Anda di halaman 1dari 11

PENDEKATAN TRADISIONAL UNTUK PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI

11 Oktober 2014Tak Berkategori

Pendekatan tradisional merupakan riset konvensional dan bukannya riset aliran baru yang
mengandalkan pemikiran tradisional untuk merumuskan kerangka akuntansi konseptual. Kita dapat
membedakan beberapa pnedektan tersebut menjadi:

Pendekatan non-teoritis

Pendekatan deduktif

Pendekatan induktif

Pendekatan sosiologis

Pendekatan ekonomis

A. HAKIKAT AKUNTANSI: BERBAGAI GAMBARAN

Committee on Terminology dari American Institute of Certified Public Accountant pada awalnya
mendefinisikan akuntansi sebagai berikut:

Akuntansi adalah seni pencatatan, pengkalsifikasian, dan pengikhtisaran, dengan aturan baku dan dalam
satuan uang, transaksi dan peristiwa yang paling tidak sebagian darinya, memiliki karakter keuangan,
dan selanjutnya interpretasi atas hasilnya.

Akuntansi sebagai seni maupun sebagai aktivitas jasa dan secara tidak langsung menyatakan bahwa
akuntansi mencakup sekumpulan teknik yang dianggap bermanfat untuk suatu bidang tertentu. The
Handbook of Accounting mengidentifikasi berbagai bidang yang memanfaatkan akuntansi yaitu: laporan
keuangan, penentuan dan perencanaan pajak, audit independent, system-sistem pemrosesan data dan
informasi, akuntansi biaya dan manajemen, akuntansi pendapatan nasional, dan konsultasi manajemen.

Para akuntan memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang proses akuntansi dalam menguraikan
perbedaan teori-teori akuntansi. Beberapa pandangan tersebut antara lain:
Akuntansi sebagai ideologi

Ideologi merupakan pandangan umum yang terlepas dari wawasannya yang perihal dan mungkin
penting, mencegah kita untuk memahami masyarakat di mana kita tinggal dan kemungkinan untuk
mengubahnya. Akuntansi dipandang sebagai suatu fenomena ideology sebagai suatu sarana untuk
mempertahankan dan melegimitasi aturan-aturan social, ekonomi dan politik yang berlaku saat ini.
Persepsi akuntansi sebagai instrument rasionalitas ekonomi digambarkan dengan sangat baik oleh
Weber, yang mendefinisikan rasionalitas formal dari suatu tindakan ekonomi sebagai “tingkat samapi
sejauh mana perhitungan kuantitatif atau akuntansi mungkin dilakukan secara teknis dan secara nyata
dapat diterapkan”.

Akuntansi sebagai bahasa

Akuntansi dipandang sebagai suatu bahasa (language) bisnis. Akuntansi adalah satu alat
mengkomunikasikan informasi suatu bisnis. Persepsi akuntansi sebagai bahasa ini juga diakui oleh
profesi akuntansi, yang menerbitkan bulletin terminologi akuntansi. Hal ini juga diakui dalam literature
empiris, yang mencoba untuk mengukur komunikasi dari konsep akuntansi. Terdapat dua komponen
dari bahasa, yaitu simbol dan aturan tata bahasa. Jadi, pengakuan akuntansi sebagai bahasa terletak
pada identifikasi dari kedua komponen tersebut sebagai dua tingkat dalam akuntansi. Hal ini mungkin
dapat dibuktikan sebagai berikut:

Symbol / Karakter Leksikal dari suatu bahasa adalah unit-unit atau kata-kata “yang memiliki arti” dan
dapat diidentifikasikan dalam bahasa mana pun.

Aturan tata bahasa dari suatu bahasa mengacu pada pengaturan sintaksis pada bahasa apa pun.

Akuntansi sebagai catatan historis

Umumnya, akuntansi telah dipandang sebagai suatu sarana penyediaan sejarah/historis (history) suatu
organisasi dan transaksi-transaksinya dengan lingkungannya. Baik bagi pemilik maupun pemegang
saham perusahaan, pencatatan akuntansi menyediakan suatu sejarah kepengurusan manjer terhadap
sumber daya pemilik. Konsep kepengurusan pada dasarnya adalah suatu fitur dari hubungan prinsipal
agen, dimana agen diasumsikan menjaga sumber daya dari prinsipal. Pengukuran konsep kepengurusan
ini tela berevolusi dari waktu ke waktu. Binberg membedakannya menjadi empat periode :

Periode Pemeliharaan Murni

Periode Pemeliharaan Tradisional

Periode Utilisasi Aktiva


Periode Terbuka

Dua periode ini mengacu pada kebutuhan agen untuk mengembalikan sumber daya secara utuh kepada
prinsipal dengan melakukan pekerjaan secara minimal guna memenuhi fungsi pemeliharaan dan
pengungkapan data neraca dianggap sudah memadai. Periode ketiga mengacu pada kebutuhan agen
untuk memberikan inisiatif dan wawasan dalam menggunakan aktiva untuk melakukan rencana yang
telah disetujui, dan membutuhkan diperolehnya data evaluasi kinerja atas efektivitas penggunaan
aktiva. Pada periode terbuka, memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam penggunaan aktiva dan
memperbolehkan agen untuk memetakan arah dari utilitas aktiva.

Akuntansi sebagai realitas ekonomi masa kini

Akuntansi juga telah dipandang sebagai suatu sarana untuk mencerminkan realitas ekonomi masa kini.
Tesis utama dari pandangan ini adalah bahwa baik neraca maupun laporan laba rugi harus didasarkan
pada suatu basis penilaian yang lebih mencerminkan kenyataan ekonomi daripada biaya historis. Tujuan
utama dari gambaran akuntansi ini adalah penentuan laba yang sebenarnya, suatu konsep yang
mencerminkan perubahan kesejahteraan perusahaan pada suatu periode waktu.

Akuntansi sebagai sistem informasi

Akuntansi selalu dipandang sebagai suatu sistem informasi (information system). Akuntansi sebagai
proses yang menghubungkan sumber informasi atau transmitter (biasanya akuntan), saluran
komunikasi, dan sekumpulan penerima (pengguna eksternal). Pandangan ini memberikan manfaat yang
penting baik secara konseptual maupun secara empiris, (1) pandangan ini mengasumsikan bahwa
system akuntansi merupakan satu-satunya system pengukuran formal dalam organisasi, (2) pandangan
ini memunculkan kemungkinan desain system akuntansi yang optimal yang memiliki kemampuan untuk
menghasilkan informasi yang bermanfaat. Keunggulan gambaran akuntansi sebagai suatu sistem
informasi dinyatakan sebagai berikut:

Sistem akuntansi alternatif tidak perlu lagi dijustifikasi dalam hal kemampuannya untuk menunjukkan
“laba yang sebenarnya” maupun ketepatannya dalam menyajikan sejarah. Selama para pengguna yang
berbeda-beda memperoleh manfaat dari informasi tersebut, maka kegunaan dari sistem tersebut dapat
ditentukan.

Akutansi sebagai komoditas

Akutansi juga dipandang sebagai suatu komoditas yang merupakan hasil dari suatu aktivitas ekonomi.
Akutansi ada karena terdapat permintaan akan informasi khusus dan akuntan mau dan mampu untuk
menghasilkannya. Sebagai suatu komoditas publik, akuntansi menyediakan dasar idel untuk regulasi,
memberikan dampak pada kebijaka publik, dan mengawasi seluruh kontrak antara organisasi dengan
lingkungannya. Pilihan informasi/teknik akuntansi memilik dampak bagi kesejahteraan masyarakat.
Sebagai hasilnya, terdapat suatu pasar untuk informasi akuntansi yang mendorong adanya permintaan
dan penyediaan.

Akutansi sebagai mitos

Akuntansi mungkin dapat dipandang sebagai suatu mitos (mythology) atau ritual simbolis. Akutansi
menciptakan mitos yang merupakan cara mudah memahami dunia ekonomi dan menjelaskan fenomena
kompleks. Melalui akutansi, suatu fenomena ekonomi kompleks diterjemahkan bagi para pengguna
dengan cara yang lebih mudah dan dapat dimengerti, sehingga menciptakan lebih banyak mitos dari
pada kenyataan. Sebagai akibatnya, pengumpulan informasi akuntansi menjadi suatu ritual yang
diharapkan dan dimasukkan untuk menunjukkan bahwa telah dibuat pilihan-pilihan yang cerdas dan
bahwa terdapat suatu komitmen untuk melakukan penerapan secara sistematis dari informasi akuntansi
terhadap keputusan-keputusan.

Akutansi sebagai alasan logis

Akutansi mungkin digunakan untuk melekatkan makna terhadap peristiwa dan karenanya menyediakan
suatu justifikasi bagi kejadian mereka di masa mendatang, dengan adanya ketidaktepatan dan
ketidakpastian yang melingkupi kebanyakan angka akutansi, akutansi mungkin digunakan sebagai suatu
cara untuk melegimitasi pemunculannya. Oleh sebab itu, akutansi menjadi suatu perisai jaminan atau
sertifikasi otoritas terhadap angka tersebut dan menyediakan suatu alasan pemikiran atas tindakan yang
berdasar pada angka tersebut. Jenis alasan pemikiran yang mungkin disediakan oleh akuntansi
bergantung pada lokasi dari ketidakpastian organisasi.

Akuntansi sebagai perumpamaan

Akuntansi mungkin dipandang sebagai perumpamaan (imagery). Akuntansi memberikan kontribusi


terhadap penciptaan suatu gambaran atau citra dari organisasi. Akuntansi bertindak sebagai suatu
gambaran organisasi melalui peristiwa yang telah diseleksi dan transaksi yang terjadi di organisasi.
Konsekuensinya adalah timbul perasaan akan pentingnya akuntansi dan konsepsi tertentu mengenai
realitas organisasi. Konsekuensi yang kedua adalah bahwa gambaran yang diciptakan dari interpretasi
terseleksi dan penyajian beberapa peristiwa selanjutnya menciptakan suatu lingkungan yang stabil dan
pasti serta menjadi dasar dari pengambilan keputusan. akuntansi juga telah dipandang sebagai pembuat
peta keuangan. Semakin baik penyajian faktanya, semakin baik pemetaannya
10. Akuntansi sebagai percobaan

Akuntansi cukup fleksibel untuk mengekomodasi berbagai situasi, mengadaptasi solusi-solusi baru untuk
masalah baru, dan beradaptasi terhadap kasus-kasus yang paling kompleks. Perusahaan-perusahaan
dapat melakukan percobaan melalui pemakaian data, teknik, laporan atau pengungkapan akuntansi
yang berbeda agar sesuai dengan lingkungan tertentu yang mereka miliki dan untuk beradaptasi
terhadap kondisi yang berubah, dan bukannya terhamnat atau terpaku kepada pendekatan
konvensional yang sama. Akuntansi merupakan percobaan terutama ketika ia bersifat sukarela, inovatif
dan tentative. Kesuksesan akuntansi sebagai percobaan terletak pada berbagai respon yang mungkin
diberikan oleh para individu terhadap data. L.A. Boland dan G.A. Newman mengidentifikasi tanggapan
yang mungkin dari tiga jenis individu terhadap data, bergantung pada teori-teori yang dianut oleh
individu, mempertimbangkan pengetahuan yang ada, dan bagaimana seharusnya mereka merespons
data tersebut, tiga jenis individu itu sebagai berikut:

Seorang apriori. Seorang yang bersikap apriori akan membentuk selera dan keyakinan secara
independen terhadap data yang tersedia dan tidak akan memodifikasinya ketika data yang baru
diungkapkan.

Seorang skeptis. Seorang yang bersikap skeptis akan memiliki informasi yang berubah-ubah secara
ekstrem dan tidak stabil kecuali data yang ia terima secara konsisten memastikan keyakinan
sebelumnya.

Seorang positif. Seorang yang bersikap positif akan memandang data dengan objektif dan bersedia
untuk memodifikasi selera dan keyakinannya ketika ada fakta-fakta beru yang muncul ke permukaan

11. Akuntansi sebagai distorsi

Karena akuntansi digunakan untuk mengendalikan atau memengaruhi tindakan-tindakan baik dari
pengguna internal maupun eksternal, akuntansi menjadi sasaran ideal bagi pihak-pihak yang mencoba
untuk memanipulasi arti dari pesan yang akan dilihat oleh pengguna. Terdapat empat kelompokyang
mungkin memengaruhi atau dipengaruhi oleh pesan-pesan akuntansi : subjek yang perilakunya
memberikan data bagi pesan-pesan akuntansi, akuntan yang menyiapkan data, akuntan yang memeriksa
data dan penerima data. Tindakan disfungsional berupa manipulasi data ini disebut sebagai gangguan
suara. Metode yang digunakan untuk mendistorsi system informasi dapat diklasifikasikan menjadi enam
kategori besar berikut ini :
Perataan atau penghalusan : mencakup proses pengubahan arus data alami atau terencana tanpa
mengubah aktivitas actual dari organisasi.

Pembiasan : mencakup proses pemilihan tanda-tanda yang memiliki kemungkinan paling besar untuk
diterima dan dipilih oleh pengirim.

Pemfokusan : mencakup proses baik penguatan ataupun pelemahan aspek-aspek tertentu dari
sekumpulan informasi.

Permainan : mencakup proses menyelesaikan aktivitas-aktivitas oleh pengirim sehingga menyebabkan


terkirimnya pesan.

Penyaringan : mencakup proses pemilihan aspek-aspek tertentu yang menguntungkan dari serangkaian
informasi yang sama berharganya dari komunikasi melalui pengumpulan, penyajian, agregasi,
penahanan, atau penundaan.

Tindakan illegal : mencakup proses pemalsuan data dan akibatnya melanggar hukum privat atau public.

Seluruh metode dan perilaku manipulasi ini disebabkan oleh adanya keyakinan yang rendah yang
dipegang oleh pengirim baik atas kemampuan analisis dari situasi atau kemampuan mengukur dan
verifikasi dari data.

B. PENYUSUNAN DAN VERIFIKASI TEORI

Prinsip-prinsip yang berlaku umum memandu profesi akuntansi dalam memilih teknik akuntansi dan
pembuatan laporan keuangan dengan cara yang dianggap sebagai praktik akuntansi yang baik. Sebagai
respon terhadap lingkungan, nilai, dan kebutuhan informasi yang berubah, prinsip-prinsip akuntansi
yang berlaku umum menjadi subjek dari pemeriksaan ulang dan analisis kritis yang konstan.

Perubahan-perubahan pada prinsip terjadi terutama sebagai akibat dari berbagai usaha yang dilakukan
untuk memberikan solusi kepada masalah-masalah akuntansi yang muncul untuk merumuskan suatu
kerangka teoritis. Proses penyususnan teori akuntansi harus diselesaikan oleh vertifikasi teori atau
validasi teori.

Teori harusnya menjadi subjek dari suatu ujian logis atau empiris untuk memverifikasi keakuratannya.
Jika teori itu didasarkan matematika, verifikasi seharusnya diprediksi berdasarkan kekonsistenan logika.
Jika teori itu didasarkan atas fenomena fisik atau social, verifikasi seharusnya diprediksi berdasarkan
hubungan antara peristiwa-peristiwa yang dideduksikan dan observasi di dunia nyata. Teori akuntansi
menjadi hasil dari suatu proses penyusunan teori dan verifikasi teori.
C. HAKIKAT TEORI AKUNTANSI

Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan basis bagi peramalan dan penjelasan perilaku dan
peristiwa akuntansi. Banyak dari teori-teori muncul dari penggunaan pendekataan yang berbeda dalam
penyusunan teori akuntansi atau dari usaha untuk mengembangkan teori akuntansi di tingkat
menengah dan bukannya satu teori komprehensif tunggal. Teori akuntansi di tingkat menengah berasal
dari perbedaan cara peneliti melihat antara pengguna data akuntansi dan lingkungan dimana para
pengguna dan pembuatan data akuntansi seharusnya berprilaku.

McDonald berpendapat bahwa suatu teori harus memeliki tiga elemen:

Pengeodean fenomena ke dalam suatau penyajian simbolis

Manipulasi atau kombinai yang mematuhi aturan tertentu

Penerjemahan kembali ke fenomena dunia nyata

D. METODOLOGI DALAM PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI

Pendekatan taradisional tersebut adalah:

Nonteoritis, praktis atau pragmatis

Teoritis:

Deduktif

Induktif

Etis

Sosiologi

Ekonomi

Selektif
E. PENDEKATAN UNTUK PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI

1. PENDEKATAN NON TEORITIS

Pendekatan nonteoritis adalah suatau pendekatan pragmatis dan pendekatan kekuasaan. Pendekatan
pragmatis terdiri atas penyusunan suatu teori yang ditandai oleh kesamaan dengan praktik dunia nyata
yang berguna dalam artian memberikan solusi yang sifatnya praktis.

Pendekatan kekuasaan untuk perumusan suatu teori yang terutama dipergunakan oleh organisasi
professional, terdiri atas penerbitan pernyataan sebagai regulasi dari praktik-praktik akuntansi.
Pendekatan kekuasaan memberikan solusi praktis. Kedua pendapatan ini berasumsi bahwa teori
akuntansi dan hasil teknik akuntansi harus disebut dalam dasar penggunaan akhir laporan keuangan.

Penggunaan utilitas sebagai kriteria pemilihan prinsip akuntansi menghubungkan penyusunan teori
akuntansi kepada praktif akuntansi, yang mungkin menjelaskan kurangnya antusiasme yang ditimbulkan
oleh pendekatan pragmatis.

Pendekatan pragmatis adalah bagian dari suatu teori akun. Pendekatan ini berdasar pada rasionalisasi
dari pembukuan berganda. Pendekatan teori akun merasionalisasikan pilihan dari teknik-teknik
akuntansi yang berdasarkan atas pemeliharaan persamaan akuntansi, yaitu persamaan neraca dan
persamaan laba akuntansi.

2. PENDEKATAN DEDUKTIF

Pendekatan deduktif dalam penyusunan teori mana pun diawali dengan dalil dasar dan diteruskan
dengan pengambilan kesimpulan logis mengenai subjek yang dipertimbangkan. Pendekatan deduktif
dimulai dengan dalil akuntansi dasar dan dilanjutkan dengan menurunkan prinsip-prinsip akuntansi
melalui cara-cara logis yang dipakai sebagai pedoman dan dasar bagi pengembangan teknik-teknik
akuntansi.

Langkah-langkah yang digunakan untuk memperoleh pendekatan deduktif akan meliputi:


Menentukan tujuan dari laporan keuangan

Memilih postulat dari akuntansi

Menghasilkan prinsip dari akuntansi

Mengembangkan teknik dari akuntansi

Teknik-teknik akan berhubungan dengan prinsip, rumus dan tujuan sehingga jika teori akuntansi itu
benar, maka teknik juga harus benar. Para pembuat teori deduktif menyetujui bahwa para pengguna
seharusnya menggunakan informasi harga masa kini dalam keputusan alokasi sumber daya mereka.
Bahkan, pencarian untuk kekuasaan dalam formalisasi struktur akuntansi telah mengerahkan beberapa
pembuat teori deduktif berlindung pada metode aksiomatis.

3. PENDEKATAN INDUKTIF

Pendekatan induktif dalam penyusunannya dari suatu teori diawali dengan observasi dan pengukuran
serta berlanjut pada kesimpulan umum. Dalam penerapatannya dalam akuntansi, pendekatan induktif
diawali dengan observasi mengenai informasi keuangan dari perusahaan bisnis dan dilanjutkan dengan
menyusun generalisasi dan prinsip-prinsip akuntansi dari observasi tersebut berdasarkan kepada
hubungan yang berulang kembali.

Pendekatan induktif mencakup empat tahap:

mencatat seleuruh observasi

menganalisis dan mengklasifikasi observasi ini untuk mendeteksi adanya hubungan yang berulang
kembali

penurunan induktif dari generalisasi dari prinsip akuntansi dari observasi yang menggambarkan
hubungan berulang

menguji generalisasi

Dalam pendekatan induktif, kebenaran dari dalil bergantung pada pengamat akan adanya kecukupan
contoh kejadian dari hubungan yang berulang. Beberapa pembuat teori akuntansi bergantung pada
observasi praktik akuntansi dalam mengusulkan suatu kerangka berpikir bagi akuntansi.
4. PENDEKATAN ETIS

Pendekatan etis terdiri atas konsep kewajaran , keadilan, ekuitas, dan kenyataan. Kewajaran telah
menjadi salah satu tujuan dasar akuntansi. Committee on auditing procedures mengacu pada kriteria
dari “kewajaran dari penyajian” seperti kepatuhan terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum, oengungkapan, konsistensi, dapat diperbandingkan.

5. PENDEKATAN SOSIOLOGI

Pendekatan sosiologi menekankan pengaruh social dari teknik akuntansi. Hal ini merupakan pendekatan
etis yang berpusat pada suatu konsep dari kewajaran yang lebih luas, kesejahteraan social. Berdasar
pada pendekatan sosiologi, prinsip atau teknik akuntansi yang ada dievaluasi untuk penerimaan dari
dasar pengaruh laporannya terhadap seluruh kelompok dalam komunitas.

Pendekatan sosiologi terhadap formulasi suatu teori akuntansi telah memberikan kontribusinya kepada
evolusi dari sebuah subdisiplin ilmu akuntansi baru, yang dikenal sebagai akuntansi sosioekonomi.
Tujuan untama dari akuntansi sosioekonomi adalh untuk mendorong entitas-entitas bisnis yang
berfungsi di system pasar bebas untuk memperhitungkan dampak dari pengaruh kegiatan produksi
mereka sendiri dalam lingkungan social melalui pengukuran, internalisasi, dan pengungkapan dalam
laporan keuangan mereka.

6.PENDEKATAN EKONOMI

Pendekatan ekonomi dalam merumuskan suatu teori akuntansi menekankan pada pengendalian
perilaku dari indicator-indikator makroekonomi yang dihasilkan oleh adopsi dari berbagai teknik
akuntansi. Pendekatan ekonomi berfokus pada suatu konsep dari kesejahteraan ekonomi umum.

Kriteria umum dipakai dalam pendekatan ekonomi makro adalah secara awal, bahwa kebijakan dan
teknik akuntansi seharusnya mencerminkan kenyataan ekonomi, dan bergantung pada konsekuensi
ekonomi.
F. PENDEKATAN SELEKTIF UNTUK PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI

Pendekatan selektif adalah merupakan akibat dari berbagai usaha oleh individu dan professional serta
organisasi pemerintah untuk berpartisipasi dalam pematangan konsep dan prinsip dalam akuntansi.

G. KESIMPULAN

Pendekatan tradisional terhadap perumusan suatu teori akuntansi telah menggunakan metedologi
normative atau metodologi deskriptif suatu pendekatan teoritis atau nonteoritis suatu bentuk alasan
deduktif atau induktif dan telah berfokus pada suatu konsep kewajaran, kesejahteraan social,
kesejahteraan ekonomi.