Anda di halaman 1dari 19

Pengertian Belajar Menurut Behaviorisme

Menurut teori behaviorisme, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan
cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap
telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya.[1] Misalnya,
seorang guru mengajari siswanya membaca, dalam proses pembelajaran guru dan siswa
benar-benar dalam situasi belajar yang diinginkan, walaupun pada akhirnya hasil yang
dicapai belum maksimal. Namun, jika terjadi perubahan terhadap siswa yang awalnya tidak
bisa membaca menjadi membaca tetapi masih terbata-bata, maka perubahan inilah yang
dimaksud dengan belajar. Contoh lain misalnya, anak belum dapat berhitung perkalian.
Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunyapun sudah mengajarkannya dengan tekun,
namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia
belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukkan prilaku sebagai hasil belajar.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan
keluaran atau output yang berupa respons. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja
yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja
atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi
atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. [2] Dalam teori
ini tingkah laku dalam belajar akan berubah apabila ada stimulus dan respons. Stimulus
dapat berupa perlakuan yang diberikan kepada siswa, sedangkan respons berupa tingkah
laku yang terjadi pada siswa.[3]
Menurut teori behaviorisme, apa yang terjadi diantara stimulus dan respons dianggap tidak
penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan dan tidak dapat diukur. Yang dapat
diamati hanyalah stimulus dan respons. Oleh karena itu, apa saja yang diberikan guru
(stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat diamati
dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal
yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavior adalah faktor pengutan
(reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon bila
pengutan ditambahkan maka respon semakin kuat. Begitu juga bila pengutan dikurangi
responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika
tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas
tersebut merupakan penguat positif (positive reinforcement) dalam brlajar. Bila tugas-tugas
dikurangi dan pengurangan itu justru meningkatkan aktifitas belajarnya, maka pengurangan
tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar. Jadi penguatan
merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan atau dikurangi untuk
memungkinkan terjadinya respon.[4]

B. Tokoh-tokoh Behaviorisme
Tokoh aliran behaviorisme diantaranya adalah Ivan Petrovich Pavlov, Thorndike, Waston,
Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skiner.
1. Ivan Petrovich Pavlov
Ivan Petrovich Pavlo atau lebih dikenal dengan nama singkat Pavlov, adalah seorang
lulusan sekolah kependetaan dan melanjutkan belajar ilmu kedokteran di Militery Medical
Acadeny, St. Petersburg. Pada tahun 1879, ia mendapatkan gelar ahli ilmu pengetahuan
alam.[5]
Akhir tahun 1800-an, Ivan Pavlov, ahli fisika Rusia, mempelopori munculnya proses
kondisioning responden (respondent conditioning) atau kondisioning klasik (clasical
conditionig), karena itu disebut kondisioning Ivan Pavlov. Dari penelitian bersama kolegnya,
Ivan Pavlov mendapat Nobel.
Ivan Pavlov melakukan eksperimen terhadap anjing, Pavlov melihat selama penelitian ada
perubahan dalam waktu dan rata-rata keluarnya air liur pada anjing (salivation). Pavlov
mengamati, jika daging diletakkan dekat mulut anjing yang lapar, anjing akan mengeluarkan
air liur. Hal ini terjadi karena daging telah menyebabkan rangsangan pada anjing, sehingga
secara otomatis ia mengeluarkan air liur. Walau pun tanpa latihan atau dikondisikan
sebelumnya, anjing pasti akan mengeluarkan air liur jika dihadapkan pada daging. Dalm
percobaan ini, daging disebut dengan stimulus yang tidak dikondisikan (unconditionied
stimulus). Dan karena salvia itu terjadi secara otomatis pada saat daging diletakkan di dekat
anjing tanpa latihan atau pengkondisian, maka keluarnya salvia pada anjing tersebut
dinamakan sebagai respon yang tidak dikondisikan (unresponse conditioning).
Kalau daging dapat menimbulkan salvia pada anjing tanpa latihan atau pengalaman
sebelumnya, maka stimulus lain, seperti bel, tidak dapat menghasilkan selvia. Karena
stimulus tersebut tidak menghasilkan respon, maka stimulus (bel) tersebut disebut dengan
stimulus netral (neutral stimulus). Menurut eksperimen Palvo, jika stimulus netral (bel)
dipasngkan dengan daging dan dilakukan secara berulang, maka stimulus netral akan
berubah menjadi stimulus yang dikondisikan (conditioning stimulus) dan memiliki kekuatan
yang sama untuk mengarahkan respon anjing seperti ketika ia melihat daging. Oleh karena
itu, bunyi bel sendiri akan dapat menyebabkan anjing akan mengeluarkan selvia. Proses ini
dinamakan classical conditioning.[6]
Bila ditelusuri, Pavlov yang pada saat ini meneliti anjingnya sendiri, melihat bahwa bubuk
daging membuat seekor anjing mengeluarkan air liur. Maka yang dilakukan pavlvo adalah
sebelum memberikan bubuk daging itu ada membunyikan bel terlebih dahulu. Setelah
dilakukan beberapa kali pengulangan, maka anjing itu akan mengeluarkan air liurnya setelah
mendengar bel berbunyi, meski tidak diberikan daging lagi.
Dari percobaan yang dilakukan oleh Pavlov, dapat disimpulkan bahwa:
- Anjing belajar dari kebiasaan.
- Dengan pengulangan bunyi bel sehingga mengeluarkan air liur.
- Bunyi bel merupakan stimulus yang akhirnya akan menghasilkan respon bersyarat.
- Bunyi bel yang pada mulanya netral tetapi setelah disertai mediasi berupa bubuk
daging, lama-kelamaan berubah menjadi daya yang mampu membangkitkan respon.
Berdasarkan hasil eksperimen itu Pavlov menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya juga
dapat diterapkan pada manusia untuk belajar. Impilkasi hasil eksperimen tersebut pada
belajar manusia adalah:[7]
- Belajar adalah membentuk asosiasi antara stimulus respon secara selektif.
- Proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat.
- Prinsip belajar pada dasarnya merupakan untaian stimulus-respon.
- Menyangkal adanya kemampuan bawaan.
- Adanya clasical conditioning.
Eksperimen Pavlov tersebut kemudian dikembangkan oleh pengikutnya yaitu BF. Skinner
(1933) dan hasilnya dipublikasikan dengan judul Behavior Organism. Prinsip-prinsip
kondisioning klasik ini dapat diterapkan di dalam kelas. Woolfolk dalam Baharuddin dan Esa
Nur Wahyuni (2007), menyatakan sebagai berikut:
1. Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar,
misalnya menekankan kepada kerja sama, dan kompitisi antar kelompok individu. Membuat
kegiatan membaca menjadi menyenangkan dengan menciptakan ruang baca yang nyaman
dan enak serta menarik dan lain sebagainya.
2. Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang
mencemaskan atau menekan, misalnya: mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan
siswa lain cara memahami materi pelajaran, membuat tahap jangka pendek untuk mencapai
tujuan jangka panjang, misalnya dengan memberikan tes harian, mingguan, agar siswa
dapat menyimpan apa yang dipelajari dengan baik.
3. Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi
sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasikan secara tepat. Misalnya,
meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian masuk sekolah yang lebih tinggi
tingkatannya atau perguruan tiggi, bahwa tes tersebut sama dengan tes-tes akademik
lainnya yang pernah mereka lakukan.
2. Edward LeeThorndike
Edward Lee Thorndike adalah seorang pendidik dan sekaligus psikolog berkebangsaan
Amerika. Edward awalnya melakukan penelitian tentang prilaku binatang sebelum tertarik
pada psikologi manusia.[8] dan pertama kali mengadakan eksperimen hubungan stimulus
dan respon dengan hewan kucing melalui prosedur yang sistematis. Ekseperimennya yaitu:
a. Kucing yang lapar dimasukkan ke dalam kotak kerangkeng (puzzle box) yang
dilengkapi pembuka bila disentuh.
b. Di luar diletakkan daging. Kucing dalam kerangkang bergerak kesana kemari mencari
jalan keluar, tetapi gagal. Kucing terus melakukan usaha dan gagal, keadaan ini
berlangsung terus-menerus.
c. Tak lama kemudian kucing tanpa sengaja menekan tombol sehingga tanpa sengaja
pintu kotak kerangkeng terbuka dan kucing dapat memakan daging di depannya.
Percobaan Thorndike tersebut diulang-ulang dan pola gerakan kucing sama saja namun
makin lama kucing dapat membuka pintunya. Gerakan usahanya makin sedikit dan efisien.
Pada kucing tadi terlihat ada kemajuan-kemajuan tingkah lakunya. Dan akhirnya kucing
dimasukkan dalam box terus dpat menyentuh tombol pembuka (sekali usaha, sekali
terbuka), hingga pintu terbuka.
Thorndike menyatakan bahwa prilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada di
lingkungan sehingga menimbulkan respon secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah
sebuah prilaku terjadi akan mempengaruhi prilaku selanjutnya. Dari eksperimen ini
Thorndike telah mengembangkan hukum Law Effect. Ini berarti jika sebuah tindakan diikuti
oleh sebuah perubahan yang memuskan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu
akan diulang kembali akan semakin meningkat. Sebaliknya jika sebuah tindakan diikuti oleh
perubahan yang tidak memuaskan, maka tindakan itu menurun atau tidak dilakukan sama
sekali. Dengan kata lain, konsekuen-konsekuen dari prilaku sesorang akan memainkan
peran penting bagi terjadinya prilaku-prilaku yang akan datang.[9]
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan,
atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi
yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan,
atau gerakan dan tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike
perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat brwujud kongkrit yaitu yang
dapat diamati, atau yang tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati. [10]
3. Burrhus Frederic Skinner
Skinner dilahirkan pada 20 Mei 1904 di Susquehanna Pennylvania, Amerika Serikat. Masa
kanak-kanaknya dilalui dengan kehidupan yang penuh dengan kehangatan namun, cukup
ketat dan disiplin.meraih sarjana muda di Hamilton Colladge, New York, dalam bidang
sastra Inggris. Pada tahun 1928, Skinner mulai memasuki kuliah psikologi di Universitas
Harvard dengan mengkhususkan diri pada bidang tingkah laku hewan dan meraih doktor
pada tahun 1931.
Dari tahun 1931 hingga1936, Skinner bekerja di Harvard. Penelitian yang dilakukannya
difokuskan pada penelitian menegenai sistem syaraf hewan. Pada tahun 1936 sampai 1945,
Skinner meneliti karirnya sebagai tenaga pengajar pada universitas Mingoesta. Dalam
karirnya Skinner menunjukkan produktivitasnya yang tinggi sehingga ia dikukuhkan sebagai
pemimpin Brhaviorisme yang terkemuka di Amerika Serikat.[11]
Skinner merupakan seorang tokoh behavioris yang meyakini bahwa perilaku individu
dikontrol melalui proses operant conditioning dimana seseorang dapat mengontrol tingkah
laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang
relatif besar.
Menagement kelas menurut skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku
antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang
diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant
Conditioningadalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang
dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai
dengan keinginan.
Teori belajar behaviorisme ini telah lama dianut oleh para guru dan pendidik, namun dari
semua pendukuung teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap
perkembangan teori belajar Behaviorisme. Program-program pembelajaran seperti Teaching
Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang
berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat
merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang
dikemukakan oleh skinner.[12]
Menurut skinner – berdasarkan percobaanya terhadap tikus dan burung merpati – unsur
terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah penguatan yang terbentuk
melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan ( penguatan positif
dan penguatan negatif).
Bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Sedangkan bentuk
penguatan negatif adalah antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan,
memberikan tugas tambahan, atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Skinner tidak sependapat pada asumsi yang dikemukakan Guthrie bahwa hukuman
memegang peranan penting dalam proses pelajar. Hal tersebut dikarenakan menurut
skinner :
1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa
terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
3. Hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia
terbebas dari hukuman.
4 Hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih
buruk dari pada kesalahan pertama yang diperbuatnya.[13]
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat
negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus
diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang akan muncul berbeda dengan respon yang
sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang
sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seseorang siswa perlu dihukum karena melakukan
kesalahan. Jika siswa tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukumannya harus
ditambahkan. Tetapi jika sesuatu yang tidak mengenakkan siswa (sehingga ia melakukan
kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong siswa untuk
memperbaiki kesalahnnya, maka inilah yang disebut penganut negatif. Lawan dari penganut
negatif adalah penguat positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk
memperkuat respon. Namun bedanya adalah bahwa penguat positif itu ditambah,
sedangkan penganut negatif adalah dikurangi untuk memperkuat respon.[14]
Teori pengajaran kognitif

Jean Piaget mengasaskan teori pengajaran kognitif.Bidang perkembangan kognitif ini


mengkaji bagaimana kemahiran mental dibina dan berubah mengikut kematangan fisiologi
dan pengalaman seorang kanak-kanak sejak kecil lagi. Teori kognitif ialah pembelajaran
bergantung kepada bagaimana seseorang memikir dan mengamati sesuatu, maklumat
diproses dalam minda, dan pengalaman disusun dan dibezakan dalam pemikiran dan
persepsi. Antara tokoh-tokoh teori kognitif ialah Wertheimer & Kohler - Teori Kognitif-Gestalt,
perkembangan makna, celik akal; Piaget - Teori perkembangan kognitif, pembelajaran aktif;
Bruner - Pemikiran induktif, pembelajaran penemuan; Ausubel - pemikiran deduktif, advance
organisers, pembelajaran bermakna, peta konsep; dan Gagne - jenis pembelajaran,
pembelajaran Mastery analisis tugasan

Perubahan kognitif dikaitkan dengan perubahan yang berkualiti terhadap pemikiran seperti
peningkatan ilmu pengetahuan dan keupayaan.Ramai ahli psikologi kognitif bersetuju
bahawa perubahan yang berlaku dalam diri pelajar disebabkan interaksi pelajar dengan
persekitaran hidup dan situasi pembelajaran yang dialami . Sebagai contoh, apabila kita
berhadapan dengan sesuatu yang baharu, kita akan cuba menyelaraskan dengan apa yang
telah kita lalui berdasarkan pengalaman lampau atau idea sedia ada kita. Untuk berusaha
kearah ini, kita mungkin menerima idea baru dan membuang idea lama atau membung idea
baru kerana merasakan ia tidak relevan kepada kita. Maknanya, dalam apa situasi sekali
pun kita sebenarnya sedang membina kefahaman tentang idea baru dan membina
pengetahuan berasaskan pengalaman yang telah kita hadapi atau idea sedia ada kita.

Pengaruh persekitaran dan pembelajaran bermula seawal di peringkat bayi lagi. Walaupun
kanak-kanak dipengaruhi oleh persekitaran hidup adalah penting untuk memberi perhatian
bahawa kanak-kanak mempengaruhi persekitaran dalam konteks hubungan dan interaksi
dengan ahli- ahli keluarga dan rakan-rakan. Dengan adanya hubungan ini, mereka berjaya
mewujudkan peluang-peluang melalui pengaruh daripada persekitaran. Kanak-kanak
menggunakan peluang-peluang pembelajaran yang sedia ada di persekitaran hidup mereka
untuk meningkatkan kemahiran, pengalaman dan pembelajaran melalui hasil interaksinya.
Keadaan hidup dan cara kanak-kanak menerima asuhan dan didikan sejak di peringkar bayi
lagi dapat membantu mereka dalam menentukan jenis pengalaman yang membantu
memberi kesan terhadap pembelajaran.

Ahli-ahli psikologi kognitif seperti Bruner dan Piaget menumpukan kajian kepada pelbagai
jenis pengajaran dalam proses penyelesaian masalah dan celik akal mengikut pelbagai
peringkat umur dan kebolehan pelajar. Teori-teori pengajaran mereka adalah bertumpu
kepada cara pembelajaran seperti pemikiran celik akal, kaedah penyelesaian masalah,
penemuan dan pengkategorian. Menurut teori ini, manusia memiliki struktur kognitif, dan
semasa proses pembelajaran, otak akan menyusun segala maklumat di dalam ingatan.

Kaedah pengajaran kognitif membolehkan pelajar untuk menguasai kemahiran berfikir


seperti membanding dan membeza, membuat generalisasi, membuat keputusan, membuat
ramalan, mencipta metafora, menerangkan sebab dan menyelesaikan masalah (Meister &
Rosenshine 1992).

Teori Kognitif
Teori kognitif menerangkan bahawa pembelajaran adalah perubahan dalam pengetahuan
yang disimpan di dalam memori. Teori kognitif ini bermaksud penambahan pengetahuan ke
dalam ingatan jangka panjang atau perubahan pada skema atau struktur pengetahuan.
Pengkajian terhadapTeori belajar kognitif memerlukan penggambaran tentang perhatian,
memori dan elaborasi reheashal, pelacakan kembali, dan pembuatan informasi yang
bermakna.
Manusia memilih, mengamal, memberi perhatian, menghindar, atau merenung kembali dan
membuat keputusan tentang peristiwa- peristiwa yang berlaku dalam persekitaran untuk
mencapai matlamat secara aktif. Pandangan kognitif yang lama utamakan perolehan
pengetahuan. Pandangan yang baru pula mengutamakan pembinaan atau pembangunan
ilmu pengetahuan. Maka, dalam proses pembelajaran kognitif ini melibatkan dua proses
mental yang penting iaitu persepsi dan pembentukan konsep (penanggapan).
Salah satu tokoh dalam teori kognitif iaitu Jerome Bruner telah mengemukakan satu teori
belajar iaitu Teori Pembentukan Konsep. Penemuan Jerome Brunner ini sangat menarik
untuk dikaji lebih dalam bagaimana upaya beliau untuk memperbaiki sistem pendidikan di
Sekolah Dasar dan Menengah. Oleh kerana itu, Jarome Bruner melihatnya sebagai proses
pembentukan konsep dan proses penemuan.
Bruner menekankan teori pembentukkan konsep dalam aliran kognitif. Menurut beliau,
konsep adalah penting bagi seseorang kerana ia berfungsi untuk membolehkan kita
mengenal pasti, memahami, mempelajari serta mengingati konsep dengan mudah.
Contohnya melalui cara pengkategorisasi. Malah, konsep juga berfungsi untuk menyusun
maklumat kepada sifat-sifat umum bagi sesuatu kumpulan objek atau idea. Ini dapat
memudahkan pengurusan keadaan yang beraneka kepada yang ringkas lalu menjadikannya
lebih mudah difahami, mempelajari serta mengingati.
Dalam teori belajar Jerome Bruner, beliau berpendapat bahawa mata pelajaran dapat
diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan
anak serta untuk mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif adalah dengan
mengoordinasikan model penyajian bahan dengan cara di mana anak dapat mempelajari
bahan itu sesuai dengan tingkat kemajuan mereka. Jadi sebagai seorang guru, kita harus
memberikan kesempatan kepada murid dalam menemukan erti bagi diri mereka sendiri dan
mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dapat diertikan oleh mereka semasa
dalam pengajaran di sekolah.
Tiga konsep telah dikemukakan oleh Bruner. Konsep konjuntif menerangkan gabungan dua
atau beberapa atribut yang tidak dapat dipisahkan atau dikurangkan. Konsep disjuntif pula
merupakan gabungan atribut dalam konsep itu boleh digunakan dalam satu situasi atau
situasi yang lain. Ketiga ialah konsep hubungan yang bermaksud atribut-atribut dalam
konsep mempunyai hubungan khas antara satu sama lain. Ketiga-tiga konsep ini boleh
diaplikasikan dalam amalan pembelajaran sekolah kerana ia melibatkan perhubungan
antara guru dengan murid dan kedua-dua memainkan peranan penting dalam pembentukan
suasana pembelajaran.
Selain itu, Bruner juga menegaskan bahawa mata pelajaran apapun dapat diajarkan secara
efektif, dengan kejujuran intelektual kepada anak, bahkan dalam tahap perkembangan
manapun. Dalam hal ini Bruner telah membedakan perkembangan menjadi tiga tahap.
Ketiga-tiga tahap itu adalah:
(1) tahap informasi: tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru;

(2) tahap transformasi: tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru
serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang
lain, dan

(3) tahap evaluasi: untuk mengetahui apaha hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar
atau tidak.

Bruner mempermasalahkan seberapa banyak informasi itu diperlukan agar dapat


ditransformasikan . Perlu diketahui, tidak hanya itu saja namun dalam proses belajar juga
ada empat tema pendidikan yang perlu diperhatikan iaitu:
a) mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan,

b) kesiapan (readiness) siswa untuk belajar,

c) nilai intuisi dalam proses pendidikan dengan intuisi,


d) motivasi atau keinginan untuk belajar.siswa, dan guru untuk memotivasinya

Dalam teori Burnner juga mengemukakan bentuk hadiah atau pujian dan hukuman perlu
difikirkan cara penggunaannya dalam proses belajar mengajar. Beliau mengakui bahawa
suatu ketika hadiah ekstrinsik, bisa berubah menjadi dorongan bersifat intrinsik. Jadi
semasa dalam amalan pengajaran di sekolah, guru dapat menjadi dorongan yang bersifat
ekstrinsik, dan keberhasilan memecahkan masalah menjadi dorongan yang bersifat intrinsik.
dengan ini dapat membolehkan tujuan pembelajaran tersebut menjadikan kanak-kanak
merasa puas.
Discovery Learning amat ditekankan dalam teori pembelajaran Jerome Bruner. Teori ini
diangkat dari teori Piaget yang mengatakan bahawa seseorang harus berperan aktif dalam
proses pembelajaran. Ini merupakan pemberian kesempatan kepada seseorang kanak-
kanak untuk menjadi seorang problem solver. Keadaan ini membolehkan mereka
menemukan erti bagi dirinya sendiri serta memungkinkan mereka untuk mempelajari
konsep-konsep dalam bahasa mereka sendiri.
Secara kesimpulannya dalam teori belajar Jerome Bruner, mata pelajaran dapat diajarkan
secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak,
serta untuk mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif adalah dengan
mengoordinasikan model penyajian bahan dengan cara di mana anak dapat mempelajari
bahan itu sesuai dengan tingkat kemajuan anak, dan guru harus memberikan kesempatan
kepada muridnya dalam menemukan erti bagi diri mereka sendiri dan mempelajari konsep-
konsep di dalam bahasa yang dierti oleh mereka.

Tokoh Robert Gagne juga telah mengemukakan teori beliau dalan bidang kognitif iaitu teori
mengenai bagaimana manusia memperolehi maklumat dalam sesuatu proses pembelajaran.
Mengikut teori beliau, rangsangan dari persekitaran luar akan diterima dalam sistem saraf
melalui deria manusia dan seterusnya ditafsirkan dalam stor ingatan, kemudian dihantar
kepada stor ingatan jangka panjang. Akhirnya, ia akan dihantar kepada penggerak tindak
balas melalui sistem saraf.
Mengikut Gagne, pengalaman-pengalaman yang disimpan dalam stor ingatan jangka
panjang adalah penting bagi manusia untuk mengaitkannya dengan pengalaman baru demi
memudahkan proses pembelajaran baru berlaku. Berdasarkan kepada teorinya, Gagne
kemudian mengenal pasti dan menyarankan lapan fasa yang biasa dialami oleh manusia
dalam proses pembelajaran.
Fasa motivasi. Ia adalah fasa pertama dalam proses pembelajaran. Kita belajar kerana
didorong oleh motivasi tertentu. Motivasi memainkan peranan penting dalam proses
pembelajaran. Dalam pengajaran di sekolah, guru boleh menggunakan motivasi untuk
menimbukan motif murid supaya berusaha belajar. Jadi, tanpa motivasi, proses
pembelajaran tidak akan menjadi bermakna dan berkesan.
Fasa Tanggapan melibatkan aktiviti pemerhatian dan pemilihan rangsangan yang tepat dan
relevan. Dalam fasa ini, murid-murid akan menumpukan perhatian terhadap rangsangan
yang dimotivasikan, dan memilih serta membezakan rangsangan-rangsangan melalui organ
derianya. Semasa dalam pengajaran di sekolah, murid dapat menumpukan perhatian
terhadap aktiviti pengajaran guru dan menolak gangguan yang lain seperti bunyi perbualan
daripada rakan-rakan sekelas.
Dalam Fasa Penyimpanan, apabila seseorang kanak-kanak berjaya memilih rangsangan
yang relevan dan mempersepsikannya dengan tepat, maka rangsangan itu akan dibawa
oleh sistem saraf ke dalam stor ingatan jangka pendek. Seterusnya ialah Fasa Penahan.
Selepas rangsangan yang dipilih dikodkan dalam ingatan jangka pendek, ia akan disalur dan
disimpan dalam dalam stor ingatan jangka panjang dan ditransformasi menjadi sistem yang
lebih mudah dan kekal dalam ingatan.
Fasa Mengingati Kembali merupakan tindakan mencari maklumat yang telah simpan dalam
stor jangka panjang. Tindakan ini biasanya digerakkan oleh rangsangan luaran ataupun
melalui motif dalaman. Dalam proses pembelajaran, murid-murid akan berusaha mengingati
kembali apa yang telah dipelajarinya supaya menjawab soalan guru. Fasa Generalisasi pula
merujuk kepada fasa pemindahan pembelajaran atau fasa aplikasi, di mana seseorang
individu boleh mengingati kembali maklumat dalam stor ingatan panjang dan
menggunakannya untuk situasi yang serupa atau sama.
Asa Prestasi pula dikenali sebagai fasa perlakuan. Gagne mengatakan bahawa fasa ini
boleh diperlihat dan diukur daripada perubahan tingkah laku seseorang dalam proses
pembelajaran. Dan akhir sekali ialah Fasa Maklum Balas. Fasa ini berlaku selepas
seseorang individu telah bertindak balas dengan prestasi atau perubahan tingkah laku yang
tepat. Dalam proses pengajaran, guru haruslah sering memberikan pujian kepada murid
yang memberi jawapan yang tepat. Ini boleh membentuk peneguhan positif dalam diri
mereka dan meningkatkan prestasi mereka pada masa hadapan.
Ratna Willis Dahar (1996) mengatakan, sebagai pelopor aliran kognitif, David Ausable
mengemukakan teori belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna adalah
proses mengaitkan dalam informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat
dalam struktur kognitif seseorang. Selanjutnya dikatakan bahawa pembelajaran dapat
menimbulkan belajar bermakna jika memenuhi pras syarat, iaitu:

- Materi yang akan dipelajari melaksanakan belajar bermakna secara potensial

- Anak yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna.

Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung dari materi itu memiliki
kebermaknaan logis dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur
kognitif siswa. Bedasarkan Pandangannya tentang belajar bermakna, maka David Ausable
mengajukan 4 prinsip pembelajaran , iaitu:

1. Pengatur awal (advance organizer)

Pengatur awal atau bahan pengait dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan
konsep lama denan konsep baru yang lebih tinggi maknanya. Pemggunaan pengatur awal
tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi , terutama materi pelajaran
yang telah mempunyai struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan
prestasi suatu pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga
pembelajaran akan lebih bermakna.

2. Diferensiasi progresif

Dalam proses belajar bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep.
Caranya unsur yang paling umum dan inklusif diperkenalkan dahulu kemudian baru yang
lebih detail, berarti proses pembelajaran dari umum ke khusus.

3. Belajar superordinat

Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mengalami petumbuhan kearah
deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam
struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu
saat ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsep-konsep yang lebih
luas dan inklusif.

4. Penyesuaian Integratif

Pada suatu saat siswa kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahawa dua atau lebih
nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama
diterapkan pada lebih satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausable
mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integratif Caranya materi pelajaran disusun
sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarki-hierarki konseptual ke atas
dan ke bawah selama informasi disajikan.

Penangkapan (reception learning). Belajar penangkapan pertama kali dikembangkan oleh


David Ausable sebgai jawaban atas ketidakpuasan model belajar discovery yang
dikembangkan oleh Jerome Bruner tersebut. Menurut Ausubel , siswa tidak selalu
mengetahui apa yang penting atau relevan untuk dirinya sendiri sehigga mereka
memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang
telah diajarkan di sekolah. Ausable menggambarkan model pembelajaran ini dengan nama
belajar penangkapan.

Tokoh yang seterusnya ialah Wolfgang Kohler yang mengemukakan Teori Pembelajaran
Celik Akal. Teori ini merupakan kebolehan mental yang mendorong manusia
mempersepsikan perkaitan unsur-unsur dalam persekitaran secara tiba-tiba demi
menolongnya menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Teori beliau ini melibatkab
aspek persepsi dan struktur pemikiran untuk penyelesaian masalah dengan menggunakan
celik akal. Dengan menggunakan celik akal, kita boleh memikirkan tentang alternatif-
alternatif yang lain lalu fikir tentang struktur dan persepsi yang baru.
Kohler menggunakan pendekatan kognitif untuk mengkaji bagaimana seekor cimpanzi
menyelesaikan masalah untuk mengkaji sebiji pisang yang tergantung di bumbung
sangkarnya. Akhirnya cimpanzi tersebut menggunakan celik akal untuk mendapatkan pisang
tersebut. Menurut Kohler, persepsi perkaitan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah,
iaitu mendapat pisang yang tergantung, disebut sebagai celik akal.
Sama juga semasa dalam pembelajaran di sekolah, guru haruslah selalu menggalakkan
pelajar agar menggunakan celik akal mereka untuk menyelesaikan masalah pelajaran.
Selain itu, boleh juga kita membimbing pelajar untuk menggunakan persepsi mereka untuk
menghubungkaitkan unsur-unsur dalam persekitaran. Malahannya, kita sebagai guru juga
harus menggunakan contoh-contoh khusus yang berkaitan untuk membimbing pelajar
supaya menggunakan celik akal mereka, demi mendapat kesimpulan atau generalisasi.
Secara kesimpulannya, pembelajaran melibatkan 2 proses mental yang penting iaitu
persepsi dan pembentukan konsep. Kohler menggunakan persepsi perkaitan unsur-unsur di
persekitaran, celik akal. Gagne pula melihat proses pembelajaran sebagai langkah-langkah
memproses maklumat. Ausubel melihatnya sebagai pembelajaran resepsi serta bermakna
dan akhirnya Bruner pula melihatnya sebagai proses pembentukan konsep dan proses
penemuan.

Ciri-Ciri Penting Mazhab Kognitif Dan Penggunaannya Dalam Kelas.


Menurut Kamarudin Hj. Husin (1993), terdapat beberapa ciri-ciri penting yang dapat dikutip
daripada setiap mazhab untuk diaplikasikan di dalam bilik darjah. Antaranya ialah :

1) Pembelajaran merupakan satu proses mental

Melalui prinsip ini, pembelajaran adalah dianggap sebagai satu proses pemikiran. Dalam
proses pembelajaran, kanak-kanak sering berfikir, menyelesaikan masalah dan
menggunakan akal fikiran mereka melalui kaedah peninjauan secara terperinci. Prinsip ini
menekankan kepentingan berfikir. Dalam hal ini, pembelajaran di bilik –bilik darjah harus
dipergiat untuk membolehkan kanak-kanak berfikir dengan sempurna. Mereka harus
disogokkan dengan pengalaman atau keadaan-keadaan tertentu untuk menghasilkan gerak
balas tertentu juga. Mereka perlu diberi berfikir, menganalisis serta menilai data-data atau
rangsangan-rangsangan yang diperoleh daripada dunia luar sebelum mereka mampu
berinteraksi terhadapnya. Prinsip ini member perhatian berat kepada kebolehan intelektual,
membina persepsi, ingatan, sensasi dan proses-proses lain yang terlibat dengan aktiviti
mental.

2) Perkembangan kognitif kanak-kanak berlaku secara berperingkat-peringkat.


Prinsip ini menekankan bahawa perkembangan kognitif kanak-kanak berlaku secara
berperingkat-peringkat. Peringkat yang lebih awal adalah lebih mustahak dan utama.
Peringkat awal ini menjadi asas kepada perkembangan kognitif yang selanjutnya.

Dalam hal pembelajaran, guru harus menyedari hakikat bahawa perkembangan diri kanak-
kanak sebenarnya tidak serupa. Oleh yang demikian, kanak-kanak harus dilayan mengikut
keperluan psikologi mereka yang sebenar. Semua perancangan yang melibatkan aktiviti,
kandungan, pemilihan bahan, strategi pengajaran dan sebagainya harus sesuai dengan
perkembangan diri kanak-kanak ketika itu. Guru harus memikirkan tentang tahap
kemampuan berfikir, pembinaan konsep-konsep, keperluan mewujudkan suasana konkrit
daya ingatan dan sebagainya yang sebenarnya sentiasa terlibat dalam proses
pembelajaran. Menurut prinsip ini, mengajarkan seseorang kanak-kanak tentang sesuatu
yang belum sampai masanya akan memakan masa yang panjang daripada mengajar
seseoarang kanak-kanak tentang sesuatu yang bersesuain dengan kemampuannnya. Ini
bermaksud bahawa faktor kemampuan dan kematangan dalam pembelajaran adalah
penting. Biasanya kanak-kanak tersebut mempunyai motivasi yang lebih tinggi untuk belajar.

Pembelajaran harus berasakan minat, umur, kecenderungan, keupayaan mental, emosi dan
sosial murid. Kandungan perlu diperingkat-peringkatkan, disusunatur dan disampaikan
mengikut keperluan. Keadaan ini perlu mengambil kira prinsip-prinsip pembelajaran yang
lain melibatkan pergerakan daripada yang mudah kepada yang lebih kompleks, daripada
yang di dalam pengalaman kepada yang di luar pengalaman, daripada yang dekat kepada
yang jauh, daripada yang konkrit kepada yang abstark dan sebagainya.

3) Pembelajaran adalah satu keseluruhan.

Hal ini sebenarnya, melibatkan persepsi. Dalam proses pengajaran dan pembelajaran,
keseluruhan adalah lebih penting daripada bahagian-bahagian yang menjadikannya. Ini
kerana daripada keseluruhan, kita dapat melihat makna sebenar dan pertalian atau
hubungan antara bahagian-bahagiannya.

Prinsip ini cuba mengetengahkan proses pengamatan dan pembinaan konsep yang bererti
yang hanya dapat dilakukan melalui keseluruhan yang bermakna. Menurut prinsip ini,
keseluruhan adalah penting untuk mendapatkan makna atau fungsi yang tepat. Dalam hal
pengajaran dan pembelajaran di dalam bilik darjah, seandainya kita hanya berpeluang
melihat bahagian-bahagiannya, dan tidak keseluruhannya maka kita tidak dapat
menghasilkan satu makna yang menyeluruh. Ini akan menyebabkan pembelajaran dianggap
tidak bererti dan tidak sempurna. Dalam hal ini, hukum-hukum pembelajaran yang
disarankan oleh mazhab kognitif seperti Hukum Kedekatan, Hukum Keserupaan, Hukum
Kesinambungan dan Hukum Tutupan adalah mustahak diberi perhatian untuk membolehkan
murid-murid membina konsep-konsep secara berkesan dan menjalani pembelajaran yang
lebih bermakna.

4) Pembelajaran adalah proses cuba jaya.

Dalam kehidupan kita, sering kali kita berhadapan dengan pelbagai masalah. Dalam hal ini,
kita cuba menyelesaikannya melalui pelbagai cara yang kita fikirkan terbaik. Biasanya, tiada
masalah yang dapat diselesaikan tanpa percubaan-percubaan mengatasinya terlebih
dahulu.

Dalam hal pembelajaran, proses ini kerap berlaku dan diamalkan di bilik-bilik darjah, malah
ia merupakan cara yang paling digemari oleh murid-murid. Melaluinya, murid-murid
berpeluang mengetengahkan pendapat dan menggunakan idea sendiri untuk mengatasi
sebarang masalah. Dalam kesukaran menyelesaikan masalah itu, tiba-tiba celik akal akan
terhasil. Pengalaman-pengalaman itulah yang merupakan pembelajaran bagi mereka.

5) Pembelajaran adalah juga satu penyiasatan.

Pembelajaran mengikut pendapat mazhab ini bukan sahaja melibatkan proses cuba jaya
tetapi juga pada peringkat yang lebih tinggi melibatkan kajian-kajian, penyiasatan dan
penerokaan. Dalam hal ini murid-murid biasanya meneliti, memerhati, menganalisis,
membuat perbandingan, mengesan dan sebagainya.

Dalam proses pengajaran dan pembelajaran, pelbagai cara boleh digunakan untuk
membolehkan penyiasatan dilakukan. Guru boleh menggunakan teknik penemuan, inkuiri,
teknik menyelesaikan masalah, teknik lawatan dan sebagainya. Murid-murid boleh juga
mengadakan sesi-sesi perbincangan, membentangkan laporan dan lain-lain yang difikirkan
perlu. Situasi ini member mereka peluang bertukar-tukar pandangan, mengetangahkan
penemuan, menilai kerja-kerja sendiri dan sebagainya.

6) Pembelajaran mementingkan pengalaman dan kesediaan belajar.

Menurut prinsip ini, semua pembelajaran harus mengambil kira pengalaman dan
pengetahuan sedia ada dan kesediaan belajar murid-murid. Biasanya, pembelajaran yang
bertitik tolak daripada kedua-dua elemen ini memudahkan guru-guru merancang, iaitu
menyediakan bahan dan milih strategi pengajaran yang sesuai. Di samping itu, murid-murid
juga berpeluang mengikuti pembelajaran yang lebih bermakna yang telah disediakan
mengikut tahap kemampuan intektual dan pengalaman mereka.

Implikasi Teori Pembelajaran Kohler

Seperti yang dinyatakan Mok Soon Sang (2002), Kohler menyarankan bahawa kebolehan
mental (celik akal) juga terdapat pada manusia yang membolehkan pelajar mempelajari
perkara-perkara baru. Implikasi teori Kohler yang terpenting ialah guru perlu menggalakkan
pemikiran celik akal di kalangan pelajar.

Implikasi yang pertama ialah guru perlu menggalakkan murid agar menggunakan celik
akalnya untuk menyelesaikan masalah pembelajaran. Sebagai contoh, apabila guru
mengajarkan sesuatu tajuk baru kepada murid. Guru hendaklah menyediakan bahan dan
aktiviti yang sesuai untuk merangsang celik akal murid memahami isi pengajaran yang
hendak disampaikan oleh guru.

Selain itu, membimbing murid menggunakan persepsinya untuk menghubungkaitkan unsur-


unsur dalam persekitaran. Hal ini memerlukan murid menjalankan ujikaji atau pemerhatian
untuk mereka memahami dan melihat sendiri perkaitan antara unsur-unsur yang relevan
dalam sesuatu masalah.

Implikasi yang ketiga ialah menyampaikan pengajaran selangkah demi selangkah mengikut
urutan yang sesuai. Hal ini adalah penting untuk memastikan murid dapat memahami
secara mendalam isi pengajaran yang hendak diajar. Selain itu, hal ini juga dapat
memberikan pengalaman yang bermakna kepada murid disamping menarik minat murid
untuk belajar. Malah sesuai digunakan bagi memastikan murid di taraf sederhana dan lemah
dapat mengikuti pengajaran dengan baik.

Implikasi yang keempat ialah membimbing pelajar menyelesaikan masalah dengan teknik
menyoal. Hal ini dapat membantu guru menjalankan pemerhatian bahawa murid memahami
ataupun tidak isi pengajaran yang disampaikan. Selain itu, murid juga dapat memproses
maklumat yang diterima dengan lebih cepat.

Selain itu, guru boleh menggunakan contoh-contoh khusus yang berkaitan untuk
membimbing pelajar supaya menggunakan celik akal mereka, demi mendapat kesimpulan
atau generalisasi. Kaedah ini dapat membantu pelajar menyelesaikan masalah yang
diberikan dengan lebih mudah. Pengajaran mesti disampaikan selangkah demi selangkah
dan mengikut urutan kesinambungan yang padu.

Proses ini lebih berkesan jika guru memberi banyak contoh yang khusus, dan pelajar cuba
membuat generalisasi yang betul.

Malah guru juga perlu mengajar pengalaman baru berdasarkan tahap kebolehan pelajar dan
pengalaman mereka. Guru juga boleh mengaitkan pengalaman sedia ada murid untuk
membantu mengajarkan sesuatu yang baru. Sebagai contoh pelajar yang pernah melihat
situasi kebakaran akan dapat menggambarkan keadaan ketika situasi itu berlaku
berbanding pelajar yang tidak pernah melaluinya. Namun begitu, pengajaran yang ingin
dijalankan perlu juga diukur dari segi kebolehan murid. Sekiranya mengajarkan murid di
tahap lemah perlulah menggunakan bahan rangsangan yang bersesuaian berbanding
mengajarkan murid di tahap sederhana.

Implikasi yang terakhir ialah membekalkan bahan-bahan pelajaran yang lengkap supaya
pelajar boleh menggunakannya untuk menyelesaikan masalah. Bahan bantu mengajar yang
bersesuaian adalah penting bagi memastikan proses berfikir dan celik akal murid berlaku
dengan teratur. Proses memahami juga akan berlaku dengan lebih mudah

EKPERIMENS DALAM TEORI PEMBELAJARAN KOLHER

EKSPERIMEN 1
Bagi membentuk Teori Gestalt, Wolfgang Kohler menjalankan dua eksperimen dengan
cimpazi. Dalam eksperimen pertama, seekor cimpanzi diletakkan di dalam sebuah sangkar
besar. Di dalam sangkar itu terdapat beberapa buah peti yang berlainan saiz. Sebiji pisang
tergantung di bumbung sangkar tersebut. Bumbung itu adalah tinggi dan tidak ada jalan bagi
cimpanzi untuk memanjatnya. Cimpanzi itu mulai melompat-lompat beberapa kali untuk
mencapai pisang tetapi gagal. Ia pun berhenti seketika. Ketika berhenti, cimpanzi melihat
sekeliling sangkar dan dengan tiba-tiba, cimpanzi itu mengheret peti demi peti ke bahagian
bawah pisang. Ia menyusun peti itu bertindih-tindih menjadi seperti tangga dan seterusnya
memanjat peti-peti tersebut. Dengan cara ini cimpanzi Berjaya memperolehi pisang tersebut.
Dalam eksperiman ini, keadaan lapar telah menjadi ransangan kepada cimpanzi untuk
mendapatkan pisang yang tergantung itu. Apabila cimpanzi secara tiba-tiba menyedari
pertalian peti-peti dengan cara hendak mendapatkan pisang, ia dikatakan telah mendapat
celik akal.
EKSPERIMEN 2
Dalam eksperimen yang kedua, seekor cimpazi yang lapar diletak di dalam sebuah sangkar.
Berhampiran dengan sangkar itu, iaitu di luarnya terdapat sebiji pisang dan beberapa batang
buluh yang berlainan panjangnya. Cimpazi tersebut cuba mendapatkan pisang dengan
menggunakan batang buluh yang pendek tetapi tidak berjaya. Selepas itu, dia mula
mencabut seutas dawai dari sangkar dan mendapatkan pisang dengan dawai itu. Sekali lagi
cimpanzi tersebut gagal. Secara tiba-tiba dia cepat menggunakan buluh yang pendek untuk
mengaut buluh yang panjang. Dengan menggunakan buluh yang panjang, cimpanzi itu
dikatakan telah memperolehi celik akal apabila dai secara tiba-tiba terfikir untuk
menggunakan buluh pendek untuk mendapatkan buluh yang panjang. Seterusnya cimpanzi
itu barulah memperoleh pisang.
EKSPERIMEN 3

Eksperimen yang ketiga ialah eksperimen terhadap anjing liar yang terdapat di sebuah pulau
di Lautan Pasifik. Eksperimen ini didapati dalam buku Asas Pendidikan 2 yang ditulis oleh
Lee Shok Mee (199). Pada suatu masa, kohler menghadapi masalah kerana anjing liar
sentiasa datang ke rumahnya untuk mencuri makanan. Kohler dan rakan-rakannya
sengaja ,mendirikan pagar (mata punai) yang mempunyai satu lorong masuk di tepi rumah
seperti yang ditunjukkan dalam rajah di bawah. Makanan kemudiannya diletakkan di lorong,
iaitu X1 dan X2. Sedikit makanan juga diletakkan di X3 di sebelah pagar. Susunan makanan
ini menarik anjing liar melalui lorong itu mendapatkan makanan X1 dan X2. Untuk
mendapatkan makanan X3 diperhatikan anjing itu berhenti seketika dan memerhatikan
keadaan di sekitarnya. Tiba-tiba anjing itu berlari keluar dari lorong mengelilingi pagar untuk
sampai ke X3. Sekali lagi, Kohler merumuskan bahawa anjing itu telah menghayati perkaitan
dalam keseluruhan situasi untuk menyelesaikan masalah. Sekiranya pagar itu dibina
daripada tembok batu yang padu dan anjing itu tidak dapat melihat keseluruhan situasi
masakah, maka anjing itu tidak mungkin memperolehi makanan X3. Kajian Kohler
menunjukkan bahawa pembelajaran yang komlpeks berlaku bukan semata-mata mellaui
kaedah cuba ralat. Manusia juga mempunyai kebolehan mental yang istimewa yang disebut
celik akal yang membolehkan mereka memperolehi pembelajaran dan menyelesaikan
masalah yang kompleks. Mengikut teori kognitif celik akal membolehkan kita menghayati
perkaitan unsur-unsur di dalam persekitaran untuk membentuk erti dan menyelesaikan
masalah.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapati daripada hasil kajian kohler tersebut ialah haiwan seperti cimpazi
belajar melalui proses kognisi. Selain itu, cimpazi menggunakan alatan untuk menyelesaikan
masalah, jelaslah bukan tindkan secara membabi buta, tetapi berdasarkan pengalaman dan
persepsinya, iaitu mendapati perkaitan di antara rangsangan-rangsangan seperti kotak-
kotak dan pisang yang berada dalam situasi masalah yang dihadapinya. Menurut kohler,
persepsi perkaitan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah, iaitu mendapat pisang yang
tergantung, disebut sebagai celik akal. Daripada hasil kajian tersebut, kohler menyarankan
bahawa celik akal merupakan kebolehan mental yang mendorong manusia
mempersepsikan perkaitan unsur-unsur dalam persekitaran secara tiba-tiba demi
menolongnya menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi

IMPLIKASI TEORI PEMBELAJARAN KOGNITIF DALAM PROSES PENGAJARAN DAN


PEMBELAJARAN.

Secara umumnya, teori pembelajaran kognitif merupakan satu teori yang sangat penting
dalam proses pengajaran dan pembelajaran murid-murid. Teori pembelajaran kognitif
menekankan proses kognitif bagi menghasilkan perubahan tingkah laku dalam
pembelajaran. Selain itu, ia juga satu cara pembelajaran yang menggunakan pengalaman
sedia ada untuk memikirkan cara penyelesaian masalah yang dihadapi. Teori pembelajaran
kognitif ini sangat menitikberatkan bahawa pengetahuan dan pengalaman yang sedia ada
pada murid-murid untuk proses pembelajaran.

Dengan adanya teori pembelajaran kognitif ini ia secara langsung memberikan implikasi-
implikasi kepada proses pengajaran dan pembelajaran kanak-kanak atau pun murid-murid.
Implikasi teori pembelajaran kognitif yang pertama kepada proses pembelajaran murid-
murid ialah merangsang ingatan kanak-kanak semula. Dalam pembelajaran kognitif ia lebih
kepada menggunakan pengalaman yang sedia bagi membantu dalam proses pembelajaran.
Oleh yang demikian, pembelajaran kognitif dapat merangsang ingatan kanak-kanak semula.
Contohnya, ketika kanak-kanak tersebut berada di alam persekolahan mereka akan melalui
pembelajaran yang memerlukan pengalaman atau pun pengetahuan yang sedia ada.
Seperti kemahiran 4M iaitu membaca, menulis, mengira dan menaakul. Dengan
pengetahuan yang ada ketika di prasekolah dahulu, tentu situasi ini tidak akan menyukarkan
bagi kanak-kanak tersebut. Selain itu, implikasi teori pembelajaran kognitif yang seterusnya
dalam proses pengajaran dan pembelajaran murid-murid ialah membantu murid-murid
mengingat semula. Oleh kerana pembelajaran kognitif ini menekankan kepada perubahan-
perubahan yang berlaku dalam cara manusia berfikir dari peringkat bayi sehingga ia
dewasa. Jean Piaget memandang kanak-kanak sebagai pelajar yang aktif yang berkelakuan
seperti saintis muda dan akan memperkembangkan teori mereka masing-masing. Dalam
bilik darjah, murid-murid akan belajar sesuatu mengikut tahap atau pun tingkat umur
mereka.

Selain itu, ia juga bergantung kepada bagaimana kanak-kanak tersebut


memperolehi pengetahuan mereka. Contohnya, kanak-kanak tadika memperolehi
pengetahuan melalui persepsi mereka sendiri berkaitan dengan dunia. Dengan itu, apabila
kanak-kanak tersebut melalui zaman persekolahan ia akan membantu murid-murid semula
tentang apa yang mereka telah pelajari selama ini terutama sekali pengetahuan yang
mereka miliki ketika di prasekolah. Di samping itu, implikasi pembelajaran kognitif yang lain
ialah isi-isi pelajaran hendaklah disusun mengikut peringkat perkembangan kanak-kanak.
Mengikut pendapat Jean Piaget dalam teori pembelajaran kognitif, beliau telah mengelaskan
kepada empat tahap perkembangan kognitif Piaget iaitu sensori motor( sejak lahir hingga 2
tahun), praoperasi( 2 hingga 7 tahun), operasi konkrit( 7 hingga 11 tahun) dan operasi
formal( 11tahun hingga remaja).

Oleh yang demikian, isi pelajaran yang di sampaikan dalam proses pengajaran dan
pembelajaran mestilah mengikut peringkat perkembangan kanak-kanak. Hal ini demikian
kerana, pengetahuan dan kebolehan kanak-kanak berbeza mengikut umur atau pun tahap
masing-masing. Di sini, guru haruslah menyampaikan dan menyusun isi-isi pelajaran
mengikut peringkat perkembangan kanak-kanak. Contohnya, di prasekolah ia lebih kepada
bermain sambil belajar serta cenderung kepada pengetahuan asas tentang kemahiran 4M,
dengan itu guru hendaklah mengajar murid-murid tersebut mengikut peringkat
perkembangan mereka dan bukannya mengajar mereka dengan menggunakan sukatan
pelajaran sekolah rendah.

Selain itu, PPK (dalam Tengku Zawawi Tengku Zainal, 1997) menyatakan bahawa aktiviti
pengayaan dan pemulihan merupakan elemen yang penting dalam kurikulum pendidikan
Matematik KBSR dan KBSM. Aktiviti pemulihan merupakan aktiviti pengajaran yang
berusaha menolong pelajar untuk mengatasi masalah pembelajaran. Manakala aktiviti
pengayaan ialah sejenis aktiviti tambahan yang lebih kompleks tetapi menarik dan
mencabar (Tengku Zawawi Tengku Zainal, 1997). Aktiviti pengayaan sering digunakan
untuk mengesan pelajar pintar di samping dapat mengasah bakat dan kreativiti. Perbezaan
aktiviti dilakukan kerana Piaget memperlihatkan adanya perbezaan pemikiran individu di
dalam proses perkembangannya.

Bagaimana Guru Boleh Menggalakkan Pemikiran Celik Akal Di Kalangan Pelajar


a) Guru mesti menggunakan perbendaharaan kata yang jelas, mudah difahami dan dibantu
dengan gambar, audio serta
pengalaman langsung pelajar dalam pengajarannya.
2) Perkara yang hendak disampaikan mestilah mudah difahami.
3) Soalan dan rangsangan yang diberi mesti sesuai dengan tahap kognitif dan
perkembangan pelajar iaitu.
a) Pelajar mesti dapat membuat tanggapan dan pemgamatan sepanjang pelajaran.
b) Contoh yang digunakan mesti bersesuaian dengan perkembangan dan tahap
pengalaman pelajar.
4) Pengajaran mesti disampaikan selangkah demi selangkah dan mengikut urutan
kesinambungan yang padu.Proses ini lebih
berkesan jika guru memberi banyak contoh yang khusus, dan pelajar cuba membuat
generalisasi yang betul.
5) Guru tidak boleh memberi terlalu banyak penerangan tetapi perlu memberi panduan dan
bimbingan dalam proses pemikiran celik
akal.
6) Guru perlu menggalakkan pemikiran kritikal dengan memastikan pelajar dengan :
a) Mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas.
b) Berfikiran terbuka
c) Dapat membuat rumusan.

7) Guru boleh menggalakkan keinginan menyoal dan perasaan ingin tahu pelajar dan proses
mempertimbangkan kelemahan dan
kekuatan fakta.
8) Jika sesuatu bahan pelajaran terlalu susah, guru perlu memudahkan bahan tersebut
supaya pelajar dapat memahami bahan itu.
9) Untuk menyenangkan lagi pemahaman pelajar, guru perlu mengajar mata pelajaran
tertentu mengikut langkah-langkah yang
kecil dan tersusun.
10) Jika tugasan di sekolah terlalu susah, dan peneranga guru tidak jelas, pelajar tidak
dapat mencapai celik akal
Teori Belajar Konstruktivisme

2.1 Pengertian Teori Belajar Konstruktivisme


Belajar menurut  konstruktivisme adalah suatu proses mengasimilasikan dan
mengkaitkan pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pngertian yang sudah
dimilikinya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan.
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik
yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus
respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau
menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan
pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa
yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan
pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan
menjadi lebih dinamis.
Menurut teori ini, satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya memberikan
pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri
pengetahuan di dalam memorinya. Dalam hal ini, guru dapat memberikan kemudahan untuk
proses ini, dengan membri kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan
ide – ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar
menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan siswa anak
tangga yang membawasiswa ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa
sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata – kata mereka sendiri.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan, bahwa makna belajar menurut konstruktivisme
adalah aktivitas yang aktif, dimana pesrta didik membina sendiri pengtahuannya, mencari
arti dari apa yang mereka pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan idea-
idea baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky,1992).
Dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut peserta didik diharuskan mempunyai
dasar bagaimana membuat hipotesis dan mempunyai kemampuan untuk mengujinya,
menyelesaikan persoalan, mencari jawaban dari persoalan yang ditemuinya, mengadakan
renungan, mengekspresikan ide dan gagasan sehingga diperoleh konstruksi yang baru.
Berkaitan dengan konstruktivisme, terdapat dua teori belajar yang dikaji dan dikembangkan
oleh Jean Piaget dan Vygotsky, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
2.1.1     Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget
Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan
bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau
pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran
menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang
anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar
kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak
dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai denganskemata yang dimilikinya.
Proses mengkonstruksi, sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:
a)    Skemata
Sekumpulan konsep yang digunakan  ketika berinteraksi dengan lingkungan disebut dengan
skemata.
Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema
(schema). Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang bermain dengan
kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya, ia dapat
menangkap perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki
dua. Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema
tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka
semakin sempunalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan sekema dilakukan
melalui proses asimilasi danakomodasi.
b)   Asimilasi
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep
ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.
Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses
asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian
skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu
dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian
orang itu berkembang.
c)    Akomodasi
Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat
mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai.
Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada.
Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk
membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi
skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
d)   Keseimbangan
Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi
adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi,
ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur
dalamnya.

                                                                              
2.1.2     Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky
Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide
utama. Pertama, perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks
historis dan budaya pengalaman anak. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem-
sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu
orang berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah, dengan demikian  perkembangan
kognitif anak mensyaratkan sistem  komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-
sistem ini  untuk menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri.
Menurut Slavin  (Ratumanan, 2004:49)  ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam
pendidikan. Pertama, dikehendakinya setting kelas berbentuk
pembelajaran kooperatif antar kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang
berbeda, sehingga siswa dapat berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan
saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah
pengembangan terdekat/proksimal masing-masing. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam
pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding, semakin lama
siswa semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri.
a.    Pengelolaan pembelajaran
Interaksi sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi
perkembanganbelajar seseorang, sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia
akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000),
peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan
teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu
terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.
b.    Pemberian bimbingan
Menurut Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugas-
tugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah
perkembangan terdekat mereka (Wersch,1985), yaitu tugas-tugas yang terletak di atas
peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky, pada saat peserta didik melaksanakan
aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka, tugas yang tidak dapat
diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang
lain.

2.2 Implikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran


Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi,
1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar
konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir
untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian
rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat
dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan
melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan
(3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai
bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat
situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
Dikatakan juga bahwa pembelajaran yang memenuhi metode konstruktivis hendaknya
memenuhi beberapa prinsip, yaitu: a) menyediakan pengalaman belajar yang menjadikan
peserta didik dapat melakukan konstruksi pengetahuan; b) pembelajaran dilaksanakan
dengan mengkaitkan kepada kehidupan nyata; c) pembelajaran dilakukan dengan
mengkaitkan kepada kenyataan yang sesuai; d) memotivasi peserta didik untuk aktif dalam
pembelajaran; e) pembelajaran dilaksanakan dengan menyesuaikan kepada kehidupan
social peserta didik; f) pembelajaran menggunakan barbagia sarana; g) melibatkan
peringkat emosional peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan peserta didik (Knuth
& Cunningham,1996).