Anda di halaman 1dari 4

1.

Tes Kontrol dan Tes Substantif Transaksi


Kedua pengujian kontrol dan pengujian substansi transaksi memiliki efek secara simultan
memverifikasi neraca dan akun laporan laba rugi
Kontrol dan salah saji yang tidak memadai yang ditemukan melalui pengujian kontrol dan
pengujian substantif transaksi mengindikasikan kemungkinan salah saji dalam laporan laba
rugi dan neraca.
Bagaimana menurut pendapat saudara atas uraian kalimat tersebut di atas.

Menurut pendapat saya kadang tes substantif dapat digunakan sebagai tes kontrol. Ketika
menanggapi penilaian risiko, auditor dapat menggunakan tes rincian transaksi sebagai tes
kontrol. Tujuan pengujian rincian yang dilakukan sebagai tes kontrol adalah untuk
mengevaluasi apakah suatu pengendalian beroperasi secara efektif atau tidak. Tujuan
pengujian rincian dilakukan sebagai prosedur substantif untuk mendeteksi salah saji material
dalam laporan keuangan. Meskipun tujuan pengujian kontrol dan rinciannya berbeda,
keduanya dapat dilakukan bersamaan dengan melakukan uji coba rincian peralihan yang
sama, yang juga dikenal sebagai uji coba ganda. Misalnya, audit dapat memeriksa faktur
untuk menentukan apakah telah disetujui dan memberikan bukti audit substantif atas
transaksi. Auditor memberikan pertimbangan untuk merancang dan mengevaluasi tes
semacam itu untuk mencapai tujuan tersebut.Tidak adanya salah saji yang terdeteksi oleh
prosedur substantif tidak berarti bahwa kontrol yang terkait dengan pernyataan yang diuji
efektif.

Menurut saya, Pengujian substantif merupakan langkah ketiga dari tahap pelaksanaan
pemeriksaan. Pengujian substantive meliputi prosedur- prosedur audit yang dirancang untuk
mendeteksi monetary errors atau salah saji yang secara langsung berpengaruh terhadap
kewajaran saldo – saldo laporan keuangan. Tujuan dilakukannya pengujian atas transaksi
adalah untuk menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah terotorisasi dengan pantas,
dicatat, dan diikhtisarkan dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku
pembantu dengan benar. Jika auditor percaya bahwa transaksi di catat dengan benar dalam
jurnal dan diposting dengan benar, maka auditor akan percaya bahwa total buku besar adalah
benar.

untuk mendeteksi monetary errors dapat dilakukukan Pengujian Detail Transaksi, pengujian
detail transaksi dilakukan untuk menentukan:
(1) Ketepatan otorisasi transaksi akuntansi klien.
(2) Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi tersebut dalam jurnal.
(3) Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi tersebut ke dalam buku besar dan buku
pembantu.
Pengujian detail transaksi dilakukan dengan vouching dan tracing. Auditor mengarahkan
pengujiannya untuk memperoleh temuan mengenai ada tidaknya kesalahan yang bersifat
moneter.
2. Menurut PSA 22 (SA 329) prosedur analitis didefinisikan sebagai “evaluasi atas informasi
keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan
nonkeuangan, meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan ekspektasi
auditor.” Definisi ini menekankan pada ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor.
Prosedur analitis dapat dilakukan dalam tiga kesempatan selama penugasan audit
berlangsung yakni saat perencanaan, pengujian dan penyelesaian audit.
Bagaimana menurut pendapat saudara atas uraian menurut PSA 22 (SA 329) jika
dihubungkan dengan prosedur analitis atas akun pendapatan dan beban (Analytical
Procedures for Income and Expense Accounts).

Prosedur analitis digunakan dalam audit untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat,
waktu dan luasnya prosedur audit lainnya; untuk memperoleh bukti mengenai asersi tertentu
yang berhubungan dengan saldo akun atau transaksi; dan review akhir terhadap kelayakan
kesluruhan laporan keuangan yang diaudit.
Hubungan antara definisi prosedur analitis menurut PSA 22 (SA 329) dengan prosedur
analitis atas akun pendapatan dan beban ialah adanya prosedur analitis ini dilakukan untuk
mengevaluasi ketika audit selesai mereview kelayakan keseluruhan laporan yang di audit.
Evaluasi ini dilakukan dengan melakukan perbandingan antara saldo akun yang seharusnya
dengan neraca maupun laporan laba rugi. Auditor harus yakin bahwa setiap total pendapatan
dan beban yang dicantumkan dalam laporan laba rugi, serta laba bersih tidak mengandung
salah saji yang material.

Dua konsep berikut dalam audit akun pendapatan dan beban merupakan hal penting dalam
mempertimbangkan tujuan laporan laba/rugi yang sesuai dengan PSA 22 (SA329):
a. Kesesuaian antara periode pendapatan dan beban diperlukan untuk menentukan hasil yang
benar.
b. Penerapan prinsip akuntansi yang konsisten dalam beberapa periode penting untuk
perbandingan.

Menurut saya terkait uraian menurut PSA 22 (SA 329) yang menjelaskan definisi mengenai
prosedur analitis menunjukan bahwa, jika prosedur analitis atas akun pendapatan dan beban,
prosedur analitis tersebut dapat menghubungkan data keuangan dan non keuangan pada
akun pendapatan dan beban. Auditor biasanya melakukan prosedur analitis ini untuk akun
pendapatan dan beban : (1) Membandingkan setiap beban dengan tahun sebelumnya, (2)
Membandingkan setiap saldo aset dan kewajiban dengan tahun sebelumnya, (3)
Membandingkan setiap beban dengan yang diselenggarakan, (4) Membandingkan persentase
marjin kotor dengan tahun sebelumnya, (5) Membandingkan rasio perputaran persediaan
dengan tahun sebelumnya, (6) Membandingkan beban asuransi dibayar di muka dengan
tahun sebelumnya, (7) Membandingkan beban komisi yang dibagi dnegan penjualan dengan
tahun sebelumnya, (8) Membandingkan setiap beban manufaktur yang dibagi dengan total
beban manufaktur dengan tahun sebelumnya.
Terimakasih
Prosedur analitis pada tahap perencanaan bertujuan:
a. Memahami kegiatan entitas yang diaudit
Umumnya auditor mempertimbangkan pengetahuan dan pengalaman tentang auditan
yang diperoleh di tahun sebelumnya sebagai titik tolak perencanaan audit tahun berjalan.
Dengan melakukan prosedur analitis, perubahan yang terjadi dapat diamati dari
perbandingan informasi tahun berjalan (yang belum diaudit) dengan informasi tahun
sebelumnya yang telah diaudit. Perubahan tersebut dapat mencerminkan kecenderungan
yang penting atau kejadian spesifik. Contohnya menurunnya persentase marjin kotor
selama beberapa waktu dapat mengindikasikan inefisiensikinerja perusahaan.
b. Menunjukkan kemungkinan salah saji
Perbedaan yang tidak diharapkan (fluktuasi yang tidak biasa) antara data keuangan tahun
berjalan yang belum diaudit dengan data keuangan yang dijadikan pembanding dapat
mengindikasikan adanya salah saji atau ketidak beresan akuntansi. Fluktuasi yang tidak
biasa terjadi jika diperkirakan tidak ada perbedaan tetapi kenyataannya terjadi
perbedaan, atau bila diperkirakan terjadi perbedaan, yang ternyata tidak terjadi. Aspek
prosedur analitis ini sering disebut “arahan perhatian” karena prosedur ini menghasilkan
prosedur yang lebih rinci dalam bidang audit khusus di mana terdapat kemungkinan
ditemukannya salah saji.
c. Mengurangi pengujian terinci
Jika prosedur analitis tidak mengungkapkan fluktuasi yang tidak biasa, Maka
implikasinya adalah adanya kemungkinan salah saji material telah diminimalisasikan.
Dengan kata lain, pos tersebut tidak memerlukan pengujian rinci, prosedur audit tertentu
dapat dihilangkan, sampel dapat dikurangi, atau pelaksanaan prosedur audit pada pos
tersebut dapat dilaksanakan sesudah tanggal neraca. Prosedur analitis lebih sering
digunakan pada audit keuangan karena data keuangan yang menjadi analisis dalam audit
keuangan memiliki hubungan dan kecenderungan antar berbagai data dari berbagai
akun-akun pencatatan. Walaupun demikian, prosedur analitis juga dapat digunakan pada
audit-audit lain terutama bila data yang digunakan adalah data-data kuantitatif

3. Ada beberapa alasan seorang auditor melakukan pengauditan laporan laba lugi diantaranya
yaitu untuk memeriksa apakah semua pendapatan yang menjadi hak perusahaan telah dicatat
dengan menggunakan cut-off yang tepat, izin bertanya bagaimana seorang auditor
mengetahui bahwa semua pendapatan yang menjadi hak perusahaan telah dicatat dengan
cutt-off yang tepat dan apabila pencatatan tidak menggunakan cut-off yang tepat apa
dampak spesifik terhadap laporan laba rugi tersebut?

Cut-off atau pisah batas adalah pemisahan catatan transaksi periode saat ini (2011) dengan
periode tahun berikutnya (2012). Tujuan cut-off bagi auditor adalah untuk memeriksa apakah
transaksi- transaksi telah dicatat sesuai dengan tanggal/waktu pisah batas yang telah ditentukan,
sehingga pencatatan telah dilakukan pada periode akuntansi atau tahun buku yang tepat.

Semua pendapatan yang menjadi hak perusahaan telah dicatat dengan menggunakan cut-off yang


tepat. Hal ini bertujuan agar auditor benar-benar yakin bahwa :
 Semua pendapatan dari kegiatan operasi maupun di luar kegiatan operasi misalnya
pendapatan bunga, penjualan barang-barang scrap, seluruhnya sudah dicatat dalam
pembukuan perusahaan dan uangnya telah atau akan diterima oleh perusahaan. Jangan
sampai ada pendapatan yang masuk ke kantong karyawan, direksi atau pemegang saham
yang merupakan pemilik perusahaan.
 Semua pendapatan dicatat dalam periode yang tepat, yaitu periode terjadinya dan tidak
terjadi pergeseran waktu pencatatan untuk tujuan windows dressing.
 Tidak ada pendapatan yang bukan menjadi hak perusahaan, misalnya pendapatan dari
bisnis pribadi pemegang saham atau pemilik, dicatat sebagai pendapatan perusahaan,
untuk tujuan windows dressing.
Maka menurut saya, apabila pencatatan tidak menggunakan cut-off yang tepat dampak spesifik
yaitu akan menimbulkan salah saji yang akan mempengaruhi laporan laba rugi . Apabila tidak
menggunakan cut-off maka seorang auditor harus melakukan prosedur analitis yang mampu
menemukan salah saji tersebut. Dan akan mempengaruhi terhadap pendapatan periode berjalan.