Anda di halaman 1dari 41

Studi Kasus Prediabetes

Kasus:

Ny. Y umur 55 tahun memeriksakan diri pada hari Senin, tanggal 30 Maret 2020, pukul 08.00
WIB di Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya. Ny. Y merasa kurang enak badan dan
mudah lelah. Ny. Y selalu sibuk berjualan ikan di pasar. Ny. Y mengatakan biasanya setelah
pulang dari bekerja dan jika merasa tidak enak badan, maka akan meminta anak tertuanya
untuk mengerok punggungnya. Ny. Y juga mengeluh mudah merasa lapar, mudah haus, dan
sering kencing. Ny. Y mengatakan ayahnya mempunyai riwayat Diabetes Melitus Tipe 2 dan
meninggal karena serangan jantung. Ny. Y juga mengeluh kurang tidur karena sering kencing
dan merasa lelah. Ny. Y tinggal serumah bersama suami dan ketiga orang anaknya di dekat
Pelabuhan Rambang. Ny. Y tampak bingung saat ditanya tentang kondisi penyakitnya dan
penanganannya. Ny. Y dilakukan pemeriksaan TTGO dan besok harinya Selasa, tanggal 31
Maret 2020, hasil pemeriksaan TTGO-nya yaitu 180 mg/dl. Berat badan Ny. Y saat ini 70 kg
dan tinggi badan 150 cm, TD 140/80 mmHg, Nadi 88 x/mnt teratur, RR 12 x/mnt, dan Suhu
36,8C.
Pertanyaan:
1. Identifikasi analisa data pada kasus di atas!

Data Fokus
Masalah Kemungkinan Penybab
(subjektif dan Objektif
S:
1. Ny. Y juga mengeluh
mudah merasa lapar, mudah
haus, dan sering kencing
2. Ny. Y juga mengeluh
Ketidakstabilan Kadar Gangguan toleransi glukosa
kurang tidur karena sering
Glukosa Darah darah
kencing dan merasa lelah

O:
Hasil pemeriksaan TTGO yaitu
180 mg/dl
S:-

O:
1. Berat badan 70 kg dan Obesitas Kelebihan konsumsi gula
tinggi badan 150 cm
IMT >27kg/m2 (hasil IMT=31,1
kg/m2)
S:
1. Ny. Y juga mengeluh
Proses perjalanan penyakit
kurang tidur karena sering Gangguan Pola Tidur
(poliuria)
kencing dan merasa lelah.
O:-
S:
1. Ny. Y mengatakan biasanya
setelah pulang dari bekerja
dan jika merasa tidak enak
badan, maka akan meminta
anak tertuanya untuk
mengerok punggungnya Defisit Pengetahuan Kurang terpapar informasi

O:
Ny. Y tampak bingung saat
ditanya tentang kondisi
penyakitnya dan penanganannya

1. Buatlah daftar diagnosis keperawatan berdasarkan kasus tersebut!

1) Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan gangguan toleransi


glukosa darah dibuktikan dengan merasa lelah, mudah merasa lapar, mudah haus,
dan sering kencing
2) Obesitas berhubungan dengan kelebihan konsumsi gula dibuktikan dengan
IMT=31,1 kg/m2
3) Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Proses perjalanan penyakit (poliuria)
dibuktikan dengan mengeluh kurang tidur karena sering kencing dan merasa lelah
4) Defisit Pengetahuan berhubungan dengan Kurang terpapar informasi dibuktikan
dengan tampak bingung saat ditanya tentang kondisi penyakitnya dan
penanganannya

2. Susunlah rencana keperawatan pada kasus tersebut berdasarkan diagnosis


keperawatan yang sudah dibuat!

No.
Diagnosis Tujuan/
Rencana Tindakan Rasional
Keperawa Kriteria Hasil
tan
Dx 1 Setelah Observasi 1. Mengetahui penyebab keluhan
Ketidaksta dilakukan 1. Identifikasi yang sedang di derita klien
bilan tindakan kemungkinan 2. Mengetahui kondisi glukosa
Kadar keperawatan penyebab dalam darah apakah mengalami
Glukosa selama 1 x 30 Hiperglikemia peningkatan ataupun penurunan
Darah menit 2. Monitor kadar 3. Tanda-tanda seperti poliuria,
berhubung diharapkan glukosa darah polidipsia,dan polifagia dapat
an dengan 3. Monitor tanda dan menyebabkan tingkat keletihan
kadar glukosa
gangguan gejala hiperglikemia berlebih pada tubuh klien
darah dalam
toleransi Terapeutik karena pengontrolan fungsi
glukosa batas normal 4. Konsultasi medis jika tubuh yang tidak sesuai
darah dengan kriteria tanda gejala 4. Keadaan gawat hipergilkemi
dibuktikan hasil: hiperglikemia tetap harus segera di tangani dengan
dengan 1. Klien dan ada atau memburuk tepat
merasa keluarga Edukasi 5. Agar dapat memanajemen
lelah, dapat 5. Anjurkan monitor diabetes yang dialami oleh
mudah mematuhi kadar glukosa darah klien dan mengetahui cara
merasa terapi mandiri penanganan terhadap
lapar, 2. Klien dan 6. Anjurkan kepatuhan 6. Diet dan olahraga yang tepat
mudah keluarga terhadap diet dan dapat membuat kadar gula
haus, dan mampu olahraga darah menjadi normal
sering mengontrol 7. Ajarkan pengelolaan 7. Klien harus mengetahui cara
kencing diabetes (mis. pengelolaan diabetes secara
glukosa
Penggunaan insulin, mandiri agar keadaan
darah secara
obat oral) hiperglikemia tidak semakin
mandiri Kolaborasi memburuk
8. Kolaborasi 8. OHO dan Isulin dapat
pemberian Insulin menurunkan kadar glukosa
darah
Dx 2 Setelah Observasi 1. Mengetahui jumlah nutrisi
Obesitas dilakukan 1. Identifikasi yang di perlukan agar nutrsi
berhubung tindakan kebutuhan kalori dan klien seimbang
an dengan keperawatan nutrien 2. Mengetahui perkembangan
kelebihan selama 1 x 30 2. Monitor berat badan berat badan klien
konsumsi menit Terapeutik 3. Berat badan ideal
gula diharapkan 3. Hitung berat badan mempengarhui kesehatan klien
dibuktikan ideal klien dan 4. Asupan makanan berlebih
berat badan
dengan fasilistasi menetukan dapat menyebabkan
dalam rentang
IMT=31,1 target berat badan peningkatan kadar glukosa
kg/m2 ideal dengan yang realistis darah
kriteria hasil: Edukasi 5. Mengetahui penyakit terkait
 IMTmasuk 4. Jelaskan hubungan kondisi pasien
dalam asupan makanan, 6. Gaya hidup dan faktor herediter
ketegori latihan, peningkatan dapat mempengaruhi terjadinya
ideal dan penurunan BB penyakit
5. Jelaskan kondisi 7. Mengetahui kemungkinan
 Terjadi
medis yang dapat penyakit yang diderita
penurunan
mampengaruhi berat 8. Olahraga dapat menurunkan
berat badan
badan kadar glukosa darah
 Klien
6. Jelaskan kebiasaan, 9. Pola diet sesuai anjuran dapat
mengerti tradisi dan budaya, menurunkan berat badan
bagaimana serta faktor genetik sehingga klien tidak mengalami
cara yang mempengaruhi obesitas dan peningkatan
menjaga BB glukosa darah
pola makan 7. Jelaskan resiko 10. nutrisi yang tepat sesuai
kondisi kegemukan anjuran ahli gizi dapat
dan berat
(overweighr) dan memenuhi kebutuhan asupan
bedan kurus (underweight) yang dibutuhkan tubuh
8. Anjurkan olahraga
sesuai toleransi
9. Jelaskan tujuan
kepatuhan diet
terhadap kesehatan

Kolaborasi
10. Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menetukan jumlah
kalori dan nutrisi
yang dibutukan, jika
perlu
Dx 3 Setelah Observasi
Gangguan dilakukan 1. Identifikasi pola 1. Memantau pola tidur klien
Pola Tidur tindakan aktivitas dan tidur 2. Mengetahui faktor-faktor yang
berhubung keperawatan 2. Identifikasi faktor menyebabkan tidur klien
an dengan selama 1 x 30 penganggu tidur terganggu
Proses menit (fisik dan/atau 3. Apabila klien makan mendekati
perjalanan diharapkan psikologis) waktu tidur serta minum
penyakit 3. Identifikasi banyak air sebelum tidur dapat
masalah
(poliuria) makanan dan menyebabkan klien sering
keperawatan
dibuktikan minuman yang melakukan eliminasi
dengan gangguan pola menganggu tidur 4. Obat tidur yang tidak tepat
mengeluh tidur teratasi (misal: kopi, teh, dapat menyebabkan klien susah
kurang dengan kriteria alkohol, makan untuk tidur atau bahkan tidur
tidur hasil: mendekati waktu yang terlalu lama
karena 1. Klien tidur, minum 5. Lingkungan yang nyaman
sering tidak banyak air dapat membuat klien cepat
kencing mengel sebelum tidur) untuk beristirahat
dan uh 4. Identifikasi obat 6. Apabila klien terlalu lama tidur
merasa kurang tidur yang di siang hari, maka ketika malam
lelah tidur konsumsi hari klien akan susah atau tidur
karena lebih larut malam untuk
sering Terapeutik istirahat malam
5. Modifikasi 7. Salah satu cara yang dapat
kencin
lingkungan (misal: dilakukan untuk
g dan
pencahayaan, menghilangkan stres sebelum
tidak kebisingan, suhu, tidur yaitu melakukan Doa
merasa dan tempat tidur) sebelum tidur
lelah 6. Batasi waktu tidur 8. Kebiasaan tidur yang baik
siang, jika perlu dapat membantu proses
7. Fasilitasi pemulihan kondisi klien
menghilangkan 9. Melakukan pijat dan
stres sebelum tidur pengaturan posisi dapat
8. Tetapkan jadwal meningkatkan rasa rileks pada
tidur rutin klien
9. Lakukan prosedur 10. Membantu klien agar klien
untuk dapat beristirahat
meningkatkan 11. Agar klien dan keluarga
kenyamanan memahami tentang pentingnya
(misal: pijat, waktu istirahat tidur yang baik
pengaturan posisi, 12. Agar klien membiasakan diri
terapi akupresure) memiliki waktu istirahat yang
10. Sesuaikan jadwal cukup
pemberian obat 13. Sering makan dan minum pada
dan/atau tindakan malam hari dapat
untuk menunjang meningkatkan eliminasi pada
siklus tidur-terjaga malam hari
14. Mempermudah pasien tidur dan
Edukasi memenuhi kebutuhan tidur
11. Jelaskan pasien
pentingnya tidur 15. Agar klien dapat mengatur
cukup selama sakit waktu untuk menyempatkan
12. Anjurkan menepati beristirahat tidur
kebiasaan waktu 16. Relaksasi nonfarmakologis
tidur dapat mengurangi dampak
13. Anjurkan pemakaian obat kedalam tubuh
menghindari secara terus menerus
makanan/minuman
yang menganggu
waktu tidur
14. Anjurkan
penggunaan obat
tidur yang tidak
mengandung
supresor terhadap
tidur REM
15. Anjurkan faktor-
faktor yang
berkontribusi
terhadap gangguan
pola tidur (misal:
psikologis, gaya
hidup, sering
berubah shift
bekerja)
16. Anjurkan relaksasi
otot autogenik atau
cara
nonfarmakologis
lainnya
Dx 4 Setelah Observasi 1. Mengevaluasi tingkat
Defisit dilakukan 1. Identifikasi pemahaman klien untuk
Pengetahu tindakan kesiapan dan menerima pendidikan
an keperawatan kemampuan kesehatan
berhubung selama 1 x 30 menerima 2. Mengidentifikasi cara agar
an dengan menit informasi penkes dapat di pahami dengan
Kurang diharapkan 2. Identifikasi faktor- baik
terpapar faktor yang dapat 3. Agar memudahkan perawat
masalah
informasi meningkatan dan menyampaikan informasi
keperawatan
dibuktikan menurunkan kesehatan
dengan defisit motivasi perilaku 4. Agar antara perawat dan klien
tampak pengetahuan hidup bersih dan dapat menyediakan waktu yang
bingung teratasi dengan sehat tepat
saat kriteria hasil: 5. Agar klien maupun keluarga
ditanya 1. Klien Terapeutik klien dapat menanyakan lebih
tentang dan 3. Sediakan materi jelas mengenai informasi
kondisi keluarg dan media masalah kesehatan yang di
penyakitny a dapat pendidikan alami klien
a dan memah kesehatan 6. Agar klien dapat menjauhi
penangana ami 4. Jadwalkan faktor yang memperburuk
nnya tentang pendidikan kesehatan klien
kondisi kesehatan sesuai 7. PHBS merupakan hal yang
penyak kesepakatan wajib di lakukan oleh semua
itnya 5. Berikan orang
dan kesempatan untuk 8. Agar klien serta keluarga klien
penang bertanya memiliki kebiasaan wajib
ananny melakukan PHBS
a Edukasi 9. Asupan makanan yang
6. Jelaskan faktor seimbang, latihan fisik rutin,
risiko yang dapat dan penurunan BB dapat
mempengaruhi mengontrol berat badan klien
kesehatan 10. Klien dengan bedat badan tidak
7. Ajarkan perilaku normal sangat berisiko
hidup bersih dan mengalami komplikasi jangka
sehat panjang maupun jangka pendek
8. Ajarkan strategi 11. Salah satu risiko overweight
yang dapat dapat memperparah keadan
digunakan untuk prediabetes klien, dan salah
meningkatkan satu keadaan underweight dapat
perilaku hidup beresiko tinggi mengalami
bersih dan sehat cidera
9. Jelaskan hubungan 12. Indonesia memiliki bermacam-
asupan makanan, macam suku, bahasa, adat
latihan, istiadat, budaya, makanan khas,
peningkatan, dan dll sehingga hal tersebut
penurunan BB menjadi kebiasaaan yang akan
10. Jelaskan kondisi sulit di hilangkan. Tetapi klien
medis yang dapat dan keluarga di anjurkan agar
mempengaruhi BB mengontrol makanan dan BB
11. Jelaskan risiko 13. Agar BB klien menurun, klien
kegemukan dapat melakukan PHBS, serta
(overweight) dan keluhan klien berkurang dan
kurus menurunkan faktor risiko
(underweight) keparahan kondisi klien
12. Jelaskan
kebiasaan, tradisi
dan budaya, serta
faktor genetik
yang
mempengaruhi BB
13. Ajarkan cara
mengelola BB
yang efektif
3. Dokumentasikan implementasi keperawatan pada kasus tersebut!

Evaluasi
No.Diagnosis Pelaksanaan/Tindakan Nam
No. Tanggal/jam Tindakan/Respons
Keperawatan Keperawatan mh
Klien
 1  01 April Dx 1 1. Mengidentifikasi 1. Klien tampak Chris
2020 / pkl Ketidakstabilan kemungkinan kooperatif
08.00 Kadar Glukosa penyebab 2. Klien tampak
Darah Hiperglikemia kooperatif
berhubungan 2. Memonitor kadar 3. Klien tampak
dengan gangguan glukosa darah kooperatif
toleransi glukosa 3. Memonitor tanda dan 4. Klien tampak
darah dibuktikan gejala hiperglikemia kooperatif
dengan merasa 4. Mengkonsultasikan 5. Klien tampak
lelah, mudah tanda gejala mengikuti anjuran
merasa lapar, hiperglikemia apakah 6. Klien tampak
mudah haus, dan tetap ada atau mengikuti anjuran
sering kencing bertambah buruk 7. Klien tampak
5. Menganjurkan monitor mengikuti ajaran
kadar glukosa darah yang diberikan
mandiri 8. Kolaborasi dengan
6. Menganjurkan dokter berjalan
kepatuhan terhadap dengan baik
diet dan olahraga
7. Mengajarkan
pengelolaan diabetes
(mis. Penggunaan
insulin, obat oral)
8. Berkolaborasi
pemberian Insulin
 2  01 April Dx 2 1. Mengidentifikasi 1. Klien tampak Chris
2020 / pkl Obesitas kebutuhan kalori dan kooperatif
08.30 berhubungan nutrien 2. Klien mengikuti
dengan kelebihan 2. Memonitor berat badan anjuran dan tampak
konsumsi gula 3. Menjelaskan hubungan kooperatif
dibuktikan asupan makanan, 3. Klien tampak
dengan latihan, peningkatan memperhatikan dan
IMT=31,1 kg/m2 dan penurunan BB kooperatif
4. Menjelaskan kondisi 4. Klien tampak
medis yang dapat memperhatikan dan
mempengaruhi berat kooperatif
badan 5. Klien tampak
5. Menjelaskan kebiasaan, memperhatikan dan
tradisi dan budaya, serta kooperatif
faktor genetik yang 6. Klien tampak
mempengaruhi BB memperhatikan dan
6. Menjelaskan resiko kooperatif
kondisi kegemukan 7. Klien mengikuti
(overweight) dan kurus anjuran
(underweight) 8. Klien tampak
7. Menganjurkan olahraga memperhatikan dan
sesuai toleransi kooperatif
8. Menjelaskan tujuan 9. Kolaborasi berjalan
kepatuhan diet terhadap dengan baik, klien
kesehatan tampak mengikuti
9. Berkolaborasi dengan anjuran
ahli gizi untuk
menetukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutukan
 3   01 April Dx 3 1. Mengidentifikasi pola 1. Klien tampak Chris
2020 / pkl Gangguan Pola aktivitas dan tidur kooperatif
09.00 Tidur 2. Mengidentifikasi faktor 2. Klien tampak
berhubungan penganggu tidur (fisik kooperatif
dengan Proses dan/atau psikologis) 3. Klien tampak
perjalanan 3. Mengidentifikasi kooperatif
penyakit makanan dan minuman 4. Klien tampak
(poliuria) yang menganggu tidur kooperatif
dibuktikan (misal: kopi, teh, 5. Klien tampak
dengan alkohol, makan kooperatif dan
mengeluh kurang mendekati waktu tidur, mengikuti anjuran
tidur karena minum banyak air 6. Klien tampak
sering kencing sebelum tidur) kooperatif dan
dan merasa lelah 4. Mengidentifikasi obat mengikuti anjuran
tidur yang di konsumsi 7. Klien tampak
5. Memodifikasi kooperatif dan
lingkungan (misal: mengikuti anjuran
pencahayaan, 8. Klien tampak
kebisingan, suhu, dan kooperatif dan
tempat tidur) mengikuti anjuran
6. Memfasilitasi 9. Klien tampak
menghilangkan stres kooperatif dan
sebelum tidur mengikuti anjuran
7. Menetapkan jadwal 10. Klien tampak
tidur rutin kooperatif dan
8. Melakukan prosedur tampak
untuk meningkatkan memperhatikan
kenyamanan (misal: 11. Klien tampak
pijat, pengaturan posisi, kooperatif dan
terapi akupresure) mengikuti anjuran
9. Menyesuaikan jadwal 12. Klien tampak
pemberian obat kooperatif dan
dan/atau tindakan mengikuti anjuran
untuk menunjang siklus 13. Klien tampak
tidur-terjaga kooperatif dan
10. Menjelaskan mengikuti anjuran
pentingnya tidur cukup
selama sakit
11. Menganjurkan
menepati kebiasaan
waktu tidur
12. Menganjurkan
menghindari
makanan/minuman
yang menganggu waktu
tidur
13. Menganjurkan
penggunaan obat tidur
yang tidak
mengandung supresor
terhadap tidur REM
4  01 April Dx 4 1. Mengidentifikasi 1. Klien tampak Chris
2020 / pkl Defisit kesiapan dan kooperatif
09.30 Pengetahuan kemampuan menerima 2. Klien tampak
berhubungan informasi kooperatif
dengan Kurang 2. Mengidentifikasi faktor- 3. Materi disajikan
terpapar faktor yang dapat dalam bentuk Leaflet
informasi meningkatan dan 4. Klien tampak
dibuktikan menurunkan motivasi kooperatif
dengan tampak perilaku hidup bersih 5. Klien tampak
bingung saat dan sehat kooperatif dan
ditanya tentang 3. Menyediakan materi tampak sering
kondisi dan media pendidikan bertanya
penyakitnya dan kesehatan 6. Klien tampak
penanganannya 4. Menjadwalkan kooperatif dan
pendidikan kesehatan memperhatikan
sesuai kesepakatan 7. Klien tampak
5. Memberikan kooperatif dan
kesempatan untuk mengikuti anjuran
bertanya 8. Klien tampak
6. Menjelaskan faktor kooperatif dan
risiko yang dapat mengikuti anjuran
mempengaruhi 9. Klien tampak
kesehatan kooperatif dan
7. Mengajarkan perilaku memperhatikan
hidup bersih dan sehat penjelasan yang
8. Mengajarkan strategi diberikan
yang dapat digunakan 10. Klien tampak
untuk meningkatkan kooperatif dan
perilaku hidup bersih memperhatikan
dan sehat penjelasan yang
9. Menjelaskan hubungan diberikan
asupan makanan, 11. Klien tampak
latihan, peningkatan, kooperatif dan
dan penurunan BB memperhatikan
10. Menjelaskan kondisi penjelasan yang
medis yang dapat diberikan
mempengaruhi BB 12. Klien tampak
11. Menjelaskan risiko kooperatif dan
kegemukan memperhatikan
(overweight) dan kurus penjelasan yang
(underweight) diberikan
12. Menjelaskan kebiasaan, 13. Klien tampak
tradisi dan budaya, serta kooperatif dan
faktor genetik yang memahami
mempengaruhi BB pengajaran yang
13. Mengajarkan cara diberikan
mengelola BB yang
efektif

4. Dokumentasikan catatan perkembangan (S.O.A.P./S.O.A.P.I.E.R.) pada kasus


tersebut!

Nomor
Catatan Perkembangan (S.O.A.P./
Tanggal/Jam Diagnosis Nama mhs
S.O.A.P.I.E.R)
Keperawatan
S:
1. Ny. Y juga sudah tidak mengeluh merasa
1
01-04- lapar, tidak mudah haus, dan tidak sering
(Ketidakstabilan
2020/08.00 kencing
Kadar Glukosa)
WIB 2. Ny. Y juga tidak mengeluh kurang tidur
Christie
O : Hasil pemeriksaan TTGO yaitu 180 mg/dl
 
A : Masalah Ketidakstabilan Kadar Glukosa
Darah teratasi

P : Hentikan Intervensi  
01-04- 2
2020/08.30 (Obesitas)
Christie
WIB  S : -
O : Berat badan 70 kg dan tinggi badan 150 cm
  IMT >27kg/m2 (hasil IMT=31,1 kg/m2)

 A : Masalah Obesitas teratasi


 
 P : Hentikan Intervensi

01-04- 3 S : Ny. Y sudah tidak mengeluh kurang tidur


2020/09.00 (Gangguan Pola
Christie
WIB Tidur) O:-

 A : Masalah Gangguan Pola Tidur Teratasi

P : Hentikan Intervensi
01-04- 4 S: Christie
Ny. Y mengatakan biasanya setelah pulang
dari bekerja dan jika merasa tidak enak
badan, maka akan meminta anak tertuanya
untuk mengerok punggungnya

2020/09.30 (Defisit O:
WIB Pengetahuan) Ny. Y sudah tidak tampak bingung saat
ditanya tentang kondisi penyakitnya dan
penanganannya 

A : Masalah Defisit Pengetahuan Teratasi

P : Hentikan Intervensi

5. Buatlah Satuan Acara Penyuluhan (SAP) pada Ny. Y tersebut!

6. Buatlah Laporan Pendahuluan tentang Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan


Prediabetes yang meliputi Konsep Dasar Prediabetes dan Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan pada Prediabetes!

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Prediabetes
Sasaran : Ny. Y dan Keluarga
Tempat : Rumah Ny. Y
Hari/Tanggal : 1 April 2020
Waktu : 1 x 30 menit
Penyuluh : Mahasiswa

I. LATAR BELAKANG
Menurut definisi dari the American Diabetes Association and US Department of
Health and Human Services, prediabetes adalah suatu tahapan dimana kadar glukosa
diatas normal tetapi masih di bawah kadar glukosa darah untuk diagnosis diabetes.
Kondisi ini mencakup toleransi glukosa terganggu (TGT) dan / ataupun glukosa puasa
terganggu (GPT). American Diabetes Association (ADA) mendefinisikan prediabetes
sebagai GPT yaitu kadar glukosa puasa 100 mg/dl (5,6 mmol/L) – 125 mg/dl (7,0
mmol/L) atau bila kadar glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa 75 gram 140-199
mg/dl (7,8 – 11 mmol/L) yang sering disebut dengan TGT.
Prevalensi prediabetes di Indonesia cukup tinggi, yakni ± 10,2 %, sehingga
diperkirakan 24 juta penduduk Indonesia telah menyandang prediabetes. Penyandang
prediabetes dalam perkembangannya mempunyai 3 kemungkinan: sekitar 1/3 nya
akan tetap sebagai prediabetes, 1/3 kasus akan menjadi diabetes mellitus tipe 2
(DMT2), dan 1/3 sisanya dapat kembali menjadi normoglikemi. Prediabetes
meningkatkan risiko absolut menjadi DM sebesar 2-10 kali lipat, bahkan pada
beberapa populasi peningkatan resiko tersebut dapat lebih tinggi lagi.
Resiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada prediabetes sama besarnya
dengan DM. Berbagai keadaan tersebut semakin meyakinkan bahwa tindakan dan
program pencegahan dini DM sangat diperlukan, antara lain melalui penanganan
prediabetes. Identifikasi dan penatalaksanaan awal bagi para pasien prediabetes yang
dapat menurunkan insiden DM serta komplikasinya akan sangat bermanfaat tidak
hanya bagi pasien, namun juga bagi keluarga dan pemerintah.
Prediabetes adalah suatu kondisi yang serius. Siapapun yang mempunyai
kondisi prediabetes beresiko besar untuk didiagnosis menjadi diabetes mellitus.
Dalam hal antisipasi umtuk pencegahan prediabetes ini yang sangat perlu diperhatikan
adalah dengan memberikan penyuluhan kesehatan pada penderita prediabetes maupun
yang beresiko terkena prediabetes.
Penyuluhan kesehatan pada penderita prediabetes merupakan suatu hal yang
sangat penting dalam regulasi gula darah penderita prediabetes dan mencegah atau
setidaknya menghambat munculnya/ terjadinya penyakit diabetes melitus. Dalam hal
ini diperlukan kerja sama yang baik antara penderita dan keluarganya dengan para
pengelola atau penyuluh.
Penyuluhan diperlukan karena penyakit pradiabetes adalah penyakit yang
berhubungan dengan gaya hidup. Pengobatan pradiabetes memerlukan keseimbangan
antara beberapa kegiatan yang merupakan bagian integral dari kegiatan rutin sehari-
hari seperti makan, tidur, bekerja dll. Pengaturan jumlah serta jenis makanan serta
olahraga oleh penderita serta keluarganya. Berhasilnya pengobatan pradiabetes
tergantung pada kerjasama antara petugas kesehatan dengan penderita dan
keluarganya. Pasien yang mempunyai pengetahuan cukup tentang prediabetes,
kemudian selanjutnya mengubah perilakunya, akan dapat mengendalikan kondisi
penyakitnya sehingga ia dapat sembuh.
Jadi penyuluhan pradiabetes mellitus disamping sebagai upaya promotif dilakukan
juga upaya preventif serta upaya kuratif dan rehabilitative untuk meningkatkan
peningkatan pwnyakit kronik (Diabetes Melitus).

II. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 30 menit, masyarakat Kelurahan
Panarung diharapkan mampu memahami mengenai prediabetes.
2. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah proses penyuluhan kesehatan tentang Prediabetes, diharapkan masyarakat
Kelurahan Panarung mampu :

2. Menjelaskan pengertian Prediabetes


3. Menyebutkan penyebab terjadinya Prediabetes

4. Menyebutkan faktor-faktor risiko tejadinya Prediabetes

5. Menyebutkan tanda dan gejala Prediabetes

6. Menyebutkan komplikasi yang dapat terjadi akibat dari Prediabetes

7. Menyebutkan penanganan Prediabetes

8. Menyebutkan pencegahan Prediabetes

III. SASARAN

Masyarakat Kelurahan Panarung.

IV. MATERI

Dalam penyuluhan, materi yang disampaikan adalah :

3. Pengertian Prediabetes
4. Penyebab terjadinya Prediabetes

5. Faktor-faktor risiko tejadinya Prediabetes

6. Tanda dan gejala Prediabetes


7. Komplikasi yang dapat terjadi akibat dari Prediabetes

8. Penanganan Prediabetes

9. Pencegahan Prediabetes

V. METODE
Metode yang digunakan dalam Penyuluhan Kesehatan Prediabetes ini adalah:

 Ceramah
 Tanya Jawab

VI. ALAT & MEDIA


Media yang digunakan dalam Penyuluhan Kesehatan Diabetes Melitus ini adalah:
 Leaflet

VII. WAKTU
1. Hari, tanggal : Rabu, 1 April 2020
2. Pukul : 10.00-10.30 WIB

VIII. KEGIATAN PENYULUHAN

No. WAKTU KEGIATAN PENYULUH KEGIATAN PESERTA

1. 3 Pembukaan :
Menit  Membuka kegiatan dengan  Menjawab salam
mengucapkan salam.
 Memperkenalkan diri  Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan dari  Memperhatikan
penyuluhan
 Menyebutkan materi yang akan  Memperhatikan
diberikan
2. 15 Pelaksanaan :
menit 9. Memperhatikan
 Menggali pengetahuan 
masyarakat tentang
10. Memperhatikan
Prediabetes
 Menjelaskan pengertian 11. Bertanya dan
Prediabetes menjawab
 Menyebutkan penyebab pertanyaan yang
terjadinya Prediabetes diajukan
12. Memperhatikan
 Menjelaskan faktor-faktor
risiko tejadinya Prediabetes

 Menyebutkan tanda dan gejala 13. Bertanya dan


Prediabetes menjawab
pertanyaan yang
 Menyebutkan komplikasi yang
diajukan
dapat terjadi akibat dari
Prediabetes

 Menjelaskan penanganan
Prediabetes

 Menjelaskan upaya
pencegahan Prediabetes
3. 10 Evaluasi :
Menit  Menanyakan kepada peserta  Menjawab
(masyarakat) tentang materi pertanyaan
yang telah diberikan, dan
reinforcement kepada
masyarakat yang dapat
menjawab pertanyaan.
4. 2 Terminasi :
Menit  Mengucapkan terimakasih atas  Mendengarkan
peran serta peserta.
 Mengucapkan salam penutup  Menjawab salam

IX. RENCANA EVALUASI


A. Struktur
1. Persiapan Media
Media yang digunakan dalam penyuluhan semua lengkap dan bisa digunakan
dengan baik dalam penyuluhan yaitu :
 Leaflet
2. Persiapan Materi

Materi disiapkan dalam bentuk makalah dan di buatkan power point (PPT) dan
leaflet agar lebih mudah saat penyampaian informasi kepada masyarakat (peserta
penyuluhan).
B. Proses Penyuluhan

1. Penyuluhan Kesehatan tentang Prediabetes berlangsung lancar dan terjadi proses


interaksi antara penyuluh dengan masyarakat yang menerima penyuluhan.

2. Kehadiran undangan diharapkan sekitar 90 % dan tidak ada yang meninggalkan


tempat saat penyuluhan berlangsung.

C. Hasil Penyuluhan

1. Jangka pendek
Setelah diberikan penyuluhan masyarakat mampu :
a. Memahami materi penyuluhan sebanyak 70% dari apa yang telah disampaikan
dengan kriteria mampu menjawab pertanyaan yang akan diberikan oleh
penyuluh.
b. Menjelaskan kembali pengertian Prediabetes

c. Menyebutkan penyebab terjadinya Prediabetes

d. Menyebutkan faktor-faktor risiko tejadinya Prediabetes

e. Menyebutkan tanda dan gejala Prediabetes

f. Menyebutkan komplikasi yang dapat terjadi akibat dari Prediabetes

g. Menyebutkan penanganan Prediabetes

h. Menyebutkan pencegahan Prediabetes

2. Jangka panjang
Meningkatkan pengetahuan sejak dini tentang upaya pencegahan terjadinya
Diabetes Melitus serta mampu menerapkan penanganan prediabetes jika sudah
terdiagnosis dalam kehidupan sehari-hari.

Materi :

PENGERTIAN PREDIABETES
Prediabetes adalah suatu tahapan dimana kadar glukosa diatas normal tetapi masih di
bawah kadar glukosa darah untuk diagnosis diabetes.

KLASIFIKASI PREDIABETES

PENYEBAB
Penyebab pasti pradiabetes tidak diketahui, meskipun para peneliti telah menemukan
beberapa gen yang terkait dengan resistensi insulin. Kelebihan lemak terutama lemak
perut dan tidak beraktivitas juga tampaknya menjadi faktor penting dalam perkembangan
pradiabetes. Yang jelas adalah bahwa orang yang memiliki pradiabetes, tubuhnya tidak
bisa megelolah gula (glukosa) dengan baik lagi

FAKTOR RISIKO
a. Faktor genetik atau Keturunan
b. Usia: Prevalensi DM meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.
c. Diabetes gestasional
Diabetes gestasional adalah diabetes yang timbul selama kehamilan. Ini meliputi
2-5% dari seluruh diabetes.
d. Obesitas
Obesitas merupakan faktor resiko yang paling penting. Jaringan lemak lebih
banyak yang dimiliki terutama di dalam dan di antara otot dan kulit di sekitar
perut menyebabkan sel menjadi lebih tahan terhadap insulin.
e. Aktivitas Fisik
Berkurangnya intensitas aktivitas fisik memberikan kontribusi yang besar
terhadap peningkatan obesitas.
f. Nutrisi
Kalori total yang tinggi, diit rendah serat merupakan faktor resiko terjadinya DM.

TANDA DAN GEJALA


1. Selalu kehausan.
2. Selalu lapar.

3. Peningkatan frekuensi berkemih.

4. Mudah merasa lelah.

5. Gangguan penglihatan berupa pandangan kabur.

PENANGANAN
1. Konsumsi makanan yang sehat.
2. Berolahraga secara teratur dengan aktivitas fisik sedang minum 30 menit sehari.

3. Menurunkan berat badan berlebih.

4. Berhenti merokok.

5. Konsumsi obat diabetes jika dianjurkan oleh dokter

PENCEGAHAN
a. Modifikasi gaya hidup atau Gaya Hidup Sehat
b. Mengkonsumsi makan-makanan sehat, dan berolah raga.

c. Intervensi Farmakologis atau Penggunaan Obat

1) Metformin
Alasan penggunaan metformin sebagian besar berdasar pada catatan keamanan
obat ini yang telah dipergunakan 40 tahun.
2) Acarbose
Acarbose bekerja dengan cara menghalangi enzim yang mencerna karbohidrat.
3) Orlistat
Orlistat adalah sebuah obat yang bekerja dengan mekanisme menghalangi enzim
yang memecah lemak dalam darah didalam saluran cerna.

Daftar pustaka
American Diabetes Association (2016). Diagnosing Diabetes and Learning About
Prediabetes.
Mayo Clinic (2017). Diseases and Conditions. Prediabetes.
KONSEP
A. Pengertian

Menurut definisi dari the American Diabetes Association and US Department of


Health and Human Services, prediabetes adalah suatu tahapan dimana kadar glukosa
diatas normal tetapi masih di bawah kadar glukosa darah untuk diagnosis diabetes.
Kondisi ini mencakup toleransi glukosa terganggu (TGT) dan / ataupun glukosa puasa
terganggu (GPT). American Diabetes Association (ADA) mendefinisikan prediabetes
sebagai GPT yaitu kadar glukosa puasa 100 mg/dl (5,6 mmol/L) – 125 mg/dl (7,0
mmol/L) atau bila kadar glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa 75 gram 140-199
mg/dl (7,8 – 11 mmol/L) yang sering disebut dengan TGT (Meddy Setiawan, 2011;
Tjokroprawiro, A., 2011).

Menurut consensus of Management and Prevention of Diabetes Mellitus Type- 2 di


Indonesia,yang dilakukan oleh Indonesian Society for Endocrinologist, Penegakan TGT
dan GPTditegakkan sesuai dengan algoritma diagnostik standar. Untuk pasien dengan
keluhan diabetes klasik, jika setelah dua kali uji dari satu kali glukosa darah dan glukosa
darah puasa, kita mendapatkan hasil yang meragukan (di atas normal, tetapi tidak
sampai pada kriteria diabetes), pasien akan diminta untuk melakukan tes beban OGTT
(Uji Glukosa Toleransi Oral). Bila hasil darah dua jam beban glukosa pasca glukosa 140
- 199 mg / dL , pasien akan dimasukkan dalam kriteria toleransi glukosa terganggu
(Meddy Setiawan, 2011).

Definisi diabetes dan prediabetes berdasarkan penilaian resiko penyakit serta


distribusi populasi plasma glukosa. Data menunjukkan bahwa level glukosa plasma di
atas nilai ambang batas memiliki insidensi retinopati meningkat secara signifikan dan
telah digunakan untuk membantu mendefinisikan diabetes (Meddy Setiawan, 2011).

B. Etiologi
Penyebab pasti pradiabetes tidak diketahui, meskipun para peneliti telah
menemukan beberapa gen yang terkait dengan resistensi insulin. Kelebihan lemak
terutama lemak perut dan tidak beraktivitas juga tampaknya menjadi faktor penting
dalam perkembangan pradiabetes. Yang jelas adalah bahwa orang yang memiliki
pradiabetes, tubuhnya tidak bisa megelolah gula (glukosa) dengan baik lagi. Hal ini
menyebabkan gula dalam aliran darah lebih banyak dari pada gula yang melakukan
fungsi yang normal yaitu memicu sel yang membentuk otot-otot dan jaringan lain.
Sebagian besar glukosa dalam tubuh berasal dari makanan yang kita makan, khususnya
makanan yang mengandung karbohidrat. Setiap makanan yang mengandung karbohidrat
dapat mempengaruhi kadar gula darah, tidak hanya makanan manis (Nasrul E. Dan
Sofitri. 2012).

Selama pencernaan, gula memasuki aliran darah dan dengan bantuan insulin
kemudian diserap ke dalam sel-sel tubuh untuk menghasilkan energi. Insulin adalah
hormon yang berasal dari pankreas. Ketika kita makan, pankreas mengeluarkan insulin
ke dalam aliran darah. Insulin beredar merupakan seperti sebuah kunci yang membuka
pintu mikroskopis yang memungkinkan gula memasuki sel. Insulin menurunkan jumlah
gula dalam aliran darah. Apabila tingkat gula darah turun, maka sekresi insulin dari
pankreas juga akan berkurang. Bila menderita pradiabetes, proses ini mulai bekerja tidak
normal. Gula darah akan meningkat dari pada melaksanakan fungsinya untuk membuka
sel-sel. Hal ini terjadi ketika pankreas tidak membuat cukup insulin atau sel-sel menjadi
resisten terhadap tindakan insulin atau keduanya (Nasrul E. Dan Sofitri. 2012;
Tjokroprawiro, A., 2011).

Patofisiologi prediabetes umumnya didasari atas perubahan sensitivitas insulin dan


fungsi β-pancreas, biasanya karena peningkatan adiposit. Sensitivitas insulin berbanding
terbalik dengan kadar glikemik, bahkan dalam rentang glukosa puasa normal.
Peningkatan konsentrasi glukosa plasma puasa dari 70 – 125 mg/dL (3,9 – 6,9 mmol/L)
berkaitan dengan suatu penurunan sensitivitas insulin > 3 kali. Individu dengan isolated
GPT menunjukkan penurunan sensitivitas insulin sekitar 25 %, dan individu yang
mengalami kombinasi GPT dan TGT menunjukkan penurunan sensitivitas insulin sekitar
80 % dibandingan dengan individu yang kadar glukosa puasanya berada dalam interval
referensi (Nasrul E. Dan Sofitri, 2012; Tjokroprawiro, A., 2011; National Diabetes
Information Clearinghouse, 2012).
C. Patofisiologi

Regulasi glukosa post prandial tergantung pada stimulasi sekresi insulin pada sel
beta pancreas yang akan mensupresi glukoneogenesis hepar dan menekan glikogenolisis.
Insulin dilepaskan untuk meningkatkan ambilan glukosa di otot dan jaringan perifer.
Kadar glukosa puasa tergantung pada produksi glukosa hepar (glikogenolisis dan
glukoneogenesis), kadar insulin puasa dan sensitivitas insulin. Dalam keadaan normal
insulin bekerja mempertahankan kadar glukosa plasma supaya selalu dalam batas normal
(normoglikemia) saat puasa ataupun post prandial. Hipoglikemia tidak terjadi saat puasa
karena hati memproduksi glukosa melalui glikogenolisis dan glukoneogenesis,
sebaliknya sesudah makan glukosa plasma tidak terlalu meningkat karena sel beta
pankreas menghasilkan insulin yang meningkatkan asupan glukosa pada otot dan
jaringan adiposa. Perjalanan menjadi diabetes melitus (pra diabetes) awalnya masih
terjadi normoglikemia, pada tahap lanjut akan terjadi kenaikan kadar glukosa plasma
puasa dan post prandial. Insulin yang disekresikan tidak efektif menghambat
glukoneogenesis hati dan kemampuannya meningkatkan ambilan glukosa di otot dan
adiposa berkurang. Selain itu juga ditandai dengan gangguan respons terhadap fisiologi
insulin terhadap metabolisme glukosa, lipid dan protein serta pengaruh terhadap fungsi
endotel. Glucose transporter 2/GLUT-2 merupakan transporter glukosa yang terdapat
terutama di hepar dan sel beta pancreas yang berespons cepat dalam menjaga kadar
glukosa dalam plasma. Glucose transporter 4/GLUT 4 terdapat pada otot dan jaringan
adiposa yang berperan dalam ambilan glukosa. Gangguan transpor glukosa inilah yang
tejadi pada pasien dengan resistensi insulin.Peningkatan insulin plasma
(hiperinsulinemia) yang terjadi untuk mengompensasi resistensi insulin yang terjadi akan
berefek pada sel beta pankreas dan akhirnya kelelahan sehingga tidak mampu
menormalkan kadar glukosa menjadi normoglikemia lagi. Beberapa kepustakaan
menyebutkan pada tahap pra diabetes sebenarnya sudah mulai terjadi defek sel beta
pankreas hingga 70%. Pada saat itu kadar glukosa plasma berkisar 100-125 mg/dL
disebut sebagai glukosa darah puasa terganggu (GDPT) dan kadar glukosa plasma
setelah pembebanan 75 gram glukosa 140-199 mg/dL disebut sebagat toleransi glukosa
terganggu(TGT) (Nasrul E. dan Sofitri, 2012).

Peningkatan kadar glukosa plasma pada GDPT dan TGT menduga terdapat
mekanisme yang berbeda dalam patogenesisnya. Glukosa darah puasa terganggu dan
TGT berbeda pada tingkat dan lokasi dominan terjadinya resistensi insulin. Individu
dengan GDPT predominan mempunyai resistensi insulin di hepar tetapi normal
sensitivitas insulin di otot.Sedangkan individu dengan TGT memiliki sensitivitas insulin
hepar yang normal atau sedikit menurun dan resistensi insulin sedang sampai berat di
otot. Pada subjek yang sekaligus mengalami GDPT dan TGT sudah terjadi resistensi
insulin baik pada otot maupun hepar (Nasrul E. dan Sofitri, 2012).

Setelah puasa 8-10 jam di hati akan terjadi glikogenolisis untuk mencegah
hipoglikemia. Setelah itu insulin fase awal (3-5 menit) pertama akan berespons
mensupresi glikogenolisis supaya mempertahankan darah dalam keadaan
normoglikemia. Proses ini terganggu pada individu yang mengalami GDPT. Hal ini
dapat menjelaskan bagaimana terjadinya peningkatan glukosa darah puasa pada GDPT.
Respons insulin fase lambat (50- 120 menit) setelah post prandial normal pada GDPT,
sehingga glukosa darah 2 jam setelah pembebanan 75 Gram glukosa oral normal.
Respons sekresi insulin fase awal pada TGT juga terganggu dan setelah 2 jam pemberian
glukosa oral sudah terjadi defek berat pada sekresi insulin fase lambat. Hal ini dapat
menerangkan peningkatan glukosa plasma setelah 2 jam pembebanan glukosa oral tetapi
peningkatannya belum bisa dikategorikan sebagai DM (Nasrul E. dan Sofitri, 2012).

D. Manifestasi Klinis

Seringkali, pradiabetes tidak memiliki tanda-tanda atau gejala. Adanya suatu area
kulit yang gelap, suatu kondisi yang disebuta canthosis nigricans, adalah salah satu dari
beberapa tanda-tanda yang menunjukkan risiko untuk diabetes. Daerah umum yang
mungkin akan terkena meliputi leher, ketiak, siku, lutut, dan buku-buku jari. Gejala
klasik diabetes tipe 2 yang harus dipantau meliputi: Peningkatan rasa haus, sering buang
air kecil, kelelahan dan penglihatan kabur (Meddy Setiawan, 2011).

E. Faktor Risiko

Faktor resiko terjadinya prediabetes sama dengan faktor resiko terjadinya DM tipe
2. Faktor resiko tersebut dapat dibagi menjadi faktor resiko yang dapat dirubah (obesitas,
aktivitas fisik, nutrisi) dan yang tidak dapat dirubah ( genetik, usia, diabetes gestasional).
Faktor yang dapat dirubah yang penting adalah obesitas ( terutama perut) dan kurangnya
aktivitas fisik (Setiawan, Meddy, 2011).

a. Faktor genetik
Gen yang berhubungan dengan resiko terjadinya DM, sampai saat ini belum
bias diidentifikasikan secara pasti. Adanya perbedaan yang nyata kejadian DM
antara grup etnik yang berbeda meskipun hidup di lingkungan yang sama
menunjukkan adanya kontribusi gen yang bermakna terjadinya DM. Meskipun tidak
jelas sebabnya, orang-orang dari ras tertentu termasuk Afrika-Amerika, Hispanik,
Indian Amerika, Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik lebih mungkin untuk menjad
prediabetes (Setiawan, Meddy. 2011).
b. Usia
Prevalensi DM meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Dalam dekade
terakhir ini, usia terjadinya DM semakin muda. Resiko pradiabetes meningkat
seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 45 tahun. Ini mungkin karena orang
cenderung kurang berolahraga, kehilangan massa otot dan menambah berat badan
dengan bertambahnya usia mereka. Namun, orang tua bukanlah satu-satunya
beresiko prediabetes dan diabetes tipe 2. Insiden gangguan ini juga meningkat di
kelompok usia yang lebih muda (Setiawan, Meddy. 2011).
c. Diabetes gestasional
Diabetes gestasional adalah diabetes yang timbul selama kehamilan. Ini
meliputi 2-5% dari seluruh diabetes. Jenis ini sangat penting diketahui karena
dampaknya pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan benar. Pada diabetes
gestasional toleransi glukosa biasanya kembali normal setelah melahirkan akan
tetapi wanita tersebut memiliki resiko menderita DM di kemudian hari. Bila pernah
menderita diabetes gestasional saat kehamilan, maka resiko menderita diabetes akan
meningkat. Apabila pernah melahirkan bayi dengan berat bada lebih dari 9 pound
(4,1 Kg), maka risiko DM juga meningkat.
d. Obesitas
Obesitas merupakan faktor resiko yang paling penting. Jaringan lemak lebih
banyak yang dimiliki terutama di dalam dan di antara otot dan kulit di sekitar perut
menyebabkan sel menjadi lebih tahan terhadap insulin. Beberapa studi jangka
panjang menunjukkan bahwa obesitas merupakan prediktor yang kuat untuk
timbulnya DM tipe 2. Lebih lanjut, intevensi yang bertujuan mengurangi obesitas
juga mengurangi insidensi DM tipe 2. Beberapa studi jangka panjang juga
menunjukkan bahwa lingkar pinggang atau rasio pinggang pinggul yang
menunjukkan keadaan lemak visceral ( abdominal), merupakan indikator yang lebih
baik dibandingkan indeks masa tubuh, sebagai faktor resiko prediabetes. Data
tersebut memastikan bahwa distribusi lemak lebih penting dibanding dengan jumlah
total lemak obesitas.
e. Aktivitas Fisik
Berkurangnya intensitas aktivitas fisik memberikan kontribusi yang besar
terhadap peningkatan obesitas. Berbagai studi menunjukan bahwa kurangnya
aktifitas fisik merupakan prediktor bebas terjadinya DM Tipe 2 pada pria maupun
wanita. Semakin sedikit beraktivitas, semakin besar resiko pradiabetes. Aktivitas
fisik membantu mengontrol berat badan, dengan beraktivitas maka glukosa
digunakan sebagai energi dan membuat sel-sel lebih sensitif terhadap insulin
(Setiawan, Meddy. 2011).
f. Nutrisi
Kalori total yang tinggi, diit rendah serat, beban glikemik yang tinggi dan rasio
poly unsaturated fatty acid ( PUFA) dibanding lemak jenuh yang rendah, merupakan
faktor resiko terjadinya DM (Setiawan, Meddy. 2011).

F. Diagnosis

American Diabetes Association, the European Association for the Study of


Diabetes dan the International Diabetes Federation merekomendasikan bahwa test untuk
menegakkan diagnosis pradiabetes meliputi:

1. Hemoglobin A1C atau hemoglobin glikosilasi.


HbA1C adalah  tes yang mengukur kadar glukosa darah rata-rata
seseorang selama 2 sampai 3 bulan terakhir. Hemoglobin adalah bagian dari
sel darah merah yang membawa oksigen ke sel-sel dan kadang-kadang bergabung
dengan glukosa dalam aliran darah. Juga disebut hemoglobin A1C atau hemoglobin
glikosilasi, tes ini menunjukkan jumlah glukosa yang menempel pada sel darah
merah, yang proporsional dengan jumlah glukosa dalam darah. Nilai A1C antara 6
dan 6,5 persen dianggap pradiabetes. Sedangkan bila level 6,5 persen atau lebih
tinggi pada dua tes berbeda menunjukkan diabetes. Kondisi tertentu dapat membuat
tes A1C tidak akurat - seperti jika sedang hamil atau memiliki varian hemoglobin
(National Diabetes Information Clearinghouse. 2012). HbA1c telah
direkomendasikan oleh ADA sebagai pilihan untuk mendiagnosis diabetes (> 6,5%)
dan juga untuk mendeteksi peningkatan risiko penyakit diabetes (5,7 – 6,4%).
Sekarang ini HbA1c memang dinyatakan sebagai penanda yang lebih baik
dibandingkan glukosa plasma puasa dalam memprediksi risiko mortalitas dan
penyakit kardiovaskular pada individu nondiabetik, namun kurang baik bila
dibandingkan dengan konsentrasi glukosa 2 jam, akan tetapi tidak semua studi
mendukung pernyataan ini (National Diabetes Information Clearinghouse, 2012).

2. Tes gula darah puasa.


Contoh darah akan diambil setelah berpuasa selama sedikitnya delapan jam
atau semalam. Dengan tes ini, gula darah tingkat yang lebih rendah dari 100 mg / dL
- 5,6 mmol / L adalah normal. Sebuah tingkat gula darah 100-125 mg / dL (5,6-6,9
mmol / L) dianggap pradiabetes. Hal ini kadang-kadang disebut sebagai glukosa
puasa terganggu (GPT). Apabila kadar gula darah 126 mg / dL (7.0 mmol / L) atau
lebih tinggi dapat mengindikasikan diabetes mellitus (National Diabetes Information
Clearinghouse, 2012).
3. Uji FPG
Uji FPG adalah tes pilihan untuk mendiagnosis diabetes karena kenyamanan
dan biaya rendah. Tes FPG yang paling tepat yaitu bila dilakukan di pagi hari. Hasil
dan maknanya ditunjukkan pada Tabel 1. Orang dengan kadar glukosa puasa 100
sampai 125 mg / dL memiliki bentuk yang disebut pradiabetes glukosa puasa
terganggu (GPT). Memiliki GPT berarti seseorang memiliki peningkatan risiko
berkembang menjadi diabetes tipe 2 tetapi tidak belum diabetes. Apabila nilai FPG
126 mg / dL atau di lebih, dan sudah dikonfirmasi dengan mengulangi tes pada hari
lain, berarti didiagnosis sebagai diabetes (National Diabetes Information
Clearinghouse, 2012).
Table 1. FPG test

Plasma Glucose Result (mg/dL) Diagnosis

99 or below Normal

Prediabetes
100 to 125
(impaired fasting glucose)

126 or above Diabetes*

4. Tes toleransi glukosa oral (TTGO).


Contoh darah akan diambil setelah berpuasa selama sedikitnya delapan jam
atau semalam. Kemudian pasien akan minum larutan gula, dan tingkat gula darah
akan diukur lagi setelah dua jam. Tingkat gula darah kurang dari 140 mg / dL (7,8
mmol / L) adalah normal. Tingkat gula darah 140-199 mg / dL (7,8-11,0 mmol / L)
dianggap pradiabetes. Hal ini kadang-kadang disebut sebagai toleransi glukosa
terganggu (TGT). Apabila nilai gula darah 200 mg / dL (11,1 mmol / L) atau lebih
tinggi dapat mengindikasikan diabetes mellitus (National Diabetes Information
Clearinghouse, 2012).
Penelitian telah menunjukkan bahwa OGTT lebih sensitif dibandingkan tes
FPG untuk mendiagnosa pradiabetes, tetapi kurang nyaman untuk mengelola. TTOG
memerlukan berpuasa selama minimal 8 jam sebelum tes. Tingkat glukosa plasma
diukur segera sebelum dan 2 jam setelah seseorang minum cairan yang mengandung
75 gram glukosa dilarutkan dalam air. Hasil dan maknanya ditunjukkan pada Tabel
2. Jika tingkat glukosa darah adalah antara 140 dan 199 mg / dL 2 jam setelah
minum cairan, orang tersebut memiliki bentuk yang disebut pradiabetes toleransi
glukosa terganggu (TGT). Memiliki TGT, seperti memiliki GPT, berarti seseorang
memiliki peningkatan risiko berkembang menjadi diabetes tipe 2 tetapi belum
menjadi DM. Kadar glukosa 2 jam 200 mg / dL atau lebih, dikonfirmasi dengan
mengulangi tes pada hari lain, berarti seseorang memiliki diabetes (National
Diabetes Information Clearinghouse, 2012).
Table 2. OGTT

2-Hour Plasma Glucose Result (mg/dL) Diagnosis

139 and below Normal

Prediabetes
(impaired
140 to 199
glucose
tolerance)

200 and above Diabetes*

5. Gestasional Diabetes
Gestasional diabetes juga didiagnosis berdasarkan pada nilai-nilai glukosa
plasma diukur selama OGTT, sebaiknya dengan menggunakan 100 gram glukosa
dalam cairan untuk ujian. Kadar glukosa darah diperiksa empat kali selama tes. Jika
kadar glukosa darah yang di atas normal setidaknya dua kali selama pengujian,
wanita memiliki gestational diabetes. Tabel 3 menunjukkan hasil di atas normal
untuk OGTT untuk diabetes gestational (National Diabetes Information
Clearinghouse, 2012).
Table 3. Gestational diabetes: Above-normal results for the OGTT

When Plasma Glucose Result (mg/dL)

Fasting 95 or higher

At 1 hour 180 or higher

At 2 hours 155 or higher

At 3 hours 140 or higher

Jika kadar gula darah Anda normal, dokter anda dapat merekomendasikan tes
skrining setiap tiga tahun. Jika Anda memiliki pradiabetes, pengujian lebih lanjut
mungkin diperlukan. Misalnya, dokter harus memeriksa gula darah puasa Anda,
A1C, kolesterol total, kolesterol HDL, low-density lipoprotein (LDL) kolesterol dan
trigliserida setidaknya sekali setahun, mungkin lebih sering jika Anda memiliki
faktor risiko tambahan untuk diabetes. Dokter mungkin juga merekomendasikan tes
mikroalbuminuria tahunan, yang memeriksa protein dalam urin Anda - tanda awal
kerusakan pada ginjal (National Diabetes Information Clearinghouse, 2012).
G. Pencegahan

Berbagai studi menunjukan hubungan yang linier status glikemia denga resiko
penyakit kardiovaskuler. Kelompok prediabetes memiliki resiko terjadinya komplikasi
seperti diabetes. Dalam kaitan terjadinya resiko diabetes dan PKV pada kelompok
prediabetes, ternyata TGT lebih terkait dengan kedua resiko tersebut disbanding dengan
GPT. Diperlukan langkah pencegahan yang segera untuk menurunkan jumlah penderita
prediabetes, DMT2 dan PKV yang terkait diabetes (Meddy Setiawan, 2011). Langkah-
langkah pencegahan meliputi:

1. Intervensi gaya hidup


Modifikasi gaya hidup merupakan bagian utama terapi dan diberikan pada
semua pasien dan harus diingat pada setiap kunjungan pasien. Gaya hidup
merupakan pendekatan pengelolaan fundamental yang dapat mencegah atau
menunda berkembangnya prediabetes menjadi diabetes, serta menurunkan resiko
penyakit mikrovaskular dan makrovaskular. Intervensi gaya hidup memperbaiki
semua faktor resiko diabetes dan komponen sindrom metabolik, obesitas, hipertensi,
dislipidemia dan hiperglikemia. Pasien diabetes seharusnya menurunkan berat badan
5-10% dan mempertahankannya secara berkelanjutan. Penurunan BB yang moderat
tersebut mengahsilkan penurunan masa lemak, tekanan darah, glukosa, kolesterol
(LDL) dan trigliserida. Aktifitas jasmani yang direkomendasikan adalah aktifitas
jasmani intensitas sedang yang teratur 30-60 menit perhari, paling sedikit 4 hari
dalam satu minggu (Meddy Setiawan, 2011).
Diit yang dianjurkan adalah pembatasan kalori, peningkatan asupan serat, dan
pembatasan karbohidrat. Khusus untuk penderita hipertensi diit yang disarankan
adalah asupan garam yang dikurangi dan pembatasan alkohol (Meddy Setiawan,
2011).
2. Intervensi Farmakologis
Intervensi farmakologis untuk pencegahan DM biasanya direkomendasikan
sebagai intervensi sekunder yang diberikan setelah atau bersama-sama dengan
intervensi modifikasi gaya hidup. Jika dengan intervensi gaya hidup belum terjadi
penurunan BB maka harus dipertimbangkan dimulainya penggunaan obat (Meddy
Setiawan, 2011)
a. Metformin
Alasan penggunaan metformin sebagian besar berdasar pada catatan
keamanan obat iniyang telah dipergunakan40 tahun, namun demikian,
metformin tidak direkomendasikan untuk semua orang dengan TGT. Metformin
dapat menyebabkan asidosis laktat (gangguan iskemia pada ginjal dan hepar).
Metformin juga kurang berperan dalam pencegahan DM pada orang usia tua >
60 tahun. Keterbatasan metformin juga disebakan adanya efek samping saluran
pencernaan yang bisa diatasi dengan peningkatan dosis secara bertahap (Meddy
Setiawan, 2011).
b. Acarbose
Acarbose bekerja dengan cara menghalangi enzim yang mencerna
karbohidrat. Pada studi STP NIDDM, dalam follow up 3,3 tahun, acarbose
menurunkan resiko DM sebesar 25% dan resiko penyakit kardiovaskular
sebesar 31% ( dibandingkan 19% placebo) sehingga membatasi penggunaannya
untuk pencegahan DM. Studi STP NIDDM merekomendasikan penggunaan
acarbose pada orang yang toleran dengan efek samping saluran pencernaan
untuk pencegahan DM dan resiko kardiovaskular. Acarbose juga menurunkan
kadar lipid terutama kadar lipid dan trigliserida saat puasa sebesar 15%.
Acarbose juga menurunkan aterogenisitas dari LDL pada pasien dengan TGT
(Meddy Setiawan, 2011).

c. Orlistat
Orlistat adalah sebuah obat yang bekerja dengan mekanisme menghalangi
enzim yang memecah trigliserida didalam saluran cerna. Hasil dari sebuah studi
menunjukan orlistat dapat menurunkan BB sebesar 3-5 kg dalam 6 bulan, yang
dapat dipertahankan dalam waktu 4 tahun. Pengobatan pada subjek TGT yang
obesitas denga orlistat sebagai gaya hidup dapat menurunkan resiko terjadinya
DMT2 (Meddy Setiawan, 2011).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
2. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi
insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja
yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
3. Aktivitas/ Istirahat
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
4. Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas,
ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
5. Integritas Ego
Stress, ansietas
6. Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
7. Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus,
penggunaan diuretik.
8. Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan
penglihatan.
9. Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
10. Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
11. Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan gangguan toleransi
glukosa darah
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake makanan yang kurang.
3. Obesitas berhubungan dengan kelebihan nutisi dari kebutuhan tubuh
4. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Proses perjalanan penyakit
5. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan diuresis osmotic
6. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran
darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
7. Resiko terjadi gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren
pada ekstrimitas.
8. Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.
9. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan Kurang terpapar informasi

C. Intervensi
1. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan gangguan toleransi
glukosa darah
Tujuan : kadar glukosa darah dalam batas normal
Kriteria hasil :
a. Klien dan keluarga dapat mematuhi terapi
b. Klien dan keluarga mampu mengontrol glukosa darah secara mandiri
Intervensi:
a. Identifikasi kemungkinan penyebab Hiperglikemia
Rasional : Mengetahui penyebab keluhan yang sedang di derita klien
b. Monitor kadar glukosa darah
Rasional : Mengetahui kondisi glukosa dalam darah apakah mengalami
peningkatan ataupun penurunan
c. Monitor tanda dan gejala hiperglikemia
Rasional : Tanda-tanda seperti poliuria, polidipsia,dan polifagia dapat
menyebabkan tingkat keletihan berlebih pada tubuh klien karena pengontrolan
fungsi tubuh yang tidak sesuai
d. Konsultasi medis jika tanda gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk
Rasional : Keadaan gawat hipergilkemi harus segera di tangani dengan tepat
e. Anjurkan monitor kadar glukosa darah mandiri
Rasional : Agar dapat memanajemen diabetes yang dialami oleh klien dan
mengetahui cara penanganan terhadap
f. Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga
Rasional : Diet dan olahraga yang tepat dapat membuat kadar gula darah menjadi
normal
g. Ajarkan pengelolaan diabetes (mis. Penggunaan insulin, obat oral)
Rasional : Klien harus mengetahui cara pengelolaan diabetes secara mandiri agar
keadaan hiperglikemia tidak semakin memburuk
h. Kolaborasi pemberian Insulin
Rasional : OHO dan Isulin dapat menurunkan kadar glukosa darah
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake makanan yang kurang.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Berat badan dan tinggi badan ideal.
b. Pasien mematuhi dietnya.
c. Kadar gula darah dalam batas normal.
d. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.
Intervensi:
a. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien
sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.
b. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.
Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya
hipoglikemia/hiperglikemia.
c. Timbang berat badan setiap seminggu sekali.
Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan
merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ).
d. Identifikasi perubahan pola makan.
Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang
ditetapkan.
e. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet
diabetik.
Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam
jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat
mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

3. Obesitas berhubungan dengan kelebihan nutisi dari kebutuhan tubuh


Tujuan : berat badan dalam rentang ideal
Kriteria hasil :
a. IMT dalam ketegori ideal
b. Terjadi penurunan berat badan
c. Klien mengerti bagaimana cara menjaga pola makan dan berat bedan
Intervensi :
a. Identifikasi kebutuhan kalori dan nutrien
Rasional : Mengetahui jumlah nutrisi yang di perlukan agar nutrsi klien seimbang
b. Monitor berat badan
Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan klien
c. Hitung berat badan ideal klien dan fasilistasi menetukan target berat badan yang
realistis
Rasional : Berat badan ideal mempengarhui kesehatan klien
d. Jelaskan hubungan asupan makanan, latihan, peningkatan dan penurunan BB
Rasional : Asupan makanan berlebih dapat menyebabkan peningkatan kadar
glukosa darah
e. Jelaskan kondisi medis yang dapat mampengaruhi berat badan
Rasional : Mengetahui penyakit terkait kondisi pasien
f. Jelaskan kebiasaan, tradisi dan budaya, serta faktor genetik yang mempengaruhi
BB
Rasional : Gaya hidup dan faktor herediter dapat mempengaruhi terjadinya
penyakit
g. Jelaskan resiko kondisi kegemukan (overweight) dan kurus (underweight)
Rasional : Mengetahui kemungkinan penyakit yang diderita
h. Anjurkan olahraga sesuai toleransi
Rasional : Olahraga dapat menurunkan kadar glukosa darah
i. Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap kesehatan
Rasional : Pola diet sesuai anjuran dapat menurunkan berat badan sehingga klien
tidak mengalami obesitas dan peningkatan glukosa darah
j. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutukan, jika perlu
Rasional : nutrisi yang tepat sesuai anjuran ahli gizi dapat memenuhi kebutuhan
asupan yang dibutuhkan tubuh

4. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Proses perjalanan penyakit


Tujuan : gangguan pola tidur teratasi
Kriteria hasil : Klien tidak mengeluh kurang tidur karena sering kencing dan tidak
merasa lelah
Intervensi :
a. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
Rasional : Memantau pola tidur klien
b. Identifikasi faktor penganggu tidur (fisik dan/atau psikologis)
Rasional : Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tidur klien terganggu
c. Identifikasi makanan dan minuman yang menganggu tidur (misal: kopi, teh,
alkohol, makan mendekati waktu tidur, minum banyak air sebelum tidur)
Rasional : Apabila klien makan mendekati waktu tidur serta minum banyak air
sebelum tidur dapat menyebabkan klien sering melakukan eliminasi
d. Identifikasi obat tidur yang di konsumsi
Rasional : Obat tidur yang tidak tepat dapat menyebabkan klien susah untuk tidur
atau bahkan tidur yang terlalu lama
e. Modifikasi lingkungan (misal: pencahayaan, kebisingan, suhu, dan tempat tidur)
Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat membuat klien cepat untuk beristirahat
f. Batasi waktu tidur siang, jika perlu
Rasional : Apabila klien terlalu lama tidur siang hari, maka ketika malam hari
klien akan susah atau tidur lebih larut malam untuk istirahat malam
g. Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
Rasional : Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan stres
sebelum tidur yaitu melakukan Doa sebelum tidur
h. Tetapkan jadwal tidur rutin
Rasional : Kebiasaan tidur yang baik dapat membantu proses pemulihan kondisi
klien
i. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (misal: pijat, pengaturan
posisi, terapi akupresure)
Rasional : Melakukan pijat dan pengaturan posisi dapat meningkatkan rasa rileks
pada klien
j. Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur-
terjaga
Rasional : Membantu klien agar klien dapat beristirahat
k. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
Rasional : Agar klien dan keluarga memahami tentang pentingnya waktu istirahat
tidur yang baik
l. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
Rasional : Agar klien membiasakan diri memiliki waktu istirahat yang cukup
m. Anjurkan menghindari makanan/minuman yang menganggu waktu tidur
Rasional : Sering makan dan minum pada malam hari dapat meningkatkan
eliminasi pada malam hari
n. Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung supresor terhadap tidur
REM
Rasional : Mempermudah pasien tidur dan memenuhi kebutuhan tidur pasien
o. Anjurkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (misal:
psikologis, gaya hidup, sering berubah shift bekerja)
Rasional : Agar klien dapat mengatur waktu untuk menyempatkan beristirahat
tidur
p. Anjurkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologis lainnya
Rasional : Relaksasi nonfarmakologis dapat mengurangi dampak pemakaian obat
kedalam tubuh secara terus menerus

5. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan dieresis osmotic.


Tujuan : kebutuhan cairan dapat terpenuhui.
Kriteria hasil :
a. Nadi perifer dapat diraba
b. Turgor kulit dan pengisian kapiler baik
c. Kadar elektrolitdalam batas normal
Intervensi :
a. Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine.
Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal
dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
b. Ukur berat badan setiap hari.
Rasional : memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang
sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
c. Pertahankan untuk memberikan cairanpaling sedikit 2500 ml/hari dalam batas
yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat
diberikan.
Rasional : mempertahankan dehodrasi/volume sirkulasi.

6. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran


darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal.
Kriteria Hasil :
a. Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler
b. Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis
c. Kulit sekitar luka teraba hangat.
d. Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah.
e. Sensorik dan motorik membaik
intevensi:
a. Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi
Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah.
b. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah :
Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu
istirahat ), hindari penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan
bantal, di belakang lutut dan sebagainya.
Rasional : meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi
oedema.
c. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator,
pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ).
Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah
sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah
secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, HBO untuk
memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren.

7. Resiko terjadi Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren


pada ekstrimitas.
Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka.
Kriteria hasil :
a. Berkurangnya oedema sekitar luka.
b. pus dan jaringan berkurang
c. Adanya jaringan granulasi.
d. Bau busuk luka berkurang.
intervensi:
a. Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.
Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan
membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
b. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik
menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel
pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.
Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka
dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul, sisa
balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.
c. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus
pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik.
Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus
untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan,
pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit.
8. Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal.
Kriteria Hasil :
a. Pergerakan paien bertambah luas
b. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan (duduk, berdiri,
berjalan).
c. Rasa nyeri berkurang.
d. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan
kemampuan.
intervensi:
a. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.
Rasional : Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.
b. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar
gula darah dalam keadaan normal.
Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif
dalam tindakan keperawatan.
c. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui
kemampuan.
Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik.
d. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi.
e. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter (pemberian analgesik) dan tenaga
fisioterapi.
Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk
melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.
9. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan Kurang terpapar informasi
Tujuan : defisit pengetahuan teratasi
Kriteria hasil : Klien dan keluarga dapat memahami tentang kondisi penyakitnya dan
penanganannya
Intervensi :
a. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Rasional : Mengevaluasi tingkat pemahaman klien untuk menerima pendidikan
kesehatan
b. Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatan dan menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih dan sehat
Rasional : Mengidentifikasi cara agar penkes dapat di pahami dengan baik
c. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
Rasional : Agar memudahkan perawat menyampaikan informasi kesehatan
d. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
Rasional : Agar antara perawat dan klien dapat menyediakan waktu yang tepat
e. Berikan kesempatan untuk bertanya
Rasional : Agar klien maupun keluarga klien dapat menanyakan lebih jelas
mengenai informasi masalah kesehatan yang di alami klien
f. Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
Rasional : Agar klien dapat menjauhi faktor yang memperburuk kesehatan klien
g. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
Rasional : PHBS merupakan hal yang wajib di lakukan oleh semua orang
h. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih
dan sehat
Rasional : Agar klien serta keluarga klien memiliki kebiasaan wajib melakukan
PHBS
i. Jelaskan hubungan asupan makanan, latihan, peningkatan, dan penurunan BB
Rasional : Asupan makanan yang seimbang, latihan fisik rutin, dan penurunan BB
dapat mengontrol berat badan klien
j. Jelaskan kondisi medis yang dapat mempengaruhi BB
Rasional : Klien dengan bedat badan tidak normal sangat berisiko mengalami
komplikasi jangka panjang maupun jangka pendek
k. Jelaskan risiko kegemukan (overweight) dan kurus (underweight)
Rasional : Salah satu risiko overweight dapat memperparah keadan prediabetes
klien, dan salah satu keadaan underweight dapat beresiko tinggi mengalami cidera
l. Jelaskan kebiasaan, tradisi dan budaya, serta faktor genetik yang mempengaruhi
BB
Rasional : Indonesia memiliki bermacam-macam suku, bahasa, adat istiadat,
budaya, makanan khas, dll sehingga hal tersebut menjadi kebiasaaan yang akan
sulit di hilangkan. Tetapi klien dan keluarga di anjurkan agar mengontrol makanan
dan BB
m. Ajarkan cara mengelola BB yang efektif
Rasional : Agar BB klien menurun, klien dapat melakukan PHBS, serta keluhan
klien berkurang dan menurunkan faktor risiko keparahan kondisi klien

D. Implementasi
Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan
yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai
dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan
interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi
yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai
implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan
bagaimana respon pasien.

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini
adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan
dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Setiawan, Meddy. 2011. Prediabetes dan Peran HBA1C dalam Skrining dan
Diagnosis Awal Diabetes Mellitus. Vol 17. Staf pengajar fakultas kedokteran
universitas Muhammadiyah Malang. Diunduh dari URL :
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sainmed/article/view/1087/1169 diakses pada
tanggal 30 Maret 2020.
2. Tjokroprawiro, A. Diabetes Mellitus-Caapita Selecta In Daily Clinical Practice.
(serial online) 2011 (Diakses 2 Maret 2013 ); Diunduh dari URL:
http://penelitian.unair.ac.id/artikel_dosen_diabetes%20mellitus-capita%20selecta
%20in%20daily%20clinical%20practice_39_1716
3. Nasrul E. Dan Sofitri. 2012. Hiperurisemia pada Pra Diabetes. Jurnal Kesehatan
Andalas. Bagian Patologi Klinik FK Unand
4. National Diabetes Information Clearinghouse (NDIC). 2012. Diagnosis of Diabetes
and Prediabetes. (serial online) (Diakses 2 Maret 2013); Diunduh dari URl:
http://diabetes.niddk.nih.gov/dm/pubs/diagnosis/

5. Nasrul E. Dan Sofitri. 2012. Hiperurisemia pada Pra Diabetes. Jurnal Kesehatan
Andalas. Bagian Patologi Klinik FK Unand

6. National Diabetes Information Clearinghouse (NDIC). 2012. Diagnosis of Diabetes


and Prediabetes. Diunduh dari URl:
http://diabetes.niddk.nih.gov/dm/pubs/diagnosis/. Diakses pada tanggal 2 Maret
2020.

7. Setiawan, Meddy. 2011. Prediabetes dan Peran HBA1C dalam Skrining dan
Diagnosis Awal Diabetes Mellitus. Vol 17. Staf pengajar fakultas kedokteran
universitas Muhammadiyah Malang. Diunduh dari URL :
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sainmed/article/view/1087/1169 diakses pada
tanggal 30 Maret 2020.

8. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia :
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta : DPP PPNI.
9. Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta : DPP PPNI.

10. Tjokroprawiro, A. 2011 Diabetes Mellitus-Caapita Selecta In Daily Clinical


Practice. Diunduh dari URL: http://penelitian.unair.ac.id/artikel_dosen_diabetes
%20mellitus-capita%20selecta%20in%20daily%20clinical%20practice_39_1716.
Diakses pada tanggal 30 Maret 2020.