Anda di halaman 1dari 39

1

Bhineka Tunggal Ika

Kompas.com - 15/12/2019, 08:00 WIB Bagikan: Komentar (1) Gapura replika burung Garuda
Pancasila di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (17/8/2019). Lihat Foto Gapura replika
burung Garuda Pancasila di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (17/8/2019). (ANTARA/Yogi
Rachman) Penulis Ari Welianto | Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Bhineka Tunggal Ika
adalah berbeda-beda tetap satu jua. Itu menjadi semboyan bangsa Indonesia dan tertulis pada
lambang negara Garuda Pancasila. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sekitar
17.000 pulau dan keberagaman suku, adat istiadat, bahasa, ras dan kebudayaan. Meski sangat
beragam, bangsa Indonesia adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sejarah Bhineka
Tunggal Ika Diambil dari arsip resmi Kementerian Hukum dan HAM, Bhineka Tunggal Ikan berasal
dari bahasa Jawa Kuno yang diambil dari kitab atau kakawin Sutasoma karangan Empu Tantular pada
masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 M. Bhineka artinya beragam atauk beraneka. Tunggal
artinya satu dan Ika artinya itu. Santoso, Soewito Sutasoma dalam buku, A Study in Old Javanese
Wajrayana (1975), menjelaskan semboyan Indonesia ini tidaklah tanpa sebab. Baca juga: Din
Syamsuddin: Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah Jalan Tengah Kitab kakawin ini mengajarkan
toleransi antar agama. Terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Artinya secara harfiah
Bhineka Tunggal Ika menjadi beraneka satu itu. Maknanya, meski beranekaragam tapi tetap satu jua.
Makna Bhineka Tunggal Ika Semboyan Bhineka Tunggal Ika ini menggambarkan persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku, budaya, ras, agama dan bahasa.
Gina Lestari dalam jurnal Bhineka Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah
Kehidupan Sara (2015), mengatakan pluralitas dan heterogenitas yang tercermin pada masyarakat
Indonesia diikat dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa yang kita kenal dengan semboyan
“Bhinneka Tunggal Ika”. Baca juga: Asty Ananta: Saya Percaya Kita Semua Bisa Menjadi Bhineka
Tunggal Ika Ini mengandung makna meskipun Indonesia berbhinneka, tetapi terintegrasi dalam
kesatuan. Ini merupakan sebuah keunikan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang bersatu dalam
suatu kekuatan dan kerukunan beragama, berbangsa dan bernegara yang harus diinsafi secara
sadar. Dilansir dari Kompas.com (29/3/2018), Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersyukur jika
Indonesia negara yang kaya akan suku dan agama bisa mempertahankan dan memelihara kesatuan.
Indonesia yang kaya akan perbedaan dan mampu menjaganya dalam persatuan menjadi inspirasi
bagi negara-negara lain di dunia dalam menjaga persatuan. "Indonesia memiliki 714 suku dan
maampu terpelihara dalam persatuan. Sementara beberapa negara lain tidak mampu memeliharaan
perbedaan ini meski jumlah suku tidak sebanyak di Indonesia," ujar dia. Berkat perjuangan para
pahlawan, para syuhada para ulama Indonesia bisa menjadi bangsa yang kokoh. Sejak awal berdiri,
Indonesia adalah bangsa yang sangat bhineka. Sangat beragam, sangat majemuk.

Bhinneka Tunggal Ika: Pengertian dan Asal Kata

Kompas.com - 06/02/2020, 15:00 WIB Bagikan: Komentar Ratusan warga dari berbagai wilayah
berkumpul untuk mengikuti Parade Bhineka Tunggal Ika di kawasan Patung Kuda, Jalan MH Thamrin,
Jakarta Pusat, Sabtu (19/11/2016). Warga mengikuti Parade Bhinneka Tunggal Ika untuk merekatkan
kembali rasa persatuan bangsa dan juga menjadi momentum refleksi atas sejumlah kejadian yang
terjadi beberapa waktu belakangan, seperti pengeboman Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda,
Kalimantan Timur, pada 13 November 2016. Lihat Foto Ratusan warga dari berbagai wilayah
berkumpul untuk mengikuti Parade Bhineka Tunggal Ika di kawasan Patung Kuda, Jalan MH Thamrin,
Jakarta Pusat, Sabtu (19/11/2016). Warga mengikuti Parade Bhinneka Tunggal Ika untuk merekatkan
2

kembali rasa persatuan bangsa dan juga menjadi momentum refleksi atas sejumlah kejadian yang
terjadi beberapa waktu belakangan, seperti pengeboman Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda,
Kalimantan Timur, pada 13 November 2016.(KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG) Penulis
Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Negara Kesatuan Republik Indonesia
terbentuk dari keberagaman dalam semua aspek kehidupan, baik kewilayahan, suku bangsa, agama,
ras, golongan dan jenis kelamin. Keberagaman yang menjadi realitas kehidupan di Indonesia menjadi
persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Konsep negara kesatuan
Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sejak masa kerajaan Majapahit
telah mengenal konsep negara kesatuan. Motivasi menuju Negara Kesatuan tersebut berkat Sumpah
Palapa yang diucapkan Mahapatih Gajah Mada. Fakta yang ditemukan terletak di dalam lingkup
wilayah kota raja Majapahit antara lain: Di bagian selatan terdapat kompleks pemukiman Islam
ditandai adanya kompleks makam Islam Tralaya. Di bagian tengah terdapat kompleks pemukiman
Hindu (Siwa) ditandai reruntuhan Candi Minakjinggo. Di bagian utara terdapat kompleks pemukiman
Budha ditandai adanya Candi Brahu dan kompleks Candi gentong (yang diperkirakan bekas stupa).
Pada masa kejayaan kerajaan Majapahit telah dipraktikkan keberagaman yang menjadi satu
kesatuan. Hal itu membawa pengaruh terhadap kuatnya kerajaan Majapahit. Sehingga mampu
mencapai kebesaran dan kejayaannya dalam mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. Baca juga:
Arti Penting Bhinneka Tunggal Ika Asal kata Bhinneka Tunggal Ika Kalimat Bhinneka Tunggal Ika telah
tercipta jauh sebelum negara Indonesia merdeka. Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah kata (frasa)
yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin Sutasoma dikarang pada abad ke-14. Kakawin
berarti syair dengan bahasa Jawa Kuno. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang
ditulis menggunakan Bahasa Jawa Kuno dengan aksara Bali. Kakawin ini istimewa karena
mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Budha. Kutipan frasa Bhinneka Tunggal
Ika terdapat dalam petikan pupuh bait 5 pada Kakawin Sutasoma. Bila diterjemahkan tiap kata,
bhinneka artinya beraneka ragam, kata tunggal berarti satu dan ika berarti itu. Bila mengacu
berdasarkan arti secara harafiah, Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti beraneka ragam itu satu.
Sehingga pengertian Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi tetap satu. Baca juga:
Keberagaman dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Semboyan
Bhinneka Tunggal Ika terletak pada Lambang Negara Burung Garuda Pancasila. Lambang Negara
Garuda Pancasila dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, Kalimantan Barat. Pemakaian
Garuda Pancasila sebagai Lambang Negara diresmikan pertama kali pada Sidang Kabinet Republik
Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950. Kemudian, Lambang Negara Garuda Pancasila
diperkenalkan pada 17 Agustus 1950. Lambang Negara Garuda Pancasila merupakan bagian dari
alat-alat kebangsaan Indonesia yang dijaga oleh peraturan. Lambang Negara Garuda Pancasila
ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
secara resmi dinyatakan sebagai semboyan negara. Ketentuan tersebut dipertegas dalam Undang-
undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu
Kebangsaan.

Bhinneka Tunggal Ika: Makna dan Implementasi

Kompas.com - 06/02/2020, 11:00 WIB Bagikan: Komentar Pengendara sepeda melintasi mural yang
mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan di Jalan Dinoyo Surabaya, Jawa Timur, Senin
(27/10/2008). Lihat Foto Pengendara sepeda melintasi mural yang mengobarkan semangat
persatuan dan kesatuan di Jalan Dinoyo Surabaya, Jawa Timur, Senin (27/10/2008).
(KOMPAS/RADITYA HELABUMI) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com
3

- Semboyan Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam Lambang Negara Garuda Pancasila. Penggunaan
semboyan tersebut telah diatur dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 dan Peraturan
Pemerintah No. 43 Tahun 1958. Tahukah kamu apa makna yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal
Ika? Makna Bhinneka Tunggal Ika Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
RI, berikut ini makna luhur Bhinneka Tunggal Ika: Bangsa Indonesia menyadari bahwa keragaman,
baik suku bangsa, agama, ras, antargolongan, bukan merupakan unsur pemecah. Melainkan faktor
potensi atau modal terbentuknya persatuan dan kesatuan Indonesia. Bangsa Indonesia menyadari
bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika mendorong lahirnya persatuan dan kesatuan Indonesia yang
semakin kokoh. Karena pengalaman sejarah bahwa semangat kedaerahan hanya akan memecah
belah bangsa Indonesia sehingga mudah dikuasai oleh bangsa lain. Bangsa Indonesia menyadari
bahwa di tengah arus globalisasi yang sangat cepat dan terjadinya percampuran budaya diperlukan
penyaringan. Agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap utuh dan semangat berbeda tetapi tetap
satu atau Bhinneka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa Bhinneka Tunggal
Ika merupakan salah satu pilar selain UUD RI 1945 dan NKRI demi kokohnya kehidupan berbangsa
dan bernegara Indonesia. Baca juga: Arti Penting Bhinneka Tunggal Ika Implementasi Bhinneka
Tunggal Ika Implementasi terhadap Bhinneka Tunggal Ika bisa tercapai bila rakyat dan seluruh
komponen bangsa mematuhi prinsip yang terkandung di dalamnya. Beberapa contoh implementasi
Bhinneka Tunggal Ika meliputi: Perilaku inklusif Mengakomodasi sifat pluralistik Tidak mencari
menang sendiri Musyawarah untuk mufakat Dilandasi rasa kasih sayang dan rela berkorban Berikut
ini penjelasannya: Perilaku inklusif Seseorang harus menganggap bahwa dirinya sedang berada di
dalam suatu populasi yang luas. Sehingga tidak melihat dirinya melebihi dari yang lain, begitu juga
dengan kelompok. Kepentingan bersama lebih diutamakan daripada sebuah keuntungan pribadi
atau kelompoknya. Kepentingan bersama bisa membuat segala komponen merasa puas dan senang.
Masing-masing kelompok mempunyai peranan masing-masing di dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Baca juga: Bhineka Tunggal Ika: Arti dan Maknanya Mengakomodasi sifat pluralistik
Ditinjau dari keanekaragaman yang ada di dalam negeri, Indonesia adalah bangsa dengan tingkat
pluralistik terbesar di dunia. Ini membuat bangsa Indonesia disegani oleh bangsa lain. Tapi bila
kondisi plural tidak dimanfaatkan dengan baik, maka sangat mungkin akan terjadi disintegrasi di
dalam bangsa. Jumlah agama, ras, suku bangsa, bahasa, adat dan budaya yang ada di Indonesia
sangat banyak dan beragam. Sikap saling toleran, saling menghormati, saling mencintai, dan saling
menyayangi menjadi hal mutlak yang dibutuhkan oleh segenap rakyat Indonesia. Supaya tercipta
masyarakat yang tenteram dan damai. Tidak mencari menang sendiri Perbedaan pendapat adalah
hal yang lumrah terjadi pada zaman sekarang. Apalagi dengan diberlakukannya sistem demokrasi
yang menuntut segenap rakyat bebas mengungkapkan pendapat masing-masing. Oleh sebab itu,
untuk mencapai prinsip keBhinnekaan maka seseorang harus saling menghormati antara satu
pendapat dengan pendapat yang lain. Perbedaan ini tidak untuk dibesar-besarkan tetapi untuk dicari
suatu titik temu dengan mementingkan suatu kepentingan bersama. Sifatnya konvergen harus
benar-benar dinyatakan dalam hidup berbangsa dan bernegara, jauhkan sifat divergen. Baca juga:
Merawat Bhinneka Tunggal Ika Musyawarah untuk mufakat Perbedaan pendapat antarkelompok
dan pribadi haruslah dicari solusi bersama dengan diberlakukannya musyawarah. Segala macam
perbedaan direntangkan untuk mencapai satu kepentingan. Prinsip common denominator atau
mencari inti kesamaan harus diterapkan di dalam musyawarah. Dalam musyawarah, segala macam
gagasan yang akan timbul akan diakomodasikan dalam kesepakatan. Sehingga kesepakatan itu yang
mencapai mufakat antar pribadi atau kelompok. Dilandasi rasa kasih sayang dan rela berkorban
Sesuai dengan pedoman sebaik-baik manusia yaitu yang bermanfaat bagi manusia lainnya, rasa rela
4

berkorban harus diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Rasa rela berkorban ini akan terbentuk
dengan dilandasi oleh rasa saling kasih mengasihi, dan sayang menyayangi. Jauhi rasa benci karena
akan menimbulkan konflik dalam kehidupan.

Lambang Garuda Pancasila: Makna dan Sejarahnya

Kompas.com - 19/12/2019, 16:00 WIB Bagikan: Komentar (1) Garuda Pancasila Lihat Foto Garuda
Pancasila(Dok Kompas.com) Penulis Ari Welianto | Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com -
Garuda Pancasila merupakan lambang negara bangsa Indonesia. Lambang negara ini berbentuk
burung Garuda yang kepalanya menoleh ke kanan. Di burung Garuda juga ada semboyan Bhineka
Tunggal Ika yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Lambang negara Garuda
Pancasila ini penggunaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) no 43 Tahun 1958. Arti dan
Makna Lambang Garuda Pancasila Dilansir dari situs Portal Informasi Indonesia, pada lambang
tersebut memiliki warna keemasan yang itu melambangkan keagungan dan kejayaan. Garuda
memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
Pada Garuda Pancasila ada 17 helai bulu di masing-masing sayap, dan delapan helai bulu pada
ekornya. Lalu 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor, dan 45 helai bulu di leher. Baca
juga: Bahas Lambang Negara AS, Putin Sindir Trump Itu melambangkan hari proklamasi
kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Dilansir dari situs Kementerian Luar Negeri
(Kemenlu), pada perisai di lambang negara tersebut terdapat lima simbol yang mempunyai arti
berbeda. Bintang melambangkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa Rantai melambangkan prinsip
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pohon Beringin adalah prinsip Persatuan Indonesia. Kepala
Banteng melambangkan prinsip demokrasi yang dipimpin oleh kebijaksaan dalam permusyawaratn
perwakilan. Padi dan Kapas melambangkan sila keadialan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Burung Garuda mencengkram sebuah gulungan bertuliskan moto negara Indonesia Bhineka Tunggal
Ika. Itu artinya Kesatuan dalam keberagaman, meskipun berbeda namun tetap satu jua. Baca juga:
Hina Lambang Negara, Ini Hukumannya Sejarah lambang negara Lambang negara pertama kali
dipakai pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 11 Februari 1950. Ini dirancang
oleh Sultan Hamid II dari Pontianak yang selanjutnya disempurnakan oleh Presiden Sukarno.
Kemudian pada 15 Februari 1950 diperkenalkan untuk pertama kalinya di Hotel Des Indes Jakarta.
Menurut cerita kuno zaman dulu, burung Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu yang merupakan
dewa di ajaran agama Hindu. Baca juga: 5 Berita Populer Nusantara: Wanita Berpakaian Ketat Diberi
Sarung Saat Razia hingga Poster Bernuansa Pelecehan Lambang Negara di Undip Dalam mitologi
Hindu, burung Garuda diceritakan sangat menyanyangi dan selalu berusaha untuk melindungi sang
ibu. Garuda bertarung dengan naga yang menangkap ibunya. Untuk membebaskan ibunya, Garuda
diminta untuk memberikan Amertha Sari, air yang bisa memberika kehidupan abadi. Ia pun lalu
berkelana mencari dan akhirnya bertemu dengan Dewa Wisnu. Dewa Wisnu lalu memberikan
amertha sari kapadanya dan selanjutnya Garuda menjadi tunggangannya. Sikap yang tangguh dan
kuat ini menginspirasi Sukarno untuk menjadikan Burung Garuda sebagai lambang negara. Ini agar
rakyat Indonesia memiliki semangat yang kuat untuk membebaskan ibu pertiwi dari para penjajah.
Bahkan pada tahun 1956, seniman Sudharnoto menciptakan lagu Garuda Pancasila dan ini menjadi
lagu wajib perjuangan Indonesia.
5

Proklamasi Indonesia: Arti, Isi dan Maknanya

Kompas.com - 02/02/2020, 10:00 WIB Bagikan: Komentar Teks Proklamasi Lihat Foto Teks
Proklamasi (Dok. Kompas) Penulis Ari Welianto | Editor Ari Welianto KOMPAS.com - Proklamasi
kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan momen penting dan bersejarah bagi
bangsa Indonesia. Proklamasi yang dibacakan oleh Seokarno bertanda telah berakhirnya masa
penjajahan dan Indonesia telah merdeka. Berakhir penderitaan rakyat pada masa penjajahan
tersebut. Tahukan kamu makna dan arti proklamasi? Baca juga: Pertempuran Surabaya,
Pertempuran Indonesia Pertama setelah Proklamasi Arti penting proklamasi Proklamasi merupakan
berasal dari bahasa Yunani. Artinya pengumuman atau pemberitahuan resmi kepada seluruh rakyat.
Dikutip situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), naskah proklamasi
merupakan tulisan tangan Soekarno yang kemudian menjadi presiden Indonesia pertama. Kemudian
tulisan tangan tersebut diketik oleh Sayuti Melik dan segera ditandatangani oleh Soerkarno dan
Moh. Hatta. Naskah proklamasi tersebut dibacakan oleh Soekarno dan didampingi Mohammad Hatta
hari Jumat di bulan Ramadhan pukul 10.00 WIB pada 17 Agutus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur
Nomor 56 Jakarta. Peristiwa besar bersejarah yang telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia
itu berlangsung hanya satu jam, dengan penuh kehidmatan. Meski berlangsung sangat sederhana,
namun telah membawa perubahan yang luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia .
Gema lonceng kemerdekaan terdengar ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero
dunia. Para pemuda, mahasiswa, serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan
perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu ke seluruh pelosok negeri. Para
wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei meski telah disegel oleh
pemerintah Jepang. Namun mereka tetap berusaha untuk menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke
seluruh dunia. Baca juga: Terbentuknya PPKI dan Detik-detik Proklamasi P R O K L A M A S I Kami
bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai
pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang
sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta. Berikut makna proklamasi bagi bangsa Indonesia: Merupakan titik puncak
perjuangan bagi bangsa Indonesia melawan penjajah Menjadi sumber hukum bagi pembentukan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Awal berlakunya hukum nasional. Akhir berlakunya
hukum kolonial yang diperlakukan oleh negara penjajah Sebagai awal terbebasnya penderitaan
rakyat dari kemiskinan, ketidakbebasan, kebodohan, dan kerja paksa. Foto karya Frans Mendur yang
mengabadikan detik-detik proklamasi Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta,
17 Agustus 1945. Kiri, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA
(Pembela Tanah Air). Kanan, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran
bendera. Lihat Foto Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan detik-detik proklamasi Indonesia
di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta, 17 Agustus 1945. Kiri, pengibaran bendera
Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air). Kanan, suasana upacara
dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.(-) Sikap yang harus dimiliki rakyat Rakyat
Indonesia harus bisa mewarisi semangat proklamasi yang menjadi tonggak sejarah tersebut.
Beberapa sikap yang harus dikembangkan oleh rakyat, yakni: Memiliki keimanan dan ketakwaan
sebagai perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Baca juga: 17 Agustus: Mengenang
Rumah Petani Tionghoa, Tempat Penyusunan Teks Proklamasi di Rengasdengklok Itu bisa
dicontohnya dengan perjuangan para pahlawan harus menjadi semangat yang menjiwai rakyat
indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Sikap anti penjajah karena penjajah adalah melanggar hak
6

asas Indonenesia. Indonesia mengencam segala bentuk penjajahan karena kemerdekaan adalah hak
segala bangsa. Semangat persatuan dan kesatuan sebagai perwujudan karakter pendiri bangsa.
Semangat untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. Itu dapat berupa menjalankan
semangah proklamasi dan nilai-nilai pancasila Semangat kepedulian sosial atas dasar persamaan
nasib. Itu sebagai bentuk kepedulian sosial antar sesama, saling membantu, dan toleransi. Semangat
kerja keras dan pantang menyerah serta semangat kebangsaan Baca berikutnya Kampanye Empat
Hama, Blunder China… Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis
Hoaks/Fakta. *S&K berlaku Ikut Sumber Kemendikbud Tag: Indonesia Proklamator teks proklamasi
Soekarno-Hatta Proklamasi Kemerdekaan RI makna proklamasi.

Hubungan Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945

Kompas.com - 20/02/2020, 19:00 WIB Bagikan: Komentar Pasukan Pengibar Bendera Pusaka
(Paskibraka) membentangkan bendera saat Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi 1945 di
Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (17/8/2019). Peringatan HUT RI tersebut mengangkat tema SDM
Unggul Indonesia Maju. Lihat Foto Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) membentangkan
bendera saat Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi 1945 di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu
(17/8/2019). Peringatan HUT RI tersebut mengangkat tema SDM Unggul Indonesia Maju.(AFP/ADEK
BERRY) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Pembukaan UUD
1945 dengan Proklamasi Kemerdekaan RI mempunyai hubungan sangat erat. Sebab Pembukaan
UUD 1945 adalah penuangan jiwa proklamasi yaitu jiwa Pancasila. Hubungan Proklamasi dan
Pembukaan UUD 1945 Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
pembukaan UUD 1945 juga merupakan perincian cita-cita luhur proklamasi kemerdekaan 17 Agustus
1945. Proklamasi Kemerdekaan merupakan suatu "Proclamation of Independence", sedangkan
Pembukaan UUD 1945 adalah "Declaration of Independence". Pembukaan UUD 1945 adalah
pernyataan kemerdekaan yang mengandung cita-cita luhur dari pada proklamasi kemerdekaan.
Mengubah pembukaan UUD 1945 berarti pembubaran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pembukaan UUD 1945 adalah deklarasi kemerdekaan Indonesia yang memuat cita-cita luhur dari
proklamasi kemerdekaan Indonesia. Proklamasi tidak akan mempunyai arti tanpa deklarasi sebab
tujuan proklamasi menjadi semata-mata hanya kemerdekaan. Sebaliknya, deklarasi baru mempunyai
arti dengan adanya proklamasi yang melahirkan kemerdekaan sebagai sumber hukum terbentuknya
NKRI. Baca juga: Arti dan Makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Kemerdekaan yang dicapai
bangsa Indonesia ialah titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan.
Perjuangan bukan hasil angkatan 45 saja, tetapi didahului para pejuang sebelumnya. Perjuangan
ialah proses estafet yang berkesinambungan. Keadaan ini didukung dalam alinea kedua Pembukaan
UUD 1945 yang berbunyi "...Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah
kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan
pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur".
Hubungan proklamasi kemerdekaan dengan pembukaan UUD 1945 dapat dilihat dari penyataan
kemerdekaan yang dijabarkan lebih lanjut dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu: Pada alinea pertama
pembukaan UUD 1945 berisi alasan pernyataan proklamasi kemerdekaan. Bahwa kemerdekaan
adalah hak segala bangsa dan penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Pada alinea kedua berisi perjuangan untuk kemerdekaan. Diuraikan juga kebanggaan dan
kehormatan terhadap perjuangan dan adanya kesadaran bahwa keadaan sekarang tidak bisa
dipisahkan dari keadaan sebelumnya. Pada alinea ketiga menjelasakan adanya motivasi moril dan
motivasi material bangsa Indonesia untuk menyatakan kemerdekaannya. Hubungan Pembukaan
7

UUD 1945 dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 mempunyai korelasi jelas. Yaitu
mengandung arti bahwa sejak tanggal 17 Agustus 1945 secara resmi bangsa dan negara Indonesia
berdiri sendiri, terbebas dari belenggu penjajah bangsa asing. Dengan demikian, sejak saat itu
bangsa dan negara Indonesia tidak terikat oleh pengaruh kekuasaan bangsa dan negara manapun di
dunia. Serta berkedudukan sederajat dengan negara-negara di dunia. Baca juga: Pembukaan UUD
1945: Makna dan Pokok Pikiran Makna proklamasi kemerdekaan Proklamasi kemerdekaan Indonesia
tanggal 17 Agustus 1945 yang dibacakan Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta adalah
keputusan politik tertinggi di mana di dalamnya terkandung makna yang mendalam. Berikut ini
makna mendalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945: Proklamasi kemerdekaan
adalah puncak perjuangan politik panjang dalam membangun dan menyatakan bangsa dan negara
yang mandiri. Proklamasi kemerdekaan sekaligus menjadi titik awal perjuangan baru dalam
mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah lama dicita-citakan. Proklamasi menandai
lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini berarti Proklamasi Kemerdekaan menjadi titik awal
berlakunya tata hukum nasional negara Indonesia dan berakhirnya tata hukum kolonial (penjajah).
Proklamasi merupakan titik berangkatnya pelaksanaan amanat penderitaan rakyat, sekaligus awal
sejarah pemerintahan Indonesia. Proklamasi sebagai norma pertama tata hukum nasional Indonesia,
yakni dasar hukum penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan
17 Agustus 1945 bukan tujuan akhir perjuangan bangsa Indonesia, namun sebagai alat untuk
mencapai cita-cita bangsa Indonesia sekaligus tujuan negara. Sebagaimana tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea IV yaitu "... melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial". Proklamasi bukan hanya dimaknai sebagai pernyataan kemerdekaan, tetapi juga mencakup
tindakan-tindakan yang harus segera dilaksanakan. Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia harus
dimaknai sebagai kemerdekaan dalam berbagai bidang, yaitu: Bidang politik yakni kedaulatan rakyat
Bidang ekonomi yakni bangsa Indonesia harus mandiri atau berdiri di atas kaki sendiri (berdikari),
Bidang kebudayaan berarti bangsa Indonesia mempunyai kepribadian nasional Bidang sosial berarti
tercipta kesejahteran dan keadilan sosial bagi bagi seluruh rakyat Indonesia Dan sebagainya Dengan
demikian, Pembukaan UUD 1945 mempunyai hubungan sangat erat Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Proklamasi merupakan satu kesatuan dengan Pembukaan UUD 1945. Apa yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 merupakan amanat luhur dan suci dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus
1945. Baca berikutnya

Toleransi dalam Keberagaman

Kompas.com - 27/01/2020, 20:00 WIB Bagikan: Komentar (1) Toleransi dan kebebasan beragama.
Sejumlah warga berjalan menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan Salat Idul Adha seusai
memarkir kendaraan bermotornya di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (11/8/2019). Otoritas Gereja
Katedral di Jakarta selain menyediakan halaman gereja sebagai tempat parkir bagi warga muslim
yang melaksanakan Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal juga mengubah jadwal ibadah misa Minggu dari
pukul 06.00 WIB menjadi pukul 10.00 WIB untuk menghormati umat muslim yang merayakan Hari
Raya Idul Adha pada Minggu, 11 Agustus 2019. Lihat Foto Toleransi dan kebebasan beragama.
Sejumlah warga berjalan menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan Salat Idul Adha seusai
memarkir kendaraan bermotornya di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (11/8/2019). Otoritas Gereja
Katedral di Jakarta selain menyediakan halaman gereja sebagai tempat parkir bagi warga muslim
yang melaksanakan Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal juga mengubah jadwal ibadah misa Minggu dari
8

pukul 06.00 WIB menjadi pukul 10.00 WIB untuk menghormati umat muslim yang merayakan Hari
Raya Idul Adha pada Minggu, 11 Agustus 2019.(ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR) Penulis Arum
Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Penduduk Indonesia sangat beragam dari
sisi suku bangsa, agama, ras, bahasa, budaya dan lainnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) terwujud akibat sikap dan perilaku toleran warga negaranya. Jika tidak ada sikap toleransi,
maka Indonesia akan terancam. Tahukah kamu apa itu toleransi? Pengertian toleransi Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan arti toleransi yaitu sifat atau sikap toleran. Toleran adalah
bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat,
pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan
dengan pendirian sendiri. Toleransi juga disebut tenggang rasa, yaitu dapat ikut menghargai
(menghormati) perasaan orang lain. Dikutip dari Menumbuhkan Sikap Toleran pada Anak (2016),
toleransi merupakan sikap menenggang dan menghargai pendapat, pandangan, kepercayaan,
kebiasaan serta perilaku yang berbeda atau bertentangan. Baca juga: Indahnya Toleransi Masjid
Istiqlal dan Gereja Katedral Sikap dan perilaku toleransi terhadap keberagaman masyarakat
merupakan kunci untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan. Toleransi juga dapat untuk
mencegah timbulnya perpecahan dalam masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Mengapa perlu
memahami toleransi? Tuhan menciptakan alam semesta dengan berbagai isinya yang beragam,
termasuk manusia, hewan dan tumbuhan. Indonesia memiliki keanekaragaman budaya, bahasa,
suku bangsa, agama dan ras yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keanekaragaman yang ada
di Indonesia adalah sebuah kekayaan dan keindahan bangsa. Perbedaan itu merupakan rahmat,
kekuatan dan karunia yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati. Menghormati
keanekaragaman akan menumbuhkan sikap toleran. Salah satu wujud dari toleransi adalah
melakukan kerja sama dengan orang lain. Baca juga: Hangatnya Toleransi di Lereng Gunung
Merbabu yang Dingin Sikap toleran terhadap keberagaman Dalam masyarakat majemuk atau
beragam, sikap dan perilaku toleran wajib dijaga dan dikembangkan. Tanpa sikap dan perilaku yang
saling toleransi, maka kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa tak mungkin terwujud. Oleh
karena itu walaupun bangsa Indonesia sangat beragam, tetapi keberagaman itu diikat oleh satu
kesatuan yaitu bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Dikutip dari situs resmi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, sikap dan perilaku saling toleransi
dapat diterapkan dalam kehidupan beragama, keberagaman suku, ras, serta keberagaman sosial
budaya di Indonesia. Berikut ini penjelasannya: Baca juga: Tapanuli Utara, Destinasi Wisata yang
Junjung Toleransi Sikap toleran dalam kehidupan beragama Setiap orang tentu meyakini salah satu
agama atau kepercayaan yang ada. Pemerintah Indonesia mengakui enam agama yaitu Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Sikap toleran dalam kehidupan beragama di
antaranya diwujudkan dalam bentuk, antara lain: Melaksanakan ajaran agama dengan baik.
Menghormati agama yang diyakini oleh orang lain. Tidak memaksakan keyakinan agama kita kepada
orang yang berbeda agama. Bersikap toleran terhadap keyakinan dan ibadah yang dilaksanakan oleh
yang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda. Tidak memandang rendah dan tidak
menyalahkan agama yang berbeda. Sikap toleran terhadap keberagaman suku dan ras Bangsa
Indonesia terdiri atas berbagai macam etnis atau suku bangsa dan ras. Perbedaan suku bangsa dan
ras hendaknya dipandang bukan sebagai hambatan. Perbedaan suku dan ras hendaknya menjadi
sumber kekuatan dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia maupun dalam
pergaulan antarbangsa di dunia. Perbedaan tidak menjadikan suatu etnis dan ras tertentu lebih
tinggi derajatnya dibanding etnis lain. Hal yang membedakan adalah baik atau buruknya sikap dan
perilaku seseorang, bukan etnis atau suku bangsa dan rasnya. Sikap toleran terhadap keberagaman
9

suku dan ras diwujudkan dalam bentuk, antara lain: Mengembangkan semangat persaudaraan
sesama manusia dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Bersikap baik kepada semua orang
tanpa memandang perbedaan. Baca juga: Ganjar: Rembugan Jadi Obat Toleransi di Jawa Tengah
Sikap toleran terhadap keberagaman sosial budaya Sikap dan semangat kebangsaan merupakan
sumber kekuatan dalam mempertahankan keberagaman budaya bangsa. Sikap toleran terhadap
keberagaman sosial budaya dapat dilakukan melalui: Mengetahui keanekaragaman budaya yang
dimiliki bangsa Indonesia. Mempelajari dan menguasai seni budaya sesuai minat dan bakat. Merasa
bangga terhadap budaya bangsa sendiri. Menyaring budaya asing Keberagaman dalam kehidupan
sosial bukan hanya menyangkut sosial budaya tetapi juga menyangkut keberagaman sosial ekonomi
maupun politik. Perbedaan kondisi ekonomi maupun politik dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat hendaknya tidak menyebabkan perpecahan. Sebaliknya, keberagaman justru menjadi
pendorong untuk lebih memperkuat kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai
Bhinneka Tunggal Ika.

Apa yang Keliru dengan Ekstremisme?

Kompas.com - 25/07/2018, 06:07 WIB Bagikan: Komentar Ilustrasi Lihat Foto


Ilustrasi(KOMPAS/THOMDEAN) Editor Laksono Hari Wiwoho DUA survei yang diliput oleh laman
Kompas dalam kurun waktu dua minggu belakangan ini menggetarkan hati banyak orang. Survei
yang pertama diinisiasi oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan
Rumah Kebangsaan (RK) tentang survei tingkat radikalisme di seratus masjid kantor pemerintahan
(kementerian, lembaga negara, dan BUMN). Survei kedua dinisiasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
Denny JA tentang tingkat dukungan publik terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) bersyariah. Jika digabungkan, kedua survei ini membuka kembali kontak pandora
wacana pembentukan bangsa Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Pesan utamanya sangat jelas, bahaya intoleransi dan ekstrismisme jauh lebih besar daripada
terorisme karena orang tidak dapat dihukum hanya dengan berpikir, baru ketika berbuat. Namun,
ekstrismisme merupakan ladang subur berkembangnya benih-benih aksi kekerasan dan atau
terorisme yang sekarang bukan lagi merambah orang dewasa namun telah melibatkan generasi
harapan bangsa, anak-anak kita yang tercinta. Beberapa pakar pendidikan dan psikolog keluarga
memaparkan indikasi ekstrimisme ini terjadi sejak seseorang mulai menutup dirinya untuk
menerima perbedaan cara berpikir dan budaya, merasa keyakinannya superior, lebih murni dan
mengajak orang lain untuk memiliki cara berpikir yang sama dengan dirinya dengan berbagai macam
cara, dari yang persuasif hingga paksaan, intimidasi, group atau social bullying dan bentuk lainnya.
Cara "mengkader" orang lain pada umumnya melalui ajakan yang sangat menarik, tetapi ujungnya
mengubah cara pikir orang lain terhadap keluarga, tujuan hidup, interaksi dengan lingkungan
sekeliling, masyarakat, dan negara. Inilah kunci mengapa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, begitu
banyak orang yang putus hubungan, baik offline maupun online, dengan teman SD, SMP, SMA dan
kuliah bahkan berujung perceraian karena perbedaan cara melihat hidup dan masa depan bangsa.
Titik tolak perubahannya adalah ketika seseorang mulai merasa tidak nyaman berelasi di luar
kaumnya sendiri, cenderung tidak ingin berinteraksi dengan keyakinan berbeda ataupun mereka
yang memiliki cara berpakaian berbeda. Kehebatan demokrasi Turunnya angka pendukung pro-
Pancasila ke pilihan alternatif tadi sebenarnya konsekuensi logis dari sistem demokrasi Pancasila.
Demokrasi memberikan ruang bebas bagi siapa saja untuk bersuara. Namun, ada perbedaan
mendasar antara suara yang memperjuangkan kepentingan seluruh pihak dan yang mementingkan
hanya kelompok tertentu. Ada seorang kawan baik yang selalu mengingatkan saya bahwa dalam
10

proses demokrasi, sudah benar seluruh pihak dapat bersuara. Akan tetapi, jika ada suara yang tujuan
akhirnya mendiskriminasi kelompok tertentu, maka jelas keluar dari koridor demokrasi. Wacana
NKRI bersyariah ini sudah bergulir sejak sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
karena alasan yang tampaknya rasional, yaitu mayoritas. Pemikiran ini telah diimbangi dengan sila
keempat Pancasila bahwa semua keputusan harus berdasar pada musyawarah mufakat, bukan
voting. Perkembangan wacana ini diembuskan kembali oleh kelompok-kelompok yang memiliki niat
bersayap. Wacana ini keluar bukan karena rasionalitas kebangsaan demi kepentingan bersama,
tetapi dikendarai oleh politisasi identitas demi kepentingan pribadi dan kelompok. Argumen yang
selalu dikumandangkan adalah pemisahan identitas melalui kekerasan, paksaan, intimidasi, dan
pemecah-belahan. Ujungnya pembelaan hanya terhadap satu kaum, bukan berdasarkan tujuan
mencapai kebinekaan, keberagaman, saling menerima perbedaan, dan harmonis. Inilah yang kita
sebut ekstremisme. Kekeliruan ekstremisme Setelah rangkaian diskusi dengan berbagai kalangan,
termasuk pakar terorisme, guru besar filsafat, aktivitis, tokoh agama, dan akademisi pemerhati isu
intoleransi dan ekstrimisme, selama kurang lebih 1 bulan, tim Kemitraan mencoba membumikan
definisi intoleransi dan ekstremisme. Intoleransi adalah sikap dan perilaku tidak menghargai dan
tidak menghormati keyakinan dan keberadaan perorangan, kelompok atau golongan lain yang
berbeda tanpa paksaan. Adapun ekstrimesme adalah pemikiran, sikap, dan tindakan orang atau
kelompok orang yang menuntut suatu perubahan serta menentang struktur masyarakat atau negara
yang diungkapkan secara keras, termasuk penyebaran stereotipe negatif, paksaan, intimidasi baik
individu atau kelompok dalam rangka membangun masyarakat yang homogen sesuai dengan
ideologi atau agama tertentu. Tindakannya mencakup usaha penyebaran, baik online maupun
offline, yang mengajak dan mengumpulkan simpatisan dari membenci golongan atau kelompok
tertentu hingga melanggar konsensus bangsa (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan
NKRI). Ekstremisme terjadi ketika munculnya wujud tindakan yang menolak perbedaan, eksklusif,
membuat dunia kita menjadi masyarakat homogen melalui pemaksaan, intimidasi mayoritas
terhadap kelompok atau individu, ataupun ancaman jika tidak mengikuti keinginan kelompok
tertentu dengan cara memberikan sanksi sosial ataupun buli terselubung. Mari kita lihat cara
penyebaran paham ekstremis ini dengan melihat temuan survei P3M dan Rumah Kebangsaan.
Metode penyebaran konsep alternatif ini cenderung menggunakan ujaran kebencian. Dari 41 masjid
yang diteliti di Jakarta, secara berturut-turut metode yang digunakan adalah ujaran kebencian (60
persen), sikap negatif terhadap agama lain (17 persen), sikap positif terhadap khilafah (15 persen),
sikap negatif terhadap minoritas (6 persen), kebencian pada minoritas (1 persen), dan sikap negatif
terhadap pemimpin perempuan dan non-muslim (1 persen). Jika sebuah pemikiran muncul dari rasa
kebencian, maka keluaran dari basis pemikiran demikian, sudah pasti tidak akan dapat inklusif. Apa
yang keliru dengan pemikiran ini? Ada tiga hal. Pertama, pemikiran ekstrem cenderung akan
menghasilkan rasa superioritas, tirani mayoritas, dan kewarganegaraan yang tidak berimbang
(unequal citizenship). Memang wacananya tidak keliru. Buah pemikiran apa pun harus dapat
didiskusikan dengan seluas dan seterbuka mungkin karena itulah kehebatan demokrasi. Namun, jika
hasil keluarannya adalah kewarnanegaraan yang diskriminatif karena perbedaan agama, suku, ras
dan keyakinan, maka ini adalah twisted democracy (demokrasi yang menyimpang). Contoh Amerika
Serikat bisa menjadi sebuah pelajaran sistem demokrasi di dunia bahwa proses pemilu mereka telah
dikooptasi dengan superioritas kaum kulit putih terhadap kulit berwarna dan superioritas keyakinan
mayoritas terhadap keyakinan lainnya. Kini baik warga Amerika maupun dunia prihatin terhadap
kondisi Amerika Serikat sekarang ini. Apakah kita akan bernasib seperti Amerika Serikat yang
dipimpin oleh para pemimpin yang melanggengkan pemikiran ekstrem, bukan hanya terhadap
11

warganya sendiri, tetapi kepada dunia? Perkuat kewarganegaraan Dari survei Rumah Kebangsaan,
solusi yang ditawarkan adalah koreksi cara berpikir para tokoh agama. Adapun Denny JA
menyuarakan perlunya marketing Pancasila lintas generasi. Kedua rekomendasi ini dapat
disatupadukan dengan solusi yang ditawarkan sesuai koridor demokrasi, yaitu perkuat
kewarganegaraan dari generasi muda hingga tingkat aparat negara. Memang sebuah pekerjaan
rumah yang berat karena kita melekatkan pendidikan kewarganegaraan ini bersama dengan
tergerusnya semua peninggalan Orde Baru. Satu hal yang kita lupa adalah generasi terus berganti
dan tradisi adalah kunci dari sebuah bangsa. Layaknya lagu Nina Bobo yang terus didengungkan
lintas generasi, begitu pula dasar-dasar negara yang sudah diekstrak dari seluruh pemikiran lintas
suku, agama, dan ras yang menyusun bangsa Indonesia, harusnya membahana dan merasuk ke
sanubari setiap insan bangsa kita, yang jika dilucuti keseluruhan sejarah, budaya, dan bahasanya,
kesimpulannya hanya satu, berbeda-beda namun satu jua.

Prinsip-prinsip Demokrasi

Kompas.com - 07/02/2020, 15:00 WIB Bagikan: Komentar Petugas KPPS yang mengenakan baju
trasisional pemain kuda lumping membantu warga memasukkan kertas suara di TPS 21 Kelurahan
Tanjung Piayu, Sungai Beduk, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (17/4/2019). Aksi tersebut dilakukan
sebagai bentuk antusiasme warga dalam memeriahkan pesta demokrasi serta untuk menarik minat
masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. ANTARA FOTO/M N Kanwa/aww. Lihat Foto Petugas
KPPS yang mengenakan baju trasisional pemain kuda lumping membantu warga memasukkan kertas
suara di TPS 21 Kelurahan Tanjung Piayu, Sungai Beduk, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (17/4/2019).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk antusiasme warga dalam memeriahkan pesta demokrasi
serta untuk menarik minat masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. ANTARA FOTO/M N
Kanwa/aww.(ANTARA FOTO/M N Kanwa) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri
KOMPAS.com - Sebagai sebuah konsep politik, demokrasi adalah landasan dalam menata sistem
pemerintahan negara yang terus berproses ke arah lebih baik. Dalam proses tersebut rakyat
berperan penting menentukan atau memutuskan berbagai hal menyangkut kehidupan bersama
sebagai sebuah bangsa dan negara. Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI, kebebasan dan demokrasi sering dipakai secara timbal balik tetapi keduanya tidak
sama. Sebagai suatu konsep, demokrasi adalah seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan
yang juga mencakup seperangkat praktik yang terbentuk melalui sejarah panjang. Singkatnya,
demokrasi adalah pelembagaan dari kebebasan. Artinya kebebasan yang dimiliki rakyat diatur dan
diarahkan oleh sebuah lembaga kekuasaan yang sumber kekuasaannya berasal dari rakyat dan
dijalankan sendiri oleh rakyat. Sehingga kebebasan yang dimiliki rakyat dapat dilaksanakan secara
bertanggung jawab dan tidak melanggar kebebasan yang dimiliki orang lain. Baca juga: Demokrasi:
Pengertian, Sejarah Singkat dan Jenis Prinsip- prinsip demokrasi Demokrasi sebagai sistem politik
saat ini dianut oleh sebagian besar negara di dunia. Negara-negara yang menganut demokrasi
memiliki prinsip-prinsip yang berbeda dengan sistem yang lain. Henry Bertram Mayo dalam An
Introduction to Democratic Theory (1960), mengungkapkan prinsip-prinsip demokrasi yang akan
mewujudkan suatu sistem politik yang demokratis. Berikut ini prinsip-prinsip demokrasi tersebut:
Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga. Menjamin terselenggaranya
perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah. Menyelenggarakan
pergantian pimpinan secara teratur. Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum. Mengakui
serta menganggap wajar adanya keanekaragaman. Menjamin tegaknya keadilan. Menurut Alamudi
dalam Ilmu Kewarganegaraan (2006) karya Sri Wuryan dan Syaifullah, suatu negara disebut
12

berbudaya demokrasi bila memiliki soko guru demokrasi sebagai berikut: Kedaulatan rakyat
Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah Kekuasaan mayoritas Hak-hak
minoritas Jaminan hak-hak asasi manusia Pemilihan yang bebas dan jujur Persamaan di depan
hukum Proses hukum yang wajar Pembatasan pemerintahan secara konstitusional Pluralisme sosial,
ekonomi dan politik Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama dan mufakat Baca juga: Perbedaan
Demokrasi Langsung dan Tidak Langsung Prinsip-prinsip demokrasi tersebut merupakan nilai-nilai
yang diperlukan untuk mengembangkan suatu bentuk pemerintahan yang demokratis. Berdasarkan
prinsip-prinsip tersebut, sebuah pemerintahan yang demokratis dapat ditegakkan. Sebaliknya tanpa
prinsip-prinsip tersebut, bentuk pemerintah yang demokrastis akan sulit ditegakkan. Trias Politica
Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara
(legislatif, eksekutif dan yudikatif). Pembagian tersebut diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara
yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Indonesia
adalah negara demokrasi yang dapat dibuktikan dari sudut pandang normatif dan empirik. Dikutip
dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, bukti empirik bahwa Indonesia adalah
negara demokrasi bisa dilihat dari alur sejarah politik di Indonesia, yaitu: Pemerintahan masa
revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Pemerintahan parlementer (1949-1959) Pemerintahan
demokrasi terpimpin (1959-1965) Pemerintahan orde baru (1965-1998) Pemerintahan orde
reformasi (1998-sekarang) Berikut ini pelaksanaan demokrasi di Indonesia pada masa pemerintahan
parlementer: Baca juga: Prinsip-prinsip Demokrasi Demokrasi Indonesia periode parlementer (1949-
1959) Periode kedua pemerintahan negara Indonesia merdeka berlangsung dalam rentang waktu
antara 1949-1959. Pada periode ini terjadi dua kali pergantian undang-undang dasar, yaitu:
Pergantian UUD 1945 dengan Konstitusi RIS pada rentang waktu 27 Desember 1949 - 17 Agustus
1950. Dalam rentang waktu ini, bentuk negara Indonesia berubah dari kesatuan menjadi serikat.
Sistem pemerintahan berubah dari presidensil menjadi quasi parlementer. Pergantian Konstitusi RIS
dengan Undang-undang Dasar Sementara (UUDS) 1950 pada rentang waktu 17 Agustus 1950 - 5 Juli
1959. Periode pemerintahan ini bentuk negara kembali berubah menjadi negara kesatuan. Sistem
pemerintahan menganut sistem parlementer. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada
periode 1949-1959, negara Indonesia menganut demokrasi parlementer. Baca juga: Sistem
Demokrasi di Indonesia Masa kejayaan demokrasi Indonesia Masa demokrasi parlementer adalah
masa kejayaan demokrasi di Indonesia. Karena hampir perwujudan semua elemen demokrasi dapat
ditemukan dalam kehidupan politik di Indonesia. Berikut ini enam indikator ukuran kesuksesan
pelaksanaan demokrasi pada masa pemerintahan parlementer: Pertama, lembaga perwakilan rakyat
atau parlemen berperan tinggi dalam proses politik. Perwujudan kekuasaan parlemen terlihat dari
sejumlah mosi tidak percaya pada pihak pemerintah. Akibatnya kabinet harus meletakkan jabatan
meski pemerintahan baru berjalan beberapa bulan. Seperti Djuanda Kartawidjaja diberhentikan
dengan mosi tidak percaya dari parlemen. Kedua, akuntabilitas (pertanggungjawaban) pemegang
jabatan dan politisi pada umumnya sangat tinggi. Hal ini dapat terjadi karena berfungsinya parlemen
dan juga sejumlah media massa sebagai alat kontrol sosial. Sejumlah kasus jatuhnya kabinet dalam
periode ini merupakan contoh konkret tingginya akuntabilitas. Baca juga: Karakter Utama Demokrasi
Pancasila Ketiga, kehidupan kepartaian memperolah peluang sebesar-besarnya untuk berkembang
secara maksimal. Dalam periode ini, Indonesia menganut sistem multipartai. Pada periode ini 40
partai politik terbentuk dengan tingkat otonomi yang sangat tinggi dalam proses rekrutmen, baik
pengurus atau pimpinan partai maupun para pendukungnya. Campur tangan pemerintah dalam hal
rekrutmen tidak ada. Sehingga setiap partai bebas memilih ketua dan segenap anggota
pengurusnya. Keempat, sekalipun Pemilihan Umum hanya dilaksanakan satu kali pada 1955, tetapi
13

Pemilihan Umum tersebut benar-benar dilaksanakan dengan prinsip demokrasi. Kompetisi antar
partai politik berjalan sangat intensif dan fair. Setiap pemilih dapat menggunakan hak pilih dengan
bebas tanpa ada tekanan atau rasa takut. Kelima, masyarakat umumnya dapat merasakan hak-hak
dasar dan tidak dikurangi sama sekali. Meski tidak semua warga negara dapat memanfaatkan hak-
hak dasar dengan maksimal. Tetapi hak untuk berserikat dan bekumpul dapat diwujudkan, dengan
terbentuknya sejumlah partai politik dan organisasi peserta Pemilihan Umum. Kebebasan pers dan
kebebasan berpendapat dirasakan dengan baik. Masyarakat bisa melakukan tanpa rasa takut
menghadapi risiko, meski mengkritik pemerintah dengan keras. Contoh Dr. Halim, mantan Perdana
Menteri, menyampaikan surat terbuka dengan kritikan sangat tajam terhadap sejumlah langkah
yang dilakukan Presiden Soekarno. Surat tersebut tertanggal 27 Mei 1955. Keenam, dalam masa
pemerintahan parlementer, daerah-daerah yang memperoleh otonomi yang cukup. Daerah-daerah
bahkan memperoleh otonomi seluas-luasnya dengan asas desentralisasi sebagai landasan untuk
berpijak, dalam mengatur hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah.

SEJARAH LAMBANG GARUDA PANCASILA

Sejarah Lambang Garuda Pancasila pada awalnya sudah mengalami beberapa kali versi perubahan
desain, setidaknya sudah 6 kali hingga menjadi Garuda Pancasila versi standar seperti yang kita kenal
sekarang ini. Lambang Garuda Pancasila yang pertama kali di perkenalkan secara terbuka adalah
merupakan karya Sultan Hamid II, lalu secara resmi dipergunakan pemakaiannya sebagai Lambang
Negara Republik Indonesia Serikat [ RIS ] pada saat sidang kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950.
Kemudian di perkenalkan kembali kepada khalayak ramai oleh presiden Soekarno pada tanggal 15
Februari 1950 di hotel Des Indes Jakarta. Bentuk Lambang Garuda Pancasila pada saat itu masih
berupa gambar versi ke 4 dari rancangan awal Sultan Hamid II dengan Gambar Rajawali/ Garuda
tanpa 'jambul' sehingga terkesan gundul mirip dengan Bald Eagel nya lambang negara Amerika
Serikat. Lambang Garuda Pancasila semula masih mengadopsi pada mitologi kuno yang mengarah
kepada kendaraan Garuda Wishnu, hingga akhirnya akan mengalami perubahan sebanyak 6 kali.
Pada saat Sultan Hamid II selesai mendesain rancangan lambang negara versi ke 3 dan kemudian
mengajukan konsep tersebut kepada Presiden Soekarno pada tanggal 8 Februari 1950, maka
terjadilah berbagai musyawarah dan dialog yang intens, salah satunya adalah masukan dan saran
dari Partai Masyumi yang mendapat respon cukup bagus, dimana pada saat itu Partai Masyumi
menyarankan untuk mempertimbangkan kembali rancangan/konsep lambang Garuda Pancasila versi
ke 3 tersebut, karena gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang
perisai dianggap terlalu bersifat mitologis. Hingga akhirnya bentuk gambarnya disempurnakan
kembali menjadi Garuda Pancasila ke 4 seperti yang diperkenalkan pada tanggal 11 Februari 1950
pada sidang kabinet RIS. Garuda Pancasila versi ke 4 tersebut masih berupa Rajawali/ Elang tanpa
jambul [ mirip bald eagle ], padahal rajawali yang demikian tidak hidup di Indonesia, serta cakar
rajawali masih mencengkeram pita semboya Bhinneka Tunggal Ika dari arah belakang, namun
susunan jumlah bulu yang melambangkan tanggal bulan dan tahun hari kemerdekaan 17-8-1945
sudah ada lengkap dengan perisai bergambar simbol 5 sila dari Pancasila.

Simbol Negara Indonesia

Kompas.com - 05/02/2020, 17:00 WIB Bagikan: Komentar Bendera Indonesia. Lihat Foto Bendera
Indonesia.(Thinkstock) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Peran
14

generasi muda Indonesia zaman sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan
bersifat positif. Selain giat belajar, kegiatan positif pemuda di antaranya memupuk rasa cinta tanah
air dan patriot bangsa, salah satunya memahami simbol- simbol negara. Simbol negara dalam UUD
1945 Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sudah mengatur berbagai hal terkait bendera, bahasa,
lambang negara dan lagu kebangsaan. Berikut ini simbol negara yang diatur dalam UUD 1945: Pasal
35 menyebutkan Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. Pasal 36 menyebutkan Bahasa
Negara ialah Bahasa Indonesia. Pasal 36A menyebutkan Lambang Negara ialah Garuda Pancasila
dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pasal 36B menyebutkan Lagu Kebangsaan ialah Indonesia
Raya. Pasal-pasal tersebut merupakan pengakuan sekaligus penegasan secara resmi oleh negara
tentang penggunaan simbol-simbol tersebut sebagai jati diri bangsa dan identitas NKRI. Baca juga:
Lambang Negara Garuda Pancasila: Arti dan Sejarahnya Simbol negara Indonesia Simbol negara
diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa
dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. UU No. 24 Tahun 2009 disahkan di Jakarta pada 9 Juli
2009 oleh Presiden RI saat itu yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam UU No 24 Tahun 2009 ini
juga disebutkan simbol-simbol negara sesuai yang telah diatur dalam UUD 1945 meliputi: Pasal 1
ayat 1 Bendera Negara NKRI adalah Sang Merah Putih. Pasal 1 ayat 2 Bahasa Indonesia adalah
bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah NKRI. Pasal 1 ayat 3 Lambang Negara NKRI
adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pasal 1 ayat 4 Lagu Kebangsaan
NKRI adalah Indonesia Raya. UU tersebut merupakan jaminan kepastian hukum, keselarasan,
keserasian, standardisasi dan ketertiban di dalam penggunaan bendera, bahasa, lambang negara dan
lagu kebangsaan. UU ini mengatur tentang berbagai hal yang terkait dengan penetapan dan tata
cara penggunaan bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Termasuk ketentuan
pidana bagi yang secara sengaja melakukan pelanggaran. Baca juga: Bendera Merah Putih: Arti,
Sejarah dan Maknanya Tujuan simbol negara Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2009 pasal 3,
pengaturan bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan sebagai simbol negara bertujuan
untuk: Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan NKRI. Menjaga kehormatan yang
menunjukkan kedaulatan bangsa dan NKRI. Menciptakan ketertiban, kepastian dan standardisasi
penggunaan bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Arti penting simbol negara
Bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan Indonesia mempunyai arti penting sebagai
berikut: Menjadi kekuatan untuk menghimpun serpihan sejarah nusantara yang beragam sebagai
bangsa besar dan NKRI. Merupakan manifestasi kebudayaan yang berakar pada sejarah perjuangan
bangsa, kesatuan dalam keragaman budaya dan kesamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan
NKRI. Merupakan sarana pemersatu, identitas dan wujud eksistensi bangsa. Menjadi simbol
kedaulatan dan kehormatan negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Merupakan jati diri
bangsa dan identitas NKRI. Menjadi cerminan kedaulatan negara di dalam tata pergaulan dengan
negara-negara lain. Menjadi cerminan kemandirian dan eksistensi negara Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dengan demikian, bendera, bahasa, lambang negara dan lagu
kebangsaan Indonesia bukan sekadar merupakan pengakuan atas Indonesia sebagai bangsa dan
negara saja. Melainkan menjadi simbol atau lambang negara yang dihormati dan dibanggakan warga
negara Indonesia.
15

Tiga Batas Wilayah Indonesia

Kompas.com - 03/01/2020, 08:00 WIB Bagikan: Komentar Wilayah perairan Bengkulu Lihat Foto
Wilayah perairan Bengkulu(Google Maps) Penulis Ari Welianto | Editor Ari Welianto KOMPAS.com -
Indonesia merupakah salah satu negara yang punya wilayah cukup luas. Luas wilayah itu mencakup
daratan dan lautan. Berdasarkan pada perjanjian internasional tiap negara memiliki wilayah tertentu
dengan batas-batas. Pada wilayah Indonesia dibagi menjadi tiga bagian, yakni daratan, lautan, dan
udara. Itu berdasarkan pada ketentuan pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 43 Tahun 2008.
Wilayah Negara Kesatuan Indonesia yang selanjutnya disebut wilayah negara adalah salah satu
unsur negara yang merupakan salah satu kesatuan wilayah daratan. Perairan pedalaman, perairan
kepulauan, dan laut teritorial beserta dasar laut dan tanah dibawahnya, serta ruang udara
diatasnyas termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung dibawahnya. Baca juga: Patok Batas
Indonesia-Malaysia di Sebatik akan Dihancurkan Dikutip dari situs resmi Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral, jika Indonesia memiliki perbatasan darat internasional dengan tiga negara,
yaitu Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste. Untuk di laut perairan Indonesia berbatasan dengan
10 negara, yaitu India, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipinan, Palau. Kemudian Australia, Timor
Leste, dan Papua Nugini. 1. Wilayah Daratan Indonesia memiliki wilayah daratan yang cukup luas
dan dijadikan sebagai tempat tinggal. Wilayah daratan ini terbentak dari Sabang sampai Merauke,
dari Miangas sampai Pulau Rote. Sabang merupakan pintu masuk ke wilayah Indonesia dari barat,
sedangkan Merauke dari wilayah timur. Untuk wilayah utara ada di Pulai Miangas dan wilayah
selatan di Pulau Rote. 2. Wilayah Perairan Diberitakan Kompas.com (13/12/2018), banyaknya
kepulauan tentunya mengharuskan Pemerintah Indonesia mengedepankan aspek kemaritiman
untuk membuat aturan soal kelautan. Baca juga: Kaltara, Kawal Tapal Batas Indonesia lewat
Kolaborasi Literasi Ketentuan soal wilayah perairan Indonesia tercantum dalam deklarasi Djuanda
pada 13 Desember 1957. Pada deklarasi itu memberikan informasi kepada negara luar bahwa
wilayah laut yang berada di wilayah kepulauan Indonesia menjadi wilayah kesatuan dan kedaulatan
NKRI. Sebelum adanya deklarasi Djuanda, wilayah batas laut Indonesia mengacu pada peraturan
masa Hindia Belanda, yakni Teritoriale Zee en en Maritime Kringen Ordonantie. Pada peraturan itu,
pulau-pulau di Indonesia sejauh 3 mil dari garis pantai. Kapal-kapal asing tidak boleh mengambiln
sumber daya. Kemudian pada Deklrasi Djuanda menyebutkan jiak batas luat teritorial wilayah
Indonesia menjadi 12 mil yang diukur dari garis pantai. Meski mendapatkan protes dan teguran dari
berbagai negara, namun Pemerintah Indonesia tetap bersikukuh memperjuangkan apa yang sudah
dikeluarkan. Baca juga: Sebanyak 16 Patok Batas Indonesia-Malaysia Hilang Tiga tahun kemudian
dikeluarkan UU Nomor 4/Prp Tahun 1960 tentang batas laut teritorial yang dirumuskan pada pasal 1
ayat 2. 3. Wilayah Udara Pada wilayah ini dibagi secara horizontal yang menghasilkan batas wilayah
darat dan laut Ketika wilayah dibagi secara vertikal akan menghasilkan batas di ruang angkasa, di
dasar kaut, dan tanah. Wilayah udara ini sama pentingnya dengan wilayah daratan an perairan.
Diberitakan Kompas.com (3/12/2019), dalam dunia penerbangan keberadaan Flight Information
Region (FIR) atau wilayah udara menyediakan informasi penerbangan menjadi sangat penting. Baca
juga: Patok Batas Indonesia Dijadikan Lapangan Golf Malaysia Karena selain menguasai ruang udara
untuk melindungi kedaulatan dan martabat bangsa, negara yang mengelola FIR memiliki keuntungan
berupa akses informasi lalu lintas penerbangan, keamanan negara dan pemasukan keuangan.
Indonesia memiliki dua FIR, yaitu FIR Makasar yang mengelola wilayah Indonesia bagian timur. Lalu
FIR Jakarta yang mengelola Indonesia bagian barat dengan total panjang mencapai 8.541 km.
16

Pengertian Wilayah Ekstrateritorial

Pengertian Wilayah Ekstrateritorial


Yang disebut wilayah suatu negara adalah wilayah di mana hukum-hukum negara berdaulat berlaku
di wilayah tersebut. Dan umumnya yang dimaksud dengan wilayah adalah wilayah yang real berada
di daerah kekuasaan negara tersebut. Khusus dengan wilayah ekstratritorial mempunyai pengertian
berbeda.
Wilayah ekstratrotorial adalah wilayah yang menurut kebiasaan internasional diakui sebagai wilayah
suatu negara meskipun wilayah tersebut berada di wilayah negara lain. Dan definisi dan batasan
wilayah ekstrateritorial ini sudah disepakati dalam pertemuan yang menghasilkan hukum
internasional di Wina, tahun 1815. Kemudian hukum tersebut dipertegas kembali pada Kongres
Aachen tahun 1818.
Contoh Wilayah Ekstrateritorial
Setelah membahas pengertian dari wilayah ekstrateritorial, akan lebih jelas jika diberikan contoh.
Dalam contoh akan dijelaskan lebih rinci tentang batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh
dilakukan di wilayah ekstrateritorial suatu negara.

1. Perwakilan Negara Asing di Indonesia


Berdasarkan kesepakatan internasional, perwakilan negara asing di suatu negara merupakan wilayah
kedaulatan negara yang menjadi perwakilan. Yang termasuk dalam wilayah perwakilan negara asing
di Indonesia adalah gedung konsulat, gedung kedutaan dan sebagainya. Misalnya Kedutaan Besar
China di Indonesia, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, Kedutaan Besar Arab Saudi di
Indonesia, Kedutaan Besar Australia di Indonesia, dan gedung-gedung perwakilan asing lain. Di sana
biasanya tinggal pejabat perwakilan negara asing beserta keluarga dan stafnya. Di dalam gedung dan
seluruh bagiannya dianggap wilayah kedaulatan negara asing tersebut. Bukan bagian wilayah
Indonesia. Apapun yang terjadi di dalamnya tidak bisa diproses menurut Hukum Indonesia. Di sana
berlaku hukum negara tersebut. Polisi dan alat negara seperti pejabat kehakiman tidak bisa masuk
ke dalamnya tanpa ijin resmi pejabat yang mewakili. Daerah itu juga bebas dari pengawasan dan
sensor terhadap semua kegiatan yang ada. Semua kegiatan yang terjadi di dalamnya adalah menjadi
tanggung jawab negara yang mengirimkan perwakilannya. Bahkan seorang buronan yang masuk dan
meminta perlindungan di dalam kedutaan atau konsulat tidak dapat diproses lebih lanjut tanpa ijin
resmi.
2. Perwakilan Indonesia di Negara Lain
Sebagai negara yang selalu menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga dan negara lain
tentu saja Indonesia menerima semua warga negara yang berdaulat untuk membuat perwakilan di
Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Indonesia mempunyai perwakilan di negara lain. Fungsi
perwakilan diplomatik sangat penting bagi hubungan bilateral negara.
Perwakilan Indonesia di negara lain akan diperlakukan sama dengan wilayah perwakilan negara lain
di Indonesia. Mereka mempunyai hak yang disebut kekebalan diplomatik. Di mana wilayah atau
tempat mereka bertugas di negara mana pun termasuk wilayah kedaulatan Indonesia. Hukum dan
aturan yang berlaku adalah hukum Indonesia. Berbeda dengan orang yang sedang sekolah di luar
negeri, sedang berwisata, atau yang sedang bekerja di luar negeri, Meskipun mereka masih warga
negara Indonesia, aturan dan hukum yang harus mereka taati adalah hukum di wilayah mereka
tinggal.

3. Kapal Indonesia yang Berada di Laut Lepas


Wilayah laut Indonesia adalah batas laut yang tidak melebihi 20 mil laut yang diukur dari daratan
terluar. Lepas dari itu, apabila tidak berdekatan dengan negara lain, maka dikategorikan sebagai laut
lepas. Di mana tidak ada negara mana pun yang menguasai. Di laut lepas, kapal yang berlayar
merupakan wilayah kedaulatan masing-masing negara pemilik kapal tersebut dan berlaku hukum
17

yang sama dengan perwakilan negara di negara lain.  Di kapal Indonesia berlaku contoh kadaulatan
negara Indonesia.
4. Kapal Indonesia yang Berada di Wilayah Negara Lain
Jika sebuah kapal Indonesia memasuki wilayah lain, maka harus atas ijin negara tersebut. Apalagi jika
kapal mengambil sumberdaya negara lain. Jika ijin diberikan untuk lewat memasuki wilayah negara
lain, maka semua yang berada di atas kapal adalah wilayah kedaulatan Indonesia meskipun sedang
berada atau melewati negara lain.
5. Kapal Asing di Wilayah Indonesia
Kapal asing yang sudah mendapat ijin untuk mellaui atau singgah di Indonesia juga merupakan
wilayah ekstrateritorial negara asalnya. Jika kapal berbendera Tiongkok maka kapal adalah wilayah
kedaulatan Tiongkok. Semua yang terjadi di dalamnya adalah tanggungjawab negara tersebut.
Namun, jika mereka mengambil sumberdaya Indonesia tanpa ijin berarti kegiatan diluar kapal, maka
hukum Indonesia akan berlaku.Demikian beberapa contoh wilayah ekstrateritorial beserta uraiannya
sedikit. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan dan sebagai Bangsa Indonesia dapat
menjaga kedaulatannya di mana saja berada. Karena menjaga kedaulatan merupakan salah satu
peran warga negara Indonesia dalam proses pembangunan.  Semoga bermanfaat.

Unsur-unsur Negara

Negara adalah sekumpulan manusia yang menyatakan diri untuk membentuk atau membuat aturan
kedaulatan sendiri untuk mencapai tujuan bersama. Setiap negara umumnya mempunyai hal-hal
yang sama, yang membuat mereka menyatukan diri. Misalnya persamaan ras, persamaan golongan,
persamaan latar belakang, dan lain-lain. Hal tersebut mengakibatkan setiap negara mempunyai
keunikan dan kekhasan masing-masing. Dan biasanya negara mempunyai satu kesamaan, yaitu
kesamaan wilayah. Banyak ahli mempunyai teori sendiri tentang unsur terbentuknya negara. Namun
secara umum dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur terbentuknya suatu negara atau syarat suatu
organisasi berdaulat dapat dikatakan negara yaitu:
1. Rakyat
Sebuah organisasi atau persekutuan dengan tujuan bersama dapat dikatakan menjadi sebuah negara
jika mempunyai negara. Tidak hanya rakyat yang berada di wilayah tersebut sekedar pengisi, namun
mereka mengakui bahwa mereka adalah warga negaranya. Setiap negara mempunyai syarat sendiri
untuk warga negaranya, seperti syarat menjadi warga negara Indonesia.
2. Daerah atau Wilayah
Sebuah negara harus mempunyai daerah atau wilayah kekuasaan yang sah di mana penduduknya
tinggal. Wilayah tersebut bukan merupakan wilayah yang dalam status sengketa. Wilayah negara
terdiri dari wilayah darat, laut, udara, dan wilayah ekstrateritorial.
3.Pemerintahan Yang Berdaulat
Unsur ketiga dari terbentuknya negara adalah adanya pemerintahan yang berdaulat. Berdaulat
artinya tidak dipengaruhi oleh pihak negara lain. Pemerintahan ini dipilih secara demokratis atau
tidak bergantung kepada sistem pemerintahan yang dianut sebuah negara. Pemerintah yang
berdaulat ini yang nantinya berfungsi menjalankan berbagai kebijakan untuk mencapai tujuan
bersama yang telah disepakati dalam konstitusi.
4.Pengakuan Kedaulatan dari Negara Lain
Sebuah wilayah tidak bisa mengklaim dirinya sebagai suatu negara tanpa pengakuan negara lain.
Karena itu penting untuk meyakinkan negara lain, khususnya negara tetangga, setelah suatu negara
menyatakan kedaultanannya. Ini berkaitan dengan hubungan internasionalnya kelak.
18

Amandemen UUD 1945

Amandemen UUD 1945 Sebelum dilakukan amandemen, UUD 1945 memiliki 38 bab, 37 pasal, dan
64 ayat. Setelah dilakukan empat kali amendemen ada 16 bab, 37 pasal 194 ayat, tiga pasa aturan
perakitan, dan dua pasal aturan tambahan. Baca juga: Pembukaan UUD 1945: Makna dan Pokok
Pikiran Jimly Asshiddiqie dalam bukunya Konsolidasi naskah UUD 1945 (2003). Berikut empat
emendemen UUD 1945: Amandeman I Amandemen yang pertama dilakukan pada Sidang Umum
MPR pada 14-21 Oktober 1999. Pada amandemen pertama menyempurnakan sembilan pasal, yakni
pasal 5, pasal 7, pasal 9, pasal 13. Kemudian pasal 13, pasal 15, pasal 17, pasal 20, dan pasal 21. Ada
dua perubahan fundamental yang dilakukan, yaitu pergeseran kekuasaan membentuk undang-
undang dari Presiden ke DPR, dan pembatasan masa jabatan presiden selama 5 tahun dan
sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.
Amandeman II Amandemen kedua terjadi pada Sidang Tahunan MPR pada 7 hingga 18 Agustus
2010. Pada amandemen tersebut ada 15 pasal perubahan atau tambahan/tambahan dan perubahan
6 bab. Perubahan yang penting itu ada delapan hal, yakni: Baca juga: KALEIDOSKOP 2019: Wacana
Amendemen UUD 1945 yang Makin Tak Jelas... Otonomi daerah/desentralisasi. Pengakuan serta
penghormatan terhadap satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa
dan terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Penegasan fungsi
dan hak DPR. Penegasan NKRI sebagai sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan
wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. Perluasan jaminan
konstitusional hak asasi manusia. Sistem pertahanan dan keamanan Negara. Pemisahan struktur dan
fungsi TNI dengan Polri. Pengaturan bendera, bahasa, lambang Negara, dan lagu kebangsaan.
Amandemen III Amandeman ketiga berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 September
2001. Ada 23 pasal perubahan/tambahan dan tiga bab tambahan. Perubahan mendasar meliputi 10
hal, yakni: Penegasan Indonesia sebagai negara demokratis berdasar hukum berbasis
konstitusionalisme. Perubahan struktur dan kewenangan MPR. Pemilihan Presiden dan wakil
Presiden langsung oleh rakyat. Mekanisme pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Kelembagaan Dewan Perwakilan Daerah. Pemilihan umum. Pembaharuan kelembagaan Badan
Pemeriksa Keuangan. Perubahan kewenangan dan proses pemilihan dan penetapan hakim agung.
Pembentukan Mahkamah Konstitusi. Pembentukan Komisi Yudisial. Baca juga: Dikunjungi MPR, Ini
Tanggapan Muhammadiyah, PBNU, MUI, hingga PHDI soal Amendemen UUD 1945 Amandemen IV
Amandemen IV berlangsung pada Sidang Umum MPR, 1 hingga 9 Agustus 20012. Ada 13 pasal, tiga
pasal aturan peralihan, dua pasal tambahan dan peruban dua bab. Dalam empat kali amandemen
UUD 1945 tersebut relatif singkat. Bahkan selama pembahasannya tidak banyak menemui kendala
meski pada Sidang MPR berlangsung alot dan penuh argumentasi.

Tiga Pilar Negara Kuat Menurut Nagara Krtagama

Kompas.com - 04/09/2009, 10:00 WIB Bagikan: Komentar Editor KOMPAS.com- Sebagai bangsa yang
besar, kita harus menghargai jasa para pendahulu kita. Seperti ada pepatah yang mengajarkan
bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang pandai menghargai jasa para pahlawan dan
pendahulu kita. Bangsa dan negara Indonesia tidak jadi begitu saja. Ratusan bahkan ribuan tahun
lalu proses untuk menjadi bangsa sudah dimulai. Rekam jejak yang paling kentara adalah pada masa
Kerajaan Majapahit. Saat itu Maha Patih Gajah Mada mengumandangkan sumpah Amuktya Palapa
yang intinya adalah ia tidak akan menikmati kemewahan bila Nusantara belum bersatu. Sumpah itu
diperjuangkannya bersama Raja Hayam Wuruk yang memerintah Majapahit tahun 1350-1389.
19

Alhasil di bawah mereka, daerah kekuasaan Majapahit di hampir seluruh Nusantara sampai ke
Madagaskar bersatu. Masa keemasan kerajaan Hindu-Budha terakhir di Nusantara itu ditulis dalam
Nagara Krtagama oleh Mpu Prapanca pada 1365 (1287 Saka). Kini, naskah Nagara Krtagama
berkembang dengan banyak versi. Diperkirakan naskah aslinya ikut hancur saat runtuhnya Kerajaan
Majapahit pada abad ke-15. Beruntung kita memiliki Prof Dr Drs I Ketut Riana SU. Dosen di
Universitas Udayanan ini berhasil menulis buku Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama:
Masa Keemasan Majapahit, yang didasarkan pada naskah Nagara Krtagama tertua. "Tujuan
menuliskan ini mau melestarikan warisan leluhur yang merupakan karya dari pujangga Mpu
Prapanca. Pujangga abad ke-14 ini menuliskan masa-masa keemasan Kerajaan Majapahit," kata
Ketut saat peluncuran bukunya di Hotel Santika Premier Slipi Jakarta, Kamis (3/9). Setelah membaca
buku yang diterbitkan penerbit Kompas dengan tebal 483 halaman, ada penceritaan menarik yang
dicatat oleh pria yang lahir di desa Les, Bali 10 Desember 1951. "Wahai rakyatku yang berbahagia,
hendaknya disadari bahwa suatu kerajaan atau negara yang besar ibaratnya 'bagai hutan dan singa',
2 hal yang tak terpisahkan," kata Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasa Nagara pada seluruh
rakyatnya. Kemudian, raja yang lahir tahun 1334 (1256 tahun Saka Rttusarena) itu mengutarakan,
jika hutan kering dan gundul, maka singa akan mati karena kekurangan makanan. Bahkan akan kabur
karena tak terlindungi. Dengan demikian, musuh akan dengan mudah memporakporandakan
negara. Hayam Wuruk mengatakan ini dalam kapasitasnya sebagai pemimpin nusantara. Pada
zamannya ia dan Gajah Mada telah berkomitmen untuk mejaga keutuhan dan kesatuan negara.
Supaya "hutannya" tetap terjaga maka ia memperkuat bala tentara. Konon, Hayam Wuruk
mempunyai armada lebih dari 2.000 untuk menjaga negaranya. Tidak hanya itu, pilar kekuatan
negara yang lain adalah sektor ekonomi dan agama. Sebagai raja yang menguasai hampir seluruh
nusantara sampai ke Kamboja, Vietnam dan Madagaskar di Afrika Timur, ia memiliki peluang korupsi
yang besar. Karena setiap daerah taklukkan wajib membayar upeti. Namun apa yang dilakukan
suami dari Dyah Indudewi itu. "Dan keesokan harinya pagi-pagi Baginda Raja memberikan hadiah
pada masyarakat semua, termasuk kawi atau pujangga juga diberikan hadiah. Semua rakyat gembira
serta memuji-muji," tulis Mpu Prapanca, putra Mpu Nadendra yang menjabat Dharmadhyaksa ring
Kasogatan (ketua dalam urusan agama Budha). Maka tidak mengherankan, Hayam Wuruk diyakini
sebagai titisan Siwa-Budha. Karenanya dalam tugasnya ia menentramkan dan menyejahterakan
rakyat dan kerajaan Majapahit. Mpu Prapanca meyakini hal itu karena apa yang ia tulis berdasarkan
pengalamannya ikut Hayam Wuruk berkunjung ke desa-desa. Pilar terakhir yang menopang negara
Majapahit adalah agama. Ketut yang doktoralnya di Universitas Airlangga mengutarakan bahwa
pada waktu itu agama menjadi perhatian utama, baik yang Hindu maupun Budha. "Oleh karenanya
kompleks tempat ibadah bebas pajak sama sekali. Hayam Wuruk meyakini agama menjadi hal
penting dalam kemajuan suatu negara," Ketut menandaskan. Singkatnya, menurut Hayam Wuruk
dan tentutnya Gajah Mada, negara atau "hutan" akan kuat jika memiliki 3 pilar yang kokoh, yakni
unsur politik-keamanan, kemakmuran dan hidup agama yang kuat. "Itulah artinya Nagara Krtagama.
Nagara adalah negara politis, Kerta artinya makmur, dan Gama adalah agama," jelas Ketut. Cermin
Indonesia Seperti telah dikatakan di awal, kalau mau disebut negara besar maka mau tidak mau kita
mesti bercermin dari pengalaman Hayam Wuruk memerintah negara Majapahit. Juga soal
bagaimana ia melihat sebuah kekuasaan sebagai sarana untuk menyejahterakan rakyatnya. Apalagi
saat ini Nagara Krtagama sudah diakui oleh UNESCO sebagai karya warisan dunia. Artinya, semua
bangsa bisa merasa memiliki teks itu untuk dipelajari. Jangan sampai kita yang punya malah tidak
mau belajar. Kalau kita melihat negara kita seperti hutan yang dijaga oleh harimau, tampaknya
hutan kita ini sudah bobol. Lemahnya kekuatan militer membuat beberapa kali perbatasan kita
20

dilanggar negara lain, sumber daya alam di hutan dan laut dicuri. Bidang budayapun kita kecolongan
oleh tetangga kita yang beberapa kali mengklain produk bidaya kita. Bidang ekonomi, kita masih
kewalahan menahan terjangan arus kapitalis. "Wilayah-wilayah keagamaan zaman Hayam Wuruk
bebas pajak. Sekarang pajak meningkat terus. Belum hubungan antaragama satu sama lain yang
kerap bentrok," ucap Ketut. Dalam situasi ini, tepat kiranya Mpu Prapanca berujar bahwa hutan
tanpa binatang seperti negara tanpa prajurit, sehingga mudah diserang. Tanpa adanya singa maka
orang enak saja membabat hutan, mencuri kayu dan heman. "Jadi ingat, jangan membabat hutan
karena akan menuai bencana," ucap Hayam Wuruk pada rakyatnya. Bencana di sini bisa bermakna
denotatif maupun konotatif, di mana kemiskinan dan pengangguran juga masuk kategori bencana.
Sejarah masa lampau ternyata menyimpan nilai filosofi yang dalam. Tulisan Mpu Tantular di atas
lontar yang berusia ratusan tahun masih relevan menggugah bagaimana liarnya kita menggregoti
kekuatan kita sendiri. Seliar kita hendak menghancurkan situs Trowulan di mana pusat Majapahit,
pusat nilai kesatuan nusantara, embrio Pancasila berada di sana. (Frans Agung Setiawan)

Makna 5 Lambang Pancasila

Kompas.com - 25/02/2020, 10:00 WIB Bagikan: Komentar Garuda Pancasila Lihat Foto Garuda
Pancasila(Dok Kompas.com) Penulis Ari Welianto | Editor Ari Welianto KOMPAS.com - Garuda
Pancasila merupakan lambang negara bangsa Indonesia. Pancasila merupakan dasar negara
Indonesia yang dijadikan sebagai dasar ideologi bangsa Indonesia. Lambang negara Indonesia
berbentuk burung Garuda yang kepala menoleh ke kanan. Dikutip situs www.indonesia.go.id, pada
bagian dada terdapat perisai yang didalamnya terdapat lima lambang atau sila. Kelima simbol
tersebut adalah bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, padi dan kapas. Tahukah kamu
makna lambang pancasila tersebut? Baca juga: Lambang Negara Garuda Pancasila: Arti dan
Sejarahnya Bintang Lambang Bintang emas dengan perisai berlatar belakang warna hitam dijadikan
sebagai sila pertama dalam Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada bintang
berwarna kuning bersudut lima. Bintang di artikan sebagai sebuah cahaya seperti Tuhan yang
menjadi cahaya kerohanian bagi setiap manusia. Dikutip situs Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud), bintang emas mengandung maksud bahwa bangsa Indonesia adalah
bangsa yang religius. Di mana bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Contoh yang kegiatan yang bisa diterapkan sesuai sesuai
sila pertama, yakni: Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa Hormat menghormati Hidup rukun
Bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda Tidak memaksa
suatu agama atau kepercayaan kepada orang lain. Baca juga: Bendera Merah Putih: Arti, Sejarah dan
Maknanya Rantai Lambang rantai berwarna kuning berlatar belakang warna merah dijadikan sebagai
dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradap. Pada lambang rantai disusun atas gelang-gelang kecil
dengan jumlah 17 gelang dan saling menyambung. Di mana itu menandakan hubungan manusia satu
dengan yang lain dan saling membantu. Gelang yang berbentuk persegi menggambarkan pria,
sementara gelang yang berbentuk lingkaran menggambarkan wanita. Contoh sila kedua Pancasila
yang bisa diterapkan di lingkungan masyarakat, yakni: Sikap saling mencintai sesama manusia
Tenggang rasa Gemar menolong orang lain Tidak membeda-membedakan Berbicara kepada orang
lain dengan Sopan santun Pohon Beringin Pohon beringin melambangkan sebagai tempat berteduh
dan berlindung. Baca juga: Bhineka Tunggal Ika: Arti dan Maknanya Pada Pancasila, pohon beringin
dijadikan sebagai dasar sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia. Di mana mencerminkan
kesatuan dan kesatuan Indonesia. Pohon beringin merupakan sebuah pohon di Indonesia yang
memiliki akar tunjang. Sebuah akar tunggal panjang yang menunjang pohon yang besar ini dengan
21

tumbuh sangat dalam ke dalam tanah. Pohon beringin memiliki banyak akar yang menggelantung
dari ranting-rantingnya. Contoh sila ketiga Pancasila dalam lingkungan masyarakat, yakni: Rela
berkorban Cinta tanah air Mencintai produk lokal Bergaul dengan teman tanpa membeda suku, ras,
dan adat istiadat Ikut menjaga keamanan lingkungan. Kepala Banteng Lambang kepala banteng
dijadikan sebagai dasar pada sila ke empat Pancasila berbunyi Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Banteng merupakan binatang yang
suka berkumpul. Sama seperti manusia dalam pengambilan keputusan harus dilakukan secara
musyawarah. Salah satunya dengan berkumpul dan diskusi. Baca juga: Simbol Negara Bahasa
Indonesia Contoh sila keempat Pancasila dalam lingkungan Masyarakat, yakni: Mengutamakan
keputusan yang diambil secara musyawarah Tidak memaksa kehendak orang lain Melaksanakan
musyawarah mufakat Menghormati dan menjunjung tinggi hasil musyawarah. Padi dan Kapas Padi
dan kapas dimaknai sebagai salah satu kebutuhan rakyat Indonesia tanpa melihat status dan
kedudukannya. Padi dan kapas mencerminkan pangan dan sandang. Ini menandakan tidak adanya
kesenjangan antara satu dengan yang lain. Pada Pancasila, padi dan kapas dijadikan sebagai dasar
kelima berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Contoh sila kelima Pancasila dalam
lingkungan masyarakat, yakni: Sikap adil kepada sesama Menjaga keseimbangan antara hak dan
kewajiban Menghormati hak-hak orang lain Ikut serta dalam kegiatan gotong royong.

Falsafah negara

Sebagai dasar NKRI, Pancasila memiliki fungsi sangat fundamental. Pancasila disebut sebagai sumber
dari segala sumber hukum. Sifat Pancasila yuridis formal maka mengharuskan seluruh peraturan
perundang-undangan berlandaskan pada Pancasila. Pancasila sebagai dasar filosofis dan sebagai
perilaku kehidupan. Artinya, Pancasila merupakan falsafah negara dan pandangan atau cara hidup
bagi bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai
cita-cita nasional. Pancasila menjadi karakter masyarakat Indonesia sehingga menjadi identitas atau
jati diri bangsa Indonesia. Pancasila merupakan rujukan, acuan sekaligus tujuan dalam pembangunan
karakter bangsa.

Kerja Sama Internasional: Pengertian, Alasan, dan Tujuannya

Kompas.com - 18/12/2019, 17:00 WIB Bagikan: Komentar (1) Pimpinan Dewan Bisnis Amerika
Serikat-ASEAN atau US-ASEAN Business Council USA bertemu Presiden Jokowi di Istana Merdeka,
Jakarta, Kamis (5/12/2019). Lihat Foto Pimpinan Dewan Bisnis Amerika Serikat-ASEAN atau US-
ASEAN Business Council USA bertemu Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis
(5/12/2019).(KOMPAS.com/Ihsanuddin) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Nibras Nada Nailufar
KOMPAS.com - Tiap negara membutuhkan negara lain. Tidak ada negara yang benar-benar mandiri
tanpa bantuan negara lain. Oleh sebab itu tiap negara akan mempunyai hubungan atau melakukan
kerja sama dengan negara lain. Transaksi dan interaksi antarnegara dalam sistem internasional
disebut kerja sama atau kooperasi atau hubungan internasional. Pemerintah mewakili suatu negara
saling berhubungan dengan mengajukan alternatif pemecahan, perundingan atau pembicaraan
mengenai masalah yang dihadapi. Baca juga: [POPULER INTERNASIONAL] Peran Indonesia dalam
Ketenangan Obama | Mengenal Omnibus Law yang Disampaikan Jokowi Negara-negara
mengemukakan berbagai bukti teknis untuk menopang pemecahan permasalahan tertentu dan
mengakhiri perundingan dengan membentuk suatu perjanjian atau saling pengertian yang
memuaskan bagi semua pihak. Proses seperti ini disebut kerja sama atau kooperasi. Pengertian kerja
22

sama internasional Secara umum, pengertian kerja sama internasional adalah kerja sama yang
melibatkan negara-negara di seluruh dunia atau sebagian besar negara di dunia. Kerja sama
internasional adalah hubungan kerja sama yang dilakukan oleh dua negara atau lebih untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu. Baca juga: Jokowi Terbang ke Singapura Besok, Ini kerja sama yang
Akan Dibahas Kerja sama internasional dilakukan antar negara dalam rangka pemenuhan kebutuhan
rakyatnya dan kepentingan lain yang berpedoman pada politik luar negeri masing-masing negara.
Kerja sama internasional adalah salah satu usaha negara-negara untuk menyelaraskan kepentingan-
kepentingan yang sama. Juga merupakan perwujudan kondisi masyarakat yang saling tergantung
satu sama lain. Berikut pengertian kerja sama internasional menurut para ahli: James E Dougherty
dan Robert L Pfaltzgraff Dougherty dan Pfaltzgraff dalam Contending Theories of International
Relations (1971) mengatakan fokus teori hubungan internasional adalah mempelajari tentang
penyebab dan kondisi yang menciptakan kerja sama. kerja sama dapat dijalankan dalam suatu
proses perundingan yang diadakan secara nyata atau karena masing-masing pihak saling tahu
sehingga tidak lagi diperlakukan suatu perundingan. Baca juga: Indonesia Harap kerja sama
Infrastruktur dengan Timor Leste Meningkat Dougherty dan Pfaltzgraff menjelaskan definisi kerja
sama sebagai serangkaian hubungan yang tidak didasarkan pada kekerasan atau paksaan dan
disahkan secara hukum. kerja sama seperti yang dimaksud seperti terjadi dalam organisasi
internasional seperti Persatuan Bangsa-bangsa atau PBB (United Nations atau UN) dan Uni Eropa.
Negara-negara pelaku membangun hubungan kerja sama melalui suatu organisasi internasional dan
rezim internasional. Dalam organisasi atau rezim internasional terdapat seperangkat aturan yang
disetujui, regulasi, norma dan prosedur pengambilan keputusan. Baca juga: Penambahan Kuota Haji
dan kerja sama Ekonomi dengan Saudi, Ini Perintah Jokowi ke Para Menteri Di situ harapan dan
kepentingan negara-negara pelaku bertemu dalam suatu lingkup hubungan internasional. kerja
sama dapat tumbuh dari komitmen individu terhadap kesejahteraan atau sebagai usaha pemenuhan
kepentingan pribadi. Kunci perilaku kerja sama ada pada sejauh mana setiap pribadi percaya bahwa
yang lainnya akan bekerja sama. kerja sama didasarkan pada pemenuhan kepentingan pribadi, di
mana hasil yang menguntungkan kedua belah pihak dapat diperoleh dengan bekerja sama dari pada
dengan usaha sendiri atau persaingan. KJ Holsti Dalam International Politics: A Framework for
Analysis (1967), Holsti mengemukakan definisi kerja sama internasional secara sederhana. kerja
sama internasional adalah proses di antara negara-negara yang saling berhubungan secara bersama-
sama. Baca juga: Jabar dan Jepang Sepakati kerja sama Bidang Pendidikan Dengan melakukan
pendekatan untuk mencari pemecahan terhadap masalah yang dihadapi melalui pendekatan satu
sama lain. Mengadakan pembahasan dan perundingan mengenai masalah-masalah tersebut,
mencari faktor-faktor teknis yang mendukung jalan keluar tertentu. Mengadakan perjanjian-
perjanjian berdasarkan saling pengertian antara kedua belah pihak. Charles Armor McClleland
McClelland dalam dalam Theory and the International System (1966) mengatakan hubungan
internasional berkaitan dengan segala bentuk interaksi antara masyarakat, negara-negara, baik yang
dilakukan oleh pemerintah ataupun warga negara. Baca juga: BI Gandeng Bank Sentral Filipina Untuk
kerja sama Cegah Pencucian Uang Theodore A Couloumbis dan James H Wolfe Dalam Introduction
to International Relations (1986), Couloumbis dan Wolfe mengatakan hubungan internasional
merupakan interaksi antar aktor suatu negara dengan negara lain. Hubungan internasional adalah
hubungan yang dilakukan antar negara yaitu unit politik yang didefinisikan menurut teritorial,
populasi dan otonomi daerah yang secara efektif mengontrol wilayah dan penghuninya tanpa
menghiraukan homogenitas etnis. Koesnadi Kartasasmita Dalam Administrasi Internasional (1997),
Koesnadi Kartasasmita menjelaskan kerja sama internasional adalah akibat dari adanya hubungan
23

internasional dan karena bertambah kompleksnya kehidupan manusia di dalam masyarakat


internasional. Baca juga: kerja sama dengan Ceko, Skoda Mau Masuk Indonesia? Anak Agung Perwita
dan Yanyan Mochamad Yani Dalam Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (2005) Anak Agung
Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani mengatakan terjadinya hubungan internasional
merupakan suatu keharusan sebagai akibat adanya saling ketergantungan. Juga sebagai akibat
bertambah kompleksnya kehidupan manusia dalam masyarakat internasional. Sehingga
ketergantungan (interdependensi) tidak memungkinkan adanya suatu negara yang menutup diri
terhadap dunia luar. William D Coplin William D Coplin dalam Introduction to International Politics: A
Theoretical Overview (1971) menjelaskan kerja sama yang awalnya terbentuk dari satu alasan di
mana negara ingin melakukan interaksi rutin yang baru dan lebih baik bagi tujuan bersama.
Interaksi-interaksi ini sebagai aktivitas pemecahan masalah secara kolektid yang berlangsung baik
secara bilateral maupun secara multilateral. Baca juga: Indonesia dan Belarus kerja sama Persiapkan
Generasi Milenial Mengapa negara melakukan kerja sama internasional? KJ Holsti menjelaskan
terdapat beberapa alasan mengapa negara-negara di dunia melakukan kerja sama dengan negara
lain, antara lain: Untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dengan cara mengurangi biaya yang
harus ditanggung negara tersebut dalam menghasilkan produk kebutuhan bagi rakyatnya karena
keterbatasan negara tersebut. Untuk meningkatkan efisiensi terkait dengan pengurangan biaya.
Adanya masalah-masalah yang mengancam keamanan bersama. Mengurangi kerugian negatif akibat
tindakan-tindakan individual negara yang berdampak pada negara lain. Baca juga: Terima Menlu
Jepang, Jokowi Berharap Bisa Tingkatkan kerja sama Sedangkan Koesnadi Kartasasmita menjabarkan
faktor-faktor yang mendorong kerja sama internasional, yaitu: Kemajuan di bidang teknologi
menyebabkan makin mudahnya hubungan yang dapat dilakukan negara, sehingga meningkatkan
ketergantungan satu dengan yang lainnya. Kemajuan dan perkembangan ekonomi mempengaruhi
kesejahteraan bangsa dan negara sehingga kesejahteraan suatu negara dapat berpengaruh pada
kesejahteraan negara lainnya di dunia. Perubahan sifat peperangan di mana terdapat suatu
keinginan bersama untuk saling melindungi dan membela diri dalam bentuk kerja sama
internasional. Adanya kesadaran dan keinginan untuk berorganisasi sehingga memudahkan dalam
memecahkan masalah yang dihadapi. Baca juga: kerja sama Ekonomi dan Hukum, Jokowi Terima
Kepala Eksekutif Hong Kong Tujuan kerja sama internasional Mencukupi kebutuhan masyarakat
masing-masing negara. Memperkuat perekonomian negara, perdagangan dan investasi dengan
negara lain. Meningkatkan kerja sama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Menciptakan adanya
rasa aman dan menegakkan perdamaian dunia. Mencegah atau menghindari konflik yang mungkin
terjadi. Mempererat hubungan (persahabatan) antar negara.

Hak Mendapat Bantuan Hukum

Berdasarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, Pasal 1 (1) dinyatakan
bahwa Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara
cuma-cuma kepada Penerima Bantuan Hukum. Penerima Bantuan Hukum adalah orang atau
kelompok orang miskin yang tidak dapat memenuhi hak dasar secara layak dan mandiri yang
menghadapi masalah hukum. Sedangkan dalam SEMA No. 10 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pemberian Bantuan Hukum, Pasal 27 dinyatakan bahwa yang berhak mendapatkan jasa dari Pos
Bantuan Hukum adalah orang yang tidak mampu membayar jasa advokat terutama perempuan dan
anak-anak serta penyandang disabilitas, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bantuan hukum tersebut meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau
melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum Penerima Bantuan Hukum, yang
bertujuan untuk :
24

Menjamin dan memenuhi hak bagi Penerima Bantuan Hukum untuk mendapatkan akses keadilan.
Mewujudkan hak konstitusional semuaa warga Negara sesuai dengan prinsip persamaan
kedudukan
didalam hukum.
Menjamin kepastian penyelenggaraan Bantuan Hukum dilaksanakan secara merata di seluruh
wilayah
Negara Indonesia.
Mewujudkan peradilan yang efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 25 SEMA No 10 Tahun 2010 menyatakan bahwa jasa Bantuan Hukum yang dapat diberikan
oleh Pos Bantuan Hukum berupa pemberian informasi, konsultasi, dan nasihat serta penyediaan
Advokat pendamping secara cuma-cuma untuk membela kepentingan Tersangka/Terdakwa dalam
hal Terdakwa tidak mampu membiayai sendiri penasihat hukumnya.
Hak dan Kewajiban Penerima Bantuan Hukum
Penerima Bantuan Hukum berhak :
Mendapatkan Bantuan Hukum hingga masalah hukumnya selesai dan/atau perkaranya telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, selama Penerima Bantuan Hukum yang bersangkutan tidak
mencabut surat kuasa.
Mendapatkan Bantuan Hukum sesuai dengan Standar Bantuan hukum dan/atau Kode Etik Advokat.
Mendapatkan informasi dan dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan pemberian Bantuan
Hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penerima Bantuan Hukum wajib :
Menyampaikan bukti, informasi, dan/atau keterangan perkara secara benar kepada Pemberi
Bantuan Hukum.
Membantu kelancaran pemberian Bantuan Hukum.

Negara Sebagai Organisasi Kekuasaan

Pada hakikatnya Negara disebut sebagai organisasi kekuasaan karena dilihat dari sifat-sifat Negara
tersebut. Dikatakan sebagai organisasi kekuasaan, karena setiap Negara terorganisir dan di
dalamnya pasti ada kekuasaan. Kekuasaan di suatu Negara terbagi tiga, yang sering disebut dengan
istilah trias politika. Trias politika terdiri dari kekuasaan legislatif yaitu kekuasaan untuk membuat
undang-undang, kekuasaan eksekutif yaitu kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan, dan
kekuasaan yudikatif yaitu kekuasaan kehakiman.

ORGANISASI KEKUASAAN

Negara mempunyai sifat-sifat diantaranya sifat memaksa, monopoli, dan mencakup semua. Sebagai
contoh dari sifat memaksa yaitu Negara memaksakan kepada semua warga Negara supaya
mematuhi dan menjalankan kehidupan sesuai dengan sistem perundang-undangan yang berlaku
dari atas sampai ke bawah yang menjadi pedoman dalam masyarakat untuk menata kehidupan yang
lebih baik. Sifat monopoli merupakan perwujudan kekuasaan Negara untuk menentukan ideologi,
penentuan partai politik dan ormas, mata uang, harga, dan usaha-usaha yang dapat mewujudkan
kepentingan masyarakat. Sifat mencakup semua yang dimiliki Negara ditujukan agar warga Negara
menaati setiap aturan yang dibuat tanpa memandang status ekonomi dan sosial, perbedaan etnis,
daerah, dan sebagainya. Sebagai contoh sifat yang mencakup semua adalah setiap warga Negara
wajib memiliki KTP, kartu ini wajib dimiliki warga Negara di manapun ia berada.
25

Mempelajari ilmu mengenai Negara tidak bisa secara abstrak, karena Negara mempunyai unsur-
unsur yang membuat Negara tersebut terbentuk. Para ahli mengemukakan pendapatnya masing-
masing menurut pengamatannya, tidak sedikit dari pendapat tersebut yang berbeda-beda secara
etimologi, tetapi secara fundamental tetap sama, yang membedakan hanya penafsirannya saja.

Daya Saing, Tantangan Terbesar Generasi Muda

Kompas.com - 28/10/2009, 14:33 WIB Bagikan: Komentar Editoracandra JAKARTA, KOMPAS.com - Di


tengah lunturnya rasa nasionalisme di kalangan generasi muda, pembangunan bangsa mesti tetap
dilakukan. Perbaikan identitas di kalangan generasi muda melalui peningkatan daya saing terasa
mendesak. Pengamat dari The Indonesian Institute Cecep Effendi mengatakan ini harus menjadi
agenda nasional. "Desain sebuah upaya agar bangsa ini mencuat ke depan. Dulu kita bilang sejauh
asia tenggara, kita adalah pemimpin legendaris. Dulu kita bisa bangga dengan Piala Thomas/Uber
ketika diangkat. Sekarang? Penghargaan kita terhadap prestasi generasi muda kita sekarang kurang,"
tuturnya dalam diskusi Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Rabu (28/10), di Jakarta. Menurut Cecep,
tantangan terbesar bagi generasi muda Indonesia saat ini adalah membentuk individu dan institusi
yang memiliki daya saing. "Ketika itu muncul, maka kita bangga jadi orang Indonesia" lanjutnya pada
diskusi bertajuk 'Meneguhkan Peran Pemuda Memperkuat NKRI' itu. Dengan kapasitas seperti itu,
tentu saja generasi muda dapat mengangkat wajah Indonesia di skala internasional dan memperkuat
bangsa. Namun, lanjut Cecep, bandingkan dengan keadaan sekarang. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS), ternyata 60 persen dari total generasi muda Indonesia hanya tamat SD. Hal senada
ditegaskan Anggota DPD asal Sulawesi Barat M. Asri Anas. Menurut Asri, generasi muda perlu
mempersiapkan kemampuan berkompetisi dan memiliki semangat untuk terlibat dalam nation
character building yang makin luntur. "Ini susah dari dulu. Susah bicara kebangsaan dengan pemuda.
Hampir semua terjebak dengan pembicaraan struktural ekonomi dan kekuasaan," ungkapnya. Berita
Terkait Mahasiswa dan Pemuda Unjuk Rasa Peringati Sumpah Pemuda Mahasiswa Setia Gelar
Upacara Sumpah Pemuda Pemuda Bersatu, Indonesia Bangkit dan Maju Suebu: Pemuda Papua
Harus Berperan Dalam Pembangunan Berharap kepada Generasi Pembaru

16 Perbedaan Bentuk Negara Kesatuan Dengan Negara Serikat

Setiap negara mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan negara lain. Umumnya tergantung pada
pandangan hidup rakyat yang mendiami negara tersebut, yang dilatarbelakangi sejarahnya. Struktur
sebuah negara yang paling mudah dilihat perbedaannya adalah lambang negara, fungsi dasar
negara, lagu kebangsaan, bentuk negara, sistem pemerintahan, dan kepala negara dan kepala
pemerintahannya. Dan artikel kali ini akan membahan tentang bentuk negara. Istilah bentuk-bentuk
negara, digunakan untuk dua hal yang berbeda menurut para ahli. Berikut adalah beberapa
pengertian isilah bentuk Negara.Istilah bentuk negara secara umum, merupakan pengelompokkan
negara berdasarkan cara negara tersebut membagi kekuasaan kepada wilayah-wilayah yang berada
di bawahnya dan mencakup kepala negara yang memimpin negara atau pemerintahan.
Menurut R. Kranenburg dalam bukunya Algemene Staatsleer dan Niccolo Marchavelli, bentuk
negara mengacu kepada kepala negara. Sehingga mereka membagi bentuk negara menjadi dua,
yaitu negara monarki / kerajaan yang dipimpin oleh raja / kaisar dan negara rebuplik yang dipimpin
oleh perdana menteri atau presiden.
Sedangkan menurut Leon Duguit dalam bukunya Algemene Staatderr, negara republik dan negara
kerajaan merupakan bentuk sistem pemerintahan. Yang dimaksud bentuk negara, merupakan cara
pembagian kekuasaan kepada wilayah di bawahnya, yaitu negara kesatuan dan negara serikat
(federasi)
26

Negara kesatuan adalah nama untuk negara yang mempunyai sifat tunggal, di mana di dalamnya
tidak ada negara-negara lain yang lebih kecil dan ikut berdaulat. Negara kesatuan merupakan negara
yang memiliki satu kewenangan, yaitu pemerintah pusat.
Negara serikat atau federasi adalah negara majemuk. Yaitu negara yang terdiri dari negara-negara
bagian lebih kecil dan mempunyai kewenangan sendiri yang bisa berbeda dengan pusat. Negara-
negara bagian tersebut juga bukan merupakan negara yang berdaulat atau dengan kata lain negara
merdeka.
Perbedaan Negara Kesatuan dan Negara Serikat Dalam Bentuk Negaranya
Perbedaan bentuk negara Kesatuan dengan negara Serikat didirikan sesuai keinginan rakyat masing-
masing negara. Berikut adalah 16 perbedaan antara kesatuan dan negara serikat.
1. Negara dan Wilayahnya
Negara serikat / federal memiliki negara-negara bagian di bawahnya, yang biasanya disebut negara
bagian, yang meskipun tidak berdaulat penuh mempunyai hak yang sangat besar dan tidak
dipengaruhi kebijakannya oleh pusat. Negara kesatuan mempunyai wilayah-wilayah di bawahnya,
yang biasanya disebut propinsi / pemerintah daerah, yang tidak berdaulat dan mempunyai hak
mengatur wilayahnya yang masih harus berpedoman pada pemerintah pusat.
2. Membuat Undang-Undang
Negara bagian pada federasi mempunyai hak poviour constituent, yaitu hak untuk membuat
undang-undangnya sendiri tanpa terikat dengan pemerintah pusat. Yang terpenting, undang-undang
tersebut masih sesuai dengan konstitusi yang mendasari negara. Contohnya, di beberapa negara
bagian Amerika Serikat memberlakukan hukuman mati smentara beberapa negara bagian lain tidak
melaksanakan, karena mayarakatnya tidak menyetujui hal tersebut. Di negara kesatuan, undang-
undang yang diberlakukan di wilayah pemerintah daerah, adalah undang-undang dari pusat.
Pemerintah Daerah dapat mengeluarkan peraturan yang mendukung kebijakan pusat. Peraturan
tersebut disebut peraturan daerah.
3. Hubungan Struktural
Hubungan struktural negara bagian dengan pemerintah pusatnya adalah sejajar. Tidak ada yang
lebih tinggi, selama masih berpegang kepada konstitusi. Akibatnya, pemerintah pusat tidak dapat
mencampuri urusan negara bagian. Bahkan terpidana yang sudah berpindah wilayah ke negara
bagian lain terkadang bisa menjadi bebas. Secara struktural, pemerintah pusat lebih tinggi
kedudukannya daripada pemerintah daerah di negara kesatuan. Di Indonesia, pemerintah ini
berurutan mulai dari pemerintah pusat yang berkedudukan di ibukota negara, propinsi, kabupaten /
walikota, kecamatan, sampai pemerintah desa. (baca juga: Pengertian Pemerintah Pusat)
4. Kekuasaan Pemerintah Pusat
Negara bagian pada negara yang bentuknya serikat memiliki kekuasaan penuh sehingga pemerintah
federal dan pemerintah negara bagian dalam bidang tertentu bebas satu sama lain. Contohnya,
negara federal atau pemerintah bebas dalam mengatur hubungan luar negerinya dan mencetak
uang sendiri tanpa perlu pertimbangan negara bagian. Sebaliknya, negara bagian bebas mengatur
kebudayaan, kesehatan, dan ras yang ada di wilayahnya tanpa campur tangan pemerintah federal.
Sementara dalam negara kesatuan, wewenang pemerintah pusat dan daerah saling tergantung satu
sama lain. Kebijakan dan undang-undang yang dibuat pemerintah pusat harus sejalan dengan
pemerintah daerah, begitu pula sebaliknya. Apabila daerah ingin melakukan hubungan luar negeri,
undang-undang yang berlaku adalah undang-undang pusat.
5. Pembagian Kekuasaan
Perbedaan bentuk negara Kesatuan dengan negara Serikat Karena hubungan struktural yang sejajar,
maka negara bagian pada negara serikat memperoleh kekuasaan yang cukup besar. Bahkan di
beberapa negara bagian tertentu menetapkan berapa persen kontribusi kekuasaan pusat ke
wilayahnya. Sedangkan pada negara kesatuan, menganut sistem pembagian kekuasan yang diatur
oleh undang-undang. Ada negara yang menganut sistem sentralisasi, semua diatur oleh pemerintah
pusat. Dan ada yang menganut sistem desentralisasi, pembagian kekuasaan antara pemerintah
27

puasat dan daerah. Undang-undang mengatur apa saja wewenang pusat dan daerah secara jelas,
sehingga diharapkan tidak akan menimbulkan konflik.
6. Sistem Peradilan
Setiap negara bagian mempunyai sistem peradilan masing-masing. Dan di negara serikat didirikan
mahkamah tertinggi yang bertugas menterjemahkan perundang-undangan yang dibuat oleh negara
bagian. Mahkamah ini juga bertugas menyelesaikan konflik antar negara bagian dan antar
pemerintah federal / pusat dengan negara bagian terkait dengan undang-undang tersebut. Di negara
kesatuan terdapat pengadilan yang berjenjang dari pemerintahan terendah sampai pusat.
Pengadilan ini memutuskan perkara berpedoman dengan undang-undang yang sama, sehingga
suatu perkara yang tidak selesai di wilayah bawah, memiliki hak untuk diajukan ke pengadilan
selanjutnya (baca juga : Sistem Peradilan di Indonesia).
7. Konsep Pembentukan Negara
Perbedaan mendasar dari negara kesatuan dan serikat adalah konsep pembentukannya. Negara
bagian biasanya terdiri dari negara-negara yang sebelumnya terpisah-pisah. Sedangkan negara
kesatuan merupakan kumpulan yang menjadi satu, kemudian dibagi menjadi beberapa wilayah agar
mudah pengaturannya.
8. Konsitusi Negara
Konstitusi bagi negara bagian adalah hukum atau peraturan yang tidak mengikat. Selama tidak
bertentangan, konstitusi tidak perlu dilaksanakan secara menyeluruh. Sementara peran konstitusi
dalam negara demokrasi bagi negara kesatuan adalah hal yang sangat mengikat. Semua
penyelenggaraan negara pusat atau daerah harus berpegang teguh pada konstitusi.
9. Sistem Pemerintahan
Sistem pemerintahan negara federasi kebanyakan adalah parlementer yang menganut ciri-ciri
demokrasi liberal. Sehingga, meskipun Presiden memiliki hak veto (di beberapa negara), parlemen
yang mengatur kebijakan negara. Sistem pemerintahan negara kesatuan, biasanya adalah ciri-ciri
sistem pemerintahan presidensial. Sistem pemerintahan ini memberikan kekuasaan eksekutif
kepada presiden sebagai kepala negara dan dibantu oleh menteri-menteri.
10. Struktur Negara
Negara kesatuan memiliki satu konstitusi / undang-undang dasar, satu kepala negara (biasanya
sekaligus kepala pemerintahan), satu dewan menteri, dan satu lembaga legislatif (Dewan Perwakilan
Rakyat). Sementara negara serikat, memiliki satu kepala negara dan memiliki kepala negara-negara
bagian, dan tiap negara bagian mempunyai dewan legislatif (penyusun undang-undang) yang tidak
berhubungan dengan pemerintah pusat.
11. Kebijakan
Pemerintah Daerah pada negara kesatuan merupakan perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat.
Sehingga semua kebijakan ; ideologi, politik, ekonomi, sosial, pertahanan dan keamanan, sama
dengan pemerintah pusat. Peraturan perundangan yang berbeda tiap daerah, lebih mengarah
kepada kondisi alam dan sosial masyarakatnya. Bukan hal-hal yang telah diatur negara, Negara
bagian, karena dapat membuat undang-undang yang berdiri sendiri terkadang mempunyai kebijakan
yang berbeda dengan pemerintah pusat. Bahkan negara bagian dapat mengadakan perjanjian
kerjasama dengan negara lain, tanpa ijin pemerintahan pusat.
12. Kedaulatan
Negara serikat berdaulat ke luar. Di dalam negeri, tiap wilayahnya mempunyai hak mengatur dan
meyelenggarakan pemerintahan sendiri.
Negara kesatuan mempunyai kedaulatan ke dalam dan ke luar. Maksudnya, pemerintah pusat
berhak mengatur wilayahnya sesuai undang-undang yang berlaku. Dan semua wilayah yang berada
di wilayahnya berpedoman pada penyelenggaraan pemerintah pusat. Selain itu negara juga
berdaulat keluar. Artinya, sama dengan negara serikat, bahwa negara kesatuan adalah negara yang
merdeka dan berhak mengatur negaranya sendir tanpa ikut campur negara lain, kecuali diminta.
28

13. Lembaga-lembaga Negara


Negara kesatuan, umumnya mempunyai tugas lembaga negara legislatif, lembaga eksekutif, dan
lembaga yudikatif yang kekuasaan masing-masingnya dibatasi oleh undang-undang. Dengan
demikian, pada negara kesatuan, kekuasaan pemerintah tidak terpusat pada satu orang yang
menyebabkan kekuasaan tidak terbatas atau munculnya kediktatoran. Negara serikat / federal
umumnya tidak memiliki ketiga lembaga di atas secara lengkap. Karena menganut asas liberal dan
sistem pemerintahan parlementer, kekuasaan pemerintahan berada pada suara partai yang
berkuasa / suara partai mayoritas. Parlemen juga tidak mempunyai hak apapun terhadap segala
kebijakan Presiden.
14. Tanggungjawab Pemerintahan
Ketika terjadi masalah di negara, baik itu masalah ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan
keamanan, pada negara kesatuan hal tersebut merupakan masalah bersama. Pemerintah Pusat
bertanggungjawab akan semua masalah penyelenggaraan negara dengan didukung Pemerintah
Daerah. Setelah itu, seluruh rakyat bersatu ikut bersama menyelesaikan masalah yang ada. Karena
mereka negara kesatuan, masalah di satu wilayah adalah masalah bersama. Berbeda dengan negara
kesatuan, masalah yang terjadi pada negara bagiannya akan menjadi tanggung jawab warga daerah
tersebut. Sebagai contoh, ketika masa kerusuhan ras kulit hitam dan putih masih banyak terjadi di
Missisipi, Amerika Serikat, negara bagian lain tidak turut menyelesaikannya. Hal tersebut dianggap
masalah dalam negeri wilayah Missisipi.
15. Pembagian Kedaulatan
Perbedaan bentuk negara Kesatuan dengan negara Serikat tidak dapat mebagi kedaulatan pusat dan
wilayahnya. Meskipun masing-masing negara bagian tetap mengakui kedaulatan negara secara
penuh, namun tiap negara bagian juga mempunya kedaulatan sendiri. Di negara kesatuan, terdapat
pembagian kedaulatan antar wewenang Pemerintah pusat. Hal ini memudahkan pengaturan
penyelenggaraan negara, terutama untuk negara yang memiliki wilayah sangat luas. Pemerintah
Pusat dan Daerah memiliki tugas, fungsi, dan wewenang masing-masing yang tidak saling
berbenturan dan diatur oleh undang-undang.
16. Kepala Negara
Dalam pemilihan kepala negara, sebagan besar negara serikat memilih secara langsung. Tidak ada
batasan partai mana yang mempunyai hak untuk mengajukan calon kepala negara. Siapapun berhak
mencalonkan diri sebagai kepala negara sesuai peraturan yang berlaku.
Hanya beberapa negara kesatuan yang memilih Presidennya secara langsung. Indonesia termasuk di
dalamnya. Namun, pemilihan kepala negara / presiden di Indonesia mempunyai undang-undang
yang membatasi persyaratan orang dapat menclonkan diri sebagai kepala negara.
Demikian uraian tentang perbedaan negara kesatuan dan negara serikat. Contoh negara di dunia
yang mempunyai bentuk negara serikat adalah Amerika Serikat, Malaysia, dan Australia. Sementara
contoh negara kesatuan adalah Indonesia. Setelah membaca uraian perbedaan di atas, dapatkah
kamu memahami bentuk negara Amerika Serikat yang berbeda dengan Indonesia? Semoga artikel ini
dapat membantu dan bermanfaat. Terima kasih.

Makna Persatuan dan Kesatuan

Kompas.com - 06/03/2020, 14:00 WIB Bagikan: Komentar Pengendara sepeda melintasi mural yang
mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan di Jalan Dinoyo Surabaya, Jawa Timur, Senin
(27/10/2008). Lihat Foto Pengendara sepeda melintasi mural yang mengobarkan semangat
persatuan dan kesatuan di Jalan Dinoyo Surabaya, Jawa Timur, Senin (27/10/2008).
(KOMPAS/RADITYA HELABUMI) Penulis Ari Welianto | Editor Ari Welianto KOMPAS.com - Indonesia
adalah negara kesatuan terbentuk dari unsur satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Indonesia
merupakan negara yang beragam mulai dari suku, agama, etnis, budaya dan termasuk negara yang
majemuk. Sebagai negara yang beragam, tentu Indonesia rentan dengan perpecahan. Persatuan dan
kesatuan menjadi kunci bangsa Indonesia untuk menjaga keberagaman tersebut. Persatuan dan
29

kesatuan adalah senjata paling ampuh bagi bangsa Indonesia untuk menjaga dan mempertahankan
keberagaman tersebut. Baca juga: PBNU Harap Masyarakat Teladani Gagasan Gus Sholah untuk Jaga
Persatuan dan Kesatuan Arti persatuan dan kesatuan Menerut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
persatuan adalah gabungan (ikatan, kumpulan, dan sebagaiannya) beberapa bagian yang sudah
bersatu. Sementara kesatuan adalah perihal satu. Keesaan yang bersifat tunggal. Berdasarkan istilah,
persatuan dan kesatuan berasal dari satu kata yang berati utuh atau tidak terpecah belah. Dikutip
situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), persatuan dapat diartikan sebagai
perkumpulan dari berbagai komponen yang membentuk menjadi satu. Sedangkan kesatuan
merupakan hasil perkumpulan tersebut yang telah menjadi satu dan utuh. Maka kesatuan erat
hubungannya dengan keutuhan. Sehingga persatuan dan kesatuan mengandung arti bersatunya
macam-macam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan yang utuh dan serasi. Persatuan
dan kesatuan bangsa tumbuh dari unsur-unsur sosial budaya masyarakat Indonesia sendiri. Makna
Persatuan dan Kesatuan Kebudayaan-kebudayaan dari luar juga masuk ke Indonesia melalui proses
akulturasi (percampuran kebudayaan). Baca juga: Mahasiswa Papua di Kalbar Ajak Jaga Persatuan
dan Kesatuan Bangsa Kebudayaan dari luar yang masuk ke Indonesia itu meliputi kebudayaan Hindu,
Islam, Kristen, dan unsur-unsur kebudayaan lain. Itu menjadikan kebudayaan di Indonesia semakin
beragam. Namun kebudayaan dari luar tidak sembarangan masuk ke Indonesia. Ada seleksi terlebih
dahulu. Dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan bersama dilakukan
dengan jalan musyawarah dan mufakat. Itulah yang mendorong terwujudnya persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia. Unsur-unsur sosial budaya seperti, jiwa gotong royong, sifat
kekeluargaan. Itu merupakan sifat-sifat pokok bangsa Indonesia yang dituntun oleh asas
kemanusiaan dan kebudayaan. Menjalin kebersamaan dan saling melengkapi harus dilakukan oleh
bangsa Indonesia. Itu adalah cara terbaik untuk dapat mempertahankan persatuan bangsa dari
adanya ancaman perpecahan antar anggota masyarakat. Sikap toleransi juga harus dijunjung tinggi
oleh masyarakat. Karena Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, etnis, maupun agama. Baca
juga: Humas Punya Peran Strategis Menjaga Kesatuan dan Kedaulatan Indonesia Prinsip Persatuan
dan Kesatuan Berikut prinsip-prinsip makna persatuan dan kesatuan: Bhineka Tunggal Ika Bhineka
tunggal ika memiliki arti berbeda-beda tapi tetap satu. Indonesia adalah negara beragam. Sehingga
masyarakat harus mengakui jika Indonesia negara yang beragama dan tetap satu sebagai bangsa
Indonesia. Nasionalisme Indonesia Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa
dan negara sendiri. Setiap warga negara harus memiliki rasa nasionalisme dan itu sangat penting.
Kebebasan yang bertanggung jawab Setiap manusia harus memiliki kebebasan dan tanggung jawab
bagi dirinya, sesama, negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Baca juga: Gus Sholah, Sang Pengingat
Pentingnya Menjaga Persatuan Wawasan Nusantara Adanya wawasan nusantara, maka tiap orang
akan merasa satu, senasib sepenanggungan. Pada wawasan nusantara ditempatkan dalam kerangka
kesatuan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Persatuan Pembangunan
untuk mewujudkan cita-cita reformasi Dengan persatuan pembangunan, maka setiap orang bisa
mengisi kemerdekaan dan melanjutkan pembangunan.

MK: Jaminan Sosial Buruh Kewajiban Perusahaan

Kompas.com - 08/08/2012, 20:14 WIB Bagikan: Komentar Penulis Aditya Revianur | EditorTri
Wahono JAKARTA, KOMPAS.com — Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi atas
Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja Pasal 4 Ayat (1) dan
UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 13 Ayat (1) yang diajukan serikat
buruh. Dengan mengacu pada hasil amar putusan MK tersebut, perusahaan tetap punya kewajiban
mengikutsertakan buruh dalam jaminan sosial, yaitu Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) dan
Jaminan Sosial Nasional (JSN). Namun, buruh juga punya hak untuk mendaftarkan sendiri jaminan
sosial tersebut dengan biaya perusahaan. "Mengabulkan permohonan para pemohon untuk
seluruhnya," ujar Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi, di sela putusan uji materi di Mahkamah
Konstusi, Jakarta, Rabu (8/8/2012). MK mengemukakan, peraturan perundangan tersebut
30

sebelumnya telah mewajibkan perusahaan untuk mendaftarkan buruhnya sebagai peserta Badan
Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS). Namun, hal tersebut belum mampu secara optimal menjamin
hak buruh atas jaminan sosial karena masih membuka peluang perusahaan untuk tidak
mendaftarkan buruh dalam jaminan sosial. "Pasal 4 Ayat (1) UU Jamsostek harus dibaca, Program
Jamsostek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib dilakukan oleh setiap perusahaan bagi tenaga
kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja sesuai dengan ketentuan undang-undang
ini dan pekerja berhak mendaftarkan diri sebagai peserta program jamsos atas tanggungan
perusahaan apabila perusahaan telah nyata-nyata tidak mendaftarkannya pada penyelenggara
jamsos," kata Ketua Majelis Mahfud MD. Pasal 13 Ayat (1) UU SJSN harus dibaca, "Pemberi kerja
secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial sesuai dengan program jamsos yang diikuti dan pekerja berhak untuk
mendaftarkan diri sebagai peserta program jamsos atas tanggungan pemberi kerja apabila pemberi
kerja telah nyata-nyata tidak mendaftarkan pekerjanya pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial."
Sementara itu, kuasa hukum pemohon, Andi Muhammad Asrun, berpendapat bahwa putusan ini
memiliki arti untuk memperkuat perlindungan bagi buruh untuk didaftarkan pada Jamsostek. Dia
menyebutkan dari segi materi, pendaftaran jamsostek tidak terlalu besar tapi efek bagi buruh untuk,
yakin akan perlindungan ketika melakukan pekerjaan adalah intinya. Dia juga menambahkan, semua
perusahaan harus mengetahui putusan MK ini. Jika masih ada perusahaan yang tidak menaati
putusan MK, maka akan dikenai tindak pelanggaran hukum pidana. Andi turut mendesak pemerintah
untuk patuh pada putusan MK dan membuat implemetasi secara teknis. Lebih jauh, ia
mengungkapkan, perlu berbagai pihak yang berkepentingan duduk bersama dan taat menjalankan
putusan MK. Putusan MK ini, menurut dia, mudah untuk diucapkan namun aplikasikanya diakuinya
tidak mudah. "Pasti akan ada pembangkangan dari perusahan yang sama sekali tidak punya niat
untuk memperhatikan kesejahteraan buruh. Jadi perlu duduk bersama semuanya untuk menentukan
apa yang harus dilakukan. Satu lagi, pemerintah harus mengeluarkan petunjuk teknis, jangan sampai
membuat petunjuk teknis yang merugikan buruh," terangnya. Pengujian UU ini sendiri dimohonkan
oleh Ketua Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia (ISBI) M Komaruddin dan dua karyawan PT
Megah Buana, M Hafidz dan Yuliyanti. Menurut pemohon, berlakunya pasal-pasal dalam UU
Jamsostek dan Jaminan Sosial Nasional telah merugikan hak konstitusional bagi pihak yang
seharusya mendapatkan kepastian hukum. Kerugian yang didasarkan pemohon lantaran banyaknya
perusahaan yang tidak mengikutsertakan pekerja mendapatkan program jaminan sosial. Meskipun
hal itu tidak dilakukan perusahaan, pihak perusahaan terancam pidana kurungan penjara maksimal
enam bulan atau dengan maksimal Rp 50 juta. Namun, sanksi tersebut tidaklah berupa ketentuan
mengikat yang mewajibkan perusahaan mendaftarkan buruhnya dalam program jaminan sosial.

Wirataparwa

Kitab Wirataparwa merupakan kitab keempat dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah
penyamaran para Pandawa beserta Dropadi. Sesuai dengan perjanjian yang sah, setelah 12 tahun
masa pengasingan, maka pada tahun ke 13 Pandawa mesti tidak diketahui keberadaannya selama 1
tahun penuh, apabila gagal maka pengasingan akan diulangi lagi selama 12 tahun berikutnya.
Pandawa kemudian melakukan penyamaran dan menuju ke kerajaan Wirata.
Yudistira menyamar sebagai Brahmana dengan nama Kanka dan menemani raja bermain dadu setiap
harinya. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak bernama Valala salah satu kegiatannya adalah
menemani Raja bergulat. Arjuna memanfaatkan Kutukan Bidadari Urwasi dengan menyamar sebagai
guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala. Mengajarkan tari dan musik pada Putri Uttara
(kakaknya juga bernama Uttara, namun dipewayangan jawa yang perempuan menjadi Utari). Nakula
menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran “Grantika” atau Dharmagranthi. Sadewa
pun memilih peran sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Droupadi menyamar sebagai
dayang istana bernama Sailandri melayani ratu Sudhesna.
31

Kichaka adalah kakak dari ratu Suhesna, Pengaruhnya ia di Istana adalah luar biasa, bahkan
masyarakan menyatakan bahwa Ia adalah raja yang sebenarnya dari kerajaan Matsya daripada
Wirata sendiri. Ia naksir Droupadi. Ia menolak dengan halus dengan menyatakan bahwa Suaminya
adalah Gandharwa yang membunuh siapa saja yang bersikap tidak sopan terhadapnya. Kichaka tidak
mempercayai itu dan tetap merayu Droupadi.
Droupadi menyatakan berkeberatan dengan tindakan kakak ratu tersebut. Ratu permulaan
membelanya, namun kakaknya dengan berbagai cara berbicara dengan adiknya betapa
menderitanya Ia karena merindukan Droupadi. Akhirnya mereka membuat rencana untuk menjebak
Droupadi. Ia menjebak Droupadi untuk datang kerumah Kinchaka membawakan Minuman dan
makanan, Droupadi menolak dan meminta agar dikirim orang lain, Ratu marah sehingga terpaksa
droupadi kesana. Benarlah! Kichaka dalam keadaan mabu dan bernafsu memaksanya,
mendorongnya, menendangnya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonohnya dihadapan
yang hadir di rumah Kichaka. Ia melupakan bahaya terbongkarnya penyamaran dan pergi ketempat
Bhima menceritakan keadaan itu.
Mereka kemudian melakukan rencana, bahwa malam keesokan harinya Droupadi akan membawa
Kichaka ke ruang tari. Disana Bhima sudah menunggunya. Saat itu yang seimbang bertarung gulat
dengan Kichaka hanyalah Bhima dan Balarama saja. Perkelahian terjadi dan Kichaka tewas.
Droupadi membangunkan penjaga dan menceritakan gangguan dari Kichaka padahal telah
diberitahu bahwa suami Gandharwanya akan menghabisi siapapun yang mengganggunya sambil
menunjukan mayat Kichaka yang remuk mengecil yang hanya dapat dilakukan oleh bukan kekuatan
manusia biasa. Cerita kematian Kichaka berkembang dimasyarakat kerajaan Matsya dan sangat
menakutkan bagi mereka bahwa Droupadi yang begitu cantiknya mempunyai suami Gandarwa yang
pencemburu sehingga berpotensi menyakiti siapa saja terutama keluarga kerajaan. Droupadi di
minta di usir dari kerajaan Wirata, padahal tinggal 1 bulan saja dari akhir masa pembuangan 12
tahun plus 1 para Pandawa.
Sementara itu mata-mata Duryodana hampir mulai menyerah untuk menemukan Pandawa dan
mereka mendengar kabar bahwa Kichaka tewas ditangan Gandharwa yang Istrinya diganggu.
Mereka tahu yang dapat membunuh Kichaka adalah Cuma dua orang di muka bumi ini. Salah
satunya adalah Bima dan Duryodana juga yakin bahwa istri Gandharwa itu adalah Droupadi.
Akhirnya Duryodana sampai pada rencana untuk menyerang Wirata. Melihat sifat Pandawa, mereka
pasti akan menolong kerajaan Wirata sebagai ucapan terima kasih dan apabila Pandawa tidak ada di
sana, paling tidak pundi kekayaan Duryodana menjadi meningkat. Raja Trigarta, Susarma juga hadir
saat itu dan kerajaan tersebut sudah lama merasa terganggu dengan Kichaka, saat ini Kichaka telah
tiada sehingga Wirata dalam keadaan lemah. Diputuskan Raja Susarma akan menyerang dari Selatan
dan Hastina dari Utara.
Yudistira, bertindak seperti pikiran Duryodana, kecuali Arjuna mereka semua membatu Kerajaan
Matsya beserta seluruh kekuatan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan
Trigartha, sekutu Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam keadaan
terancam oleh serangan pasukan Hastinapura.
Utara putera Wirata yang ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Brihanala (banci, samaran
Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang, Uttara sangat ketakutan melihat pasukan Kurawa yang saat
itu dlihatkan ada Bhisma, Drona, Kripa, Awatama, karna, Durydana dan ribuan lainnya. Ia membuang
busur dan lari, kemudian dikejar oleh Brhidnala kemudian dipaksa masuk Kereta. Sesampainya
mereka di dekat sebuah pohon Uttara diminta naik keatas untuk mengambil persenjataan Pandawa
yang disembunyikan di sana.
Kemudian Brihanala menyentakan Busur Gendewanya yang bunyinya bergema di seluruh tempat.
Bunyi itu sangat menakutkan pasukan Kourawa Kemudian ia meniupkan Terompetnya, Dewadatta
yang berkumandang dan makin menggentarkan pasukan Kourawa. Saat itu mereka berteriak-teriak
bahwa Pandava datang berkali2. Trompet itu menandakan berakhirnya masa pengasingan yang
jatuh tempo satu hari sebelumnya. Bhisma juga memberitahukan pada Duryodana bahwa menurut
pengetahuannya dan juga para ahli perbintangan maka tahun ke 13 masa pengasingan telah
32

berakhir kemarin. Duryodana di sarankan untuk segera berdamai, namun ia menolak dan
mengatakan tidak akan menyerahkan bahkan satu desapun kepada Pandawa serta memerintahkan
mereka untuk segera berperang. Kemudian Duryodana, sang putera Mahkota dillindungi bersama
kumpulan sapi2 yang hendak dijadikan hasil kemenangan saat itu.
Arjuna tampil seorang diri melawan seluruh pasukan Korawa. Sebelum mengejar Duryodana Arjuna
menyalami para Gurunya dan Bhisma dengan membidik Panah dekat kaki mereka. Saat ia mengejar
Duryodana, seluruh pasukan bergerak melindungi Duryodana, Arjuna membuat Karna keluar dari
arena, Ia mengalahkan Drona, Kripa, Aswatama dan akhirnya berperang Melawan Bisma.
Pertempuran antara Bisma dan Arjuna disaksikan para Dewa.
Kemudian Arjuna mengeluarkan sebuah panah yang membuah mereka semua menjadi tak sadarkan
diri. Kemudian ia merenggut semua pakaian merka. Kumpulan pakaian itu sebagai tanda
kemenangan di hari itu. Pasukan korawa pulang kandang dengan kekalahan memalukan ditangan
satu orang, Arjuna. Peristiwa kemenangan Arjuna atas serangan Hastinapura tersebut telah
membuat Utara berubah menjadi seorang yang pemberani. Ia ikut terjun dalam perang besar di
Kurukshetra membantu pihak Pandawa.
Sementara itu, pasukan Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata dengan
bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para Korawa seorang diri. Kanka
alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat
Wirata tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai berdarah.
Saat batas waktu penyamaran telah melebih batas waktu, kelima Pandawa dan Dropadi pun
membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat menyesal telah memperlakukan
mereka dengan buruk. Wirata merasa bersalah karena telah memperlakukan mereka dengan kurang
baik. Ia pun menyerahkan putrinya, Utaraa kepada Arjuna sebagai tanda penyesalan dan minta
maaf. Namun Arjuna menolaknya karena ia telah mengajar tarian dan kesenian pada mereka (dua
uttara), untuk itu Utaraa (putri) pun diambil sebagai menantu untuk dinikahkan dengan Abimanyu,
putranya yang tinggal di Dwaraka. Wirata pun berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha
mendapatkan kembali takhta Indraprastha. Saat itu ada utusan dari Duryodana yang meminta
mereka.

Negara beRasal dari bahasa asing


Menurut etimologi Negara beRasal dari bahasa asing “the State“ (bahasa Inggris) atau “de Staat“
(bahasa Belanda), “der Staat“ (bahasa Jerman), bahasa Prancis “l`Etat“ dan bahasa Italia “lo stato“.
Istilah staat mula-mula digunakan di Eropa Barat pada abad XV. Kata staat, state, dan etat berasal
bahasa Latin “Status“ atau “Statum“ yang berarti menempatkan dlam keadaan berdiri, membuat
berdiri, dan menempatkan. Kata status dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang menunjukkan
sifat atau keadaan tegak dan tetap.
Kata “negara“ yang lazim digunakan di Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta “nagari“ atau
“negara“ yang berarti wilayah, kota, atau penguasa. Sedangkan menurut bahasa suku-suku di
Indonesia negeri atau negara artinya tempat tinggal. Dalam buku Negara Kertagama karangan Mpu
Prapanca tahun 1365 menjelaskan tentang Negara Majapahit. Dalam buku digambarkan tentang
pemerintahan Majapahit yang menghormati musyawarah, hubungan antardaerah, dan hubungan
dengan negara-negara tetangga.
Negara adalah organisasi yang di dalamnya ada rakyat, wilayah yang permanen, dan pemerintahan
yang berdaulat baik ke dalam maupun ke luar. Dalam arti luas negara merupakan kesatuan sosial
yang diatur secara konstitusional untuk mewujudkan kepentingan bersama. Negara sebagai
organisasi puncak dan juga organisasi kekuasaan memunyai fungsi yang berbeda dengan organisasi
lain yang ada di negara tersebut. Sehingga para ahli merumuskan fungsi negara secara berbeda-beda
tergantung pada titik berat perhatian dan latar belakang perumusan tujuan dan fungsi negara
tersebut. Selain itu juga dipengaruhi oleh pendangan atau ideologi yang dianut oleh negara tersebut.
Miriam Budiardjo (1978 : 46) bahwa fungsi negara dirumuskan sebagai berikut:
33

a. Melaksanakan ketertiban (law and order) untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah
berbagai bentrokan dan perselisihan dalam masyarakat. Dalam hal ini Negara sebagai stabilisator.
b. Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Bagi negara-negara baru, fungsi dianggap
sangat penting karena untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat diperlukan campur
tangan dan peran aktif dari negara.
c. Fungsi pertahanan yaitu untuk menangkal kemungkinan serangan dari luar sehingga negara harus
dilengkapi dengan alat-alat pertahanan.
d. Menegakkan keadilan, yang dilaksanakan melalui badanbadan peradilan. Dari uraian di atas ,
salah satu fungsi negara yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa agar Negara
tetap tegak dan berdiri adalah fungsi pertahanan.
Dalam mewujudkan fungsi pertahanan negara harus memiliki alat-alat pertahanan dan peran serta
segenap warga negara dalam menyelenggarakan pertahanan negara sebagai upaya bela negara.
Peran serta warga negara dalam pembelaan negara merupakan tuntutan untuk mewujudkan fungsi-
fungsi negara.
Fungsi pertahanan dalam kehidupana negara sangat urgen dan merupakan prasyarat bagi fungsi-
fungsi yang lain sebab negara hanya dapat mejalankan fungsi ketertiban, kesejahteraan dan keadilan
apabila negara mampu mempertahankan diri dari berbagai hambatan, rintangan, dan ancaman baik
yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 27 Ayat 3
UUD 1945 bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
negara“. Dan ditegaskan pula dalam Pasal 30 Ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara“.

Hubungan Dasar Negara dan Konstitusi


Kompas.com - 27/01/2020, 07:00 WIB Bagikan: Komentar Warga mengunjungi Monumen Pancasila
Sakti di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/9/2014). Monumen tersebut
dibangun untuk menghormati para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan Tiga
Puluh September atau G-30-S/PKI pada 1965. Lihat Foto Warga mengunjungi Monumen Pancasila
Sakti di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/9/2014). Monumen tersebut
dibangun untuk menghormati para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan Tiga
Puluh September atau G-30-S/PKI pada 1965. (KOMPAS/ WAWAN H PRABOWO) Penulis Arum
Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Antara dasar negara dengan konstitusi
terdapat suatu hubungan yang berkaitan erat satu sama lain. Tahukah kamu bagaimana hubungan
antara dasar negara dan konstitusi? Hubungan dasar negara dan konstitusi Pancasila adalah dasar
negara Indonesia. Dasar negara Pancasila itu dipilih oleh wakil-wakil rakyat dalam sidang PPKI pada
18 Agustus 1945. Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 ( UUD 1945) adalah konstitusi
negara Indonesia. UUD 1945 disahkan pada 18 Agustus 1945, sebagai bukti UUD 1945 diakui sebagai
konstitusi negara Indonesia. Dikutip dari Kewarganegaraan (2006), rumusan Pancasila terdapat
dalam pembukaan UUD 1945 di alinea ke-4. Baca juga: Penghayatan Nilai-Nilai Pancasila Sebagai
Upaya Pencegahan Korupsi dan Terorisme Dengan demikian terdapat hubungan dasar negara
dengan konstitusi. Sebab rumusan dasar negara (Pancasila) terdapat dalam konstitusi (UUD 1945).
Hubungan antara dasar negara dengan konstitusi nampak pada gagasan dasar, cita-cita dan tujuan
negara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Dari dasar negara inilah kehidupan negara
dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Inti pembukaan UUD 1945 pada
hakikatnya terdapat dalam alenia IV sebab terdapat segala aspek penyelenggaraan pemerintahan
negara berdasarkan Pancasila. Oleh sebab itu, dalam Pembukaan UUD 1945, secara formal yuridis,
Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara Republik Indonesia. Maka, hubungan antara Pembukaan
UUD 1945 dengan Pancasila bersifat timbal balik. Berikut ini penjelasan mengenai hubungan Baca
juga: Jokowi: Di Negeri Pancasila, Negara Menjamin Kebebasan Beribadah Hubungan secara formal
Pancasila dicantumkan secara formal dalam Pembukaan UUD 1945, maka Pancasila memperoleh
kedudukan sebagai norma dasar hukum positif. Artinya, kehidupan bernegara tidak hanya bertopang
pada asas-asas sosial, ekonomi, politik tetapi juga perpaduan asas-asas kultural, religius dan
34

kenegaraan yang terdapat dalam Pancasila. Pancasila secara formal dapat disimpulkan sebagai
berikut: Rumusan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945 alinea keempat. Pembukaan UUD 1945 merupakan pokok kaidah negara yang
fundamental, yang mempunyai dua kedudukan yaitu sebagai dasar engara dan tertib hukum
tertinggi. Pembukaan UUD 1945 berkedudukan dan berungsi sebagai Mukadimah dari UUD 1945
dalam kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dan berkedudukan sebagai suatu yang bereksistensi
sendiri, yang hakikat kedudukan hukumnya berbeda dengan pasal-pasalnya. Pancasila mempunyai
hakikat, sifat, kedudukan dan fungsi sebagai pokok kaidah negara yang fundamental, sebagai dasar
kelangsungan hidup negara. Pancasila sebagai inti Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan
yang kuat, tetap, tidak dapat diubah dan terlekat pada kelangsungan hidup negara RI. Baca juga:
Sosialisasi Amendemen UUD 1945, Pimpinan MPR Kunjungi Grup Kompas Hubungan secara material
Secara kronologis, proses perumusan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 oleh BPUPKI, pertama-
tama materi yang dibahas adalah dasar filsafat Pancasila, baru kemudian Pembukaan UUD 1945.
Setelah sidang pertama Pembukaan UUD 1945, BPUPKI membicarakan dasar filsafat negara
Pancasila serta tersusunlah Piagam Jakarta yang disusun oleh Panitia 9 sebagai wujud bentuk
pertama Pembukaan UUD 1945. Jadi, berdasarkan tertib hukum Indonesia, Pembukaan UUD 1945
adalah sebagai tertib hukum tertinggi. Adapun tertib hukum Indonesia bersumber pada Pancasila
atau dengan kata lain, Pancasila sebagai tertib hukum Indonesia. Berarti, secara material tertib
hukum Indonesia dijabarkan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pancasila sebagai
tertib hukum Indonesia meliputi sumber nilai, sumber materi, sumber bentuk dan sifat.

Sejarah lambang negara


Lambang negara pertama kali dipakai pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 11
Februari 1950. Ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak yang selanjutnya disempurnakan
oleh Presiden Sukarno. Kemudian pada 15 Februari 1950 diperkenalkan untuk pertama kalinya di
Hotel Des Indes Jakarta. Menurut cerita kuno zaman dulu, burung Garuda adalah kendaraan Dewa
Wisnu yang merupakan dewa di ajaran agama Hindu.

Arti dan Makna Lambang Garuda Pancasila


Arti dan Makna Lambang Garuda Pancasila Dilansir dari situs Portal Informasi Indonesia, pada
lambang tersebut memiliki warna keemasan yang itu melambangkan keagungan dan kejayaan.
Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga
pembangunan. Pada Garuda Pancasila ada 17 helai bulu di masing-masing sayap, dan delapan helai
bulu pada ekornya. Lalu 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor, dan 45 helai bulu di
leher.

LHKPN dan Penyelenggara Negara


Kompas.com - 08/06/2015, 15:19 WIB Bagikan: Komentar Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi
Waseso, saat ditemui seusai menghadiri peresmian Prakarsa Anak Bhayangkara di Graha Purna Wira,
Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2015). Lihat Foto Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso, saat
ditemui seusai menghadiri peresmian Prakarsa Anak Bhayangkara di Graha Purna Wira, Jakarta
Selatan, Selasa (2/6/2015).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN) EditorLaksono Hari Wiwoho Oleh: W
Riawan Tjandra JAKARTA, KOMPAS - Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara sebagaimana
diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang
Bersih dan Bebas dari KKN dan Pasal 2 PP No 65 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemeriksaan
Kekayaan Penyelenggara Negara merupakan kewajiban yang tak boleh dielakkan oleh setiap orang
yang menduduki jabatan penyelenggara negara. Sebagai suatu kewajiban jabatan, pelanggaran
terhadap norma hukum itu dapat dikenai sanksi jabatan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, mulai dari sanksi etik bahkan sanksi pidana. Dalam UU Nomor 5 Tahun 2014
tersebar berbagai kewajiban yang mutlak harus ditaati setiap aparatur sipil negara, mulai dari norma
etik (ethical norm) sampai dengan norma hukum (legal norm) bagi setiap aparatur sipil negara
35

terutama melekat kewajiban untuk memberikan kepeloporan bagi aparatur sipil negara yang
memegang jabatan pimpinan tinggi. Demikian pula dalam UU No 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan mengatur dengan tegas bahwa setiap pejabat pemerintah dalam
menyelenggarakan fungsi pemerintahan tak boleh melanggar peraturan perundang-undangan
sebagai norma hukum tertulis (written law) maupun asas-asas umum pemerintahan yang baik
sebagai norma hukum tak tertulis (unwritten law). Mekanisme pelaporan Sebagaimana diberitakan
oleh banyak media massa termasuk Kompas, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal
Budi Waseso menyarankan agar mekanisme Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN)
diubah. Bukan lagi penyelenggara negara yang melaporkan, melainkan institusi penegak hukum yang
menelusurinya (Kompas, 29/5/2015). Bahkan, diberitakan pula di banyak media massa bahwa yang
bersangkutan hingga kini juga tak kunjung menyerahkan LHKPN kepada KPK sebagaimana
diperintahkan perundang-undangan bagi setiap penyelenggara negara tanpa kecuali. Lahirnya UU
Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN merupakan
amanat reformasi 1998 yang kemudian ditetapkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998
tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Fondasi norma hukum yang mengatur kewajiban bagi setiap penyelenggara negara untuk
menyerahkan LHKPN kepada KPK sebelum dan setelah menjabat diletakkan di atas beberapa prinsip
pokok yang perlu diperhatikan penyelenggara negara. Pertama, secara konstitusional, kewajiban
untuk menyerahkan LHKPN bagi setiap penyelenggara negara merupakan norma hukum yang oleh
konstitusi yang bermaksud membangun tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa,
checks and balances dan demokrasi, dianggap penting secara konstitusional (constitutionally
important). Kedua, Tap MPR RI Nomor XI/MPR/1998 yang dijadikan rujukan dalam pembentukan UU
Nomor 28 Tahun 1999 selama ini merupakan intermediate factor bagi keefektifan penegakan UU
Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
(UU Tipikor). Maka, kewajiban menyerahkan LKHPN menjadi kunci untuk melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan perilaku jabatan dari setiap penyelenggara negara. Penolakan menyerahkan
LKHPN mestinya bisa menjadi indikasi bagi penegak hukum untuk meningkatkan pengawasan efektif,
apalagi dalam UU Tipikor dianut asas pergeseran beban pembuktian (shifting burden of proof) yang
mewajibkan bagi tersangka tipikor untuk membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan tipikor dalam
persidangan (Pasal 37, 37A, 38 A-C UU Tipikor). Secara a contrario, dapat dikatakan bahwa justru
melalui LHKPN yang diserahkan di awal dan akhir jabatan penyelenggara negara dapat menjadi
pembuktian mengenai perilaku bersih bagi setiap penyelenggara negara baik sebelum, selama,
maupun setelah menjabat sebagai penyelenggara negara agar tak perlu diterapkan UU Tipikor.
Buktikan bersih Dengan kata lain, benarlah slogan yang menyatakan "Jika bersih, mengapa harus
risi??" Ketiga, menolak mematuhi norma hukum dalam UU Nomor 28 Tahun 1999 yang merupakan
mandat dari Tap MPR RI Nomor XI/MPR/1998 sama halnya dengan mencabut ruh reformasi 1998.
Hal itu jika dibiarkan akan menjadi preseden buruk yang menyebabkan kian lemahnya upaya
membangun pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Keempat, penolakan oleh siapa pun
penyelenggara negara untuk menyerahkan LHKPN selain secara hukum tetap dapat dikenai sanksi
administratif berupa pemberhentian dari jabatan, sanksi etik, maupun sanksi pidana, juga dapat
meruntuhkan kewibawaan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang berupaya membangun citra
publik melalui revolusi mental sebagai fondasi dari Nawacita. W Riawan Tjandra Pengajar Fakultas
Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta * Artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2015
dengan judul "LHKPN dan Penyelenggara Negara".

Home News Edukasi Milenial Jakarta Deklarasikan Anti Radikalisme dan Ekstrimisme
Kompas.com - 07/01/2019, 20:39 WIB Bagikan: Komentar Deklarasi Anti Ekstrimisme dan
Radikalisme di CFD Jakarta (6/1/2019) merupakan bagian dari rangkaian acara Convey Festival
#MeyakiniMenghargai, yang sebelumnya telah terlaksana di Yogyakarta dan Makassar, 9 dan 16
Desember 2018. Lihat Foto Deklarasi Anti Ekstrimisme dan Radikalisme di CFD Jakarta (6/1/2019)
merupakan bagian dari rangkaian acara Convey Festival #MeyakiniMenghargai, yang sebelumnya
36

telah terlaksana di Yogyakarta dan Makassar, 9 dan 16 Desember 2018.(Dok. Convey Festival)
Penulis Yohanes Enggar Harususilo | Editor Yohanes Enggar Harususilo KOMPAS.com - Lima remaja
naik ke atas panggung bertuliskan Convey Festival #MeyakiniMenghargai di area Car Free Day ( CFD),
Jalan Sudirman, Jakarta, lalu secara serempak menyatakan deklarasi "Anti Ekstrimisme dan
Radikalisme" (6/1/2019). Deklarasi ini kemudian diikuti lebih dari seratus generasi milenial lain di
bawah panggung dengan antusias. Deklarasi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Convey
Festival #MeyakiniMenghargai, yang sebelumnya telah terlaksana di Yogyakarta dan Makassar, 9 dan
16 Desember 2018. “Sudah banyak riset dan survei yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat
intoleransi dan radikalisme di berbagai kalangan masyarakat, terutama kalangan muda. Jadi sudah
bukan sebatas guliran isu saja. Berita ini perlu ditindaknyata," ujar Project Officer Convey Festival
#MeyakiniMenghargai, Hani Samantha melalui rilis yang diterima Kompas.com. Baca juga: Wapres JK
Mendorong Masjid Kampus Dapat Tangkal Paham Radikalisme Ia menambahkan, sebagian kita
masih menilai biasa-biasa saja sekedar penyebaran ujaran kebencian dan eksklusivism. "Tanpa kita
tahu dampak setelahnya pada orang yang kita hakimi berbeda dan menjadikan kita berani
melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka, tanpa kita tahu pula bahwa dampaknya lebih besar
yakni meruntuhkan keharmonisan bangsa yang lahir di atas keberagaman,” tegasnya. Hani
menyapampaikan, isu nir-toleransi dan ekstremisme dalam beberapa tahun belakangan makin
merebak. Kejadian bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga di markas polisi di Jawa Timur
tahun lalu makin menguatkan bahwa isu ektremisme dengan kekerasan di negeri ini bukan sekadar
isapan jempol. Convey Indonesia sendiri merupakan program diselenggarakan PPIM (Pusat
Pengkajian Islam dan Masyarakat) UIN Jakarta dan UNDP (United Nations Development Program)
bekerjasama dengan beragam komunitas dan organisasi penggerak perdamaian. Program ini
bertujuan mencegah ekstremisme kekerasan di Indonesia melalui serangkaian riset-survei, advokasi
kebijakan dan interaksi publik yang berbasis pada potensi pendidikan agama. Program Convey
Indonesia menyentuh isu-isu toleransi, kebhinekaan dan nir-kekerasan di kalangan generasi muda.
Survei Keberagamaan dilaksanakan PPIM pada 2017 menemukan 37,71% responden memaknai
Jihad sebagai perang. Bahkan, sepertiga responden berpendapat jika orang murtad itu harus
dibunuh dan 33,34% responden merasa bahwa tindakan intoleran kepada mereka yang berbeda
keyakinan tidak masalah. Melihat data yang mengejutkan ini Convey Indonesia berinisiatif
mengadakan berbagai kegiatan untuk mengampanyekan secara masif pesan perdamaian dan
toleransi antar sesama tanpa memandang perbedaan yang ada. Salah-satu kegiatan tersebut adalah
Convey Festival #MeyakiniMenghargai dengan salah satu rangkaian roadshow menyambangi area-
area CFD di beberapa kota.

Robohnya Kerukunan Beragama


Kompas.com - 25/09/2010, 03:09 WIB Bagikan: Komentar Editor Oleh Yenny Zannuba Wahid
Penganiayaan terhadap pengurus Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Asia Lumban Toruan, tidak
hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga luka pada bangunan kerukunan beragama di Indonesia.
Negara yang dibangun di atas fondasi perbedaan—mengambil bentuk kalimat klasik Majapahit
”Bhinneka Tunggal Ika”—ternyata begitu rapuh. Perbedaan tidak lagi menjadi perekat persatuan,
tetapi penyebab gesekan sosial di masyarakat. Inilah masalah yang dihadapi Indonesia kekinian.
Guncangan terhadap kerukunan beragama tidak bisa dianggap main-main. Sejarah menunjukkan
bagaimana negara hancur ketika pluralisme diabaikan. Kejadian di Balkan, Kashmir, Afganistan,
adalah sederet contoh kehancuran ketika perbedaan menjadi ajang untuk saling menghabisi.
Indonesia pun berpotensi serupa. Sedari awal, negeri ini berdiri di atas fondasi perbedaan etnis,
agama, bahasa, dan kelompok sosial yang berbeda-beda; sebuah rangka bangun yang sangat rentan
terhadap konflik. Salah satu persoalan pluralisme terletak pada penyikapan atas perbedaan agama.
Entah apa yang terjadi, sekelompok masyarakat kita enggan menoleransi perbedaan agama. Di mata
mereka, agama yang berbeda merupakan ancaman dan harus dihancurkan. Padahal, jaminan atas
sebuah keyakinan yang berbeda merupakan kata kunci kerukunan beragama. Tak dapat dimungkiri,
toleransi merupakan bagian inheren kehidupan manusia. Lewat toleransi, transformasi sosial terjadi.
37

Namun, sayang, potensi yang sebetulnya merupakan kekuatan justru dikoyak oleh chauvinisme
beragama. Akibatnya, kaum mayoritas menindas minoritas. Sejarah persekusi dan represi mayoritas
terhadap minoritas terjadi karena kesempitan pandangan dan kezaliman. Dalam sekelompok
masyarakat sering terjadi formalisasi ajaran agama berlebihan, yang berakibat pada penggencetan
kelompok lain yang berbeda. Ruang gerak dan kebebasan untuk menjalankan keyakinan dari
kelompok minoritas sengaja dilucuti sehingga terintimidasi meski sekadar untuk beribadah. Jelaslah,
ini bukan sekadar persoalan regulasi. Revisi tidak cukup Ketika kerukunan beragama retak,
regulasilah yang pertama diributkan, Akar persoalan tidak pernah ditangani. Ini khas bangsa kita,
meributkan asap tanpa mau bersusah payah mencari sumbernya. Regulasi memang harus diperbaiki,
tetapi jauh lebih penting untuk membangun kesadaran mayoritas untuk menghormati dan berjiwa
besar terhadap perbedaan keyakinan. Regulasi hanyalah bagian dari usaha membangun iklim
kerukunan beragama, tetapi bukan persoalan pokok yang menyulut penindasan kelompok mayoritas
terhadap minoritas. Problem pokoknya tetap pada relasi sosial yang timpang dan tidak adil. Tanggap
minoritas Dalam relasi sosial yang sehat, minoritas harus dilindungi. Sejarah menunjukkan,
penindasan terhadap minoritas justru melahirkan resistensi yang pada stadium selanjutnya akan
menyebabkan disintegrasi. Oleh karena itu, sense of minority menjadi penting dewasa ini. Kasus
HKBP di Bekasi dan kasus Ahmadiyah sebelumnya memperlihatkan bahwa sense of minority belum
dimiliki oleh sebagian warga negeri ini, termasuk beberapa pejabat negara. Alih-alih menegakkan
konstitusi, mereka malah menggunakan posisinya untuk melegitimasi represi terhadap kelompok
yang berbeda keyakinan meski Undang-Undang Dasar menjamin hak setiap warga berkeyakinan.
Padahal, etika agama apa pun selalu mengajarkan untuk melindungi yang lemah. Oleh karena itu,
wacana merevisi Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 tidak akan
bermakna apabila semangat sense of minority tidak ada. Peraturan ibaratnya bisa berubah setiap
hari, tetapi tanpa semangat menghormati dan melindungi minoritas, masalah akan tetap saja
muncul. Semangat inilah yang justru sering luput dari perhatian para pembuat regulasi. Mereka
hanya sibuk mengubah pasal demi pasal tanpa mau membongkar bangunan filosofis yang selama ini
selalu menguntungkan kelompok mayoritas. Di tengah ancaman semakin tipisnya batas toleransi
beragama, menjadi kebutuhan sekarang untuk menggemakan kembali semangat pluralisme. Ruang-
ruang untuk membangun relasi sosial keagamaan yang lebih terbuka akan bisa terwujud apabila
disadari bahwa pluralisme merupakan bagian kehidupan kita. Dengan adanya kesadaran tentang
pentingnya pluralisme, setiap pihak diharapkan menyadari bahwa sebagai manusia, kita tidak hanya
dianugerahi persamaan, melainkan juga perbedaan. Setiap manusia mempunyai ciri, karakter, dan
keyakinan masing-masing. Semua itu tidak bisa diseragamkan dengan cara apa pun. Hukum alam
mengakui keberadaan mayoritas dan minoritas bukan semata untuk saling menghabisi, melainkan
sebagai energi dialektika demi mencapai kemajuan peradaban umat manusia. Semoga saja adanya
sense of minority dalam rajutan social fabric kita dapat menghapus segala bentuk penindasan yang
dilakukan kaum mayoritas terhadap minoritas. Dengan demikian, robohnya kerukunan beragama di
negeri ini bisa segera diatasi bersama.

Antara Gajah Mada dan Rahwana

Kompas.com - 22/06/2011, 23:47 WIB Bagikan: Komentar EditorJodhi Yudono Oleh: Viddy AD Daery
*) budayawan, kolumnis, penyair, novelis, penulis naskah drama dan sinetron. Kontroversi yang
mengiringi artikel saya mengenai “Gajah Mada kelahiran Lamongan” bercuatan dengan seru, hampir
sebagian besar komentator lebih mengedepankan rasa chauvinisme sempit ketimbang memakai
rasio,logika dan intelektualitasnya. Saya yang sudah membaca lebih dari seribu buku kebudayaan ,
sejarah dan sosial-politik dengan mudahnya dituduh ngawur,enggak baca buku dan sebagainya.
Tetapi saya diam saja, karena sesungguhnya, apapun komentar mereka, setiap komentar yang
mencuat dari mulut mereka, justru memperlihatkan tinggi rendahnya intelektualitas mereka. Jumlah
mereka yang asal “ngocol”. Cuma sekitar 60 orang, tentu hanya setitik kecil daripada jumlah 51.490
orang pembaca yang diam, dan 1.052 orang yang berterus-terang mendukung artikel saya. Sebagian
38

dari pengkritik itu, dengan rasa chauvinisme sempit menyatakan bahwa Gajah Mada bukan
pahlawan, tetapi pengkhianat, agressor, penjajah dan sebagainya. Lucunya, mereka mengatakan,
seharusnya yang layak mendapat kesempatan menjadi penjajah dan agressor adalah kaum mereka.
Lhooo…gimana sih? Okelah,sekarang kita berhenti dulu membicarakan Gajah Mada, dan kita
sekarang membicarakan Rahwana. Nah,bagaimanakah kita menilai Rahwana??? Siapakah
penghancur kearifan lokal Nusantara ? Ternyata penghancurnya ialah pemerintah (pusat maupun
daerah), plus petinggi-petinggi parpol ( pusat maupun daerah ) plus pengusaha-pengusaha bervisi
babi-buta. Darimana kesimpulan itu? Dari berita-berita media massa Indonesia selama puluhan
tahun. Terutama media massa akhir-akhir ini, baik koran maupun televisi berita, akhir-akhir ini mulai
langsung tunjuk hidung, bahwa rezim penguasa sekarang adalah pengkhianat bangsa,
kleptokrat/pemerintahan para maling, penghancur bangsanya sendiri dan sebagainya. Masuk
akalkah seorang atau sekelompok pemimpin melakukan penghancuran terhadap bangsanya sendiri?
Seharusnya tidak masuk akal, tapi buktinya begitulah yang terjadi di Indonesia. Namun kisah itu
bukan barang baru, karena pernah terjadi, apakah ini cuma epos atau fiksi—perlu penelitian. Dalam
buku “Rahuvana Tattwa” karya Agus Sunyoto ( 2006 ), yang menjungkirbalikkan sudut pandang
kepahlawanan Ramayana, diceritakan bahwa Rahwana sebetulnya adalah pahlawan bagi bangsa
kulit berwarna. Sebagaimana sejarah dunia mencatat, benua India ( dalam buku “Rahuvana Tattwa”
disebut Negeri Jambudwipa ) dahulunya dikuasai oleh kaum kulitberwarna, dari sawomatang sampai
hitam legam. Mereka disebut dengan berbagai nama kesukuan, antara lain : Drawida, Wanara,
Raksasa, Bhuta,Denawa,Gandarwa, Asura, Naga, Garuda, Beruang dan sebagainya. Tentu itu fakta.
Antropolog telah menemukan sisa-sisa peradaban kaum Drawida yang sangat megah dan
berperadaban tinggi lewat situs-situs reruntuhan negeri Mohenjo Daro dan Harappa, sebagai negeri
kaum Drawida. Situsnya terletak di perbatasan India-Pakistan. Diperkirakan tahun jaya-jayanya kaum
Drawida di Mohenjo Daro dan Harappa adalah tahun 3000 SM sampai 1500 SM, jadi masa jayanya
berusia 1500 tahun. Kaum Bhuta juga masih memiliki negara yang kini disebut Bhutan. Sedang
bangsa-bangsa kulit-kulit hitam dengan campuran kulit terang maupun masih asli,kini menghuni
pulau Srilangka, dan sebagian menghuni India selatan. Sebagian lagi menyeberang ke Nusantara
menjadi Kaum Keling yang masih banyak terdapat di Aceh , Sumatera Utara dan tersebar di banyak
tempat, sedangkan yang tidak termasuk puak keling,namun termasuk wangsa Drawida atau
Weddoid dan Negrito tersebar di pulau-pulau timur Nusantara serta bermukim di hutan-hutan dan
puncak gunung yang akhirnya kini disebut suku-suku terasing Nusantara. Mengenai hal ini, perlu
kajian dan penelitian lebih lanjut oleh sarjana-sarjana ilmu antropologi ragawi. DIHANCURKAN OLEH
KOALISI ASING ARYA DENGAN KOMPRADOR PRIBUMI WIBISANA DKK. Sebagaimana sejarah
mencatat, India memang pernah diserang dan dijajah rayah oleh Alexander The Great dari
Macedonia-Yunani-Albania. Dialah bangsa Arya kulit putih yang kemudian membuat India menjadi
berbudaya “Semakin Arya”. Pertanyaannya, apakah periode Alexander The Great itukah yang
menginspirasi kisah Ramayana, ataukah sudah ada “Serangan Kaum Arya” lain sebelum Alexander
the Great, memang masih perlu diskusi, seminar, lokakarya dan penelitian. Alexander baru masuk
India sekitar 326 SM. Jadi, kemungkinan memang yang disebut Arya yang pertama ini adalah “Arya
yang buas” yakni bangsa Nomaden yang masuk dan menjarah India pada tahun 1500 SM. Mereka
adalah kaum “Mannu”. Dari istilah “Mannu” itu mereka mempopulerkan istilah “Mannu-sa” artinya
“Keturunan Mannu” sebagai konsep “bangsa yang beradab”. Dari situlah maka timbul sebutan
“Manusia” dari asal kata “Mannu-Sa” tadi. Sebaliknya, kaum hitam yang dijajahrayah mereka sebut
“bukan bangsa yang beradab”. Maka mereka memaksakan istilah “Bhota” sebagai buta—kaum yang
bodoh dan rakus, Raksasa sebagai bangsa pemakan daging mentah, Gandarwa jadi semacam
Genderuwo,Wanara disamakan dengan monyet, Naga setara dengan ular, Garuda seperti
burung...pokoknya dianggap binatanglah atau hantulah. Ironisnya, bangsa Mannu-sa itu aslinya tidak
punya nabi tidak punya kitab suci. Mereka bangsa pengembara yang “nabinya” hanyalah dukun-
dukun sihir dan peramal nasib. Maka, merekapun merebut kitab suci kaum Drawida yakni “Weda”
lalu dirusak dan ditambah-tambahi, jadilah “Weda versi rusak” yang dijadikan kitab suci bangsa Arya
sekarang. Nah,dalam buku “Rahuvana Tattwa” diceritakan, bahwa Rahwana adalah Raja yang
39

kekuasaannya meliputi India tengah sampai selatan plus “Salilabuwana” alias “Benua Air” yakni
Nusantara. Rahwana menyatukan kaum kulit-berwarna agar bersatupadu melawan Arya-penjajah
yang dipimpin oleh Dewa Indra yang licik, yang beristana di Indraloka—yang disetarakan dengan
surga. Kebetulan, pahlawan dari bangsa Arya, yakni Rama menyia-nyiakan Sita isterinya. Rahwana
sebagai raja dari bangsa yang menjunjung tinggi wanita—matriarkat—tidak tega melihat wanita
cantik di”KDRT” oleh suaminya yang berbudaya patriarkat, maka diapun merebut Sita. Akhirnya
terjadilah perang antara Rama-Arya-kaum asing penjajah melawan Rahwana yang
mengkoordinasikan kaum pribumi kulit berwarna untuk bergerak mencetuskan “REVOLUSI”
melawan penjajah. Kaum Arya hampir saja kalah, kalau tidak ditolong oleh komprador ( pengkhianat
bangsa ) yakni Wibisana—adik tiri Rahwana sendiri--bersama para anggota “Koalisinya” yakni antara
lain Hanoman, Jembawan, Anggada, Anila, Sugriwa dan para pengikutnya. Wibisana membocorkan
rahasia-rahasia kesaktian Rahwana hingga akhirnya Rahwana dapat dikalahkan oleh Rama, itupun
dengan cara dikeroyok dengan para anggota koalisi kompradornya. Nah,kita ingin bertanya :
“Motivasi apakah Wibisana mau mengkhianati dan menghancurkan bangsa dan negaranya sendiri?”
Jawabannya adalah “Motivasi kekuasaan”, jadi Wibisana ingin menjadi raja Alengka tapi takut
dengan kakaknya, yakni Rahwana. Jalan satu-satunya adalah berkhianat dengan bekerjasama
menjadi agen kaum asing-penjajah. Sekarang kita juga ingin bertanya : “Motivasi apakah para
pemimpin Indonesia dari jenis atau golongan pengkhianat—kok mau mengkhianati bangsanya?”
Jawabannya tentu “Motivasi kekuasaan yang artinya adalah uang dan kenikmatan”, meskipun
nantinya negara dan bangsanya akan hancur. Maka, yang sekarang perlu digemakan adalah “Tiba
saatnya REVOLUSI !!!!” untuk menghancurkan “Mental komprador” yang menghancurkan Nusantara
kita. Kini saatnya Nusantara menemukan jatidirinya sendiri! Dan tidak lagi menghamba kepada
“semua yang berbau asing” yang belum tentu sesuai dengan “kearifan budaya lokal Nusantara”!!!!
Di mana-mana sekarang mulai ada kelompok-kelompok diskusi yang menyiapkan konsep-konsep
agar kita kembali ke jatidiri “Manusia Indonesia” yang asli, bukan manusia Indonesia yang
karakternya dipoles oleh penjajah asing via para komprador-- yaitu lembaga-lembaga yang
kegiatannya selalu kampanye pro-budaya asing dan didanai oleh kucuran deras dana-dana asing.