Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan angka
kesakitan yang tinggi. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap
(silent killer) karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-
gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. Batas tekanan
darah yang masih dianggap normal pada individu dewasa adalah kurang dari
120 mmHg, sedangkan bila tekanan darah lebih dari 120 mmHg individu
harus mulai mewaspadai terjadinya hipertensi. ( Joint National Committee 7,
2011).
Di dunia, prevalensi untuk kejadian hipertensi menyumbangkan angka
yang sangat besar, yakni ditemukan sekitar 1 milyar kasus individu yang
mengalami hipertensi. Angka tersebut terus meningkat setiap tahunnya yang
di sebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai hipertensi itu
sendiri. Prevalensi hipertensi meningkat pada individu dengan usia lanjut,
dimana setengah dari orang usia 60 – 69 tahun dan sekitar tiga perempat dari
orang yang berusia 70 tahun. (Joint national committe 7, 2011).
Di Indonesia banyaknya penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang
tetapi hanya 4% yang merupakan hipertnsi terkontrol. Prevalensi 6 – 15%
pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita
hipertensi sehingga mereka cenderung menjadi hipertensi berat karena tidak
menghindari dan tidak mengetahui faktor resikonya, dan 90% merupakan
hipertensi esensial (Ardiansyah, 2012).
Perubahan gaya hidup, sosial dan ekonomi secara global memegang
peranan besar dalam terjadinya transisi epidemologi di negara maju maupun
berkembang, sehingga semakin menggambarkan penyakit menular yang
cenderung menurun ke penyakit tidak menular yang meningkat, salah satunya
adalah penyakit hipertensi (Kemenkes RI, 2012).

1.2 Rumusan Masalah

1
1. Apa yang dimaksud hipertensi?
2. Apa saja klasifikasi dari hipertensi?
3. Apa penyebab terjadinya hipertensi?
4. Bagaimana tanda dan gejala hipertensi?
5. Bagaimana penatalaksanaan hipertensi?
6. Bagaimana asuhan keperawatan hipertensi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud hipertensi
2. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari hipertensi
3. Untuk mengetahui apa penyebab terjadinya hipertensi
4. Untuk mengetahui bagaimana tanda dan gejala hipertensi
5. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan hipertensi
6. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan hipertensi

1.4 Manfaat
Menambah ilmu pengetahuan konsep penyakit hipertensi, penatalaksanaan
asuhan keperawatan hipertensi, dan tinjauan kasus pada pasien hipertensi.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN
Hipertensi merupakan salah jenis penyakit tidak menular yang serius
pada saat ini. (Triyanto, 2014)

Hipertensi adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja, baik


muda maupun tua. Hipertensi termasuk dalam jenis penyakit degeneratif,
seiring dengan pertambahan usia maka terjadi juga peningkatan tekanan
darah secara perlahan (Triyanto, 2014).

Hipertensi juga sering disebut sebagai silent killer karena termasuk


penyakit yang mematikan. Hipertensi tidak dapat secara langsung
membunuh penderitanya, melainkan hipertensi memicu terjadinya
penyakit lain yang tergolong kelas berat dan mematikan serta dapat
meningkatkan resiko serangan jantung, gagal jantung, stroke dan gagal
ginjal (Pudiastuti, 2013).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi juga dapat didefinisikan sebagai


peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan
selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang (Pusat Data
dan Informasi Kemenkes RI, 2014).

2.2 KLASIFIKASI
Klasifikasi hipertensi menurut The Seventh Report of Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation and the Treatment of
High Blood Pressure.

3
Tabel 2.2.1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-7
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik
(mmHg)
Optimal 115 atau kurang 75 atau kurang
Normal Kurang dari 120 Kurang dari 80
Prehipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi tahap I 140 – 159 90 – 99
Hipertensi tahap II Lebih dari 160 Lebih dari 100

WHO (World Health Organization) dan ISH (International Society of


Hypertension) mengelompokan hipertensi sebagai berikut:

Tabel 2.2.2 Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO – ISH


Kategori Tekanan darah Tekanan darah
sistol (mmHg) diastol (mmHg)
Optimal <120 <80
Normal <130 <85
Normal- 130-139 85-89
tinggi
Grade 1 140-159 90-99
(hipertensi
ringan)
Sub-group: 140-149 90-94
perbatasan
Grade 2 160-179 100-109
(hipertensi
sedang)
Grade 3 >180 >110
(hipertensi
berat)
Hipertensi ≥140 <90
sistolik
terisolasi
Sub-group: 140-149 <90
perbatasan

4
Perhimpunan Hipertensi Indonesia pada januari 2007 meluncurkan
pedoman penanganan hipertensi di Indonesia, yang diambil dari pedoman
negara maju dan negara tetangga dengan merujuk hasil JNC dan WHO.

Tabel 2.2.3. Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsesus Perhimpunan


Hipertensi Indonesia
Kategori Tekanan darah Tekanan darah
sistol (mmHg) diastol (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-90
Hipertensi 140-159 90-99
stadium 1
Hipertensi >160 >100
stadium 2
Hipertensi ≥140 <90
sistolik terisolasi

2.3 ETIOLOGI
Penyebab hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi
essensial (primer) merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya
dan ada kemungkinan karena faktor keturunan atau genetik (90%).
Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang merupakan akibat dari adanya
penyakit lain. Faktor ini juga erat hubungannya dengan gaya hidup dan
pola makan yang kurang baik. Faktor makanan yang sangat berpengaruh
adalah kelebihan lemak (obesitas), konsumsi garam dapur yang tinggi,
merokok dan minum alkohol. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada
kedua orang tua, maka kemungkinan menderita hipertensi menjadi lebih
besar. Faktor-faktor lain yang mendorong terjadinya hipertensi antara lain
stress, kegemukan (obesitas), pola makan, merokok (M.Adib,2009).

2.4 PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat

5
vasomotor ini bermula jaras (neuron) saraf simpatis, yang berlanjut ke
bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia
simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan
dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf
simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat
sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas
mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem
saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang
emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan
aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan
steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan
angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu
vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron
oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air
oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler.
Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Rohaendi,
2008).

2.5 WEB OF CAUTION (WOC)


Terlampir
2.6 TANDA DAN GEJALA
Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki
gejala khusus. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati
antara lain yaitu gejala ringan seperti :

6
a. pusing atau sakit kepala,
b. sering gelisah,
c. wajah merah,
d. tengkuk terasa pegal,
e. mudah marah,
f. telinga berdengung,
g. sukar tidur,
h. sesak napas,
i. rasa berat ditengkuk,
j. mudah lelah,
k. mata berkunang-kunang,
l. mimisan (keluar darah dari hidung).

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Hemoglobin / hematocrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.
2. BUN : untuk memberikan informasi tentang perfusi ginjal
3. Glukosa
Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi)
4. Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

5. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
6. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya
pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler)
7. Pemeriksaan tiroid

7
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
8. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab)
9. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
10. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
11. Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
12. IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal / ureter
13. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran
jantung
14. CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
15. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi

2.8 PENATALAKSANAAN
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
a. Terapi tanpa Obat

8
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan
dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi
tanpa obat ini meliputi :
1. Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
 Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
 Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
 Penurunan berat badan
 Penurunan asupan etanol
 Menghentikan merokok
2. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang
mempunyai empat prinsip yaitu :
 Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,
jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain
 Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas
aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut
zona latihan.
 Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam
zona latihan
 Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu

3. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
 Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk
menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan
tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.

9
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi
gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk
gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
 Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan
untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara
melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam
tubuh menjadi rileks
4. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan
pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya
dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
b. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah
saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi
agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya
perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang
dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (JOINT NATIONAL
COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT
OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988) menyimpulkan bahwa
obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat
ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan
memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada
penderita.
Pengobatannya meliputi :
 Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis,
ACE inhibitor
 Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
- Dosis obat pertama dinaikkan

10
- Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
- Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika ,
beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin,
reserphin, vasodilator
 Step 3: Alternatif yang bisa ditempuh
- Obat ke-2 diganti
- Ditambah obat ke-3 jenis lain
 Step 4: Alternatif pemberian obatnya
- Ditambah obat ke-3 dan ke-4
- Re-evaluasi dan konsultasi
c. Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi
dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan
(perawat, dokter) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas
kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil
pengukuran tekanan darahnya
2. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai
mengenai tekanan darahnya
3. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat
sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan
morbiditas dan mortilitas
4. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan
tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya,
tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur
memakai alat tensimeter
5. Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan
lebih dahulu
6. Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup
penderita
7. Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi

11
8. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita
atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah
9. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi
misal 1 x sehari atau 2 x sehari
10. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi,
efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
11. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis
atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan
efektifitas maksimal
12. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
13. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih
sering
14. Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang
ditentukan.
Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka
sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang
pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.

2.9 ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI


A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur(kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa,
tanggal dan jam MRS, nomor register dan diagnosis medis.

12
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah sakit kepala disertai rasa berat di tengkuk, sakit kepala
berdenyut.

3. Riwayat kesehatan sekarang


Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan
gejala. Gejala yang dimaksud adalah sakit di kepala, pendarahan di
hidung, pusing, wajah kemerahan, dan kelelahan yang bisa saja
terjadi pada penderita hipertensi. Jika hipertensinya berat atau
menahun dan tidak di obati, bisa timbul gejala sakit kepala,
kelelahan, muntah, sesak napas, pandangan menjadi kabur, yang
terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, dan
ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan
kesadaran dan bahkan koma.

4. Riwayat kesehatan dahulu


Apakah ada riwayat hipertensi sebelumnya, diabetes militus,
penyakit ginjal, obesitas, hiperkolesterol, adanya riwayat merokok,
penggunaan alcohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral, dan
lain-lain.

5. Riwayat kesehatan keluarga


Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi.

6. Data dasar pengkajian pasien


a. Aktivitas/istirahat
Gejala: kelemahan, letih, sesak napas, gaya hidup monoton.
Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama
jantung, takipnea.
b. Sirkulasi

13
Gejala: riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda: kenaikan tekanan darah meningkat,denyutan nadi
jelas dan karotis.

c. Integritas ego
Gejala: perubahan kepribadian, ansietas, euphoria, marah
kronik(dapat mengindikasikan kerusakan serebral).
Tanda: gelisah, otot muka tegang, gerakan fisik cepat,
peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala: gangguan saat ini atau yang lalu/obstruksi riwayat
penyaki ginjal.
e. Makanan dan cairan
Gejala: makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol,
gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi kalori, mual,
muntah, perubahan berat badan.
Tanda: berat badan obesitas, adanya edema, kongesti vena,
glikosuria.
f. Neorosensori
Gejala: keluhan Pening/pusing, berdenyut, sakit kepala
subosipital, gangguan penglihatan(diplopia, penglihatan kabur)
Tanda: status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola
bicara, proses pikiir, respon motorik: penurunan kekuatan
ganggaman tangan/reflex tendon dalam.

g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala: angina, nyeri tulang timbulpada tungkai, sakit
kepala oksipital berat, nyeri abdomen.
h. Pernapasan

14
Gejala: dipsnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja,
takipnea, ortopnea, noktural, paroksimal,batuk dengan/tanpa
pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda: Distres respirasi/penggunaan otot aksesori
pernapasan, bunyi napas tambahan, sianosis.
i. Keamanan
Gejala: gangguan koordinasi/ cara berjalan
Tanda: episode Parestesia unilateral transient, hipotensi
postural.
j. Pembelajaran/ penyuluhan
Gejala: hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM,
penyakit serebrovaskular.
k. Rencana pemulangan
Bantuan dengan pemantauan ATD, perubahan dalam terapi
obat.

l. Pemeriksaan penunjang
1. Hemoglobin/hemotokrit: mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan(viskosita)
2. BUN/kreatinin:nmemberikan informasi tentang
perfusi/fungsi ginjal
3. Glukosa: hiperglikemia diakibatkan oleh peningkatan kadar
katekolamin
4. Kalium serum: hipokalemia dapat mengindikasikan adanya
aldosteron utama(penyebab)
5. Kolesterol dan trigliserida serum: peningkatan kadar dapat
mengindikasikan adanyapembentukan plak
ateromatosa(efek kardiovaskuler)
6. Foto dada: dapat menunjukan obstruksi kalsifikasi pada
area katup
7. EKG: dapat menunjukan perbesaran jantung, pola
regangan, gangguan konduksi

15
B. DIAGNOSA
a) resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan
dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi, dan
iskemia miokardia.
b) nyeri(akut) : sakit kepala berhubungan dengan peningkatan
tekanan vaskuler serebral pada region sub oksipital.
c) intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen.
d) perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolic pola
hidup monoton.
e) ketidakefektifan koping individual berhubungan dengan krisis
maturasional.
f) kurang pengetahuan(kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan
rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan /
daya ingat.

C. INTERVENSI
A. Resiko Tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan
dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi dan
iskemia miokardia.
Tujuan:
Setelah dilakukan intervensi keperawatan , diharapkan penurunan
curah jantung tidak terjadi.

Kriteria Hasil:
1) Tekanan darah dalam batas normal/terkontrol(110/70-
120/80 mmHg)
2) Irama dan Frekuensi Jantung stabil(HR=60-100x/i)

16
3) Akral hangat
4) Kulit tidak pucat
5) Pengisian kapiler(Capilarry refile) baik, kembali dalam
waktu 2-3 detik
6) Oedema tidak ada

Intervensi Rasional
Mandiri:

1) Pantau tekanan darah, ukur 1. perbandingan dari tekanan


tangan/paha, untuk evaluasi awal memberikan gambaran yang
2) Catat keberadaan, kualitas lebih lengkap tentang bidang
denyutan sentral dan perifer masalah vascular.
3) Auskultasi tonus jantung dan 2. denyutan karotis, jugularis,
bunyi nafas radialis dan femoralis
4) Amati warna kulit, kelembaban mungkkin teramati/terpalpasi.
suhu, dan masa pengisiaan
3. umum terdengar pada pasien
kapiler
hipertensi berat karena adanya
5) Catat edema umum dan tertentu
hipertrofi atrium
6) Berikan lingkungan tenang,
nyaman, kurangi 4. adanya pucat, dingin, kulit
aktivitas/keributan lingkungan lembab, dan masa pengisian
7) Pertahankan pembatasan kapiler lambat mungkin
aktifitas berkaitan dengan
8) Lakukan tindakan yang nyaman. vasokonstriksi
9) Anjurkan tekhnik relaksasi, 5. dapat mengindikasikan gagal
panduan imajinasi, aktivitas jantung, kerusakan ginjal, dan
pengalihan vascular.
10) Pantau respons terhadap obat
6. membantu untuk menurunkan
untuk mengontrol tekanan darah.
rangsangan
simpatis:meningkatkan

17
relaksasi

7. menurunkan stress dan


ketegangan yang
mempengaaruhi tekanan darah

8. mengurangi ketidaknyamanan
dan dapat menurunkan
rangsangan simpatis

9. menurunkan rangsangan yang


dapat menimbulkan stress,
sehingga dapat menurunkan
tekanan darah.

10. respon terhadap terapi obat


tergantung pada individu dan
efek sinergis obat.

Kolaborasi:

1. Berikan obat-obatan sesuai 1. karena efek kerja obat bervariasi


indikasi.
waktupun secara umum dapat
2. Berikan pembatasan cairan menurunkan tekanan darah.
dan diit natrium sesuaii 2. dapat menangani retensi cairan
indikasi. dengan respon hipertensi.

b. Nyeri akut: sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular


selebar

Intervensi Rasionalisasi
Mandiri:

18
1. Pertahankan tirah 1. Meminimal kanstimulus/
baring selama fase aktif tindakan relaksasi
2. Berikan tindakan non 3. Tindakan yang menurunkan
farmokologis untuk tekanan vaskuler serebal dan
menghilangkan sakit kepala yang memperlambat/memblok
3. Hilangkan minimal aktifitas respon simpatis efektif dalam
vasokontraksi yang dapat menghilangkan sakit kepala dan
meningkatkan sakit kepala. komplikasinya.
4. Bantu pasien dalam ambulasi 4. Aktifitas yang meningkatakan
sesuai kebutuhan. vasokontraksi menyebabkan skit
5. Berikan cairan, makanan lunak, kepala.
perawatan mulut yang teratur 5. Pasien juga dapat mengalami
bila terjadi pendarahan hidung. episode impotensi postural.
6. Meningkatkan kenyamanan
umum.

Kolaborasi:
1. Menurunkan nyeri dan menurunkan
1. Berikan obat sesuai dengan rangsangan system syaraf simpatis.
indikasi analgesic. 2.Mengurangi tekanan dan ketidak
2. Anti ansientas. nyamanan yang diperberat oleh stress.

c. intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,


ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Intervensi Rasional
Mandiri 1. menyebutkan parameter
1. Kaji respon pasien terhadap membantu dalam mengkaji, respons
aktivitas, perhitungan frekuensi fisiologis terhadap stress aktivitas
nadi lebih dari 20x/menit di atas dan bila ada merupakan indicator

19
frekuensi istirahat dari kelebihan kerja yang berkaitan
2. Instruksikan pasien tentang teknik dengan tingkat aktivitas
penghematan energy. 2. teknik menghemat energy
3. Berikan dorongan untuk mengurangi penggunaan energy,
melakukan aktifitas perawatan juga membantu keseimbangan
diri terhadap jika dapat di antara suplai dan kebutuhan oksigen.
toleransi
3. kemajuan aktivitas terhadap
menncegah peningkatan kerja
jantung tiba.

d. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan


berlebihan berhubungan dengan kebutuhan metabolic, pola hidup monoton dan
keyakinan budaya.

Intervensi Rasional
1. kaji pemahaman pasien tentang hubungan 1. Kegemukan adalah resiko
langsung antara hipertensi dan kegemukan tambahan pada tekanan darah
2. bicarakan pentinganya menurunkan naik
masukan kalori dan batasi masukan 2. kesalahan kebiasaan makan
lemak, garam, dan gula sesuai indikasi dapat menunjang terjadinya
3. tetapkan keinginan pasien menurunkan arterosklerosis dan kegemukan
berat badan 3. motivasi untuk pennurunan
4. kaji ulang masukan kalori harian dan berat badan adalah internal
pilihan diet 4. mengidentifikasi kekuatan
5. tetapkan rencana penurunan berat badan /kelemahan dalam program
yang realistic dengan pasien diit terakhir
5. dorong pasien untuk mempertahankan 5. penurunan masukan kalori
masukan makan harian termasuk kapan dan seseorang sebanyak 500
dimana makan dilakukan dan lingkungan dan kalori/hari secara teori dapat
perasaan sekitar saat makanan di makan menurunkan 0,5 kg/minggu
6. instruksikan dan bantu memilih makan 6. memberikan data dasar tentang
yang tepat, hindari makanan dengan keadekuatan nutrisi yang dimakan

20
kejenuhan lemak tinggi. dan kondisi emosi saat makan.

Kolaborasi:
1. rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi 1. menghindari makanan tinggi
lemak jenuh dan kolesterol
penting dalam menvegah
perkembangan aterogenesis
memberikan konseling dan
bantuan dengan memenuhi
kebutuhan diet individual.

DAFTAR PUSTAKA

 Triyanto, T. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi


Secara Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu
 Pudiastuti, R. D. 2013. Penyakit-Penyakit Mematikan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
 Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2014. Infodatin Hipertensi.
 kemenkes RI. (2013). Data Dan Informasi kesehatan, gambatran kesehatan
lanjut usia di indonesi. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI
 Kemenkes RI. ( 2013 ) panduan hari kesehatan sedunia : Waspadai
hiertensi kendalikan tekanan Darah. Jakarta : kementrian kesehatan RI

21