Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH FARMAKOLOGI

“ OBAT TELINGA”

DISUSUN OLEH
TIARA SALSABILA (1804145)
HAFIZATUL HASANAH (1804162)
RILA SALSABILA (1804180)

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA


YAYASAN PERINTIS
PADANG
2020
II. PEMBAHASAN
A. Aspek Farmakokinetika Obat Telinga
Aspek farmakokinetika pada obat yang diberikan
topikal, atau langsung ke dalam telinga atau melalui rute
sistemik, pada dasarnya sama dengan obat untuk sistem
organ yang lain. Beberapa hal yang khas, antara lain:
Absorbsi
Beberapa aspek yang berhubungan dengan absorbsi
obat sehingga dapat mencapai telinga dalam:
1. Kompartemen cairan
Sebagian besar struktur koklea, dilindungi barier
darah koklea atau labirin (blood-cochlear barrier /
blood-labyrinthine barrier) dari aliran darah sistemik.
Cairan dalam telinga terdiri atas 4 macam yaitu :
(1) aliran darah sistemik; (2) perilymph,cairan yang
komposisinya mirip dengan cairan sebrospinal, (3)
endolymph, cairan yang tinggi kandungan K, dan (4)
cairan ekstraseluler pada tulang koklea.
2. Mekanisme Barrier
keberdaan barier ini mebatasi obat yang
mencapai koklea. Sel-sel endotel yang menyusun
kapiler pada koklea, sangat rapat, sehingga lebih sulit
obat melintasinya. Endotel ini juga muatannya lebih
positif, sehingga hanya jika jumlah obat yang tak
terionisasi tinggi, dapat melintasinya.
Distribusi
Distribusi obat dalam darah ke jaringan, tergantung pada
beberapa aspek:
1. Aliran darah sistemik; semakin baik dan lancar
peredaran darah, maka transportasi obat akan
semakin baik
2. Konesntrasi protein pengangkut; di dalam darah,
sebagain besar obat akan berikatan dengan protein
pengangkut, yaitu albumin untuk obat yang bersifat
asam, dan alfa glikoprotein untuk obat yang bersifat
basa. Ikatan obat dengan protein pengankut ini
mempunyai dampak minimal pada 2 aspek, yaitu
mempercepat proses transportasi obat dan
mengurangi konsentrasi obat bebas dalam darah
(cairan tubuh lainyya), sehingga mengurangi
kemungkinan terjadinya efek toksik (obat yang
bekerja adalah obat yang tidak berikatan dengan
protein pengangkut).
3. Ikatan obat dengan jaringan; beberapa obat dapat
diikat oleh jaringan dalam jumlah yang signifikan.
Ikatan oleh jaringan ini dapat mengakibatkan
beberapa hal seperti efek obat akan lebih lama terjadi
jika dosis obat “biasa”, efek obat akan lebih lama
karena pelepasan obat tersebut dari jaringan, dan
terjadinya efek toksik pada jaringan penyimpan.

Metabolisme (biotrasformasi)
Metabolisme obat yang utama terjadi di hepar,
sehingga struktur dan fungsi hepar, sangat berpengaruh.
Tujuan dari proses biotrasformasi obat adalah:
1. Mengubah obat yang aktif menjadi obat yang kurang
aktif atau menjadi tidak aktif. Pada proses ini, obat
juga dibuat menjadi lebih larut air sehingga lebih
mudah diekresi melalui ginjal. Hal ini dapat
mengurangi konsentrasi obat aktif dalam darah
sehingga dapat mencegah terjadinya toksistas obat.
Sebagian besar obat, dimetabolisme dengan tujuan
ini.
2. Mengubah obat yang aktif menjadi obat yang
aktif.
3. Mengubah obat yang tidak aktif (pro drug)
menjadi obat yang aktif
Kerusakan fungsi hepar, akan menghambat proses
metabolisme obat, sehingga efek obat cenderung
lebih lama, dan kemungkinan terjadinya efek toksik
meningkat. Pada kerusakan hati yang berat dan luas,
dosis obat harus dikurangi atau interval pemberiannya
diperjauh.

Ekskresi
Jalur ekskresi obat antara lain melalui ginjal (sebagian
besar obat); pernapasan (obat inhalasi), empedu (obat
yang larut lemak), ASI (obat yang larut lemak), keringat.
Kerusakan ginjal yang berat dapat menghambat
proses ekskresi sehingga obat lebih lama bertahan dalam
darah, efek obat memanjang, dan kemungkinan efek
toksik meningkat.
Proses ekskresi melalui ginjal, dapat dioptimalkan
dengan mencegah proses reabsorbsi dalam tubulus.
Prinsip reabsorbsi sama dengan prinsip absorbsi. Dengan
merubah pH kompartemen berlawanan dengan pKa obat,
(asam-basa atau basa-asam) akan memperbesar fraksi
obat yang terionisasi, sehingga proses reabsorbsi
dihambat dan proses ekskresi dioptimalkan.

B. Penyakit pada Telinga


1. Otosklerosis
a. Pengertian
Otosklerosis merupakan gangguan pendengaran
yang disebabkan karena kekakuan tulang-tulang
pendengaran.
b. Penyebab
Penyebab pasti otosklerosis sebenarnya masih
dteliti. Namun sejauh ini sebagian kasus
otosklerosis disebabkan oleh adanya kelainan
genetic yang diturunkan dari orang tua keanak.
c. Obat-obat otosklerosis
- Natrium dokusat
Dosis : gunakan secukupnya pada telinga,
tidak boleh lebih dari 2 malam berturut-turut.
Bentuk sediaan : tetes telinga
Mekanisme kerja : natrium dokusat memiliki
tegangan permuaan yang rendah dan mudah
bercampur sehingga dengan cepat akan
melakukan penetrasi kedalam massa
serumen yang kering, mengubah material
padat menjadi semi padat.
Efek samping : rasa tersengat sesaat atau
iritasi dapat terjadi.

2. Kolesteatoma
a. Pengertian
Adalah abnormalitas pertumbuhan epitel
skuamosa berkeratin ditelinga tengah, meatus
akustikus eksternal, tulang mastoid dan
petrosum.

b. Penyebab
Yaitu tergangunya fungsi tabung eustachius.
Eustachius adalah saluran penghubung telinga
tengah dengan saluran hidung.
c. Obat- obat kolesteatoma
- Gentamycin
Dosis : 2- 4 tetes pada telinga yang sakit, 3-4
kali sehari. Setelah diperoleh respon yang
diharapkan, kurangi dosis secara bertahap
dan hentikan bila tercapai kesembuhan.
Bentuk sediaan : tetes telinga
Mekanisme kerja : aktivitas antibakteri
gentamycin, terutama tertuju pada pada
basil gram negative yang aerobic. Aktivitas
terhadap bakteri gram positif sangat
terbatas. Gentamycin aktif terhadap
staphylococcus namun resisten terhadap
stertococus dan eneterococcus.
Efek samping : reaksi sensitivitas local,
iritasi, rasa gatal, perh, dermatitis.

4.