Anda di halaman 1dari 166

KUMPULAN 9 LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

Oleh :

RICKY
NIM. SRP 18315136

PROGRAM STUDI NERS TAHAP AKADEMIK REGULER B


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH PONTIANAK
2018
1. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN
DENGAN MASALAH ISOLASI SOSIAL (MENARIK DIRI)
2. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN
DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN
3. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN
DENGAN HARGA DIRI RENDAH
4. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN
DENGAN HALUSINASI
5. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN
DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI
6. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI
7. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PASIEN DENGAN MASALAH REGIMEN TERAPEUTIK
8. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN PERUBAHAN ISI PIKIR : WAHAM
9.
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PASIEN DENGAN MASALAH ISOLASI SOSIAL (MENARIK DIRI)

A. MASALAH UTAMA
Isolasi sosial : menarik diri
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
1. Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan di mana seseorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
di sekitarnya (Damaiyanti, 2008)
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi
akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku
maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam dalam hubungan sosial
(Depkes RI, 2000)
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Farida, 2012)
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang
lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Pawlin, 1993 dikutip Budi Keliat,
2001)
2. Penyebab
Berbagai faktor dapat menimbulkan respon yang maladaptif. Menurut Stuart
dan Sundeen (2007), belum ada suatu kesimpulan yang spesifik tentang penyebab
gangguan yang mempengaruhi hubungan interpersonal. Faktor yang mungkin
mempengaruhi antara lain yaitu:
a. Faktor predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah:
1) Faktor perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu
dengan sukses. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan
pengalaman bagi individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian, dan kehangatan dari
ibu/pengasuh pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat
menghambat terbentuknya rasa percaya diri dan dapat mengembangkan
tingkah laku curiga pada orang lain maupun lingkungan di kemudian hari.
Komunikasi yang hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak tidak
merasa diperlakukan sebagai objek.
2) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor
pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan
oleh karena norma-norma yang salah yang dianut oleh satu keluarga,
seperti anggota tidak produktif diasingkan dari lingkungan sosial.
3) Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung yang menyebabkan
terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang jelas
mempengaruhi adalah otak . Insiden tertinggi skizofrenia ditemukan pada
keluarga yang anggota keluarganya ada yang menderita skizofrenia.
Klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial
terdapat kelainan pada struktur otak seperti atropi, pembesaran ventrikel,
penurunan berat volume otak serta perubahan struktur limbik.
b. Faktor presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor
internal maupun eksternal meliputi:
1) Stresor sosial budaya
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan seperti
perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai, kesepian karena
ditinggal jauh, dirawat di rumah sakit atau dipenjara.
2) Stresor psikologi
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunnya
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
(Damaiyanti, 2012: 79)
3. Rentang respon
Berdasarkan buku keperawatan jiwa dari Stuart (2006) menyatakan bahwa
manusia adalah makhluk sosial, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan,
mereka harus membina hubungan interpersonal yang positif. Individu juga harus
membina saling tergantung yang merupakan keseimbangan antara ketergantungan
dan kemandirian dalam suatu hubungan

2
Respon adaptif Respon maladaptif

Menyendiri Kesepian manipulasi


Otonomi menarik diri impulsif
Bekerja sama Ketergantungan narcisme
Interdependen

Respon adaptif adalah respon individu dalam penyelesaian masalah yang


masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya lingkungannya yang
umum berlaku dan lazim dilakukan oleh semua orang.. respon ini meliputi:
a. Solitude (menyendiri)
Adalah respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah
dilakukan di lingkungan sosialnya juga suatu cara mengevaluasi diri untuk
menentukan langkah-langkah selanjutnya.
b. Otonomi
Adalah kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide,
pikiran, perasaan dalam berhubungan sosial.
c. Mutualisme (bekerja sama)
Adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu mampu
untuk saling memberi dan menerima.
d. Interdependen (saling ketergantungan)
Adalah suatu hubungan saling tergantung antara individu dengan orang lain
dalam rangka membina hubungan interpersonal.
Respon maladaptif adalah respon individu dalam penyelesaian masalah yang
menyimpang dari norma-norma sosial budaya lingkungannya yang umum berlaku
dan tidak lazim dilakukan oleh semua orang. Respon ini meliputi:
a. Kesepian adalah kondisi dimana individu merasa sendiri dan terasing dari
lingkungannya, merasa takut dan cemas.
b. Menarik diri adalah individu mengalami kesulitan dalam membina hubungan
dengan orang lain.
c. Ketergantungan (dependen) akan terjadi apabila individu gagal
mengembangkan rasa percaya diri akan kemampuannya. Pada gangguan
hubungan sosial jenis ini orang lain diperlakukan sebagai objek, hubungan
terpusat pada masalah pengendalian orang lain, dan individu cenderung
berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan pada orang lain.
d. Manipulasi adalah individu memperlakuakan orang lain sebagai objek,
hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain, dan individu
cenderung berorientasi pada diri sendiri.
e. Impulsif adalah individu tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu
belajar dari pengalaman dan tidak dapat diandalkan.
f. Narcisisme adalah individu mempunyai harga diri yang rapuh, selalu
berusaha untuk mendapatkan penghargaan dan pujian yang terus menerus,
sikapnya egosentris, pencemburu, dan marah jika orang lain tidak
mendukungnya.
(Trimelia, 2011: 9)
4. Proses terjadinya masalah
a. Faktor predisposisi
1) Faktor perkembangan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan
yang harus dilalui individu dengan sukses agar tidak terjadi gangguan
dalam hubungan sosial. Apabila tugas ini tidak terpenuhi, akan
mencetuskan seseorang sehingga mempunyai masalah respon sosial
maladaptif. (Damaiyanti, 2012)
2) Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan berhubungan. Hal
ini diakibatkan oleh norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap
orang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif
seperti lansia, orang cacat, dan penderita penyakit kronis.
4) Faktor komunikasi dalam keluarga
Pada komunikasi dalam keluarga dapat mengantarkan seseorang dalam
gangguan berhubungan, bila keluarga hanya menginformasikan hal-hal
yang negative dan mendorong anak mengembangkan harga diri rendah.
Seseorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan
dalam waktu bersamaan, ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang
menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

4
b. Stressor presipitasi
1) Stressor sosial budaya
Stres dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor antara faktor lain dan faktor
keluarga seperti menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari
orang yang berarti dalam kehidupannya, misalnya karena dirawat di rumah
sakit.
2) Stressor psikologis
Tingkat kecemasan berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan
keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah
dengan orang dekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan
ketergantungan dapat menimbulkan kecemasan tingkat tinggi.
(Prabowo, 2014: 111)
5. Tanda dan gejala
a. Gejala subjektif
1) Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
2) Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
3) Klien merasa bosan
4) Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
5) Klien merasa tidak berguna
b. Gejala objektif
1) Menjawab pertanyaan dengan singkat, yaitu “ya” atau “tidak” dengan
pelan
2) Respon verbal kurang dan sangat singkat atau tidak ada
3) Berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri
4) Menyendiri dalam ruangan, sering melamun
5) Mondar-mandir atau sikap mematung atau melakukan gerakan secara
berulang-ulang
6) Apatis (kurang acuh terhadap lingkungan)
7) Ekspresi wajah tidak berseri
8) Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
9) Kontak mata kurang atau tidak ada dan sering menunduk
10) Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
(Trimelia, 2011: 15)
6. Akibat
Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya perilaku menarik diri
atau isolasi sosial yang disebabkan oleh perasaan tidak berharga yang bisa dialami
pasien dengan latar belakang yang penuh dengan permasalahan, ketegangan,
kekecewaan, dan kecemasan.(Prabowo, 2014: 112)
Perasaan tidak berharga menyebabkan pasien makin sulit dalam
mengembangkan berhubungan dengan orang lain. Akibatnya pasien menjadi
regresi atau mundur, mengalami penurunan dalam aktivitas dan kurangnya
perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri. Pasien semakin tenggelam
dalam perjalinan terhadap penampilan dan tingkah laku masa lalu serta tingkah
laku yang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut halusinasi
(Stuart dan Sudden dalam Dalami, dkk 2009)
7. Mekanisme koping
Mekanisme yang digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang
merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Mekanisme yang
sering digunakan pada isolasi sosial adalah regresi, represi, isolasi. (Damaiyanti,
2012: 84)
a. Regresi adalah mundur ke masa perkembangan yang telah lain.
b. Represi adalah perasaan-perasaan dan pikiran pikiran yang tidak dapat
diterima secara sadar dibendung supaya jangan tiba di kesadaran.
c. Isolasi adalah mekanisme mental tidak sadar yang mengakibatkan timbulnya
kegagalan defensif dalam menghubungkan perilaku dengan motivasi atau
bertentangan antara sikap dan perilaku.
Mekanisme koping yang muncul yaitu:
1) Perilaku curiga : regresi, represi
2) Perilaku dependen: regresi
3) Perilaku manipulatif: regresi, represi
4) Isolasi/menarik diri: regresi, represi, isolasi
(Prabowo, 2014:113)
8. Penatalaksanaan
Menurut dalami, dkk (2009) isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit
skizofrenia tak tergolongkan maka jenis penatalaksanaan medis yang bisa
dilakukan adalah:
a. Electro Convulsive Therapy (ECT)
Adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak
dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala
(pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang
berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya
di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.
b. Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang cukup lama dan merupakan bagian penting dalam
proses terapeutik , upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa
aman dan tenang, menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati,
menerima pasien apa adanya, memotivasi pasien untuk dapat mengungkapkan
perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan, dan jujur kepada pasien.
c. Terapi Okupasi
Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam
melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk
memperbaiki, memperkuat, dan meningkatkan harga diri seseorang.
(Prabowo, 2014: 113)
9. Pohon masalah

Risiko Gangguan Persepsi Sensori


Halusinasi
Effect

Isolasi Sosial: menarik diri


Core Problem

Gangguan Konsep Diri


Harga Diri Rendah

Causa
10. Diagnosa keperawatan
a. Perubahan sensori persepsi halusinasi b/d menarik diri
b. Isolasi sosial menarik diri b/d harga diri rendah
(Prabowo, 2014: 114)
11. Rencana asuhan keperawatan
a. Diagnosa keperawatan: Isolasi sosial menarik diri b/d harga diri rendah
1) Tujuan umum
Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain
2) Tujuan khusus
a) TUK 1
Dapat membina hubungan saling percaya
(1) Kriteria hasil:
Setelah ...x pertemuan, pasien dapat menerima kehadiran perawat.
Pasien dapat mengungkapkan perasaan dan keberadaannya saat ini
secara verbal:
(a) Mau menjawab salam
(b) Ada kontak mata
(c) Mau berjabat tangan
(d) Mau berkenalan
(e) Mau menjawab pertanyaan
(f) Mau duduk berdampingan dengan perawat
(g) Mau mengungkapkan perasaannya
(2) Intervensi
Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapetik
(a) Sapa pasien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
(b) Perkenalkan diri dengan sopan
(c) Tanyakan nama lengkap pasien dan nama kesukaan pasien
(d) Jelaskan tujuan pertemuan
(e) Buat kontrak interaksi yang jelas
(f) Jujur dan menepati janji
(g) Tunjukkan sikap empati dan menerima pasien apa adanya
(h) Ciptakan lingkungan yang tenang dan bersahabat
(i) Beri perhatian dan penghargaan : temani pasien walau tidak
menjawab
(j) Dengarkan dengan empati beri kesempatan bicara, jangan buru-
buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan pasien
(k) Beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar pasien
b) TUK 2
Pasien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
(1) Kriteria hasil
Setelah ...x pertemuan, pasien dapat menyebutkan minimal satu
penyebab menarik diri yang berasal dari:
(a) Diri sendiri
(b) Orang lain
(c) Lingkungan
(2) Intervensi
(a) Tanyakan pada pasien tentang
1. Orang yang tinggal serumah/teman sekamar pasien
2. Orang terdekat pasien dirumah/ diruang perawatan
3. Apa yang membuat pasien dekat dengan orang tersebut
4. Hal-hal yang membuat pasien menjauhi orang tersebut
5. Upaya yang telah dilakukan untuk mendekatkan diri dengan
orang lain
(b) Kaji pengetahuan pasien tentang perilaku menarik diri dan
tanda-tandanya
(c) Beri kesemapatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan
penyebab menarik diri tidak mau bergaul
(d) Diskusikan pada pasien tentang perilaku menarik diri, tanda
serta penyebab yang muncul
(e) Berikan reinforcement (penguatan) positif terhadap
kemampuan pasien dalam mengungkapkan perasaannya.
c) TUK 3
Pasien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain
dan kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
(1) Kriteria hasil
Setelah ...x pertemuan, pasien dapat menyebutkan keuntungan
berhubungan dengan orang lain, misal:
(a) Banyak teman
(b) Tidak kesepian
(c) Bisa diskusi
(d) Saling menolong
Setelah ...x pertemuan, pasien dapat menyebutkan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain, misal:
(a) Sendiri
(b) Tidak punya teman, kesepian
(c) Tidak ada teman ngobrol
(2) Intervensi
(a) Kaji pengetahuan pasien tentang manfaat dan keuntungan
berhubungan dengan dengan orang lain serta kerugiannya bila
tidak berhubungan dengan orang lain
(b) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan
perasaannya tentang berhubungan dengan orang lain
(c) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan
perasaannya tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan
orang lain
(d) Diskusikan bersama tentang keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
(e) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan
dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan dengan
orang lain
d) TUK 4
Pasien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
(1) Kriteria hasil
Setelah ...x interaksi, pasien dapat mendemonstrasikan hubungan
sosial secara bertahap
(2) Intervensi
(a) Observasi perilaku pasien saat berhubungan dengan orang lain
(b) Beri motivasi dan bantu pasien untuk berkenalan/
berkomunikasi dengan orang lain melalui: pasien-perawat,
pasien-perawat-perawat lain, pasien-perawat-perawat lain-
pasien lain, pasien-perawat-perawat lain-pasien lain-
masyarakat
(c) Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang telah dicapai
(d) Bantu pasien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan
orang lain
(e) Beri motivasi dan libatkan pasien dalam terapi aktivitas
kelompok sosialisasi
(f) Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama pasien
dalam mengisi waktu luang
(g) Memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan
jadwal yang telah dibuat
(h) Beri reinforcement atas kegiatan pasien dalam memperluas
pergaulan melalui aktivitas yang dilaksanakan
e) TUK 5
Pasien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan
dengan orang lain
(1) Kriteria hasil
Setelah ...x interaksi, pasien dapat mengungkapkan perasaan
setelah berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri dan orang
lain untuk untuk:
(a) Diri sendiri
(b) Orang lain
(c) Kelompok
(2) Intervensi
(a) Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya bila
berhubungan dengan orang lain/kelompok
(b) Diskusikan dengan pasien tentang perasaan manfaat
berhubungan dengan orang lain
(c) Beri reinforcement atas kemampuan pasien mengungkapkan
perasaannya berhubungan dengan orang lain
f) TUK 6
Pasien dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga mampu
mengembangkan kemampuan pasien untuk berhubungan dengan orang
lain
(1) Kriteria hasil
Setelah ...x pertemuan keluarga dapat menjelaskan tentang
(a) Pengertian menarik diri dan tanda gejalanya
(b) Penyebab dan akibat menarik diri
(c) Cara merawat pasien dengan menarik diri
(2) Intervensi
(a) Bina hubungan saling percaya dengan keluarga: salam,
perkenalkan diri, sampaikan tujuan, buat kontrak eksplorasi
perasaan keluarga
(b) Diskusikan pentingnya peranan keluarga sebagai pendukung
untuk mengatasi perilaku menarik diri
(c) Diskusikan dengan anggota keluarga tentang: perilaku menarik
diri , penyebab perilaku menarik diri, akibat yang akan terjadi
jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi, cara keluarga
menghadapi pasien menarik diri
(d) Diskusikan potensi keluarga untuk membantu mengatasi pasien
menarik diri
(e) Latih keluarga merawat pasien menarik diri
(f) Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatih
(g) Anjurkan anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada
pasien untuk berkomunikasi dengan orang lain
(h) Dorong anggota keluarga secara rutin dan bergantian
menjenguk pasien minimal satu kali seminggu
(i) Beri reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai keluarga
g) TUK 7
Pasien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
(1) Kriteria hasil
Setelah ...x interaksi, pasien menyebutkan:
(a) Manfaat minum obat
(b) Kerugian tidak minum obat
(c) Nama, warna, dosis, efek samping obat
Setelah ...x interaksi, pasien mampu mendemonstrasikan
penggunaan obat dan menyebutkan akibat berhenti minum obat
tanpa konsultasi dokter
(2) Intervensi
A. Diskusikan dengan pasien tentang kerugian dan keuntungan
tidak minum, serta karakteristik obat yang diminum (nama,
dosis, frekuensi, efek samping minum obat)
B. Bantu dalam menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar
pasien, obat, dosis, cara, waktu)
C. Anjurkan pasien minta sendiri obatnya kepada perawat agar
pasien dapat merasakan manfaatnya
D. Beri reinforcement positif bila pasien menggunakan obat
dengan benar
E. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
dengan dokter
F. Anjurkan pasien untuk konsultasi dengan dokter/perawat
apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
(Prabowo, 2014:215)
STRATEGI PELAKSANAAN ISOLASI SOSIAL (MENARIK DIRI)

Pertemuan : 1
SP 1 Klien : Membina hubungan saling percaya, membantu klien mengenali penyebab isolasi
sosial, membantu klien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan
dengan orang lain dan mengajarkan pasien berkenalan
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“ Selamat pagi ibu, perkenalkan nama saya ...(sebutkan) , saya dipanggil
...(sebutkan), saya perawat yang akan merawat ibu pagi ini. Nama ibu siapa dan
senang dipanggil siapa ? “
b. Evaluasi
1) Bagaimana perasaan ibu S saat ini ?
2) Masih ingat ada kejadian apa sampai ibu S dibawa kerumah sakit ini ?
3) Apa keluhan ibu S hari ini ? Dari tadi saya perhatikan ibu S duduk menyendiri,
ibu S duduk menyendiri, ibu S tidak tampak ngobrol dengan teman-teman yang
lain ? Ibu S sudah mengenal teman-teman yang ada disini ?
c. Kontrak
1) Topik
“ Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman ibu
S ? Juga tentang apa yang menyebabkan ibu S tidak mau ngobrol dengan teman-
teman ?
2) Waktu
“ Ibu mau berapa lama bercakap-cakap ? Bagaimana kalau 15 menit.”
3) Tempat
“ Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang ibu S ? Bagaimana
kalau disini saja ? “
2. Fase kerja
a. Siapa saja yang tinggal satu rumah dengan ibu S ? siapa yang paling dekat dengan
ibu S ? siapa yang jarang bercakap-cakap dengan ibu S ? Apa yang membuat ibu S
jarang bercakap-cakap denganya ?
b. Apa yang ibu S rasakan selama dirawat disini ? O... ibu S merasa sendirian ? Siapa
saja yang ibu S kenal diruangan ini ? O... belum ada ? Apa yang menyebabkan ibu S
tidak mempunyai teman disini dan tidak mau bergabung atau ngobrol dengan teman-
teman yang ada disini ?
c. Kalau ibu S tidak mau bergaul dengan teman-teman atau orang lain, tanda-tandanya
apa saja ? mungkin ibu S selalu menyendiri ya... terus apalagi bu... (sebutkan)
d. Ibu S tahu keuntungan kalau kita mempunyai banyak teman ? coba sebutkan apa
saja ? keuntungan dari mempunyai banyak teman itu bu S adalah... (sebutkan)
e. Nah kalau kerugian dari tidak mempunyai banyak teman ibu S tahu tidak ? coba
sebutkan apa saja ? Ya ibu S kerugian dari tidak mempunyai banyak teman adalah...
(sebutkan). Jadi banyak juga ruginya ya kalau kita tidak punya banyak teman. Kalau
begitu inginkan ibu S berkenalan dan bergaul dengan orang lain ?
f. Bagus. Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain.
g. Begini lo ibu S, untuk berkenalan dengan orang lain caranya adalah : pertama kita
mengucapkan salam sambil berjabat tangan, terus bilang “ perkenalkan nama
lengkap, terus bilang “ perkenalkan nama lengkap, terus nama panggilan yang
disukai, asal kita dan hobby kita. Contohnya seperti ini “ assalamualaikum,
perkenalkan nama saya Febriana, saya lebih senang dipanggil Febri, asal saya dari
Bandung dan hobby nya membaca.
h. Selanjutnya ibu S menanyakan nama lengkap orang yang diajak kenalan, nama
panggilan yang disukai, menanyakan juga asal dan hobbynya. Contohnya seperti ini
nama ibu siapa? Senang dipanggil apa ? asalnya dari mana dan hobbynya apa ?
i. Ayo ibu S dicoba ! misalnya saya belum kenal dengan ibu S. Coba berkenalan
dengan saya ! ya bagus sekali ! coba sekali lagi bu S. Bagus sekali !
j. Setelah ibu S berkenalan dengan orang tersebut, ibu S bisa melanjutkan percakapan
tentang hal-hal yang menyenangkan misalkan tentang cuaca, hobi, keluarga,
pekerjaan dan sebagainya
3. Terminasi
a. Evaluasi respon
1) Evaluasi subyektif
- Bagaimana perasaan ibu S setelah berbincang-bincang tentang penyebab
ibu S tidak mau bergaul dengan orang lain dan berlatih cara berkenalan ?
2) Evaluasi obyektif
- Coba ibu S ibu sebutkan kembali penyebab ibu S tidak mau bergaul dengan
orang lain ? apa saja tanda-tandanya bu ? terus keuntungan dan kerugianya
apa saja ?
- Coba ibu S sebutkan cara berkenalan dengan orang lain, yaitu... ya bagus
- Nah sekarang coba ibu S praktikkan lagi cara berkenalan dengan saya. Iya
bagus
b. Kontrak
1) Topik
“ Baik bu S sekarang bincang-bincangnya sudah selesai, bagaimana kalau 2 jam
lagi sekitar jam 11 saya akan datang kesini lagi untuk melatih ibu S berkenalan
dengan perawat lain yaitu teman saya perawat N “
2) Waktu
“ ibu mau bertemu lagi jam berapa ? bagaimana kalau jam 9 ? “
3) Tempat
“ ibu mau bercakap-cakap dimana ? “
c. Rencana tindak lanjut
1) Selanjutnya ibu S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi. Sehingga
ibu S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. Ibu S bisa praktikkan
pasien pasien lain.
2) Sekarang kita buat jadwal latihannya ya bu, berapa kali sehari ibu mau berlatih
berkenalan dengan orang lain, jam berapa saja bu ? coba tulis disini. Oh jadi
mau tiga kali ya bu.
3) Ya bagus bu S dan jangan lupa dilatih terus ya bu sesuai jadwal latihanya dan
ibu S bisa berkenalan dengan teman-teman yang ada di ruangan ini.
Pertemuan : 2
SP 2 Klien : Mengajarkan klien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang
pertama, yaitu seorang perawat )
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“ assalamualikum ibu S, sesuai dengan janji saya 2 jam yang lalu sekarang saya
datang lagi. Ibu S masih ingatkan dengan saya ? coba siapa ? iya bagus. Tujuan saya
sekarang ini akan mengajarkan cara berkenalan dengan perawat lain.”
b. Evaluasi
1) Bagaimana perasaan ibu S saat ini ?
2) Apakah ibu S sudah hapal cara berkenalan dengan orang lain ? apakah ibu S
sudah mempraktikkannya dengan pasien lain ? bagaimana perasaan ibu S
setelah berkenalan tersebut ?
3) Coba ibu S praktikkan lagi cara berkenalan dengan saya. Ya bagus
c. Kontrak
1) Topik
“ baik sekarang kita akan berlatih berkenalan dengan orang pertama yaitu
perawat lain
2) Waktu
“ Mau berapa lama berlatihnya ? bagaiman kalau 10 menit ?”
3) Tempat
“ Dimana tempatnya ? disini saja ya. Tapi nanti kita temui perawat N di
ruanganya ya ! ”
2. Fase kerja
a. “ Ibu S, sudah tahu ya tadinya caranya berkenalan ? ya bagus ! ”
b. “ Tadi caranya bagaimana ya bu ? yang pertama dilakukan adalah... (sebutkan).
Bagus bu S .”
c. “ Sekarang kita keruangnya suster N ya.”
(Bersama-sama mendekati suster N)
d. “ Selamat pagi suster N, ini ibu S ingin berkenalan dengan suster N “
e. “ Baiklah ibu , sekarang ibu S bisa berkenalan dengan suster N seperti yang sudah
kita praktikkan. Ya bagus ibu S . ”
f. “ Ada lagi yang ingin ibu S tanyakan kepada suster N. Coba tanyakan tentang
keluarganya “
g. “ Kalau memang tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu S bisa sudahi perkenalan
ini. lalu ibu S bisa buat janji untuk bertemu lagi dengan suster N, misalnya jam 1
siang nanti ”
h. “ Baiklah suster N, karena ibu S sudah selesai brkenalan, saya dan ibu S akan
kembali ke ruangan ibu S. Selamat pagi (bersama-sama pasien meninggalkan
ruangan suster N) ”
i. “ Bagaimana perasaan ibu S setelah berkenalan dengan suster N. Ibu S merasa
senang ? iya, ibu S jadi mempunyai banyak teman ya ”
3. Terminasi
a. Evaluasi respon
1) Subyektif
“ Bagaimana perasaan ibu S setelah kita berkenalan dengan suster N ”
2) Obyektif
“ coba ibu S sebutkan lagi cara berkenalanya. Ya bagus bu ”
b. Kontrak
1) Topik
“ Besok pagi kita ketemu lagi ya, kita akan berkenalan dengan orang kedua “
2) Waktu
“ Mau jam berapa bu ? Baik jam 08.00 pagi. Waktunya berpa lama ? ya 10

menit ”
3) Tempat
“ Tempatnya dimana ? Baiklah disini saja ya “
c. Rencana tindak lanjut
“ Mari sekarang kita masukan dalam jadwal kegiatan harian ibu S. Mau jam berapa
bu S berkenalan ? Bagaimana kalau tiga kali sehari / Baik jadi jam 08.00 pagi, jam
10.00 dan jam 15. 00 sore. Jangan lupa dipraktikan terus ya bu. Dan pertahankan
terus apa yang sudah ibu S lakukan tadi. ” Jangan lupa untuk menanyakan topik
lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan hobby, keluarga dan
sebagainya.
Pertemuan : 3
SP 3 Klien : Mengajarkan klien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan perawat dan
klien lain )
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“ Selamat pagi ibu S, sesuai dengan janji saya kemarin sekarang saya datang lagi.
b. Evaluasi
“ Apakah ibu S sudah hapal cara berkenalan dengan orang lain ? Apakah ibu S
sudah mempraktikkanya dengan pasien lain ? siapa saja yang yang sudah ibu S ajak
berkenalan ? coba sebutkan namanya ? iya bagus sekali ibu S sudah
mempraktikanya ya. Bagaimana perasaan ibu S setela berkenalan tersebut ”
c. Kontrak
1) Topik
“ Baik sekarang kita akan berlatih lagi berkenalan dengan 2 orang ya bu, yaitu
perawat lain dan klien lain teman ibu yang ada di ruangan ini ”
2) Waktu
“ Mau berapa lama berlatihnya bu S ? bagaimana kalau 10 menit “
3) Tempat
“ Dimana tempatnya ? disini saja ya. Tapi nanti kita temui perawat D dan klien
yang belum dikenal bu S dirumahnya ”
2. Fase kerja
a. “ Ibu S, sudah tahu ya tadinya caranya berkenalan ? ya bagus “
b. “ Tadi caranya bagaimana ya bu ? yang pertama dilakukan adalah... (sebutkan).
Bagus bu S .”
c. “ Sekarang kita keruangnya suster D ya.”
(Bersama-sama mendekati suster D)
d. “ Selamat pagi suster N, ini ibu S ingin berkenalan dengan suster D “
e. “ Baiklah ibu , sekarang ibu S bisa berkenalan dengan suster D seperti yang sudah
kita praktikkan. Ya bagus ibu S . ”
f. “ Ada lagi yang ingin ibu S tanyakan kepada suster D. Coba tanyakan tentang
keluarganya “
g. “ Kalau memang tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu S bisa sudahi perkenalan
ini. lalu ibu S bisa buat janji untuk bertemu lagi dengan suster N, misalnya jam 1
siang nanti ”
h. “ Baiklah suster N, karena ibu S sudah selesai brkenalan, saya dan ibu S akan
kembali ke ruangan ibu S. Selamat pagi (bersama-sama pasien meninggalkan
ruangan suster N) ”
i. “ Bagaimana perasaan ibu S setelah berkenalan dengan suster N. Ibu S merasa
senang ? iya, ibu S jadi mempunyai banyak teman ya ”
3. Fase terminasi
a. Evaluasi respon
1) Subyektif
“ Bagaimana perasaan ibu S setelah kita berkenalan dengan suster D dan ibu K “
2) Obyektif
“ Coba ibu S sebutkan lagi cara berkenalanya. Ya bagus bu, jadi sekarang teman
ibu S sudah berapa ? namanya siapa saja ? iya bagus sekali bu S ”
b. Kontrak
1) Topik
“ Besok pagi pagi kita ketemu lagi ya, kita akan berkenalan dengan dua orang
atau lebih “
2) Waktu
“ Mau jam berapa bu ? Bik jam 08.00 pagi. Waktunya berapa lama ? ya 10
menit “
3) Tempat
“ Tempatnya dimana ? Baiklah disini saja ya “
c. Rencana tindak lanjut
“ Mari sekarang kita masukan dalam jadwal kegiatan harian ibu S. Mau jam berapa
bu S berkenalan lagi ? Bagaimana kalau tiga kali sehari ? Baik jadi jam 09.00 pagi,
jam 11.00 dan jam 16.00 sore. Jangan lupa dipraktikkan terus ya bu. Dan
pertahankan terus apa yang sudah ibu S lakukan tadi. “Jangan lupa untuk
menanyakan topik lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan
hobby, keluarga dan sebagainya.
Pertemuan : 4
SP 4 klien : Mengajarkan klien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan 2 orang atau
lebih / kelompok)
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“ Assalamualaikum ibu S, sesuai dengan janji saya kemarin sekarang saya datang
lagi. Ibu S masih ingatkah dengan saya ? coba siapa ? iya bagus, tujuan saya
sekarang ini akan mengajarkan cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih teman ibu
S yang ada diruangan ini “
b. Evaluasi
- “ Bagaimana perasaaan ibu S saat ini ”
- “ Apakah ibu S sudah hapal cara berkenalan dengan orang lain ? Apakah ibu S
sudah mempraktikanya dengan pasien lain ? siapa saja yang sudah ibu S ajak
berkenalan ? coba sebutkan namanya ? iya bagus sekali ibu S sudah
mempraktikkanya ya. Bagaiman perasaan ibu S setelah berkenalan tersebut ? ”
c. Kontrak
1) “ Baik sekarang kita akan berlatih lagi berkenalan dengan 2 orang atau lebih ya
bu, yaitu teman-teman ibu yang ada di ruangan ini ”
2) “ Mau berapa lama berlatihnya bu S ? Bagaimana kalau 10 menit “
3) “ Dimana tempatnya ? Disini saja ya. Tapi nanti kita temui teman-teman ibu
yang belum dikenal bu S diruangan ini ya bu ”
2. Fase kerja
a. “ Ibu S, sudah tahu ya tadinya caranya berkenalan ? ya bagus ”
b. “ Tadi caranya bagaimana ya bu ? yang pertama dilakukan adalah...(sebutkan)
Bagus bu S
c. “ Sekarang kita hampiri teman-teman ibu yang sedang duduk disana ya. (Bersama-
sama mendekati klien lain yang sedang duduk menonton televisi “
d. “ Selamat pagi ibu-ibu, ini ibu S ingin berkenalan dengan ibu-ibu disini ”
e. “ Baiklah ibu S, sekarang ibu S bisa berkenalan dengan ibu-ibu disini semuanya
seperti yang sudah kita praktikkan. Ya bagis ibu S ”
f. “ Ada lagi yang lain ibu S tanyakan kepada teman-teman ibu. Coba tanyakan tentang
keluarganya ”
g. “ Kalau memang tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu S bisa sudahi perkenalan
ini. Lalu ibu S bisa buat janji untuk bertemu lagi dengan teman-teman semua,
misalnya jam 1 siang nanti ”
h. “ Baiklah ibu-ibu, karena ibu S sudah selesai berkenalan, saya dan ibu S akan
kembali ke ruangan ibu S. Selamat pagi (bersama-sama pasien meninggalkan ibu-
ibu) ”
i. “ Bagaimana persaan ibu S setelah berkenalan dengan teman-teman semua. Ibu S
merasa senang ? iya, ibu S jadi mempunyai banyak teman ya ”
3. Fase terminasi
a. Evaluasi respon
1) Subyektif
“ Bagaimana perasaan ibu S setelah kita berkenalan dengan suster D dan ibu K ”
2) Obyektif
“ Coba ibu S sebutkan lagi cara berkenalanya. Ya bagus bu, jadi sekarang teman
ibu S sudah berapa ? namanya siapa saja ? iya bagus sekali bu S ”
b. Kontrak
1) Topik
“ Besok pagi kita ketemu lagi ya bu, saya akan menjelaskan manfaat obat yang
ibu S minum selama ini ”
2) Waktu
“ Mau jam berapa bu ? Baik jam 08.00 pagi. Waktunya berapa lama ? ya 10
menit ”
3) Tempat
“ Tempatnya dimana ? Baiklah disini saja ya ”
c. Rencana tindak lanjut
“ Mari sekarang kita masukan dalam jadwal kegiatan harian ibu S. Mau jam berapa
bu S berkenalan lagi ? Bagaimana kalau tiga kali sehari ? Baik jadi jam 09.00 pagi,
jam 11.00 dan jam 16.00 sore. Jangan lupa dipraktikkan terus ya bu. Dan
pertahankan terus apa yang sudah ibu S lakukan tadi. “Jangan lupa untuk
menanyakan topik lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan
hobby, keluarga dan sebagainya.
Pertemuan : 5
SP 5 klien : Diskusi menggunakan obat secara teratur
a. Evaluasi jadwal kegiatan harien klien untuk berkenalan dengan orang lain secara
bertahap yang sudah dilatih
b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip 5 benar, disertai penjelasan
tentang guna obat dan akibat berhenti minum obat
c. Susun jadwal minum obat secara teratur
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
1) “ Assalamualaikum ibu S, sesuai dengan janji kemarin, sekarang saya datang
lagi ”
2) “ ibu S masih ingatkan dengan saya ? coba siapa ? iya bagus ”
3) “ Tujuan saya sekarang ini akan mengajarkan cara menggunakan atau minum
obat
b. Evaluasi
1) “ Bagaiamana perasaan ibu S saat ini, apakah ibu S sudah tidak sedih lagi ?
apakah ibu S suka mengobrol dengan teman-teman ? Apa yang ibu bicarakan
dengan teman-teman ? Apakah jadwal kegiatanya sudah dilaksanakan ? Coba
saya lihat jadwalnya ya. Ya bagus ibu S ”
2) “ Ibu S masih ingatkan apa yang sudah kita latih ? ya bagus ! Coba praktikkan
lagi bu ! ya bagus bu ”
3) “ Apakah ibu S pagi ini sudah minum obat ? nama obatnya apa saja ? oh ibu S
belum tahu ya nama obatnya ”
c. Kontrak
1) “ Baik sekarang kita akan belajar cara menggunakan atau minum obat dengan
benar “
2) “ Mau berapa lama berlatihnya bu S ? Bagaimana kalau 15 menit “
3) “ Dimana tempatnya ? Disini saja ya. Tapi nanti kita temui teman-teman ibu yang
belum dikenal bu S diruangan ini ya bu ”
2. Fase kerja
a. “ Ibu S sudah minum obat hari ini ? Berapa macam obat yang ibu S minum ?
warnanya apa saja ? Bagus ! jam berapa saja ibu minum ? Bagus ! ibu S sudah tahu
nama obat yang diminumnya ? oh belum ya. Baiklah saya akan jelaskan ya ! ”
b. “ Ibu S apakah ada bedanya setelah minum obat secara teratur ? Apakah perasaan
sedih tersebut berkurang atau hilang ? ya, minum obat sangat penting supaya ibu S
tidak merasa sedih dan lesu lagi ”
c. “ Obat yang ibu S minum ada 3 macam bu, yang warnanya orange namanya CPZ
atau Clorpromazine, yang merah jambu ini namanya HLP atau halopreridol,
sedangkan yang putih ini namanya THP atau trihexiphenidil ”
d. “ Semuanya harus ibu S minum 3 kali sehari, yaitu CPZ 3x1 tablet, HLP 3x1 tablet
dan THP 3x1 tablet, diminumnya pagi jam 7, siang jam 1 dan sore jam 5 ”
e. “ Bu S manfaat obat ini, yang orange atau CPZ dan yang merah muda atau HLP
gunanya adalah untuk menenangkan pikiran, menghilangkan rasa gelisah, membuat
ibu S bisa tidur dengan nyaman, membantu menghilangkan perasaan sedih bu S,
membantu ibu S untuk bersemangat lagi. Sedangkan yang putih ini atau THP adalah
untuk merilekskan otot-otot tubuh ibu supaya tidak kaku dan gemetar, dan
mencegah dampak akibat dari minum obat CPZ dan HLP, seperti hipersaliva atau
ngances, badan kaku, pusing ”
f. “ Jadi ibu S jangan merasa takut untuk minum obat CPZ dan HLP ya bu...karena
dampaknya yang tadi tidak akan terjadi pada ibu, kalau ibu S minum THP ”
g. “ Bagaimana bu S...ibu sudah mengerti belum...ya bagus sekali ibu S sudah mengerti
ya ”
h. “ Menurut ibu, boleh tidak berhenti minum obat sebelum di ijinkan dokter ? ya betul
bu tidak boleh. Akibatnya apa bu kalau berhenti minum obat tanpa ijin dokter ? ya
betul karena akan mengakibatkan ibu S perasaanya tidak tenang, merasa gelisah,
sedih dan sulit tidur ya bu, juga sakitnya akan kambuh lagi ya bu ”
i. “ Ibu S sebelum minum obat ini, baik disini maupun nanti di rumah, ibu S harus cek
dulu, yaitu perhatikan prinsip lima benar minum obat. Jadi sebelum minum obat,
yang pertama ibu S harus lihat dulu apakah betul obat ini buat ibu S, yang kedua
lihat apakah benar yang diminumnya itu HLP warna merah muda, CPZ warna
orange dan THP warn putih, kalau beda warna atau nama obatnya beda, ibu S harus
tanyakan ke perawatnya ya. Yang ketiga obat ini diminumnya 3 kali sehari 1 tablet,
HLP 1 tablet, CPZ 1 tablet, THP 1 tablet, jadi kalau dikasih setengah ibu S harus
tanyakan lagi ke perawatnya. Yang ke empat obat ini diminumnya harus tepat waktu
yaitu jam 7 pagi setelah makan pagi, jam 1 sian setelah makan siang dan jam 5 sore
setelah makan sore. Yang kelima semua obat ini harus langsung diminum ya bu,
kjangan disimpan dibawah lidah atau dibuang ”
j. “ Bagaimana bu S... sudah mengerti? Aa yang mau ibu tanyakan kepda saya ”
k. “ Nanti setelah minum obat ini, mulut ibu S akan terasa kering, ngantuk, dan lemas.
Untuk membantu mengatasinya ibu S harus banyak minum air putih, minimal 8
gelas, dan setelah minum obat ibu S juga jangan jalan-jalan tetapi tiduran saja ”
l. “ Apabila sudah waktunya ibu S minum obat, langsung saja minta pada perawat
ruangan ya bu, begitu juga nanti dirumah, jadi ibu S jangan nunggu disuruh ”
m. “ Terus apabila ibu S setelah minum ketiga obat ini kepalanya terasa pusing, badan
sempoyongan, tangan gemetar, maka ibu harusn segera lapor atau bilbu S sudah
mengerang kepada perawat ruangan atau dokter ”
n. “ Bagaimana ibu S, apakah sudah mengerti ? Ya bagus sekali kalau ibu S sudah
mengerti ”
3. Fase terminasi
a. Evaluasi repon
1) Subyektif
“ Bagaimana perasaan ibu S setelah kita bercakap-cakap tentang obat-obat yang
ibu minum ”
2) Obyektif
“ Coba ibu S sebutkan lagi nama-nama obat yang diminumnya... manfaatnya apa
saja..berapa kali minumnya dalam sehari...(sebutkan)... apa efek samping dari
obat-obat tersebut...apa kerugianya bila berhenti minum obat...apa yang harus
dilakukan kalau ibu mau minum obat...apa yang harus dilakukan kalu ibu au
minum obat...ya bagus bu. Ibu S sekarang sudah tahu ya tentang obat-obat yang
harus diminumnya ”
b. Kontrak
1) Topik
“ Baik ibu S sekarang bincang-bincang sudah selesai, bagaimana kalu 2 jam lagi
sekitar jam 11 saya datang kesini untuk bincang-bincang tentang penyebab ibu
malu dan tidak mau bergaul dengan orang lain ”
2) Waktu
“ Waktunya mau berapa lama bu ? iya 10 menit saja dan tempatnya mau dimana
? ya bagaimana kalau disini saja ya ! ”
3) Tempat
“ Baiklah bu sya permisi dulu ya, jangan lupa ibu berlatih dan mempraktikanya
cara berkenalan ya, ibu S juga harus sering berkumpul dan mengobrol
ya...Assalamualikum
c. Rencana tindak lanjut
“ Mari sekarang kita masukan dalam jadwal kegiatan harian ibu S ya. Berapa kali
dalam sehari minum obatnya bu. Kjam berapa saja. Coba tulis ya bu, ya jam 7 pagi,
jam 1 siang, dan jam 5 sore. Bagus bu, jadi kalau sudah jamnya ibu S minum obat,
langsung minta ke pada perawatnya ya bu. Jangan sampai nunggu di panggil ”

26
DAFTAR PUSTAKA
Eko Prabowo. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Farida Kusumawati & Yudi Hartono. (2012). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.
Mukhripah Damaiyanti & Iskandar. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika
Aditama.
Trimeilia. (2011). Asuhan Keperawatan Klien Isolasi Sosial. Jakarta Timur: TIM.
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. MASALAH UTAMA
Resiko Perilaku Kekerasan
B. PROSES TERJADINNYA MASALAH
1. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan
untuk melukai seseorang secara fisik maupun psiklogis. Berdasarkan
definisi tersebut maka perilaku kekerasan dapat dilakukakn secara verbal,
diarahkan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Perilaku kekerasan
dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu sedang berlangsung kekerasan atau
perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku kekerasan).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada
diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan yang dirasakan sebagai
ancaman (Kartika Sari, 2015:137).
b. Penyebab
1) Faktor Predisposisi
Menurut Yosep (2010), faktor predisposisi klien dengan perilaku
kekerasan adalah:
← Teori Biologis
← Neurologic Faktor
Beragam komponen dari sistem syaraf seperti sinap,
neurotransmitter, dendrit, akson terminalis mempunyai peran
memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan
yang mempengaruhi sifat agresif. Sistem limbik sangat terlibat
dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan
respon agresif (Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 100).
Lobus frontalis memegang peranan penting sebagai penengah
antara perilaku yang berarti dan pemikiran rasional, yang
merupakan bagian otak dimana terdapat interaksi antara
rasional dan emosi. Kerusakan pada lobus frontal dapat
menyebabkan tindakan agresif yang berlebihan (Nuraenah,
2012: 29).
b Genetic Faktor
Adanya faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi
potensi perilaku agresif. Menurut riset kazu murakami (2007)
dalam gen manusia terdapat dorman (potensi) agresif yang
sedang tidur akan bangun jika terstimulasi oleh faktor
eksternal. Menurut penelitian genetik tipe karyotype XYY,
pada umumnya dimiliki oleh penghuni pelaku tindak kriminal
serta orang-orang yang tersangkut hukum akibat perilaku
agresif (Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 100).
c Cycardian Rhytm
Irama sikardian memegang peranan individu. Menurut
penelitian pada jam sibuk seperti menjellang masuk kerja dan
menjelang berakhirnya kerja ataupun pada jam tertentu akan
menstimulasi orang untuk lebih mudah bersikap agresif
(Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 100).
d Faktor Biokimia
Faktor biokimia tubuh seperti neurotransmitter di otak
contohnya epineprin, norepenieprin, dopamin dan serotonin
sangat berperan dalam penyampaian informasi melalui sistem
persyarafan dalam tubuh. Apabila ada stimulus dari luar tubuh
yang dianggap mengancam atau membahayakan akan
dihantarkan melalui impuls neurotransmitter ke otak dan
meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan hormon
androgen dan norepineprin serta penurunan serotonin dan
GABA (Gamma Aminobutyric Acid) pada cerebrospinal
vertebra dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya perilaku
agresif ( Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 100).
e Brain Area Disorder
Gangguan pada sistem limbik dan lobus temporal, siindrom
otak, tumor otak, trauma otak, penyakit ensepalitis, epilepsi
ditemukan sangat berpengaruh terhadap perilaku agresif dan
tindak kekerasan (Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 100).
c. Teori Psikogis
1) Teori Psikoanalisa
Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat
tumbuh kembang seseorang. Teori ini menjelaskan bahwa
adanya ketidakpuasan fase oral antara usia 0-2 tahun dimana
anak tidak mendapat kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan
air susu yang cukup cenderung mengembangkan sikap agresif
dan bermusuhan setelah dewasa sebagai komponen adanya
ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak
berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang yang
rendah. Perilaku agresif dan tindakan kekerasan merupakan
pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan
dan rendahnya harga diri perilaku tindak kekerasan (Mukripah
Damaiyanti, 2012: hal 100 – 101)
2) Imitation, modelling and information processing theory
Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang dalam
lingkungan yang mentolelir kekerasan. Adanya contoh, model
dan perilaku yang ditiru dari media atau lingkungan sekitar
memungkinkan individu meniru perilaku tersebut. Dalam
suatu penelitian beberapa anak dikumpulkan untuk menontn
tayangan pemukulan pada boneka dengan reward positif
( semakin keras pukulannya akan diberi coklat). Anak lain
diberikan tontonan yang sama dengan tayangan mengasihi dan
mencium boneka tersebut dengan reward yang sama (yang
baik mendapat hadiah). Setelah anak – anak keluar dan diberi
boneka ternyata masing-masing anak berperilaku sesuai
dengan tontnan yang pernah dilihatnya (Mukripah Damaiyanti,
2012: hal 101).
← Learning Theory
Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap
lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respon ayah
saat menerima kekecewaan dan mengamati bagaimana respon
ibu saat marah ( Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 101).
← Faktor Presipitasi
2 Rentang respon
Respon adaptif Respon maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif PK

Klien mampu Klien gagal Klien Klien Perasaan


mengungkapkan menapai merasa tidak mengeks- marah dan
Rasa marah tujuan Dapat presikan secara bermusuha
Tanpa kepuasan saat mengungkap fisik, tapi n yang kuat
menyalahkan marah dan Kan masih dan hilang
Orang lain dan tidak dapat perasaannya, terkontrol, kontrol
memberikan menemukan Tidak mendorong disertai
kelegaan. alternatifnya. berdaya dn orang lain amuk,
menyerah. dengan merusak
ancaman lingkungan

Gambar Rentang Respon Marah

5. Respon Adaptif
Respon adaprif adalah respon yang dapat diterima norma-norma sosial
budaya yang berlaku. Dengan kata lain, individu tersebut dalam batas
normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan
masalah tersebut, respon adaptif (Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 96):
a Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan
b Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan
c Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul
dari pengalaman Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku
yang masih dalam batas kewajaran Hubungan sosial adalah proses
suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan
c. Respon Maladaptif
1) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan kenyataan sosial
2) Perilaku kekerasan merupakan status rentang emosi dan ungkapan
kemarahan yang dimanifestasiakn dalam bentuk fisik
3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan status yang timbul dari
hati
4) Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak
teratur (Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 97).
8. Proses Terjadinya Masalah
a. Faktor Predisposisi
Faktor pengalaman yang dialami tiapmorang yang merupakan faktor
predisposis, artinya mungkin terjadi/mungkin tidak terjadi perilaku
kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu:
← Psikologis
Menurut Townsend(1996, dalam jurnal penelitian) Faktor
psikologi perilaku kekerasan meliputi:
← Teori Psikoanalitik, teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak
berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah.
Agresif dan kekerasan dapat memberikan kekuatan dan
meningkatkan citra diri (Nuraenah, 2012: 30).
← Teori pembelajaran, perilaku kekerasan merupakan perilaku
yang dipelajarai, individu yang memiliki pengaruh biologik
terhadap perilaku kekerasan lebih cenderung untuk
dipengaruhi oleh peran eksternal (Nuraenah, 2012: 31).
← Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan
kekerasan, sering mengobservasi kekerasan dirumah atau diluar
rumah, semua aspek ini menstiumulasi individu mengadopsi
perilaku kekerasan (Eko Prabowo, 2014: hal 142).
← Sosial budaya, proses globalisasi dan pesatnya kemajuan
teknologi informasi memberikan dampak terhadap nilai-niali
sosial dan budaya pada masyarakat. Di sisi lain, tidak semua
orang mempunyai kemampuan yang sama untuk mnyesuaikan
dengan berbagai perubahan, serta mengelola konflik dan stress
(Nuraenah, 2012: 31).
← Bioneurologis, banyak bahwa kerusakan sistem limbik, lobus
frontal, lobus temporal dan ketidak seimbangan neurotransmitter
turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan (Eko
Prabowo, 2014: hal 143).
← Faktor Presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam,
baik berupa injury secara fisik, psikis atau ancaman knsep diri.
Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:
← Konsis klien: kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan,
kehidupan yang penuh dengan agresif dan masa lalu yang tidak
menyenangkan.
← Interaksi: penghinaan, kekerasan, kehilangan orang, merasa
terancam baik internal dari permasalahan diri klien sendiri
maupun eksternal dari lungkungan.
← Lingkungan: panas, padat dan bising
d. Tanda dan Gejala
Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala
perilaku kkekerasan: (Mukripah Damaiyanti, 2012: hal 97)
← Muka merah dan tegang
← Mata melotot atau pandangan tajam
← Tangan mengepal
← Rahang mengatup
Wajah memerah dan tegang
Postur tubuh kaku
Pandangan tajam
Jalan mondar mandir
Klien dengan perilaku kekerasan seringmenunjukan adanya (Kartika Sari,
2015: 138) :
Klien mengeluh perasaan terancam, marah dan dendam
Klien menguungkapkan perasaan tidak berguna
Klien mengungkapkan perasaan jengkel
Klien mengungkapkan adanya keluhan fisik seperti dada berdebar-
debar, rasa tercekik dan bingung
Klien mengatakan mendengar suara-suara yang menyuruh melukai
diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Klien mengatakan semua orang ingin menyerangnya
6. Akibat
Menurut Townsend, perilaku kekerasan dimana seeorang
meakukan tindakan yang dapat membahayakan, baik diri sendiri maupun
orang lain. Seseorang dapat mengalami perilaku kekerasan pada diri
sendiri dan orang lain dapat menunjukan perilaku (Kartikasari, 2015: hal
140) :
Data Subyektif :
Mengungkapkan mendengar atau melihat obyek yang mengancam
Mengungkapkan perasaan takut, cemas dan khawatir
Data Obyektif :
Wajah tegang merah
Mondar mandir
Mata melotot, rahang mengatup
Tangan mengepal
Keluar banyak keringat
Mata merah
Tatapan mata tajam
Muka merah
b Mekanisme Koping
Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada pasien marah
untuk melindungi diri antara lain:
e) Sublimasi
Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia. Artinya dimata
masyarakat unutk suatu dorongan yang megalami hambatan
penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah
melampiaskan kemarahannya pada objek lain seperti meremas remas
adona kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk
mengurangi ketegangan akibat rasa amarah (Mukhripah Damaiyanti,
2012: hal 103).
f) Proyeksi
Menyalahkan orang lain kesukarannya atau keinginannya yang tidak
baik, misalnya seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunyai perasaan seksual terdadap rekan sekerjanya, berbalik
menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu,
mencumbunya(Mukhripah Damaiyanti, 2012: hal 103).
g) Represi
Mencegah pikiran yang menyakitkan atau bahayakan masuk kedalam
sadar. Misalnya seorang anak yang sangat benci pada orang tuanya
yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang
diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal
yang tidak baik dan dikutuk oleh tuhan. Sehingga perasaan benci itu
ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakanya (Mukhripah
Damaiyanti, 2012: hal 103).
h) Reaksi formasi
Mencegah keinginan yang berbahaya bila di ekspresika.dengan
melebih lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan
menggunakan sebagai rintangan misalnya sesorangan yang tertarik
pada teman suaminya,akan memperlakukan orang tersebut dengan
kuat (Mukhripah Damaiyanti, 2012: hal 103).
2 Deplacement
Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan pada objek
yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang
membangkitkan emosi itu ,misalnya: timmy berusia 4 tahun marah
karena ia baru saja mendapatkan hukuman dari ibunya karena
menggambar didinding kamarnya. Dia mulai bermai perang-perangan
dengan temanya (Mukhripah Damaiyanti, 2012: hal 104).
g) Penatalaksanaan
a. Farmakoterapi
Pasien dengan ekspresi marah perlu perawatan dan pengobatan
mempunyai dosis efektif tinggi contohnya: clorpromazine HCL yang
berguna untuk mengendalikan psikomotornya. Bila tidak ada dapat
bergunakan dosis efektif rendah. Contohnya trifluoperasineestelasine,
bila tidak ada juga maka dapat digunakan transquilizer bukan obat anti
psikotik seperti neuroleptika, tetapi meskipun demikian keduanya
mempunyai efek anti tegang,anti cemas,dan anti agitasi (Eko Prabowo,
2014: hal 145).
b. Terapi okupasi
Terapi ini sering diterjemahkan dengan terapi kerja terapi ini buka
pemberian pekerjaan atau kegiatan itu sebagai media untuk melakukan
kegiatan dan mengembalikan kemampuan berkomunikasi, karena itu
dalam terapi ini tidak harus diberikan pekerjaan tetapi segala bentuk
kegiatan seperti membaca koran, main catur dapat pula dijadikan
media yang penting setelah mereka melakukan kegiatan itu diajak
berdialog atau berdiskusi tentang pengalaman dan arti kegiatan uityu
bagi dirinya. Terapi ni merupakan langkah awal yang harus dilakukan
oleh petugas terhadap rehabilitasi setelah dilakukannya seleksi dan
ditentukan program kegiatannya (Eko Prabowo, 2014: hal 145).
c. Peran serta keluarga
Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberikan
perawatan langsung pada setiap keadaan (sehat-sakit) pasien. Perawat
membantu keluarga agar dapat melakukan lima tugas kesehatan, yaitu
mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan,
memberi perawatan pada anggota keluarga, menciptakan lingkungan
keluarga yang sehat, dan menggunakan sumber yang ada pada
masyarakat. Keluarga yang mempunyai kemampuan mengtasi
masalah akan dapat mencegah perilaku maladaptif (pencegahan
primer), menanggulangi perilaku maladaptif (pencegahan skunder)
dan memulihkan perilaku maladaptif ke perilakuadaptif (pencegahan
tersier) sehinnga derajat kesehatan pasien dan keluarga dapat
ditingkatkan secara optimal (Eko Prabowo, 2014: hal 145).
d. Terapi somatik
Menurut depkes RI 2000 hal 230 menerangkan bahwa terapi
somatic terapi yang diberikan kepada pasien dengan gangguan jiwa
dengan tujuan mengubah perilaku yang mal adaftif menjadi perilaku
adaftif dengan melakukan tindakan yang ditunjukkan pada kondisi
fisik pasien,terapi adalah perilaku pasien (Eko Prabowo, 2014: hal
146).
e. Terapi kejang listrik
Terapi kejang listrik atau electronic convulsive therapy (ECT)
adalah bentuk terapi kepada pasien dengan menimbulkan kejang grand
mall dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang
menangani skizofrenia membutuhkan 20-30 kali terapi biasanya
dilaksanakan adalah setiap 2-3 hari sekali (seminggu 2 kali) (Eko
Prabowo, 2014: hal 146).
9. Pohon Masalah

Resiko Mencederai diri sendiri dan Effect


orang lain

Perilaku Kekerasan Cor Problem

Halusinasi Causa

Harga Diri Rendah

Koping Individu Tidak Efektif

Faktor Predisposisi dan Prespitasi


b Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan dari pohn masalah pada gambar adalah sebagai
berikut (Mukhripah Damaiyanti, 2012: hal 106).
(1) Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri dan orang lain
(2) Harga diri rendah kronik
c Rencana Asuhan Keperawatan
(1) Tujuan Umum
Klien dapat melanjutkan hubungan peran sesuai denga tanggung
jawab
(2) Tujuan Khusus
a. TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya
A. Kriteria Evaluasi
← Klien mau membalas salam
← Kien mau berjabat tangan
← Klien mau menyebutkan nama
← Klien mau kontak mata
← Klien mau mengetahui nama perawat
← Klien mau menyediakan waktu untuk kontak
B. Intervensi
Beri salam dan panggil nama kien
Sebutkan nama perawat sambil berjabat tangan
Jelaskan maksud hubungan interaksi
Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat
Beri rasa aman dan sikap empati
Lakukan kontak singkat tapi sering
(3) TUK II : Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku
kekerasan
A. Kriteria Evauasi
A. Klien dapat mengungkapkan perasaannya
B. Klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan
jengkel/jengkel (dari diri sendiri, orang lain dan
lingkungan)
B. Intervensi
A. Beri kesempatan mengungkapkan perasaannya
B. Bantu klien mengungkap perasaannya
(4) TUK III : Kien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku
kekerasan
A. Kriteria Evaluasi
A. Klien dapat mengungkapkan perasaan saat marah atau
jengkel
B. Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda jengkel/kesal yang
dialami
B. Intervensi
A. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami saat
marah/jengkel
B. Observasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien
C. Simpulkan bersama klien tanda-tanda klien saat
jengkel/marah yang dialami
(5) TUK IV : Klien dapat mengidentifikasi perilakuk kekerasan yang
biasa dilakukan
A. Kriteria Evaluasi
← Klien dapatmengungkapkan perilaku kekerasan yang
dilakukan
← Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang
dilakukan
← Klien dapat mengetahui cara yang biasa dapat
menyelesaikan masalah atau tidak
4) Intervensi
\ Anjurkan klien mengungkapkan perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan klien
\ Bantu klien dapat bermain peran dengan perilaku
kekerasan yang biasa dilakukan
\ Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien
lakukan masalahnya selesai
3. TUK V : Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
a. Kriteria Evaluasi
← Klien dapat mengungkapkan akibat dari cara yang
dilakukan klien
b. Intervensi
← Bicarakan akibat kerugian dari cara yang dilakukan klien
← Bersama klien menyimpulkan akibat cara yang dilakukan
oleh klien
← Tanyakan pada klien apakah ingin mempelajari cara baru
yang sehat
4. TUK VI : Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam
berespon terhadap kemarahan secara konstruktif
a. Kriteria Evaluasi
← Klien dapat melakukan cara berespn terhadap kemarahan
secara konstruktif
b. Intervensi
← Tanyakan pada klien apakah ingin mempelajari car baru
← Beri pujian jika klien menemukan cara yang sehat
← Diskusikan dengan klien mengenai cara lain
2 TUK VII : Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan
b. Kriteria Evaluasi
Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan
1 Fisik : olahragadan menyiram tanaman
2 Verbal : mengatakan secra langsung dan tidak menyakiti
3 Spiritual : sembahyang, berdoa/ibdah yang lain
c. Intervensi
3) Bantu klien memilih cara yang tepat untuk klien
4) Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih
5) Bantu klien menstimulasi cara tersebut
6) Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien
menstimulasi cara tersebut
7) Anjurkan klien menggunakan cara yang telah dipilihnya
jiak ia sedang kesal/jengkel
d. TUK VIII : Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol
perilaku kekerasan
1) Kriteria Evaluasi
- Keluarga klien dapat menyebutkan cara merawat klien
yang berperikalu kekerasan
- Keluarga klien meras puas dalam merawat klien
2) Intervensi
- Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap
apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selam ini
- Jelaskan peran serta keluarga dalam perawatan klien
- Jelaskan cara merawat klien
- Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat kien
- Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah
melakukan demonstrasi
e. TUK IX : Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai
program pengobatan)
1) Kriteria Evaluasi
← Klien dapat meyebutkan obat-batan yang diminum dan
kegunaannya
← Klien dapat minum obat sesuai dengan program
pengobatan
2 Intervensi
b. Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien
c. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti
minum obat tanpa izin dokter

STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Resiko Perilaku Kekerasan
Pertemuan ke I (satu)
3. PROSES KEPERAWATAN
a. Kondisi Pasien
Klien tenang, kooperatif dan klien mampu menjawab semua
pertanyaan
b. Diagnosa Keperawatan
Resiko perilaku kekerasan
c. Tujuan Khusus
1 Klien mampu membina hubungan saling percaya
d. Tindakan Keperawatan
SP 1 : me mbina hubungan saling percaya dan mengidentifikasi
penyebab marah
4. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
a. Orientasi
1 Salam terapeutik
“Assalamualaikum, Selamat pagi ?”, “Perkenalkan saya perawat
samsul , saya perawatn yang bertugas di ruang perkutut ini. Nama
mas siapa ? dan senang dipanggil apa ? ”
2 Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan Mas saat ini ? apa masih ada perasaan marah,
jengkel ?”
3 Kontrak
“Baiklah, pagi ini kita akan berbincang-bincang mengenai perasaan
marah yang saat ini mas rasakan ”. “Mari kita bercakap-cakap ke
taman !” “Atau mas ingin ke tempat lain ?”. “Berapa lama mas mau
kita berbincang-bincang ? bagaimana kalau 15 menit ?”.
2 Kerja
“Apa yang meyebabkan mas bisa marah, Nah ceritakan apa yang
dirasakan mas saat marah ?”, saat mas Arif marah apa ada perasaan
tegang ,kesal,tegang,menegepalkan tangan,mondar mandir ?”. “atau
mungkin ada hal lain yang dirasakan ?”.
“Apa ada tindakan saat mas Arif sedang marah
seperti,memukul,membanting ?”...... “memukul ibu !”, “terus apakah
setelah melakukan tindakan tadi masalah yang dialami selesai, apakah
diberikan motor oleh orang tua mas Arif ?”. “ Apa akibat dari tindakan
yang telah dilakukan di rumah ?”......ya ibu saya menangis dan
kesakitan.......terus apalagi ?”........dan akhirnya dibawa ke rumah sakit
jiwa !”.
3 Terminasi
g. Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan mas setelah berbincang-bincang tentang
perasaan marah yang mas rasakan ?”
h. Evaluasi Obyektif
“Coba mas jelaskan lagi kenapa mas bisa marah”
i. Kontrak
a Topik
“Baik, bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang lagi
tentang akibat dari perasaan marah yang mas rasakan ?”
b Tempat
“Dimana kita bisa berbincang lagi, bagaimana kalau disini
saja?”
c Waktu
“Berapa lama kita akan berbincang, bagaimana kalau 15
menit ?”
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Resiko Perilaku Kekerasan
Pertemuan ke II (dua)
4. PROSES KEPERAWATAN
a Kondisi Pasien
a. Klien sudah dapat membina hubungan saling percaya dengan
perawat
b. Klien dapat mengenal peyebab marah
b Diagnosa Keperawatan
Resiko perilaku kekerasan
c Tujuan Khusus
a. Klien mampu mengidentifikasi tanda gejala perilaku kekerasan
b. Klien mampu mengidentifikasi yang biasa dilakukan
c. Klien mampu mengidentifikasi akibat perilaku marah
d Tindakan Keperawatan
SP 2 : mengidentifikasi tanda gejala, perilaku kekerasan yang bias
dilakukan dan akibat dari perilaku kekerasan.
5. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
a Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi, mas arif? masih ingat nama saya ?”
b. Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaaan mas arif saat ini? apakah ada penyabab
marah yang lain dan belum diceritakan kemarin ?
b Kontrak
“Seperti kesepakatan kemarin, pagi ini kita akan bercakap cakap
tentang perasaan mas arif rasakan saat marah, yang bisa dilakukan
saat marah dan akibat dari tindakan yang telah dilakukan ?.
“Seperti kesepakatan kemarin kita bercakap cakap di taman
ya !atau mungkin mas arif ingin tempat lain ?. “Mas arif mau
berapa lama kita bercakap cakap? 15 menit, baiklah”
d. Kerja
“Kemarin mas arif sudah menceritakan penyebab marah, nah ceritakan
apa yang dirasakan mas arif saat marah atau saat memukul ibu !saat
mas arif marah apakah ada perasaan tegang, kesal, tegang,
mengepalkan tangan, mondar mandir? atau mungkin ada hal lain yang
dirasakan ?”
“Apakah mas arif pernah melakukan tindakan lain selain memukul ibu
saat marah ? misalnya membanting piring memecahkan kaca, atau
mungkin merusak tanaman! memecahkan kaca! terus apakah setelah
melakukan tindakan tadi (memukul ibu dan memecahkan kaca)
masalah yang dialami selesai, apakah diberikan motor oleh orang tua
mas arif?”
“Apakah mas arif akibat dari tindakan yang telah dilakukan di rumah?
ya tangan jadi sakit, jendela rusak terus apalagi? dan akhirnya dibawa
ke rumah sakit jiwa!”
e. Terminasi
1 Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaannya setelah bercakap cakap tentang perasaan
saat marah dan yang bisa dilakukan saat marah dan akibatnya ?”
2 Evaluasi Obyektif
“Coba sebutkan kembali tindakan yang bisa dilakukan saat marah!
“Bagus... lagi, kalau akibatnya apa ?”
3 Kontrak
Topik
“Bagaimana kalau besok kita mulai belajar mengungkapkan
rasa marah yang sehat ?”
Tempat
“Dimana kita belajar marah yang sehat? O…. diruang tamu
baiklah”
← Waktu
“Mas arif ingin berapa lama kita belajar marah yang sehat?
O… 15 menit baiklah!
c. Rencana Tindak Lanjut
“Nah karena mas arif sudah tau tindakan yang telah dilakukan
maukah mas arif belajar mengungkapkan rasa marah yang sehat?
nanti suster ajari, bagaimana, bersedia?”

STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Resiko Perilaku Kekerasan
Pertemuan ke III (tiga)
2 PROSES KEPERAWATAN
c. Kondisi Pasien
Klien sudah mengetahui perasaan marah dan akibat tindakan yang
dilakukan saat marah, klien tenang dan kooperatif.
d. Diagnosa Keperawatan
Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi berhubungan dengan
isolasi sosial menarik diri
e. Tujuan Khusus
1) Memilih cara yang konstruktif
2) Mendemonstransikan satu cara marah yang konstruktif
f. Tindakan Keperawatan
SP 3 : membantu klien menemukan cara cara yang konstruktif dalam
merespon kemarahan
3 STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
c. Orientasi
1) Salam terapeutik
“Selamat pagi, mas arif?”
2) Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaaan mas arif saat ini?”
g. Kontrak
“pagi hari ini kita akan berlatih cara mengungkapkan marah yang
sehat, benar kan mas? “. “sesuai kesepakatan kemarin kita akan
beratih di runagn tamu kan, mas?”. “berapa lama kita bercaka-
cakap ?”bagaimana kalau 15 menit?”
2 Kerja
“ Menurut mas arif, bagaimana cara mengungkapkan marah yang
benar, tertentunya tidak merugikan/ membahayakan orang lain ?”......
yang terus, bagus!”.” Nah sekarang akan suster ajarkan satu persatu
cara marah yang sehat, langsung suster jelaskan!”
“yang pertama kita bisa ceritakan kepada orang lain yang membut kita
kesal atau marah, misalnya dengan mengatakan: saya marah dengan
kamu!” maka hati kita akan sedikit lega”. “yang kedua dengan menarik
nafas dalam saat marah/ jegkel sehingga menjadi rileks. “yang ketiga
dengan mengambil air wudhu lalu sholat atau berdoa agar diberi
kesabaran, tujuanya agar kitamenjadi lebih tenang” “yang keempat
dengan megalihkan rasa marah/jengkel kita dengan aktivitas, misalnya
dengan olahraga, membersihkan rumah, membersihkan alat-alat rumah
tangga seperti mencuci piring sehingga energi kita menjadi berkurang
dan dapat mengurangi ketegangan” “suster sudah jelaskan empat cara
marah yang sehat, ada yang belum jelas?”.”nanti mas arif bisa coba
memiliki salah satu cara untuk dipraktikkan “.”O....mau yang menarik
nafas dalam”baiklah ayo kita
mulai,coba ikuti suster ,tarik nafas melalui hidung,ya bagus,tahan
sebenter dan keluarkan /tiup melaui mulut,ulangi sampai 5 kali”.” Nah
kalau sudah merasa lega bisa mas arif lanjutkan dengan olahraga,
membersihkan rumah ata kegiatan lain”
4. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“bagaimana perasaannya setelah berlatih cara marah yang sehat?”
b. Evaluasi Obyektif
“coba ulangi lagi cara menarik nafas yang dalam yang sudah kita
pelajari tadi!”bagus!”
c. Kontrak
1) Topik
“bagaimana kalau keluarga datang kita bercakap-cakap cara
marah yang sehat?”
2) Tempat
“Dimana kita belajar marah yang sehat? O…. diruang tamu”
2) Waktu
“mau berapa lama ?”.bagaimana kalau 30 menit saja ?”
b Rencana Tindak Lanjut
“tolong mas,nanti dicoba lagi cara yang sudah suster ajarkan dan
jangan lupa ikuti kegiatanya di ruangan ya!”

STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Resiko Perilaku Kekerasan
Pertemuan ke IV (empat)
d. PROSES KEPERAWATAN
1 Kondisi Pasien
← Klien mengetahui cara mengungkapkan marah yang sehat
← Klien dapat mempraktikan cara marah yang sehat
2 Diagnosa Keperawatan
Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi berhubungan dengan
isolasi sosial menarik diri
3 Tujuan Khusus
Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan
4 Tindakan Keperawatan
SP 4 : membantu keluarga tentang cara merawat klien
e. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
1 Orientasi
← Salam terapeutik
“Selamat pagi, Mas arif ?ini keluarganya ya ?”
← Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan mas arif saait ini ? baik baik saja kan, ada
yang ingin disampaikan ? O…saya adalah suster dani yang
merawat mas arif, bapak namanya siapa? pak eko. ada hubungan
apa dengan mas arif ? oooo ayah, naiklah, kebetulan!?”
2. Kontrak
“Pada kesempatan ini kita akan berbincang bincang cara tentang
merawat mas arif dirumah, bagaimana pak eko bersedia?”.
“Bagaimana kalau kita bercakap cakap di ruang tamu saja, biar
lebih santai ?”. “Barapa lama kita akan bercakap cakap ?bagaimana
kalau 30 menit ?”.
d. Kerja
“Nah tolong ceritakan apa yang membuat mas arif dibawa ke
RSJ ?terus apa yang dilakukan keluarga saat mas arif mondar mandir
dan marah marah ? terus apa lagi pak ?”.
“Apa yang diceritakan tadi tidak salah, akan tetapi ada cara lain yang
lebih menolong agar mas arif tidak melakukan tindakan mencedarai
orang lain dan merusak kaca lagi”.
Begini pak, ada beberapa cara yang dapat disarankan agar dilakukan
mas arif, misalnya dengan olahraga, membaca al-Quran, sholat,
membersihkan kamar mandi, membersihkan rumah, memukul bantal/
kasur, membantu orang tua bekerja”.
“Masih ada cara lain yang lebih mudah, misalnya dengan melatih klien
bersikap terbuka, juga penting untuk klien yang sedang marah,
melakukan relaksasi dengan menarik nafas dalam dapat mengurangi
rasa marah dan dapat menenangkan perasaan klien, Bagaimana pak
sudah jelas, atau masih ada yang akan ditanyakan ?”.

e. Terminasi
- Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan setelah tahu cara merawat mas arif ?
- Evaluasi Obyektif
“coba sebutkan kembali berapa acara yang dapat dilakukan saat
marah ? terus apa lagi ?.... Bagus”
- Kontrak
1) Topik
“Bagaimana kalau besok keluarga menengok lagi, kita akan
bercakap cakap lagi tentang cara minum obat dan manfaaatnya
bagi mas arif?”
2) Tempat
“Kita bercakap cakap di tempat ini lagi ya?
3) Waktu
“mau berapa lama ?”.bagaimana kalau 30 menit saja ?”
2 Rencana Tindak Lanjut
“Jangan lupa besok kalau mas arif sudah pulang dan seperti akan
marah marah tolong ingatkan cara cara yang sudah diajarkan tadi
ya!”.
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Resiko Perilaku Kekerasan
Pertemuan ke V (lima)
3. PROSES KEPERAWATAN
a. Kondisi Pasien
1 Klien mengetahui cara mengungkapkan marah yang sehat
2 Keluarga klien dapat mempraktikan cara merawat pasien yang
sedang marah
b. Diagnosa Keperawatan
Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi berhubungan dengan
isolasi sosial menarik diri
c. Tujuan Khusus
Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program
pengobatan)
d. Tindakan Keperawatan
SP 5 : membantu klien minum obat secara teratur disertai penjelasan
guna minum obat dan akibat berhenti minum obat
4. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
a. Orientasi
1 Salam terapeutik
“Selamat pagi, Mas Arifdan Pak Eko ?”
2 Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan mas arif saait ini ? apakah sudah lebih
rileks?”.
j. Kontrak
“Seperti keseppakatan kemarin, pagi ini kita akan bercakap-cakap
tentang penggunaan obat dan manfaatnya bagi mas arif”.
4. Kerja
“Berapa jenis obat yang mas Arif minum ttadi pagi ?”. “ya, bagus”.
“jadi begini ya mas, obat yang dimum tadi ada tiga macam, ini batnya
saya bawakan”.“saya jelaskan satu persatu ya mas. Yang warna oranye
ini namanya CPZ atau chlorponazin, gunanya agar mas arif mdah
untuk tidur sehngga mas arif bisa istirahat, minumnya 2 x sehari pagi
dan sore hari, pagi jam 07.00 dan sore jam 17.30. nanti ada efek
sampingnya, efeknyya mas arif mudah lemas dan keluar ludah terus
menerus”.
“nah, yang ini namanya PHD, karena mas arif dapat yang 5 mg, maka
warnanya pink, cara minumnya sama dengan CPZ, 2 x sehari”.
“gunanya untuk menenangkan mas arif sehingga dapat mengontrol
perilakunya saat marah, sehingga lebih rileks, santai dan mengontrol
emosi. Efek sampingnya badan jadi kaku, terutam pada kaki dan
tangan, mulut kering dan dada berdebar-debar. “tapi mas jangan
khawatir karena ada penangkalnya makanya diberikan obat yang putih
ini yang agak besar. Namanya triheksipenidile atau THP, fungsinya
obat ini menetralkan efek samping dari obtat yang tadi”. “Bagaimana
masih ada yang belum jelas. Jangan lupa kalau obat ini hampir habis
segera kontrol ya!”.
d. Terminasi
Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan setelah tahu tentang jenis dan manfaat obat
yang diminum mas arif ?
Evaluasi Obyektif
“coba sebutkan kembali jenis obat yang sama mas arif, dan
ambilkan yang namanya obat HPD, dan seterusnya, dans ebutkan
manfaatnya juga”.
Kontrak
1) Topik
“Bagaimana kalau kapan-kaoan kita berbincang lagi tentang
masalah mas arif yang lain ?”.
2) Tempat
“Kita bercakap cakap di tempat ini lagi ya?
← Waktu
“mau berapa lama ?”.bagaimana kalau 30 menit saja ?”
3. Rencana Tindak Lanjut
“Jangan lupa obatnya diminum dengan dosis dan waktu yang
tepat ya”.
DAFTAR PUSTAKA

Eko Prabowo. (2014). Konsep & Aplikasi ASUHAN KEPERAWATAN JIWA.


Yogyakarta: Nuha Medika.
Mukhripah Damaiyanti. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Samarinda: Refka
Aditama.
Nuraenah. (2012). Hubungan Dukungan Keluarga dan Beban Keluarga dalam
Merawat Anggota dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di RS. Jiwa Islam
Klender Jakarta Timur, 29-37.
Sari, K. (2015). Panduan Lengkap Praktik Klinik Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Trans Info MEdia.
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH

A. MASALAH UTAMA
Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
1. Definisi
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga,tidak berarti dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap
diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan
diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai
ideal diri. ( Yosep,2009)
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri
sendiri atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung
atau tidak langsung diekspresikan. ( Towsend,2008)
Harga diri adalah penilaian tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. ( Keliat
BA,2006)
2. Penyebab
Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri
seseorang. Dalam tinjuan life span history klien. Penyebab terjadinya
harga diri rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang
diberi pujian atas keberhasilannya. Saat individu mencapai masa
remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan
tidak diterima. Menjelang dewasa awal sering gagal di sekolah,
pekerjaan atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat lingkungan
cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya.
( Yosep,2009)
Menurut Stuart & Sundeen (2006), faktor-faktor yang
mengakibatkan harga diri rendah kronik meliputi faktor predisposisi
dan faktor presipitasi sebagai berikut :
c. Faktor predisposisi
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan
orang tua, harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan
yang berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak
realistis.
2) Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah stereotipe
peran gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya
3) Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi
ketidakpercayaan orangtua, tekanan dari kelompok sebaya, dan
perubahan struktur sosial. (Stuart & Sundeen, 2006)
d. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah biasanya
adalah kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk
tubuh,kegagalan atau produktivitas yang menurun. Secara umum,
gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara
emosional atau kronik. Secara situasional karena trauma yang
muncul secara tiba-tiba, misalnya harus
dioperasi,kecelakaan,perkosaan atau dipenjara, termasuk dirawat
dirumah sakit bisa menyebabkan harga diri rendah disebabkan
karena penyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang membuat
klien sebelum sakit atau sebelum dirawat klien sudah memiliki
pikiran negatif dan meningkat saat dirawat.( Yosep,2009)
Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping
individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik
positif, kurangnya system pendukung kemunduran perkembangan
ego, pengulangan umpan balik yang negatif, disfungsi system
keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal.
(Townsend,2008)
2. Jenis
Harga diri rendah merupakan penilaian individu tentang nilai personal
yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang
sesuai dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang
berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan
kesalahan, kekalahan, dan kegagalan, tetapi merasa sebagai seseorang
yang penting dan berharga.
Gangguan harga diri rendah merupakan masalah bagi banyak orang
dan diekspresikan melalui tingkat kecemasan yang sedang sampai berat.
Umumnya disertai oleh evaluasi diri yang negatif membenci diri sendiri
dan menolak diri sendiri. Gangguan diri atau harga diri rendah dapat
terjadi secara :
2) Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus dioperasi,
kecelakaan,dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja. Pada
pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena prifasi yang
kurang diperhatikan. Pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan
alat yang tidak sopan, harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh
yang tidak tercapai karena dirawat/penyakit, perlakuan petugas yang
tidak menghargai. (Makhripah D & Iskandar, 2012)
3) Kronik
Yaitu perasaan negativ terhadap diri telah berlangsung lama,yaitu
sebelum sakit/dirawat. Pasien mempunyai cara berfikir yang negativ.
Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negativ terhadap
dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive, kondisi
ini dapat ditemukan pada pasien gangguan fisik yang kronis atau pada
pasien gangguan jiwa. (Makhripah D & Iskandar, 2012)
d. Rentang Respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Keracunan Depersona


Diri rendah identitas lisasi

e. Respon Adaptif
Respon adaptif adalah kemampuan individu dalam menyelesaikan
masalah yang dihadapinya.
← Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang
positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan
dapat diterima
← Konsep diri positif adalah apabila individu mempunyai
pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri dan menyadari
hal-hal positif maupun yang negatif dari dirinya.(Eko P, 2014)
d. Respon Maladaptif
Respon maladaptif adalah respon yang diberikan individu ketika dia
tidak mampu lagi menyelesaikan masalah yang dihadapi.
1 Harga diri rendah adalah individu yang cenderung untuk menilai
dirinya yang negatif dan merasa lebih rendah dari orang lain.
2 Keracunan identitas adalah identitas diri kacau atau tidak jelas
sehingga tidak memberikan kehidupan dalam mencapai tujuan.
3 Depersonalisasi (tidak mengenal diri) tidak mengenal diri yaitu
mempunyai kepribadian yang kurang sehat, tidak mampu
berhubungan dengan orang lain secara intim. Tidak ada rasa
percaya diri atau tidak dapat membina hubungan baik dengan
orang lain.(Eko P,2014)
6. Proses terjadinya
masalah a. Faktor
predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah kronis menurut
Herman (2011) adalah penolakan orang tua yang tidak realistis,
kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis. Faktor
predisposisi citra tubuh adalah :
c. Kehilangan atau kerusakan bagian tubuh
d. Perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh akibat penyakit
e. Proses penyakit dan dampaknya terhadap struktur dan fungsi
tubuh
f. Proses pengobatan seperti radiasi dan kemoterapi. Faktor
predisposisi harga diri rendah adalah :
6. Penolakan Kurang penghargaan, pola asuh overprotektif,
otoriter,tidak konsisten,terlalu dituruti,terlalu dituntut
7. Persaingan antar saudara
8. Kesalahan dan kegagalan berulang
9. Tidak mampu mencapai standar. Faktor predisposisi
gangguan peran adalah :
a. Stereotipik peran seks
b. Tuntutan peran kerja
c. Harapan peran kultural. Faktor predisposisi gangguan
identitas adalah :
1) Ketidakpercayaan orang tua
2) Tekanan dari peer gruup
3) Perubahan struktur
sosial ( Herman,2011)
b. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah adalah
hilangnya sebagian anggota tubuh, berubahnya penampilan atau
bentuk tubuh, mengalami kegagalan, serta menurunnya
produktivitas. Harga diri kronis ini dapat terjadi secara situasional
maupun kronik.
9. Trauma adalah masalah spesifik dengan konsep diri dimana
situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri,
khususnya trauma emosi seperti penganiayaan seksual dan
phisikologis pada masa anak-anak atau merasa terancam atau
menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupannya.
10. Ketegangan peran adalah rasa frustasi saat individu merasa
tidak mampu melakukan peran yang bertentangan dengan
hatinya atau tidak merasa sesuai dalam melakukan perannya.
Ketegangan peran ini sering dijumpai saat terjadi konflik
peran, keraguan peran dan terlalu banyak peran. Konflik peran
terjadi saat individu menghadapi dua harapan peran yang
bertentangan dan tidak dapat dipenuhi. Keraguan peran terjadi
bila individu tidak mengetahui harapan peran yang spesifik
atau bingung tentang peran yang sesui
← Trauma peran perkembangan
← Perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan
← Transisi peran situasi
← Perubahan jumlah anggota keluarga baik bertambah atau
berkurang
← Transisi peran sehat-sakit
← Pergeseran konsidi pasien yang menyebabkan kehilangan
bagian tubuh, perubahan bentuk , penampilana dan fungsi
tubuh, prosedur medis dan keperawatan. ( Herman,2011)
9. Perilaku
← Citra tubuh
Yaitu menolak menyentuh atau melihat bagian tubuh
tertentu, menolak bercermin, tidak mau mendiskusikan
keterbatasan atau cacat tubuh, menolak usaha rehabilitasi,
usaha pengobatan ,mandiri yang tidak tepat dan
menyangkal cacat tubuh.
← Harga diri rendah diantaranya mengkritrik diri atau orang
lain, produkstivitas menurun, gangguan berhubungan
ketengangan peran, pesimis menghadapi hidup, keluhan
fisik, penolakan kemampuan diri, pandangan hidup
bertentangan, distruktif kepada diri, menarik diri secara
sosial, khawatir, merasa diri paling penting, distruksi pada
orang lain, merasa tidak mampu, merasa bersalah, mudah
tersinggung/marah, perasaan negatif terhadap tubuh.
← Keracunan identitasdiantaranya tidak ada kode moral,
kepribadian yang bertentangan, hubungan interpersonal
yang ekploitatif, perasaan hampa, perasaan mengambang
tentang diri, kehancuran gender, tingkat ansietas tinggi,
tidak mampu empati pada orang lain, masalah estimasi
← Depersonalisasi meliputi afektif, kehidupan identitas,
perasaan terpisah dari diri, perasaan tidak realistis, rasa
terisolasi yang kuat, kurang rasa berkesinambungan, tidak
mampu mencari kesenangan. Perseptual halusinasi dengar
dan lihat, bingung tentang seksualitas diri,sulit
membedakan diri dari orang lain, gangguan citra tubuh,
dunia seperti dalam mimpi, kognitif bingung, disorientasi
waktu, gangguan berfikir, gangguan daya ingat, gangguan
penilaian, kepribadian ganda. ( Herman,2011)
12. Tanda dan gejala
Menurut Carpenito dalam keliat (2011) perilaku yang berhubungan dengan
harga diri rendah antara lain :
a. Mengkritik diri sendiri
b. Menarik diri dari hubungan sosial
c. Pandangan hidup yang pesimis
d. Perasaan lemah dan takut
e. Penolakan terhadap kemampuan diri sendiri
f. Pengurangan diri/mengejek diri sendiri
g. Hidup yang berpolarisasi
h. Ketidakmampuan menentukan tujuan
i. Merasionalisasi penolakan
j. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
k. Menunjukkan tanda depresi ( sukar tidur dan sukar makan )
Sedangkan menurut Stuart (2006) tanda- tanda klien dengan harga diri
rendah yaitu :
b Perasaan malu terhadap diri sendiri adalah akibat penyakit dan akibat
tindakan terhadap penyakit
c Rasa bersalah terhadap diri sendiri
d Merendahkan martabat
e Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri
f Percaya diri kurang
g Menciderai diri
6. Akibat
Harga diri rendah dapat diakibatkan oleh rendahnya cita-cita
seseorang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tantangan dalam
mencapai tujuan. Tantangan yang rendah menyebabkan upaya yang
rendah. Selajutnya hal ini menyebutkan penampilan seseorang yang tidak
optimal. Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung
mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuanya. Ketika seseorang
mengalami harga diri rendah,maka akan berdampak pada orang tersebut
mengisolasi diri dari kelompoknya. Dia akan cenderung menyendiri dan
menarik diri.( Eko P,2014)
Harga diri rendah dapat berisiko terjadi isolasi sosial yaitu menarik
diri. Isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak
fleksibel pada tingkah laku yang maladaptive, mengganggu fungsi
seseorang dalam hubungan sosial.( DEPKES,2003)
d) Mekanisme koping
Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka panjang
pendek atau jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanann
ego untuk melindungi diri sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang
menyakitkan. Pertaahanan tersebut mencakup berikut ini : Jangka pendek
:
(e) Aktivitas yang memberikan pelarian semestara dari krisis identitas
diri ( misalnya, konser musik, bekerja keras, menonton tv secara
obsesif)
(f) Aktivitas yang memberikan identitas pengganti semestara
( misalnya, ikut serta dalam klub sosial, agama, politik, kelompok,
gerakan, atau geng)
(g) Aktivitas yang sementara menguatkan atau meningkatkan perasaan
diri yang tidak menentu ( misalnya, olahraga yang kompetitif,
prestasi akademik, kontes untuk mendapatkan popularitas)
Pertahanan jangka panjang mencakup berikut ini :
2 Penutupan identitas : adopsi identitas prematur yang diinginkan
oleh orang terdekat tanpa memerhatikan keinginan,aspirasi,atau
potensi diri individu
3 Identitas negatif : asumsi identitas yang tidak sesuai dengan
nilai dan harapan yang diterima masyarakat.
Mekanisme pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi,
disosiasi,isolasi, proyeksi, pengalihan ( displacement, berbalik
marah terhadap diri sendiri, dan amuk ). (Stuart,2006)
c Penatalaksanaan
Terapi pada gangguan jiwa skizofrenia dewasa ini sudah
dikembnagkan sehingga penderita tidak mengalami diskriminasi bahkan
metodenya lebih manusiawi dari pada masa sebelumnya. Terapi yang
dimaksud meliputi :
i) Psikofarmaka
Berbagai jenis obat psikofarmaka yang beredar dipasaran yang hanya
diperoleh dengan resep dokter, dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu
golongan generasi pertama (typical) dan golongan kedua (atypical).
Obat yang termasuk golongan generasi pertama misalnya
chlorpromazine HCL (psikotropik untuk menstabilkan senyawa otak),
dan Haloperidol (mengobati kondisi gugup). Obat yang termasuk
generasi kedua misalnya, Risperidone (untuk ansietas), Aripiprazole
(untuk antipsikotik). (Hawari,2001)
j) Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan
orang lain, penderita lain, perawat dan dokter, maksudnya supaya ia
tidak mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat
membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk
mengadakan permainan atau latihan bersama. (Maramis,2005)
k) Terapi Modalitas
Terapi modalitas/ perilaku merupakan rencana pengobatan untuk
skizofrenia yang ditunjukan pada kemampuan dan kekurangan pasien.
Teknik perilaku menggunakan latihan keterampilan sosial untuk
meningkatkan kemampuan sosial. Kemampuan memenuhi diri sendiri
dan latihan praktis dalam komunikasi interpersonal. Terapi kelompok
bagi skizofrenia biasnya memusatkan pada rencana dan masalah dalam
hubungan kehidupan yang nyata.( Eko P,2014)
3 Terapi Kejang Listrik (Electro Confulsive Terapi)
ECT adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang granmal secara
artifisial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang
dipasang satu atau dua temples. Terapi kejang listrik diberikan pada
skizofrenia yang tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau
injeksi, dosis terapi kejang listrik 4 – 5 joule/detik. (Maramis, 2005)
h) Pohon Masalah

Isolasi Sosial
effect

Harga Diri Rendah Kronik


Core Problem

Koping Individu Tidak Efektif


Causa

Gambar : Mukhripah D& Iskandar (2012)


d Diagnosa Keperawatan
(1) Isolasi sosial menarik diri b/d harga diri rendah
(2) Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan
koping individu inefektif
e Rencana Asuhan Keperawatan
TUJUAN INTERVENSI

Tujuan umum : Bina hubungan saling percaya dengan


Pasien memiliki konsep diri yang mengungkapkanprinsipkomumikasi
Positif terapeutik:

Tujuan khusus : 1. Sapa pasien dengan ramah baik


TUK 1 : verbal maupun non verbal
Dapa
Pasian t membina hubungan 2. Perkenalkan diri dengan sopan
saling percaya dengan perawat 3. Tanyakan nama lengkap pasien dan
kriteria hasil: nama panggilan yang disukai
setelah…..x interaksi,pasien pasien
Menunjukkan ekspresi wajah 4. Jelaskan tujuan pertemuan
Bersahabat ,menunjukkan rasa 5. Jujur dan menepati janji
senang,ada kontak mata,mau 6. Tunjukkan sikap empati dan
berjabat tangan,mau menyebut menerima pasien apa adanya
nama,mau menjawab salam,pasien 7. Beri perhatian kepada pasien dan
mau duduk,berdampingan dengan perhatikan kebutuhan dasar pasien
perawat,mau mengutarakan masa-
lah yang dihadapi

TUK 2 : 1. Diskusikan kemampuan aspek


Pasien dapatmengidentifikasi positif , keluarga dan lingkungan
kemampuan dan aspek positif yang yang dimiliki pasien
Dimiliki 2. Bersama pasien membuat daftar
Kriteria hasil: tentang :
Setelah.….x interaksi pasien dapat a. Aspek positif pasien,
menyebutkan: keluarga, dan lingkungan
a. Kemampuan yang dimiliki b. Kemampuan yang dimiliki
Pasien pasien
b. Aspek positif keluarga 3. Utamakan memberi pujian yang
c. Aspek positif lingkungan realistik dan hindarkan penilaian
negatif

TUK 3 : 1. Diskusikan dengan pasien


Pasien Dapat menilai kemampuan kemampuan yang masih dapat
yang dimiiki untuk digunakan dilaksanakan dan digunakan selama
Kriteria hasil: sakit

Setelah…..x interaksi pasien dapat 2. Diskusikan kemampuan yang dapat


Menyebutkan kemampuan yang dilanjutkan penggunaannya
dapat digunakan

TUK 4 : 1. Rencanakan bersama pasien


Pasien dapat (menetapkan) aktivitas yang dapat dilakukan
Merencanakan kegiatan sesuai setiap hari sesuai kemampuan
dengan kemampuan yang dimiliki a. Kegiatan mandiri
Kriteria hasil: b. Kegiatan dengan bantuan
Setelah…..x interaksi, pasien c. Kegiatan yang
mampu membuat rencana kegiatan membutuhkan bantuan total
harian 2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan
toleransi kondisi pasien
3. Beri contoh cara pelaksanaan
kegiatan yang boleh pasien lakukan

TUK 5 : 1. Beri kesempatan pada pasien untuk


Pasien Dapat melakukan kegiatan mencoba kegiatan yang telah
sesuai dengan rencana yang telah direncanakan
dibuat 2. Pantau kegiatan yang dilaksanakan
Kriteria hasil: pasien
Setelah…..x pertemuan,pasien 3. Beri pujian atas keberhasilan
dapat melakukan kegiatan jadwal pasien
yang telah dibuat 4. Diskusikan kemungkinan
pelaksanaan kegiatan setelah pasien
pulang

TUK 6 : 1. Beri pendidikan kesehatan pada


Pasien dapat memanfaatkan system keluarga tentang cara merawat
pendukung yang ada pasien dengan harga diri rendah
Kriteria hasil: 2. Bantu keluarga memberikan
Setela…..x pertemuan,pasien dukungan selama pasien dirawat

Memanfaatka
n system pendukung 3. Bantu keluaga menyiapkan
yang ada di keluarga lingkungan rumah

TUK 7 : Diskusikan dengan pasien dan keluarga


Pasien Dapat memanfaatkan obat tentang dosis ,frekuensi dan manfaat obat
dengan baik 1. Anjurkan pasien meminta sendiri
Kriteria hasil: obat pada perawat, dan merasakan
Setelah….. pertemuan manfaatnya
1. Pasien dan keluarga dapat 2. Anjurkan pasien dengan bertanya
menyebutkan manfaat,dosis kepada dokter tentang efek dan
dan efek samping obat efek samping obat yang dirasakan.
2. Pasien dapat 3. Diskusikan akibat berhentinya
mendemonstrasikan tanpa konsultasi
penggunaan obat 4. Bantu pasien menggunakan obat
3. Pasien termotivasi untuk dengan prinsip 5 benar
berbicara dengan perawat

apabila dirasakan ada efek

samping obat

h) Pasien memahami akibat


berhentinya obat
i) Pasien dapat menyebutkan
prinip 5 benar penggunaan
obat

(Eko prabowo,konsep dan aplikasi asuhan keperawatan jiwa,2014:213-214)


STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Pertemuan ke I (satu)
PROSES KEPERAWATAN
A. Kondisi
Klien mengatakan malu dan tidak berguna
Klien mengatakan ekspresi wajah malu
Klien mengatakan “tidak bisa”ketika diminta melakukan sesuatu
Klien tampak kurang bergairah
Klien selalu mengungkapkan kekurangannya dari pada kelebihannya.
B. Diagnosa Keperawatan
Risiko isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah
C. Tujuan Khusus
A. Klien dapat membina hubungan saling percaya
B. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
D. Orientasi
A. Salam Terapeutik
“Selamat pagi Bu, saya Wardatul Ghivara, saya mahasiswa Akper
RUSTIDA Banyuwangi yang sedang praktek dirumag sakit ini”,
“Ibu bisa panggil saya suster warda”. ”Nama ibu siapa?”. “........”
“Ibu lebih senang dipanggil siapa?”“o o o ibu siti”. “saya akan
menemani ibu selama 2 minggu, jadi kalau ada yang mengganggu
pikiran ibu bisa bilang ke saya, siapa tahu saya bisa bantu”
B. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan ibu saat ini? ......... o o o begitu”
“Coba ceritakan pada saya, apa yang dirasakan dirumah, hingga
dibawah ke RSJ”
← Kontrak
← Topik
“ Maukah ibu bsiti bercakap – cakap dengan kemampuan yang
dimiliki serta hobi yang sering dilakukan dirumah”
← Tempat
“Ibu Sti lebih suka bercakap – cakap dimana?, o o o ditaman,
baiklah”
← Waktu
“kita mau becakap – cakap berapa lama?, Bagaimana kalau 10
menit saja”
d. Kerja
“Kegiatan apa saja yang sering ibu siti lakukan dirumah?”.........
“memasak, mencuci pakaian, bagus itu bu”. “Terus kegiatan apalagi
yang ibu lakukan?”. “kalau tidak salah ibu juga senang menyulam
ya?”, wah bagus sekali!
“Bagaimana kalau ibu siti menceritakan kelebihan lain/kemampuan
lain yang dimiliki?” kemudian apa lagi.
“Bagaimana dengan keluarga ibu siti, apakah mereka menyenangi apa
yang ibu lakukan selama ini, atau apakah mereka sering mengejek
hasil kerja ibu?”
e. Terminasi
1) Evaluasi subyektif
“Bagaimana perasaan ibu siti selama kita bercakap – cakap?”,
“Senang terima kasih”
2) Evaluasi Obyektif
“Tolong ibu siti ceritakan kembali kemampuan dan kegiatan yang
sering ibu lakukan? ........ Bagus”, “terus bagaimana tanggapan
keluarga ibu terhadap kemampuan dan kegiatan yang ibu
lakukan?”.
3) Rencana Tindak Lanjut
“baiklah Bu siti, nanti ibu ingat ingat ya, kemampuan ibu yang lain
dan belum sempat ibu ceritakan kepada saya?”, “besok bisa kita
bicara lagi”.
5. Kontrak
a. Topik
“Bagaimana kalau besok kita bicarakan kembali kegiatan
/kemampuan yang dapat ibu siti lakukan di rumah dan di RSJ”
b. Tempat
“Tempatnya mau dimana Bu? ”
c. Waktu
“Berapa lama kita akan bercakap – cakap?”. “Bagaimana kalau
15 menit”
“Setuju!”
“Sampai bertemu lagi besok ya, Bu siti
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Pertemuan ke II (dua)
1 PROSES KEPERAWATAN
a. Kondisi
1) Klien telah terbina hubungan saling percaya dengan perawat
2) Klien telah mengetahui/dapt mengenal beberapa kemampuan
dan aspek positif yang dimiliki
b. Diagnosa Keperawatan
Risiko isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah
c. Tujuan Khusus
1) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
2) Klien dapat merencanakan kegiatan di rumah sakit sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki
2 STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
d. Orientasi
1) Salam terapeutik
“Selamat pagi Bu Siti”, “Masih ingat saya?” “................ Bagus!”
2) Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasan Ibu Siti sekarang?”
“................ O ............. ya bagaimana, apakah ada kemampuan lain
yang belum ibu siti ceritakan kemarin”
3) Kontrak
- Topik
“Apakah ibu siti masih ingat apa yang akan kita bicarakan
sekarang?”. “ya............ bagus”
- Tempat
“Kalau tidak salah, kemrin kita sudah sepakat akan bercakap –
cakap di taman benar kan?”
- Waktu
“Kita akan bercakap – cakap selama 15 menit, atau mungkin
bu siti ingin bercakap – cakap lebih lama lagi?”
4. Kerja
“Kegiatan apa saja yang sering ibu siti lakukan dirumah?”.........
“memasak, mencuci pakaian, bagus itu bu”. “Terus kegiatan apalagi
yang ibu lakukan?”. “kalau tidak salah ibu juga senang menyulam
ya?”, wah bagus sekali!
“Bagaimana kalau ibu siti menceritakan kelebihan lain/kemampuan
lain yang dimiliki?” kemudian apa lagi.
“Bagaimana dengan keluarga ibu siti, apakah mereka menyenangi apa
yang ibu lakukan selama ini, atau apakah mereka sering mengejek
hasil kerja ibu?”
5. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan ibu siti setelah berhasil membuat jadwal
kegiatan yang dapat dilakukan di rumah sakit”
b. Evaluasi Obyektif
“Coba ibu bacakan kembali jadwal kegiatan yang telah dibuat
tadi!”. “Bagus”
c. Rencana Tindak Lanjut
“Ibu siti mau kan melaksanakan jadwal kegiatan yang telah ibu
buat tadi!”
“.........nah nanti kegiatan – kegiatan yang telah dilakukan bersama
– sama dengan teman – teman yang lain ya!”. “Bagaimana kalau
nanti siang?”
d. Kontrak
f. Topik
“Baiklah besok kita bertemu lagi, bagaimana kalau kita
bercakap – cakap tentang kegiatan yang dapat dilakukan di
rumah”. “Bagaimana menurut ibu siti?”. “Setuju”
g. Tempat
“Ibu ingin bercakapn – cakap dimana besok?”, “......... oooo di
taman, baiklah.”
2. Waktu
“Bagaimana kalau kita bercakap – cakap 10 menit?”
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Pertemuan ke III (tiga)
1 PROSES KEPERAWATAN
a. Kondisi
1) Klien telah mampu mengenal menyusun jadwal kegiatan yang
dapat dilakukan di rumah sakit
2) Klien telah berhasil melaksanakan kegiatan sesuai dengan
jadwalyang telah dibuat
b. Diagnosa Keperawatan
Risiko isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah
c. Tujuan Khusus
3) Klien dapat mengenal kegiatan yang dapat dilakukan di rumah
4) Klien dapat menyusun jadwal kegiatan yang dapat dilakukan sesuai
kemampuan di rumah
2 STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
b. Orientasi
1) Salam terapeutik
“Selamat pagi,ibu siti sedang apa?”
2) Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasan Ibu Siti sekarang?”
“Apakah ibu siti sudah melaksanakan kegiatan sesuai dengan
jadwalyang telah dinuat kemarin?”. “Bagus ibu sudah dapat
membantu membersihkan lingkungan”
“Coba saya lihat jadwal kegiatannya, wah hebat sekali, sudah
diberi tanda semua!”, “Nanti dikerjakan lagi ya bu!”
3) Kontrak
Topik
“Nah bagaimana kalau kita bercakap – cakap tentang kegiatan
yang dapat dilakukan di rumah?”.
4 Tempat
“Kalau tidak salah, kemrin kita sudah sepakat akan bercakap –
cakap di taman benar kan?”
5 Waktu
“Mau berapalama?, Bagaimana kalau 15 menit lagi”
4 Kerja
“Kemarin ibu telah membuat jadwal kegiatan di rumah sakit, sekarang
kita buat jadwal kegiatan dirumah ya!. Ini kertas dan bolpointnya,
jangan khawatir nanti saya bantu, kalau kesulitan, Bagaimana kalau
kita mulai? ”
“Ibu mulai dari jam 05.00 WIB?.............. ya, tidak apa-apa, bangun
tidur......... terus ya sholat shubuh, terus masak (samapi jam 20.00
WIB), bagus tapi jangan lupa minum obatnya, ya Bu!”
5 Terminasi
g. Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan ibu siti setelah dapat membuat jadwal
kegiatan di rumah”
h. Evaluasi Obyektif
“Coba ibu sebutkan lagi susunan kegiatan dalam sehari yang dapat
dilakukan di rumah”
i. Rencana Tindak Lanjut
“Besok kalau sudah dijemput oleh keluarga dalam sehari apa yang
dapat dilakukan di rumah?”
6. Kontrak
a Topik
“Nah, bagaimana besok kita bercakap – cakap tentang
perlunya dukungan keluarga terhadap kesembuhan Bu Siti”
b Tempat
“Bagaimana kalau kita bercakap – cakap di teras, setuju!, atau
mungkin ibu ingin di tempat lain?”
c Waktu
“Kita mau bercakap –cakap berapa lama, bagaimana kalau 10
menit?”
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Pertemuan ke IV (empat)
a PROSES KEPERAWATAN
1) Kondisi
Klien telah mampu menyusun kegiatan yang sesuai kemampuan yang
dapat dilakukan di rumah.
2) Diagnosa Keperawatan
Risiko isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
3) Tujuan Khusus
Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang dimiliki di rumah.
b STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
3) Orientasi
Salam terapeutik
“Selamat pagi, Bu!”
Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasan Ibu Siti hari ini, baik baik saja?”. “Syukurlah”
“Masih inbu simpan jadwal kegiatan yang telah dibuat kemarin?”
Kontrak
← Topik
“Hari ini kita akan bercakap – cakap tentang sistem pendukung
yang dapat membantu ibu siti di rumah?”.
← Tempat
“Sesuai kesepakatan kemarin kita bercakap – cakap di teras
ya?”
← Waktu
“Kita bercakap – cakap berapa lama?”. “10 menit saja ya
boleh!”
f. Kerja
“Apakah ibu tahu artinya sistem pendukung?”.“Baiklah akan saya
jelaskan, sistem pendukung adalah hal-hal yang dapat membantu di
rumah dalam mencapai kesembuhan nantinya, misalnya: dana,
keluarga, teman/tetangga yang mau menerima, kegiatan bersama, dan
tempat yang dapat dikunjungi saat obat habis” .“Ibu di rumah tinggal
dengan siapa? ..... terus siapa lagi?” “Apakah mereka sayang dan
memperhatikan kesehatan ibu siti?” “Siapa selama ini yang
mengingatkan ibu minum obat dan mengantarkan control/periksa ke
dokter?”. “wah bagus! Terus selama ini yang mencari nafkah dan
mencari biaya pengobatan unutk ibu siapa?”
“Apakah punya teman atau tetangga yang dekat dengan ibu siti?”
“Kegiatan apa saja yang ada di lingkungan ibu siti?”. “Oooo
pengajian..... Bagus itu, kalau kelompok ibu-ibu arisan ada tidak bu, oo
begitu!”. “selama ini bu siti sudah berobat kemana saja, apakah ada
rumah sakit yang paling dekat dengan rumah ibu?”
g. Terminasi
1 Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaannya setelah bercakap – cakap tentang sistem
pendukung yang ibu siti miliki?”
2 Evaluasi Obyektif
“Coba ibu sebutkan kembali sistem pendukung yang ibu miliki
dirumah, satu persatu ya!”
3 Rencana Tindak Lanjut
“Besok kalau sudah pulang, harus mendengarkan nasihat keluarga
ya Bu! Jangan lupa kalau obat hampir habis cepat datangi rumah
sakit!”
4 Kontrak
Topik
“Bagaimana besok kita bercakap – cakap lagi, tentang obat-
obatan yang ibu siti minum setiap hari”
2. Tempat
“Sebaiknya kita bercakap – cakap di mana bu?”, “ di warung
makan, o.... bisa!”
3. Waktu
“Mau berapa lama bu?”, “15 menit, boleh sampai ketemu lagi
bu!”
DAFTAR PUSTAKA

Herdman. (2011). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.


Iskandar, M. D. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika
Aditama.
Keliat. (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa : edisi 2. Jakarta: EGC.
Keliat, C. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Yogyakarta: EGC.
Prabowo, E. (2014). Konsep&Aplikasi ASUHAN KEPERAWATAN JIWA.
Yogyakarta : Nuhamedika.
Sundeen, S. &. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Townsend. (2008). Nursing Diagnosis in Psuchiatric Nursing a Pocket Guide for
Care Plan Construction. jakarta: EGC.
Sari, Kartika. (2015).Panduan Lengkap Praktik Klinik Keperawatan Jiwa.
Jakarta: CV.Trans Info Media
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN DENGAN HALUSINASI

a. MASALAH UTAMA
Ganguan persepsi sensori : halusinasi
b. PROSES TERJADINYA MASALAH
1) Definisi
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi
dimana pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak
terjadi. Suatu penerapan panca indra tanda ada rangsangan dari
luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi
melaluipanca indra tanpa stimullus eksteren : persepsi palsu.
(Prabowo, 2014 : 129)
Halusinasi adaah hilangnya kemampuan manusia dalam
membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsnagan
eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat
tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata.
Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak
ada orang yang berbicara.(Kusumawati & Hartono, 2012:102)
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana
klien mengalamai perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi
palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaaan atau
penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada.
(Damaiyanti, 2012: 53)
f Penyebab
a. Faktor Predisposisi
← Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan pasien terganggu mislnya rendahnya
kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan pasien
tidak mampu mandiri sehjak kecil, mudah frustasi,
hilangnya percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.
1) Faktor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima di ingkungannya
sejak bayi akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak
percaya pada lingkungannya.
2) Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Adanya stress yang berlebih dialami seseorang maka di
dalam tubuh akan dihasilkan zat yang dapat bersifat
halusinogenik neurokimia. Akibat stress berkepanjangan
menyebabakan teraktivasinya neutransmitter otak.
3) Faktor Psikologi
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab
mudah terjerumus padapenyalahgunaan zat adiktif. Hal ini
berpengaruh pada ketidakmampuan pasien dalam
mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya.
Pasien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam
nyataa menuju alam hayal.
4) Faktor Genetik dan Pola Asuh
Penelitian menunjukkan bahwaanak sehat yang diasuh
oleh orang tua skizofrenia cenderung mengalamai
skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor
keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh
padapenyakit ini. (Prabowo, 2014: 132-133)
f. Faktor Presipitasi
← Biologis
Gangguan dalam momunikasi dan putaran balik otak,
yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada
mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi
stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterprestasikan.
d. Stress Lingkungan
Ambang toleransi terhadap tress yang berinteraksi
terhadap stresosor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan perilaku.
e. Sumber Koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam
menamggapi stress.(Prabowo, 2014 : 133)
f. Perilaku
Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga,
ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung,
perilaku menarik diri, kurang perhatian, tidak mampu
mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan
nyata dan tidak.
← Dimensi fisik
Halusianasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi
fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan
obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi
alkohol dan kesulitan untuk tidur dalamwaktu yang
lama.
← Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem
yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab
halusianasi itu terjadi, isi dari halusinasi dapat berupa
peritah memaksa dan menakutkan. Klien tidak
sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga
dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu
terhadap ketakutan tersebut.
3 Dimensi intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa
individu dengan halusinasi akan memperlihatkan
adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya
halusinasi merupakan usha dari ego sendiri untuk
melawan impuls yang menekan, namun merupakan
suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat
mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang
akan mengotrol semua perilaku klien.
4 Dimensi sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase
awal dan comforting, klien menganggap bahwa hidup
bersosialisasi dialam nyata sangat membahayakan.
Klien asyik dengan dengan halusinasinya, seolah-olah
ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan
akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang
tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi
dijadikan kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika
perintah halusinasiberupa ancaman, dirinya atau orang
lain individu cenderung keperawatan klien dengan
mengupayakan suatu proses interkasi yang
menimbulkan pengalaman interpersonal yang
memuaskan, serta mengusahakan klien tidak
menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan
lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.
5 Dimensi spiritual
Secara spiritualklien halusinasi mulai dengan
kehampaan hidup, rutinitas, tidak bermakna,
hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara
spiritual untuk menyucikan diri, irama sirkardiannya
terganggu.(Damaiyanti, 2012 : 57-58)
3. Jenis
Haluinasi terdiri dari beberapa jenis, dengan karakteristik
tertentu, diantaranya:
7. Halusinasi Pendengaran ( akustik, audiotorik)
Gangguan stimulus dimana pasien mendengar suara-suara
terutama suara-suara orang, biasanya pasien mendengar suara
orang yang sedang membicarakan apa yang sedang
dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
8. Halusinasi Pengihatan (visual)
Stimulus visual dalam bentuk beragam seperti bentuk
pencaran cahaya, gambaraan geometrik, gambar kartun dan/
atau panorama yang luas dan komplesk. Bayangan bias bisa
menyenangkan atau menakutkan.
9. Halusinasi Penghidu (Olfaktori)
Gangguan stimulus pada penghidu, yamg ditandai dengan
adanya bau busuk, amis, dan bau yang menjijikan seperti :
darah, urine atau feses. Kadang-kadang terhidu bau harum.
Biasnya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan
dementia.
10. Halusinasi Peraba (Taktil, Kinaestatik)
Gangguan stimulus yang ditandai dengan adanya sara sakit
atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh
merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau
orang lain.
11. Halusinasi Pengecap (Gustatorik)
Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan sesuatu
yang busuk, amis, dan menjijikkan.
12. Halusinasi sinestetik
Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan fungsi
tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri,
makanan dicerna atau pembentukan urine. (Yosep Iyus, 2007:
130)
1) Halusinasi Viseral
Timbulnya perasaan tertentu di dalam tubuhnya.
← Depersonalisasi adalah perasaan aneh pada dirinya bahwa
pribadinya sudah tidak seperti biasanya lagi serta tidak
sesuai dengan kenyataan yang ada. Sering pada
skizofrenia dan sindrom obus parietalis. Misalnya sering
merasa diringa terpecah dua.
← Derelisasi adalah suatu perasaan aneh tentang lingkungan
yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya perasaan
segala suatu yang dialaminya seperti dalam mimpi.
(Damaiyanti, 2012 : 55-56)
10. Rentang Respon
Persepsi mengacu pada identifikasi dan interprestasi awal
dari suatu stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui
panca indra. Respon neurobiologis sepanjang rentang sehat sakit
berkisar dari adaptif pikiran logis, persepsi akurat, emosi
konsisten, dan perilaku sesuai sampai dengan respon maladaptif
yang meliputi delusi, halusinasi, dan isolasi sosial. Rentang
respon dapat digambarkan sebagai berikut:
Rentang Respon Neurobiologist

Respon adaptif Respon


Maladaptif

Pikiran logis Pikiran kadang menyimpang kelainan pikiran


Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten Reaksi emosional Ketidakmampuan
Perilaku sesuai Perilaku tidak azim Emosi
Hubunngan sosial mengalami
Ketidakteraturan menarik diri

Rentang respon neurobiologis (Stuart and Sundeen, 1998)


Rentang Respon
11. Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma
social budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut
dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat
memecahkan masalah tersebut. Respon adaptif :
a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada
kenyataan
b. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan
c. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang
timbul dari pengalaman ahli
d. Perilaku social adalah sikap dan tingkah laku yang masih
dalam batas kewajaran
e. Hubungan social adalah proses suatu interaksi dengan orang
lain dan lingkungan
12. Respon psikosossial
Meliputi :
a. Proses piker terganggu adalah proses pikir yang
menimbulkan gangguan
← Ilusi adalah miss interprestasi atau penilaian yang salah
tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata)
karena rangsangan panca indra
← Emosi berlebih atau berkurang
← Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang
melebihi batas kewajaran
← Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain.
10. Respon maladapttif
Respon maladaptive adalah respon individu dalam menyelesaikan
masalah yang menyimpang dari norma-norma social budaya dan
lingkungan, ada pun respon maladaptive antara lain :
← Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak diyakin ioleh orang lain dan
bertentangan dengan kenyataan social.
← Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau
persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada.
← Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang
timbul dari hati.
← Perilaku tidak terorganisi rmerupakan sesuatu yang tidak
teratur
← Isolasi sosisal adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh
individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan
sebagai suatu kecelakaan yang negative mengancam.
(Damaiyanti,2012: 54)
Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase dan
setiap fase memiliki karakteristik yang berdeda yaitu:
Fase I
Pasien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas,
kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba berfokus pada
pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini
pasien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat,
diam dan asyik sendiri.
Fase II
Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan. Pasien mulai
lepas kendali dan mencoba untuk mengambil jarak dirinya
dengan sumberdipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-
tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan
tanda-tanda vital ( denyut jantung, pernapasan, dan tekanan
darah), asyik dengna pengalaman sensori dan kehilangan
kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan reaita.
Fase III
Pasien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi
dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini pasien sukar
berhubungan dengan orang ain, berkeringat, tremor, tidak
mampu mematuhi perintah dari orang ain dan berada dalam
kondisi yang sangat menegangkan terutamajika akan
berhubungan dengan orang lain.
Fase IV
Pengalaman sensori menjadi mengancam jika pasien mengikuti
perintah halusinasi. Di sni terjadi perikalu kekerasan, agitasi,
menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang
komplek dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang.
Kondisi pasien sangan membahayakan. ( Prabowo, 2014: 130-
131)
h Tanda dan Gejala
Perilaku paisen yang berkaitan dengan halusinasi adalah
sebagai berikut:
a. Bicara, senyum, dan ketawa sendiri
b. Menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, dan
respon verba lambat
(1) Menarik diri dari orang lain,dan berusaha untuk menghindari
diri dari orang ain
(2) Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan keadaan
yang tidak nyata
(3) Terjadi peningkatan denyut ajntung, pernapasan dan tekanan
darah
(4) Perhatian dengan lingkunganyang kurang atau hanya beberapa
detik dan berkonsentrasi dengan pengalaman sensorinya.
(5) Curiga, bermusuhan,merusak (diri sendiri, orang lain dan
lingkungannya) dan takut
(6) Sulit berhubungan dengan orang lain
(7) Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung,jengkel dan marah
(8) Tidak mampu mengikuti perintah
(9) Tampak tremor dan berkeringat, perilaku panik, agitasi dan
kataton. (Prabowo, 2014: 133-134)
(h)Akibat
Akibat dari hausinasi adalah resiko mencederai diri, orang lain
dan ingkungan. Ini diakibatkan karena pasien berada di bawah
halusinasinya yang meminta dia untuk melakuka sesuatu hal
diluar kesadarannya.( Prabowo, 2014: 134)
(i) Mekanisme Koping
← Regresi : menjadi malas beraktivitas sehari-hari
← Proyeksi : menjeslaskan perubahan suatu persepsi dengan
berusaha untuk mengaliskan tanggung jawab kepada orang
lain
← Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan
stimuus internal. (Prabowo, 2014 :134)
b Penatalaksanaan
Pengobatan harus secepat mungkin harus diberikan, disini peran
keluarga sangat penting karena setelah mendapatkan perawatan di
RSJ pasien dinyatakan boleh pulang sehingga keluarga
mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat
pasien, menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan
sebagai pengawas minum obat
1 Farmakoterapi
Neuroleptika dengan dosis efektif bermanfaat pada penderita
skizofrenia yang menahun,hasilnyalebih banyak jika mulai
diberi dalam dua tahun penyakit.Neuroleptika dengan dosis
efek tiftinggi bermanfaat pada penderita psikomotorik yang
meningkat.
KELAS KIMIA NAMA GENERIK DOSIS HARIAN
(DAGANG)

Fenotiazin Asetofenazin (Tidal) 60-120 mg


Klopromazin 30-800 mg
(Thorazine) 1-40 mg
Flufenazine
(Prolixine, Permit) 30-400 mg
Mesoridazin ( 12-64 mg
Serentil) 15-150 mg
Perfenazin (Trialon) 40-1200 mg
Prokloperazin 150-800 mg
(Compazine) 2-40 mg
Promazine (Sparine) 60-150 mg
Tiodazin (Mellani)
Trifluopromazine
(Stelazine)

11
Trifluopromazine
(Vesprin)

Toksanten Kloproktisen 75-600 mg


(Tarctan) 8-30 mg
Tioktiksen (Navane)

Butirofenon Haloperidol (Haldol) 1-100 mg

Dibenzondiazepin Klozapin (Clorazil) 300-900 mg

Dibenzokasazepin Loksapin (Loxitane) 20-150 mg

Didraindolon Molindone (Moban) 225-225

b. Terapi kejang listrik


Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan
kejang grand mall secara artificial dengan melewatkan aliran
listrik melalui electrode yang dipasang pada satu atau dua
temples, terapi kejang listrik dapat diberikan pada skizofrenia
yang tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau
injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5 joule/detik.
c. Psikoterapi dan rehabilitasi
Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat
membantu karena berhubungan dengan praktis dengan
maksud mempersiapkan pasien kembali kemasyarakat, selain
itu terapi kerja sangat baik untuk mendorong pasien bergaul
dengan orang lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya
pasien tidak mengasingkan diri karena dapat membentuk
kebiasaan yang kurang baik, dianjurkan untuk mengadakan
permainan atau latihan bersama, seperti therapy modalitas
yang terdiridari :
d Terapi aktivitas
(2) Terapi music
Focus ; mendengar ; memainkan alat musik ; bernyanyi.
yaitu menikmati dengan relaksasi music yang disukai
pasien.
2) Terapi seni
Focus: untuk mengekspresikan perasaan melalui
beberapa
pekerjaan seni.
3) Terapi menari
Focus pada: ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh
4) Terapi relaksasi
Belajar dan praktik relaksasi dalam kelompok
Rasional : untuk koping/perilaku mal adaptif/deskriptif
meningkatkan partisipasi dan kesenangan pasien dalam
kehidupan.
5) Terapi social
Pasien belajar bersosialisai dengan pasien lain
6) Terapi kelompok
a). Terapi group (kelompok terapeutik)
b). Terapi aktivitas kelompok (adjunctive group activity
therapy)
c). TAK Stimulus Persepsi; Halusinasi
Sesi 1 : Mengenal halusinasi
Sesi 2 ; Mengontrol halusinasi dengan menghardik
Sesi 3 ; Mengontrol halusinasi dengan melakukan
kegiatan
Sesi 4 ; Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap
Sesi 5 : mengontrol halusinasi dengan patuh minum
obat
l) Terapi lingkungan
Suasana rumah sakit dibuat seperti suasana d idalam
keluarga( Home Like Atmosphere).(Prabowo,2014: 134-
136)
10. Pohon Masalah
Effect
Resiko perilaku kekerasan

Cor Problem
Perubahan sensori persepsi

Cause
Isolasi sosial : menarik diri

b Diagnosa Keperawatan
1 Perubahan sensori persepsi: halusinasi b/d menarik diri
c Rencana asuhan Keperawatan
Tujuan Umum
Pasien dapat mengontrol halusinasi yang
dialaminya Tujuan Khusus
1 TUK 1 : pasien dapat membina hubungan saling percaya
(c) Kriteria Hasil
Setelah 1 X interaksi, pasien mampu membina hubungan
saling percaya dengan perawat dengan kriteria: ekspresi
wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, da kontak
mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama,
mau dududk berdampingan dengan perawat, mau
mengungkapkan perasaannya
(d) Intervensi
Bina hubungna saling percaya dengan menggunakan
prinsip komunikasi terapeutik
(a)Sapa pasien dengan ramah baik verbal maupun non
verbal
(b)Perkenakan nama, nama panggilan dan tujuan perawat
berkenalan
(c)Tanyakan nama lengkap dan panggilan yang disukai
pasien
(d)Buat kontrak yang jelas
(e)Tunjukkan sikap jujur dan menunjukkan sikap empati
serta menerima apa adanya
(f) Beri perhatian kepada pasien dan perhatikan
kebutuhan dasar pasien
(g)Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan
perasaannya
(h)Dengarkan ungkapan pasien dengan penuh perhatian
ada ekspresi perasaan pasien.
f TUK 2 : pasien dapat mengenal halusinasinya
(1) Kriteria Hasil
Setelah 2 X interaksi, pasien dapat menyebutkan:
(a) Isi
(b) Waktu
(c) Frekuensi
(d) Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi
(2) Intervensi
(a) Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
(b) Observasi tingkah laku yang terkait dengan
halusinasi ( verbal dan nono verbal)
(c) Bantu mengenal halusinasi
(d) Jika pasien tidak sedang berhalusinasi klarivikasi
tentang adanya pengalaman halusinasi, diskusikan
dengan pasien isi, waktu, dn frekuensi halusinasi
pagi, siang , sore, malam atau sering, jarang )
← Diskusikan tentang apa yang dirasakaan saat terjadi
hausinasi
← Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi
halusinasi
← Diskusikan tentang dampak yang akan dialami jika
pasien menikmati halusinasinya.
(6) TUK 3 : pasien dapat mengontrol halusinasinya
A. Kriteria Hasil:
Seteah 2 X interaksi pasien menyebutkan tindakan yang
biasanya diakukan untuk mengendalikan halusinasinya.
B. Intervensi
← Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi
halusinasi
← Diskusikan manfaat cara yang digunakan paisen
← Diskusikan cara baru untuk memutus/ mengontrol
halusinasi
← Bantu pasien memiih cara yang sudah dianjurkan dan
latih untuk mencobanya
← Pantau pelaksanaan tindakan yang telah dipiih dan
dilatih, jika berhasi beri pujian
(7) TUK 4 : pasien dapat dukungan dari keluarga daam
mengontrol hausinasi
A. Kriteria Hasil:
Setelah 2 X interaksi keluarga menyatakan setuju untuk
mengikuti pertemuan dengan perawat
B. Intervensi
← Buat kontak pertemuan dengan keluarga (waktu,
topik, tempat)
b) Diskusikan dengan keluarga : pemgertian
halusianasi, tanda gejala, proses terjadi, cara yang
bisa diakukan oleh pasien dan keluarga untuk
memutus halusinasi, obat-obat halusinasi, cara
merawat pasien halusinasi dirumah, beri informasi
waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan.
← Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
f. TUK 5 : pasien dapat menggunakan obat dengan benar
1) Kriteria Hasil
Setelah 2 X interaksi pasien mendemonstrasikan
penggunaan obat dengan benar
2) Intervensi
Diskusikan tentang manfaat dan kerugian tidak minum
obat, dosis, nama, frekuensi, efek samping minum obat
Pantau saat pasien minum obat
Anjurkan pasien minta sendiri obatnya pada perawat
Beri reinforcemen jika pasien menggunakan obat
dengan benar
Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa
konsultasi dengan dokter
Anjurkan pasien berkonsultasi dengan
dokter/perawat jika terjadi hal-ha yang tidak
diinginkan. (Prabowo, 2014)

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


Pertemuan 1
6. PROSES KEPERAWATAN
a. Kondisi
← Pasien tampak bicara dan tertawa sendiri
← Pasien mondar mandir
← Pasien merasa mendengarkam suara laki-laki yang menyuruh
memukul.
b. Diagnosa keperawatan
Resiko mencedarai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan perubahan persepsi sensori yaitu halusinasi
pendengaran.
c. Tujuan khusus
← Pasien dapatt membina hubungan saling percaya dengan
perawat.
← Pasien dapat mengenal halusinasi yang di alaminya.
d. Tindakan keperawatan
← Membina hubungan saling percaya
← Membantu pasien menyadari gangguan sensori persepsi
halusinasi
7. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
(SP)
a. Orientasi
← Salam terapeutik
Selamat pagi mas, sedang apa?”.” Kenalkan nama saya
Bapak budi sisroyo, mas bisa panggil saya Bapak atau mas
budi saja. Mas namanya siapa?.........oooooo Joko prisanto,
senang di panggil siapa?”.” Mas joko atau mas yanto.”oooo
begitu baiklah mas yanto, saya akan menemani mas kurang
lebih dua minggu ke depan, nanti bisa cerita masalah yang di
alami mas joko.
c. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan mas joko saat ini?....ooooo kalau saya
lihat mas joko tampak bicara, berbicara sama siapa?
d. Kontrak
1 Topik
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap suara yang mas
joko dengar dan orang yang mengajak bicara?
2 Tempat
Dimana kita akan berbincang-bincang mas?oooooo di
ruang makan, baiklah.
3 Waktu
Kita akan bercakap-cakap berapa menit?”.” 15 menit, ya
baiklah.
6. Kerja
Yeah sekarang jika sudah duduk santai, tolong ceritakan suara
yang mas joko dengar tadi tentang apa isi suara tersebut ?. Saat
kapan mas joko mendengar suara tersebut ?. berapa kali mas joko
mendengar suara tersebut.? Maukah Mas Joko saya ajarkan cara
untuk mengontrol halusinasi ?caranya seperti menghardik, ,
misalkan ada suara-suara yang mas joko dengar menghardiknya
dengan cara berteriak “pergi.....” apakah mas joko sudah minum
obat secara langsung. ooooooo begitu, lalu! Jadi mas mendengar
suara orang yang mengajak berbicara dan menyuruh memukul
orang”.” Menurut mas suara tersebut suara siapa, apakah
mengenalnya?ooooooo seperti suara laki-laki.
7. Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan mas joko setelah berbincang-bincang
tentang suara yang mas dengar?
h. Evaluasi Objektif
Jadi suara yang mas dengar adalah……muncul saat…….dan
yang mas lakukan saat suara-suara tersebut muncul…….
i. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau begitu, dimana kita akan bercakap-
cakap, tentang cara mengendalikan suara-suara tersebut?
Setuju!
2) Tempat
Baiklah kalau begitu, di mana kita akan bercakap-cakap,
mungkin mas joko punya tempat yang teduh dan santai
untuk ngobrol?
3) Waktu
Berapa lama kita akan bercakap-cakap?”.” 10 menit atau
15 menit”.” Sampai jumpa besok ya mas!.
j. Rencana tindak lanjut
Baiklah mas, nanti di ingat-ingat lagi yang suara lain yang di
dengar. Jangan lupa kalau suara-suara itu muncul lagi
beritahu perawat biar di bantu ya!.(Wijayaningsih,2015)
Pertemuan 2
3. PROSES KEPERAWATAN
← Kondisi Pasien
← Klien sudah mengetahui cara-cara yag dapat digunakan
untuk memutus atau menghilangkan halusinani
← Diagnosa keperawatan
Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan perubahan persepsi sensori halusinasi
pendengar.
← Tujuan khusus
Klien dapat mengontrol halusinasinya.
4) Tindakan keperawatan
Melatih pasien mengontrol halusinasi
Menganjurkan kepada pasien agar memasukan kegiatan
ke jadwal kegiatan harian pasien
5. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
(SP)
a. Orientasi
6 Salam terapeutik
“ Selamat pagi, Mas Joko ?”. “ masih ingat nama saya ?
b. Evaluasi/ Validasi
“ Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini ? apakah ada suara-
suara yang didengar dan belum diceritakan kemarin ?”
7. Kontrak
a Topik
“ Seperti kesepakatan kemarin, pagi ini kita akan
bercakap-cakap tentang cara mengendalikan
halusinasi yang Mas Joko alami ?” , “ Bagaimana
setuju ?”
c Tempat
“ Kita bercakap-cakap diruang makan saja ya !”.
d Waktu
“ Mas Joko mu berapa lama kita bercakap-cakap ?”. “
15 menit, baiklah”.
h. Kerja
“ Kemarin Mas Joko sudah menceritakana tindakan yang
dilakukan ketika suara-suara tersebut muncul. Masih ingat ?. “
Bagaimana apakah dapat mengurangi / menghilangkan suara-
suara yang Mas Joko dengar ?” ooooo..... begitu!”
“ Kalau Mas Joko mau saya akan memberitahu cara-cara lain
yang dapat dilakukan ketika suara-suara tersebut muncul ?”. “
Bagaimana !” “ Oke yang pertama dengan menghardik suara-
suara tersebut, caranya dengan mengatakan saya enci kamu,
pergi.....pergi !”, lalu tarik nafas dalam-dalam than sebentar dan
keluarkan pelan-pelan melalui mulut, maka Mas Joko akan rilex
dan santai kembali “. “ Mari saya ajari, tirukan saya ya !” “
Pertama katakan “ saya benci kamu pegi...... pergi !”, kemudian
tarik nafas dan keluarkan, begitu”, “ Bagus mudah kan ?”
“ Cara yang kedua dengan melakukan kegiatan yang dapat
memutus/ menghilangkan suara-suara itu, misalnya dengan
mengambil air wudhu, solat atau membaca Al-quran,
membersihkan rumah atau alat-alat rumah tangga, apabila suara-
suara tersebut muncul siang atau sore hari”.
“ Cara yang ketiga adalah mencari teman untuk diajak ngobrol
sehingga suara-suara tersebut dapat dialihkan, tetapi cara ini
tidak dapat dilakukan apabila suara-suara itu muncul malam
hari”.
“ Jika suara sering muncul malam hari, yang dapat Mas Joko
lakukan adalah minum obat tepat waktu, tepat obat, dan tepat
dosis, misanya jam 17:30 WIB sehingga Mas Joko akan
terbangun pada jam 05:00 pagi,”
“ Kalau Mas Joko suka olahraga, untuk menghindari suara
muncul kembali Mas Joko dapat mengikuti olahraga dengan
teman-temannya, tentunya kaau sore hari”.
“ Bagaimana mudah kan ?”. Mas Joko dapat pilih sesuai dengan
kondisi dan keadaaan !”
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“ Bagaimana rasanya setelah bercakap-cakap tentang cara
mengendalikan suara-suara yang muncul ?”
3 Evaluasi Obyektif
“ Coba sebutkan kembali cara yang dapat Mas Joko lakukan
untuk menghindari/ memutuskan suara-suara yang muncul !
5. Kontrak
a. Topik
“ Bagaimana kalau besok keluarga Mas Joko menjenguk,
kita bercakap-cakap lagi bersama-sama keluarga tentang
halusinasi yang Mas Joko alami ?”.
“ Baiklah kalau begitu dimana kita akan bercakap-cakap
mungkin Mas Joko punya tempat yang teduh dan santai
untuk ngobrol ?”.
← Waktu
“ Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?’. “ 10 menit
atau 15 ment”. “ Sampai jumpa besok yaa, Mas!”.
d. Rencana Tindak Lanjut
“ Kalau suara-suara itu muncul lagi coba dipraktikan ya Mas
Joko, siapa tahu dapat membantu !” ( wijayaningsih,2015:
91-94)
Pertemuan 3
f. PROSES KEPERAWATAN
1 Kondisi
← Klien sudah mengetahui cara-cara yang dapat digunakan
untuk memutus atatu menghilangkan halusinasi.
2 Diagnosa Keperawatan
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan perubahan persepsi sensori halusinasi
pendengar.
← Tujuan khusus
Klien mendapatakan dukungan keluarga dalam mengatasi
halusinasinya
f. Tindakan Keperawatn
← mengajarkan pasien dalam mengontrol halusinasi
← melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-
cakap
- STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
(SP)
3 Orientasi
a Salam terapeutik
“Selamat pagi, pak?” ,”kenalkan saya bapak budi yang merawat
mas Joko disini, saya panggil bapak siapa?”…”,0…ya pak
Mahmud”.
b Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan mas Joko saat ini? Apakah mas Joko,
masih ingat cara-carar yang kemarin saya ajarkan?”. “apakah
bapak/ibu mengetahui pengertian halusinasi, gejala halusinasi
dan cara mengatasi halusinasi?”.
(8) Kontrak
A. Topik
“Pagi hari ini kebetulan bapak Mahmud mas Joko, kita
akan bercakap-cakap tentang pengertian halusianasi dan
cara-cara yang harus dilakukan agar mas Joko terhindar
dari halusinasi?”
B. Tempat
“Kita bercakap-cakap di ruang keperawatan saja agar
lebih santai?”
2 Waktu
“Berapa lama kita bercakap-cakap? “bagaimana kalau 30
menit?”.
5. Kerja
“Tolong mas joko ceritakan tentang suara – suara didengar pada pak
mahmud , agar beliau tahu dan dapat membantu kalau di rumah
muncul lagi”. “ jadi begini yaa pak , mas joko ini kalau dalam
kedokteran mengalami halusinasi”.
“ nah apa halusinasi itu ?”, halusinasi adalah kesalahan dalam
mengartikan rangsangan dari luar yang sebenarnya menagajak bicara
atau menyuruh mwlakukan seseatu padahal tidak ada yang mengajak
bicara , seperti yang dialami mas joko ini”.
“ maukah saya beritahu orang yang mengalami halusinasi?”.
“ bapak mahmud akan menjumpai orang tersebut tampak termenung,
kemudian bicara sendiri atau tertawa sendiri , tidak jarang orang
tersebut tampak gelisah , mengalir bingung dan ketautan karena
suara yang mengancap atau memuluk orang lain , jika siuara itu
tidak menyuruh untuk memukul , bagaimanasudah jelas ?
Apa akibatnya jika halusinasi tidak di atasi ? , orang tersebut dapat
beresiko melakukan kekerasan yang arahnya diri sendiri orang lain
atau lingkungan maka jangan heran kalau bapak pernah melihat
orang gila melempar pakai batu atau tiba – tiba merusak tanaman
yang ada di dekatnya untuk menghindari hal tersebut ada cara
halusinasi tidak muncul yaitu tidak membiarkan joko sendirian
melamun beri mas joko mengisi kegiatan untuk mengisi waktu
ruangan , ajak mas joko mengajak televisi bersama , jalan – jalan
atau gotong royong”, “ Bagaimana ?” Bapak sudah paham. “ Bila
belum jelas Pak Mahmud dapat bertanya ?”
“......Ya jangan lupa minum obat secara tepat dan teratur serta antar
Mas Joko kontrol atau pergi RSJ sangat membantu agar Mas Joko
terhindar dari hausinasi?”.
d. Terminasi
← Evaluasi Subyektif
“ Bagaimana rasanya setelah bercakap-cakap tentang pengertian
dan cara mengendalikan suara-suara yang didengar Mas Joko ?’
← Evaluasi Obyektif
“ Coba sebutkan kembali pengertian halusinasi dan cara-cara
yang dapat keluarga lakukan agar Mas Joko dapat menghindari
atau memutus suara-suara yang muncul suara-suara tersebut !” :
bagus...... lagi”..
← Kontrak
a. Topik
“ Bagaimana kalau besok kita bercakap-cakap tentang
manfaat dan efek samping obat yang mas Joko minum ?”.
b. Tempat
“ Bagaimana kalau kita bercakap-cakap ditaman ?”, setuju !”.
c. Waktu
“ mau berapa lama ? “ bagaimana kalau 10 memit saja ?”.
j. Rencana Tindak Lanjut
“ Tolong ya pak Mas Joko dibantu untuk menghindari suara-
suara itu muncul lagi, caranya dengan yang sudah saya jelaskan
tadi !”. (Wijayaningsih, 2015 :95)
Pertemuan 4
4. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi
b Klien dan keluarga sudah mengenal pengertian gejala halusinasi.
c Klien dan keluarga sudah mnegethaui cara menghindari
munculnya kembali suara-suara.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko menecederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan perubahan persepsi sensori halusinasi
pendengar.
← Tujuan Khusus
Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
← Tindakan keperawatan
← Mengajarkan pasien cara minum obat yang benar
← Menjelaskan efek samping obat
← Menjelaskan fungsi obat yang di minum
4) STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
(SP)
d. Orientasi
Salam Terapeutik
“ Selamat pagi Mas Joko ?” masih ingat nama saya ? Bagus !
Evaluasi/ Validasi
“ Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini baik-baik saja kan, ada
yang ingin disampaikan ?”.
c. Kontrak
1) Topik
“ Kita akan berbicara tentang jenis obat, efek samping
obat serta cara pemakaiannya”, “ Bagaimana Mas Joko
bersedia ?”
2) Tempat
“ Bagaimana kalo kita bercakap-cakap di taman saja, biar
lebih santai “.
3) Waktu
“Berapa lama kita akan bercakap-cakap ? bagaimana
kalau 15 menit”
2. Kerja
“Berapa jenis obat yang diminum Mas Joko tadi ?”. “ Ya.............
Bagus. Jadi begini ya Mas Joko, obat yang diminum tadi ada tiga
macam ini obatnya saya bawakan”.
“ Saya jelaskan satu per satu ya ?”. “ yang warnanya orange ini
namanya CPZ atau chlorponazin, gunanya untuk mempermudah Mas
Joko tidur sehingga dapat istirahat, minumnya dua kali sehari pagi
hari dan sore hari, pagi jam 07:00 dan sore jam 17:30 WIB. Efek
sampingnya badan terasa lemas, keluar ludah terus menerus”.
“ Nah, yang ini, namanya HPD atau haloperidole, karena Mas Joko
dapat yang 5 mg maka warnanya jambon atau ping. Cara dan waktu
minumnya sama dengan CPZ, dua kali sehari gunanya obat ini untuk
menghilangkan suara-suara yang Mas Joko dengar, selain dapat juga
membuat Mas Joko tambah rilex, santai dan dapat mengontrol
emosi, efek sampingnya badan menjadi kaku terutama tangan dan
kaki, mulut kering dan dada berdebar-debar dan tremor”.
“ Tapi Mas Joko jangan khawatir, ada penangkalnya, maka diberikan
obat yang putih agak besar ini. Ini namanya Triheksipenidile atau
THP, fungsinyaobat ini menetralkan atau menghilangkan efek
samping yang tidak mengenakkan tadi makanya obat ini harus
diminum bersama dengan obat CPZ dan HPB”.
“ Bagaimana masih ada yang belum jelas ?. jangan lupa kalau obat
ini hampir habis segera kontrol kembali ya ?”
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“ Bagaimana perasaannya setelah bercakap-cakap tentang jenis
dan manfaat obat yang Mas Joko minum setiap hari ?”
b. Evaluasi Obyektif
“ Coba sebutkan kembali jenis obat yang Mas Joko minum, dan
ambilkan yang namanya HPD.......... dan seterusnya, sebutkan
manfaatnya sekalian... Bagus, di ingat-ingat ya ? “
c. Kontrak
1) “ Bagaimana kalau kapan-kapan kita bercakap-cakap lagi
dengan topik yang lain ?”
2) Tempat
“ Bagaimana kalau kita bercakap-cakap diteras saja?”
setuju !”
3) Waktu
“ Mau berapa lama ? “. Bagaimana kalau 10 menit saja ?”.
4. Rencana Tindak Lanjut
“ Jangan lupa obatnya diminum dengan dosis dan waktu yang tepat
ya !”. ohya jika ada yang belum jelas bisa Mas Joko tanyakan
kembali pada waktu lain.” (Wijayaningsih, 2015 :99-101)
DAFTAR PUSTAKA

Eko Prabowo. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Iyus, Y. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT refika Aditama.
Mukhripah Damayanti, Iskandar . (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung:
Refika Aditama.
Sundeen, S. A. (1998). Keperawatan Jiwa Edisi III. Jakarta: EGC.
Wijayaningsih, K. s. (2015). Panduan Lengkap Praktik Klinik Keperawatan Jiwa.
Jakarta Timur: TIM.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI
Masalah Utama Defisit perawatan diri
c. Proses Terjadinya
1. Definisi
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya,kesehatan dan kesejateraan sesuai dengan
kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperatawan dirinya
jika tidak dapat melakukan keperawatan diri (Depkes, 2000)
Defisit perawatan diri adalah kurangnya perawatan diri pada pasien
dengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir
sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun.
Kurang perawatan diri terlihat dari ketidakmampuan merawat kebersihan
diri antaranya mandi, makan minum secara mandiri, berhias secara
mandiri, toileting (BAK/BAB) (Damaiyanti, 2012)
g Penyebab
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000), penyebab kurang perawatan
diri adalah kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Menurut Depkes
(2000), penyebab kurang perawatan diri adalah:
a. Factor predisposisi
← Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu
e. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
f. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang
kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri.
4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan
kemampuan dalam perawatan diri.
g. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah
kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual,
cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan
individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga
individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
g. Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
h. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta
gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan
uang untuk menyediakannya.
i. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan
yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien
penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
j. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
k. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
6 Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya
Dampak yang sering timbul pada maslah personal hygine
a Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik,gangguan fisik
yang sering terjadi adalah: gangguan intleglitas kulit, gangguan
membrane mukosa mulut, infeksi mata dan telinga dan gangguan
fisik pada kuku
b Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah
gangguan kebutuhan aman nyaman , kebutuhan cinta mencintai,
kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial
(Damaiyanti, 2012)
g. Jenis
Menurut (Damaiyanti, 2012) jenis perawatan diri terdiri dari :
11. Defisit perawatan diri : mandi
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
mandi/beraktivitas perawatan diri sendiri
12. Defisit perawatan diri : berpakaian
Hambatan kemampuan untuk melakukan ata menyelesaikan
aktivitas berpakaian dan berhias untuk diri sendiri.
13. Defisit perawatan diri : makan
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas sendiri
14. Defisit perawatan diri : eliminasi
Hambatn kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas eliminasi sendiri.
4. Rentang respon
Adatif maladaptif

Pola perawatan diri Kadang perawatan Tidak melakukan


seimbang diri kadang tidak perawatan diri pada saat
stres

b. Pola perawatan diri seimbang: saat pasien mendapatkan stressor


dan mampu ntuk berperilaku adatif maka pola perawatan yang
dilakukan klien seimbang, klien masih melakukan perawatan diri
c. Kadang melakukan perawatan diri kadang tidak: saat pasien
mendapatan stressor kadang-kadang pasien tidak menperhatikan
perawatan dirinya
d. Tidak melakukan perawatan diri: klien mengatakan dia tidak
perduli dan tidak bisa melakukan perawatan saat stresso (Ade,
2011)
5) Proses terjadinya masalah
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000), penyebab kurang perawatan
diri adalah kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Menurut Depkes
(2000), penyebab kurang perawatan diri adalah:
a. Factor predisposisi
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu
11. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
12. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang
kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri.
4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan
kemampuan dalam perawatan diri.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah
kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual,
cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan
individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:
e. Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga
individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
f. Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta
gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan
uang untuk menyediakannya.
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan
yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien
penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
13. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
i Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya
Dampak yang sering timbul pada maslah personal hygine
1) Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik,gangguan fisik
yang sering terjadi adalah: gangguan intleglitas kulit, gangguan
membrane mukosa mulut, infeksi mata dan telinga dan gangguan
fisik pada kuku
2) Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah
gangguan kebutuhan aman nyaman , kebutuhan cinta mencintai,
kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial
(Damaiyanti, 2012)
e) Tanda dan gejala
Tanda dan gejala defisit dar menurut adalah (Damaiyanti, 2012)
sebagai berikut:
(1) Mandi/hygine
Klien mengalami ketidakmapuan dalam membersihkan badan,
memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau
aliran air mandi, mendapatkan perlengkapan mandi,
mengerikan tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi
(2) Berpakaian
Klien mempunyai kelemahan dalam meletakan atau mengambil
potongan pakian, menangalkan pakaian, serta memperoleh atau
menukar pakaian.
(3) Makan
Klien mempunyai ketidak mampuan dalam menelan makanan,
mempersiapkan makanan, menangani perkakas, mengunyah
makanan, menggunakan alat tambahan, mendapat makanan,
membuka container, memanipulasi makanan dalam mulut,
mengambil makanandari wadah lalu memasukan ke mulut,
melengkapi makanan,mencerna makanan menurut cara yang
diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas, serta
mencerna cukup makanan dengan aman
← Eliminasi
Klien memiliki kebatasan atau krtidakmampuan dalam
mendapatkan jamban atau kamar kecil atau bangkit dari jamban,
memanipulasi pakaian toileting, membersihkan diri setelah
BAK/BAB dengan tepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil.
Menurut Depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit
perawatan diri adalah:
← Fisik
← Badan bau, pakaian kotor
← Rambut dan kulit kotor
← Kuku panjang dan kotor
← Gigi kotor disertai mulut bau
← Penampilan tidak rapi.
← Psikologis
← Malas, tidak ada inisiatif
← Menarik diri, isolasi diri
← Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
← Social
← Interaksi kurang
← Kegiatan kurang
← Tidak mampu berperilaku sesuai norma
← Cara makan tidak teratur
← BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan
mandi tidak mampu mandiri.
c Akibat
1 Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
tidak terpeliharanya kebersihan perorangandengan baik, gangguan
fisik yang seering terjadi adalah: gangguan integritas kulit,
gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga
dan gangguan fisik pada kuku
(3) Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah
gangguan kebutuhan aman nyaman , kebutuhan cinta mencintai,
kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial
(Damaiyanti, 2012)
Mekanisme koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan di bagi menjadi 2 yaitu:
2 Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi pertumbuhan
belajar dan mencapai tujuan. Kategori ini adalah klien bisa
memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri.
3 Mekanisme koping maladaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah
pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai
lingkungan. Kategorinya adalah tidak mau merawat diri
(Damaiyanti, 2012)
i) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan manurut herman (Ade, 2011) adalah sebagai berikut
g Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
h Membimbing dan menolong klien merawat diri
i Ciptakan lingkungan yang mendukung.
10. Pohon masalah
Effect
Resiko perilaku kekerasan

Core Problem
Defiist perawatan diri

Cause
Harga diri rendah Kronis
Koping Individu Tidak Efektif
j) Diagnosa keperawatan
(1) Hygine diri,
(2) berhias,
(3) makan dan
(4) bab/bak
k) Rencana asuhan keperawatan

Tujuan Intervensi

Tujuan umum : 1. Bina hubungan saling percaya


Pasien tidak mengalami defisit dgn menggunakan prinsip
perawatan diri. komunikasi terapeutik :
a. Sapa pasiendengan ramah,
TUK 1 : baik verbal maupun non
Pasien bisa membina hubungan verbal
saling percaya dengan perawat b. Perkenalkan diri dengan
sopan
c. Tanyakan nama lengkap
dan nama panggilan yang
di sukai pasien
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati
dan menerima pasien apa
adanya
g. Beri perhatian dan
perhatikan kebutuhan
dasar pasien

TUK 2 : 1. Melatih pasien cara-cara


Pasien mampu melakukan perawatan kebersihan diri :
kebersihan diri secara mandiri a. Menjelasan pentingnya
menjaga kebersihan diri.

13
b. Menjelaskan alat-alat
untuk menjaga kebersihan
diri
c. Menjelaskan cara-cara
melakukan kebersihan diri
d. Melatih pasien
mempraktekkan cara
menjaga kebersihan diri

TUK 3 : 1. Melatih pasien


Pasien mampu melakukan berdandan/berhias :
berhias/ berdandan secara baik a. Untuk pasien laki-laki
latihan meliputi :
1) Berpakaian
2) Menyisir rambut
3) Bercukur
b. Untuk pasien wanita,
latihannya meliputi :
1) Berpakaian
2) Menyisir rambut
3) Berhias

TUK 4 : 1. Melatih pasien makan secara


Pasien mampu melakukan makan mandiri :
dengan baik a. Menjelaskan cara
mempersiapkan makan
b. Menjelaskan cara makan
yang tertib
c. Menjelaskan cara
merapihkan peralatan
makan setelah makan
d. Praktek makan sesuai
dengan tahapan makan
yang baik

TUK 5 : 1. Mengajarkan pasien


Pasien mampu melakukan melakukan BAB/BAK secara
BAB/BAK secara mandiri mandiri :
a. Menjelaskan tempat
BAB/BAK yang sesuai
b. Menjelaskan cara
membersihkan diri setelah
BAB dan BAK
c. Menjelaskan cara
membersihkan tempat
BAB dan BAK

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


(9) Proses Keperawatan
A. Kondisi Pasien
Tn. A mengalami defisit perawatan diri, klien selalu BAB dan BAK di
sembarang tepat dan tidak mau di ajak ke WC atau ke kamar mandi.
Klien juga tidak membersihkan diri/cebok setelah BAB dan BAK.
A. Data Subjektif
← Klien mengatakan tidak mau BAB dan BAK di kamar mandi
← Kien mengatakan tidak mengerti cara BAB dan BAK di kamar
mandi.
B. Data Objektif
← Klien tidak mau diajak BAB dan BAK di kamar mandi.
← Klien tidak mebersihkan diri setalah BAB dan BAK
B. Diagnosa Keperawatan
Defisit Perawatan Diri
C. Tujuan Khusus
A. Makukan kebersihan diri sendiri secara mandiri
B. Makukan berhias atau berdandan secara baik.
C. Makukna akan dengan baik.
D. Tindakan keperawatan
A. Melatih pasien secara perawatan kebersihan dengan cara
← Mnjeaskan pentingnya menjaga kebersihan diri
← Menjeaskan aat-aat untuk enjaga kebersihan
← Menjeaskan cara-cara melakukan kebersihan diri
← Melatih pasien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri.
B. Membantu pasien atihan berhias
Latihan berhias pada pria berhias harus dibedakan dengan wanita.
Pada pasien laki-laki, latihan meiputi latihan berpakaian, menyisiir
rambut dan bercukur sedangkan pada pasien perepuan latihan
meliputi latihan berpakaian, menyisir rambut dan berdandan
← Melatih pasien akan secara andiri dengan cara
← Menjeaskan cara mempersiapkan makan
← Menjeaskan cara akan yang tertib
← Menjeaskan cara merapikan peraatan akan seteah akan
← Mempraktikkan cara akan yang baik.
← mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara andiri
← Menjeaskan tepat BAB/BAK yang sesuai
← Menjeaskan cara mebersihkan diri setaah BAB/BAK
← Menjeaskan cara mebersihkan tepat BAB/BAK
g. Strategi komunikasi pelaksanaan tindakan
SP 1 pasien : mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara-cara
merawat diri dan melatih pasien tentang cara-cara perawatan kebersihan
diri.
1) Orientasi
Salam terapeutik
“Selamat pagi, perkenalkan nama saya A, saya mahasiswa yang
dinas di ruangan ini “
“Boleh tau, nama bapak siapa? Senangnya dipanggil apa?”
“Saya dinas pagi di ruangan ini dari jam 7 pagi sapai2 siang,
selama di rumah sakit ini saya yang akan merawat bapak B. “
Evaluasi
“Dari tadi, saya lihat menggaruk-garuk badannya, gatal ya”?
Kontrak
“Bagaimana kalau kita bicara tentang kebersihan diri ?”
“Berapa lama kita bicara ? 20 menit ya… ? mau dimana.. ? disini
saja ya?”
2) Kerja
“Berapa kai B mandi dalam sehari ?”
“ Apakah B sudah mandi hari ini ?”
“menurut B apa kegunaan mandi ?”
“Apa alasan B sehingga tidak biasa merawat diri ?
“ Kira-kira tanda-tanda orang yang tidak merawat diri dengan baik
seperti apa ? badan gatal, mulut bau, apa agi.. ? kalau kita tidak
teratur menjaga kebersihan diri masalah apa menurut B yang bias
muncul ? betul ada kudis, kutu.
Bagaimana kalau kita sekarang k kamar mandi, saya akan
membimbing bapak A melakukannya. Bagus sekali, sekarang buka
pakaian dan gantung. Sekarang bapak B siram seluruh tubuh bapak
B termasuk rambut lalu ambil sampo gosokkan pada kepala bapak
B sampai berbusa lalu bilas sampai bersih. Bagus sekali.
Selanjutnya ambil sabun, gosokkan di seluruh tubuh secara merata
lalu siram dengan air bersih, jangan lupa sikat gigi pakai odol..
gosok seluruh gigi bapak B mulai dari depan sampai belakang, atas
dan bawah. Bagus lalu kumur-kumur sampai bersih.. terakhir siram
lagi seluruh tubuh bapak B sampai bersih lalu keringkan dengan
handuk. Bagus sekali melakukannya. Selanjutnya bapak B pakai
baju yang bersih, bagus sekali, mari kita ke kaca dan sisir
rambutnya, nah bapak B rapi dan bersih.
3 Terminasi
b. Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan B setelah mandi dan mengganti pakaian ?
c. Evaluasi Obyektif
Coba sebutkan lagi, apa saja cara mandi yang baik yang sudah B
ketahui ?
d. Kontrak
8. Topik
Baik pak sekarang bincang bincangnya sudah selesai, bagai
mana kalau besok jam 8 saya kembali lagi untuk latihan berias
9. Tempat
Kita akan melakukan di kamar , bagaimana menurut bapak ?
Apakah bapak setuju ? atau ganti di tempat lain ?
10. Waktu
Waktunya berapa lama pak ? baiklah 5 menit saja.
k. Rencana tindak lanjut
Bagaimana kalau latihan ini kita memasukkan dalam jadwal
kegiatan sehari-hari?
Untuk selanjutnya saya berharap bpak dapat melakukan cara-cara
pasien berhias.
SP 2 Pasien : melatih pasien berhias
4. Orientasi
← Salam terapeutik
“selamat pagi,
bagaimana perasaan B hari ini..? , apakah bapak B sudah mandi..? ,
sudah di tandai jadwal harian..?”
Hari ini kita akan membicarakan tentang berhias diri supaya B tampak
ganteng dan rapi. Mari kita mendekat ke cermin dab bawa alat alatnya
(sisir, parfum,dan pencukur kumis).
c. Topik
Melakukan berhias diri supaya tampak ganteng dan rapi.
d. Tempat
“Kita akan melakukan di kamar bapak apakah bapak setuju.?”
e. Waktu
“Sesuai dengan kesepakatan kemaren kita akan melakukan selama
5 menit”
6. Kerja
Apa yang bapak B laukuan setelah mandi ? apakah sudah ganti baju ?
bagus sekali. Nah sekarang bersisir mari ke cermin, bagaimana cara
bersisir? Coba kita praktekkan, lihat ke cermin, baguss.. sekali
Apakah bapak sudah bercukur ? berapa hari sekali bercukur ? betul 2x
perminggu.
Tampaknya kumis dan janggut bapak sudah panjang. Mari pak dirapikan,
ya, bagus...
7 Terminasi
g. Evaluasi subjektif
“Bagaimana perasaan B setelah berdandan .?”
h. Evaluasi objektif
Coba pak, sebutkan cara berdandan yang baik sekali lagi..
i. Kontrak
a Topik
Baik pak sekarang bincang bincangnya sudah selesai, bagaimana
kalau besok jam 8 saya kembali lagi untuk latihan makan dengan
baik.
b Tempat
Kita akan melakukan di ruang makan , bagaiana menurut
bapak ? Apakah bapak setuju ? atau ganti di tempat lain ?
c Waktu
Waktunya berapa lama pak ? baiklah 5 menit saja.
j. Rencana tindak lanjut
Mari masukan ke dalam jadwal kegiatan nnti siang kita latihan makan
yang baik di ruang makan.
SP 3 pasien : melatih pasien makan sendiri secara mandiri ( menjelaskan cara
mempersiapkan makan, menjelaskan cara makan yang tertib, menjelaskan cara
merapikan makan setelah makan, praktik makan sesuai dengan tahap yang
baik).
8. Orientasi
a Salam terapeutik
Selamat siang bapak B
b Evaluasi
tampak rapi hari ini, bagaimana jadwal mandi dan dandannya?
Coba saya lihat jadwal hariannya, wah banyak ya, bagus..
pagi ini kita akan latihan bagaimana cara makan yang baik.
“kita latihan langsung di rumah makan ya!”
Mari... itu sudah datang makananya”
3) Kontrak
Hari ini kita akan membicarakan tentang tahapan bagaimana cara
makan yang baik, makanya tertib, cara merapikan peralatan makan
setelah makan, praktik makan sesuai tentang makan yang baik.
← Topik
Melakukan makan yang baik, makan yang tertib, cara
merapikan makanan setelah makan, tahapan makan yang baik.
← Tempat
Kita latihan langsung di ruang makan ya.
“mari itu sudah datang makananya”
← Waktu
Sesuai dengan kesepakatan kemaren kita melakukanya selama
5 menit.
i. Kerja
“bagaimana kebiasaan makan bapak B selama ini?
“sebelum makan kita harus mencuci tangan pakai sabun. Ya mari kita
praktekkan!”
“bagus setelah kita duduk dan ambil makan, sebelum di santap kita
berdoa dahulu. Silakan tuan yang memimpin”
“mari kita makan, saat kita makan harus menyuap makanan satu
persatu dan pelan pelan, ya ayo sayurnya di makan”
“Setelah kita makan kita bereskan piring dan gelas yang kotor”
“ya kita akhiri dengan cuci tangan”
“ya bagus!,
j. Terminasi
Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan bapak B setelah latihan makan yang baik ?
Evaluasi objektif
“apa saja yang harus kita lakukan pada saat makan (cuci tangan,
duduk yang baik, ambil makanan, brdoa, makan yang baik, lalu
cuci tangan yang baik)
3) Kontrak
a) Topik
Baik pak sekarang bincang bincangnya sudah selesai, bagaimana
kalau besok jam 8 saya kembali lagi untuk latihan kebersihan
bak/bab?
← Tempat
Kita akan melakukan di teras depan , bagaimana menurut
bapak ? Apakah bapak setuju ? atau ganti di tempat lain ?
← Waktu
Waktunya berapa lama pak ? baiklah 10 menit saja.
d. Rencana tindak lanjut
“Mari masukkan ke jadwal kegiatan harian”
SP 4 cara bak dan bab dengan baik
4 Orientasi
c. Salam terapeutik
Selamat pagi bapak B
d. Evaluasi
“bagaimana perasaan bapak hari ini ? sudah dijalankan jadwal
kegiatannya ?
e. Kontrak
1) Topik
Hari ini kita akan membicarakan tentang tahapan
bagaimana cara bab atau bak dengan baik
2) Tempat
Mari kita duduk di depan teras ?
3) Waktu
Sesuai dengan kesepakatan kemaren kita melakukanya
selama 10 menit.
4. Kerja
Dimana biasanya bapak B berak dan kencing ? benr bapak, berak
dan kencing yang baik di wc, kamar mandi atau tempat lain yang
tertutup dan saluran pembuangan kotorannya. Jadi kita tidak berak
atau kencing di sembarang tempat yaa, nah sehabis kencing apa
yang kita lakukan ? betul sekali, wc disiram cebok dan cuci tangan.
Setelah membersihkan tinja atau air kencing bapak perlu
merapikan kembali pakaian sebelum keluar dari wc atau kamar
mandi, pastikan resleting celana tertutup rapi lalu cuci tangan
dengan menggunakan sabu.
5. Terminasi
a. Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan bapak B setelah latihan cara bab dan bak
yang baik ?
b. Evaluasi objektif
Coba bapak jelaskan ulang tentan cara bab dan bak yang baik?
c. Kontrak
1 Topik
Nah, besok ketemu lagi, untuk melihat sudah sejauh mana
bapak dapat melakukan jadwal kegiatannya.
2 Tempat
Tempatnya di mana pak ? baiklah di sini saja
3 Waktu
Waktunya berapa lama pak ? baiklah 10 menit saja.
4 Rencana tindak lanjut
“Mari masukkan ke jadwal kegiatan harian”
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti. (2012). Asuhan keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.


Depkes, R. (2000). Keperawatan Jiwa : Teori dan Tindakan keperawatan Jiwa.
Jakarta: Depkes RI.
Herman ade. (2011). buku ajar asuhan keperawatan jiwa. yogyakarta: nuha
medika.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI
A. MASALAH UTAMA
Resiko bunuh diri
B. PROSES TERJADINYA
MASALAH
1. Pengertian
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk
mengakhiri kehidupannya. Menurut Maris, Berman, Silverman, dan Bongar (2000),
bunuh diri memiliki 4 pengertian, antara lain:
 Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional
 Bunuh diri dilakukan dengan intensi
 Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri
 Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung
(pasif), misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan
kelangsungan hidup atau secara sengaja berada di rel kereta api.
Tanda dan gejala :
 Sedih
 Marah
 Putus asa
 Tidak berdaya
 Memeberikan isyarat verbal maupun non verbal
2. Penyebab
Secara universal: karena ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan masalah.
Terbagi menjadi:
1. Faktor Genetik
2. Faktor Biologis lain
3. Faktor Psikososial & Lingkungan

Faktor genetik (berdasarkan penelitian):


 1,5 – 3 kali lebih banyak perilaku bunuh diri terjadi pada individu yang
menjadi kerabat tingkat pertama dari orang yang mengalami gangguan
mood/depresi/ yang pernah melakukan upaya bunuh diri.
 Lebih sering terjadi pada kembar monozigot dari pada kembar dizigot.
Faktor Biologis lain:
Biasanya karena penyakit kronis/kondisi medis tertentu, misalnya:
 Stroke
 Gangguuan kerusakan kognitif (demensia)
 DiabetesPenyakit arteri koronaria
 Kanker
 HIV / AIDS
Faktor Psikososial & Lingkungan:
 Teori Psikoanalitik / Psikodinamika: Teori Freud, yaitu bahwa
kehilangan objek berkaitan dengan agresi & kemarahan, perasaan
negatif thd diri, dan terakhir depresi.
 Teori Perilaku Kognitif: Teori Beck, yaitu Pola kognitif negatif yang
berkembang, memandang rendah diri sendiri
 Stressor Lingkungan: kehilangan anggota keluarga, penipuan,
kurangnya sistem pendukung sosial
3. Akibat
Resiko bunuh diri dapat megakibatkan sebagai berikut :
 Keputusasaan
 Menyalahkan diri sendiri
 Perasaan gagal dan tidak berharga
 Perasaan tertekan
 Insomnia yang menetap
 Penurunan berat badan
 Berbicara lamban, keletihan
 Menarik diri dari lingkungan social
 Pikiran dan rencana bunuh diri
 Percobaan atau ancaman verbal
C. POHON MASALAH

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain


dan lingkungan
Resiko bunuh diri

Harga diri rendah

D. MASALAH KEPERAWATAN
DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
4. Pengkajian Faktor Resiko Perilaku bunuh Diri
 Jenis kelamin: resiko meningkat pada pria
 Usia: lebih tua, masalah semakin banyak
 Status perkawinan: menikah dapat menurunkan resiko, hidup sendiri
merupakan masalah.
 Riwayat keluarga: meningkat apabila ada keluarga dengan percobaan bunuh
diri / penyalahgunaan zat.
 Pencetus ( peristiwa hidup yang baru terjadi): Kehilangan orang yang dicintai,
pengangguran, mendapat malu di lingkungan social.
 Faktor kepribadian: lebih sering pada kepribadian introvert/menutup diri.
 Lain – lain: Penelitian membuktikan bahwa ras kulit putih lebih beresiko
mengalami perilaku bunuh diri.
1. Masalah keperawatan
 Resiko Perilaku bunuh diri
DS : menyatakan ingin bunuh diri / ingin mati saja, tak ada gunanya hidup.
DO : ada isyarat bunuh diri, ada ide bunuh diri, pernah mencoba bunuhdiri.
 Koping maladaptive
DS : menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.
DO : nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa 1 : Resiko bunuh diri
2. Tujuan umum : Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri
3. Tujuan khusus :
 Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
 Perkenalkan diri dengan klien
 Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
 Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
 Bersifat hangat dan bersahabat.
 Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.
 Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
Tindakan :
 Jauhkan klien dari benda benda yang dapat membahayakan (pisau,
silet, gunting, tali, kaca, dan lain lain).
 Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh
perawat.
 Awasi klien secara ketat setiap saat.
 Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Tindakan:
 Dengarkan keluhan yang dirasakan.
 Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan
dan keputusasaan.
 Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana
harapannya.
 Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan,
kematian, dan lain lain.
 Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan
keinginan untuk hidup.
 Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
 Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
 Kaji dan kerahkan sumber sumber internal individu.
 Bantu mengidentifikasi sumber sumber harapan (misal: hubungan antar
sesama, keyakinan, hal hal untuk diselesaikan).
 Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Tindakan:
 Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman pengalaman yang
menyenangkan setiap hari (misal : berjalan-jalan, membaca buku
favorit, menulis surat dll.)
 Bantu untuk mengenali hal hal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan
pentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang
kegagalan dalam kesehatan.
 Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang
mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah
mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut
dengan koping yang efektif

1. Diagnosa 2 : Gangguan konsep diri: harga diri


rendah
2. Tujuan umum : Klien tidak melakukan kekerasan
3. Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling
percaya.
Tindakan:
1.1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama
perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
1.2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
1.3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan


dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan:
2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2.2 Hindari penilaian negatif detiap pertemuan klien
2.3 Utamakan pemberian pujian yang realitas
3. Klien mampu menilai kemampuan yang
dapat digunakan untuk diri sendiri dan keluarga
Tindakan:
3.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3.2 Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
4. Klien dapat merencanakan kegiatan yang
bermanfaat sesuai kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan.
4.2. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang klien lakukan.
4.3. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai
kondisi dan kemampuan
Tindakan :
5.1. Beri klien kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem
pendukung yang ada
Tindakan :
6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
6.2 Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
6.4 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
1. Diagnosa : Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan
2. Tujuan umum :
- Pasien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
3. Tujuan khusus :
- Pasien mendapatkan perlindungan dari lingkungannya
- Pasien mampu mengungkapkan perasaannya
- Pasien mampu meningkatkan harga dirinya
- Pasien mampu menggunakan cara penyelesaiaan masalah yang baik
4. Tindakan :
- Mendikusikan cara mengatasi keinginan mencederai diri sendiri, orang lain
dan lingkungan
- Meningkatkan harga diri pasien dengan cara :
o Memberikan kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya
o Memberikan pujian jika pasien dapat mengatakan perasaan yang positif
o Meyakinkan pasien bahawa dirinya penting
o Mendiskusikan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
o Merencanakan yang dapat pasien lakukan
- Tingkatkan kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara :
o Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya
o Mendiskusikan dengan pasien efektfitas masing-masing cara
penyelesian masalah
o Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih
baik
F. RENCANA TINDAKAN
KPERAWATAN
a. Ancaman atau percobaan bunuh diri
1. Intervensi pada pasien
a) Tujuan keperawatan
Pasien tetap aman dan selamat.
b) Tindakan keperawatan
Melindubgi pasien dengan cara:
 Temani pasien terus-menerus sampai pasein dapat dipindahkan ke
tempat yang aman
 Jauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya: pisau, silet, gelas,
dan tali pinggang)
 Periksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya jika pasien
mendapatkan obatnya.
 Dengan lembut, jelaskan pada pasien bahwa anda akan melindungi
pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri.
STRATEGI PELAKSANAAN RESIKO BUNUH DIRI
A. Kondisi Klien
Sedih, marah, putus asa, tidak berdaya, memberikan isyarat verbal maupun non verbal
B. Diagnosa Keperawatan
Resiko Bunuh Diri
C. Tujuan
1) Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya
2) Pasien dapat mengungkapkan perasaanya
3) Pasien dapat meningkatkan harga dirinya
4) Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik

D. Tindakan Keperawatan
1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan
meminta bantuan dari keluarga atau teman.
2) Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
a) Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.
b) Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
c) Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
d) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e) Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan
3) Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:
a) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan
masalahnya
b) Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-
masing cara penyelesaian masalah
c) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan
masalah yang lebih baik
E. Strategi Pelaksanaan
SP 1: Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
Melindungi pasien dari percobaan bunuh diri.
 Orientasi:
”Selamat pagi Pak, kenalkan saya Agung Nugroho, biasa di pangil Agung, saya
mahasiswa Keperawatan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang bertugas di
ruang ini, saya dinas pagi dari jam 7 pagi – 2 siang .”
”Bagaimana perasaan A hari ini? ”
” Bagaimana kalau kita bercakap – cakap tentang apa yang A rasakan selama ini.
Dimana dan berapa lama kita bicara?”
 Kerja
”Bagaimana perasaan A setelah ini terjadi? Apakah dengan bencana ini A paling
merasa menderita di dunia ini? Apakah A pernah kehilangan kepercayaan diri?
Apakah A merasa tidak berharga atau bahkan lebih rendah dari pada orang lain?
Apakah A merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri? Apakah A sering
mengalami kesulitan berkonsentrasi? Apakah A berniat unutuk menyakiti diri sendiri?
Ingin bunuh diri atau berharap A mati? Apakah A pernah mencoba bunuh diri? Apa
sebabnya, bagaimana caranya? Apa yang A rasakan?”
”Baiklah, tampaknya A membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan
untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar A ini untuk
memastikan tidak ada benda – benda yang membahayakan A)”
”Karena A tampaknya mash memilikikeinginan yang kuat untuk mengakhiri hidup A,
saya tidak akan membiarkan A sendiri”
”Apa yang A lakukan jika keinginan bunuh diri muncul?”
”Kalau keninginan itu muncul, maka akan mengatasinya A harus langsung minta
bantuan kepada perawat di ruangan ini dan juga keluarga atau teman yang sedang
besuk. Jadi A jangan sendirian ya, katakan kepada teman perawat, keluarga atau
teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan.”
”Saya percaya A dapat mengatasi masalah.”
 Terminasi :
”Bagaimana perasaan A sekarang setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin
bunuh diri?”
” Coba A sebutkan lagi cara tersebut!”
”Saya akan menemani A terus sampapi keinginan bunuh diri hilang.” (jangan
meninggalkan pasien).

Daftar Pustaka

Keliat A. Budi, Akemat. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC.
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
JIWA PASIEN DENGAN MASALAH REGIMEN
TERAPEUTIK

h. Masalah Utama
Putusnya pemberian pengobatan pada gangguan jiwa ( regimen terapeutik)
i. Proses Terjadinya
l. Definisi
Regimen terapeutik adalah pengobatan yang terputus pada saat
dirumah sehingga terapi yang dijalani oleh pasien berhenti yang
mengakibatkan gangguan jiwa yang dialami pasien terjadi kembali.
(Wardani, 2012) Terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini
diberikan dalam upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku maladaptif
menjadi perilaku adaptif. Sebagai titik tolak terapi atau penyembuhan.
(Eko Prabowo, 2014)
7 Penyebab
a. Faktor Predisposisi:
d. Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan
frustasi yang kemudian dapat timgul agresif atau amuk.
e. Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan
kekerasan sering mengobserpasi kekerasan dirumah atau diluar
rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi
perilaku kekerasan
f. Sosial budaya, budaya tertutup dan membahas secara diam
(pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap
perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku
kekerasan diterima.
g. Bioneorologis, banyak pendapat bahwa kerusakan sistem
limbik, lobus prontal, lobus temporal, dan ketidak seimbangan
neurotransmiter turut berperan dalam terjadinya kekerasan
(Wardani, 2012)
a Faktor Presipitasi
Karena ketidak kooperatifan pasien dalam melakukan terapi obat
seperti bosan meminum obat dan terjadi depresi dan keputusasaan.
Karena ketidak kooperatifan keluarga dalam melakukan pemberian
terapi dikarenakan malu dan mengucilkan. Keluarga merupakan
faktor yang sangat penting dalam proses kesembuhan pasien
gangguan jiwa. Keluarga merupakan lingkungan terdekat pasien.
Dengan keluarga yang bersikap terapeutik dan mendukung pasien,
masa kesembuhan pasien dapat dipertahankan selama mungkin.
Sebaliknya, jika keluarga kurang mendukung, angka kekambuhan
menjadi lebih cepat. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa
angka kambuh pada pasien gangguan jiwa tanpa terapi keluarga
sebesar 25-50%, sedangkan angka kambuh pada pasien yang
mendapat terapi keluarga adalah sebesar 5-10% (Ulpa, 2012)
h. Jenis
1) Farmakologi
Nerolepetik dengan dosis efektif lebih rendah lebih bermanfaat pada
penderita dengan skizofrenia yang menahun, yang dengan dosis
efektif tinggi lebih berfaedah pada penderita dengan psikomotorik
yang meningkat. Dengan fenotiazin biasanya waham dan halusinasi
hilang dalam waktu 2-3 minggu. Bila masih tetap ada waham dan
halusinasi maka penderita tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi
lebih kooperatif mau ikut serta dengan kegiatan lingkungan dan mau
turut terapi kerja. Terapi obat diberikan dalam jangka waktu relatif
lama, berbulan bahkan bertahun.
2) Terapi Elektro konvulsi
Pada permulaan (untuk konvulsi yang pertama kali bagi seorang
penderita) biasanya dipakai 100-150 V dan 0,2-0,3 detik konvulsator
yang pertama dan 4J dengan 2-3 detik dengan konvulsator yang
kedua, bila tidak terjadi konvulsi langsug diulangi dengan voltase
yang sama atau bila sudah terputus beberapa detik lamanya, dengan
voltase yang lebih tinggi, kita dapat mengulang hingga 3X, bila tidak
juga terjadi konvulasi sebaiknya terapi ditunda sampai esok hari.
a. Psikoterapi
Psikoterapi dalam bentuk psikoanalisa tidak membawa hasil yang
diharapkan, bahkan ada yang berpendapat tidak boleh dilakukan
pada penderita dengan skizofrenia karena dapat menambah isolasi
dan otisme, yang dapat membantu penderita lelah psikoterapi
suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis
dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke masyarakat.
13. Rehabilitasi
Rehabilitasi penting dilakukan sebagai persiapan penempatan
kembali ke keluarga dan masyarakat. Program ini biasanya
dilakukan dilembaga institusi rehabilitasi misalnya di RS. Jiwa,
dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain :
menjalankan kegiatan kesenian, terapi fisik berupa olahraga,
ketrampilan, rekreaksi, menjalankan ibadah keagamaan bersama.
Pada umumnya program rehabilitasi berlangsung 3-6 bulan. Secara
berkala dilakukan evaluasi paling sediki dua kali yaitu sebelum
penderita mengikuti program rehabilitasi dan evaluasi pada saat si
penderita akan dikembalikan ke keluarga (Hawari, 2007)
a. Terapi ECT
ECT adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan
pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempelkan pada
bagian temporal kelapa ( pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut
menimbulkan kejang grandmal yang berlangsung 25-30 detik dengan
tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya diotak menyebabkan
terjadinya perubahan faaal dan biokimia dalam otak. Indikasi terapi
ECT pada klien dengan skizofrenia , maniak, depresi mayor.
Mekanisme kerja dari terapi ECT yaitu sebenarnya belum diketahui ,
diperkirakan bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan
biokimia dan faal didalam otak jadi bukan kejang yang ditampilkan
secara motorik melainkan respon bangkitan listrik diotak.
Efek samping yang terjadi pada klien yang dilakukan terapi ECT
adalah Mortalitas, Efek pada Susunan saraf pusat, Efek sistemik.
Resiko dalam pemberian terapi ECT adalah Kematian, Kerusakan
otak, Kehilangan memori permanen. Pemberian ECT biasanya
diberikan dalam satu seri yang terdiri dari 6-12 kali ( kadang
diperlukan sampai 20 kali) pemberian dengan dosis 2-3 kali
perminggu. (Ulpa, 2012)
← Terapi Psikoreligius
Terapi keagamaan ini berupa kegiatan ritual keagamaan seperti
sembahyang, berdoa, ceramah keagamaan
Rentang respon

Respon Respon
Adaptif Maladaptif

1. Pikiran Logis 1. Lingkungan belum 1. Marah


2. Persepsi Akurat bisa menerima 2. Frustasi
2. Kurangnya
3. Emosi konsisten 3. Pasif
dukungan keluarga
dengan pengalaman 4. Agresif
3. Emosi berlebih atau
4. Bisa bersosialisai 5. Perilaku tidak
berkurang
5. Perilaku sesuai terorganisir
4. Perilaku tidak biasa

← Pegobatan
yang tidak
teratur

14. Proses terjadinya masalah


Karena klien gangguan jiwa kurang mendapat dukungan dari keluarga
untuk melakukan terapi atau pengobatan, dan masyarakat belum bisa
menerima keadaan klien setelah keluar dari rumah sakit jiwa dan klien
merasa dikucilkan sehingga berakibat klien merasa cemas, mudah marah,
sering menyendiri, dan stres sehingga menjadi gangguan jiwa.Akibat pola
pikir yang keliru di masyarakat, banyak keluarga pasien penyakit jiwa
yang tidak mau menerima anggota keluarganya setelah sembuh secara
medis. Akhirnya, penyakit pasien kambuh dan terpaksa dirawat kembali ke
rumah sakit. (Budi Anna K & Akemat, 2007)
Stresor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang
dapat menyebabkan timbulnya kecemasan. Ketegangan kehidupan tersebut
dapat berupa :
j Peristiwa traumatik yang dapat memicu terjadinya kecemasan
berkaitan dengan krisis yang dialami individu baik krisis
perkembangan ataupun situasional
k Konflik emosional, yang dialami individu dan tidak terselesaikan
dengan baik
l Frustasi akan menimbulkan ketidakberdayaan untuk mengambil
keputusan yang berdampak terhadap ego
m Pola mekanisme koping keluarga atau menangani klien akan
mempengaruhi individu dalam respon terhadap konflik (Hawari,
2007)
f) Tanda dan gejala
Gejala-gejala awal orang yang menderita regimen terapeutik sangat
banyak wujudnya tidak menyangkut kondisi fisik, bisa berupa :
(j) Emosional tidak stabil
(k) Kemampuan berhubungan interpersonal menurun
(l) Halusinasi, agresi, waham, delusi, menarik diri meningkat
(m)Perilaku sulit diarahkan
(n) Proses berpikir ke arah tidak logic (Ulpa, 2012)
d Akibat
Dampak atau akibat yang dirasakan pada klien karena ketidakpatuhan
terhadap terapi obat (regimen terapeutik) menyebakan kekambuhan emapt
kali lebih tinggi, klien yang kambuh karena tidak minum obat,
membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk kembali secara intensif
(Hawari, 2007) Dampak-dampak gangguan jiwa bagi keluarga, seperti:
e Penolakan
Sering terjadi dan timbul ketika ada keluarga yang menderita
gangguan jiwa, pihak anggota keluarga lain menolak penderita
tersebut dan menyakini memiliki penyakit berkelanjutan. Selama
episode akut anggota keluarga akan khawatir dengan apa yang
terjadi pada mereka cintai. Pada proses awal, keluarga akan
melindungi orang yang sakit dari orang lain dan menyalahkan dan
merendahkan orang yang sakit untuk perilaku tidak dapat diterima
dan kurangnya prestasi. Sikap ini mengarah pada ketegangan
dalam keluarga, dan isolasi dan kehilangan hubungan yang
bermakna dengan keluarga yang tidak mendukung orang yang
sakit. (Rahmawati, 2015)
f Stigma
Informasi dan pengetahuan tentang gangguan jiwa tidak semua
dalam anggota keluarga mengetahuinya. Keluarga menganggap
penderita tidak dapat berkomunikasi layaknya orang normal
lainnya. Menyebabkan beberapa keluarga merasa tidak nyaman
untuk mengundang penderita dalam kegiatan tertentu. Hasil stigma
dalam begitu banyak di kehidupan sehari-hari, Tidak
mengherankan, semua ini dapat mengakibatkan penarikan dari
aktif berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari
g Frustrasi, Tidak berdaya dan Kecemasan
Sulit bagi siapa saja untuk menangani dengan pemikiran aneh dan
tingkah laku aneh dan tak terduga. Hal ini membingungkan,
menakutkan dan melelahkan. Bahkan ketika orang itu stabil pada
obat, apatis dan kurangnya motivasi bisa membuat frustasi.
Anggota keluarga memahami kesulitan yang penderita miliki.
Keluarga dapat menjadi marah marah, cemas, dan frustasi karena
berjuang untuk mendapatkan kembali ke rutinitas yang sebelumnya
penderita lakukan
Kelelahan
Seringkali keluarga menjadi putus asa berhadapan dengan orang
yang dicintai yang memiliki penyakit mental. Mereka mungkin
mulai merasa tidak mampu mengatasi dengan hidup dengan orang
yang sakit yang harus terus-menerus dirawat. Namun seringkali,
mereka merasa terjebak dan lelah oleh tekanan dari perjuangan
sehari-hari, terutama jika hanya ada satu anggota keluarga mungkin
merasa benar-benar di luar kendali. Hal ini bisa terjadi karena
orang yang sakit ini tidak memiliki batas yang ditetapkan di
tingkah lakunya. Keluarga dalam hal ini perlu dijelaskan kembali
bahwa dalam merawat penderita tidak boleh merasa letih, karena
dukungan keluarga tidak boleh berhenti untuk selalu men-support
penderita
Duka
Kesedihan bagi keluarga di mana orang yang dicintai memiliki
penyakit mental. Penyakit ini mengganggu kemampuan seseorang
untuk berfungsi dan berpartisipasi dalam kegiatan normal dari
kehidupan sehari-hari, dan penurunan yang dapat terus-menerus.
Keluarga dapat menerima kenyataan penyakit yang dapat diobati,
tetapi tidak dapat disembuhkan. Keluarga berduka ketika orang
yang dicintai sulit untuk disembuhkan dan melihat penderita
memiliki potensi berkurang secara substansial bukan sebagai yang
memiliki potensi berubah (Rahmawati, 2015)
d Mekanisme koping
Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme koping klien, sehingga
dapat membantu klien untuk mengembangkan mekanisme koping yang
kontruktif dalam mengekspresikan kemarahannya. Mekanisme koping
yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan ego seperti :
j) Sublimasi adalah kehendak pikiran atau tindakan sadar yang tidak
dapat di terima oleh lingkungan atau masyarakat disalurkan
menjadi aktivitas nilai sosial yang tinggi, contoh : seseorang yang
suka berkelahi beralih menjadi atlet petinju
(1) Represi adalah implus yang diterima oleh ege dari ide tidak dapat
diterima oleh kesadaran karena ada ancaman dari super ego,
sehingga menimbulkan kecemasan. Untuk menghalau kecemasan
tersebut, ego menekan implus tersebut kealam bawah sadar dengan
kata lain seseorang berusaha sekuat mungkin untuk melupakan
dorongan yang harus dipuaskan sebagai sesuatu yang tidak pernah
ada. (Wardani, 2012)
l) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efektif merupakan
ketidakmampuan klien mematuhi, menjalankan dan mengambil tindakan
pada perogam pengobatan ntuk mencapai peningkatan status kesehatan
kedalam rutinitas sehari-hari. (Wardani, 2012)
Penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efektif menurut Mc Closkey
dan Bulechek (2008) sebagai berikut:
(10) Pendidikan kesehatan mengenai proses penyakit dan
prosedur perawatan
(11) Restrukturisasi kognitif dan modifikasi perilaku
(12) Hubungan baik antara klien dengan petugas kesehatan
melalui konseling, intervensi krisis, memberi dukungan emosional
dan keluarga
(13) Memperbaiki sistem kesehatan
(14) Identifikasi terhadap faktor resiko dan memberi bantuan self
modifikasion (Ulpa, 2012)
10. Pohon masalah
Gelisah

Bosan mengonsumsi
Regimen Terapeutik
obat

Koping Individu Inefektif


Lemas

Koping keluarga tidak

efektif daalam merawat

klien
2. Diagnosa keperawatan
← Gangguan regimen terapetik berhubungan dengan putusnya
pengkonsumsian obat
3. Rencana asuhan keperawatan
h. Tujuan umum : Pasien mau mengkonsumsi obat dengan rutin
Pasien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria Hasil :
Setelah ... X pertemuan, pasien dapat menunjukkan rasa kepercayanya
kepada perawat, ada kontak mata, mau diajak berjabat tangan, mau
menyebutkan nama, mau mengutarakan masalah yang dihadapi
Intervensi:
1) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip
komunikasi terapeutik :
Sapa pasien dengan nama baik verbal dan non verbal
Perkenalkan diri dengan sopan
Tanya nama lengkap pasien dan nama panggilan yang disukai
Jelaskan tujuan pertemuan
Jujur dan menepati janji
b. Tunjukkan sikap empati dan menerima keadaan
c. Berikan perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan
dasar
4 Pasien dapat menyebutkan penyebab ketidakmauan dalam meminum
obat
Kriteria hasil :
Setelah ... X pertemuan, Pasien dapat mengetahui jenis-jenis obat yang
di minum, perlunya minum obat yang teratur, mengetahui 5 benar
dalam minum obat, mengetahui efek samping obat, mengetahui akibat
bila putus mengkonsumsi obat
11. Tindakan tindak lanjut dan pengobatan yang teratur
12. Berikan Lingkungan yang tepat untuk pasien
13. Ajarkan dan beri penjelasan tentang nama obat, dosis, frekuensi,
efek samping, akibat penghentian obat
14. Anjurkan pasien konsultasi segera jika dibutuhkan.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


Pertemuan 1
l. Proses Keperawatan
- Kondisi Pasien
Bosan, Gelisah, Lemas
- Diagnosa Keperawatan
← Gangguan regimen terapetik berhubungan dengan putusnya
pengkonsumsian obat
- Tujuan Khusus
← Pasien dapat membina hubungan saling
percaya Kriteria Hasil :
← Pasien dapat menunjukkan rasa percayanya kepada perawat
← Ada kontak mata
← Mau diajak berjabat tangan
← Mau menyebutkan nama
← Mau mengutarakan masalah yang dihadapi
← Pasien dapat menyebutkan penyebab tidak adanya kemauan dalam
meminum obat
Kriteria hasil :
← Pasien dapat mengetahui jenis-jenis obat yang di minum
← Pasien mengetahui perlunya minum obat yang teratur
← Pasien mengetahui 5 benar dalam minum obat
← Pasien mengetahui efek samping obat
← Pasien mengetahui akibat bila putus mengkonsumsi obat
d. Tindakan Keperawatan
5. Pasien dapat membina hubungan saling
percaya Tindakan keperawatan :
← Sapa pasien dengan nama baik verbal dan non verbal
← Perkenalkan diri dengan sopan
← Tanya nama lengkap pasien dan nama panggilan yang disukai
← Jelaskan tujuan pertemuan
Jujur dan menepati janji
Tunjukkan sikap empati dan menerima keadaan
Berikan perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar
1 Pasien dapat menyebutkan penyebab tidak adanya kemauan dalam
meminum obat
Tindakan keperawatan :
← Tindakan tindak lanjut dan pengobatan yang teratur
← Lingkungan yang tepat untuk pasien
← Obat pasien (nama obat, dosis, frekuensi, efek samping, akibat
penghentian obat)
← Kondisi pasien yang memerlukan konsultasi segera jika
dibutuhkan.
8 Strategi Komunikasi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
a. Orientasi
1 Salam terapeutik
“Permisi, Bapak, selamat pagi perkenalkan nama saya L, saya
mahasiswa yang dinas di ruangan ini.
“Saya mahasiswa dari Akademi kesehatan Rustida. Hari ini saya dinas
pagi dari jam 07.00-14.00. saya yang akan merawat bapak selama
dirumah sakit ini.”
“Boleh tau, nama bapak siapa? Senangnya dipanggil apa?”
2 Evaluasi
“Bagaimana perasaan bapak saat ini ?”
“Masih ingat ada kejadian apa sampai bapak dibawa kerumah sakit
ini ?”
“Apa keluhan bapak hari ini ? apakah tadi bapak sudah meminum
obatnya? Kenapa tidak dimum pak ?
b Kontrak
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang apa yang menyebabkan
bapak K tidak mau minum obat?”
“Berapa lama Bapak K ingin kita berbincang-bincangnya? Bagaimana
kalau 20 menit saja ?”
“Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang bincang bapak K?
bagaimana kalau disini saja?” Atau dibawah halaman ?
9. Kerja
“Apa Yang menyebabkan bapak K tidak mau meminum obat ? bosan ya
pak ? selain itu apalagi coba sebutkan ?
Bapak Ada beberapa cara untuk mengendalikan rasa bosan itu, bapak bisa
membayangkannya obat itu seperti memakan permen yang bapak suka.
Dan setelah meminum obat bapak bisa mengunyah gula ataupun permen.
10. Terminasi
a Evaluasi subyektif
“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita berbincang-bincang tadi ?
b Evaluasi obyektif
“Coba bapak sebutkan kembali bagaimana cara menghilangkan rasa
bosan untuk meminum obat ?
c Kontrak
a. Topik
“Baik bapak sekarang mungkin cukup berbincang-bincangnya hari
ini, bagaimana kalau besok kita sambung lagi, saya akan datang
kesini lagi untuk mengajarkan bapak cara-cara meminum obat yang
tepat ?
1) Tempat
“Untuk tempatnya bagaimana kalo ditempat ini lagi ? atau dibawah
pohon itu ? “
2) Waktu
“waktunya jika pukul 9 saja pak, kira-kira berapa lama pak ?
bagaimana kalau 20 Menit saja ?
d Rencana Tindak lanjut
“Selanjutnya Bapak dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi,
sehingga besok kita dapat berbincang-bincang lebih jelas.
Pertemuan 2
e Proses Keperawatan
Kondisi pasien
Bosan, Gelisah, Lemas
Diagnosa keperawatan
← Gangguan regimen terapetik berhubungan dengan putusnya
pengkonsumsian obat
4) Tujuan khusus
Pasien mau mengkonsumsi obat dengan benar dan tepat
Tindakan keperawatan
1) Diskusikan dengan klien tentang dosis, frekuensi serta manfaat minum
obat.
2) Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan
manfaatnya
3) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
4) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
5) Berikan pujian kepada pasien
4. Strategi komunikasi pelaksaan tindakan keperawatan
← Orientasi
1) Salam terapeutik
“Permisi, Bapak K sesuai dengan janji saya kemarin sekarang saya
datang lagi, apakah bapak masih ingatkan dengan saya ? coba siapa ?
iya benar sekali”
“Sesuai janji saya kemarin, Tujuan saya sekarang ini akan mengajarkan
cara menggunakan atau meminum obat”.
2) Evaluasi
“Bagaimana perasaan bapak K saat ini apakah Bapak sudah tidak bosan
lagi untuk meminum obatnya ? baguss bapak
“Bapak K masih ingatkan apa yang kita bicarakan kemarin ? ya bagus !
“Apakan bapak K pagi ini sudah minum obat ? nama obatnya apa saja ?
oh Bapak K belum tahu ya nama obatnya ?”
← Kontrak
“Baik pak sekarang kita akan belajar cara minum obat dengan benar”
“Mau berapa lama bapak kita berbincang bincang? Kemarin
kesepakatan kita 20 menit ?
Dimana tempatnya ? disini saja ya pak ? baik pak
5 Kerja
“Bapak sudah minum obat hari ini ? berapa obat yang bapak minum ?
warna apa saja pak? jam berapa saja bapak minum ?
“Bapak K apakah ada bedanya setelah minum obat secara teratur ? ya,
minum obat itu sangat penting supaya bapak K tidak merasa Gelisah”
“Obat yang Bapak minum ada 3 macam warnanya merah muda, oranye
dan putih
“Semuanya harus bapak minum selama 3 kali sehari. Diminumnya pagi
jam 8, siang jam 1, dan sore jam 5”
“Menurut bapak boleh tidak berhenti minum obat sebelum diizinkan
dokter ? karena akan membuat perasaan bapak K tidak tenang dan gelisah”
“ bapak sebelum minum obat ini bapak harus cek dulu yaitu perhatikan
prinsip 5 benar minum obat. Yang pertama yang harus bapak lihat adalah
apakah obat ini benar untuk bapak jadi lihat labelnya benar tulisan nama
bapak K, yang kedua lihat apakah benar yang diminum, kalau beda nama
obat dan warna obatnya bapak harus tanyakan pada perawatnya ya . yang
ketiga semua obat bapak di minum 3 kali sehari pak. Yang keempat obat
ini harus diminum tepat waktu jam 8 setelah sarapan, jam 1 siang setelah
makan siang dan jam 5 sore setelah makan sore. bapak juga harus teliti
saat menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obatnya benar, artinya bapak
harus memastikan bahwa itu obat yang benar-benar punya bapak Jangan
keliru dengan obat milik orang lain. Baca nama kemasannya, ingat warna
obatnya. Pastikan obat diminum pada waktunya, dengan cara yang benar.
Yaitu diminum sesudah makan dan tepat jamnya.
“bagaimana bapak apa sudah mengerti ? atau ada yang ingin ditanyakan
lagi ?
6. Terminasi
a. Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan bapak K. setelah kita bercakap cakap tentang obat
obat yang Bapak minum ?
b. Evaluasi obyektif
“Coba bapak sebutkan nama obat yang sudah kita bicarakan tadi ?
berapa kali minumnya dalam sehari? apa kerugian apabila berhenti
minum obat ? ya benar pak. Bapak sudah mengerti ya tentang obat
obatan yang harus diminumnya. Bapak harus mengingatnya
c. Kontrak
1 Topik
Baik pak sekarang bincang bincangnya sudah selesai, bagai mana
kalu nanti jam 8 pagi saya kembali lagi untuk membantu bapak
meminum obat ?.
2 Tempat
Tempatnya di mana pak ? baiklah di sini saja
3 Waktu
Waktunya berapa lama pak ? baiklah 10 menit saja, cukup pak?
d. Rencana tindak lanjut
Mari sekarang kita masukkan ke jadwal harian bapak ya. Berapa kali
minum obatnya pak jam berapa saja. Coba tulis ya pak jam 8 pagi, jam
1 siang, dan jam 5 sore. Bagus bapak, jadi kalau sudah jamnya bapak
harus minum obat langsung minta kepada perawatnya ya pak jangan
sampai menunggu panggilan
DAFTAR PUSTAKA

Budi Anna K & Akemat. (2007). Model Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta:
EGC.
Eko Prabowo. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.
Hawari. (2007). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta:
Balai FKUI.
Rahmawati, A. (2015). Hubungan regimen terapeutik dengan kejadian kebutaan .
Artikel Jurnal Program Studi S1 Keperawatan UMJ.
Sumiati. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien Penyalahgunaan
dan Ketergantungan NAPZA. Jakarta: TIM.
Ulpa, D. (2012). Keperawatan Klinis . Jurnal Keperawatan Klinis Vol 2 No 1.
Wardani, I. Y. (2012). Dukungan Keluarga: Faktor Penyebab ketidakpatuhan
klien menjalani pengobatan. Jurnal Keperawatan Indonesia Vol.15 No.1.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
PERUBAHAN ISI PIKIR : WAHAM
1. Masalah Utama
Perubahan isi pikir : waham
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang
budaya klien.
Gangguan isi pikir dapat diidentifikasi dengan adanya waham. Waham atau
delusi adalah ide yang salah dan bertentangan atau berlawanan dengan semua
kenyataan dan tidak ada kaitannya degan latar belakang budaya (Keliat, 2009)
Tanda dan gejala :
 Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, curiga, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan
 Klien tampak tidak mempercayai orang lain, curiga, bermusuhan
 Takut, kadang panik
 Tidak tepat menilai lingkungan / realitas
 Ekspresi tegang, mudah tersinggung
b. Penyebab
Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri
rendah. Harga diri rendah. Waham dipengaruhi oleh factor pertumbuhan dan
perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang,
pertengkaran orang tua dan aniaya. Waham dapat dicetuskan oleh tekanan, isolasi,
pengangguran yang disertai perasaan tidak berguna, putus asa, tidak berdaya.
Tanda dan gejala :
 Perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri
dan harga diri.
 Merasa gagal mencapai keinginan
 Rasa bersalah terhadap diri sendiri
 Merendahkan martabat
 Gangguan hubungan sosial
 Percaya diri kurang
 Mencederai diri
c. Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal.
Tanda dan gejala: Pikiran tidak realistik, flight of ideas, kehilangan asosiasi,
pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang.
Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang
lain dan lingkungan. Tanda dan gejala:
 Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
 Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah.
 Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
 Mata merah, wajah agak merah.
 Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit, memukul
diri sendiri/orang lain.
 Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
 Merusak dan melempar barang-barang.

3. Pohon Masalah
Resiko tinggi mencederai diri, orang
lain dan lingkungan
Kerusakan komunikasi verbal

Perubahan isi pikir:


waham Core problem

Gangguan konsep diri:


harga diri rendah

4. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


a. Masalah keperawatan :
 Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
 Kerusakan komunikasi : verbal
 Perubahan isi pikir : waham
 Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
b. Data yang perlu dikaji :
i. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
- Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada
seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak
mampu mengendalikan diri
- Data objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara
menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar
barang-barang.
ii. Kerusakan komunikasi : verbal
- Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
- Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar
dan kontak mata kurang
iii. Perubahan isi pikir : waham ( ………….)
- Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak
sesuai kenyataan.
- Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak
(diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak
tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah
tersinggung.
iv. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
- Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
- Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternative
tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup
5. Diagnosa Keperawatan
Kerusakan komunikasi verbal
Perubahan isi pikir : waham
Gangguan konsep diri : harga diri rendah
6. Rencana Tindakan Keperawatan
- Diagnosa I : Perubahan isi pikir : waham
Tujuan umum : Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
- Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak
yang jelas topik, waktu, tempat).
- Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat
menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai
ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi
ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
- Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan
perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman,
gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
- Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan
diri
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
- Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
- Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan
saat ini yang realistis.
- Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan
perawatan diri).
- Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan
waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
- Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
- Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah
maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
- Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
- Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
- Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan
wahamnya.
d. Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan :
- Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan
waktu).
- Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
- Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar


Tindakan :
- Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan
efek samping minum obat.
- Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien,
obat, dosis, cara dan waktu).
- Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang
dirasakan.
- Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
f. Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
- Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala
waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
- Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga
- Diagnosa II : gangguan konsep diri : harga diri rendah
Tujuan umum : Klien dapat mengendalikan waham.
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
b. Bina hubungan saling percaya dengan menerapkan prinsip komunikasi
terapeutik :
- Sapa klien dengan ramah secara verbal dan nonverbal
- Perkenalkan diri dengan sopan
- Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
- Jelaskan tujuan pertemuan
- Jujur dan menepati janji
- Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
- Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
c. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
- Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
- Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.
- Utamakan memberi pujian yang realistik.
d. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
- Diskusikan kemampuan yang masih dapat dilakukan.
- Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
e. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
- Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari.
- Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
- Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
f. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuannya.
- Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan.
- Diskusikan pelaksanaan kegiatan dirumah
g. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
- Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
dengan harag diri rendah.
- Bantu keluarga memberiakn dukungan selama klien dirawat.
- Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah.
- Diagnosa III : harga diri rendah.
Tujuan umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
b. Bina hubungan saling percaya dengan menerapkan prinsip komunikasi
terapeutik :
- Sapa klien dengan ramah secara verbal dan nonverbal
- Perkenalkan diri dengan sopan
- Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
- Jelaskan tujuan pertemuan
- Jujur dan menepati janji
- Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
- Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
c. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
- Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
- Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.
- Utamakan memberi pujian yang realistik.
d. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
- Diskusikan kemampuan yang masih dapat dilakukan.
- Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
e. Klien dapat merencanakn kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
- Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari.
- Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
- Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
f. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuannya.
- Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan.
- Diskusikan pelaksanaan kegiatan dirumah
- Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
- Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara mearwat klien
dengan harag diri rendah.
- Bantu keluarga memberiakn dukungan selama klien dirawat.
- Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah.
STRATEGI PELAKSANAAN : GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM

A. Kondisi Klien :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, curiga,
keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Klien tampak tidak mempercayai orang lain, curiga, bermusuhan. Takut, kadang panik.
Tidak tepat menilai lingkungan / realitas. Ekspresi tegang, mudah tersinggung
B. Diagnosa Keperawatan
Gangguan proses pikir : waham
C. Tujuan
- Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
- Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
- Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
- Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
D. Tindakan Keperawatan
- Bina hubungan saling percaya
Sebelum memulai mengkaji pasien dengan waham, saudara harus membina
hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan nyaman
saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam
rangka membina hubungan saling percaya adalah:
 Mengucapkan salam terapeutik
 Berjabat tangan
 Menjelaskan tujuan interaksi
 Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien.
- Bantu orientasi realita
 Tidak mendukung atau membantah waham pasien
 Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman
 Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari
 Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya dengarkan tanpa
memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien berhenti
membicarakannya
 Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan
realitas.
 Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
 Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional pasien
 Berdikusi tentang kemampuan positif yang dimiliki
 Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki
 Berdiskusi tentang obat yang diminum
 Melatih minum obat yang benar

E. Strategi Tindakan
SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya; mengidentifikasi kebutuhan yang
tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan; mempraktekkan pemenuhan kebutuhan
yang tidak terpenuhi
Orientasi:
“Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya Agung Nugroho, biasa dipanggil Agung, saya
mahasiswa keperawatan dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang akan praktek di
ruangan ini selama 2 minggu ke depan. Saya hari ini dinas pagi dari pukul 07.00-14.00, saya
yang akan merawat Bapak pagi ini.”
“Nama Bapak siapa?Senangnya dipanggil apa?”
“Pak K, bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang Pak K rasakan sekarang?”
“Berapa lama Pak K mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”
“Bapak mau kita berbincang-bincang di mana?”

Kerja:
“Saya mengerti Pak K merasa bahwa Pak K adalah seorang…., tapi yang Bapak rasakan tidak
dirasakan oleh orang lain”
“Tampaknya Bapak gelisah sekali, bisa Bapak ceritakan apa yang Bapak rasakan?”
“O... jadi bang B merasa takut nanti diatur-atur oleh orang lain dan tidak punya hak untuk
mengatur diri abang sendiri?”
“Siapa menurut Bapak yang sering mengatur-atur diri Bapak?”
“Jadi ibu yang terlalu mengatur-ngatur Bapak, juga kakak dan adik Bapak yang lain?”
“Kalau Bapak sendiri inginnya seperti apa?”
“O... bagus Bapak sudah punya rencana dan jadwal untuk diri sendiri”
“Coba kita bersama-sama tuliskan rencana dan jadwal tersebut”
“Wah..bagus sekali, jadi setiap harinya Bapak ingin ada kegiatan diluar rumah karena bosan
kalau di rumah terus ya”
Terminasi :
“Oya Pak, karena sudak 15 menit, apakah Bapak mau kita berbincang-bincang lagi atau
sampai disini saja?”
“Bagaimana perasaan Bapak setelah berbincang-bincang dengan saya?”
“Apa saja yang sudah kita bicarakan Pak”
“Bagaimana kalau saya kembali lagi 2 jam lagi”
“Bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang mengenai hobi Bapak?”
“Jadi Bapak, hari ini kita sudah berbincang tentang perasaan yang Bapak rasakan, Bapak
ingin seperti apa dan jadwal yang sudah kita buat”
“Kalau begitu saya pamit dulu Pak, Selamat Pagi”

SP 2 Pasien : Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu


mempraktekkannya
Orientasi :
“Selamat Pagi, bagaimana perasaan Bapak saat ini? Bagus!”
“Apakah Bapak sudah mengingat-ingat apa saja hobi atau kegemaran Bapak?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi Bapak tersebut?”
“Berapa lama Bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit tentang hal
tersebut?”

Kerja :
“Apa saja hobi bapak? Saya catat ya Pak, terus apa lagi?”
“Wah.., rupanya Bapak pandai main volley ya, tidak semua orang bisa bermain volley seperti
itu lho Pak”
“Bisa Bapak ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar main volley, siapa yang dulu
mengajarkannya kepada Bapak, dimana?”
“Bisa Bapak peragakan kepada saya bagaimana bermain volley yang baik itu?”
“Wah..baik sekali permainannya”
“Coba kita buat jadwal untuk kemampuan bapak ini ya, berapa kali sehari/seminggu Bapak
mau bermain volley?”
“Apa yang Bapak harapkan dari kemampuan bermain volley ini?”
“Ada tidak hobi atau kemampuan Bapak yang lain selain bermain volley?”
Terminasi :
“Oya Pak, karena sudah 20 menit, apakah mau kita akhiri percakapan ini atau mau
dilanjutkan?”
“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan kemampuan
Bapak?”
“Setelah ini coba Bapak lakukan latihan volley sesuai dengan jadwal yang telah kita buat ya?”
“Besok kita ketemu lagi ya bang?”
“Bagaimana kalau nanti sebelum makan siang? Di kamar makan saja, ya setuju?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus Bapak minum, setuju?”
“Kalai begitu, saya pamit Pak ya..Selamat Pagi”
A. SP 3 Pasien : Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar

Orientasi :
“Selamat Pagi Pak?.”
“Bagaimana bang sudah dicoba latihan volley? Bagus sekali”
“Sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu bagaimana kalau sekarang kita membicarakan
tentang obat yang Bapak minum?”
“Dimana kita mau berbicara? Di kamar makan?”
“Berapa lama Bapak mau kita berbicara? 20 atau 30 menit?
Kerja :
“Bapak berapa macam obat yang diminum per Jam berapa saja obat diminum?”
“Bapak perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang”
“Obatnya ada tiga macam Pak, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar tenang,
yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP
gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1
siang, dan jam 7 malam”.
“Bila nanti setelah minum obat mulut Bapak terasa kering, untuk membantu mengatasinya
abang bisa banyak minum dan mengisap-isap es batu”.
“Sebelum minum obat ini Bapak dan ibu mengecek dulu label di kotak obat apakah benar
nama B tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum, jam berapa saja harus
diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar”
“Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum dalam
waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi sebaiknya Bapak tidak menghentikan sendiri obat
yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter”.
Terminasi :
“Oya Pak, karena sudah 30 menit, apakah percakapan ini mau kita akhiri atau lanjut?”
“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang obat yang bang B minum?
Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat?”
“Mari kita masukkan ke jadwal kegiatan Bapak? Jangan lupa minum obatnya dan nanti saat
makan minta sendiri obatnya pada suster”
“Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya Pak!”
“Pak, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan.
Bagaimana kalau seperti biasa, jam 10 dan di tempat sama?”
“Kalau begitu saya pamit dulu Pak, Selamat Pagi”

DAFTAR PUSTAKA

Keliat Budi A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1. EGC : Jakarta
Keliat Budi A. 2009. Model Praktik Keperawatan Professional Jiwa. EGC : Jakarta