Anda di halaman 1dari 33

JOB SHEET 5

PENGOPERASIAN DAN PERHITUNGAN


STEAM TURBINE

NOMINAL DURASI : 4 Pertemuan(4 x 4 Jam) = 16 Jam


DESKRIPSI SINGKAT : Melakukan pengoperasian turbin uap(steam turbine) dan
pengambilan data untuk perhitungan pengukuran besaran
yang diperlukan untuk menentukan karakteristik steam
turbine dan menentukan effisiensi steam turbine.

KRITERIA PENILAIAN :
1. Mahasiswa dapat mengoperasikan turbin uap(steam turbine) sesuai prosedur
yang benar.
2. Mahasiswa dapat menggunakan alat – alat yang digunakan dalam
melakukan pengukuran besaran yang diperlukan untuk menentukan
karakteristik turbin uap(steam turbine).
3. Mahasiswa dapat menganalisa dari pengambilan data perhitungan neraca
kalor proses didalam turbin uap(steam turbine) dan effisiensi turbin
uap(steam turbine).

I. PENDAHULUAN
Turbin uap(steam turbine)adalah mesin tenaga yang berfungsi untuk mengubah
energi thermal(energi panas yang terkandung dalam uap) menjadi energi poros(putaran).
Sebelum energi thermal(enthalpi) diubah menjadi energi poros, energi tersebut diubah
dulu menjadi energi kinetik. Alat untuk mengubah menjadi energi kinatik tersebut adalah
nozzle. Uap dengan tekanan dan temperatur tinggi diarahkan menggunakan nozzle untuk
mendorong sudu-sudu turbin yang dipasang pada poros sehingga poros turbin berputar.
Pada waktu uap melewati celah antara sudu-sudu gerak, uap mengalami perubahan
momentum sehingga menurut hukum Newton II, dibangkitkan gaya yang bekerja pada
uap tersebut. Dari hukum Newton III, sudu menerima gaya yang besarnya sama dengan

Laboratorium Motor Bakar V-1


gaya tersebut, tetapi arahnya berlawanan. Akibat melakukan kerja di turbin, tekanan dan
temperatur uap yang keluar turbin menjadi turun sehingga menjadi uap basah. Uap ini
kemudian dialirkan ke kondensor, sedangkan tenaga putar poros yang dihasilkan
digunakan untuk memutar generator.
1.1 Jenis-jenis Turbin Uap.
1. Dari segi tekanan akhir uap.
 Turbine tekanan lawan(back pressure turbine).
Turbin tekanan lawan(back pressure turbine) adalah turbin yang tekanan
akhirnya diatas tekanan atmosfir karena uap keluaran akhir dari turbin
tersebut tidak dikondensasikan.

Gambar 1.1. Back Pressure Turbine


 Turbine Kondensasi(Condensation Turbine).
Turbin kondensasi adalah turbin yang mana uap keluaran sudu terakhirnya
dikondensasikan, tekanan akhir dari turbin kondensasi ini dibuat vaccum,
sehingga temperature kondensasinya sedikit diatas temperatur air pendingin
yang tersedia.

Gambar 1.2. Condensation Turbine.

Laboratorium Motor Bakar V-2


2. Dari segi arah aliran uap.
 Turbin aksial.
Merupakan tipe turbin yang paling populer dan sangat cocok untuk
kapasitas besar. Turbin ini dapat merupakan tipe reaksi maupun tipe
impulse. Arah aliran uap sejajar dengan poros.

Gambar 1.3. Turbin aksial.


 Turbin radial.
Konstruksi Turbin aliran Radial yang dikembangkan oleh Ljungstrom
Turbin ini terdiri dari dua rotor dengan blades dipasang bersilangan. Kedua
rotor berputar dengan arah saling berlawanan, dan masing-masing rotor
dikopel terhadap dua generator terpisah. Turbin satu poros juga ada yang
arah aliran uapnya radial(tegak lurus menjauhi poros).

Gambar 1.4. Turbin radial.

Laboratorium Motor Bakar V-3


 Turbin tangensial.
Jenis turbin ini memiliki konstruksi yang kokoh akan tetapi efisiensinya
sangat rendah. Pancaran uap dari Nosel diarahkan untuk menghembus
buckets yang dipasang melingkar pada rotor. Arah hembusan uap adalah
tangensial(pada garis singgung putaran bucket) oleh karenanya turbin ini
dinamakan turbin aliran tangensial.nnva

Gambar 1.5. Turbin tangensial.


3. Dari segi azas tekanan uap.
Berdasarkan azas tekanan uap yang digunakan untuk menggerakkan roda/rotor
turbin sebelum masuk dan setelah keluar dari sudu-sudu yang terpasang pada roda
tersebut, maka dikenal sudu impuls dan sudu reaksi. Turbin uap untuk
pembangkit listrik saat ini umumnya terdiri dari kombinasi kedua macam sudu
tersebut.

Gambar 1.6. Prinsip dasar sudu reaksi dan sudu impuls.

Laboratorium Motor Bakar V-4


 Turbin impuls.
Turbin impulse pertama kali dibuat oleh Branca pada tahun 1629. Dimana
pancaran uap yang keluar dari Nosel menghembus daun daun rotor(blades)
sehingga rotor berputar.
Sudu Impuls
Sudu impuls juga disebut sudu aksi atau sudu tekanan tetap, adalah sudu
dimana uap mengalami ekspansi hanya dalam sudu-sudu tetap. Sudu-sudu
tetap berfungsi sebagai nosel(saluran pancar) sehingga uap yang melewati
akan mengalami peningkatan energi kinetik. Uap dengan kecepatan tinggi
selanjutnya akan membentur (impuls) sudu-sudu gerak. Benturan antara uap
dengan sudu gerak ini menimbulkan gaya yang mengakibatkan poros turbin
berputar. Setelah memutar sudu gerak, selanjutnya uap diarahkan masuk ke
dalam sudu tetap baris berikutnya. Selama melintasi sudu gerak tekanan dan
entalpi uap tidak berubah. Dengan demikian pada sudu impuls penurunan
tekanan dan energi panas uap hanya terjadi pada sudu sudu tetap atau nosel.
 Turbin reaksi.
Turbin ini dirancang pertama oleh Hero, 120 tahun sebelum Masehi. Reaksi
dari pancaran uap yang keluar dari ujung pipa yang disebut Nosel atau
Nozzle mendorong rotor sehingga berputar.
Sudu Reaksi
Dalam suatu turbin yang terdiri dari 100 % sudu-sudu reaksi, maka sudu-
sudu gerak juga berfungsi sebagai nosel-nosel sehingga uap yang
melewatinya akan mengalami peningkatan kecepatan dan penurunan
tekanan. Peningkatan kecepatan ini akan menimbulkan gaya reaksi yang
arahnya berlawanan dengan arah kecepatan uap.

Laboratorium Motor Bakar V-5


Gambar 1.7. Profil dan karakteristik
sudu reaksi dan impuls.
Gaya reaksi pada sudu gerak inilah yang akan memutar poros turbin. Uap
selanjutnya dialirkan ke sudu tetap yang berfungsi untuk mengarahkan uap ke
sudu gerak baris berikutnya. Sudut dan profil sudu-sudu dibuat sedemikian rupa
sehingga apabila turbin berputar pada kecepatan rancangannya uap akan mengalir
dengan mulus melewati sudu-sudu tersebut sehingga dapat menurunkan erosi
sampai pada tingkat minimum. Pada sebuah roda/poros turbin sudu-sudu yang
terpasang pada roda tersebut bisa terdiri dari satu baris sudu atau beberapa baris
sudu. Setiap baris sudu terdiri dari sudu yang disusun melingkari roda turbin
masing-masing dengan bentuk dan ukuran yang sama. Turbin dengan hanya satu
baris sudu yang terpasang pada rotornya dinamai turbin bertingkat tunggal.
Sedangkan turbin dengan beberapa baris sudu-sudu yang terpasang pada rotornya
dinamai turbin bertingkat banyak(multi stages).
4. Dari segi pembentukan tingkat uap.
 Turbin tekanan bertingkat(reteau).
Turbin tekanan bertingkat (rateau) adalah jenis turbin yang mana kondisi
tekanan uap yang mengalir di dalamnya bertingkat sedangkan kecepatannya
tetap.

Laboratorium Motor Bakar V-6


Gambar 1.8. Turbin tekanan bertingkat(reteau).
 Turbin kecepatan bertingkat(turbine curtis).
Turbin kecepatan bertingkat(curtis) adalah jenis turbin yang mana kecepatan
aliran uap yang mengalir di dalamnya bertingkat sedangkan tekanannya
tetap.

Gambar 1.9. Turbin kecepatan bertingkat(turbine curtis).


5. Dari segi aliran uap dan casingnya.
 Turbin reheat dan non-reheat.
Sirkit uap
Salah satu karakteristik yang dapat dipakai untuk mengklasifikasikan turbin
adalah reheat dan non reheat. Turbin reheat terdiri lebih dari satu silinder
dan uap mengalami proses pemanasan ulang di reheater boiler. Pada turbin

Laboratorium Motor Bakar V-7


reheat, uap yang keluar dari Turbin Tekanan Tinggi(HP) dialirkan kembali
kedalam ketel. Didalam ketel, uap ini dipanaskan kembali pada elemen
pemanas ulang(reheater) untuk selanjutnya dialirkan kembali melalui
saluran reheat ke Turbin Tekanan Menengah dan Turbin Tekanan Rendah.
Secara umum, ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari proses
pemanasan ulang uap ini yaitu: meningkatkan efisiensi siklus
termodinamika dan mengurangi proses erosi pada sudu sudu turbin tingkat
akhir karena kualitas uap keluar dari LP turbin menjadi lebih kering.

Gambar 1.10. Turbin reheat.


Aspek Operasi
Konstruksi turbin reheat umumnya silinder tekanan tinggi (HP) dan silinder
tekanan menengah(IP) berada dalam satu casing. Dengan konstruksi seperti
itu, maka salah satu aspek yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa
perbedaan temperatur antara main steam dengan reheat steam tidak boleh
terlampau besar. Umumnya pabrik pembuat turbin akan merekomendasikan
besarnya harga perbedaan temperatur yang masih diizinkan. Bila harga
perbedaan temperatur yang telah direkomendasikan ini terlampaui, akan
terjadi stress thermal pada casing serta rotor turbin.

Laboratorium Motor Bakar V-8


Gambar 1.11. Turbin non-reheat.
 Turbin ekstraksi dan non-ekstraksi.
Sirkit uap
Cara lain yang juga dipakai untuk mengklasifikasikan turbin adalah melalui
sistem ekstraksi dan non ekstraksi. Turbin ekstraksi(extraction turbine)
adalah turbin yang mengekstrak sebagian uap yang mengalir dalam turbin.
Pengekstraksian uap ini dapat dilakukan di beberapa tempat disepanjang
casing turbin. Uap yang diekstrak kemudian dialirkan ke pemanas awal air
pengisi untuk memanaskan air pengisi. Tekanan dan aliran uap ekstraksi
sangat tergantung pada beban. Pada turbin-turbin ekstraksi yang relatif kecil,
variasi tekanan dan aliran uap ekstraksi tidak terlalu signifikan sehingga
tidak diperlukan katup pengatur pada saluran uap ekstraksinya. Tetapi pada
turbin ekstraksi yang besar, variasi ini cukup besar sehingga diperlukan
katup pengatur pada saluran ekstraksi guna mengontrol tekanan/aliran uap
ekstraksi. Turbin ekstraksi seperti ini disebut Turbin Ekstraksi Otomatis
(Automatic Extraction Turbine).

Laboratorium Motor Bakar V-9


Gambar 1.12. Turbin Non-Ekstraksi

Sedangkan pada turbin non ekstraksi, tidak dilakukan ekstraksi uap sama
sekali. Jadi seluruh uap yang mengalir masuk turbin non ekstraksi akan
keluar meninggalkan turbin melalui exhaust.

Gambar 1.13. Turbin Non-Ekstraksi

Aspek Operasi
Pengambilan(ekstraksi) uap dari turbin mengakibatkan kerja uap didalam
turbin berkurang sehingga kemampuan turbin juga akan berkurang. Disisi
lain terjadi peningkatan panas pada air pengisi sehingga mengurangi
konsumsi bahan bakar untuk memanaskan air tersebut. Keuntungan lainnya
adalah karena jumlah uap masuk kondensor berkurang, maka pembuangan
panas ke air pendingin juga berkurang. Dengan demikian mengurangi
jumlah kerugian panas. Mengingat uap ekstraksi akan mengurangi jumlah

Laboratorium Motor Bakar V-10


uap yang melakukan kerja dalam turbin, maka pengaliran uap ekstraksi
dilakukan apabila turbin telah berbeban diatas batas minimumnya. Hal ini
untuk menghindari ketidak stabilan operasi turbin karena ketika beban
rendah aliran uap ke turbin juga masih rendah.
 Turbin single casing dan multi casing.
Single Casing
Cara berikutnya yang juga dapat dipakai untuk mengklasifikasikan turbin
adalah melalui konstruksi single casing turbine atau multy
casing(compound) turbine. Turbin single casing adalah turbin dimana
seluruh tingkat sudu-sudunya terletak didalam satu casing saja. Ini
merupakan konstruksi turbin yang paling sederhana tetapi hanya dapat
diterapkan pada turbin-turbin kapasitas kecil.

Gambar 1.14. Turbin single casing.

Turbin compound(multi) casing


Untuk turbin-turbin kapasitas yang lebih besar, konstruksi single casing
menjadi kurang cocok. Maka dibuatlah turbin-turbin dengan 2 casing atau
lebih(multy casing). Komposisi dari turbin multy casing ada 2 macam yaitu:
Tandem Compound dan Cross Compound. Pada turbin tandem compound,
casing-casing dipasang secara seri antara satu dengan lain sehinggga sumbu
sumbu aksial casing berada dalam 1 garis. Dalam ilustrasi terlihat turbin

Laboratorium Motor Bakar V-11


tandem compound dengan 2 casing. Untuk turbin-turbin yang lebih besar
dapat terdiri hingga 5 casing.

Gambar 1.15. Turbin Multy Casing Tandem Compound

6. Exhaust flow.
Single flow
Turbin juga dapat diklasifikasikan berdasarkan exhaust flow. Turbin-turbin kecil
biasanya hanya memiliki satu saluran exhaust. Turbin semacam ini biasanya
disebut Turbin Single Flow. Tetapi untuk turbin-turbin besar, bila menerapkan
rancangan seperti ini, maka dibutuhkan exhaust yang sangat luas. Sebagaimana
diketahui kondisi uap pada exhaust turbin sudah dibawah jenuh atau uap basah,
dan tekanannya dibawah tekanan atmosfir. Perubahan tekanan dari beberapa
puluh bar menjadi tekanan minus mengakibatkan perubahan volume yang sangat
besar sehingga dibutuhkan laluan yang luas agar uap dapat melintas tanpa
hambatan yang berarti. Karena keterbatasan kemampuan material, luas laluan
exhaust juga menjadi sangat terbatas, sehingga kemampuan turbin dengan exhaust
tunggal juga terbatas.
Multi flow
Berdasarkan kondisi tersebut, maka untuk turbin-turbin kapasitas besar umumnya
exhaust dipecah menjadi dua atau lebih. Bila ternyata dibutuhkan dua exhaust,
berarti keduanya berada dalam satu poros dengan aliran uap yang berlawanan.
Rancangan turbin seperti ini disebut turbin multi flow(aliran banyak). Dengan

Laboratorium Motor Bakar V-12


cara seperti ini masalah keterbatasan luas laluan exhaust dapat diatasi sekaligus
memberi perimbangan terhadap gaya aksial pada poros.

Gambar 1.16. Turbin Cross Compound


dengan Exhaust Multy Flow

1.2 Komponen-komponen turbin uap.


1. Stator.
Stator turbin pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu casing dan sudu
diam(fixed blade). Namun untuk tempat kedudukan sudu-sudu diam dipasang
diapragma. Casing atau shell adalah suatu wadah berbentuk menyerupai sebuah
tabung dimana rotor ditempatkan. Casing juga berfungsi sebagai sungkup
pembatas yang memungkinkan uap mengalir melewati sudu-sudu turbin. Pada
ujung casing terdapat ruang besar mengelilingi poros turbin disebut exhaust hood.

Laboratorium Motor Bakar V-13


Gambar 1.17. Stator yang terdiri dari Casing dan Sudu
Sudu merupakan bagian dari turbin dimana konversi energi terjadi. Sudu terdiri
dari bagian akar sudu, badan sudu dan ujung sudu. Sudu seperti terlihat pada
gambar 1.18, kemudian dirangkai sehingga membentuk satu lingkaran penuh.
Rangkaian sudu tersebut ada yang difungsikan sebagai sudu jalan dan ada yang
difungsikan menjadi sudu tetap. Rangkaian sudu jalan dipasang disekeliling rotor
sedang rangkaian sudu tetap dipasang disekeliling casing bagian dalam.

Gambar 1.18. Sudu turbine


Sudu tetap(fixed blade), selain ada yang berfungsi untuk mengubah energi panas
menjadi energi kinetik, tetapi ada juga yang hanya berfungsi untuk mengarahkan
aliran uap. Sudu-sudu tetap dipasang melingkar pada dudukan berbentuk piringan
yang disebut diapragma. Pemasangan sudu-sudu tetap ini pada diapragma
menggunakan akar berbentuk T sehingga memberi posisi yang kokoh pada sudu.
Diapragma terdiri dari dua bagian(atas dan bawah) dan dipasang pada alur-alur

Laboratorium Motor Bakar V-14


yang ada didalam casing. Setiap baris dari rangkaian sudu-sudu tetap ini
membentuk suatu lingkaran penuh dan ditempatkan langsung didepan setiap baris
dari sudu-sudu gerak.

Gambar 1.19. Sudu tetap(fixed blade) dan diapragma


2. Nozzle.
Nozzle adalah suatu alat untuk mengubah energi panas dalam fluida(gas atau
cair) menjadi energi kinetik melalui expansi fluida. Dalam dunia keteknikan,
dikenal beberapa jenis nozzle diantaranya: Nozzle convergen, Nozzle divergen,
Nozzle convergen – divergen.

Gambar 1.20. Nozzle Convergen

3. Rotor.
Rotor adalah bagian dari turbin yang berputar akibat pengaruh gerakan uap
terhadap sudu-sudu gerak. Rotor turbin juga terdiri dari dua bagian, yaitu poros
dan sudu jalan(moving blade).

Laboratorium Motor Bakar V-15


Gambar 1.21. Rotor
Secara umum ada dua macam tipe rotor turbin yaitu rotor tipe cakra(disk) dan
rotor tipe drum(silinder).
 Rotor tipe cakra(disk).
Pada rotor tipe ini, piringan-piringan(disk) dipasangkan pada poros sehingga
membentuk jajaran piringan.

Gambar 1.22. Rotor tipe cakra(disk).


 Rotor tipe drum(silinder).
Pada rotor tipe ini, poros dicor dan dibentuk sesuai yang dikehendaki dan
rangkaian sudu-sudu langsung dipasang pada poros. Rotor tipe drum sangat
fleksibel dan dapat dipakai hampir untuk semua jenis turbin.

Gambar 1.23. Rotor tipe drum(silinder).

Laboratorium Motor Bakar V-16


Poros(Shaft)
Poros(Shaft) dapat berupa silinder panjang yang solid(pejal) atau
berongga(hollow). Pada umumnya poros turbin sekarang terdiri dari silinder
panjang yang solid. Pada kebanyakan turbin, didekat ujung poros sisi tekanan
tinggi dibuat collar untuk keperluan bantalan aksial(thrust bearing). Sepanjang
poros dibuat alur-alur melingkar yang biasa disebut akar(root) untuk tempat
dudukan, sudu-sudu gerak(moving blade).

Gambar 1.23. Sudu gerak yang dipasangkan pada Shaft.

Sudu Gerak(Moving Blades)


Sudu Gerak(Moving Blades)Adalah sudu-sudu yang dipasang di sekeliling rotor
membentuk suatu piringan. Dalam suatu rotor turbin terdiri dari beberapa baris
piringan dengan diameter yang berbeda-beda, banyaknya baris sudu gerak
biasanya disebut banyaknya tingkat.

Laboratorium Motor Bakar V-17


Gambar 1.24. Sudu Gerak(Moving Blades).
4. Bearing dan Pedestal.
Bantalan berfungsi sebagai penyangga rotor sehingga membuat rotor dapat
stabil/lurus pada posisinya didalam casing dan rotor dapat berputar dengan aman
dan bebas. Adanya bantalan yang menyangga turbin selain bermanfaat untuk
menjaga rotor turbin tetap pada posisinya juga menimbulkan kerugian mekanik
karena gesekan. Sebagai bagian yang berputar, rotor memiliki kecenderungan
untuk bergerak baik dalam arah radial maupun dalam arah aksial.Karena itu rotor
harus ditumpu secara baik agar tidak terjadi pergeseran radial maupun aksial yang
berlebihan. Komponen yang dipakai untuk keperluan ini disebut bantalan
(bearing). Turbin uap umumnya dilengkapi oleh bantalan jurnal (journal bearing)
dan bantalan aksial(Thrust bearing) untuk menyangga rotor maupun untuk
membatasi pergeseran rotor.

Gambar 1.25 Pedestal dan Bearing.

Laboratorium Motor Bakar V-18


5. Stop valve.
Main Stop valve adalah katup penutup cepat yang berfungsi untuk memblokir
aliran uap dari ketel ke Turbin. Katup ini dirancang hanya untuk menutup penuh
atau membuka penuh. Pada sebagian turbin, Pembukaan katup ini juga dapat
diatur(Throtling) selama periode start turbin untuk mengatur aliran uap hingga
putaran turbin tertentu. Fungsi pengaturan ini bagi katup penutup cepat
merupakan fungsi tambahan. Fungsi utamanya adalah untuk memutus aliran uap
secara cepat ketika dalam kondisi emergensi. Sesuai dengan fungsi utamanya,
maka stop valve diharapkan menutup lebih cepat dibanding katup governor.
Karena stop valve memiliki fungsi utama dan fungsi tambahan, maka
konstruksinya juga terdiri dari katup utama(main valve) dan katup bantu(pilot
valve).

Gambar 1.26 Main stop valve dengan Pilot valve


6. Steam chest.
Steam chest adalah merupakan titik pertemuan antara pipa uap utama dengan
saluran uap masuk turbin. Fungsi utama Steam Chest adalah sebagai wadah untuk
menempatkan katup katup governor sebagai pengatur aliran uap yang akan masuk
ke Turbin. Posisi Steam Chest pada konstruksi berbagai turbin sangat beragam.
Pada salah satu rancangan turbin, steam chest mungkin ditempatkan dibagian atas
dan bawah dari turbin tekanan tinggi. Pada rancangan lain, steam chest
ditempatkan dikedua sisi turbin tekanan tinggi. Disebagian besar konstruksi
turbin, katup penutup cepat(stop valve) juga ditempatkan pada steam chest.

Laboratorium Motor Bakar V-19


Gambar 1.27 Steam chest.
7. Governor valve(Control valve).
Katup ini berfungsi untuk mengontrol laju aliran uap ke turbin untuk
mengendalikan putaran. Katup ini berada didalam jalur aliran uap setelah katup
uap utama dan steam chest. Governor valve bekerja(membuka) sesuai dengan
permintaan(kebutuhan) untuk mempertahankan putaran turbin. Begitu ia
bergerak, maka aliran uap ke turbin akan berubah dengan demikian juga
mengendalikan putaran. Governor valve biasanya terdiri dari empat buah yang
bekerjanya secara berurutan. Gerakan katup-katup ini dilakukan oleh tekanan
hidrolik yang dipasang pada aktuator saat urutan membuka. Gerakan penutupan
dilakukan oleh tekanan pegas.

Gambar 1.28 Governor valve(Control valve).


Katup-katup governor umumnya juga ditempatkan pada steam chest. Jumlah
katup governor bervariasi sesuai dengan faktor-faktor desain turbin yang meliputi

Laboratorium Motor Bakar V-20


kapasitas turbin, kebutuhan aliran uap dan tekanan kerja uap. Pada prinsipnya
katup governor dibuka oleh minyak hidrolik dengan perantaraan aktuator
hidrolik(servo motor). Sedangkan untuk menutup katup governor digunakan
pegas penekan(return spring). Untuk memenuhi karakteristik katup governor
sebagai pengatur aliran uap, maka presentase pembukaan katup dapat diatur
sesuai kebutuhan(positioned). Sistem kontrol governor dapat berupa mekanik,
hidrolik maupun elektrik-hidrolik.
8. Reheat valve dan Interception valve.
Reheat Stop Valve(RSV)
Reheat stop valve adalah komponen yang merupakan bagian dari rancangan
turbin reheat. Seperti diketahui bahwa pada turbin reheat, uap yang keluar dari
turbin tekanan tinggi(HP Turbine) dialirkan kembali kedalam ketel untuk
dipanaskan ulang(reheat). Uap panas ulang(reheat steam) dari ketel ini
selanjutnya dialirkan kembail ke Turbin. Tekanan menengah ataupun turbin
tekanan rendah. Sebelum masuk turbin, uap ini harus melintasi reheat stop valve
dan intercept valve lebih dahulu. Reheat stop valve hanya dapat berada dalam 2
posisi yaitu posisi menutup penuh dan posisi membuka penuh. Fungsi reheat stop
valve hampir sama dengan Main Stop Valve tetapi katup ini dipasang pada
saluran reheat. Reheat stop valve dibuka oleh tekanan hidrolik melalui aktuator
hidrolik dan ditutup oleh tekanan pegas.

Gambar 1.29 Reheat stop valve.

Laboratorium Motor Bakar V-21


Intercept Valve
Katup berikut yang dipasang pada saluran reheat setelah reheat stop valve adalah
katup intersep(Intercept Valve). Jadi intercept valve adalah katup terakhir yang
dilalui uap sebelum masuk ke Turbin Tekanan Menengah(IP Turbine). Pada
kondisi operasi normal, intercept valve hanya beroperasi pada dua posisi yaitu
posisi menutup penuh dan posisi membuka penuh. Tetapi dalam kondisi
abnormal, misalnya pada saat terjadi penurunan beban yang cukup besar,
sehingga putaran turbin naik sampai harga tertentu, katup ini juga berfungssi
sebagai pengontrol aliran uap reheat. Bila katup ini menutup, maka aliran uap ke
Turbin Tekanan menengah(IP) dan Turbin Tekanan Rendah (LP) akan berkurang
sehingga putaran turbin juga cenderung turun. Pembukaan katup intercept juga
dilakukan oleh tekanan hidrolik dengan perantaraan aktuator hidrolik, sementara
untuk menutup digunakan tekanan pegas. Salah satu fungsi intercept valve adalah
untuk mencegah turbin dari kemungkinan overspeed. Umumnya katup ini
mendapat perintah untuk menutup dari sistem auxiliary governor. Bila karena
suatu sebab putaraan turbin naik hingga harga tertentu, auxiliary governor akan
memerintahkan intercept valve untuk menutup dan menurunkan putaran.

Gambar 1.30 Intercept Valve.

Laboratorium Motor Bakar V-22


9. Dummy piston.
Ekspansi uap pada turbin reaksi mengakibatkan terjadinya penurunan tekanan
pada setiap melewati baris sudu geraknya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gaya
aksial(thrust) yang besar pada rotor. Makin panjang barisan sudu reaksi makin
besar gaya aksial yang timbul. Arah gaya aksial ini searah dengan arah aliran uap
didalam turbin. Gaya aksial ini akan mengakibatkan terjadinya pergesekan rotor
dengan sudu-sudu diam turbin. Untuk meredam besarnya gaya dorong aksial yang
timbul, maka diterapkan dummy piston (piston pengimbang) yang dipasang pada
rotor disisi depan sudu pertama turbin.

Gambar 1.31 Penempatan dummy piston(piston pengimbang)

II. PENGOPERASIAN STEAM TURBINE.


Suatu turbin dapat terdiri dari satu dua atau banyak silinder yang merupakan
mesin rotasi berfungsi untuk merubah energi panas menjadi energi mekanik. Tiap silinder
memiliki sebuah rotor yang disangga oleh bantalan-bantalan. Rotor-rotor tersebut
disambung menjadi satu termasuk rotor generator. Ruang diantara rotor dengan rumah
turbin(casing) terdiri dari rangkaian sudu-sudu tetap dan sudu-sudu gerak yang dijajarkan
berselang-seling. Sudu-sudu tetap dipasang disekeliling bagian dalam rumah turbin,
sedang rangkaian sudu gerak dipasang pada rotor. Bila kedalam turbin dialirkan uap,
maka energi panas yang dikandung uap akan diubah menjadi energi mekanik dalam
bentuk putaran poros. Mula-mula energi panas dalam uap diubah terlebih dahulu menjadi
energi kinetik(kecepatan) dengan cara melewatkan uap melalui nosel-nosel. Uap
berkecepatan tinggi kemudian diarahkan ke sudu-sudu sehingga menghasilkan putaran

Laboratorium Motor Bakar V-23


poros turbin dimana energi mekanik ini selanjutnya dapat digunakan untuk
menggerakkan generator, pompa dan sebagainya. Perubahan energi panas menjadi energi
kinetik terjadi didalam nosel(sudu diam) turbin, sedangkan perubahan energi kinetik
menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran rotor turbin terjadi pada sudu jalan turbin.

Gambar 1.32 Konversi energi didalam turbin


dan Prinsip kerja turbin uap 1 tingkat

Jadi didalam turbin, uap mengalami proses ekspansi yaitu penurunan tekanan dan
mengalir secara kontinyu. Akibat pengurangan tekanan uap didalam rangkaian sudu-
sudu, maka kecepatan uap meningkat sangat tinggi. Kecepatan aliran uap tersebut akan
bergantung pada selisih banyaknya panas uap sebelum dan sesudah ekspansi. Selisih
banyaknya panas uap sebelum dan sesudah ekspansi didalam turbin dinamakan
penurunan panas/heat drop.
Pada umumnya turbin uap dioperasikan secara kontiniu dalam jangka waktu yang
lama. Masalah-masalah pada turbin uap yang akan berujung pada berkurangnya efisiensi
dan performansi harus bisa dideteksi dan dimonitor selama beroperasi. Performansi dari
turbin uap dipengaruhi berbagai faktor termasuk komponen-komponen dari turbin uap
dan sistem kontrol/instrumentasi yang bekerja selama beroperasi. Steam turbine yang
digunakan dalam praktek/pengmbilan data di Laboratorium Motor Bakar – Jurusan

Laboratorium Motor Bakar V-24


Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya yaitu P7614 Steam
Turbine & Condenser Set for scheme 5 kw steam plant Cussons Technology Ltd.

Gambar 2.1. Steam Turbine & Condenser Set


for scheme 5 kw steam plant Cussons Technology Ltd

Modul Cussons P7615 terdiri dari satu kerangka pondasi yang terdiri dari turbin
uap digabungkan ke dinamometer yang mampu menghasilkan output listrik 5 kW. Turbin
disesuaikan dengan buku petunjuk yang mencakup didalamya terdiri dari vane nozel dan
speed control governor. Uap yang keluar turbin menuju ke condensate timer collection
tank. dan condenser. Sistem ini mempunyai alat instrumentasi yang akan menunjukkan
temperatures, pressures, turbine speed and dynamometer torque. Pengaturan beban
turbine melalui dynamometer control.
2.1. Bagian – Bagian Steam Turbine System.
Kerangka dan panel – panel dari Steam Turbine Modul Cussons P7615
Technology Ltd mempunyai kerangka yang kokoh dan seluruh panelnya dari konstruksi
baja yang disesuaikan dengan kenyamanan dalam pengambilan sampel. Alat – alat
kelengkapan dalam pengambilan data/sampel dari Steam Turbine Modul Cussons P7615
ini juga tersedia.

Laboratorium Motor Bakar V-25


Gambar 2.2. Instrumentasi Steam Turbine
Modul Cussons P7615 Technology Ltd

Adapun alat – alat kelengkapan tersebut meliputi:


1. Pressure Gauge/Meter Tekanan.
Fungsi: untuk mengukur tekanan uap masuk ke sistem calorimeter.
2. Thermometer/Meter Temperatur.
Fungsi: untuk mengukur temperatur.
3. Torque meter.
Fungsi: alat untuk mengukur torsi.
4. Speed meter.
Fungsi: alat untuk mengukur kecepatan.
5. Ammeter dan voltmeter.
Fungsi: alat untuk mengukur arus dan voltase.
6. Condensate measuring tank.
Fungsi: alat untuk mengukur jumlah air cndensate.
7. Vacum pump.
Fungsi: alat untuk memvacum condenser
8. Condensate pump.
Fungsi: alat untuk memompa air hasil kondensate.

Laboratorium Motor Bakar V-26


2.2. Prosedur Pengoperasian dan Pengujian Steam Turbine System.
2.2.1 Pengoperasian unit turbin uap
 Operasikan boiler(lihat prosedur pengoperasian boiler).
- Suplai power ke turbin.
- Hidupkan unit cooling tower.
- Suplai udara kompress guna keperluan safety mekanis.
 Pemeriksaan sebelum operasi.
- Pastikan dinamometer loading switch ON dalam posisi “ABSORB”.
- Set potensiometer beban untuk kontrol torsi ke minim.
- Periksa alat-alat ukur ke posisi nol kecuali indikator temperature.
- Periksa katub-katub ke posisi yang mungkin.
- Buka katub nosel dengan penuh dan tutup yang lainnya.

2.2.2 Start turbin uap.


 Buka katub inlet dengan perlahan sehingga mengalirkan jumlah uap yang
kecil guna pemanasan turbin.
 Pastikan bahwa beban dinamometer adalah nol.
 Buka katub air ke “vakum pump” sedikit, kemudian tekan tombol “vakum
pump ON” secepatnya.
 Secara perlahan-lahan buka katub inlet hingga turbin bergerak dengan
memutar tertentu(governor akan mengatur atau mengontrol putaran
turbin pada 4000 rpm, jika tidak matikan secara perlahan dan ulangi
operasi).
 Periksa bahwa vakunm dalam kondensor(P3) ada kira-kira tekanan 0,7
bar, jika tidak atur dengan katub keluaran vakum secara perlahan.
 Untuk membebani turbin disesuaikan dengan kontrol beban dinamometer
melalui potensiometer.
 Pada variasi pengukuran, jika tekanan inlet nosel P1 mendekati tekanan
uap terutama P2, buka penuh katub nosel nomor 2 dan tambahkan beban.
 Beban penuh dicapai apabila force meter menunjukkan kira-kira 100
Newton(potensiometer diputar maksimum).

Laboratorium Motor Bakar V-27


2.2.3 Prosedur Pengujian
Prosedur dalam pengambilan titik –titik pengukuran pengambilan data-data dapat
dilihat dari diagram skema gambar 2.2 diatas:
Keterangan-keterangan notasi :
T1 = Temperature condesate (0C)
T2 = Temperature turbin exhaust (0C)
T3 = Temperature cooling water outlet (0C)
T4 = Temperature condenser steam inlet (0C)
T5 = Temperature cooling water inlet (0C)
T6 = Temperature nozzle inlet (0C)
T7 = Temperature steam line (0C)
P1 = Tekanan nosel (bar)
P2 = Tekanan steam line (bar)
P3 = Tekanan kondenser (bar)
P4 = Tekanan gland seld (bar)
P5 = Tekanan exhaust turbin (bar)

2.3. Peralatan Dan Bahan Habis.


2.3.1 Peralatan.
1. Suplai energi listrik.
2. Air utilitas Laboratorium.
3. Cussons : P7600 : Oil Fired Boiler.
4. Cussons : P7632 : Superheater.
5. Cussons : P7615 : Steam Turbine

2.3.2 Bahan Habis


1. Lap/Kain pembersih : 10 kg
2. Gloves : 10 set
3. Air utilitas Laboratorium : 500 Liter
4. Bahan Bakar(Solar) : 100 Liter
5. Larutan Softener(NaCl) : 20 kg
6. Larutan Dosage(Housemen) : 25 Liter

Laboratorium Motor Bakar V-28


III. PERHITUNGAN STEAM TURBINE.
3.1 Referensi Standart.
Standart acuan untuk pengoperasian dan pengujian steam turbine adalah USA Standard
ASME PTC 6, Steam Turbines.

3.2 Rumus Perhitungan Steam Turbine.


1. Konsumsi uap teorotis (ms)

Ms = A x c x dimana : A = luas nozzel(mm2)


P = tekanan nozzel(bar abs)
v = volume spesifik uap
C = konstanta = 0,0368
Untuk nozzel no.31
A= x (........)2 = .......... mm2
P1 = ........ bar abs
v = ......... m3/kg

Sehingga ms = ............. kg/menit

2. Panas yang disuplai(Qs)


Qs = ms x extalpi pada nozzel, dimana kondisi nozzle P1 bar g; T6 0C
Qs = ...... x ........ extalpi pada nozzle = .........kj/kg
= ..............kj/menit (dari diagram mollier)

3. Panas Exhaust(Qexh)
Qexh = ms x extalpi pada exhaust, kondisi exhaust P5 bar g; T2 0C
= ....... x ........ extalpi pada exhaust = ........kj/kg
= ..............kj/menit (dari diagram mollier)
4. Drop entalpi actual
= Panas yang disuplai – panas exhaust
= ......... – ...........
= .............. kj/menit

5. Drop entalpi isentropis


= Panas yang display – (ms x entalpi isentropis exhaust)
= ........ – (....... x ........)
= .......... kj/menit

Laboratorium Motor Bakar V-29


6. Panas dalam kondensat(Qc)
Qc = ms x Cp x T
= ....... x ....... x .......
= ......... kj/menit

7. Panas yang diterima air pendingin(Qcw)


Qcw = mcw x Cp x (Tcwo – Tcwi)
= x ....... x (T3 – T5)
= ...........kj/menit

8. Panas pendingin lanjutan(undercooling)


Quc = panas exhaust – panas dalam kondenset
= .......... – ..........
= ........... kj/menit

9. Suplai panas Rankine(Qr)


Qr = panas yang disuplai – panas dalam kondenset
= .......... – ..........
= ............ kj/menit

10. Brake Power


BP =
=
= ............ Watt = ............. kj/menit

11. Konsumsi Energi


=
= ............... kj/menit

12. Konsumsi Uap Spesifik (SSC)


SSC =
= .............. kg/kwh

13. Efisiensi Isentropis


=
= .............x 100% = ...............%

Laboratorium Motor Bakar V-30


14. Efisiensi Konversi Mekanikal
=
= .............x 100% = ...............%

15. Efisensi thermal


=
= .............x 100% = ...............%

16. Efisiensi Rankine


=
= .............x 100% = ...............%

17. Efisiensi Relatif


= = ...............%

18. Daya Elektris


P= x Va x Ia = ............. Watt

Laboratorium Motor Bakar V-31


3.3 Format sheet dari Data Percobaan/Tabel Hasil Percobaan.

Date :......................................
Data Percobaan(No of Nozzel) I II III IV
Nozzle inlet (bar)P1
Steam line (bar)P2
Condenser (bar)P3
Glandseal (bar)P4
Turbin exhaust (bar)P5
Temperature kondensat (0C)T1
Turbin exhaust (0C)T2
Coolling water outlet (oC)T3
Condenser steam inlet (0C)T4
Cooling water inlet (0C)T5
Nozzle inlet temperature (0C)T6
Steam line temperature (0C)T7
Putaran (rpm)N
Gaya (N)F
Tegangan medan (V) Vf
Tegangan jangkar (V)Va
Arus jangkar (A)Ia

(...........................) (...........................) (...........................)


Lecture Technician Student

Laboratorium Motor Bakar V-32


IV. KOMPETENSI AKHIR.
Mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan uji kompetensi pengoperasian dan
perhitungan steam turbine dengan acuan standar yaitu USA Standard ASME PTC
6, Steam Turbines.

Daftar Pustaka
1. G.Cusson Ltd. “Steam turbine, Instructioanal Manual Hand Book” England 1
December 1986, 2 march 1987.
2. Munson and Young., Fundamentals of fluid Mechanics, eds.4.Jakarta, Erlangga,
2004.
3. MsCave, W.L.,Smith. J.C., dan Harriott. P., Unit Operationsin Chemical
Engineering,ed. 4.McGraw-Hill. New York, 1985.
4. Gean Koplis, C.J., Transport Processes and Unit Operations,eds.2, Allyn
and Bacon,inc., 1987.
5. USA Standard ASME PTC 6, Steam Turbines.

Laboratorium Motor Bakar V-33