Anda di halaman 1dari 2

TUGAS IMUNOLOGI

COVID-19 CONSIDER CYTOKINE STORMS


SYNDROMES AND IMMUNOSUPPRESSION
TELAAHAN JURNAL

SHERLY D1A191814
AGUSTIN

UNIVERSITAS AL GHIFARI BANDUNG


COVID-19: Pertimbangan sindrom badai sitokin dan imunosupresi

Saat ini, kita harus berfokus pada pengembangan terapi baru termasuk antivirus dan vaksin untuk
penanganan COVID-19. Pada kelompok pasien dengan COVID-19 yang parah ditemukan adanya jumlah
sitokin dalam jumlah yang banyak (badai sitokin). Badai sitokin ini berhubungan dengan adanya
hiperinflamasi. Kortikosteroid tidak dianjurkan dalam terapi COVID-19 karena akan memperburuk
keadaan, tetapi imunosupresan menunjukkan manfaat yang signifikan bagi kelangsungan hidup pasien
dengan hiperinflamasi, tanpa meningkatkan efek samping. Tocilizumab merupakan blokade reseptor IL-6,
dilisensikan untuk sindrom pelepasan sitokin, telah disetujui pada pasien dengan Pneumonia COVID-19
dan peningkatan IL-6 di Cina. Penghambat Janus kinase (JAK) dapat mempengaruhi peradangan dan
masuknya virus seluler dalam COVID-19

Hubungan Dengan Imunologi

Sitokin adalah protein berukuran kecil sebagai mediator pengatur immunitas, inflamasi dan
hematopoiesis. Badai sitokin ini disebabkan pada saat virus masuk, sistem kekebalan tubuh akan melawan
dan menyerang virus, sehingga menyebabkan peradangan dan demam. Tetapi dalam kasus yang ekstrem,
sistem kekebalan tubuh mengamuk, menyebabkan kerusakan lebih dari virus yang sebenarnya,
menyerang sesuka hati tanpa mengenai target yang tepat, sehingga menyebabkan kerusakan organ.

Hubungan Dengan Hematologi

Kegagalan pernafasan pada pasien COVID-19 adalah penyebab utama kematian. Tingkat keparahan
penyakit ini ditandai dengan peningkatan interleukin 2 dan 7, adanya peningkatan kadar ferritin dalam
darah >2000 ng/ml (hiperferritinaemia), sitopenia (penurunan jumlah trombosit/laju sedimentasi eritrosit).

Ferritin adalah sejenis protein dalam tubuh, yang berfungsi mengikat zat besi. Sebagian besar zat besi
yang tersimpan dalam tubuh terikat dengan protein ini. Ferritin banyak ditemukan di hati, limpa, otot
rangka, dan sumsum tulang. Hanya sedikit ferritin yang ditemukan dalam darah. Salah satu manfaat tes
ferritin dalam darah adalah untuk mengetahui adanya peradangan dalam tubuh, bila ada peradangan maka
kadar ferritin akan tinggi. Selain itu, jumlah trombosit dan laju sedimentasi eritrosit juga dijadikan
parameter pemeriksaan pasien COVID-19, karena dengan menurunnya jumlah trombosit dan laju
sedimentasi eritrosit, kemungkinan timbul pendarahan akan nada.

Kesimpulan

Penyakit akibat COVID-19 ini erat hubungannya dengan Ilmu Imunologi dan Hematologi, karena tingkat
kesembuhan pun dipengaruhi oleh imunitas yang kuat serta ditunjang oleh pemeriksaan hematologi yang
semakin hari semakin baik hasilnya.