Anda di halaman 1dari 28

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/313675147

Dampak Sosial, Ekonomi dan Ekologi Pengelolaan Hutan Pinus

Conference Paper · August 2004

CITATIONS READS
0 4,700

3 authors, including:

Nunung Nugroho Sigit andy Cahyono


Ministry of Forestry, Indonesia BPPTPDAS, BLI
29 PUBLICATIONS   123 CITATIONS    18 PUBLICATIONS   22 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Ph.D research project at FSES, ANU Australia View project

All content following this page was uploaded by Nunung Nugroho on 26 April 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

DAMPAK SOSIAL, EKONOMI, DAN EKOLOGI


PENGELOLAAN HUTAN PINUS

Oleh:
Nunung Puji Nugroho, C. Nugroho S. Priyono, dan S. Andy Cahyono

Abstrak
Pengembangan tanaman pinus dalam pembangunan hutan tanaman di Pulau Jawa dimulai pada
tahun 1970-an. Kegiatan tersebut pada awalnya selain ditujukan untuk mereboisasi tanah kosong juga
sebagai persiapan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kertas. Dalam perkembangannya
timbul upaya untuk mendapatkan hasil antara berupa getah yang diolah untuk menghasilkan gondorukem
dan terpentin yang merupakan bahan baku industri lanjutan. Di sisi lain juga terjadi pergeseran tujuan
pemanfaatan kayu dari untuk bahan baku industri kertas menjadi untuk kayu perkakas.
Pengelolaan hutan pinus pada suatu wilayah akan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan
ekologi. Dampak sosial yang timbul adalah adanya pengurangan pengangguran melalui penyerapan
tenaga kerja dan adanya konflik antara pihak pengelola dengan masyarakat terkait dengan penggunaan
lahan, pencurian kayu, dan sumber air. Pengelolaan hutan pinus akan memberikan dampak ekonomi bagi
perusahaan, negara, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Sedangkan dampak ekologi yang
timbul meliputi pengaruhnya pada siklus hidrologi, serta pada tanah dan air. Besarnya evapotranspirasi
pada hutan pinus menyebabkan masyarakat mendesak pihak pengelola untuk merombak hutan pinus
menjadi jenis lain. Hal tersebut disebabkan oleh adanya indikasi bahwa daerah dengan vegetasi pinus
mempunyai hasil air yang rendah, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat terutama
pada musim kemarau.
Pada prinsipnya tanaman pinus akan aman untuk ditanam pada daerah dengan curah hujan
lebih dari 2.000 mm/tahun. Pada daerah dengan curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun disarankan untuk
melakukan pencampuran dengan jenis tanaman lain yang mempunyai evapotranspirasi lebih rendah.
Sedangkan pada daerah dengan curah hujan di bawah 1.500 mm/tahun sebaiknya tidak ditanami pinus
karena akan menimbulkan defisit air.

Kata Kunci: Sosial, ekonomi, ekologi, dampak, hutan pinus, dan pengelolaan

I. PENDAHULUAN
Jenis konifer merupakan jenis tanaman yang paling banyak dibudidayakan
sebagai hutan tanaman di dunia. Berdasarkan data tahun 1993 diperoleh informasi
bahwa dari 25.250 juta hektar (ha) luas hutan tanaman di dunia, 18.950 juta ha atau 75%
di antaranya merupakan jenis konifer (Hardiyanto, 2003). Pinus merupakan salah satu
jenis tanaman konifer yang menjadi andalan dalam pembangunan hutan tanaman. Sedjo
(1999 dalam Hardiyanto, 2003) menyatakan bahwa negara-negara di dunia lebih

39
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

cenderung mengembangkan tanaman pinus dibandingkan dengan jenis lainnya. Hal


tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas hutan tanaman pinus di dunia


Negara Luas Hutan Tanaman (Juta Ha)
Pinus Non Pinus
Amerika Serikat 12 0,5
Brazil 1,6 2,3
Chili 1,14 0,06
Afrika Selatan 0,5 0,8
Selandia Baru 1,3 0,02
Australia 0,9 0,06
Sumber: Sedjo (1999 dalam Hardiyanto, 2003)

Pinus merupakan salah satu genus dari klas konifer yang mempunyai banyak
jenis. Hal ini memudahkan dalam pengembangannya sebagai hutan tanaman. Daerah-
daerah tertentu dapat mengembangkan jenis yang sesuai dengan kondisi alaminya,
sehingga jenis yang dikembangkan tersebut dapat tumbuh dengan baik. Jenis-jenis
pinus yang banyak dikembangkan untuk hutan tanaman adalah Pinus taeda, P. echinata,
P. palustris, P. elliotti, P. caribea, P. radiata, P. sylvestris, P. patula, dan P. merkusii.
Jenis pinus yang banyak dijumpai di Indonesia adalah P. merkusii. Jenis ini
merupakan satu-satunya pinus yang mempunyai sebaran alami hingga ke selatan
khatulistiwa. Di Indonesia P. merkusii tumbuh secara alami di Sumatera, yaitu di Aceh,
Kerinci, dan Tapanuli. Pinus dari daerah tersebut kemudian dikembangkan ke daerah
lain melalui penanaman, salah satunya adalah di Pulau Jawa.
Penanaman pinus di Pulau Jawa pada tahun 1970-an pada awalnya adalah
ditujukan untuk mereboisasi tanah kosong. Selain itu, juga ditujukan sebagai persiapan
untuk memenuhi kebutuhan kayu pada industri kertas (Priyono dan Siswamartana,
2002). Namun demikian, dalam perkembangannya timbul upaya untuk mendapatkan
hasil antara berupa getah. Getah pinus yang disadap tersebut kemudian diolah untuk
menghasilkan gondorukem dan terpentin yang merupakan bahan baku industri lanjutan.

40
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Di sisi lain juga terjadi pergeseran tujuan, di mana pada awalnya kayu yang dihasilkan
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri kertas kemudian ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan kayu perkakas. Hal tersebut disebabkan oleh adanya sifat,
struktur, dan tekstur dari kayu pinus yang mendukung dalam pemanfaatannya sebagai
kayu perkakas.
Pengelolaan hutan tanaman pinus di Jawa dilakukan oleh Perum Perhutani, yaitu
salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberi wewenang untuk melakukan
pengelolaan hutan di Pulau Jawa. Tanaman pinus dikembangkan oleh Perum Perhutani
di tiga wilayah kerjanya, yaitu Unit I Jawa Tengah, Unit II Jawa Timur, dan Unit III
Jawa Barat. Berdasarkan luasannya, maka tanaman pinus lebih banyak diusahakan di
Unit III Jawa Barat. Gambaran luas hutan tanaman pinus di Pulau Jawa dapat dilihat
pada Tabel 2.

Tabel 2. Sebaran kelas perusahaan pinus pada perum perhutani


Unit Luas Kawasan Kelas Umur Kelas Hutan Lain
(Ha) (Ha) (Ha)
Unit I Jawa Tengah 184.983,26 108.161,00 76.822,00
Unit II Jawa Timur 157.640,40 64.630,00 93.010,00
Unit III Jawa Barat 229.689,00 62.919,00 166.770,00
Jumlah 572.312,66 235.710,00 336.603,00
Sumber: RJP Perum Perhutani 2001-2005

Selain di Pulau Jawa, pinus juga dikembangkan di Pulau Sulawesi. Di Sulawesi


Selatan pinus telah ditanam sejak tahun 1927 dan sampai sekarang telah mencapai area
seluas lebih dari 60.000 ha dan di Sulawesi Tenggara mencapai area seluas kurang lebih
15.000 ha (Hardiyanto, 2003).
Saat ini permintaan pasar akan getah pinus semakin meningkat. Namun
demikian, produksi getah di beberapa daerah mengalami penurunan. Salah satu wilayah
Perum Perhutani yang mengalami penurunan produksi adalah Jawa Barat. Daerah
tersebut mengalami penurunan produksi hingga 1.000 ton per tahun yang disebabkan
oleh adanya kebijakan pemerintah yang melarang kegiatan produksi karena digunakan

41
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

untuk areal konservasi hutan (Harian Pikiran Rakyat, 23 Maret 2004). Hal tersebut
berimplikasi pada menurunnya kapasitas produksi gondorukem dan terpentin oleh
Pabrik Pengolahan Gondorukem dan Terpentin (PGT) Sindang Wangi dari 10.000 ton
per tahun menjadi 6.600 – 7.000 ton per tahun.
Di sisi lain, saat ini tekanan masyarakat sekitar wilayah hutan pinus semakin
besar. Masyarakat mendesak pihak Perum Perhutani, sebagai pengelola, untuk
merombak hutan pinus yang ada menjadi hutan jenis lain. Desakan masyarakat tersebut
disebabkan oleh adanya indikasi bahwa daerah dengan vegetasi pinus mempunyai hasil
air yang rendah, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat setempat
terutama pada musim kemarau.
Berpijak pada kenyataan tersebut, maka paper ini akan menguraikan mengenai
karakteristik tanaman pinus dan dampak pengelolaan hutan pinus, baik dampak sosial,
ekonomi, maupun ekologi. Dengan demikian, akan diperoleh suatu pemahaman yang
utuh tentang hutan pinus.

II. KARAKTERISTIK TANAMAN PINUS


Pinus merkusii merupakan satu-satunya jenis pinus yang tersebar alami hingga
selatan khatulistiwa. P. merkusii mempunyai beberapa sinonim, yaitu P. sumatrana
Jungh., P. finlaysoniana Wallich, P. latteri Mason, dan P. merkiana Gordon (Hidajat
dan Hansen, 2001). Sedangkan nama lokalnya adalah tusam (Indonesia), uyam (Aceh),
son song bai (Thailand), merkus pine (perdagangan), mindoro pine (Filipina), dan
tenasserim pine (Inggris). Berdasarkan taksonomi, sistematika tanaman P. merkusii
adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Gymnospermae
Klas : Coniferae
Ordo : Pinales
Famili : Pinacea
Genus : Pinus
Spesies : Pinus merkusii Jungh. et de Vriese

42
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Bila dilihat dari habitusnya, maka P. merkusii (pinus) merupakan pohon besar
dengan batang lurus silindris dan tidak berbanir. Jenis ini mampu mencapai tinggi 30-45
m dan diameter 140 cm. Tajuk pohon muda berbentuk piramid dan setelah tua
cenderung lebih rata dan tersebar dengan daun berbentuk jarum. Daun ini mulai gugur
pada umur 1,5 tahun. Namun demikian, karena musim gugur di Indonesia tidak nyata,
maka tajuk pohon ini tidak pernah gundul. Batang pohon pinus mempunyai kulit kasar
yang berwarna coklat kelabu sampai coklat tua. Kulit ini beralur dalam dan tidak
mengelupas.
Berdasarkan habitatnya, jenis pinus ini tersebar antara 23o LU – 2o LS dan
tumbuh pada ketinggian 200-1.700 meter dari permukaan laut (mdpl). Namun
demikian, jenis pinus ini kadang-kadang ditemui pada daerah dengan ketinggian tempat
kurang dari 200 m dan pada daerah dekat pantai. Pinus tersebut tumbuh pada daerah
dengan curah hujan tahunan rata-rata 3.800 mm (di Filipina) hingga 1.000-1.200 mm (di
Thailand dan Burma). Pada umumnya, pinus tumbuh dengan baik pada daerah dengan
tipe iklim basah sampai agak kering dengan tipe hujan A sampai C dan suhu tahunan
rata-rata 19o C – 28o C. Secara alami persebaran P. merkusii adalah Burma, Thailand,
Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina, dan Indonesia (Hidajat dan Hansen, 2001).
Bagian dari pohon pinus yang dimanfaatkan oleh manusia adalah kayu dan
getahnya. Kayunya digunakan untuk konstruksi ringan, mebel, pulp, korek api, dan
sumpit. Sedangkan getahnya diolah untuk menghasilkan gondorukem dan terpentin.
Pohon tua dapat menghasilkan 30-60 kg getah, 20-40 kg gondorukem dan 7-14 kg
terpentin per tahun (Hidajat dan Hansen, 2001). Gondorukem digunakan sebagai bahan
baku dalam industri kertas, keramik, plastik, cat, batik, tinta cetak, politur, farmasi, dan
kosmetik. Sementara itu, terpentin dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri
kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamper, dan farmasi
(Anonim, 2004).

III. DAMPAK PENGELOLAAN HUTAN PINUS

Pengembangan hutan pinus pada suatu wilayah akan menimbulkan dampak pada
wilayah di mana hutan pinus itu berada (in situ) maupun pada daerah lain (ex situ).

43
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Dampak yang timbul tersebut meliputi dampak sosial, ekonomi, maupun ekologi.
Berikut akan dipaparkan mengenai masing-masing dampak dari pengelolaan hutan
pinus.
A. Dampak Sosial Pengelolaan Hutan Pinus
Dampak sosial yang ditimbulkan oleh adanya pengelolaan hutan pinus,
khususnya oleh Perum Perhutani, pada suatu wilayah dapat bersifat positif maupun
negatif. Dampak positif yang timbul dari pengelolaan hutan pinus adalah adanya
pengurangan pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja dalam proses pengelolaan.
Hingga saat ini Perum Perhutani masih menggunakan sistem padat karya dalam semua
kegiatannya mulai dari kegiatan penanaman, pemeliharaan, penyadapan getah,
pengangkutan getah, pengolahan getah, penjarangan, penebangan pohon, pembagian
batang, penyaradan, dan pengangkutan kayu.
Sebagai gambaran, Siswamartana (2003) menyebutkan bahwa dari seluruh hutan
pinus yang disadap di Jawa Timur, yaitu seluas 63.738,5 ha, dapat melibatkan tenaga
kerja sebanyak 20.000 sampai dengan 60.000 kepala keluarga. Sementara itu, di Desa
Somagede Kecamatan Gombong, penyadapan getah pinus dapat melibatkan tenaga kerja
sebanyak 700 kepala keluarga dan pada akhirnya menjadi pekerjaan sampingan utama
oleh masyarakat setempat (Anonim, 2002).
Selain menimbulkan dampak positif, pengelolaan hutan pinus juga menimbulkan
dampak sosial negatif. Dampak negatif tersebut adalah adanya konflik yang timbul
antara masyarakat setempat dengan pihak pengelola. Konflik tersebut pada umumnya
terkait dengan permasalahan penggunaan lahan, pencurian kayu, dan sumber air.
Adanya kenyataan tentang sempitnya luas penguasaan lahan telah mendorong
masyarakat untuk memanfaatkan lahan milik Perum Perhutani, meski secara ilegal.
Kegiatan perambahan hutan untuk pertanian tanaman semusim ini semakin marak sejak
adanya peristiwa penjarahan besar-besaran pada tahun 1998. Sebagai gambaran Harian
Kompas (11 Nopember 2003) memberitakan bahwa sekitar 400 ha hutan produksi pinus
di KPH Cianjur telah dirambah dan digunakan untuk lahan pertanian oleh masyarakat
setempat.

44
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Perum Perhutani juga menghadapi masalah sosial yang serius terkait dengan
pencurian kayu pinus. Banyak hutan di wilayah pengelolaan Perum Perhutani yang
dicuri oleh masyarakat setempat. Harian Suara Merdeka (23 Januari 2004)
memberitakan adanya perusakan hutan lindung dengan jenis tanaman pinus yang
dikelola oleh Perum Perhutani di Petak 23 l, RPH Kemloko, KPH Kedu Utara.
Perusakan tersebut terjadi pada areal seluas 3 ha dengan menebang 1.025 batang pohon
pinus yang ada. Sementara itu, Pikiran Rakyat (15 Juni 2004) memberitakan adanya
peristiwa pencurian kayu pinus sebanyak 79 batang di KPH Bojong, Gununghalu.
Konflik lain yang muncul dalam pengelolaan hutan pinus adalah terkait dengan
sumber air. Ada isu yang berkembang di tengah masyarakat bahwa keberadaan hutan
pinus telah menyebabkan menurunnya hasil air tahunan. Hal tersebut telah berimplikasi
pada munculnya masalah kekeringan pada musim kemarau. Anggapan masyarakat
tersebut didasarkan pada kondisi sebelum dan sesudah ditanami pinus, yaitu bahwa
sebelum ditanami pinus sumber air masih tetap ada walaupun pada musim kemarau.
Namun setelah ditanami pinus, sumber air tersebut banyak yang kering. Kondisi ini
telah menyebabkan masyarakat setempat mempunyai keinginan yang kuat agar hutan
pinus yang ada dirombak atau dikonversi menjadi hutan jenis lain.

B. Dampak Ekonomi Pengelolaan Hutan Pinus


Secara garis besar, dampak ekonomi pengelolaan hutan pinus dapat ditinjau dari
empat perspektif, yaitu perusahaan, negara, pemerintah daerah, dan masyarakat
setempat. Keempat perspektif tersebut dipaparkan sebagai berikut:
1. Perusahaan
Hutan pinus merupakan kelas perusahaan terbesar kedua setelah jati dan
merupakan jenis andalan pada daerah pegunungan. Pinus dikembangkan oleh Perum
Perhutani pada tiga unit yang ada, yaitu Unit I Jawa Tengah, Unit II Jawa Timur, dan
Unit III Jawa Barat dengan luas wilayah 572.312,66 ha. Hutan pinus bukan hanya
memberikan hasil berupa kayu tetapi juga hasil getah yang merupakan bahan baku untuk
industri gondorukem dan terpentin serta produk turunannya. Produk kayu utama Perum
Perhutani adalah kayu bundar jati dengan kapasitas produksi sebesar 800.000 m3 per

45
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

tahun disusul oleh kayu bundar pinus dengan produksi sebanyak 700.000 m3 per tahun.
Kayu bundar tersebut kemudian diolah menjadi produk akhir, yaitu Finger Joint
Laminating Floor dan Garden Furniture, untuk dipasarkan domestik maupun ekspor.
Selain produk kayu, Perum Perhutani tiap tahunnya juga menghasilkan produk
non kayu. Produk non kayu yang dihasilkan dari pengelolaan hutan pinus adalah
gondorukem dan terpentin. Dari seluruh luas pengelolaan hutan pinus yang ada dapat
dihasilkan 60.000 ton gondorukem dan 11.000 ton terpentin setiap tahunnya (Anonim,
2004).

2. Negara
Dampak ekonomi pengelolaan hutan pinus bagi negara adalah terkait dengan
perolehan devisa negara dari ekspor produk hutan pinus dan perolehan dari Provisi
Sumber Daya Hutan (PSDH). Setiap tahun Perum Perhutani mengekspor produk olahan
kayu pinus yang berupa Finger Joint Laminating Floor dan Garden Furniture, serta
produk olahan getah pinus yang berupa gondorukem dan terpentin.
Sebagai gambaran, pada tahun 2001 Perum Perhutani Unit II Jawa Timur telah
mengekspor Finger Joint Laminating Floor senilai US$ 1.226.942 dan Garden
Furniture senilai US$ 1.434.530. Nilai ekspor Garden Furniture ini pada tahun 2002
meningkat menjadi US$ 1.650.946. Sementara itu, ekspor gondorukem pada tahun 2002
mencapai nilai US$ 6.625.965 dan terpentin mencapai nilai US$ 1.498.177. Nilai
ekspor ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai ekspor serupa pada tahun 2001,
yaitu US$ 6.297.760 dan US$ 989.803 berturut-turut (Anonim, 2003).
Penerimaan negara dari pengelolaan sumberdaya hutan tanaman melalui PSDH
didasarkan pada SK Menhut No. 858/Kpts-II/1999. Berdasarkan SK tersebut, maka
hasil hutan yang dipungut dikenakan PSDH yang besarnya disesuaikan dengan kelas
diameter atau sortimen. Untuk kayu pinus sortimen A1 dikenakan PSDH sebesar Rp.
8.000/m3, A2 sebesar Rp. 11.800/m3, dan A3 sebesar Rp. 13.440/m3. Sedangkan untuk
getah pinus dikenakan PSDH sebesar Rp. 14.300/ton. PSDH ini disetorkan langsung ke
Departemen Kehutanan di Jakarta (Siswamartana, 2003).

46
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

3. Pemerintah Daerah
Dampak ekonomi yang diterima oleh pihak pemerintah daerah, baik propinsi
maupun kabupaten dari adanya pengelolaan hutan pinus adalah diperolehnya pendapatan
dari retribusi kayu dan retribusi getah. Retribusi kayu ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Gubernur (SK Gubernur) dan retribusi getah ditetapkan berdasarkan SK
Bupati. Pendapatan dari retribusi kayu pinus ini masuk ke pemerintah propinsi melalui
Dinas Pendapatan Daerah Propinsi, sedangkan pendapatan dari retribusi getah pinus
akan masuk ke pemerintah kabupaten di mana hutan pinus itu berada melalui Dinas
Pendapatan Daerah Kabupaten.
Sebagai ilustrasi, Pemerintah Propinsi Jawa Timur melalui SK Gubernur telah
menetapkan besarnya retribusi kayu pinus. Berdasarkan SK tersebut ditetapkan
besarnya Retribusi Penjualan Kayu Bundar untuk sortimen A1 dan A2 adalah sebesar
1,5% dari harga jual dasar (HJD). Sedangkan untuk sortimen A3 ditetapkan sebesar
2,5% dari HJD. Pendapatan dari retribusi ini disetorkan langsung ke Dinas Pendapatan
Daerah Propinsi Jawa Timur. Untuk retribusi getah pinus, Pemerintah Kabupaten
Trenggalek telah menetapkan besarnya retribusi getah melalui SK Bupati, yaitu sebesar
Rp. 75/kg.
4. Masyarakat Setempat
Masyarakat setempat dapat memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan
hutan pinus melalui kegiatan produksi yang meliputi penanaman, pemeliharaan,
penyadapan getah, pengangkutan getah, pengolahan getah, penjarangan, penebangan
pohon, pembagian batang, dan pengangkutan, serta program Pengelolaan Hutan
Bersama Masyarakat (PHBM). Hampir semua kegiatan pengelolaan pada Perum
Perhutani dilakukan dengan sistem padat karya. Hal tersebut terutama ditujukan untuk
menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Dengan cara demikian, diharapkan
Perum Perhutani dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
setempat.
Dalam pembuatan tanaman, Perum Perhutani salah satunya menggunakan sistem
tumpangsari. Melalui sistem tumpangsari ini dimungkinkan masyarakat setempat untuk
menanam tanaman semusim di sela-sela tanaman pokok pinus. Kegiatan tumpangsari

47
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

dalam pembuatan tanaman pinus memberikan pendapatan tambahan bagi para


penggarap/pesanggem yang tergantung dari jenis tanaman pertanian yang ditanam.
Rata-rata pendapatan masyarakat dari kegiatan tumpangsari ini berkisar antara Rp.
1.450.000,- sampai Rp. 8.250.000,- per ha (Siswamartana, 2003).
Berbeda dengan hutan jati, pengelolaan hutan pinus memungkinkan adanya
sumber pendapatan bagi masyarakat secara terus menerus. Hal tersebut terkait dengan
adanya kegiatan sadapan, angkutan, dan pengolahan getah pinus. Menurut
Siswamartana (2003) dengan sistem borongan, pendapatan petani penyadap dengan luas
sadapan 3 ha dapat mencapai Rp. 450.000,- per bulan. Sementara itu, Cahyono et al.
(2003) menyebutkan bahwa kontribusi penyadapan getah pinus bagi pendapatan total
petani penyadap di Desa Somagede mencapai 57%, yaitu sebesar Rp. 3.873.000/tahun.
Selain itu, adanya kegiatan pengangkutan getah dari tempat penimbunan sementara
menuju pabrik pengolahan gondoruken dan terpentin (PGT) dan proses pengolahan
getah dapat memberikan pendapatan bagi masyarakat yang mampu menyediakan armada
angkutan dan yang terlibat dalam proses pengolahan.
Sumber pendapatan lain yang merupakan dampak ekonomi dari pengelolaan
hutan pinus adalah adanya rangkaian kegiatan penebangan. Kegiatan tersebut meliputi
pekerjaan penebangan, pembagian batang, pengangkutan log dari hutan ke Tempat
Penimbunan Kayu (TPK) hingga pengolahan kayu menjadi produk jadi atau setengah
jadi. Rangkaian kegiatan tersebut dapat memberikan tambahan penghasilan bagi
masyarakat sekitar yang terlibat.
Seiring dengan semakin meningkatnya tekanan masyarakat terhadap sumberdaya
hutan yang mengarah pada kerusakan sumberdaya yang ada, maka Perum Perhutani
mengeluarkan suatu kebijakan tentang Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
(PHBM). PHBM ini merupakan suatu sistem pengelolaan sumberdaya hutan dengan
pihak yang berkepentingan (stakeholders) dengan jiwa berbagi (sharing), sehingga
kepentingan bersama untuk mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya
hutan dapat diwujudkan secara optimal dan proporsional (Harian Sinar Harapan, 16
Agustus 2003). Kebijakan ini didasarkan pada SK Direksi Perum Perhutani No.
939/Kpts/II/2001, tanggal 23 Maret 2001. Kebijakan ini ditindaklanjuti oleh masing-

48
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

masing pemerintah propinsi melalui SK Gubernur. Terkait dengan upaya berbagi


(sharing) dalam berbagai bentuk, Perum Perhutani telah mengeluarkan kebijakan
melalui SK Direksi No. 001/Kpts/Dir/2002 tentang Pedoman Berbagi Hasil Hutan Kayu
(Siswamartana, 2003). Dengan adanya kebijakan ini dimungkinkan masyarakat dapat
memperoleh hasil kayu sesuai dengan kesepakatan yang telah dilakukan.

C. Dampak Ekologi Hutan Pinus


Pengelolaan hutan pinus selain memberikan dampak sosial dan ekonomi, juga
memberikan dampak ekologi. Secara garis besar dampak ekologi pengelolaan hutan
pinus meliputi pengaruhnya pada siklus hidrologi serta pada tanah dan air. Selanjutnya
akan dipaparkan mengenai dampak ekologi pada masing-masing aspek tersebut.
1. Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi atau daur hidrologi atau siklus air adalah proses pergerakan air mulai dari
permukaan laut ke atmosfer kemudian ke permukaan bumi dan kembali lagi ke laut yang
terjadi secara terus menerus (Asdak, 2002; Priyono dan Siswamartana, 2002). Hidrologi
hutan menaruh perhatian pada proses pergerakan air melalui bentang lahan (landscape)
berhutan. Keseimbangan air dalam tegakan hutan tergantung pada presipitasi (curah
hujan), intersepsi, limpasan permukaan, dan evaporasi. Selain curah hujan, proses-proses
tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi tegakan (populasi pohon) meliputi kerapatan,
struktur tegakan, dan arsitektur kanopi. Siklus air secara garis besar dapat digambarkan
seperti Gambar 1

Gambar 1. Siklus air

49
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Berpijak pada pengertian daur hidrologi atau siklus air, maka dapat diketahui bahwa hutan
merupakan salah satu komponen dalam proses pergerakan air tersebut. Mengingat hutan
bersifat dinamis yang berubah dari musim ke musim, maka vegetasi hutan akan
mempengaruhi daur air. Secara umum peran hutan pada siklus air meliputi beberapa
parameter, yaitu intersepsi, air tembus (throughfall/crown drip), tetesan langsung (direct
throughfall), aliran batang (stemflow), dan evapotranspirasi (Gambar 2).

Gambar 2. Peran vegetasi hutan dalam siklus air


Aussenac (1996) menyatakan bahwa curah hujan yang jatuh ke hutan akan
mengalami beberapa kondisi. Sebagian curah hujan tersebut akan diserap dan ditahan
sementara oleh permukaan tajuk vegetasi penyusun ekosistem hutan yang meliputi
tegakan utama, tegakan bawah, semak, herba, dan lapisan seresah dan akan diuapkan
kembali ke atmosfer. Proses ini dikenal sebagai intersepsi. Sebagian curah hujan
lainnya akan mencapai permukaan tanah secara langsung dalam bentuk tetesan langsung
(direct throughfall), air tembus (throughfall/crown drip) atau aliran batang (stemflow).
Air yang mencapai permukaan tanah akan dialirkan sebagai aliran permukaan (runoff)
dan sebagian yang lain meresap ke dalam tanah pada proses infiltrasi dan menjadi aliran
bawah permukaan (subsurface flow). Pada saat tanah telah mengalami kejenuhan, maka
air akan meresap ke lapisan tanah lebih dalam secara vertikal melalui proses perkolasi.
Air ini akan mengisi air tanah (ground water) dan sungai. Di dalam tanah air akan
diserap oleh akar tanaman dan dipergunakan untuk proses fisiologis/metabolisme

50
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

tumbuhan dan akhirnya dikembalikan lagi ke atmosfer (transpirasi). Selain itu, air juga
diuapkan secara langsung ke atmosfer melalui permukaan tanah dan vegetasi bawah
yang dikenal dengan evaporasi.
Terkait dengan pengaruh hutan tanaman pinus pada siklus air, Tim Peneliti
Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian di hutan penelitian Gunung Walat
mulai tahun 1999 hingga tahun 2001. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh
informasi bahwa persentase curah hujan yang diintersepsikan oleh tajuk tegakan pinus
adalah sebesar 15,7%. Persentase tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan
persentase pada tegakan damar (Agathis loranthifolia) yang 14,7% dan pada tegakan
puspa (Schima wallichii) yang 13,7%. Selain mengukur intersepsi, penelitian tersebut
juga mengukur besarnya air tembus (throughfall) dan aliran batang (stemflow) pada
ketiga jenis tanaman tersebut. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil pengukuran intersepsi, air tembus (throughfall), dan aliran batang
(stemflow) di Hutan Pendidikan Gunung Walat
No. Jenis Tanaman Intersepsi Air Tembus Aliran Batang
(%) (mm/bln) (mm/bln)
1. Pinus merkusii 15,7 1,53 – 45,83 0,07 – 12,33
2. Agathis loranthifolia 14,7 1,08 – 47,00 0,02 – 6,85
3. Schima wallichii 13,7 1,17 – 48,00 0,03 – 2,2
Sumber : Arifjaya (2002)

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa secara umum


tegakan pinus mempunyai intersepsi, air tembus dan aliran batang yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan tegakan damar ataupun puspa. Tingginya intersepsi pada hutan
pinus menyebabkan kehilangan air pada tegakan pinus menjadi lebih besar.
Dalam hidrologi, evapotranspirasi dikategorikan sebagai air hilang, yaitu jumlah
air total yang dikembalikan lagi ke atmosfer dari permukaan tanah, badan air, dan
vegetasi oleh adanya pengaruh faktor-faktor iklim dan fisiologis vegetasi (Asdak, 2002).
Evapotranspirasi merupakan gabungan antara proses-proses evaporasi, transpirasi, dan
intersepsi. Pada vegetasi hutan, evaporasi terdiri dari evaporasi dari permukaan tanah
dan evaporasi dari tumbuhan bawah serta seresah. Aussenac (1996) menyatakan bahwa

51
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

evapotranspirasi bergantung pada beberapa faktor iklim, yaitu radiasi matahari, suhu,
kelembaban udara, kecepatan angin, dan kelengasan tanah. Untuk mengetahui laju
evapotranspirasi pada tegakan pinus, beberapa tim peneliti telah melakukan penelitian
pada lokasi yang berbeda. Hasil dari penelitian tersebut disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil penelitian evapotranspirasi pada tegakan pinus di beberapa lokasi

Lokasi Evapotranspirasi Waktu Penelitian Tim Peneliti


(mm) (th)
KPH Banyumas Timur 1.002-1.253 5 UGM (Soedjoko et al., 1998)
KPH Surakarta 1.053-1.136 3 UGM (Soedjoko et al., 2002)

KPH Tasikmalaya 1.308 - IPB (Arifjaya, 2002)

KPH Malang 1.539 2 UNIBRAW (Soelistyari dan Utomo,


2002)
Berdasarkan Tabel 4 tersebut dapat diketahui bahwa laju evapotranspirasi pada
tegakan pinus adalah berkisar antara 1.002 mm/tahun hingga 1.539 mm/tahun.
Mengingat tingginya laju evapotranspirasi pada tegakan pinus, maka dalam
pengembangan tanaman pinus perlu memperhatikan kondisi setempat yang ada,
khususnya besarnya curah hujan. Hal ini terkait dengan pengaruh penting
evapotranspirasi terhadap besarnya cadangan air tanah terutama untuk kawasan yang
berhujan rendah, lapisan/tebal tanah dangkal dan sifat batuan yang tidak dapat
menyimpan air. Dengan demikian, pengelolaan hutan pinus nantinya tidak akan
menimbulkan masalah kekurangan air.
Penelitian tentang kehilangan air atau evapotranspirasi juga dilakukan oleh Tim
Peneliti dari Universitas Brawijaya (UNIBRAW). Penelitian tersebut dilakukan dengan
menggunakan pendekatan DAS dalam kurun waktu lima tahun, yaitu mulai tahun 1996
sampai tahun 1999. Penelitian dilakukan pada 5 Sub DAS, yaitu Coban Rondo, Manting,
Sereng, Sayang, dan Kwayangan di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kehilangan air pada tanaman pinus dapat mencapai 2.060 mm atau sekitar 87% dari total
curah hujan (Tabel 5). Dengan demikian, pengembangan tanaman pinus pada daerah
dengan curah hujan rendah akan menyebabkan defisit air tanah.

52
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Tabel 5. Kehilangan air (evapotranspirasi) pada Hutan Tanaman Pinus


Coban Rondo Manting Sereng Sayang Kwayangan
Hutan alam mm 1.700 1.624 1.818 1.677 1.662
% 72 77 66 72 70
Pinus mm 1.886 1.840 2.060 1.830 1.875
% 80 87 87 78 79
Damar mm 1.871 1.663 1.653 - -
% 78 77 60 - -
Kebun cmp mm 1.733 - - 1.715 1.746
% 73 - - 73 74
Wortel-Jagung mm 1.114 994 1.117 1.044 1.041
% 47 47 41 44 44
Sumber : Soelistyari dan Utomo (2002)

2. Tanah dan Air


Dampak pengelolaan hutan pinus terhadap kondisi tanah dan air meliputi
pengaruhnya pada erosi tanah, kapasitas infiltrasi, kelengasan tanah, aliran permukaan,
debit sungai, banjir, dan kualitas air (Aussenac, 1996). Pada pengelolaan hutan tanaman
pinus, tahapan kegiatan yang dapat menimbulkan terjadinya erosi tanah adalah pada saat
kegiatan penebangan dan kegiatan penanaman pasca penebangan. Pada saat tersebut
kondisi lahan dalam keadaan terbuka, sehingga adanya curah hujan yang jatuh akan
dengan mudah menimbulkan erosi tanah.
Kegiatan penebangan merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan produksi.
Pada umumnya kegiatan penebangan terbagi menjadi dua, yaitu penebangan
penjarangan dan penebangan pemanenan. Pada kedua penebangan tersebut
dimungkinkan terjadinya erosi tanah akibat adanya pembukaan lahan. Kondisi tersebut
menyebabkan meningkatnya aliran permukaan langsung. Selain itu, berkurangnya
evapotranspirasi akibat berkurangnya jumlah vegetasi menyebabkan jumlah air yang
menjadi aliran permukaan menjadi semakin besar, sehingga erosi yang terjadi semakin
besar pula.
Adanya berbagai pola penebangan dalam kegiatan pemanenan hutan akan
memberikan dampak erosi tanah yang berbeda-beda pula. Terkait dengan hal tersebut,

53
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Tim Peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai Indonesia Bagian Barat (BP2TPDAS-IBB) melakukan penelitian untuk
mengetahui besarnya erosi tanah yang terjadi pada kegiatan penebangan dengan pola
jalur searah kontur dan pola papan catur (Gambar 3). Berdasarkan hasil penelitian
tersebut diketahui bahwa efek dari kegiatan penebangan terhadap erosi tanah akan
berlangsung selama 3 tahun. Setelah itu ekosistem akan pulih kembali seiring dengan
membaiknya penutupan lahan yang berdampak pada menurunnya aliran permukaan,
sehingga tingkat erosi pun menurun. Selain itu, membaiknya penutupan lahan juga akan
menurunkan tingkat fluktuasi debit aliran. Besarnya erosi yang terjadi pada masing-
masing pola penebangan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Erosi pada pola penebangan papan catur dan jalur searah kontur
Erosi pada Erosi pada
Tahun pola jalur pola papan catur
(mm) (mm)
Pertama 5,00 1,25
Kedua 2,08 0,50
Ketiga 0,33 0,17
Keempat 0,14 0,05
Sumber: Priyono dan Savitri (1998)

Gambar 3. Penebangan dengan pola jalur searah kontur dan pola papan catur

54
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Untuk mengetahui besarnya erosi yang terjadi pada tahap penanaman pinus, Tim
Peneliti dari BP2TPDAS-IBB melakukan penelitian dengan sistem penanaman
tumpangsari dan banjarharian. Hasil penelitian selengkapnya disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Erosi tanah yang terjadi pada tahap penanaman pinus


Tahun Erosi pada kontrol Erosi pada Erosi pada
setelah tumpangsari banjarharian
tebang Ton/ha mm Ton/ha mm Ton/ha mm
1 6,88 0,57 6,88 0,57 6,88 0,57
2 24,47 2,04 154,59 12,88 0,36 0,03
3 3,97 0,33 0,02 0,002
4 0,12 0,01 0,12 0,01
5 0,22 0,02 0,22 0,02
6 0,05 0,004 0,05 0,004
Sumber: Priyono dan Savitri (1998)

Berdasarkan Tabel 7 tersebut diperoleh informasi bahwa erosi yang terjadi pada
areal bekas penebangan pada tahun pertama adalah sebesar 6,88 ton/ha/tahun. Pada
penanaman dengan sistem tumpangsari yang dilakukan pada tahun kedua setelah
penebangan erosi naik menjadi 154,59 ton/ha/tahun. Nilai ini kemudian turun drastis
pada tahun ketiga dan seterusnya. Sedangkan pada penanaman dengan sistem
banjarharian, erosi sudah mulai turun pada tahun kedua. Kecilnya erosi tanah pada
sistem banjarharian lebih disebabkan oleh pertumbuhan semak dan rumput (Priyono,
2003). Secara umum dapat disimpulkan bahwa pada kedua sistem penanaman tersebut
diperoleh tingkat erosi yang diperkenankan tiga tahun setelah kegiatan penebangan.
Pengaruh lain pengelolaan hutan pinus terhadap tanah dan air adalah terkait
dengan sifat kapasitas infiltrasi tanah. Kapasitas infiltrasi merupakan sifat fisik tanah
yang dinamis. Pada umumnya kapasitas infiltrasi tinggi pada awal kejadian hujan dan
kemudian menurun seiring dengan terjadinya penutupan pori tanah oleh partikel tanah
yang lebih halus. Kapasitas infiltrasi pada tanah hutan biasanya lebih tinggi daripada
pada tanah kosong. Hal tersebut disebabkan oleh adanya seresah hutan yang mampu
mengurangi efek mekanis dari tetesan air hujan yang cenderung merusak struktur

55
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

permukaan tanah melalui penutupan pori tanah oleh partikel halus (Aussenac, 1996).
Seresah pada hutan pinus juga dapat menambah bahan organik tanah sehingga
menurunkan bulk density tanah, sehingga akan memperbesar kapasitas infiltrasi. Selain
itu, adanya aktivitas mikroorganisme dalam tanah dapat meningkatkan porositas dan
menstabilkan struktur tanah.
Berkaitan dengan pengaruh hutan pinus terhadap kandungan air dalam tanah atau
kelengasan tanah, UNIBRAW telah melakukan penelitian di Pujon dengan pendekatan
neraca air. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kandungan air tanah pada
musim penghujan adalah 1.338 mm untuk hutan pinus dan 928 mm untuk tanaman
jagung. Pada musim kemarau kandungan air tanah tersebut turun menjadi 733 mm pada
hutan pinus dan 546 mm pada tanaman jagung. Berdasarkan hasil penelitian tersebut
dapat disimpulkan bahwa kandungan lengas tanah di hutan pinus lebih tinggi daripada
kandungan lengas tanah di semak belukar dan tanaman pangan. Hasil penelitian
selengkapnya disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Jumlah air tersimpan dalam profil tanah (sampai kedalaman 2 m) pada
berbagai macam penggunaan lahan

Jumlah Air Tersimpan (mm)


Tanggal
pada Penggunaan Lahan
Pengamatan
Hutan Alam Pinus Damar Semak Jagung
29 Desember 1996 1.374 1.338 1.221 1.286 928
19 Januari 1997 1.372 1.420 1.217 1.379 913
19 Februari 1997 1.398 1.348 1.254 1.301 991
8 Maret 1997 1.386 1.382 1.257 1.204 1.106
15 Agustus 1997 1.293 867 1.124 1.148 664
18 Oktober 1997 1.304 733 1.085 1.026 546
Sumber : Soelistyari dan Utomo (2002)

Bila ditinjau dari sifat alirannya, maka tipe sungai yang keluar dari hutan pinus
adalah bersifat perenial. Hal tersebut berarti bahwa aliran dasar tetap mengalir, baik
pada musim hujan maupun pada musim kemarau (Soedjoko et al., 1998). Koefisien
aliran tahunan hutan pinus berkisar antara 44% - 68% atau rata-rata sebesar 58%.
Terkait dengan air yang dihasilkan, Aussenac (1996) menyatakan bahwa kualitas air dari

56
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

hutan tanaman pinus terutama dipengaruhi oleh jenis tanah dan masukan atmosfer.
Selanjutnya dinyatakan bahwa tegakan pinus (konifer) menghasilkan seresah yang
bersifat asam, sehingga air yang dihasilkan cenderung bersifat asam. Gambaran kondisi
debit air rata-rata, debit air maksimum dan minimum dari suatu DAS yang terdiri dari
hutan pinus dapat dilihat dari hasil penelitian Tim Peneliti Universitas Gadjah Mada
(UGM) (Soedjoko et al., 1998).
Berdasarkan hasil pengamatan pada kawasan hutan pinus di RPH Kalirajut,
BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur dengan curah hujan berkisar antara 1.922–3.489
mm/tahun diketahui bahwa debit aliran rata-rata tahunan adalah sebesar 0,044–0,063
m3/dt/km2 yang menurut Kunkle (1976) termasuk ke dalam kriteria baik–sangat baik.
Debit minimum rata-rata yang terjadi berkisar antara 0,006–0,015 m3/dt/km2 termasuk
ke dalam kriteria jelek mendekati baik, sedangkan debit maksimum rata-rata yang
pernah terjadi berkisar antara 0,549–0,894 m3/dt/km2 termasuk ke dalam kriteria baik.
Sedangkan hasil pengamatan di RPH Jati, BKPH Baturetno, KPH Surakarta pada tahun
1999 dengan curah hujan sebesar 2.896 mm/tahun dihasilkan debit rata-rata tahunan
sebesar 0,089 m3/dt/km2, yang termasuk ke dalam kriteria baik. Dalam lima bulan
periode bulan kering dijumpai empat bulan dalam kondisi defisit air dengan debit
minimal yang terjadi sebesar 0,002 m3/dt/km2 yang termasuk ke dalam kriteria jelek.
Debit puncak rata-rata yang terjadi sebesar 0,6 m3/dt/km2 termasuk ke dalam kriteria
sangat baik. Dari penelitian di dua lokasi pada kurun waktu yang berbeda tersebut dapat
disimpulkan bahwa debit rata-rata yang dihasilkan pada DAS yang didominasi hutan
pinus termasuk ke dalam kategori baik, debit minimalnya termasuk ke dalam kategori
jelek dan debit maksimumnya termasuk ke dalam kategori baik. Hasil selengkapnya
dapat dilihat pada Tabel 9.

57
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Tabel 9. Kondisi debit aliran tahunan, debit minimum rata-rata, dan debit maksimum
rata-rata pada dua lokasi penelitian yang berbeda

Curah Hujan Debit Aliran Debit Minimum Debit Peneliti


Lokasi Penelitian Tahunan Tahunan Rata-rata Maksimum
(mm/thn) (m3/dt/km2) (m3/dt/km2) Rata-rata
(m3/dt/km2)
RPH Kalirajut, BKPH 1.922 – 3.489 0,044 – 0,063 0,006 – 0,015 0,549 – 0,894 Soedjoko et
Kebasen KPH Banyumas baik – sangat jelek mendekati baik al., 1998
Timur baik baik (UGM)

RPH Jati, BKPH Baturetno, 2.896 0,089 0,002 0,6 Soedjoko et


KPH Surakarta baik jelek sangat baik al., 1999
(UGM)

Koefisian regim sungai (KRS) yang merupakan perbandingan antara debit


maksimum (yang biasanya terjadi pada musim penghujan ) dan minimum (yang biasanya
terjadi pada musim kemarau) juga merupakan salah satu indikator kondisi hidrologi
suatu DAS. Penelitian untuk mengetahui nilai KRS dari DAS yang berhutan pinus dan
DAS yang tidak berhutan pinus telah dilakukan oleh IPB di KPH Tasikmalaya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perbandingan antara debit rata-rata bulanan selama 34
bulan antara tahun 1995 s/d 1998 dalam setiap tahun terdapat debit maksimum dan debit
minimum seperti yang disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Perbandingan antara debit maksimum dan minimum pada Sub DAS non
hutan dan Sub DAS berhutan di KPH Tasikmalaya

S. Cikawung S. Cibangban
(SUB DAS non hutan) (SUB DAS Berhutan)
Tahun Q maks Q Min Qmak/Qmin Q maks Q Min Q mak/Qmin
(mm) (mm) (mm) (mm)
1995 218,3 16,9 12,9 263,0 39,0 6,7
1996 762,6 130,1 5,9 322,0 78,0 4,1
1997 569,2 8,2 69,4 205 21 9,8
1998 282,4 89,2 3,2 333 85 3,9
Sumber : Arifjaya (2002)

Dari Tabel 10 tersebut dapat diketahui bahwa tingkat fluktuasi debit antara Sub
DAS berhutan dan tidak berhutan mempunyai perbedaan yang signifikan. Pada tahun

58
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

1995 tingkat fluktuasi debit, yang ditunjukkan oleh nilai KRS, pada Sub DAS berhutan
hanya sebesar 6,7 kali sedangkan pada Sub DAS non hutan yang baru ditebang sebesar
12,9 kali. Pada tahun 1996 pada Sub DAS berhutan tingkat fluktuasi debit menjadi
sebesar 4,1 kali sedangkan pada Sub DAS non hutan menjadi 5,9 kali. Pada tahun 1997
yang merupakan tahun terkering dari 3 tahun pengamatan terlihat tingkat fluktuasi untuk
Sub DAS non hutan mencapai 69,4 kali atau debit rendahnya hanya 8,2 mm sedangkan
pada Sub DAS berhutan mencapai 21,0 mm atau kurang lebih 2,6 kali lebih banyak
dibandingkan dengan Sub DAS non hutan. Hasil pengamatan tersebut menunjukkan
bahwa hutan tanaman pinus berperan sebagai regulator air, yaitu memasok air pada
musim hujan ke dalam tanah dan mengeluarkannya pada musim kering (Priyono dan
Siswamartana, 2002). Sub DAS berhutan mempunyai nilai perbandingan Q maks dan Q
min yang lebih kecil dibandingkan dengan Sub DAS non hutan. Dengan demikian, hutan
pinus berperan pula dalam pengendalian banjir dan kekeringan.

IV. LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN PINUS


Adanya keluhan masyarakat tentang tingginya konsumsi air oleh hutan pinus
yang mengarah pada tingginya tekanan masyarakat untuk mengkonversi hutan pinus
menjadi hutan jenis lain perlu disikapi secara bijaksana. Secara ilmiah telah dibuktikan
bahwa hutan pinus mengkonsumsi lebih banyak air bila dibandingkan dengan hutan
jenis lain. Namun demikian, untuk mengkonversi hutan pinus menjadi jenis lain perlu
mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi dari pengelolaannya. Agar pengelolaan
hutan pinus dapat berjalan dengan baik, di mana menguntungkan secara sosial dan
ekonomi serta dapat berfungsi ekologis, langkah-langkah kebijakan pengelolaan yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Kesesuaian Iklim Hutan Tanaman Pinus
Agar pengembangan tanaman pinus sebagai hutan tanaman tidak menimbulkan
permasalahan air, maka perlu dilakukan kajian kesesuaian iklim setelah diketahui
kesesuaian lahannya. Kesesuaian iklim ini dilakukan dengan menggunakan analisis
neraca air dan lebih mempertimbangkan pada aspek kebutuhan air untuk proses
fisiologis tanaman pinus dan kebutuhan air oleh masyarakat dengan besarnya curah

59
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

hujan yang ada (Pramono, 2001). Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh beberapa
institusi atau lembaga penelitian memberikan informasi bahwa kebutuhan air untuk
evapotranspirasi pada hutan tanaman pinus adalah berkisar antara 1.002 mm/tahun
hingga 1.539 mm/tahun. Bahkan pada daerah dengan curah hujan tinggi,
evapotranspirasi hutan tanaman pinus dapat mencapai 2.060 mm/tahun.
Berpijak pada hasil-hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
tanaman pinus sebaiknya ditanam pada daerah dengan curah hujan lebih dari 2000
mm/tahun. Pada daerah dengan curah hujan antara 1.500-2.000 mm/tahun disarankan
untuk melakukan pencampuran dengan jenis tanaman lain yang mempunyai
evapotranspirasi lebih rendah, misalnya puspa atau damar. Sedangkan pada daerah
dengan curah hujan kurang dari 1500 mm/tahun disarankan untuk tidak ditanami pinus
karena dapat menimbulkan defisit air. Hasil analisis neraca air dapat disajikan dalam
bentuk peta kesesuaian iklim hutan tanaman pinus yang menunjukkan daerah-daerah
surplus dan kekurangan air (Gambar 4).

Gambar 4. Peta kesesuaian iklim untuk Hutan Tanaman Pinus

60
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

2. Pemeliharaan Tanaman
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan tanaman pinus mengkonsumsi air
dalam jumlah yang besar untuk keperluan evapotranspirasi, meliputi evaporasi,
transpirasi, dan intersepsi. Kehilangan air tersebut diperbesar dengan besarnya limpasan
permukaan. Oleh karena itu, dalam pengelolaan hutan pinus perlu adanya upaya
pengurangan kehilangan air ini.
Tim Peneliti dari UNIBRAW telah melakukan penelitian terkait dengan upaya
pengurangan kehilangan air pada hutan pinus. Perlakuan yang diterapkan untuk
menurunkan evapotranspiransi adalah pemangkasan, sedangkan untuk menurunkan
limpasan permukaan adalah pemberian mulsa dan pembuatan rorak. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa pemangkasan cabang/ranting tanaman pinus dapat menurunkan
evapotraspirasi sampai 20%, sedangkan pemberian rorak dapat menurunkan laju
limpasan permukaan hingga 14%. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Pengaruh pemeliharaan pada hutan tanaman pinus terhadap evapotranspirasi
dan limpasan permukaan

Perlakuan Evapotranspirasi Limpasan Permukaan


mm
mm %CH
1. Pinus tanpa perlakuan 1.204 70,6 3,18
2. Pinus dipangkas 975 102,7 4,62
3. Pinus diberi rorak 1.316 60,9 2,74
4. Pinus, semak dibersihkan 1.102 94,0 4,23
5.Pinus, semak dipotong untuk mulsa 1.016 69,3 3,12
Sumber : Soelistyari dan Utomo (2002)

3. Praktek Konservasi Tanah dan Air


Praktek konservasi tanah dan air pada prinsipnya adalah tindakan pencegahan
dan pengendalian degradasi tanah, khususnya karena erosi tanah, dengan mengupayakan
agar limpasan permukaan sekecil mungkin dan infiltrasi sebesar mungkin. Secara
umum upaya untuk mencegah dan mengendalikan erosi tanah tersebut dapat dilakukan

61
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

dengan melindungi tanah terhadap pukulan air hujan, memperbaiki kondisi permukaan
tanah sehingga memungkinkan air meresap, dan memotong panjang serta mengurangi
kemiringan lereng. Teknik tersebut berlaku secara umum, tetapi teknik yang tepat
bergantung pada kondisi fisik dan sosial ekonomi setempat.
Pada areal penanaman hutan tanaman pinus, terutama yang dilakukan dengan
sistem tumpangsari atau menggunakan campuran tanaman semusim, perlu untuk
menerapkan praktek konservasi tanah secara lebih intensif sebelum tajuk tanaman pinus
menutup. Hal ini mengingat pada areal tersebut lahan dalam kondisi terbuka sehingga
mudah tererosi. Praktek konservasi tanah yang dianjurkan untuk areal peremajaan hutan
pinus dengan sistem tumpangsari adalah penanaman searah kontur, tanaman lorong
searah kontur dan teras gulud (Priyono, 2003). Sedangkan pada areal penanaman pinus
dengan sistem banjar harian, teknik konservasi tanah yang dianjurkan adalah teras gulud,
hillside ditches dan rorak. Rorak tersebut juga digunakan sebagai penghambat aliran
permukaan yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah.

4. Konversi Hutan
Tingginya tekanan masyarakat untuk merombak hutan pinus menjadi hutan jenis
lain perlu disikapi secara bijak dan dijawab secara ilmiah. Banyak penelitian telah
dilakukan untuk menjawab permasalahan terkait dengan pengelolaan hutan pinus
termasuk kaitannya dengan hidroklimatologi. Sehubungan dengan keluhan masyarakat
tentang berkurangnya hasil air dari hutan pinus dan keinginan untuk merombak hutan
pinus menjadi hutan jenis lain, maka pada prinsipnya konversi hutan pinus menjadi jenis
lain dapat dilakukan pada daerah yang mempunyai curah hujan tahunan kurang dari
2.000 mm dan dengan ketinggian tempat kurang dari 600 mdpl. Selain itu, konversi juga
dapat dipertimbangkan untuk pembentukan ekosistem hutan pegunungan di Pulau Jawa
atau menjadi hutan tanaman campuran. Namun demikian, tindakan konversi tersebut
perlu mempertimbangkan secara matang aspek ekonomi, sosial, maupun ekologi.

62
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

V. PENUTUP

Penelitian tentang hutan pinus telah banyak dilakukan oleh berbagai lembaga dan
institusi penelitian baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hasil-hasil penelitian
tersebut telah memberikan informasi yang berharga dalam kaitannya dengan
pengelolaan hutan tanaman pinus. Informasi-informasi tersebut perlu dikumpulkan
dalam basis data yang lengkap dan komprehensif, baik menyangkut aspek sosial,
ekonomi, maupun ekologi. Dengan informasi yang lengkap tersebut diharapkan dapat
memberikan pertimbangan yang utuh tentang kebijakan selanjutnya yang berkaitan
dengan pengelolaan hutan pinus dan kebijakan publik dalam menyikapi keberadaan
hutan pinus.
Informasi ilmiah yang lengkap tersebut perlu ditindaklanjuti melalui kebijakan
yang jelas. Selanjutnya kebijakan tersebut perlu diimplementasikan di lapangan secara
konsisten. Permasalahan-permasalahan yang timbul dalam implementasi merupakan
bahan masukan dalam penelitian selanjutnya. Dengan pengelolaan yang mengikuti alur
mulai dari informasi ilmiah hasil litbang, kebijakan, dan implementasi yang konsisten,
maka diharapkan dapat diperoleh suatu bentuk pengelolaan hutan tanaman pinus yang
mampu menguntungkan secara sosial dan ekonomi serta dapat berfungsi secara ekologi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Laporan Akhir Penyusunan Rancangan Teknik untuk Penelitian DAS
Berpasangan di Gombong Jawa Tengah. Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

_______. 2003. Realisasi Hasil Penjualan Ekspor Hasil Hutan Perum Perhutani Unit II
Jawa Timur Tahun 1998 s/d 2002.
http:// www.jatimonline.org/document/statistik/911/1048-00-911.xls

_______. 2004. Info Perhutani. http://www.perhutani.co.id/pemasaran/kayubundar.html

Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Arifjaya, N.M. 2002. Studi Pengaruh Hutan Pinus (Pinus merkusii) terhadap Sistem
Tata Air dan Tanah di RPH Tedjowaringin, BKPH Singaparna, KPH

63
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Tasikmalaya, Perum Perhutani Unit II Jawa Barat, Bogor. Laporan Final Hasil
Penelitian Kerjasama antara Perum Perhutani dengan Fak Kehutanan IPB.
Bogor.

Aussenac, G. 1996. Forests and Climates in Sustainable Forest Management:


Contribution of Research. http://iufro.boku.ac.at/iufro/publications/occ-p9

Cahyono, S.A., N.P. Nugroho, dan Y. Indrajaya. 2003. Alokasi Pengeluaran Rumah
Tangga Penyadap Getah Pinus di Desa Somagede, Kabupaten Kebumen, Jawa
Tengah.

Hardiyanto, E.B. 2003. Pemuliaan Pinus dan Manfaatnya dalam Pengelolaan Hutan.
Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan Hutan Pinus di
Kabupaten Trenggalek, 20 Januari 2003. Balai Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indonesia Bagian Barat. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Tidak
Dipublikasikan.

Hidajat, J. dan C.P. Hansen. 2001. Pinus merkusii Jungh. et de Vriese. Informasi
Singkat Benih No. 12, Oktober 2001. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan.

Kompas, 11 Nopember 2003. Ratusan Hektar Lahan Perhutani KPH Cianjur Dirambah.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0311/11/daerah/679666.htm

Pramono, I.B. 2001. Kesesuaian Iklim Untuk Tanaman Pinus (Pinus merkusii). Laporan
Final Hasil Penelitian Kerjasama antara Perum Perhutani dengan BTPDAS
Surakarta.

Priyono, C.N.S. dan E. Savitri. 1998. Erosi Tanah-Limpasan Permukaan pada


Peremajaan Hutan Pinus dan pada Alternatif Pola Penebangan Hutan Pinus.
Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk
Kelangsungan Pembangunan. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK, Jakarta. Hal
23-28.

Priyono, C.N.S. dan S. Siswamartana (ed). 2002. Hutan Pinus dan Hasil Air. Pusat
Pengembangan Sumberdaya Hutan Perum Perhutani, Cepu.

Priyono, C.N.S. 2003. Pengaruh Hutan Pinus terhadap Erosi dan Tata Air. Prosiding
Seminar Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan Hutan Pinus di Kabupaten
Trenggalek, 20 Januari 2003. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indonesia Bagian Barat. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Tidak Dipublikasikan.

64
Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta
Kebumen, 3 Agustus 2004

Pikiran Rakyat, 23 Maret 2004. Suplai Gondorukem Turun. Di Jabar Capai 1.000
Ton/Tahun Akibat Kebijakan Pemerintah. http://www.pikiran-rakyat.com/
cetak/0304/23/0602.htm

Pikiran Rakyat, 15 Juni 2004. Dibekuk, Dua Pencuri Pinus. http://www.pikiran-


rakyat.com/cetak/0604/15/0311.htm

Sinar Harapan, 16 Agustus 2003. Perhutani Bersama Masyarakat Kembangkan


Agribisnis. http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2003/0816/ukm2.html

Siswamartana, S. 2003. Aspek Ekonomi Pengelolaan Hutan Pinus. Prosiding Seminar


Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan Hutan Pinus di Kabupaten Trenggalek,
20 Januari 2003. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai Indonesia Bagian Barat. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Tidak Dipublikasikan.

Soedjoko, S.A., Suyono, dan Darmadi. 1998. Kajian Neraca Air di Hutan Pinus, di KPH
Banyumas Timur. Laporan Final Hasil Penelitian Kerjasama antara Perum
Perhutani dengan Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.

Soedjoko, S.A. dan H. Suryoatmojo. 2002. Pengaruh Hutan Pinus terhadap Tata Air.
Prosiding Workshop Aplikasi Hasil-hasil Penelitian Bidang Hidrologi untuk
Penyempurnaan Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem, Yogyakarta 10
September 2002, Pusbang SDH PT Perhutani, Cepu. Hal 143-156.

Suara Merdeka, 23 Januari 2004. Rusak 3 Ha Hutan Dihukum 2 Bulan 15 Hari.


http://www.suaramerdeka.com/harian/0401/23/dar31.htm

Sulistyari, H.T. dan W.H. Utomo. 2002. Pengelolaan Hutan Pinus (Kajian Aspek
Hidrologi). Prosiding Workshop Aplikasi Hasil-hasil Penelitian Bidang
Hidrologi untuk Penyempurnaan Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem,
Yogyakarta 10 September 2002, Pusbang SDH PT Perhutani, Cepu. Hal 132-
142.

65

View publication stats