Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM LABORATORIUM METALURGI

UJI TARIK DAN BENDING

Oleh:
Felicia Layrensius
25416031
Hari praktikum : Kamis
Tanggal praktikum : 17 Mei 2018
Jam praktikum : 17.30 – 20.30

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS KRISTEN PETRA
SURABAYA
2018
UJI TARIK DAN BENDING
BAB I
TUJUAN PERCOBAAN

1. Memahami konsep kekuatan dan regangan material.


2. Memahami peralatan dan cara menggunakan alat uji tarik.
3. Mengetahui korelasi sifat- sifat mekanik material (logam).

1
BAB II
TEORI DASAR

Uji tarik merupakan metode pengujian material yang paling umum


dilakukan. Hal ini karena data yang diperoleh dari pengujian tarik dapat
langsung digunakan dalam perhitungan desain komponen. Uji tarik dilakukan
terhadap semua jenis material. Dari pengujian diperoleh informasi mengenai
kekuatan dari suatu material. Pengujian ini dilakukan dengan melakukan
pembebanan secara konstan terhadap suatu spesimen. Bentuk dan ukuran
spesimen dapat dilihat ada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Bentuk dan ukuran spesimen uji tarik (ASTM A370-77)

Hasil yang diperoleh dari pengujian tarik adalah diagram beban


pertambahan panjang (P – ΔL). Dari grafik ini, dilakukan konversi untuk
memperoleh grafik tegangan – regangan (stress – strain), seperti gambar 2.2.

Tegangan diperoleh dengan menggunakan rumus :


F
σ= dimana Ao = luas penampang awal
Ao

Regangan diperoleh dengan menggunakan rumus :


∆L
ε= dimana Lo = panjang awal (gauge length)
Lo

2
Gauge length merupakan jarak antara dua titik pada spesimen yang
ditetapkan sebagai panjang awal. Dari grafik tegangan – regangan inilah
diperoleh keterangan mengenai sifat mekanis material.

Gambar 2.2 Kurva regangan-tegangan hasil uji tarik

Tegangan Maksimal / Ultimate (UTS)


Merupakan titik tertinggi pada diagram tegangan – regangan. UTS
menunjukkan tegangan teringgi yang dapat diterima oleh material tanpa
mengalami patah. Nilai tersebut digunakan untuk menentukan beban maksimal
yang diperbolehkan oleh suatu komponen sebelum komponen tersebut
rusak/patah.

Titik Luluh (Yield Point)


Merupakan titik dimana material mengalami luluh. Luluh adalah keadaan
dimana material mengalami pertambahan panjang tanpa menerima pertambahan
beban. Titik luluh seringkali dijadikan titik akhir dari sifat elastis material. Pada
Gambar 2.3, titik luluh tampak sebagai lengkungan pada ujung garis luluh daerah
elastis. Pada material tertentu, daerah luluh ini bisa sangat jelas sekali, terkadang
sampai memiliki garis yang mendatar.

3
Gambar 2.3 Kurva regangan-tegangan pada daerah elastis

Pada material yang tidak menunjukkan titik luluh, maka titik luluh
ditentukan dengan menggunakan metode offset. Cara ini dilakukan dengan
membuat garis yang sejajar dengan garis elastis. Besarnya offset yang digunakan
adalah 0,2% dari elongation (Gambar 2.3). Perpotongan garis offset fengan garis
tegangan – regangan merupakan titik luluh.
Kekuatan/titik luluh digunakan sebagai dasar untuk perencanaan. Hal ini
karena hampir semua komponen tidak boleh mengalami perubahan bentuk atau
harus bersifat elastis. Oleh karena itu bila suatu komponen didasari atas kekuatan
luluhnya, maka gaya perhitungan desain tidak akan menyebabkan material
mengalami deformasi plastis dan bentuknya akan terjaga. Kekuatan luluh juga
diperlukan pada proses pengerjaan, yaitu untuk menentukan gaya yang diperlukan
agar material mengalami deformasi permanen/ plastis, sehingga bentuknya bisa
berubah sesuai dengan yang diinginkan.

4
Elongation
Menunjukkan regangan maksimal material sebelum retak. Merupakan
besarnya regangan pada titik retak dari grafik tegangan – regangan. Elongation
dapat digunakan untuk memperkirakan keuletan dari suatu material, dimana
material yang ulet cenderung untuk memiliki elongation yang lebih besar daripada
material yang getas.

Modulus Young/Elastisitas
Merupakan gradien garis elastis, diperoleh dengan menggunakan rumus :
F
σ Ao
E= =
ε ∆L
Lo
Besarnya modulus young konstan pada daerah elastis, dan tidak berlaku
untuk daerah plastis. Modulus young menunjukkan perbandingan antara tegangan
yang dialami dengan regangan yang ditunjukkan oleh material. Modulus young
digunakan untuk membandingkan kekakuan dari material, dimana material yang
kaku akan memiliki nilai modulus yang lebih besar.

Modulus Resilien
Modulus resilien (UR) dapat didefinisikan sebagai besarnya gaya yang
dapat diterima oleh suatu material tanpa mengalami deformasi plastis. UR
diperoleh dengan menggunakan rumus :
1
UR = × Py × ΔLy
2
Dimana Py dan ΔLy merupakan beban dan pertambahan panjang pada titik
luluh. Persamaan untuk modulus resilien merupakan luas daerah yang berada di
bawah garis elastis dari grafik tegangan – regangan. Luasan dari daerah yang
berada di bawah garis tegangan – regangan secara keseluruhan akan menghasilkan
keuletan dari material.

5
BAB III
ALAT DAN BAHAN

ALAT
1. Mesin uji tarik-bending Cesare Galbadini – Galarate tipe PM/60
2. Mesin uji tarik instron
3. Penggaris
4. Jangka sorong
5. Gergaji
6. Alat bantu/ tanda (tip ex)

BAHAN
1. Spesimen standar JIS /ASTM : ST 42, ST 60 dan tembaga

6
BAB IV
PROSEDUR PERCOBAAN

1. Menghidupkan dan memanaskan mesin beberapa saat.


2. Memberi pelumas oli pada rumak pencekam (atas – bawah).
3. Memeriksa ukuran pencekam dan menyesuaikan dengan ukuran
(diameter/persegi) bahan uji.
4. Mengecek unload handle, dan memposisikan pada kondisi tertutup.
5. Mengecek loading rate untuk memastikan kepala gerak (naik/turun)
berada pada posisi netral.
6. Memasang spesimen pada pencekam/penjepit.
7. Mengatur skala pembebanan.
8. Memasang rapido dan kertas grafik pada mesin.
9. Mengatur loading rate dengan kecepatan yang sesuai (besi-1,5 rev, baja-2
rev).
10. Selama penarikan berlangsung memperhatikan adanya perubahan pada
spesimen maupun kertas grafik.
11. Mencatat beban yield dan ultimate yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk
pada skala penunjuk.
12. Melepaskan spesimen dari penjepit.
13. Memutar loading rate pada posisi semula.
14. Memutar unloading load agar penjepit atas turun.
15. Menggabungkan patahan spesimen uji dan ukur panjang serta diameter
pada bagian yang patah.

7
BAB V
HASIL PERCOBAAN

Gb 5.1. Uji bending

Gb 5.2. Uji tarik spesimen ST 60

Gb 5.3. Uji tarik spesimen ST 42

8
BAB VI
PENGOLAHAN DATA

Spesimen ST 42
D 1+ D2+ D 3+ D 4 + D5
De=
n
15.9+16+15.75+15.9+15.85
De= =15.88 mm
5
π x ( De)2
A=
4
π x (15.88)2
A= =197.96 mm2
4
Lo=8 De=8(15.88)=127.04 mm
P=De+ Lo=15.88+127.04=142.92 mm
L spesimen=160+ P=160+142.92mm=302.92=303 mm
Lp=144 mm
 Untuk data pada t = 0.5 s
Load = 206.09 kgf
Lp−Lo 144−127.04
Elongation = x 100 %= x 100 %
Lo 127.04
Elongation = 0.133501 mm
Load 206.09 kgf kgf
Stress (σ) = = 2 = 1.041069
Area 197.96 mm mm2
perubahan panjang 0.08383
Strain (ε) = = = 0.00066
panjang awal 127.04
σ 1.041069 =1577.685714 kgf
Modulus young = =
ε 0.00066 mm
2

UTS (Ultimate Tensile Strength) material ST-42 = 50.54637 kgf/mm2

9
Tabel 6.1. Tabel pengolahan data spesimen ST 42
Modulus
Time Extension Load Elongasi
Strain Stress Young
(s) (mm) (kgf) (mm)
(kgf/mm2)
1,04106 1577,68571 0,13350
0,5 0,08383 206,09 0,00066 9 4 1
0,00073 1,07804 1457,89836 0,13350
0,55 0,09394 213,41 9 6 8 1
0,00080 1,12118 1395,19523 0,13350
0,6 0,10209 221,95 4 6 9 1
1,16028 1318,92085 0,13350
0,65 0,11176 229,69 0,00088 5 2 1
0,00095 1252,90461 0,13350
0,7 0,12148 237,17 6 1,19807 9 1
0,00103 1192,22456 0,13350
0,75 0,13163 244,54 6 1,2353 7 1
0,00110 1,27232 0,13350
0,8 0,14044 251,87 5 8 1150,92934 1
1,30283 1104,15384 0,13350
0,85 0,1499 257,91 0,00118 9 4 1
0,00124 1,33486 1069,98125 0,13350
0,9 0,15849 264,25 8 6 8 1
0,00132 1,36754 1035,42180 0,13350
0,95 0,16779 270,72 1 9 7 1
0,00139 1,39962 1002,75496 0,13350
1 0,17732 277,07 6 6 7 1

Spesimen ST 60
16.25+16.15+16.26+16.4 +16.2
De= =16.25 mm
5
π x (16.25)2
A= =207.34 mm 2
4
Lo=8(16.25)=130.01 mm
P=De+ Lo=16.25+130.01=146.26 mm
L spesimen=160+146.26 mm=306.26=306 mm
Lp=154 mm
 Untuk data pada t = 0.5 s
Load = 111.66 kgf

10
Lp−Lo 154−146.26
Elongation = x 100 %= x 100 % =
Lo 146.26
Elongation = 0.052919 mm
Load 111.66 kgf kgf
Stress (σ) = = 2 = 0.564053
Area 197,96 mm mm2
perubahan panjang 0.13328
Strain (ε) = = = 0.0010409
panjang awal 127.04
σ 0.564053 kgf
Modulus young = = =537.6450843
ε 0.0010409 mm2
UTS (Ultimate Tensile Strength) material ST-60= 51.65 kgf/mm2

Tabel 6.2. Tabel pengolahan data spesimen ST 60


Modulus
Time Extension Load Elongasi
Strain Stress Young
(s) (mm) (kgf) (mm)
(kgf/mm2)
0,00104 0,56405 537,645084 0,05291
0,5 0,13328 111,66 9 3 3 9
0,00113 0,59072 519,923477 0,05291
0,55 0,14434 116,94 6 5 2 9
0,00121 0,61992 510,104575 0,05291
0,6 0,15439 122,72 5 3 8 9
0,00128 0,64568 501,853466 0,05291
0,65 0,16345 127,82 7 6 4 9
0,67281 498,420456 0,05291
0,7 0,17149 133,19 0,00135 3 4 9
0,00143 0,70084 489,207765 0,05291
0,75 0,182 138,74 3 9 4 9
0,00149 0,72388 482,893164 0,05291
0,8 0,19044 143,3 9 4 1 9
0,00158 0,75363 476,068106 0,05291
0,85 0,20111 149,19 3 7 9 9
0,00164 0,77879 473,093057 0,05291
0,9 0,20913 154,17 6 4 4 9
0,00171 0,80511 468,901328 0,05291
0,95 0,21813 159,38 7 2 4 9
0,00179 463,700906 0,05291
1 0,22751 164,39 1 0,83042 6 9

11
BAB VII
ANALISA DATA

Percobaan dilakukan untuk menguji bahwa besi yang mengandung karbon


lebih banyak adalah yang semakin ulet. Nilai UTS (Ultimate Tensile Stress)
menunjukkan spesimen besi ST-42 memiliki kandungan karbon sebesar 42%
bersifat lebih ulet karena nilai modulus young sebesar 692 kgf/mm2 dibandingkan
dengan spesimen besi ST-60 yang memiliki kandungan karbon sebesar 60%
dengan nilai modulus young sebesar 511.36 kgf/mm2. Kesalahan dapat terjadi
disebabkan karena beberapa kemungkinan antara lain kesalahan pengukuran besi
sebelum penarikan.
Pengukuran elongitas menunjukkan spesimen besi ST-60 bersifat lebih
ulet dibandingkan dengan spesimen besi ST-42, karena spesimen besi ST-60
mengalami elongitas sebesar 18% sedangkan spesimen besi ST-42 hanya
mengalami sebesar 13.35%. Hasil percobaan sesuai dengan teori yang ada, bahwa
spesimen yang mengandung karbon lebih sedikit memiliki sifat lebih getas dan
elastis.

12
BAB VIII
KESIMPULAN

Uji tarik merupakan salah satu pengujian material yang sering dilakukan
untuk mengetahui keuletan sebuah material. Hasil pengujian tarik ditunjukkan
melalui grafik perbandingan tegangan dan regangan. Tegangan merupakan
kekuatan yang diberikan material sedangkan regangan menunjukkan pertambahan
panjang yang terjadi pada material ketika terjadi uji tarik. Pengujian tarik
menggunakan mesin Cesare Galbadini – Galarate tipe PM/60. Cara pengujian ini
dilakukan dengan menjepit spesimen yang akan diuji pada kedua sisi, kemudian
ragum akan berjalan menjauhi satu sama lain hingga menyebabkan perubahan
bentuk pada spesimen.
Material yang memiliki kandungan karbon lebih banyak merupakan
material yang lebih getas dan elastis, sedangkan material yang memiliki
kandungan karbon lebih rendah merupakan material yang lebih ulet. Keuletan
dapat ditunjukkan dengan nilai elongitas benda.

13
BAB IX
PERTANYAAN DAN JAWABAN
Soal :
1. Apa gunanya kita melakukan pengujian tarik?
2. Apa aplikasi uji tarik pada bidang kalian?
3. Menurut kalian, bagaimanakah sifat dan material pada grafik 1,2, dan 3, serta
urutkan kandungan carbon pada material di grafik 1,2, dan 3?

Jawab:
1. Uji tarik dilakukan untuk mengetahui kekuatan material, UTS, yield point,
keuletan material berdasarkan elongasinya, elastisitas material berdasarkan
modulus elastisitas, dan besar gaya yang dapat diterima material.
2. Aplikasi uji tarik pada kehidupan sehari-hari di bidang industri:
a. Mengetahui sifat-sifat dan keadaan dari suatu logam sehingga dapat
menentukan batasan-batasan perlakuan pada material
b. Untuk menentukan safety factor suatu alat atau desain mesin.
c. Mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan
secara lambat sehingga dapat mengetahui sifat mekanik material tersebut.
3. Grafik 3 menunjukkan stress yang dialami material sangat besar, namun strain
atau elongasi yang terjadi sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa material
tersebut bersifat getas sehingga mudah patah.

14
Grafik 2 menunjukkan terdapat nilai yang cukup seimbang antara stress dan
strain sehingga material yang diuji dapat dikatakan tidak terlalu getas namun
juga tidak terlalu ulet.
Grafik 1 menunjukkan bahwa strain yang terjadi pada material lebih besar
daripada stress, sehingga material tersebut bersifat ulet atau tidak mudah patah.
Kandungan karbon paling banyak dimiliki oleh material uji pada grafik 1
karena memiliki sifat ulet dan tidak mudah patah, sedangkan material pada
grafik 3 memiliki kandungan karbon paling rendah.

15
BAB X
GRAFIK

ST-42
60
YS
50

40

30

20

Daerah Elastis
10

0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

ST-60
60

50

40 YS

30

20 Daerah Elastis

10

0
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

16

Anda mungkin juga menyukai