Anda di halaman 1dari 3

KRITERIA SKOR

RIWAYAT Demam 0 = tidak ada

(14 hari terakhir) Batuk/Pilek/Nyeri tenggorokan 1 = ada salah satu

Sesak napas 2 = ada > 2

Diare/mual-muntah/nyeri perut 3 = jika kontak (+)

Anosmia/dysgeusia

Myalgia/atralgia

Perjalanan keluar negeri

Kontak dengan PDP/Kasus konfirmasi

GEJALA KLINIS Demam 0 = tidak ada

Batuk/Pilek/Nyeri tenggorokan 1 = ada salah satu

Sesak napas (RR > 30x/mnt) 2 = ada > 2

Diare/mual-muntah/nyeri perut 3 = jika desaturasi (+)

Anosmia/dysgeusia

Myalgia/atralgia

Ronchi/wheezing

Desaturasi (SpO2 < 95% tanpa suplementasi oksigen)

LABORATORIUM* Leukopenia (< 5000/mm3) atau leukositosis (> 10.000/ 0 = tidak ada
mm3)

Limfositopenia (limfosit absolut < 1500/mm3) 1 = ada salah satu

Neutrofil-Limfosit Ratio meningkat (NLR > 3,13) 2 = ada > 2

C-reactive protein (CRP) meningkat dengan


Procalcitonin (PCT) normal

Ureum/kreatinin meningkat (bukan pasien CKD)

SGOT/SGPT meningkat (tanpa sebab yang jelas)

RADIOLOGI* Rontgen thorax : konsolidasi/infiltrat multifokal, 0 = tidak ada


unilateral/bilateral

3 = ada

TOTAL SKOR

TOTAL SKOR < 3 • Resiko rendah COVID-19

• Operasi dijalankan seperti biasa.

• Jika intubasi/LMA minimalkan potensi produksi aerosol


(gunakan aliran oksigen lebih rendah, minimalkan ventilasi
manual, jika memungkinkan RSI, hindari intubasi awake)
dan gunakan APD level 2

• Saat intubasi dan ekstubasi hindari batuk, minimalkan


orang di ruangan

• Pasien ditransfer dari ruang rawat menggunakan masker


bedah

• Saat di ruang pemulihan jika sadar penuh, gunakan


kembali masker bedah

TOTAL SKOR ≥ 3

CT THORAX
RAPID TEST

Patchy shadows, konsolidasi,


NORMAL/TEMUAN crazy paving, ground glass
TIDAK KHAS COVID-19 opacities multifokal, bilateral,
RAPID TEST (-) sebaran perifer dan lobus inferior
RAPID TEST (+)

• Diskusikan antara anestesi, • Status pasien menjadi PDP

operator, DPJP, radiologi dan SpPD • Jika elektif, tunda operasi

atau SpP (kasus probable)


• Jika urgent/emergency, operasi
• Operasi dijalankan dengan dilakukan di OT infeksius (tekanan
‘precaution’ jika urgent/emergency, negatif) dengan ante room dan akses
APD level 2 keluar dan masuk sendiri tanpa melalui
• Pilih anestesi regional jika common area

memungkinkan
• Minimalkan petugas dalam area dan
• Jika anestesi umum, intubasi menggunakan APD level 3

dengan minimalkan aerosolisasi • Pilih anestesi regional jika


(RSI tanpa bagging manual, video memungkinkan

laringoskopi, ekstubasi hindari • Saat intubasi & ekstubasi minimalkan


batuk, gunakan headbox)
petugas dalam OT

• Pasien ditransfer dari ruangan • Airway management dengan minimal


menggunakan masker bedah
aerosolisasi

• Di ruang pemulihan, pasien • Tentukan area pemakaian dan


menggunakan masker bedah jika pelepasan APD level 3

sadar penuh dan beri suplementasi • Pasien diantar ke OT menggunakan


oksigen aliran rendah
masker bedah atau box

• Jarak antar bed pasien di ruang • Paska operasi ke ruangan/ICU isolasi,


pemulihan minimal 2 meter serah terima di ruang OT atau ICU
CT THORAX UNAVAILABLE • Diskusikan kembali antara anestesi, operator, DPJP,
(Waktu tidak memungkinkan, SpPD dan/atau SpP

pasien menolak, wanita hamil) • Jika elektif sebaiknya tunda operasi hingga dapat
dilakukan CT thorax

• Jika urgent/emergency, dan rapid test (+)


berlakukan status PDP, gunakan APD Level 3,
prosedur perioperatif sesuai PDP (lihat di atas)

• Jika urgent/emergency dan rapid test (-), operasi


dijalankan dengan precaution, gunakan APD level
2, anestesi regional jika memungkinkan,
minimalkan aerosolisasi (prosedur perioperatif
seperti pada kasus probable)

• Evaluasi ulang dengan CT thoraks post operasi


jika memungkinkan

* Hasil-hasil penunjang harus tidak lebih lama dari 2 hari sebelum operasi jika tidak ada
perburukan gejala klinis. Jika terdapat perburukan gejala klinis, penunjang sebaiknya
yang terbaru (di hari yang sama dengan jadwal operasi)