Anda di halaman 1dari 36

1

DIMENSI PANCASILA DAN PENGERTIAN FUNGSI MAKNA SERTA NILAI YANG TERKANDUNG

Sebagai ideologi terbuka dan dasar negara Indonesia Pancasila memiliki 4 dimensi pancasila yang
utama. Dimensi ini tentunya sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang memilih Pancasila
sebagai dasar negara Republik Indonesia. Hal ini jelas diatur sedemikian detail-nya oleh sejarah
mengenai Pancasila sebagai dasar negara yang paling tepat untuk bangsa ini. Bangsa yang hidup
bersama dengan keberagaman, pluralistic mulai dari agama, adat istiadat, ras, suku dan juga ragam
budaya. Meskipun hidup dari banyak keragaman Pancasila dipilih sebagai dasar negara untuk
mempersatukan bangsa ini. Demi kehidupan yang adil dan makmur tanpa adanya perbedaan satu
sama lain. Bahwa seluruh bangsa Indonesia memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Untuk
mengatur pelaksanaannya dengan baik maka ada penjelasan mengenai dimensi pancasila yang harus
diterapkan semua rakyat Indonesia. Baik untuk kehidupan bernegara, kehidupan bermasyarakat dan
juga kehidupan bernegara. Bahkan penjelasan mengenai dimensi pancasila sesuai dengan
penetapan Pancasila sebagai ideologi terbuka bagi seluruh bangsa Indonesia. Hal ini jelas memiliki
manfaat yang besar untuk mengatus seluruh pelaksanaan kehidupan sehari-hari. Terutama bagi
penerapan kehidupan tata negara atau pemerintahan negara Indonesia agar berjalan dengan baik.
Maka seluruh rakyat Indonesia harus mengetahui penjelasan dimensi pancasila sebagai ideologi
terbuka untuk bangsa ini.
Berikut Ini Penjabaran Mengenai Dimensi Pancasila, Pengertian, Fungsi, Makan Dan Juga Nilai Yang
Terkandung Di Dalamnya!
Apa saja dimensi pancasila yang harus anda ketahui sebagai bangsa Indonesia yang baik sudah
sepantasnya harus anda ketahui. Agar penerapan dan pelaksanaan Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia tidak menyimpang atau keluar dari aturan yang semestinya. Berikut ini dimensi pancasila
sebagai ideologi terbuka bangsa Indonesia adalah:
Dimensi Idealitas
Pertama dimensi pancasila adalah dimensi idelitas yang memiliki makna Pancasila terkandung pada
nilai dasar sebagai ideologi. Selain itu menurut dimensi pancasila idealitas ini bahwa Pancasila
sebagai cita-cita ideal yang akan diwujudkan pada semua bidang kehidupan yang ada di Indoensia.
Dimensi Normatif
Kedua dimensi pancasila yang harus anda ketahui adalah dimensi normatif. Makna dari dimensi
pancasila normatif ini bahwa dimensi idealitas yang ada pada Pancasila kemudian diajarkan dengan
bentuk norma. Yang merupakan bagian dari norma kenegaraan.
Dimensi Realitas
Ketiga dimensi pancasila yang harus anda ketahui adalah dimensi realitas. Dimensi pancasila realitas
ini memiliki makna bahwa nilai yang terkandung pada ideologi Pancasila sudah mengakar dalam
kehidupan nyata seluruh masyarakat Indonesia.
Dimensi Fleksibilitas
Terakhir dimensi pancasila adalah dimensi fleksibilitas yang harus and ketahui. Dimensi pancasila
fleksibilitas ini memiliki makan bahwa ideologi memiliki keluwesan. Sehingga mampu berjalan serta
berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan juga pemikiran baru. Namun tidak
menghilangkan hakikat dan nilai dasar yang terkandung pada Pancasila.
Selain dimensi pancasila yang harus anda ketahui adalah pengertian dari ideologi Pancasila sendiri
sebagai dasar negara Indonesia. Ideologi Pancasila merupakan nilai luhur agama dan juga
kebudayaan Indonesia. Pancasila memiliki kedudukan sebagai dasar negara dan juga sebagai
ideologi Republik Indonesia. Ideologi Pancasila bisa diartikan sebagai kumpulan dari nilai dan juga
norma yang berdasarkan dengan sila-sila Pancasila. Ada lima sila yang dikenal pada Pancasila
adalah:

Ketuhanan Yang Maha Esa


Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Persatuan Indonesia
2

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan


Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sebagai dasar negara yang memiliki dimensi pancasila untuk diketahui dalam pelaksanaannya.
Pancasila sebagai dasar negara pun memiliki arti yang mendalam. Dasar negara sendiri sebagai
landasan bagi pelaksanaan kehidupan bernegara dan juga berbangsa yang mengatus jalannya
seluruh penyelenggaraan negara. Dasar negara yang dijadikan sebagai pedoman pelaksanaan hidup
juga melingkupi tujuan negara, cita-cita negara, dan norma bernegara. Bayangkan jika suatu negara
tidak memiliki dasar negara atau tujuan penyelenggaraan kehidupan bernegara. Pasti akan timbul
suatu kekacauan yang terjadi pada suatu negara yang membuat dampak tidak baik tentunya.
Tidak hanya dimensi pancasila yang diatur dan dijabarkan secara jelas namun juga fungsi Pancasila
sebagai ideologi negara. Berikut ini beberapa fungsi Pancasila adalah:
Pancasila sebagai alat untuk menyatukan bangsa Indonesia
Selain itu pancasila memperkokoh dan juga memelihara rasa kesatuan dan persatuan seluruh
rakyat Indonesia
Pancasila menjadi dasar untuk membimbing dan juga mengarahkan bangsa Indonesia dalam
mencapai sebuah tujuan
Ideologi Pancasila dan dasar negara Pancasila menumbuhkan kemauan untuk memelihara dan
mengembangkan identitas bangsa Indonesia
Pancasila menerangi dan juga mengawasi keadaan, sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita
yang ada pada Pancasila
Sebagai pedoman bagi seluruh bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari
Pancasila sebagai ideologi terbuka bangsa Indonesia memiliki makna yang mendalam pastinya.
Adapun makna Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia adalah:
Nilai yang tercantum pada Pancasila sebagai cita-cita normatif untuk seluruh sistem
penyelenggaraan suatu negara.
Nilai yang ada pada Pancasila sebagai nilai yang telah disepakati bersama dan menjadi salah satu
alat atau saran untuk menyatukan seluruh masyarakat Indonesia
Penentuan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia selain memiliki makna dimensi pancasila,
pastinya juga memiliki nilai di dalamnya. Adapun nilai yang terkandung pada Pancasila sebagai dasar
negara Indonesia adalah:
Nilai Pancasila Bersifat Objektif
Rumusan sila yang ada pada Pancasila dari sila pertama hingga kelima memiliki makna yang
terdalam.
Pada pembukaan UUD 1945, Pancasila tersimpan sebagai pokok kaidah atau aturan negara yang
sangat mendasar.
Nilai Pancasila sebagai dasar negara akan selalu berkembang pada seluruh kehidupan bangsa
Indonesia.
2. Nilai Pancasila Bersifat Subjektif
Nilai pada Pancasila timbul dan berasal dari bangsa Indonesia.
Nilai yang ada pada Pancasila memuat nilai-nilai kerohanian.
Nila yang terkandung di Pancasila sebagai pandangan hidup bagi bangsa Indonesia.
Nilai yang ada pada Pancasila di dalamnya terdapat nilai yang tumbuh dan berkembang dari
budaya
dan asal usul bangsa dan negara Indonesia.
Demikianlah penjelasan mengenai dimensi pancasila, pengertian, fungsi, makna dan nilai yang
terkandung di dalamnya. Semua bangsa Indonesia harus tahu hal ini dan harus dipelajari sebaik
mungkin demi menjalankan kehidupan sebaik mungkin. Tentunya jika semua kehidupan di jalankan
berdasarkan pedoman dari dasar negara Pancasila pasti akan terlaksana dengan baik kehidupan
bangsa Indonesia. Dimana bangsa ini hidup dalam keragaman, dari berbagai sisi mulai dari agama,
adat istiadat, suku, ras, etnis, budaya bahasa dan lainnya. Pancasila dipilih sebagai ideologi terbuka
dan dasar negara bangsa Indonesia untuk menyatukan perbedaan yang ada pada bangsa ini. Agar
3

terwujud kehidupan bangsa Indonesia yang adil dan makmur serta harmonis untuk Indonesia yang
lebih maju dan berkembang dengan baik.

Prahara Politik Sultan Hamid II - SINGKAP

Banyak berjasa bagi bangsa dan negara bukanlah jaminan akan dikenang selamanya. Hal ini terjadi
pada Sultan Hamid II yang 'tersingkir' oleh lawan politiknya.
Padahal lambang negara republik Indonesia, garuda pancasila, berasal dari dirinya.
Di satu sisi dia disingkirkan, di satu sisi dia sudah mempertahankan kedaulatan dan pengakuan NKRI
di mata dunia lewat konferensi meja bundar (KMB).

Mari Maknai isi Pembukaan UUD 1945 Sebagai Dasar Langkah Generasi untuk #SelamatkanIndonesia
30 Maret 2014 06:43 Diperbarui: 24 Juni 2015 00:18 6289 0 0

Makna Pembukaan UUD 1945 bagi Perjuangan Bangsa Indonesia


Undang-Undang Dasar 1945 kedudukannya di Republik ini merupakan sumber hukum tertinggi dari
hukum yang berlaku di Indonesia, sedangkan Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber dari
motivasi dan aspirasi perjuangan serta tekad bangsa Indonesia untuk mencapai tujuannya,
Pembukaan juga merupakan sumber dari “cita hukum” dan” cita-cita moral” yang ingin ditegakkan
baik dalam lingkungan nasional maupun dalam hubungan pergaulan bangsa-bangsa di dunia.
Maka mari maknai dengan baik untuk melakukan upaya pergerakan untuk #SelamatkanIndonesia.

Arti dan Makna Alenia Pembukaan UUD 1945

• Alenia Pertama
“ Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri
keadilan”
Dalam kalimat “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa…” terkandung suatu pengakuan
tentang nilai “hak kodrat” . Hak kodrat adalah hak yang merupakan karunia dari Tuhan yang Maha
Esa, yang melekat pada manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Pelanggaran terhadap
hak kemerdekaan tidak sesuai dengan hakikat manusia (peri kemanusiaan) dan hakikat adil (peri
keadilan) dan atas pelanggaran tersebut maka harus dilakukan suatu pemaksaan, yaitu bahwa
penjajahan harus dihapuskan. Deklarasi kemerdekaan atas seluruh bangsa atas seluruh bangsa di
dunia yang terkandung dalam alenia pertama merupakan suatu pernyataan yang bersifat universal.
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka
penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan”
Dengan kata lain,Isi dan makna alenia 1 menyatakan bahwa :
Bangsa Indonesia berpendirian anti penjajahan.
Bangsa Indonesia berpendirian bahwa Kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
Bangsa Indonesia bertekad untuk Merdeka.
Bangsa Indonesia bertekad akan berjuang menentang setiap bentuk penjajahan dan mendukung
kemerdekaan setiap bangsa
• Alenia Kedua
“ Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat yang bebahagia
dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur “
Perwujudan kemerdekaan bangsa Indonesia disamping sebagai suatu bukti obyektif atas penjajahan
pada bangsa Indonesia, juga sekaligus mewujudkan suatu hasrat yang kuat dan bulat untuk
4

menentukan nasib sendiri, terbebas dari kekuasaan bangsa lain. Hasil dari perjuangan tersebut
terjelma dalam suatu Negara Indonesia dengan kemampuan dan kekuatan sendiri untuk menuju
cita-cita bersama yang berkeadilan dan berkemakmuran. Demi terujudnya cita-cita tersebut maka
bangsa Indonesia harus merdeka, bersatu dan mempunyai suatu kebulatan.
Dengan kata lain, makna alenia 2 :
Bangsa Indonesia menghargai atas perjuangan bangsanya.
Adanya ketajaman dan ketepatan penilaian bahwa: perjuangan pergerakan di Indonesia telah
sampai pada tingkat yang menentukan, momentum yang tepat itu harus dimanfaatkan untuk
menyatakan kemerdekaan, kemerdekaan tersebut harus diisi dengan mewujudkan negara Indonesia
yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
• Alenia Ketiga
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya”
Pengakuan ‘nilai religius’ dalam pernyataan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”
mengandung makna bahwa Negara Indonesia mengakui nilai-nilai religious, amerupakan dasar dari
hokum positif negara maupun dasar moral negara. Pengakuan ‘nilai moral’ yang terkandung dalam
pernyataan “didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas”
mengandung makna bahwa negara dan bangsa Indonesia mengakui nilai-nilai moral dan hak kodrat
segala bangsa. Pernyataan kembali ke proklamasi dalam kalimat ”…maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Hal ini dimaksudkan sebagai penegasan dan rincian lebih
lanjut naskah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Dengan kata lain,Isi dan makna alenia 3 menyatakan :
Pengukuhan atas Proklamasi Kemerdekaan.
Memuat motivasi spiritual yang luhur bahwa pernyataan Kemerdekaan itu diberkati Allah Yang
Maha
Esa.
Ketaqwaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Keinginan yang didambakan oleh segenap bangsa Indonesia terhadap suatu kehidupan yang
berkesinambungan antara kehidupan material dan spiritual, dan kehidupan dunia maupun akhirat
• Alenia Keempat
“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang Undang Dasar Negara Indonesia, yang
terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuaan
Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”
Dalam alenia ke empat termuat prinsip-prinsip serta pokok-pokok kaidah pembentukan
pemerintahan Negara Indonesia seperti yang disimpulkan dari kalimat “…Kemudian dari pada itu
untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia…”. Pemerintahan dalam susunan kalimat
“Pemerintahan Negara Indonesia…” maksudnya dalam pengertian sebagai penyelenggaraan
keseluruhan aspek kegiatan Negara dan segala kelengkapannya (government) yng berbeda dengan
pemerintahan Negara yang hanya menyangkut salah satu aspek saja dari kegiatan penyelenggaraan
Negara, yaitu aspek pelaksana (executive)
5

Dengan kata lain,Isi dan makna alenia 4:


Prinsip-prinsip kenegaraan :
1) Tujuan Negara
• Tujuan Khusus: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
• Tujuan Umum: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
2) Ketentuan diadakannya UUD Negara (“…maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu
dalam suatu Undang Undang Dasar Negara Indonesia…”)
3) Bentuk Negara (“…yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat…”)
4) Dasar filsafat Negara (“…dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang
adil dan beradab, persatuaan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia”)
Alinea ini juga bisa di katakan mengandung pengertian:
1) adanya keinginan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia
2) adanya keinginan untuk memajukan kesejahteraan umum
3) adanya keinginan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa;
4) ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi
5) menyatakan dasar negara, yaitu Pancasila

Biografi Soepomo, Perumus Pancasila dan UUD 1945

Soepomo kemudian menyampaikan usulannya soal dasar negara. Menurut dia, ada lima prinsip yang
bisa dijadikan dasar negara. Lima prinsip itu yakni: Persatuan Kekeluargaan Keseimbangan lahir dan
batin Musyawarah Keadilan rakyat
Kompas.com - 06/12/2019, 15:59 WIB Bagikan: Komentar (1) Soepomo di ruang kerjanya sebagai
Duta Besar RI untuk Inggris di London. Lihat Foto Soepomo di ruang kerjanya sebagai Duta Besar RI
untuk Inggris di London. (Biografi Prof. Mr. Dr. R. Supomo (1977)) Penulis Nibras Nada Nailufar |
Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Nama Dr. Soepomo mungkin lebih dikenal sebagai jalan
di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Namanya memang diabadikan di jalan Jakarta dan sejumlah kota
lain di Indonesia atas jasanya yang besar. Dr Soepomo adalah salah satu perumus dasar negara yakni
Pancasila. Ia juga ikut menyusun Undang-undang Dasar 1945. Dikutip dari Biografi yang disusun
Direktorat Jenderal Kebudayaan, Soepomo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah pada 22 Januari 1903.
Meski berasal dari kota kecil, Soepomo lahir dari keluarga yang terpandang di sana. Ia adalah putra
pertama Raden Tumenggung Wignyodipuro, pejabat Bupati Anom Inspektur Hasil Negeri Kasunanan
Surakarta Hadiningrat. Baca juga: Para Tokoh di Balik Lahirnya Pancasila Kakeknya, KRT
Reksowadono, adalah Bupati Sukoharjo. Kendati terlahir ningrat, Soepomo tak memiliki jiwa feodal
seperti keluarga kepala daerah umumnya. Ia digambarkan sebagai anak yang sederhana dan rendah
hati. Berprestasi di sekolah Sebagai anak bangsawan, Soepomo mendapat kehormatan untuk
bersekolah di sekolah dasar untuk anak-anak Belanda dan bangsawan yakni Europeesche Lagere
School di Solo. Soepomo menamatkan sekolah pada 1917, di usia yang cukup muda yakni 14 tahun.
Ia kemudian melanjutkan sekolah ke tingkat berikutnya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
yang ada di Solo juga. Baca juga: Ingat MULO dan HBS? Ini Beberapa Sekolah Umum pada Masa
Hindia Belanda Soepomo remaja menamatkan sekolah pada 1920 dengan prestasi yang gemilang. Di
sekolah ini pula, Soepomo bertemu dengan Raden Ajeng Kushartati, gadis keraton yang kelak
menjadi istrinya. Selepas lulus dari MULO, Soepomo kemudian melanjutkan sekolah hukum ke
Rechtscool di Jakarta pada 1920. Di Jakarta, Soepomo mulai bergaul dengan pemuda-pemuda lain
yang tergabung dalam pergerakan nasional. Soepomo lagi-lagi menuai prestasi dengan menamatkan
6

Rechtscool pada 1923 dengan hasil yang memuaskan. Pada 16 Mei 1923, ia diangkat sebagai
pegawai negeri dengan penempatan Pengadilan Negeri di Sragen, kota tempat kakeknya, RT
Wirjodiprodjo menjabat sebagai Bupati Nayaka Kabupaten Sragen. Baca juga: Asal-usul Indonesia,
dari Catatan Bung Hatta sampai Peran STOVIA Pekerjaan yang disenanginya itu harus
ditinggalkannya pada 12 Agustus 1924. Saat itu, Soepomo mendapat programstudieopdracht atau
pertukaran pelajar. Belajar pergerakan di Belanda Di usia 21 tahun, Soepomo mengejar cita-citanya
menjadi ahli hukum dengan menimba ilmu di Fakultas Hukum di Universiteit Leiden. Ia
memperdalam diri dalam peminatan hukum adat. Di sana, Soepomo juga bergabung dengan
organisasi Indonesische Vereniging atau Perhimpunan Indonesia. Perkumpulan yang berubah
menjadi organisasi politik itu mengajarkan nilai-nilai pergerakan untuk kemerdekaan kepada
Soepomo. Soepomo bersama teman-temannya di Belanda. Lihat Foto Soepomo bersama teman-
temannya di Belanda.(Prof. Mr. Dr. R. Supomo (1977)) Selain aktif di pergerakan, Soepomo juga aktif
di kesenian. Jiwa seninya terlihat dari tariannya yang berbakat. Lewat berbagai pentas, Soepomo
ingin menunjukkan Indonesia adalah bangsa dengan peradaban yang tinggi. Keahlian menari itu
diwarisi dari seorang pangeran keraton bernama Sumodiningrat. Soepomo bahkan sempat menari
dalam pagelaran di Paris pada 1926. Baca juga: Keraton Kartasura, Istana yang Menjadi Pemakaman
Setahun kemudian, pada 14 Juni 1927, Soepomo meraih gelar Meester in de rechtern (Mr) atau
magister hukum dengan predikat summa cum laude. Disertasinya yang berjudul De Reorganisatie
van het Agrarisch stelsel in het Gewest Soerakarta juga membuatnya langsung meraih gelar doktor.
Semua diraih dalam usia 24 tahun. Kendati sibuk sekolah, Soepomo muda tetap tak lupa pada
pujaan hatinya semasa sekolah di Solo. Takdir mengantarkannya bertemu kembali dengan Raden
Ajeng Kushartati. Saat pesta perkawinan emas Ratu Wilhelmina di Belanda, Supomo bertemu
dengan kedua orangtua Raden Ajeng Kushartati. Soepomo meminta restu untuk mengawininya.
Perkawinan pun dilaksanakan di Indonesia setelah Soepomo kembali. Baca juga: Villa Yuliana,
Persembahan untuk Putri Ratu Wilhelmina di Kabupaten Soppeng Jadi hakim dan profesor
Sekembalinya ke Tanah Air, Soepomo menjalani beberapa profesi. Di antaranya, Ketua Pengadilan
Negeri Yogyakarta, Direktur Justisi di Jakarta, hingga Guru Besar hukum adat pada Rechts Hoge
School di Jakarta. Pekerjaan Soepomo mengharuskannya meneliti ke lapangan. Ia turun ke rumah
penduduk dan dan melihat bagaimana kebodohan membelenggu rakyat. Soepomo menilai keadaan
itu hanya bisa diperbaiki lewat pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Soepomo kerap memberi
penyuluhan dan bantuan kepada masyarakat. Dikutip dari Ensiklopedia Tokoh Nasional, Prof. Mr.
Soepomo (2017), cita-cita luhur Soepomo membuatnya bergabung dengan organisasi Budi Oetomo.
Seperti organisasi dan partai politik lainnya, Budi Oetomo juga mencita-citakan kemerdekaan
bangsa. Caranya, lewat pendidikan bagi seluruh anak bangsa. Baca juga: Boedi Oetomo, Sang
Penanda Kebangkitan Nasionalisme Kiprah Soepomo cukup menonjol di organisasi itu. Pada 1930, ia
pun dipercaya menjabat wakil ketua. Di sisi lain, profesinya sebagai hakim membuatnya dilematis.
Saat itu, Pemerintah Kolonial Belanda memberlakukan serangkaian aturan yang melarang orang
berkumpul dan berserikat dalam kegiatan politik. Sejumlah tokoh nasional pernah dijebloskan ke
penjara karena aturan-aturan ini. Soekarno pernah masuk penjara Sukamiskin, Bandung hingga Ende
dan Bengkulu. Begitu pula Hatta, Sutan Syahrir, Amir Syarifuddin, Sayuti Melik, dan banyak nama
lainnya. Soepomo yang dalam hati mendukung pergerakan yang dilakukan para tokoh, terikat pada
pekerjaannya sebagai pegawai pemerintahan. Baca juga: Ende, Tempat Soekarno Merenungkan
Pancasila Sebagai hakim, ia harus menjatuhkan hukuman yang dibuat Belanda kepada saudara
sebangsanya sendiri. Soepomo berusaha membantu perjuangan dengan cara memberi saran kepada
para pejuang untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi. Ia juga kerap mendebat aparat polisi yang
menangkap pejuang. BPUPKI lalu PPKI Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, Soepomo
melakoni peran baru sebagai Mahkamah Agung (Saikoo Hoin) dan anggota Panitia Hukum dan Tata
Negara. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Kepala Departemen Kehakiman (Shijobuco).
Soepomo menerima pekerjaan itu karena di era pendudukan Jepang, para pejuang memilih tak
melawan dan kooperatif dengan militer Jepang yang keras. Jepang yang awalnya diharapkan sebagai
saudara dari Timur yang akan membebaskan Indonesia dari penjajahan, malah membuat kehidupan
7

rakyat makin terpuruk. Baca juga: Benarkah Indonesia Dijajah Belanda Selama 350 Tahun? Kebijakan
Jepang yang asal-asalan membuat rakyat hidup sengsara dan kelaparan. Rakyat terus menagih janji
Jepang untuk memberikan kemerdekaan Indonesia. Perang Dunia Kedua yang menghimpit Jepang
pada 1944, mengkhawatirkan banyak pihak termasuk Soepomo. Para tokoh pergerakan khawatir
Jepang batal memberikan kemerdekaan yang dijanjikan. Jepang tak bisa berkelit. Untuk melunasi
janjinya, mereka membentuk satu badan yang bertugas mempersiapkan dan merancang berdirinya
negara yang merdeka dan berdaulat. Pada 26 April 1945, badan itu, Dokoritsu Zyumbi Coosakai atau
Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dibentuk. Soepomo, bersama Bung
Karno, Bung Hatta, AA Maramis, Abdul Wahid Hasyim, dan Moh Yamin direkrut ke dalamnya. Baca
juga: Hari Ini dalam Sejarah: PPKI Mulai Bekerja Siapkan Kemerdekaan RI Masing-masing
mengemukakan pendapatnya soal pemikiran untuk menjadi dasar negara. Soepomo, pada 31 Mei
1945, mengajukan lima prinsip. Kelima prinsip sebagai dasar negara itu adalah persatuan, mufakat
dan demokrasi, keadilan sosial, serta kekeluargaan, dan musyawarah. Soepomo juga menyampaikan
konsep negara kesatuan untuk diberlakukan di Indonesia. Hasil pemikiran para tokoh itu disahkan
menjadi Piagam Djakarta pada 22 Juni 1945. Untuk agenda selanjutnya, perumusan undang-undang
dasar, BPUPKI digantikan dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Menjadi menteri
Kekalahan Jepang pada Agustus 1945 mendorong Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya
pada 17 Agustus. Keesokan harinya, PPKI menggelar sidang. Baca juga: Saat Sutan Syahrir
Mendengar Berita soal Kekalahan Jepang dari Sekutu pada 10 Agustus 1945... Sidang itu
menetapkan Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta menetapkan Soekarno dan
Hatta sebagai presiden dan wakil presiden. PPKI juga membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). PPKI dibubarkan dan anggotanya masuk ke KNIP.
Kemudian pada 19 Agustus 1945, Soekarno membentuk kabinet yang terdiri dari 16 menteri.
Soepomo diangkat sebagai Menteri Kehakiman. Penunjukan itu dilakukan Soekarno karena yakin
terhadap kecakapan Soepomo di bidang hukum. Soepomo menjadi Menteri Kehakiman pertama RI.
Baca juga: Kronik KUHP: Seabad di Bawah Bayang Hukum Kolonial Salah satu tugas penting Soepomo
yakni merumuskan aturan hukum. Ia bercita-cita Indonesia bisa punya kodifikasi hukum sendiri alih-
alih mengadopsi hukum Belanda. Kodifikasi hukum ini, seperti keinginan Soepomo, berasal dari
hukum adat Indonesia. Sayangnya, hingga saat ini, hukum yang dibukukan dalam Kitab Undang-
undang Hukum Pidana (KUHP), masih sebagian besar menganut kodifikasi era kolonial Hindia
Belanda. Indonesia berganti-ganti bentuk Di awal kemerdekaannya, bentuk negara serta
pemerintahan Indonesia kerap berubah-ubah. Pada 14 November 1945, Indonesia berubah bentuk
dari sistem presidensil menjadi pemisahan kepala negara dengan kepala pemerintahan. Baca juga: 6
Kejadian Unik Saat Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Presiden Soekarno menjadi kepala
negara, sementara kepala pemerintahan di tangan Perdana Menteri Sutan Syahrir. Syahrir
merombak kabinet Soekarno dan menggantinya dengan orang-orang politik, kebanyakan dari Partai
Sosialis Indonesia (PSI). Soepomo yang bukan orang partai pun lengser. Namun hal itu tak
dirisaukannya. Ia paham akan dinamika politik. Soepomo tetap membantu bangsa. Ketika Ibu Kota
Indonesia dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta, Soepomo ikut. Di sana, ia diminta membantu
pendirian lembaga pendudukan tinggi setingkat universitas. Maka pada 3 Maret 1946, berdirilah
Universitas Gadjah Mada (UGM). Soepomo ditunjuk sebagai guru besar di Fakultas Hukum. Baca
juga: Perjalanan Panjang UGM dan Museumnya yang Menyimpan Kisah Obama Selain sibuk
mengajar di UGM dan Akademi Kepolisian di Magelang, Soepomo juga aktif di kegiatan lain. Ia
diminta menjadi penasihat Menteri Kehakiman. Soepomo juga ditunjuk sebagai salah satu pengurus
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Kemudian pada Desember 1946 sampai Mei 1947,
Soepomo diminta menjadi anggota panitia reorganisasi Tentara Republik Indonesia. Ia diminta
menyumbangkan pemikiran terkait rencana pemerintah menyusun kembali struktur organisasi
angkatan perangnya. Kembali jadi menteri Di tengah pergolakan politik dalam negeri, Indonesia
masih harus menghadapi Belanda yang ingin kembali berkuasa. Baca juga: Jembatan “Saksi” Agresi
Militer Belanda II Itu Akhirnya Runtuh… Soepomo beberapa kali menjadi delegasi antara Indonesia
dengan Belanda. Salah satunya, di perjanjian Renville yang dianggap merugikan Indonesia. Perjanjian
8

itu mempersempit wilayah Indonesia menjadi hanya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemudian saat
Belanda menyerang Ibu Kota Yogyakarta atau yang dikenal sebagai Agresi Militer II Belanda pada
1949, Soepomo mengambil peran sebagai delegasi dalam perundingan untuk membela Indonesia.
Puncak perundingan itu, dihasilkan kesepakatan lewat Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag,
Belanda pada 23 Agustus 1949. Soepomo yang terlibat dalam KMB, dipercaya sebagai Ketua Panitia
Konstitusi dan Politik. Tugasnya mengajukan rancangan konstitusi yang bisa diterima Belanda. Baca
juga: Hari Ini dalam Sejarah: Dimulainya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda Meski lewat
KMB Belanda akhirnya melepas Indonesia, namun Indonesia dipaksa merubah bentuknya menjadi
Republik Indonesia Serikat. Bagi Soepomo, apa yang dihasilkan lewat KMB sudah maksimal kendati
banyak hal yang harus direlakan. Salah satunya, mengganti bentuk negara kesatuan. Dalam
pemerintahan RIS, Soepomo kembali duduk sebagai menteri kehakiman pada 20 Desember 1949.
Tak lama setelah diangkat, yakni pada 19 Mei 1950, Soepomo menggelar pertemuan. Pertemuan itu
untuk mengakomodasi keinginan rakyat mengembalikan bentuk negara ke negara kesatuan.
Aktivitas hingga tutup usia Setelah lengser sebagai menteri pada September 1950, Soepomo diberi
mandat sebagai anggota delegasi RI untuk menghadiri sidang umum PBB di Lake Succes pada 13
November 1950. Baca juga: Polemik 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila pada Era Orde Baru... Lewat
sidang itu, Indonesia dinyatakan sebagai anggota PBB dengan nomor urut 60. Setelah itu, Soepomo
diangkat sebagai Duta Besar RI untuk Belanda. Tugasnya, membina hubungan antara Indonesia
dengan Belanda pasca-KMB. Setelah Belanda, Soepomo menjadi Duta Besar untuk Inggris dari 1954
hingga 1956. Di dunia akademik, Soepomo juga diangkat sebagai profesor lalu Presiden Universitas
Indonesia. Di tingkat internasional, Soepomo menjabat Wakil Presiden International Institute of
Differing Civilization yang berpusat di Brussel, Belgia. Ia juga menjadi wakil ketua di International
Comission for Scientific and Cultural History of Mankind dan Indonesia Institute for World Affairs.
Baca juga: 17 Agustus: Di 9 Tempat Ini, Soekarno Pernah Catatkan Sejarah... Jabatan terakhir yang
diembannya adalah sebagai anggota Panitia Negara untuk Urusan Konstitusi pada 1958. Soepomo
tutup usia pada 12 Desember 1958 usai bermain tenis di rumahnya di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ia
meninggal karena serangan jantung. Soepomo dimakamkan keesokan harinya di Pemakaman
Yosoroto di Jalan Slamet Riyadi, Purwosari, Surakarta. Sebagai penghargaan, Soepomo diberikan
gelar Pahlawan Nasional pada 1965.

Mohammad Yamin, Tokoh Bangsa yang Merumuskan Sumpah Pemuda


Kompas.com - 28/10/2018, 10:19 WIB Bagikan: Komentar (1) Tokoh bangsa yang juga telah diangkat
sebagai pahlawan nasional, Mohammad Yamin Lihat Foto Tokoh bangsa yang juga telah diangkat
sebagai pahlawan nasional, Mohammad Yamin(Istimewa/DOKUMENTASI HARIAN KOMPAS) Penulis
Aswab Nanda Pratama | Editor Bayu Galih KOMPAS.com - Peran pemuda begitu vital dalam proses
menuju Indonesia merdeka. Pemuda memegang peran penting dalam masa perjuangan melawan
penjajahan, baik melalui perlawanan fisik juga perlawanan diplomatik. Kebangkitan pemuda berawal
sejak mereka mulai berorganisasi pada era kebangkitan nasional pada 1908. Masa ini ditandai
dengan berdirinya organisasi pemuda seperti Boedi Oetomo di Batavia dan Indische Vereeniging
(Perhimpunan Indonesia) yang didirikan pelajar Indonesia di Belanda. Sejumlah organisasi lain
bermunculan, salah satunya adalah Tri Koro Dharmo yang berdiri pada 1915, yang kemudian
berganti nama menjadi Jong Java. Namun, organisasi pemuda saat itu masih bersifat kedaerahan
dan mementingkan kepentingan suku bangsa masing-masing. Namun, lama kelamaan muncul
kesadaran para kelompok pemuda untuk menyatukan perjuangan untuk kepentingan bangsa. Buku
Indonesia dalam Arus Sejarah (2013) menjelaskan, perubahan radikal yang dilakukan organisasi
pemuda mendorong mereka untuk bersatu dan berkumpul dalam satu wadah. Maka pada 30 April
1926, para pemuda melakukan rapat besar antar-kelompok pemuda yang dikenal dengan Kongres
Pemuda I di Jakarta. Namun, saat itu upaya untuk menyatukan berbagai kelompok pemuda dalam
satu organisasi gagal. Pada Kongres Pemuda I tersebut, para pemuda memang belum dapat
menyatukan pandangan dan masih mengutamakan kepentingan suku bangsa. Salah satu tokoh
pemuda bahkan dikenal sebagai orang yang paling menentang fusi atau menyatukan organisasi
9

pemuda yang bersifat kedaerahan itu dalam satu wadah. Namun, tokoh pemuda itu kemudian
malah dikenal sebagai sosok yang merumuskan Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II yang
berlangsung pada 1928. Tokoh itu adalah Ketua Jong Sumatranen Bond, Mohammad Yamin. Baca
juga: Sejarah Sumpah Pemuda, Tekad Anak Bangsa Bersatu demi Kemerdekaan Bahasa persatuan
Dari kiri : mr. Sujono Hadinoto, LN Palar, mr. M. Yamin dan mr. Joesoef Wibisono. Lihat Foto Dari
kiri : mr. Sujono Hadinoto, LN Palar, mr. M. Yamin dan mr. Joesoef Wibisono.(Dok. Kompas) Sebagai
pemimpin kelompok pemuda Sumatera, Mohammad Yamin memang memiliki darah Sumatera Barat
kental. Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat pada 23 Agustus 1903. Anak dari
pasangan Usman Baginda Khatib dan Siti Saadah ini memang dibesarkan di keluarga terpelajar.
Dilansir dari dokumentasi Harian Kompas, ayahnya yang mantri kopi membuat Yamin kecil dibekali
pendidikan mumpuni. Menurut Elizabeth E Graves dalam buku Asal-Usul Elite Minangkabau Modern,
para mantri kopi masuk ke dalam golongan terpelajar dengan kemampuan baca tulis dan berhitung
yang baik. Kelompok lainnya ialah jaksa dan pangreh praja. Setelah mendapatkan pendidikan dasar
di kampung halaman, Yamin melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa, tepatnya ke Algemene
Middelbare School (AMS) di Surakarta. Selanjutnya, Yamin menuju ke Jakarta dan masuk Sekolah
Tinggi Hukum (Rechts Hooge School) di Jakarta. Setelah aktif dan memimpin Jong Sumatranen Bond,
Yamin mulai aktif mengemukakan gagasan tentang persatuan Indonesia. Sebagai seorang sastrawan
dan penyair, salah satu cara yang diyakini Yamin dapat menjadi "alat" persatuan adalah bahasa.
Gagasan ini pun diucapkan lantang dalam Kongres Pemuda I. Melalui pidatonya, "Kemungkinan
Bahasa-bahasa dan Kesusastraan di Masa Mendatang", Yamin "menyodorkan" bahasa Melayu
sebagai bahasa persatuan. "Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa bahasa Melayu lambat laun akan
menjadi bahasa pergaulan dan bahasa persatuan yang ditentukan untuk orang Indonesia. Dan
kebudayaan Indonesia masa depan akan mendapatkan pengungkapannya dalam bahasa itu,"
demikian pidato Yamin, dikutip dari buku Cendekiawan dan kekuasaan dalam negara Orde Baru
(2003) Pidato itu mendapatkan respons baik dari para pemuda yang hadir dalam kongres. Mereka
tertarik terhadap pemaparan Mohammad Yamin, terutama mengenai persatuan. Banyak yang
meyakini bahwa pemakaian bahasa Melayu yang memang sudah banyak digunakan sebagai bahasa
pengantar selain bahasa Belanda dan bahasa Arab, akan digunakan sebagai bahasa pengantar di
Indonesia. Jong Sumatranen Bond sendiri pernah mendiskusikan bahasa persatuan ini sejak 1923.
Kelak, penggunaan "bahasa Indonesia" ini diharapkan mendesak penggunaan bahasa Belanda.
Kongres Pemuda I memang belum berhasil menyatukan kelompok pemuda dalam satu organisasi.
Namun, konsep mengenai persatuan Indonesia semakin benderang. Menuju Sumpah Pemuda 28
Oktober 1928 di halaman depan Gedung IC, Jl. Kramat 106, Jakarta. Tampak duduk dari kiri ke kanan
antara lain (Prof.) Mr. Sunario, (Dr.) Sumarsono, (Dr.) Sapuan Saatrosatomo, (Dr.) Zakar,
Antapermana, (Prof. Drs.) Moh. Sigit, (Dr.) Muljotarun, Mardani, Suprodjo, (Dr.) Siwy, (Dr.) Sudjito,
(Dr.) Maluhollo. Berdiri dari kiri ke kanan antara lain (Prof. Mr.) Muh. Yamin, (Dr.) Suwondo
(Tasikmalaya), (Prof. Dr.) Abu Hanafiah, Amilius, (Dr.) Mursito, (Mr.) Tamzil, (Dr.) Suparto, (Dr.)
Malzar, (Dr.) M. Agus, (Mr.) Zainal Abidin, Sugito, (Dr.) H. Moh. Mahjudin, (Dr.) Santoso, Adang
Kadarusman, (Dr.) Sulaiman, Siregar, (Prof. Dr.) Sudiono Pusponegoro, (Dr.) Suhardi Hardjolukito,
(Dr.) Pangaribuan Siregar dan lain-lain. Lihat Foto 28 Oktober 1928 di halaman depan Gedung IC, Jl.
Kramat 106, Jakarta. Tampak duduk dari kiri ke kanan antara lain (Prof.) Mr. Sunario, (Dr.)
Sumarsono, (Dr.) Sapuan Saatrosatomo, (Dr.) Zakar, Antapermana, (Prof. Drs.) Moh. Sigit, (Dr.)
Muljotarun, Mardani, Suprodjo, (Dr.) Siwy, (Dr.) Sudjito, (Dr.) Maluhollo. Berdiri dari kiri ke kanan
antara lain (Prof. Mr.) Muh. Yamin, (Dr.) Suwondo (Tasikmalaya), (Prof. Dr.) Abu Hanafiah, Amilius,
(Dr.) Mursito, (Mr.) Tamzil, (Dr.) Suparto, (Dr.) Malzar, (Dr.) M. Agus, (Mr.) Zainal Abidin, Sugito, (Dr.)
H. Moh. Mahjudin, (Dr.) Santoso, Adang Kadarusman, (Dr.) Sulaiman, Siregar, (Prof. Dr.) Sudiono
Pusponegoro, (Dr.) Suhardi Hardjolukito, (Dr.) Pangaribuan Siregar dan lain-lain.(Dok. Kompas)
Kongres Pemuda I belum bisa menghasilkan kesepakatan yang berarti. Akan tetapi, pidato
Mohammad Yamin menimbulkan gejolak semangat yang baru. Sebelum melakukan pertemuan
akbar kedua, para pemuda kembali berupaya menyatukan sejumlah organisasi untuk fusi dalam satu
wadah. Perhimpunan Indonesia dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPKI) menyepakati hal
10

itu. Kemudian, banyak organisasi pemuda yang memilih untuk fusi dalam satu wadah. Namun,
Mohammad Yamin menolak dilakukannya fusi organisasi pemuda. Yamin lebih memilih dibentuknya
federasi dari perkumpulan-perkumpulan yang ada. Sebab, perkumpulan masing-masing daerah lebih
bisa bergerak bebas tanpa adanya sebuah aturan yang melekat. Hingga dilakukannya Kongres
Pemuda II dibuka pada 27 Oktober 1928 di Jakarta, Yamin yang menjabat sebagai Sekretaris Kongres
belum menyetujui dibentuknya fusi. Meski begitu, Yamin tetap memiliki semangat akan persatuan
Indonesia. Dia tetap berharap semangat persatuan tetap ada namun tak menghilangkan kekhasan
tiap daerah. Yamin juga tak ingin Kongres Pemuda II berakhir tanpa hasil. Setidaknya, harus ada
kemauan dan kesepakatan bersama yang dibacakan peserta kongres. Saat kongres tengah
berlangsung, Yamin mulai menuliskan gagasan "Sumpah Pemuda" tersebut dalam suatu kertas.
Kertas itu kemudian dia sodorkan kepada Soegondo Djojopoespito, yang saat itu menjabat Ketua
Kongres. "Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya punya rumusan resolusi yang
elegan)," kata Yamin kepada Soegondo, dikutip dari buku Mengenang Mahaputra Prof. Mr. H.
Muhammad Yamin Pahlawan Nasional RI (2003). Rumusan itu kini dikenal dengan nama Sumpah
Pemuda, yang berbunyi: Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang
satu, tanah Indonesia. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa
Indonesia Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, yaitu pada 1959, tanggal 28 Oktober ditetapkan
sebagai Hari Sumpah Pemuda melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16
Desember 1959. Sumpah Pemuda dimaknai sebagai momentum bersatunya para pemuda, yang
kemudian bergerak bersama dan berjuang menuju Indonesia merdeka. Setelah Kongres Pemuda II,
Yamin sendiri mulai melunak akan gagasan fusi organisasi pemuda daerah. Akhirnya, pada 1930
semua organisasi pemuda bisa bersatu dalam satu wadah, yaitu Indonesia Muda. Tujuan Indonesia
Muda adalah membangun dan mempertahankan keinsyafan anak bangsa yang bertanah air satu
agar tercapai Indonesia Raya. Untuk itu, Indonesia Muda berusaha memajukan rasa saling
menghargai dan memelihara persatuan semua anak bangsa.
Mohammad Yamin merupakan seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli
hukum. Dalam membuat rumusan Pancasila, Mohammad Yamin memberikan lima hal untuk bisa
dijadikan dasar negara. Pertama diajukan secara lisan pada tanggal 29 Mei 1945 yang berisi: Peri
kebangsaan Peri kemanusiaan Peri ketuhanan Peri kerakyatan Kesejahteraan rakyat Kemudian hal
tersebut berubah saat Mohammad Yamin menyampaikan rumusan dasar negara yang diajukan
secara tertulis, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa Kebangsaan Persatuan Indonesia Rasa kemanusiaan
yang adil dan beradab Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Kompas.com - 11/03/2020, 17:00 WIB Bagikan: Komentar Patung Pancasila besar yang jadi lambang
cinta Indonesia dan Pancasila di Gereja Katedral Jakarta Lihat Foto Patung Pancasila besar yang jadi
lambang cinta Indonesia dan Pancasila di Gereja Katedral Jakarta(SYIFA NURI KHAIRUNNISA) Penulis
Ari Welianto | Editor Ari Welianto KOMPAS.com - Pancasila dikatakan sebagai ideologi terbuka. Di
mana Pancasila mampu menyesuaikan diri dalam perkembangan zaman. Ideologi terbuka adalah
ideologi yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan bersifat dinamis. Di mana nilai-nilai dasar
Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan
perkembangan zaman. Arti Pancasila sebagai ideologi terbuka Dilansir situs resmi Badan Pembinaan
Ideologi Pancasila (BPIP), pada hakikatnya Pancasila telah di bentuk melalui proses yang cukup
panjang oleh para pendiri bangsa. Pancasila sebagai ideologi dinamis yang mencerminkan
keterbukaan pemikiran yang mampu menerima segala iklim perubahan yang terjadi. Ini agar mampu
menerima segala iklim perubahan yang terjadi dan mampu melaksanakan nilai-nilai Pancasila yang
luhur secara mendasar. Baca juga: Ketua MPR: Kami Ingin Perkuat KPK Berdasar Asas Pancasila
Dalam buku Pendidikan Kewarnegaraan (2008) karya Aim Abdulkarim, fungsi Pancasila untuk
11

memberikan orientasi ke depan telah menuntut bangsa Indonesia untuk menyadari situasi yang
sedang dihadapinya. Kemajuan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi, dan sarana komunikasi
yang semakin modern membuat dunia semakin kecil dan menguatnya interdependensi di kalangan
bangsa-bangsa. Hal ini berati bahwa pembangunan nasional tidak hanya ditentukan oleh faktor-
faktor dalam negeri. Tapi juga dipengaruhi oleh faktor luar negeri. Untuk menjawab tantangan
tersebut, maka Pancasila perlu tampil sebagai ideologi terbuka. Karena ketertutupan hanya
membawa pada kemandegan. Keterbukaan bukan berati mengubah nilai-nilai dasar Pancasila, tapi
mengeksplisitkan wawasan secara lebih konkrit. sehingga memiliki kemampuan untuk memecahkan
masalah-masalah baru. Dikutip situs Kementerian Pendidikan dan Kemudayaan (Kemendikbud),
Pancasila sebagai ideologi terbuka sudah ada sejak pemerintahan Presiden Suharto. Baca juga: HAM
dalam Perspektif Pancasila Secara tersirat menunjukkan sifat sebagai ideoligi terbuka jika dikaji dari
semangat pada pendiri bangsa sebagaimana dirumuskan dalam UUD 1945 terutama pada penjelasan
UUD 1945. Ideologi merupakan tuntutan zaman. Sehingga dapat berfungsi sesuai dengan
permasalahan yang timbul. Karena kekuatan ideologi pada prinsip tergantung pada kualitas. Dimensi
Pancasila sebagai ideologi terbuka Ada beberapa dimensi yang menjadikan Pancasila sebagai
ideologi terbuka, yakni: Dimensi realitas Pada dimensi realitas, di mana nilai-nilai dasar yang
terkandung dalam ideologi secara riil berakar dan hidup dalam masyarakat. Dimensi idealisme
Dimensi idealisme adalah ideologi yang memberikan harapan tentang masa depan yang lebih baik.
Dimensi fleksibilitas Dimensi fleksibilitas atau disebut dimensi pengembangan adalah ideologi yang
memiliki keluwesan dan memungkinkan pengembangan pemikiran. Baca juga: Makna 5 Lambang
Pancasila Pancasil sebagai ideologi terbuka menjadi sarana untuk memecahkan permasalahan
bangsa. Faktor rakyat dan bangsa sangat menentukan dalam keberhasilan tersebut. Faktot Pancasila
sebagai ideologi terbuka Ada beberapa faktor atau gagasan yang mendorong Pancasila sebagai
ideologi terbuka, yakni: Perubahan dan perkembangan masyarakat yang cepat Pada faktor tersebut
dampak dari berkembangnya pembangunan nasional secara pesat. Sehingga problem yang datang
tidak senantiasa dapat dijawab secara ideologi sesuai dengan pemikiran-pemikiran ideologi
sebelumnya. Contohnya, adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tidak memungkinkan suatu
negara menutup diri dari pasar, terjadi pergeseran peran negara. Runtuhnya ideologi tertutup
Marxisme-Leninisme atau Komunisme Pada abad ke-21 terjadi perubahan besar dengan
tumbangnya idelogi komunis. Karena komunisme telah memposisikan sebagai ideologi tertutup.
Ideologi komunisme merupakan ideologi yang merasa sudah mempunyai seluruh jawaban terhadap
kehidupan ini. Baca juga: Lambang Negara Garuda Pancasila: Arti dan Sejarahnya Sehingga yang
perlu dilakukan dengan melaksanakan secara dogmatik. Praktek ideologi tertutup di masa lalu Dalam
sejarah politik Indonesia saat dipengaruhi komunisme sangat besar dalam segala sendi kehidupan
masyarakat, berbangsa,dan bernagara. Di mana ideologi yang bersifat tertutup telah mempengaruhi
Pancasila. Dalam pelaksanaannya pernah merosot menjadi semacam dogma yang kaku. Penempatan
Pancasila sebagai asas tunggal Ketika negara menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas
membuat kualifikasi dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tersandera. Karena
terdapat kawasan kehidupan yang bersifat otonom secara langsung mengacu pada nilai Pancasil,
seperti nilai-nilai religi. Maka menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan
masyarakat, berbangsa, dan bernegara tidak tepat. Sehingga MPR pada 1999 mencabut istilah
Pancasila sebagai satu-satunya asas. Kemudian mengembalikan fungsi utama Pancasila sebagai dasar
negara.

Pasal Gelandangan di RKUHP Ini Dinilai Bertentangan dengan UUD 1945

Kompas.com - 20/09/2019, 12:42 WIB Bagikan: Komentar (2) Direktur Pusat Pengkajian Pancasila
dan Konstitusi (Puskapsi) Fakultas Hukum Universitas Jember Bayu Dwi Anggono ketika ditemui di
Jember, Jawa Timur, Jumat (10/11/2017). Lihat Foto Direktur Pusat Pengkajian Pancasila dan
Konstitusi (Puskapsi) Fakultas Hukum Universitas Jember Bayu Dwi Anggono ketika ditemui di
Jember, Jawa Timur, Jumat (10/11/2017). (KOMPAS.com/ MOH NADLIR) Penulis Christoforus
12

Ristianto | Editor Fabian Januarius Kuwado JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Pusat Pengkajian
Pancasila dan Konstitusi (Puskapsi) Fakultas Hukum Universitas Jember Bayu Dwi Anggono
menyebut, Pasal 432 pada rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana ( RKUHP) bertentangan
dengan UUD 1945. Diketahui, Pasal 432 RKUHP menyatakan setiap orang yang bergelandangan di
jalan atau di tempat umum yang mengganggu ketertiban umum akan mendapatkan sanksi paling
banyak Rp 1 juta. Padahal, Pasal 34 Ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak
telantar dipelihara oleh negara. "Pasal 432 KUHP ini bertentangan dengan UUD 1945. Ini jelas
berpotensi kriminalisasi terhadap masyarakat tidak mampu yang hak konstitusionalnya harusnya
dipelihara negara sebenarnya karena sudah dijamin konstitusi," ujar Bayu saat dihubungi
Kompas.com, Jumat (20/9/2019). Baca juga: Dalam RKUHP, Pasangan Kumpul Kebo Bisa Dipidana
atas Aduan Kepala Desa Semestinya, pasal itu dihapuskan saja atau diberikan penjelasan mengenai
definisi frasa "setiap orang yang bergelandangan". Dengan tiadanya penjelasan definisi gelandangan
yang mengganggu ketertiban umum, Pasal 432 RKUHP juga berpotensi mengkriminalisasi kelompok
masyarakat miskin. Mereka di antaranya pengamen, tukang parkir, serta orang disabilitas yang
telantar. Menurut dia, ironis jika RKUHP disahkan karena tak mungkin kelompok masyarakat
tersebut mampu membayar denda sendiri. "Karena masih banyaknya permasalahan, ya sebaiknya
pemerintah dan DPR tidak mengesahkan RKUHP. Jangan dipaksakan. Kalau disahkan, malah langkah
mundur demokratisasi," kata dia. Baca juga: Komnas HAM Akan Surati Presiden, Minta Tunda
Pengesahan RKUHP Sebelumnya, anggota Panja RKUHP DPR Fraksi PKS Nasir Djamil mengatakan,
pemidanaan denda bagi gelandangan memang bertujuan menjaga ketertiban umum. "Kalau soal itu,
kan terkait dengan bagaimana menjaga ketertiban umum. Jadi, kita memang tidak bisa melihat
gelandangan dalam arti yang seperti sekarang ini," ujar Nasir saat dihubungi wartawan, Kamis
(19/9/2019). Di sisi lain, lanjut Nasir, pasal ini bertujuan mendorong agar pemerintah berupaya
mengurangi jumlah gelandangan. Saat ditanya mengenai alasan penerapan pidana denda, Nasir
mengatakan, hal itu justru menjadi instrumen dalam memaksa pemerintah agar memperhatikan
warga negaranya.

Rumusan Dasar Negara Menurut Soekarno


Kompas.com - 19/02/2020, 14:00 WIB Bagikan: Komentar Foto karya Frans Mendur yang
mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur,
Nomor 56, Cikini, Jakarta. Lihat Foto Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden
Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta.
(Frans Mendur) Penulis Nibras Nada Nailufar | Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Pancasila
yang jadi dasar negara Indonesia hingga kini, merupakan buah pemikiran Soekarno pada 1945.
Menjelang kemerdekaan, Soekarno yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), menyampaikan pidato tentang dasar negara. Dikutip dari Jalan
Menuju Kemerdekaan: Sejarah Perumusan Pancasila (2018), diceritakan Soekarno adalah tokoh
terakhir yang menyampaikan pemikirannya dalam sidang pertama BPUPKI. Setelah Moh Yamin,
Soepomo, dan perdebatan sengit soal dasar negara, Soekarno menyampaikan pemikirannya pada 1
Juni 1945. Soekarno menolak keinginan golongan Islam untuk menjadikan Indonesia negara Islam
yang berdasar pada syariat Islam. Baca juga: Rumusan Pancasila dari 3 Tokoh Nasional "Saya pun
orang Islam. Tetapi, saya minta maaf kepada saudara-saudara, janganlah saudara-saudara salah
paham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar kebangsaam..." kata
Soekarno dalam pidatonya. Soekarno pun mengajukan rumusan dasar negara yang lima pokoknya
berbunyi sebagai berikut: Kebangsaan Indonesia Internasionalisme atau perikemanusiaan Mufakat
atau demokrasi Kesejahteraan sosial Ketuhanan yang Maha Esa Soekarno menamai prinsip-prinsip
ini sebagai Pancasila. Nama ini diajukannya setelah berkonsultasi dengan temannya yang ahli
bahasa. Pancasila berasal dari bahasa Sanskrit (Sansekerta) panca yang berarti lima, dan syila yang
berarti asas atau dasar. Baca juga: Pancasila Sebagai Dasar Negara Menurut Soekarno Pancasila
Soekarno menjadi rumusan dasar negara yang paling diterima seluruh anggota sidang BPUPKI.
Rumusan ini yang dipakai sebagai acuan dasar negara. Oleh karena itu, dibentuklah panitia kecil
13

untuk merumuskan kembali pokok-pokok pidato Soekarno beserta Pancasila. Setelah panitia kecil
menghadapi kebuntuan, dibentuk kembali Panitia Sembilan yang merumuskan teks proklamasi dan
dasar negara yang dikemukakan Soekarno. Baca juga: Arti Penting Pancasila sebagai Dasar Negara
dan Pandangan Hidup

Panitia Sembilan: Anggota, Tugas, dan Kontribusinya


Kompas.com - 19/02/2020, 06:00 WIB Bagikan: Komentar Sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei 1945
di Gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6, Jakarta yang Sekarang menjadi Gedung Pancasila. Lihat
Foto Sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei 1945 di Gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6, Jakarta
yang Sekarang menjadi Gedung Pancasila.(Arsip Nasional Republik Indonesia) Penulis Nibras Nada
Nailufar | Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Panitia Sembilan adalah panitia kecil yang
dibentuk untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Untuk mempersiapkan kemerdekaan,
Jepang dan para tokoh pergerakan membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI). Salah satu tugas BPUPKI yakni merumuskan dasar negara. Pada
sidang pertama, perumusan dasar negara berjalan alot. Untuk menetapkan dasar negara yang
mewakili semua golongan, maka dibentuklah Panitia Sembilan. Latar belakang pembentukan Panitia
Sembilan Dikutip dari Jalan Menuju Kemerdekaan: Sejarah Perumusan Pancasila (2018), pada sidang
pertama BPUPKI yang dimulai pada 29 Mei 1945, para anggota BPUPKI diminta menyampaikan
usulan mengenai dasar negara. Baca juga: Pancasila Sebagai Dasar Negara Menurut Soekarno Dari
beberapa rumusan yang disampaikan anggota BPUPKI, rumusan Soekarno yang diberi nama
Pancasila yang paling diterima semua anggota. Lima asas yang disampaikan Soekarno pada sidang 1
Juni 1945 yakni: Kebangsaan Indonesia Internasionalisme atau Perikemanusiaan Mufakat atau
Demokrasi Kesejahteraan Sosial Ketuhanan yang Maha Esa Rumusan ini kemudian dipakai sebagai
acuan dasar negara. Untuk membicarakan lebih lanjut, Ketua BPUPKI membentuk sebuah panitia
kecil. Panitia kecil bertugas merumuskan kembali pokok-pokok pidato Soekarno. Secara garis besar,
ada dua pandangan mengenai dasar negara. Golongan Islam menghendaki negara berdasarkan
syariat Islam. Baca juga: MIAI dan Masyumi, Cara Jepang Galang Dukungan Umat Islam Golongan
kedua menghendaki dasar negara berdasarkan paham kebangsaan atau nasionalisme. Akibat
perbedaan pandangan ini, pertemuan Panitia Kecil dengan BPUPKI sempat macet. Mereka belum
mampu mencapai kata mufakat dalam menetapkan dasar negara. Untuk itu, dibentuk lagi
kepanitiaan untuk memecahkan kebuntuan ini yakni Panitia Sembilan. Anggota Panitia Sembilan
Panitia Sembilan terdiri dari: Soekarno (Ketua) Moh Hatta (Wakil Ketua) Achmad Soebardjo
(Anggota) Moh Yamin (Anggota) KH Wahid Hasyim (Anggota) Abdul Kahar Muzakir (Anggota)
Abikoesno Tjokrosoejoso (Anggota) Agus Salim (Anggota) AA Maramis (Anggota) Soekarno, Moh
Hatta, Moh Yamin, Achmad Soebardjo, dan AA Maramis termasuk dalam kelompok pergerakan
kemerdekaan. Baca juga: Empat Serangkai: Tokoh, Sejarah Terbentuk, dan Kiprahnya Mereka sudah
terlibat dalam perjuangan kemerdekaan sejak masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Sementara Agus Salim dan Abikoesno Tjokrosoejoso adalah politisi Islam. Kemudian KH Wahid
Hasyim dari Nahdlatul Ulama, mewakili kelompok Islam yang tidak berpolitik. Begitu pula Abdul
Kahar Muzakir yang mewakili Muhammadiyah. Tugas dan kontribusi Panitia Sembilan Panitia
Sembilan merancang teks proklamasi, yang kemudian dijadikan preambule atau pembukaan UUD
1945. Di dalamnya, dimuat lima dasar negara yang pada pokoknya berbunyi: Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya Kemanusiaan yang adil dan beradab
Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Baca juga: Piagam
Jakarta: Isi dan Kontroversinya Rancangan preambule yang dikenal sebagai Piagam Jakarta itu
disetujui pada 22 Juni 1945. Soekarno membacakannya pada 10 Juli 1945, di sidang kedua BPUPKI.
Namun saat pembacaan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945, pasal "dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dihapus. Gantinya, "Ketuhanan yang maha
esa" ditetapkan sebagai Pancasila yang menjadi dasar negara hingga hari ini.
14

21 Mei 1998, Saat Soeharto Dijatuhkan Gerakan Reformasi...


Kompas.com - 21/05/2018, 06:48 WIB Bagikan: Komentar (1) Presiden Soeharto saat mengumumkan
pengunduran diri di Istana Merdeka, Jakarta, 21 Mei 1998. Lihat Foto Presiden Soeharto saat
mengumumkan pengunduran diri di Istana Merdeka, Jakarta, 21 Mei 1998. (WIkimedia/Creative
Commons) Penulis Bayu Galih | Editor Bayu Galih JAKARTA, KOMPAS.com — Hari ini tepat 20 tahun
silam, 21 Mei 1998, tercatat sebagai salah satu momen penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Sebab, pada Kamis pagi itu, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden
Republik Indonesia. Presiden Soeharto menyatakan mundur setelah berkuasa selama 32 tahun,
terhitung sejak dia mendapat "mandat" Surat Perintah 11 Maret 1966. Pidato pengunduran diri
Soeharto dibacakan di Istana Merdeka sekitar pukul 09.00 WIB. Dalam pidatonya, Soeharto
mengakui bahwa langkah ini dia ambil setelah melihat "perkembangan situasi nasional" saat itu.
Tuntutan rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang, terutama permintaan pergantian
kepemimpinan nasional, menjadi alasan utama mundurnya Soeharto. "Saya memutuskan untuk
menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya
bacakan pernyataan ini pada hari ini, kamis 21 Mei 1998," ujar Soeharto, dilansir dari buku Detik-
detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006) yang ditulis Bacharuddin
Jusuf Habibie. Baca juga: Mencekamnya Jakarta pada Hari Terakhir Berkuasanya Soeharto... Dengan
pengunduran diri ini, Soeharto menyerahkan kekuasaan kepresidenan kepada Wakil Presiden BJ
Habibie. "Sesuai dengan Pasal 8 UUD ’45, maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof H BJ Habibie
yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003," ucap Soeharto.
Perjuangan mahasiswa Gerakan reformasi merupakan penyebab utama yang menjatuhkan Soeharto
dari kekuasaannya. Aksi demonstrasi ini mulai terjadi sejak Soeharto menyatakan bersedia untuk
dipilih kembali sebagai presiden setelah Golkar memenangkan Pemilu 1997. Situasi politik saat itu
memang penuh dinamika, terutama setelah terjadinya Peristiwa 27 Juli 1996 di kantor DPP PDI, Jalan
Diponegoro, Jakarta Pusat. Pemerintah dinilai menjadi penyebab terjadinya Peristiwa Sabtu Kelabu
karena mencopot Megawati Soekarnoputri dari jabatan Ketua Umum PDI sehingga menimbulkan
dualisme partai. Popularitas Megawati yang meroket ketika itu, juga statusnya sebagai anak Presiden
Soekarno, memang menjadi ancaman bagi kekuasaan. Apalagi, Megawati menjadi pimpinan partai
menjelang Pemilu 1997. Baca juga: Gerakan Perempuan dalam Pergolakan Reformasi 1998
Mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR, menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.
Foto diambil pada 19 Mei 2008, dua hari sebelum Soeharto mengumumkan pengunduran diri pada
21 Mei 1998. Lihat Foto Mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR, menuntut Presiden Soeharto
mundur dari jabatannya. Foto diambil pada 19 Mei 2008, dua hari sebelum Soeharto mengumumkan
pengunduran diri pada 21 Mei 1998. (KOMPAS/EDDY HASBY) Tidak hanya itu, pasca-Peristiwa 27 Juli
1996, timbul serangkaian peristiwa hilangnya aktivis demokrasi dan mahasiswa yang dianggap
melawan pemerintahan Soeharto. Sejak saat itu, perlawanan terhadap Soeharto semakin terlihat.
Aksi mahasiswa yang semula dilakukan di dalam kampus, kemudian dilakukan di luar kampus pada
Maret 1998. Mahasiswa semakin berani berdemonstrasi setelah Soeharto terpilih sebagai presiden
untuk periode ketujuh dalam Sidang Umum MPR pada 10 Maret 1998. Jika awalnya mahasiswa
menuntut perbaikan ekonomi, setelah Soeharto terpilih tuntutan pun berubah menjadi pergantian
kepemimpinan nasional. Sayangnya, kekerasan yang dilakukan aparat keamanan dalam mengatasi
aksi mahasiswa mengubah aksi damai menjadi tragedi. Dilansir dari dokumentasi Kompas, aksi
mahasiswa di Yogyakarta yang ditangani secara represif oleh aparat keamanan pada 8 Mei 1998
menyebabkan tewasnya Moses Gatutkaca. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma itu meninggal
akibat pukulan benda tumpul. Tragedi kembali terjadi saat aparat mengatasi demonstrasi mahasiswa
dengan kekerasan pada 12 Mei 1998. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas akibat ditembak
peluru tajam milik aparat keamanan. Baca: 20 Tahun Tragedi Trisakti, Apa yang Terjadi pada 12 Mei
1998 Itu? Aksi penembakan peluru karet dan peluru tajam serta pemukulan oleh aparat keamanan
juga menyebabkan lebih dari 200 orang terluka. Sehari kemudian, pada 13-15 Mei 1998, terjadi
sebuah kerusuhan bernuansa rasial di Jakarta dan sejumlah kota besar. Hingga saat ini belum
diketahui siapa yang bertanggung jawab atas Tragedi Trisakti dan Kerusuhan Mei 1998 itu.
15

Mahasiswa se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung MPR/DPR, Mei 1998,
menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Sebagian mahasiswa melakukan aksi
duduk di atap Gedung MPR/DPR. Hegemoni Orde Baru yang kuat ternyata menjadi inspirasi bagi
orangtua untuk memberi nama bagi anak-anak mereka. Lihat Foto Mahasiswa se-Jakarta, Bogor,
Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung MPR/DPR, Mei 1998, menuntut reformasi dan
pengunduran diri Presiden Soeharto. Sebagian mahasiswa melakukan aksi duduk di atap Gedung
MPR/DPR. Hegemoni Orde Baru yang kuat ternyata menjadi inspirasi bagi orangtua untuk memberi
nama bagi anak-anak mereka. (KOMPAS/EDDY HASBY) Akan tetapi, tragedi dan kerusuhan tidak
menghentikan mahasiswa untuk terus bergerak. Pada 18 Mei 1998, aksi mahasiswa dalam jumlah
akbar berhasil menguasai gedung DPR/MPR. Saat itulah, posisi Soeharto semakin terpojok. Sebab,
pada hari itu juga pimpinan DPR/MPR yang diketuai Harmoko meminta Soeharto untuk mundur dari
jabatannya sebagai presiden. Namun, Soeharto berusaha melakukan perlawanan. Salah satunya
adalah dengan menawarkan pembentukan Komite Reformasi sebagai pemerintahan transisi hingga
dilakukannya pemilu berikutnya. Soeharto pun menawarkan sejumlah tokoh seperti Abdurrahman
Wahid dan Nurcholish Madjid untuk bergabung. Namun, sejumlah tokoh yang ditemui Soeharto
pada 19 Mei 1998 itu menolak. Baca juga: 20 Tahun Reformasi, Kisah Mahasiswa Kuasai Gedung DPR
pada 18 Mei 1998 Menurut Nurcholis, dilansir dari Kompas, ide Komite Reformasi itu sendiri berasal
dari Presiden Soeharto. Nurcholis membantah bahwa ada tokoh yang mengusulkan itu saat bertemu
Soeharto di kediaman Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Penolakan juga disampaikan sejumlah tokoh
yang tidak menghadiri pertemuan. Ketua Umum PP Muhammadiyah PP Amien Rais misalnya, yang
mempermasalah mengenai ketidakjelasan kapan pemilu itu akan dilakukan. Menurut Amien Rais
dan sejumlah tokoh, Komite Reformasi merupakan cara Soeharto untuk mengulur waktu dan tetap
berkuasa. Soeharto semakin terpukul setelah 14 menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin
Ginandjar Kartasasmita menolak bergabung dalam Komite Reformasi atau kabinet baru hasil
reshuffle. Baca: Kisah Soeharto Ditolak 14 Menteri dan Isu Mundurnya Wapres Habibie... Bahkan,
dalam pernyataan tertulis yang disusun di Gedung Bappenas pada 20 Mei 1998, 14 menteri itu
secara implisit meminta Soeharto untuk mundur. Soeharto sadar posisinya semakin lemah.
Kegalauan Jenderal yang Tersenyum itu mencapai puncaknya pada Rabu malam itu, 20 Mei 1998.
Atas sejumlah pertimbangan, dia pun memutuskan untuk mundur esok harinya, 21 Mei 1998. Dan
begitulah kisah Soeharto di akhir kekuasaann

Sejarah BPUPKI dan Perjalanannya


Kompas.com - 02/01/2020, 08:00 WIB Bagikan: Komentar Bung Karno saat menghadiri rapat raksasa
menyambut Proklamasi Kemerdekaan R.I di Lapangan Ikada Jakarta (Lapangan Monas), 19
September 1945 Lihat Foto Bung Karno saat menghadiri rapat raksasa menyambut Proklamasi
Kemerdekaan R.I di Lapangan Ikada Jakarta (Lapangan Monas), 19 September 1945 (Arsip Kompas)
Penulis Serafica Gischa | Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Badan Penyelidik Usaha-usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI) merupakan badan yang dibentuk Jepang pada 29 April
1945. Pembentukan BPUPKI awalnya untuk mendapat dukungan dari bangsa Indonesia untuk
membantu Jepang dengan menjanjikan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sejarah BPUPKI Dilansir dari
buku Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah Sampai Masa Proklamasi (2011) karya Junaedi Al
Anshori, BPUPKI juga disebut Dokuritsu Junbi Cosakai atau yang tanggal berdirinya bertepatan
dengan hari ulang taun Kaisar Hirohito. BPUPKI beranggotakan 67 orang di mana 60 orang Indonesia
dan tujuh orang Jepang yang bertugas mengawasi. Diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat dan
wakil ketua Hibangase Yosio (Jepang) serta Soeroso. Kebijakan Pemerintah Jepang membentuk
BPUPKI bukan tanpa alasan. Jepang ingin mempertahankan sisa-sisa kekuatannya dengan memikat
hati rakyat Indonesia dan tentunya untuk melakukan politik kolonial. Baca juga: Hari Ini dalam
Sejarah: Desain Baru Pecahan Uang Rp 20.000 dan Rp 100.000 Resmi Beredar Di luar BPUPKI juga
terbentuk Badan Tata Usaha beranggotakan 60 orang. Diketuai oleh Soeroso dan wakil ketua Abdoel
Gafar P serta Masuda (Jepang). Setelah resmi pada tanggal 28 Mei 1944, BPUPKI melaksanakan
sidang pertamanya pada 29 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945. Namun, pada sidang pertama tersebut
16

BPUPKI belum menemukan rumusan dasar negara Indonesia. Akhirnya sebelum sidang kedua,
BPUPKI membentuk tim sembilan yang bertugas merumuskan dasar negara. Pada tanggal 10-17 Juli
1945 berlangsung sidang BPUPKI kedua. BPUPKI kemudian resmi dibubarkan pada 7 Agustus 1945
dan digantikan dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh
Soekarno. Sidang pertama BPUPKI Sidang pertama tersebut dilaksanakan di Gedung Chuo Sangi In di
Jalan Pejambon 6, Jakarta. Sekarang menjadi Gedung Pancasila. Baca juga: Bahasa Indonesia, Sejarah
dan Perkembangannya Sidang diawali pada 29 Mei 1945 dengan tema Dasar Negara. Pada hari itu
Mohammad Yamin menyampaikan lima asas, yaitu: Peri Kebangsaan Peri Kemanusiaan Peri
Ketuhanan Peri Kerakyatan Kesejahteraan Rakyat (keadilan sosial) Kemudian tanggal 31 Mei 1945,
Soepomo memberikan usulan lima asa sebagai berikut: Persatuan Kekeluargaan Keseimbangan lahir
batin Musyawarah Keadilan rakyat Soekarno juga tak ketinggalan untuk mengusulkan lima asas yang
saat ini disebut Pancasila pada 1 Juni 1945, yaitu: Kebangsaan Indonesia Internasionalisme atau
Perikemanusiaan Mufakat atau Demokrasi Kesejahteraan Sosial Ketuhanan yang Maha Esa Baca
juga: Belajar Sejarah Geopark Gunung Sewu, Apa Menariknya? Kelima asas dari Soekarno disebut
Pancasila yang menurut beliau dapat diperas menjadi Trisila atau Tiga Sila yaitu : Sosionasionalisme
Sosiodemokrasi Ketuhanan dan Kebudayaan Tugas BPUPKI BPUPKI memiliki tugas utama yaitu
mempelajari dan menyelidiki hal penting yang berhubungan dengan berbagai hal yang menyangkut
pembentukan negara Indonesia. Berdasarkan sidang, BPUPKI juga punya tugas lainnya, yaitu:
Bertugas membahas mengenai Dasar Negara Sesudah sidang pertama, BPUPKI membentuk reses
selama satu bulan. Bertugas membentuk Panitia Kecil (panitia delapan) Yang bertugas menampung
saran-saran dan konsepsi dari para anggota. Bertugas untuk membantu panita sembilan bersama
panita kecil. Panita sembilan menghasilkan Jakarta Charter atau Piagam Jakarta Baca juga: KSPI
Sebut Indonesia Belum Siap Terapkan Sistem Upah Per Jam, Alasannya? Tujuan BPUPKI
Terbentuknya BPUPKI tentu memiliki tujuan, sebagai berikut: Menarik simpati rakyat Indonesia
untuk membantu Jepang dalam melawan sekutu. Jepang menjanjikan kemerdekaan dan
melaksanakan politik kolonial pada 1 Maret 1945. Mempelajari dan menyelidiki sesuatu yang
berhubungan dengan pembentukan negara Indonesia merdeka atau mengenai tata pemerintahan
Indonesia merdeka.

Sebagai Alat Negara, Polisi Tak Seharusnya Lebarkan Tugas ke Ranah Politik
Kompas.com - 28/08/2018, 10:17 WIB Bagikan: Komentar Neno Warisman dan dua rekannya
tertahan tujuh jam di dalam mobil di gerbang Bandara SSK II karena dihadang ratusan massa, Sabtu
(25/8/2018). Lihat Foto Neno Warisman dan dua rekannya tertahan tujuh jam di dalam mobil di
gerbang Bandara SSK II karena dihadang ratusan massa, Sabtu (25/8/2018).(Kompas.com/Idon
Tanjung) Penulis Reza Jurnaliston | Editor Diamanty Meiliana JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat
Kepolisian dari Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar meminta Kepolisian RI dalam
menjalankan tugasnya harus berpegang dengan UUD 1945. Polri, tutur Bambang, sebagai “alat
negara” sehingga harus bertindak netral tidak boleh memihak kepada salah satu kelompok. “ Polisi
itu dinyatakan sebagai "alat negara”, bukan "alat pemerintah". Karena itu polisi tidak boleh
melebarkan tugasnya ke ranah politik,” ujar Bambang saat dihubungi Kompas.com, Selasa
(28/8/2018). Baca juga: Aparat Keamanan Diminta Utamakan Akuntabilitas dalam Menangani
Ekspresi Politik Masyarakat Dalam pasal 30 ayat 4 UUD 1945 tertulis, “Kepolisian Negara Republik
Indonesia sebagai alat negara yang menjaga kemanan dan ketertiban masyarakat bertugas
melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.” Sehingga, menurutnya,
tindakan pengamanan dari Polri pada gerakan deklarasi #2019gantipresiden tepat untuk menjaga
keamanan dan ketertiban masyarakat serta menghindari konflik dan bentrokan antarmassa. Baca
juga: KPU: Boleh Deklarasi Dukungan Politik, tetapi Jangan Seenaknya Pengamat kepolisian,
Bambang Widodo Umar, yang juga menjadi anggota Tim Evaluasi Penanganan Terorisme, saat
memberikan keterangan terkait evaluasi penanganan terorisme kelompok Santoso, di kantor
Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/8/2016). Lihat Foto Pengamat kepolisian, Bambang
Widodo Umar, yang juga menjadi anggota Tim Evaluasi Penanganan Terorisme, saat memberikan
17

keterangan terkait evaluasi penanganan terorisme kelompok Santoso, di kantor Komnas HAM,
Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/8/2016).(Kristian Erdianto) Namun, Bambang menyayangkan
tindakan Aparat keamanan yang sampai harus membubarkan atau membatalkan deklarasi
#2019GantiPresiden. “Deklarasi 2019 ganti presiden dinyatakan oleh KPU dan Bawasku bukan
merupakan kampanye, maka jika ada kelompok yang melakukan deklarasi di dalam negara
demokrasi tidak boleh dilarang atau dibubarkan,” kata Bambang. Bambang mengatakan, sebagai
aparat keamanan justru Polri harus menjaga agar kegiatan tersebut berjalan tertib. “Jika ada
kelompok yang bersebrangan akan mengganggu harus dicegah dan dijelaskan tidak boleh melakukan
tindakan-tindakan kekerasan kepada kelompok lain. Tapi kalau sampai terjadi konflik bagi mereka
yang melakukan kekerasan harus ditangkap atau diusut,” tutur Bambang. Baca juga: Luhut: Enggak
Apa-apa Deklarasi #2019GantiPresiden Dilarang, daripada Bentrok Gerakan #2019GantiPresiden di
beberapa daerah seperti Surabaya, Batam, dan Pekanbaru telah mendapat penolakan dari sejumlah
massa karena tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian. Tidak dikeluarkannya izin tersebut
merupakan salah satu upaya untuk menghindari konflik dan bentrokan antarmassa. Baca juga:
Bawaslu: Deklarasi #2019GantiPresiden Bukan Kampanye, tapi Harus Tertib Aturan Diberitakan
sebelumnya, Neno Warisman akan melakukan deklarasi #2019GantiPresiden di Pekanbaru pada
Minggu 26 Agustus. Namun, saat tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim, Kota Pekanbaru, Sabtu
(25/8/2018), Neno diadang massa yang menolak kedatangannya.

Bawa-bawa Pemilu AS, Ini Kata Hashim soal Alasan Koalisi Merah Putih Dorong Pilkada Tak
Langsung

Kompas.com - 15/09/2014, 23:17 WIB Bagikan: Komentar Wakil Ketua Dewan Pembina Partai
Gerindra Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta, Senin (15/9/2014). Hashim memberikan keterangan
seputar keluarnya Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dari partai tersebut pekan
lalu. Lihat Foto Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta,
Senin (15/9/2014). Hashim memberikan keterangan seputar keluarnya Wakil Gubernur DKI Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama dari partai tersebut pekan lalu.(Alsadad Rudi) Penulis Alsadad Rudi |
EditorPalupi Annisa Auliani JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra
Hashim Djojohadikusumo menyatakan, partainya beserta partai-partai lain di Koalisi Merah Putih
punya alasan kuat mendukung pelaksanaan pemilihan kepala daerah tidak langsung. Hashim
menyatakan, negara maju sekaligus negara demokrasi terbesar di dunia, Amerika Serikat, sampai
saat ini menerapkan sistem tak langsung pada pemilihan presidennya. "Di Amerika Serikat,
pemilihan presiden dilaksanakan secara tidak langsung. Presiden Amerika Serikat tidak dipilih
langsung oleh rakyatnya. Yang memilih (presiden) adalah 540 elector. Saya tahu persis konstitusi
Amerika Serikat," kata Hashim, di Jakarta, Senin (15/9/2014). Hashim menjelaskan, 540 elector pada
pemilihan presiden di AS berasal dari 50 negara bagian, daerah khusus Washington DC, dan dari
negara-negara yang masih berada di bawah naungan konstitusi AS, seperti Guam dan Puerto Rico.
Menurut Hashim, faktor inilah yang membuat pengumpul suara terbanyak dalam pemilihan presiden
di AS tak otomatis menjadi pemenang. "Pada 2000, George W Bush terpilih dan jadi presiden
walaupun kalah suara dari Al Gore yang unggul 500.000 suara. Itulah Amerika Serikat yang
menerapkan sistem pemilihan tidak langsung," papar Hashim. Karena itu, Hashim berpendapat
upaya mengembalikan pilkada agar tidak lagi dipilih langsung oleh masyarakat sudah tepat. Apalagi,
ia menganggap hal tersebut telah sesuai dengan sila ke-4 Pancasila. "Kita masih menganut dan
mendukung Pancasila. Pancasila masih berlaku di negara kita. Dan di sila ke-4 disebutkan
permusyawaratan perwakilan," tegas Hashim.

Pemerintah Tetapkan Tiga Pahlawan Nasional


Kompas.com - 07/11/2013, 10:10 WIB Bagikan: Komentar Radjiman Wedyodiningrat. Lihat Foto
Radjiman Wedyodiningrat.(DOK. KOMPAS) EditorSandro Gatra JAKARTA, KOMPAS.com —
Pemerintah melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan menetapkan pemberian gelar
18

pahlawan nasional kepada tiga tokoh pada 2013. Ketiga tokoh itu adalah Kanjeng Raden
Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat dari Yogyakarta, Lambertus Nicodemus Palar dari
Sulawesi Utara dan Letjen TNI (Purn) TB Simatupang dari Sumatera Utara. "Besok (8/11/2013) pukul
16.00 WIB ketiga tokoh ini akan ditetapkan oleh Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono)," kata
Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial Hartono Laras di
Jakarta, Kamis (7/11/2013). Hartono menjelaskan, ketiga tokoh tersebut ditetapkan sebagai
pahlawan nasional dari delapan usulan calon pahlawan. Radjiman Wedyodiningrat yang lahir di
Yogyakarta pada 21 April 1879 merupakan salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia. Ia
merupakan Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Lambertus
Nicodemus Palar (LN Palar) adalah tokoh yang lahir di Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara, pada 5
Juni 1900. Ia menjabat sebagai wakil Republik Indonesia dalam beberapa posisi diplomatik di
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Adapun TB Simatupang, yang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara,
pada 28 Januari 1920, merupakan tokoh militer di Indonesia. Saat ini namanya diabadikan sebagai
salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Hingga saat ini pemerintah sudah
menetapkan 156 pahlawan nasional dengan 32 di antaranya dari kalangan TNI dan Polri. Kepada
setiap pahlawan nasional, pemerintah memberikan tunjangan sebesar Rp 1,5 juta setiap bulan dan
bantuan kesehatan Rp 3 juta setiap tahun bagi ahli waris.

Demokrasi Indonesia Periode Orde Baru (1965-1998)


Kompas.com - 13/02/2020, 07:00 WIB Bagikan: Komentar Para aktivis korban kekerasan Orde Baru
mengingatkan akan korban yang hilang dan belum kembali dengan memamerkan photo-photo
korban serta aksesorisnya pada 1999 silam. Lihat Foto Para aktivis korban kekerasan Orde Baru
mengingatkan akan korban yang hilang dan belum kembali dengan memamerkan photo-photo
korban serta aksesorisnya pada 1999 silam.(KOMPAS/Rakaryan Sukarjaputra) Penulis Arum Sutrisni
Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Indonesia adalah negara demokrasi yang dapat
dibuktikan dari sudut pandang normatif dan empirik. Dikutip dari situs resmi Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan RI, bukti empirik bahwa Indonesia adalah negara demokrasi bisa dilihat
dari alur sejarah politik di Indonesia, yaitu: Pemerintahan masa revolusi kemerdekaan Indonesia
(1945-1949) Pemerintahan parlementer (1949-1959) Pemerintahan demokrasi terpimpin (1959-
1965) Pemerintahan orde baru (1965-1998) Pemerintahan orde reformasi (1998-sekarang) Berikut
ini pelaksanaan demokrasi di Indonesia pada masa orde baru (periode 1965-1998): Demokrasi
Indonesia periode orde baru (1965-1998) Era baru dalam pemerintahan dimulai setelah melalui
masa transisi yang singkat yaitu antara 1966-1968. Ketika Jenderal Soeharto dipilih menjadi Presiden
Republik Indonesia. Baca juga: Bukti Normatif dan Empirik Indonesia Negara Demokrasi Era
pemerintahan pada masa Soeharto dikenal sebagai Orde Baru dengan konsep Demokrasi Pancasila.
Visi utama pemerintahan Orde Baru ini adalah untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara
murni dan konsekuen dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan visi tersebut,
Orde Baru memberikan harapan bagi rakyat Indonesia. Terutama yang berkaitan dengan perubahan-
perubahan politik. Perubahan politik dari yang bersifat otoriter pada masa demokrasi terpimpin di
bawah Presiden Soekarno menjadi lebih demokratis pada Orde Baru. Rakyat percaya terhadap
pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto atas dasar beberapa hal, yaitu:
Soeharto sebagai tokoh utama Orde Baru dipandang sebagai sosok pemimpin yang mampu
mengeluarkan bangsa Indonesia dari keterpurukan. Soeharto berhasil membubarkan Partai Komunis
Indonesia (PKI) yang menjadi musuh Indonesia pada masa ini. Soeharto berhasil menciptakan
stabilitas keamanan Indonesia pasca pemberontakan PKI dalam waktu relatif singkat. Baca juga:
Demokrasi Indonesia Masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Tetapi harapan rakyat tersebut tidak
sepenuhnya terwujud. Karena sebenarnya tidak ada perubahan subtantif dari kehidupan politik
Indonesia. Antara Orde Baru dan Orde lama sebenarnya sama-sama otoriter. Dalam perjalanan
politik pemerintahan Orde Baru, kekuasaan Presiden merupakan pusat dari seluruh proses politik di
Indonesia. Lembaga kepresidenan adalah pengontrol utama lembaga negara lain yang bersifat
suprastruktur (DPR, MPR, DPA, BPK, dan MA) maupun infrastruktur (LSM, Partai Politik dan
19

sebagainya). Soeharto mempunyai sejumlah legalitas yang tidak dimiliki oleh siapapun seperti
Pengemban Supersemar, Mandataris MPR, Bapak Pembangunan dan Panglima Tertinggi ABRI.
Berdasarkan kondisi tersebut, pelaksanaan demokrasi Pancasila masih jauh dari harapan.
Pelaksanaan nilai-nilai Pancasila secara murni dan konsekuen hanya dijadikan alat politik penguasa.
Kenyataan yang terjadi, pelaksanaan Demokrasi Pancasila sama dengan kediktatoran.

"Quo Vadis" Kebebasan Beragama?


Kompas.com - 01/03/2011, 04:51 WIB Bagikan: Komentar Editor Masdar Hilmy Ungkapan ”tidak ada
kebebasan tanpa batas” atau ”kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain” adalah
benar secara normatif, tetapi problematis di tingkat praksis-aplikatif. Persoalannya, domain
kebebasan dan batas-batasnya tidak memiliki ukuran dan standar yang baku, jelas, dan terukur; jelas
menurut ukuran apa dan siapa? Pada kenyataannya, ukuran kebebasan dan batasan sering dibuat
sendiri oleh individu dan atau kelompok yang memiliki kuasa atau dekat dengan sumber- sumber
kuasa. Ukuran dan batasan kebebasan semacam ini pada kenyataannya sering di-(salah)-gunakan
oleh individu atau kelompok untuk melakukan glorifikasi diri di satu sisi dan demonisasi yang ”lian”
di sisi lain. Sikap-sikap semacam inilah yang tak jarang berujung pada pengerdilan dan pembatasan
hak-hak sipil warga (civil rights). Kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak sipil warga
yang keberadaannya paling sering dilanggar, baik oleh sesama individu maupun oleh negara. Inilah
persoalan mendasar yang sedang dihadapi oleh Indonesia. Serangkaian aksi kekerasan terhadap
kelompok minoritas Ahmadiyah di Banten dan Bogor serta perusakan dan pembakaran sejumlah
gereja di Temanggung, beberapa waktu lalu, merepresentasikan dengan sangat gamblang betapa
kompleks dan ruwetnya persoalan kebebasan beragama di republik ini. Bagi negara (baca:
pemerintah), persoalan ini sangat dilematis; maju kena mundur kena. Paradoks Dalam lanskap
ketatanegaraan kita, gagasan tentang kebebasan beragama sebenarnya dinyatakan secara eksplisit
di dalam UUD 1945. Dalam Pasal 29 Ayat (1) dinyatakan, negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha
Esa. Ayat ini menjadi peneguh identitas negara Indonesia yang bukan negara sekuler, melainkan juga
bukan negara agama (posisi yang sebenarnya ambigu!). Namun, kesan ambiguitas posisi agama
seolah dinetralisasi oleh Ayat (2) pada pasal yang sama: ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan
kepercayaannya itu.” Dilihat dari hierarki ketentuan perundangan, penegasan ayat tersebut
seharusnya berimplikasi hukum yang tidak multitafsir. Kebebasan beragama adalah hak sipil warga
negara yang dijamin undang-undang. Titik! Di luar UUD 1945, Indonesia juga mengakui dan
meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang menjamin kebebasan
beragama dan berkeyakinan sebagai hak sipil setiap individu yang dijamin oleh negara. Kebebasan
beragama juga dijamin UU No 39/1999. Dalam struktur kenegaraan, komitmen negara pada HAM
diterjemahkan ke dalam kementerian tersendiri melalui Kementerian Hukum dan HAM. Melihat
pranata hukum di atas, eksistensi kebebasan beragama mestinya harus dijunjung tinggi, dikawal dan
dilindungi oleh negara. Artinya, menjadi tidak relevan ketika ada sekelompok individu yang coba
memberikan tafsiran lain di luar ketentuan teks hukum tersebut. Kebebasan beragama, dengan
demikian, bukanlah ungkapan bersayap yang bersifat kondisional, subyektif, dan tunduk pada
ketentuan-ketentuan lokal; ia adalah ketentuan hukum yang obyektif-eksplisit dan, karena itu,
bersifat legally binding. Namun, formulasi indah di atas kertas itu ternyata tak seindah di lapangan.
Negara sering kali mempertontonkan paradoks dan dualisme yang justru menganulir kebijakannya
sendiri. Di satu sisi pranata hukum tertinggi menjamin kebebasan beragama, tetapi peraturan-
peraturan di bawahnya malah membatasi kebebasan beragama. Di satu sisi negara menyatakan
akan menindak tegas para pelaku kekerasan agama, tetapi di sisi lain kekerasan dibiarkan terjadi.
Sungguh sebuah kebijakan yang sulit dimengerti! Sandera politik-kekuasaan Salah satu penjelasan
mengapa negara sering memperlihatkan sikap paradoks dalam konteks kehidupan beragama karena
kehidupan beragama masih jadi sandera politik-kekuasaan. Era demokrasi prosedural-elektoral
memungkinkan terjadinya pertukaran kepentingan dengan dukungan politik. Realitasnya,
kegamangan negara sering kali didorong oleh kalkulasi untung-rugi, yang ujung-ujungnya adalah
20

kapitalisasi suara dan dukungan politik. Sikap negara (baca: pemerintah), dengan demikian,
merupakan eksemplar dari praktik demokrasi prosedural yang—ironisnya— mengorbankan (nilai-
nilai) demokrasi substantif. Dalam kondisi semacam ini, sulit menampik kenyataan bahwa kebebasan
beragama hanya bekerja pada tataran basa-basi politik (political gimmick), sementara di tingkat
praksis kita menghadapi persoalan yang sangat serius. Merespons persoalan ini, Guy Haarscher
(2002; 278) mengajukan solusi menarik yang ia sebut sebagai lowest common denominator policy.
Prinsipnya, agar seseorang bisa menerapkan perilaku politik yang benar dan tak melanggar
ketentuan hukum yang berlaku dalam negara multikultural, dia tidak boleh ”mengguncang” (shock)
orang lain. Dalam konteks ini, menghormati keyakinan dan nilai agama lain berarti tidak mengatakan
apa pun yang barangkali bisa mengganggu mereka. Secara progresif, perdebatan teologis akan
didominasi oleh sikap kehati-hatian (sekalipun sebagian orang menyebutnya munafik). Selebihnya,
biarlah hukum berbicara! Masdar Hilmy Pengajar Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel

Janji Koiso, Janji Kemerdekaan Jepang kepada Indonesia


Kompas.com - 18/01/2020, 13:00 WIB Bagikan: Komentar Rakyat Indonesia sedang melakukan
seikerei. Seikerei adalah penghormatan setiap pagi pada Tenno Heika (Kaisar Jepang) dengan cara
membungkuk ke arah Tokyo. Lihat Foto Rakyat Indonesia sedang melakukan seikerei. Seikerei adalah
penghormatan setiap pagi pada Tenno Heika (Kaisar Jepang) dengan cara membungkuk ke arah
Tokyo.(Konflik Bersejarah - Ensiklopedi Pendudukan Jepang (2013)) Penulis Nibras Nada Nailufar |
Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Ketika pertama datang ke Indonesia pada 1942, Jepang
menampilkan diri sebagai "saudara tua" yang akan membebaskan Indonesia dari imperialisme Barat.
Rakyat Indonesia yang awalnya menyambut Jepang dengan gembira, belakangan tertipu. Jepang
ternyata hanya memanfaatkan Indonesia untuk kepentingan perangnya. Jepang berambisi
menyatukan Indonesia di bawah Kekaisaran Jepang alih-alih memerdekakan Indonesia. Baca juga:
Kedatangan Jepang di Indonesia, Mengapa Disambut Gembira? Beruntung dalam perang melawan
Barat, kemenangan Jepang tak bertahan lama. Dikutip dari Konflik Bersejarah - Ensiklopedi
Pendudukan Jepang di Indonesia (2013), posisi Jepang dalam perang makin terimpit pada 1944.
Jepang pun berusaha meraih dukungan dari rakyat Indonesia. Selain membentuk berbagai organisasi
dan menggaet tokoh nasional, Jepang juga memberikan janji kemerdekaan yang dikenal dengan Janji
Koiso. Janji Koiso adalah pernyataan yang disampaikan Perdana Menteri Jepang Kuniaku Koiso pada
7 September 1944 dalam sidang istimewa Teikoku Henkai ke-85 di Tokyo. Baca juga: Perang Asia
Timur Raya: Latar Belakang dan Posisi Jepang Koiso Kuniaki, Perdana Menteri Jepang. Lihat Foto
Koiso Kuniaki, Perdana Menteri Jepang.(Encyclopaedia Britannica) Janji Koiso berisi janji Keksaisaran
Jepang untuk memberikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia suatu hari. Janji ini dikeluarkan
karena Jepang tahu rakyat Indonesia dan tokoh pergerakan sangat mendambakan kemerdekaan.
Agar rakyat mau tetap bekerja untuk Jepang, Jepang pun menjanjikan kemerdekaan. Setelah PM
Koiso mengeluarkan janji itu, tentara pendudukan Jepang di Indonesia pun mulai melonggarkan
pengawasannya kepada para tokoh nasional seperti Soekarno, Moh Hatta, dan kawan-kawan. Baca
juga: Sejarah BPUPKI dan Perjalanannya Sebelumnya, mereka tak pernah berpidato atau
mengumbar kata "kemerdekaan" di publik karena pergerakan politiknya diawasi dengan ketat oleh
Jepang. Menagih janji Jepang Posisi Jepang dalam perang yang makin terimpit mengkhawatirkan
banyak tokoh. Para tokoh pergerakan khawatir Jepang batal memberikan kemerdekaan yang
dijanjikan. Mereka terus menagih kemerdekaan kepada Jepang. Sejarawan JJ Rizal dalam kolomnya
di Kompas.com (17/8/2016) mengatakan Soekarno pun beberapa kali bersikap keras kepada Jepang.
Baca juga: Empat Serangkai: Tokoh, Sejarah Terbentuk, dan Kiprahnya Sikap ini ditunjukkan
Soekarno ketika "janji kemerdekaan di kemudian hari" yang disampaikan PM Koiso ternyata tidak
serius. "Sukarno marah besar sehingga menakutkan Miyoshi, pejabat Gunseikanbu. Alhasil
dibentuklah BPUPKI," kata JJ Rizal. Jepang tak bisa berkelit. Untuk melunasi janjinya, mereka
membentuk satu badan yang bertugas mempersiapkan dan merancang berdirinya negara yang
merdeka dan berdaulat. Pada 26 April 1945, badan itu, Dokoritsu Zyumbi Coosakai atau Badan
Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dibentuk. Soekarno, Moh Hatta, Soepomo, AA
21

Maramis, Abdul Wahid Hasyim, dan Moh Yamin direkrut ke dalamnya. Baca juga: Chuo Sangi-in:
Latar Belakang, Tujuan, Tugas, dan Tokohnya Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden
Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta.
Lihat Foto Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah
proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta. (Frans Mendur) Merebut
kemerdekaan Di saat yang sama, Soekarno juga juga mengirim surat kepada pelajar-pelajar
Indonesia di Jepang bahwa ia tak percaya kemerdekaan akan diberikan Jepang, tetapi harus direbut
dengan perjuangan. Nyatanya, Jepang tidak pernah melunasi janji itu. Jepang tak kunjung
memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Hingga pada 6 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom
atom ke kota Hiroshima. Menyusul bom ke Nagasaki pada 9 Agustus. Akibat bom itu, Jepang lumpuh
dan tak berdaya. Jepang akhirnya menyatakan kekalahan dan menyerah. Baca juga: Kekalahan
Jepang di Perang Asia Timur Raya Kabar kekalahan Jepang segera dimanfaatkan oleh golongan
pemuda untuk merebut kemerdekaan. Maka pada 17 Agustus 1945, Soekarno memproklamasikan
kemerdekaan.

Peristiwa Menjelang Proklamasi


Kompas.com - 08/01/2020, 14:00 WIB Bagikan: Komentar Teks proklamasi autentik yang diketik
Sayuti Melik dan akhirnya dibacakan Bung Karno di hadapan para pemuda dan anggota PPKI pada 17
Agustus 1945 silam. Lihat Foto Teks proklamasi autentik yang diketik Sayuti Melik dan akhirnya
dibacakan Bung Karno di hadapan para pemuda dan anggota PPKI pada 17 Agustus 1945 silam.
(Repro Buku 17-8-45, Fakta, Drama, Misteri (2015) karya Hendri F. Isnaeni) Penulis Serafica Gischa |
Editor Serafica Gischa KOMPAS.com - Perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia terus bergulir
selepas dibubarkannya Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPPUPKI). Dilansir dari buku Konflik di Balik Proklamasi (2010) karya St Sularto, Jepang semakin
mengalami kemuduran dalam Perang Asia Timur Raya. Berikut peristiwa-peristiwa yang terjadi
menjelang proklamasi kemerdekaan: Pembentukan PPKI Komando Tentara Jepang wilayah Selatan
mengadakan rapat besar. Dalam rapat tersebut disepakati bahwa Indonesia akan diberi
kemerdekaan pada 7 September 1945. Pada 6 Agustus 1945 keadaan Jepang semakin kritis, karena
Kota Hiroshima dibom atom oleh Amerika Serikat. Menghadapi situasi tersebut Jenderal Terauchi
menyetujui pembentukan Dokuritsu Junbi Inkai atau Panitia Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada
tanggal 7 Agustus 1945. Tugas PPKI adalah melanjutkan tugas BPUPKI dan mempersiapkan
Kemerdekaan Indonesia. PPKI diketuai oleh Soekarno dan wakilnya Mohammad Hatta. Baca juga:
Sejarah BPUPKI dan Perjalanannya PPKI beranggotakan 21 orang Indonesia yang berasal dari, Jawa
12 orang, Sumatera 3 orang, Sulawesi 2 orang, Kalimantan 1 orang, Sunda 1 orang, Maluku 1 orang,
dan golongan penduduk China 1 orang. Untuk kepentingan peresmian dan pelantikan PPKI, pada 9
Agustus 1945 Jenderal Terauchi memanggil Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman
Wedyodiningrat untuk pergi ke Dalat, Saigon. Hal ini untuk menegaskan bahwa Pemerintah Jepang
memutuskan untuk menyerahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Suasana sebelum
Proklamasi Dilansir dari situs resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, pada 14
Agustus 1945 Soekarno, Mohammad Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat kembali ke Jakarta. Saat
itu Jepang sudah lumpuh akibat bom atom pada 9 Agustus 1945 di Kota Nagasaki. Dengan demikian
jepang benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah
tanpa syarat kepada pihak Sekutu. Para tokoh yang mengikuti perkembangan Perang Dunia II
memiliki ide untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu keputusan
Jepang. Perbedaan pendapat terjadi antara golongan tua (PPKI) dengan golongan muda yang
terwakili dalam beberapa perkumpulan. Baca juga: 17 Agustus: Mengenang Rumah Petani Tionghoa,
Tempat Penyusunan Teks Proklamasi di Rengasdengklok Perkumpulan golongan muda tersebut, di
antaranya: Kelompok Asrama Menteng 31, dipelopori Chaerul Saleh dan Sukarni. Kelompok Asrama
Indonesia Merdeka, dipelopori Soebarjo. Kelompok Asrama Mahasiswa Kedokteran, Sutan Sjahrir.
Golongan muda mendesak agar Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan. Sementara
golongan tua lebih menghindari pertumpahan darah, mengingat pasukan Jepang masih banyak di
22

Indonesia. Sehingga menunggu keputusan Jepang. Peristiwa Rengasdengklok Bung Hatta (berdiri)
ketika menjelaskan lagi pendapatnya tentang saat-saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan di
rumah bekas penculiknya, Singgih (baju batik hitam) Jumat siang kemarin. Tampak dari kiri kekanan:
GPH Djatikusumo, D. Matullesy SH, Singgih, Mayjen (Purn) Sungkono, Bung Hatta, dan bekas
tamtama PETA Hamdhani, yang membantu Singgih dalam penculikan Soekarno Hatta ke
Rengasdengklok. Lihat Foto Bung Hatta (berdiri) ketika menjelaskan lagi pendapatnya tentang saat-
saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan di rumah bekas penculiknya, Singgih (baju batik hitam)
Jumat siang kemarin. Tampak dari kiri kekanan: GPH Djatikusumo, D. Matullesy SH, Singgih, Mayjen
(Purn) Sungkono, Bung Hatta, dan bekas tamtama PETA Hamdhani, yang membantu Singgih dalam
penculikan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok. (Kompas/JB Suratno) Pada 16 Agustus 1945 pukul
04.00 WIB Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi
penculikan itu sebenarnya membuat kecewa Soekarno. Soekarno marah dan kecewa, namun
melihat keadaan dan situasi yang panas, Soekarno tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti
kehendak para pemuda. Baca juga: Mengenal Era Pemerintahan di Indonesia Sejak Kemerdekaan
Saat itu Fatmawati, istri Soekarno dan anaknya Guntur juga dibawa untuk keamanan diri mereka.
Rengasdengklok merupakan kota kecil dekat Karawang. Posisi ini cukup strategis untuk melihat atau
mendeteksi pergerakan Jepang, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah bandung dan
Jawa tengah. Meski ditekan oleh golongan muda dengan berbagai cara, Soekarno tetap berpegang
teguh untuk menjalankan rencana Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Bagi Soekarno angka 17 adalah
angka yang suci. Saat itu Agustus merupakan bulan suci Ramadhan. Selain itu 17 Agustus 1945
bertepatan dengan hari Jumat yang dipercaya sebagai hari suci dan berbahagia. Sementara di
Jakarta, Achmad Soebardjo dari golongan tua dan Wikana dari golongan muda membicarakan
kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta. Baca juga: Ini Kasus-kasus Korupsi yang
Terjadi Setelah Kemerdekaan... Laksamana Muda Maeda Tadashi, yang saat itu menjabat sebagai
Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat tentara kekaisaran Jepang bersedia untuk
menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan dari semua
pihak, khususnya golongan muda, Soekarno dan Hatta dijemput untuk kembali ke Jakarta dan
menjamin bahwa bahwa Proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada 17 Agustus 1945. Kursi di
ruang tamu Rumah Maeda tempat Maeda menerima Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo setelah
tiba dari Rengasdengklok, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta, Sabtu
(13/8/2017). Lihat Foto Kursi di ruang tamu Rumah Maeda tempat Maeda menerima Soekarno,
Hatta, dan Ahmad Soebardjo setelah tiba dari Rengasdengklok, Museum Perumusan Naskah
Proklamasi, Menteng, Jakarta, Sabtu (13/8/2017).(KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI) Penyusunan
naskah Proklamasi Rombongan Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta pukul 23.00 WIB pada 16 Agustus
1945 tepatnya di rumah Laksamana Muda Maeda Tadashi. Di ruang makan, Soekarno, Mohammad
Hatta, dan Achmad Soebardjo mulai merumuskan teks Proklamasi Kemerdekaan. Soekarno
menuliskan konsep proklamasi pada secarik kertas. Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo
menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama Proklamasi merupakan saran dari
Achmad Soebardjo. Sedangkan kalimat terakhir disempurnakan oleh Mohammad Hatta. Bagi Hatta,
kalimat pertama merupakan penyataan dari kemauan bangsa Indonesia dalam menentukan
nasibnya. Harus ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan (transfer of sovereignity).
Pukul 04.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno membuka pertemuan dini hari dan naskah
Proklamasi kemudian diketik oleh Sajuti Melik. Setelah jadi, Soekarno dan Hatta langsung
menandatangani teks tersebut. Detik-detik Proklamasi Pada pukul 05.00 WIB para pemimpin bangsa
dan tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda. Mereka telah sepakat untuk
memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur
No.56 Jakarta pada pukul 10.00 WIB. Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Deklarasi Kemerdekaan
Timor Timur atas Portugal Mohammad Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja sebagai
pers dan di kantor berita untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh
dunia. Bendera yang dijahit dengan tangan Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran
bendera itu tidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Sementara itu, rakyat yang
23

telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Tepat pukul 10.00
WIB Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia membacakan Proklamasi. Sejak 17 Agustus
1945 bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan.

Ajukan Uji Materi soal Kasus First Travel, Pengacara Ini Diminta MK Perbaiki Argumen
Kompas.com - 10/12/2019, 17:52 WIB Bagikan: Komentar Sidang uji materi terkait kasus
perampasan aset First Travel di Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2019). Lihat Foto
Sidang uji materi terkait kasus perampasan aset First Travel di Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat,
Selasa (10/12/2019).(Kompas.com/Fitria Chusna Farisa) Penulis Fitria Chusna Farisa | Editor Icha
Rastika JAKARTA, KOMPAS.com - Mahkamah Konstitusi ( MK) menggelar sidang pendahuluan uji
materi Pasal 39 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 46 Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi dasar bagi hakim Mahkamah Agung ( MA) memutuskan
bahwa aset First Travel disita dan diserahkan kepada negara. Uji materi terhadap dua pasal tersebut
diajukan pengacara Pitra Romadoni dan tiga orang lainnya. Adapun Pitra juga menjadi pengacara
korban First Travel. Namun, saat mengajukan permohonan uji materi, ia mengatasnamakan pribadi.
Dalam sidang tersebut, Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) meminta pemohon memperbaiki
sejumlah hal yang dicantumkan dalam berkas permohonan, salah satunya mengenai legal standing
atau kedudukan pemohon. "Anda harus menjelaskan legal standing saudara. Empat orang
(pemohon) ini mempunyai kerugian yang potensial atau aktual terhadap pasal ini," kata Hakim Arief
Hidayat dalam persidangan yang digelar di Gedung MK, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2019). Pitra
Romadoni lalu menyampaikan bahwa dia dan ketiga pemohon lain mengalami kerugian potensial.
Hakim Arief kemudian meminta Pitra untuk menjelaskan kerugian potensial keempat pemohon
secara detail, lantaran pemohon sebelumnya tidak memberi penjelasan dalam berkas permohonan.
"Akan kita perbaiki majelis," ujar Pitra. Hakim Arief juga meminta pemohon memperbaiki posita atau
alasan permohonan pemohon. Sebab, dalam petitum (hal yang dimintakan) permohonan, pemohon
meminta MK menyatakan bahwa Pasal 39 KUHP dan Pasal 46 KUHAP bertentangan dengan Pasal 28
UUD 1945. Namun, dalam posita tidak disebutkan bagaimana kedua pasal tersebut dapat
bertentangan. Baca juga: Soal First Travel, Wamenag Akan Memfasilitasi agar Uang Jemaah Kembali
Baik Pasal 39 KUHP maupun Pasal 46 KUHAP mengatur tentang perampasan dan penyitaan dalam
sebuah kejahatan. "Kemudian di dalam positanya Anda harus mampu menunjukkan Pasal 39 KUHP
dan Pasal 46 KUHAP itu bertentangannya dengan Pasal 28 UUD khususnya 28D Ayat (1) dan (2) dan
Pasal 28H Ayat (4) itu apa? Harus mampu menunjukkan itu bertentangannya di mana," ujar Arief.
"Itu harus disebutkan, dinarasikan, sehingga meyakinkan kepada kita. Kan Anda pengin ini
dikabulkan, kalau ingin dikabulkan ini harus jelas menunjukkan positanya atau alasan
permohonannya yang meyakinkan kepada hakim," ucap dia. Selain argumen yang kuat, tidak lupa,
Arief juga meminta pemohon menyertakan bukti-bukti yang mendukung argumen pemohon. Pitra
pun berjanji bakal memperbaiki posita berkas permohonan. "Kami akan perbaiki dan adopsi
masukan-masukan dari yang mulia," kata Pitra. Majelis hakim kemudian memberikan waktu selama
14 hari kepada pemohon untuk memperbaiki berkas permohonan mereka. Pemohon harus
mengembalikan berkas permohonan perbaikan selambat-lambatnya 14 hari setelah persidangan
pendahuluan, atau 24 Desember 2019. Untuk diketahui, pengacara Pitra Romadoni bersama tiga
orang lainnya menjadi pemohon dalam uji materi Pasal 39 Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP) dan Pasal 46 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Kedua pasal tersebut
dianggap menjadi dasar bagi hakim Mahkamah Agung (MA) memutuskan bahwa aset First Travel
disita dan diserahkan kepada negara. Menurut Pitra, kedua pasal tersebut bertentangan dengan
sejumlah pasal dalam UUD 1945, seperti Pasal 28 D, 28 I, dan 28 H yang menjamin hak perlindungan
dan kepastian hukum warga negara. Baca juga: Kejagung Tunggu Putusan PK soal Bantuan Hukum
Korban First Travel Berdasarkan Pasal 28 D Ayat (1) dan (2), setiap orang berhak atas jaminan
perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan yamg sama di hadapan hukum.
Sementara itu, pada Pasal 28 H Ayat (4) disebutkan bahwa setiap orang berhak memiliki hak milik
pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.
24

Oleh karenanya, Pitra menyebut, seharusnya aset First Travel bukan jatuh kepada negara, melainkan
pada korban penipuan jasa penyedia umroh itu. "Ini kan hak milik para korban. Jadi UUD 1945 telah
memberikan kepastian hukum kepada para korban First Travel ini," ujar dia

TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 Belum Dicabut, Pemerintah Larang Semua Hal Berbau Komunis
Kompas.com - 10/05/2016, 20:44 WIB Bagikan: Komentar Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti Lihat
Foto Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti(Ambaranie Nadia K.M) Penulis Fabian Januarius Kuwado |
EditorSabrina Asril JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah menekankan, Ketetapan MPRS Nomor 25
Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) masih berlaku. Oleh sebab itu,
segala hal yang berbau paham komunis merupakan hal terlarang. Presiden Joko Widodo (Jokowi)
telah memerintahkan Kepala Polri, Jaksa Agung, Panglima TNI, dan Badan Intelijen Negara (BIN)
untuk menegakkan hukum terkait hal tersebut. "Presiden jelas menyampaikan, gunakan pendekatan
hukum karena TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 masih berlaku," ujar Kepala Polri Jenderal Badrodin
Haiti di Istana Negara, Selasa (10/5/2016). (Baca: Isu Kebangkitan PKI Diembuskan untuk Gagalkan
Penyelesaian Kasus 1965?) "Di situ tercantum soal pembubaran PKI dan melarang komunisme,
larangan terhadap penyebaran ajaran-ajaran komunisme, Leninisme, dan Marxisme," lanjut dia.
Selain itu, ada satu peraturan yang dijadikan dasar untuk menindak pelaku penyebar ajaran
tersebut, yakni Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1996 tentang Perubahan Pasal 107 KUHP. Dalam
UU tersebut, lanjut Badrodin, ada penambahan pada Pasal 107 KUHP, yakni pemerintah melarang
kegiatan penyebaran atau pengembangan paham komunisme, Leninisme, dan Marxisme dalam
berbagai bentuk. (Baca: Mendagri Minta Aparat Cari Otak di Balik Beredarnya Lambang PKI)
Badrodin pun mengaku sudah memberikan arahan bagi seluruh jajarannya di Indonesia untuk
menindak jika menemukan pelanggaran tersebut. "Kami sudah memberikan arahan kepada seluruh
jajaran untuk bisa melakukan langkah-langkah hukum terhadap yang diduga mengandung ajaran
komunisme. Apakah itu bentuknya atribut, kaus, simbol, termasuk film-film yang bisa mengajarkan
komunisme," ujar Badrodin.

Nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup


Kompas.com - 03/02/2020, 09:00 WIB Bagikan: Komentar Ilustrasi Pancasila. Lihat Foto Ilustrasi
Pancasila.(KOMPAS/TOTO SIHONO) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri
KOMPAS.com - Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia
mempunyai ciri khas atau karakteristik tersendiri. Ciri khas Pancasila berbeda dari ideologi lain yang
ada di dunia. Karakteristik tersebut terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila
Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kelima sila Pancasila tidak
dapat dilaksanakan secara terpisah-pisah. Karena satu kesatuan utuh dan saling berkaitan. Sila-sila
dalam Pancasila adalah rangkaian kesatuan bulat sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama
lain, tidak dapat dibagi-bagi atau diperas. Berikut ini nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam kelima
sila, yaitu: Baca juga: Makna Bersikap Sesuai Nilai Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa Nilai ini
mengandung pengakuan atas keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.
Manusia Indonesia beriman yaitu meyakini adanya Tuhan yang diwujudkan dalam ketaatan kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Ketaatan iman terlihat dari menjalankan segala perintah dan menjauhi segala
larangan Tuhan. Kemanusiaan yang adil dan beradab Nilai ini mengandung rumusan sifat
keseluruhan budi manusia Indonesia yaitu mengakui kedudukan manusia sederajat dan sama. Serta
mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara yang dijamin oleh negara.
Persatuan Indonesia Nilai ini adalah perwujudan paham kebangsaan Indonesia yang mengatasi
paham perseorangan, golongan, suku bangsa. Serta mendahulukan persatuan dan kesatuan bangsa
sehingga tidak terpecah belah oleh sebab apapun. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Nilai ini adalah sendi utama demokrasi di
Indonesia berdasar atas asas musyawarah dan asas kekeluargaan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia Nilai ini adalah salah satu tujuan negara yaitu mewujudkan tata masyarakat Indonesia
yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Baca juga: Berbudi Pekerti Luhur Sesuai Pancasila
25

Mempertahankan Pancasila Keberadaan Pancasila mampu menyesuaikan dengan perubahan


dinamika bangsa Indonesia. Terlihat sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945
hingga era sekarang. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara adalah
kesepakatan yang sudah final. Karena mampu mempersatukan perbedaan-perbedaan pandangan.
Artinya, Pancasila telah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sebagai warga negara
harus menunjukkan sikap menghargai nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan. Salah
satu sikap menghargai nilai-nilai Pancasila adalah mempertahankan Pancasila. Berikut ini cara- cara
mempertahankan Pancasila: Warga negara Indonesia harus melaksanakan dan mengamalkan nilai-
nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengubah, menghapus dan mengganti
dasar negara Pancasila dengan dasar negara yang lain. Mempertahankan Pancasila berarti
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengganti Pancasila berarti mengancam
keberadaan negara Indonesia. Bila dasar negara diganti berakibat bangunan negara Indonesia
runtuh. Mempertahankan Pancasila adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan rakyat
Indonesia.

Hari Ini dalam Sejarah: Jepang Menyerah dan Perang Dunia II Berakhir
Kompas.com - 14/08/2018, 11:07 WIB Bagikan: Komentar Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru
Shigemitsu menandatangani dokumen yang menyatakan penyerahan diri Jepang di geladak kapal
perang USS Missouri disaksikan Jenderal Richard K Sutherland pada 2 September 1945. Lihat Foto
Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu menandatangani dokumen yang menyatakan
penyerahan diri Jepang di geladak kapal perang USS Missouri disaksikan Jenderal Richard K
Sutherland pada 2 September 1945.( Naval Historical Center) Penulis Aswab Nanda Pratama | Editor
Ervan Hardoko KOMPAS.com - Hari ini 73 tahun yang lalu, tepatnya 14 Agustus 1945, Jepang
menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Menyerahnya Jepang sekaligus mengakhiri Perang Dunia II
yang berkecamuk selama kurang lima tahun. Sebelum menyerahnya Jepang, pada 8 Mei 1945,
Jerman telah terlebih dahulu menyerah sekaligus mengakhiri Perang Dunia II di front Eropa. Di sisi
lain, Jepang menolak memenuhi semua tuntutan Sekutu untuk menyerah tanpa syarat karena ingin
menuntaskan misinya. Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Pembangunan Tembok Berlin Pada 16 Juli
1945, para pemimpin Sekutu bertemu dalam Konferensi Potsdam, Jerman. Perang melawan Jepang
merupakan salah satu dari berbagai isu yang dibicarakan dalam konferensi itu. Akhirnya, para
pemimpin Sekutu memutuskan mengeluarkan pernyataan yang disebut Deklarasi Potsdam yang
menegaskan Jepang harus menyerah tanpa syarat. Pemerintah Jepang menolak dan tak menerima
dari ultimatum dari Sekutu tersebut. Sehari kemudian, surat-surat kabar Jepang melaporkan, negeri
itu menolak isi Deklarasi Potsdam. Sebelumya, selebaran berisi pernyataan Deklarasi Postdam
dijatuhkan pesawat-pesawat Sekutu di atas wilayah Jepang. Sementara itu, di gurun pasir New
Mexico, AS sebuah proyek membuat senjata pemusnah massal dengan sandi Proyek Manhattan
sedang digarap. Hasil dari proyek ini adalah dua bom atom Little Boy dan Fat Man yang kemudian
digunakan untuk mengakhiri perang. Pada 6 agustus 1945, pesawat B-29 Superfortress berjuluk
"Enola Gay" menjatuhkan bom atom Little Boy di Hiroshima. Amerika Serikat memilih Hiroshima
yang kala itu merupakan pusat industri dan markas militer terbesar. Selanjutnya, pada 9 Agustus
1945, pesawat berjuluk Bock's Car menjatuhkan bom Fat Man di kota Nagasaki. Baca juga: Hari Ini
dalam Sejarah: Pertempuran Midway, Titik Balik Perang Pasifik Nagasaki merupakan salah satu
pelabuhan terbesar di Jepang Selatan dan menjadi kota penting semasa perang karena memiliki
banyak aktivitas industri, termasuk artileri, kapal perang, perlengkapan militer, dan material perang.
Akibatnya, dua kota besar Jepang luluh lantah dengan puluhan ribu orang menjadi korban tewas dan
luka. Setelah dua kota itu dijatuhi bom atom, Pemerintah Jepang belum bisa menentukan
langkahnya. Tak adanya reaksi pemerintah Jepang membuat Sekutu berencana melakukan invasi
militer. Kapal-kapal perang AS bahkan sudah mulai menembakkan meriam mereka ke pantai Jepang.
Pada 13 Agustus, sejumlah pesawat B-29 dikirim untuk menjatuhkan selebaran-selebaran di atas
Jepang. Selebaran ini berisi tawaran kepada Jepang untuk menyerah kepada Sekutu. Pada 14
26

Agustus 1945, pemerintah Jepang menggelar pertemuan dengan beberapa perwira militer senior
untuk segera menentukan sikap. Kehancuran yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki membuat
pemerintah Jepang akhirnya memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri perang. Namun,
sejumlah perwira militer belum mau menyerah sehingga timbul gejolak antara militer dan
pemerintah yang memutuskan untuk menyerah. Hasilnya, pemerintah Jepang akhirnya mengirimkan
surat berupa langkah langkah yang akan diambilnya ke kedutaan besar negeri itu di Swiss dan
Swedia. Isi surat itu pada dasarnya adalah menerima syarat-syarat penyerahan yang ditentukan
Sekutu. Akhirnya, pesan yang dikirim Jepang diterima Sekutu. Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: AS
Resmi Terlibat dalam Perang Dunia I Akhirnya upacara penyerahan Jepang digelar pada 2 September
1945 di atas kapal tempur Amerika Serikat USS Missouri. Dokumen menyerahnya Jepang yang
ditandatangani para pejabat pemerintahan Jepang secara resmi mengakhiri Perang Dunia II.

Kembali ke Pasal 33 UUD 1945


Kompas.com - 22/12/2011, 02:06 WIB Bagikan: Komentar Editor Mochtar Naim Dengan mencontoh
negara-negara tetangga yang mendahulukan kepentingan pembangunan ekonomi kerakyatan dari
tingkat terbawah seperti Jepang, Korea, China, Singapura, dan Malaysia, Indonesia sudah sepatutnya
melakukan hal yang sama sejak semula. Namun, kenyataannya tidak demikian. Sistem ekonomi
Indonesia sejak kemerdekaan, yang sudah 66 tahun umurnya, praktis sama saja dengan kita selama
sekian abad berada di bawah penjajahan asing. Sistem ekonomi yang berkembang sampai saat ini
masih bersifat liberal-kapitalistik-pasar bebas, sekaligus dualistik. Padahal, UUD 1945 menyatakan,
”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” (Pasal 33 Ayat 1);
”Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai oleh negara” (Pasal 33 Ayat 2); ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” (Pasal
33 Ayat 3); dan ”Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian,
serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional” (Pasal 33 Ayat 4).
Lalu disambung lagi dengan Pasal 34 Ayat 1: ”Fakir miskin dan anak-anak yang telantar dipelihara
oleh negara”; Ayat 2: ”Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”;
dan Ayat 3: ”Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak”. Ekonomi dualistik Semua itu hanya angin surga yang diimpikan para
penggagas dan pendiri republik ini. Sementara yang berjalan dan dipraktikkan selama ini justru
sebaliknya. Selain karena terlalu lama dijajah, juga karena sistem sosial-budaya yang dimiliki oleh
bangsa ini yang dominan adalah feodalistik, hierarkis-vertikal, sentripetal, etatik, nepotik, dan
bahkan despotik. Alhasil, itulah yang berlanjut sampai hari ini, yaitu sistem ekonomi yang dualistik.
Terbentuklah jurang menganga antara 95 persen penduduk yang merupakan rakyat asli, pribumi—
yang sejak semula hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan terbelakang—dan penyertaan sekitar 5
persen dari ekonomi nasional yang ”bergedumpuk” di sektor nonformal. Sementara 5 persen lainnya
—umumnya nonpribumi—menguasai 95 persen kekayaan ekonomi negeri ini: dari hulu sampai ke
muara, di darat, laut, dan bahkan udara di negara kepulauan terbesar di dunia ini. Antara harapan
seperti dituangkan dalam Pasal 33 dan 34 UUD 1945 dan kenyataan yang dihadapi bagaikan siang
dengan malam. Orang Jepang, Korea, China, Singapura, dan Malaysia bangga dengan negeri dan
tanah airnya karena mereka sendiri yang punya dan menguasai bumi, air, dan segala isinya yang
dinikmati oleh rakyatnya sendiri. Kalaupun ada orang luar yang ikut serta, mereka adalah tamu dan
tunduk kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Di kita, Indonesia, sebaliknya. Kita malah
bagaikan tamu atau orang asing di rumah sendiri. Tanah, air, dan bahkan udara yang kita jawat
secara turun-temurun dari nenek moyang kita hanya namanya kita yang punya, tetapi praktis
seluruhnya mereka yang kuasai. Padahal, alangkah luas, kaya, dan indah negara ini sehingga
menempati empat terbesar di dunia. Akan tetapi, kita hanya menguasai secara de jure di atas kertas,
de facto dikuasai kapitalis mancanegara dan konglomerat nonpribumi yang sudah mencengkamkan
27

kukunya sejak dulu. Lihatlah, hampir semua warga Indonesia terkaya ukuran dunia adalah mereka,
diselingi satu-dua elite pribumi yang hidup sengaja mendekat dan/atau bagian dari api unggun
kekuasaan itu. Untuk mengembangkan usaha makro di bidang perkebunan, kehutanan, galian alam,
misalnya, pemerintah bahkan mengambil alih tanah ulayat milik rakyat yang dipusakai turun-
temurun. Tanah itu lalu diserahkan berupa hak guna usaha, yang bisa diperpanjang setelah 30 tahun,
ke kapitalis mancanegara dan konglomerat. Sekali tanah ulayat menjadi tanah negara, kendati sudah
habis masa pakai ataupun tak lagi dipakai, tak juga bisa dikembalikan ke pemiliknya: rakyat! Hal itu
hanya karena penafsiran Ayat 3 Pasal 33 UUD 1945 yang sangat negara-sentris, harfiah, bahwa
”bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Kata ”dikuasai” secara harfiah tentu saja tidak sama
dengan ”dimiliki”. Pemiliknya tetap adalah rakyat yang mengulayati tanah itu secara turun-temurun.
Jelas sekali bahwa negara sama sekali tak berpihak kepada rakyat, tetapi kepada para kapitalis
multinasional dan konglomerat nonpribumi yang sekarang menguasai bagian terbesar dari tanah
rakyat itu. Sekarang, yang namanya tanah ulayat di mana-mana habis. Tandas sudah! Alangkah
tragis, mengingat semua ini terjadi justru di alam kemerdekaan. Ukuran keberhasilan pembangunan
bagi penguasa negara jadinya bukan ”siapa” dan seberapa besar hasilnya dinikmati oleh rakyat,
melainkan ”berapa” dari target yang diinginkan tercapai dalam angka-angka statistik. Pencapaian
target itu, dalam kenyataannya, nyaris diborong habis oleh para kapitalis yang sesungguhnya
menggerakkan roda ekonomi nasional. Penduduk asli-pribumi? Kelompok ini hidupnya masih seperti
itu juga dari waktu ke waktu, rezim berganti rezim. Sementara rakyat pribumi rata-rata memiliki
tanah kurang dari setengah hektar per keluarga, jutaan hektar tanah ulayat diserahkan oleh negara
kepada para pengusaha kapitalis multinasional dan konglomerat. Kerja sama triumvirat kapitalis
multinasional dan konglomerat nonpribumi di bawah lindungan elite penguasa negara yang pribumi
inilah yang menggelindingkan ekonomi Indonesia selama ini. Sementara rakyat pribumi yang
merupakan ahli waris sah republik ini tetap saja hidup melarat dalam kemiskinan, kebodohan, dan
keterbelakangan. Walau janji-janji dilontarkan oleh penguasa Reformasi yang sudah jilid dua pula
sekarang ini, masih ada saja yang tertulis di atas kertas yang tak segera terlihat ada
implementasinya, seperti program kredit usaha rakyat dan entah apa lagi namanya itu. Jangan-
jangan itu pun hanya janji gombal karena sebentar lagi pemilu akan datang pula. Akibat salah urus
Bagaimana ke depan? Akan seperti ini juga tanpa perubahan struktural yang berarti, yang sifatnya
harus fundamental, mendasar; atau seperti selama ini juga, sekadar tambal sulam di permukaan,
yang esensinya itu ke itu juga. Kuncinya ada pada diri kita sendiri, terutama pada kelompok elite
pribumi yang secara politis mengendalikan negeri dan negara ini. Seperti kita lihat, selama ini
mereka (para elite pribumi) sekadar menumpang di biduk ke hilir. Mereka lebih suka menerima
daripada memberi, lebih suka dilayani daripada melayani sesuai tugas mereka sebagai abdi negara.
Tanpa bersusah-susah mereka menerima upeti berbagai macam, yang jumlahnya bisa tak termakan
di akal sehat kita. Mereka datang dari semua lapisan birokrasi: dari eksekutif, legislatif, yudikatif,
polisi maupun militer; dari orang pertama di tingkat atas sampai ke tingkat bawah; di pusat maupun
di daerah. Dengan kebebasan pers yang kita nikmati sekarang, semua borok ini jadi terbuka. Tahulah
kita betapa sakit negara ini sehingga dunia menjulukinya sebagai salah satu dari negara terkorup di
dunia. Kita sesungguhnya sedang berada di tepi jurang kehancuran sebagai negara akibat salah urus
dan akibat dari sistem sosial dan budaya politik yang kita anut selama ini, yang berbeda antara yang
diucapkan dan yang dilakukan. Pilihannya tinggal satu: kembali ke pangkal jalan dengan
mempraktikkan UUD 1945, khususnya Pasal 33 dan 34, secara jujur dan konsekuen; atau kaput,
habis kita! Mochtar Naim Sosiolog

Nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup


Kompas.com - 03/02/2020, 09:00 WIB Bagikan: Komentar Ilustrasi Pancasila. Lihat Foto Ilustrasi
Pancasila.(KOMPAS/TOTO SIHONO) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri
KOMPAS.com - Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia
mempunyai ciri khas atau karakteristik tersendiri. Ciri khas Pancasila berbeda dari ideologi lain yang
28

ada di dunia. Karakteristik tersebut terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila
Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kelima sila Pancasila tidak
dapat dilaksanakan secara terpisah-pisah. Karena satu kesatuan utuh dan saling berkaitan. Sila-sila
dalam Pancasila adalah rangkaian kesatuan bulat sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama
lain, tidak dapat dibagi-bagi atau diperas. Berikut ini nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam kelima
sila, yaitu: Baca juga: Makna Bersikap Sesuai Nilai Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa Nilai ini
mengandung pengakuan atas keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.
Manusia Indonesia beriman yaitu meyakini adanya Tuhan yang diwujudkan dalam ketaatan kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Ketaatan iman terlihat dari menjalankan segala perintah dan menjauhi segala
larangan Tuhan. Kemanusiaan yang adil dan beradab Nilai ini mengandung rumusan sifat
keseluruhan budi manusia Indonesia yaitu mengakui kedudukan manusia sederajat dan sama. Serta
mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara yang dijamin oleh negara.
Persatuan Indonesia Nilai ini adalah perwujudan paham kebangsaan Indonesia yang mengatasi
paham perseorangan, golongan, suku bangsa. Serta mendahulukan persatuan dan kesatuan bangsa
sehingga tidak terpecah belah oleh sebab apapun. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Nilai ini adalah sendi utama demokrasi di
Indonesia berdasar atas asas musyawarah dan asas kekeluargaan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia Nilai ini adalah salah satu tujuan negara yaitu mewujudkan tata masyarakat Indonesia
yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Baca juga: Berbudi Pekerti Luhur Sesuai Pancasila
Mempertahankan Pancasila Keberadaan Pancasila mampu menyesuaikan dengan perubahan
dinamika bangsa Indonesia. Terlihat sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945
hingga era sekarang. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara adalah
kesepakatan yang sudah final. Karena mampu mempersatukan perbedaan-perbedaan pandangan.
Artinya, Pancasila telah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sebagai warga negara
harus menunjukkan sikap menghargai nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan. Salah
satu sikap menghargai nilai-nilai Pancasila adalah mempertahankan Pancasila. Berikut ini cara- cara
mempertahankan Pancasila: Warga negara Indonesia harus melaksanakan dan mengamalkan nilai-
nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengubah, menghapus dan mengganti
dasar negara Pancasila dengan dasar negara yang lain. Mempertahankan Pancasila berarti
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengganti Pancasila berarti mengancam
keberadaan negara Indonesia. Bila dasar negara diganti berakibat bangunan negara Indonesia
runtuh. Mempertahankan Pancasila adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan rakyat
Indonesia.

9 Fungsi Pancasila di Indonesia


Kompas.com - 05/02/2020, 19:30 WIB Bagikan: Komentar Sembilan fungsi Pancasila Lihat Foto
Sembilan fungsi Pancasila(shutterstock.com) Penulis Serafica Gischa | Editor Serafica Gischa
KOMPAS.com - Pancasila merupakan rangkaian kesatuan dan kebulatan yang tidak terpisahkan. Hal
ini karena setiap sila pada Pancasila mengandung empat sila lainnya. Kedudukan dari masing-masing
sila tersebut tidak dapat ditukar tempatnya atau dipindah-pindahkan. Hal ini sesuai dengan susunan
sila yang bersifat sistematik-hierarkis, yang berarti bahwa kelima sila dalam Pancasila menunjukkan
suatu rangkaian urutan yang bertingkat. Di mana setiap sila memiliki tempatnya sendiri di dalam
rangkaian susunan kesatuan, sehingga tidak dapat dipindahkan. Diambil dalam buku Pancasila
sebagai Ideologi dan Dasar Negara (2012) karya Ronto, Pancasila merupakan rumusan dan pedoman
kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila memiliki sembilan
fungsi yang terdiri dari sebagai berikut: Baca juga: Rumusan Pancasila dari 3 Tokoh Nasional
Pancasila sebagai ideologi negara Pancasila sebagai ideologi negara merupakan tujuan bersama
Bangsa Indonesia yang diimplementasikan dalam Pembangunan Nasional. Pembangunan Nasional
yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan
Pancasila dalam wadah NKRI yang merdeka, berdaulat dan bersatu. Kemudian berkedaulatan rakyat
dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib, dan dinamis serta dalam
29

lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib, dan damai. Pancasila sebagai dasar
negara Pancasila sebagai dasar negara atau sering juga disebut sebagai Dasar Falsafah Negara
ataupun ideologi negara. Hal ini mengandung pengertian bahwa Pancasila sebagai dasar yang
mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Pancasila adalah dasar negara dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang harus dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten. Hal tersebut
ditegaskan dalam Ketetapan MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan P4 dan Penetapan
tentang Peneggasan Pancasila sebagai dasar negara. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara
memiliki fungsi dan kedudukan sebagai kaidah negara yang fundamental atau mendasar. Baca juga:
Simbol Negara Garuda Pancasila Sehingga sifat Pancasila tetap, kuat, dan tidak dapat diubah oleh
siapa pun termasuk MPR atau DPR hasil pemilihan umum. Mengubah Pancasila artinya
membubarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara memiliki makna
sebagai berikut: Sebagai dasar untuk menata negara yang merdeka dan berdaulat. Sebagai dasar
untuk mengatur penyelenggaraan aparatur negara yang bersih dan berwibawa. Sebagai dasar,
arahan dan petunjuk aktivitas perkehidupan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia Bahwa setiap bangsa memiliki jiwanya masing-masing yang
disebut Volkgeist, artinya jiwa rakyat atau jiwa bangsa. Pancasila sebagai jiwa bangsa lahir
bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia yaitu zaman Sriwijaya dan Majapahit. Pancasila itu
sendiri telah ada sejak adanya Bangsa Indonesia. Baca juga: Fungsi dan Peran Pancasila Pancasila
sebagai kepribadian Bangsa Indonesia Diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal
perbuatan sikap mental. Sikap mental dan tingkah laku memiliki ciri khas, artinya dapat dibedakan
dengan bangsa lain. Ciri khas yang dimaksud adalah kepribadian. Pancasila sebagai pandangan hidup
Bangsa Indonesia Semua aktivitas kehidupan Bangsa Indonesia harus sesuai dengan sila-sila dari
Pancasila. Hal ini karena Pancasila merupakan kristalisasi dari nilai yang dimiliki dan bersumber dari
kehidupan Bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut yaitu: Nilai dan jiwa ketuhanan-keagamaan Nilai
dan jiwa kemanusiaan Nilai dan jiwa persatuan Nilai dan jiwa kerakyatan-demokrasi Nilai dan jiwa
keadilan sosial Pancasila sebagai sumber dari segala sumber Disini Pancasila sebagai sumber dari
segala sumber hukum atau sumber tertib hukum bagi Negara Republik Indonesia. Sumber tertib
hukum Republik Indonesia adalah pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum serta cita-cita moral
yang meliputi suasana kejiwaan serta watak Bangsa Indonesia. Cita-cita itu meliputi kemerdekaan
individu, kemerdekaan bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial dan perdamaian nasional. Baca
juga: Butir-butir Pengamalan Pancasila Pancasila sebagai perjanjian luhur Bangsa Indonesia Pada
saat mendirikan negara, Bangsa Indonesia belum memiliki undang-undang dasar negara yang
tertulis. PPKI merupakan penjelmaan atau wakil seluruh rakyat Indonesia yang mengesahkan
perjanjian luhur untuk membela Pancasila selama-lamanya. Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan
Bangsa Indonesia Pembukaan UUD 1945 merupakan penuangan jiwa proklamasi atau jiwa Pancasila.
Sehingga Pancasila merupakan cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia. Cita-cita luhur inilah yang akan
disampaikan oleh Bangsa Indonesia. Pancasila sebagai falsafah hidup yang mempersatukan bangsa
Pancasila merupakan sarana yang ampuh untuk mempersatukan Bangsa Indonesia. Hal ini karena
Pancasila sebagai falsafah hidup. Pancasila merupakan kepribadian Bangsa Indonesia yang
mengandung nilai-nilai dan norma yang diyakini Bangsa Indonesia paling benar, adil, bijaksana, dan
tepat untuk mempersatukan rakyat Indonesia.

Negara Hukum Eropa Kontinental

Negara Hukum Eropa Kontinental ini dipelopori oleh Immanuel Kant. Tujuan negara hukum menurut
Kant adalah menjamin kedudukan hukum dari individu-individu dalam masyarakat. Konsep negara
hukum ini dikenal dengan negara hukum liberal atau negara hukum dalam arti sempit atau
“nachtwakerstaat”. Dikatakan negara hukum liberal karena Kant dipengaruhi oleh paham liberal
yang menentang kekuasaan absolute raja pada waktu itu. Dikatakan negara hukum dalam arti
sempit karena pemerintah hanya bertugas dan mempertahankan hukum dengan maksud menjamin
serta melindungi kaum Boujuis (tuan tanah) artinya hanya ditujukan pada kelompok tertentu saja.
30

Dikatakan Nechtwakerstaat (Negara Penjaga Malam) karena negara hanya berfungsi menjamin dan
menjaga keamanan sebagaimana pendapat John Locke mengenai fungsi negara yaitu:
1) Legislatif
2) Eksekutif
3) Federatif (Pertahanan Keamanan)

Pancasila Sebagai Sistem Nilai


Kompas.com - 19/02/2020, 15:30 WIB Bagikan: Komentar Penampakan Patung Garuda Pancasila
yang dibuat secara swadaya oleh warga Kampung Leuser, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lihat
Foto Penampakan Patung Garuda Pancasila yang dibuat secara swadaya oleh warga Kampung
Leuser, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.(Dokumentasi Warga Kampung Leuser) Penulis Arum
Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri KOMPAS.com - Pancasila yang terdiri dari lima sila pada
hakekatnya adalah suatu sistem nilai. Tahukah kamu apa maksud Pancasila sebagai sistem nilai?
Sistem nilai Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sistem nilai terdiri
dari dua kata yaitu sistem dan nilai. Sistem adalah kesatuan dari bagian-bagian yang setiap bagian
memiliki fungsi sendiri-sendiri, saling berhubungan dan ketergantungan untuk mencapai suatu
tujuan tertentu dan terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks. Nilai adalah keberhargaan
(worth) atau kebaikan (goodness), serta kata kerja yang merujuk pada tindakan kejiwaan tertentu.
Nilai berkaitan dengan apa yang seharusnya (das sollen), bukan apa yang senyatanya (das sein).
Sistem nilai adalah konsep atau gagasan menyeluruh mengenai apa yang hidup dalam pikiran
seseorang atau anggota masyarakat. Tentang apa yang dipandang baik, berharga, penting dalam
hidup, serta berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan
masyarakat. Baca juga: 9 Fungsi Pancasila di Indonesia Pancasila sebagai sistem nilai Dalam
Pendidikan Pancasila (2002) karya Purwastuti dkk, Pancasila sebagai sistem nilai artinya mengandung
serangkaian nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan yang merupakan
satu kesatuan utuh dan sistematis. Kesatuan sila-sila Pancasila bersifat organis, susunannya bersifat
hierarkis dan berbentuk piramidal. Menurut Kaelan dalam Pendidikan Pancasila (2001), Pancasila
bersifat organis artinya sila-sila Pancasila merupakan satu kesatuan dan keutuhan yang majemuk
tunggal. Setiap sila tidak dapat berdiri sendiri dan tidak saling bertentangan. Menurut Notonagoro
dalam Pancasila Secara Ilmiah Populer (1975), Pancasila memiliki susunan yang bersifat hierarki
(urutannya logis) dan berbentuk piramidal. Hierarkis berarti tingkat. Sedangkan piramidal digunakan
untuk menggambarkan hubungan bertingkat dari sila-sila Pancasila. Maksudnya sebagai berikut: Sila
1 ditempatkan di urutan paling atas karena bangsa Indonesia meyakini segala sesuatu berasal dan
akan kembali kepada Tuhan, sehingga disebut sebagai Causa Prima (sebab pertama). Manusia
sebagai subyek pendukung pokok negara sehingga negara harus berlaku sebagai lembaga
kemanusiaan (sila 2). Negara adalah akibat adanya manusia yang bersatu (sila 3), sehingga terbentuk
persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Rakyat mewakilkan kekuasaannya kepada lembaga
perwakilan rakyat yang menjalankan fungsi secara bijaksana, mengedepankan musyawarah dan
mewakili aspirasi rakyat (sila 4). Negara memiliki tujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia (Sila 5). Baca juga: Karakter Utama Demokrasi Pancasila Nilai obyektif dan subyektif
Pancasila Dalam Pendidikan Pancasila (2001) karya Kaelan, Pancasila sebagai sistem nilai dari kualitas
nilai-nilai Pancasila bersifat obyektif dan subyektif. Berikut ini penjelasannya: Nilai obyektif Pancasila
Nilai Pancasila bersifat obyektif artinya: Rumusan nilai-nilai dari sila-sila Pancasila bersifat umum,
universal dan asbtrak. Nilai-nilai Pancasila berlaku tidak terikat oleh ruang dan waktu. Pancasila yang
termuat dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memenuhi syarat sebagai
pokok kaidah negara yang fundamental sehingga merupakan suatu sumber hukum positif di
Indonesia dan berkedudukan sebagai tertib hukum yang tertinggi. Pancasila tidak dapat diubah
secara hukum sebab berkaitan dengan kelangsungan hidup negara. Nilai subyektif Pancasila Sifat
subyektif Pancasila melekat pada pembawa dan pendukung nilai-nilai Pancasila seperti masyarakat
dan pemerintah Indonesia. Darji Darmodiharjo dalam Penjabaran Nilai-nilai Pancasila Dalam Sistem
Hukum Indonesia (1996) menjelaskan nilai Pancasila bersifat subyektif terletak pada: Nilai-nilai
31

Pancasila sebagai hasil pemikiran, penilaian dan refleksi filosofis bangsa Indonesia. Nilai-nilai
Pancasila merupakan falsafah (pandangan hidup) bangsa Indonesia sehingga menjadi jati diri bangsa.
Yang diyakini kebenaran, kebaikan, keadilan dan kebijaksanaan nilai-nilainya dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila merupakan nilai-nilai yang sesuai
dengan hati nurani bangsa Indonesia karena bersumber dari kepribadian bangsa.

Chavez dan Mosaik Sosialisme Kerakyatan


Kompas.com - 14/03/2013, 02:36 WIB Bagikan: Komentar Editor Oleh Martin Bhisu SVD Hugo
Chavez sebelum dan sesudah wafat mendapat perhatian istimewa. Alasan utama: wawasan dan
praktik politiknya merupakan tanda perbantahan dari sebuah tatanan yang peninggalannya adalah
sebuah mosaik sosialisme kerakyatan. Eduardo Galeano, penulis prestisius asal Uruguay, pernah
menjuluki Amerika Latin sebagai benua dengan urat nadi yang terbuka. Sebuah metafora tentang
luka lama benua ini sebagai akibat penjajahan yang ragamnya sekarang disebut neokolonialisme,
penjajahan baru. Istilah ini terhubung dengan kondisi Amerika Latin: ibarat sapi perah yang susunya,
hasil pertumbuhan ekonomi, dinikmati perusahaan-perusahaan multinasional. Venezuela bukan
kekecualian. Akibat rontoknya boom minyak pada 1970-an, negara vino tinto ini mengalami krisis
ekonomi. Presiden Andres Perez waktu itu mengikuti resep dogmatis IMF yang bukan solusi,
melainkan problem. Pada akhirnya yang meningkat adalah angka kemiskinan yang memprihatinkan,
sementara perdagangan minyak Venezu- ela di tangan perusahaan asing. Runtuhnya ekonomi
mendapat protes masyarakat yang berakhir dengan kudeta militer yang mengusung Chavez pada
1993. Meritokrasi Chavez untuk menyembuhkan urat nadi yang terbuka patut dicemburui pemimpin
negara apa pun yang menganggap diri pujangga ekonomi kapitalis. Menurut laporan Komisi PBB bagi
Ekonomi Amerika Latin (CEPAL), Venezuela berhasil menurunkan 44 persen angka kemiskinan: 5 juta
jiwa dari total penduduk tidak lagi miskin. Dalam hal kesadaran berdemokrasi, partisipasi elektoral
mencapai lebih dari 88 persen penduduk, yang pada pemilu terakhir 55 persen suara untuk Chavez.
Menyangkut anggaran dana sosial, negara-negara sosial demokrat Eropa tak bisa menyaingi
Venezuela yang mengalokasikan 60 persen dari total produk domestik bruto. Sebanyak 14 juta
penduduk mendapat subsidi pangan, dan tahun ini 61 persen penduduk membeli pangan di pusat-
pusat perbelanjaan milik negara. Selama 2011 Chavez menyerahkan 146.022 rumah kepada
penduduk paling miskin. Rekam jejak terpuji di atas menjadikan Chavez seorang pemimpin politik
yang diterima di kalangan rakyat kecil dan berhasil memenangi pemilu empat kali beruntun. Sangat
lumrah bila ada kelompok yang punya barometer politik ekonomi yang berseberangan dengannya,
terutama yang kepentingan mereka dirugikan karena negara mengambil alih kendali PDVSA,
perusahaan minyak Venezuela. Sosialisme kerakyatan Chavez pernah mengatakan, ”Tak bisa
dimengerti bagaimana dapat mendistribusikan kekayaan negara kalau institusi tak diubah. Apakah
ada alternatif lain?” Pertanyaan yang dituntun oleh jawaban yang hendak dicari. Model negara
sosialis dan sosialisme kerakyatan merupakan dua pokok penting yang harus tepat diartikulasi
menjadi jawaban alternatif terhadap ekonomi laissez- faire. Negara dengan para pemimpinnya yang
dipilih rakyat untuk memerintah atas nama rakyat tidak melayani kepentingan perusahaan-
perusahaan transnasional, melainkan melayani rakyat. Rancang bangun sebuah ekonomi sosial
pertama-tama ditempuh Chavez adalah dengan merombak institusi negara yang birokratis dan
koruptif menjadi negara sosialis yang kerakyatan. Dalam tahun-tahun pertama, Chavez tak mudah
menempuh jalan ini, bahkan kudeta sekelompok militer yang didukung oposisi hampir
menjatuhkannya. Peran negara tidak seperti dalam paham sosialisme terpimpin dan doktriner
(model sosialisme bekas Uni Soviet), tetapi memberi peran yang lebih besar, dinamis, dan relevan
kepada pemerintah untuk mengatur ekonomi. Dengan PDVSA sebagai jantung ekonomi, Chavez
memilih cara klasik: menaikkan permintaan agregat. Artinya, negara mengeluarkan banyak anggaran
untuk sektor-sektor pembangunan padat karya sehingga meningkatkan lapangan kerja dan
pendapatan per kapita. Perusahaan swasta dapat untung juga karena saat konsumsi meningkat
(faktor yang sangat bergantung pada pendapatan per kapita), permintaan akan barang dan jasa juga
meningkat. Akhirnya produksi terdongkrak. Di samping itu, meningkatnya anggaran dana sosial
32

sangat membantu masyarakat miskin. Politik sosial seperti ini memberi warna khusus bagi Chavez
karena mayoritas orang miskin di banyak negara maju sekalipun tak disentuh kebijakan ekonomi
pemerintah. Faktor rakyat sangat menentukan dalam ekonomi sosialis. Selama politik ekonomi yang
berciri karitatif dan asistensialistis merupakan pilihan utama, kega- galan mudah diprediksi sebab
yang hilang ialah gejala dari kemiskinan, bukan sebabnya. Chavez mengorganisasikan koperasi
produktif yang dibantu kredit lunak untuk memberantas sebab kemiskinan. Ke dalam koperasi itu
demokratis, ke luar kompetitif sesuai dengan hukum pasar. Peran pemerintah dan rakyat yang
proaktif dalam produksi dan distribusi barang dan jasa sungguh merupakan mosaik ekonomi sosial
kerakyatan. Indonesia mungkin tak dapat meniru model ini karena banyak sebab. Di anta- ranya
mental kerakyatan yang minim dari pemerintah. Dengan sistem pemerintah yang sangat
parlementaristis, kekuasaan eksekutif ke dalam takut akan teka- nan primordial sejumlah golongan;
ke luar berkiblat ke negara Barat dan bangsa kita terbiasa dengan apa yang ada. Sebab kedua adalah
kurangnya pengalaman signifikan bagai- mana hidup cukup sejahtera. Kecuali sampai akhir 1980-an,
ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan secara akumulatif, tetapi ekonomi yang trickle down
seperti ini tak menyentuh periuk nasi orang miskin. Berbeda dengan Venezuela, sebelum krisis
minyak, pertumbuhan ekonomi berkarakter sosial, dan masyarakat tahu bagaimana dampak positif
ekonomi kerakyatan. Hal ini menjadi pembelajaran kolektif yang ujungnya adalah revolusi sosial
melawan pemerintah koruptif selama krisis minyak. Mungkin mosaik sosialisme kerakyatan
Venezuela bisa menjadi inspirasi bagi Pemerintah Indonesia mendatang. Namun, ini bergantung
sepenuhnya kepada rakyat yang berwawasan sosialis memilih orang yang berpihak kepada kaum
jelata.

Mantan Ajudan Soekarno: Bung Karno Dikibuli Soeharto


Kompas.com - 11/03/2016, 09:09 WIB Bagikan: Komentar Presiden RI ke I Soekarno dan Jenderal
Soeharto Lihat Foto Presiden RI ke I Soekarno dan Jenderal Soeharto(Istimewa/Arsip Kompas)
Penulis Indra Akuntono | EditorSabrina Asril JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Soekarno merasa
dibohongi Soeharto. Itulah hal yang disampaikan Sidarto Danusubroto, ajudan terakhir Bung Karno,
pasca-terbitnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) tahun 1966. "Bung Karno merasa dikibuli,"
kata Sidarto saat dijumpai Kompas.com di kediamannya di Jakarta Selatan, Minggu (6/3/2016).
Setelah 50 tahun berlalu, Supersemar masih menyimpan banyak misteri. Setidaknya masih ada
kontroversi dari sisi teks dalam Supersemar, proses mendapatkan surat itu, dan mengenai
interpretasi perintah tersebut. Menurut Sidarto, Soekarno menunjukkan sikap berbeda dengan
serangkaian langkah yang diambil Soeharto setelah menerima Supersemar. Sidarto tidak menyebut
detail perubahan sikap Soekarno, tetapi ia menekankan bahwa Supersemar tidak seharusnya
membuat Soeharto membatasi ruang gerak Sang Proklamator dan keluarganya. "Dalam Supersemar,
mana ada soal penahanan? Penahanan fisik, (dibatasi bertemu) keluarganya, penahanan rumah.
Supersemar itu seharusnya melindungi keluarganya, melindungi ajarannya (Bung Karno)," kata
Sidarto. Pada 11 Maret 1966 pagi, Presiden Soekarno menggelar rapat kabinet di Istana Merdeka,
Jakarta. Pada saat bersamaan, ia dikejutkan dengan kehadiran demonstran yang mengepung Istana.
Demonstrasi itu dimotori kelompok mahasiswa yang mengusung Tritura (tiga tuntutan rakyat;
bubarkan PKI, rombak kabinet, dan turunkan harga-harga). Pada waktu yang sama, Brigjen Kemal
Idris mengerahkan sejumlah pasukan dari Kostrad untuk mengepung Istana. Alasan utamanya adalah
untuk menangkap Soebandrio yang berlindung di Kompleks Istana. Pasukan yang dikerahkan Kemal
itu tidak mengenakan identitas. Komandan Tjakrabirawa Brigjen Sabur melaporkan kepada Soekarno
bahwa Istana dikepung "pasukan tidak dikenal". Letjen Soeharto tidak hadir dalam rapat kabinet
dengan alasan sakit. Karena itu, Soekarno tidak dapat memerintahkan Soeharto membubarkan
"pasukan tidak dikenal" tersebut dan akhirnya memilih keluar dari Istana Merdeka menggunakan
helikopter menuju Istana Bogor. Setelah itu, Soeharto mengutus Basoeki Rachmat, Jusuf, dan Amir
Machmud menemui Soekarno di Istana Bogor. Ketiga jenderal itulah yang membawa Supersemar ke
Jakarta untuk Soeharto. Bagi Presiden Soekarno, Supersemar adalah perintah pengendalian
keamanan, termasuk keamanan Presiden dan keluarganya. Namun, Soekarno "kecolongan" karena
33

dalam Supersemar diyakini terdapat frasa "mengambil segala tindakan yang dianggap perlu."
Padahal, perintah dalam militer harus tegas batas-batasnya, termasuk waktu pelaksanaannya.
Dengan surat itu, Soeharto menjalankan aksi beruntun pada 12 Maret 1966 dengan membubarkan
PKI, menangkap 15 menteri yang dianggap pendukung PKI atau pendukung Soekarno, dan
memulangkan anggota Tjakrabirawa ke kesatuan di daerah asalnya. Dalam buku Memoar Sidarto
Danusubroto Ajudan Bung Karno yang ditulis Asvin Warman Adam, diperkirakan ada sekitar 4.000
anggota pasukan yang dipulangkan ke kesatuan di daerah asalnya. Tjakrabirawa adalah pasukan
pengamanan yang loyal kepada Presiden. Tak berselang lama, Soeharto juga mengontrol media
massa di bawah Pusat Penerangan Angkatan Darat. Serangkaian langkah yang diambil Soeharto itu
membuat Soekarno marah, khususnya dengan pembubaran PKI. Meski demikian, isu pembubaran
PKI adalah salah satu penyebab merosotnya dukungan politik untuk Soekarno. Mengapa Soekarno
tidak mau membubarkan PKI? Sebab, Soekarno ingin memegang teguh ajaran three in one-nya, yaitu
Nasakom (nasionalisme, agama, dan komunisme). Soekarno konsisten sejak 1925 tentang Nasakom.
Dalam sebuah pidato, ia menegaskan bahwa "kom" tersebut bukanlah komunisme dalam pengertian
sempit, melainkan marxisme atau tepatnya sosialisme. Dalam kesempatan lain, Soekarno
mensinyalir bahwa revolusi Indonesia telah dibelokkan ke kanan. Padahal, menurut dia, revolusi
Indonesia itu pada intinya adalah kiri. Meskipun demikian, Soekarno bersaksi, "Saya bukan
komunis." Terkait kasus 1965, Soekarno mengetahui bahwa ada oknum PKI yang bersalah. Namun, ia
beranggapan kalau ada tikus yang memakan kue di dalam rumah, jangan sampai rumah itu yang
dibakar. Sidarto menuturkan, Soekarno masih memiliki peluang mengendalikan situasi pasca-
Supersemar. Ia menyebut posisi kekuatan ABRI saat itu masih 60:40 pro-Soekarno. Masih banyak
loyalis Soekarno di tubuh ABRI-Polri yang siap membela. Para loyalis Soekarno itu di antaranya
adalah Angkatan Udara di bawah KSAU Omar Dhani, Angkatan Laut di bawah KSAL Mulyadi, Polri di
bawah Jenderal Pol Soetjipto Joedodiharhjo, dan Kodam Siliwangi di bawah Mayjen Ibrahim Ajie.
Kemudian, Korps KKA di bawah Letjen Hartono, Korps Brimob di bawah Anton Soedjarwo, dan
sebagian besar pasukan Kodam Brawijaya yang setia membela Soekarno. Namun, ketika para loyalis
ini menyarankan untuk melawan, Soekarno menolaknya. Soekarno tidak ingin perlawanannya
memicu perang sipil dan memecah belah bangsa. "Para loyalis ini tidak tega melihat Bung Karno.
Lebih baik mati bersama-sama. Sangat berisiko, tapi mereka die hard semua," ungkap Sidarto.
Sidarto diangkat menjadi ajudan Presiden Soekarno pada 6 Februari 1967. Saat itu, pangkat Sidarto
adalah ajun komisaris besar polisi. Dia menggantikan Komisaris Besar Sumirat yang ditahan setelah
terbitnya Supersemar. Sidarto mengawal Soekarno sebagai Presiden hanya dua pekan, 6-20 Februari
1967. Setelah itu, kekuasaan beralih kepada Jenderal Soeharto. Sidarto tetap menjadi ajudan
Soekarno meski statusnya disebut sebagai "Presiden nonaktif". Politisi PDI Perjuangan itu
menyaksikan proses penyerahan kekuasaan eksekutif dari Soekarno kepada Soeharto pada 20
Februari 1967. Sejak saat itu, secara de facto dan de jure kekuasaan berpindah dari Soekarno ke
Soeharto. Sekitar Mei 1967, Soekarno tidak diperbolehkan masuk ke Istana sekembalinya dari
berkeliling Jakarta. Sidarto menyaksikan peristiwa itu karena baru saja mendampingi Soekarno
menyantap sate ayam di pinggir pantai Priok atau Cilincing, Jakarta Utara. Sejak saat itu, Soekarno
dikenai tahanan kota dan menetap di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala, Jakarta)
sampai akhir 1967. Pada awal 1968, Soekarno dikenai tahanan rumah dan dibatasi aktivitasnya,
termasuk untuk bertemu keluarga. Sidarto ditarik dari posisinya sebagai ajudan Soekarno oleh Polri
pada 23 Maret 1968. Kondisi kesehatan Soekarno yang semakin menurun dianggap lebih
memerlukan dokter ketimbang ajudan. Pada Juni 1970, Soekarno meninggal dunia. Baca tentang 50
Tahun Supersemar

Kertibkan PKL, Ahok Terapkan Asas Manfaat dan Mudarat


Kompas.com - 29/06/2015, 11:21 WIB Bagikan: Komentar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja
Purnama saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) makanan takjil, di Pusat Jajanan Bendungan Hilir
(Benhil), Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2015). Lihat Foto Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama
saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) makanan takjil, di Pusat Jajanan Bendungan Hilir (Benhil),
34

Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2015). (Kompas.com/Kurnia Sari Aziza) Penulis Kurnia Sari Aziza |
EditorKistyarini JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena "pasar tumpah" yang terjadi di ibu kota jelang
Hari Raya Idul Fitri, membuat jajaran Pemerintah Provinsi DKI bekerja ekstra untuk menertibkannya.
Meski demikian, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengakui tidak semua "pasar
tumpah" akan ditertibkan. Dalam menertibkan "pasar tumpah", Basuki menerapkan azas manfaat
dan mudharat. "Kalau pasar tumpah itu enggak sampai tutup trotoar, kami kasih berjualan. Bagi
saya, PKL (pedagang kaki lima) itu tulang punggung ekonomi kerakyatan, tapi bukan berarti kamu
merugikan warga banyak, karena setiap keputusan selalu ada manfaat dan mudharatnya. Kami mau
manfaat lebih banyak dan mudharat sedikit mungkin," kata Basuki, di Balai Kota, Senin (29/6/2015).
Menurut dia, PKL yang berdagang hingga menutup akses jalan serta trotoar hanya menguntungkan
pedagang itu saja. Sementara hal itu merugikan bagi warga lainnya, khususnya pejalan kaki. Tak
hanya pedagang yang menutup akses jalan, lanjut dia, pedagang yang menggunakan zat berbahaya
juga merugikan warga. Bahkan, zat berbahaya yang dipergunakan pedagang untuk mengolah
makanan dagangannya membuat banyak konsumen terkena penyakit kanker hingga meninggal
dunia. Basuki mengaku tidak akan takut dimusuhi pedagang yang menjajakan dagangannya dengan
zat berbahaya. Ia lebih baik dimusuhi pedagang itu daripada membiarkan jutaan warganya
meninggal sia-sia. "Kerupuk dikasih zat pewarna, cendol warnanya hijau ternyata pakai pewarna
tekstil buatan warga biru dan kuning, gila kan. Terus ada makanan yang mengandung rhodamine, zat
pewarna yang membuat kanker hati, kami enggak mau toleransi lagi," tegas dia. "Saya ingin
keamanan pangan ada di Jakarta. Kasihan banyak warga Jakarta yang usia produktif sudah terkena
kanker," kata Basuki.

Nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup


Kompas.com - 03/02/2020, 09:00 WIB Bagikan: Komentar Ilustrasi Pancasila. Lihat Foto Ilustrasi
Pancasila.(KOMPAS/TOTO SIHONO) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum Sutrisni Putri
KOMPAS.com - Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia
mempunyai ciri khas atau karakteristik tersendiri. Ciri khas Pancasila berbeda dari ideologi lain yang
ada di dunia. Karakteristik tersebut terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila
Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kelima sila Pancasila tidak
dapat dilaksanakan secara terpisah-pisah. Karena satu kesatuan utuh dan saling berkaitan. Sila-sila
dalam Pancasila adalah rangkaian kesatuan bulat sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama
lain, tidak dapat dibagi-bagi atau diperas. Berikut ini nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam kelima
sila, yaitu: Baca juga: Makna Bersikap Sesuai Nilai Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa Nilai ini
mengandung pengakuan atas keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.
Manusia Indonesia beriman yaitu meyakini adanya Tuhan yang diwujudkan dalam ketaatan kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Ketaatan iman terlihat dari menjalankan segala perintah dan menjauhi segala
larangan Tuhan. Kemanusiaan yang adil dan beradab Nilai ini mengandung rumusan sifat
keseluruhan budi manusia Indonesia yaitu mengakui kedudukan manusia sederajat dan sama. Serta
mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara yang dijamin oleh negara.
Persatuan Indonesia Nilai ini adalah perwujudan paham kebangsaan Indonesia yang mengatasi
paham perseorangan, golongan, suku bangsa. Serta mendahulukan persatuan dan kesatuan bangsa
sehingga tidak terpecah belah oleh sebab apapun. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Nilai ini adalah sendi utama demokrasi di
Indonesia berdasar atas asas musyawarah dan asas kekeluargaan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia Nilai ini adalah salah satu tujuan negara yaitu mewujudkan tata masyarakat Indonesia
yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Baca juga: Berbudi Pekerti Luhur Sesuai Pancasila
Mempertahankan Pancasila Keberadaan Pancasila mampu menyesuaikan dengan perubahan
dinamika bangsa Indonesia. Terlihat sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945
hingga era sekarang. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara adalah
kesepakatan yang sudah final. Karena mampu mempersatukan perbedaan-perbedaan pandangan.
Artinya, Pancasila telah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sebagai warga negara
35

harus menunjukkan sikap menghargai nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan. Salah
satu sikap menghargai nilai-nilai Pancasila adalah mempertahankan Pancasila. Berikut ini cara- cara
mempertahankan Pancasila: Warga negara Indonesia harus melaksanakan dan mengamalkan nilai-
nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengubah, menghapus dan mengganti
dasar negara Pancasila dengan dasar negara yang lain. Mempertahankan Pancasila berarti
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengganti Pancasila berarti mengancam
keberadaan negara Indonesia. Bila dasar negara diganti berakibat bangunan negara Indonesia
runtuh. Mempertahankan Pancasila adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan rakyat
Indonesia.

Memahami Pancasila di "Zaman Now"...


Kompas.com - 05/02/2018, 19:45 WIB Bagikan: Komentar Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi
Mohammad Mahfud M.D pada diskusi Pancasila di Zamanku yang diselenggarakan di Yogyakarta,
Sabtu (3/2/2018). Lihat Foto Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud M.D pada
diskusi Pancasila di Zamanku yang diselenggarakan di Yogyakarta, Sabtu (3/2/2018).(Dok Djarum
Foundation) EditorLatief JAKARTA, KOMPAS.com - Pancasila merupakan pijakan paling utama dalam
semua aspek kehidupan bermasyarakat. Terjaganya persatuan bangsa Indonesia hanya bisa
terwujud selama Pancasila masih menjadi landasannya. Demikian diungkapkan mantan Ketua
Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud M.D dalam siaran pers diskusi "Pancasila di Zamanku"
yang diselenggarakan oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation bekerjasama dengan Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta dan Solidaritas Anak Bangsa (Sabang), di Yogyakarta, Sabtu (3/2/2018).
"Pancasila menjadi kesadaran filsafat hukum dan sumber kesadaran berbangsa dan bernegara,
Pancasila itu ideologi yang mempersatukan," ujar Profesor Hukum Tata Negara di Universitas Islam
Indonesia (UII) Yogyakarta ini. Menurut dia, di tengah era keterbukaan informasi seperti saat ini
bahaya radikalisme dan perpecahan terus mengintai generasi muda Indonesia. Minimnya
pemahaman terhadap Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, lanjut
Mahfud, membuat anak muda rentan dipecah belah. "Oleh karena itu, nilai-nilai kearifan Pancasila
dipandang perlu dibumikan kembali di tengah-tengah kaum muda untuk menguatkan semangat
persatuan," tambahnya. Dialog yang dipandu wartawan senior Rosianna Silalahi tersebut diikuti tak
kurang dari 1.500 mahasiswa dari delapan perguruan tinggi di Yogyakarta. Pembicara lain yang hadir
adalah pemerhati sosial dan pegiat di Wahid Institute Inayah Wulandari Wahid serta vokalis band
Kotak Tantri Syalindri Ichlasari atau Tantri Kotak. Mahfud lebih lanjut juga mengingatkan kembali
tentang potensi perpecahan jika generasi muda saat ini tidak lagi merefleksikan Pancasila dalam
kehidupan bersosialisasi mereka sehari-hari. "Itu (radikalisme) harus ditangkal dengan Pancasila
sebagai ideologi pemersatu ikatan kita sebagai bangsa Indonesia," kata Mahfud. Hal senada juga
diucapkan Inayah Wahid. Putri bungsu Presiden Indonesia ke empat KH. Abdurrahman Wahid ini
mengatakan Pancasila adalah intisari dari semua nilai-nilai kearifan yang bersifat universal sehingga
sampai kapan tidak akan ketinggalan zaman, termasuk di tengah generasi milenial sekarang ini.
"Selama ada manusia dan ada kemanusiaan, Pancasila akan selalu relevan, karena Pancasila selalu
bersumber dari nilai-nilai kebaikan universal sehingga akan selalu sejalan dengan agama apa pun,"
ujar Inayah. Dari kalangan anak muda dan artis, Tantri Kotak mengaku melihat minimnya
pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila saat ini bisa membuat generasi muda semakin
individualistis dan dan tidak mempunyai pegangan di tengah arus informasi global. Oleh karena itu
Tantri mengajak anak-anak muda agar terus berkarya dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila di
kehidupan mereka. "Agar semangat nasionalisme kita jangan mudah goyah," kata Tantri. Baca
berikutnya Longsor di Cijeruk Timpa Rumah…

Fungsi Ideologi ~
Setiap bangsa memerlukan ideologi dalam setiap aspek kahidupan bernegara. Oleh karenanya,
ideologi sangat menentukan keberadaan suatu bangsa dan negara. Tapi apasih sebenarnya fungsi
dari ideologi tersebut. Setelah pada artikel sebelumnya kita telah membahas secara lengkap apa itu
36

ideologi dan jenis-jenisnya, pada kesempatan kali ini Zona Siswa akan menghadirkan fungsi dari
ideologi itu sendiri beserta kekuatan dan makna bagi suatu negara. Semoga bermanfaat. Check this
out!!!
A. Fungsi Ideologi
Begitu pentingnya suatu ideologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga ideologi
dapat berfungsi sebagai berikut.
Strukur Kognitif, yaitu keselurauhan pengetahuan yang merupakan landasan untuk memahami
dan manafsirkan dunia serta kejadian-kejadian dalam alam sekitarnya.
Orientasi Pasar, yaitu adalah membuka wawasan sehingga memberikan makna dan menunjukkan
tujuan di dalam kehidupan manusia.
Memberikan norma-nora yan gmenjadi pedoman dan pegangan bagi seseorang atau masyarakat
untuk melangkah dan bertindak.
Memberikan bekal dan jalan bagi seseorang atau masyarkat untuk menemukan identitasnya.
Kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang atau masyarakat untuk
menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan.
Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati, dan membuat pola
tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung di dalamnya.

Fungsi Ideologi, Kekuatan Ideologi, dan Makna Ideologi | www.zonasiswa.com


B. Kekuatan Ideologi
Kekuatan ideologi tergantung kepada kualitas tiga dimensi yang terdapat dalam ideologi tersebut,
yaitu sebagai berikut.
Dimensi Realita
Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi tersebut secara riil hidup di dalam dan bersumber

dari budaya dan pengalaman sejarah masyarakat atau bangsanya.


Dimensi Idealisme
Nilai-nilai dasar ideologi tersebut mengandung idealisme yang memberikan harapan masa depan
yang
lebih baik melalui pengalaman di dalam praktik kehidupan sehari-hari secara bersama-sama.
Dimensi Fleskibilitas (Pengembangan)
Ideologi tersebut mempunyai keluwesan yang merangsang pengembangan pemikiran-pemikiran
baru yang relevan dengan ideologi yang bersangkutan tanpa menghilangkan atau meningkari jati diri
yang terkandung pada nilai-nilai dasar tersebut.
C. Makna Ideologi
Makna ideologi bagi suatu negara dapat diartikan sebagai suatu cita-cita dari negara tersebut.
Ideologi memiliki drajat yang tinggi sebagai niali hidup kebangsaan dan kenegaraan.
Ideologi dapat mewujudkan satu asas kerohanian pandangan dunia dan pandangan hidup.
Terima kasih sudah berkenan berkunjung dan membaca artikel Pendidikan Kewarganegaraan di atas
tentang Fungsi, Kekuatan, dan Makna Ideologi, semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan
sobat sekalian. Apabila ada suatu kesalahan baik berupa penulisan maupun isi dari artikel di atas,
mohon kiranya kritik dan saran yang membangun untuk kemajuan bersama. Jangan lupa like dan
share juga ya sobat. ^^Maju Terus Pendidikan Indonesia^^