Anda di halaman 1dari 39

FILUM ANNELIDA

FILUM ANNELIDA
Annelida adalah nama umum untuk sekitar 9000 spesies dari binatang
tidak bertulang belakang seperti cacing dengan segmen tubuh yang
berkembang baik.

Tiga kelompok utama dalam filum Annelida adalah (1)


Polychaeta atau bristle worms (sekitar 5300 spesies),
sebagian besar hidup di laut dan sering kali memiliki
luminescent;

(2) Oligochaeta (sekitar 3100 spesies), kebanyakan


hidup di air tawar atau dalam tanah, contohnya
cacing tanah;

(3) Hirudinea atau leeches (sekitar 300 spesies) yang


kebanyakan hidup di air tawar tapi ada juga yang hidup di
laut atau teresterial.
Sistem pencernaan lengkap, memanjang dari mulut di anterior, usus
hingga anus di posterior. Usus berbentuk sebuah tabung lurus.
Pencernaan bersifat ekstraseluler.
Sistem peredaran darah bersifat tertutup.

Gambar Sistem peredaran darah cacing adalah sistem peredaran


darah tertutup dan sederhana yang dipacu oleh kontraksi pembuluh
darah dorsal dan lima pasang jantung.
 Darah cacing sudah memiliki hemoglobin yang terlarut dalam
protoplasma sel darah merahnya.
 Jantung cacing merupakan bagian dari aorta yang berdinding
otot tebal sehingga dapat berkontraksi. Jantung cacing disebut
juga jantung pembuluh atau lengkung aorta karena bentuknya
yang melengkung.
 Jantung memompakan darah dari bagian dorsal (punggung)
ke pembuluh darah ventral (perut), lalu ke seluruh tubuh.
Pertukaran udara terjadi di kapiler-kapiler yang tersebar di
permukaan kulit di seluruh tubuh.
 Dinding kulit cacing lembap dan tipis sehingga memungkinkan
terjadinya pertukaran udara. Setelah melalui seluruh tubuh,
darah akan kembali ke bagian dorsal tubuh, menuju jantung
untuk kemudian dipompakan lagi ke seluruh tubuh.
Sistem saraf terdiri atas sepasang ganglion atau otak pada prostomium,
saraf penghubung melingkari pharyng, sebuah atau sepasang benang
saraf ventral sepanjang tubuh yang dilengkapi sebuah ganglion dan
sepasang saraf lateral pada tiap ruas.
KELAS POLYCHAETA
Polychaeta, salah satu kelompok cacing laut yang mempunyai
karakteristik tubuhnya bersegmen; masing-masing segmen
memiliki sepasang tonjolan seperti daging yang disebut parapodia
dan setae, yang digunakan untuk penamaan kelas.
Walaupun annelida berbeda-beda dalam bentuknya, cacing bristle,
dapat menerangkan struktur annelida. Tubuhnya panjang berbentuk
bulat secara melintang, dengan mulut (kadang terdapat taring) pada
salah satu ujung dan anus pada ujung yang lain dan terlihat simetris
bilateral.
Tubuh terbentuk dari beberapa bagian yang sama, atau segmen, yang
dipisahkan secara eksternal oleh kerut dan secara internal oleh septa
(sekat). Segmen biasanya memiliki parapodia dengan setae yang
digunakan dalam pergerakan. Coelom (rongga badan berisi cairan)
menyediakan semacam struktur pendukung, sedemikian sehingga badan
menjadi fleksibel.
 Pada kepala terdapat mata,
alat peraba, atau tentakel;
sedikit bristle worms yang
memiliki mata yang
berkembang baik.

 Bristle worms tumbuh dengan


menambah segmen pada
bagian ujung posterior.
Morfologi dan Anatomi

Parapodia pada umumnya berbentuk


datar dan mempunyai dua cuping
(notopodium dan neuropodium),
masing-masing terdapat setae. Pada
cacing api, setae dibuat dari zat kapur
dan mengandung racun.

Parapodia digunakan untuk bergerak


atau untuk menciptakan arus untuk
makan dan ventilasi. Kepala berisi
otak dan organ saraf, termasuk mata,
antena, mekanik dan chemoreceptors,
dan mulut.
Mulut mengarah ke pharynk,
suatu bagian yang berotot dari
kerongkongan, dilengkapi taring
yang tajam, yang dapat
melengkung keluar menonjol
pada mulut untuk menyambar
mangsa. Beberapa jenis
mempunyai kelenjar racun dan
dapat menyebabkan gigitan
beracun.
Polychaeta memiliki sistem sirkulasi cairan dan bernafas dengan
cara pertukaran gas melalui parapodia atau permukaan insang.

Potongan melintang Polychaeta


Sedikitnya satu spesies, yaitu cacing api, bersifat bioluminescent.
Spesies yang hidup di zona pelagis (perairan pada kedalaman 180 m)
sering kali transparan. Mereka kemungkinan predator, pemakan
detritus, atau herbivor. Polychaeta yang menetap meliputi
pengebor, penggali dan pembuat tabung. Parapodia dan kepala
tereduksi atau memiliki adaptasi yang khusus.

Beberapa spesies hidup selamanya dalam lubang yang mereka bor,


makan dengan cara menelan pasir atau lumpur, mencerna bahan
organik, dan membuang sisanya. Cacing Christmas tree
menggunakan anggota badan mereka untuk menyaring makanan,
sementara tentakelnya yang lain berada di atas permukaan untuk
mengumpulkan detritus yang dapat dimakan.
Reproduksi

.
 Polychaeta memiliki kelamin yang terpisah dan gamet
dilepaskan langsung ke lingkungan.
 Beberapa spesies secara teratur berkumpul dalam kerumunan
perkawinan. Menemukan pasangan merupakan masalah
tersendiri bagi spesies sedentari. Untuk mengatasinya, bagian
ujung dari tubuh khusus digunakan untuk memproduksi gamet.
Bagian itu terpisah dan bergerak sendiri menuju permukaan
untuk melepaskan gamet. Ujung kepala tetap berada di
dalam lubang, dan ujung belakang tumbuh kembali. Proses ini
disebut epitoky
Clam Worm

clam worm, salah satu polychaeta,


bergerak di dalam air dengan cara
menggerakkan parapodia atau
tonjolan daging dengan irama yang
sama. Polychaeta hidup di atas
permukaan dasar laut pada perairan
dangkal maupun laut dalam.
KELAS OLIGOCHAETA

 Berasal dari bahasa Yunani Oligos = sedikit dan


chaete = duri.

 Oligochaeta yang terkenal adalah cacing tanah dan


tubifex. Berbeda dengan Polychaeta, bentuk tubuh
oligochaeta tidak banyak variasinya.
Berdasarkan fungsi dan lingkungannya, oligochaeta dibagi menjadi
dua tipe :

 Microdrile
Microdrile merupakan spesies akuatik, berukuran 1-30 mm,
dinding tubuh agak transparan.

 Megadrile merupakan spesies darat, dinding tubuh tebal,


umumnya panjang antara 5-30 cm, bahkan Megascolides di
Australia dapat mencapai 3 m.
Anatomi Cacing Tanah (Oligochaeta) Secara Umum
Morfologi, Anatomi, Fisiologi

 Ruas-ruas tubuh cacing dewasa


dapat dikatakan sama bentuk
dan ukurannya, kecuali bagian
anterior dan posterior.

 Pada tiap ruas terdapat 4


rumpun setae; 2 rumpun pada
dorso-lateral dan 2 rumpun
pada ventro-lateral.
Tergantung jenisnya, jumlah
setae dalam satu rumpun
antara 1-25 buah. Bentuk dan
ukuran setae ada beberapa
macam, dan dipakai untuk
identifikasi.
 Hampir semua oligochaeta bernafas dengan cara
difusi melalui seluruh permukaan tubuh. Hanya
beberapa jenis akuatik mempunyai insang, misalnya
Dero dan Branchiura.

 Banyak jenis akuatik yang dapat hidup pada perairan


dengan kadar oksigen rendah, bahkan beberapa jenis
dapat bertahan tanpa oksigen untuk jangka pendek.
Tubifex biasa mengeluarkan bagian posteriornya dari
tabung, guna mendapatkan oksigen lebih banyak dari
udara, apabila kandungan oksigen dalam air sangat
rendah.
 Jaringan chloragogen terdapat di sekeliling usus dan
pembuluh dorsal, merupakan lapisan sel berwarna
kekuningan, mempunyai peranan penting dalam
“intermediary metabolism”, seperti hati pada
vertebrata.

 Jaringan chloragogen merupakan pusat sintesa dan


cadangan glycogen dan lemak. Dalam sel pada
jaringan chloragogen juga terjadi deaminasi protein,
pembentukan ammonia dan sintesa urea.
 Sistem saraf oligochaeta seperti pada polychaeta, tetapi otak
oligochaeta terletak pada ruas ketiga di bagian dorsal pharyng.

 Kebanyakan oligochaeta akuatik mempunyai 4 pasang saraf


lateral pada tiap ruas, sedangkan jenis darat mempunyai 3
pasang.

 Oligochaeta tidak mempunyai mata, kecuali beberapa jenis


akuatik yang mempunyai bintik mata sederhana. Di seluruh
permukaan tubuh, kecuali bagian ventral, terdapat sel indera
sebagai photoreceptor.

 Oligochaeta adalah phototropik negatif terhadap cahaya kuat


dan positif terhadap cahaya lemah.

 Di samping itu, dinding tubuh kaya akan ujung-ujung syaraf


sebagai alat peraba.
 Sistem peredaran darah oligochaeta pada dasarnya
sama dengan polychaeta.

 Pada oligochaeta biasanya pembuluh dorsal dan


pembuluh ventral dihubungkan oleh pembuluh lateral
pada tiap-tiap ruas.

 Beberapa pasang pembuluh penghubung didaerah


oesophagus sangat kontraktil, dan berfungsi sebagai
jantung.

 Beberapa jenis oligochaeta mempunyai hemoglobin


dalam plasma darahnya.
Alat ekresi adalah metanephridia, terdapat
sepasang pada tiap ruas, kecuali pada ujung
anterior dan posterior.

Eksresi oligochaeta berupa amonia.


Keseimbangan air dan garam juga diatur
sebagian oleh nephridia.
 Semua oligochaeta hermaprodit, dengan gonad yang jelas.

 Ruas reproduktif sangat terbatas, terletak di bagian


anterior. Pada jenis akuatik biasanya hanya
terdapat sebuah ruas berisi ovari dan sebuah ruas
berisi testes, dan ruas betina selalu terletak di
belakang ruas jantan. Kantung telur dan kantung
sperma sangat besar dan mendesak rongga tubuh.
 Semua oligochaeta mempunyai clitellum, yaitu
epidermis yang menebal dan menutupi ruas-ruas
reproduktif, terutama bagian dorsal, sehingga
bentuknya seperti pelana kuda.

 Pada clitellum terdapat banyak sel kelenjar yang


menghasilkan lendir untuk perkawinan, bahan untuk
dinding kokon, dan albumin untuk melekatkan telur
dalam kokon.

 Clitellum pada cacing tanah tebal dan tampak jelas,


pada jenis akuatik tipis, setebal satu sel dan tidak
jelas, kecuali pada musim kawin.
KELAS HIRUDINEA
 Lintah merupakan nama umum
untuk cacing karnivora ataupun
penghisap darah.

 Lintah tersebar luas di perairan


laut dan juga ditemukan di
perairan tawar bahkan di darat
pada daerah tropis ataupun
temperatur sedang.

 Lintah dulu digunakan secara luas oleh para tabib dan tukang cukur
untuk bloodletting dan masih digunakan untuk keperluan ini di
beberapa daerah di dunia. Pada pengobatan modern, bloodletting
sudah tidak dilakukan lagi, tetapi lintah masih tetap digunakan untuk
melancarkan penyumbatan darah pada operasi sulit tertentu.
Bentuk Fisik

 Hirudinae merupakan cacing pipih bercincin, berukuran mulai dari 5 mm-


46 cm dan dilengkapi dengan piring penghisap pada ujung anterior dan
posterior.

 Tubuh terdiri atas 33 segmen (cincin luar), yang tidak berhubungan dengan
segmen internal/dalam; bervariasi dalam jumlah pada spesies yang
berbeda. Pada tiap cincin terdapat sekitar 5 atau 6 tonjolan, atau papilla,
yang berfungsi sebagai indera.
 Pada ujung anterior terdapat beberapa mata.

 Pada beberapa jenis lintah, mulut anterior berisi 3 gigi yang digunakan
binatang tersebut untuk menembus kulit mangsanya.

 Darah yang dihisap oleh lintah bercampur dengan ludah yang mengandung
zat antikoagulan yang dikenal sebagai hirudin (bisa diekstraksi dan sudah
digunakan untuk pencegahan pembekuan darah). Darah melewati lambung
bercabang atau melebar, di mana darah tersimpan sampai beberapa
bulan sebelum selesai dicerna semua.

 Lintah menkonsumsi sekitar 3 kali berat tubuhnya dalam sekali makan dan
kemudian hidup untuk beberapa bulan dengan makanan yang sudah
tersimpan.
Reproduksi
 Reproduksi pada lintah selalu seksual, dan tidak dapat melakukan
regenerasi pada bagian tubuhnya yang hilang.

 Semua lintah hermaprodit.

 Telur dikeluarkan 2 hari atau beberapa bulan setelah perkawinan, di


mana terjadi pertukaran sperma. Pada saat demikian clitellum
tampak jelas, dan menghasilkan kokon seperti halnya oligochaeta.
Kokon diletakkkan di substrat atau sedikit dibenamkan dalam
lumpur. Panjang kokon berkisar pada 2-15 mm, bergantung
spesiesnya.

 Jenis dari famili Glossiphonidae mengerami telurnya pada bagian


ventral tubuhnya, dan setelah menetas, anak-anaknya tetap
menempel pada induknya untuk beberapa hari sampai cukup besar
untuk dapat mencari makan sendiri.

 Macrobdella decora menjadi dewasa pada umur 3 tahun, sedangkan


jenis Hirudidae yang lain pada umur 5 tahun. Beberapa jenis lintah
dapat mencapai umur 10 sampai 15 tahun.
Habitat

 Kebanyakan lintah hidup di air tawar yang tenang, dangkal, dan banyak
tumbuhannya pada tepi kolam, danau atau sungai dengan aliran
lambat. Hanya beberapa spesies dapat hidup di air deras.

 Perairan dengan pH rendah tidak disukai lintah.

 Jenis tertentu banyak ditemui di perairan tercemar bahan organik.

 Kebanyakan lintah pada siang hari bersembunyi di bawah batu, sampah


atau tumbuhan air, dan pada malam hari berkeliaran mencari makan.

 Pada umumnya jenis parasit menempel pada inangnya hanya pada


waktu makan. Tetapi ada jenis lain yang selamanya menempel pada
inang, dan hanya meninggalkan inang pada waktu memijah.
Arti Ekonomis

 Pada abad ke 19 di Eropa dan Rusia, Hirudo


medicinalis digunakan sebagai pengobatan
tradisional untuk menyembuhkan bengkak, memar
dan bengkak pada sakit gigi.
 Jenis-jenis Hirudo, Macrobdella dan Philobdella
terdapat di rawa-rawa dan di sawah merupakan
gangguan kecil pada kerbau dan manusia. Infeksi
Piscicolidae di kolam ikan adakalanya menimbulkan
mortalitas yang tinggi terhadap anak ikan.
Lintah Pengobatan

Jenis yang digunakan secara luas untuk mengobati penyakit yang


dipercaya disebabkan oleh kebanyakan darah adalah Hirudo
medicinalis, lintah pengobatan, adalah cacing penghisap darah yang
dapat ditemukan pada kolam atau danau di bagian timur AS. Lintah
ini memberikan gigitan yang tidak menyakitkan dari alat penghisap
pada masing-masing ujung tubuhnya. Ludah lintah yang disalurkan
ke luka, mengandung zat yang dapat mencegah penggumpalan
darah. Lintah kadang masih digunakan untuk mengeluarkan
penumpukan darah di bawah kulit.