Anda di halaman 1dari 29

MENYELESAIKAN PENGUJIAN DALAM SIKLUS AKUISISI DAN

PEMBAYARAN: VERIFIKASI AKUN TERPILIH

MAKALAH
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Auditing II

Dosen Pembina
Radhi Abdul Halim R, S.E., M.M., Ak., Ca.

Disusun :
Anara Prima D 0115101061
Ruth Debora 0115101137
Santi Hedyana 0115101226
Fachri Zulfan 0115101325
Rina Siti Mariana 0115101425

Lidya Revita 0116101225

Kelas : A

UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat,
rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah auditing II ini
sesuai batas waktu yang telah ditentukan. Makalah auditing II yang penulis susun berjudul
“Menyelesaikan Pengujian dalam Siklus Akuisisi dan Pembayaran: Verifikasi Akun Terpilih”.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Auditing II. Meskipun banyak
rintangan dan hambatan yang penulis alami dalam proses pengerjaannya, tetapi penulis berhasil
menyelesaikannya dengan baik.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembina dan teman-teman mahasiswa


yang sudah memberi kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan
makalah ini.

Penulis mohon maaf atas kekurangan dari makalah ini dan penulis menyadari dalam
penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan
saran dan kritik dari pembaca, guna penyempurnaan dimasa yang akan datang. Penulis berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bandung, Maret 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Transaksi dalam siklus akuisisi dan pembayaran mempengaruhi beberapa akun aktiva:

 Properti, pabrik, dan peralatan


 Serta akun beban dibayar dimuka.
 Kewajiban lainnya
 Akun laba dan beban

Diantara beberapa lainnya pembayaran jasa juga mempengaruhi banyak akun beban. Untuk
melanjutkan pembahasan mengenai siklus akuisisi dan pembayaran juga akan membahas
masalah audit yang berhubungan dengan akun-akun lain yang umumnya ditemukan dalam siklus
akuisisi dan pembayaran sebagian besar bisnis.

Cerita mengenai TVCN menyoroti pentingnya memahami sifat transaksi siklus akuisisi dan
pembayaran. Karena transaksi dalam siklus ini mempengaruhi sejumlah besar akun baik dalam
neraca maupun laporan laba rugi, transaksi yang diklasifikasikan dengan tidak benar dapat
sangat mempengaruhi hasil yang dilaporkan, seperti yang terjadi pada TVCN. Auditor harus
memahami sifat transaksi yang mengatur melalui siklus akuisisi dan pe,mbayaran sehingga dapat
menilai secara efektif risiko salah saji yang material dan melaksanakana prosedur audit lebih
lanjut untuk mengevaluasi akun-akun dalam siklus tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengujian audit atas properti, pabrik dan peralatan?

2. Bagaimana pengujian audit beban dibayar dimuka?


3. Bagaiman pengujian audit kewajiban akrual?

4. Bagaimana pengujian audit akun laba dan beban?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengujian audit atas properti, pabrik dan peralatan.

2. Untuk mengetahui pengujian audit beban dibayar dimuka.

3. Untuk mengetahui pengujian audit kewajiban akrual.

4. Untuk mengetahui pengujian audit akun laba dan beban.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 JENIS AKUN LAIN DALAM SIKLUS AKUISISI DAN PEMBAYARAN


Tabel 19-1 menyoroti banyak akun khusus yang terkait dengan transaksi akuisisi dan
pembayaran. Jenis aset, beban, dan kewajiban bagi banyak perusahaan akan berbeda, terutama
yang berkecimpung dalam industri selain ritel, grosir dan manufaktur. 
Metodologi yang berkaitan dengan audit atas akun -akun tersebut serupa dengan audit
atas akun lainnya yang dibahas pada bab sebelumnya. Gambar 18-3 mengilustrasikan metodologi
tersebut, yang serupa dengan metodologi yang ditunjukkan pada Bab 18 untuk audit utang usaha.
Bab terakhir akan menyajikan suatu tinjauan mengenai pengujian pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi khusus untuk transaksi dalam siklus akuisisi dan pembayaran,
serta yang umumnya digunakan dalam prosedur analitis dan pengujian atas rincian saldo utang
usaha. Dalam bab ini, masalah yang berkaitan dengan beberapa akun kunci lainnya dalam sikius
ini akan dibahas, terutama audit atas : 
 Properti, pabrik, dan peralatan
 Beban dibayar di muka 
 Kewajiban lainnya
 Akun laba dan beban

AUDIT ATAS PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN


Properti, pabrik, dan peralatan adalah aset yang memiliki umur yang diharapkan lebih
dari satu tahun, digunakan dalam bisnis, dan tidak diperoleh untuk dan kembali. Tujuan
penggunaan aset itu sebagai bagian dari operasi bisnis klien dan umur diharapkannya yang lebih
dari satu tahun merupakan karakteristik yang signifikan yang membedakan aset tersebut dengan
persediaan, beban dibayar dan investasi. Tabel 19-2 menunjukkan contoh beberapa klasifikasi
akun properti, pabrik, dan peralatan yang umum. Akuisisi properti, pabrik, dan peralatan
dilakukan melalui siklus akuisisi dan pembayaran.
  Karena audit atas akun properti, pabrik, dan peralatan serupa, salah satu contohnya
(peralatan) akan digunakan untuk mengilustrasikan pendekatan ketika mengaudit verifikasi
ketiga jenis akun. Perbedaan yang signifikan dalam verifikasi atas jenis akun lainnya akan
dibahas ketika hal itu muncul.

TABEL19-1 Akun yang umumnya berkaitan dengan Transaksi Siklus Akuisisi dan
Pembayaran
Aset Beban Kewajiban
Kas Harga pokok penjualan Utang usaha
Persediaan Beban sewa Utang sewa
Perlengkapan Pajak properti Biaya profesional akrual
Properti, pabrik, dan peralatan Beban pajak penghasilan Pajak properti akrual
Paten, merek dagang, dan hak cipta Beban asuransi Beban akrual lainnya
Sewa dibayar dimuka Biaya profesional Utang pajak penghasilan
Pajak dibayar dimuka Tunjangan pensiun
Asuransi dibayar dimuka Utilitas

TABEL 19-2 Klasifikasi Akun Properti, Pabrik, dan Peralatan

Tanah dan pengembangan tanah


Bangunan dan perbaikan bangunan
Peralatan
Perabotan dan perkakas
Mobil dan truk
Pengembangan leasehold
Konstruksi dalam proses untuk properti, pabrik dan peralatan

Akun yang umumnya digunakan untuk peralatan diilustrasikan pada Gambar 19-1.
Perhatikan bahwa pendebetan ke peralatan berasal dari siklus akuisi dan pembayaran. Karena
sumber debet akun aset adalah jurnal akuisisi, sistem akuntansi biasanya telah diuji untuk
mencatat penambahan peralatan pada periode berjalan sebagai bagian dari pengujian atas siklus
akuisisi dan pembayaran (yang akan kita pelajari pada bab terakhir). Akan tetapi, karena
penambahan peralatan jarang dilakukan, sering kali berjumlah besar, dan terkena pengendalian
khusus, persetujuan dewan direksi, auditor dapat memutuskan untuk tidak terlalu bergantung
pada pengujian tersebut sebagai bukti pendukung penambahan aset tetap. 
Catatan akuntansi yang utama untuk peralatan serta akun properti, pabrik dan peralatan
lain umumnya berupa file induk aset tetap (fixed asset master). File induk ini meliputi catatan
yang terinci atas setiap bagian peralatan dan jenis properti yang dimiliki. Setiap catatan yang ada
dalam file mencantumkan deskripsi aset, tanggal akuisisi, biaya awal, penyusutan tahun berjalan,
dan akumulasi penyusutan properti. 
Total semua catatan dalam file induk sama dengan saldo besar umum untuk akun-akun
terkait: peralatan, beban penyusutan, dan akumulasi penyusutan. File induk juga berisi informasi
mengenai properti yang diperoleh dan dibuang selama tahun bersangkutan.
 Auditor membedakan cara memverifikasi peralatan dengan akun aset lancar karena tiga alasan:
1. Biasanya akuisisi peralatan jarang dilakukan pada periode berjalan, terutama peralatan
berat yang digunakan dalam proses manufaktur,
2. Jumlah setiap akuisisi sering kali material 
3. Peralatan mungkin tetap disimpan dan dicatat dalam catatan akuntansi selama beberapa
tahun.
Karena perbedaan tersebut, audit atas peralatan lebih menekankan pada verifikasi akuisisi
yang dilakukan pada period berjalan dan bukan saldo akun yang dibawa dari tahun sebelumnya.
Selain itu, umur ekspektasi dari aset di atas satu tahun memerlukan akun beban penyusutan dan
akumulasi penyusutan, seperti yang ditunjukkan pada Gambr 19-1, yang diverifikasi, sebagai
bagian dari audit atas aset. Terakhir, peralatan dapat dijual atau dibuang, yang akan
menimbulkan ayat jurnal keuntungan atau kerugian yang mungkin perlu diverifikasi oleh auditor.
Walaupun pendekatan untuk memverifikasi peralatan berbeda dengan yang digunakan
untuk aset lancar, beberapa akun aset lainnya diverifikasi dengan cara yang sama. Hal tersebut
termasuk paten, hak cipta, biaya katalog, serta semua akun properti, pabrik, dan peralatan.
Dalam audit atas peralatan dan akun-akun terkait, auditor harus memisahkan pengujian
ke dalam kategori berikut :
 Melaksanakan preosedur analitis
 Memverifikasi akuisisi tahun berjalan
 Memverifikasi pelepasan atau pembuangan tahun berjalan
 Memverifikasi saldo akhir akun aset
 Memverifikasi beban penyusutan
 Memverifikasi saldo akhir akumulasi penyusutan
Melaksanakan Prosedur Analitis

Seperti dalam semua bidang audit, jenis prosedur analitis tergantung pada sifat operasi klien.
Tabel 19-3 mengilustrasikan prosedur analitis yang sering di lakukan untuk peralatan.

Memverifikasi akuisisi tahun berjalan

Perusahaan harus mencatat penambahan selama tahun berjalan dengan benar karena aset
memiliki pengaruh jangka panjang terhadap laporan keuangan. Kegagalan untuk
mengkapitalisasi aset tetap, atau mencatat akuisisi pada jumlah yang salah, akan mempengaruhi
neraca hingga perusahaan melepas atau membuang aset itu. Laporan laba rugi juga akan
terpengaruhi hingga aset itu telah sepenuhnya disusutkan. Karena pentingnya akuisisi periode
berjalan dalam audit peralatan, auditor menggunakan tujuh dari delapan tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo sebagai kerangka referensi bagi pengujian atas rincian saldo. Yaitu:

1. Eksistensi
2. Kelengkapan
3. Keakuratan
4. Klasifikasi
5. Pisah batas
6. Detail tie-in
7. Hak dan kewajiban
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan pengujian audit yang umum ditunjukkan pada
tabel 19-4.

Seperti pada semua bidang audit lainnya, pengujian audit aktual dan ukuran sampel sangat
tergantung pada materialitas kinerja, risiko inheren, dan penilaian risiko pengendalian.
Materialitas kinerja merupakan hal penting untuk memverifikasi penambahan tahun berjalan
karena transaksi tersebut bervariasi dari jumlah yang tidak material dalam beberapa tahun hingga
sejumlah besar akuisisi yang dignifikan tiap tahun lainnya.

Titik awal untuk memverifikasi akuisisi tahun berjalan umumnya skedul yang diperoleh dari
klien menyangkut semua akuisisi yang dicatat pada akun properti, pabrik, dan peralatan di buku
besar umum selama tahun tersebut. Klien memperoleh informasi ini dari file induk properti.
Pada tabel 19-4, pengujian paling umum untuk memverifikasi penambahan adalah memeriksa
faktur vendor. Pengujian tambahan, selain yang dilakukan sebagai bagian dari pengujian
pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, seringkali juga diperlukan karena
kompleksitas dari banyak transaksi peralatan dan materialitas jumlahnya. Bagi auditor normal-
normal saja untuk memverifikasi transaksi yang besar dan tidak biasa selama satu tahun penuh
serta sampel representatif dari penambahan yang tipikal. Luas pengujian tergantung pada risiko
pengendalian yang dinilai auditor atas akuisisi dan materialitas penambahan.

Memverifikasi Pelepasan Tahun berjalan

Transaksi yang melibatkan pelepasan peralatan manufaktur sering kali disalahsajikan apabila
pengendalian internal perusahaan tidak memiliki metode formal. Jikla klien lalai mencatat
pelepasan, biaya awal akun peralatan manufaktur akan dinyatakan terlalu tinggi, dan nilai buku
bersih akan dinyatakan terlalu tinggi hingga aktiva telah disusutkan sepenuhnya. Metode formal
untuk menelusuri pelepasan dan provisi menyangkut otorisasi yang tepat atas penjualan atau
pelepasan peralatan manufaktur lainnya akan membantu mengurangi risiko salah saji. Juga harus
ada verifikasi internal yang memadai atas pelepasan yang tercatat untuk memastikan bahwa
aktiva telah dihapus dengan benar dari catatan akuntansi.

Titik awal untuk memverifikasi pelepasan adalah skedul klien yang berisi catatan tentang
pelepasan itu. Skedul tersebut umumnya mencantumkan tanggal kapan aktiva dilepas atau
dibuang, nama orang atau perusahaan yang mengakuisisi aktiva, harga jual, biaya awal, tanggal
akuisisi, dan akumulasi penyusutan. Pengujian detail tie-in atas skedul yang mencatat pelepasan
diperlukan, termasuk memfooting skedul, menelusuri total pada skedul ke pelepasan yang
tercatat dalam buku besar umum, serta menelusuri biaya dan akumulasi penyusutan pelepasan ke
file induk properti.
Prosedur berikut seringkali digunakan untuk memverifikasi pelepasan:

 Mereview apakah aktiva yang baru diakuisisi menggantikan aktiva yang ada
o Menganalisis keuntungan dan kerugian atas pelepasan aktiva dan pendapatan
rupa-rupa yang diterima dari pelepasan aktiva
o Mereview modifikasi pabrik dan perubahan lini produk, pajak properti, atau
cakupan asuransi untuk indikasi penghapusan peralatan
o Melakukan tanya-jawab dengan manajemen dan personil produksi mengenai
kemungkinan pelepasan aktiva

Ketika suatu aktiva dijual atau dibuang begitu saja tanpa ditukar dengan aktiva pengganti,
keakuratan transaksi dapat diverifikasi dengan memeriksa faktur penjualan terkait dan file induk
properti. Auditor harus membandingkan biaya dan akumulasi penyusutan yang ada dalam file
induk dengan ayat jurnal yang tercatat dalam jurrnal umum serta menghitung kembali
keuntungan atas kerugian atas pelepasan aktiva. Jika terjadi tukar tambah aktiva dengan aktiva
pengganti, auditor harus memastikan bahwa aktiva yang baru dikapitalisasi dan aktiva yang
digantikan dihapus secara layak dari catatan, dengan mempertimbangkan nilai buku aktiva yang
ditukar tambah dan biaya tambahan aktiva yang baru.

Memverifikasi Saldo Akhir Akun Aktiva

Dua tujuan auditor mengaudit peralatan manufaktur termasuk menentukan bahwa:

1. Semua peralatan yang tercatat ada secara fisik pada tanggal neraca (eksistensi)
2. Semua peralatan yang dimiliki telah dicatat (kelengkapan)

Ketika merancang pengujian audit untuk memenuhi tujuan tersebut, pertama auditor
mempertimbangkan sifat pengendalian internal terhadap peralatan manufaktur. Auditor mampu
menyimpulkan bahwa pengendalian cukup kuat untuk memungkinkannya bergantung pada saldo
yang dicatat  dari tahun sebelumnya. Pengendalian yang penting meliputi penggunaan file induk
untuk setiap aktiva tetap, pengendalian fisik yang memadai terhadap aktiva yang mudah
dipindahkan penulisan nomor identifikasi ke setiap aktiva tetap, serta perhitungan fisik periodik
atas aktiva tahu departemen akuntansi tentang semua pelepasan aktiva tetap juga merupakan
pengendalian yang penting.

Langkah audit yang pertama berkenaan dengan tujuan detail tie-in: Peralatan manufaktur, seperti
yang tercantum dalam file induk, sama dengan buku besar. Memeriksa printout file induk untuk
melihat bahwa totalnya sama dengan slado buku besar. Setelah menilai risiko pengendalian
untuk tujuan eksistensi, auditor memutuskan apakah perlu memverifikasi eksistensi  setiap item
peralatan manufaktur yang tercantum dalam file induk. Jika terdapat kemungkinan yang besar
bahwa aktiva tetap yang hilang sampel dari file induk dan memeriksa aktiva aktual.

Biasanya auditor tidak perlu menguji keakuratan atau klasifikasi aktiva tetap yang dicatat pada
periode sebelumnya karena sudah diverifikasi dalam audit sebelumnya kadang mungkin
memiliki peralatan manufaktur di tangan yang tidak lagi digunakan dalam operasi. Jika
jumlahnya material, auditor harus mengevaluasi apakah peralatan itu harus dicatat pada nilai
realisasi bersih (tujuan nilai realisasi) atau setidaknya diklasifikasikan secara terpisah sebagai
“peralatan nonoperasi”.

Pertimbangan utama dalam memverifikasi pengungkapan yang terkait dengan aktiva tetap adalah
kemungkinan adanya rintangan hukum. Auditor dapat menggunakan beberapa metode untuk
menentukan apakah peralatan manufaktur terbebani, termasuk:

 Membaca syarat-syarat dalam perja njian pinjaman dan kredit


o Mengirimkan permintaan konfirmasi pinjaman kepada bank dan institusi pemberi
pinjaman lainnya
o Melakukan diskusi dengan klien atau mengirimkan surat ke penasihat hukum
Memverifikasi Beban penyusutan

Jika beban penyusutan berjumlah material, akan diperlukan lebih banyak pengujian yang terinci
atas beban penyusutan ketimbang untuk akun yang telah diverifikasi melalui pengujian
pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo
yang paling penting untuk beban penyusutan adalah  keakuratan. Dalam menentukan hal yang
pertama, auditor harus mempertimbangkan empat aspek:

1. Umur manfaat akuisisi periode berjalan


2. Metode penyusutan
3. Estimasi nilai sisa
4. Kebijakan penyusutan aktiva dalam tahun akuisisi dan disposisi

Kebijakan klien dapat ditentukan melalui diskusi dengan personil yang berwenang dan
membandingkan responsnya dengan informasi yang ada dalam file permanen auditor.  Dalam
memutuskan kelayakan umur manfaat yang dibebankan ke aktiva yang baru saja diakuisisi,
auditor harus memperttimbangkan umur fisik aktiva, umur yang diharapkan, dan kebijakan
perusahaan yang ditetapkan menyangkut pertukaran peralatan.

Metode yang berguna untuk mengaudit penyusutan adalah pengujian prosedur analitis atas
kelayakan yang dilakukan dengan mengalikan aktiva tetap yang belum disusutkan dengan
tingkat penyusutan tahun tersebut. Dalam melakukan perhitungan tersebut, auditor harus
membuat penyesuaian yerhadap penambahan dan pelepasan tahun berjalan, aktiva dengan umur
yang berbeda, dan aktiva dengan metode penyusutan yang berbeda.

Jika pengujian kelayakan secara keseluruhan tidak dapat dicapai, biasanya diperlukan pengujian
yang lebih terinsi. Auditort akan menghitung kembali beban penyusutan atas aktiva tertentu
untuk menentukan apakah klien mengikuti kebijakan penyusutan yang benar dan konsisten. Agar
relevan, perhitungan yang terinci harus dikaitkan dengan perhitungan total penyusutan dengan
memfooting beban penyusutan pada file ninduk properti dan merekonsiliasi totalnya ke buku
besar umum.
Auditor membandingkan informasi yang diperoleh melalui pengujian audit atas akun beban
penyusutan dengan informasi yang diungkapkan dalam catatan kaki guna memastikan informasi
yang disajikan konsisten dengan metode aktual dan asumsi yang digunakan untuk menghitung
serta mencatat penyusutan. Pendebetan ke akumulasi penyusutan biasanya diuji sebagai bagian
dari audit atas pelepasan aktiva, sementara kredit diverifikasi sebagai bagian dari beban
penyusutan.

Memverifikasi Saldo Akhir Akumulasi Penyusutan

Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit atas saldo akhir akumulasi penyusutan adalah:

1.      Akumulasi penyusutan yang dinyatakan pada file induk properti sama dengan buku besar
umum. Tujuai ini dapat dipenuhi dengan menguji footing akumulasi penyusutan dalam file induk
properti dan menelusuri totalnya ke buku besar umum

2.      Akumulasi penyusutan dalam file induk sudah akurat

2.2 AUDIT BEBAN DIBAYAR DI MUKA

Beban dibayar di muka, beban yang ditangguhkan, dan aset tidak berwujud adalah aset yang
umurnya bervariasi dari beberapa bulan hingga beberapa tahun. Hal tersebut termasuk:

 Sewa dibayar di muka


 Biaya organisasi
 Pajak dibayar di muka
 Paten
 Asuransi dibayar di muka
 Merek dagang
 Beban yang ditangguhkan
 Goodwill
Dalam beberapa kasus, akun-akun tersebut sangat material. Akan tetapi, dalam audit khusus,
perusahaan tidak memiliki banyak akun semacam itu atau jumlahnya tidak material. Prosedur
analitis sering kali sudah mencukupi untuk beban dibayar dimuka, beban yang ditangguhkan dan
aset tidak berwujud. Dalam audit tertentu beberapa dari aset tersebut dapat menjadi signifikan
dan melibatkan pertimbangan yang kompleks.

Sebagai contoh, audit atas barang tak berwujud seperti goodwill sangat bergantung pada
pengetahuan auditor tentang sifat bisnis dan industri klien serta membutuhkan pengujian atas
asumsi yang signifikan dari manajemen, model penilaiannya dan data dasar yang digunakan
sebagai input bagi model itu. Mengingat rumitnya evaluasi barang tak berwujud, auditor sering
melibatkan spesialis penilaian bisnis yang membantu mengevaluasi apakah nilai barang tak
berwujud itu telah mengalami penurunan.

Beberapa pengendalian internal khusus dan pengujian audit terkait yang biasanya berkaitan
dengan beban dibayar di muka. Dalam pembahasan berikut, contoh audit atas asuransi dibayar di
muka akan digunakan sebagai representatif akun kelompok ini karena:

1. Asuransi dibayar di muka ditemukan pada sebagian besar audit, hampir semua
perusahaan memiliki beberapa jenis asuransi.
2. Masalah yang umumnya dihadapi dalam audit asuransi dibayar di muka merupakan hal
yang umum bagi kelas akun ini.
3. Tanggung jawab auditor untuk mereview cakupan asuransi merupakan pertimbangan
tambahan yang tidak ditemukan pada akun lainnya dalam kategori ini.

Adapun tiga kategori pengendalian internal untuk asuransi dibayar di muka dan beban asuransi
yaitu :

 Pengendalian terhadap akuisisi dan pencatatan asuransi


 Pengendalian terhadap register asuransi
 Pengendalian terhadap penghapusan beban asuransi.

Pengendalian terhadap akuisisi dan pencatatan asuransi merupakan bagian dari siklus
akuisisi dan pembayaran. Sejalan dengan prosedur yang dibahas dalam siklus tersebut, otorisasi
yang tepat atas polis asuransi yang baru dan pembayaran premi asuransi merupakan
pengendalian yang penting. Register asuransi adalah catatan polis yang berlaku dan tanggal jatuh
tempo setiap polis. Auditor menggunakan register asuransi untuk mengidentifikasi polis yang
berlaku terkait dengan akun asuransi dibayar di muka. Syarat dan jumlah pembayaran polis yang
berlaku dicantumkan dalam register. Karena syarat dan jumlah itu menyediakan dasar untuk
menentukan jumlah asuransi dibayar di muka, auditor secara independen akan memverifikasi
syarat dan jumlah tersebut ke polis asuransi. Perusahaan seringkali memiliki ayat jurnal bulanan
standar untuk mereklasifikasi asuransi dibayar di muka sebagai beban asuransi.

Pengujian audit atas asuransi dibayar di muka, auditor memperoleh skedul dari klien yang
mencantumkan setiap polis yang berlaku:

 Informasi tentang polis, termasuk nomor polis, jumlah cakupan, dan premi tahunan.
 Saldo awal asuransi dibayar di muka
 Pembayaran premi polis
 Jumlah yang dikenakan ke beban asuransi
 Saldo akhir asuransi dibayar di muka.

Biasanya auditor melakukan prosedur analitis berikut untuk asuransi dibayar di muka dan beban
asuransi yaitu :

1. Membandingkan total asuransi dibayar di muka dan beban asuransi dengan tahun
sebelumnya.
2. Menghitung rasio asuransi dibayar di muka terhadap beban asuransi dan
membandingkannya dengan tahun sebelumnya.
3. Membandingkan setiap cakupan polis asuransi pada skedul asuransi yang diperoleh dari
klien dengan skedul tahun sebelumnya sebagai pengujian atas eliminasi polis tertentu
atau perubahan cakupan asuransi.
4. Membandingkan saldo asuransi dibayar di muka yang dihitung selama tahun berjalan atas
dasar polis per polis dengan yang ada pada tahun sebelumnya sebagai pengujian terhadap
kesalahan perhitungan.
5. Mereview cakupan asuransi yang tercantum pada skedul asuransi dibayar di muka
dengan pejabat klien yang berwenang atau broker asuransi menyangkut kememadaian
cakupan.
Bagi banyak audit, tidak ada prosedur substantif tambahan yang diperlukan kecuali risiko
pengendalian dinilai tinggi atau pengujian menunjukkan tingginya kemungkinan terjadinya salah
saji yang signifikan. Prosedur audit lainnya yang akan dibahas berikutnya dan hanya harus
dilakukan apabila ada alasan khusus untuk melakukannya.

Polis asuransi dalam skedul asuransi dibayar di muka memang ada dan polis yang ada
telah dicantumkan

Pengujian atas eksistensi dan pengabaian polis asuransi yang berlaku dapat dilakukan pada
skedul asuransi dibayar di muka klien dengan salah satu dari dua cara berikut:

 Memeriksa sampel faktur asuransi dan polis yang berlaku untuk dibandingkan dengan
skedul
 Memperoleh konfirmasi informasi asuransi dari agen asuransi perusahaan.

Klien memiliki hak atas semua polis asuransi dalam skedul asuransi dibayar di muka

Pihak yang akan menerima manfaat jika klaim asuransi diajukan adalah mereka yang memiliki
hak. Biasanya, penerima yang disebutkan dalam polis adalah klien, tetapi apabila ada hipotik,
klaim asuransi mungkin dapat dibayarkan kepada kreditor. Mereview polis asuransi untuk
penuntut selain klien merupakan pengujian yang baik atas kewajiban yang belum tercatat dan
aset yang digadaikan.

Jumlah dibayar dimuka pada skedul sudah tepat dan totalnya sudah dijumlahkan dengan
benar serta sama dengan buku besar umum

Pengujian audit untuk memverifikasi keakuratan asuransi dibayar di muka melibatkan verifikasi
jumlah premi asuransi, lama periode polis, dan alokasi premi ke asuransi yang belum jatuh
tempo. Jumlah premi untuk polis tertentu dan periode waktunya dapat diverifikasi pada waktu
yang sama dengan pemeriksaan faktur premi atau konfirmasi agen asuransi. Setelah keduanya
selesai diverifikasi, perhitungan klien atas asuransi yang belum jatuh tempo dapat diuji dengan
menghitungnya kembali.
Beban Asuransi yang berhubungan dengan asuransi dibayar di muka telah
diklasifikasikan dengan benar

Klasifikasi yang benar atas pendebetan ke akun beban asuransi yang berbeda harus direview
sebagai pengujian atas laporan laba rugi. Contohnya polis asuransi sebuah peralatan, akun beban
yang sesuai bersifat nyata karena jenis asuransinya dan asuransi kebakaran atas suatu bangunan
mungkin memerlukan alokasi ke beberapa akun termasuk overhead manufaktur. Membebankan
akun yang tepat dan konsistensi dengan tahun sebelumnya merupakan pertimbangan utama
dalam mengevaluasi klasifikasi.

Transaksi Asuransi telah dicatat pada periode yang benar (Pisah Batas)

Pisah batas untuk akuisisi asuransi biasanya bukan merupakan masalah yang signifikan karena
jumlah polisnya kecil dan jumlahnya tidak material. Jika auditor mengecek pisah batas akuisisi
asuransi, mereka melakukannya sebagai bagian dari pengujian pisah batas utang usaha.

2.3 AUDIT KEWAJIBAN AKRUAL

Kategori utama akun yang ketiga dalam siklus akuisisi dan pembayaran adalah kewajiban
akrual (accured liabilities), yang merupakan estimasi kewajiban yang belum dibayar atas jasa
dan manfaat yang telah diterima sebelum tanggal neraca. Kebanyakan kewajiban akrual
merupakan kewajiban di masa depan atas jasa yang belum dibayarkan pada tanggal neraca.
Sebagai contoh, manfaat sewa properti yang diakrualkan selama tahun bersangkutan. Karena itu,
pada tanggal neraca, bagian tertentu dari total biaya sewa yang telah dibayarkan harus
diakrualkan. Kewajiban serupa lainnya termasuk:

 Gaji akrual
 Pajak gaji akrual
 Bonus pejabat akrual
 Komisi akrual
 Fee profesional akrual
 Bunga akrual
Jenis akrual yang kedua melibatkan estimasi dimana jumlah kewajiban yang jatuh tempo
tidak pasti, seperti kewajiban pajak penghasilan federal apabila ada kemungkinan yang masuk
akal bahwa jumlah yang dilaporkan pada SPT pajak akan berubah setelah Internal Revenue
Service mengaudit SPT tersebut. Biaya garansi akrual dan biaya pensiun akrual merupakan jenis
akrual yang serupa.

Verifikasi beban akrual bervariasi tergantung pada sifat akrual dan situasi yang dihadapi
klien. Bagi sebagian besar audit, akrual hanya memerluka waktu audit yang sedikit. Dalam
contoh lainnya, akun-akun tertentu, seperti pajak penghasilan akrual, biaya garansi dan biaya
pensiun, seringkali bersifat material dan memerlukan upaya audit yang cukup banyak.

Seperti pada beban asuransi, saldo beban pajak properti merupakan jumlah residu yang
berasal dari saldo awal dan akhir pajak properti akrual serta pembayaran pajak properti. Karena
itu, penekanan dalam pengujian harus diberikan pada kewajiban pajak properti akhir dan
pembayaran. Ketika auditor menverifikasi pajak properti akrual, kedelapan tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo kecuali nilai realisasi bersifat relevan. Dua yang paling penting adalah:

1. Properti yang ada pada skedul akrual sudah tepat untuk mengakrualkan pajak. Kelalaian
untuk mencantumkan properti di mana pajak haeus diakrualkan akan merendahsajikan
kewajiban properti (kelengkapan). Sebagai contoh salah saji yang material dapat terjadi
jika pajak properti belum dibayarkan hingga tanggal neraca dan tidak dimasukkan
sebagai pajak properti akrual.
2. Pajak properti akrual telah dicatat secara akurat. Auditor memperhatikan perlakuan yang
konsisten terhadap akrual dari tahun ke tahun (keakuratan).

Auditor menggunakan dua pengujian utama untuk mencantumkan semua akrual. Auditor
memverifikasi akrual pada saat yang bersamaan dengan pembayaran pajak properti tahun
berjalan. Dalam sebagian besar audit, terdapat beberapa pembayaran pajak properti, tetapi setiap
pembayaran sering kali berjumlah material sehingga merupakan hal yang umum untuk
memverifikasi semuanya. Auditor juga membandingkan akrual itu dengan tahun sebelumnya.
Auditor seringkali memulainya dengan memperoleh skedul pembayaran pajak properti, dan
membandingkan setiap pembayaran dengan skedul tahun sebelumnya untuk menentukan apakah
semua pembayaran telah dicantumkan dalam skedul yang disiapkan klien.
Setelah merasa yakin bahwa semua properti kena pajak telah dicantumkan dalam skedul
yang disiapkan klien, auditor akan mengevaluasi kelayakan pajak properti atas setiap properti
yang digunakan oleh klien untuk mengestimasi akrual. Auditor dapat memverifikasi pajak akrual
dengan menghitung kembali bagian dari total pajak yang dikenakan pada tahun berjalan atas
setiap bagian properti. Pertimbangan paling penting adalah menggunakan bagian yang sama dari
setiap pembayaran pajak untuk akrual yang telah digunakan pada tahun sebelumnya, kecuali ada
kondisi yang dapat dibenarkan untuk melakukan perubahan. Setelah akrual dan beban pajak
properti untuk setiap bagian properti selesai dihitung kembali, totalnya harus ditambahkan dan
dibandingkan dengan buku besar umum.

2.4 AUDIT AKUN LABA DAN BEBAN

Auditor harus yakin bahwa setiap total laba dan beban yang dicantumkan dalam laporan
laba rugi, serta laba bersih tidak mengandung salah saji yang material dan sesuai dengan
kerangka kerja yang berlaku.

Auditor harus menyadari bahwa sebagian besar pengguna laporan keuangan semakin
bergantung pada laporan laba rugi ketimbang neraca untuk membuat keputusan. Investor ekuitas,
kreditor jangka panjang, representatif serikat kerja dan bahkan kreditor jangka pendek lebih
memperhatikan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba ketimbang biaya historis
atau nilai buku setiap aset.

Audit akun pendapatan dan beban tergantung pada tingkat pekerjaan yang dilakukan oleh
auditor pada sistem pengendalian entitas dan pada neraca saldo klien. Sebagai contoh,
kemungkinan salah saji material dalam berbagai akun pendapatan dan beban adalah fungsi dari
pengendalian entitas. Tingkat pengendalian risiko ditetapkan untuk berbagai proses bisnis
berbeda secara langsung mempengaruhi tingkat pengujian yang diperlukan auditor untujk
mengaudit akun laporan laba rugi.

Mengaudit laporan laba rugi mencakup atas pertimbangan hasil kerja audit yang dilakukan
di bagian lain audit dan penyelesaian tambahan prosedur substantif pada akun laporan laba rugi,
termasuk yang berikut ini:
 Hasil dari pengujian pengendalian untuk berbagai proses bisnis
 Hasil dari test terinci pada akun neraca dan akun yang berhubungan pada laporan laba
rugi
 Kinerja prosedur analitis substantif pada rekening laporan laba rugi
 Tes terperinci atas akun laba rugi

Dua konsep berikut dalam audit atas akun laba dan beban akan diperlukan ketika
mempertimbangkan tujuan laporan laba rugi:

1. Penandingan laba dan beban periodik diperukan untuk menentukan hasil operasi yang
tepat.
2. Aplikasi prinsip-prinsip akuntansi yang konsisten selama periode yang berbeda
diperlukan untuk komparabilitas.

Kedua konsep tersebut harus diterapkan ketika mencatat setiap transaksi dan
mengombinasikan akun dalam buku besar umum demi penyajian laporan. Audit atas akun
laba dan beban berkaitan langsung dengan neraca dan bukan merupakan bagian terpisah dari
proses audit. Salah saji akun laporan laba rugi hampir selalu mempengaruhi akun neraca, dan
sebaliknya. Sseperti telah kita bahas pada bab-bab sebelumnya, audit atas akun laba dan
beban berkaitan dengan bagian audit lainnya. Bagian audit yang secara langsung
mempengaruhi akun-akun tersebut adalah:

 Prosedur analitis
 Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi
 Pengujian atas rincian saldo

Prosedur Analitis didefinisikan oleh SAS 56 (AU329) sebagai evaluasi atas informasi
keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan
dan non keuangan. yang melibatkan perbandingan jumlah yang tercatat dengan ekspektasi yang
dikembangkan oleh auditor. Prosedur analitis ini menggunakan perbandingan dan hubungan
untuk menilai apakah saldo akun atau data lain terlibat wajar berkaitan dengan ekspektasi
auditor.
Prosedur analitis ini menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menilai apakah
saldo akun atau data lain terlibat wajar berkaitan dengan ekspektasi auditor.

TABEL PROSEDUR ANALITIS UNTUK AKUN LABA DAN BEBAN

Prosedur Analitis Salah saji yang mungkin


Memandingkan setiap beban dengan tahun Lebih saji atau kurang saji saldo akun beban
sebelunya
Memandingkan setiap saldo aset dan Lebih saji atau kurang saji akun neraca yang
kewajiban dengan tahun sebelumnya juga akan mempengaruhi akun laporan laba
rugi
Membandingkan setiap beban dengan yang Salah saji beban dan akun neraca yang
dianggarkan berhubungan
Membandingkan persentasi marjin kotor Salah saji harga pokok penjualan dan
dengan tahun sebelumnya persediaan
Membandingkan rasio perputaran persediaan Salah saji harga pokok pernjualan dan
dengan tahun sebelumnya persediaan
Membandingkan beban asuransi dibayar di Salah saji beban asuransi dna asuransi
muka dengan tahun sebelumnya dibayar dimuka
Memandingkan beban komisi yang dibagi Salah saji beban komisi dan komisi akrual
dengan penjualan pada tahun sebelumnya
Membandingkan setiap beban manufaktur Salah saji beban manufaktur dan akun neraca
yang dibagi dengan total beban manufaktur yang saling berhubungan
dengan tahun sebelumnya

Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi. Baik pengujian


pengendalian maupun pengujian substantif atas transaksi memiliki dampak yang secara simultan
memverifikasi akun neraca dan laporan laba rugi. Sebagai contoh, asumsikan auditor
menyimpulkan bahwa pengendalian internal sudah memadai untuk memberikan kepastian yang
layak bahwa transaksi yang terjadi dalam jurnal akuisisi, telah dicatat secara akurat,
diklasifikasikan dengan bendar dan di catat pada waktu yang tepat. Dengan melakukan hal
tersebut, auditor memperoleh bukti mengenai kebenaran setiap akun neraca, seperti utang usaha
dan aset tetap, serta akun laporan laba rugi, seperti iklan dan reparasi. Sebaliknya, pengendalian
yang tidak memadai dan salah saji yang ditemukan melalui pengujian pengendalian serta
pengujian substantif atas transaksi menunjukkan kemungkinan adanya salah saji baik dalam
laporan laba rugi maupun neraca.

Sarana yang paling penting untuk memverifikasi banyak akun laporan laba rugi pada
setiap siklus transaksi adalah memahami pengendalian internal dan pengujian pengendalian serta
pengujian substantif atas transaksi yang berhubungan. Sebagai contoh, jika auditor
menyimpulkan setelah melakukan pengujian yang memadai bahwa risiko pengendalian dapat
dinilai secara layak sebagai rendah untuk transaksi dalam siklus akuisisi dan pembayaran, satu-
satunya verifikasi tambahan terhadap akun laporan laba rugi yang berhubungan seperti utilitas,
iklan dan pembelian, akan dilakukan melalui pelaksanaan prosedur analitis dan pengujian pisah
batas akan tetapi, akun laba dan beban tertentu sama sekali tidak diverifikasi oleh pengujian
pengendalian serta pengujian substantif atas transaksi, sementara yang lainnya harus diuji secara
lebih ekstensif oleh pengujian substantif lainnya.

Pengujian atas Rincian Saldo Analisis Beban. Melibatkan pemeriksaan auditor


terhadap pendokumentasian yang mendasari setiap transaksi dan jumlah yang terdiri dari rincian
total akun beban. Dokumen itu sejenis dengan yang digunakan untuk memeriksa transaksi
sebagai bagian dari pengujian transaksi akuisisi, termasuk faktur, laporan penerimaan, pesanan
pembelian dan kontrak.

Meskipun analisis akun beban berfokus pada transaksi, pengujian tersebut berbeda
dengan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Pengujian pengendalian
dan pengujian substantif atas transaksi ditujukan unutk menilai risiko pengendalian. Karena itu,
pengujian tersebut menguji kelas transaksi, seperti akuisisi, sehingga melibatkan banyak akun
yang berbeda. Dalam analisis beban dan akun laporan laba rugi lainnya, auditor memverifikasi
transaksi pada akun-akun khusus untuk menentukan apakah transaksi itu dilakukan kilen yang
sesuai, diklasifikasian dengan benar dan dicatat secara akurat.

Dengan asumsi pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi


memberikan hasil yang memuaskan, umumnya auditor membatasi analisis beban pada akun-
akun tersebut dengan kemungkinan adanya salah saji uji material yang tinggi. Sebagai contoh,
auditor sering kali menganalisis:
 Akun beban reparasi dan pemeliharaan untuk menentukan apakah mereka telah salah
mencantumkan transaksi properti, pabrik dan peralatan.
 Beban sewa dan lease guna menentukan kebutuhan untuk mengkapitalisasi lease.
 Beban hukum untuk menentukan apakah ada kewajiban kontinjen yang potensial,
perselisihan, tindakan ilegal atau masalah hukum lainnya yang dapat mempengaruhi
laporan keuangan.

Akun utilitas, beban perjalanan dan iklan jarang dianalisis kecuali prosedur analitis
menunjukkan tingginya potensi salah saji yang material. Auditor sering kali menganalisis
transaksi akun beban sebagai bagian dari verifikasi aset terkait. Sebagai contoh, sudah umum
bagi auditor untuk menganalisis reparasi dan pemeliharaan sebagai bagian dari memverifikasi
aset tetap dan beban asuransi sebagai bagian dari peongujian asuransi dibayar di muka.

Pengujian atas Rincian Saldo Akun Alokasi. Beberapa akun beban dari alokasi data
akuntansi dan bukan dari transaksi distkret. Beban semacam itu termasuk penyusutan, deplesi
dan amortisasi hak cipta serta biaya katalog. Alokasi overhead manufaktur antara persediaan dan
harga pokok penjualan merupakan contoh jenis alokasi lainnya yang mempengaruhi beban,

Alokasi sangatlah penting karena menentukan apakah pengeluaran merupakan suatu aset
atau beban periode berjalan. Jika klien tidak mengikuti standar akuntansi atau lalai menghitung
alokasi secara benar, laporan keuangan dapat menjadi salah saji material. Alokasi beban seperti
penyusutan aset tetap dan amortisasi hak cipta akan diperlukan karena umur aset lebih lama dari
satu tahun. Harga perolehan awal aset akan diverifikasi pada saat akuisisi, tetapi pembebanan
akan dilakukan selama beberapa tahun.

Jenis alokasi lainnya yang secara langsung mempengaruhi laporan keuangan akan muncul
karena umur aset yang lebih singkat belum jatuh tempo pada tanggal neraca. Hal tersebut dapat
mencakup sewa dan asuransi dibayar dimuka. Terakhir, standar akuntansi mengharuskan alokasi
biaya antara beban manufaktur periode berjalan dan persediaan sebagai cara untuk merefleksikan
semua biaya pembuatan produk.

Dalam mengaudit alokasi pengeluaran seperti asuransi dibayar dimuka dan overhead
manufaktur, dua pertimbangan yang paling penting adalah mengacu pada standar akuntansi dan
konsistensi dengan periode sebelumnya. Dua prosedur audit yang paling penting untuk
mengaudit alokasi adalah pengujian atas kelayakan secara keseluruhan dengan menggunakan
prosedur analitis dan perhitungan ulang hasil klien.

Biasanya auditor melaksanakan pengujian tersebut sebagai bagian dari audit atas akun aset
atau kewajiban terkait. Hal ini meliputi memverifikasi beban penyusutan sebagai bagian dari
audit properti, pabrik dan peralatan, pengujian amortisasi paten sebagai bagian dari
memverifikasi paten baru atau pelepasan paten yang ada, dan memverifikasi alokasi antara
persediaan serta harga pokok penjualan sebagai bagian dari audit persediaan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Properti, pabrik, dan peralatan adalah aset yang memiliki umur yang diharapkan lebih
dari satu tahun, digunakan dalam bisnis, dan tidak diperoleh untuk dan kembali. Tujuan
penggunaan aset itu sebagai bagian dari operasi bisnis klien dan umur diharapkannya yang lebih
dari satu tahun merupakan karakteristik yang signifikan yang membedakan aset tersebut dengan
persediaan, beban dibayar dan investasi. Karena audit atas akun properti, pabrik, dan peralatan
serupa, salah satu contohnya (peralatan) akan digunakan untuk mengilustrasikan pendekatan
ketika mengaudit verifikasi ketiga jenis akun. Perbedaan yang signifikan dalam verifikasi atas
jenis akun lainnya akan dibahas ketika hal itu muncul.
Beban dibayar di muka, beban yang ditangguhkan, dan aset tidak berwujud adalah aset
yang umurnya bervariasi dari beberapa bulan hingga beberapa tahun. Hal tersebut termasuk sewa
dibayar di muka, biaya organisasi, pajak dibayar di muka, paten, asuransi dibayar di muka,
merek dagang, beban yang ditangguhkan dan goodwill. Dalam beberapa kasus, akun-akun
tersebut sangat material. Akan tetapi, dalam audit khusus, perusahaan tidak memiliki banyak
akun semacam itu atau jumlahnya tidak material. Prosedur analitis sering kali sudah mencukupi
untuk beban dibayar dimuka, beban yang ditangguhkan dan aset tidak berwujud. Dalam audit
tertentu beberapa dari aset tersebut dapat menjadi signifikan dan melibatkan pertimbangan yang
kompleks.
Kategori utama akun yang ketiga dalam siklus akuisisi dan pembayaran adalah kewajiban
akrual (accured liabilities), yang merupakan estimasi kewajiban yang belum dibayar atas jasa
dan manfaat yang telah diterima sebelum tanggal neraca. Kebanyakan kewajiban akrual
merupakan kewajiban di masa depan atas jasa yang belum dibayarkan pada tanggal neraca.
Sebagai contoh, manfaat sewa properti yang diakrualkan selama tahun bersangkutan. Karena itu,
pada tanggal neraca, bagian tertentu dari total biaya sewa yang telah dibayarkan harus
diakrualkan. Kewajiban serupa lainnya termasuk gaji akrual, pajak gaji akrual, bonus pejabat
akrual, komisi akrual, fee profesional akrual dan bunga akrual.
Auditor harus menyadari bahwa sebagian besar pengguna laporan keuangan semakin
bergantung pada laporan laba rugi ketimbang neraca untuk membuat keputusan. Investor ekuitas,
kreditor jangka panjang, representatif serikat kerja dan bahkan kreditor jangka pendek lebih
memperhatikan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba ketimbang biaya historis
atau nilai buku setiap aset. Audit akun pendapatan dan beban tergantung pada tingkat pekerjaan
yang dilakukan oleh auditor pada sistem pengendalian entitas dan pada neraca saldo klien.
Sebagai contoh, kemungkinan salah saji material dalam berbagai akun pendapatan dan beban
adalah fungsi dari pengendalian entitas. Tingkat pengendalian risiko ditetapkan untuk berbagai
proses bisnis berbeda secara langsung mempengaruhi tingkat pengujian yang diperlukan auditor
untujk mengaudit akun laporan laba rugi.

DAFTAR PUSTAKA

Alvin A Arens., Randal J Elder, Mark S Beasley, Auditing dan Jasa Assurance, (Jakarta:
Erlangga), Jilid 2, Edisi 15, 2014
Aasmund Eilifsen, William F. Messier Jr, Steven M. Glover, Auditing & Assurance Services,
(London: McGraw-Hill), 2010