Anda di halaman 1dari 18

KAJIAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

TUGAS 2

“KONSEP FENOMENOLOGI DALAM KARYA ARSITEKTUR”


“BRUDER KLAUS FIELD CHAPEL OLEH PETER ZUMTHOR”

PENYUSUN:
Adi Wijaya 315160062

Kelas: E
Dosen Kelas: Ir. Petrus Rudi Kasimun, M.ARS
Dosen Pembimbing: Dr. Eng Titin Fatimah

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN ARSITEKTUR
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
2018-2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya yang telah diberikan kepada
saya sehingga dapat menyelesaikan “Konsep Fenomenologi Dalam Karya Arsitektur” ini
dengan tepat waktu. Tugas ini dibuat untuk memenuhi permintaan tugas Kajian Perancangan
Arsitektur I,
Selanjutnya, saya ingin berterima kasih kepada berbagai pihak yang membantu melancarkan
proses pembuatan tugas ini, kepada:
1. Ir. Petrus Rudi Kasimun, M.Ars
2. Dr. Eng Titin Fatimah

Saya menyadari dalam pembuatan tugas ini masih jauh dari kata sempurna baik dari keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari
pembaca sangat diperlukan penulis untuk memperbaiki pembuatan tugas di masa yang akan
datang.
Akhir kata, saya berharap tugas ini akan bermanfaat bagi para pembaca dan menambah wawasan
para pembaca.

Jakarta, 15 Maret 2019

Tim Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………..……………………………… 1

DAFTAR ISI ………………………………………………….………………………………… 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Fenomenologi Dalam Arsitektur …………………………………………………………….. 3

1.2 Alasan Pemilihan Karya ……………………………………………………………………… 3

BAB II PROFIL

2.1 Biografi Peter Zumthor ……………………………………….……………………………… 4

2.2 Karya – Karya yang Pernah Dibuat ………………………….…………………………….… 5

2.3 Penghargaan yang Pernah Didapat ………………………….……………………………….. 6

2.4 Pemikiran Fenomenologi yang Dipercaya ………………….………………………………... 7

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Latar Belakang Bruder Klaus Field Chapel ………………….…………………………….... 11

3.2 Data Fisik …………………………………………………….…………………………...… 12

3.3 Konsep Umum Bruder Klaus Field Chapel …………………………………………………. 12

3.4 Konsep Fenomenologi Bruder Klaus Field Chapel ……………….………………………… 14

BAB IV KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan Laporan ……………………………………………….……………………..… 16

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………. 17

2
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Fenomenologi Dalam Arsitektur

Fenomenologi dikenal sebagai salah satu bidang dalam filsafat. Pengertian dasar
fenomenologi merupakan pendekatan yang berfokus pada pembelajaran kesadaran dan objek
melalui pengalaman langsung.

Arsitektur dan fenomenologi dapat dikaitkan dengan indera, pengalaman yang didapat
dan kesadaran. Heidegger berpendapat bahwa sebuah bangunan tidak seharunya menjadi pusat
kekaguman, namun lebih berpusat kepada pengalaman dari bangunannya itu sendiri dan aktivitas
kehidupan di dalamnya.

1.2 Alasan Pemilihan Karya

Pemilihan karya untuk dibahas sebagai studi kasus di dalam artikel ini harus
diperhitungkan dengan matang. Banyak karya arsitektur yang mengagumkan, tetapi tidak
semuanya menggunakan konsep dasar fenomenologi. Banyak arsitek yang terkenal dalam
penggunaan metode fenomenologi, namun tidak semua karya yang mereka buat sudah pasti
menggunakan metode tersebut. Karya arsitektur yang menggunakan metode fenomenologi dapat
dicirikan dengan puitisasi, yang berkaitan dengan poetic of space yang artinya sesuatu atau
benday itu ingi menjadi seperti apa.

Karya yang dipilih untuk dibahas adalah Bruder Klaus Field Chapel oleh Peter Zumthor.
Peter Zumthor dikenal sebagai salah satu arsitek yang sering menggunakan metode
fenomenologi untuk mendesain bangunannya. Bruder Klaus Field Chapel sendiri merupakan
bangunannya yang cukup menarik karena Peter Zumthor sendiri adalah seorang atheist (orang
yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan). Seorang atheist yang mendesain bangunan
beribadah dinilai sangat menarik oleh saya untuk dibahas mulai dari segi latar belakang hingga
konsep fenomenologi yang mengikat pada bangunan tersebut.

3
BAB II PROFIL

2.1 Biografi Peter Zumthor

Sumber: alessi.com
Peter Zumthor adalah seorang arsitek yang cukup terkenal asal swiss. Ia memenangkan
banyak sekali penghargaan. Pada tahun 2009 ia mendapatkan penghargaan Pritzker Prize,
penghargaan paling prestisius di dunia arsitektur bangunan. Dilahirkan pada 26 April 1943 di
Basel, dia merupakan anak tukang pembuat lemari dan pertama kali belajar sebagai pembuat
lemari pada tahun 1958-1962.

Dari 1963-1967, ia belajar di Kunstgewerbeschule, Vorkurs dan Fachklasse dengan


penelitian lebih lanjut dalam desain di Pratt Institute di New York. Tahun 1967 ia bekerja di
Canton Graubunden di Departemen Pelestarian Monumen sebagai konsultan dan perencana
pembangunan serta seorang yang menganalisis arsitektur beberapa kawasan bersejarah.
Pengalaman bekerja pada proyek restorasi bangunan-bangunan bersejarah memberinya
pemahaman lebih lanjut mengenai konstruksi dan perbedaan kualitas bahan bangunan.

Dia menikah dengan Annalisa Zumthor-Cuorad. Zumthor sendiri mampu


menggabungkan pengetahuannya tentang material ke dalam detail konstruksi modern. Ia terkenal
dengan desain bangunannya yang mengeksplorasi ruang sambil mempertahankan nuansa
minimalis. Atas kemampuannya tersebut Zumthor dipercaya mengajar arsitektur di banyak
universitas, seperti di Southern California Institute of Architecture di Los Angeles (1988),
Technical University of Munich (1989), Tulane University (1992), dan Harvard Graduate School
of Design (1999). Sejak tahun 1996, ia adalah profesor di Accademia Architettura di Mendrisio.

4
Zumthor selalu menekankan aspek sensorik dari pengalaman arsitektural. Baginya,
material bangunan dapat membawa seseorang ikut masuk ke dunia tersebut, membangkitkan
pengalaman dan wawasan akan suatu tempat melalui memori. Dalam buku terbaru yang
dipublikasikan oleh Barron Educational Series, Elements of Architectural Style, Professor Miles
Lewis mengomentari desain bangunan karya Zumthor, Thermal Bath di Vals sebagai contoh luar
biasa dari detail sederhana untuk membuat ruang menjadi sangat luas.

Desain tersebut mengkontraskan dinding batu kelabu yang dingin dengan kehangatan
pagar perunggu serta cahaya dan air yang digunakan membentuk ruangan. Salah satu pokok
pikiran Zumthor yang ia tuangkan dalam bukunya, Thinking Architecture; "Untuk mendesain
bangunan yang memiliki ikatan dengan kehidupan sesungguhnya, seseorang harus berpikir
dengan cara yang jauh melampaui bentuk dan konstruksi". Saat ini, Zumthor bekerja di sebuah
studio kecil dengan sekitar 30 karyawan di Haldenstein, Swiss.

2.2 Karya -Karya yang Pernah Dibuat

• 1983 Elementary school • 1993 Residential home for the


Churwalden, Churwalden, elderly, Masans, Chur, Graubünden,
Graubünden, Switzerland. Switzerland.
• 1983 House Räth, Haldenstein, • 1994 Gugalun House, Versam,
Graubünden, Switzerland. Graubünden, Switzerland.
• 1986 Shelters for Roman • 1996 Spittelhof housing, Biel-
archaeological site, Chur, Benken, Basel, Switzerland.
Graubünden, Switzerland.[13] • 1996 Therme Vals, Vals,
• 1986 Atelier Zumthor, Haldenstein, Graubünden, Switzerland.
Graubünden, Switzerland. • 1997 Kunsthaus Bregenz, Bregenz,
• 1989 Saint Benedict Chapel, Vorarlberg, Austria.
Sumvitg, Graubünden, Switzerland. • 1997 Topography of Terror,
• 1990 Art Museum Chur, International Exhibition and
Graubünden, Switzerland. Documentation Centre, Berlin,

5
Germany, partly built, abandoned, • 2011 Steilneset Memorial for the
demolished in 2004. Victims of the Witch Trials, Vardø,
• 1997-2000 Swiss Pavilion EXPO Norway
2000, Hannover, Germany. • 2011 Serpentine Gallery Pavilion
• 1997 Villa in Küsnacht am 2011, London, England
Zürichsee Küsnacht, Switzerland. • 2012 Werkraum Bregenzerwald
• 1997 Lichtforum Zumtobel Staff, Hof 800, 6866 Andelsbuch, Austria
Zürich, Switzerland. • 2016 Rest area/museum,
• 1999 Cloud Rock Wilderness Allmannajuvet zinc mines
Lodge, Moab, Utah, United States. • 2018-23 (proposed) LACMA, Los
• 2007 Bruder Klaus Kapelle, Angeles, CA.
Mechernich-Wachendorf, Germany.
• 2007 Kolumba - Erzbischöfliches
Diözesanmuseum, Cologne,
Germany.

2.3 Penghargaan yang Pernah Didapat

• 1987 Auszeichnung guter Bauten • 1993 Best Building 1993 award


im Kanton Graubünden, from Swiss tc's 10vor10,
Switzerland. Graubünden, Switzerland.
• 1989 Heinrich Tessenow medal, • 1994 Auszeichnung guter Bauten
Technische Universität Hannover, im Kanton Graubünden,
Germany. Switzerland.
• 1991 Gulam, European wiid-glue • 1995 International Prize for Stone
prize. Architecture, Fiera di Verona, Italy.
• 1992 Internationaler • 1995 Internationaler
Architekturpreis für Neues Bauen Architekturpreis für Neues Bauen
in den Alpen, Graubünden, in den Alpen, Graubünden,
Switzerland. Switzerland.

6
• 1996 Erich-Schelling-Preis für • 2006 Thomas Jefferson
Architektur, Erich-Schelling- Foundation Medal in Architecture,
Stiftung, Germany. University of Virginia.
• 1998 European Union Prize for • 2008 Praemium Imperiale, Japan
Contemporary Architecture (aka Arts Association
Mies van der Rohe Award) for • 2009 Pritzker Prize
Bregenz Art Museum. • 2013 RIBA Royal Gold Medal for
• 1998 Carlsberg Architectural 2013, announced September 2012,
Prize. award ceremony February 2013
• 2006 Spirit of Nature Wood
Architecture Award.

2.4 Pemikiran Fenomenologi Peter Zumthor

Peter Zumthor sangat terkenal dengan metode fenomenologinya dalam berarsitektur.


Konsep fenomenologinya ini dia dapatkan sebagian besar dari seorang filsuf, yaitu Martin
Heidgger. Pemikiran – pemikiran Heidegger sangat berpengaruh kepada Zumthor seperti tentang
pengalaman dan keterkaitan individual dengan sekitarnya. Zumthor percaya bahwa untuk
mendapatkan pengalaman yang unik dan berbeda, diharuskan membuat sesuatu yang sangat
detail sehingga kehadiran suatu objek akan terasa dengan jelas.

Salah satu pemikiran Heidegger yang menyebutkan tentang Ready at Hand dan Present
at Hand diterapkan oleh Zumthor ke salah satu bangunannya. Ready at Hand adalah suatu
kondisi bahwa kita melakukan sesuatu dengan benda tertentu tanpa sadar akan keberadaan benda
itu. Sedangkan Present at Hand adalah waktu dimana kita sadar betul akan keberadaan suatu
objek yang kita gunakan.

Kondisi ini dapat kita analogikan dengan saat kita sedang memalu paku. Ketika palu itu
bekerja dengan baik, kita ada di kondisi Ready at Hand dan kita menganggap palu itu sebagai
perpanjangan dari tangan kita sendiri. Kita tidak sadar akan benda tersebut. Ketika palu itu tiba –
tiba rusak, barulah kita sadar akan keberadaan palu tersebut. Palu itu harus berubah dari diri
aslinya sehingga kita menyadarinya. Sama seperti palu tersebut, penerapan Zumthor ke

7
bangunannya adalah penggunaan material yang kondisinya tidak biasa agar kita benar – benar
sadar akan keberadaan material tersebut.

Sumber: archdaily.com
Salah satu bangunan yang menerapkan pemikiran Heidegger tersebut adalah Saint
Benedict’s Chapel yang Zumthor bangun. Di bangunan tersebut terdapat gagang pintu yang beda
dari biasanya. Beda karena bentuknya yang tidak biasa dan proporsi yang tidak biasa pula.
Bentuknya begitu pipih dan panjang sehingga orang yang akan membuka pintu tersebut pasti
akan disadarkan oleh kehadiran gagang pintu tersebut. Cara Zumthor satu ini dinilai berhasil
menggambarkan ungkapan Heidegger dengan Ready at Hand dan Present at Hand.

Pemikiran fenomenologi Zumthor lainnya didapatnya dari Louis Kahn. Kahn pernah
berkata “If you want to give something presence, you have to consult with nature.” yang dapat
dikaitkan dengan kejujuran dari material. Dia menyatakan bahwa sebuah bata ingin menjadi
sebuah lengkungan. Kita tahu bahwa bata yang biasanya digunakan sebagai dinding memiliki
bentuk yang kaku. Ketika bata tersebut disusun membentuk sebuah lengkungan, pasti orang akan
menyadari kehadiran bata tersebut, dibanding hanya menjadi pengisi dinding. Untuk benar –
benar mengetahui kemauan suatu objek, diharuskan untuk mencari tahu informasi yang terdapat
dari alam, atau yang sebenarnya, barulah kita tahu harus diapakan material tersebut agar
mendapatkan aktualisasi.

Dalam salah satu topik pembicaraan Zumthor, dia pernah membahas tentang
“Atmosphere” yang dimana dia mencoba menjelaskan poin – poin penting dalam membangun
sebuah suasana atau mood dari suatu objek atau benda. Topik ini kemudian dijadikan buku
olehnya yang berjudul sama, “Atmospheres”. Elemen – elemen yang dibahas merupakan

8
jawaban dari “What is Magic of the Real” bagi Peter Zumthor. Ketika semua aspek tersebut
diperhatikan dalam proses perancangan, barulah seorang arsitek dapat membentuk suasana yang
dikehendakinya.

1. Body of Architecture

Bayangan sebuah bangunan yang benar – benar menjadi suatu badan. Material dan
ruangan yang tercipta dari penutup bangunan tersebut yang diumpamakan sebagi sebuah
kulit atau membran.

2. Material Compatibility

Kemungkinan yang didapat dari penggabungan material yang berbeda, bagaimana


mereka dibentuk, dipahat, dan reaksi apa yang didapat oleh kombinasi – kombinasi
tersebut.

3. The Sound of Space

Interior yang seperti alat musik memperhatikan suara yang terjadi di dalam bangunan
tersebut. Bagaimana suara yang terjadi ketika kita berjalan di dalam, berbicara di dalam
dan bahkan bagaimana suara bangunan itu sendiri pada saat diam.

4. The Temperature of Space

Kita tentu ingat bagaimana rasa dinginnya besi atau beton, tetapi untuk membentuk suatu
mood, harus lebih dari sekedar sentuhan. Suasana yang dibentuk dari temperature harus
dapat mempengaruhi psikologis dari seseorang.

5. Surrounding Objects

Bagaimana objek sekitar yang berada dekat dengan objek mempengaruhi suasana dan
mood yang ada. Suatu bangunan akan berubah suasananya jika ditempatkan di beda –
beda tempat.

6. Between Composure and Seduction

Sebuah cahaya yang turun secara tiba – tiba dapat memicu ketertarikan kita dan
mengarahkan kita ke suatu tempat, atau bahkan mencegah kita untuk ke suatu tempat.
Arsitektur melibatkan pergerakan dan membuat ruang dimanapun secara spontan.
9
7. Tension between Interior and Exterior

Ada sebuah tekanan antara dalam dan luar, privat dan publik, tertutup dan terbuka.
Bagaimana transisi ini terjadi dan apa yang kita ingin lihat dari luar atau apa yang kita
ingin orang lihat dari dalam.

8. Levels of Intimacy

Kontras dari bentuk bangunan, ukuran, skala, jarak, apa yang sebenarnya membuat suatu
ruang dapat membuat kita merasakan kecil dan sakral atau bahkan bangga dan agung.

9. The Light on Things

Bagaimana bayangan mempengaruhi suasana dengan memasukkan cahaya kedalam


bayangan tersebut seakan menghapus kegelapan, atau melihat bagaimana cahaya
dipantulkan oleh beberapa material yang berbeda.

10
BAB III PEMBAHASAN

3.1 Latar Belakang Bruder Klaus Field Chapel

Sumber: archdaily.com
Bruder Klaus Field Chapel dibangun di Jerman pada tahun 2007. Zumthor membangun
bangunan ini karena telah diminta oleh petani lokal yang ingin menghargai Bruder Klaus atau
Swiss Patron Saint of Peace. Zumthor tidak menetapkan tarif dalam proses desain bangunan ini
karena ibunya sendiri sangat loyal kepada Saint of Peace satu ini.

Pembangunan Bruder Klaus Field Chapel sendiri dibuat langsung oleh para petani di
sekitar sana. Material yang digunakan berasal dari daerah sekitar yang dimana Zumthor
menerapkan konsep kontekstualitas. Material utamanya adalah kayu pinus yang diperuntukan
sebagai rangka awal dan beton betulang setebal kira – kira 50 cm untuk menutupi rangka kayu
tersebut. Setelah beton dituangkan dan dibiarkan kering, kayu pinus yang berada didalamnya
dibakar hingga hangus.

11
3.2 Data Fisik

Denah
Potongan

Potongan
Detail

3.3 Konsep Umum Bruder Klaus Field Chapel

Bangunan yang diperuntukan sebagai bangunan ibadah ini sudah


memiliki citra tersendiri dari segi eksteriornya. Terdapat dua buah
bidang geometri yang ditabrakan, yaitu persegi panjang dengan pintu
segitiga yang membuka keluar. Dari pintu tersebut kita dapat melewati
sebuah jalan kecil yang dihimpit oleh kayu – kayu pinus yang sudah
dibakar. Setelah menelusuri jalan tersebut, sampailah di sebuah ruang
dimana terdapat sebuah kursi, altar dan patung Bruder Klaus itu
sendiri. Permukaan atasnya tidak ditutupi oleh apa – apa, melainkan

Sumber: archdaily.com

12
dibiarkan terbuka dengan bentuk mengkrucut ke atas. Cahaya dibiarkan masuk ke dalam ruangan
dan sangat responsif kepada cuaca di luar.

Bangunan ibadah ini memiliki keunikan karena tidak memiliki sistem utilitas sama sekali.
Tidak ada pemipaan, kamar mandi, listrik maupun aliran air untuk menunjang bangunan
tersebut. Bruder Klaus Field Chapel sendiri memang dibuat oleh Zumthor sebagai tempat
beribadah dalam konteks yang lebih kecil, melainkan orang yang dating kesini tidak
menghabiskan waktu yang lama di dalam bangunan.

Sumber: youtube.com
Berdasarkan bukunya Atmospheres: Architectural Environments, Surrounding Objects,
terdapat 6 acuan dalam merancang Bruder Klaus Field Chapel:

1. The Body of Architecture


Beton diluar dikaitkan sebagai kulit luar dari suatu bangunan, tiang – tiang kayu pinus
sebagai organ di dalam tubuh, sedangkan kesakralan yang ada di dalamnya adalah
penghubung diantara itu semua.
2. Material Compatibility
Material yang dipadukan (beton dan kayu) adalah material yang bertolak belakang dari
sifatnya. Tampak dari luar merupakan beton yang berwarna terang sehingga menarik
orang untuk masuk, dan didalamnya kayu untuk mmebuat suasana sakral.
3. Light on Things
Cahaya alami yang masuk hanya ada bagian atas bangunan sebagai sumber cahaya
utama, dan beberapa lubang – lubang kecil yang terdapat di dalam dinding.

13
4. Temperature of Space
Temperatur tercipta dari kombinasi antara material lantai (timah cari yang dibekukan)
dan lubang pada atap.
5. Surrounding Objects
Benda yang di sekeliling bangunan merupakan padang rumput yang membuat suasana
tenang yang cocok untuk orang beribadah.
6. Levels of Intimacy
Bangunan spiritual ini yang memiliki tinggi 12 meter mendukung suasana tenang dan
dekat dengan Tuhan dengan satu bukaan di atas atap.

3.4 Konsep Fenomenologi Bruder Klaus Field Chapel

Konsep fenomenologi yang dirasakan di dalam bangunan


Bruder KlausField Chapel ini banyak yang berasal dari
pemikiran Martin Heidegger, seorang filsuf yang terkenal atas
bukunya “Being and Time”. Heidegger juga meneliti mengenai
pengalaman yang dimana emosi kita dapat dijadikan suatu alat
ukur. Pengalaman inilah yang dipakai oleh Zumthor sebagai
dasar pemikiran untuk bangunannya. Untuk menciptakan suatu
pengalaman, dia percaya bahwa bangunan tersebut harus
Sumber: archdaily.com memiliki detail – detail yang menarik sehingga kehadiran
bangunan tersebut akan berbekas kepada orang yang mengalaminya.

“In order to design buildings with a sensuous connection to life, one must think in a way
that goes far beyond form and construction.” - Peter Zumthor

Zumthor percaya bahwa untuk mendesain bangunan yang memiliki keterkaitan dengan
kehidupan harus memiliki pemikiran yang sebatas bentuk dan konstruksi. Dia berpendapat
bahwa kehadiran suatu bangunan ada kalau dirasakan. Disinilah dia menuangkan detail – detail
yang dia buat agar mendapatkan pengalaman yang berbeda.

14
Pemikiran “Ready at Hand” dan “Present at Hand” dari Heidegger diterjemahkan oleh
Zumthor kedalam material yang dipakainya. Fisik material yang digunakannya dioleh sehingga
orang akan mencapai keadaan “Present at Hand”. Dimulai dari kayu pinus yang dibakar setelah
dituang beton, dia ingin menonjolkan kayu pinus itu sendiri dengan cara ditonjolkan. Kayu pada
umumnya sudah sering digunakan sebagai bahan bangunan, namun kayu yang dibakar memiliki
nilai lain dan tentunya akan menimbulkan kontras, orang yang dating kesana pastinya akan sadar
dengan keberadaan kayu tersebut dan tidak hanya berpikir bahwa kayu tersebut hanya sebagai
bagian dari bangunan.

Serpentine Pavilliun Sumber: archdaily.com

Zumthor juga memiliki ciri dalam menjelaskan konsep pada bangunannya. Dia sering
menggunakan kata – kata kerja untuk bangunannya agar terlihat lebih hidup. Dalam karyanya
yang lain, Serpentine Pavilliun di London, Zumthor menjelaskan bahwa Lorong yang berada
disana “menarik” dengan letupan – letupan cahaya yang keluar, lalu “meledak” dengan cahaya di
bagian tengah taman. Kata – kata yang dia gunakan dapat membuat orang yang datang kesana
merasakan hidupnya bangunan tersebut dan mendapatkan pengalaman yang membuat sadarnya
akan bangunan tersebut.

15
BAB IV KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan Laporan

Peter Zumthor merupakan salah satu arsitek yang menerapkan fenomenologi dalam karya
– karyanya. Berasal dari keluarga yang mengenal seni dari kecil, dia tumbuh menjadi salah satu
orang yang bekerja di bidang seni namun dalam skala yang lebih besar.

Konsep fenomenologi yang dipahaminya oleh filsuf – filsuf ternama seperti Heidegger
dan Merlau Ponty diterapkan ke hampir semua bangunan yang dia desain seperti Therme Vals,
Saint Benedict’s Chapel, Serpentine Pavilliun, dll. Hampir diseluruh bangunan
berfenomenologinya menggunakan pengalaman sebagai kunci utama desain. Pengalaman
tersebut didapat oleh orang – orang melalui pendekatan detailnya mengenai material. Dengan
material dia dapat menyadarkan keberadaan suatu objek dengan jelas.

Bruder Klaus Field Chapel sendiri merupakan bangunan yang cukup kontroversial dari
beberapa bangunan Zumthor. Bangunan yang memiliki fungsi sakral ini, seakan – akan hilang
kesakralannya karena menjadi tempat destinasi wisata bagi beberapa orang. Roh (genius loci)
dalam bangunan Bruder Klaus Field Chapel dinilai rusak oleh Zumthor sendiri karena tujuan
bangunan tersebut berubah fungsi. Bangunan yang biasanya dipakai hanya sekitar 3 orang,
terpaksa dipakai untuk 6 orang atau lebih untuk mewadahi banyaknya orang yang datang.

Sebenarnya roh bangunan tersebut tidaklah hilang, tujuan bangunan tersebut memang
menjadi berbeda namun roh dalam bangunan tersebut tidaklah hilang melainkan berubah.
Pengalaman yang didapat mungkin berkurang karena suasananya tidak mendukung, namun
suasana tersebut malah melahirkan pengalaman baru bagi orang yang datang.

Layaknya sebuah band yang memulai karirnya, band tersebut memiliki penggemar dari
mulai karirnya. Seiring dengan perkembangan waktu dan band tersebut menjadi lebih terkenal,
banyak orang yang menjadi penggemar tersebut, namun hanya mengikuti trend yang ada. Sama
seperti Bruder Klaus Field Chapel, umat yang berdoa disana pada awal jadinya bangunan
tersebut, sekarang harus bersaing dengan orang baru yang datang untuk mengagumi bangunan
tersebut.

16
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/16869762/Phenomenology_in_Architecture Diakses 17 Maret 2019

https://issuu.com/danielcopitch/docs/phenomenolog Diakses 17 Maret 2019

https://en.wikipedia.org/wiki/Phenomenology_(architecture) Diakses 17 Maret 2019

http://www.abiboo.com/arch/quick-tour-through-phenomenological-thinking-in-architecturequick-tour-
through-phenomenological-thinking-in-architecturequick-tour-through-phenomenological-thinking-in-
architecture Diakses 17 Maret 2019

https://en.wikipedia.org/wiki/Peter_Zumthor Diakses 18 Maret 2019

https://www.merdeka.com/peter-zumthor/ Diakses 18 Maret 2019

https://media.neliti.com/media/publications/65950-ID-atmospheres-parameter-desain-peter-zumth.pdf
Diakses 18 Maret 2019

https://en.wikipedia.org/wiki/Nicholas_of_Flüe Diakses 17 Maret 2019

https://morethaneyecandy.nl/magic-of-the-real-peter-zumthor-and-the-creation-of-atmosphere/ Diakses
17 April 2019

https://www.youtube.com/watch?v=mKdmQSngTUo Viki Rauch.2013. Peter Zumthor: Bruder-


Klaus-Kapelle.5 mnt.Diakses 16 Maret 2019.

https://www.youtube.com/watch?v=5f6KowAYxPQ Louisiana Channel.2018.Juhanni Pallasmaa


Interview: Art and Architecture.5 mnt.Diakses 16 Maret 2019.

https://www.youtube.com/watch?v=ibwvGn3PkFg&t=1396s Aalto University.2018.Peter


Zumthor and Juhanni Pallasmaa – Architecture Speaks.1 jam 7 mnt.Diakses 17 Maret 2019.

17

Anda mungkin juga menyukai