Anda di halaman 1dari 10

Hairuddin Safaat

Faktor Resiko Kejadian Penyakit Osteoarthritis Pada Lansia Di Wilayah


Puskesmas Wara Selatan Kota Palopo Tahun 2015

Hairuddin Safaat
Akper Sawerigading Pemda Luwu
Email : hsiraja@yahoo.co.id

ABSTRAK

Transisi demografi dan transisi epidemiologi, yang ditandai dengan semakin


banyak penduduk berusia lanjut (di atas 60 tahun) membawa perubahan pada trend
penyakit degeneratif termasuk osteoartritis (OA) meningkat. OA merupakan penyakit
sendi yang paling banyak ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa faktor jenis kelamin, obesitas,
riwayat trauma lutut dan penggunaan sendi secara berlebihan sebagai faktor risiko OA
pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Wara Selatan.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan
case control study. Jumlah responden sebanyak 64 sampel, dibagi 2 kelompok yaitu 32
kasus dan 32 kontrol, dimana sampel diambil secara purposive sampling. Data
dikumpulkan dengan wawancara dengan bantuan kuesioner dan dianalisis secara
univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistik Odd Ratio (OR).
Hasil penelitian menemukan faktor yang terbukti sebagai faktor resiko OA adalah
obesitas (OR = 2.896 dan 95% = CI 1,072 - 8,172), faktor penggunaan sendi secara
berlebihan (OR = 3.4 dan 95% = CI 1.179 - 9.808) sedangkan yang tidak terbukti
sebagai faktor resiko adalah jenis kelamin dan riwayat trauma lutut.
Saran penelitian bagi puskesmaa untuk meningkatkan penyuluhan kesehatan pada
kelompok masayarakat beresiko mengalami OA tentang cara pencegahan faktor yang
dapat dimodifikasi dan bagi masyarakat untuk menjaga berat badan ideal, melakukan
aktivitas dengan prinsip mekanikan tubuh dan menghindari aktivitas penggunaan sendi
dalam waktu lama.

Kata kunci : Osteoartritis Lutut, Faktor Risiko.

A. Pendahuluan epidemiologi karena pemerintah berhasil


Badan kesehatan dunia WHO menekan angka penyakit infeksi, namun
memperkirakan bahwa penduduk lansia di di sisi lain penyakit yang berkaitan
Indonesia pada tahun 2020 mendatang dengan faktor penuaanpun meningkat,
sudah mencapai angka 11,34% atau seiring dengan semakin banyaknya
tercatat 28,8 juta orang, balitanya tinggal proporsi warga lansia di Indonesia.
6,9% yang menyebabkan jumlah Penyakit yang berkaitan dengan faktor
penduduk lansia terbesar di dunia. Umur penuaan sering disebut penyakit
Harapan Hidup orang Indonesia degeneratif, di antaranya Osteoarthritis,
diperkirakan mencapai 70 tahun atau lebih yang selanjutnya akan disingkat OA
pada tahun 2015-2020 (Komisi Nasional (Noor, 2013).
Lansia,2010). Osteoarthritis adalah tipe dari
Transisi demografi juga arthritis yang disebabkan oleh kerusakan
menyebabkan perubahan transisi atau penguraian dan akhirnya kehilangan

1
Hairuddin Safaat

tulang muda (cartilage) dari satu atau 15.5% pada pria dan 12.7% pada wanita.
lebih sendi-sendi. Cartilage adalah Degenerasi sendi yang menyebabkan
senyawa protein yang melayani sebagai sindrom klinis OA muncul paling sering
"bantal" antara tulang-tulang dari sendi- pada sendi tangan, panggul, kaki, dan
sendi. OA juga dikenal sebagai tulang belakang (spine) meskipun bisa
degenerative arthritis. Diantara lebih dari terjadi pada sendi sinovial mana pun.
100 tipe-tipe yang berbeda dari kondisi- Prevalensi kerusakan sendi sinovial ini
kondisi arthritis, OA adalah yang paling meningkat dengan pertambahan usia.
umum, mempengaruhi lebih dari 20 juta Pasien OA biasanya mengeluh
orang-orang di Amerika. OA terjadi lebih nyeri pada waktu melakukan aktivitas
sering ketika kita menua. Sebelum umur atau jika ada pembebanan pada sendi yang
45 tahun, OA terjadi lebih sering pada terkena. Pada derajat yang lebih berat,
pria-pria. Setelah umur 55 tahun, ia terjadi nyeri dapat dirasakan terus menerus
lebih sering pada wanita-wanita. Di sehingga sangat mengganggu mobilitas
seluruh dunia, OA diperkirakan menjadi pasien. Diperkirakan 1 sampai 2 juta
penyebab utama keempat kecacatan. OA orang usia lanjut di Indonesia menderita
terjadi pada lebih dari 27 juta penduduk cacat karena OA. Oleh karena itu
Amerika. Di Inggris dan Wales sekitar 1,3 tantangan terhadap dampak OA akan
hingga 1,75 juta orang menderita simptom semakin besar karena semakin banyaknya
OA. Di Amerika, 1 dari 7 penduduk populasi yang berusia tua (Kambayana,
menderita Osteoarthritis. Dimana, Badan 2011).
Kesehatan Dunia (WHO), penduduk yang Faktor risiko lain adalah riwayat
mengalami OA tercatat 8,1% dari keluarga dengan OA, berat badan
penduduk total. Pravelansi mencapai 5% berlebih, pekerjaan yang membutuhkan
pada usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 jongkok atau berlutut lebih dari 1 jam/
tahun, dan 65% pada usia 61 tahun (Noor, hari. Pekerjaan mengangkat barang, naik
2013). tangga atau berjalan jauh juga merupakan
Di Indonesia, OA juga merupakan risiko. Olah raga yang mengalami trauma
penyakit reumatik yang paling banyak pada sendi seperti sepak bola, basket atau
ditemui dibandingkan kasus penyakit voli juga meningkatkan risiko OA.
reumatik lainnya, data menunjukkan Beberapa penyakit lain yang bisa
bahwa prevalensi OA di Indonesia menimbulkan OA sekunder antara lain
mencapai 23.6-31.3%, sebanyak 29% di artritis reumatoid, gout, hemophilia
antaranya melakukan pemeriksaan dokter, (Hamijoyo,2017).
dan sisanya atau 71% mengonsumsi obat Meski belum ada data yang pasti
bebas pereda nyeri (Noor, 2013). mengenai prevalensi OA di Sulawesi
Menurut Hamijoyo (2017) Selatan dan Kota Palopo, tetapi menurut
beberapa faktor resiko terjadinya OA laporan dari Puskesmas Wara Selatan
antara lain faktor usia tua. Hampir semua dari laporan kasus yang melakukan
orang di atas usia 70 tahun mengalami kunjungan pada bulan Juni-Juli tahun
gejala OA ini, dengan tingkat nyeri yang 2017 sebanyak 34 kasus penderita OA
berbeda-beda. Sebelum usia 55 tahun dari 178 kunjungan lansia (Puskesmas
perbandingan OA pada pria dan wanita Wara Selatan Kota Palopo, 2017).
sebanding, namun pada usia di atas 55 Berdasarkan uraian diatas maka
tahun lebih banyak pada wanita. perlu dilakukan penelitian tentang
Prevelensi OA lutut radiologis di “Faktor Resiko Kejadian Penyakit
Indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai Osteoarthritis (OA) pada Lansia di

2
Hairuddin Safaat

Wilayah Puskesmas Wara Selatan Kota Analisa Data


Palopo”. Analisis ini untuk mengetahui
hubungan variabel independen (faktor
B. Bahan dan Metode jenis kelamin, obesitas, faktor riwayat
Lokasi penelitian trauma, faktor penggunaan sendi secara
Tempat yang dijadikan lokasi berlebihan) terhadap variabel dependen
penelitian adalah wilayah kerja (kejadian Osteoarthritis) dengan
puskesmas Wara Selatan Kota Palopo menggunakan uji statistik Odd Ratio
pada bulan Agustus sampai Oktober 2015. (OR)..
Jenis Penelitian, Populasi dan Sampel
Penelitian C. Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis Berdasarkan hasil pengolahan data
penelitian deskriptif analitik dengan diperoleh hasil sebagai berikut :
menggunakan pendekatan case control 1. Deskriptif Variabel Penelitian
study Populasi Kasus adala lansia yang di Berdasarkan tabel 1 menunjukan
diagnosis mengalami osteoartitis dan bahwa 60 responden sebaran tertinggi
tercacat dalam register/kartu pasien di berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki
Puskesmas Wara Selatan Kota Palopo sebesar 67 % (n=43), berdesarkan
pada bulan Juni-Juli 2015 sebanyak 34 pengelompokkan umur sebaran tertinggi
lansia. Populasi Kontrol adalah lansia yaitu usia >70 tahun sebanyak 30 % (n=
yang tidak di diagnosis mengalami 20) dan terendah pada usia 65-69 tahun
osteoartitis dan tercacat dalam yaitu 11 % (n=7). Sebagian besar
register/kartu pasien di Puskesmas Wara responden tidak sekolah sebanyak 27 %
Selatan Kota Palopo pada bulan Juni s/d (n=42) dan terendah adalah SMA hanya 8
Juli 2015 sebanyak 141 lansia. % (n=5), berdasarkan pekerjaan sebaran
Berdasarkan kriteria inklusi sampel kasus tertinggi adalah petani yaitu 41 % (n=26)
maka jumlah populasi kasus yang dan terendah adalah swasta dan
memenuhi kriteria sebanyak 34 lansia wiraswasta masing-masing 9 % (n=6)
penderita osteoarthritis. Penelitian ini 2. Analisis Hubungan Antar
menggunakan sampel untuk kasus dan Variabel
kontrol dengan perbandingan 1 : 1 a. Jenis kelamin dengan kejadian
(Bastaman,2000), sehingga jumlah Osteoartritis (OA)
sampel kasus dan kontrol masing-masing Data tabel 2 menunjukkan bahwa
34. Jumlah sampel keseluruhan 68 orang dari 64 responden, pada kelompok kasus
Pengambilan Data yang menderita Osteoartritis (OA)
Alat pengumpulan data penelitian sebagian besar adalah lansia laki-laki
ini adalah kuesioner yang memuat yaitu 55.8 % (n=24) lebih banyak
variabel-variabel penelitian. Dalam dibandingkan kelompok kontrol yang
penelitian ini proses data primer diperoleh tidak menderita Osteoartritis (OA) yaitu
langsung melalui wawancara mendalam 44.2 % (n=19). Sedangkan responden
(indepth interview) dengan responden perempuan pada kelompok kasus
menggunakan kuesioner yang telah sebanyak 38.1 % (n=8) lebih sedikit
dipersiapkan dan pemeriksaan fisik dibandingkan dengan kelompok kontrol
langsung berupa pengukuran tinggi badan yaitu 61.9 % (n=13). Perbedaan ini tidak
dan berat badan. bermakna secara statistik dimana
diperoleh nilai lower limit 0,706 dan
upper limit 5,965 pada tingkat

3
Hairuddin Safaat

kepercayaan 95 % yang menunjukkan limit mencakup nilai 1 dan upper limit


bahwa nilai lower limit mencakup 1 dan tidak mencakup 1, maka risiko yang
nilai upper limit tidak mencakup 1, maka ditimbulkan dikatakan tidak bermakna
risiko yang ditimbulkan dikatakan tidak d. Penggunaan Sendi Secara Berlebihan
bermakna.. dengan kejadian Osteoartritis (OA)
b. Obesitas dengan kejadian Berdasarkan tabel 5 menunjukkan
Osteoartritis (OA) bahwa dari 64 orang responden, pada
Data pada tabel 3 menunjukkan kelompok kasus yang menderita
bahwa dari 64 orang responden, pada Osteoartritis (OA) lebih banyak adalah
kelompok kasus yang menderita lansia dengan penggunaan sendi cukup
Osteoartritis (OA) lebih banyak adalah berlebihan yaitu 68 % (n=17) lebih
lansia yang mengalami obesitas yaitu banyak dari pada kelompok kontrol yaitu
65.4% (n=17) dari pada kelompok kontrol 32% (n=8) sedangkan pada responden
hanya 34.6 % (n=9), sedangkan dengan penggunaan sendi kurang
responden yang tidak mengalami obesitas berlebihan pada kelompok kasus
pada kelompok kasus sebanyak 39.5 % sebanyak 38.5% (n=15) lebih kecil dari
(n=15) lebih sedikit dibandingkan pada kelompok kontrol yaitu 61.5%
kelompok kontrol yaitu 60.5 % (n=23). (n=24). Perbedaan ini bermakna secara
Perbedaan ini bermaksa secara statistic statistik dimana nilai lower limit 1.179
dimana nilai lower limit 1,072 dan upper dan upper limit 9.808 pada tingkat
limit 8,172 pada tingkat kepercayaan 95 % kepercayaan 95 % yang menunjukkan
yang menunjukkan bahwa antara nilai bahwa antara nilai lower limit dan upper
lower limit dan upper limit tidak limit tidak mencakup 1, maka risiko yang
mencakup 1, maka risiko yang ditimbulkan dikatakan bermakna. Nilai
ditimbulkan dikatakan bermakna. Nilai Odds Ratio = 3.4. Hal ini berarti bahwa
Odds Ratio = 2.896. Hal ini berarti bahwa penggunaan sendi berlebihan berisiko 3.4
kondisi obesitas berisiko 2.896 kali kali terkena penyakit Osteoartritis (OA)
terkena penyakit Osteoartritis (OA) dibandingkan dengan yang tidak
dibandingkan dengan yang tidak obesitas. menggunakan sendi berlebihan
c. Riwayat Trauma Lutut dengan D. Pembahasan
kejadian Osteoartritis (OA) 1. Jenis kelamin dengan kejadian
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan Osteoartritis (OA)
bahwa dari 64 orang responden, pada Perkembangan osteoartritis
kelompok kasus yang menderita dipengaruhi oleh jenis kelamin dan lebih
Osteoartritis (OA) lebih banyak adalah dominan pada perempuan. Dari hasil
lansia dengan riwayat trauma lutut berat penelitian Michael A. Carter
yaitu 58.8% (n=21) lebih banyak dari menunjukkan bahwa osteoartritis 10 kali
pada kelompok kontrol yaitu 46.2 % lebih sering ditemukan pada perempuan
(n=18) sedangkan pada responden dengan dibandingkan dengan laki-laki (Sylvia A.
riwayat trauma lutut ringan pada Price, 2005). Hal ini juga sesuai dengan
kelompok kasus sebanyak 44 % (n=11) hasil penelitian di University of Michigan
lebih kecil dari pada kelompok kontrol menyebutkan otot lutut pada perempuan
yaitu 56 % (n=14). Perbedaan ini tidak tidak berkontraksi seperti pria saat
bermakna secara statistik dimana nilai dibebani, akibatnya sendi lutut
lower limit 0,541 dan upper limit 4,077 perempuan lebih rentan cedera.
pada tingkat kepercayaan 95 % yang Hormon seks dan faktor-faktor
menunjukkan bahwa antara nilai lower hormon lain juga sangat berkaitan dengan

4
Hairuddin Safaat

perkembangan osteoartritis. Hubungan dapat meningkatkan tekanan pada tulang


antara estrogen dan pembentukan tulang sehingga tulang rawan yang terdapat di
dan prevalensi osteoartritis pada persendian-persendian yang menopang
perempuan menunjukkan bahwa hormon berat badan seperti sendi lutut, sendi
memainkan peranan aktif dalam panggul atau sendi tulang belakang bisa
perkembangan dan progresivitas penyakit makin cepat aus Sylvia A. Price, 2005).
ini (Sylvia A. Price, 2005). Hasil penelitian menemukan bahwa
Hasil penelitian menemukan jenis obesitas berat merupakan faktor risiko
kelamin tidak bermakna secara statistik kejadian OA lutut, dengan nilai OR =
terhadap kejadian Osteoartritis (OA) pada 2.896 dan 95% = CI 1,072 - 8,172, yang
lansia, dimana nilai OR = 2,053 dan 95% berarti bahwa orang yang menderita
= CI 0,706 - 5,965). obesitas berat akan berisiko terserang OA
Hasil penelitian ini sejalan dengan sebesar 2.896 kali lipat dibandingkan
penelitian Maharani (2007) yang orang yang tidak menderita obesitas berat.
menemukan jenis kelamin tidak terbukti Hasil penelitian ini sejalan dengan
sebagai faktor risiko Osteoartritis (OA) penelitian Maharani (2007) yang
lutut. Hasil ini bertentangan dengan hasil menemukan menunjukkan bahwa
penelitian L. Sharma dkk (2004) yang obesitas berat merupakan faktor risiko
menyatakan bahwa wanita terbukti kejadian OA lutut, dengan nilai p = 0,046;
memiliki risiko lebih tinggi menderita OA OR adjusted = 2,51 dan 95% = CI 1,22 –
lutut dibandingkan pria. 5,26. Demikian halnya dengan penelitian
Jenis kelamin dalam analisis tidak Aini (2009) juga menemukan hubungan
terbukti sebagai faktor risiko OA signifikan antara obesitas dengan
kemungkinan disebabkan variabel jenis Osteoarthritis pada lansia di Kelurahan
kelamin laki-laki dipengaruhi oleh Puncangsawit Kecamatan Jebres
variabel lain yang lebih kuat sebagai Surakarta dengan nilai OR = 4,9.
faktor risiko OA .Variabel lain yang lebih Obesitas merupakan faktor risiko
kuat tersebut adalah obesitas berat. Dari yang dapat dimodifikasi. Selama berjalan,
hasil penelitian menunjukkan sebagian setengah berat badan bertumpu pada sendi
besar responden laki-laki mengalami lutut. Peningkatan berat badan akan
obesitas berat dibandingkan dengan melipatgandakan beban sendi lutut saat
perempuan. Dalam hal ini dapat diartikan berjalan. Studi di Chingford menunjukkan
bahwa bukan jenis kelamin yang berisiko bahwa untuk setiap peningkatan Indeks
menderita OA, tetapi obesitas beratlah Massa Tubuh (IMT) sebesar 2 unit (kira-
yang lebih kuat sebagai faktor risiko OA . kira 5 kg berat badan), odds rasio untuk
menderita OA lutut secara radiografik
2. Obesitas dengan kejadian meningkat sebesar 1,36 poin.20 Penelitian
Osteoartritis (OA) tersebut menyimpulkan bahwa semakin
Obesitas adalah kelebihan berat berat tubuh akan meningkatkan risiko
badan sebagai akibat dari penimbunan menderita OA lutut. Kehilangan 5 kg
lemak tubuh yang berlebihan, setiap orang berat badan akan mengurangi risiko OA
memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk lutut secara simtomatik pada wanita
menyimpan energi sebagai penyekat sebesar 50%. Demikian juga peningkatan
panas dan beberapa fungsi lainnya. risiko mengalami OA lutut yang progresif
Sebagian besar penderita osteoartritis tampak pada orang-orang yang kelebihan
selalu mengalami obesitas hal ini berat badan. Banyaknya penderita OA
diakibatkan karena keadaan obesitas lutut akibat obesitas juga dipengaruhi

5
Hairuddin Safaat

karena banyak responden wanita yang Riwayat trauma lutut dalam analisis
sewaktu muda mengikuti program KB tidak terbukti sebagai faktor risiko OA
yang mereka anggap dapat menyebabkan kemungkinan disebabkan variabel
kegemukan dan sulit untuk menurunkan riwayat trauma lutut biasanya terjadi pada
berat badan. Sedangkan jika tidak kelompok usia yang lebih muda sehingga
mengikuti KB, mereka takut akan memungkinkan telah terjadi proses
memiliki banyak anak. Hal tersebut penyembuhan dan sebagian besar trauma
ditambah dengan kurangnya pengetahuan lutut yang akut termasuk robekan pada
responden bahwa obesitas dapat ligamentum krusiatum dan meniskus
meningkatkan risiko OA lutut (Maharani, merupakan faktor risiko timbulnya OA
2007). (Setiyohadi,2003).
3. Riwayat Trauma Lutut dengan 4. Penggunaan Sendi Secara
kejadian Osteoartritis (OA) Berlebihan dengan kejadian
Riwayat trauma pada sendi Osteoartritis (OA)
merupakan faktor resiko yang dapat Penyakit osteoartritis banyak terjadi
menimbulkan penyakit osteoartritis hal ini pada orang-orang yang pekerjaannya
diakibatkan oleh menurunnya kelenturan berkaitan dengan aktivitas yang
atau elastisitas sendi dalam yakni memerlukan pergerakan sendi berulang
kartilago dan cairan sinovial pada sendi kali secara terus menerus, seperti atlet,
mengalami penurunan fungsi, penurunan pekerja tambang dan lain-lain.
elastisitas sendi dan adanya deteriorasi Hasil penelitian menemukan bahwa
kartilago inilah yang menyebabkan penggunaan sendi secara berlebihan
timbulnya nyeri yang intermiten atau merupakan faktor risiko kejadian OA
nyeri yang menetap pada sendi, (Sylvia A. lutut, dengan nilai OR = 3.4 dan 95% = CI
Price, 2005). 1.179 - 9.808, yang berarti bahwa orang
Hal tersebut tidak sejalan dengan menggunakan sendi berlebihan berisiko
hasil penelitian yang menemukan riwayat 3.4 kali terkena penyakit Osteoartritis
trauma lutu tidak bermakna secara (OA) dibandingkan dengan yang tidak
statistik terhadap kejadian Osteoartritis menggunakaa sendi berlebihan.
(OA) pada lansia, dimana nilai OR = Hasil penelitian ini didukung oleh
1.485dan 95% = CI 0,541 - 4,077). penelitian Maharani (2007) yang juga
Hasil penelitian ini tidak sejalan menemukan penggunaan sendi secara
dengan penelitian Maharani (2007) yang berlebih merupakan faktor resiko kejadian
menemukan riwayat trauma lutut terbukti OA lutut dengan nilai OR = 2,25 dan 95%
sebagai faktor risiko terjadinya OA lutut, CI = 1,09 – 6,67). Penelitian E.C Lau
dengan nilai p = 0,033, OR adjusted = (1998) menunjukkan hal yang sama,
2,90 dan 95% CI = 1,09 – 7,75. Hal bahwa orang yang mempunyai kebiasaan
terebut berarti bahwa orang yang pernah aktivitas fisik berat akan berisiko
mengalami trauma lutut berisiko terserang terserang OA lutut sebesar 5 kali lipat
OA lutut sebesar 2,90 kali dibandingkan dibandingkan orang yang tidak biasa
orang yang tidak pernah mengalami melakukan aktivitas fisik berat (Maharani,
trauma lutut. Demikian halnya dengan 2007).
Studi Framingham menemukan bahwa Jika dilihat dari jenis pekerjaan
orang dengan riwayat trauma lutut responden yang sebagai besar adalah
memiliki risiko 5 – 6 kali lipat lebih tinggi petani yang umumnya melakukan
untuk menderita OA . aktivitas yang banyak membebani sendi
lutut secara rutin setiap hari seperti berdiri

6
Hairuddin Safaat

lama dan berjalan, merupakan faktor khususnya pada kelompok masyarakat


risiko OA lutut. Hal ini berkaitan dengan yang beresiko mengalami Osteoartritis
tekanan pada sendi lutut saat seseorang (OA) sehingga faktor resiko yang yang
melakukan aktivitas fisik berat tersebut. dapat dimodifikasi seperti obesitas,
Tekanan pada tulang rawan sendi lutut penggunaan sendi berlebihan, faktor
yang berlebihan secara terus-menerus trauma lutut dapat dihindari dengan
akan menyebabkan degenerasi meniskal mengajarkan prinsip mekanika tubuh
dan robekan yang memicu perubahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
pada tulang rawan sendi lutut, sehingga Untuk pencegahan Osteoartritis
rawan terjadi OA lutut (Setiyohadi,2003) (OA) dengan menjaga berat badan ideal
E. Kesimpulan dan Saran supaya tidak mengalami obesitas
Kesimpulan misalnya cara rutin berolah raga maupun
1. Faktor jenis kelamin tidak terbukti melakukan diet yang seimbang,
sebagai faktor resiko kejadian menghindari aktivitas penggunan sendi
penyakit Osteoarthritis pada lansia secara berlebihan misalnya mengangkan
dimana dimana nilai OR = 2,053 dan beban yang berat, berdiri dalam waktu
95% = CI 0,706 - 5,965). yang lama misalnya lebih 2 jam dan
2. Faktor obsesitas terbukti sebagai melakukan istirahat yang cukup selama
faktor resiko kejadian penyakit periode aktivitas yang berat.
Osteoarthritis pada lansia dengan
nilai OR = 2.896 dan 95% = CI 1,072 DAFTAR PUSTAKA
- 8,172, yang berarti orang yang Ali, Zaidin (2010), Dasar-Dasar
menderita obesitas berat akan berisiko Arikunto, S. (2008). Prosedur
terserang OA sebesar 2.896 kali lipat Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,
dibandingkan orang yang tidak Jakarta: PT Rineka Cipta
menderita obesitas berat. Arthritis Research Campaign 2000.
3. Faktor riwayat trauma lutut tidak Available at :http:///www.arc.org.
terbukti sebagai resiko kejadian uk/about_arth/astats.htm, 17 Juli
penyakit Osteoarthritis pada lansia 2017, 10:21:40
dimana nilai OR = 1.485dan 95% = CI Asdie, Ahmad H. Harrison's Prinsip-
0,541 - 4,077). Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume
4. Faktor penggunaan sendi secara 4, Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta:
berlebihan terbukti merupakan faktor EGC. 2000
resiko kejadian penyakit Basuki, Bastaman (2000), Aplikasi
Osteoarthritis pada lansia dengan Metode Kasus-Kontrol, FKUI,
nilai OR = 3.4 dan 95% = CI 1.179 - giliib.ui.ac.id/
9.808, yang berarti bahwa orang file?file=digital/125445-S-5754-
menggunakan sendi berlebihan Bibliografi.pdf. 17 Juli 2017,
berisiko 3.4 kali terkena penyakit 10:21:40
Osteoartritis (OA) dibandingkan Darmojo Boedhi, Martono Hadi (2006);
dengan yang tidak menggunakaa Ilmu Kesehatan Usia Lanjut Edisi 5,
sendi berlebihan Jakarta, FKUI
Darmojo R. Boedhi, Martono H. Hadi.
Saran Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Diharapkan petugas kesehatan Lanjut).Jakarta : Balai Penerbit FK –
puskesmas khususnya perawat untuk UI. 1999
meningkatkan penyuluhan kesehatan

7
Hairuddin Safaat

Departemen Kesehatan (2010), Pedoman http:///www.arc.org.uk/about_arth/as


Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut tats.htm, 17 Juli 2017
Bagi Petugas Kesehatan; Jakarta Nugroho, Wahjudi.(2008). Keperawatan
Eka Pratiwi Maharani (2007),Faktor- Gerontik.Jakarta : EGC
Faktor Risiko Osteoarthritis Lutut Price Sylvia A., Wilson Lorraine M.
(Studi Kasus Di Rumah Sakit Dokter Patofisiologi, Konsep Klinis
Kariadi Semarang) Proses-proses Penyakit. Edisi 4.
http:///www.arc.org.uk/about_ Jakarta : Penerbit Buku
arth/astats.htm, 17 Juli 2017. Kedokteran EGC. 1995
Hidayat, A.A. (2007). Riset Keperawatan Setiyohadi Bambang. Osteoarthritis
dan Teknik Penulisan Ilmiah, Edisi 2. Selayang Pandang. Dalam Temu
Jakarta: Salemba Medika Ilmiah Reumatologi 2003. Jakarta, 19
Komisi Nasional Lanjut Usia (2010), – 21 September 2003.
Profil Penduduk Nasional Lanjut Wibowo Dhidik Tri, Kurniawan Yusuf,
Usia, Jakarta. Online. Latifah Tati, Gunadi Rachmat
http:///www.arc.org. Perancangan dan Implementasi
uk/about_arth/astats.htm, 17 Juli Sistem Bantu Diagnosis Penyakit
2017, 10:21:40 Osteoarthritis dan Reumatoid
Konggres Nasional Ikatan Reumatologi Artritis Melalui Deteksi
Indonesia VI (2004) http://pemda- Penyempitan Celah Sendi pada
diy.go.id/berita, 17 Juli 2017 Citra X-Ray Tangan dan Lutut.
Nawang Prasekti, (2008), Sekripsi Dalam Temu Ilmiah Reumatologi.
Hubungan antara karakteristik dan Jakarta, 2003 : 168 – 172
kebiasaan merokok dengan kejadian
Osteoarteritis di RSU Jepara, :

8
Hairuddin Safaat

Tabel 1
Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi di Wilayah Kerja
Puskesmas Wara Selatan Kota Palopo Tahun 2015

Status
Karakteristik Kasus Kontrol Total
n % n % N %
Jenis kelamin:
Laki-laki 24 75 19 59 43 67
Perempuan 8 25 13 41 21 33
Umur :
60-64 tahun 8 25 11 34 19 30
65-69 tahun 6 19 1 3 7 11
70-74 tahun 7 22 11 34 18 28
>70 tahun 11 34 9 28 20 31
Pendidikan :
Tidak sekolah 15 47 12 38 27 42
SD 8 25 9 28 17 27
SMP 6 19 9 28 15 23
SMA 3 9 2 6 5 8
Pekerjaan :
Petani 15 47 11 34 26 41
Swasta 2 6 4 13 6 9
PNS/pensiunan 6 19 3 9 9 14
Wiraswasta 1 3 5 16 6 9
IRT 8 25 9 28 17 27
Sumber : data primer, 2015
Tabel 2
Distribusi Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Penyakit Osteoartritis
(OA) di Wilayah Kerja puskesmas Wara Selatan
Kota Palopo Tahun 2015

Kejadian Penyakit
Jenis kelamin Osteoartritis (OA) Jumlah
Kasus Kontrol OR CI
n % n % n % Upper
Laki-laki 24 55.8 19 44.2 43 67.2 limit =
2.053 5.965
Perempuan 8 38.1 13 61.9 21 32.8
Lower
limit =
Jumlah 32 100 32 100 64 100
0.706
Sumber : data primer, 2015

9
Hairuddin Safaat

Tabel 3
Distribusi Hubungan Obesitas dengan Kejadian Penyakit Osteoartritis (OA) di
Wilayah Kerja puskesmas Wara Selatan Kota Palopo Tahun 2015

Kejadian Penyakit
Obesitas Osteoartritis (OA) Jumlah
Kasus Kontrol OR CI
n % n % n % Upper
Berat 17 65.4 9 34.6 26 40.6 limit =
2.896 8.172
Ringan 15 39.5 23 60.5 38 59.4
Lower
limit =
Jumlah 32 100 32 100 64 100
1.072
Sumber : data primer, 2015

Tabel 4
Distribusi Hubungan Riwayat Trauma Lutut dengan Kejadian Penyakit
Osteoartritis (OA) di Wilayah Kerja Puskesmas Wara Selatan Kota Palopo
Tahun 2015

Kejadian Penyakit
Riwayat Osteoartritis (OA) Jumlah
Trauma Kasus Kontrol OR CI
Lutut n % n % n % Upper
Berat 21 58.8 18 46.2 39 60.9 limit =
1.485 4.077
Ringan 11 44 14 56 25 39.1
Lower
limit =
Jumlah 32 100 32 100 64 100
0.541
Sumber : data primer, 2015
Tabel 5
Distribusi Hubungan Penggunaan Sendi Secara Berlebihan dengan Kejadian
Penyakit Osteoartritis (OA) di Wilayah Kerja Puskesmas Wara Selatan Kota
Palopo Tahun 2015

Kejadian Penyakit
Penggunaan Osteoartritis (OA) Jumlah
Sendi Secara Kasus Kontrol OR CI
Berlebihan n % n % n % Upper
Cukup 17 68 8 32 25 39.1 limit =
3.400 9.808
Kurang 15 38.5 24 61.5 39 60.9
Lower
limit =
Jumlah 32 100 32 100 64 100
1.179
Sumber : data primer, 2015

10