Anda di halaman 1dari 40

1

Tugas dan Wewenang MPR RI

Kompas.com - 07/02/2020, 14:15 WIB Bagikan: Komentar Suasana sidang paripurna Pelantikan
Presiden-Wakil Presiden RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin
(20/10/2014). Melalui pelantikan ini Joko Widodo dan Jusuf Kalla resmi menjadi Presiden ke-7 RI dan
Wakil Presiden ke-12 RI menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Lihat Foto
Suasana sidang paripurna Pelantikan Presiden-Wakil Presiden RI di Gedung Nusantara I, Kompleks
Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2014). Melalui pelantikan ini Joko Widodo dan Jusuf Kalla
resmi menjadi Presiden ke-7 RI dan Wakil Presiden ke-12 RI menggantikan Susilo Bambang
Yudhoyono dan Boediono.(JAKARTA POST/SETO WARDHANA) Penulis Serafica Gischa | Editor
Serafica Gischa KOMPAS.com - Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ( MPR RI)
adalah lembaga negara. Saat ini MPR RI bukan lagi lembaga tertinggi negara. Dilansir dari situs resmi
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, kini menjadi lembaga negara yang
kedudukannya sederajat dengan lembaga negara lainnya. Dengan tidak adanya lembaga tertinggi
negara, semua lembaga yang disebutkan dalam UUD 1945 adalah lembaga negara. MPR merupakan
lembaga pelaksana kedaulatan rakyat. Untuk anggotanya terdiri dari para wakil rakyat yang berasal
dari pemilihan umum. MPR bukan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat seperti dalam Pasal 1
ayat (2) UUD 1945, perubahan ketiga bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan
menurut undang-undang dasar. Tugas dan wewenang MPR Ketentuan mengenai keanggotaan MPR
tertuang dalam Pasal 2 Ayat (1) UUD 1945, yaitu MPR terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Baca juga: DPR, MPR, dan DPD, Fungsi dan
Wewenangnya Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan
undang-undang. Mpr memiliki tigas dan wewenang sebagai berikut: Mengubah dan menetapkan
Undang-Undang Dasar MPR berwenang mengubah dan menetapkan UUD 1945. Dalam mengubah
UUD 1945, anggota MPR tidak dapat mengusulkan perubahan terhadap Pembukaan UUD 1945 dan
bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Usulan pengubahan pasal UUD 1945 diajukan
sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota MPR. Setiap usul perubahan diajukan tertulis dengan
menunjukkan secara jelas pasal yang diusulkan diubah beserta alasannya. Sidang paripurna MPR
dapat memutuskan perubahan pasal UUD 1945 dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50 persen
dari jumlah anggota ditambah satu anggota. Melantik presiden dan wakil presiden hasil pemilihan
umum MPR melantik presiden dan wakil presiden hasil pemilihan umum dalam sidang paripurna
MPR. Sebelum reformasi, MPR merupakan lembaga tertinggi yang memiliki kewenangan untuk
memilih presiden dan wakil presiden dengan suara terbanyak. Sejak reformasi, MPR hanya melantik
presiden dan wakil presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat sesuai dengan Pasal 6A Ayat (1)
sejak 9 November 2001. Memutuskan usul DPR untuk memberhentikan presiden dan atau wakil
presiden dalam masa jabatannya MPR hanya dapat memberhentikan presiden dan atau wakil
presiden dalam masa jabatannya menurut UUD 1945. Pemberhentian presiden dan atau wakil
presiden diusulkan oleh DPR. Usul DPR harus dilengkapi dengan putusan Mahkamah Konstitusi
bahwa presiden dan atau wakil presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum baik berupa
pengkhianatan terhadap negara, korupsi, pengyuapan, maupun perbuatan tercela lainnya. Baca
juga: Ketua MPR Dukung Pemulangan WNI Terduga Teroris Lintas Batas, jika... Keputusan MPR
terhadap usul pemberhentian presiden dan atau wakil presiden diambil dalam sidang paripurna
MPR. Sidang setidaknya dihadiri 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui sekurang-kurangnya 2/3 dari
jumlah anggota yang hadir. Melantik wakil presiden menjadi presiden MPR berwenang melantik
wakil presiden menjadi presiden apabila presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak
2

dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatannya. Apabila terjadi kekosongan jabatan
presiden, MPR segera menyelenggarakan sidang paripurna MPR untuk melantik wakil presiden
menjadi presiden. Memilih wakil presiden Jika terjadi kekosongan wakil presiden, MPR
menyelenggarakan sidang paripurna dalam waktu paling lambat 60 hari. MPR memilih wakil
presiden dari dua calon yang diusulkan presiden jika terjadi kekosongan jabatan wakil presiden
dalam masa jabatannya. Baca juga: Mantan Menteri Agama hingga Wakil Ketua MPR Melayat ke
Rumah Duka Gus Sholah Memilih presiden dan wakil presiden MPR berwenang memilih presiden
dan wakil presiden apabila keduanya berhenti secara bersamaan dalam masa jabatannya. Pemilihan
dari dua paket calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan
partai politik. Di mana paket calon presiden dan wakil presiden meraih suara terbanyak dalam
pemilihan sebelumnya, sampai berakhir masa jabatannya. Sementara itu, pelaksanan tugas
kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan secara
bersama-sama. Menetapkan peraturan tata tertib dan kode etik MPR

BAB V

Kementerian Negara
Pasal 17
(1) Presiden dibantu oleh Menteri-menteri Negara.
(2) Menteri-menteri itu diangkat dan diperhentikan oleh Presiden.
(3) Menteri-menteri itu memimpin Departemen Pemerintahan.

Amandemen UUD 1945

Amandemen UUD 1945: Tujuan dan Perubahannya Kompas.com - 06/02/2020, 14:00 WIB Bagikan:
Komentar (2) Amandemen UUD 1945 Lihat Foto Amandemen UUD 1945(KOMPAS.com/Akbar Bhayu
Tamtomo) Penulis Ari Welianto | Editor Ari Welianto KOMPAS.com - Undang-Undang Dasar (UUD)
1945 merupakan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). UUD 1945 ditetapkan dan
disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945. UUD 1945
mulai berlaku pada 18 Agustus 1945 hingga 27 Desember 1949. Dikutip situp resmi Kementerian
Hukum dan Ham (Kemenkumham), sejauh ini UUD telah diamandeman sebanyak empat kali melalui
sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Amandemen tersebut berlangsung pada Sidang
Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1999, 2000, 2001, dan 2002. Baca juga:
INFOGRAFIK: Perjalanan Amandemen UUD 1945 Amandemen adalah perubahan resmi dokumen
resmi atau catatan tertentu tanpa melakukan perubahan terhadap UUD. Bisa dikatakan melengkapi
dan memperbaiki beberapa rincian dari UUD yang asli. Tujuan amandemen Tujuan perubahan UUD
1945 untuk menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM,
pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan hukum. Perubahan tersebut sebagai respon
tuntutan reformasi pada waktu itu. Tuntutan tersebut antara lain dilatar belakangi oleh praktek
penyelenggaraan negara pada masa pemerintahan rezim Soeharto. Alasan filosofis, historis, yuridis,
sosiologis, politis, dan teoritis juga mendukung dilakukannya perubahan terhadap konstitusi. Selain
itu adanya dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat. Perubahan UUD 1945 bukannya tanpa
masalah. Karena ada sejumlah kelemahan sistimatika dan substansi UUD pasca perubahan seperti
inkonsisten, kerancuan sistem pemerintahan dan sistem ketatanegaraan yang tidak jelas. Perubahan
Undang-Undang Dasar ternyata tidak dengan sendirinya menumbuhkan budaya taat berkonstitusi.
Amandemen UUD 1945 Sebelum dilakukan amandemen, UUD 1945 memiliki 38 bab, 37 pasal, dan
64 ayat. Setelah dilakukan empat kali amendemen ada 16 bab, 37 pasal 194 ayat, tiga pasa aturan
3

perakitan, dan dua pasal aturan tambahan. Baca juga: Pembukaan UUD 1945: Makna dan Pokok
Pikiran Jimly Asshiddiqie dalam bukunya Konsolidasi naskah UUD 1945 (2003). Berikut empat
emendemen UUD 1945: Amandeman I Amandemen yang pertama dilakukan pada Sidang Umum
MPR pada 14-21 Oktober 1999. Pada amandemen pertama menyempurnakan sembilan pasal, yakni
pasal 5, pasal 7, pasal 9, pasal 13. Kemudian pasal 13, pasal 15, pasal 17, pasal 20, dan pasal 21. Ada
dua perubahan fundamental yang dilakukan, yaitu pergeseran kekuasaan membentuk undang-
undang dari Presiden ke DPR, dan pembatasan masa jabatan presiden selama 5 tahun dan
sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.
Amandeman II Amandemen kedua terjadi pada Sidang Tahunan MPR pada 7 hingga 18 Agustus
2010. Pada amandemen tersebut ada 15 pasal perubahan atau tambahan/tambahan dan perubahan
6 bab. Perubahan yang penting itu ada delapan hal, yakni: Baca juga: KALEIDOSKOP 2019: Wacana
Amendemen UUD 1945 yang Makin Tak Jelas... Otonomi daerah/desentralisasi. Pengakuan serta
penghormatan terhadap satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa
dan terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Penegasan fungsi
dan hak DPR. Penegasan NKRI sebagai sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan
wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. Perluasan jaminan
konstitusional hak asasi manusia. Sistem pertahanan dan keamanan Negara. Pemisahan struktur dan
fungsi TNI dengan Polri. Pengaturan bendera, bahasa, lambang Negara, dan lagu kebangsaan.
Amandemen III Amandeman ketiga berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 September
2001. Ada 23 pasal perubahan/tambahan dan tiga bab tambahan. Perubahan mendasar meliputi 10
hal, yakni: Penegasan Indonesia sebagai negara demokratis berdasar hukum berbasis
konstitusionalisme. Perubahan struktur dan kewenangan MPR. Pemilihan Presiden dan wakil
Presiden langsung oleh rakyat. Mekanisme pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Kelembagaan Dewan Perwakilan Daerah. Pemilihan umum. Pembaharuan kelembagaan Badan
Pemeriksa Keuangan. Perubahan kewenangan dan proses pemilihan dan penetapan hakim agung.
Pembentukan Mahkamah Konstitusi. Pembentukan Komisi Yudisial. Baca juga: Dikunjungi MPR, Ini
Tanggapan Muhammadiyah, PBNU, MUI, hingga PHDI soal Amendemen UUD 1945 Amandemen IV
Amandemen IV berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 Agustus 20012. Ada 13 pasal, tiga
pasal aturan peralihan, dua pasal tambahan dan peruban dua bab. Dalam empat kali amandemen
UUD 1945 tersebut relatif singkat. Bahkan selama pembahasannya tidak banyak menemui kendala
meski pada Sidang MPR berlangsung alot dan penuh argumentasi.

Bahasa Indonesia

Wajib dalam Acara Internasional, Ini Perkembangan Bahasa Indonesia Kompas.com - 10/10/2019,
05:55 WIB Bagikan: Komentar (1) Ilustrasi Bahasa Indonesia Lihat Foto Ilustrasi Bahasa
Indonesia(Shutterstock) Penulis Vina Fadhrotul Mukaromah | Editor Sari Hardiyanto KOMPAS.com -
Baru-baru ini Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Presiden ( Perpres) Nomor 63 Tahun 2019
tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. Salah satu hal yang diatur dalam Perpres ini adalah bahwa
Presiden, Wapres, dan pejabat negara lain wajib berpidato dengan menggunakan bahasa Indonesia,
baik di dalam maupun luar negeri. Menilik sejarahnya, bahasa Indonesia sendiri memiliki sejarah
yang panjang. Melansir dari laman resmi Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, secara nasional, Bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928. Saat itu,
para pemuda melakukan ikrar yang terdiri atas (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; (2)
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar
yang ketiga tersebut menjadi landasan menyatakan tekad bahasa Indonesia sebagai bahasa
4

persatuan bangsa Indonesia. Tahun 1928 itulah, bahasa Indonesia ditetapkan kedudukannya sebagai
bahasa nasional. Kemudian pada tanggal 1945, bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa negara.
Penetapan tersebut juga tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Bahasa Indonesia sendiri
mengalami beberapa fase perkembangan, terutama sejak kelahirannya pada Oktober 1928 hingga
terbitnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara,
serta Lagu Kebangsaan. Melansir dari Aksis Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, ada tiga
fase perkembangan bahasa Indonesia, yakni: 1. Fase Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan
Fase ini ditandai dengan adanya ejaan van Ophuijsen dan Kongres Bahasa Indonesia (KBI) I di Solo.
Salah satu ciri ejaan van Ophuijsen adalah huruf u ditulis oe. Sementara itu, KBI diselenggarakan
tanggal 25-28 Juni 1938. Adapun topik-topik yang dibahas dalam KBI I di antaranya adalah
pengindonesiaan kata asing, penyusunan tata bahasa, pembaruan ejaan, dan pemakaian bahasa
dalam pers. Baca juga: Mengenal Buzzer, Influencer, Dampak dan Fenomenanya di Indonesia 2. Fase
Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Fase ini ditandai dengan dicantumkannya dalam UUD
1945 (Pasal 36), Kongres Bahasa Indonesia II di Medan, Ejaan Suwandi, Ejaan yang Disempurnakan
(EYD), Praseminar Politik Bahasa Nasional (1974), Seminar Politik Bahasa Nasional (1975), dan
Seminar Politik Bahasa (1999). Dalam UUD 1945, bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa negara.
Sementara itu, pada KBI II, dinyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada
KBI II, disusun pula Panitia Pembaharuan Ejaan Bahasa Indonesia. Hasil panitia tersebut menjadi
awal dari munculnya EYD. EYD sendiri diresmikan pada 1972. Sistem ejaan bahasa Indonesia
sebagian besar serupa dengan sistem ejaan Malaysia. Keterangan tersebut termuat dalam Surat
Keputusan Presiden Nomor 57 tanggal 16 Agustus 1972 dan menjadi ejaan resmi bahasa Indonesia
hingga tahun 2015. Setelah itupun, masih dilaukan acara-acara kebahasaan seperti Praseminar
Politik Bahasa Nasional, Seminar Politik Bahasa Nasional, dan Seminar Politik Bahasa. Melalui acara-
acara tersebut, diungkapkan rumusan politik bahasa nasional yang berisi perencanaa, pengarahan,
dan ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar pengelolaan masalah-masalah bahasa. 3. Fase
Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional Fase ini ditandai oleh adanya Kongres Internasional
IX Bahasa Indonesia, UU Nomor 24 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu
Kebangsaan, dan Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK). Kongres
Internasional IX Bahasa Indonesia diselenggarakan di Jakarta tanggal 28 Oktober-1 November 2008.
Tema kongres ini adalah "Bahasa Indonesia Membentuk Insan Indonesia Cerdas Kompetitif di Atas
Pondasi Peradaban Bangsa." Penggunaan kata internasional dinilai mengisyaratkan bahasa Indonesia
sebagai bahasa internasional. Fungsi tersebut didukung dengan terbitnya UU Nomor 24 tentang
Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, dan Pusat Pengembangan Strategi
dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK). Fase ini juga ditandai dengan fakta bahwa 45 negara telah
mengajarkan bahasa Indonesia. Baca juga: Benarkah Ada Bayaran Buzzer Politik di Indonesia? Baca
berikutnya 3 Tokoh yang Menilai Wajar…

Kedudukan DPD, DPR

Kedudukan DPD, DPR, dan Presiden Sama Kompas.com - 28/03/2013, 02:11 WIB Bagikan: Komentar
Editor Jakarta, Kompas - Mahkamah Konstitusi mengembalikan tiga kewenangan Dewan Perwakilan
Daerah dalam bidang legislasi, yaitu mengusulkan rancangan undang-undang, turut membahas RUU,
dan menyusun Program Legislasi Nasional. Ini sama dengan kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat.
Kewenangan DPD tersebut diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945 (Pasal 22 D), tetapi direduksi
di dalam UU Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Rabu (27/3), Mahkamah
Konstitusi mengabulkan permohonan uji materi sejumlah pasal UU No 27/2009 yang diajukan DPD
5

yang diwakili Ketua DPD Irman Gusman serta dua Wakil Ketua DPD, yaitu La Ida dan Gusti Kanjeng
Ratu Hemas. Sidang pembacaan putusan dipimpin Ketua MK Mahfud MD. Dalam pertimbangannya,
Hakim Konstitusi Hamdan Zoelva mengungkapkan, Pasal 22 D Ayat (1) dan (2) UUD 1945 tegas
memberikan kewenangan legislasi kepada DPD. DPD berwenang mengajukan dan ikut membahas
RUU yang terkait dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Hakim Konstitusi Akil Mochtar
mengungkapkan, Pasal 22 D Ayat (1) UUD 1945 menyatakan, DPD dapat mengajukan RUU ke DPR.
”Kata ’dapat’ tersebut bisa dimaknai juga sebagai sebuah hak dan/atau kewenangan sehingga analog
atau sama dengan hak dan/atau kewenangan konstitusional Presiden dalam Pasal 5 Ayat (1) UUD
1945 yang menyatakan Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR. Dengan demikian, DPD
mempunyai posisi dan kedudukan yang sama dengan DPR dan Presiden,” ujar Akil. MK juga
mengamini hak dan kewenangan DPD yang sama dengan DPR dan Presiden dalam membahas RUU
sejak pembahasan pada tingkat pertama oleh Komisi atau Panitia Khusus DPR. Hak dan kewenangan
itu, antara lain, menyampaikan pengantar musyawarah, mengajukan dan membahas daftar
inventarisasi masalah, serta menyampaikan pendapat mini sebagai tahap akhir dalam pembahasan
tingkat satu. DPD juga menyampaikan pendapat pada pembahasan tingkat dua dalam Rapat
Paripurna DPR sampai tahap sebelum persetujuan. Tak beri persetujuan Meski demikian, MK tetap
berpegang pada Pasal 20 Ayat (2) UUD 1945 bahwa DPD tidak ikut memberikan persetujuan
terhadap RUU untuk menjadi UU. Pasal 20 Ayat (2) hanya menyebutkan bahwa persetujuan
dilakukan oleh Presiden dan DPR. Menyusul putusan MK tersebut, Irman mengatakan akan segera
menggelar pertemuan konsultasi dengan pimpinan DPR dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pertemuan tersebut untuk membahas tindak lanjut dan konsekuensi putusan MK. Kuasa hukum
DPD, Todung Mulya Lubis, mengatakan, putusan MK telah meluruskan kembali makna Pasal 22 D
UUD 1945 yang memang memberikan hak konstitusional kepada DPD membahas UU dari awal
hingga akhir. Ke depan, proses legislasi tak lagi dimonopoli DPR. Ketua Litigasi DPD I Wayan Sudirta
meminta DPR tidak lagi melecehkan putusan MK. Sebelumnya, DPR tidak mengindahkan putusan MK
mengenai domisili calon anggota DPD yang tak boleh dari luar provinsi. Menurut peneliti Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, putusan MK itu hanya sedikit memperkuat kewenangan
DPD. Putusan itu bukan terobosan yang signifikan untuk penguatan riil fungsi legislasi DPD. ”Bagi
DPD, keputusan MK sangat mengecewakan. Lembaga tinggi negara ini sedang berusaha
mendapatkan kepercayaan daerah bahwa DPD tidak hanya menyerap dan mengakomodasi aspirasi
daerah, tetapi juga mewujudkan keinginan daerah melalui wujud konkret, yaitu mendorong
pengesahan undang-undang,” ujarnya. Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso dan anggota Komisi II
DPR, Malik Haramain, secara terpisah menyambut baik putusan MK tersebut. ”Ini langkah maju
meski sedikit,” ujar Priyo.(ana/ina) Baca berikutnya

Pembukaan UUD 1945

Pembukaan UUD 1945: Makna dan Pokok Pikiran Kompas.com - 23/01/2020, 16:00 WIB Bagikan:
Komentar Rapat PPKI pada 18 Agustus 1945 yang salah satu hasilnya adalah menetapkan UUD 1945
serta memilih presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Lihat Foto Rapat PPKI pada 18
Agustus 1945 yang salah satu hasilnya adalah menetapkan UUD 1945 serta memilih presiden dan
wakil presiden Republik Indonesia.(Osman Ralliby/Dokumentasi Historica, Penerbit Bulan-Bintang,
Djakarta) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Undang-undang
Dasar Republik Indonesia 1945 ( UUD 1945) adalah konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia
6

(NKRI). UUD 1945 merupakan hukum dasar yang menjadi sumber dasar dari seluruh peraturan
perundang-undangan di Indonesia. Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI) telah menetapkan sistematika
UUD 1945, terdiri dari: Pembukaan UUD 1945 Batang tubuh UUD 1945 Penjelasan UUD 1945
Pembukaan UUD 1945 memuat hal-hal penting bagi bangsa Indonesia. Berikut ini penjelasan
singkatnya: Pembukaan UUD 1945 Dikutip dari situs resmi Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia (DPR RI), naskah Pembukaan UUD 1945 berasal dari naskah Piagam Jakarta dengan
beberapa perubahan. Baca juga: Biografi Soepomo, Perumus Pancasila dan UUD 1945 Naskah teks
Pembukaan UUD 1945 terdiri dari empat alinea. Berikut ini naskah teks Pembukaan UUD 1945:
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pembukaan (Preambule) Bahwa
sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan
perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rakhmat Allah
Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu
untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu
dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia. Baca juga: INFOGRAFIK: Perjalanan Amandemen UUD 1945 Makna
pembukaan UUD 1945 Makna pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut: Merupakan sumber
motivasi dan perjuangan serta tekad bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan nasional. Merupakan
sumber cita hukum dan moral yang ingin ditegakkan Mengandung nilai-nilai universal dan lestari
Makna alinea- alinea Pembukaan UUD 1945 Berikut ini makna alinea-alinea yang terdapat dalam
Pembukaan UUD 1945: Alinea pertama Mengungkapkan dalil obyektif bahwa penjajahan tidak
sesuai dengan perikeadilan dan perikemanusiaan. Mengungkapkan pernyataan subyektif yaitu
aspirasi bangsa indonesia untuk membebaskan diri dari penjajah. Alinea kedua Mengungkapkan cita-
cita nasional bangsa Indonesia, yaitu negara Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
Menunjukkan adanya ketepatan dan ketajaman penilaian. Baca juga: Pro Kontra Wacana
Amandemen UUD 1945 Alinea ketiga Memuat motivasi spiritual yang luhur dan merupakan
pengukuhan atas Proklamasi Kemerdekaan. Menunjukkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa. Alinea keempat Menegaskan tujuan dan prinsip dasar untuk mencapai tujuan nasional.
Menegaskan bahwa bangsa Indonesia mempunyai fungsi yang sekaligus menjadi tujuan.
Menegaskan bahwa negara Indonesia berbentuk Republik. Menegaskan bahwa negara Indonesia
mempunyai dasar falsafah Pancasila. Pokok- pokok pikiran Pembukaan UUD 1945 Dalam Pembukaan
UUD 1945 terkandung pokok-pokok pikiran yang merupakan falsafah negara Indonesia Pancasila
yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa (sila I). Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila II). Negara
melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia berdasarkan persatuan (sila III). Negara
yang berkedaulatan rakyat (sila IV). Negara mewujudkan keadilan sosial (sila V). Baca juga: Wapres
7

Minta MPR Konsisten Soal Pembahasan Amendemen UUD 1945 Batang tubuh UUD 1945 Batang
tubuh UUD 1945 terdiri dari 16 bab, 37 pasal, 4 Pasal Aturan Peralihan dan 2 ayat Aturan Tambahan.
Batang tubuh berisi dua bagian pokok yaitu: Sistem Pemerintahan Negara Hubungan Negara dengan
warga negara dan penduduk Indonesia Penjelasan UUD 1945 Penjelasan UUD 1945 terdiri dari
Penjelasan Umum dan Penjelasan Pasal demi Pasal. Perubahan konstitusi Dalam perkembangan
sejarahnya, konstitusi Indonesia pernah mengalami perubahan. Di Indonesia pernah berlaku
beberapa konstitusi, yaitu: UUD 1945 (18 Agustus 1945-27 Desember 1949) UUD RIS 1949 (27
Desember 1949-17 Agustus 1950) UUD S 1950 (17 Agustus 1950-5 Juli 1959) Kembali ke UUD 1945
Amendemen UUD 1945

Makna alinea- alinea Pembukaan UUD 1945

Makna alinea- alinea Pembukaan UUD 1945 Berikut ini makna alinea-alinea yang terdapat dalam
Pembukaan UUD 1945: Alinea pertama Mengungkapkan dalil obyektif bahwa penjajahan tidak
sesuai dengan perikeadilan dan perikemanusiaan. Mengungkapkan pernyataan subyektif yaitu
aspirasi bangsa indonesia untuk membebaskan diri dari penjajah. Alinea kedua Mengungkapkan cita-
cita nasional bangsa Indonesia, yaitu negara Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
Menunjukkan adanya ketepatan dan ketajaman penilaian. Baca juga: Pro Kontra Wacana
Amandemen UUD 1945 Alinea ketiga Memuat motivasi spiritual yang luhur dan merupakan
pengukuhan atas Proklamasi Kemerdekaan. Menunjukkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa. Alinea keempat Menegaskan tujuan dan prinsip dasar untuk mencapai tujuan nasional.
Menegaskan bahwa bangsa Indonesia mempunyai fungsi yang sekaligus menjadi tujuan.
Menegaskan bahwa negara Indonesia berbentuk Republik. Menegaskan bahwa negara Indonesia
mempunyai dasar falsafah Pancasila.

Pengesahan UUD 1945

Pengesahan UUD 1945 serta pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Pada 18 Agustus 1945 PPKI
melakukan sidang untuk membahas, mengambil keputusan dan mengesahkan Undang-undang
Dasar (UUD). Rapat pertama diadakan di Pejambon (sekarang Gedung Pancasila). Sidang pleno
dibuka dipimpin Soekarno. Saat sidang ada revisi draf Pembukaan UUD di dalam Piagam Jakarta.
Terjadi kelahiran rumusan teks Pancasila yang disahkan di sidang PPKI 18 Agustus 1945. Saat itu juga
dilakukan pemilihan presiden dan wakil presiden. Secara aklamasi terpilih Soekarno sebagai Presiden
RI dan Moh Hatta sebagai Wakil Presiden RI.

Perjalanan Amandemen UUD 1945

Perjalanan Amandemen UUD 1945 Kompas.com - 30/11/2019, 20:06 WIB Bagikan: Komentar
Amandemen UUD 1945 Lihat Foto Amandemen UUD 1945(KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo)
Penulis Akbar Bhayu Tamtomo | Editor Sari Hardiyanto KOMPAS.com - Wacana amandemen UUD
1945 kembali menghangat dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak PDI Perjuangan
menyatakan dukungan kepada Bambang Soesatyo menjadi Ketua MPR RI 2019-2024. Sejauh ini,
UUD 1945 sudah mengalami empat kali amandemen. Sejumlah perubahan besar dalam tata
kenegaraaan pun terjadi. Amandemen I dilakukan pada 19 Oktober 1999. Saat itu, terjadi
amandemen untuk membatasi kekuasaan Presiden yang dianggap terlalu berlebihan. Salah satunya
terkait pembatasan periode jabatan. Sebab, Presiden Soeharto dapat menjadi presiden berkali-kali
karena belum ada pembatasan periode jabatan dalam UUD 1945. Sedangkan Amandemen II terjadi
8

pada 18 Agustus 2000. Amandemen dilakukan dengan menambahkan aturan aturan lain terkait
wewenang dan posisi pemerintahan daerah, peran dan fungsi DPR, serta penambahan mengenai hak
asasi manusia. Baca juga: Jika Program BPJS Berhenti, Presiden Telah Melanggar UUD 1945 Lebih
lengkap, simak infografik berikut ini!

UU Pajak

UU Pengampunan Pajak Dinilai Layaknya Deterjen, Kok Bisa? Kompas.com - 24/08/2016, 20:00 WIB
Bagikan: Komentar Yasasan Satu Keadilan, Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) dan empat
warga negara dalam konferensi pers di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/7/2016). Mereka
berencana menggugat Undang-Undang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) ke Mahkamah Konstitusi
usai UU tersebut diteken oleh Presiden Joko Widodo. Lihat Foto Yasasan Satu Keadilan, Serikat
Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) dan empat warga negara dalam konferensi pers di bilangan
Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/7/2016). Mereka berencana menggugat Undang-Undang
Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) ke Mahkamah Konstitusi usai UU tersebut diteken oleh Presiden
Joko Widodo.(KOMPAS.com/Nabilla Tashandra) Penulis Yoga Sukmana | EditorAprillia Ika JAKARTA,
KOMPAS. com - Yayasan Satu Keadilan meyakini sidang uji materi Undang-undang Pengampunan
Pajak akan dilanjutkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Sebab, UU tersebut dinilai membuka pintu
masuknya dana hasil kejahatan dari luar negeri ke Indonesia. "Undang-undang ini memberikan satu
tiket gratis bahkan menjadi deterjen pencuci uang haram yang ada di luar negeri," ujar Ketua
Yayasan Satu Keadilan Sugeng Teguh Santoso di Gedung MK, Jakarta, Rabu (24/8/2016). Menurut
Sugeng, persoalan terbesar dari dasar hukum program amnesti pajak terletak Pasal 20. Disebutkan
bahwa data dan informasi yang bersumber dari program amnesti pajak tidak dapat dijadikan sebagai
dasar penyelidikan, penyidikan, dan atau penuntunan pidana terhadap wajib pajak. Di dalam
penjelasasn diterangkan bahwa tindak pidana yang diatur dalam pasal tersebut meliputi tindak
pidana di bidang pajak dan tindak pidana lain. Pasal tersebut dinilai bertentangan dengan Pasal 24
dan 27 UUD 1945. Pasal 24 mengatur tentang penyelengaraan peradilan sedangkan Pasal 27 tentang
persamaan kedudukan warga negara di depan hukum. Atas dasar itu, ia menyebut lahirnya UU
Pengampuanan Pajak sudah seperti bonus bagi warga negara yang melakukan kejahatan baik itu di
bidang pajak maupun ditindak pidana lainnya.

Simbol Negara Indonesia

Simbol Negara Indonesia Kompas.com - 05/02/2020, 17:00 WIB Bagikan: Komentar Bendera
Indonesia. Lihat Foto Bendera Indonesia.(Thinkstock) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum
Sutrisni Putri KOMPAS.com - Peran generasi muda Indonesia zaman sekarang adalah mengisi
kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan bersifat positif. Selain giat belajar, kegiatan positif pemuda
di antaranya memupuk rasa cinta tanah air dan patriot bangsa, salah satunya memahami simbol-
simbol negara. Simbol negara dalam UUD 1945 Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sudah mengatur
berbagai hal terkait bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Berikut ini simbol
negara yang diatur dalam UUD 1945: Pasal 35 menyebutkan Bendera Negara Indonesia ialah Sang
Merah Putih. Pasal 36 menyebutkan Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia. Pasal 36A menyebutkan
Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pasal 36B
menyebutkan Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya. Pasal-pasal tersebut merupakan pengakuan
sekaligus penegasan secara resmi oleh negara tentang penggunaan simbol-simbol tersebut sebagai
9

jati diri bangsa dan identitas NKRI. Baca juga: Lambang Negara Garuda Pancasila: Arti dan Sejarahnya
Simbol negara Indonesia Simbol negara diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24
Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. UU No. 24 Tahun
2009 disahkan di Jakarta pada 9 Juli 2009 oleh Presiden RI saat itu yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam UU No 24 Tahun 2009 ini juga disebutkan simbol-simbol negara sesuai yang telah diatur
dalam UUD 1945 meliputi: Pasal 1 ayat 1 Bendera Negara NKRI adalah Sang Merah Putih. Pasal 1
ayat 2 Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah NKRI. Pasal
1 ayat 3 Lambang Negara NKRI adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Pasal 1 ayat 4 Lagu Kebangsaan NKRI adalah Indonesia Raya. UU tersebut merupakan jaminan
kepastian hukum, keselarasan, keserasian, standardisasi dan ketertiban di dalam penggunaan
bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. UU ini mengatur tentang berbagai hal yang
terkait dengan penetapan dan tata cara penggunaan bendera, bahasa, lambang negara dan lagu
kebangsaan. Termasuk ketentuan pidana bagi yang secara sengaja melakukan pelanggaran. Baca
juga: Bendera Merah Putih: Arti, Sejarah dan Maknanya Tujuan simbol negara Berdasarkan UU No.
24 Tahun 2009 pasal 3, pengaturan bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan sebagai
simbol negara bertujuan untuk: Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan NKRI. Menjaga
kehormatan yang menunjukkan kedaulatan bangsa dan NKRI. Menciptakan ketertiban, kepastian
dan standardisasi penggunaan bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Arti penting
simbol negara Bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan Indonesia mempunyai arti
penting sebagai berikut: Menjadi kekuatan untuk menghimpun serpihan sejarah nusantara yang
beragam sebagai bangsa besar dan NKRI. Merupakan manifestasi kebudayaan yang berakar pada
sejarah perjuangan bangsa, kesatuan dalam keragaman budaya dan kesamaan dalam mewujudkan
cita-cita bangsa dan NKRI. Merupakan sarana pemersatu, identitas dan wujud eksistensi bangsa.
Menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.
Merupakan jati diri bangsa dan identitas NKRI. Menjadi cerminan kedaulatan negara di dalam tata
pergaulan dengan negara-negara lain. Menjadi cerminan kemandirian dan eksistensi negara
Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dengan demikian, bendera, bahasa,
lambang negara dan lagu kebangsaan Indonesia bukan sekadar merupakan pengakuan atas
Indonesia sebagai bangsa dan negara saja. Melainkan menjadi simbol atau lambang negara yang
dihormati dan dibanggakan warga negara Indonesia.

Perppu tentang Mahkamah Konstitusi

Ini Isi Perppu tentang Mahkamah Konstitusi Kompas.com - 17/10/2013, 20:59 WIB Bagikan:
Komentar Gedung Mahkamah Konstitusi Lihat Foto Gedung Mahkamah
Konstitusi(KOMPAS.COM/Sandro Gatra) Penulis Hindra Liauw | EditorHindra Liauw JAKARTA,
KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi menandatangani peraturan pemerintah
pengganti undang-undang tentang MK pada Kamis (17/10/2013). Berikut ini adalah kutipan perppu
tersebut sebagaimana yang diterima Kompas.com dari Kementerian Hukum dan HAM: PERATURAN
PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG
MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang
tidak tercela, adil, dan negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak
merangkap jabatan sebagai pejabat negara; b. bahwa untuk menyelamatkan demokrasi dan negara
10

hukum Indonesia, serta untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap Mahkamah Konstitusi
sebagai lembaga negara yang menjalankan fungsi menegakkan Undang-Undang Dasar, akibat
adanya kemerosotan integritas dan kepribadian yang tercela dari hakim konstitusi, perlu dilakukan
perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi; c.
bahwa untuk mengatasi keadaan sebagaimana dimaksud dalam huruf b, perlu dilakukan perubahan
terhadap ketentuan mengenai syarat dan pengajuan hakim konstitusi serta pembentukan majelis
kehormatan hakim konstitusi; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi; Mengingat: 1. Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945; 2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4316) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5226); MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG
TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG
MAHKAMAH KONSTITUSI. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316), sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226), diubah sebagai berikut: 1. Ketentuan
Pasal 1 angka 4 diubah dan ditambah 1 (satu) angka, yakni angka 5, sehingga Pasal 1 berbunyi
sebagai berikut Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini yang dimaksud
dengan: 1. Mahkamah Konstitusi adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Dewan
Perwakilan Rakyat yang selanjutnya disingkat DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. Permohonan
adalah permintaan yang diajukan secara tertulis kepada Mahkamah Konstitusi mengenai: a.
pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; c. pembubaran partai politik; d. perselisihan tentang
hasil pemilihan umum; atau e. pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah
melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak
pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden
dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. 4. Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi adalah perangkat yang dibentuk oleh
Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial untuk menjaga kehormatan dan perilaku hakim konstitusi.
5. Panel Ahli adalah perangkat yang dibentuk oleh Komisi Yudisial untuk menguji kelayakan dan
kepatutan calon hakim konstitusi yang diusulkan oleh Mahkamah Agung, DPR, dan Presiden. 2.
Ketentuan Pasal 15 ayat (2) huruf b dan huruf h diubah dan ditambah 1 (satu) huruf, yakni huruf i
serta ayat (3) ditambah 1 (satu) huruf, yakni huruf f, sehingga Pasal 15 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 15 (1) Hakim konstitusi harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. memiliki integritas dan
kepribadian yang tidak tercela; b. adil; dan c. negarawan yang menguasai konstitusi dan
11

ketatanegaraan. (2) Untuk dapat diangkat menjadi hakim konstitusi, selain harus memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), seorang calon hakim konstitusi harus memenuhi syarat: a.
warga negara Indonesia; b. berijazah doktor dengan dasar sarjana yang berlatar belakang pendidikan
tinggi hukum; c. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; d. berusia paling
rendah 47 (empat puluh tujuh) tahun dan paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun pada saat
pengangkatan; e. mampu secara jasmani dan rohani dalam menjalankan tugas dan kewajiban; f.
tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap; g. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan; h.
mempunyai pengalaman kerja di bidang hukum paling sedikit 15 (lima belas) tahun; dan i. tidak
menjadi anggota partai politik dalam jangka waktu paling singkat 7 (tujuh) tahun sebelum diajukan
sebagai calon hakim konstitusi. (3) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) calon hakim konstitusi juga harus memenuhi kelengkapan administrasi dengan menyerahkan: a.
surat pernyataan kesediaan untuk menjadi hakim konstitusi; b. daftar riwayat hidup; c. menyerahkan
fotokopi ijazah yang telah dilegalisasi dengan menunjukkan ijazah asli; d. laporan daftar harta
kekayaan serta sumber penghasilan calon yang disertai dengan dokumen pendukung yang sah dan
telah mendapat pengesahan dari lembaga yang berwenang; dan e. nomor pokok wajib pajak
(NPWP); dan f. surat pernyataan tidak menjadi anggota partai politik.

Kekuasaan mmbentuk UU

Istilah RUU Usul Inisiatif DPR Rancu Kompas.com - 15/10/2008, 11:11 WIB Bagikan: Komentar Editor
JAKARTA,RABU-Wakil Ketua Badan Legislasi DPR Al Muzzammil Yusuf menilai istilah RUU usul inisiatif
DPR memiliki kerancuan. "Sebenarnya istilah RUU usul inisiatif DPR itu adalah istilah lama yang
sudah tidak relevan lagi, setelah ada perubahan UUD 45, " ujar Muzzammil di Jakarta, Rabu (14/10).
Sebelum perubahan UUD 45, menurut Muzzammil, pada pasal 5 berbunyi: Presiden yang memegang
kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan DPR . Tapi istilah yang digunakan setelah perubahan
UUD 45, pada Pasal 20 berbunyi : DPR memegang kekuasaan mmbentuk UU. Sementara di Pasal 5
UUD 45 setelah perubahan berbunyi: Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR. " Jadi
sesungguhnya, DPR lah sekarang pemegang kekuasaan membentuk UU. Membentuk UU itu
merupakan kekuasaan, fungsi , tugas dan wewenang DPR," ujarnya. Kewenangan ini juga dijelaskan
dalam Tatib DPR pasal 6. Tatib DPR pasal 122 juga menjelaskan jika ada 2 RUU yang sama masuk ke
DPR berasal dari DPR dan pemerintah, maka yang akan digunakan RUU usulan DPR, dan posisi RUU
usulan pemerintah dijadikan bahan perbandingan. " Tatib DPR pasal 130 ayat 1 dan 2 masih
menggunakan kata-kata usul inisiatif. Seperti usul inisiatif Baleg DPR, usul inisiatif komisi DPR, usul
inisiatif gabungan komisi DPR. Seharusnya, ketika RUU tersebut disetujui oleh Paripurna DPR maka
sudah menjadi RUU usul DPR (Tatib Pasal 130 ayat 5 ). Jadi, tidak lagi disebut usul inisiatif DPR,"
ujarnya.

UU Mata Uang

Home News Bisnis & Keuangan 66 Tahun Merdeka, RI Baru Punya UU Mata Uang Kompas.com -
23/01/2013, 09:30 WIB Bagikan: Komentar Penulis Didik Purwanto | EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia baru memiliki Undang-Undang Mata Uang setelah 66 tahun
merdeka. Aturan tersebut menjadi pertama kali dilakukan sejak Indonesia berdiri. Menteri Keuangan
Agus Martowardojo mengatakan, aturan tersebut dibentuk untuk memberikan perlindungan dan
kepastian hukum bagi macam dan harga mata uang. "Jadi, setelah kurun waktu kurang lebih 66
12

tahun, barulah amanat UUD 1945 tersebut diwujudkan. Untuk pertama kali, sejak republik ini berdiri
dan telah menggunakan mata uang resmi rupiah, baru saat ini kita memiliki UU Mata Uang," kata
Agus saat memberikan sambutan di acara Kick Off Konsultasi Publik Perubahan Harga Rupiah
Redenominasi Bukan Sanering di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (23/1/2013). Menurut Agus, Pasal
23B UUD 1945 mengamanatkan bahwa harga dan macam mata uang ditetapkan dengan undang-
undang. Sebagai pelaksanaan dari amanat Pasal 23B tersebut, telah disusun Undang-Undang Nomor
7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dalam undang-undang tersebut, pada Pasal 3 Ayat 5 dinyatakan
bahwa perubahan harga rupiah diatur dengan undang-undang. "Perubahan harga rupiah yang
dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah redenominasi," tambahnya. Sesuai dengan amanat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang tersebut, pemerintah bersama Bank
Indonesia telah menyelesaikan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Harga Rupiah.
"Selanjutnya, draf RUU tersebut sudah diajukan ke DPR untuk masuk dalam Program Legislasi
Nasional 2013," katanya.

Hak asasi persamaan hukum

Hak Dan Kewaajiban Warga Negara : 1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara Wujud
hubungan warga negara dan negara pada umumnya berupa peranan (role). 2. Hak dan Kewajiban
Warga Negara Indonesia Hak kewajiban warga negara Indonesia tercantum dalam pasal 27 sampai
dengan pasal 34 UUD 1945. Hak Warga Negara Indonesia : - Hak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak : “Tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan” (pasal 27 ayat 2). - Hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan: “setiap orang
berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”(pasal 28A). - Hak
untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (pasal 28B
ayat 1). - Hak atas kelangsungan hidup. “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan
Berkembang” - Hak untuk mengembangkan diri dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya dan
berhak mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan
kualitas hidupnya demi kesejahteraan hidup manusia. (pasal 28C ayat 1) - Hak untuk memajukan
dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan
negaranya. (pasal 28C ayat 2). - Hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum
yang adil serta perlakuan yang sama di depan hukum.(pasal 28D ayat 1). - Hak untuk mempunyai hak
milik pribadi Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani,hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak
untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat
dikurangi dalam keadaan apapun. (pasal 28I ayat 1). Kewajiban Warga Negara Indonesia : - Wajib
menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 berbunyi : segala warga negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan
pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. - Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya pembelaan negara”. - Wajib menghormati hak asasi manusia orang lain. Pasal 28J ayat 1
mengatakan : Setiap orang wajib menghormati hak asai manusia orang lain - Wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 28J ayat 2 menyatakan : “Dalam
menjalankan hak dan kebebasannya,setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan
dengan undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak
kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” - Wajib
13

ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pasal 30 ayat (1) UUD 1945. menyatakan:
“tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara.” Hak dan Kewajiban telah dicantumkan dalam UUD 1945 pasal 26, 27, 28, dan 30, yaitu : 1.
Pasal 26, ayat (1), yang menjadi warga negara adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-
orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara. Dan pada ayat (2),
syarat-syarat mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang. 2. Pasal 27, ayat (1),
segala warga negara bersamaan dengan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahannya,
wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu. Pada ayat (2), taip-tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 3. Pasal 28, kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan, dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
4. Pasal 30, ayat (1), hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam pembelaan negara. Dan
ayat (2) menyatakan pengaturan lebih lanjut diatur dengan undang-undang. Landasan konsep Bela
Negara Landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer. Subyek dari konsep ini adalah
tentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau sebagai
akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta
dalam usaha pembelaan negara dan Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-
undang. Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan
berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga
yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal
ancaman nyata musuh bersenjata. Unsur Dasar Bela Negara - Cinta Tanah Air - Kesadaran Berbangsa
& bernegara - Yakin akan pancasila sebagai ideologi Negara - Rela berkorban untuk bangsa & Negara
- Memiliki kemampuan awal bela Negara - Berdasarkan UUD 1945 pada pasal 30 tertulis bahwa
“Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.” Dan “syarat-
syarat tentang pembelaan diatur oleh UU.” Jadi sudah jelas, mau tidak mau kita wajib ikut serta
dalam membela negara dari segala macam ancaman, gangguan, dan hambatan baik yang datang dari
dalam maupun dari luar. Dasar hukum dan peraturan tentang wajib bela Negara - Tap MPR No.VI
Tahun 1973 tentang konsep wawasan nusantara dan keamanan Nasional. - Undang-Undang No.29
tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat. - Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang
Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988. - Tap MPR
No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI - Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang
Peranan TNI danPOLRI. - Amandemen UUD ’45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3. - Undang-
Undang No.3 tahun 2002 tentang pertahanan Negara Landasan hukum bela negara a. Landasan Idiil ;
Pancasila b. Landasan Konstitusional ; UUD 1945 (Amandemen) Pasal 27 (3) ; Setiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara Pasal 30 (1 &2) ; (1) Tiap-tiap warga
negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara (2) Usaha
pertahanan keamanan negara dilaksanakan melalui Sishankamrata (TNI sebagai komponen Utama
dan Rakyat sebagai komponen Pendukung). c. Landasan Operasional ; UU No. 3 Tahun 2002 (lihat
Pengertian Bela Negara ). Wujud bela negara ( UU No 3 Tahun 2002 ) a. Pendidikan
Kewarganegaraan b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib c. Pengabdian sebagai prajurit TNI
secara sukarela d. Pengabdian sesuai profesi Contoh-Contoh Bela Negara : - Melestarikan budaya -
Belajar dengan rajin bagi para pelajar - Taat akan hukum dan aturan-aturan negara Arti penting
pembelaan negara a. Sebagai syarat berdirinya suatu Negara b. Untuk melindungi kedaulatan
Negara c. Untuk mempertahankan keutuhan wilayah Negara d. Untuk semua warga negara agar
memiliki kewajiban dan hak yang jelas dalam ikut serta pembelaan terhadap negara. Alasan bela
negara a. Menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan
14

b. Ingin memajukan Negara c. Mempetahankan Negara jangan sampai dijajah kembali d.


Meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia internasional. Bentuk-bentuk bela negara
a. Secara Fisik Segala upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara dengan cara berpartisipasi
secara langsung dalam upaya pembelaan negara (TNI Mengangkat senjata, Rakyat Berkarya nyata
dalam proses Pembangunan). b. Secara Non Fisik Segala upaya untuk mempertahankan NKRI dengan
cara meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan pada tanah air
serta berperan aktif dalam upaya memajukan bangsa sesuai dengan profesi dan kemampuannya.
Wujud bela negara bagi pelajar a. Lingkungan Keluarga ; Memahami hak dan kewajiban dalam
keluarga, menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga, Demokratis, menjaga nama baik keluarga
dll b. Lingkungan Sekolah ; Patuh pada aturan sekolah, berkata dan bersikap baik, bertanggung
jawab atas tugas yang diberikan, tidak ikut tawuran dll c. Lingkungan Masyarakat ; Aktif dalam
kegiatan masyarakat, rela berkorban untuk kepentingan masyarakat d. Lingkungan berbangsa dan
bernegara ; Menghormati jasa Pahlawan, berani mengemukakan pendapat, melestarikan adat dan
budaya asli daerah Contoh upaya bela negara di lingkungan masyarakat a. Mengembangkan sikap
tenggang rasa dan tolong menolong antar warga negara masyarakat. b. Bersama-sama menciptakan
lingkungan yang bersih dan sehat c. Meningkatan kegiatan gotong royong dan semangant persatuan
dan kesatuan d. Menjaga keamanan lingkungan melalui kegiatan siskamling/ronda e. Menciptakan
suasana rukun, damai, dan tentram dalam masyarakat f. Menghargai adanya perbedaan dan
memperkuat persamaan yang ada g. Menjaga keamanan kampung secara bersama-sama h. Selalu
aktif dalam kegiatan sosial seperti kerja bakti, dll.

Perubahan Undang-Undang Dasar 1945

Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 Kompas.com - 07/02/2020, 19:00 WIB Bagikan: Komentar
Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 Lihat Foto Perubahan Undang-Undang Dasar
1945(shutterstock.com) Penulis Serafica Gischa | Editor Serafica Gischa KOMPAS.com - Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 atau UUD 1945 merupakan dasar hukum
tertulis, konstitusi pemerintahan negara Republik Indonesia sampai saat ini. Dalam buku UUD 1945
dan Perubahannya (2017) karya Rudi, pada kurun waktu 1999-2002 UUD 1945 mengalami empat kali
perubahan ( amandemen) yang mengubah susunan lembaga dalam sistem ketatanegaraan Republik
Indonesia. Periode perubahan Undang-Undang Dasar 1945 Salah satu tuntutan Reformasi 1998
adalah dilakukannya perubahan UUD 1945. Perubahan tersebut yaitu: Perubahan ( Amandemen) I
Perubahan atau Amandemen UUD 1945 pertama dilakukan tanggal 14-21 Oktober 1999 dalam
Sidang Umum MPR. Amandemen tersebut menyempurnakan sembilan pasal, yakni Pasal 5, Pasal 7,
Pasal 9, Pasal 13, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 20, dan Pasal 21. Terdapat dua perubahan fundamental
yang dilakukan, yaitu: Pergeseran kekuasaan dengan membentuk undang-undang dari Presiden ke
DPR. Pembatasan masa jabatan presiden selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali
dalam jabatan yang sama, untuk satu kali masa jabatan. Baca juga: Amandemen UUD 1945: Tujuan
dan Perubahannya Perubahan (Amandemen) II Perubahan UUD 1945 kedua terjadi pada 7-18
Agustus 2000 dalam Sidang Tahunan MPR. Pada perubahan UUD 1945 tersebut ada 15 pasal
perubahan atau tambahan, serta tambahan dan perubahan enam bab. Terdapat delapan perubahan
penting, yaitu: Otonomi daerah atau desentralisasi Pengakuan serta penghormatan terhadap satuan
pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa dan terhadap kesatuan masyarakat hukum
adat beserta hak tradisionalnya. Penegasan fungsi dan hak DPR Penegasan NKRI sebagai sebuah
negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan haknya ditetapkan
dengan undang-undang. Perluasan jaminan konstitusional hak asasi manusia Sistem pertahanan dan
15

keamanan negara Pemisahan struktur dan fungsi TNI serta Polri Pengaturan bendera, bahasa,
lambang negara, dan lagu kebangsaan. Perubahan (Amandemen) III Perubahan UUD 1945 ketiga
berlangsung dari tanggal 1-9 November 2001 dalam Sidang Umum MPR. Terdapat 23 pasal
perubahan atau tambahan dan tiga bab tambahan. Terdapat 10 perubahan mendasar, yaitu:
Penegasan Indonesia sebagai negara demokratis berdasar hukum berbasis konstitusionalisme.
perubahan struktur dan kewenangan MPR Pemilihan presiden dan wakil presiden langsung oleh
rakyat. Mekanisme pemakzulan presiden dan atau wakil presiden Kelembagaan Dewan Perwakilan
Daerah Pemilihan umum Pembaharuan kelembagaan Badan Pemeriksa Keuangan Perubahan
kewenangan dan proses pemilihan serta penetapan hakim agung. Pembentukan Mahkamah
Konstitusi Pembentukan Komisi Yudisial Baca juga: Soal Amandemen Terbatas, Wakil Ketua MPR
Kritik Pratikno Perubahan (Amandemen) IV Perubahan UUD 1945 keempat berlangsung dari tanggal
1-11 Agustus 2002 pada Sidang Umum MPR. Terdapat 13 pasal, tiga pasal aturan peralihan, dua
pasal tambahan, dan perubahan dua bab. Syarat perubahan Terdapat beberapa syarat untuk
melakukan perubahan pasal dalam UUD 1945, di antaranya: Usul perubahan pasal-pasal UUD 1945
dapat diagendakan dalam Sidang MPR bila diajukan sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota
MPR. Setiap usul perubahan pasal-pasal UUD 1945, diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan
jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya. Untuk mengubah pasal UUD 1945,
Sidang MPR harus dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR. Putusan untuk
mengubah pasal UUD 1945 dilakukan dengan persetujuan 50 persen ditambah satu anggota dari
seluruh anggota MPR. Khusus mengenai bentuk NKRI tidak dapat dilakukan perubahan.

Tanda Kehormatan

Presiden Jokowi Anugerahkan Tanda Kehormatan kepada 29 Tokoh Kompas.com - 15/08/2019,


13:25 WIB Bagikan: Komentar (1) Presiden Joko Widodo memberikan tanda kehormatan kepada
sejumlah tokoh yang dianggap sudah banyak berjasa di Indonesia. Pemberian tanda kehormatan
berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/8/2019). Lihat Foto Presiden Joko Widodo
memberikan tanda kehormatan kepada sejumlah tokoh yang dianggap sudah banyak berjasa di
Indonesia. Pemberian tanda kehormatan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/8/2019).
(KOMPAS.com/Ihsanuddin) Penulis Ihsanuddin | Editor Bayu Galih JAKARTA, KOMPAS.com -
Presiden Joko Widodo memberikan tanda kehormatan kepada sejumlah tokoh yang dianggap sudah
banyak berjasa di Indonesia. Pemberian tanda kehormatan berlangsung di Istana Negara, Jakarta,
Senin (15/8/2019). Penghargaan ini diberikan sekaligus dalam rangka memperingati HUT ke-74 RI.
Pemberian tanda jasa kehormatan ini merupakan hasil persetujuan sidang Dewan Gelar, Tanda Jasa,
dan Tanda Kehormatan (Dewan GTK) periode Agustus 2019.

Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah perubahan
ketiga pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagai hasil Sidang
Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 2001 tanggal 1–9 November 2001.
Perubahan Ketiga menyempurnakan dan menambahkan pasal-pasal berikut:
Pasal 23
(1) Anggaran pendapatan dan belanja ditetapkan tiap-tiap tahun dengan undang-undang. Apabila
Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan pemerintah, maka pemerintah
menjalankan anggaran tahun yang lalu.
(2) Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang.
16

(3) Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang.


(4) Hal keuangan negara selanjutnya diatur dengan undang-undang.

(5) Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa
Keuangan, yang peraturannya ditetapkan dengan undang-undang. Hasil pemeriksaan itu
diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
diubah menjadi
(1) Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara
ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka
dan bertanggungjawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(2) Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh Presiden
untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.
(3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui Rancangan anggaran pendapatan dan belanja
negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara tahun yang lalu.
Pasal 23A
Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan
undangundang.
Pasal 23C
Hal-hal lain mengenai keuangan negara diatur dengan undang-undang.
BAB VIIIA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
Pasal 23E
(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan satu
badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.
(2) Hasil pemeriksa keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,sesuai dengan kewenangnnya.
(3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai
dengan undang-undang.
Pasal 23F
(1) Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.
(2) Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota.
Pasal 23G
(1) Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di Ibu kota negara, dan memiliki perwakilan di setiap
provinsi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur dengan undangundang.

Hasil akhir Amandemen UUD 1945


Amandemen UUD 1945 Sebelum dilakukan amandemen, UUD 1945 memiliki 38 bab, 37 pasal, dan
64 ayat. Setelah dilakukan empat kali amendemen ada 16 bab, 37 pasal 194 ayat, tiga pasa aturan
perakitan, dan dua pasal aturan tambahan. Baca juga: Pembukaan UUD 1945: Makna dan Pokok
Pikiran Jimly Asshiddiqie dalam bukunya Konsolidasi naskah UUD 1945 (2003). Berikut empat
emendemen UUD 1945: Amandeman I Amandemen yang pertama dilakukan pada Sidang Umum
MPR pada 14-21 Oktober 1999. Pada amandemen pertama menyempurnakan sembilan pasal, yakni
pasal 5, pasal 7, pasal 9, pasal 13. Kemudian pasal 13, pasal 15, pasal 17, pasal 20, dan pasal 21. Ada
dua perubahan fundamental yang dilakukan, yaitu pergeseran kekuasaan membentuk undang-
undang dari Presiden ke DPR, dan pembatasan masa jabatan presiden selama 5 tahun dan
sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.
Amandeman II Amandemen kedua terjadi pada Sidang Tahunan MPR pada 7 hingga 18 Agustus
2010. Pada amandemen tersebut ada 15 pasal perubahan atau tambahan/tambahan dan perubahan
17

6 bab. Perubahan yang penting itu ada delapan hal, yakni: Baca juga: KALEIDOSKOP 2019: Wacana
Amendemen UUD 1945 yang Makin Tak Jelas... Otonomi daerah/desentralisasi. Pengakuan serta
penghormatan terhadap satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa
dan terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Penegasan fungsi
dan hak DPR. Penegasan NKRI sebagai sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan
wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. Perluasan jaminan
konstitusional hak asasi manusia. Sistem pertahanan dan keamanan Negara. Pemisahan struktur dan
fungsi TNI dengan Polri. Pengaturan bendera, bahasa, lambang Negara, dan lagu kebangsaan.
Amandemen III Amandeman ketiga berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 September
2001. Ada 23 pasal perubahan/tambahan dan tiga bab tambahan. Perubahan mendasar meliputi 10
hal, yakni: Penegasan Indonesia sebagai negara demokratis berdasar hukum berbasis
konstitusionalisme. Perubahan struktur dan kewenangan MPR. Pemilihan Presiden dan wakil
Presiden langsung oleh rakyat. Mekanisme pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Kelembagaan Dewan Perwakilan Daerah. Pemilihan umum. Pembaharuan kelembagaan Badan
Pemeriksa Keuangan. Perubahan kewenangan dan proses pemilihan dan penetapan hakim agung.
Pembentukan Mahkamah Konstitusi. Pembentukan Komisi Yudisial. Baca juga: Dikunjungi MPR, Ini
Tanggapan Muhammadiyah, PBNU, MUI, hingga PHDI soal Amendemen UUD 1945 Amandemen IV
Amandemen IV berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 Agustus 20012. Ada 13 pasal, tiga
pasal aturan peralihan, dua pasal tambahan dan peruban dua bab. Dalam empat kali amandemen
UUD 1945 tersebut relatif singkat. Bahkan selama pembahasannya tidak banyak menemui kendala
meski pada Sidang MPR berlangsung alot dan penuh argumentasi.

Pasal 34
Kembali ke Pasal 33 UUD 1945 Kompas.com - 22/12/2011, 02:06 WIB Bagikan: Komentar Editor
Mochtar Naim Dengan mencontoh negara-negara tetangga yang mendahulukan kepentingan
pembangunan ekonomi kerakyatan dari tingkat terbawah seperti Jepang, Korea, China, Singapura,
dan Malaysia, Indonesia sudah sepatutnya melakukan hal yang sama sejak semula. Namun,
kenyataannya tidak demikian. Sistem ekonomi Indonesia sejak kemerdekaan, yang sudah 66 tahun
umurnya, praktis sama saja dengan kita selama sekian abad berada di bawah penjajahan asing.
Sistem ekonomi yang berkembang sampai saat ini masih bersifat liberal-kapitalistik-pasar bebas,
sekaligus dualistik. Padahal, UUD 1945 menyatakan, ”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama
berdasar atas asas kekeluargaan” (Pasal 33 Ayat 1); ”Cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara” (Pasal 33 Ayat 2); ”Bumi
dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” (Pasal 33 Ayat 3); dan ”Perekonomian nasional
diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga
keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional” (Pasal 33 Ayat 4). Lalu disambung lagi
dengan Pasal 34 Ayat 1: ”Fakir miskin dan anak-anak yang telantar dipelihara oleh negara”; Ayat 2:
”Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”; dan Ayat 3:
”Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan
umum yang layak”. Ekonomi dualistik Semua itu hanya angin surga yang diimpikan para penggagas
dan pendiri republik ini. Sementara yang berjalan dan dipraktikkan selama ini justru sebaliknya.
Selain karena terlalu lama dijajah, juga karena sistem sosial-budaya yang dimiliki oleh bangsa ini
yang dominan adalah feodalistik, hierarkis-vertikal, sentripetal, etatik, nepotik, dan bahkan despotik.
Alhasil, itulah yang berlanjut sampai hari ini, yaitu sistem ekonomi yang dualistik. Terbentuklah
jurang menganga antara 95 persen penduduk yang merupakan rakyat asli, pribumi—yang sejak
semula hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan terbelakang—dan penyertaan sekitar 5 persen dari
ekonomi nasional yang ”bergedumpuk” di sektor nonformal. Sementara 5 persen lainnya—
umumnya nonpribumi—menguasai 95 persen kekayaan ekonomi negeri ini: dari hulu sampai ke
18

muara, di darat, laut, dan bahkan udara di negara kepulauan terbesar di dunia ini. Antara harapan
seperti dituangkan dalam Pasal 33 dan 34 UUD 1945 dan kenyataan yang dihadapi bagaikan siang
dengan malam. Orang Jepang, Korea, China, Singapura, dan Malaysia bangga dengan negeri dan
tanah airnya karena mereka sendiri yang punya dan menguasai bumi, air, dan segala isinya yang
dinikmati oleh rakyatnya sendiri. Kalaupun ada orang luar yang ikut serta, mereka adalah tamu dan
tunduk kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Di kita, Indonesia, sebaliknya. Kita malah
bagaikan tamu atau orang asing di rumah sendiri. Tanah, air, dan bahkan udara yang kita jawat
secara turun-temurun dari nenek moyang kita hanya namanya kita yang punya, tetapi praktis
seluruhnya mereka yang kuasai. Padahal, alangkah luas, kaya, dan indah negara ini sehingga
menempati empat terbesar di dunia. Akan tetapi, kita hanya menguasai secara de jure di atas kertas,
de facto dikuasai kapitalis mancanegara dan konglomerat nonpribumi yang sudah mencengkamkan
kukunya sejak dulu. Lihatlah, hampir semua warga Indonesia terkaya ukuran dunia adalah mereka,
diselingi satu-dua elite pribumi yang hidup sengaja mendekat dan/atau bagian dari api unggun
kekuasaan itu.

Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Kompas


Arti Penting Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Kompas.com - 03/02/2020, 07:00
WIB Bagikan: Komentar Salah satu koleksi Museum Nasional terkait kelahiran Pancasila. Gambar
diambil pada 2 Juni 2017. Lihat Foto Salah satu koleksi Museum Nasional terkait kelahiran Pancasila.
Gambar diambil pada 2 Juni 2017.(KOMPAS/YUNIADHI AGUNG) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor
Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Para pendiri negara telah sepakat, dasar negara adalah Pancasila.
Karena pandangan hidup bangsa harus sesuai ciri khas bangsa Indonesia dan diambil dari
kepribadian tertinggi bangsa. Pancasila dijadikan dasar untuk mencapai tujuan negara sebagaimana
tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945).
Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, bagi bangsa Indonesia,
Pancasila dijadikan sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa untuk mengatur
penyelenggaraan negara. Tahukah kamu apa maksudnya? Pancasila sebagai dasar negara Pancasila
sebagai dasar negara, berarti Pancasila dijadikan pedoman dalam bertingkah laku dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 menegaskan, bangsa
Indonesia memiliki dasar dan pedoman dalam berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila. Pancasila
sebagai dasar negara mendasari pasal-pasal dalam UUD 1945. Serta menjadi cita-cita hukum yang
dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. Baca juga: Memahami Pancasila sebagai Dasar
Negara Pancasila sebagai pandangan hidup Pancasila dianggap memiliki nilai-nilai kehidupan paling
baik. Pancasila dijadikan dasar dan motivasi dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semua sila dari Pancasila tidak dapat dilaksanakan secara
terpisah-pisah karena Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berkaitan. Sila
Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sila pertama dan utama yang mendasari keempat sila lainnya.
Dalam Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (2012) karya Jimly Asshiddiqie, dorongan
keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menentukan kualitas dan derajat
kemanusiaan seseorang di antara sesama manusia. Sehingga perikehidupan bermasyarakat dan
bernegara dapat tumbuh sehat dalam struktur kehidupan yang adil. Baca juga: Makna Bersikap
Sesuai Nilai Pancasila Dengan demikian, kualitas peradaban bangsa dapat berkembang secara
terhormat di antara bangsa-bangsa. Semangat Pancasila sila pertama hendaknya meyakinkan bangsa
Indonesia bersatu-padu di bawah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Perbedaan-perbedaan di antara
sesama warga negara Indonesia tidak perlu diseragamkan. Melainkan dihayati sebagai kekayaan
bersama yang wajib disyukuri. Keragaman di nusantara harus dipersatukan dalam wadah negara
Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Maka dalam kerangka kewarganegaraan, tidak perlu
dipersoalkan mengenai etnis, agama, warna kulit bahkan status sosial seseorang. Semua orang
memiliki kedudukan yang sama sebagai warga negara. Setiap warga negara adalah rakyat. Rakyat
itulah yang berdaulat dalam negara Indonesia.
19

DPR dalam menyusun dan menetapkan APBN

Enam Celah Mafia Anggaran di DPR Kompas.com - 21/08/2011, 15:56 WIB Bagikan: Komentar
EditorTri Wahono JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang
tergabung dalam Koalisi Anti Mafia Anggaran mencatat enam celah yang berpotensi menyuburkan
praktik mafia anggaran di DPR. Enam celah tersebut berkaitan dengan proses perencanaan
anggaran. Sejumlah LSM yang terdiri dari Indonesia Corruption Watch, Indonesia Budget Center,
Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, dan Yappika, itu menyampaikan hal tersebut di Jakarta, Minggu
(21/8/2011). "Kenapa sih korupsi anggaran masif terjadi? Kalau terkait APBN, beberapa yang kami
cermati, ada beberapa celah yang menyebabkan praktik mafia anggaran di DPR," kata peneliti IBC,
Roy Salam. Menurut Roy, celah yang pertama berkaitan dengan kewenangan DPR dalam menyusun
dan menetapkan APBN. Badan Anggaran DPR yang merupakan alat kelengkapan DPR memiliki
kewenangan luar biasa dalam menentukan jatah kue APBN untuk kementerian dan lembaga negara.
"Termasuk penerimaan hibah atau pajak negara," kata Roy. Bahkan, katanya, Banggar dapat
menentukan perusahaan-perusahaan mana yang akan melaksanakan sejumlah proyek di
kementerian. Kondisi tersebut rentan akan praktik penyimpangan. "Banggar powerfull dalam
menentukan besar kecilnya anggaran, masuknya program-program baru, kalau ada perubahan
anggaran sering kali modusnya mark up," katanya. Celah yang kedua, lanjut Roy, proses penyusunan
anggaran yang tidak transparan dan cenderung tertutup mulai dari perencanaan hingga tahap
penetapan. "Dari rapat-rapat Banggar terkait anggaran sering kali tidak tertib. Ada yang dibahas di
DPR, ada juga yang di luar forum di Senayan. Tentu spirit-spiritnya menjauhkan pemantauan publik,"
ujar Roy. Ketiga, munculnya pos alokasi dana di luar Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara. Menurut Roy, dalam undang-undang itu sebenarnya hanya dikenal Dana
Perimbangan. Namun, beberapa waktu lalu Banggar memunculkan alokasi dana di luar ketentuan
resmi bernama Dana Penyesuaian dan Percepatan Pembangunan. "Ini berawal dari celah antara
pendapatan dan belanja negara. Sehingga selisihnya sering dimanfaatkan mafia anggaran untuk
dialokasikan dengan alasan untuk daerah. Padahal tidak ada di undang-undang," papar Roy.
Keempat, tidak adanya rapat dengar pendapat umum yang melibatkan masyarakat dalam
pembahasan rancangan undang-undang APBN. Padalah umumnya pengesahan suatu RUU harus
melalui RDPU dengan masyarakat. "Ini berdampak pada pembahasan yang cenderung eletis, kental
nuansa politik, dan tertutup," ujar Roy. Dia melanjutkan, celah yang kelima adalah ketimpangan
antara rencana alokasi dengan kebutuhan daerah atau konstituen. Prinsip alokasi anggaran
berdasarkan kebutuhan konstituen tidak diterapkan. "Banggar kurang perbarui data riil di lapangan
sehingga alokasinya cenderung kepada kepentingan politik," tambahnya. Sedangkan celah keenam,
adanya hukum "Memancing Uang dengan Uang" atau proses jual beli alokasi dana untuk daerah.
"Misalnya, saat daerah minta anggaran, untuk memperlancar harus memberikan fee dulu kepada
mafia anggaran," kata Roy. Hal itu dimungkinkan demi mengucurnya anggaran ke daerah. Atas enam
celah tersebut, Koalisi Anti Mafia Anggaran meminta DPR untuk segera memperbaiki sistem dan
mekanisme pembahasan APBN baik di komisi-komisi maupun di Banggar. Lalu, KPK diminta
melakukan tindakan pencegahan hingga upaya hukum terhadap modus pada calo mafia anggaran.

Pembukaan (Preambule)

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pembukaan (Preambule) Bahwa
sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan
perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rakhmat Allah
Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu
20

untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu
dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.

Apa aja sih ide pokok pembukaan UUD 1945? Gedung Pancasila. ©2013 Merdeka.com/Ahmad
Ragridio
Merdeka.com - Undang-undang dasar tahun 1945 - Semua rakyat Indonesia pasti tahu kalau UUD
1945 itu adalah dasar negara kita. Bahkan di setiap upacara bendera hari Senin, pembacaan
pembukaan UUD adalah sesi wajib yang nggak pernah kelupaan. Namun, ada satu yang nggak semua
orang tahu, yaitu pokok pikiran pembukaan UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 pasti nggak jauh-jauh
dari pasal-pasal yang ada di dalamnya. Karena ada 4 alinea di pembukaan UUD, jadi pasti ada 4
pokok pikiran juga. Lihat yuk, apa aja sih, pokok pikiran pembukaan UUD 1945:
1. Pokok pikiran yang pertama: "Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia". Maksudnya itu setiap warga negara itu wajib mengutamakan kepentingan
bersama dibanding kepentingan sendiri.
2. Pokok pikiran yang kedua: "Negara hendak mewujudkan keasilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia". Maksudnya itu, kita harus menghormati hak setiap orang karena setiap orang punya hak
dan kewajiban yang sama.
3. Pokok pikiran yang ketiga: "Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan
permusyawaratan/perwakilan". Maksud kalimat ini, Indonesia adalah negara demokrasi yang
berasaskan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
4. Pokok pikiran yang keempat: "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar
Kemanusiaan yang adil dan beradab". Kita harus taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Sanksi Pelanggaran Hak Berserikat dan Berkumpul


Sanksi Pelanggaran Hak Berserikat dan Berkumpul
Pertanyaan
Apakah ada sanksi bagi orang yang melanggar pasal UUD 1945? Misalnya, ada kasus sebagai berikut:
Ada sebuah pasar yang dibangun dan dikelola oleh PT. X. Di dalam pasar tersebut tentunya ada para
pedagang yang kemudian membentuk suatu paguyuban/perkumpulan pedagang pasar yang
bertujuan nonprofit (saling mengenal satu sama lain, arisan, dsb.). Lalu, pihak kantor PT. X
mengetahui dan melarang adanya perkumpulan itu, alasannya katanya, "kalian di sini hanya
menyewa jadi dilarang membentuk perkumpulan." Pertanyaan saya, apakah tindakan PT. X tersebut
melanggar ketentuan Pasal 28 UUD 1945 tentang kemerdekaan berserikat dan berkumpul? Jika iya,
apakah ada sanksinya? Jika tidak, apa dasar hukumnya PT. X mengeluarkan larangan tersebut?
Ulasan Lengkap
Sebelum kami menjawab pertanyaan Anda, terlebih dahulu kami akan meluruskan bahwa UUD 1945
tidak mengatur mengenai ketentuan sanksi di dalamnya. Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945
(“UUD 1945”) Berbunyi:

“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”
21

Pasal ini menunjukkan bahwa UUD 1945 telah melimpahkan pengaturan mengenai kemerdekaan
berserikat dan berkumpul secara lebih spesifik kepada Undang-Undang di bawahnya, terutama
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”) yang merupakan
payung dari seluruh peraturan perundang-undangan tentang Hak Asasi Manusia (“HAM”). Fungsi
UUD 1945 itu sendiri hanyalah sebagai hukum dasar tertinggi yang menjamin hak konstitusional
warga negara.
UU HAM sebagai peraturan pelaksana dari Pasal 28 UUD 1945 juga dapat dilihat dalam bagian
konsiderans “Mengingat” pada UU HAM:
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal
32, Pasal 33 ayat (1) dan ayat (3), dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/I998 tentang
Hak Asasi Manusia;
Selain diatur dalam Pasal 28 UUD 1945, hak untuk berserikat dan berkumpul juga telah dijamin
dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 dan Pasal 24 ayat (1) UU HAM:
Pasal 28E ayat (3) UUD 1945:
“Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”
Pasal 24 ayat (1) UU HAM:
“Setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai.”
Tindakan PT. X yang menghalangi adanya perkumpulan pedagang pasar merupakan kategori
pelanggaran HAM, yakni dalam kasus tersebut adalah hak berserikat dan berkumpul. Ini karena
menurut Pasal 1 angka 6 UU HAM,pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang
atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian
yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi
manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak
mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar,
berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Sayangnya, undang-undang ini tidak menyebutkan sanksi pidana bagi mereka yang melanggar hak
untuk berserikat dan berkumpul. Di dalam penjelasan umum UU HAM hanya menyebutkan bahwa
pelanggaran baik langsung maupun tidak langsung atas HAM dikenakan sanksi pidana, perdata, dan
atau administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Memang ada pelanggaran HAM yang dapat diproses secara hukum melalui Pengadilan HAM. Akan
tetapi, perlu diketahui bahwa Pengadilan HAM hanya dapat mengadili pelanggaran HAM yang berat
sebagaimana diatur Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak
Asasi Manusia (“UU Pengadilan HAM”) dan Pasal 104 ayat (1) UU HAM. Menurut Pasal 7 UU
Pengadilan HAM, yang termasuk sebagai pelanggaran HAM berat adalah kejahatan genosida dan
kejahatan terhadap kemanusiaan.
Merujuk pada Pasal 8 UU Pengadilan HAM, kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang
dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian
kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama. Sedangkan kejahatan terhadap
kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas
atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap
penduduk sipil (Pasal 9 UU Pengadilan HAM).
Melihat pada ketentuan-ketentuan mengenai apa yang termasuk pelanggaran HAM berat, maka
pelarangan hak untuk berserikat dan berkumpul bukanlah termasuk kategori Pelanggaran HAM
Berat. Oleh karena itu, untuk pelanggaran terhadap hak untuk berserikat dan berkumpul tidak dapat
diproses melalui pengadilan HAM.
Akan tetapi, sebagaimana telah dikatakan dalam penjelasan umum HAM, bahwa pelanggaran HAM
dapat dikenai sanksi pidana, perdata, atau administratif, maka Anda dapat menggunakan ketentuan
hukum pidana atas permasalahan ini.
22

Berdasarkan hukum pidana, Anda dapat menggunakan Pasal 335 ayat (1) ke- 1 Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana:
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah:
1. barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan
atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan
yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain
maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain;
2. barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu
dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.
(2) Dalam hal sebagaimana dirumuskan dalam butir 2, kejahatan hanya dituntut atas pengaduan
orang yang terkena.
Dalam hal ini, Anda dan pedagang yang lainnya harus dapat membuktikan bahwa ada paksaan
untuk tidak melakukan sesuatu (membuat perkumpulan) dengan menggunakan kekerasan, sesuatu
perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman
kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan.
Jika Anda tidak ingin menempuh jalur pidana, Anda dapat melakukan mediasi melalui Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (“Komnas HAM”). UU HAM telah menujuk Komnas HAM sebagai
lembaga mandiri untuk melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi
hak asasi manusia (Pasal 1 angka (7) dan Pasal 76 ayat (1) UU HAM). Akan tetapi perlu diingat bahwa
mediasi ini hanya berlaku untuk perkara perdata (Penjelasan Pasal 89 ayat (4) huruf b UU HAM).
Jadi, apabila para pedagang pasar merasa dirugikan terhadap tindakan PT. X yang melarang adanya
perkumpulan dan tidak ingin menempuh jalur pidana, maka pedagang pasar dapat mengambil upaya
hukum melalui pengaduan pelanggaran HAM ke Komnas HAM agar dilakukan mediasi. Sebagai
referensi mengenai mediasi melalui Komnas HAM, Anda dapat membaca artikel yang berjudul
Mengintip Mediasi di Komnas HAM.
Terkait dengan pertanyaan Anda selanjutnya mengenai dasar hukum PT. X mengeluarkan larangan,
tidak ada dasar hukum bagi PT. X untuk melarang pedagang pasar membentuk suatu perkumpulan
tersebut. Pada dasarnya, negara menjamin kebebasan berserikat dan berkumpul.

Kepala Daerah Harus lewat Pemilu

Kompas.com - 24/06/2013, 11:46 WIB Bagikan: Komentar Warga Desa Denatana Timur, Kabupaten
Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memberikan suara dalam pemilihan umum kepala daerah NTT
putaran kedua, Kamis (23/5/2013). Pasangan Esthon Leyloh Foenay/Paul Edmundus Tallo dan
pasangan Frans Lebu Raya/Benny Alexander Litelnoni bersaing untuk menduduki jabatan
Gubernur/Wakil Gubernur NTT periode 2013-2018. Lihat Foto Warga Desa Denatana Timur,
Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memberikan suara dalam pemilihan umum kepala
daerah NTT putaran kedua, Kamis (23/5/2013). Pasangan Esthon Leyloh Foenay/Paul Edmundus
Tallo dan pasangan Frans Lebu Raya/Benny Alexander Litelnoni bersaing untuk menduduki jabatan
Gubernur/Wakil Gubernur NTT periode 2013-2018. (KOMPAS/YUNIADHI AGUNG) EditorCaroline
Damanik Oleh Ramlan Surbakti Pembahasan RUU Pilkada antara pemerintah dan DPR belum
menemukan titik temu, di antaranya mengenai mekanisme pemilihan kepala daerah. Semula
pemerintah mengusulkan gubernur dipilih oleh DPRD, sedangkan bupati dan wali kota dipilih melalui
pemilu. Kini pemerintah berubah pikiran: gubernur dipilih melalui pemilu, tetapi bupati dan wali
kota dipilih oleh DPRD. Tujuh fraksi berpandangan semua kepala daerah dan wakil kepala daerah
dipilih melalui pemilu, sedangkan tiga fraksi mendukung usul pemerintah. Mengapa kepala daerah
dan wakil kepala daerah daerah otonom provinsi, dan kepala daerah dan wakil kepala daerah daerah
otonom kabupaten/kota harus dipilih melalui pemilu? Pasal 18 Ayat (4), yang mengamanatkan
kepala daerah provinsi dan kepala daerah kabupaten/kota dipilih secara demokratis, haruslah
dipahami dalam kerangka desain kelembagaan negara berdasarkan UUD 1945. Khususnya tentang
23

bentuk negara, susunan negara, bentuk pemerintahan, sistem pemerintahan daerah, dan proses
pemilihan penyelenggara negara lembaga legislatif dan eksekutif, baik pada tingkat nasional maupun
daerah. Pemahaman itu perlu dilakukan untuk membangun suatu negara yang menempatkan
kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan berdasarkan UUD. Bentuk negara Indonesia
adalah republik sehingga kepala negaranya disebut presiden. Selain bentuk negara yang republik, RI
juga mengadopsi bentuk pemerintahan presidensial sehingga presiden sebagai kepala negara dan
kepala pemerintahan dipilih oleh rakyat melalui pemilu. Menurut UUD 1945, tidak hanya presiden
dan wakil presiden yang dipilih oleh rakyat melalui pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia,
jujur dan adil, tetapi juga anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Susunan
negara RI adalah negara kesatuan, tetapi menjamin otonomi seluas-luasnya kepada daerah otonom
provinsi dan daerah otonom kabupaten/kota. Karena presiden selaku kepala negara dan kepala
pemerintahan dipilih melalui pemilu, dan karena anggota DPRD provinsi dan anggota DPRD
kabupaten/kota juga dipilih melalui pemilu, maka kepala daerah otonom provinsi dan kepala daerah
otonom kabupaten/kota juga harus dipilih melalui pemilu. Jelas merupakan tindakan yang tak
konsisten dengan bentuk pemerintahan presidensial kalau kepala daerah dipilih oleh anggota DPRD.
Pemilihan kepala daerah oleh DPRD lebih tepat diterapkan dalam bentuk pemerintahan
parlementer. Sebab, kepala pemerintahan nasional dalam negara seperti ini juga tidak dipilih
langsung oleh rakyat, tetapi oleh parlemen. Jika UUD telah menggariskan keanggotaan DPRD dipilih
oleh rakyat melalui pemilu, maka kepala daerah sebagai mitra DPRD dalam mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan yang jadi kewenangan daerah otonom haruslah juga dipilih rakyat secara
langsung melalui pemilu. Lebih tidak konsisten lagi kalau kepala daerah suatu jenis daerah otonom
dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu, sedangkan kepala daerah jenis daerah otonom lainnya
dipilih oleh DPRD. Berdasarkan Pasal 22E Ayat (5) UUD 1945, penyelenggaraan pemilihan umum
merupakan urusan pusat (dalam hal ini KPU), dan karena itu anggaran pemilu bersumber dari APBN.
Karena pemilihan kepala daerah juga termasuk pemilu, maka biaya penyelenggaraan pemilu kepala
daerah dan wakil kepala daerah haruslah bersumber dari APBN.

Tugas dan Wewenang Wakil Presiden

Kompas.com - 12/02/2020, 09:00 WIB Bagikan: Komentar Joko Widodo dan Maruf Amin usai
mengucap sumpah jabatan sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 di Gedung
MPR/DPR RI, Jakarta, Minggu (20/10/2019). Lihat Foto Joko Widodo dan Maruf Amin usai mengucap
sumpah jabatan sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 di Gedung MPR/DPR RI,
Jakarta, Minggu (20/10/2019).(KOMPAS.com/DINO OKTAVIANO) Penulis Serafica Gischa | Editor
Serafica Gischa KOMPAS.com - Wakil presiden adalah jabatan pemerintahan yang berada satu
tingkat lebih rendah daripada presiden. Di Indonesia dan negara Amerika Latin, wakil presiden dipilih
langsung oleh warga negara dan menjadi satu paket dengan presiden. Wakil presiden di Indonesia,
sebagai simbol resmi negara Indonesia di dunia yang kualitas tindakannya sama dengan kualitas
tindakan seorang presiden sebagai kepala negara. Dasar hukum Sistem ketatanegaraan Negara
Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945 mengatur tentang kedudukan dan tugas presiden dan
wakil presiden berturut-turut dalam: Pasal 4 ayat (1) dan (2) UUD 1945 Pasal 6 ayat (2) UUD 1945
Pasal 7 UUD 1945 Pasal 8 UUD 1945 Pasal 9 UUD 1945 Kedudukan seorang wakil presiden tidak
dapat dipisahkan dengan presiden sebagai satu kesatuan pasangan jabatan yang dipilih secara
langsung melalui pemilihan umum. Kedudukan wakil presiden jauh lebih tinggi dan penting dari
jabatan menteri. Baca juga: Pemasangan Foto Presiden dan Wakil Presiden di Kelurahan dan
Kecamatan Jakarta Pusat Rampung Pekan Ini Tugas wakil presiden Dalam buku Susunan Pembagian
Kekuasaan Menurut Sistem UUD 1945 (1978) karya Moh Kusnardi, secara global tugas wakil presiden
sebagai berikut: Membantu presiden dalam melakukan kewajibannya Menggantikan presiden
sampai habis waktunya jika presiden meninggal dunia, berhenti atau tidak dapat melakukan
kewajibannya dalam masa jabatan yang telah ditentukan Memperhatikan secara khusus,
menampung masalah yang perlu penanganan menyangkut bidang tugas kesejahteraan rakyat
24

Melakukan pengawasan operasional pembangunan, dengan bantuan departemen, lembaga non


departemen, dalam hal ini inspektur jenderal dari departemen yang bersangkutan atau depti
pengawasan dari lembaga non departemen yang bersangkutan. Wewenang utama wakil presiden
Terdapat beberapa wewenang utama yang dilakukan wakil presiden, yaitu: Menjadi wakil presiden
Wewenang wakil presiden yakni menggantikan atau mewakili presiden saat melaksanakan tugas dan
kewajiban serta wewenang jabatan presiden namun sebelumnya telah mendapatkan perintah atau
diberi kuasa oleh presiden. Membantu presiden Wakil presiden berwenang untuk membantu
presiden di dalam tugas yang sudah tercantum di undang-undang. Pengganti presiden Wakil
presiden tidak lagi disebut wakip presiden melainkan menjadi presiden dan tidak terjadi rangkap
jabatan dengan alasan yang sudah di atur. Baca juga: Alasan Pemkot Jakarta Utara Belum Pasang
Foto Presiden dan Wakil Presiden Jabatan yang mandiri Jika wakil presiden diminta oleh perorangan
maupun organisasi sebagai pembicara atau sekedar tamu, dalam hal ini wakil presiden melakukan
suatu kegiatan secara mandiri dan tidak memerlukan perintah maupun persetujuan dari presiden.
Selain itu wakil presiden juga memiliki wewenang lain, yakni: Menggantikan, menjalankan atau
melaksanakan tugas-tugas teknis pemerintahan sehari-hari. Penyusun agenda kerja kabinet dan
menetapkan fokus atau prioritas kegiatan pemerintahan yang dalam pelaksanaannya
dipertanggungjawabkan kepada presiden Memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD 1945
Pemilihan wakil presiden Calon wakil presiden dipilih bersama dengan presiden yang diusulkan oleh
partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu sebelumnya. Jika terjadi kekosongan wakil
presiden, presiden bisa mengajukan dua calon wakil presiden kepada MPR. Selambat-lambatnya
dalam waktu 60 hari MPR menyelenggarakan Sidang MPR untuk memilih wakil presiden.
Pemberhentian wakil presiden Pemberhentian presiden dan wakil presiden diatur dalam Bab XVII
Pasal 102-105 edngan tata cara sebagai berikut: MPR wajib menyelenggarakan Sidang Paripurna
MPR untuk memutuskan usul DPR tentang pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden pada
masa jabatannya paling lambat 30 hari sejak MPR menerima usul. Usulan DPR harus dilengkapi
putusan MK, bahwa presiden dan/atau wakil presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum,
seperti pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana lain atau perbuatan
tercela dan/atau terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden. MPR
mengundang presiden dan/atau wakil presiden untuk menyampaikan penjelasan terkait usul
pemberhentiannya dalam Sidang Paripurna MPR. Bila presiden dan/atau wakil presiden tidak hadir
untuk menyampaikan penjelasan, MPR tetap mengambil putusan terhadap usulan pemberhentian
presiden dan/atau wakil presiden. Keputusan MPR atas usul pemberhentian tersebut harus diambil
dalam Sidang Paripurna MPR yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan
disetujui sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir.

Landasan Hukum NKRI


Kompas.com - 21/02/2020, 17:30 WIB Bagikan: Komentar Upacara HUT Proklamasi Berlangsung
Khidmad dan sakral di Tengah Lahan Persawahan Lihat Foto Upacara HUT Proklamasi Berlangsung
Khidmad dan sakral di Tengah Lahan Persawahan(KOMPAS.COM/JUNAEDI) Penulis Arum Sutrisni
Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Sebagai warga negara kamu pasti tahu hakikat
Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI). Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI, hakikat NKRI adalah negara kebangsaan modern yang pembentukannya didasarkan
pada semangat kebanggaan dan nasionalisme. Yaitu pada suatu tekad masyarakat untuk
membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama. Walaupun warga masyarakat di
dalamnya terdiri dari agama, ras, etnik dan golongan yang berbeda-beda. NKRI terbentuk melalui
perjalanan sejarah panjang dengan berbagai peristiwa yang mendahuluinya. Dengan peristiwa
penting yang menandai berdirinya NKRI adalah Proklamasi Kemerdekaan NKRI pada 17 Agustus
1945. Tetapi, tahukah kamu landasan hukum NKRI? Baca juga: NKRI: Latar Belakang, Makna dan
Tujuan Landasan hukum NKRI NKRI lahir melalui revolusi nasional dalam menjebol tata hukum
kolonial dan membangun tata hukum baru. Maka, landasan hukum NKRI adalah Proklamasi
Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Landasan
25

hukum bentuk NKRI dapat ditemukan pada antara lain: UUD 1945 pasal 1 ayat 1 yang berbunyi
"Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik". UUD 1945 pasal 18 ayat 1
"NKRI dibagi atas daerah-daerah provinsi ...". UUD 1945 pasal 25A "NKRI adalah sebuah negara
kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan
dengan undang-undang". UUD 1945 pasal 37 ayat 5 "Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan". NKRI adalah sebuah bangunan kenegaraan
yang berdiri tegak secara de facto dan de jure. Secara de facto yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 dan
secara de jure adalah bersamaan pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945. Dalam UUD 1945,
konstruk NKRI itu dapat dengan jelas dikenali oleh seluruh bangsa Indonesia. Baca juga: Hakikat NKRI
Berdasarkan ketentuan yang menandakan konstruk bangunan NKRI tersebut, dapat ditegaskan
bahwa konstruk NKRI adalah bangunan negara kesatuan yang menggunakan bentuk pemerintahan
republik. NKRI adalah negara yang berdasarkan pada kedaulatan rakyat, yang selalu menggunakan
aturan main sesuai dengan ketentuan hukum (UUD) yang berlaku. Hal penting yang harus diingat,
bahwa bangunan NKRI adalah negara demokrasi yang berlandaskan pada hukum dan ketuhanan
Yang Maha Esa.

Kewenangan MK
Suryadharma Minta Kewenangan MK Diubah Kompas.com - 03/10/2013, 17:52 WIB Bagikan:
Komentar Suryadharma Ali Lihat Foto Suryadharma Ali(KOMPAS/Totok Wijayanto) Penulis Sandro
Gatra | EditorHeru Margianto JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum DPP Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) Suryadharma Alie menilai, perlu dilakukan amandemen UUD 1945 untuk
mengubah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK). Usulan Suryadharma itu merupakan reaksi atas
penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Menurut Suryadharma, MK sebaiknya hanya menjadi lembaga pengontrol pembentukan undang-
undang yang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah. Sebelum RUU disahkan menjadi
UU, kata dia, ada pembahasan dengan MK. Kalau ada hal yang harus diamandemen, itu kembali ke
DPR. "Selama ini, hanya dengan lima orang (hakim konstitusi) sudah bisa mematahkan UU yang
dibahas DPR dan pemerintah selama bertahun-tahun," kata Suryadharma di Kompleks Istana
Kepresidenan, Jakarta, Kamis (3/10/2013). Ia berpendapat, kewenangan MK saat ini berpotensi jadi
masalah jika MK menghasilkan putusan yang salah. Padahal, keputusan MK final dan mengikat.
"Apakah ada kebenaran absolut? Padahal, kebenaran itu tergantung kondisi dan dinamika. Saya
setuju dilakukan evaluasi," kata dia. Seperti diketahui, dalam UUD 1945, MK memiliki empat
kewenangan: Menguji UU terhadap UUD 1945. Memutus sengketa kewenangan antarlembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. Memutuskan pembubaran partai politik.
Memutuskan perselisihan tentang pemilu. Penangkapan Akil Penangkapan Akil diduga terkait
penanganan perselisihan sengketa pemilihan kepala daerah di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. KPK
menangkap tangan Akil, bersama anggota DPR dari Fraksi Golkar Chairun Nisa, dan Cornelis di
kediaman Akil pada Rabu (2/10/2013) malam. Tak lama setelahnya, penyidik KPK menangkap Bupati
Gunung Mas Hambit Bintih serta pihak swasta berinisial DH di sebuah hotel di kawasan Jakarta
Pusat. Bersamaan dengan penangkapan ini, KPK menyita sejumlah uang dollar Singapura dan dollar
Amerika yang dalam rupiah nilainya sekitar Rp 2,5-3 miliar. Diduga, Chairun Nisa dan Cornelis akan
memberikan uang ini kepada Akil di kediamannya malam itu. Pemberian uang itu diduga terkait
dengan kepengurusan perkara sengketa pemilihan kepala daerah di Gunung Mas yang diikuti Hambit
Bintih selaku calon bupati petahana.

"Negara Belum Menjamin Hak Anak atas Pendidikan!


Negara Belum Menjamin Hak Anak atas Pendidikan! Kompas.com - 31/07/2009, 10:31 WIB Bagikan:
Komentar Editor JAKARTA, KOMPAS.com — Jaminan pendidikan adalah tanggung jawab negara
sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Bab XIII Pendidikan dan kebudayaan. Pada kenyataannya, hal
itu belum seluruhnya terlaksana, dan masyarakat belum merasakannya. Bahkan, berbagai kebijakan
pemerintah, seperti UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 dan UU BHP Nomor 9 Tahun 2009 tidak juga
26

menjawab persoalan. Biaya pendidikan masih tetap mahal, dan belum mengakomodasi semua hak
anak Indonesia atas pendidikan yang layak. "UUD 45 sudah memberikan kita jaminan hak anak atas
pendidikan, tinggal dilaksanakan saja kok, tetapi ternyata itu tidak sepenuhnya dilakukan. Jadi, sejak
tahun dibuatnya pada 1945 sampai sekarang ini, hak anak atas pendidikan belum terpenuhi," ujar
Utomo Dananjaya, Direktur Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, di Jakarta,
Kamis (30/7). Utomo mengatakan, pemerintah tinggal berkomitmen menjalankan Pasal 31 UUD
1945 tentang Pendidikan. Jika itu dilakukan, kata dia, hak anak atas pendidikan tentu terpenuhi.
"Pasal 31 ayat 1, 2, dan 4 itu sangat jelas sekali bahwa setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya, dan negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh
persen dari APBN serta APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional,"
ujarnya. "Jadi, aneh kalau aturan-aturan itu justru kontradiktif dengan kenyataan yang ada.
Ternyata, rakyat masih harus berjuang untuk hak anak atas pendidikan, seperti zaman penjajahan
dulu sajalah," tandas Utomo. Sementara itu, pengamat pendidikan dari Education Forum, Elin
Driana, menilai, banyak kebijakan pada sistem pendidikan nasional yang tidak seutuhnya membela
hak anak. Sampai hari ini, kata dia, banyak anak usia sekolah yang tidak sekolah, padahal itu sudah
merupakan tanggung jawab negara. "Banyak kebijakan yang berlaku diskriminatif dan menimbulkan
kesenjangan, baik itu secara ekonomi, maupun akademis, yang menyebabkan banyak anak tidak
mendapatkan haknya," ujar Elin. Kebijakan sekolah RSBI/SBI, misalnya. Sekolah tersebut
menawarkan kualitas pendidikan yang bagus, tetapi dengan biaya yang sangat mahal dan tidak
mungkin bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Selain itu, tambah Elin, bantuan pemerintah
terhadap RSBI/SBI pun tampak dibedakan dengan sekolah yang bukan RSBI/SBI sehingga dari sisi
kualitas dan fasilitas seperti "langit dan bumi". "Jadi, apakah yang berhak menikmati kualitas itu
hanya anak-anak dari keluarga yang punya uang?" tanya Elin retoris.

Negara Wajib Lindungi dan Jamin Hak Penghayat Kepercayaan


MK: Negara Wajib Lindungi dan Jamin Hak Penghayat Kepercayaan Kompas.com - 07/11/2017, 15:22
WIB Bagikan: Komentar Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).
Lihat Foto Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).(Fachri Fachrudin)
Penulis Kristian Erdianto | EditorSandro Gatra JAKARTA, KOMPAS.com - Mahkamah Konstitusi (MK)
menegaskan bahwa hak untuk menganut agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
merupakan hak konstitusional warga negara, bukan pemberian negara. Oleh sebab itu, negara wajib
melindungi dan menjamin pemenuhan hak warga negaranya untuk memeluk suatu kepercayaan di
luar enam agama yang berkembang di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Hakim MK Saldi Isra
saat membacakan putusan permohonan uji materi pasal 61 Ayat (1) dan (2), serta pasal 64 ayat (1)
dan (5) UU No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan juncto UU 24 Tahun 2013
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan (UU Adminduk) di gedung MK, Jakarta Pusat, Selasa (7/11/2017). (Baca juga : MK:
Hak Penganut Kepercayaan Setara dengan Pemeluk 6 Agama) Saldi menuturkan, ketentuan Pasal
28E ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 merupakan pengakuan konstitusi terhadap hak atas kebebasan
beragama dan berkeyakinan bagi siapapun. Sedangkan Pasal 29 UUD 1945 merupakan penegasan
atas peran yang harus dilakukan oleh negara untuk menjamin tiap-tiap penduduk agar merdeka
dalam memeluk agama dan keyakinan yang dianutnya. Di sisi lain, menurut Saldi, hak dasar untuk
menganut agama, mencakup hak untuk menganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
adalah bagian dari hak asasi manusia dalam kelompok hak-hak sipil dan politik. (Baca juga : MK:
Kolom Agama di KTP dan KK Dapat Ditulis Penghayat Kepercayaan) Artinya, hak untuk menganut
agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan salah satu hak dalam kelompok
hak-hak sipil dan politik yang diturunkan dari atau bersumber pada konsepsi hak-hak alamiah.
"Dengan demikian, dalam gagasan negara demokrasi yang berdasar atas hukum atau negara hukum
yang demokratis, negara dibentuk justru untuk melindungi, menghormati dan menjamin pemenuhan
hak-hak tersebut," ucapnya. "Sebagai hak asasi yang bersumber pada hak alamiah, hak ini melekat
27

pada setiap orang karena ia adalah manusia, bukan pemberian negara," kata Saldi. Pada kesempatan
yang sama, hakim MK Maria Farida Indrati mengatakan, secara tekstual, Pasal 28E ayat (1) dan ayat
(2) serta Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menempatkan agama selalu berkaitan dengan kepercayaan, di
mana agama adalah kepercayaan itu sendiri. Hanya saja, lanjut Maria, dengan membaca dan
memahami keberadaan Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945, agama dan kepercayaan sangat
mungkin dipahami sebagai dua hal yang berbeda atau tidak sama. Namun keduanya sama-sama
diakui eksistensinya. Pemahaman tersebut muncul karena Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945
mengatur agama dan kepercayaan secara terpisah. "Dengan demikian, istilah 'agama' dan
'kepercayaan' memang dipahami sebagai dua hal berbeda yang disetarakan," kata Maria.

Hak Preogratif Presiden: Grasi, Amnesti, Rehabilitasi dan Abolisi


Hak Preogratif Presiden: Grasi, Amnesti, Rehabilitasi dan Abolisi Kompas.com - 07/02/2020, 12:00
WIB Bagikan: Komentar Seorang relawan membawa kotak berisi surat dukungan petisi amnesti
terpidana kasus pelanggaran UU ITE Baiq Nuril Maknun untuk diserahkan ke Kantor Staf Presiden,
kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (15/7/2019). Baiq Nuril mengajukan surat permohonan
amnesti kepada Presiden Joko Widodo melalui Kepala Staf Kepresidenan Moledoko. Lihat Foto
Seorang relawan membawa kotak berisi surat dukungan petisi amnesti terpidana kasus pelanggaran
UU ITE Baiq Nuril Maknun untuk diserahkan ke Kantor Staf Presiden, kompleks Istana Presiden,
Jakarta, Senin (15/7/2019). Baiq Nuril mengajukan surat permohonan amnesti kepada Presiden Joko
Widodo melalui Kepala Staf Kepresidenan Moledoko.(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN) Penulis Ari
Welianto | Editor Ari Welianto KOMPAS.com - Presiden Republik Indonesia adalah kepala negara
sekaligus memegang kekuasan pemerintah. Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat melalui
proses Pemilihan Umum (Pemilu). Dalam menjalankan pemerintahnnya presiden dibantu oleh wakil
presiden dan para menteri yang disebut kabinet. Dalam tugasnya, Presiden memiliki hak preogratif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hak Preogratif adalah hak istimewa yang dipunyai
oleh kepala negara mengenai hukum dan undang-undang di luar kekuatan badan-badan perwakilan.
Baca juga: Mengenal Amnesti, Hak Presiden yang Saat Ini Didesak untuk Diberikan Jokowi ke Baiq
Nuril Hak preogratif presiden Dikutip situs resmi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, berdasarkan
pasal 14 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Presiden Republik Indonesia berhak untuk memberikan
grasi dan rehabilitasi dengan mempertimbangkan Mahkamah Agung (MA). Presiden juga
memberikan amnesti dan abolisi dengan memperhatikan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Berikut
hak preogratif yang dimiliki oleh presiden: Grasi Grasi adalah hak bagi presiden untuk memberikan
pengurangan hukuman, pengampunan, atau bahkan pembebasan hukuman sama sekali. Grasi
merupakan salah satu dari lima yang dimiliki kepala di bidang yudikatif sebagai akibat penerapan
sistem pembagian kekuatan. Contoh, mereka yang mendapat hukuman mati lalu memperoleh grasi
dari presiden. Bisa pengurangan masa tahanan atau bebas. Baca juga: Grasi Presiden Jokowi kepada
Annas Maamun yang Menuai Kritik... Hasan Basri, dalam jurnal berjudul Kewenangan Konstitusi (Hak
Preogratif) Presiden dalam memberikan grasi kepada terpidana atas kasus narkoba (2019), jika
kewenangan Presiden dalam pemberian Grasi kepada terpidana termaktub dalam Undang-Undang
Dasar Tahun 1945 menempatkan kedudukan yang dimiliki Presiden pada posisi dua fungsi dalam
struktur ketatanegaraan Indonesia. Yaitu fungsi sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Presiden berhak mengabulkan atau menolak permohonan grasi yang diajukan terpidana, dengan
demikian pertimbangan Mahkama Agung (MA). Rehabilitasi Rehabilitasi merupakan suatu tindakan
presiden dalam rangka memulihkan nama baik seseorang yang telah hilang. Fokus pada rehabilitasi
terletak pada nilai kehormatan yang diperoleh kembali dan itu tidak tergantung kepada UU tetapi
pada pandangan masyarakat sekitar. Rehabilitasi diatur dalam Pasal 14 Ayat (2) UUD 1945. Presiden
harus memperhatikan pertimbangan dari DPR dalam pemberian rehabilitasi. Amnesti Amnesti
adalah sebuah tindakan hukum yang mengembalikan status tak bersalah kepada orang yang sudah
dinyatakan bersalah secara hukum sebelumnya. Baca juga: Ketua MPR: Perppu Hak Presiden
Amnesti diberikan oleh badan hukum tinggi negara, seperti badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Presiden memberikan amnesti dengan mempertimbangkan DPR. Dilansir Encyclopaedia Britannica
28

(2015), amnesti berasal dari bahasa Yunani, yakni amnesia. Amnesti biasanya diberikan untuk
kejahatan politik terhadap negara, seperti penghianatan, penghasutan, atau pemberontakan. Secara
teknis amnesti berbeda dari pengampunan. Karena pengampunan hanya membebaskan dari
hukuman. Pada 1865, Presiden Amerika Serikat (AS), Andrew Johnson mengeluarkan proklamasi
pemberian penuh maaf kepada semua mantan konferedasi (kecuali pemimpin tertentu) yang akan
mengambil sumpah kesetiaan yang tidak memenuhu syarat ke AS. Abolisi Abolisi merupakan suatu
keputusan untuk menghentikan pengusutan dan pemeriksaan suatu perkara. Di mana pengadilan
belum menjatuhkan keputusan terhadap perkara tersebut. Dalam pemberian abolisi, presiden harus
memperhatikan pertimbangan DPR. Abolisi diatur dalam Pasal 14 Ayat (2) UUD 1945.

Referendum di Wilayah Indonesia


Wakil Ketua DPD: Tidak Ada Lagi Cerita Referendum di Wilayah Indonesia Kompas.com -
31/05/2019, 16:11 WIB Bagikan: Komentar (1) Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Nono
Sampono saat memberikan keterangan terkait wacana referendum Aceh, di Kompleks Parlemen,
Senayan, Jakarta, Jumat (31/5/2019). Lihat Foto Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI
Nono Sampono saat memberikan keterangan terkait wacana referendum Aceh, di Kompleks
Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (31/5/2019). (KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO) Penulis Kristian
Erdianto | Editor Inggried Dwi Wedhaswary JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan
Daerah (DPD) RI Nono Sampono mengungkapkan, aturan hukum di Indonesia tidak lagi mengenal
mekanisme referendum dalam menyelesaikan konflik. Hal itu ia ungkapkan merespons pernyataan
referendum yang dilontarkan oleh Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf. "Format atau model atau
aktualisasi politik untuk menyelesaikan konflik dari berbagai pihak dengan negara, sudah tidak lagi
cerita tentang referendum di wilayah hukum indonesia," ujar Nono di Kompleks Parlemen, Senayan,
Jakarta, Jumat (31/5/2019). Baca juga: Ketua DPR Tolak Wacana Referendum Aceh Nono
menjelaskan, Ketetapan MPR Nomor 4 Tahun 1983 tentang Referendum telah dicabut dengan
adanya TAP MPR Nomor 8 Tahun 1998. Sementara itu, peraturan turunannya, yakni Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum telah dicabut melalui penerbitan Undang-Undang Nomor
6 Tahun 1999. Undang-Undang tersebut disahkah oleh Presiden BJ Habibie pada 23 Maret 1999.
Baca juga: Masyarakat Diminta Tak Terpengaruh Isu dan Wacana Referendum Aceh "Artinya, di
wilayah hukum Indonesia sudah tidak ada yang lain kecuali itu. Tidak berlaku konstitusi atau UU yang
lain," kata Nono. Sebelumnya, wacana mengenai refrendum di Aceh digulirkan oleh Ketua Partai
Aceh Muzakir Manaf. Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu memunculkan istilah
refrendum pasca Pemilihan Umum 2019. Ia menyampaikan bahwa kondisi di Aceh saat ini penuh
dengan ketidakadilan, maka atas nama rakyat Aceh ia menyatakan perlu adanya referendum.

Mahasiswa Papua Teriakkan Referendum


Demo di Depan Istana, Mahasiswa Papua Teriakkan Referendum Kompas.com - 22/08/2019, 18:38
WIB Bagikan: Komentar (6) Sejumlah mahasiswa Papua di Jakarta yang tergabung dalam Aliansi
Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Militerisme, menggelar aksi unjuk rasa di
seberang Gedung Kementerian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka Utara, Kamis (22/8/2019).
Mahasiswa Papua meminta Presiden Joko Widodo memastikan proses hukum pelaku rasis terhadap
mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur. Lihat Foto Sejumlah mahasiswa Papua di Jakarta yang
tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Militerisme,
menggelar aksi unjuk rasa di seberang Gedung Kementerian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka
Utara, Kamis (22/8/2019). Mahasiswa Papua meminta Presiden Joko Widodo memastikan proses
hukum pelaku rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur.(KOMPAS.com/GARRY
LOTULUNG) Penulis Nursita Sari | Editor Sandro Gatra JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah mahasiswa
Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan
Militerisme, meneriakkan referendum saat berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jalan Medan
Merdeka Utara, Kamis (22/8/2019). Menurut mereka, referendum adalah cara yang tepat untuk
mengakhiri tindakan diskriminasi, rasis, dan pelanggaran hak azasi manusia (HAM) terhadap
29

masyarakat Papua. "Tujuan kami referendum. Itu cara paling tepat untuk menyelesaikan
pelanggaran HAM. Cara paling demokratis adalah memberikan hak menentukan nasib sendiri," ujar
seorang orator. Mereka berulang-ulang meneriakkan referendum. "Referendum?" kata seorang
orator. "Yes," sahut massa aksi. "Hidup rakyat Papua. Aksi ini menuntut penentuan nasib sendiri,"
ujar orator lagi. Massa menyatakan bahwa rakyat Papua tidak membutuhkan otonomi khusus
(otsus). Mereka hanya ingin menentukan nasibnya sendiri. "Orang Papua ingin merdeka, bukan
otsus, bukan pembangunan," kata orator. Sebelumnya, aksi protes atas tindakan diskriminasi dan
rasis yang diterima mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Jawa Timur, terjadi di sejumlah titik di
Papua dan Papua Barat. Di Jayapura, Papua, aksi protes diikuti oleh ribuan orang yang melakukan
long march dari Waena menuju Kantor Gubernur Papua. Aksi tersebut berlangsung tertib dan
berakhir pada Senin petang. Sementara di Manokwari dan Sorong, Papua Barat, aksi protes berakhir
ricuh. Di Manokwari, kantor DPR Papua Barat dibakar massa, sedangkan di Sorong pengrusakan
terjadi di Bandara DEO dan Lapas Sorong dibakar.
Arti Referendum, Jenis dan Fungsinya
INDOZONE.ID - Untuk menyelesaikan konflik antar dua negara atau juga dua daerah bisa
menggunakan referendum. Referendum sendiri berasal dari kata refer yang berarti mengembalikan.
Secara garis besar, referendum berarti pelaksanaan pemerintahan yang didasarkan oleh
pengawasan secara langsung oleh rakyat. Terutama terhadap kebijakan yang telah, sedang, atau
akan dilaksanakan oleh badan legislatif atau eksekutif.
Sedangkan menurut KBBI, referendum berarti penyerahan suatu masalah kepada orang banyak
supaya mereka yang menentukannya (jadi, tidak diputuskan oleh rapat atau oleh parlemen),
penyerahan suatu persoalan supaya diputuskan dengan pemungutan suara umum (semua anggota
suatu perkumpulan atau segenap rakyat).”
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Yang dimaksud dalam Undang-undang ini dengan:
a.Referendum adalah kegiatan untuk meminta pendapat rakyat secara langsung mengenai setuju
atau tidak setuju terhadap kehendak Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk mengubah Undang-
Undang Dasar 1945;
b.Pendapat rakyat adalah pernyataan oleh Pemberi Pendapat Rakyat;
c.Pemberi Pendapat Rakyat adalah Warga Negara Republik Indonesia yang memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dalam Undang-undang ini.

Pemberantasan KKN Jangan DIkubur Bersama Soeharto


Kompas.com - 28/01/2008, 19:08 WIB Bagikan: Komentar Editor JAKARTA, SENIN - Ketua Majelis
Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid mengemukakan, wafat dan pemakaman mantan
Presiden Soeharto jangan ikut mengubur komitmen pemerintah untuk menyelenggarakan negara
yang bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme seperti tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor
XI Tahun 1998. Tap MPR No XI/1998 ditetapkan 13 November 1998 dan ditandatangani Ketua MPR
Harmoko dan lima Wakil Ketua MPR yaitu Hari Sabarno, Abdul Gafur, Ismail Hasan Metareum,
Fatimah Achmad, dan Poedjono Pranyoto. "Dalam Tap MPR No XI/1998 disebut secara langsung
mantan Presiden Soeharto," ujar Hidayat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin
(28/1). Di Halim, Hidayat ikut mengantar jenasah Soeharto untuk dimakamkan di Astana Giribangun,
Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam Pasal 4 Tap MPR No XI/1998 disebutkan, upaya pemberantasan
korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapa pun juga, baik pejabat
negara, mantan pejabat negara, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan
Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak asasi
manusia. ”Tentu, wafatnya Pak Harto bukan berarti Tap MPR No XI/1998 itu dicabut. Kalau dicabut,
yang dicabut adalah komitmen negara ini untuk menyelenggarakan negara yang bebas KKN. Tentu
kita tidak ingin. Setelah wafat, kita akan semakin berkomitmen menegakkan hukum dan
menyelenggarakan negara yang bebas KKN,” ujarnya. Menganai bagimana Tap MPR No XI/1998
30

dilaksanakan, karena berkaitan dengan masalah hukum, Hidayat menyerahkan kepada para ahli
hukum. ”Saya bukan ahli hukum,” ujarnya. Hidayat mengaku berduka atas wafatnya Soeharto dan
menyadari kapan pun semua orang termasuk para pejabat akan meninggal dunia. Karena itu,
Hidayat mengingatkan semua pejabat untuk berbuat baik selagi masih hidup di dunia. ”Lebih baik,
setiap waktu, para pejabat membuat kebijakan bernilai potitif, bermanfaat, dan tidak menghadirkan
kontroversi. Kita tidak perlu mengulangi kesalahan siapa pun di masa lalu,” ujarnya.

Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia


Kadiv Humas Polri: Ikuti Saja Aturan Polri di Bawah Presiden Kompas.com - 12/12/2014, 17:34 WIB
Bagikan: Komentar Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny F Sompie, di Hotel Ambhara,
Jalan Iskandarsyah, Jakarta Selatan, Jumat (12/12/2014) Lihat Foto Kepala Divisi Humas Mabes Polri,
Irjen Pol Ronny F Sompie, di Hotel Ambhara, Jalan Iskandarsyah, Jakarta Selatan, Jumat (12/12/2014)
(FATHUR ROCHMAN) Penulis Fathur Rochman | EditorBayu Galih JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala
Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie memberikan tanggapan tentang wacana agar
kepolisian berada di bawah kementerian. Menurut Ronny, biarkan status Polri tetap seperti sekarang
ini, yakni di bawah presiden. "Tentang status polisi di bawah presiden, saya kira kita ikuti saja dulu
yang sudah ada," ujar Ronny di Hotel Ambhara, Jalan Iskandarsyah, Jakarta Selatan, Jumat
(12/12/2014). Ronny mengatakan, hingga saat ini, Presiden Joko Widodo belum memikirkan tentang
wacana tersebut. Menteri Pertahanan pun, kata dia, juga telah menjelaskan maksud dari usulan agar
Polri berada di bawah kementerian. Selain itu, lanjut Ronny, berdasarkan TAP MPR Nomor
VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik
Indonesia, serta TAP MPR Nomor VII/MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan
Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia, dijelaskan bahwa Polri berada di bawah presiden. TAP
MPR Nomor VI/MPR/2000 menjelaskan posisi Polri yang dipisahkan dari TNI. Sementara itu, dalam
Pasal 7 ayat (2) dalam TAP MPR Nomor VI/MPR/2000, disebutkan bahwa Kepolisian Negara Republik
Indonesia berada di bawah presiden. "Posisi Polri di bawah presiden merupakan perjuangan
reformasi kita," kata Ronny. Namun, Ronny melanjutkan, jika nantinya Jokowi memutuskan status
Polri berubah menjadi di bawah kementerian, Polri akan siap untuk mengikuti aturan tersebut. "Polri
tentu mengikuti bagaimana pimpinan," ucapnya. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard
Ryacudu mengusulkan agar kepolisian berada di bawah kementerian. Dia membandingkan
keberadaan TNI yang berada di bawah Kementerian Pertahanan. Namun, hal tersebut masih sebatas
wacana. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhi
Purdijatno mengaku, realisasi penempatan polisi di bawah kementerian tak akan mudah. Sekretaris
Kabinet Andi Widjajanto membandingkan posisi kepolisian dengan negara-negara lain, di mana Polri
berada di bawah kementerian. Meski demikian, pemerintah harus mempertimbangkan reformasi
keamanan di Indonesia tahun 1999 terkait pemisahan TNI dan Polri sesuai amanat dari Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang kepolisian yang secara eksplisit menempatkan Polri di bawah
presiden.

Landasan Hukum NKRI


Kompas.com - 21/02/2020, 17:30 WIB Bagikan: Komentar Upacara HUT Proklamasi Berlangsung
Khidmad dan sakral di Tengah Lahan Persawahan Lihat Foto Upacara HUT Proklamasi Berlangsung
Khidmad dan sakral di Tengah Lahan Persawahan(KOMPAS.COM/JUNAEDI) Penulis Arum Sutrisni
Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Sebagai warga negara kamu pasti tahu hakikat
Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI). Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI, hakikat NKRI adalah negara kebangsaan modern yang pembentukannya didasarkan
pada semangat kebanggaan dan nasionalisme. Yaitu pada suatu tekad masyarakat untuk
membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama. Walaupun warga masyarakat di
dalamnya terdiri dari agama, ras, etnik dan golongan yang berbeda-beda. NKRI terbentuk melalui
perjalanan sejarah panjang dengan berbagai peristiwa yang mendahuluinya. Dengan peristiwa
penting yang menandai berdirinya NKRI adalah Proklamasi Kemerdekaan NKRI pada 17 Agustus
31

1945. Tetapi, tahukah kamu landasan hukum NKRI? Baca juga: NKRI: Latar Belakang, Makna dan
Tujuan Landasan hukum NKRI NKRI lahir melalui revolusi nasional dalam menjebol tata hukum
kolonial dan membangun tata hukum baru. Maka, landasan hukum NKRI adalah Proklamasi
Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Landasan
hukum bentuk NKRI dapat ditemukan pada antara lain: UUD 1945 pasal 1 ayat 1 yang berbunyi
"Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik". UUD 1945 pasal 18 ayat 1
"NKRI dibagi atas daerah-daerah provinsi ...". UUD 1945 pasal 25A "NKRI adalah sebuah negara
kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan
dengan undang-undang". UUD 1945 pasal 37 ayat 5 "Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan". NKRI adalah sebuah bangunan kenegaraan
yang berdiri tegak secara de facto dan de jure. Secara de facto yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 dan
secara de jure adalah bersamaan pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945. Dalam UUD 1945,
konstruk NKRI itu dapat dengan jelas dikenali oleh seluruh bangsa Indonesia. Baca juga: Hakikat NKRI
Berdasarkan ketentuan yang menandakan konstruk bangunan NKRI tersebut, dapat ditegaskan
bahwa konstruk NKRI adalah bangunan negara kesatuan yang menggunakan bentuk pemerintahan
republik. NKRI adalah negara yang berdasarkan pada kedaulatan rakyat, yang selalu menggunakan
aturan main sesuai dengan ketentuan hukum (UUD) yang berlaku. Hal penting yang harus diingat,
bahwa bangunan NKRI adalah negara demokrasi yang berlandaskan pada hukum dan ketuhanan
Yang Maha Esa.

Revisi UU Sisdiknas
Mendesak, Revisi UU Sisdiknas Kompas.com - 16/08/2010, 12:04 WIB Bagikan: Komentar
EditorLatief Oleh Darmaningtyas Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20
Tahun 2003, yang proses penyusunannya menimbulkan kegaduhan antara pro dan kontra, ternyata
implementasinya melahirkan sejumlah masalah krusial. Oleh karena itu, menjadi amat mendesak
bagi UU ini untuk direvisi oleh anggota DPR periode 2009-2014. Beberapa persoalan krusial yang
sekaligus dapat dijadikan sebagai dasar untuk merevisi UU Sisdiknas antara lain sebagai berikut.
Pertama, pembatalan Undang- Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) oleh Mahkamah
Konstitusi pada 31 Maret 2010. UU BHP adalah amanat dari UU Sisdiknas Pasal 53 agar
penyelenggaraan dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau
masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan yang diatur dalam undang-undang tersendiri.
Dengan dibatalkannya UU BHP, Pasal 53 ini tidak bermakna lagi; jika tidak direvisi, hanya menjadi
pasal sampah belaka. Kedua, masalah krusial yang selalu muncul setiap tahun dan menghabiskan
energi adalah ujian nasional (UN). UN sebetulnya tidak punya pijakan yang jelas dalam UU Sisdiknas
karena Pasal 57-59 hanya mengatur tentang evaluasi pendidikan, yang implementasinya tidak tentu
berupa UN. Namun, oleh pemerintah diturunkan terlalu jauh dalam Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan UN dari SD
hingga SMTA. PP No 19/2005 itulah yang dijadikan pedoman oleh pemerintah untuk melaksanakan
UN. Tetapi, apabila dirunut pasalnya dalam UU Sisdiknas, memang tidak ada. Pasal 57-59 yang
mengatur masalah evaluasi pendidikan saatnya direvisi agar lebih tegas dan tidak multitafsir.
Sebetulnya, bunyi pasal itu sudah tegas, tetapi entah bagaimana pemerintah dapat menafsirkan
beda dengan tafsiran masyarakat. Dalam ketiga pasal tersebut tidak ada yang mengindikasikan
pelaksanaan UN. Bahkan, kalau membaca Pasal 59 Ayat 3 jelas sekali bahwa ”Masyarakat dan/ atau
organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi hasil belajar”.
Itu artinya evaluasi belajar itu seperti model tes TOEFL yang dapat diselenggarakan oleh badan-
badan mandiri yang kredibel, bukan justru dalam bentuk UN seperti yang dipaksakan oleh
pemerintah. Ketiga, masalah anggaran pendidikan yang problematik. UU Sisdiknas Pasal 49 Ayat 1
menyebutkan, ”Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan
minimum 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan
dan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)”. Namun, dalam realitasnya,
sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2008, anggaran 20 persen termasuk gaji guru
32

dan dosen serta pendidikan kedinasan. Dengan keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi tersebut,
bunyi Ayat 1 Pasal 49 tidak ada maknanya lagi. Keempat, menghapus rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI). RSBI dan SBI telah menimbulkan
persoalan sosial baru karena telah menutup akses masyarakat secara umum terhadap layanan
pendidikan yang bermutu serta telah menciptakan kastanisasi sekolah menjadi beberapa kasta. Ini
tentu menimbulkan persoalan tersendiri bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kementerian
Pendidikan Nasional sekarang juga tengah mengevaluasi keberadaan RSBI/SBI, tetapi tampaknya
hanya dari aspek teknis belaka. Padahal, persoalan RSBI/SBI lebih bersifat ideologis-konstitusional.
Keberadaan RSBI/SBI merupakan turunan dari UU Sisdiknas Pasal 50 Ayat 3 yang mengamanatkan
agar setiap daerah menyelenggarakan minimum satu satuan pendidikan bertaraf internasional.
Mengingat implementasi pasal itu dalam bentuk RSBI/SBI, menimbulkan persoalan serius
(konstitusional), pasal tersebut perlu dihilangkan. Ayat 3 Pasal 31 UUD 1945 mengamanatkan,
”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional”, sementara
pengembangan RSBI/SBI sekarang tanpa disadari menciptakan lebih dari satu sistem pendidikan
nasional, bahkan menciptakan kastanisasi sekolah. UU Sisdiknas tidak boleh menabrak konstitusi.
Implementasi dari Ayat 3 Pasal 50 dalam bentuk RSBI/SBI juga bertentangan dengan Ayat 1 Pasal 5
UU Sisdiknas yang menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk
memperoleh pendidikan yang bermutu serta Ayat 1 Pasal 11 tentang layanan pendidikan bagi setiap
warga negara tanpa diskriminasi. Sementara itu, yang bisa bersekolah di RSBI/SBI hanya golongan
mampu karena biayanya mahal. Kelima, usia masuk sekolah dasar (SD). Persoalan usia masuk SD
selalu menjadi ramai setiap tahun ajaran baru karena banyak anak di bawah usia enam tahun ingin
masuk SD. Di sisi lain, para guru secara formal selalu terpaku pada UU Sisdiknas yang menyatakan
bahwa ”setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar”
(Pasal 34 Ayat 1). Artinya, batas minimum masuk SD adalah enam tahun. Jika kurang dari enam
tahun, meskipun anak sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung, tetap tidak bisa diterima. Di
lapangan, usia masuk SD ini menjadi praktik jual beli kursi—terlebih di SD negeri favorit—tarifnya
mencapai jutaan rupiah. Batas minimum usia masuk SD enam tahun itu memang perlu dikaji lagi.
Pada masa lalu (sebelum dekade 1980-an), ketika gizi keluarga belum baik, pendidikan orangtua
masih rendah, kesadaran bersekolah rendah, baru ada TVRI, media massa dan sarana komunikasi
masih terbatas, tentu saja perkembangan fisik dan mental anak pun lambat. Namun, pascadekade
1980-an (apalagi sekarang), ketika gizi keluarga bagus, orangtua terdidik dan sadar akan pendidikan,
sarana komunikasi dan fasilitas pendidikan lengkap, serta banyak media cetak maupun elektronik,
perkembangan fisik dan mental anak pun mengalami percepatan. Anak berusia lima tahun tanpa
paksaan sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung; mental mereka juga sudah matang.
Perkembangan fisik dan mental anak seperti itu perlu diakomodasi dalam perundang-undangan
pendidikan nasional sehingga tidak dijadikan sebagai obyek jual beli usia. Keenam, masuknya
pendidikan asing. Hal itu diatur dalam Pasal 65 Ayat 1-3, baik untuk pendidikan dasar maupun
perguruan tinggi. Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau diakui di negaranya dapat
menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu diatur dalam Pasal
65 Ayat 1-3. Pasal ini dinilai terlalu liberal karena Amerika Serikat saja yang dikenal liberal sangat
melindungi pendidikan bangsanya, sebaliknya kita justru mengundang asing untuk turut mendidik
bangsa kita. Keberadaan Pasal 65 ini sebetulnya tidak perlu. Persoalan lain yang cukup krusial dan
perlu dirumuskan kembali pasalnya adalah masalah pendanaan pendidikan mengingat pasal satu
dan lainnya saling bertentangan. Pasal 43 Ayat 2-3 mengatur masalah komitmen pemerintah dan
pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pendidikan dasar, tetapi Pasal 46 Ayat 1 jelas sekali
memberikan beban tanggung jawab kepada masyarakat untuk menanggung pendanaan pendidikan.
Masih banyak lagi pasal yang perlu direvisi agar tidak menimbulkan keruwetan di lapangan. Semoga
para anggota Komisi X DPR periode 2009-2014 punya semangat untuk melakukan reformasi
perundang-undangan pendidikan nasional. Penulis adalah Pengurus Majelis Luhur Tamansiswa
Yogyakarta Baca berikutnya
33

"Simulasi dan Sosialisasi Pemilu Legislatif Tahun 2009"


Hati-hati... Jangan Sampai Ubah Pilihan Kompas.com - 03/03/2009, 14:45 WIB Bagikan: Komentar
Editor MATARAM, SELASA — Para pemilih dalam Pemilu Legislatif 9 April 2009 tidak diperbolehkan
mengubah pilihannya. Sebab, jika ada dua pilihan dalam surat suara, itu tidak sah. Ketua Komisi
Pemilihan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat Fauzan Khalid menegaskan hal itu dalam forum
pendidikan pemilih yang diselenggerakan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) NTB di Mataram, Selasa
(3/3). "Hingga kini belum ada aturan yang mengatur perubahan pilihan pemilih sehingga dengan
sendirinya pemilih tidak diperbolehkan mengubah pilihannya pada surat suara," katanya saat
menjawab pertanyaan salah seorang peserta forum tersebut. Seorang peserta mempertanyakan
landasan hukum atas sah atau tidaknya sebuah surat suara jika ada pemilih yang mengubah
pilihannya pada surat suara yang sudah terlanjur dicontreng. Perubahan pilihan itu sangat mungkin
dikehendaki seorang pemilih ketika merasa keliru atau salah melihat nama calon anggota legislatif
yang hendak dipilih. Menurut Fauzan, permasalahan tersebut sempat mengemuka dalam pertemuan
koordinasi anggota KPU dari berbagai daerah yang diselenggerakan di Jakarta, tetapi hingga kini
belum ada kejelasan dari aspek aturan atau regulasi pendukungnya. Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR RI, DPD, dan DPRD tidak mengakomodasi mekanisme
perubahan pilihan pemilih dalam surat suara. Perppu Nomor 1 Tahun 2009 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR RI, DPD, dan DPRD yang
ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 26 Februari, juga tidak mengakomodasi hal
tersebut. Dengan demikian, kata Fauzan, permasalahan itu dikembalikan kepada pemilih sehingga
seorang pemilih diwajibkan untuk menentukan pilihannya dalam surat suara sebelum masuk ke bilik
suara. "Ada tahapan sosialisasi, masa kampanye, dan hari tenang bagi pemilih untuk merenungkan
dan menentukan pilihannya sehingga saat masuk ke bilik suara sudah pasti akan memilih caleg atau
parpol yang dikehendaki," katanya di hadapan ratusan caleg. Ratusan caleg itu merupakan peserta
forum pendidikan politik yang digelar KPI NTB dan didukung United Nations Development Fund for
Women Indonesia. Selain para caleg, forum pendidikan pemilih dengan tema "Simulasi dan
Sosialisasi Pemilu Legislatif Tahun 2009" di NTB ini juga diikuti unsur pemerintah, pengurus partai
politik peserta pemilu, dan pemerhati politik. Baca berikutnya

Isi Amandemen UUD 1945 Kedua


Isi Amandemen UUD 1945 Kedua Amandemen UUD 1945 pertamakali dilakukan dalam Sidang
Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang diselenggarakan pada 14-21 Oktober 1999.
Sedangkan yang kedua adalah dalam Sidang Tahunan MPR pada 7-18 Agustus 2000 yang meliputi 5
Bab dan 25 Pasal. Isi dan perubahan Amandemen UUD 1945 kedua antara lain:
BAB XV BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN PASAL 36A
Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. PASAL 36B Lagu
Kebangsaan ialah Indonesia Raya. PASAL 36C Ketentuan lebih lanjut mengenai Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan diatur dengan undang-undang.

HAM
Peringatan Hari HAM dan Potensi Pelanggaran Hak Asasi dalam RKUHP Kompas.com - 10/12/2018,
12:24 WIB Bagikan: Komentar Ilustrasi hak asasi manusia Lihat Foto Ilustrasi hak asasi
manusia(humanrights.gov) Penulis Abba Gabrillin | Editor Sandro Gatra JAKARTA, KOMPAS.com -
Peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang jatuh pada hari ini, Senin (10/12/2018), diharapkan
tidak hanya diperingati secara serimonial saja. Peringatan hari HAM seharusnya diwujudkan secara
konkret oleh pemerintah dan DPR. Salah satunya melalui rumusan Revisi Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (RKUHP). Namun, menurut Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform
(ICJR) Anggara, setelah hampir 4 tahun dibahas di DPR, catatan potensi pelanggaran HAM masih
tergambar dalam rumusan RKUHP. "Jaminan penghormatan HAM dalam RKUHP masih terus
diragukan dalam berbagai rumusan dan materi dalam RKUHP," ujar Anggara dalam keterangan
tertulis yang diterima Kompas.com, Senin. Dalam draf 28 Mei 2018, yang merupakan draf terakhir
34

yang dibahas pemeritah dan DPR, menurut ICJR, masih ada yang berpotensi bertentangan dengan
HAM. Pertama, masih ada penerapan pidana mati dalam RKUHP. Padahal, menurut ICJR, pidana mati
seharusnya dihapuskan karena secara jelas Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik
menyerukan negara-negara di dunia untuk menghapuskan pidana mati. Kedua, adanya pengaturan
hukum yang hidup di masyarakat yang akan diserahkan kepada peraturan daerah (perda). Hal ini
dikhawatirkan akan menghadirkan perda diskriminatif dan melanggar HAM seperti yang dirumuskan
dalam Qanun Jinayat di Aceh. Ketiga, masalah pengaturan makar yang tidak merujuk pada makna
asli “serangan”, sehingga berpotensi memberangus kebebasan berekspresi dan berpendapat.
Kemudian, masalah kriminalisasi semua bentuk hubungan seksual di luar perkawinan yang
melanggar hak atas privasi dan berpotensi menghadirkan pelanggaran atas hak peradilan adil dan
berimbang dalam pelaksanaannya. Selain itu, ada rumusan tindak pidana penghinaan terhadap
agama yang tidak sesuai apa yang diserukan dalam Konvensi PBB. Pasal tersebut justru tidak
menjamin kepentingan hak asasi manusia untuk memeluk agama dan menjalankan agamanya.
Kemudian, tindak pidana narkotika yang seharusnya tidak diatur dalam RKUHP. Keberadaan pasal
tentang narkotika berpotensi melanggar HAM atas kesehatan dan hidup layak bagi pengguna dan
pecandu narkotika. "Peringatan hari HAM harus menjadi momentum Pemerintah dan DPR yang
sedang melakukan pembahasan RKUHP untuk menjamin penghormatan HAM dalam setiap rumusan
pasal," kata Anggara.

10 Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara


Pemerintah Nilai Wakil Menteri Tetap Konstitusional meski Tak Diatur UUD 45 Kompas.com -
10/02/2020, 14:02 WIB Bagikan: Komentar Sidang uji materi Pasal 10 Undang-undang Nomor 39
Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, di Mahkamah Konstiusi (MK), Jakarta Pusat, Senin
(10/2/2020). Lihat Foto Sidang uji materi Pasal 10 Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang
Kementerian Negara, di Mahkamah Konstiusi (MK), Jakarta Pusat, Senin (10/2/2020).
(Kompas.com/Fitria Chusna Farisa) Penulis Fitria Chusna Farisa | Editor Bayu Galih JAKARTA,
KOMPAS.com - Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM,
Ardiansyah, menyatakan bahwa pemerintah melihat jabatan wakil menteri tetap konstitusional
meskipun tak diatur secara eksplisit dalam Undang-Undang Dasar 1945. Ardiansyah membantah
bahwa keberadaan wakil menteri bertentangan dengan Pasal 17 ayat (1) UUD 45. Pernyataan ini
disampaikan Ardiansyah saat memberikan keterangan mewakili pemerintah dan presiden dalam uji
materi Pasal 10 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, di Mahkamah
Konstiusi ( MK). "Bahwa dalam menafsirkan dan menjabarkan Pasal 17 UUD 1945 tidaklah hanya
semata-mata melihatnya secara eksplisit, tetapi perlu juga melalui perspektif yang lain yaitu lebih
luas dari itu," kata Ardiansyah dalam persidangan di Gedung MK, Jakarta Pusat, Senin (10/2/2020).
Baca juga: Aturan Soal Wakil Menteri Digugat ke MK karena Dinilai Tak Urgen Pasal 17 ayat (1) UUD
1945 sendiri berbunyi, "Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara". Oleh Pemohon, bunyi pasal
tersebut dijadikan salah satu landasan untuk mendalilkan bahwa jabatan wakil menteri adalah
inkonstitusional karena tak diatur dalam UUD 1945. Namun, bagi Ardiansyah dalil itu dinilai tidak
tepat. Menurut dia, meskipun tak diatur secara eksplisit, jabatan wakil menteri tetap dapat dibentuk
apabila presiden menilai hal itu dibutuhkan demi menjalankan roda pemerintahan. "Jika
kewenangan dan diskresi yang digunakan oleh presiden dalam membuat kebijakan, maka presiden
tidak dapat disalahkan atau dibenturkan dengan konstitusi karena hakikatnya presiden juga
menjalankan perintah undang-undang," ujar dia. Baca juga: Soal Penambahan Wakil Menteri, Ini
Kata Jokowi Ardiansyah juga menilai, meskipun UUD 1945 tak mengatur kedudukan wakil menteri,
bukan berarti terdapat larangan untuk mengatur jabatan tersebut. Halaman Selanjutnya Apalagi,
dalam Peraturan Presiden Nomor… Halaman: 1 2 Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah.
Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku Ikut Video Pilihan Tag: Mahkamah Konstitusi MK
Wakil Menteri Berita Terkait Menteri dan Wakil Menteri Jokowi di Kepengurusan Partai Golkar...
Perpres 82/2019 Singgung Soal Wakil Menteri Kemendikbud, Ini Tugasnya Aturan Soal Wakil Menteri
35

Digugat ke MK karena Dinilai Tak Urgen Pos Wakil Menteri Digugat ke MK, Ini Kata Jokowi Soal
Pengangkatan Wakil Menteri Digugat ke MK

Refly Harun Nilai Kembali ke UUD 1945 adalah Kemunduran


Kompas.com - 13/08/2019, 10:15 WIB Bagikan: Komentar Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun
Lihat Foto Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun(KOMPAS.com/Kristian Erdianto) Penulis Deti Mega
Purnamasari | Editor Krisiandi JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini wacana tentang amandemen UUD
1945 kembali mengemuka dan menuai pro-kontra. Salah satu tujuan amandemen terbatas UUD
1945 adalah untuk mengembalikan fungsi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga
tertinggi negara. Sejumlah pihak mendorong agar UUD 1945 kembai ke naskah asli yang sesuai
amanat proklamasi. Pengembalian UUD 1945 untuk menegaskan fungsi MPR seperti dulu. Dalam
naskah asli UUD 1945, Bab II Pasal 2 dicantumkan bahwa MPR terdiri atas anggota-anggota Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) yang ditambah utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan,
menurut aturan yang ditetapkan dengan undang-undang. Kemudian MPR juga dicantumkan agar
bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibukota negara, serta segala putusan MPR
ditetapkan dengan suara terbanyak. Sementara dalam Pasal 3 dicantumkan bahwa MPR
menetapkan UUD dan Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Kemudian dalam Bab III Pasal 6
disebutkan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR dengan suara terbanyak. Dalam
Pasal 7 disebutkan pula bahwa Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama lima
tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun menilai,
kembali ke naskah asli UUD 1945 merupakan suatu kemunduran yang sangat jauh. Baca juga:
Menkuham Sebut Partai-partai Sepakat Amandemen UUD Terbatas pada GBHN "Kalau kembali
seperti dulu, kita mundur jauh ke belakang. Bung Karno saja sebagai Ketua PPKI mengatakan, yang
namanya UU itu adalah UU sementara. Memang diberlakukan kembali dengan Dekrit Presiden 5 Juli
1959, tapi ketika pidato 18 Agustus beliau bilang itu UU sementara sehingga sebenarnya kembali ke
UUD 45 ide yang buruk," terang Refly kepada Kompas.com, Selasa (13/8/2019). Jika kembali lagi ke
UUD 1945 naskah asli, Refly menuturkan, sama dengan membubarkan Mahkamah Konstitusi (MK),
Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan beberapa lembaga lain yang dibentuk berdasarkan empat kali
amandemen. Termasuk juga tidak akan ada lagi Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung yang
sudah empat kali diberlakukan di Indonesia. Baca juga: Try Sutrisno Usul UUD 1945 Dikaji Ulang dan
Presiden Dipilih MPR Halaman Selanjutnya Di era orde lama dan… Halaman: 1 2 Show All
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K
berlaku Ikut Video Pilihan Tag: UUD 1945 Refly Harun Berita Terkait Wacana Kembali ke UUD 1945
dan Mengingat Lagi Alasan Perlunya Amandemen Menkuham Sebut Partai-partai Sepakat
Amandemen UUD Terbatas pada GBHN Try Sutrisno Usul UUD 1945 Dikaji Ulang dan Presiden Dipilih
MPR Fungsi MPR Jadi Alasan Rachmawati Minta RI Kembali ke UUD 1945 Fadli Zon: Wacana
Amandemen UUD Jangan Jadi Kepentingan Sesaat

Peraturan Perundang-undangan: Jenis dan Hierarkinya


Kompas.com - 02/01/2020, 20:00 WIB Bagikan: Komentar Ketua Majelis Hakim Mahkamah
Konstitusi (MK) Anwar Usman (tengah) didampingi Majelis Hakim MK Wahiduddin Adams (kiri) dan
Enny Nurbaningsih (kanan) memimpin sidang pendahuluan uji formil Undang-Undang KPK di Gedung
MK, Jakarta, Senin (14/10/2019). Sidang tersebut menguji tentang perubahan kedua atas Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 terkait dewan pengawas KPK. ANTARA
FOTO/Rivan Awal Lingga/foc. Lihat Foto Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar
Usman (tengah) didampingi Majelis Hakim MK Wahiduddin Adams (kiri) dan Enny Nurbaningsih
(kanan) memimpin sidang pendahuluan uji formil Undang-Undang KPK di Gedung MK, Jakarta, Senin
(14/10/2019). Sidang tersebut menguji tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terhadap Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia 1945 terkait dewan pengawas KPK. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
36

(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri
KOMPAS.com - Dalam konteks negara hukum, terdapat berbagai jenis dan jenjang kebijakan publik
yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Perundang-undangan. Berdasarkan Undang-undang
Nomor 12 Tahun 2011, definisi Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang
memuat norma hukum yang mengikat secara umum. Peraturan Perundang-undangan dibentuk dan
ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan
dalam Peraturan Perundang-undangan. Dikutip dari situs resmi Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia, berikut ini penjelasan mengenai jenis dan hierarki (jenjang) Peraturan Perundang-
undangan. Baca juga: 2020, Baleg Targetkan Terbitkan 30-35 Undang-undang Jenis dan hierarki
Peraturan Perundang-undangan Jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia
diatur dalam UU No. 12 Tahun 2011. Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2011, maka jenis dan hierarki
Peraturan Perundang-undangan sesuai urutan dari yang tertinggi adalah: Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ( UUD 1945) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
( Tap MPR) Undang-undang (UU) atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ( Perppu)
Peraturan Pemerintah ( PP) Peraturan Presiden ( Perpres) Peraturan Daerah ( Perda) Provinsi
Peraturan Kabupaten atau Kota Baca juga: Menurut Yasonna, Ini Undang-Undang yang Bakal
Terimbas Omnibus Law Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan
hierarki Peraturan Perundang-undangan. Berikut ini penjelasan masing-masing Peraturan
Perundang-undangan tersebut: 1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(UUD 1945) UUD 1945 adalah hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. UUD 1945
merupakan peraturan tertinggi dalam tata urutan Peraturan Perundang-undangan nasional. 2.
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR) Ketetapan MPR adalah putusan MPR yang
ditetapkan dalam sidang MPR meliputi Ketetapan MPR Sementara dan Ketetapan MPR yang masih
berlaku. Sebagaimana dalam Pasal 2 dan Pasal 4 Ketetapan MPR RI Nomor I/MPR/2003 tentang
Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPR Sementara dan MPR 1960 sampai
2002 pada 7 Agustus 2003. Baca juga: DPR Sahkan 91 Undang-Undang Selama Masa Bakti 2014-2019
Berdasarkan sifatnya, putusan MPR terdiri dari dua macam yaitu Ketetapan dan Keputusan.
Ketetapan MPR adalah putusan MPR yang mengikat baik ke dalam atau keluar majelis. Keputusan
adalah putusan MPR yang mengikat ke dalam majelis saja. 3. UU atau Perppu UU adalah Peraturan
Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan persetujuan
bersama Presiden. Perppu adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden
dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Mekanisme UU atau Perppu adalah sebagai berikut:
Perppu diajukan ke DPR dalam persidangan berikut. DPR dapat menerima atau menolak Perppu
tanpa melakukan perubahan. Bila disetujui oleh DPR, Perppu ditetapkan menjadi UU. Bila ditolak
oleh DPR, Perppu harus dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Baca juga: Plt Menkumham: Perlu
Revisi 23 Undang-Undang untuk Pindah Ibu Kota 4. Peraturan Pemerintah (PP) PP adalah Peraturan
Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan UU sebagaimana mestinya.
PP berfungsi untuk menjalankan perintah Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau
dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan. 5. Peraturan Presiden (Perpres) Perpres adalah
Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah
Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan
pemerintahan. 6. Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Perda Provinsi adalah Peraturan Perundang-
undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dengan persetujuan
bersama Gubernur. Termasuk dalam Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di
Provinsi Aceh dan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) serta Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi)
yang berlaku di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Baca juga: Revisi UU KPK Segera Disahkan
Jadi Undang-Undang dalam Rapat Paripuna 7. Perda Kabupaten atau Kota Perda Kabupaten atau
Kota adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh DPRD Kabupaten atau Kota dengan
persetujuan bersama Bupati atau Walikota. Termasuk dalam Peraturan Daerah Kabupaten atau Kota
adalah Qanun yang berlaku di Kabupaten atau Kota di Provinsi Aceh. Makna tata urutan Peraturan
Perundang-undangan Dalam Penjelasan Pasal 7 ayat 2 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011, yang
37

dimaksud dengan hierarki adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan.


Penjenjangan didasarkan asas bahwa Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh
bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Asas tersebut sesuai dengan
Stufen Theory atau Teori Tangga dari ahli hukum Hans Kelsen dalam General Theory of Law and
State (1945). Baca juga: Presiden Jokowi: Undang-undang yang Menyulitkan Rakyat Harus Kita
Bongkar Peraturan Perundang-undangan lain Selain jenis dan hierarki tersebut, masih ada jenis
Peraturan Perundang-undangan lain yang diakui keberadaannya. Peraturan Perundang-undangan
lain ini juga mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan
Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Peraturan
Perundang-undangan yang dimaksud mencakup peraturan yang ditetapkan oleh: MPR DPR DPD
Mahkamah Agung (MA) Mahkamah Konstitusi (MK) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Komisi
Yudisial Bank Indonesia (BI) Menteri, badan, lembaga atau komisi yang setingkat yang dibentuk
dengan UU atau Pemerintah atas perintah UU DPRD Provinsi Gubernur DPRD Kabupaten atau Kota
Bupati atau Walikota Kepala Desa atau yang setingkat Baca juga: Laporan Kinerja DPR 2018-2019, 15
RUU Disahkan Jadi Undang-Undang Secara khusus, Peraturan Menteri yang dimaksud adalah
peraturan yang ditetapkan oleh menteri berdasarkan materi muatan dalam rangka penyelenggaraan
urusan tertentu dalam pemerintahan. Urutan peraturan perundang-undangan sebelumnya Sebagai
informasi, UU No. 12 tahun 2011 tersebut menggantikan UU No. 10 Tahun 2004. Dalam UU. No. 10
Tahun 2004, tata urutan peraturan perundang-udnangan adalah sebagai berikut: UUD 1945 UU atau
Perpu Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden Peraturan Daerah, meliputi: Peraturan Daerah
Provinsi, Peraturan Daerah Kabupaten atau Kota, dan Peraturan Desa atau peraturan yang setingkat.
Lihat Foto () Lihat Foto () Lihat Foto () Baca berikutnya Mengenal Permainan Tradisional Gobak Sodor
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K
berlaku Ikut Sumber Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tag: UUD 1945 perppu perda UU
Perpres pp jenis dan hierarki jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan tap MPR UU No 12
Tahun 2011

Peduli Pendidikan Malang


Diprotes, Masuk SD Dikenai Pungutan Rp 600.000 Kompas.com - 27/06/2011, 18:08 WIB Bagikan:
Komentar EditorInggried MALANG, KOMPAS.com — Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan Malang,
mendatangi DPRD Kota Malang, Senin (27/6/2011). Mereka menyoroti tidak berjalannya program
wajib belajar 9 tahun di sekolah-sekolah di Malang, Jawa Timur. Mayoritas sekolah, mulai dari SD
hingga SMP dan sederajat, ditemukan masih memungut biaya saat penerimaan siswa baru (PSB).
Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan Malang terdiri dari organisasi gabungan, di antaranya Malang
Corruption Warch (MCW), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya kantor perwakilan Malang,
Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Malang, Instrans Institute, Kelompok Mahasiswa Peduli
Pendidikan, dan Walhi Malang. "Kami hanya ingin meminta agar Dewan menghapus seluruh biaya
pendidikan untuk program wajib belajar sembilan tahun," jelas Koordinator Koalisi Gadi Makitan.
Selain itu, jelas Gadi, Dewan harus mendesak sekolah segera mengembalikan biaya pendidikan
untuk program wajib belajar 9 tahun, yang sudah dibiayai oleh orangtua/wali murid, karena hal
tersebut adalah jelas-jelas pungutan liar. "UUD 45, Pasal 31 Ayat 2 menyatakan bahwa setiap warga
negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Hal didukung oleh
UU Sisdiknas No 20/2003 Pasal 34 Ayat 2, pemerintah dan pemerintah daerah menjamin
terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya,"
jelasnya. Selain itu, dalam PP No 17/2010 tentang pengelolaan dan penyelenggara pendidikan juga
melarang pendidik dan tenaga kependidikan, baik perseorangan maupun kolektif memungut biaya
apa pun. "Kenyataannya, di Kota Malang, wali murid yang melaporkan ke kami ada 19 pelapor.
Mereka semua diminta biaya saat PSB. Nominalnya bervariasi, masing-masing sekolah berbeda-
beda," kata Gadi. Misalnya, Gadi mencontohkan, salah satu orangtua yang mengadukan adalah
Musleh Hery. Saat mendaftarkan anaknya ke SDN 5 Joyogrand diminta pungutan senilai Rp 600.000.
"Alasan sekolah, uang itu adalah uang pendaftaran," katanya. Apa yang menimpa Musleh Hery itu
38

bukan hanya terjadi kepada dirinya. Tapi hampir mayoritas orangtua murid di Kota Malang yang
akan memasukkan anaknya ke sekolah. "Ini tidak bisa dibiarkan. Buktinya sudah jelas, berupa
kuitansi pembayaran," katanya. Jika hal ini tak ditindaklanjuti, Gadi mengatakan, pihaknya akan
membawa ke ranah hukum. "Kalau tidak ditindak tegas, kami siap membawa ke ranah hukum,
karena itu jelas pungutan liar," katanya. Sementara itu, menanggapi apa yang dilaporkan Koalisi
Masyarakat Peduli Pendidikan itu, Komisi D siap menindaklanjutinyanya. "Nanti akan digelar
testimoni, Koalisi akan membawa para wali murid yang diminta biaya," kata anggota Komisi D,
Sutiadji, kepada Kompas.com seusai menemui perwakilan Koalisi itu.

Kebudayaan
Memisahkan Kementerian Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan Kompas.com - 07/10/2019,
18:59 WIB Bagikan: Komentar - Lihat Foto -(-) Editor Heru Margianto Oleh karena itu, fakta bahwa
masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragam merupakan hal yang harus diterima
sekaligus terus ditanamkan dalam pikiran kita sebagai sebuah identitas dan jati diri bangsa. Hal ini
menjadi penting karena sejak Indonesia memasuki fase era reformasi berbagai isu diskriminasi
berbasis ras dan etnis yang berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa semakin menguat
di tengah masyarakat kita. Selain itu, ironisnya ketimpangan relasi budaya di negara kita semakin
menguat justru di era berkembangnya teknologi dan informasi. Tidak hanya itu saja, politik identitas
sebagai warisan budaya kolonial Belanda juga semakin menguat justru di saat kita telah berhasil
menghirup nafas kemerdekaan. Menurut saya, wacana kebudayaan penting untuk digulirkan untuk
menegaskan kembali bahwa Indonesia adalah negara yang beradab, berbudaya dan kuat karena
perbedaan. Dalam konteks ini, budaya memiliki peran sentral dalam membangun karakter dan jati
diri bangsa yang utuh terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip kehidupan yang
menjadi landasan utama suatu tatanan kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini menurut saya
tradisi dan adat istiadat menjadi nilai yang pantas untuk dipertahankan. Negara harus memberikan
ruang penuh bagi masyarakat Indonesia untuk menjaga, menanamkan, dan mengembangkan nilai-
nilai luhur budaya mereka. Selain penting sebagai sebagai sebuah identitas individu maupun
kelompok, budaya yang miliki oleh masyarakat perlu dijamin dan dilindungi oleh negara. Sebagai
negara demokratis, kebudayaan harus diberikan wewenang dan perlindungan penuh untuk
berkembang di masyarakat dan terpisah dari kooptasi agama-agama resmi, konstruk-konstruk
intelektual sepihak, politik, dan militer. Hal ini dikarenakan kebudayaan memiliki kapastitasnya
sendiri sebagai sebuah entitas yang tidak bisa diseragamkan dan digeneralisasi secara sederhana.
Kementerian Kebudayaan Merujuk pada hal ini negara harus hadir dan membentuk lembaga resmi,
dalam hal ini Kementerian Kebudayaan, yang secara khusus memberikan perlindungan penuh bagi
perkembangan budaya Indonesia seperti yang tertuang dalam pasal 32 Ayat (1) UUD 1945 yang
berbunyi, “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”.
Oleh karena itu, demi terwujudnya pembangunan bangsa yang adil, makmur, sejahtera, berbudaya
dan demokratis kebudayaan nusantara harus tetap ada dan dibiarkan berkembang di masyarakat
dengan perlindungan penuh dari negara.

Pengertian Kebudayaan Nasional Menurut Koentjaraningrat Dan UUD 1945

Budaya Indonesia merupakan semua kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, ataupun kebudayaan
asal asing yang sudah ada di Indonesia sebelum merdeka pada tahun 1945.
Penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32
Pernyataan yang tertera pada GBHN itu adalah penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini para
tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah serta
kebudayaan nasional terkait dengan dihapuskannya tiga kalimat penjabaran pada pasal 32 serta
adanya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan
daerah bila batasan tentang kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.
39

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Budaya Politik Kaula/Subjek” Definisi & ( Ciri – Ciri )
Sebelum di Amandemenkan
Sebelum di amandemenkan, UUD 1945 memakai dua istilah sebagai indentifikasi kebudayaan
daerah serta kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, merupakan kebudayaan lama dan asli yang
ada sebagai puncak di daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional itu sendiri
dipahami sebagai kebudayaan bangsa yang sudah berada pada posisi yang mempunyai makna bagi
seluruh bangsa Indonesia.
Dalam suatu kebudayaan nasional ada unsur persatuan dari Bansa Indonesia yang telah sadar serta
mengalami persebaran secara nasional. Didalamnya ada unsur kebudayaan bangsa serta unsur
kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.
Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan adalah suatu ciri khas yang membedakan kebudayaan dari daerah yang
satu dengan daerah yang lain. Unsur-unsur tersebut antara lain :
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui dan dipelajari oleh manusia tentang benda, sifat,
keadaan, dan harapan-harapan.
Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:
pengetahuan tentang alam
pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama
manusia
pengetahuan tentang ruang dan waktu
Teknologi adalah segala cara dan alat yang digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-
cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Sistem Ekonomi
Unsur ini berhubungan erat dengan alokasi produksi, tenaga kerja dan distribusi.
Sistem sosial
Sistem ini mengatur tentang perkawinan, tempat tinggal, sistem kekerabatan keluarga, jaringan
sosial antar individu berdasarkan perkawinan dan garis keturunan darah. Organisasi sosial ini adalah
sekumpulan organisasi sosian yang didirikan oleh masyarakat itu sendiri, baik yang berbadan hukum
maupun tidak berbadan hukum yang mempunyai fungsi sebagai agen partisipasi inspirasi
masyarakat dalam upaya pembangunan bangsa dan negara.
Sistem Politik
Adalah jalan, cara dan alat yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sistem Kepercayaan
Ada saatnya dimana pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan
mengungkap rahasia-rahasia alam sangatlah terbatas. Dan kesadarah akan keterbatasan yang ada
pada manusia, kesadaran akan adanya kekuatan supranatural tersebut melahirkan sebuah sistem
kepercayaan, yang dalam waktu bersamaan, memunculkan keyakinan akan adanya penguasa
tertinggi dari sitem alam semesta ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian
dari alam semesta ini. Berhubungan dengan hal tersebutlah, manusia, baik secara individual maupun
kelompok masyarakat, mereka tidak dapat lepas dari sistem kepercayaan terhadap sang penguasa
alam semesta tersebut.
Sistem Bahasa
Bahasa adalah suatu wujud budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi satu sama
lain, baik secara lisan maupun tertulis dengan tujuan menyampaikan maksud hati ataupun kemauan
kepada lawan bicaranya. Melalui bahasa inilah, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat
istiadat, tingkah laku, kebiasaan dan tata krama masyarakat untuk berbaur dengan masyarakat
lainnya.
Sistem Kesenian
40

Kesenian ini mengacu kepada nilai keindahan / estetika yang berasal dari ekspresi akan hasrat
manusia tentang keindahan yang dapat dinikmati dengan mata ataupun telinga. Dan kesenian ini
adalah pranata yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia itu
sendiri.
 Unsur-unsur Yang Dipertahankan Dalam Kebudayaan
 Unsur yang mempunyai fungsi vital dan telah diterima oleh masyarakat luas. Contoh dari unsur
ini yaitu sistem kekerabatan yang telad ada selama berpuluh-puluh tahun
 Unsur yang diterima melalui sosialisasi sejak kecil dan telah menyatu didalam diri orang
tersebut. Contoh dari unsur ini yaitu makanan pokok orang
 Unsur kebudayaan yang menyangkut agama / religi.
 Unsur-unsur yang menyangkut ideologi dan falsafah

Amandemen UUD 1945


Amandemen UUD 1945 Sebelum dilakukan amandemen, UUD 1945 memiliki 38 bab, 37 pasal, dan
64 ayat. Setelah dilakukan empat kali amendemen ada 16 bab, 37 pasal 194 ayat, tiga pasa aturan
perakitan, dan dua pasal aturan tambahan. Baca juga: Pembukaan UUD 1945: Makna dan Pokok
Pikiran Jimly Asshiddiqie dalam bukunya Konsolidasi naskah UUD 1945 (2003). Berikut empat
emendemen UUD 1945: Amandeman I Amandemen yang pertama dilakukan pada Sidang Umum
MPR pada 14-21 Oktober 1999. Pada amandemen pertama menyempurnakan sembilan pasal, yakni
pasal 5, pasal 7, pasal 9, pasal 13. Kemudian pasal 13, pasal 15, pasal 17, pasal 20, dan pasal 21. Ada
dua perubahan fundamental yang dilakukan, yaitu pergeseran kekuasaan membentuk undang-
undang dari Presiden ke DPR, dan pembatasan masa jabatan presiden selama 5 tahun dan
sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.
Amandeman II Amandemen kedua terjadi pada Sidang Tahunan MPR pada 7 hingga 18 Agustus
2010. Pada amandemen tersebut ada 15 pasal perubahan atau tambahan/tambahan dan perubahan
6 bab. Perubahan yang penting itu ada delapan hal, yakni: Baca juga: KALEIDOSKOP 2019: Wacana
Amendemen UUD 1945 yang Makin Tak Jelas... Otonomi daerah/desentralisasi. Pengakuan serta
penghormatan terhadap satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa
dan terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Penegasan fungsi
dan hak DPR. Penegasan NKRI sebagai sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan
wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. Perluasan jaminan
konstitusional hak asasi manusia. Sistem pertahanan dan keamanan Negara. Pemisahan struktur dan
fungsi TNI dengan Polri. Pengaturan bendera, bahasa, lambang Negara, dan lagu kebangsaan.
Amandemen III Amandeman ketiga berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 September
2001. Ada 23 pasal perubahan/tambahan dan tiga bab tambahan. Perubahan mendasar meliputi 10
hal, yakni: Penegasan Indonesia sebagai negara demokratis berdasar hukum berbasis
konstitusionalisme. Perubahan struktur dan kewenangan MPR. Pemilihan Presiden dan wakil
Presiden langsung oleh rakyat. Mekanisme pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Kelembagaan Dewan Perwakilan Daerah. Pemilihan umum. Pembaharuan kelembagaan Badan
Pemeriksa Keuangan. Perubahan kewenangan dan proses pemilihan dan penetapan hakim agung.
Pembentukan Mahkamah Konstitusi. Pembentukan Komisi Yudisial. Baca juga: Dikunjungi MPR, Ini
Tanggapan Muhammadiyah, PBNU, MUI, hingga PHDI soal Amendemen UUD 1945 Amandemen IV
Amandemen IV berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 Agustus 20012. Ada 13 pasal, tiga
pasal aturan peralihan, dua pasal tambahan dan peruban dua bab. Dalam empat kali amandemen
UUD 1945 tersebut relatif singkat. Bahkan selama pembahasannya tidak banyak menemui kendala
meski pada Sidang MPR berlangsung alot dan penuh argumentasi.