Anda di halaman 1dari 23

PROGRAM PENGENDALIAN HOG CHOLERA PADA BABI

DI KABUPATEN LEMBATA, NUSA TENGGARA TIMUR

Disusun oleh:
Kelompok 4
Kelompok D-2 PPDH Periode 1 Tahun 2019/2020
(06 April – 10 April 2020)

Aswan Amirudin, SKH B94191057


Kintan Juliawati, SKH B94191069

Pembimbing:
Dr drh Chaerul Basri, MEpid

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2020
PROGRAM PENGENDALIAN HOG CHOLERA PADA BABI
DI KABUPATEN LEMBATA, NUSA TENGGARA TIMUR

Aswan Amirudin1), Kintan Juliawati1), Chaerul Basri2)


1)
Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan FKH IPB
2)
Staf Pengajar Divisi Kesmavet dan Epidemiologi, Departemen Ilmu Penyakit Hewan
dan Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penyakit Hog Cholera atau Classical Swine Fever merupakan salah satu
penyakit virus yang menyerang ternak babi dan masuk dalam daftar penyakit
hewan menular strategis (PHMS) yang mendapat prioritas pengendalian dan
pemberantasan utama secara nasional (Diskeswan 2019). Hog cholera disebabkan
oleh Pestivirus dari keluarga Flaviviridae yang sangat ganas dan sangat menular.
Virus ini tidak dapat menular ke manusia. Penyakit viral ini sangat kontagius pada
babi dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat signifikan, karena
angka kesakitan dan kematian yang sangat tinggi yaitu mencapai 95 – 100%.
Berdasarkan klasifikasi OIE, Clasical Swine Fever (CSF) / hog cholera (HC)
termasuk daftar list A (Diarmita 2011). Penyakit ini dikenal sebagai penyakit
yang paling merugikan pada babi sehingga sangat ditakuti terutama oleh peternak
babi karena mortalitasnya yang sangat tinggi, mengancam keamanan pangan, dan
dapat membatasi produksi babi di negara yang terinfeksi Virus di sebarkan
melalui cairan mulut, hidung, mata, urin, dan feses sehingga penyebaran penyakit
ini sangat cepat. Tingkat keparahan penyakit ini bervariasi tergantung dari strain
virus, umur babi, dan status kekebalan kelompok. (Horst et al. 2000).
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Negara yang dilaporkan positif hog
cholera antara lain Jerman, sebagian negara di Eropa Timur, Afrika Timur, Afrika
Tengah, India, China, Asia Timur dan Tenggara, Amerika Tengah serta banyak
Negara di Amerika Selatan (DAFF 2008). Di india penyakit ini membunuh 40%
populasi babi di sana dan di china terdapat 1028 kasus. Di Jepang dilaporkan
terdapat 1813 kasus positif hog cholera (Penrith et al. 2011). Di Indonesia sendiri
penyakit mewabah pertama kali di Sumatera Utara pada tahun 1995, sejak itu
penyakit tersebar di berbagai daerah seperti Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa
barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali
dan NTT. Pada tahun 2019 Sebanyak 27.000 ekor babi di Sumatera Utara
ditemukan mati akibat hog cholera,dan di bali terdapat 1191 kasus (Dharma
2007). Sedangkan di provinsi NTT dilaporkan 10.000 babi mati akibat penyakit
ini (Diskeswan 2019)..
Penyakit PHMS sangat merugikan karena dapat menimbulkan kerugian
ekonomis secara luas, bersifat menular/menyebar secara cepat, dapat
menyebabkan morbiditas/mortalitas tinggi serta berpotensi mengancam kesehatan
manusia (zoonosis). Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh penyakit ini cukup
besar karena morbiditas dan mortalitas tinggi, hilangnya devisa akibat larangan
ekspor khususnya ternak babi dan hasil olahannya serta dampak yang lebih luas
yaitu hilangnya kepercayaan atau minat peternak untuk mengembangkan
peternakan babi (Diarmita 2011). Dinas Peternakan Provinsi NTT mencatat
kerugian langsung akibat kematian 10.000 ternak babi mencapai Rp 25 miliar.
Kerugian itu adalah rata-rata dari harga jual babi yang mati akibat serangan
tersebut. Sedangkan kerugian tidak langsung dari potensi perkembang biakan
babi, pakan dan obat-obatan yang tidak terjual, serta kerugian-kerugian lainnya
diperkirakan mencapai Rp 300 miliar.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengambil langkah-
langkah konkrit dalam mengendalikan dan memberantas penyakit hog cholera
antara lain vaksinasi, stamping out policy, biosekuriti dan pengetatan lalu lintas
ternak (Dharmawan 2011). Pemberantasan hog cholera pada ternak babi melalui
vaksinasi massal telah dilakukan di seluruh daerah endemik hog cholera di
Indonesia. Walaupun pemberian vaksin pada ternak telah terbukti mampu
menurunkan kasus hog cholera pada ternak babi namun cakupan vaksinasi pada
populasi ternak babi di Indonesia masih sangat rendah. Salah satu faktor pemicu
rendahnya cakupan vaksinasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat terutama
pemilik ternak terkait akan biaya dan manfaat program vaksinasi hog cholera
(Diskeswan 2019).

Tujuan

Perencanaan pengendalian ini ditujukan untuk menurunkan angka


prevalensi penyakit Hog Cholera sehingga dapat memperkecil kerugian ekonomis
pada peternakan babi.

PENYUSUNAN SIFAT ALAMIAH PENYAKIT

Mata Rantai Penyakit

Agen
Hog Cholera (HC) atau biasa disebut juga dengan Classical Swine Fever
merupakan penyakit viral sangat menular pada babi. Penyakit ini ditandai
dengan demam tinggi, kejang, pendarahan pada permukaan kulit serta organ
dalam, dan seringkali berakhir dengan kematian. Keganasan penyakit tergantung
pada umur babi dan tingkat kekebalan kelompok babi. Agen penyebab penyakit
ini adalah virus single stranded Ribonucleic acid (ss-RNA) dari genus Pestivirus
termasuk famili Flaviviridae. Virus HC berada dalam genus yang sama dengan
virus bovine viral diarrhea (BVD). Virus berbentuk bulat helikal atau tidak
teratur dan berukuran antara 40-50 nm dengan nukleokapsid berukuran 29 nm
(OIE 2019). Menurut OIE (2009), Virus ini akan inaktif pada suhu pemanasan
65.5°C selama 30 menit atau pada suhu 71°C selama satu menit. Virus ini dapat
bertahan selama beberapa bulan pada daging yang di simpan di lemari
pendingin, atau selama bertahun-tahun pada daging beku. Virus juga stabil
dalam kisaran pH yang panjang, antara pH 4–11 atau pada pH 5-10. Virus ini
dengan cepat akan inaktif pada pH <3.0 atau pH >11.0. Karena selubungnya
mengandung lipid, virus sangat rentan terhadap pelarut lemak seperti ether,
chloroform dan ß-propiolactone (0.4%), serta detergent seperti desoxycholate,
nonidet P40 dan saponin (OIE 2009).

Sumber
Sumber penularan dari penyakit ini disebabkan oleh akibat pergerakan
babi-babi yang sakit atau sudah terinfeksi, daging babi, dan produk babi lainnya.
Perpindahan babi yang sakit ini mungkin merupakan cara penularan penyakit
yang paling menonjol. Virus ini menyebar dari satu peternakan ke peternakan
yang lain atau dari satu daerah ke daerah yang lain (Diskeswan 2019)

Cara keluar
Virus ini dikeluarkan oleh babi yang sudah terinfeksi melalui urin dan
feses, semen, saliva, serta jaringan hewan yang sudah sakit dan mati. Periode
inkubasi dari virus HC berkisar antara 2-14 hari, dan pada kasus akut selama 3-7
hari (OIE 2019)

Cara Transmisi
Transmisi penyakit ini bisa secara horizontal dan vertikal. Transmisi
secara horizontal yaitu melalui kontak langsung antara babi sehat dengan babi
yang sudah terinfeksi oleh virus Hog Cholera dengan saliva, semen, feses, urin,
dan darah.. Penularan dapat melalui rute nasal dan oronasal atau perantara
dengan udara. Penularan secara vertikal yaitu melalui keturunan indukan babi
yang terinfeksi dapat terinfeksi di dalam uterus, maka babi yang ada di dalam
kandungannya juga berpeluang besar terkena virus HC. Virus HC mampu
menembus barrier plasenta pada semua umur kehamilan (OIE 2019). Virus ini
juga diketahui stabil dalam daging dan produk daging dalam jangka waktu yang
panjang, oleh karena itu sampah yang mengandung daging babi yang tertular
merupakan salah satu sumber penularan yang potensial. Virus Hog Cholera
dapat ditularkan melalui jarum suntik, sepatu, peralatan medis petugas yang
berpindah-pindah dari peternakan satu dengan yang lainnya tanpa melakukan
sterilisasi terlebih dahulu sebelum melakukan penanganan. Dokter hewan juga
berperan penting dalam penyebaran penyakit virus HC, sehingga harus berhati-
hati dalam menggunakan dan melakukan standar prosedur penanganan medis
yang dapat menjadi sumber penularan penyakit (Diskeswan 2019)

Cara masuk
Virus Hog Cholera masuk melalui penularan kontak langsung antara babi
yang sehat dengan babi yang sudah terinfeksi virus HC. Penularan ini
didapatkan melalui semen, saliva, nasal secretions, feces dan urine. (OIE 2019)

Inang rentan
Inang yang rentan terhadap virus Hog Cholera (HC) adalah segala jenis
ras babi yaitu babi domestik dan babi liar atau babi hutan. Virus ini tidak dapat
menular terhadap manusia. Adapun pada hewan kelinci dan kambing hanya
melalui infeksi percobaan (OIE 2019)

Riwayat Alamiah Penyakit (Natural History of Disease)

Tingkat Kerentanan
Penularan penyakit ini yaitu dengan cara kontak langsung dan kontak tidak
langsung, Penularan bisa secara horizontal ataupun vertikal, yakni dari induk
kepada fetus yang dikandung. Virus hog cholera dapat menyerang berbagai jenis
ras babi yaitu babi domestik dan babi liar atau babi hutan. Babi-babi yang tidak
divaksinasi hog cholera akan lebih rentan terserang oleh peyakit ini dibandingkan
dengan babi yang sudah divaksinasi. Babi yang belum divaksin tidak memiliki
kekebalan terhadap penyakit Hog cholera sehingga lebih rentan tertular penyakit
ini (Subronto 2003).

Tingkat Penyakit Sub klinis


Gejala klinis pada babi akibat hog cholera dapat bervariasi sesuai dengan
virulensi strain pada bentuk perakut kematian dalam 24-48 jam didahului oleh
kelesuan, Kematiannya bisa mencapai 100%. Pada bentuk akut kematian dalam
waktu 5-15 hari setelah gejala klinik mulai tampak (Gregg 2002). Pada babi yang
terinfeksi kadangkala gejala tidak terlihat meskipun terdapat virus hog cholera
dalam tubuhnya. Sehingga diperlukan pengujian pada semua babi dalam
kelompok ternak yang diduga kasus subklinis yang menunjukkan gejala demam
tinggi maupun gejala klinis lainnya. Salah satu uji yang dapat dilakukan yaitu uji
PCR (Ratundima et al. 2012)

Tingkat Penyakit Klinis


Hewan yang terinfeksi virus hog cholera memperlihatkan gejala klinis
antara lain: lesu, tidak aktif, malas bergerak dan gemetar. Nafsu makan menurun
hingga hilang, suhu tubuh meningkat sampai 41-42°C selama 6 hari. Jumlah
leukosit dapat turun drastis ketika viremia, yaitu turun dari 9000 menjadi 3000/ml
dalam darah (leukopenia). Hewan penderita mengalami konjungtivitis, dengan air
mata berlebihan. Eksudat dapat berupa mukous atau muko-purulen, terlihat di
kelopak mata dan dapat menyebabkan kelopak mata menjadi lengket. Konstipasi
di sertai dengan radang saluran gastrointestinal menyebabkan diare encer,
berwarna kekuningan. Rasa dingin mendorong babi-babi berkumpul (piled-up) di
sudut kandang. Sebelum babi mati pada kulit daerah perut, muka, telinga, dan
bagian dalam dari kaki terlihat eritema (Kramer 2007). Pada penyakit yang
berjalan akut kematian babi biasanya memakan waktu 10-20 hari. Kasus hog
cholera yang berjalan secara perakut kronik dapat bertahan sampai lebih kurang 3
bulan. Infeksi virus hog cholera yang terjadi pada masa kebuntingan, dikenal
sebagai late-onset HC, kematian dapat terjadi di antara bulan ke-2 sampai dengan
bulan ke-11. Gejala klinis pada kolera late-onset ini meliputi depresi dan
anoreksia yang terjadi secara lambat, suhu tubuh normal, konjungtivitis,
dermatitis dan gangguan saat berjalan (OIE 2019).

Tingkat Pemulihan, cacat, atau mati


Tingkat kematian babi karena penyakit ini bervariasi antara 0-100%
tergantung pada kerentanan kawanan ternak, strain virus dan umur ternak.
Kandang yang kotor, udara sekitar kandang lembap dan sistem pemeliharaan yang
tidak hiegenis turut menjadi pemicu timbulya penyakit ini. Masa inkubasi
penyakit ini 6-7 hari. babi mati hari ke-7 – 10 pasca sakit. Mortalitas pada
penyakit Hog Cholera pada babi bisa mencapai 100% (Subronto 2003).

Determinan Penyakit
Determinan penyakit merupakan faktor yang dapat menyebabkan
timbulnya suatu penyakit pada populasi. Determinan penyakit dapat ditentukan
berdasarkan segitiga epidemiologi yang terdiri atas faktor agen penyebab penyakit
virus Hog Cholera, inang, dan lingkungan.

Determinan Agen
Infeksi alami virus hog cholera (HC) umumnya terjadi melalui rute oro-
nasal. Virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui konjungtiva, mukosa alat
genital, atau melalui kulit yang terluka (Arthois 2002). Determinan agen patogen
virus Hog Cholera meliputi kemampuan infeksi virus atau virulensi strain virus
Hog Cholera, yaitu: bersifat antigenik dan virulensi yang bervariasi. Ada beberapa
strain virus HC yang diketahui sangat ganas (virulen) seperti strain C (China),
Weybridge (Inggris), Diepholz 1/Han94 (Jerman), Brescia (Brasilia), ALD,
Niigata, Hokkaido, Fukuokal (Jepang). Babi yang terserang virus HC virulen
memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi (OIE 2019)

Determinan Inang
Determinan inang meliputi umur dan pertahanan individu terhadap virus
Hog Cholera, yaitu: Babi yang masih anakan lebih peka dan rentan daripada babi
dewasa, babi yang belum divaksinasi lebih peka daripada sapi yang telah
divaksinasi (OIE 2019)

Determinan Lingkungan
Determinan lingkungan meliputi manajemen perkandangan terhadap virus
Hog Cholera. Sanitasi dan desinfeksi kandang yang buruk merupakan salah satu
faktor penyebaran penyakit yang sangat potensial. Hal ini dapat dilihat pada
kondisi limbah dan bahan-bahan yang tidak pernah dibersihkan dan tidak
terkontrol akan menumpuk dan terkontaminasi, sehingga dapat meyebabkan
penularan virus HC semakin menyebar. Kepadatan kandang yang tinggi juga
memudahkan terjadinya penularan dari babi yang terinfeksi (Arbert et al 2018)

RANCANGAN SURVEI KEBERADAAN PENYAKIT HOG CHOLERA DI


KABUPATEN LEMBATA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Tujuan
Tujuan dilakukannya survei hog cholera di Kabupaten Lembata Provinsi
Nusa Tenggara Timur yaitu untuk mengetahui dan mengukur prevalensi kejadian
penyakit dan mengidentifikasi factor risiko penyakit hog cholera.

Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan antara lain data prevalensi dan faktor risiko
yang memengaruhi kejadian hog cholera pada babi di Kabupaten Lembata.
Pengujian laboratorium dilakukan untuk menunjang data prevalensi, didapatkan
data hasil pengujian laboratorium serologi sampel darah babi untuk mendeteksi
agen penyakit. Data faktor risiko diperoleh melalui kuesioner yang diberikan
kepada peternak. Adapun informasi yang ingin diperoleh melalui kuesioner adalah
tingkat pengetahuan peternak terhadap kesehatan babi, status vaksinasi, gejala
kinis yang ditunjukkan, serta faktor resiko berupa kondisi sanitasi yang buruk
pada peternakan, pengetahuan masyarakat terhadap kejadian hog cholera dan
pencegahannya.

Populasi Acuan
Populasi acuan yang digunakan adalah 4729 ekor babi yang berada di
Kabupaten Lembata. Jumlah populasi babi di Kabupaten Lembata tersaji pada
Tabel 1.

Tabel 1 Data populasi babi di Kab. Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur
No Kecamatan Populasi Jumlah Kumulatif
1. Atadei 1287 1287
2. Buyasuri 952 2239
3. Nubetukan 1347 3586
4. Omesuri 1143 4729
Jumlah 4729

Teknik Sampling dan Besaran Sampel


Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik penarikan acak
berlapis (stratified random sampling) dan proportional allocation. Teknik
perhitungan juga dibantu dengan menggunakan software winEpid.net dan aplikasi
Microsoft Excel 2010. Adapun laporan mengenai prevalensi penyakit virus Hog
Cholera di Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur dilaporkan sebesar
60% pada tahun 2011 (Diarmita 2011). Data tersebut dijadikan sebagai acuan
untuk perhitungan.
Pembuatan ukuran contoh dilakukan untuk mengetahui jumlah individu
yang diambil sebagai sampel. Ukuran contoh ditentukan dengan menggunakan
nilai prevalensi sebesar 60% dengan confidence level sebesar 95% dan accepted
error sebesar 5%. Ukuran contoh sampel yang diambil menggunakan software
winEpi.net secara online. Perhitungan tersebut dilakukan untuk mengetahui
jumlah total sampel yang akan dibutuhkan. Adapun hasil yang didapatkan
berdasarkan perhitungan software tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Hasil sampling menggunakan http://www.winepi.net/uk/index.htm
Hasil yang didapatkan setelah melakukan perhitungan menggunakan
software tersebut yaitu sebesar 343. Hasil tersebut harus dikali 2 terlebih dahulu
untuk mengetahui total sampel yang dibutuhkan. Perkalian yang digunakan
disesuaikan dengan banyaknya tahapan dari atas (Kabupaten), sampai tahapan
dimana random dilakukan Berdasarkan hasil perkalian, total sampel dalam 1
Kabupaten yang dibutuhkan sebanyak n= 343x2= 686. Pemilihan sampel
kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Microsoft excel untuk menentukan
jumlah sampel setiap kecamatan. Metode yang digunakan adalah acak berlapis
(stratified random sampling) dengan proporsional allocation. Hasil yang
didapatkan dapat dilihat pada Tabel 2.
Total Proportional
Kecamatan Jumlah Proporsi sampel Allocation Sampel
Atadei 1287 0,272151 686 186,6952844 187
Buyasuri 952 0,201311 138,0993868 138
Nubetukan 1347 0,284838 195,3990273 195
Omesuri 1143 0,2417 165,8063015 166
  Total 4729 1     686

Tabel 2. Hasil sampling setiap tingkat kecamatan

Hasil yang didapatkan berdasarkan metode tersebut, didapatkan sampel


yang diambil dari setiap Kecamatan hasilnya berbeda-beda. Pada Kecamatan
Atadei sampel yang digunakan adalah 187 ekor, Kecamatan Buyasuri sebanyak
138 ekor, Kecamatan Nuhetukan sebanyak 195 ekor, dan Kecamatan Omesuri
sebanyak 166 ekor dengan total 686 ekor babi yang dipilih secara acak.

Pengamatan dan Pengukuran

Uji Diagnostik
Sampel berupa spesimen darah (serum) babi yang diambil dari peternakan
babi diberi label untuk memudahkan pendataan survei. Setelah dikoleksi, darah
dimasukan kedalam cool box untuk diuji dengan uji diagnostik di laboratorium.
Uji diagnostik yang digunakan yaitu uji PCR Pemeriksaan dengan PCR lebih
akurat dengan sensitivitas 90-100% dan spesifisitasnya lebih dari 97% untuk
mendeteksi agen penyakit (DINKESWAN 2019). Keuntungan lain dari metode ini
adalah kemampuan diagnosis dan skrining penyakit menular dengan cepat.
Kemampuan deteksi cepat ini memungkinkan terapi yang efektif lebih cepat dan
berimplementasi pada control infeksi serta intervensi penyebarannya (Horst et al.
2000)
Kuesioner
Pembuatan kuesioner dilakukan untuk memperoleh data tentang faktor
resiko yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit hog Cholera pada babi.
Kuesioner ditujukan kepada peternak di Kabupaten Lembata. Kuesioner diisi pada
masing-masing tempat pengambilan sampel dengan melakukan wawancara pada
peternak atau responden. Contoh kuesioner yang dibuat dapat dilihat pada
Lampiran 1.
Manajemen Data
Data yang telah diperoleh dari survei kemudian dimasukan kedalam
database komputer dengan bantuan aplikasi Microsoft Excel 2010. Data kemudian
diteliti kembali untuk menghindari kesalahan pada saat memasukkan data ke
database komputer. Selanjutnya data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan,
analisis, dan interpretasi.
Analisis Statistik
Hasil pengolahan data dari kuesioner dan hasil uji diagnostik dianalisis
statistik. Hasil pengujian sampel darah yang telah dianalisis akan menghasilkan
nilai prevalensi penyakit hog cholera pada babi di Kabupaten Lembata. Untuk
mengukur prevalensi penyakit, dianalisis dengan menghitung proporsi sampel
postif uji dari total sampel yang diperiksa secara deskriptif.
Hasil pengolahan data dari kuesioner yang diasosiasikan dengan data
prevalensi penyakit akan menghasilkan gambaran odds ratio dan risk relatif faktor
determinan terhadap tingkat penyakit menggunakan Microsoft Excel. Untuk
megidentikasi faktor risiko dianalisis dengan uji chi-square untuk menentukan
adanya asosiasi sedangkan Odds ratiio (OR) untuk meghitung kekuatan hubungan
faktor-faktor tersebut terhadap kasus penyakit hog cholera.

Aspek Keorganisasian
Personil yang dibutuhkan dalam kegiatan survei penyakit Hog Cholera di
Kabupaten Lembata terdiri atas:
1. Supervisor : 1 orang pegawai kantor dinas Provinsi
2. Dokter hewan : 4 orang
3. Paramedis : 4 orang
4. Enumerator : 4 orang
5. Pengolah data : 4 orang
6. Administrasi : 1 orang
7. Bendahara : 1 orang
8. Transportasi : 4 orang
9. Konsumsi : 1 orang
Total : 24 orang
Tim dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu tim lapangan dan tim
administrasi. Tim lapangan akan dibagi menjadi 4 kelompok kecil yang terdiri
dari 1 orang dokter hewan, 1 orang paramedis, 1 orang enumerator dan 1 orang
sopir. Setiap kecamatan akan ditempatkan 1 kelompok kecil tim lapangan. Tim
administrasi berada di basecamp dan bertugas untuk mengurus administrasi dan
menyiapkan segala keperluan kegiatan lapang.
Pelatihan dilaksanakan sebagai persiapan pelaksanaan survei yang
bertujuan untuk melatih keterampilan personil survei. Pelatihan yang
dilaksanakan antara lain pelatihan mengenai sosialisasi kepada masyarakat,
pelatihan pengisian form kuesioner, pelatihan teknis-teknis dilapangan, dan
pelatihan pemasukan data dan pengolahan data. Kegiatan lapang ini akan
dilaksanakan selama 14 hari yang akan dimulai pada 6 April‒19 April 2020.
Tabel 3 Jadwal kegiatan survei penyakit Hog Cholera pada babi di Kabupaten
Lembata
Hari ke
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Persiapan
Persiapan
survailance
Persiapan
kuisioner, pretest,
dan SOP
Persiapan SDM
Persiapan logistik
dan transportasi
2 Survei
Pengujian
3
laboratorium
Input data,
4
Pengolahan data
5 Interpretasi data
7 Rapat rutin

Anggaran Survei
Pelaksanaan kegiatan survei yang berlangsung selama 14 hari di 4
kecamatan Kabupaten Lembata membutuhkan dana sebesar Rp 164 030 000
dengan rincian anggaran yang tertera pada Lampiran 2.
Penyusunan Program Pengendalian Penyakit Hog Cholera di Kabupaten
Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penyusunan program pengendalian penyakit Hog Cholera


Penyusunan program pengendalian penyakit hog cholera dilakukan
berdasarkan analisis hasil survei dan faktor resiko yang telah dilakukan. Tingkat
prevalensi kejadian penyakit ini yaitu 40%. Tingkat kesadaran peternak akan
higiene dan sanitasi kandang juga tergolong rendah. Padahal, lingkungan berperan
sebagai determinan kejadian suatu penyakit. Berdasarkan kondisi yang
dipaparkan, diperlukan program pengendalian penyakit yang sesuai. Berikut ini
merupakan rencana program pengendalian yang akan dilakukan pada peternakan
babi di Kabupaten Lembata.

Tindakan karantina wilayah dan pengawasan lalu lintas hewan pembawa


Hog Cholera
Tindakan pengendalian dilakukan dengan penutupan wilayah yang
merupakan tindakan pencegahan yang baik untuk mengurangi penyebaran
penyakit. Namun demikian tindakan ini memerlukan pertimbangan yang matang
terutama menyangkut status wilayh terhadap kasus hog choera. Kriteria yang
dimaksud adalah tentang wilayah bebeas atau daerah bebas, daerah tersangka dan
daerah tertular.
Pada daerah bebas kriterianya adalah dilarang memasukkn ternak babi,
dan bahan hasil ternak dan hasil ikutannya dari daerah tertular dan dari daerah
tersangka. Dilarang membawa atau memasukkan vaksin hog cholera dan
melakukan vaksinasi. Selain itu dilakukan monitoring serologis untuk
memberikan keyakinnan bahwa daerah tersebut tetap bebas terhadap hog cholera
yang dilakukan secara sampling.
Daerah tersangka perlakuaanya sama dengan daerah bebas. Monitoring
lebih intensif bila dibandingkan dengan daerah bebas dan perlu kepastian status
daerah ini terhadap hog cholera (status tertular atau bebas). Sedangkan pada
daerah tertular dilakukan pengawasan lalu lintas ternak, hasil ternak dan bahan
ikutannya.

Vaksinasi
Pencegahan penyakit dilakukan dengan vaksinasi setiap tahun secara
berkelanjutan pada semua populasi ternak terancam. Kriterianya adalah vaksin
yang boleh digunakan adalah vaksin yang telah mendapat rekomendasi dari
pemerintah.

Surveilans
Program Surveilans dilakukan untuk memonitoring dan mengontrol
kejadian hog cholera. Program ini meliputi pengujian sampel serum babi
mengunakan uji diagnostik PCR. Kegiatan ini diharapkan mampu mengukur nilai
prevalensi kejadian hog cholera secara rutin sebagai evaluasi program yang telah
dijalankan. Program surveilans dilakukan dalam jangka waktu setahun sekali.
Tabel 4 Program pengendalian hog cholera di Kabupaten Lembata
No Intervensi Tujuan Kegiatan
.
1. Karantina Menurunkan tingkat - Pengecekan dari hewan babi, pangan
wilayah kejadian penyakit hog yg mengandung babi. Pengecekan
Pengaturan lalu cholera meliputi asal daerah pengiriman, apabila
lintas ternak berasal dari daerah yang terinfeksi hog
babi cholera akan ditolak untuk masuk
- Pelarangan untuk menjual babi atau
daging babi yang positif terinfeksi HC
-pengecekan dilakukan pada chechpoint
lalulintas perdagangan baik pintu masuk
ataupun keluar
2. Vaksinasi Pencegahan penyakit hog Melakukan vaksinasi masal pada
cholera populasi ternak babi terancam di
Kabupaten Lembata yangdilakukan
setahun sekali.
3. Surveillans Mengetahui tingkat - Pengambilan sampel darah babi setiap
kejadian penyakit Hog tahun
Cholera - Pengujian sampel dengan PCR dalam
jangka waktu setahun sekali
- Pengukuran prevalensi dan faktor
risiko
- Evaluasi program secara rutin untuk
menentukan keberhasilan program
dengan adanya penurunan prevalensi
setiap tahunnya.
4. Pemberian Menurunkan tingkat - Pemberian desinfektan untuk kandang
desinfektan kejadian penyakit hog kepada peternakan warga selama
untuk kandang cholera dengan memutus program pengendalian.
babi massal siklus di kandang
5. Penyuluhan Usaha preventif Pembagian leaflet dan sosialisasi di 4
tentang bahaya penyebaran Hog Cholera Kecamatan di Kabupaten Lembata
hog cholera apabila peternak cepat mengenai manajemen pemeliharaan babi
pada babi melaporkan babi yang yang baik, sanitasi, gambaran umum
memiliki gejala penyakit hog cholera, serta cara
pencegahannya kepada masyarakat
setiap setahun sekali dan pembuatan
leaflet tentang karakteristik penyakit
hog cholera dan langkah-langkah
pelaporan kepada peternak babi.

Program pengendalian tersebut diharapkan dapat menurunkan tingkat


prevalensi kejadian penyakit hog cholera pada babi disetiap Kecamatan yang ada
di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Asumsi-asumsi yang digunakan
dalam pembuatan program pengendalian antara lain :
1. Populasi ternak babi di Kabupaten Lembata, NTT adalah 4.729 ekor.
2. Asumsi 1 Kabupaten Lembata memilik 16 kelompok ternak yang
tersebar pada 4 Kecamatan
3. Asumsi setiap peternak memiliki babi sejumlah 320 ekor.
4. Rencana program pengendalian hog cholera pada babi pada 4
Kecamatan di Kabupaten Lembata, NTT akan dilakukan selama 10
tahun.
5. Prevalensi penyakit hog cholera yang menyerang babi pada tahun
2011 dilaporkan sebesar 40% menurut survey ysng telah dilakukan.
6. Diasumsikan kejadian penyakit hog cholera pada babi tahun pertama
survei sebesar 40 % dan terus menurun setiap tahunnya menjadi 30%,
21%, 16%, 11%, 6%, 3%, 3%, 1%, 0,5%, dan <0,2%.
7. Asumsi harga daging per kilogram yaitu Rp. 80.000
8. Harga seekor babi adalah 3.000.000
9. Asumsi babi yang sehat mengalami kenaikan produksi daging
sebanyak 3kg/ekor setiap tahunnya.
10. Nilai keuntungan didapatkan dari banyaknya jumlah populasi
peternakan babi yang yang terselamatkan dan produk daging babi yang
dihasilkan.
11. Tingkat suku bunga (Discount rate) yang digunakan adalah sebanyak
12%.

Penyusunan Biaya dan Manfaat Pengendalian Penyakit


Manfaat yang dapat diperoleh dari program pengendalian Hog Cholera di 4
Kecamatan di Kabupaten Lembata, NTT adalah terjadi penurunan prevalensi
penyakit hog cholera, penurunan angka kematian, kenaikan jumlah babi yang
sehat sehingga terjadinya kenaikan produksi daging, dan kenaikan jumlah babi
yang terselamatkan. Semua hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap
keuntungan yang akan diperoleh para peternak. Hasil perhitungan keuntungan
kotor dari program pengendalian yang dilakukan yaitu Rp 2.152.434.806.
Perhitungan mengenai total anggaran biaya keuntungan (benefit) kotor dalam
program pengendalian penyakit hog cholera pada babi di 4 Kecamatan di
Kabupaten Lembata selama 10 tahun disajikan pada Lampiran 3.
Biaya yang dikeluarkan dalam pengendalian penyakit HC perlu dianalisa
untuk mengetahui kelayakan pelaksanaan program pengendalian penyakit HC di
Kabupaten Lembata, NTT. Menurut analisa ekonomi, suatu program
pengendalian diterima atau tidak dapat diukur menggunakan beberapa kriteria
penilaian. Beberapa kriteria penilaian yang harus dihitung antara lain net present
value (NPV), benefit-cost ratio (B/C), dan internal rate of return (IRR). Program
pengendalian dapat diterima apabila memiliki nilai NPV lebih besar dari nol
(positif), memiliki nilai B/C lebih besar dari 1, dan memiliki nilai IRR yang lebih
besar dari suku bunga (discount rate) yang berlaku, yaitu 12%. Nilai dari manfaat
(benefit) dan biaya (cost) harus dinyatakan terlebih dahulu dalam nilai sekarang
(present value) agar dapat menghitung kriteria penilaian di atas. PVB diperoleh
dari total benefit dikalikan dengan discount rate, begitu pula dengan PVC yaitu
total cost dikalikan dengan discount rate. Hasil perhitungan nilai PVB dan PVC
dengan discount rate 12%, nilai NPV, BCR, dan IRR ditampilkan pada tabel 5, 6
dan lebih detailnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Tabel 5 Ringkasan perhitungan program pengendalian penyakit hog cholera pada
babi di Kabupaten Lembata, NTT pada discount rate 12%
DR
Tahun Total Benefit PVB Total Cost PVC
(12%)
1 0.893 - - 460.795.000 2.040.074.345
2 0.797 1.532.196.000 1.221.457.270 427.809.000 75.351.282
3 0.712 1.378.976.400 981.528.164 397.432.500 89.465.602
4 0.636 241.890.000 153.725.468 370.005.750 106.513.503
5 0.567 766.098.000 434.704.579 345.725.675 137.845.890
6 0.507 766.098.000 388.129.089 324.147.607 164.223,266
7 0.452 459.658.800 207.926.298 304.733.346 196.174.033
8. 0.404 261.439.200 105.590.908 263.723.512 235.145.343
9 0.361 76.609.800 27.626.262 248.095.160 282.884.603
10. 0.322 45.965.880 14.799.783 234.029.644 341.046.716
TOTAL 5.528.932.080 3.535.487.821 3.376.497.194 2.040.074.345

NPV (PVB – PVC) 1.495.413.476


BCR (PVB/PVC) 1.733
IRR 210%
Tabel 6 Hasil perhitungan kriteria NPV, BCR, dan IRR secara ekonomi

Nilai NPV yang diperoleh adalah Rp. 1.495.413.476. Berdasarkan


nilai NPV, program pengendalian penyakit HC di Kabupaten Lembata, Nusa
Tenggara Timur yang akan dilaksanakan selama 10 tahun dapat diterima
(NPV>0).
Nilai BCR yang diperoleh adalah 1,733. Berdasarkan nilai BCR, program
pengendalian penyakit Hog Cholera di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara
Timur yang akan dilaksanakan selama 10 tahun dapat diterima (BCR>1). Program
pengendalian Hog Cholera di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur yang
akan dilaksanakan selama 10 tahun memiliki nilai BCR 1,733, sehingga untuk
setiap 1 rupiah yang dikeluarkan didapatkan keuntungan sebesar 1,733 rupiah. Hal
tersebut menggambarkan bahwa proyek pengendalian penyakit HC yang akan
dilakukan dapat membawa keuntungan.
Berdasarkan hasil perhitungan IRR menggunakan Microsoft Excel, nilai
yang diperoleh adalah sebesar 210%. Nilai tersebut menggambarkan tingkat
keuntungan yang didapatkan dari modal awal yang diinvestasikan pada program
pengendalian selama 10 tahun. Syarat suatu program pengendalian diterima,
apabila nilai IRR yang dihasilkan melebihi suku bunga pinjaman deposito yang
berlaku. Berdasarkan hasil yang didapatkan, nilai IRR yang didapat dari program
pengendalian ini melebihi suku bunga pinjaman di bank (12%), sehingga
program ini dapat diterima atau layak untuk dikerjakan.
Manfaat dalam program pengendalian Hog Cholera di Kabupaten Lembata ,
Nusa Tenggara Timur dapat dilihat dari penurunan nilai prevalensi penyakit Hog
Cholera dari 40% pada tahun ke-1 hingga menjadi <0,2% pada tahun ke-10. Total
Populasi babi yang terselamatkan selama program pengendalian Hog Cholera
adalah 12.971 ekor. Peningkatan populasi babi juga terjadi tiap tahun selama
program pengendalian penyakit dilaksanakan.

SIMPULAN
Penyakit hog cholera merupakan penyakit yang memiliki mortalitas dan
morbiditas yang sangat tinggi sehingga memiliki dampak buruk terhadap
ekonomi. program pengendalian penyakit ini antaralain karantina wilayah dan
pengendalian lalu lintas ternak, vaksinasi, surveilans, biosekuriti, dan penyuluhan
terhadap masyarakat. Berdasarkan hasil analisis ekonomi veteriner dapat
disimpulkan bahwa program pengendalian penyakit Hog Cholera di Kabupaten
Lembata, Nusa Tenggara Timur telah memenuhi syarat dan dapat diterima dengan
nilai NPV positif, BCR > 1, dan nilai IRR yang didapatkan lebih besar dari nilai
suku bunga pinjaman di Bank yang berlaku, sehingga program layak dijalankan
dan dapat memberikan keuntungan.

DAFTAR PUSTAKA
Arbert J, Podung S, Adiani. 2018. Upaya peningkatan pengetahuan peternak babi
terhadap penyakit Hog Cholera di Kelurahan Kalasey Kecamatan
Mandolang Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal LPPM.
Vol 5(2): 19 – 25.
Artois M, Depner KR, Guberti V, Hars J, Rossi S, Rutili D. 2002. Classical swine
fever (Hog cholera) in wild boar in Europe. Rev Sci Tech Off Int Epiz
21(2):287-303.
[DAFF] Department of Agriculture, Fisheries, and Forestry. 2008.
http://www.daff.gov.au/animal-plant-health/pests-diseases-weeds/
animal/  swine-fever [05 April 2020].
Dharma DMN, Putra AAG. 2007. Penyidikan Penyakit Hewan. Bali (ID): Media
Denpasar.
Dharmawan R, Waluyati DE, Zubaidi DA. 2013. Monitoring Penyakit Clasical
Swine Fever (CSF) atau Hog Cholera pada Babi Vaksinasi dan Non
Vaksinasi Di Wilayah Kerja Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur Tahun
2012. Buletin Laboratorium Veteriner, Balai Besar Veteriner Wates
Jogjakarta 13(2):32-43.
Diarmita IK. 2011. Menyoroti langkah antisipatif kebijakan lokal dengan
munculnya hog cholera di kabupaten lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Buletin vet. XXIII [78]: 1-14.
[DINKESWAN] Dinas Kesehatan Hewan. 2019. Pedoman Pengendalian dan
Penanggulangan Classical Swine Fever (Hog Cholera). Jakarta (ID) :
Direktorat Kesehatan Hewan.
Gregg D. 2002. Update on classical swine fever (hog cholera). J Swine Health
Prod. 10(1) :33-37.
Horst, H.S, Huirne, RBM, Dlikhauizen. 2000. Risks and economic consequences
of introducing classical swine fever into the Netherlands by feeding swill to
swine Department of Farm Management, Wageningen Agricultural
University. Rev. sci. tech. Off. int.Epiz., 16 (1), 207-214.
Kramer-Schdt S, Fernandez N, Thulke HH. 2007. Potential ecological and
epidemiological factors affecting the persistence of classical swine fever in
wild boar (Sus scorfa) populations. Mammal Rev 2007 37(1):1-20.
[OIE] Office International des Epizooties. 2019. Manual of Diagnostic Tests and
Vaccines for Terrestrial Animals: Classical Swine Fever. France (FR):
Terrestrial Animal Health Code.
Penrith M, Vosloo W, Mather C. 2011. Classical Swine Fever (Hog Cholera):
Review of Aspects Relevant to Control. Journal Transboundary and
emerging diseases. 58: 187-196.
Ratundima EM, Suartha IN, Mahardika IGNK. 2012. Deteksi antibodi terhadap
virus classical swine fever dengan Teknik Enzyme-Linked Immunosorbent
Assay. Ind. Med. Vet. 1[2]: 217 – 22
Soebronto. 2003. Penyakit Ternak. Yogyakarta (ID): UGM.
Lampiran 1
KUESIONER DATA KEPEMILIKAN BABI DAN PENILAIAN
FAKTOR RISIKO PENYAKIT VIRUS HOG CHOLERA
DI KAB LEMBATA, NUSA TENGGARA TIMUR
No Kuesioner :
Nama Enumerator :
Alamat :
No HP :
Tanggal survei :
Kecamatan :

A. Data Responden
1. Nama responden :
2. Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan (coret salah satu)
3. Usia : tahun
4. Alamat :
5. Nomor telepon :
6. Pendidikan terakhir
□ Tidak sekolah
□ Tidak selesai SD
□ SD
□ SMP
□ SMA
□ Universitas
7. Pekerjaan :
8. Jumlah babi yang dipelihara : ekor

B. Aspek Pemeliharaan
1. Apakah Tujuan Pemeliharaan anda?
a. Pedaging
b. Lain lain (sebutkan) :
2. Berapakah Jumlah Babi yang dipelihara : ekor
3. Pada rentan berapakah umur Babi anda?
a. <1 tahun : ekor
b. >1 tahun : ekor
4. Berasal darimanakah ternak babi anda?
a. Diternakan sendiri : Kawin suntik (IB)/Kawin alami
b. Berasal dari daerah lain
- Luar negeri (sebutkan negara : )
- Luar daerah (sebutkan daerah : )
- Lain-lain (sebutkan : )
- Apakah terdapat surat kesehatan hewan pada asal : Ya/Tidak
5. Berapa lamakah pemeliharaan babi anda :

C. Sistem Perkandangan
1. Bagaimanakah sistem pemeliharaan babi anda?
a. Dikandangkan
b. Dilepas di pekarangan
c. Lain-lain (sebutkan : )
2. Berapakah ukuran kandang babi?

3. Berapa jarak antar kandang babi?


a. 1 m
b. 2-10 m
c >10 m
d. Lain-lain(sebutkan : )
5. Apakah terdapat pemisahan kandang berdasarkan umur muda dan dewasa?
a. Ada
b. Tidak

D. Pakan dan Minum


1. Jenis Pakan yang diberikan
a. Sisa makanan : kg/ekor
- Dimasak kembali : Ya/Tidak
- Asal usul makanan sisa :
b. Konsentrat : kg/ekor
c. Lain-lain : kg/ekor
2. Sumber air minum :

E. Sistem Kebersihan Kandang


1. Bagaimana sistem kebersihan kandang babi Anda?
a. Kandang dibersihkan setiap hari :
- Jika ya, berapa kali dalam sehari :
b. Kandang dibersihkan beberapa hari sekali
c. Pembersihan kandang dilakukan jika diperlukan
d. Kandang tidak pernah dibersihkan sama sekali
2.Bagaimanakah cara pembersihan kandang?
a. Disapu saja
b. Disapu dan disiram air saja
c. Disapu, disiram air yang menggunakan sabun/desinfektan
d. Lain-lain (sebutkan : )
3. Bagaimana penerapan sistem pembuangan limbah di peternakan Anda?
a. Langsung dibuang tanpa diolah
b Diolah terlebih dahulu untuk dijadikan pupuk
c. Lain-lain(sebutkan : )

F. Manajemen Kandang
1. Apakah terdapat anak kandang di peternakan Anda?
a. Ya. (Jumlah anak kandang :. )
b. Tidak
2. Apakah kondisi kandang terbuka buat orang luar?
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah terdapat hewan lain yang dipelihara selain babi?
a. Ya (Jenis Hewan : )
b. Tidak

G. Kesehatan Hewan
1. Apakah pernah terjadi serangan penyakit di peternakan anda?
a. Ya
(Waktu kejadian : )
(Jenis penyakit(Jika tahu) : )
b. Tidak
2. Bagaimanakah penanganan apabila terjadi serangan penyakit di peternakan anda?
a. Penanganan sendiri
b. Dokter Hewan
c. Lain Lain (Sebutkan : )
3. Apakah ternak babi di peternakan anda rutin di cek kesehatannya?
a. Ya
(Waktu rutin pengecekan : )
(Pengecekan dilaksanakan oleh : )
b. Tidak
4. Apakah pernah terjadi kematian mendadak pada babi?
a. Ya
(Jumlah kematian : )
(Waktu kejadian : )
b. Tidak
5. Apabila terdapat hewan yang mati di peternakan anda, bagaimanakah tindakan yang
anda lakukan?
a. Dibuang
b. Dibakar
c. Lain lain (sebutkan : )
6. Apakah babi di peternakan anda diberikan vaksin?
a. Ya
b. Tidak

H. Pengetahuan Tentang Demam pada Babi


1. Apakah anda pernah mendengar/mengetahui kejadian Demam pada Babi :
a. Ya
b. Tidak
2. Jika Ya, Apakah yang anda ketahui tentang Demam pada Babi?
3. Apakah manusia dapat terkena penyakit demam pada Babi?
a. Ya
b. Tidak
J . Pengetahuan Pemilik Ternak Babi Tentang Hog Cholera
Jawaban dilakukan dengan memberi tanda silang (√) pada salah satu kolom jawaban yaitu
“Benar”, “Salah” atau “ Tidak tahu”.

Tidak
No. Pernyataan Benar Salah
Tahu
1 Penyakit Hog Cholera merupakan penyakit yang
mematikan pada babi.
2 Penyakit Hog Cholera merupakan penyakit bakterial yang
dapat menular dari babi satu dengan babi yang lain.
3 Hog Cholera ditularkan melalui kontak langsung dengan
babi terinfeksi
4 Hog Cholera ditularkan melalui konsumsi pakan terinfeksi
produk hewan terinfeksi
5 Faktor resiko kejadian Hog Cholera antara lain
pembuangan babi yang mati ke sungai dan di pinggir jalan
6 Gejala Hog Cholera adalah kematian mendadak
7 Vaksin Hog Cholera sampai saat ini sedang dalam masa
pengembangan.
8 Hog Cholera hanya menyerang babi peliharaan
9 Penerapan biosekuriti yang baik, yakni dengan memastikan
bahwa tidak ada babi yang hidup maupun produk olahan
daging babi yang masuk ke dalam wilayah yang bebas HC
10 Babi yang menunjukkan gelaja infeksi HC dilarang
melakukan pengiriman/penjualan babi ke wilayah lain.
11 Salah satu penanganan HC yaitu isolasi dan pengosongan
kandang selama beberapa bulan.

Responden Enumerator

(_________________) (_____________________)
Lampiran 2
RINCIAN BIAYA YANG DIPERLUKAN SELAMA SURVEI DAN
PENGAMBILAN SAMPEL

Petugas Hari kerja Honor/hari (Rp) Total (Rp)


Supervisor (1 orang) 7 250 000 1 750 000
Dokter Hewan (4 orang) 14 400 000 22.400 000
Paramedik (4 orang) 7 200 000 5 600 000
Pengolah data (4 orang) 9 120 000 4 320 000
Administrasi (1 orang) 14 100 000 1 400 000
Logistik dan transportasi
7 100 000 2 800 000
(4 orang)
Konsumsi (1 orang) 14 100 000 1 400 000
Bendahara (1 orang) 14 100 000 1 400 000
Enumerator (4 orang) 7 200 000 1 400 000
Sub Total 42 470 000
Jumlah
Logistik (pack) Harga (Rp) Total (Rp)
Tabung plain 3mL 7 200 000 1.400 000
Kapas 10 10 000 100 000
Alkohol 70% 6 10 000 60 000
Masker 10 30 000 300 000
Gloves 10 40 000 400 000
Coolbox 10 150 000 1 500 000
Ice Pack 45 20 000 900 000
Spoit+Needle 5 75 000 375 000
Kertas Label 5 5 000 25 000
Kuesioner 2000 2 000 4 000 000
Printer dan tinta 2 1 500 000 3 000 000
Pakaian lapang (wearpack) 8 150 000 1.200 000

Sepatu boots 8 100 000 800 000


Sub Total 13 260 000
Dana Operational
BBM 24 100 000 2 400 000
Konsumsi 24 75 000 1 800 000
Pulsa 24 50 000 1 200 000
Sub Total 5 400 000
Pengolahan Sampel
PCR Test 686 150 000 102 900 000
Sub Total 102 900 000
Total Biaya Survei 164 030 000
Lampiran 3
HASIL PERHITUNGAN BENEFIT COST ANALISIS PROGRAM PENGENDALIAN HOG CHOLERA DI KABUPATEN LEMBATA, NTT

COST BENEFIT ANALISIS PENGENDALIAN PENYAKIT HOG CHOLERA PADA PETERNAKAN BABI
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
KOMPONEN Total
2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
Biaya Proyek                      
238.200.75 126.589.64 2.128.193.19
- Monitoring Serologis 326.750.000 294.075.000 264.667.500 0 214.380.675 192.942.607 173.648.346 156.283.512 140.655.160 4 4

- Vaksinasi 23.645.000 23.654.000 23.645.000 23.645.000 23.645.000 23.645.000 23.645.000 - - - 165.524.000

- Disinfeksi 3.200.000 2.880.000 1.920.000 960.000 500.000 360.000 240.000 240.000 240.000 240.000 10.780.000

- Pembuatan Leaflet 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000 32.000.000
- Penyuluhan 8.000.000 8.000.000 8.000.000 8.000.000 8.000.000 8.000.000 8.000.000 8.000.000 8.000.000 8.000.000 80.000.000

insentif petugas pengendalian lalu lintas 96.000.000 96.000.000 96.000.000


96.000.000 96.000.000 96.000.000 96.000.000 96.000.000 96.000.000
96.000.000 960.000.000
                      0
370.005.75 234.029.64 3.376.497.19
Total Biaya 460.795.000 427.809.000 397.432.500 0 345.725.675 324.147.607 304.733.346 263.723.512 248.095.160 4 4
Manfaat Proyek                     0
113.496.000,0
- Kenaikan Produksi daging - 0 102.146.400 1.890.000 56.748.000 56.748.000 34.048.800 22.699.200 5.674.800 3.404.880 396.856.080

- Kenaikan nilai jual ternak (karena 1.276.830.00 240.000.00 5.132.076.00


memiliki status bebas) - 1.418.700.000 0 0 709.350.000 709.350.000 425.610.000 238.740.000 70.935.000 42.561.000 0

  - - - - - - - - - - 0

1.378.976.40 241.890.00 5.528.932.08


Total Manfaat - 1.532.196.000 0 0 766.098.000 766.098.000 459.658.800 261.439.200 76.609.800 45.965.880 0
- -
128.115.75 - 188.063.76
Manfaat - Biaya -460.795.000 1.104.387.000 981.543.900 0 420.372.325 441.950.393 154.925.454 -2.284.312 171.485.360 4
Discount Rate (12%) 0,893 0,797 0,712 0,636 0,567 0,507 0,452 0,404 0,361 0,322  
153.725.46 3.535.487.82
PVB 0 1.221.457.270 981.528.164 8 434.704.579 388.129.089 207.926.298 105.590.908 27.626.262 14.799.783 1

235.145.34 2.040.074.34
PVC 411.424.107 341.046.716 282.884.603 3
196.174.033 164.223.266 137.845.890 106.513.503 89.465.602 75.351.282 5
1.495.413.47
NPV (PVB-PVC) -411.424.107 880.410.555 698.643.560 -81.419.875 238.530.547 223.905.823 70.080.408 -922.595 -61.839.340 -60.551.499 6
                      1,733
210%

210%