evaporator. Condensing unit
menggunakan Hermetic Danfoss Maneurop MTZ, aircooled condenser, check
valve, receiver tank, filter dryer, sight glass, solenoid valve, shutt off valve,
accumulator, Hp/Lp pressure switch. Evaporator menggunakan Muller MHD,
thermo expansion valve danfoss/emmerson, panel control, piping, wiring, plastic
curtain.
3. Cold Storage Freezer
Alat ini digunakan untuk mendinginkan karkas dalam ruang penyimpanan beku
(cold storage). Cold strorage freezer terdiri dari condensing unit dan evaporator.
Condensing unit menggunakan kompresor Danfoss maneurop MTZ, yang
dilengkapi dengan aircooled condenser, check valve, receiver tank, filter dryer,
sight glass, solenoid valve, shut off valve, accumulator, Hp/Lp pressure switch.
Sedangkan evaporator menggunakan Kewely, yang dilengkapi dengan thermo
expansion valve danfoss/emmerson, panel control, piping, wiring.

C. Alat Pembersih
Alat pembersih ini merupakan peralatan yang digunakan untuk pembersihan dalam
RPA, baik pembersihan ruangan maupun peralatan. Alat pembersih yang akan
digunakan antara lain pembersih penggatung ayam (shackle washer), pembersih lantai
ruangan (power sprayer), tempat cuci tangan (wastafel), dan pembersih alas kaki
(footbath).
1. Pembersih Pengantung Ayam (Shackle Washer)
Sesuai dengan namanya, alat ini digunakan untuk pembersih penggantung ayam
(schackle washer). Penggantung ayam yang kosong dari lokasi peredam karkas

2-33
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

akan melewati mesin shackle washer. Sikat mesin pembersih akan berputar
membersihkan penggantung ayam yang lewat.

Gambar 2.25 Pembersih Penggatung Ayam (Shackle Washer)

2. Pembersih Lantai dan Ruangan (Power Sprayer)


Pembersih lantai (Power Sprayer) adalah alat kebersihan yang dibutuhkan di RPA
yang berfungsi untuk membersihkan lantai dari bercak darah dan kotoran dengan
air bertekanan tinggi (tekanan 100 bar).

Gambar 2.26 Pembersih Lantai dan Ruangan

3. Tempat Cuci Tangan (Wastafel)


Alat ini ini digunakan sebagai tempat cuci tangan bagi pekerja maupun penunjung
di lokasi RPA. Alat ini berupa wastafel yang dilengkapi dengan pedal agar tangan
tidak menyentuh kran air setelah mencuci tangan. Tempat cuci tangan ini
dilengkapi dengan sabun dan pengering tangan. Alat ini terletak pada masing-
masing ruang ganti pekerja.

2-34
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.27 Tempat Cuci Tangan (Wastafel)

4. Pembersih Alas Kaki (Foot bath)


Alat ini digunakan sebagai tempat mencuci alas kaki atau boot pekerja atau
pengunjung di RPA. Tujuannya adalah supaya kotoran dari luar ruangan tidak
masuk ke dalam. Karena itu setiap karyawan atau pengunjung diwajibkan
memakai sepatu boot berbahan karet.

Gambar 2.28 Pencuci Alas Kaki (Foot bath)

5. Alat Sterisasi Pisau (Knives Sterilizer)


Alat ini digunakan untuk mensterilkan alat pemotong (pisau) yang dipakai di dalam
proses produksi di RPA. Menggunakan konstruksi stainless steel, dan diposisikan
digantung di dinding (wall hanging). Selain itu proses untuk sterilasasi pisau
menggunakan sinar UV , dan untuk menghilangkan sisa air yang mungkin masih
ada di pisau, disediakan juga pemanas.Untuk menghindari kemungkinan lupa
mematikan peralatan, disediakan timer maksimal 5 menit.

2-35
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.29 Alat Sterilisasi Pisau (Knives Sterilizer)

D. Alat Pelindung Diri (APD)


Menurut SNI 01-6160-1999 tentang Rumah Potong Unggas, perlengkapan standar
untuk pekerja pada proses pemotongan dan penanganan daging adalah pakaian kerja
khusus, apron plastik, penutup kepala, penutup hidung dan sepatu boot. Secara garis
besar, alat pelindung diri yang digunakan dalam RPA ini adalah pelindung kepala,
pelindung badan, pelindung tangan, dan pelindung kaki.
1. Pelindung Kepala
APD ini untuk melindungi bagian kepala secara keseluruhan, baik rambut, mata,
telinga, hidung dan mulut, serta pelindung kepala pada area pendingin (chiller
room, cold storage, blast freezer room).

Safety Glass
Hair Cap Skull Cap Earplug

Masker
Masker (Respirator) Beard Cover
Cold Storage Hood

Gambar 2.30 Alat Pelindung Diri Bagian Kepala

2. Pelindung Badan
APD ini untuk melindungi badan, yang terdiri dari pakaian kerja khusus (protective
coat), apron, dan jaket untuk area pendingin.

2-36
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Protective Coat Apron Cold Storage Coverall

Gambar 2.31 Alat Pelindung Diri Bagian Badan

3. Pelindung Tangan
APD ini untuk melindungi bagian tangan baik pada saat penyembelihan, maupun
penanganan karkas. APD ini berupa sarung tangan dengan berbagai bahan
sesuai dengan fungsinya.

Handling Gloves Disposable Gloves


Cut Resistent Gloves Hot Water Gloves

Gambar 2.32 Alat Pelindung Diri Bagian Tangan

4. Pelindung Kaki
APD ini untuk melindungi bagian kaki, yang terdiri dari safety boot, safety clog, dan
disposable over shoes.

Safety Clog Dispopable Over Shoes


Safety Boot

Gambar 2.33 Alat Pelindung Diri Bagian Kaki

2-37
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

E. Alat Pengangkut
Alat pengangkut yang akan digunakan antara lain troli keranjang, kendaraan
kendaraan pengangkut bahan baku, dan kendaraan pengangkut produk.
1. Troli Keranjang (Trolley)
Alat ini digunakan untuk memindahkan tumpukkan keranjang ayam hidup (dari
tempat pengistirahatan ayam) atau untuk memindahkan tumpukkan keranjang
produk (karkas) dan hasil sampingan (jeroan). Flat plat troli dari bahan stainless
dengan luas 100 mm x 70 mm dan tinggi 80 mm. Kapasitas troli 500 kg. Pada
RPA ini dibedakan antara troril keranjang ayam hidup dan troli keranjang produk.

Gambar 2.34 Troli Keranjang (Trolley)

2. Kendaraan Pengangkut Bahan Baku


Kendaraan pengangkut bahan baku ini berupa truk engkel dengan bak yang telah
dimodifikasi untuk pengangkut ayam hidup dalam keranjang. Kapasitas truk
pengangkut ini adalah 3.000 kg sebanyak 2 unit. Dengan jumlah bahan baku ayam
hidup sebesar 24.000 kg/hari maka jumlah ritasi masing-masing truk pengangkut
adalah 2 kali per hari.
3. Kendaraan Pengangkut Produk
Kendaraan pengangkut produk berupa karkas ini berfungsi untuk mengangkut
karkas dingin dan segar (fresh) dan karkas beku (frozen). Kendaraan ini berupa
truk yang dilengkapi dengan box freezer yang dapat mengontrol suhu ruangan
dalam box sesuai kebutuhan. Kendaraan yang akan digunakan untuk pengangkut
daging ini mengacu pada SNI 01-6160-1999, yaitu sebagai berikut :
– Box pada kendaraan untuk mengangkut daging unggas tertutup.
– Lapisan dalam box pada kendaraan pengangkut daging terbuat dari bahan
yang tidak toksik, tidak mudah korosif, mudah dibersihkan dan didesinfeksi,
mudah dirawat serta mempunyai sifat insulasi yang baik.
– Box dilengkapi dengan alat pendingin yang dapat mempertahankan suhu
bagian dalam daging unggas segar maksimum +4 0C.
– Suhu ruangan dalam boks kendaraan pengangkut daging unggas beku
maksimum adalah –18 0C.

2-38
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.4.6 SISTEM PENYEDIAAN AIR


Sistem penyediaan air untuk pengoperasian RPA CV. Arjuna Group mencakup
prakiraan kebutuhaan air bersih, sumber penyediaan air bersih, serta fasilitas bersih.
Uraian sistem penyediaan air bersih adalah sebagai berikut ini.

A. Kebutuhan Air Bersih


Kriteria Kebutuhan Air Menurut SNI 01-6160-1999
Menurut SNI 01-6160-1999 tentang Rumah Potong Unggas, air bersih yang harus
disediakan untuk RPA sebesar 25-35 liter/ekor/hari dengan kualitas air yang
memenuhi persyaratan kualitas air minum. Persyaratan kualitas air minum diatur
dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 Tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.
Kriteria Kebutuhan Air RPA Tiap Penggunaan
Jumlah kebutuhan air yang dipergunakan untuk pengoperasian RPA CV. Arjuna Group
direncanakan sebesar 399,92 m3/hari. Air bersih ini digunakan untuk proses produksi
(processing) diprakirakan sebesar 330,72 m3/hari, untuk pembersihan ruangan dan
peralatan (washing) sebesar 59,20 m3/hari, untuk kebutuhan domestik (domestic)
sebesar 6,00 m3/hari, serta penyiraman taman dan halaman sebesar 4,00 m3/hari.
Rincian penggunaan air bersih terinci pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Prakiraan Kebutuhan Air Bersih


Debit
No Penggunaan
(m3/hari)
1 Proses Produksi (Processing) 330,72
2 Pembersihan Ruangan dan Peralatan (Washing) 59,20
3 Domestik (Domestic) 6,00
4 Penyiraman Taman dan Halaman (watering) 4,00
Jumlah 399,92
Sumber : Estimasi, 2019

Berdasarkan tabel diatas dapat diprakirakan bahwa kebutuhan rata-rata air bersih RPA
untuk tiap ekor sebesar 25 liter/ekor/hari (memenuhi ketentuan SNI 01-6160-1999).
Kriteria dan jumlah kebutuhan air bersih untuk masing-masing penggunaan dapat
dijelaskan sebagai berikut ini.
• Proses produksi (Process)
Pada proses produksi, air bersih digunakan untuk slaughtering, scalding, plucking
whole bird wash, evicerating, final bird wash, chilling, cutting/deboning, dan
packaging. Kriteria kebutuhan air untuk proses produksi dalam RPA ini mengacu
pada standar dan kriteria yang dikemukakan oleh Avula, Nelson, and Singh (2009)
dalam buku Recycling of Poultry Process Wastewater by Ultrafiltration
sebagaimana Tabel 2.6.

2-39
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Tabel 2.6 Kriteria dan Prakiraan Kebutuhan Air untuk Proses Produksi
Kriteria Kebutuhan
No Penggunaan
(L/ekor/hari) (m3/hari)
1 Slaughtering 0,19 3,04
2 Scalding 0,95 15,20
3 Plucking 1,14 18,24
4 Whole Bird Wash 1,32 21,12
5 Evicerating 7,75 124,00
6 Final Bird Wash 3,03 48,48
7 Chilling 2,12 33,92
8 Cutting/Deboning 3,03 48,48
9 Packaging 1,14 18,24
Jumlah 330,72
Sumber : Avula, Nelson, and Singh 2009

• Pembersihan ruangan dan peralatan (Washing)


Kriteria dan prakiraan kebutuhan air untuk pembersihan lantai dan ruangan
(washing) mengacu pada standar yang dikemukakan oleh Steffen, Robertson and
Kirsten (1988) dalam A Guide To Water And Waste-Water Management In The
Poultry Abattoir Industry sebagaimana terinci pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7 Kriteria dan Kebutuhan Air untuk Pembersihan Lantai dan Ruangan
Kriteria Kebutuhan
No Penggunaan
(L/ekor/hari) (m3/hari)
1 Floor & equipment washdown 2,90 46,40
2 Crate washing 0,30 4,80
3 Truck washing 0,50 8,00
Jumlah 59,20
Sumber : Steffen, Robertson and Kirsten, 1988

Berdasarkan tabel diatas maka kebutuhan air yang diperlukan untuk pembersihan
lantai dan ruangan adalah sebesar 59,20 m3/hari, dengan dominasi penggunaan
untuk pembersihan lantai dan peralatan, yaitu 46,40 m3/hari.
• Domestik (Domestic)
Kriteria kebutuhan air untuk domestik digunakan asumsi 100 liter/orang/hari.
dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 60 orang, maka kebutuhan air diprakirakan
sebesar 6 m3/hari. Kebutuhan air domestik ini digunakan untuk operasional kantor,
toilet, dan majid.
• Penyiraman taman dan halaman (Watering)
Disamping untuk proses produksi (process), pembersihan ruangan dan peralatan
(washing), dan domestik (domestic), air bersih juga diperlukan untuk penyiraman
taman dan halaman (watering). Kebutuhan air bersih untuk penyiraman taman dan
halaman diprakirakan sebesar 4 m3/hari.

2-40
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

B. Sumber Air Bersih


Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk operasional RPA CV. Arjuna Group
direncanakan berasal bersumber dari air tanah (ground water) dengan sistem
pemompaan (sumur bor/sumur dalam). Debit pengambilan air tanah direncanakan
sebesar ± 278 liter/menit (± 4,63 liter/detik).

C. Fasilitas Air Bersih


Fasilitas air bersih mencakup fasilitas pengambilan air bersih (pompa air), fasilitas
penampungan (tangki penampung), dan fasilitas distribusi (jaringan perpipaan).
• Pompa Air
Pompa air digunakan untuk memompa air bersih pada sumur. Spesifikasi pompa
air yang digunakan adalah sebagai berikut :
– Jumlah : 1 unit
– Kapasitas : 300 liter/menit
– Daya : 750 W
– Daya hisap : 9m
– Total head : 25 m
– Otomatis : Ya
• Tangki Penampung
Tangki penampung air bersih untuk menampung air bersih dari sumur bor. Tangki
penampung yang akan digunakan RPA adalah sebagai berikut :
– Jumlah : 2 unit
– Kapasitas : 5000 Liter
– Bahan : Triple layer
• Jaringan Perpipaan
Jaringan perpipaan ini meliputi perpipaan dari sumur bor ke tangki penampung,
serta jaringan perpipaan dari tangki penampung ke tiap unit bangunan atau
peralatan yang membutuhkan air bersih.

D. Neraca Air Bersih


Neraca air bersih untuk pengoperasian RPA CV. Arjuna Group selengkapnya dapat
dilihat pada Gambar 2.35.

2-41
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.35 Neraca Air Tahap Operasi

2-42
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.4.7 SISTEM PENYEDIAAN ENERGI


Energi yang digunakan untuk operasional RPA CV. Arjuna Group mencakup energi
listrik dan bahan bakar. Sistem penyediaan energi RPA adalah sebagai berikut :

A. Energi Listrik
Energi listrik untuk operasional RPA diperoleh dari generator set (genset) serta dari
jaringan PT. PLN (Persero).
• Generator Set (Genset)
Generator set atau genset ini berfungsi sebagai sumber energi listrik untuk proses
produksi. Kapasitas genset direncanakan sebesar 100 kVA dengan tipe ultra silent
yang telah dilengkapi dengan silent box untuk meminimalisir kebisingan.
Spesifikasi genset yang digunakan adalah sebagai berikut :
– Kapasitas : 100 kVA
– Tipe : Silent (65 dBA)
– Bahan bakar : Solar
– Kapasitas pelumas : 8 liter
• Jaringan Listrik PT. PLN (Persero)
Energi listrik dari jaringan PT. PLN (Persero) digunakan untuk operasional kantor
dan penerangan. Jaringan listrik ini direncanakan dengan daya terpasang sebesar
11.000 kVA.

B. Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan untuk operasional RPA ini adalah minyak (solar) dan gas
(Liquied Petroleum Gas – LPG). Kebutuhan bahan bakar untuk operasional RPA
direncanakan sebagai berikut :
• Minyak (Solar)
– Kebutuhan : 80 liter/hari
– Sumber : PT. Pertamina (Persero)
– Penggunaan : Operasional genset
• Gas (LPG)
– Kebutuhan : 12 kg/hari
– Sumber : PT. Pertamina
– Penggunaan : Pemanas air untuk proses scalding

2.4.8 SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH


Jenis limbah yang dihasilkan dari operasional RPA mencakup limbah cair, limbah
padat, limbah gas, dan limbah B3. Sistem pengelolaan limbah cair di RPA CV. Arjuna
Group secara garis besar dirangkum dalam Tabel 2.8.

2-43
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Tabel 2.8 Sistem Pengelolaan Limbah


No Limbah Jenis Besaran Pengelolaan
3
1 Limbah Limbah cair proses (& darah) 326,82 m /hari IPAL kapasitas 400
Cair Limbah cair sanitasi 3
49,92 m /hari m3/hari

Limbah cair domestik 4,80 m3/hari Tangki septik 3 unit


kapasitas 2 m3
Limpasan penyiraman 4 m3/hari Meresap
2 Limbah Kotoran ayam 50 kg/hari Pewadahan :
Padat Bulu ayam 922 kg/hari - Wadah 1 m3, 2 unit
(untuk bulu dan jeroan
Jeroan kotor 934 kg/hari kotor)
Tulang 100 kg/hari - Wadah 120 L, 3 unit
Bekas kemasan 10 kg/hari (untuk kotoran ayam,
tulang, dan bekas
Domestik 18 liter/hari kemasan)
- Wadah 40 L tiap unit
ruangan (untuk limbah
domestik domestik)
Pengangkutan :
- Kerjasama dengan
masyarakat sekitar
yang mengambil
produk sampingan
(bulu, jeroan, tulang)
untuk dikelola lebih
lanjut (dibersihkan
/diolah/ dijual).
- Kerjasama dengan
Bank Sampah di Desa
Madigondo dan
sekitarnya dalam
pengelolaan limbah
domestik dan kotoran
ayam.
Sludge IPAL 8,9 kg/hari Kerjasama dengan Bank
Sampah di Desa
Madigondo
3 Limbah Emisi genset : - Pemeliharaan RTH
Gas - CO 0,0778 g/s yang memiliki fungsi
- HC 0,0042 g/s estetika dan fungsi
ekologis (reduktor
- NOx 0,0089 g/s
polutan gas).
- PM/TSP 0,0006 g/s
- Penggunaan
Emisi kendaraan : kendaraan yang lulus
- CO 2,96 g/km uji emisi.
- HC 1,84 g/km - Penggunaan genset
- NOx 1,56 g/km rendah emisi.
- PM/TSP 0,24 g/km
Bau (NH3) > 2 ppm - Penggunaan APD
- Pengelolaan kotoran
ayam

2-44
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

No Limbah Jenis Besaran Pengelolaan


4 Limbah Minyak pelumas 3,024 ton/hari Pewadahan :
B3 Filter pelumas 0,016 ton/hari - Drum logam 200 liter, 1
unit.
Filter udara genset 0,010 ton/hari
- Drum logam open top
Aki genset 0,025 ton/hari 200 liter, 2 unit.
Drum minyak pelumas 0,160 ton/hari Pengumpulan :
Kain majun 0,050 ton/hari - TPS limbah B3
Pengangkutan :
Lampu TL 0,004 ton/hari
- Kerjasama dengan
Cattridge 0,003 ton/hari perusahaan
pengangkut limbah B3
yang berizin.
Sumber : Estimasi, 2019

CV. Arjuna Group berkomitmen untuk melaksanakan pengelolaan limbah yang


dihasilkan dari kegiatan operasional RPA secara tepat dan konsisten, agar tidak
menimbulkan dampak atau pengaruh yang negatif terhadap lingkungan hidup di sekitarnya.
Upaya pengelolaan limbah baik limbah cair, limbah padat, limbah gas, maupun limbah B3
dapat diuraikan dalam beberapa bagian berikut ini.

A. Pengelolaan Limbah Cair


Penggunaan air bersih untuk operasional RPA memberikan konsekuen terhadap
timbulnya limbah cair, baik limbah cari dari proses produksi, limbah cair sanitasi
(pembersihan ruangan dan peralatan), limbah cair domestik, dan limpasan
penyiraman. Disamping dari penggunaan air bersih, limbah cair yang dihasilkan RPA
berupa darah yang dihasilkan dari proses penyembelihan halal (slaughtering/killing).
• Debit Limbah Cair
Berdasarkan neraca penggunaan air bersih pada Gambar 2.35 sebelumnya, maka
prakiraan besarnya debit limbah cair yang dihasilkan oleh RPA CV. Arjuna Group
adalah 381,54 m3/hari, yang terdiri dari limbah cair proses (dan darah) sebesar
326,82 m3/hari, limbah cair sanitasi sebesar 49,92 m3/hari, limbah cair domestik
sebesar 4,80 m3/hari, dan limpasan penyiraman sebesar 4,00 m3/hari.

Tabel 2.9 Prakiraan Debit Limbah Cair

Jenis Limbah Cair Debit


No Pengolahan Efluen
(m3/hari)
1 Limbah Cair Proses 326,82 IPAL Saluran pembuangan :
2 Limbah Cair Sanitasi 49,92 IPAL 381,54 m3/hari

3 Limbah Cair Domestik 4,80 Tangki Septik,


limpasan masuk IPAL
4 Limpasan Penyiraman 4,00 Meresap -
Jumlah 385,54
Sumber : Estimasi, 2019

2-45
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

• Pengolahan Limbah Cair


Secara garis besar pengelolaan limbah cair RPA ini dilakukan dengan
pengoperasian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan penyediaan tangki
septik (septic tank). Untuk limpasan air dari penyiraman (watering) langsung
meresap ke tanah.
 Pengoperasian IPAL
Kapasitas IPAL direncanakan sebesar 400 m3/hari. Limbah cair yang akan
diolah pada IPAL adalah limbah cair proses sebesar 326,82 m3/hari dan
limbah cair sanitasi sebesar 49,92 m3/hari. Karakteristik limbah cair ini adalah
sebagai berikut (Williams, 2017) :
Karakteristik limbah cair proses :
– BOD = 1.190 – 2.624 mg/L
– COD = 2.360 – 4.690 mg/L
– TSS = 640 – 1.213 mg/L
– Minyak &Lemak = 249 – 702 mg/L
– NH3 = 20 – 68 mg/L
– pH = 6,5 – 7,0
Karakteristik limbah cair sanitasi :
– BOD = 436 – 1.350 mg/L
– COD = 1.004 – 1.745 mg/L
– TSS = 180 – 473 mg/L
– Minyak &Lemak = 76 – 166 mg/L
– NH3 = 21 – 71 mg/L
– pH = 6,5 – 6,9
Limbah cair tersebut akan diolah pada IPAL dengan debit efluen IPAL sebesar
374,74 m3/hari, dan dengan kualitas yang memenuhi baku mutu limbah cair
sesuai Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 72 Tahun 2013 Tentang Baku
Mutu Air Limbah Bagi Industri dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya,
sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 54
Tahun 2015. Baku mutu limbah cair tersebut terdapat dalam Lampiran III
Angka 2 (Baku Mutu Air Limbah bagi Kegiatan Rumah Potong Hewan).
Baku mutu limbah cair kegiatan RPA :
– BOD = 100 mg/L
– COD = 200 mg/L
– TSS = 100 mg/L
– Minyak &Lemak = 15 mg/L
– NH3 = 25 mg/L
– pH = 6–9

2-46
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

 Penyediaan Tangki Septik


Debit limbah cair domestik yang dihasilkan dari aktivitas tenaga kerja sebesar
4,80 m3/hari. Pengelolaan limbah cair domestik dilakukan dengan cara
penyediaan tangki septik sebanyak 3 unit dengan kapasitas 2 m3. Limpasan
air dari tangki septik selanjutnya dialirkan ke IPAL.
• Diagram Alir Pengelolaan Limbah Cair
Diagram alir pengelolaan limbah cair di RPA CV. Arjuna Group secara lebih jelas
dapat dilihat pada Gambar 2.36.

2-47
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.36 Diagram Alir Pengelolaan Limbah Cair

2-48
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

B. Pengelolaan Limbah Padat


Pengelolaan limbah padat RPA CV. Arjuna Group dilakukan dari sumber sampah
(timbulan sampah), aspek pewadahan, pengumpulan, dan aspek pengangkutan limbah
padat. Pengelolaan limbah padat tersebut dijelaskan sebagai berikut.
• Timbulan Limbah Padat
Pada operasional RPA, limbah padat dihasilkan dari proses produksi, kegiatan
domestik, dan pengoperasian IPAL. Besarnya limbah padat yang dihasilkan
secara umum adalah 1,50 m3/hari. Prakiraan timbulan limbah padat RPA terinci
pada Tabel 2.10.

Tabel 2.10 Prakiraan Timbulan Limbah Padat


Sumber Limbah Jenis Limbah Timbulan Densitas Timbulan
No
Padat Padat (kg/hari) (kg/m3) (m3/hari)
1 Proses Produksi Kotoran ayam 50 1.034 0,05
Bulu ayam 922 1.363 0,68
Jeroan kotor 934 1.547 0,60
Tulang 100 1.700 0,06
Bekas kemasan 10 120 0,08
)
2 Kegiatan domestik Sampah domestik 18* - 0,02
3 Operasional IPAL Sludge IPAL 8,9 721 0,01
Jumlah 1,50
Sumber : Estimasi, 2019
Keterangan :
*) satuan liter/hari

• Pewadahan dan Pengumpulan Limbah Padat


Pewadahan dan pengumpulan limbah padat dilakukan dengan penyediaan
fasilitas pewadahan baik berupa wadah/tempat sampah, maupun kontainer mini
beroda, sesuai dengan masing-masing jenis limbah padat yang dihasilkan.
Berdasarkan jenis dan timbulan limbah padat, penyediaan fasilitas pewadahan di
RPA ini direncanakan sebagaimana pada Tabel 2.11.

Tabel 2.11 Fasilitas Pewadahan Limbah Padat


Jenis Limbah Timbulan Fasilitas Pewadahan
Padat (m3/hari) Jenis Kapasitas Jumlah
Kotoran ayam 0,05 Wadah Kotoran 120 L 1 unit
3
Bulu ayam 0,68 Mini kontainer beroda 1m 1 unit
3
Jeroan kotor 0,60 Mini kontainer beroda 1m 1 unit
Tulang 0,06 Wadah Tulang 120 L 1 unit
Bekas kemasan 0,08 Tempat sampah beroda 120 L 1 unit
Sampah domestik 0,02 Tempat sampah 40 L 1 unit/ruang
Sludge IPAL 0,01 Tempat sampah 50 L 1 unit
Sumber : Estimasi, 2019

2-49
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

• Pengangkutan Limbah Padat


Limbah padat yang dihasilkan dan dikumpulkan selanjutnya diangkut ke luar lokasi
RPA. Pengangkutan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan masyarakat
sekitar dan Bank Sampah, yang direncanakan sebagai berikut :
– Limbah padat berupa jeroan kotor dari proses produksi akan diangkut oleh
masyarakat sekitar di lokasi RPA, untuk dibersihkan dan dijual kembali.
Besarnya limbah padat ini adalah 0,60 m3/hari.
– Limbah padat berupa bulu ayam, dan tulang dari proses produksi akan
diangkut oleh masyarakat di sekitar RPA untuk diolah lebih lanjut menjadi
pakan ikan dan kerajinan (kemucing).
– Limbah padat berupa bekas kemasan dari proses produksi, limbah domestik,
sludge IPAL, dan kotoran ayam akan diangkut melalui kerjasama dengan
Bank Sampah yang ada di Desa Madigondo dan sekitarnya untuk pengelolaan
limbah lanjut (komposting, daur ulang, dll).
• Diagram Alir Pengelolaan Limbah Padat
Diagram alir pengelolaan limbah pada pada RPA CV. Arjuna Group secara lebih
jelas dapat dilihat pada Gambar 2.37.

2-50
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.37 Diagram Alir Pengelolaan Limbah Padat

2-51
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

C. Pengelolaan Limbah Gas


• Jenis Limbah Gas
Jenis limbah gas yang dihasilkan oleh RPA berupa emisi gas buang mesin dan
kendaraan, serta bau. Prakiraan besarnya emisi gas buang tersebut adalah
sebagai berikut ini.
 Emisi gas buang
Emisi genset :
– Karbon Monoksida (CO) = 0,0778 gr/s
– Hidrokarbon (HC) = 0,0042 gr/s
– Nitrogen Oksida (NOx) = 0,0089 gr/s
– Partikulat (PM/TSP) = 0,0006 gr/s
Emisi kendaraan :
– Karbon Monoksida (CO) = 2,96 gr/km
– Hidrokarbon (HC) = 1,84 gr/km
– Nitrogen Oksida (NOx) = 1,56 gr/km
– Partikulat (PM/TSP) = 0,24 gr/km
 Bau
Parameter bau yang dimaksud ini adalah NH3 yang bersumber dari kotoran
ayam. Besarnya konsentrasi NH3 hingga menimbulkan bau diprakirakan telah
melebihi 2 ppm.
• Pengelolaan Limbah Gas
Pengelolaan limbah gas, baik emisi gas buang mesin dan kendaraan, maupun
timbulnya bau di RPA CV. Arjuna Group direncanakan sebagai berikut :
 Pemeliharaan RTH
RPA yang ada di lokasi RPA selain memiliki fungsi estetika (keindahan) juga
memiliki fungsi ekologis sebagai reduktor polutan udara. Pemeliharaan
dilakukan dengan cara penyiraman dan pemotongan tanaman.
 Penggunaan APD
Penggunaan APD ini bertujuan untuk mencegah paparan limbah gas baik
emisi gas maupun bau bagi tenaga kerja. APD yang digunakan berupa
masker yang sesuai SNI.
 Penggunaan kendaraan yang lulus uji emisi.
Kendaraan yang telah lulus uji emisi ini akan mencegah dan mengendalikan
peningkatan emisi gas buang kendaraan.
 Penggunaan genset rendah emisi
Genset yang rendah emisi ini pada umumnya genset dengan teknologi terbaru
(Tier 5/Euro 5). Penggunaan genset ini akan mereduksi emisi genset.

2-52
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

D. Pengelolaan Limbah B3
Dalam operasional RPA akan dihasilkan limbah B3 berupa minyak pelumas bekas,
filter pelumas bekas, filter bekas genset, aki bekas genset, drum minyak pelumas,
lampu TL bekas, dan catridge bekas. Limbah B3 yang dihasilkan tersebut dikelola
dengan penyediaan TPS Limbah B3 sebagai sarana penyimpanan sementara limbah
B3 di lokasi kegiatan. Pembuatan TPS Limbah B3 ini mengacu Keputusan Kepala
Bapedal Nomor 1 Tahun 1995 Tentang Tata Cara Dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan Dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun.
• Timbulan Limbah B3
Besarnya timbulan limbah B3 yang dihasilkan dari operasional RPA berdasarkan
sumbernya dirinci sebagai berikut :
 Minyak pelumas (kode : B105d)
Minyak pelumas bekas dihasilkan dari peralatan genset, kompressor, dan
power sprayer. Prakiraan besarnya minyak pelumas bekas menggunakan
asumsi 1% x HP (liter/jam), dengan waktu operasi selama 8 jam/hari untuk 25
hari kerja dalam setahun (300 jam). Sehingga kriteria kebutuhan pelumas
untuk 1 tahun adalah 1% x HP x 8 x 300 liter/tahun.
– Genset (107 HP) = 2.568,0 liter/tahun
– Kompresor ABF (20 HP) = 480,0 liter/tahun
– Kompresor Chiller (4 HP) = 96,0 liter/tahun
– Kompresor Freezer (8 HP) = 192,0 liter/tahun
– Power sprayer (1 HP) = 24,0 liter/tahun
Total = 3.360,0 liter/tahun
Dengan konversi 1 liter minyak pelumas sama dengan 0,9 kg, maka besarnya
timbulan minyak pelumas adalah 3.024,0 kg/tahun (3,024 ton/tahun). Sifat dan
karakteristik limbah B3 ini adalah cair mudah menyala.
– Filter pelumas (kode : B110d)
Penggantian filter pelumas direncanakan tiap 6 bulan sekali. Dari jenis
peralatan yang digunakan, dibutuhkan 4 unit filter pelumas tiap penggantian.
Dengan berat rata-rata 2 kg/unit filter pelumas, maka filter pelumas bekas
yang dihasilkan sebesar 8 kg/6 bulan atau 16 kg/tahun (0,016 ton/tahun). Sifat
dan karakteristik dari limbah B3 ini adalah padat dan mudah menyala.
– Filter udara genset (kode : B109d)
Penggantian filter udara genset direncanakan tiap 6 bulan sekali. Dengan
berat rata-rata 5 kg/unit filter udara, maka filter udara genset yang dihasilkan
sebesar 5 kg per penggantian atau 10 kg/tahun (0,010 ton/tahun). Sifat dan
karakteristik dari limbah B3 ini adalah padat dan mudah menyala.
– Aki genset (kode : A102d)
Aki bekas dihasilkan dari peralatan genarator set (genset). Penggantian aki
genset direncanakan tiap 1 tahun sekali. Dengan berat rata-rata 25 kg/unit aki

2-53
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

genset, maka jumlah aki bekas yang dihasilkan sebesar 25 kg/tahun (0,025
ton/tahun). Sifat dan karakteristik limbah B3 ini adalah padat dan mudah
menyala.
– Drum pelumas (kode : B104d)
Drum minyak pelumas merupakan salah satu kemasan B3. Penggantian
minyak pelumas direncanakan tiap 6 bulan sekali, sehingga besarnya
pelumas yang digunakan sebanyak 1.680,00 liter. Dengan kapasitas 200
liter/unit drum pelumas, maka dibutuhkan sebanyak 8 unit drum pelumas per 6
bulan atau 16 unit drum per setahun. Dengan berat 10 kg/unit drum, maka
drum pelumas bekas yang dihasilkan sebesar 160 kg/tahun (0,160 ton/tahun).
Sifat dan karakteristik limbah B3 ini adalah padat dan korosif.
– Kain majun (kode : B110d)
Besarnya kain majun yang dihasilkan untuk keperluan pembersihan peralatan
dan lain-lain diprakirakan sebesar 50 kg/tahun (0,050 ton/tahun). Sifat dan
karakteristik limbah B3 ini adalah padat dan beracun.
– Lampu TL (kode : B107d)
Jumlah lampu TL bekas yang dihasilkan diprakirakan 20 unit/tahun. Dengan
berat rata-rata 0,2 kg/unit lampu bekas, maka dihasilkan lampu bekas sebesar
4 kg/tahun (0,004 ton/tahun). Sifat dan karakteristik limbah B3 ini adalah padat
dan mudah menyala.
– Catridge (kode : B107d)
Jumlah catridge bekas yang dihasilkan diprakirakan sebesar 6 unit/tahun.
dengan berat 0,5 kg/unit, maka dihasilkan catridge bekas sebesar 3 kg/tahun
(0,003 ton/tahun). Sifat dan karakteristik limbah B3 ini adalah padat dan
beracun.
Prakiraan timbulan limbah B3 dari operasional RPA adalah 3,292 ton/tahun
dengan rincian seperti pada Tabel 2.12.

Tabel 2.12 Prakiraan Timbulan Limbah B3


Timbulan
No Jenis Limbah B3 Kode Sifat Karakteristik
(ton/tahun)
1 Minyak pelumas B105d 3,024 Cair Mudah menyala
2 Filter pelumas B110d 0,016 Padat Mudah menyala
3 Filter udara genset B109d 0,010 Padat Mudah menyala
4 Aki genset A102d 0,025 Padat Mudah menyala
5 Drum minyak pelumas B104d 0,160 Padat Korosif
6 Kain majun B110d 0,050 Padat Beracun
7 Lampu TL B107d 0,004 Padat Mudah menyala
8 Cattridge B107d 0,003 Padat Beracun
Total 3,292
Sumber : Estimasi, 2019

2-54
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

• Pewadahan Limbahn B3
Pengemasan limbah B3 dilakukan sesuai dengan sifat dan karakteristik limbah
yang bersangkutan. Pengemasan limbah B3 harus sesuai dengan persyaratan
umum dan prinsip tata cara pengemasan Limbah Berbahaya dan Beracun. Tujuan
pengemasan adalah agar setiap jenis limbah sebelum disimpan telah ditandai
dengan sistem label yang sesuai dengan jenis karakteristik limbah, serta telah
ditempatkan dalam kontainer yang sesuai pula.
Perencanaan kemasan/wadah limbah B3 sesuai dengan karakteristik limbah B3
yang dihasilkan adalah :
 Drum logam kapasitas 200 L
Wadah ini digunakan untuk limbah B3 yang sifatnya cair dengan karakteristik
yang tidak korosif. Jenis limbah B3 yang dikemas dalam wadah ini adalah
minyak pelumas.
 Drum logam open top kapasitas 200 L
Wadah ini digunakan untuk limbah B3 yang sifatnya padat dengan
karakteristik yang tidak korosif. Jenis limbah B3 yang dikemas dalam wadah
ini meliputi filter pelumas, aki, kain majun, lamu TL dan cattridge.
Berdasarkan karakteristiknya limbahnya, jenis drum yang diperlukan terdiri dari 3
jenis, yaitu drum untuk limbah B3 cair dan mudah menyala (minyak pelumas
bekas), drum untuk limbah B3 padat dan mudah menyala (filter pelumas, filter
udara, aki), serta drum untuk limbah B3 padat dan beracun (kain majun dan
cattridge).
Perhitungan kebutuhan drum adalah :
 Drum untuk limbah B3 cair dan mudah menyala
Volume limbah = 1.680 liter
Jumlah drum = 1.680 liter / 200 liter/drum
= 8,40 drum ≈ 9 drum
 Drum untuk limbah B3 padat dan mudah menyala
Filter pelumas :
Berat = 8 kg
Densitas = 0,8 kg/liter
Volume = 8 kg / 0,8 kg/liter
= 10 liter
Filter udara genset :
Berat = 5 kg
Densitas = 0,8 kg/liter
Volume = 5 kg / 0,8 kg/liter
= 6,25 liter
Aki genset :
Berat = 25 kg
Densitas = 0,9 kg/liter

2-55
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Volume = 25 kg / 0,9 kg/liter


= 27,8 liter
Lampu TL
Berat = 4 kg
Densitas = 0,4 kg/liter
Volume = 4 kg / 0,4 kg/liter
= 10 liter
Volume limbah = 10 liter + 6,25liter + 27,8 liter + 10 liter
= 54,05 liter
Jumlah drum = 54,05 liter / 200 liter/drum
= 0,27 drum ≈ 1 drum
 Drum untuk limbah B3 padat dan beracun
Kain majun :
Berat = 50 kg
Densitas = 1,4 kg/liter
Volume = 50 kg / 1,4 kg/liter
= 35,7 liter
Catridge :
Berat = 3 kg
Densitas = 0,7 kg/liter
Volume = 3 kg / 0,7 kg/liter
= 4,3 liter
Volume limbah = 35,7 liter + 4,3 liter
= 40 liter
Jumlah drum = 40 liter / 200 liter/drum
= 0,2 drum ≈ 1 drum
Untuk kemasan minyak pelumas (drum) langsung dikembalikan kepada distributor
atau penyalur minyak pelumas, atau disimpan sebagai tempat penampungan
pelumas bekas jika kondisinya masih sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan.
Rencana penyediaan wadah limbah B3 untuk kegiatan RPA ini secara ringkas
disajikan pada Tabel 2.13.

Tabel 2.13 Rencana Pewadahan Limbah B3


No Karakteristik Jenis Limbah Jenis Wadah Jumlah Wadah
1 Cair dan mudah Minyak pelumas Drum logam 200 liter 9 unit
menyala
2 Padat dan Filter pelumas, filter Drum logam open 1
mudah menyala udara genset, aki top 200 liter
genset, lampu TL
3 Padat dan Kain majun, catridge Drum logam open 1
beracun top 200 liter
4 Padat dan Drum minyak pelumas Penempatan -
korosif langsung
Sumber : Estimasi, 2019

2-56
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

• Simbol dan Label Limbah B3


Simbol bahaya digunakan untuk menandai sifat bahan-bahan limbah berbahaya
dan beracun dalam suatu pengemasan, penyimpanan dan pengumpulan atau
pengangkutan. Berdasarkan karakteristik dari masing-masing jenis limbah yang
dihasilkan, maka dapat dikategorikan masing-masing simbol dan label dari jenis
limbah tersebut. Pemberian simbol dan label limbah B3 mengacu pada Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2013 Tentang Simbol dan Label
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Simbol
Sesuai dengan karakteristik limbah B3 yang dihasilkan maka, simbol limbah B3
yang digunakan dirinci pada Tabel 2.14.

Tabel 2.14 Simbol Limbah B3 yang Dihasilkan RPA


No Sifat dan Karakteristik Simbol Jenis Limbah B3
1 Cairan mudah menyala Minyak pelumas

2 Padatan mudah menyala – Filter pelumas


– Filter udara genset
– Aki genset

3 Korosif Drum pelumas

4 Beracun – Kain majun


– Lampu TL
– Cattridge

Sumber : Permen LH No.14 Tahun 2013

2-57
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Label
Label limbah B3 yang akan digunakan dalam RPA CV. Arjuna Group beserta
penempatannya dapat dilihat pada Gambar 2.38 dan Gambar 2.39.

Gambar 2.38 Label Limbah B3

Gambar 2.39 Penempatan Label dan Simbol Limbah B3

• Pola Penyimpanan
Penyimpanan wadah dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 x 2
kemasan, sehingga memudahkan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh
terhadap setiap wadah, dan jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera
ditangani. Dengan jumlah kebutuhan wadah yang tidak terlalu banyak, jumlah blok
direncanakan masing-masing 1 blok untuk tiap karakteristik limbah. Lebar gang
antar blok memenuhi persyaratan untuk lalu lintas manusia, direncanakan 60 cm.
Penumpukan wadah direncanakan 2 (dua) lapis dengan tiap lapis dialasi palet
(setiap palet mengalasi 4 drum). Jarak tumpukan wadah tertinggi dan jarak blok
kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan direncanakan
1 (satu) m.
• Fasilitas Penyimpanan Sementara
Limbah B3 yang telah dimasukkan ke dalam masing-masing wadah, disimpan ke
lokasi TPS Limbah B3 yang direncanakan pada lahan seluas 4,00 m x 5,00 m.
• Neraca Limbah B3
Neraca limbah B3 untuk kegiatan RPA CV. Arjuna Group selengkapnya disajikan
pada Gambar 2.40.

2-58
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.40 Neraca Limbah B3

2.4.9 SISTEM DRAINASE DAN SUMUR RESAPAN


Sistem drainase di RPA CV. Arjuna Group direncanakan dengan kriteria dan
persyaratan sebagai berikut :
• Saluran drainase ini berfungsi untuk mengalirkan limpasan air hujan, dan saluran ini
terpisah dengan saluran pembuangan limbah.
• Saluran drainase dibuat mengikuti topografi wilayah setempat, dan terintegrasi dengan
saluran drainase atau saluran air di sekitarnya.
• Saluran drainase dibuat pada kanan-kiri bangunan, berupa saluran terbuka dengan
lebar 30 cm.
Dalam Pasal 3 Ayat (1) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun
2009 Tentang Pemanfaatan Air Hujan disebutkan bahwa “Setiap penanggungjawab
bangunan wajib melakukan pemanfaatan air hujan”. Selanjutnya dalam Ayat (2) disebutkan
bahwa “Pemanfaatan air hujan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
cara membuat: a. kolam pengumpul air hujan; b. sumur resapan; dan/atau c. lubang
resapan biopori.

2-59
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Sebagai bentuk ketaatan Pemrakarsa terhadap ketentuan peraturan perundang-


undangan ini, dalam RPA direncanakan pemanfaatan air hujan, dengan alternatif utama
berupa sumur resapan. Jenis sumur resapan yang direncanakan adalah sumur resapan
dalam. Perencanaan sumur resapan di RPA CV. Arjuna Group adalah sebagai berikut :
• Tipe Sumur Resapan = Sumur Resapan Dalam
• Jumlah Sumur Resapan :
– Kriteria = 1 unit tiap 1.000 m2 bangunan
– Luas lahan terbangun = 1.712,00 m2
– Kebutuhan sumur = 1.712,00 : 1.000 unit
= 1,7 unit ≈ 2 unit
• Konstruksi :
– Sumur resapan dalam dibuat melalui pemboran dengan lubang bor tegak lurus
dan diameter minimal 275 mm (11 inch) untuk seluruh kedalaman.
– Diameter pipa lindung dan saringan minimal 150 mm (6 inch).
– Kedalaman sumur resapan dalam disesuaikan dengan kondisi akuifer dalam.
– Bibir sumur atau ujung atas pipa lindung terletak minimal 0,25 m di atas muka
tanah dan dilengkapi dengan penutup pipa.
– Saringan sumur bor harus ditempatkan tepat pada kedudukan akuifer yang
disarankan untuk peresapan.
– Apabila akuifernya mempunyai ketebalan lebih dari 3 m, maka panjang minimal
saringan yang dipasang harus 3 m, ditempatkan di bagian tengah akuifer.
– Ruang antara dinding lubang bor dan pipa lindung di atas dan di bawah pembalut
kerikil diinjeksi dengan lumpur penyekat, sehingga terbentuk penyekat-penyekat
setebal 3 m di bawah kerikil pembalut dan setebal minimal 2 m di atas kerikil
pembalut.
– Ruang antara dinding lubang bor dan pipa jambang di atas kerikil pembalut mulai
dari atas lempung penyekat hingga kedalaman 0,25 m di bawah muka tanah harus
diinjeksi dengan bubur semen, sehingga terbentuk semen penyekat.
– Di sekeliling sumur harus dibuat lantai beton semen dengan luas minimal 1 m2,
berketebalan minimal 0,5 m mulai 0,25 m di bawah muka tanah hingga 0,25 m di
atas muka tanah.
– Sumur resapan dalam dilengkapi dengan 2 buah bak kontrol yang dibuat secara
bertingkat dengan menggunakan batu bata, batako, atau cor semen secara
berhimpit berukur panjang 1 m, lebar 1,5 m, dan kedalaman 1,5 m, dasar bak
kontrol disemen.
– Untuk bak penyaring, dibuat dengan kedalaman 1 m dan diisi dengan pasir
dengan ketebalan 25 cm, koral setebal 25 cm dan ijuk setebal 25 cm. Bak kontrol
2, dengan kedalaman 1,5 m diisi dengan ijuk setebal 25 cm, arang aktif setebal 25
cm, koral setebal 25 cm, dan ijuk setebal 25 cm.

2-60
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.41 Desain Tipikal Sumur Resapan Dalam

2.4.10 SISTEM KEAMANAN


Sistem keamanan pada RPA CV. Arjuna Group direncanakan dengan
pembangunan pagar keliling dan pemasangan CCTV. Pagar keliling ini berupa tembok
permanen. Disamping sebagai fasilitas keamanan, keberadaan tembok tersebut juga
berfungsi untuk melokalisir dan meminimalisir dampak lingkungan seperti kebisingan, emisi
gas buang, timbulnya bau, dan lain sebagainya. CCTV akan dipasang dibeberapa tempat
pada masing-masing bangunan dan area yang ada di RPA. Dengan adanya CCTV ini
dapat dipantau secara kontinu mengenai hal-hal yang terjadi pada RPA.

2.4.11 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DAN HIGIENE PERSONAL


A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
CV. Arjuna Group berkomitmen untuk melaksanakan ketentuan yang terkait dengan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan memberikan perlindungan bagi tenaga
kerja dalam rangka untuk mewujudkan “zero accident” dalam operasional RPA.
Komitmen tersebut ditunjukkan dengan
1. Mewajibkan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai Peraturan Menteri
Tenaga dan Transmigrasi Nomor PER.08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung
Diri, sebagaimana telah dijelaskan dalam Sub Bab 2.45 (E).
2. Melaksanakan ketentuan K3 dengan mengacu :
a. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Keselamatan
dan Kesehatan Lingkungan Kerja.

2-61
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

b. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 70 Tahun 2016 Tentang Standar dan


Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri.
c. Melaksanakan perlindungan tenaga kerja sesuai Peraturan Menteri Tenaga
Kerja Nomor 26 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Program
Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Dan Jaminan Hari Tua Bagi
Peserta Penerima Upah.

B. Higiene Personal
CV. Arjuna Group menerapkan beberapa persyaratan personal (pekerja) yang harus
dipenuhi dalam penerapan higiene personal, yaitu :
1. Harus sehat, tidak menderita penyakit menular (salmonellosis, TBC, hepatitis,
penyakit kulit di tangan, diare, muntah, demam, sakit tenggorokan, yang disertai
demam).
2. Selalu menjaga kebersihan diri selama bekerja menangani ayam/karkas, dengan
cara :
a. Mencuci tangan sebelum dan setelah bekerja, setelah dari toilet/WC, setelah
bersin dan batuk yang ditutup dengan tangan, menyentuh bahan tercemar, dll.
b. Prosedur mencuci tangan yang minimal harus dilakukan adalah :
1) Basahi tangan dengan menggunakan air bersih.
2) Beri sabun atau cairan pembersih dan gosokan kurang lebih 15 detik.
3) Gosok juga dibagian punggung telapak tangan , sela-sela jari dan kuku.
4) Bersihkan tangan dengan air bersih yang mengalir
5) Matikan kran air tidak dengan tangan yang sudah dicuci.
3. Mengenakan pakaian yang bersih
4. Menghindari berprilaku kerja yang buruk, yaitu :
a. Merokok
b. Meludah
c. Makan
d. Bersin dan batuk dihadapan produk
e. Memasukan jari kedalam mulut
f. Menggigit kuku atau menjilati tangan
g. Menanggalkan seluruh perhiasan (kalung, anting, cincin, jam tangan).
h. Menggunakan make-up dan parfum secara berlebihan
i. Menyandari/menduduki peralatan
j. Menyentuh hidung, wajah, muka, telinga dan rambut pada saat bekerja
5. Berprilaku dan bekerja sesuai aturan
6. Seluruh karyawan di RPH-A harus mendapatkan pelatihan tentang higiene
personal.

2-62
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.4.12 PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU


Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam RPA memiliki peran penting dalam penyerapan
polutan atau gas-gas yang dihasilkan di RPA (fungsi ekologis), disamping untuk
memperindah lokasi RPA (fungsi estetis). Penyediaan RTH di RPA CV. Arjuna Group
direncanakan sebagai berikut ini.

A. Lokasi RTH
RTH direncanakan dalam bentuk taman dan penanaman vegetasi pada pot-pot
tanaman. Lokasi RTH diarahkan pada tempat-tempat atau area yang berpotensi
menghasilkan polutan, baik emisi gas buang kendaraan maupun timbulan bau. RTH
diarahkan pada lokasi di sekitar :
– Area parkir mobil
– Bangunan kantor utama
– Bangunan utama
– Area loading
– Rest area sopir
– Bangunan IPAL

B. Pemilihan Jenis Tanaman


Pemilihan jenis tanaman pada RTH memperhatikan fungsi estetis dan fungsi ekologis.
Beberapa tanaman yang akan ditanam pada RTH adalah sebagai berikut :
• RTH pada taman :
– Pohon Cempaka (Michelia champaca)
– Pohon Kenanga (Cananga odorata)
– Pohon Tanjung (Mimusops elengi)
• RTH dalam bentuk pot :
– Lidah Mertua (Sansevieria sp)
– Bunga Peace Lily (Spathiphyllum sp)
– Suji (Dracaena sp)
– Bunga Geranium (Geranium sp)
– Bunga Melati (Jasminum sp)
– Tanaman Sri Rejeki (Aglaonema sp)

C. Pemeliharaan RTH
Kegiatan pemeliharaan RTH di RPA bertujuan untuk menjaga tanaman agar tumbuh
dan berkembang dengan baik. Pemeliharaan RTH di RPA direncanakan dengan upaya
sebagai berikut :
– Penyiraman secara rutin (tiap hari pada musim kemarau)
– Pemberian pupuk pada tanaman
– Pemotongan/perapian cabang dan bunga
– Penggantian tanah dalam pot
– Pembersihan seresah pada taman

2-63
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.5 GARIS BESAR KOMPONEN RENCANA USAHA DAN/ATAU


KEGIATAN
2.5.1 KESESUAIAN LOKASI RENCANA KEGIATAN DENGAN TATA RUANG
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Magetan diatur dalam
Peraturan Daerah Kabupaten Magetan Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Magetan Tahun 2012 – 2032. Analisis kesesuaian lokasi
kegiatan dengan lokasi RTRW Kabupaten Magetan baik secara tekstual, maupun
kontekstual dapat dijelaskan sebagai berikut ini :
• Struktur Ruang Wilayah
Berdasarkan struktur ruangnya, lokasi kegiatan RPA terletak pada Pusat Kegiatan
Lokal Promosi (PKLp) Kawedanan, dengan fungsi pusat pelayanan sebagai pusat
pengembangan kawasan pertanian, perindustrian, dan pariwisata. Hal tersebut
tertuang dalam Pasal 8 Ayat (2) huruf “c”.
• Pola Ruang Wilayah
Berdasarkan pola ruangnya, lokasi kegiatan RPA merupakan bagian dari sawah irigasi
yang ada di Kecamatan Kawedahan, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 34 Ayat
(3) huruf “f”.
• Perwujudan Pola Ruang Wilayah
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Magetan, perwujudan pola ruang
wilayah untuk kawasan peruntukkan pertanian sebagaimana tertuang dalam Pasal 73
terdiri atas :
a. Mengembangkan dan menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan.
b. Pengembangan tanaman semusim produktif.
c. Pengembangan komoditas tanaman keras yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
d. Mengintensifkan pengembangan ternak besar maupun ternak kecil di kawasan
lahan kering.
e. Mengembangkan komoditas tanaman hortikultura.
f. Mengembangkan komoditas tanaman perkebunan.
g. Penataan lokasi kawasan peternakan.
h. Pengolahan hasil ternak.
Pada huruf “h” telah dinyatakan bahwa salah satu perwujudan pola ruang wilayah
untuk kawasan peruntukkan pertanian adalah untuk pengolahan hasil ternak. Terkait
dengan kegiatan RPA yang akan dilaksanakan oleh CV. Arjuna Group, maka lokasi
kegiatan telah memiliki kesesuaian dengan RTRW Kabupaten Magetan. Hal tersebut juga
diperkuat surat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Magetan
Nomor 651/1394.403.104/2019 Perihal Informasi Pemanfaatan Ruang (IPR) tertanggal 27
Mei 2019 (Lampiran 2.1).

2-64
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.5.2 LOKASI KEGIATAN TERHADAP PIPPIB


Dalam dokumen UKL-UPL ini dilakukan analisis kesesuaian lokasi kegiatan
dengan peta indikatif pemberian izin baru yang tercantum dalam Instruksi Presiden Nomor
Tahun 2017 Tentang Penundaan dan Penyempuraan Tata Kelola Pemberian Izin Baru
Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.
Peta indikatif penundaan pemberian izin baru ini mengacu pada Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.8599/MENLHK-PKTL/IPSDH/PLA.1/12/2018
Tentang Penetapan Peta Indikatif Penundaan Pemberiaan Izin Baru Pemanfaatan Hutan,
Penggunaan Kawasan Hutan dan Perubahan Peruntukkan Kawasan Hutan dan Areal
Penggunaan Lain (Revisi XV).
Analisis spasial ini dilakukan dengan overlay lokasi kegiatan dengan peta indikatif
penundaan pemberian izin baru sesuai dengan ketentuan peraturan yang dimaksud diatas.
Lokasi kegiatan RPA terdapat dalam lembar 1508 revisi terakhir peta indikatif penundaan
pemberian izin baru tersebut. Dari hasil overlay yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa lokasi RPA berada di luar kawasan hutan alam primer dan lahan gambut yang
tercantum dalam peta indikatif penundaan pemberian izin baru. Peta overlay lokasi RPA
dengan Peta Indikatif Penundaan Pemberiaan Izin Baru disajikan pada Gambar 2.42.

2.5.3 IZIN LOKASI


Pemrakarsa telah mendapatkan Izin Lokasi dari Bupati Magetan berdasarkan
Persetujuan Izin Lokasi Nomor 010/503/IL/403.117/VII/2019 tertanggal 5 Agustus 2019,
yang menerangkan bahwa lokasi kegiatan telah disetujui untuk Pembangunan Rumah
Potong Ayam (RPA). Izin Lokasi pembangunan RPA untuk CV. Arjuna Group
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.2.

2-65
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.42 Peta Lokasi Kegiatan Terhadap Peta Indikatif Penundaan Pemberiaan Izin Baru

2-66
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2.5.4 URAIAN KOMPONEN RENCANA KEGIATAN YANG DAPAT


MENIMBULKAN DAMPAK LINGKUNGAN
Komponen rencana kegiatan yang menimbulkan dampak dapat diklasifikasikan
menjadi kegiatan pada tahap pra konstruksi, tahap konstruksi, dan tahap operasi.
Komponen rencana kegiatan pada RPA yang berpotensi menimbulkan dampak tersebut
dijelaskan dalam uraian berikut ini.

A. Tahap Pra Konstruksi


1. Pemberian Informasi Kegiatan
Lokasi kegiatan RPA terletak pada lahan yang ada di wilayah Desa Madigondo
Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan. Meskipun lokasinya berada di Desa
Madigondo, tetapi wilayah persebaran dampak lingkungannya diprakirakan hingga
mencapai wilayah desa di yang ada sekitarnya karena lokasinya yang relatif dekat.
Desa di sekitarnya tersebut adalah Desa Jomblang dan Desa Kerang. Pemberian
informasi kegiatan pembangunan RPA ini direncanakan melingkupi beberapa
wilayah desa tersebut.
Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menyampaikan informasi
mengenai rencana pembangunan RPA agar diketahui oleh masyarakat sekitar,
serta memohon dukungan dari masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan
pembangunan dan pengoperasian RPA tersebut.
Informasi yang disampaikan mencakup lingkup kegiatan pembangunan dan
pengoperasian RPA yang akan dilaksanakan, serta komitmen Pemrakarsa untuk
melaksanakan pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan serta
bertanggungjawab terhadap dampak lingkungan yang terjadi akibat kegiatan RPA.
Kegiatan pemberian informasi ini dapat dilakukan dengan mengundang beberapa
perwakilan tokoh masyarakat, mendatangi ke kantor desa setempat, atau pada
saat ada acara perkumpulan warga setempat.

B. Tahap Konstruksi
1. Penerimaan Tenaga Kerja Konstruksi
Salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan pembangunan RPA ini
adalah ketersediaan sumber daya manusia yang memadai sebagai tenaga kerja
konstruksi. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik, Pemrakarsa mempersiapkan
tenaga kerja konstruksi melalui proses rekruitmen tenaga kerja.
a. Kebutuhan tenaga kerja konstruksi
Tenaga kerja yang dibutuhkan oleh konstruksi bangunan fasilitas dan utilitas
RPA dapat diklasifikasikan menjadi tenaga kerja dengan keahlian khusus
(softskill) dan pekerja (hardskill). Prakiraan kebutuhan tenaga kerja untuk
konstruksi bangunan RPA dan fasilitas pendukungnya secara terperinci
disajikan pada Tabel 2.15.

2-67
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Tabel 2.15 Estimasi Kebutuhan Tenaga Kerja Konstruksi


Kebutuhan
No Posisi
(orang)
1 Koordinator Pelaksana 1
2 Ahli Bidang Manajemen Konstruksi 1
3 Ahli Bidang Sipil Bangunan 1
4 Ahli Bidang Mekanikal Elektrikal 1
5 Ahli Bidang K3 1
6 Pengawas (Mandor) 1
7 Operator Alat Berat 3
8 Mekanik Alat Berat 2
9 Driver 8
10 Tukang 8
11 Keamanan / Penjaga 3
12 Pekerja 30
Jumlah 60
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

b. Mekanisme rekruitmen
Kontruksi bangunan fasilitas dan utilitas RPA dilakukan oleh kontraktor yang
ditetapkan berdasarkan hasil seleksi oleh Pemrakarsa. Kontraktor tersebut
akan melakukan rekuritmen tenaga kerja sesuai dengan tiap jenis-jenis
komponen pekerjaan. Tenaga kerja yang direkrut tersebut harus memiliki
kriteria yang dipersyaratkan.
Meskipun jumlah tenaga kerja yang direkrut tidak terlalu besar, tetapi
Pemrakarsa mengharapkan Kontraktor pelaksana konstruksi untuk menyerap
masyarakat setempat sebagai tenaga kerja konstruksi dalam rangka
memberikan memberikan dampak positif berupa lapangan kerja terhadap
masyarakat di sekitar lokasi kegiatan, terutama untuk posisi pekerja dan
penjaga malam.

2. Mobilisasi Peralatan dan Material


Kegiatan mobilisasi peralatan dan material merupakan aktivitas pengangkutan
mesin dan peralatan serta bahan dan material yang diperlukan untuk proses
konstruksi menuju lokasi RPA dengan menggunakan sarana pengangkutan atau
kendaraan proyek.
a. Jenis peralatan
Jenis mesin dan peralatan konstruksi yang digunakan secara garis besar
dapat diklasfikasikan menjadi alat berat, peralatan mekanikal elektrikal, dan
alat bantu. Alat berat digunakan untuk komponen kegiatan penyiapan lahan,
diantaranya hydraulic excavator, bulldozer, dan roller atau compactor.

2-68
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Prakiraan kebutuhan alat berat yang diperlukan untuk penyiapan lahan dirinci
seperti pada Tabel 2.16.

Tabel 2.16 Estimasi Kebutuhan Alat Berat


Jumlah Operating Power
No Jenis
(unit) Weight (Ton) (HP)
1 Hyraulic Excavator 1 5 – 10 80 – 100
2 Bulldozer 1 15 – 20 150 – 200
3 Roller / Compactor 1 10 – 15 100 – 130
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

Peralatan mekanikal elektrikal yang digunakan antara lain generator set


(genset), mixer, air compressor, water pump, gerinda, mesin las, peralatan
safety (sepatu, helm, rompi, makser, sarung tangan) dan lain sebagainya.
Selain itu digunakan alat bantu dan alat manual seperti ganco, cangkul, kereta
dorong, cetok, martil, parang, linggis, waterpass, amplas, kuas, gergaji, tang,
amplas, bor kayu, dan lain sebagainya.
b. Jenis material
Material yang digunakan untuk konstruksi bangunan gedung yang telah umum
digunakan antara lain pasir, kerikil, semen, besi, baja, kayu, dan batu bata.
Penyediaan material dapat dilakukan dengan pembelian langsung ke toko
bangunan atau pengusaha setempat yang ada di wilayah Kecamatan Takeran
Kabupaten Magetan, Kabupaten/Kota Madiun (karena lokasi berbatasan),
atau wilayah di sekitarnya.
c. Sarana pengangkutan
Jenis kendaraan yang digunakan untuk pengangkutan peralatan dan material
secara umum terdiri dari truck (engkel), dump truck, flat bed truck, dan water
truck. Spesifikasi kendaraan pengangkut peralatan dan material yang akan
digunakan dirinci pada Tabel 2.17.

Tabel 2.17 Estimasi Kebutuhan Sarana Pengangkutan Peralatan dan Material


Power
No Jenis Kapasitas
(PS)
1 Truk engkel 2–3T 110
2 Dump truck 5 – 10 T 130
3 Flat bed truck 10 – 20 T 260
Water truck 3000 – 5000 L 110
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

d. Rute pengangkutan
Mobilisasi peralatan dan material untuk pelaksanaan konstruksi RPA ini
direncanakan melalui jalur darat yang melalui Jalan Raya Madigondo –
Takeran baik kendaraan dari arah Magetan maupun dari Madiun.

2-69
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

3. Pengerahan Tenaga Kerja Konstruksi


Kegiatan pengerahan tenaga kerja konstruksi yang dimaksud mencakup aktivitas
tenaga kerja konstruksi baik aktivitas kerja maupun aktivitas domestik. Aktivitas
kerja terkait dengan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan posisi kerja,
sedangkan aktivitas domestik terkait dengan pemenuhan kebutuhan individu
tenaga kerja yang mencakup kebutuhan tempat istrahat, kebutuhan air bersih,
kebutuhan makan minum (konsumsi) dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
a. Fasilitas Sementara
Kontraktor akan membangun fasilitas sementara berupa bangunan semi
permanen yang akan digunakan sebagai kantor serta tempat istirahat pekerja.
Fasilitas sementara ini akan dilengkapi dengan sarana sanitasi berupa
bangunan MCK sementara.
b. Penyediaan Air Bersih dan Pengelolaan Limbah Cair Pekerja
Pada kegiatan pengerahan tenaga kerja ini air bersih digunakan untuk sarana
sanitasi dan kebutuhan air minum 60 orang tenaga kerja. Kriteria kebutuhan
air untuk sanitasi diasumsikan sebesar 50 liter/orang/hari dan untuk air minum
sebesar 2 liter/orang/hari. Dengan menggunakan asumsi bahwa jumlah
tenaga kerja pada saat kondisi puncak (peak) sebanyak 50 orang tenaga
kerja, maka kebutuhan air yang diperlukan untuk sanitasi diprakirakan
sebesar 2.500 liter/hari (2,5 m3/hari), sedangkan untuk air minum diprakirakan
sebesar 100 liter/hari (0,1 m3), sehingga kebutuhan total air bersih untuk
tenaga kerja konstruksi sebesar 2,6 m3/hari. Neraca air pada tahap konstruksi
ditampilkan pada Gambar 2.43.

Gambar 2.43 Neraca Air Tahap Konstruksi

Limbah cair domestik dihasilkan dari sisa penggunaan air bersih oleh tenaga
kerja, yang bersumber dari sarana MCK. Limbah cair domestik yang
dihasilkan diprakirakan sebesar 2,0 m3/hari (80% dari penggunaan air bersih).
Pengelolaan limbah cair domestik dari pengerahan tenaga kerja konstruksi
direncanakan dengan penyediaan tangki septik sementara (temporary septic
tank) yang ada pada bangunan MCK sementara. Air limpasan dari tangki
septik ini selanjutnya meresap ke tanah. Sedangkan lumpur tinja pada tangki
septik dilakukan penyedotan berkala pada melalui kerjasama dengan
perusahaan penyedot lumpur tinja.

2-70
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

c. Pengelolaan Sampah
Disamping menghasilkan limbah cair domestik, aktivitas tenaga kerja
konstruksi ini juga menghasilkan limbah padat berupa sampah domestik dari
sisa-sisa aktivitas yang bersifat individu. Jenis sampah yang dihasilkan pada
umumnya berupa bungkus makanan dan minuman. Kriteria besarnya timbulan
sampah tenaga kerja ini diasumsikan sama dengan kriteria timbulan sampah
domestik permukiman, yaitu 2,75 – 3,25 liter/orang/hari (SNI 19-3983-1995).
Dengan asumsi bahwa timbulan sampah 3 liter/orang/hari, maka pada kondisi
puncak konstruksi, timbulan sampah domestik diprakirakan sebanyak 150
liter/hari (0,15 m3/hari).
Pengelolaan sampah domestik tenaga kerja dilakukan dengan penyediaan
tempat sampah kapasitas 20 L pada ruangan dalam bangunan kantor
sementra dan tempat istirahat tenaga kerja, serta mini kontainer dengan
kapasitas 1 m3 sebanyak 1 unit. Pengangkutan sampah dilakukan melalui
kerjasama dan pemberdayaan Bank Sampah yang ada di wilayah Desa
Madigondi dan wilayah desa sekitarnya untuk pengelolaan lebih lanjut
(komposting, daur ulang, dll).
d. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Aktivitas konstruksi yang dilakukan oleh tenaga kerja di lokasi tapak proyek
berpotensi menyebabkan kecelakan kerja. Kecelakaan kerja merupakan
kecelakaan yang terjadi yang terkait dengan hubungan kerja, meliputi
kecelakaan pada saat aktivitas konstruksi, penyakit yang timbul pada saat
terjadi pelaksanaan pekerjaan, serta kecelakaan yang terjadi pada saat
perjalanaan dari/ke tempat kerja. Pada umumnya terjadinya kecelakaan kerja
ini disebabkan oleh humman error.
Pemrakarsa telah berkomitmen untuk melaksanakan aktivitas konstruksi yang
mengutamakan keselamatan kerja (safety first) dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya kecelakaan kerja (zero accident). Upaya yang dilakukan
diantaranya dengan mewajibkan penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi
setiap tenaga kerja atau pengunjung di lokasi tapak proyek, dengan jenis alat
kerja yang sesuai dengan tingkat resiko kecelakaan kerja, dan memberi syarat
kepada Kontraktor untuk menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) dngan menyusun dan melaksanakan rencana K3.
Pemerintah telah mengeluarkan banyak ketentuan yang terkait dengan
keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dalam hal ini Pemrakarsa juga
berkomitmen untuk mematuhi ketentuan tersebut, termasuk dalam
memberikan jaminan kepada tenaga kerja sesuai dengan ketentuan yang
berlaku dalam bidang ketenagakerjaan. Dengan upaya yang dilakukan
tersebut diharapkan mencegah terjadinya kecelakaan kerja pada saat
pelaksanaan konstruksi.

2-71
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan yang wajib dipenuhi oleh


Kontraktor adalah :
• Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 Tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
• Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/ 2014 Tentang
Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor
PER.08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri.
• Surat Keputusan Bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Tenaga
Kerja Nomor Kep.174/MEN/1986-104/ KPTS/1986 Tentang Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Nomor Per01/Men/1980 Tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 26 Tahun 2015 Tentang Tentang
Tata Cara Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja,
Jaminan Kematian, dan Jaminan Hari Tua Bagi Peserta Penerima Upah.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Program
Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian Bagi Pekerja Harian
Lepas, Borongan, dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu Pada Sektor
Usaha Konstruksi.

4. Penyiapan Lahan
Kegiatan penyiapan lahan ini bertujuan untuk mempersiapkan lahan sebagai area
konstruksi tapak bangunan fasilitas dan utilitas sesuai dengan kebutuhan
perencanaan teknis. Kegiatan kenyiapan lahan secara garis besar mencakup
pembersihan lahan dan pekerjaan tanah.
a. Pembersihan Lahan (land clearing)
Kegiatan pembersihan lahan merupakan kegiatan yang mencakup
pembersihan vegetasi (semak belukar, perdu, pohon-pohon dan akar pohon)
dan material atau benda-benda lain yang berada di lokasi tapak proyek serta
pengupasan tanah pucuk (top soil). Peralatan yang digunakan untuk
pembersihan lahan adalah bulldozer dan alat bantu lainnya. Untuk
mengangkut material hasil land clearing menggunkan dump truck.
Sebelum dilaksanakan land clearing, batas tapak yang akan dikerjakan
ditandai dengan patok. Untuk lokasi yang berlumpur, pengupasan dilakukan
hingga lumpurnya hilang atau bersih. Hasil land clearing dibuang keluar ke
tempat yang ditentukan oleh pihak Pemrakarsa. Tidak diperbolehkan untuk
melakukan pekerjaan berikutnya jika sebelum semua hasil land clearing
dibawa keluar lokasi proyek dengan sepengetahuan Pemrakarsa.

2-72
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

b. Pengaturan Elevasi
Pengaturan elevasi ini merupakan pekerjaan tanah untuk mengatur elevasi
tapak proyek yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan. Kegiatan ini
mencakup beberapa komponen pekerjaa seperti pekerjaan galian, pekerjaan
timbunan, pekerjaan drainase sementara, pekerjaan perataan tanah, dan
pekerjaan pemdatan tanah.
Jenis peralatan yang digunakan antara lain hydraulic excavator untuk
penggalian, timbunan dan pemuatan material, bulldozer untuk perataan tanah,
serta roller (compator) untuk perataan tanah. Jenis roller yang digunakan
adalah soil vibratory roller. Sedangkan untuk mengangkut material galian dan
timbunan menggunakan dump truck.
• Pekerjaan penggalian
Penggalian agar dilakukan pada bagian bawah dan belakang dari
pasangan batu kali dengan mengikuti level, kemiringan dan potongan
melintang yang tertera dalam gambar. Bila setelah penggalian sesuai
dengan desain sudah tercapai dan ternyata menurut pertimbangan
Pemrakarsa masih kurang stabil, Pemberi Kerja berhak menginstruksikan
penambahan cut hingga mencapai tanah keras dan juga ketinggian
retaining wall. Sisa galian agar dibuang ke daerah yang ditentukan
Pemrakarsa. Sisa galian juga dapat ditempatkan sementara pada area
yang ditunjuk Pemrakarsa sebagai stok, untuk digunakan kemudian jika
diperlukan.
• Pekerjaan timbunan
Lokasi yang diurug harus bebas dari lumpur atau kotoran sampah dan
sebagainya. Jika mempergunakan bahan timbunan dengan material hasil
galian atau dengan mendatangkan dari sekitar lokasi sesuai petunjuk
Pemrakarsa, maka harus memiliki persyaratan : 1) Tanah harus bersih
dan tidak mengandung akar, kotoran dan bahan organik lain, 2). Terlebih
dahulu harus diadakan test dari laboratorium, dan harus tertulis serta
diketahui oleh Pemrakarsa. Pada daerah timbunan yang basah,
Kontraktor harus membuat saluran-saluran drainase sementara untuk
mengeringkan lokasi tersebut.
• Pekerjaan pemadatan
Pemadatan harus mencapai kepadatan optimal. Bahan harus diuji di
laboratorium yang disetujui Pemrakarsa. Pemadatan dilakukan lapis demi
lapis sampai mencapai peil rencana, setiap lapis tebalnya 20 cm kecuali
hasil tes laboratorium mengijinkan tebalnya melebihi 20 cm. Selama
pemadatan, kadar air bahan timbunan harus dikontrol, agar tetap dapat
memenuhi kadar air optimum yang disyaratkan. Pekerjaan pemadatan
baru dianggap cukup setelah mendapat persetujuan Pemrakarsa.

2-73
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

5. Pembangunan Fasilitas dan Utilitas


Kegiatan pembangunan fasilitas dan utilitas ini merupakan rangkaian kegiatan
konstruksi setelah tapak proyek disiapkan pada kegiatan sebelumnya (penyiapan
lahan). Pembangunan ini mencakup keseluruhan fasilitas dan utilitas RPA yang
meliputi bangunan utama, bangunan kantor utama bangunan fasilitas pendukung,
bangunan IPAL, area parkir mobil, area parkir sepeda motor, area unloading dan
loading kendaraan, jalan, serta taman.
Secara garis besar kegiatan pembangunan fasilitas dan utilitas ini terdiri dari
beberapa komponen pekerjaan, yaitu pekerjaan struktur, pekerjaan arsitektur,
pekerjaan mekanikal elektrikal, dan pekerjaan luar bangunan.
a. Pekerjaan Struktur
– Pekerjaan Pondasi
– Pekerjaan Beton
– Pekerjaan Rangka Baja
b. Pekerjaan Sipil Arsitektur
– Pekerjaan Dinding
– Pekerjaan Lantai
– Pekerjaan Kusen, Pintu, dan Jendela
– Pekerjaan Langit-Langit
– Pekerjaan Sanitair
– Pekerjaan Pengecatan
– Pekerjaan Waterproofing
– Pekerjaan Atap
– Pekerjaan Anti Rayap
c. Pekerjaan Mekanikal Elektrikal
– Pekerjaan Instalasi Listrik
– Pekerjaan Pengkondisian Udara (air conditioning dan exhaust fan)
– Pekerjaan Instalasi Jaringan Telepon dan Internet
– Pekerjaan Plumbing untuk air bersih, air kotor dan air hujan.
– Pemasangan Alat Produksi
– Pekerjaan Ruang Pendingin
d. Pekerjaan Luar Bangunan
– Pekerjaan Jalan (jalan internal)
– Pekerjaan Saluran Drainase
– Pekerjaan Pagar Keliling
– Pekerjaan Area Parkir
– Pekerjaan Taman (Landscape)
Peralatan yang digunakan adalah peralatan mekanikal elektrikal (mixer, generator
set, compressor, pump, mesin las, gerinda, dll), serta alat bantu yang sesuai
dengan jenis tiap-tiap komponen pekerjaan.

2-74
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

6. Demobilisasi Peralatan
Demobilisasi peralatan merupakan kegiatan pengembalian peralatan konstruksi
yang sudah tidak dipergunakan karena aktivitas konstruksti telah selesai
dilaksanakan. Pemindahan peralatan ini diharapkan tidak akan menggangu
aktivitas di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh peralatan. Kegiatan demobilisasi
peralatan ini akan mengurangi arus lalulintas di jalan sekitar proyek dengan
selesainya kegiatan konstruksi dan akan dilakukan kegiatan perbaikan prasarana
jalan setelah selesainya kegiatan konstruksi.
Pada akhir konstruksi akan dihasilkan material sisa sebagai limbah konstruksi.
Limbah konstruksi ini didefinisikan sebagai material yang sudah tidak digunakan
yang dihasilkan dari proses konstruksi, perbaikan, atau perubahan. Kegiatan
konstruksi ini akan menghasilkan limbah seperti kayu, puing-puing akibat
perbaikan, bongkaran, besi tulangan atau baja, plastik, bata, tegel, genteng,
kelebihan agregat, sisa tanah galian, dll.
Kontraktor membongkar bangunan sementara yang dipergunakan selama proses
kontruksi dan membersihkan lahannya sesuai kebutuhan. Material sisa (limbah
kontruksi) yang dihasilkan selama proses kontruksi dikeluarkan dari proyek atau
dibuang ke tempat yang tidak menggangu lingkungan hidup. Kontraktor harus
menjamin bahwa lokasi pembuangan material tidak mengganggu lingkungan
disekitarnya, lokasi pembuangan harus mendapatkan persetujuan Pemrakarsa.
Kontraktor membersihkan lokasi kerja dan sekitarnya dari bahan buangan lain
yang ditinggalkan oleh staf Kontraktor selama proses konstruksi.

C. Tahap Operasi
Kegiatan yang diprakirakan menimbulkan dampak pada tahap operasi antara lain
kegiatan penerimaan tenaga kerja operasi, kegiatan mobilisasi bahan baku, produk
dan tenaga kerja, kegiatan pengerahan tenaga kerja, kegiatan proses produksi,
kegiatan pemeliharaan fasilitas dan utilitas.

1. Penerimaan Tenaga Kerja Operasi


Penerimaan tenaga kerja operasi merupakan kegiatan penerimaan karyawan yang
akan mengoperasikan RPA dari penerimaan bahan baku hingga pengiriman
produk karkas. Untuk mendapatkan produk yang berkualitas, dan RPA beroperasi
dengan baik maka harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkompeten
pada masing-masing posisi pekerjaan. Oleh karena itu Pemrakarsa berencana
melaksanakan rekruitmen tenaga kerja secara profesional yang memiliki
spesifikasi dan keahlian pada masing-masing bagian.
a. Kebutuhan Tenaga Kerja
RPA ini diprakirakan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 60 orang, yang
terdiri dari 4 bagian, yaitu bagian administrasi dan keuangan, bagian produksi,
bagian logistik, bagian pemasaran, dan bagian umum. Rincian kebutuhan
tenaga kerja operasi disajikan pada Tabel 2.18.

2-75
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Tabel 2.18 Estimasi Kebutuhan Tenaga Kerja Operasi


Kebutuhan
Posisi
(orang)
Bagian Administrasi dan Keuangan
Administrasi 3
Keuangan 2
Bagian Produksi
Operasi Produksi 35
Quality Control 2
Engineering & Maintenance 3
Bagian Logistik
Pembelian 3
Gudang 2
Bagian Pemasaran
Marketing 1
Distribusi 4
Bagian Umum
Humas & Personalia 1
Lingkungan dan K3 2
Security & Services 2
Jumlah 60
Sumber : CV. Arjuna Group, 2019

CV. ARJUNA GROUP

Bagian Administrasi
Bagian Produksi Bagian Logistik Bagian Pemasaran Bagian Umum
& Keuangan

Administrasi Operasi Produksi Pembelian Marketing Humas & Personalia

Keuangan Quality Control Gudang Distribusi Lingkungan dan K3

Engineering &
Security & Services
Maintenance

Tabel 2.19 Rencana Organisasi RPA

b. Mekanisme Rekruitmen
Mekanisme rekruitmen tenaga kerja akan dilakukan secara profesional,
terbuka, dan transparan, serta mengutamakan penyerapan masyarakat sekitar
sebagai tenaga kerja atau karyawan.

2-76
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

2. Penerimaan Bahan Baku, Pengiriman Produk


Mobilisasi bahan baku, produk dan tenaga kerja ini terkait dengan pergerakan
kendaraan menunju lokasi RPA yang berpengaruh terhadap ruas jalan. Kegiatan
mobilisasi ini dilakukan setiap hari selama tahap operasi, melalui Jalan Raya
Madigondo – Takeran.
a. Mobilisasi Bahan Baku
Sarana yang digunakan untuk pengangkutan bahan baku berupa truk engkel
dengan kapasitas 3000 kg (3 ton) sebanyak 2 unit dengan ritasi masing-
masing sebanyak 2x per hari. Penerimaan bahan baku dilakukan pada pagi
hari sebelum jam operasi produksi dilakukan. Lokasi sumber bahan baku dari
usaha budidaya peternakan (kadang ayam) yang dimiliki Pemrakarsa pada
lokasi lain, serta dari masyarakat sekitarnya melalui kerjasama.
b. Mobilisasi Produk
Sarana yang digunakan untuk pengiriman produk yang berupa karkas segar
dan dingin (fresh) serta karkas beku (frozen) adalah truk atau mobil dilengkapi
dengan box freezer. Sedangkan untuk pengiriman produk karkas berupa mobil
box. Untuk produk karkas segar, pengiriman dilakukan tiap hari dengan
frekuensi pengangkutan 1x per hari, sesuai dengan jumlah pesanan
pelanggan. Untuk pengangkutan karkas dingin dan segar (fresh) dilakukan
tiap 1-2x per hari, dan untuk pengangkutan karkas beku (frozen) dilakukan
sesuai dengan pesanan pelanggan.

3. Pengerahan Tenaga Kerja Operasi


Kegiatan pengerahan tenaga kerja operasi mencakup aktivitas kerja (produksi)
dan aktivitas domestik. Aktivitas kerja tersebut merupakan aktivitas yang terkait
dengan posisi dan job desc masing-masing. Sedangkan aktivitas domestik terkait
dengan pemenuhan kebutuhan dasar tenaga kerja, seperti kebutuhan air bersih,
serta kebutuhan makan dan minum (konsumsi).
RPA ini direncanakan beroperasi untuk 1 shift, yang dimulai pukul 06.00 – 14.00
WIB dengan waktu istirahat selama 1 jam. Untuk jenis pekerjaan yang lain, seperti
pembersihan peralatan dan ruangan dilakukan setelah jam kerja normal selesai
dilaksanakan.
Kegiatan pengerahan tenaga kerja ini akan memberikan dampak terhadap potensi
kecelakaan kerja (dari aktivitas kerja), serta dampak yang terkait dengan timbulan
limbah padat dan cair (dari aktivitas domestik).

4. Proses Produksi
Kegiatan proses produksi ini merupakan kegiatan inti dari RPA. Sebagaimana
RPA modern pada umumnya, proses produksi dimulai dari penerimaan bahan
baku ayam hidup hingga pengiriman produk. Diagram alir proses produksi di RPA
dapat dilihat pada Gambar 2.44.

2-77
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Daerah Kotor

Penerimaan Pemingsanan Pencabutan Bulu


Ayam (Stunning) (Plucking)

Pengistirahatan Penyembelihan Pemotongan Leher


Ayam Halal dan Kepala

Penghitungan,
Penirisan Darah
Penimbangan Pengeluaran Jeroan
(Bleeding)
dan Seleksi

Penggantungan Pencelupan Air Panas Pemotongan Kaki


(Hanging) (Scalding) dan Ceker

Daerah Bersih

Perendaman Karkas
(Chilling)

Sortasi dan Grading

Pengolahan
(Cutting, Skinless,
Bonless, Marinasi)

Pengemasan
(Packaging)

Penyimpanan Beku Penyimpanan Dingin


(Cold Storage) (Chiller Room)

Pengiriman Produk

Gambar 2.44 Diagram Alir Proses Produksi

2-78
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Proses produksi di RPA ini dilakukan secara halal, dimana proses penyembelihan
dilakukan oleh tenaga manusia sesuai dengan syariat agama Islam. Gambar
bagan alir proses produksi diatas dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
a. Penerimaan (Receiving)
Setelah proses mobilisasi bahan baku ayam hidup dari lokasi peternakan
(kandang ayam) menuju lokasi RPA, truk pengangkut memasuki pintu utama
lokasi RPA dan akan dilakukan pengecekan oleh petugas keamanan.
Selanjutnya kendaraan pengangkut ini diarahkan petugas untuk memasuki
area parkir unloading.

Gambar 2.45 Penerimaan Ayam di RPA

b. Pengistirahatan Ayam
Kendaraan pengangkut diparkir pada area parkir unloading. Pada area ini
ayam diistirahatkan selama kurang lebih 1 jam. Tujuannya untuk memulihkan
kondisi ayam setelah melalui proses transportasi atau mobilisasi.

Gambar 2.46 Pengistirahatan Ayam

2-79
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Pada saat pengistirahatan ayam dilakukan pemeriksaan antemortem, yaitu


pemeriksaan kesehatan ayam sebelum dipotong. Pemeriksaan ante-mortem
dapat dilakukan melalui pengamatan (inspeksi) ayam yang ada pada
keranjang secara berkelompok, atau jika diperlukan dapat dilakukan
pengamatan secara individu pada sampel ayam. Pemeriksaan ante-mortem
ini mencakup pemeriksaan keaktifan ayam, pemeriksaan kebersihan bulu,
pemeriksaan kebersihan mulut, mata, hidung, dan kloaka, pemeriksaan warna
jengger dan ceker, pemeriksaan pernafasan, dan pemeriksaan pergerakan
kepala. Tujuan pemeriksaan antemortem ini adalah untuk memperoleh kondisi
ayam secara umum, dan menentukan penyakit yang ditemui, serta
menentukan tindakan selanjutnya (pemisahan dan pengembalian atau
penundaan penyembelihan).

Gambar 2.47 Pemeriksaan Antemortem

c. Penghitungan, Penimbangan, dan Seleksi


Setelah dilakukan pengistirahatan dan pemeriksaan antemortem, selanjutnya
ayam diturunkan untuk dilakukan penghitungan dan penimbangan, dan seleksi
ayam yang tidak sehat dan mati untuk dipisahkan dan dikembalikan.

Gambar 2.48 Penghitungan, Penimbangan dan Seleksi

2-80
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

d. Penggantungan (Hanging)
Setelah ayam dinyatakan lolos proses seleksi selanjutnya, ayam dikeluarkan
dari keranjang dan kemudian dilakukan proses penggantungan ayam
(hanging). Penggantungan ayam dilakukan dengan posisi kaki berada di
bagian atas dengan posisi kepala berada dibawah yang digantungkan ke
sahckle hanger pada railing conveyor system. Posisi ini dilakukan untuk
mempermudah pekerja untuk melakukan proses penyembelihan dan penirisan
darah yang sesuai dengan syariat Islam.

Gambar 2.49 Penggantungan Ayam

e. Pemingsanan (Stunning)
Pemingsanan (stunning) dilakukan sebelum dilakukannya penyembelihan
pada ayam hidup. Proses pemingsanan ini juga dianjurkan oleh Fatwa Majelis
Ulama Indonesia tahun 2009 tentang standar penyembelihan hewan halal
yaitu dengan cara melemahkan hewan melalui pemingsanan sebelum
pelaksanaan penyembelihan agar pada waktu disembelih hewan tidak banyak
bergerak.

Gambar 2.50 Pemingsanan Ayam

2-81
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Pemingsanan dilakukan dengan alat stunner yang menggunakan media air


yang yang dialiri listrik 15 – 25 volt, 0,1 – 0,3 ampere, selama 5 – 10 detik
pada ayam yang akan dipotong. Tujuan dilakukannya proses pemingsanan ini
adalah untuk membuat ayam tidak sadar sebelum dilakukan penyembelihan
sehingga dapat mengurangi rasa sakit (aspek kesejahteraan hewan),
mempermudah proses penyembelihan, mengurangi kepakan sesaat setelah
penyembelihan yang mencegah munculnya bintik-bintik darah pada karkas,
serta mempercepat proses penirisan darah.
Apabila dalam proses pemingsanan ini terdapat ayam yang mati sebelum
disembelih, maka akan dipisahkan karena sudah tidak memenuhi kaidah
halal. Ayam mati ini akan ditempatkan pada tempat penampungan bangkai
yang akan ditangani lebih lanjut.
f. Penyembelihan Halal (Killing)
Proses penyembelihan di RPA ini dilakukan secara halal sesuai dengan
syariat Islam. Pada prinsipnya, penyembelihan halal ini harus memenuhi
persyaratan teknis dan kesejahteraan hewan (kesrawan) yang mencakup
aspek ayam yang disembelih, aspek orang yang akan menyembelih (petugas
penyembelih) dan aspek proses penyembelihan.

Gambar 2.51 Penyembelihan Halal

Petugas penyembelih dipersyaratkan beragama Islam, dewasa dan berakal


sehat, dan harus memiliki pengetahuan tentang ayam yang halal dan haram
untuk disembelih, serta mengetahui teknik penyembelihan halal. Sebelum
menyembelih, petugas membaca basmalah.
Ayam yang disembelih harus dalam keadaan hidup, sehat dan bersih.
Penyembelihan harus dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam dan
bersih, sehingga penyembelihan hanya dilakukan sekali sayat untuk
memotong ketiga saluran, yaitu pembuluh darah (vena dan arteri jugularis),
esophagus (kerongkongan) dan trakhea (tenggorokan). Penyembelihan harus
segera dilakukan sesaat setelah ayam tersebut pingsan.

2-82
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

g. Penirisan Daerah (Bleeding)


Untuk menghasilkan daging ayam yang berkualitas dan bebas blood spot
(yang dapat menjadi media berkembangnya bakteri), ayam-ayam yang telah
tersembelih tetap pada sachle untuk proses penirisan darah (bleeding). Darah
akan ditampung pada meja peniris darah (bleeding through). Setiap ayam
yang disembelih akan melalui jalur 12 m untuk penirisan darah. Darah yang
ada pada meja peniris darah ini selanjutnya akan mengalir menuju lubang
pembuangan darah yang terhubung dengan saluran menuju instalasi
pengolahan limbah cair.

Gambar 2.52 Penirisan Darah

h. Pencelupan Air Panas (Scalding)


Proses berikutnya, ayam akan dicelupkan ke dalam air panas yang ada pada
automatic scalder. Proses ini disebut scalding. Tujuannya untuk memanaskan
suhu ayam dan memudahkan proses pencabutan bulu. Air pada automatic
scalder diatur pada temperatur 52 – 550C dan proses scalding ini dilakukan
selama 90 detik.

Gambar 2.53 Pencelupan Air Panas

2-83
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

i. Pencabutan Bulu (Plucking)


Setelah keluar dari automatic scalder selanjutnya ayam masuk pada alat
pencabut bulu otomatis (automatic standing plucker) untuk membersihkan
ayam dari bulu. Apabila masih tersisa bulu-bulu halus pada ayam, selanjutnya
pekerja akan mencabut bulu-bulu tersebut secara manual untuk memastikan
kualitas kebersihannya.
Dengan kapasitas produksi 2.000 ekor/jam atau 16.000 ekor/hari, maka
besarnya bulu ayam yang dihasilkan diprakirakan sebesar 922 kg/hari. Bulu
ayam ini selanjutnya akan ditampung pada wadah, dan akan diambil oleh
masyarakat di sekitar lokasi RPA untuk diolah menjadi pakan ikan.

Gambar 2.54 Pencabutan Bulu

j. Pemotongan Leher dan Kepala (Head Removing)


Setelah proses pencabutan bulu selesai maka berlanjut kepada tahap
pemotongan aggota tubuh ayam. Tahap ini diawali dengan pemotongan
kepala dan leher yang dilakukan secara manual oleh pekerja dengan
menggunakan pisau. Kepala dan leher ini merupakan salah satu produk
sampingan yang dihasilkan dalam RPA.

Gambar 2.55 Pemotongan Leher dan Kepala

2-84
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Penanganan produk sampingan ini dilakukan dengan cara pembersihan leher


dan kepala dengan air dingin dan selanjutnya ini dikemas sesuai dengan
permintaan. Dengan kapasitas produksi 2.000 ekor/jam atau 16.000 ekor/hari
maka produk kepala dan leher yang dihasilkan diprakirakan 1.442 kg/hari.
Produk kepala dan leher ini akan diambil oleh masyarakat sekitar untuk diolah
lebih lanjut.

Gambar 2.56 Penanganan Kepala dan Leher

k. Pengeluaran Jeroan (Evicerating)


Setelah pemotongan kepala dan leher selesai dilakukan, berlanjut dengan
proses pengeluaran jeroan ayam atau disebut dengan evicerating. Proses ini
mencakup pembuatan irisan diantara anus dan ujung tulang dada,
pembuangan kelenjar minyak di daerah ekor, pengeluaran jeroan, dan
pembersihan bagian dalam.

Gambar 2.57 Pengeluaran Jeroan

• Penanganan jeroan
Jumlah jeroan yang dihasilkan diprakirakan 3.0046 kg/hari dalam hal ini
masih berupa jeroan kotor. Penanganan jeroan dilakukan dengan
pemisahan jeroan dan kotoran. Dalam proses ini akan dihasilkan jeroan
bersih 2.112 kg/hari, dan kotoran 934 kg/hari. Jeroan bersih tersebut
merupakan produk sampingan yang juga akan dikemas tersendiri.

2-85
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.58 Penanganan Jeroan

• Pemeriksaan Postmortem
Setelah pengeluaran jeroan segera dilanjutkan dengan proses
pemeriksaan postmortem terhadap jeroan ayam dan karkas. Tujuan
proses pemeriksaan postmortem adalah untuk meneguhkan diagnosa
antemortem, mendeteksi dan mengeliminasi kelainan-kelainan pada
karkas, sehingga karkas tersebut aman dan layak dikonsumsi. Jeroan dan
karkas yang telah lolos pemeriksaan postmortem dipisahkan dikumpulkan
secara terpisah dalam pada tempat khusus masing-masing untuk proses
perendaman karkas. Jeroan dan bagian karkas yang mengalami kelainan
segera dipisahkan dan tidak boleh dikonsumsi oleh manusia. Jeroan dan
karkas ini akan ditempat pada wadah khusus untuk dikelola lebih lanjut.
l. Pemotongan Kaki dan Ceker
Proses yang dilakukan berikutnya adalah pemotongan kaki dan ceker ayam.
Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin, dimana ayam yang masih
tergantung pada sackhle akan melewati piringan pisau yang digerakkan oleh
motor. Sehingga semua ayam yang tergantung, kakinya akan terpotong
secara otomatis. Sementara badan ayam akan jatuh pada scew chiller untuk
proses lebih lanjut.

Gambar 2.59 Pemotongan Kaki dan Ceker

2-86
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Kaki dan ceker ayam ini merupakan produk sampingan. Jumlah kaki dan
ceker ayam yang dihasilkan diprakirakan sebesar 962 kg/hari. Kaki ayam yang
tergantung pada sachkle selanjutnya diturunkan oleh pekerja dan dimasukkan
ke dalam mesin pengelupasan kulit kaki, kemudian dikemas sesuai dengan
permintaan pelanggan.

Gambar 2.60 Penanganan Kaki dan Ceker

m. Perendaman Karkas (Chilling)


Bagian ayam yang telah dibersihkan jeroannya dan dipotong bagian kepala
dan leher, serta bagian kaki ceker ini disebut karkas. Karkas ini harus bersih,
tersanitasi dan higienis. Untuk itu harus dilakukan proses pencucian dan
pendinginan karkas atau perendaman karkas (chilling). Proses perendaman
karkas atau chilling ini dilakukan pada screw chiller yang berupa drum yang
didalamnya terdapat screw (seperti sekrup) yang berputar. Chilling drum
pertama berfungsi untuk mencuci karkas, sedangkan chilling drum yang kedua
berfungsi untuk mendinginkan karkas pada suhu 1 – 40C. Penambahan air
dingin dan klorin dilakukan dengan menggunakan dosing pump.

Gambar 2.61 Pencucian dan Pendinginan Karkas

2-87
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Setelah karkas dicuci dan didinginkan pada screw chiller, selanjutnya karkas
ditiriskan dalam mesin peniris kemudian masuk ke dalam bak penampung
untuk proses sortasi dan grading.

Gambar 2.62 Penirisan Karkas

n. Sortasi dan Grading Karkas


Setelah proses perendaman karkas selesai dilaksanakan, selanjutnya adalah
proses sortasi dan grading karkas yang bertujuan untuk memisahkan karkas
berdasarkan spesfikasi dan kualitasnya. Proses sortasi dan grading dilakukan
dengan pemilihan karkas sesuai dengan permintaan konsumen melalui proses
penimbangan bobot karkas dengan alat timbangan digital. Karkas yang telah
ditimbang akan dikelompokan sesuai dengan tujuan pemasaran dan
permintaan dari konsumen.

Gambar 2.63 Grading Karkas

o. Pengolahan Karkas
Jenis pengolahan karkas yang direncanakan di RPA ini adalah pemotongan
karkas (cutting), pemisahan kulit (skinless process), pemisahan tulang
(boneless process) serta marinasi atau pemberian bumbu pada karkas.

2-88
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

• Pemisahan Kulit (Skinless Process)


Pada proses pemisan kulit atau skinless process ini, karkas dikelupas kulit
punggung dan kulit dadanya sampai bersih dan tuntas dengan
menggunakan pisau oleh pekerja. Kemudian karkas yang telah
dipisahkan kulitnya ini dikemas dan diberi label sesuai spesifikasinya,
atau akan dilakukan jenis pengolahan lainnya (cutting, bonless process,
atau proses marinasi).

Gambar 2.64 Pemisahan Kulit (Skinless Process)

• Pemotongan Karkas (Cutting)


Pemotongan karkas menjadi beberapa bagian ini pada prinsipnya sesuai
dengan spesifikasi permintaan pelanggan. Proses pemotongan karkas
atau proses cutting ini dilakukan dengan menggunakan parting machine
yang dijalankan oleh pekerja. Karkas yang telah dipotong adau di-parting
ini selanjutnya dikemas dan diberi label sesuai spesifikasinya, atau
dilakukan proses lainnya (bonless process, proses marinasi), yang
tentunya juga menyesuaikan dengan spesifikasi permintaan pelanggan.

Gambar 2.65 Pemotongan Karkas (Cutting)

2-89
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

• Pemisahan Tulang (Boneless Process)


Pada proses pemisahan tulang (boneless process), karkas yang telah
dipotong kemudian diambil daging bagian dada dan pahanya secara
manual dengan menggunakan pisau oleh pekerja. Produk karkas
boneless ini dikemas dan diberi label sesuai dengan spesifikasi dan
permintaan pelanggan.

Gambar 2.66 Pemisahan Tulang (Boneless Process)

• Proses Marinasi
Pada proses marinasi, karkas diproses di dalam mesin marinasi (Chicken
Marinator Machine) beserta bumbu marinasi sesuai dengan spesifikasi
dan permintaan pelanggan. Proses marinasi dengan menggunakan mesin
ini lebih efektif dan efisien, dimana lama prosesnya tidak lebih dari 1 jam,
dan juga bumbu dapat merata ke seluruh bagian karkas. Produk karkas
marinasi tersebut selanjutnya dikemas dan diberi label sesuai dengan
jenis dan spesifikasinya.

Gambar 2.67 Proses Marinasi

2-90
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

p. Pengemasan (Packaging)
Pengemasan karkas ini merupakan pengemasan dan pemberian label pada
produk, baik karkas utuh maupun karkas olahan. Pengemasan karkas segar
dilakukan setelah karkas melalui proses sortasi dan grading sesuai dengan
spesifikasi dan kualitas karkas. Pengemasan karkas segar ini menggunakan
hopper yang mempermudah dan mempercepat proses pengemasan produk.
Sedangkan pengemasan karkas olahan merupakan pengemasan karkas yang
telah melalui proses pengolahan, baik karkas tanpa kulit (karkas skinless),
karkas potongan (parting chicken), karkas tanpa tulang (karkas boneless),
maupun karkas bumbu (karkas marinasi). Pengemasan juga diikuti dengan
pemberian label kemasan yang berisi informasi dengan spesifikasi dan
kualitas karkas, serta pembuatan dan kadal kadaluarsa.

Gambar 2.68 Pengemasan Karkas Segar

Gambar 2.69 Pengemasan Karkas Olahan

q. Penyimpanan Dingin (Chilling Room)


Proses penyimpanan dingin ini merupakan penyimpanan produk karkas (dan
jeroan) yang telah dikemas, dengan tujuan untuk memperpanjang lama
simpan, karena dapat menghambat aktivitas bakteri sebelum diolah lebih
lanjut atau sebelum sampai ke konsumen. Penyimpanan produk dingin (fresh)

2-91
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

ini dilakukan pada ruang pendingin (chilling room). Suhu pada chilling room
dijaga pada angka 0-4 0C. Di dalam ruangan ini juga dilakukan pemetaan
untuk membedakan produk sampingan, produk order, dan produk yang akan
dibekukan.

Gambar 2.70 Penyimpanan Dingin

r. Penyimpanan Beku (Cold Storage)


Untuk produk yang akan dibekukan, masuk ke dalam proses pembekuan
cepat dalam air blast freezer. Dalam ruangan ini produk dibekukan hingga
suhu -35 0C selama beberapa kurang lebih 4 jam. Produk disusun di dalam
lori dorong dengan rak-rak yang bertingkat lalu dimasukkan ke dalam air blast
freezer.

Gambar 2.71 Pembekuan Cepat (Blast Freezer)

Setelah proses pembekuan cepat selanjutnya dilakukan pengemasan


sekunder, yaitu dengan memasukkan produk ke dalam karung bersih dan
selanjutnya diberi label yang berisi informasi kualitas, spesifikasi produk,
pembuatan, dan kadal kadaluarsa.

2-92
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.72 Pengemasan Sekunder

Setelah dilakukan pengemasan sekunder, produk dimasukkan dalam ruang


penyimpanan beku atau cold storage dengan menggunakan troli. Suhu dalam
ruangan ini diatur antara 18 – 20 0C. dalam

Gambar 2.73 Penyimpanan Beku ke Cold Storage

s. Pengiriman Produk
Pengiriman produk karkas dilakukan dengan menggunakan kendaraan yang
dilengkapi dengan box freezer untuk menjaga suhu produk.

Gambar 2.74 Pemuatan ke Truk

2-93
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

5. Pengambilan Air Tanah


Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk operasional RPA CV. Arjuna Group
direncanakan bersumber dari air tanah (ground water) dengan sistem pemompaan
menggunakan sumur bor (sumur dalam). Sumur ekploitasi direncanakan dengan
kedalaman hingga 50 m. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih RPA sebesar
399,92 m3/hari, debit pengambilan air tanah direncanakan sebesar ± 278
liter/menit (± 4,63 liter/detik).
Kegiatan pengambilan air tanah ini akan berpengaruh terhadap komponen
geofisik, khususnya air tanah, dimana potensi penurunan muka air tanah dapat
terjadi akibat kegiatan pengambilan air tanah ini. Dalam rangka untuk mengelola
dampak penurunan muka air tanah, Pemrakarsa telah merencanakan pengelolaan
dengan membuat sumur resapan, yang bertujuan sebagai recharge air tanah.
Perencanaan sumur resapan telah dijelaskan dalam Sub bab 2.4.9. Selain itu
Pemrakarsa juga akan mengurus perizinan yang terkait dengan pengambilan air
tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

6. Pemeliharaan Fasilitas dan Utilitas


a. Pembersihan Peralatan, Lantai dan Bangunan
Setelah proses produksi selesai dilaksanakan maka selanjutnya dilakukan
pembersihan. Kegiatan pembersihan ini mencakup pembersihan mesin dan
peralatan, ruangan dan lantai, serta bangunan. Pembersihan akan dilakukan
secara teratur dan benar, sehingga mampu menghilangkan kontaminan yang
ada di RPA.
Proses pembersihan mesin dan peralatan, ruangan dan lantai serta bangunan
di RPA dilakukan melalui proses pembersihan manual (manual cleaning),
pengambilan kotoran (dry cleaning), pembilasan awal dengan air (rinse),
pembersihan dengan detergen (foaming), penyikatan (, pembilasan, dan
penyemprotan dengan desinfektan atau desinfeksi. Desinfeksi merupakan
usaha mengurangi mikroorganisme hidup, tetapi pada umumnya tidak
membunuh spora bakteri. Desinfektan tidak membunuh seluruh
mikroorganisme melainkan menurunkan jumlahnya sampai pada tingkat yang
tidak membahayakan konsumen. Jenis desinfektan akan digunakan dalam
RPA ini antara lain klorin.
• Pembersihan manual (manual cleaning)
Manual cleaning dilakukan pada peralatan yang sensitif terhadap air
seperti panel kontrol elektrik. Pembersihan manual ini dilakukan dengan
pengelapan pada panel kontrol elektrik tersebut. Setelah peralatan ini
bersih selanjutnya ditutup dengan cover dari plastik untuk menghindari
kerusakan pada saat proses pembersihan lainnya (penyemprotan dan
lain-lain).

2-94
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.75 Pembersihan Manual (Manual Cleaning)

• Pengambilan kotoran (dry cleaning)


Pengambilan kotoran atau penyapuan (dry cleaning) dilakukan dengan
cara mengumpulkan kotoran pada lantai ruangan, dan selanjutnya
memasukkan kotoran yang telah dikumpulkan tersebut ke dalam dalam
mini container beroda. Tujuan dari dry cleaning ini untuk meminimalisir
penggunaan air.

Gambar 2.76 Pengambilan Kotoran

• Pembilasan awal (rinse)


Tahap selanjutnya adalah pembilasan awal dengan cara menyemprot
seluruh permukaan mesin dan peralatan serta lantai dengan air yang
bersuhu 50-60 0C. Penyemprotan dilakukan dengan water sprayer yang
menghasilkan tekanan air cukup besar.

2-95
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

Gambar 2.77 Pembilasan Awal (Rinse)

• Pembersihan dengan detergen (foaming)


Pembersihan dengan detergen dilakukan dengan cara penyemprotan
detergen pada permukaan mesin dan peralatan, serta lantai ruangan
secara merata. Tujuannya agar kotoran dan minyak yang menempel pada
mesin dan peralatan serta pada lantai ruangan dapat dibersihkan dengan
mudah pada tahap selanjutnya.

Gambar 2.78 Pembersihan dengan Detergen (Foaming)

2-96
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

• Penyikatan (hand scrub)


Setelah foaming merata pada permukaan mesin, peralatan, dan lantai
bangunan, selanjutnya dilakukan penyikatan secara manual (hand scrub)
untuk membersihkan kotoran secara lebih intensif sehingga kotoran
minyak dan menempel dapat dihilangkan atau dibersihkan.

• Pembilasan akhir
Proses selanjutnya setelah penyikatan selesai dilakukan adalah
pembilasan air dengan air untuk membersihkan kotoran dari proses
penyikatan. Air panas dengan suhu 50-60 0C disemprotkan pada mesin
dan peralatan, serta lantai yang telah disikat. Penyemprotan pada tahap
ini dilakukan secara menyeluruh sehingga mesin dan peralatan, serta
lantai ruangan terlihat bersih.

Gambar 2.79 Pembilasan Akhir

• Desinfeksi
Tahap akhir dari proses pembersihan adalah pemberian desinfektan
dengan cara penyemprotan larutan klorin dengan konsentrasi 100 ppm ke
permukaan mesin dan peralatan dan lantai ruangan.
Pembersihan diatas merupakan pembersihan dengan metode CIP (clean in
place) yang dilakukan pada mesin dan peralatan yang tidak dipindahkan.
Sedangkan pembersihan dan sanitasi peralatan yang sifatnya mobile seperti
pisau penyembelih (stainless knives) , keranjang ayam, dan keranjang daging,
dan troli dilakukan dengan metode yang hampir sama, yaitu penyemprotan air,
pemberian detergen, penyikatan, pembilasan, dan pemberian desinfektan.
b. Pengendalian Vektor Penyakit
Kontrol terhadap hama atau vektor penyakit dilakukan secara rutin. Hama
yang umum dan menganggu adalah lalat dan tikus. Pengendalian tikus
dilakukan dengan pemasangan perangkap tikus dan racun tikus disekeliling
bangunan RPA. Sedangkan untuk pengendalian lalat dilakukan pemasangan
lem lalat pada setiap ruangan, baik di dalam ruang produksi maupun diluar

2-97
UKL-UPL RUMAH POTONG AYAM (RPA)
DI DESA MADIGONDO KECAMATAN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN

bangunan. Selain itu juga dilakukan penyemprotan insektisida di setiap


saluran air di luar gedung maupun ditempat- tempat yang diperkirakan
menjadi tempat perkembangan larva lalat. Untuk mencegah masuknya
serangga di ruang produksi, maka di dalam ruang gelap dipasang ”Insect trap”
di dekat neon ultraviolet.
c. Pemeliharaan Bangunan
Pelaksanaan pemeliharaan bangunan RPA secara umum dilakukan dengan
mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2008
Tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung.
Prosedur dan metode pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan periodik
bangunan gedung secara garis besar mencakup aktivitas pemeriksaan,
pengujian, pemeliharaan, dan perawatan untuk seluruh komponen bangunan
gedung, yang mencakup :
• Komponen arsitektur bangunan gedung (sarana jalan keluar, dinding
kaca, dinding keramik, plafon, pintu, dan kusen).
• Komponen struktur bangunan gedung (pondasi bangunan, pondasi tiang
pancang, struktur bangunan baja, struktur bangunan beton, dinding).
• Komponen mekanikal bangunan gedung (saluran air kotor, saluran air
bersih, peralatan sanitair, kran, tata udara, sistem proteksi kebakaran,
sistem plumbing.
• Komponen elektrikal bangunan gedung (sistem elektrikal, sistem
elektronika).
• Komponen luar bangunan gedung (tangki septik, talang, floor drain, atap)
• Komponen tata graha (toilet, lantai, perabot dan peralatan kantor, koridor).

2-98