Anda di halaman 1dari 17

TUGAS GIZI DAN DIET

“PENCEGAHAN DAN PENANGANAN CACINGAN”

Dosen Pembimbing :
Hj. Masamah Almahmudah, SKM.,M.Kes
Disusun Oleh :
Presdiana Pratiwi (P27820118013)
Nur Jannah (P27820118013)
Izan Hendra Prasetyo (P27820118013)
Ade Irma Suryani (P27820118013)
Rapi Dhira Dentasari (P27820118013)
Afifah Zery Afrilia (P27820118013)
Juli Astianti (P27820118013)
1 REGULER A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

PRODI DIII KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO

SURABAYA

2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Yang telah memberikan rahmat dan
karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pencegahan dan
Penanggulangan Cacingan” untuk memenuhi Tugas dari matakuliah Gizi dan Diet.

Makalah ini menjelaskan terkait pengertian cacingan, cacing-cacing apa sajakah yang
dapat menyebabkan caingan, bagaimana gejala-gejala jika manusia mengalami cacingan,
dampak dari cacingan, cara penularan cacingan, cara pencegahan agar terhindar dari penyakit
cacingan .

Sebelumnya kami pribadi mengucapkan terimakasih kepada ibu Hj. Masamah


Almahmudah,SKM.,M.Kes selaku dosen pembimbing yang telah berkenan memberikan tugas ini
sehingga kami mengerti arti penting dalam pembuatan sebuah makalah dan mengerti dari topik
yang diangkat. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk proses penyempurnaan makalah selanjutnya .
atas perhatianya penulis ucapkan terimakasih

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.....................................................................................................................(i)

Daftar Isi..............................................................................................................................(ii)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..................................................................................................(1)


1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................(3)
1.3 Tujuan Penulisan...............................................................................................(3)
1.4 Manfaat Penulisan.............................................................................................(3)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian..........................................................................................................(4)

2.2 Jenis-jenis cacing...............................................................................................(4)

2.3 Gejala-gejala cacingan......................................................................................(6)


2.4 Dampak.............................................................................................................(7)

2.5 Cara penularan...................................................................................................(8)

2.6 Pencegahan........................................................................................................(9)

2.7 Penanganan........................................................................................................(11)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan........................................................................................................(12)

3.2 Saran..................................................................................................................(13)

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................(14)

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kecacingan adalah masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan.
Berdasarkan datadari World Health Organization (WHO), lebih dari 1,5 miliar orang
atau 24% dari populasi dunia terinfeksi Soil Transmitted Helminths (STH). Infeksi
tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, dengan jumlah terbesar terjadi di sub-Sahara
Afrika, Amerika, Cina dan Asia Timur (WHO, 2013). Di Indonesia sendiri prevalensi
kecacingan di beberapa kabupaten dan kota pada tahun 2012 menunjukkan angka diatas

Prevalensi angka kecacingan di Indonesia masih cukup tinggi, antara 45 – 65%,


bahkan pada daerah –daerah tertentu yang kondisi lingkungannya buruk bisa mencapai
80%, angka tersebut tergolong tinggi. Di beberapa daerah di Indonesia terutama di
daerah pedalam belum semuamendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, kasus
infeksi cacing yang kronik banyak ditemukan di daerah pedalaman yang secara latar
belakang pengetahuan kesehatan dan pendidikan rendah.Ada beberapa factor yang
mempengaruhi tingginya angka kecacingan pada masyarakat Indonesia selain karena
kondisi lingkungan geografis, juga karena factor kersadaran untuk melakukan pola
hidup bersih dan sehat, rendahnya pengetahuan kesehatan, dan kurangnya penyuluhan
kepada masyarakat terutama di daerah terpencil memberi kontribusi tingginya angka
kecacingan di Indonesia.Apabila dicermati lebih lanjut, infeksi cacing ini sepele, tetapi
pengaruhnya bisa sangat mengganggu terutama pada anak-anak yang dalam masa
pertumbuhan, infeksi ringan mengakhibatkan anemia dengan berbagai manifestasi
kilinis, baik yang terlihat secara nyata maupun yang tidak terlihat.Kasus infeksi yang
sedang sampai berat bisa mengakhibatkan adanya gangguan penyerapan pada usus dan
gangguan beberapa fungsi organ dalam. Apabila hal ini terjadi pada masa anak-anak
terutama disekolah, maka akan sangat mengganggu proses belajar mengajar, secara
nyata anak bisa mengalami kemunduran prestasi, yang disadari atau tidak hal tersebut
mempengaruhi masa depan mereka.  Kasus infeksi pada orang dewasa biasanya tidak
disadari, contoh kasus pada infeksi filaria, membutuhkan waktu yang cukup panjang
dari infeksi sampai terjadinya elephantiasis (Kaki gajah) beberapa kasus menunjukkan

1
bahwa orang yang terinfeksi mengetahui bahwa dirinya terkena elephantiasis setelah
kakinya membesar.
Fenomena infeksi cacing ini seperti gunging es, yang muncul ke permukaan kecil,
tetapi sebenarnya banyak kasus dan kejadian infeksi cacing yang tidak terekspos.Kita
sebagai warga masyarakat kesehatan yang mengetahui tentang hal ini idealnya turut
memberi sumbangan terhadap peningkatan derajat kesehatan, dalam hal ini adalah
menekan kejadian infeksi cacing.Penyakit yang sering terjadi ini sangat menganggu
tumbuh kembang anak.Sehingga sangat penting untuk mengenali dan mencegah
penyakit cacing pada anak sejak dini.Gagguan yan ditimbulkan mulai dari yang ringan
tanpa gejala hingga sampai yang berat bahkan sampai mengancam jiwa.Secara umum
gangguan nutrisi atau anmeia dapat terjadi pada penderita.
Hal ini secara tidak langsung akan mengakibatkan gangguan kecerdasan pada
anak.Sekitar 60 persen orang Indonesia mengalami infeksi cacing. Kelompok umur
terbanyak adalah pada usia 5-14 tahun. Angka prevalensi 60 persen itu, 21 persen di
antaranya menyerang anak usia SD dan rata-rata kandungan cacing per orang enam ekor.
Data tersebut diperoleh melalui survei dan penelitian yang dilakukan di beberapa
provinsi pada tahun 2006.Hasil penelitian sebelumnya (2002-2003), pada 40 SD di 10
provinsi menunjukkan prevalensi antara 2,2 persen hingga 96,3 persen. Sekitar 220 juta
penduduk Indonesia cacingan, dengan kerugian lebih dari Rp 500 miliar atau setara
dengan 20 juta liter darah per tahun. Penderita tersebar di seluruh daerah, baik di
pedesaan maupun perkotaan.Karena itu, cacingan masih menjadi masalah kesehatan
mendasar di negeri ini.
Cacingan umumnya disebabkan oleh tanah, iklim/suhu, kelembaban, dan angin
(Margono, 2008). Cacing dapat masuk ke tubuh manusia karena anak-anak seringkali
bermain di tanah dengan tidak memperhatikan kebersihan diri seperti mencuci tangan
setelah bermain di tanah sehingga cacing yang terdapat di kuku jari dapat masuk ke
tubuh, selain itu juga anak yang sering bermain tanpa menggunakan alas kaki dapat
menyebabkan cacingan karena cacing juga terdapat pada feses manusia yang ada di
lingkungan sekitar. Cacingan jarang sekali menyebabkan kematian secara langsung,
namun sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Cacingan dapat
mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktivitas

2
penderita sehingga secara ekonomi dapat menyebabkan banyak kerugian yang pada
akhirnya dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia (Wintoko 2014). Apabila
terjadi infeksi berat, maka penderita akan kehilangan darah secara perlahan dan dapat
menyebabkan anemia berat (Margono, 2008).
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengertian cacingan ?
b. Cacing-cacing apa sajakah yang menyebabkan caingan ?
  

c. Bagaimana gejala-gejala jika manusia mengalami cacingan ?


d. Bagaimana dampak dari cacingan ?
  

e. Bagaimana cara penularan cacingan ?


  

f. Bagaimana cara pencegahan agar terhindar dari penyakit cacingan ?


1.3 Tujuan

a. dapat memahami dan mengerti apa yang dimaksud dengan penyakit cacingan.

b. dapat mengetahui dan memahami jenis-jenis cacing yang menyebabkan cacingan.

c. Dapat mengetahui gejala-gejala pada manusia jika mengidap penyakit cacingan.

d. Mengetahui dampak dari penyakit cacingan.

e.  Mengetahui cara pencegahan untuk menghindari penyakit cacingan.

1.4    Manfaat

Dapat mengetahui dan memahami mengenai penyakit cacingan, sehingga dapat

mencegah untuk terpapar penyakit cacingan.Makalah ini juga dapat dijadika referensi
bagi makalah selanjutnya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Infeksi cacing atau biasa disebut dengan penyakit cacingan termasuk dalam
infeksi yang di sebabkan oleh parasit. Parasit adalah mahluk kecil yang menyerang tubuh
inangnya dengan cara menempelkan diri (baik di luar atau di dalam tubuh) dan
mengambil nutrisi daritubuh inangnya. Pada kasus cacingan, maka cacing tersebut
bahkan dapat melemahkantubuh inangnya dan menyebabkan gangguan kesehatan.
Cacingan biasanya terjadi karena kurangnya kesadaran akan kebersihan baik
terhadap diri sendiri ataupun terhadap lingkungannya. Cacingan dapat menular
melalui larva/telur yang tertelan & masuk ke dalam tubuh. Cacing merupakan hewan
tidak bertulang yang berbentuk lonjong & panjang yang berawaldari telur/larva hingga
berubah menjadi bentuk cacing dewasa.Cacing dapat menginfeksibagian tubuh manapun yang
ditinggalinya seperti pada kulit, otot, paru-paru, ataupun usus/saluran pencernaan
Penyakit cacingan, khususnya pada anak sering dianggap sebagai penyakit yang
sepeleoleh sebagian besar kalangan masyarakat.Padahal penyakit ini bisa
menurunkan tingkatkesehatan anak. Di antaranya, menyebabkan anemia, IQ
menurun, lemas tak bergairah,ngantuk, malas beraktivitas serta berat badan rendah.
2.2 Jenis-Jenis Cacing
Cacing pada manusia pun banyak jenisnya, ada cacing gelang, cacing pita dan cacing
pipih. Berikut jenis-jenis cacing :
1. C A C I N G G E L A N G ( A s c a r i s l u m b r i c o i d e s )
 Warna : Merah muda atau putih, Besarnya : 20 - 30 cm, Hidup di : Usus kecil,
Cara Penularannya:Telur cacing masuk melalui mulut, Menetas di usus kecil menjadi
larva, Larva dibawa oleh aliran darah ke paru-paru melalui hati
Bila larva ini sampai ke tenggorokan dan tertelan, mereka masuk  ke dalam usus
kecil danmenjadi dewasa di sana.Cacing gelang dapat mengisap 0,14 gr karbohidrat
setiap hari. Lihat Gambar 1.a dan Gambar 1.b

4
Gambar 1.a Gambar 1.b
2. C A C I N G C A M B U K ( T r i c u r i s T r i c h i u r a )
Warna : Merah muda atau abu-abu, Besarnya : 3 - 5 cm, Hidup di : Usus besar
CaraPenularannya: Telur cacing tertelan bersama dengan air atau makananMenetas di
usus kecil dan tinggal di usus besar. Telur cacing keluar melalui kotoran dan jika telur ini
tertelan, terulanglah siklus ini. Lihat Gambar 2.a

Gambar 2.a
3. C A C I N G T A M B A N G ( A n c y l o s t o m i a s i s )
Warna : MerahBesarnya : 8 - 13 mmHidup di : Usus kecil
Cara Penularannya: Larva menembus kulit kaki, Melalui saluran darah larva dibawa ke
paru-paru yang menyebabkan batuk, Larva yang ditelan menjadi dewasa pada usus kecil
dimana mereka menancapkan dirinya untuk mengisap darah.Cacing tambang
merupakan infeksi cacing yang paling merugikan kesehatan anak-
anak.Infeksi cacing tambang dapat menyebabkan anemia (kurang darah).
Cacing tambang dapatmengisap darah 10 - 12 mililiter setiap hari. Lihat gambar 3.a dan
gambar 3.b

5
Gambar 3.a Gambar 3.b
4. CACING KREMI (Enterobius Vermicularis)
 Warna : PutihBesarnya : 1 cm Hidup di : Usus besar 
Cara Penularannya:Cacing betina bertelur pada malam hari di anus, Anus
menjadi gatal, garukan pada anus membawa telur cacing ini menyebar.
Melaluikontak dengan tempat tidur, bantal, sprei, pakaian, telur cacing kremi
dibawa ke tempatlain.,Jika telur-telur ini termakan, terunglah siklus ini. Lihat
gambar 4.a

Gambar 4.a
2.3 Gejala – Gejala Cacingan
Secara khususnya :
C a c i n g k r e m i   :  Gejalanya adalah rasa gatal di sekitar daerah anus atau
vulva(kemaluan wanita). Gejala ini akan memburuk di malam hari ketika
cacing kremib i a s a n y a a k a n k e l u a r d a r i p e r m u k a a n t u b u h u n t u k

6
m e n a r u h t e l u r n y a d i s e k i t a r   anus/vulva. Cacing juga biasanya dapat terlihat
di feses.
Cacing gelang : Biasanya tidak menimbulkan gejala, meskipun untuk jenis
Toxocaracanis dapat menyebabkan masalah penglihatan apabila terdapat di mata
karenamenimbulkan radang & luka pada retina mata. Cacing gelang ini juga
dapatberpindah ke bagian paru-paru menyebabkan timbulnya batuk & asma, sertamenimbulkan
bengkak di organ tubuh lain.
Cacing Tambang : Dapat menimbulkan rasa sakit di daerah perut. Cacing pita dapat
menutupi daerah otot, kulit, jantung, mata & otak.
Selain hal tersebut di atas, gejala lain yang mungkin timbul adalah :
a. Rasa mual
b. Lemas
c. Hilangnya nafsu makan
d. Rasa sakit di bagian perut
e. Diare
f. Turunnya berat badan karena penyerapan nutrisi yang tidak
mencukupidari makanan.

 Pada infeksi yang lebih lanjut apabila cacing sudah berpindah tempat dari usus ke
organlain, sehingga menimbulkan kerusakan organ & jaringan, dapat timbul gejala :
a. Demam
b. Adanya benjolan di organ/jaringan tersebut
c. Dapat timbul reaksi alergi terhadap larva cacing
d. Infeksi bakteri
e. Kejang atau gejala gangguan syaraf apabila organ otak sudah terkena.
2.4 Dampak
Anak-anak akan mengalami berbagai dampak psikologis bila mereka terkena
penyakit cacingan. Dampak psikologis yang terjadi pada si anak bila
menderita penyakit cacing kremi, si anak akan merasakan gatal di anusnya pada
malam hari sehingga si anak akan menagis dan terganggu waktu tidurnya. Pada anak
yag menderita penyakit karena cacing tambang, Cacing tambang ini merupakan

7
infeksi cacing yang paling merugikan kesehatan anak-anak. Infeksi cacing tambang
dapat menyebabkan anemia (kurang darah), sehingga sianak akan lemas untuk
beraktivitas jadi terganggu aktivitas sehari-harinya, Konsetrasi dan daya ingat anak
yang menurun sehingga anak sulit mencerna pelajaran di sekolah.
Penderita cacingan di kalangan anak sekolah juga cukup tinggi.
Menurut survei yang pernah dilakukan di Jakarta, terutama pada anak
Sekolah Dasar (SD) menyebutkan sekitar 49,5 persen dari 3.160 siswa di 13 SD
ternyata menderita cacingan. Siswa perempuan memiliki prevalensi lebih tinggi,
yaitu 51,5 persen dibandingkan dengan siswa   laki-laki yang hanya 48,5 persen.
Biasanya seorang siswa yang terinfeksi cacing akan mengalami kekurangan
hemoglobin (Hb) hingga 12 gr persen, dan akan berdampak terhadapkemampuan
darah membawa oksigen ke berbagai jaringan tubuh, termasuk ke otak. Akibatnya,
penderita cacingan terserang penurunan daya tahan tubuh serta metabolisme jaringan
otak. Bahkan, dalam jangka panjang, penderita akan mengalami kelemahan fisik dan
intelektualitas. Kategori infeksi cacing ditentukan dari jumlah cacing yang
dikandungnya. Jika anak-anak itu sudah terinfeksi cacing, biasanya akan
menunjukkan gejala keterlambatan fisik, mental dan seksual.
Infeksi usus akibat cacingan, juga berakibat  menurunnya status gizi
penderita yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, sehingga memudahkan
terjadinya infeksi penyakit lain, termasuk HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria.
Jenis penyakit parasit ini kecil sekali perhatiannya dari pemerintah bila dibandingkan
dengan HIV/AIDS yang menyedot anggaran cukup besar, padahal semua bentuk
penyakit sama pentingnya dan sikap masyarakat sendiri juga tak peduli terhadap
penyakit jenis ini.
2.5 Cara Penularan
Cacing masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan atau minuman yang
tercemar telur-telur cacing.Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus halus
yang banyak berisi makanan.Meski ada juga yang tinggal di usus besar. Penularan
penyakit cacing dapat lewat berbagai cara, telur cacing bisa masuk dan tinggal dalam
tubuh manusia. Ia bisa masuk lewat makanan atau minuman yang dimasak
menggunakan air yang tercemar. Jika air yang telah tercemar itu dipakai untuk

8
menyirami tanaman, telur-telur itu naik ke darat.Begitu air mengering, mereka
menempel pada butiran debu.Telur yang menumpang pada debu itu bisa menempel
pada makanan dan minuman yang dijajakan di pinggir jalan atau terbang ke tempat-
tempat yang sering dipegang manusia. Mereka juga bisa berpindah dari satu tangan
ke tangan lain. Setelah masuk ke dalam usus manusia, cacing akan berkembang biak,
membentuk koloni dan menyerap habis sari-sari makanan. Cacing mencuri zat gizi,
termasuk protein untuk membangun otak.
Setiap satu cacing gelang memakan 0,14 gram karbohidrat dan 0,035 protein
per hari. Cacing cambuk menghabiskan 0,005 milimeter darah per hari dan cacing
tambang minum 0,2 milimeter darah per hari. Kalau jumlahnya ratusan, berapa besar
kehilangan zat gizi dan darah yang digeogotinya.Seekor cacing gelang betina dewasa
bisa menghasilkan 200.000 telur setiap hari.Bila di dalam perut ada tiga ekor saja,
dalam sehari mereka sanggup memproduksi 600.000 telur.

2.6 Pencegahan
a. Cucilah tangan sebelum makan.
b. Budayakan kebiasaan dan perilaku pada diri sendiri, anak dan keluarga untuk
mencuci tangan sebelum makan. Kebiasaan akan terpupuk dengan baik apabila
orangtua meneladani. Dengan mencuci tangan makan akan mengeliminir
masuknya telur cacing ke mulut sebagai jalan masuk pertama ke tempat
berkembang biak cacing di perut kita.
c. Pakailah alas kaki jika menginjak tanah. Jenis cacing ada macamnya. Cara
masuknya pun beragam macam, salah satunya adalah cacing tambang (Necator
americanus ataupun Ankylostoma duodenale). Kedua jenis cacing ini masuk
melalui larva cacing yang menembus kulit di kaki, yang kemudian jalan-jalan
sampai ke usus melalui trayek saluran getah bening. Kejadian ini sering disebut
sebagai Cutaneus Larva Migran (dari namanya ini kita sudah tahu lah apa artinya;
cutaneus: kulit, larva: larva, migrant: berpindah). Nah, setelah larva cacing sampai
ke usus, larva ini tumbuh dewasa dan terus berkembang biak dan menghisap
darah manusia. Oleh sebab itu Anda akan anemia. *Lha wong berbagi darah dan
hidup dengan cacing

9
d. Gunting dan bersihkan kuku secara teratur. Kadang telur cacing yang terselip di
antara kuku Anda dan selamat masuk ke usus Anda dan mendirikan koloni di
sana.
e. Jangan buang air besar sembarangan dan cuci tangan saat membasuh. Setiap
kotoran baiknya dikelola dengan baik, termasuk kotoran manusia. Di negara kita
masih banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk buang hajat. Dengan
perilaku ini maka kotoran-kotoran ini akan liar tidak terjaga, sehingga mencemari
lingkungannya. Dan, jika lingkungan sudah cemar, penularan sering tidak
pandang bulu. Orang yang sudah menjaga diri sebersih mungkin sekalipun masih
dapat dihinggapi parasit cacing ini.
f. Bertanam atau Berkebunlah dengan baik. Ambillah air yang masih baik untuk
menyiram tanaman. Agar air ini senantiasa baik maka usahakan lingkungan
sebaik mungkin. Menjaga alam ini termasuk bagian dalam merawat kesehatan.
g. Peduli lah dengan lingkungan, maka akan dapat memanfaatkan hasil yang baik.
Jika air yang digunakan terkontaminasi dengan tinja manusia, bukan tidak
mungkin telur cacing bertahan pada kelopak-kelopak tanaman yang ditanam dan
terbawa hingga ke meja makan.
h. Cucilah sayur dengan baik sebelum diolah. Cucilah sayur di bawah air yang
mengalir. Mengapa demikian? Ya, agar kotoran yang melekat akan terbawa air
yang mengalir, di samping itu nilai gizi sayuran tidak hilang jika dicuci di bawah
air yang mengalir. Cara mengolah sayuran yang baik dapat Anda lihat di artikel
Cerdas mengolah Sayuran : Menjamin Ketersediaan Nutrisi.
i. Hati-hatilah makan makanan mentah atau setengah matang, terutama di daerah
yang sanitasinya buruk. Perlu dicermati juga, makanan mentah tidak selamanya
buruk. Yang harus diperhatikan adalah kebersihan bahan makanan agar makanan
dapat kita makan sesegar mungkin sehingga enzim yang terkandung dalam
makanan dapat kita rasakan manfaatnya. Ulasan saya tentang makanan mentah
yang menyehatkan dapat dilihat pada artikel Diet Sunda ini.
j. Buanglah kotoran hewan hewan peliharaan kesayangan Anda seperti kucing atau
anjing pada tempat pembuangan khusus

10
k. Pencegahan dengan meminum obat anti cacing setiap 6 bulan, terutama bagi Anda
yang risiko tinggi terkena infestasi cacing ini, seperti petani, anak-anak yang
sering bermain pasir, pekerja kebun, dan pekerja tambang (orang-orang yang
terlalu sering berhubungan dengan tanah.
2.7 Penanganan
Karena terkadang sulit mendeteksi orang yang cacingan, maka harus rutin untuk
minum obat cacing setiap enam bulan satu dosis yang sesuai dari yang dianjurkan.
Jika sudah mengetahui terkena cacingan, segera bawa ke Dokter agar dapat diperiksa
lebih lanjut kejadian cacingan yang menyerang anggota keluarga sehingga bisa
mendapatkan obat cacingan yang diresepkan dan sesuai.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Infeksi cacing atau biasa disebut dengan penyakit cacingan termasuk dalam infeksi yang
di sebabkan oleh parasit. Parasit adalah mahluk kecil yang menyerang tubuh inangnya dengan cara
menempelkan diri (baik di luar atau di dalam tubuh) dan mengambil nutrisi daritubuh
inangnya. Pada kasus cacingan, maka cacing tersebut bahkan dapat melemahkantubuh
inangnya dan menyebabkan gangguan kesehatan.
Jenis-Jenis Cacing yang dapat menginfeksi antara lain :
1. CACING GELANG (Ascaris lumbricoides)
2. CACING CAMBUK(Tricuris Trichiura)
3. CACING TAMBANG(Ancylostomiasis)
4. CACING KREMI (Enterobius Vermicularis)
Gejala umum jika terinfeksi cacingan adalah timbulnya rasa mual, lemas, hilangnya nafsu
makan rasa sakit di bagian perut, diare, dan turunya berat badan karena penyerapan nutrisi
yang tidak mencukuoi dari makanan. Pada infeksi yang lebih lanjut apabila cacing sudah
berpindah tempat dari usus ke organ lain, sehingga menimbulkan kerusakan organ dan
jaringan. Dapat menimbulkan gejala demam, adanya benjolan di organ dan jaringan, dapat
timbul reaksi alergi cacing, infeksi bakteri, kejang atau gejala gangguan syaraf apabila organ
otak sudah terkena.
Penderita cacingan akan mengalami penurunan daya tahan tubuh serta metabolisme
jaringan otak. Bahkan, dalam jangka panjang, Penderita akan mengalami kelemahan fisik
dan intelektualitas. Kategori infeksi cacing ditentukan dari jumlah cacing yang
dikandungnya. Jika Anak-anak itu sudah terinfeksi cacing, misal infeksi usus akibat
cacingan, juga berakibat menurunya status gizi, penderita yang menyebabkan daya tahan
tubuh menurun, sehingga memudahkan terjadinya infeksi penyakit lain, termasuk
HIV/AIDS, TBC, dan Malaria.
Penularan cacing bisa dengan saat cacing masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan
atau minuman yang tercemar telur-telur cacing. Umumnya, cacing perut memilih tinggal
usus halus yang banyak berisi makanan. Meski ada yang tinggal di usus besar.

12
Pencegahan penyakit cacingan ini cukup mudah, yaitu dengan pola hidup bersih dan
sehat, menjaga kesehatan diri dan lingkungan, mengkonsumsi obat cacing setiap enam bulan
sekali dan konsultasikan kesehatan apabila ada gejala yang tidak beres di dalam tubuh kita
3.2 Saran
Sebaiknya penanganan penyakit cacingan dengan cara pemberian obat diberikan kepada
seluruh anggota keluarga untuk mencegah atau mewaspadai terjadinya cacingan tersebut.
Selama masa pengobatan hindari penularan cacingan ke anggota keluarga lain dengan cara
mencuci tangan dengan sabun setiap habis ke kamar mandi atau sebelum menyentuh
makanan. Hindari juga untuk menutup mulut dengan tangan yang belum dicuci. Dan selalu
menjaga kebersihan diri agar terbebas dari penyakit cacingan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Aivi. 2012. Penyakit Kecacingan. http://aivi-blogger-remaja.blogspot.com/, diakses


pada tanggal 09 April 2013.

Judarwanto, Widodo. 2013. Permasalahan Penyakit Cacing Pada


Anak. http://clinicforchild.wordpress.com/, diakses pada 13 April 2013.

NN. 2011. Kecacingan. http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/, diakses pada


tanggal 13 April 2013.

NN. 2011. Kecacingan. http://id.wikipedia.org/, diakses pada tanggal 09 April 2013.

Wahyudi, Didik. 2012. Pencegahan Infeksi


Cacing. http://aaknasional.wordpress.com/, diakses pada tanggal 13 Appril
2013

14