0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan2 halaman

Ulasan Kasus PHK Buruh PT Tainan

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Tiga buruh PT Tainan, yaitu Dasir, Fitria Susanti, dan Mudhoif Eli Sugandhi di-PHK setelah melakukan aktivitas serikat pekerja atau menuntut hak-haknya 2. Manajemen PT Tainan dinilai tidak menghormati hak-hak buruh seperti cuti melahirkan dan sering memaksa buruh lembur tanpa kompensasi 3. Kasus-kasus PHK tersebut diajukan

Diunggah oleh

Tiyas Hilmi S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan2 halaman

Ulasan Kasus PHK Buruh PT Tainan

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Tiga buruh PT Tainan, yaitu Dasir, Fitria Susanti, dan Mudhoif Eli Sugandhi di-PHK setelah melakukan aktivitas serikat pekerja atau menuntut hak-haknya 2. Manajemen PT Tainan dinilai tidak menghormati hak-hak buruh seperti cuti melahirkan dan sering memaksa buruh lembur tanpa kompensasi 3. Kasus-kasus PHK tersebut diajukan

Diunggah oleh

Tiyas Hilmi S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kronologis Kasus PHK 3 Buruh PT Tainan

Jakarta – Pada 18 Agustus 2015, manajemen PT Tainan melarang Dasir masuk kerja. Alasannya, masa
kontrak kerja Dasir telah habis. Dasir menolak, karena sejak 2007 Dasir menerima surat perjanjian kerja
sebagai buruh tetap.

Pemecatan terhadap Dasir diduga memiliki kaitan dengan pembelaannya terhadap anggotanya di serikat
buruh untuk mendapatkan hak cuti melahirkan. Dasir dilarang masuk kerja setelah melakukan
pembelaan terhadap kasus cuti melahirkan anggota FSBI, Fitria Susanti. Dasir sendiri adalah Ketua
Federasi Serikat Buruh Indonesia (FSBI) PT Tainan.

Peristiwa tersebut bermula ketika Fitria Susanti mengajukan cuti melahirkan, pada bulan Agustus 2015.
Pihak manajemen perusahaan menyarankan agar Fitria Susanti mengundurkan diri dan dapat kembali
bekerja dengan menandatangani kontrak baru, dan dijanjikan akan tetap diperhitungkan masa kerjanya
sejak 2005.

Fitria meminta pendapat HRD (human resource departement) PT Tainan dan mendapatkan jawaban
yang tidak memuaskan. Fitria Susanti dinilai tidak berhak mendapatkan cuti melahirkan karena
hubungan kerjanya berstatus kontrak. Karena masa kerjanya telah bertahun-tahun, Fitria pun
menanyakan haknya ketika mengundurkan diri. Namun HRD tidak memberikan jawaban pasti.

Lalu Fitria mengadu kepada pengurus serikat buruh. Ketua serikat pekerja PT Tainan, Dasir,
menyarankan agar Fitria mengajukan cuti secara tertulis, sebagaimana peraturan perundangan.

Fitri pun menempuh saran dari Dasir. Fitria membawa surat keterangan dari bidan untuk melaksanakan
cuti melahirkan pada 11 Agustus hingga Desember 2015. Surat pengajuan cuti diterima oleh
manajemen.

Pada 25 Agustus 2015, Fitria melahirkan di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta. Namun, ketika hendak
menggunakan pelayanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan, ternyata BPJS sudah
dinonaktifkan oleh manajemen PT Tainan. Dan selama melahirkan upah Fitria tidak dibayar.

Kasus PHK yang dialami oleh kedua buruh tersebut, kemudian diadukan oleh serikat ke Suku Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta Utara. Dan pada tanggal 19 Januari 2016, Sudinakertrans Jakarta
Utara mengeluarkan surat anjuran kepada perusahaan.

Adapun isi dari surat anjuran tersebut adalah mempekerjakan kembali Dasir dan Fitria. Serta
membayarkan upah selama cuti melahirkan Fitria, sebesar 15,5 juta rupiah. Dan upah selama proses
PHK Dasir sebesar 15,5 juta rupiah.

Namun menurut Dasir, surat anjuran tersebut tidak digubris oleh perusahaan, dan hingga kini kasusnya
masih belum menemui titik temu.
Pada kasus yang berbeda namun masih di satu perusahaan yang sama, pada 15-20 November 2015.
Mudhoif Eli Sugandhi mengikuti kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Asia Floor Wage (AFWA)
Indonesia di Bangladesh. Untuk mengikuti kegiatan tersebut Mudhoif Eli Sugandhi mengajukan
dispensasi selama 5 hari.

Namun sepulangnya dari kegiatan serikat, Mudhoif Eli Sugandhi dilarang masuk kerja. Alasan yang
diberikan oleh perusahaan adalah Mudhoif Eli Sugandhi telah mangkir dari kerja. Perusahaan sendiri
telah mengirimkan surat pemberitahuan tersebut, namun yang bersangkutan tidak menerimanya karena
masih melakukan kegiatan.

Survei AFWA Indonesia yang dilakukan kepada 30 buruh di PT Tainan, telah mengumpulkan informasi
bahwa 9000 buruh PT Tainan hampir 90% hubungan kerjanya kontrak, dengan durasi kontrak 6 bulan
dan terus menerus diperbarui. Sementara perempuan-perempuan buruh tidak mendapatkan hak cuti
melahirkan dan cuti haid. Dan cuti tahunan hanya 6 hari.

Sementara terkait dengan jam kerja dan lembur. Setiap hari buruh diwajibkan masuk kerja pada pukul
7.05, padahal jam kerja resminya adalah pukul 7.30. Kelebihan jam kerja tidak perhitungkan sebagai
lembur.

Setiap 1 jam, buruh di bagian produksi diwajibkan mencapai target 115-200 pieces. Padahal target
tersebut hanya mungkin dicapai per 2 jam. Setiap hari buruh diwajibkan lembur sekitar 3 sampai 5 jam.
Jajaran manajemen akan membentak, mengancam, dan memaki jika buruh menolak lembur.

Anda mungkin juga menyukai