Anda di halaman 1dari 26

CRITICAL BOOK REVIEW

KONSELING INDIVIDUAL
Dosen Pengampuh : Miswanto, S.Pd.,M.Pd

Di Susun Oleh :

Nama : Tika Anggraini Usri (1173351063)

Kelas : BK Reguler D 2017

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada penulias sehingga penulis bisa berhasil menyelesaikan critical book
review ini yang Alhamdulillah puji Tuhan tepat pada waktunya yang berkaitan dengan
pendidikan seumur hidup.critical book review ini membahas tentang Bimbingan konseling
Individual Dan juga tidak lupa penulis mengucapkan terimakasi kepada bapak Miswanto.,
S.Pd.,M.Pd. Konseling soal selaku dosen mata kuliah terkait dan juga warga kelas yang selalu
mendukung pelaksanaan tugas ini .penulis menyadari bahwa critical book review ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan critical book review ini.Akhir kata,
saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan critical book review ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai dan memberkati segala usaha kita semua.amin.

Medan, .... september


2019

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar.......................................................................................................................

Dafatar Isi...............................................................................................................................

Identitas Buku.........................................................................................................................

BAB I Pendauluhan.................................................................................................................

Latar Belakang.............................................................................................................

Tujuan..........................................................................................................................

Manfaat........................................................................................................................

BAB II Ringkasan.................................................................................................................

BAB III Pembahasan...............................................................................................................

Keunggulan Buku........................................................................................................

Kelemahan Buku..........................................................................................................

Keterkaitan Buku…………………………………………………………...………

Perbandingan Antara Buku…………………………………………………….……

BAB IV Penutup......................................................................................................................

Kesimpulan....................................................................................................................

Saran...............................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

Konseling Individual merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui


wawancara konseling oleh seorang ahli konselor kepada individu yang sedang mengalami sesuatu
masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Dalam Konseling
Individu diharapkan dapat membantu agar terjadi perubahan perilaku kearah positif dari orang yang
di bantu, klien harus mampu memecahkan masalahnya sendiri.

Pembahasan tentang pembuatan Book Report ini ada dalam buku “Konseling Individual Teori
dan Praktek” karangan Prof. DR. Sofyan S.Willis akan membahas tentang Sejarah Bimbingan
Konseling, Hubungan dan Proses Konseling, Pendekatan-Pendekatan Konseling, Kualitas dan
Pendidikan Konselor, Karakteristik Klien, Perilaku Nonverbal, Kreativitas Konselor Dalam Mengambil
Keputusan, Teknik-Teknik Konseling, Manual dan Prosedur Microtraining, Analisis Proses Konseling
Dalam Studi Kasus, Praktek Profesional dan Etika Konseling, dan Praktek Konseling di Sekolah.
Pembahasan diatas akan dipaparkan dalam Book Report ini

1.2 TUJUAN CBR

Tujuan dari pembuatan Book Report ini adalah untuk memahami tahapan atau teknik dari
proses konseling, serta memperdalam pemahaman mengenai keterampilan konseling.
BAB II

IDENTITAS BUKU

Buku Utama :

Judul Buku                        : Konseling Individual Teori dan Praktek

Pengarang                        : Prof. DR. Sofyan S. Willis

Penerbit                             : Alfabeta

Kota Terbit                        : Bandung

Tahun Terbit                     : 2013-2014

Cetakan ke                        : 7-8

Jumlah Halaman               : 274 Halaman

Harga Buku                       : Rp. 30.000

ISBN                                 : 978-979-8433-57-3

buku KE 2:
Judul :MICRO TEACHING ( Teori & Praktik Pengajaran yang Efektif & Kreatif )

Penulis : Barnawi dan M. Arifin

Editor : Andin
Proofreader : M. Faiz
Desain cover : Anto
Desai nisi : Amin

Penerbit :
AR-RUZZ MEDIA

ISBN:
978-602-313-037-5
Cetakan 1, 2015
BAB III

ISI BUKU

RINGKASAN BUKU UTAMA

BAB 1 : PENDAHULUAN

A. Sekilas Sejarah Bimbingan dan Konseling


Perkembangan Bimbingan dan konseling di Indonesia cenderung berorientasi layanan
pendidikan (instruksional) dan pencegahan. Sejak tahun 1975 bimbingan dan
konseling digalakkan di sekolah-sekolah (Rochman Narawidjaja,1987). Upaya ini
bertujuan untuk memberikan bantuan kepada siswa sehingga ia dapat berkembang
seoptimal mungkin.
Dalam pelaksanaannya bimbingan dan konseling di sekolah – sekolah lebih banyak
menangani kasus- kasus siswa bermasalah daripada pengambangan potensi siswa.

B. Konseling dalam Aspek-aspek Kehidupan


Hubungan yang membantu dan hubungan konseling adalah sama. Tujuannya adalah
untuk menumbuhkan, mengembangkan dan membantu individu yang
membutuhkannya. Beberapa bidang kehidupan atau profesi yang melakukan
hubungan yang membantu antara lain adalah:
1. Dunia Kedokteran/Kesehatan Disini terjadi hubungan antara dokter dengan pasien
atau perawat dengan pasien. Bidang kedokteran selalu melibatkan dokter, perawat,
dan pasien beserta keluarganya. Selama ini, hubungan dokter-pasien dan perawat-
pasien dokter/perawat. Sering terjadi dokter kurang terbuka terhadap pasien, dia
seolah-olah penentu segalanya mengenai kesehatan sang pasien. Padahal kaku dan
didominasi dirasakan oleh pihak
2. Pasien adalah manusia dengan segenap aspeknya (fisik, psikis, sosial, dan
sebagainya). Dia mempunyai kebutuhan yang amat mendalam yakni ingin sembuh
dengan biaya yang terjangkau. Pelayanan yang baik terhadap kesehatannya
merupakan kebutuhan kejiwaan yang mendalara dan bukan semata kebutuhan
fisik. Sering terjadi dokter kurang bersahabat dan perawat yang kasar, akan
memperlama kesembuhan pasien. Namun banyak terjadi bahwa dokter dan
perawat yang ramah dan sabar dapat mempercepat kesembuhan. karena pasien
mempunyai harapan hidup yang tinggi berkat dorongan dokter dan perawat.
Relasi dokter-pasien seharusnya merupakan hubungan yang membantu (helping
relationship). Artinya sebagai tenaga profesional dibidang kesehatan, dokter
membantu pasien dengan hati nurani ikhlas dan rela demi ibadah kepada Tuhan
melalui hubungan baik sesama manusia. Dokter adalah profesional yang ahli
dalam penyembuhan. Namun dengan keikhlasan dan keramahan hubungan yang
membantu tampak lebih menonjol ketimbang untuk menambah penghasilan
belaka. Dokter yang menghargai, ramah, penuh perhatian dan memotivasi pasien
supaya cepat sembuh, maka pasien dapat segera sembuh sebab kejiwaannya jadi
senang, tenang, dan punya harapan tinggi untuk hidup. Masalah yang dihadapi
dokter dan perawat bukan soal profesinya. (teknik) berkomunikasi yang dapat
Akan tetapi bagaimana mempercepat kesembuhan dan perkembangan pasien.
Cara komunikasi yang dimaksud adalah dialog dua arah bukan hanya dialog yang
searah berupa instruksi dokter, akan tetapi dialog yang membuat pasien
menyatakan keinginan, keluhan, kecemasan, dan sebagainya.
3. Perusahaan dan Industri pimpinan perusahaan dengan karyawan. Hubungan itu
harus dapat mengembangkan karyawan optimal. Kreativitas karyawan yang
didorong oleh pengusaha akan berkembang pesat. Berarti pimpinan perusahaan
sudah saatnya memahami kehidupan psikis karyawannya, biologis, kejiwaan dan
sosial, serta emosionalnya. Dengan demikian pengusaha akan lebih memahami
kehidupan karyawannya, sehingga tindakannya tidak akan sewenang- wenang,
melainkan lebih empati (memahami apa yang dirasakan karyawan), menghargai,
perhatian, dan memotivasi. Berarti pimpinan perusahaan merupakan pembimbing
bagi karyawannya, dengan sikap toleran, terbuka, asli, menghargai. Sifat-sifat
seperti itu akan membuat antara Hubungan konseling terjadi juga sehingga ia
bekerja dar berkarya secara kebutuhan fisik, terutama karyawan jujur, terbuka,
semangat, dan kreatif. Namun bila dilihat kenyataan 2erusahaan saat ini hubungan
pengusaha dengan karyawan amat formal, tertutup, otoriter, dan menekan. Banyak
bukti telah berbicara antara lain adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) tanpa
musyawarah dengan karyawan. Posisi karyawan begitu lemah ditambah lagi
dengan sikap otoriter pengusaha yang menganggap karyawan hanyalah alat seperti
mesin atau alat pembantu mesin membuat karyawan terpuruk
4. Bidang Pendidikan Pendidikan pada umumnya selalu berintikan bimbingan.
Sebab pendidikan bertujuan agar anak didik menjadi kreatif, produktif, dan
mandiri. Artinya pendidikan berupaya untuk mengembangkan individu anak.
Segala aspek diri anak didik harus dikembangkan seperti intelektual, moral, sosial,
kognitif, dan emosional. Bimbingan dan konseling adalah upaya untuk membantu
perkembangan aspek-aspek tersebut menjadi optimal, harmonis dan wajar. Relasi
pendidikan antara pendidik dengan anak didik merupakan hubungan yang
membantu karena selalu diupayakan agar ada motivasi pendidik untuk
mengembangkan potensi anak didik dan membantu anak didik untuk memecahkan
masalahnya. Di keluarga, relasi antara orang tua dengan anak-anak merupakan
relasi yang membantu.

C. Pengertian Bimbingan dan Konseling (BK) Pengertian bimbingan dan konseling di


sekolah belum begitu b dipahami oleh para guru dan kepala sekolah. Bahkan
dikalangan atas juga ada yang belum sepenuhnya mempunyai keyakinan bahwa
bimbingan dan konseling adalah komponen penting di sekolah disamping kurikulum
dan administrasi pendidikan. Ada beberapa bukti yang menunjang pernyataan di atas.

(1) Masalah profesi konselor

(2) SK pengangkatan

(3) masalah sikap terhadap bimbingan dan konseling

(1)Karakteristik konseling untuk pengembangan adalah: ) Konselor/pembimbing


selalu berusaha melihat potensi individu dan dari sinilah dimulai penjelajahan dalam
proses konseling. Akan tetapi bukan sebaliknya, bahwa seorang konselor hanya
melihat sisi kelemahan/problem/kesulitan klien belaka. konseling dipandang oleh para
klien adalah suasana yang tidak menyenangkan. Akibatnya proses

(2) Jika sekiranya klien memiliki masalah/kelemahan atau kesulitan, biarlah klien
yang mengungkapkannya berkat dorongan dari konselor. Kemudian konselor
berupaya membantu agar klien mampu mengatasi masalahnya.

(3) Konselor berusaha dengan menggunakan keterampilan, kepribadian dan


wawasannya, untuk menciptakan situasi konseling yang kondusif bagi pengembangan
potensi klien.

(4) Konselor berusaha memberikan kesempatan kepada klien untuk memberikan


alternatif-alternatif pilihan yang sesuai dengan kondisi dan situasi dirinya. Konselor
akan ikut membantu agar klien dapat mempertimbangkan alternatif-alternatif secara
realistik.

(5) Konseling pengembangan berjalan melalui proses konseling yang menggairahkan,


dialog/wawancara konseling yang menyentuh hati nurani dan kesadaran klien. melalui
yaitu klien, menggembirakan

(6) Konselor dituntut agar dapat membaca balhasa tubuh yang berkaitan dengan lisan
klien atau bahasa tubuh yang memberikan isyarat tertentu yang mengandung arti
tertentu.

Untuk mencapai tujuan konseling dengan efektif scoran konselor harus mampu:

(1) Menangkap isu sentral atau pesan utama klien. isu utama (masalsh) Konselor
seharusnya segera dapat menangkapi klien. Bila klien datang kepada konselor, ia akan
bercerita mengenai din dan masalahnya Seperti bagaimana ia dapat menjadikan
dirinya seorang penerbang yang handal, apa yang mungkin dikembangkan dari dirin
sehingga dia menjadi orang yang berguna dan populer. bagaimana perasaan rendah
dirinya dapat teratasi, ada apa dengan hubungan sosal klien dengan orang lain, ada
sesuatu kesalahan dalam upaya belajarnya sehingga prestasi tidak menguntungkan,
dan banyak lagi. Dari isu-isu tersebut konselor harus mampu menangkap isu utama
yang menjadi masalah penting klien.

(2) Utamakan tujuan klien-tujuan konseling. Dalam proses konseling jangan terjadi
konselor mengutamakan tujuannya sendiri sedangkan tujuan klien diabaikan.
Tanggung jawab utama konselor adalah mendorong klien untuk mengembangkan
potensi, kekuatan, otonomi, dan kemampuan mengatur/mengarahkan nasibnya
sendiri. Dengan kata lain tujuan klien adalah tujuan konseling itu sendiri. Secara
umum dikatakan bahwa tujuan konseling haruslah mencapai:

(1) Effective daily living, artinya setelah selesai proses konseling klien harus dapat
menjalani kehidupan sehari-harinya secara efektif dan berdaya guna untuk diri,
keluarga, masyarakat, bangsa, dan Tuhannya;

(2) Relationship with other, artinya klien mampu menjalin hubungan yang harmonis
dengan orang lain di keluarga, sekolah, kantor masyarakat, dan sebagainya.
. Upaya Melibatkan Klien Yang paling penting dalam hubungan konseling adalah
agar konselor mampu melibatkan klien secara klien sudah terlibat dalam proses
konseling, maka ia akan terbuka dan jujur (disclosed), sehingga dengan mudah
menyatakan penuh (dengan jiwanya). Kalau perasaan, pengalaman dan idenya. Untuk
melibatkan klien sehingga ia terbuka, diperlukan beberapa yaitu, kepribadian dalam
konselor berkomunikasi, syarat pengetahuan/wawasan tentang klien dan keterampilan
atau teknik konseling yang bervariasi. (1) Kepribadian konselor Seorang konselor
yang efektif memiliki karakteristik kepribadian sebagai berikut: Empati, artinya dapat
merasakan apa yang dirasakan orang lain.

-Asli/jujur, yaitu perilaku dan kata-kata konselor tidak dibuat-buat akan tetapi asli dan
jujur sesuai dengan keadaannya. - Memahami keadaan klien, mampu memahami
kekuatan dan kelemahannya - Menghargai martabat klien secara Menerima klien
walau dalam keadaan bagaimanapun. Tidak menilai atau membanding-bandingkan
klien Mengetahui keterbatasan diri (ilmu, wawasan, teknik) konselor. Pemahaman
keadaan sosiai-budaya dan ekonomi klien. (2) Ilmu dan wawasan positif tanpa syarat
Ilmu konseling amat banyak didukung oleh ilmu-ilmu tentang manusia seperti filsafat
manusia, agama, psikologi, antropologt, sosiologi dan seni peran. Hal ini diperlukan
karena manusia itu mempunyai banyak segi terselubung dan merupakan teka-teki
(human enigma) Sehingga diperlukan ilmu yang banyak dan keterampilan beragam
untuk mendekatinya. (3) Penguasaan keterampilan konseling. Pada setiap tahap
konseling (tahap 1, 2, 3) terdapat teknik-teknik konseling yang harus dikuasai
konselor. Paiing tidak ada 20 teknik konseling Penggunaan teknik-teknik konseling
yang bervariasi dan berganda, amat penting. Mengenai hal ini akan dijelaskan pada
Bab VIII E. Konseling Pengembangan dan Islam Konseling sebagai proses membantu
individu agar berkembang memiliki beberapa prinsip yang penting yaitu :

1. Memberikan kabar gembira dan kegairahan hidup. Upaya Melibatkan Klien Yang
paling penting dalam hubungan konseling adalah agar konselor mampu melibatkan
klien secara klien sudah terlibat dalam proses konseling, maka ia akan terbuka dan
jujur (disclosed), sehingga dengan mudah menyatakan penuh (dengan jiwanya). Kalau
perasaan, pengalaman dan idenya. Untuk melibatkan klien sehingga ia terbuka,
diperlukan beberapa yaitu, kepribadian dalam konselor berkomunikasi, syarat
pengetahuan/wawasan tentang klien dan keterampilan atau teknik konseling yang
bervariasi. (1) Kepribadian konselor Seorang konselor yang efektif memiliki
karakteristik kepribadian sebagai berikut: Empati, artinya dapat merasakan apa yang
dirasakan orang lain.

-Asli/jujur, yaitu perilaku dan kata-kata konselor tidak dibuat-buat akan tetapi asli dan
jujur sesuai dengan keadaannya. - Memahami keadaan klien, mampu memahami
kekuatan dan kelemahannya - Menghargai martabat klien secara Menerima klien
walau dalam keadaan bagaimanapun. Tidak menilai atau membanding-bandingkan
klien Mengetahui keterbatasan diri (ilmu, wawasan, teknik) konselor. Pemahaman
keadaan sosiai-budaya dan ekonomi klien. (2) Ilmu dan wawasan positif tanpa syarat
Ilmu konseling amat banyak didukung oleh ilmu-ilmu tentang manusia seperti filsafat
manusia, agama, psikologi, antropologt, sosiologi dan seni peran. Hal ini diperlukan
karena manusia itu mempunyai banyak segi terselubung dan merupakan teka-teki
(human enigma) Sehingga diperlukan ilmu yang banyak dan keterampilan beragam
untuk mendekatinya. (3) Penguasaan keterampilan konseling. Pada setiap tahap
konseling (tahap 1, 2, 3) terdapat teknik-teknik konseling yang harus dikuasai
konselor. Paiing tidak ada 20 teknik konseling Penggunaan teknik-teknik konseling
yang bervariasi dan berganda, amat penting. Mengenai hal ini akan dijelaskan pada
Bab VIII E. Konseling Pengembangan dan Islam Konseling sebagai proses membantu
individu agar berkembang memiliki beberapa prinsip yang penting yaitu :

1. Memberikan kabar gembira dan kegairahan hidup. Upaya Melibatkan Klien Yang
paling penting dalam hubungan konseling adalah agar konselor mampu melibatkan
klien secara klien sudah terlibat dalam proses konseling, maka ia akan terbuka dan
jujur (disclosed), sehingga dengan mudah menyatakan penuh (dengan jiwanya).

Kalau perasaan, pengalaman dan idenya. Untuk melibatkan klien sehingga ia terbuka,
diperlukan beberapa yaitu, kepribadian dalam konselor berkomunikasi, syarat
pengetahuan/wawasan tentang klien dan keterampilan atau teknik konseling yang
bervariasi.

(1) Kepribadian konselor Seorang konselor yang efektif memiliki karakteristik


kepribadian sebagai berikut: Empati, artinya dapat merasakan apa yang dirasakan
orang lain.

-Asli/jujur, yaitu perilaku dan kata-kata konselor tidak dibuat-buat akan tetapi asli dan
jujur sesuai dengan keadaannya.
- Memahami keadaan klien, mampu memahami kekuatan dan kelemahannya

- Menghargai martabat klien secara Menerima klien walau dalam keadaan


bagaimanapun. Tidak menilai atau membanding-bandingkan klien Mengetahui
keterbatasan diri (ilmu, wawasan, teknik) konselor. Pemahaman keadaan sosiai-
budaya dan ekonomi klien.

(2) Ilmu dan wawasan positif tanpa syarat Ilmu konseling amat banyak didukung oleh
ilmu-ilmu tentang manusia seperti filsafat manusia, agama, psikologi, antropologt,
sosiologi dan seni peran. Hal ini diperlukan karena manusia itu mempunyai banyak
segi terselubung dan merupakan teka-teki (human enigma) Sehingga diperlukan ilmu
yang banyak dan keterampilan beragam untuk mendekatinya.

(3) Penguasaan keterampilan konseling. Pada setiap tahap konseling (tahap 1, 2, 3)


terdapat teknik-teknik konseling yang harus dikuasai konselor. Paiing tidak ada 20
teknik konseling Penggunaan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan berganda,
amat penting. Mengenai hal ini akan dijelaskan pada Bab VIII E. Konseling
Pengembangan dan Islam Konseling sebagai proses membantu individu agar
berkembang memiliki beberapa prinsip yang penting yaitu :

1. Memberikan kabar gembira dan kegairahan hidup

BAB 2 : HUBUNGAN DAN PROSES KONSELING

A. Makna Hubungan Konseling


Pengerian konseling secara umum dipakai oleh semua kaum profesional yang
melayani manusia, seperti profesi konselor, pekerja sosial, dokter, dan sebagai nya.
Hubungan konseling adalah hubungan yang membantu, artinya pembimbing berusaha
membantu si terbimbing agar tumbuh berkembang sejahtera.
Shertzer and Stone (1980).mendefinisikan hubungan konseling yaitu “interaksi antara
seorang dengan orang lain yang dapat menunjang dan memudahkan secara positif
bagi perbaikan orang tersebut.
Tujuan utama konseling adalah untuk memudahkan perkembangan individu.
Hubungan konseling terjadi juga pada relasi guru-siswa, orang tua- anak. Suami- istri
dan sebagainya.
B. Hubungan Konseling dan Agama
Jadi dalam hubungan konseling, sebaiknya konselor tidak memulai perlakuan
(treatmen) kepada kelemahan, masalah, atau kesulitan klien.
Dalam hubungan konseling yang terjadi antara pembimbing atau konselor dengan
klien, akan ditemukan karakteristik hubungan sebagai berikut.
1. Hubungan Konseling itu sifatnya bermakna, terutama klien demikian pula bagi
konselor.
2. Bersifat afek
3. Integrasi pribadi
4. Persetujuan bersama
5. Kebutuhan
6. Struktur
7. Kerjasama
8. Konselor mudah dimengerti, klien merasa aman
9. Perubahan
C. Mengembangkan Hubungan Konseling
Mengembangkan hubungan konseling adalah upaya konselor untukmeningkatkan
keterlibatan dan keterbukaan klien, sehingga akan memperlancarkan proses konseling.
Dan segera mencapai tujuan konseling yang diinginkan klien atas bantuan konselor.
D. Menciptakan Rapport
Tujuan helping relationship atau hubungan konseling adalah untuk dapat memenuhi
kebutuhan helpee(klien) dan bukan untuk memenuhi kebutuhan konselor (helper).
E. Hubungan Konseling dan Keterlibatan Klien
Ada beberapa hal yang perlu dipelihara dalam hubungan konseling yakni:
(1) Kehangatan, artinya konselor membuat situasi hubungan konseling itu demikian
hangat bergairah, bersemangat. Kehangatan disebabkan bersahabat, tidak formal, serta
membangkitkan semangat adanya dan rasa humor. rasa
(2) Hubungan yang empati, yaitu konselor merasakan apa yang dirasakan klien, dan
memahami akan keadaan diri serta masalah yang dihadapinya.
(3) Keterlibatan klien, mengikuti proses konseling persoalannya, perasaannya, dan
keinginannya. Selanjutnya dia bersemangat mengemukakan ide, alternatif dan upaya-
upaya. Keterlibatan klien dalam proses konseling ditentukan oleh faktor keterbukaan
dirinya dihadapan konselor. Jika klien diliputi keengganan dan resistensi, maka dia
tidak akan jujur mengeluarkan perasaannya yaitu terlihat klien bersungguh-sungguh
dengan jujur mengeluarkan perasaanny
Dalam bab ini dijelaskan tentang makna Hubungan Konseling yaitu membantu, dimana
pembimbing mampu berusaha membantu klien agar berkembang. Konselor mampu
membantu klien dalam berinteraksi dengan orang lain yang menumbuhkan sikap yang positif
bukan menumbuhkan sikap yang negatif klien. Banyak sekali klien yang tidak mempunyai
pedoman dalam hidup, kurangnya pendidikan mengenai agama  di akibatkan oleh kemajuan
IPTEK, terkadang orang terlena dengan kemajuan teknologi sehingga lupa dengan ibadah dan
tidak mempunyai pedoman, dan akhirnya pengaruh kemajuan alat teknologi itu membawa
dampak yang buruk yang bisa menimbulkan stres, konflik, frustasi dan banyak yang bunuh
diri. Dalam mengatasi hal seperti ini diharapkan calon konselor mampu mengatasi,
mengingatkan akan pentingnya menjaga iman dan taqwa agar seimbang dengan kemajuan
iptek.

BAB 3 : PENDEKATAN_PENDEKATAN KONSELING

Dalam bab ini dijelaskan mengenai pendekatan-pendekatan dalam konseling, namun terdapat
beberapa kekurangan dari pendekatan itu. Salah satu contohnya, seperti pendekatan
Psikoanalisa. Dalam pendekatan ini seharusnya terdapat 3 hal yaitu: stuktur, dinamika, dan
perkembangan kepribadian. Namun di dalam buku ini struktur dimasukkan ke dalam
pembahasan dinamika, seharunya dibahas dalam strukturnya bukan dalam dinamika. Begitu
pun dengan perkembangan kepribadian yang lagi-lagi dimasukkan ke dalam pembahasan
dinamika, seharusnya pembahasan terpisah sesuai dengan topiknya. Selain itu, terdapat
kekurangan dalam pendekatan Gestalt, seharusnya terdapat teknik-teknik konseling Gestalt
seperti:

1. Permainan Dialog

2. Latihan Saya Bertanggung Jawab

3. Bermain Proyeksi

4. Teknik Pembalikan

5. Tetap dengan Perasaan

BAB 4 :KUALITAS DAN PENDIDIKAN KONSELOR

Dalam bab ini dijelaskan tentang kualitas dan pendidikan konselor. Dimana kualitas
konselor sangat diperhatikan dimulai dari kepribadian, pengetahuan, wawasan, keterampilan
dan nilai-nilai yang dimilikinya dalam menjalankan proses konseling dengan mencapai tujuan
yang efektif. Sudah jelas sekali bahwasannya bahwa kualitas konselor adalah keunggulan
yang dilihat dalam proses konseling, untuk itu sikap konselor sebaiknya  ramah, sopan,
berwawan luas untuk memberikan informasi kepada kliennya, selalu senyum ketika
menghadapi klien dengan berbagai permasalahannya dan mampu memberikan bantuan serta
arahan dalam mengatasi masalah kliennya. Namun dalam bab ini juga terdapat kekurangan
mengenai pendidikan konselor yang tidak dijelaskan secara rinci, bagaimana jika ada
konselor yang membuka praktek sendiri namun dilihat secara akademik belum memenuhi
kriteria-kriteria tertentu.

BAB 5 : KARAKTERISTIK KLIEN

Dalam pembahasan ini mengenai karakteristik klien, disini dijelaskan secara rinci mulai
dari keberhasilan dan kegagalan proses konseling ditentukan oleh tiga hal yaitu:

(1) kepribadian klien;

(2) harapan klien, dan ;

(3) pengalaman/pendidikan klien, sampai dengan Peranan Negosiasi dalam Konseling.

Kelebihan dari bab ini adalah dijelaskan seluruh  bagian dari masing-masing
pembahasan, sehingga dapat dipahami dengan jelas apa saja yang termasuk dalam
karakteristik klien itu sendiri. Dari yang sebelumnya tidak tahu tentang Peranan Negosiasi
dalam Konseling menjadi tahu bahwa negosiasi adalah upaya untuk “membujuk” agar klien
merasa aman, senang, dan mau diajak bicara mengenai dirinya. Sehingga diperlukan konselor
yang mampu dalam menangani berbagai macam karakteristik klien dengan mempelajari
berbagai karakteristik klien.

BAB 6 : PERILAKU NON VERBAL

Dalam bab ini dijelaskan mengenai Perilaku Nonverbal, yaitu sebagai gerakan bahasa
tubuh, gerak isyarat. Perilaku Nonverbal sangat diperlukan oleh konselor untuk memahami
makna bahasa tubuh/ lisan yang diucapkan dari seorang klien. Dengan memahami perilaku
nonverbal, diharapkan konselor mampu mengetahui permasalahan apa yang sedang klien
hadapi, dan bisa membantu dalam memecahkan masalah tersebut. Dalam bab ini terdapat
kekurangan, mengenai penulisan judul bab yang seharusnya Perilaku Nonverbal dan yang
tertuang dalam buku ini adalah penulisan Bab III Pendekatan-Pendekatan Konseling. Dalam
hal ini kurangnya ketelitian dalam menulis buku ini, diharapkan mampu diperbaiki dengan
baik, agar yang membaca tidak bingung.

BAB 7 : KREATIVITAS KONSELOR DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN

Dalam pembahasan bab ini adalah Kreativitas Konselor Dalam Mengambil Keputusan.
Kreativitas itu kemampuan untuk memunculkan hal-hal yang baru dalam kondisi yang lama
dan bersifat spontan. Disini seorang konselor diperlukan memiliki kreativitas dalam
mengambil keputusan. Misalnya terdapat klien yang memiliki masalah yang begitu rumit,
disini konselor harus mendengarkan apa yang disampaikan klien dengan aktif dan
memperhatikan setiap kata-kata yang keluar pada pembicaraan klien. Setelah klien
menyampaikan berbagai informasi yang disampaikan kepada konselor, kemudian konselor
memunculkan alternatif-alternatif untuk membangkitkan dan membantu klien menghilangkan
pola lama yang tidak baik untuk dikonsumsi terlalu lama, dan memudahkan terjadinya proses
pengambilan keputusan, dan menemukan solusi yang mengarah guna untuk memecahkan
masalah. Konselor harus mampu berkreativitas dalam mengambil keputusan secara spontan
yang sedang dialami klien, tidak terlalu lama mengambil keputusan karena bisa menyebabkan
klien merasa jenuh.

BAB 8 : TEKNIK-TEKNIK KONSELING

Dalam bab ini sangat diperlukan mengenai teknik-teknik Konseling, karena dengan
menguasai teknik-teknik konseling individual akan lebih mudah menjalankan proses
bimbingan dan konseling. Terdapat beberapa kelebihan pada bab ini, diantaranya:

1. Pembaca mengetahui berbagai ragam teknik-teknik Konselor

2. Konselor mampu menguasai teknik-teknik konseling, dengan melalui berbagai


latihan, yaitu microcounseling dan macrocounseling

BAB 9 : MANUAL DAN PROSEDUR MICROTRAINING

Dalam bab ini dijelaskan tentang Manual dan Prosedur Microtraining, yang merupakan
latihan sistematik. Digunakan dalam teknik konseling dengan diberikan manual dan prosedur
latihannya. Dimana peran konselor dalam melakukan attending mampu meningkatkan harga
diri klien, menciptakan suasana aman bagi klien, memberikan keyakinan kepada klien bahwa
konselorlah tempat untuk mencurahkan segala isi hati dan perasaannya. Sehingga klien
terbuka dalam menceritakan permasalahan kepada konselor, dimana perilaku attending dari
konselor pun tentunya harus diperhatikan perilaku non verbal seperti kontak mata, bahasa
lisan dan gerak tubuh.

BAB 10 : ANALISIS PROSES KONSELING DALAM STUDI KASUS

A Pengantar Praktik

konseling adalah pekerjaan profesional. Karena itu bagi seorang konselor dituntut
pemahaman secara menyeluruh tentang tujuan, struktur, dan proses konseling. Terutama yang
harus dikuasai oleh konselor adalah:

(1) Hubungan konseling

(2) Respon konselor terhadap perilaku verbal dan nonverbal klien

(3) Kemampuan melibatkan klien dalam pembicaraan yang mana klien cukup terbuka dan
jujur (4) Kemampuan membuka awal konseling yang dapat mengungkap permasalahan atau
isu pokok dari klien

(5) Meningkatkan proses konseling sehingga tercapai tujuan

(6) Mengakhiri proses konseling yang bermakna, yakni menurunnya kecemasan klien dan
adanya rencana hidup klien selanjutnya. Dengan kata lain tujuan konseling adalah tujuan
klien. Dalam praktik konseling selama ini tercermin masih banyaknya konselor yang belum
mencapai tujuan sebagaimana diharapkan klien, karena lemahnya kemampuan teori dan
keterampilan. Khusus kelemahan dibidang keterampilan konseling, terlihat dalam respon
konselor terhadap perilaku verbal dan nonverbal.

Dalam pembahasan bab ini adalah Analisis Proses Konseling Dalam Studi Kasus.
Dijelaskan bahwa tujuan dari bab ini yaitu untuk memberikan analisis kasus yang ditangani
calon konselor dan konselor khususnya di sekolah dan di luar sekolah. Jadi tujuan ini
diharapkan para calon konselor dan konselor mampu menganalisis studi kasus yang ada di
sekolah dengan cara wawancara konseling, catatan yang dibuat, baik dengan analisis refleksi,
empati dan sebagainya. Agar upaya konselor untuk mendekati klien untuk mencapai rapport
(hubungan akrab antara konselor-klien).
BAB 11 PRAKTEK PROFESIONAL DAN ETIKA KONSELING

A Profesionalisasi Konseling

1. Sejarah Singkat Konseling adalah profesi abad ke-20 (Blocher, 1987). Ungkapan ersebut
telah menjadi kenyataan di AS. Untuk menjadikan konseling suatu profesi. harus melalui
proses yang panjang dan berliku. Artinya diperlukan kerja keras agar memenuhi persyaratan
untuk organisasi, hadan akreditasi, badan yang menguji calon konselor, serta memenuhi etika
dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Setelah perang Dunia II selesai, banyak sekali anak
muda eks milisi pulang kampung. Mereka memerlukan pekerjaan dan selanjutnya
berkeluarga. Mereka membutuhkan uang untuk membiayai diri dan keluarga. Masyarakat
mengeritik bertubi-tubi pemerintah negara bagian dan federal agar mencarikan solusi
terhadap para penganggur muda

2. Perkembangan Profesi Konseling Perkembangan profesi konseling modern terjadi pada


saat Carl Rogers (1951) mulai mengembangkan teorinya Client Centered Therapy Dia adalah
seorang tokoh besar didalam aliran humanistik yang mengembangkan konseling terpusat
pada klien. Dia adalah seorang tokoh besar didalam aliran humanistik dengan
mengembangkan pendekatan konseling terpusat pada klien (client centered counseling).
Konseling ini mengembangkan potensi klien, harus menghargai dan memberdayakan klien
untuk mencapai kemandirian, kreatif, produktif, dan klien dapat memecahkan masalahnya
sendiri sehingga dia merasa bahagia. Dalam isu profesional, muncul standar-standar yang
mendasari profesi seperti etika, teknis, prosedur, dan hal-hal yang berhubungan dengan
budaya dari klien yang dihadapi. Dengan kata lain konseling yang profesional tidak mungkin
dilakukan oleh siapa saja, akan tetapi harus menguasai ilmu, teknis (keterampilan), kode etik,
dan budaya. Isu-isu legal

Berdasarkan pandangan-pandangan tentang klien di atas maka profesi konselor disamping


memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam definisi, maka yang tidak kalah
pentingnya adalah pemahaman tentang klien beserta lingkungan sosial dan budayanya Untuk
itu yang mencakup pada profesi konselor adalah: (1) Identitas profesional: (2) Etika
konseling: (3) Berbagai setting konseling, dan; (4) Berbagai aspek klien sebagai manusia.

Dalam bab ini dijelaskan tentang Praktek Profesional dan Etika Konseling.
Perkembangan profesi konseling diantaranya konseling yang mampu mengembangkan
potensi klien, dimana kita ketahui bahwa sebenarnya potensi klien ada dalam diri klien itu
sendiri dan kita membantu untuk mengambangkan potensi yang ada dalam diri klien. Sebagai
konselor sudah seharusnya menghargai klien demi mencapai kemandirian, kembangkan
kreatif dalam diri klien, melakukan hal yang produktif, itu semua dilakukan oleh diri klien
sendiri guna dapat memecahkan masalahnya sendiri dan merasa senang. Selain itu hubungan 
antara konselor dan klien harus dibatasi dengan adanya etika susila. Menjadi point penting
dengan dijelaskannya kode etik konseling menjadi kelebihan dari bab ini, sehingga para
pembaca mengetahui kode etik hubungan konselor dan klien.

BAB 12 : PRAKTEK KONSELING DISEKOLAH

Hasil dari study Dani (1984) dan Ineu Meryati (1996) mahasiswa jurusan PPB-IKIP
Bandung, atas bimbingan penulis, meneliti mengenai kemampuan guru-guru pembimbing
SMA di Jawa Barat dalam memberikan konseling terhadap para siswa telah membuktikan
hal-hal berikut ini.

1. Kebanyakan Pembimbing Sma tidak mampu bersama klien (siswa) untuk


mendefinisikan masalah siswa pada Tahap Awal Konseling.
2. Kurangnya Keterampilan pembimbing dalam mengaplikasikan teknik-teknik
konseling
3. Tidak mampu membantu pengembangan potensi dan penyelesaian masalah siswa
secara tuntas.
4. Kebanyakan pembimbing sekolah yang diteliti tidak memahami tahapan-tahapan
proses konseling serta tujuan isi dan teknik-teknik konseling yang dapat digunakan
pada setiap tahapan tersebut.

A. Praktek Konseling
Praktek konseling adalah suatu cara yang dilakukan untuk memberikan keterampilan
konseling kepada para calon konselor agar terampil memberikan bantuan terhadap
kliennya, sehingga klien tersebut berkembang dan punya rencana masalahnya, dan
mampu menyesuaikan diri. hidup, mandiri, mampu mengatasi.

B. Teknik di Tiap Tahap Konseling

1. Keterampilan Konseling Kegiatan konseling tidak berjalan tanpa keterampilan. Untuk


menguasai beragam keterampilan konseling diperlukan praktek yang terus menerus. Selama
lima tahun terakhir ini sudah terlibat kecenderungan adanya keseimbangan antara teori
dengan praktek konseling. Hal ini mengingatkan kita pada suatu kurun waktu dimana banyak
lulusan yang hebat dalam teori dan lemah sekali dalam praktek konseling. Belajar dari
pengalaman tersebut, praktek konseling mikro dan nakro amat dirasakan keperluannya.
Konseling mikro (microcounseling disebut juga microtraining, yaitu konseling dalam setting
lab yang mencakup kegiatan-kegiatan: () Penayangan rekaman video konseling mikro;

(2) Pemberian materi dan petunjuk latihan (simulasi, bermain peran):

(3) Pelatihan:

(4) Perekaman video:

(5) Tayangan ulang, dan;

(6) Evaluasi sebagai masukan (input)

Dalam pembahasan ini dipaparkan mengenai Praktek Konseling di Sekolah, dengan


teknik-teknik konseling yang sebelumnya telah di bahas dalam bab 8. Dimana teknik-teknik
konseling ini diperlukan dalam proses konseling di sekolah. Praktek konseling dilakukan
untuk memberi keterampilan kepada calon konselor agar terampil dalam memberikan
bantuan kepada klien. Aliran pada umumnya datang dari Barat, yang tidak bebas nilai dan
budayanya. Dalam hal ini akan dimanfaatkan adalah nilai-nilai Islam, seperti yang saat ini
saya tekuni dalam Bimbingan Konseling Islam. Namun kekurangan pada bab ini adalah
kurang up to date mengenai Bimbingan Konseling Islam yang sebetulnya telah berkembang
dalam PTN UIN Bandung , dengan mengkaji nilai-nilai yang diambil dari Al-Qur’an dan
Hadits. Dalam Bimbingan Konseling Islam lebih beragam kajiannya seperti Konseling
keluarga sakinah, filsafat konseling dan sebagainya.

RINGKASAN BUKU KEDUA :

BAB 1
KONSEP DASAR MICROTEACHING

A.Pengertian Microteaching

Microteaching berasal dari dua kata, micro dan teaching. Micro berarti kecil, terbatas,
sempit, dan sedikit. Teaching berarti mengajar. Dengan demikian, microteaching adalah
kegiatan mengajar dengan segala aspek pengajarannya di perkecil atau disederhanakan
sehingga tidak serumit kegiatan mengajar biasa.
Dari pandangan beberapa ahli juga dapat disimpulkan bahwa microteaching dapat
diartikan sebagai model pelatihan guru/calon guru untuk menguasai keterampilan mengajar
tertentu melalui proses pengajaran yang sederhana.

B.Karakteristik Microteaching
1. Microteaching is real teaching
2. Microteaching lessons the complexities of normal classroom teaching
3. Microteaching focuses on training for the accomplishment of specific tasks
4. Microteaching allows for the increased control of practice
5. Microteaching greatly expands the normal knowledge of results or feedback dimension in
teaching

C.Fungsi Microteaching

• Memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan dasar
mengajar
• Calon guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya sebelum mereka terjun ke
lapangan
• Memberikan kemungkinan bagi calon guru untuk mendapatkan bermacam-macam
keterampilan dasar mengajar

D.Tujuan Microteaching

Tujuan utama microteaching ialah untuk membekali dan/atau meningkatkan performance


calon guru dalam mengadakan kegiatan belajar mengajar melalui pelatihan keterampilan
mengajar.

E.Manfaat Microteaching

1. Menyelesaikan masalah yang dihadapi pelaksana program persiapan guru


2. Menghemat waktu dan tenaga
3. Melatih guru dengan sejumlah keterampilan mengajar yang penting
4. Melatih guru menyusun dan mempersiapkan materi pelajaran
5. Menyediakan waktu bagi guru yang berlatih untuk mengetahui kekurangan dan
kelebihannya dari aspek keilmuan, amaliah, dan seni
6. Memberikan kesempatan bagi guru untuk bertukar peran antara mereka dan
mengidentifikasikan masalah-masalah pengajaran dari jarak dekat
7. Mengorelasikan antara teori dan aplikasi

F.Asas dan Prinsip Microteaching


1. Kerja sama
2. Sinergi
3. Integritas Ilmiah
4. Inovasi
5. Akuntanbilitas

BAB II
PELAKSANAAN MICRO TEACHING

A.Aspek-Aspek yang Dimikrokan

Meliputi : 1. Materi ajar


2. Waktu Mengajar
3. Jumlah siswa
4. Jumlah keterampilan

B.Komponen Microteaching

• Teacher trainee
• Observer
• Student
• Supervisor

C.Prasyarat Pelaksana Microteaching

Prasyarat yang utama yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksaan microteaching adalah
laboratorium. Laboratorium sangat penting sebagai tempat percobaan, pelatihan, dan
penilaian ilmiah. Selain itu, prasyarat yang lain adalah ruang observasi, ruang operator, dan
ruang proyeksi.

D.Fase Pelaksanaan Microteaching

(1) Fase akuisisi pengetahuan; (2) fase akuisisi keterampilan; (3) fase transfer

E.Model Pelaksanaan LCMT

LCMT merupakan singkatan dari learner-centered micro teaching. Model LCMT adalah
model pelaksanaan microteaching yang berpusat pada pembelajar. Model ini menghendaki
microteaching melibatkan peran aktif teacher trainee mulai dari proses berpikir, membuat
keputusan, melakukan aktivitas, sampai dengan evaluasi mengajar.

BAB III
SIKLUS MICROTEACHING
Meliputi :
PLAN->TEACH->FEEDBACK->RE-PLAN->RE-TEACH->RE-FEEDBACK

BAB IV
PENILAIAN MICROTEACHING
A.Pengertian Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan
menafsirkan data tentang proses dan hasil prestasi belajar.
B.Tujuan Penilaian Microteaching
1. Menentukan tingkat pencapaian kemampuan dasar
2. Menilai peningkatan dan perkembangan kemampuan siswa
3. Mendiagnosis kesuitan belajar
4. Mendorong mahasiswa belajar mengembangkan rencana pembelajaran
5. Mendorong dosen agar lebih meningkatkan pembimbing yang baik
6. Memberikan informasi kepada UPPL seabagai masukan dalam menentukan kebijakan
pelaksanaan praktik mengajar mikri di sekolah/lembaga
C.Prinsip Penilaian Microteaching
• Valid dan reliable
• Objektif
• Adil
• Terbuka
• Bermakna
• Edukatif
• Berkesinambungan
D.Komponen dan Teknik Penilaian
- Komponennya meliputi : orientasi dan observasi, rencana pembelajaran, dan praktik
microteaching
- Tekniknya meliputi : teknik tes dan teknik notes
BAB V
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Keterampilan dasar mengajar antara lain :
1. Membuka dan menutup pelajaran
2. Menjelaskan
3. Mengadakan variasi
4. Memberikan penguatan
5. Bertanya
6. Mengelola kelas
7. Mengajar kelompok kecil dan perorangan
8. Membimbing diskusi kelompok kecil

BAB VI
PENGELOLAAN BELAJAR DALAN MACROTEACHING
A.Pesan Guru dalam Pengajaran
- Guru sebagai demonstrator
- Guru sebagai fasilitator
- Guru sebagai motivator
- Guru sebagai pemacu belajar
- Guru sebagai perekayasa pembelajaran
- Guru sebagai pemberi insprasi
B.Pengelolaan Siswa

1.Mengenal keragaman karakteristik siswa yang meliputi: kecakapan siswa, gaya belajar, dan
kepribadian siswa
2. Belajar secara klasikal, kelompok, dan individual
3.Mengaktifkan siswa

C.Pengelolaan Bahan atau Materi Ajar

Diperlukan silabus yang dikembangkan berdasarkan prinsip: ilmiah, relevan, sistematis,


konsisten, memadai, actual dan kontekstual, fleksivel dan menyeluruh

D.Pengelolaan Fasilitas Belajar

Terbagi atas: Fasilitas belajar indoor dan Fasilitas belajar outdoor

D.Pengelolaan Waktu Belajar

Pengelolaan waktu mengajar harus dikaitkan dengan banyaknya kompetensi yang harus
dikuasai siswa dan kerumitan kemampuan siswa yang akan dikembangkan. Pengelolaan
waktu belajar dirancangdalam bentuk kalender pendidikan. Kalender pendidikan merupakan
pengaturan waktu pembelajaran selama satu tahun pelajaran.

F.Keterampilan Mengajar dalam Macroteaching

(1) Behavior-modification approach; (2) Socio-emotional climate approach; (3) Group


processes approach
BAB IV

PEMBAHASAN

KEKURANGAN BUKU

kekurangan pun kelak ada berdampingan. Adapun kekurangan yang terdapat buku ini adalah
dibuku ini membahas bahwa kondisi di Indonesia itu menerapkan mengenai humanistik-religius,
yang membahas bahwa bimbingan dan konseling itu menjurus kepada pengembangan potensi dan
penyerahan diri kepada Allah SWT. Namun, pembahasan proses Konseling Islami jarang disinggung
lagi dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya. Tatanan praktis yang ada dalam buku ini menjadi
kurang lengkap rasanya. Terlebih lagi khususnya bagi kami sebagai mahasiswa jurusan Bimbingan
dan Konseling Islam

KELEBIHAN BUKU

Kelebihan yang terdapat dalam buku ini ialah pembahasan konseling individual yang
dibahas secara praktis dan memiliki cakupan yang luas. Karena didalamnya dibahas
keseluruhan bagaimana kegiatan proses konseling baik konseling dalam pendidikan, dsb.
Kepraktisan buku ini dapat dilihat juga dengan banyaknya contoh dan studi kasus pada setiap
pembahasan bagaimana proses konseling itu berlangsung, hingga sampai si pembaca dapat
melihat langsung contoh analisis proses kegiatan konseling. Setiap akhir dari pembahasan
dibuat contoh beserta penjelasannya itu seperti apa. Dalam buku ini pula tidak begitu banyak
memaparkan teori-teori, namun ranah praktis inilah yang ditonjolkan. Hal ini memberikan
kemudahan bagi kita untuk memahami proses konseling yang sebenarnya itu seperti apa dan
tidak lagi membingungkan kita bagaimana praktek konseling itu seharusnya berlangsung

Cara Penulis dalam Menyampaikan Gagasannya

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam bukunya bahwa menurut Prof. Sofyan S.
Willis dengan adanya buku ini baik bagi seorang konselor pendidikan maupun konselor
umum/masyarakat dapat diterapkan dibidangnya masing-masing. Dan bahkan ada sifat dan
cara menangani “klien” sesuai bidang pekerjaan seperti kedokteran, dunia usaha, dan
pendidikan. Jika dibaca buku ini, berarti semua orang perlu karena harus berinteraksi dan
membantu orang lain. Cara penulis menyampaikan pesan ini secara umum bahwa buku ini
diperuntukkan bagi siapa saja yang melakukan komunikasi dan interaksi antar manusia, dan
penyampaian materi yang dipaparkan dalm buku “Konseling Individual” ini cukup terperinci.
Selain itu, penulisan buku ini juga senantiasa disesuaikan dengan kondisi di Indonesia seperti
apa dan bagaimana. Sehingga gagasan yang disampaikan lebih riil dan mudah dipahami
apalagi untuk para calon konselor.

Komentar terhadap Setiap Bab

Buku ini berjudul “Konseling Individual”, yang mengadung makna bagaimana seseorang
berbicara dengan orang lain dengan tujuan untuk membantu agar terjadi perubahan perilaku
positif dari orang yang dibantu (klien). Dalam konseling individual, baik klien maupun
konselor harus bekerjasama agar klien dapat memahami diri dan permasalahannya serta
mampu mengembangkan potensi positif dalam dirinya. Selanjutnya konselor harus memiliki
keterampilan konseling, dan memahami betul struktur proses tahapan dalam  konseling.

DAFTAR PUSTAKA

PROF. DR. SOFYAN.S., KONSELING INDIVIDUAL TEORI DAN PRAKTEK, 2014,