Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar
1. Pengertian Lansia
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menua bukanlah suatu
penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan
kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan
dari dalam dan luar tubuh, seperti didalam Undang-Undang No13 tahun 1998 yang isinya
menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, telah
menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup
makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah (Kholifah, 2016)
2. Batasan Usia Lansia
Usia yang dijadikan patokan untuk lanjut usia berbeda-beda umumnya berkisar antara 60-
65 tahun. Beberapa pendapat para ahli tentang batasan usia menurut adalah sebagai berikut:
Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah empat tahapan yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) usia > 90 tahun

Di indonesia batasan usia lanjut adalah 60 tahun ke atas terdapat dalam UU no 13 tahun
1998 tentang kesejahteraanlanjut usia. Menurut UU tersebut diatas lanjut usia adalah
seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita (Padila,2013).
3. Proses Menua
Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu masa anak,
masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Pertambahan
usia akan menimbulkan perubahan-perubahan pada struktur dan fisiologis dari berbagai
sel/jaringan/organ dan sistem yang ada pada tubuh manusia. Proses ini menjadi
kemunduran fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit mengendur,
rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, dan
kelaianan berbagai fungsi organ vital. Sedangkan kemunduran psikis terjadi peningkatan
sensitivitas emosional, penurunan gairah, bertambahnya minat terhadap diri, berkurangnya
minat terhadap penampilan, meningkatkan minat terhadap material, dan minat kegiatan
rekreasi tidak berubah (hanya orientasi dan subyek saja yang berbeda) (Mubarak, 2009).
Namun, hal di atas tidak menimbulkan penyakit. Oleh karena itu, Lansia harus senantiasa
berada dalam kondisi sehat, yang diartikan sebagai kondisi :
a. Bebas dari penyakit fisik, mental, dan sosial.
b. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
c. Mendapatkan dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat.

Adapun dua proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan secara sekunder.
Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan pada tingkat sel, sedangkan penuaan
sekunder merupakan proses penuaan akibat faktor lingkungan fisik dan sosial, stres
fisik/psikis, serta gaya hidup dan diet dapat mempercepat proses penuaan (Mubarak, 2009).

Ada beberapa teori yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu teori biologi, teori
psikologis, teori sosial dan teori konsekuensi personal.
a. Teori biologi

1) Teori Jam Genetik


Teori genetik menyebutkan bahwa manusia secara genetik sudah terprogram
bahwa material didalam inti sel di katakan bagaikan memiliki jam genetis terkait
dengan frekuensi mitosis. Teori ini di dasarkan pada kenyataan bahwa spesies-
spesies tertentu memiliki harapan hidup (lifespan) yang tertentu. Manusia memiliki
rentang kehidupan maksimal sekitar 110 tahun, sel- sel di perkirakan hanya mampu
membela sekitar 50 kali, sesudah itu akan mengalami deteriorasi (Padila, 2013).

2) Wear and Tear Theory


Menurut teori wear and tear disebutkan bahwa proses menua terjadi akibat
kelebihan usaha dan stres yang menyebabkan sel tubuh menjadi lelah dan tidak
mampu meremajakan fungsinya (Padila, 2013)

3) Teori Stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel – sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi
jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha
dan stress menyebabkan sel- sel tubuh telah terpakai (Padila, 2013).

4) Slow Immunology Theory


Sistem imun menjadi kurang efektif dalam mempertahankan diri, regulasi dan
responbilitas. Didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat
khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak dapat bertahan sehingga zat
tersebut menjadi jaringan lemah.

5) Teori Radikal Bebas


Radikal bebas terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas
mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan
protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat melakukan regenerasi (Padila,
2013).

6) Teori Rantai Silang


Kolagen yang merupakan unsur penyusun tulang diantara susunan molecular, lama
kelamaan akan meningkat kekakuanya(tidak elastis), hal ini disebabkan oleh
karena sel- sel yang sudah tua dan reaksi kimianya menyebabkan jaringan yang
sangat kuat (Padila, 2013).

7) Teori Mutasi Somatik


Terjadi kesalahan dalam proses transkrip DNA dan RNA dan dalam proses
translasi RNA protein/enzim. Kesalahan ini terjadi terus-menerus sehingga
akhirnya akan terjadi penurunan fungsi organ atau perubahan sel normal menjadi
sel kanker atau penyakit (Sofia, 2014).

8) Teori Nutrisi
Intake nutrisi yang baik pada setiap perkembangan akan membantu meningkatkan
makanan bergizi dalam rentang hidupnya, maka ia akan lebih lama sehat. (Sofia,
2014).

b. Teori Psikologis

Pada usia lanjut, proses penuaan terjadi secara ilmiah seiring dengan penambahan usia.
Perubahan psikologis yang terjadi dapat dihubungkan pula dengan keakuratan mental
dan keadaan fungsional yang efektif termasuk pemenuhan kebutuhan dasar dan tugas
perkembangan. Teori yang merupakan psikososial adalah sebagi berikut :
1) Teori integritas Ego
Merupakan teori perkembangan yang mengidentifikasi tugas- tugas yang harus di
capai dalam tahap perkembangannya. Tugas perkembangan terkahir merefleksikan
kehidupan seseorang dan pencapaianya.

2) Teori integritas personal


Merupakan suatu bentuk kepribadian seseorang pada masa kanak- kanak dan tetap
bertahan secara stabil.perubahan yang radikal pada usia tua bisa menjadi
mengindikasi penyakit otak (Padila 2013)

3) Teori Sosial
Menurut teori interaksi sosial pada lansia terjadi penurunan kekuasaan, kehilangan
peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya komitmen sehingga interaksi
sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga diri dan kemampuan
mereka mengikuti perintah (Padila 2013).

4) Teori konsekuensi fungsional


Menurut teori konsekuensi fungsional lanjut usia berhubungan dengan perubahan-
perubahan karena usia dan faktor resiko tambahan (Padila, 2013).
4. Karakteristik Lansia
Menurut Padila (2013), lansia memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 Ayat (2) UU No. 13 tentang
kesehatan)
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan
biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.
c. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.
5. Perubahan yang terjadi pada lansia (bio-psiko-sosial)
Adapun perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menurut Kholifah, (2016) yaitu :

1) Perubahan Fisik
a) Sistem Indra
Sistem pendengaran; Prebiakusis (gangguan pada pendengaran) oleh karena
hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap
bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-
kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun.
b) Sistem Intergumen
Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis kering dan berkerut. Kulit
akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan berbercak. Kekeringan kulit
disebabkan atropi glandula sebasea dan glandula sudoritera, timbul pigmen berwarna
coklat pada kulit dikenal dengan liver spot.
c) Sistem Muskuloskeletal
Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia: Jaringan penghubung (kolagen dan
elastin), kartilago, tulang, otot dan sendi.. Kolagen sebagai pendukung utama kulit,
tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat mengalami perubahan menjadi
bentangan yang tidak teratur. Kartilago: jaringan kartilago pada persendian menjadi
lunak dan mengalami granulasi, sehingga permukaan sendi menjadi rata.
Kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi
cenderung kearah progresif, konsekuensinya kartilago pada persendiaan menjadi
rentan terhadap gesekan. Tulang: berkurangnya kepadatan tulang setelah diamati
adalah bagian dari penuaan fisiologi, sehingga akan mengakibatkan osteoporosis dan
lebih lanjut akan mengakibatkan nyeri, deformitas dan fraktur. Otot: perubahan
struktur otot pada penuaan sangat bervariasi, penurunan jumlah dan ukuran serabut
otot, peningkatan jaringan penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan
efek negatif. Sendi; pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligament
dan fasia mengalami penuaan elastisitas.
d) Sistem kardiovaskuler
Perubahan pada sistem kardiovaskuler pada lansia adalah massa jantung bertambah,
ventrikel kiri mengalami hipertropi sehingga peregangan jantung berkurang, kondisi
ini terjadi karena perubahan jaringan ikat. Perubahan ini disebabkan oleh
penumpukan lipofusin, klasifikasi SA Node dan jaringan konduksi berubah menjadi
jaringan ikat.
e) Sistem respirasi
Pada proses penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru, kapasitas total paru tetap
tetapi volume cadangan paru bertambah untuk mengkompensasi kenaikan ruang
paru, udara yang mengalir ke paru berkurang. Perubahan pada otot, kartilago dan
sendi torak mengakibatkan gerakan pernapasan terganggu dan kemampuan
peregangan toraks berkurang.
f) Pencernaan dan Metabolisme
Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan produksi sebagai
kemunduran fungsi yang nyata karena kehilangan gigi, indra pengecap menurun,
rasa lapar menurun (kepekaan rasa lapar menurun), liver (hati) makin mengecil dan
menurunnya tempat penyimpanan, dan berkurangnya aliran darah.
g) Sistem perkemihan
Pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang signifikan. Banyak fungsi yang
mengalami kemunduran, contohnya laju filtrasi, ekskresi, dan reabsorpsi oleh ginjal.
h) Sistem saraf
Sistem susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atropi yang progresif pada
serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam
melakukan aktifitas sehari-hari.
i) Sistem reproduksi
Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan menciutnya ovary dan uterus.
Terjadi atropi payudara. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa,
meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
2) Perubahan Kognitif
a) Memory (Daya ingat, Ingatan)
b) IQ (Intellegent Quotient)
c) Kemampuan Belajar (Learning)
d) Kemampuan Pemahaman (Comprehension)
e) Pemecahan Masalah (Problem Solving)
f) Pengambilan Keputusan (Decision Making)
g) Kebijaksanaan (Wisdom)
h) Kinerja (Performance)
i) Motivasi
3) Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
a) Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
b) Kesehatan umum
c) Tingkat pendidikan
d) Keturunan (hereditas)
e) Lingkungan
f) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.
g) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.
h) Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili.
i) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri,
perubahan konsep diri
4) Perubahan spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya. Lansia semakin
matang (mature) dalam kehidupan keagamaan, hal ini terlihat dalam berfikir dan
bertindak sehari-hari.
5) Perubahan Psikososial
a) Kesepian
Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal terutama jika lansia
mengalami penurunan kesehatan, seperti menderita penyakit fisik berat, gangguan
mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran.
b) Duka cita (Bereavement)
Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan kesayangan dapat
meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada lansia. Hal tersebut dapat
memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatan.
c) Depresi
Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong, lalu diikuti dengan
keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu episode depresi. Depresi
juga dapat disebabkan karena stres lingkungan dan menurunnya kemampuan
adaptasi.
d) Gangguan cemas
Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik, gangguan cemas umum, gangguan
stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif, gangguan-gangguan tersebut
merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan berhubungan dengan sekunder akibat
penyakit medis, depresi, efek samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari
suatu obat.
e) Parafrenia
Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham (curiga), lansia
sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau berniat membunuhnya.
Biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi/diisolasi atau menarik diri dari kegiatan
sosial.
f) Sindroma Diogenes
Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku sangat
mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia bermain-main dengan
feses dan urin nya, sering menumpuk barang dengan tidak teratur. Walaupun telah
dibersihkan, keadaan tersebut dapat terulang kembali.

B. Konsep Sistem yang Sesuai dengan Kasus


1. Pengertian sistem
Sistem muskuloskeletal adalah sistem yang berperan dalam menunjang, melindungi dan
menggerakkan tubuh. Sistem ini terdiri atas 206 tulang, yang merupakan penyokong
gerakan tubuh dan melindungi organ internal sendi yang memungkinkan gerakan tubuh dua
atau tiga dimensi otot yang memungkinkan gerakan tubuh dan internal tendon dan ligamen
yang menghubungkan tulang dengan otot.
Sistem muskuloskeletal adalah seluruh kerangka manusia dengan seluruh otot yang
menggerakkannya dengan tugas melindungi organ vital dan bertanggung jawab atas
pergerakan berbagai otot yang dapat menggerakkan anggota badan dalam lingkup gerakkan
sendir tertentu (Risnanto dan Insani, 2014)
2. Sistem Muskuloskeletal yang normal sebelum mengalami perubahan

a. Jaringan penghubung (kolagen dan elastin). Kolagen sebagai protein pendukung utama


pada kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat mengalami perubahan
menjadi bentangan cross linking yang tidak teratur. Bentangan yang tidak teratur dan
penurunan hubungan tarikan linear pada jaringan kolagen merupakan salah satu alasan
penurunan mobilitas pada jaringan tubuh. Setelah kolagen mencapai puncak fungsi atau
daya mekaniknya karena penuaan, tensile strength dan kekakuan dari kolagen mulai
menurun. Kolagen dan elastin yang merupakan jaringan ikat pada jaringan penghubung
mengalami perubahan kualitatif dan kuantitatif sesuai penuaan. Perubahan pada kolagen
itu merupakan penyebab turunnya fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan
dampak berupa nyeri, penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot,
kesulitan bergerak dari duduk ke berdiri, jongkok dan berjalan, dan hambatan dalam
melakukan aktifitas sehari–hari. Upaya fisioterapi untuk mengurangi dampak tersebut
adalah memberikan latihan untuk menjaga mobilitas.
b. Kartilago. Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami granulasi
dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata. Selanjutnya, kemampuan kartilago untuk
regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung ke arah progresif.
Proteoglikan yang merupakan komponen dasar matriks kartilago berkurang atau hilang
secara bertahap. Setelah matriks mengalami deteriorasi, jaringan fibril pada kolagen
kehilangan kekuatannya, dan akhirnya kartilago cenderung mengalami fibrilasi.
Kartilago mengalami klasifikasi di beberapa tempat, seperti pada tulang rusuk dan
tiroid. Fungsi kartilago menjadi tidak efektif, tidak hanya sebagai peredam kejut, tetapi
juga sebagai permukaan sendi yang berpelumas. Konsekuensinya, kartilago pada
persendian menjadi rentan terhadap gesekan. Perubahan tersebut sering terjadi pada
sendi besar penumpu berat badan. Akibat perubahan itu sendi mudah mengalami
peradangan, kekakuan, nyeri, keterbatsan gerak dan terganggunya aktifitas sehari–hari.
Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, dapat di berikan teknik perlindungan sendi.
c. Tulang. Berkurangnya kepadatan tualang, setelah di observasi, adalah bagian dari
penuaan fisiologis. Trabekula longitudinal menjadi tipis dan trabekula tranversal
terabsorbsi kembali. Sebagai akibat perubahan itu, jumlah tulang spongiosa berkurang
dan tulang kompakta menjadi tipis. Perubahan lain yang terjadi adalah penurunan
estrogen sehingga produksi osteoklast tidak terkendali, penurunan penyerapan kalsium
di usus, peningkatan kanal Haversi sehingga tulang keropos. Berkurangnya jaringan dan
ukuran tulang secara keseluruhan menyebabkan kekuatan dan kekakuan tulang
menurun. Dampak berkurangnya kepadatan akan mengakibatkan osteoporosis.
Osteoporosis lebih lanjut mengakibatkan nyeri, deformitas dan fraktur. Latihan fisik
dapat di berikan sebagai cara untuk mencegah terjadinya osteoporosis.
d. Otot. Perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi. Penurunan jumlah dan
ukuran serabut otot, peningkatan jaringan penghubung, dan jaringan lemak pada otot
mengakibatkan efek negatif.
e. Sendi. Pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligament dan fasia
mengalami penurunan elastisitas. Ligamen, kartilago dan jaringan periartikular
mengalami penurunan daya lentur dan elastisitas. Terjadi degenerasi, erosi dan
kalsifikasi pada kartilago dan kapsul sendi. Sendi kehilangan fleksibitasnya sehingga
terjadi penurunan luas gerak sendi. Beberapa kelainan akibat perubahan pada sendi
yang banyak terjadi pada lansia antara lain osteoarthtristis, artritis rheumatoid, gout, dan
pseudo gout. Kelainan tersebut dapat menimbulkan gangguan berupa bengkak, nyeri,
kekakuan sendi, keterbatsan luas gerak sendi, gangguan jalan, dan aktifitas keseharian
lainnya. Upaya mencegah kerusakan sendi antara lain dengan memberi teknik
perlindungan sendi dalam beraktifitas.
3. Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia dan dampaknya akibat perubahan
Perubahan-perubahan yang terjadi menurut Miller (2012) antara lain:
a. Meningkatnya resorbsi tulang (misalnya, pemecahan tulang diperlukan untuk
remodeling)
b. Arbsorbsi kalsium berkurang
c. Meningkatnya hormon serum paratiroid
d. Gangguan regulasi dari aktivitas osteoblast
e. Gangguan formasi tulang sekunder untuk mengurangi produksi osteoblastik dari
matriks tulang dan
f. Menurunnya estrogen pada wanita dan testosterone pada laki-laki.
Adapun Faktor yang mempengaruh perubahan berdasarkan rilis Joint Essential pada tahun
2013 berjudul ‘What Are The Effects Of Aging On The Musculoskeletal System yaitu :
 Gangguan hormon. Riwayat gangguan hormon yang tidak teratasi dengan baik dapat
menyebabkan metabolisme ke tulang maupun otot tidak optimal. Sebagai contoh,
hipertiroidisme berhubungan erat dengan kelemahan otot dan meningkatkan risiko
fraktur akibat demineralisasi tulang.
 Penyakit sistemik. Penyakit sistemik dapat berupa gangguan vaskuler atau metabolik.
Sebagai contoh, lansia dengan diabetes akan mengalami gangguan laju atau volume
pengiriman nutrisi yang dibutuhkan untuk remodeling jaringan. Oleh karena itu, sangat
penting untuk mengontrol proses patologis untuk mengoptimalkan penyembuhan dan
potensi perbaikan sistem muskuloskeletal.
 Faktor diet. Kekurangan nutrisi vitamin esensial (seperti vitamin D dan vitamin C yang
memainkan peran penting dalam pertumbuhan fungsional otot dan tulang), kurangnya
mineral tertentu (seperti kalsium, fosfor dan kromium dll) dapat menjadi hasil dari
masalah pencernaan yang berkaitan dengan usia. Dengan demikian, terjadi penurunan
penyerapan dari usus atau ketidakseimbangan dalam produksi hormon tertentu yang
mengatur konsentrasi serum vitamin dan mineral seperti kalsitonin, vitamin D, hormon
paratiroid (karena tumor yang sangat lazim di usia lanjut). Diet yang sangat baik ialah
diet yang kaya akan mikro-nutrisi dalam kualitas tinggi sehingga mampu menurunkan
risiko pengembangan cacat tulang dan kelemahan otot sebagai bagian dari proses
penuaan.
 Minimnya aktivitas fisik. Perubahan sistem muskuloskeletal dapat diperlambat dengan
melakukan olahraga karena dapat meningkatkan kemampuan untuk mempertahankan
kekuatan dan fleksibilitas sistem muskuloskeletal. Normalnya dalam satu hari,
setidaknya 30 menit aktivitas lansia diisi dengan olahraga ringan (Miller, 2012).
Beberapa olahraga yang terkenal dikalangan lansia yaitu Tai chi, yoga, dan pilates
(Arenson, 2009). Selain itu, berjalan juga merupakan olahraga yang mudah dan tidak
membutuhkan banyak peralatan sehingga dapat dilakukan oleh lansia.

Jika faktor-faktor tersebut di atas tidak tertangani dengan baik, dapat berubah menjadi
penurunan fungsi muskuloskeletal pada lansia. Penurunan fungsi muskuloskeletal
dipicu oleh tiga faktor (Fillit, Rockwood & Young, 2017) yaitu :
a. Efek penuaan pada komponen sistem muskuloskeletal, misalnya tulang rawan artikular,
kerangka, jaringan lunak, memberikan kontribusi untuk pengembangan osteoporosis
dan osteoarthritis serta penurunan gerakan sendi, kekakuan, dan kesulitan dalam
memulai gerakan.
b. Gangguan muskuloskeletal berhubungan dengan penuaan yang mulai terjadi pada masa
dewasa muda menyebabkan peningkatan rasa sakit dan cacat tanpa memperpendek
rentang hidupnya, misalnya seronegatif spondyloarthritis, trauma muskuloskeletal.
c. Tingginya angka kejadian gangguan muskuloskeletal tertentu pada lansia, misalnya
polymyalgia rheumatica, penyakit Paget tulang, arthropathies terkait kristal.

4. Askep terkait sistem muskoloskeletal


a. Pengkajian
Pengkajian pada lansia dengan gangguan pada sistem musculoskeletal adalah sebagai
berikut:

 Kegiatan yang mampu dilakukan klien.


 Lingkungan yang tidak kondusif seperti penerangan yang kurang, lantai yang licin,
tersandung alas kaki yang kurang pas, kursi roda yang tidak terkunci, jalan
menurun/adanya tangga, dan lain-lain.
 Mengkaji kekuatan otot
 Kemampuan berjalan
 Kebiasaan olahraga/senam
 Kesulitan/ketergantungan dalam melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-
hari
b. Masalah keperawatan
Masalah keperawatan pada lansia dengan gangguan pada sistem musculoskeletal adalah
sebagai berikut:
 Gangguan aktivitas sehari-hari
  Kurangnya perawatan diri
 Imobilisasi
 Kurangnya pengetahuan
 Resiko cedera: jatuh
 Cemas
 Nyeri sendi dan tulang

c. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan untuk lansia dengan gangguan sistem musculoskeletal adalah
sebagai berikut:
 Identifikasi factor-faktor penyebab
 Anjurkan untuk menggunakan alat-alat bantu berjalan, misalnya tongkat, atau kursi
roda.
 Gunakan kaca mata jika berjalan atau melakukan aktivitas
 Lakukan kegiatan fisik sesuai kemampuan
 Lakukan latihan gerak aktif dan pasif
 Latih klien untuk pindah dari tempat tidur kekursi dan sebaliknya dari kursi ke
tempat tidur
 Sediakan penerangan yang cukup
 Sediakan pegangan pada tangga dan kamar mandi
 Beri motivasi dan reinforcement
 Pertahankan lingkungan yang aman.
 Pertahankan kenyamanan, baik dalam keadaan istirahat maupun beraktivitas
 Kolaborasi untuk pengobatan lebih lanjut

C. Konsep Penyakit yang sesuai dengan Kasus


1. Pengertian penykit Gout Arthritis (Asam Urat)
Gout Arthritis banyak ditemukan pada laki-laki setelah usia 30 tahun, sedangkan pada
perempuan terjadi setelah Menopaus. Hal ini disebabkan kadar Usam Urat laki-laki akan
meningkat setelah pubertas, sedangkan pada perempuan terdapat hormon estrogen yang
berkurang setelah Menopaus (Asikin, 2016).

Menurut Reny Yuli (2014) Gout adalah penyakit metabolic yang ditandai dengan
penumpukan asam urat yang nyeri pada sendi. Gout adalah bentuk inflamasi arthritis
kronis, bengkak dan nyeri yang paling sering di sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak
terbatas pada jempol kaki, dapat juga mempengaruhi sendi lain termasuk kaki, pergelangan
kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan, siku dan kadang di jaringan lunak dantendon. Gout
biasanya hanya mempengaruhi satu sendi pada satu waktu, tapi bisa menjadi semakin
parah dan dapat mempengaruhi beberapa sendi.
2. Penyebab
Menurut (Aspiani, 2014) penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya
deposit/penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi
pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan kelainan metabolik dalam
pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal. Faktor pencetus
terjadinya pengendapan kristal asam urat adalah :

a. Diet tinggi purin dapat memicu terjadinya gout pada orang yang mempunyai
kelainan bawaan dalam metabolisme purin sehingga terjadi peningkatan produksi
asam urat.
b. Penurunan filtrasi glomerulus merupakan penyebab penurunan ekskresi asam urat
yang paling sering dan mungkin disebabkan oleh banyak hal.
c. Pemberian obat diuretik seperti tiazid dan furosemid, salisilat dosis rendah dan
etanol juga merupakan penyebab penurunan ekskresi asam urat yang sering
dijumpai.
d. Produksi yang berlebihan dapat disebabkan oleh adanya defek primer pada jalur
penghematan purin (mis, defisiensi hipoxantin fosforibasil transferase), yang
menyebabkan peningkatan pergantian sel (mis, sindrom lisis tumor) menyebabkan
hiperuresemia sekunder.
e. Minum alkohol dapat menimbulkan serangan gout karena alkohol meningkatkan
produksi urat. Kadar laktat darah meningkat akibat produk sampingan dari
metabolisme normal alkohol. Asam laktat menghambat ekskresi asam urat oleh
ginjal sehingga terjadi peningkatan kadarnya dalam serum.
f. Sejumlah obat-obatan dapat menghambat ekskresi asam urat oleh ginjal sehingga
dapat menyebabkan seranagn gout. Yang termasuk diantaranya adalah aspirin dosis
rendah (kurang dari 1 sampai 2g/hari), levodopa, diazoksid, asam nikotinat,
asetazolamid, dan etambutol.
3. Tanda dan gejala
Arthritis gout muncul sebagai serangan radang sendi yang timbul berulang-ulang. Gejala
khas dari serangan arthritis gout menurut Sarif La Ode (2012) adalah:
a. Nyeri sendi
b. Menyerang satu sendi saja
c. Kemerahan dan bengkak pada sendi, panas
d. Tofi pada ibu jari, mata kaki dan pina telinga
e. Kesemutan dan linu
f. Nyeri terutama malam hari atau pagi hari saat bangun tidur
g. Gangguan gerak dari sendi yang terserang yang terjadi mendadak

4. Komplikasi
Menurut noviyanti (2015) komplikasi penyakit asam urat meliputi :
a. Komplikasi pada ginjal
Secara garis besar, gangguan-gangguan pada ginjal yang dosebabkan oleh asam urat
mencakup dua hal yaitu terjadinya batu ginjal dan resiko kerusakan ginjal. Batu ginjal
terbentuk ketika urine mengandung substansi yang membentuk kristal, seperti kalsium
oksalat dan asam urat. Pada saat yang sama urine kekurangangan substansi yang
mencegah kristal menyatu sehingga menjadikan batu ginjal terbentuk.
b. Komplikasi pada jantung
Kelebihan asam urat dalam tubuh membuat seseorang berpotensi terkena serangan
jantung dan stroke. Hubungan antara asam urat dengan penyakit jantung adalah adanya
kristal asam urat yang dapat merusak endotel/ pembuluh darah koroner.
c. Komplikasi pada hipertensi
Hipertensi terjadi karena asam urat menyebabkan renal vasokontriksi melalui
penurunan enzim nitrit oksidase di endotel kapiler sehingga terjadi aktivitas sistem.
d. Komplikasi pada diabetes mellitus
Meningkatnya kadar asam urat darah juga beresiko terkena penyakit diabetes mellitus.
Pada penderita diabetes ditemukan 19% lebih tinggi kadar asam urat yang tidak
terkontrol.
5. Masalah kesehatan dikaitkan dengan gerontologi
6. Asuhan keperawatan
a. Pengkajian
Pengumpulan data klien, baik subjektif maupun objektif melalui anamnesis riwayat
kesehatan dahulu, sekarang, riwayat penyakit keuarga, pola makan, aktivitas,
pemeriksaan fisik melalui tekhnik inspeksi, auskultasi dan palpasi
(Stanley,Mickey.2007)
1) Anamnesis : Identitas ( Meliputi nama,tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,
agama, status perkawinan.
2) Riwayat penyakit sekarang : Pengumulan data dilakukan sejak munculnya keluhan
dan secara umum mencakup awal gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang.
Penting ditanyakan  berapa lama pemakaian obat analgesic, allopurinol.
3) Riwayat penyakit dahulu : Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan penyebab
yang mendukung terjadinya gout (misalnya penyakit gagal ginjal kronis, leukemia,
hiperparatiroidisme). Masalah lain yang perlu ditanyakan adalah pernakah klien
dirawat dengan maslah yang sama. Kaji adanya pemakaian alkohol yang berlebihan,
penggunaan obat diuretic.
4) Riwayat penyakit keluarga : Kaji adanya keluarga dari generasi terdahulu yang
mempunyai keluhan yang sama dengan klien karena klien gout dipengaruhi oleh
faktor genetic.
5) Aktivitas dulu dan sekarang : Seseorang yang tak pernah berolahraga atau
diikutsertakan dalam aktivitas mungkin memiliki kesukaran dalam memulai suatu
program latihan di usia lanjut, terutama jika aktivitas tersebut sulit atau menyakitkan.
6) Pola nutrisi
Menggambarkan masukan nutrisi, nafsu makan, pola makan, kesulitan menelan dan
mual muntah.
7) Pola eliminasi
Menjelaskan pola fungsi ekskresi,defekasi, ada tidaknya masalah defekasi.
8) Personal Hygine
Berbagai kesulitan melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan.
9) Neurosensori
Kebas / kesemutan tangan dan kaki, hilang sensasi jari tangan, pembengkakan pada
sendi.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penurunan fungsi tulang
2) Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidakmauan untuk melakukan pergerakan
3) Resiko injury b.d ketidakmampuan dalam bergerak
4) Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah (Sarif, 2012)
c. Intervensi Keperawatan
Menurut Sarif, 2012, intervensi dari beberapa diagnosa yaitu:
1) Gangguan rasa nyaman nyeri
Tujuan :
Setelah di lakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah nyeri
klien teratasi
Kriteria hasil :
Manajemen nyeri
a) Nyeri hilang atau terkontrol
b) Ekspresi wajah klien rilek
c) Skala nyeri 3
Intervensi :
a) Kaji keluhan nyeri, catat lokasi, intensitas dan kualitas nyeri ( 0-10 ).
b) Beri matras atau kasur keras, bantal kecil.tinggikan linen tempat tidur sesuai
kebutuhan.
c) Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman waktu tidur/ duduk di kursi
d) Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai kebutuhan.
e) Dorong untuk sering ubah posisi
f) Bantu passien bergerak di tempat tidur.
g) Sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang mennyentak.
h) Anjurkan pasien mandi air hangat atau air pancur saat bangun pagi.
i) Berikan masase yang lembut.
j) Kolaborasi obat sebellum aktivitas atau latihan yang di rencanakan.
2) Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidakmauan untuk melakukan pergeraka
Tujuan :
Setelah dilakukan kunjungan selama 4 kali dalam seminggu klien mampu berjalan
dengan baik
Kriteria Hasil :
a) Klien mampu menyebutkan manfaat latihan ROM
b) Klien dapat mempraktekan latihan ROM
Intervensi :
a) Kaji pengetahuan klien dan keluarga dalam hal perawatan bagi penderita
gangguan mobilitas
b) Nilai keyakinan klien terhadap setiap usaha perawatan
c) Monitor cara latihan yang telah dilakukan oleh klien
d) Monitor tanda-tanda vital
e) Monitor kekuatan otot dan ROM pada klien
f) Diskusikan cara-cara melatih pergerakan pada klien
g) Demonstrasikan cara-cara melatih pergerakan pada klien dan keluarga.
h) Kolaborasi, beri lingkungan yang aman dan anjurkan untuk menggukan alat
bantu
i) Kolaborasi obat – obatan sesuai indikasi ( steroid ).
3) Resiko injury
Tujuan :
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah cidera klien
tidak terjadi.
Kriteria hasil:
a) Tidak ada laporan jatuh darikeluarga atau klien
b) Tidak terdapat tanda-tanda jatuh pada klien
Intervensi :
a) Kaji pengetahuan klien dan keluarga terhadap perubahan fisik pada lanjut usia
dan akibatnya
b) Monitor tanda-tanda jatuh pada klien
c) Diskusikan dengan klien dan keluarganya mengenai perubahan pada lanjut usia
proses menua, batasan lanjut usia, perubahan pada system tubuh, akibat
perubahan.
d) Gali pengetahuan klien dan keluarga mengenai upaya pencegahan agar klien tidak
jatuh
e) Monitor sumber-sumber dalam keluarga yang ada dan dan dapat digunakan
peralatan biaya tenaga
f) Kaji factor pendukung terjadinya jatuh: kondisi rumah, kondisi penderita
g) Diskusikan cara-cara pencegahan jatuh pada klien modifikasi lingkungan
h) Beri motivasi klien dan keluarga untuk mempraktekkan cara pencegahan
i) Beri pujian atas usaha yang dilakukan.
4) Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah
Setalah di lakukan tindakan asuha keperawatan selama 3 x 24 jam Pasien dan
keluarga dapat memahami penggunaan obat dan perawatan 
dirumah.
Intervensi :
a) Kaji kemampuan pasien dalam mengungkapkan instruksi yang diberikan oleh
dokter atau perawat. 
b) Berikan Jadwal obat yang harus di gunakan meliputi nama obat, dosis, tujuan dan
efek samping
c) Bantu pasien dalam merencanakan program latihan dan istirahat yang teratur.
d) Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmako terapeutik. 
e) Berikan informasi mengenai alat-alat bantu yang mungkin dibutuhkan.
f) Jelaskan pada pasien tentang asal mula penyakit
g) Kolaborasi dengan sumber- sumber komunitas arthritis.
DAFTAR PUSTAKA

Aspiani , R.Y. (2014) Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik. 1 st ed. Jakarta : CV. Trans
Info Media
Fillit, H., Rockwood, K., & Young, J. (2017). Brocklehurst's textbook of geriatric medicine
and gerontology (8th ed., p. 120). Philadelphia: Elsevier.
Kholifah, Siti Nur. (2016). Keperawatan Gerontik. Jakarta. Pusdik SDM Kesehatan
Miller, C.A. (2012). Nursing for wellness in older adults: Theory and practice. (6th Ed).
Philadephia: Wolters Kluwer / Lippincott Williams & Wilkins.
Mubarak, dkk. (2009). Ilmu Keperawatan Komunitas 2 Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Salemba
Medika
Ode, Sarif. 2012. Asuhan Kperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika.
Padila, 2013. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika.
Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik.
Jakarta: EGC
Suratun dkk. (2008). Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal. Jakarta: EGC
Risnanto dan Uswatun Insani. 2014. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah (sistem
Muskuloskeletal). Yogyakarta. Deepublish
Yuli, Reny. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik. Jakarta: CV. Trans Info Media.