100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
25 tayangan18 halaman

Kaidah Fiqih Yakin

Bagaimanakah dalam kaidah fiqih dibahas tentang suatu keyakinan seseorang? Ini dia kaidah yg penting diketahui oleh seluruh kaum muslimin.

Diunggah oleh

Gumuruh Jayadilaga
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
25 tayangan18 halaman

Kaidah Fiqih Yakin

Bagaimanakah dalam kaidah fiqih dibahas tentang suatu keyakinan seseorang? Ini dia kaidah yg penting diketahui oleh seluruh kaum muslimin.

Diunggah oleh

Gumuruh Jayadilaga
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Search...

     

KAIDAH FIQIH

Kaedah Fikih: “Al


Yaqiinu La Yazuulu
bisy Syakki”
 Hidayatullah  4 November 2013
 8 Comments

   

Kaidah fikih :

‫اﻟﻴ ﻘﻴ ﻦ ﻻ ﻳ ﺰ و ل ﺑﺎﻟ ﺸ ﻚ‬

“Sesuatu yang meyakinkan tidak


dapat hilang hanya dengan
keraguan“

Kedudukan Kaidah

Kaidah ini merupakan kaidah


yang sangat agung di dalam
syariat Islam, dan banyak
permasalahan fikih yang
dilandasi oleh kaidah ini. Kaidah
ini meng-cover banyak
permasalahan, mulai dari
masalah ibadah, muamalah,
hingga hal-hal yang berkaitan
dengan hukuman bagi para
pelaku kriminal atau yang dikenal
dalam dunia fikih dengan sebutan
hudud.

Imam Suyuthi berkata, “Kaidah


ini dapat diterapkan di semua
bab-bab fikih, dan permasalahan
fikih yang dicakup kaidah ini
mencapai tiga perempat
permasalahan” (Al-Asybah wan
Nazhoir, hal.51)

Imam Nawawi berkata, “Kaidah


ini merupakan kaidah yang
umum (mencakup banyak
permasalahan), dan tidak keluar
dari kaidah ini kecuali beberapa
permasalahan saja” (Al-Majmu’
Syarah Al-Muhadzab juz.1
hal.258)

Kaidah ini juga menunjukkan


kepada kita kesempurnaan
agama Islam yang kita cintai ini.
Apabila kita menerapkan kaidah
ini, maka kita akan semakin yakin
bahwa Islam adalah agama yang
membawa rahmat bagi semesta
alam, karena kita semua sadar
bahwa kehidupan kita tidak akan
pernah terlepas dari kondisi yang
disebut dengan keraguan, yang
mana dari keraguan ini dapat
muncul was-was yang pada
akhirnya mengganggu kegiatan
ibadah seseorang, terutama di
dalam permasalahan taharah dan
salat. Akan tetapi Islam dengan
segala kesempurnaannya
memberikan jalan keluar kepada
umatnya, yaitu dengan adanya
kaidah yang agung ini.

Imam Ibnu Abdil Bar berkata,


“Para ulama sepakat bahwa
barang siapa yang yakin dia telah
berhadas kemudian dia ragu-
ragu apakah telah berwudu atau
belum, maka keraguannya ini
tidaklah berfungsi sama sekali
dan dia tetap wajib untuk
berwudu kembali. Hal ini
menunjukkan bahwa ragu itu
tidak dianggap menurut ulama
sebab yang menjadi ukuran
adalah sesuatu yang meyakinkan.
Ini merupakan pokok yang
sangat agung/esensial dalam
permasalahan fikih.” (At-Tamhid
juz.5 hal.27)

Makna Kaidah

ُ ْ ‫ اﻟﻴ َِﻘﻴ‬secara bahasa adalah


‫ﻦ‬
kemantapan hati, diambil dari
kalimat bahasa Arab ‫ﻳﻘﻦ اﻟﻤﺎء ﻓﻲ‬
‫“ اﻟﺤﻮض‬air itu tenang di dalam
kolam”. Yakin juga dapat
diartikan dengan ilmu yang tidak
ada keraguan di dalamnya.
Adapun ‫اﻟﺸﻚ‬secara bahasa
artinya adalah keraguan.
Maksudnya adalah keraguan dan
kebimbangan terhadap dua hal
yang tidak bisa dikuatkan salah
satu dari keduanya.

Jadi, makna kaidah diatas adalah:

“Bahwa suatu perkara yang


diyakini telah terjadi tidak bisa
dihilangkan kecuali dengan dalil
yang pasti dan meyakinkan.
Dengan kata lain, tidak bisa
dihilangkan hanya dengan
sebuah keraguan. Demikian pula
sebaliknya, suatu perkara yang
diyakini belum terjadi maka tidak
bisa dihukumi telah terjadi
kecuali dengan dalil yang
meyakinkan pula.” (Al-Qowaid
Al-Fiqhiyyah Al-Kubro oleh DR.
Shalih bin Ghanim As-Sadlan
hal.101)

Dalil Kaidah

Kaidah ini dilandasi banyak ayat


dalam Al-quran dan hadis
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam, diantaranya:

1. Firman Allah Ta’ala:

‫ﻢ إ ِﻻ ﻇ َﻨﺎ إ ِن اﻟﻈﻦ َﻻ‬ َ


ْ ُ‫ﻣﺎ ﻳ َﺘﺒ ِﻊُ أﻛ ْﺜ َُﺮﻫ‬
َ َ‫و‬
‫ﺷﻴ ْﺌ ًﺎ‬ َ ْ ‫ﻦ اﻟ‬
َ ‫ﺤﻖ‬ َ ‫ﻣ‬
ِ ‫ﻳ ُﻐْﻨ ِﻲ‬

Artinya: “Dan kebanyakan


mereka tidak mengikuti
kecuali persangkaan saja.
Sesungguhnya persangkaan
itu tidak sedikit pun berguna
untuk mencapai kebenaran.”
(QS. Yunus: 36)
2. Firman Allah Ta’ala:
َ
‫ﻦ‬ ِ ‫ﺟﺘ َﻨ ِﺒ ُﻮا ﻛ َﺜ ِﻴًﺮا‬
َ ‫ﻣ‬ ْ ‫ﻣﻨ ُﻮا ا‬
َ ‫ﻦآ‬
َ ‫ﻳ َﺎ أﻳﻬَﺎ اﻟﺬ ِﻳ‬
ٌ ْ ‫ﺾ اﻟﻈﻦ إ ِﺛ‬
‫ﻢ‬ َ ْ‫اﻟﻈﻦ إ ِن ﺑ َﻌ‬

Artinya: “Hai orang-orang


yang beriman jauhilah
kebanyakan dari
persangkaan, sesungguhnya
kebanyakan dari
persangkaan itu adalah
dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

3. Hadis Rasulullah Shallallahu


‘alaihi wasallam:

َ ِ‫ﻢ ﻓِﻰ ﺑ َﻄ ْﻨ ِﻪ‬ َ


‫ﺷﻴ ْﺌ ًﺎ‬ ْ ُ ‫ﺣﺪ ُﻛ‬َ ‫ﺟﺪ َ أ‬ َ َ‫إ ِذ َا و‬
َ‫مﻻ‬ َ
ْ ‫ﻰٌء أ‬ ْ ‫ﺷ‬ َ ‫ﻪ‬ ُ ْ ‫ﻣﻨ‬
ِ ‫ج‬َ ‫ﺧَﺮ‬
َ
َ ‫ﻞ ﻋ َﻠ َﻴ ْﻪِ أ‬ َ َ ‫ﺷﻜ‬ ْ َ ‫ﻓَﺄ‬
َ ‫ﻤﻊ‬َ ‫ﺴ‬
ْ َ ‫ﺣﺘ ﻰ ﻳ‬ َ ِ ‫ﺠﺪ‬ ِ ‫ﺴ‬ ْ ‫ﻤ‬َ ْ ‫ﻦ اﻟ‬َ ‫ﻣ‬ ِ ‫ﺟﻦ‬ َ ‫ﺨُﺮ‬ ْ َ ‫ﻓَﻼ َﻳ‬
‫ﺤ ﺎ ر وا ه ﻣ ﺴ ﻠ ﻢ‬ َ
ً ‫ﺠﺪ َ رِﻳ‬ ِ َ ‫ﺻﻮْﺗ ًﺎ أوْ ﻳ‬ َ

Artinya: “Apabila salah


seorang dari kalian
merasakan sesuatu dalam
perutnya, kemudian dia
kesulitan untuk memastikan
apakah telah keluar sesuatu
(kentut) atau belum, maka
janganlah dia keluar dari
masjid (membatalkan
salatnya) hingga dia
mendengar suara atau
mencium bau.” (HR. Muslim:
362)

4. Hadis Rasulullah Shallallahu


‘alaihi wasallam:
‫ﺷﻜ َﺎ‬
َ ‫ﻪ‬ َ
ُ ‫ﻦ ﻋ َﻤﻪِ أﻧ‬
ْ َ ‫ﻤﻴ ﻢ ٍ ﻋ‬
ِ َ‫ﻦ ﺗ‬
ِ ْ ‫ﻦ ﻋ َﺒﺎد ٍ ﺑ‬
ْ َ‫ﻋ‬
ِ‫ﻪ ﻋ َﻠ َﻴ ْﻪ‬ُ ‫ﺻﻠ ﻰ اﻟﻠ‬ َ ِ ‫ل اﻟﻠ ﻪ‬ِ ‫ﺳﻮ‬ُ ‫إ ِﻟ َﻰ َر‬
َ
ُ ‫ﺠﺪ‬ ُ ‫ﻞ إ ِﻟ َﻴ ْﻪِ أﻧ‬
ِ َ‫ﻪ ﻳ‬ ُ ‫ﺨﻴ‬ ُ ‫ﺟ‬
َ ُ ‫ﻞ اﻟﺬ ِي ﻳ‬ ُ ‫ﻢ اﻟ ﺮ‬
َ ‫ﺳﻠ‬
َ َ‫و‬
َ ْ ِ ‫َﻻ ﻳﻨَﻔﺘ‬:‫ل‬
ْ ‫ﻞ أو‬ ْ َ َ ‫ﻲَء ﻓِﻲ اﻟﺼَﻼةِ ﻓََﻘﺎ‬ ْ ‫اﻟ ﺸ‬
َ
َ ‫ﺠﺪ‬ِ َ ‫ﺻﻮْﺗ ًﺎ أوْ ﻳ‬
َ َ ‫ﻤﻊ‬
َ ‫ﺴ‬
ْ َ ‫ﺣﺘ ﻰ ﻳ‬
َ ‫ف‬
ْ ِ ‫ﺼﺮ‬َ ْ ‫َﻻ ﻳ َﻨ‬
‫ﺤ ﺎ ر وا ه ا ﻟﺒ ﺨ ﺎ ر ي و ﻣ ﺴ ﻠ ﻢ‬
ً ‫رِﻳ‬

Artinya: Dari ‘Abbad bin


Tamim dari pamannya
berkata, “Bahwasanya ada
seseorang yang mengadu
kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam
bahwa dia merasakan
seakan-akan ingin kentut di
dalam salatnya. Maka
Rasulullah bersabda,
“Janganlah dia membatalkan
salatnya hingga dia
mendengar suara atau
mencium bau.” (HR. Bukhari:
137 dan Muslim: 361)

5. Hadis Rasulullah Shallallahu


‘alaihi wasallam:
َ
ْ َ ‫ﺻﻼ َﺗ ِﻪِ ﻓَﻠ‬
ِ‫ﻢ ﻳ َﺪ ْر‬ َ ‫ﻢ ﻓ ِﻰ‬ ْ ُ ‫ﺣﺪ ُﻛ‬
َ ‫ﺷﻚ أ‬َ ‫إ ِذ َا‬
َ
‫م أْرﺑ َﻌًﺎ ﻓَﻠ ْﻴ َﻄ َْﺮِح‬ َ
ْ ‫ﺻﻠﻰ ﺛ َﻼ َﺛ ًﺎ أ‬
َ ‫ﻢ‬ْ َ‫ﻛ‬
‫ﻦ ﺛ ُﻢ‬ َ ‫ﺳﺘ َﻴ َْﻘ‬ْ ‫ﻣﺎ ا‬ َ ‫ﻦ ﻋ َﻠ َﻰ‬ ْ
ِ ْ ‫اﻟﺸﻚ وَﻟﻴ َﺒ‬
َ َ ‫ﻳﺴﺠﺪ ﺳﺠﺪﺗﻴﻦ ﻗَﺒ‬
ْ ِ ‫ﻢ ﻓَﺈ‬
‫ن‬ َ ‫ﺴﻠ‬َ ُ‫ن ﻳ‬ ْ ‫ﻞأ‬ ْ ِ ََْ ْ َ ُ ُ ْ َ
‫ﻪ‬ُ َ ‫ﺻﻼ َﺗ‬ َ ‫ﻪ‬ ُ َ‫ﻦ ﻟ‬ َ ْ‫ﺷَﻔﻌ‬ َ ‫ﺴﺎ‬ ً ‫ﻤ‬ْ ‫ﺧ‬َ ‫ﺻﻠ ﻰ‬ َ ‫ن‬ َ ‫ﻛ َﺎ‬
‫ﻣﺎ ﻷ َْرﺑ ٍَﻊ ﻛ َﺎﻧ َﺘ َﺎ‬ ً ‫ﻤﺎ‬َ ْ ‫ﺻﻠﻰ إ ِﺗ‬ َ ‫ن‬ َ ‫ن ﻛ َﺎ‬ْ ِ ‫وَإ‬
‫ن ر وا ه ﻣ ﺴ ﻠ ﻢ‬ ِ ‫ﻤﺎ ﻟ ِﻠﺸﻴ ْﻄ َﺎ‬ ً ‫ﺗ َْﺮِﻏﻴ‬

Artinya: “Apabila salah


seorang dari kalian ragu-
ragu dalam salatnya,
sehingga dia tidak tahu
sudah berapa rakaat dia
salat, maka hendaklah dia
mengabaikan keraguannya
dan melakukan yang dia
yakini kemudian hendaklah
dia sujud dua kali sebelum
salam. Seandainya dia salat
lima rakaat maka kedua
sujud itu bisa
menggenapkan salatnya, dan
jikalau salatnya telah
sempurna maka kedua sujud
itu bisa membuat setan
marah dan jengkel” (HR.
Muslim: 571)
Tidak hanya dalil-dalil dari Al-
quran dan sunnah saja yang
melandasi kaidah ini, akan tetapi
para ulama pun telah sepakat
tentang penerapan kaidah ini.
Imam Al-Qorofi berkata: “Kaidah
ini telah disepakati oleh para
ulama, dan bahwasanya setiap
hal yang diragukan dianggap
seperti tidak ada.” (Al-Furuq juz.1
hal.222)

Contoh Penerapan
Kaidah

Sebagaimana telah dijelaskan


sebelumnya bahwa kaidah ini
mencakup banyak sekali
permasalahan syar’i, sangat sulit
untuk menyebutkan tiap-tiap
permasalahan tersebut. Cukup
disebutkan sebagiannya saja
sebagai contoh untuk memahami
penerapan kaidah ini:

1. Apabila seseorang telah


yakin bahwa sebuah pakaian
terkena najis, akan tetapi dia
tidak tahu dibagian mana
dari pakaian tersebut yang
terkena najis maka dia harus
mencuci pakaian itu
seluruhnya.
2. Apabila ada seseorang yang
yakin bahwa dia telah
berwudu, kemudian dia ragu
apakah telah batal wudunya
atau belum, maka dia tidak
perlu berwudu lagi.
3. Dan begitu pula sebaliknya,
apabila seseorang yakin
bahwa wudunya telah batal,
akan tetapi dia ragu apakah
dia telah berwudu lagi atau
belum, maka wajib baginya
untuk berwudu lagi.
4. Barang siapa yang ragu
dalam salatnya apakah dia
telah salat tiga rakaat atau
empat rakaat misalnya,
maka dia harus mengikuti
yang yakin, yaitu yang paling
sedikit rakaatnya, yang
mana dalam permasalah ini
adalah tiga rakaat.
5. Begitu pula dalam
permasalahan putaran
tawaf, apabila dia ragu
berapa kali dia telah
berputar mengelilingi ka’bah
apakah dua kali atau tiga
kali, maka dia harus
menganggap bahwa dia baru
berputar dua kali, dan begitu
seterusnya.
6. Barang siapa yang telah sah
nikahnya, kemudian dia ragu
apakah telah mentalak
istrinya atau belum, maka
pernikahannya tetap sah.
7. Apabila seorang istri
ditinggal suaminya
berpergian dalam jangka
waktu yang lama, maka dia
tetap dihukumi sebagai istri
laki-laki tersebut dan tidak
boleh baginya untuk
menikah lagi. Karena yang
yakin adalah bahwa sang
suami pergi dalan keadaan
hidup, maka tidak boleh
menghukuminya telah
meninggal kecuali dengan
berita yang meyakinkan.
8. Jika ada seseorang yang
pergi meninggalkan
kampung halamannya dalam
keadaan sehat, akan tetapi
setelah bertahun-tahun
tidak kunjung pulang dan
tidak diketahui kabarnya,
maka dia tetap dihukumi
sebagai orang yang hidup.
Yang atas dasar ini tidak
boleh diwarisi hartanya
sampai datang kabar yang
meyakinkan tentang hidup
atau matinya.
9. Apabila seseorang yakin
bahwa dirinya pernah
berhutang, kemudian dia
ragu apakah dia telah
membayar hutang itu atau
belum, maka wajib baginya
untuk membayar hutang
tersebut kecuali jika pihak
yang menghutangi
menyatakan bahwa dia telah
membayar hutangnya.

Wallahu a’lam

Penulis: Hidayatullah

Muraja’ah: Ust. Muhsan


Syarafudin, Lc, M.H.I

Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah


bersama kami. Untuk informasi
lebih lanjut silakan klik disini.
Jazakallahu khaira

 TOPICS: FIQIH, KAIDAH FIQIH


   

PREVIOUS

Hadits Palsu Tentang


Keutamaan Memakai Pakaian
Wol

NEXT

Fatwa Ulama: Hukum Ucapan


Selamat Tahun Baru Hijriyah

ABOUT AUTHOR
Hidayatullah
Mahasiswa STDI Imam Syafi'i Jember

View all posts by Hidayatullah »

ARTIKEL TERKAIT
 

  

Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Kaidah yang Lagi Viral Hukum Asal Ibadah adalah
Terlarang Dibolehkan “Mengambil yang Lebih Ringan Terlarang, sampai Ada Dalil dari
 26 Desember 2013
Mudharatnya” Syariat
 6 April 2019  7 Juli 2018

8 COMMENTS

hendra abdullah  17 Oktober 2014

Assalamu’alaikum ustad tanya:


Klo kita sehabis mandi junub kemudian
kita ragu2 merasa ada bagian anggota
tubuh yang belum terbasuh air dengan
sempurna, kemudian kita tidak
mempedulikan keraguan tersebut.
1) Apakah yg kita lakukan ini sudah
tepat dan sudah menerapkan kaedah di
atas.
2) Lalu bgmn seandaiNa keraguan yg
kita alami itu benar adanya (yakni
anggota tubuh kita benar2 ada yg
belum terbasuh ketika mandi junub
tadi), apakah kita juga berdosa dan
menjadikan sholat2 setelahnya tdk sah.
3) Apabila ketika kita baru saja masuk
kamar mandi kemudian tiba2 handuk
kita terjatuh dilubang WC (dimana kt
tdk tau menahu apakah lubang WC td
ada najisnya atau tdk),
apakah handuk kita jadi najis atau tetap
dihukumi suci?
Syukron ustad. Mohon di jawab secara
rinci agar hati ini mantab dan tidak
tidak ragu2 lagi

 BALAS

Muhammad Abduh Tuasikal 


18 Oktober 2014

Keraguan baru ditoleh stlh mencapai


taraf yakin.

 BALAS

hendra abdullah  31 Januari


2015

Assalamu’alaikum ustad tanya:


Klo kita sehabis mandi junub
kemudian
kita ragu2 merasa ada bagian
anggota tubuh yang belum
terbasuh air
dengan sempurna, kemudian kita
tidak mempedulikan keraguan
tersebut.
1) Apakah yg kita lakukan ini sudah
tepat dan sudah menerapkan
kaedah di
atas.
2) Lalu bgmn seandaiNa keraguan
yg kita alami itu benar adanya
(yakni anggota tubuh kita benar2
ada yg belum terbasuh ketika
mandi
junub tadi), apakah kita juga
berdosa dan menjadikan sholat2
setelahnya
tdk sah.
3) Apabila ketika kita baru saja
masuk kamar mandi kemudian
tiba2 handuk kita terjatuh
dilubang WC (dimana kt tdk tau
menahu apakah
lubang WC td ada najisnya atau
tdk),
apakah handuk kita jadi najis
atau tetap dihukumi suci? Syukron
ustad, dari hendra. Mohon di
jawab
secara rinci pertanyaan 1, 2, 3 agar
hati ini mantab dan tidak was was
lagi

 BALAS

Sa'id Abu Ukkasyah  1


Februari 2015

Wa’alaikumus salam,
1. Ulama menjelaskan bahwa
ragu-ragu sesudah selesai
menunaikan ibadah tidak
dianggap. Jadi sikap Anda sudah
benar dalam menerapkan
kaedah tersebut. Karena hukum
asalnya ketika Anda
menyelesaikan ibadah
bersuci/mandi janabah tsb
adalah yakin suci, makakeraguan
yg datang sesudah keyakinan
tidakdianggap.
2. SEANDAINYA benar-benar
ada bagian badan Anda yang
tidak tersentuh air ketika mandi
janabah, maka mandi Anda tetap
sah, begitupula sholat-sholat
Anda tetap sah dan Anda tidak
berdosa,karena Anda sudah
bertakwa sesuai dengan dalil
dan kaedah Syar’i dengan
pemahaman para Ulama Salaf,
dan Anda sudah mengamalkan
perintah Allah bertanya kepada
Ulama di dalam surat Al-
Anbiyaa`: 7.
Berarti jika SEANDAINYA ada
sesuatu yg terjadi diluar
kemampuan Anda atau sesuatu
yg diluar tuntutan Syari’at tidak
Anda kerjakan , lalu terjadi hal-
hal yg seperti Anda sebutkan,
Anda tidak disalahkan dan tidak
berdosa. Yang menentukan
peraturan Syari’at ini adalah
Allah, maka Allah pula yang
berhak untuk tidak menghitung
suatu perbuatan hamba-Nya
sebagai dosa jika memang
hamba-Nya tsb sudah bertakwa
sesuai dengan kehendak-Nya.
3. Anda cuci handuknya, karena
lubang wc itu tempat bakteri.
Dalam Islam bukan hanya
masalah Najis yang diperhatikan
namun juga masalah kesehatan.

 BALAS

hendra abdullah  26
April 2015

Afwan ustad berarti yg


pertanyaan no 3 handuk kita
tetap dihukumi suci karna
hukum asal closed adalah suci
dan kita tdk tau apakah ada
najis atau tdk di closed tsb.
Benarkah demikian

Sa'id Abu Ukkasyah  1


Mei 2015

Ya, benar begitu

Abdullah  30 Agustus 2015

subhanallah walhamdulillah…

sebaiknya di tambahkan lagi jauh lebih


banyak artikel ttg kaidah fiqih dan
kaidah lain yg praktis dan shahih sesuai
sunnah, terutama kaidah2 penting nya
dulu

krn memudahkan yg awam spt kami utk


ikut memahami ttg agama ini

sy cari artikel ttg ini baru ada 3

ato mungkin kaidah2 tsb di ringkas dan


disajikan jadi bbrp artikel

sy yakin insya alloh sgt bermanfaat

jazakallah
 BALAS

LEAVE A REPLY

Your comment...

Name (required)

Email (required)

Website

SUBMIT COMMENT

Search...

7 ARTIKEL TERBARU

8 Pintu Surga

Memakai Pakaian Terbaik ketika Shalat


(Bag. 2)

Hukum Meninggalkan Shalat Jum’at

Memakai Pakaian Terbaik ketika Shalat


(Bag. 1)

Makna Kata “Al Wail” di Dalam Alquran

Bersama Menanggulangi Wabah


Corona

OPEN RECRUITMENT: SDIT Yaa


Bunayya

CARI TENTANG APA?

Pilih Kategori

MUSLIM.OR.ID

Tentang Kami
Kontributor
Donasi Dakwah
Pasang Iklan

YPIA.OR.ID

Tentang YPIA
Program YPIA
Donasi Dakwah
Kontak Kami

ALAMAT KAMI

Pogung Rejo No. 412, RT 14/RW 51,


kelurahan Sinduadi, kecamatan Mlati,
kabupaten Sleman, kode pos: 55284
Kontak: +62 857-4952-5735
E-mail: muslim.or.id[at]gmail.com
Copyright 2020 Muslim.Or.Id. All Rights
Reserved.

Anda mungkin juga menyukai