Anda di halaman 1dari 20

Makalah Teknologi Penyimpanan

Residu Pestisida dan Metode Analisis

Kelompok 3 :

Destri Arianti 123020394


Trio Putri Lestari 123020396
Hendra Darmansah 123020399
Ita Yutimma Tasbihah 123020400
Lindayati Pasaribu 123020401

JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

Penggunaan pestisida pada sektor pangan dan pertanian sangat sering


diaplikasikan untuk mengontrol hama dan penyakit yang ada pada tanaman yang
dibudidayakan atau ditanam oleh petani. Tetapi, pestisida juga memberikan
dampak negatif terhadap kesehatan, ekosistem sekitar tanaman budidaya dan
lingkungan makro di luar ekosistem tanaman budidaya.

Akhir-akhir ini residu pestisida sudah menjadi perhatian konsumen


modern hasil pangan dan pertanian. Residu pestisida adalah zat tertentu yang
terkandung dalam hasil pertanian, bahan pangan, atau pakan hewan baik sebagai
akibat langsung maupun tak langsung dari penggunaan pestisida. Istilah ini
mencakup senyawa turunan pestisida, seperti senyawa hasil konversi metabolit,
senyawa hasil reaksi, dan zat pencemar yang dapat memberikan pengaruh
toksikologis, bahkan bahaya bagi kesehatan konsumen dan lingkungan.

Dengan persepsi konsumen ini, membuktikan bahwa penggunaan pestisida


tidak boleh lagi sembarangan, tidak bijaksana, karena dapat menimbulkan
pengaruh atau dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan kelestarian
lingkungan hidup. Adalah wajar, bila konsumen memilih hasil pangan dan
pertanian yang aman untuk dikonsumsi (dalam hal ini yang bebas pestisida) atau
kalaupun mengandung residu pestisida, kadarnya masih dibawah batas toleransi.

Kalau sudah demikian besarnya tuntutan konsumen terhadap produk


pangan dan pertanian, peran pemerintah dalam deteksi dini adanya residu
pestisida sangat penting, terutama dalam memberikan informasi (deteksi) dini
adanya residu pestisida pada produk-produk pangan dan pertanian yang akan
dikonsumsi masyarakat.

Tuntutan pasar terhadap produk pangan dan pertanian sangat ketat.


Apalagi untuk produk-produk yang dikonsumsi dalam kondisi segar (bukan hasil
olahan). Sebagian dari tuntutan pasar tersebut sangat dipengaruhi oleh
pelaksanaan perlindungan tanaman, baik secara langsung di lapang, dalam sistem
pengelolaannya dan sistem perdagangan antar negara.

Namun demikian, tuntutan standar mutu yang ada, sejauh ini masih
terfokus pada mutu fisik produk. Produk dengan tampilan yang baik dan menarik
masih menjadi pilihan utama konsumen. Standar mutu yang terkait dengan
cemaran biologi dan cemaran kimia (residu pestisida) belum mendapatkan
perhatian yang memadai. Kedepan, konsumen pasti akan semakin memberi
perhatian yang lebih besar terhadap residu pestisida, seiring dengan kesadaran
terhadap kesehatan.

Banyak negara-negara pengimpor produk pangan dan pertanian juga


mensyaratkan batas residu yang ada dalam produk. Produk-produk yang
mengandung residu pestisida melebihi batas maksimum residu (BMR) yang
ditetapkan, akan ditolak masuk negara tersebut. Saat ini semakin banyak angka
BMR yang ditetapan oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) yang diadopsi
berbagai negara importer. Tidak mustahil, angka BMR tersebut akan terus
bertambah dan semakin kecil pula nilainya, seiring dengan tuntutan kesehatan
yang diinginkan konsumen.

Semua jenis formulasi pestisida yang diijinkan harus memenuhi syarat


paling sedikit :

a. Toksisitas bagi manusia rendah


b. Tidak membahayakan lingkungan hidup
c. Efektif mematikan OPT sasaran
d. Tidak mematikan musuh alami dan organisme bermanfaat
e. Kualitas terjamin dan stabil
BAB II

RESIDU PESTISIDA DAN METODE ANALISIS

2.1 Residu Berbagai Jenis Pestisida

Pestisida merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan


hama pada kegiatan produksi dan penanganan hasil pertanian. Berbagai jenis
pestisida digunakan untuk pemberantasan hama serangga pada saat penyimpanan
hasil pertanian. Pemilihan bahan umumnya didasarkan pada hasil kerja yang lebih
efektif, walaupun cenderung memerlukan penanganan yang lebih teliti, baik
pemilihan jenis maupun dosis yang sesuai.

Pestisida meliputi insektisida, acarisida, nematisida, rodentisida, herbisida,


fungisida, zat pengatur pertumbuhan dan lain-lain. Berdasarkan cara kerjanya,
maka pestisida dibedakan atas racun kontak dan racun perut (sistemik). Pestisida
yang bersifat kontak tidak berpenetrasi ke dalam jaringan tanaman dan tidak turut
serta dalam sistem vaskularisasi tanaman. Keadaan sebaliknya pada sistemik.
Kelemahan pada racun kontak yaitu sangat dipengaruhi oleh keadaan alam sekitar,
seperti intensitas sinar matahari, hujan dan angin. Keadaan tersebut sering
menyebabkan terjadinya degradasi pestisida.

Berdasarkan pada bahan penyusun serta cara kerja maka pestisida dapat
digolongkan atas :

a. Golongan khlorhidrokarbon
b. Golongan organofosfat
c. Golongan karbamat
d. Golongan/ senyawa dipiridil
e. Golongan arsen
f. Golongan antikoagulan
g. Pyrethroid

Pemakaian pestisida dengan bentuk dan jenis yang beragam pada sektor
pertanian, terutama holtikultura secara tidak langsung dapat menimbulkan
masalah, yaitu dengan dijumpai adanya residu pestisida pada makanan dan alam
sekitarnya, apabila pemakaian tidak mengikuti aturan yang telah diberikan.
Pemakaian yang berlebih-lebihan baik dosis maupun frekuensinya dan pemakaian
pestisida yang berbahaya atau dilarang akan menimbulkan masalah bagi manusia
dan ternak.

Keberadaan bahan beracun berupa residu pestisida pada beberapa produk


makanan baik yang telah terdegradasi (metabolisme) maupun yang belum rusak,
kadang-kadang sulit untuk dihilangkan.

2.2 Keracunan dan Gangguan Pestisida


2.2.1 Mekanisme Gangguan
Pestisida yang terlarut dengan lemak dan dikonsumsi oleh organisme
dalam waktu relatif lama akan menyebabkan terbentuknya akumulasi racun.
Keadaan yang lebih berbahaya adalah jika racun tersebut mengakibatkan
terjadinya mutasi gen yang bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker).
Walaupun demikian akumulasi racun di dalam tubuh organisme secara perlahan-
lahan dan pasti akan menimbulkan gangguan bagi kesehatan tubuh manusia. Oleh
sebab itu perlu diberikan perhatian yang lebih serius terhadap bahaya residu
pestisida pada makanan. Residu ini kadang-kadang terdapat dalam jumlah yang
sangat kecil, misal seperseribu atau sepersejuta (ppm) dikonsumsi setiap hari
bersama-sama dengan makanan. Disamping bahaya tersebut, karakteristik
organoleptik makanan yang tercemar juga mengalami perubahan.

Definisi residu pestisida telah diuraikan oleh FAO/WHO pada tahun 1968,
dan dijelaskan bahwa residu dari bahan-bahan kimia yang dipakai untuk
mengendalikan hama tidak hanya terdapat di bagian luar saja, melainkan
merupakan seluruh bagian dari produk yang telah bermetabolisme dengan
makanan tercemar.

Pestisida masuk ke dalam lingkar makanan dengan melalui beberapa cara.


Pertama aplikasi langsung dari pestisida terhadap makanan, seperti pengendalian
hama serangga atau penyakit pada sektor pertanian dan hortikultura selama masa
tanam maupun periode penyimpanan. Yang tidak langsung adalah terserapnya
pestisida yang tersebar di sekitar area aplikasi oleh organisme lain, serta oleh
lingkungan sekitarnya (air, tanah dan udara).

Residu pestisida pada tanah dapat terjadi secara langsung yaitu aplikasi
langsung terhadap hama nematoda, gulma dan lain-lain. Pada lingkungan perairan
pestisida masuk secara langsung yaitu pada saat aplikasi pengendalian hama ikan,
gulma tanaman air dan nyamuk.

Kuantitas residu pestisida pada tanah atau air umumnya tidak memiliki
efek toksikologi yang berbeda, tetapi kuantitasnya akan bertambah besar jika
sampai atau turut mencemari rantai makanan. Sebagai contoh residu pestisida
organokhlorin pada rumput dijumpai 0,01 ppm, maka dalam air susu dapat
meningkat menjadi 1 ppm pada sapi yang mengkonsumsi rumput yang terkena
perlakuan pestisida tersebut secara langsung maupun tidak.

Oleh sebab itu perhatian yang lebih serius patut diberikan terhadap bahaya
bio-akumulasi dan bio-konsentrasi di dalam rantai makanan.

Bio-akumulasi sering dianggap sebagai akumulasi zat kimia dalam tubuh


organisme yang diperoleh melalui absorbsi, adsorbsi dan ingesti. Di samping itu
bio-konsentrasi erat hubungannya dengan konsentrasi zat kimia yang dikonsumsi
oleh organisme menurut hirarki organisme, fungsi dan peranannya di dalam rantai
makanan.

Terbentuknya residu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada tanaman


faktor tersebut meliputi :

a. Kualitas dan konsentrasi pestisida yang digunakan


b. Karakteristik formulasi pestisida
c. Cara penggunaan (aplikasi)
d. Keadaan alamiah tanaman
e. Jumlah, bentuk dan ukuran tanaman
Iklim yang meliputi suhu, kelembaban dan intensitas sinar matahari perlu
diperhatikan. Proses kimia dan enzimatis seperti oksidasi, hidrolisis,
dekarbonisasi dan desulfinisasi mempunyai peranan yang penting dalam
pembentukan formula residu dan keadaan pestisida.
2.2.2 Toksisitas

Seperti halnya substansi beracun yang lain, residu pestisida dalam


makanan dapat membahayakan kesehatan.

Berdasarkan atas kuantitas dan kualitas residu pestisida maka toksisitas


(racun) pestisida dibedakan atas :

a. Toksisitas Akut
Dalam keadaan ini pestisida yang terserap terdapat dalam jumlah yang
besar dan dalam waktu yang singkat. Akan tetapi keadaan ini jarang
terjadi, seperti mengkosumsi dengan segera makanan yang baru saja diberi
perlakuan pestisida.
b. Toksisitas Semi-Kronis
Keadaan dimana pestisida yang terserap berlangsung berulang kalidengan
periode yang pasti, sehingga tidak sampai menimbulkan gejala toksik akut.
c. Toksisitas Kronis
Toksisitas terjadi karena penyerapan berulang kali dalam jumlah yang
kecil sekali untuk periode yang lama. Efek yang ditimbulkan tidak segera
terlihat, tetapi umumnya dapat menimbulkan akibat yang tetap.

2.3 AMBANG TOLERANSI RESIDU


2.3.1 MRL, ADI dan LD/LC50
Untuk mengetahui berapa besar konsentrasi residu yang diperkenankan
terdapat dalam makanan tercemar, maka dibuat batasan atau ambang toleransi
residu.
Toleransi sejumlah pestisida pada beberapa jenis makanan tercemar telah
dibuat oleh FAO/WHO atau “Codex Alimentarius”, walaupun demikian beberapa
negara menentukan nilai ambang batas toleransi tersendiri.
Determinasi Maksimum Residu Limit (MRL) didasarkan pada perhitungan
nilai aktivitas konsumsi setiap hari (Acceptable Daily Intake=ADI) setelah
mengkonsumsi atau mengabsorbsi pestisida dalam waktu beberapa lama. ADI
sendiri dapat didefinisikan sebagai jumlah pestisida yang diserap oleh tubuh
selama hidupnya dengan tidak menimbulkan efek terhadap kesehatan.
ADI dinyatakan dalam bentuk miligram produk yang terdapat dalam
makanan tercemar per kilogram berat tubuh per hari.
Nilan MRL ini dapat ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa
faktor seperti :
- Rata-rata berat badan (60-70 kg)
- Bagian tanaman yang dipakai dalam preparat makanan
- Metode dari preparat makanan berbeda pada setiap negara
ADI x 60
MRL = W mg/kg

Dimana : 60 = Berat badan


W = Berat makanan (kg) yang dikonsumsi setiap hari
Untuk melengkapi MRL, perlu diketahui beberapa istilah, yaitu :
a. ppm = bagian beracun (toksikan) persejuta bagian dari substansi yang ingin
diketahui. Bagian ini dapat meliputi residu dari sayuran, buah-buahan, bagian
dari hewan serta tanah.
b. LD50 = kematian sebesar 50% organisme yang diuji, dosis toksikan yang
mengakibatkan kematian sebesar 50% dari populasi. Merupakan nilai yang
digunakan untuk memperkirakan toksikan pada mamalia. Pada umunya oral
toksikan, dan diekspresikan dalam mg/kg BB.
c. LC50 = konsentrasi dari substansi dalam air atau cairan yang mengakibatkan
kematian sebesar 50% dari organisme yang diuji.
Toksisitas suatu pestisida selain didasarkan pada akibat atau efek yang
ditimbulkan, juga dapat dilihat pada nilai LD50 yang terjadi pada hewan mamalia
seperti kelinci, tikus dan lain-lain. Oleh sebab itu berdasarkan pada nilai LD50
toksisitas suatu pestisida dibedakan atas :
nilai LD5O
1. Racun sangat ekstrem 1
2. Racun yang tinggi (besar) 1-50
3. Racun menengah 50-100
4. Racun ringan 500-5000
5. Praktis tidak beracun 5000-15000
6. Relatif merugikan >15000
Pada tabel 1 dibawah ini dapat dilihat beberapa contoh toksisitas
insektisida terhadap mamalia berdasarkan pada jenis pestisida.
2.3.2 Ambang Batas Toleransi
Batas Nilai Ambang (TLV) untuk sebuah substansi merupakan rata-rata
konsentrasi dalam bentuk gas yang terdapat dalam udara, sehingga seorang
pekerja dapat mengekspose berulang kali tanpa menimbulkan gangguan
kesehatan.
Batas Maksimum Residu (MRL) adalah kandungan residu kimia yang
spesifik dan dinyatakan dalam mg/kg atau ppm. Oleh sebab itu, aplikasi fumigasi
terhadap suatu komoditas tidak boleh berlebihan. Umumnya batas tersebut tidak
akan terlampaui jika prosedur fumigasi dijalankan menurut aturan yang telah
ditentukan. Namun demikian tidak dapat langsung disimpulkan bahwa pemakaian
fumigasi dengan nilai MRL yang tinggi tidak akan menimbulkan bahaya.
Berikut ini adalah daftar TLV dan MRL yang diperbolehkan di dalam
aplikasi beberapa jenis bahan fumigasi.
Tabel 2 Batas Nilai Ambang (TLV) dan Batas Maksimum Residu (MRL) beberapa jenis fumigasi
yang direkomendasi.
Jenis Fumigasi TLV MRL
(ppm dalam air) (ppm di dalam komoditi)
Methyl Bromida 15 50 (sebagai anorganik bromida)
Phospat 0,3 0,1 (serealia mentah/kasar)
0,01 (makanan yang telah diproses)
Misal : kacang dll
Karbon 10 50 (serealia mentah/kasar)
Tetraklorida* 10 (makanan yang telah diproses)
Misal : (digiling)
Karbon 70 10 (serealia mentah/kasar)
Disulfat* 2 (makanan yang telah diproses)
Misal : (digiling)
Ethyl 25 20 (serealia mentah/kasar)
Dibromida* 5 (makanan yang telah diproses)
Misal : (digiling)
Ethyl 50 50 (serealia mentah/kasar)
Diklorida* 10 (makanan yang telah diproses)
Misal : (digiling)
Methanil Klorida* - 3,5 USSR
Hidrogen Sianida* 10 75 (serealia mentah/kasar)
6 (tepung)
FAO/WHO pada tahun 1982 memberikan batas maksimum residu dari
beberapa insektisida yang sering dipergunakan untuk menyimpan bahan pangan
(Tabel 3).
Tabel 3 Batas maksimum residu pestisida yang umum dipakai dalam proses penyimpanan menurut

rekomendasi FAO/WHO (1982).


Dedak Kacan Whole Tepun
Butir* Beras Ikan Buah
Insektisida * g * g
Sereali
Putih Kasar Kering Kering Kering Meal
a
Malathion 8 - 20 8 - - 2 2
Bromphos 10 - 20 - - - 2 2
Khlorpyrifometil 10 0,1 20 - - - 2 2
Fenithrion 10 1,0 20 - - - 5 1
Etrimfos 10 0,1 20 - - - 10 2
Methacrifos 10 - 20 5 - - 10 2
Pirimifosmetil 10 1,0 20 - - - 5 2
Diklorfos 2 - - - - - 0,5 0,5
Lindane 0,5 - - 1 - - - -
Karbaril 5-10 - 20 1 - - 2 0,2
Pyrethrins 3 - - 1 3 1 - -
Deltaracthrin 2 - 5 - - - 2 0,5
Birosmethrin 5 - - - - - - -
Fenothrin 5 15 - - - - - -
Permetrin 2 - 10 0,1 - - 2 0,5
Fenvalerate 5 - 5 0,5 - - 2 0,2
Pyperinolbutoksid
20 - - 8 20 8 - -
a
Keterangan :
* = Dalam beberapa contoh FAO/WHO merekomendasi pemakaian khusus terhadap butir khusus
atau butir produk, tetapi umumnya patut dipertimbangkan nilai MRL-nya sehingga
aplikasinya cukup potensial terhadap kebanyakan butir-butir serealia (khususnya beras giling
atau produk butiran lain dengan tipe yang sama)

2.4 Metode Analisis


2.4.1 Pengambilan Contoh
Masalah yang dijumpai di dalam analisis residu pestisida, yaitu jumlah
pestisida yang sangat kecil (dalam ppm atau ppb), dan proses pemisahan dari
campuran biologi yang sangat kompleks. Oleh sebab itu perlu dicari suatu metode
yang tepat ekstraksi, isolasi dan purifikasi dari substansi yang diperlukan.
Dewasa ini perkembangan produksi dan pemakaian pestisida sudah sangat
luas. Sebagian substansi yang sama dari golongan kimia yang berbeda dapat
ditemui pada contoh yang diambil. Walaupun demikian pada banyak kasus sifat
asli contoh tidak dapat diketahui. Manfaat dari metode klasik, seperti kalorimetri
dapat dipastikan sebagai suatu kemajuan metode analisis. Metode ini dapat
digunakan secara serentak untuk menentukan beberapa residu pestisida.
Karakteristik umum metode ini didasarkan pada aplikasi terhadap
kelompok pestisida (fungisida, insektisida), atau substansi di antara kelompok
yang sama (insektisida), atau juga terhadap subkelompok (pestisida organoklorin)
apabila penentuan subkelompok ini dianggap cukup penting.
Metode klasik sangat sensitif terhadap keberadaaan residu pestisida,
walaupun jumalahnya sangat kecil. Umumnya determinasi adanya residu pestisida
adalah memungkinkan, walaupun untuk penentuannya diperlukan selektifitas dari
teknik yang dipergunakan.
Beberapa pestisida tidak dapat dideteksi dengan cara metode screening,
oleh sebab itu dibutuhkan metode lain yang lebih spesifik.
Untuk mendeterminasikan residu pestisida terdiri dari 4 langkah :
1. Pengambilan contoh
2. Ekstraksi residu dari contoh matriks
3. Pemisahan atau furifikasi, (pemisahan interferon koekstraktif)
4. Determinasi
a. Identifikasi dan estimasi jumlah residu dalam pemisahan ekstrak
b. Konfirmasi dan identifikasi residu
Langkah-lagkah pengambilan contoh adalah sangat penting terhadap hasil
yang diperoleh dari analisis akhir, karena jumlah raa-rata residu pestisida dalam
contoh harus dapat mewakili.
Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatkan dalam melakukan
determinasi, yaitu :
1. Jenis pestisida memungkinkan untuk dapat dianalisis
2. Jumlah contoh dapat mewakili substansi yang diuji
3. Waktu yang diperukan dalam transportasi dari tempat pengambilan contoh
ke laboratorium, sesingkat mungkin karena beberapa pestisida dapat rusak
selama periode penyimpanan
4. Tempat penampungan contoh tidak mengandung beberapa substansi
karena dapat menyebabkan kontaminasi
5. Analisis contoh yang paling baik bila dilaksanakan sesegera mungkin.
Untuk beberapa keadaan contoh dapat disimpan dalam waktu tertentu,
perhatian yang khusus perlu diberikan pada struktur kimia pestisida yang
mudah berubah pada suhu ruangan (organofosfat). Tipe dan lama
penyimpanan contoh tergantung pada kelompok pestisida yang akan
dianalisis.

2.4.2 Ekstraksi
Prosedur ekstraksi hendaknya dapat mengeluarkan residu pestisida sebaik-
baiknya. Sebagai contoh, satu butir buah-buahan dapat mengalami beberapa
perlakuan seperti intekstisida, acarisida dan fungisida. Sebagai bahan pelarut
harus dapat mengeluarkan residu dari bermacam-macam pestisida tersebut.
Metode ekstraksi tidak boleh mengakibatkan terjadinya perubahan pada
struktur pestisida. Kecuali dalam kasus-kasus seperti ekstraksi dalam asam kuat
kenaikan suhu harus dihindarkan. Pelarut-pelarut yang umum dipakai adalah
aseton, asetonitril, etil asetat, etil eter, dikhlorometan, heksana, methanol,
petroleum eter, dan lain-lain.
Efisiensi pelarut yang digunakan tidak boleh kurang dari 80% dan cukup
selektif terhadap batas minimum dari purifikasi serta tidak mencampuri hasil
determinasi. Pemilihan pelarut dalam proses ekstraksi tergantung dari polaritas
pestisida. Pestisida organoklorin umumnya nonpolar, sedang organofosfat dan
karbamat adalah polar. Heksana atau campuran heksana aseton merupakan salah
satu jenis pelarut untuk bahan non polar larutan lemak. Untuk bahan yang lebih
polar seperti organofosfat dan karbamat dipergunakan pelarut asetonitril,
kloroform dan dikloromethan atau campuran dari ketiga larutan tersebut.

Tabel 3 Batas waktu penyimpanan contoh sebelum dianalisis


Cara
Substrat Tipe Analisis Penyimpanan Batas Waktu
1. Air - Organokolrin Pendinginan 14 hari
-Organoposfat Pendinginan 7 hari
- Garam dari asam
chlorophenoxy Pendinginan 14 hari
- Ester dari asam kloropenoksi Pendinginan sesegera mungkin
- Carbamat dan uera Pendinginan sesegera mungkin
- Triazin Pendinginan sesegera mungkin
2. Sedimen - Pemakaianterbatas untuk air Pendinginan sesegera mungkin
3. Tanah - Pemakaian terbatas untuk air Pendinginan
- Organiklorin Beku 2 bulan
- Organiposfat Beku 7 hari
- Garam dari asam
chlorophenoxy Beku 2 bulan
- Ester dari asam kloropenoksi Beku sesegera mungkin
- Carbamat dan uera Beku sesegera mungkin
- Triazin Beku sesegera mungkin
4. Hasil Pertanian - Pemakaian terbatas untuk air Pendinginan
Basah (misal, telur, susu
- Organiklorin Beku 30 hari
dll)
- Organiposfat Beku 7 hari
- Garam dari asam
chlorophenoxy Beku 30 hari
- Ester dari asam kloropenoksi Beku sesegera mungkin
- Carbamat dan uera Beku sesegera mungkin
5. Hasil Pertanian - Pemakaian terbatas untuk air Pendinginan
Kering (misal buah,
- Pemakaian terbaatas untuk air Beku
sayur, padi-padian)
6. Jaringan Hewan - Pemakaian terbatas untuk
(termasuk manusia) tanah Beku

7. Darah - Pemakaian terbatas untuk air Pendinginan


- Cholinesterase Pendinginan sesegera mungkin
8. Urin - Pemakaian terbatas untuk air Pendinginan 3 bulan
- Alkyl Fospat Beku
- Alky3 Fospat 1-Naphthol Beku 30 hari

Oleh sebab itu lebih baik memilih pelarut selektif atau campurabn pelarut
yang dapat menghasilkan ekstrak yang relatif bebas dari interferon (zat perantara).
Untuk mengetahui teknik apa yang harus dipakai maka sejumlah ekstraksi
penting dipertimbangkan untuk beberapa hal berikut :
1. Tingkat kelarutan pestisida yang sangat tinggi didalam pelarut yang
dipergunakan
2. Hubungan tertutup antara substansi yang diekstrak dengan pelarut
Beberapa teknik ekstraksi dengan mempergunakan instrument yang
berbeda telah dibuat yaitu :
1. Mencuci permukaan
2. Maserasi atau digiling
3. Ekstraksi dengan menyaring didalam instrument khusus ( misal :
Soxhlet)
4. Sweep co-Distilation

2.4.3 Pemurnian (Purifikasi)


Didalam proses purifikasi atau pemurnian harus diusahakan
menyingkirkan senyawa kimia interferen yang akan mengganggu determinasi
akhir. Dengan demikian tahap proses purifikasi merupakan pemisahan residu
pestisida dari ko-ekstraktif, dimana hal ini daoat dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu:
1. Pemurnian secara fisik
Pemisahan pelarut, pendinginan, sweep co-distilation, dan lain-lain.
2. Perlakuan Kimia
Safonifikasi, Oksidasi, sulfonifikasi, hidrolisis, reduksi, dan lain-lain.
3. Kromatografi
Kertas atau kromatografi lapis tipis, kolom atau kromatografi adsorbsi.
Kromatografi kolom dengan menggunakan sejumlah adsorbsi seperti risil,
arang, alumunium, silica gel atau campuran adsorbsan merupakan yang sering
dipakai untuk purifikasi ekstrak.
Dalam metode ini, volume ekstrak yang sedikit (sekitar 5 mL) di
aplikasikan ke ujung dari sejumlah adsorbsen dan kemudian dipisahkan dalam
fraksi dengan melalui satu atau lebih pelarut dimana ko-ekstraktif berubah pada
kolom.
Pemisahan (elution) suatu residu dalam fraksi tertentu (adsorpsi pilihan)
dipakai sebagai bukti untuk konfirmasi identifikasi. Kapasitas sebuah kolom ko-
ekstraktif dan kesatuan bentuk aktivitas (pemisahan atau elution) dari golongan ke
golongan adalah karakteristik penting dari adsorbsan yang dipergunakan untuk
pembersih.

2.4.4 Identifikasi dan Determinasi


Identifikasi dan determinasi residu pestisida dapat dilakukan dengan
berbagai metode yaitu, fisiko-kimia, metode kimia atau metode biologi. Metode
kimia dan biologi tersebut mempunyai beberapa perbedaan fungsi dengan metode
fisio-kimia seperti :
- Gas liquid kromatografi
- Kromatografi cairan dengan performasi atau tekanan yang tinggi (HPLC)
- Spektrofotometri
- Fluorometri
Tiap-tiap metode memiliki keuntungan dan kerugian. Sebagai contoh
metode kromatografi gas sangat sensitif dengan ketelitian dan ketepatan yang
sangat tinggi. Sehingga memerlukan pelarut yang sangat murni dan preparat
ekstrak yang khusus. Instrumen untuk metode ini harganya juga sangat mahal.
Metode kimia dapat diperlihatkan dengan determinasi halogen atau fosfat
atau dengan metode kalorimeter. Namun akhir-akhir ini sudah tidak dipergunakan
lagi.
Metode biologi terdiri dari uji biologi (bioassay) dan metode enzimatis.
Dasar daripada uji biologi adalah membandingkan respons dari organisme yang
diuji (misal serangga, ikan, tanaman), misalnya perlakuan dengan contoh yang
tidak diberi perlakuan, dibawah kondisi yang sama.
Metode enzimatis didasarkan pada penghambat cholinesterase. Teknik ini
sering dipakai untuk mendeterminasikan residu pestisida dari golongan
organofosfat atau karbamat. Secara garis besar urutan analisis residu pestisida
diperagakan pada gambar 1 berikut :
Gambar 1 Diagram Skematis Analisis Residu Pestisida

2.5 Contoh Analisis Residu Insektisida


2.5.1 Residu DDT (Dichlorodiphenyl trichloroethane)
a. Bahan dan Alat
Satu kg bebijian (kedelai), 1 kg sayuran (mentimun), pereaksi-pereaksi :
benzene, etil alcohol, kristal Na, isopropyl alkohol, AgCl, HNO 3 0,1M, kalium
thiocyanat 0,1N, indikator Ferri Amonium sulfat, kertas pati-iodida, petroleum
eter, larutan NaCl jenuh, Na-bikarbonat 10%, HCl 1M, serbuk (abu) Zn, NaBr,
HCl pekat, NaNO2 0,1M, hot plate, water bath, Erlenmeyer, beaker, gelas ukur,
pipet 5mL dan 1mL, joint-Flask B-24, magnetic stirer.
b. Metode
Ekstraksi
Satu kg contoh bebijian dicuci dengan air destilata, aduk, lalu direndam.
Setelah 24 jam, air rendaman dipisahkan dan ditambahkan 100 mL benzene. Aduk
campuran dengan menggunakan stirer dalam gelas piala 1,5 L selama 15 menit.
Pindahkan fase organik ke dalam gelas piala 250 mL. Pipet sisa fase organik
untuk menghindari adanya air yang terambil. Konsentrasikan ekstrak benzene
dengan cara evaporasi menggunakan “water bath”.
Titrasi
Sebanyak 25 mL aliquot dari sampel dipindahkan ke dalam erlenmeyer
lengkap dengan B-24 joint dan tambahkan 25 mL isopropyl alkohol murni.
Tambahkan 2,5 gram kristal natrium ke dalam flask dan upluks selama 2 jam pada
“steam bath” sambil digoyang (aduk). Tambahkan 10 mL isopropyl 50%, lalu 60
mL air destilata, lalu dinginkan dengan jalan menambahkan asam nitrat 0.1 M 70
mL. Tambahkan 25 mL 0.1 M AgNO3, panaskan pada “steam bath” sambil diaduk
hingga terbentuk endapan (sekitar setengah jam). Dinginkan, lalu titrasi dengan
0.1 N Kalium Thiocyanate dengan Ferri-ammonium sulfat sebagai indikator. Buat
blanko yang mengandung semua pereaksi kecuali aliquot contoh, kandungan DDT
dihitung sebagai berikut :
70 .−92 x ( V −v ) x N
Kandungan DDT (%) = W

Dimana V = Volume kalium thiocianate yang dibutuhkan untuk menitrasi blanko


v = Voulme kalium thiocianate untuk menitrasi contoh
N = Normalitas titras
W = Berat contoh
2.5.2 Residu Parathoin (O-O-diethyl-O-p-nitrophenyl phosphorothioate)
Sebanyak 1 kg mentimun dicuci dengan air destilata, air rendaman
dipisahkan, dan ditambahkan 100 mL petroleum eter. Aduk campuran dengan
menggunakan stirer dalam gelas piala 1,5 L selama 15 menit, lalu pindahkan fase
organik ke dalam gtelas piala 250 mL. Pipet sisa fase organik untuk menghindari
adanya air yang terambil. Tambahkan 100 mL alkohol 50% lalu 10 mL NaCl
jenuh, aduk 5 hingga 10 menit. Pisahkan fase alkohol–air dan ekstrak kembali
dengan 100 mL petroleum eter. Pisahkan kembali lalu ekstrak lagi dengan 100 mL
petroleum eter.
Masing-masing ekstrak petroleum eter diperlakukan sebagai berikut :
a. Tambahkan 30 mL alkohol 50%, aduk 5 hingga 10 menit, pisahkan, lalu
tambahkan lagi dengan kuantitas yang sama, kemudian pisahkan.
b. 30 mL larutan Na-bikarbonat 10%, lakukan dua kali seperti bagian pada
bagian a.
c. Campurkan 40 mL air dan larutan NaCl jenuh 10 mL, lakukan seperti pada
bagian a dan b.
Satukan ke tiga ekstrak dalam beaker 500 mL, lalu evaporasikan pada
“waterbath” atau “hot plate” hingga hanya tersisa residunya. Tambahkan 50 mL
HCl 1 M dan 1 gr abu Zn, panaskan dalam “waterbath” hingga tidak berwarna.
Tambahkan 10 mL HCl pekat dan lanjutkan pemanasan hingga seluruh Zn
terlarut. Dinginkan, lalu tambahkan 50 mL air 5 gr NaBr, dinginkan hingga 0o C
dan 10o C, lalu segera titrasi dengan 0,1 M NaNO 2. Titik akhir ditandai dengan
tanda biru pada kertas pati-ioda.
Vol NaNo 2 x N NaNO 3 x 29. 13 F
% Parathion = berat sampel

Dimana F = 1
BAB III
KESIMPULAN

 Jenis pestisida meliputi insektisida, fungisida, bakterisida, nematisida,


akarisida, rodentisida, herbisida dan lain-lain.
 Residu pestisida adalah zat tertentu yang terkandung dalam hasil pertanian,
bahan pangan, atau pakan hewan baik sebagai akibat langsung maupun tak
langsung dari penggunaan pestisida.
 Faktor yang mempengaruhi terbentuknya residu pada tanaman yaitu kuantitas
dan konsentrasi pestisida yang digunakan, karakteristik formulasi pestisida,
cara penggunaan, keadaan alamiah tanaman, jumlah, bentuk dan ukuran
tanaman.
 Toksisitas pestisida dibedakan atas toksisitas akut, semi-kronis dan kronis.
 Langkah untuk mendeterminasikan residu pestisida yaitu (a) pengambilan
contoh ; (b) ekstraksi residu dari contoh matriks ; (c) pemisahan atau
purifikasi (pemisahan interferon koekstraktif) ; (d) determinasi (identifikasi
dan estimasi jumlah residu dalam pemisahan ekstrak serta konfirmasi dan
identifikasi residu).
 Contoh analisis residu insektisida yaitu residu DDT dan residu parathion.
PUSTAKA

Syarief, Rizal dan Hariyadi Halid. 1993. “Teknologi Penyimpanan Pangan”.


Arcan : Jakarta. Hal 209-225.
Christy, Martha, dkk. 2011. Makalah “Pencemaran Lingkungan Akibat Residu
Pestisida”. Universitas Padjadjaran : Bandung.