Anda di halaman 1dari 22

PENYUSUNAN DATA DASAR SISTEM INOVASI, DAYA SAING, DAN

KOHESI SOSIAL DAERAH*)


Tatang A. Taufik**)

1. PENDAHULUAN

Sebagai bagian dari proses pembelajaran kebijakan inovasi, maka pemahaman


tentang konteks sistem yang ditelaah, isu kebijakan, faktor-faktor penentu/pendorong, dan
kinerja sistem, serta dinamika proses perkembangan/perubahannya merupakan bagian yang
sangat penting. Ini dilakukan melalui berbagai aktivitas seperti kajian, pemantauan, evaluasi,
studi perbandingan dan benchmarking, pertukaran informasi (termasuk good/best practices),
peer review, dan lainnya.
Namun, hal tersebut dapat dilakukan hanya jika data (dan informasi) pendukung yang
relevan, akurat, tepat waktu, dan berkelanjutan dalam jumlah dan kualitas yang memadai
dapat tersedia dan terakseskan oleh pihak yang berkepentingan. Kebijakan yang “tepat”
sangat ditentukan/berkaitan dengan “konteks” (baik setting, isu, perkembangan, dan timing)
di mana kebijakan tersebut diterapkan dalam mencapai tujuan tertentu. Kriteria kebijakan
yang baik berkaitan dengan konteks aktualnya (baik berdasarkan perkembangan masa lalu,
kekinian, dan masa depan yang perlu diantisipasi, serta “respons” dari stakeholders). Oleh
karena itu, advis kebijakan yang baik berpangkal dari kajian yang baik yang didukung oleh
data faktual yang memadai.
Sangat disadari bahwa ketersediaan data yang memadai berkaitan dengan sistem
inovasi, daya saing dan kohesi sosial di Indonesia (pada tataran nasional maupun daerah)
sangat tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN, terlebih lagi jika
dibandingkan dengan di negara-negara maju. Kesulitan awal dalam mempelajari bagaimana
kajian, pemantauan, evaluasi, studi pebandingan dan benchmarking, pertukaran informasi,
ataupun peer review, dapat dilakukan dengan baik berpangkal antara lain dari keterbatasan
ketersediaan data relevan yang memadai (dalam jumlah dan kualitasnya).
Sehubungan dengan itu, penulis memandang sangat penting langkah/upaya-upaya
yang perlu dilakukan oleh banyak pihak dalam menata basis data yang relevan dalam
konteks sistem inovasi, daya saing, dan kohesi sosial. Hal demikian perlu disadari dan
dilakukan oleh setiap daerah. Dalam kaitan ini, makalah ini mendiskusikan secara singkat
dan menawarkan konsep sederhana tentang prakarsa penataan data dasar yang dinilai
penting untuk segera dilakukan oleh daerah berkaitan dengan pengembangan sistem
inovasi, peningkatan daya saing dan kohesi sosial.

*)
Disampaikan dalam Seri Forum Diskusi “GERBANG INDAH NUSANTARA (Gerakan Membangun Sistem
Inovasi dan Daya Saing Daerah di Seluruh Wilayah Nusantara)” bertema “Koordinasi Kebijakan Inovasi
Nasional dan Daerah” di Jakarta, 13 – 14 Desember 2005.
**)
Dr. Tatang A. Taufik, bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

2. TINJAUAN LITERATUR

2.1 Data Relevan Sistem Inovasi Daerah

Sistem inovasi pada dasarnya merupakan suatu kesatuan dari sehimpunan aktor,
kelembagaan, hubungan interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah
perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktek
baik/terbaik) serta proses pembelajaran (Taufik, 2005). Gambar 1 mengilustrasikan suatu
sistem inovasi.

Permintaan (Demand)
Konsumen (permintaan akhir)
Produsen (permintaan antara)

Sistem Politik Sistem Pendidikan


Sistem Industri
dan Litbang

Pemerintah Pendidikan dan Perusahaan Besar


Pelatihan Profesi Intermediaries
Lembaga Riset
Penadbiran Pendidikan Tinggi Brokers UKM “Matang/
(Governance) dan Litbang Mapan”

Litbang Pemerintah PPBT


Kebijakan RPT

Supra- dan Infrastruktur Khusus


Standar dan Dukungan Inovasi HKI dan Perbankan
Norma dan Bisnis Informasi Modal Ventura

Framework Conditions
Kondisi Umum dan Lingkungan Kebijakan pada Tataran Internasional, Pemerintah Nasional, Pemerintah
Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota
Kebijakan Industri/ Budaya
Kebijakan Ekonomi Kebijakan Keuangan
Sektoral • Sikap dan nilai
• Kebijakan ekonomi makro
• Keterbukaan terhadap
• Kebijakan moneter Kebijakan Promosi & Infrastruktur Umum/ pembelajaran dan
• Kebijakan fiskal Investasi Dasar perubahan
• Kebijakan pajak
• Kecenderungan terhadap
• Kebijakan perdagangan Alamiah : Inovasi dan kewirausahaan
• Kebijakan persaingan SDA (Natural Endowment) • Mobilitas

Catatan : RPT = Riset dan Pengembangan Teknologi (Research and Technology Development)
PPBT = Perusahaan Pemula (Baru) Berbasis Teknologi.

Gambar 1. Skematik Generik Sistem Inovasi.

Seperti juga telah penulis diskusikan dalam tulisan tersebut, bahwa terdapat 5 (lima)
tekanan perhatian yang umumnya diberikan pada bahasan tentang sistem inovasi dalam
literatur, yaitu:
1. Basis sistem sebagai tumpuan bagi proses inovasi beserta difusi inovasi. Hal ini
berkaitan misalnya dengan segi/aspek berikut (yang umumnya saling terkait satu
dengan lainnya):
 Tingkat analisis: mikro, meso dan makro.

Tatang A. Taufik 2
 Segi/aspek teritorial dan/atau administratif: misalnya sistem inovasi pada tataran
supranasional (beberapa negara), nasional, dan sub-nasional (atau daerah). 1
 Aspek bidang atau sektor: sistem inovasi sektoral dan klasterisasi.
 Basis aktivitas utama: misalnya sistem iptek (litbang) dan sistem produksi.
2. Aktor dan/atau organisasi (lembaga) yang relevan dengan perkembangan inovasi (dan
difusinya). Aktor tersebut dapat menjalankan suatu atau kombinasi peran berikut:
 Pelaku yang terlibat relatif ”langsung”.
 Pelaku yang terlibat relatif ”tak langsung”.
 Penentu/pembuat kebijakan.
 Pendukung dalam proses kebijakan inovasi.
3. Kelembagaan, hubungan/keterkaitan dan interaksi antarpihak yang mempengaruhi
inovasi dan difusinya. Tekanan diskusi biasanya diberikan pada isu-isu kelembagaan/
institusional (dalam arti luas) seperti norma/nilai-nilai, kerangka dasar kebijakan,
organisasi dan pengorganisasian dan/atau hubungan dalam rantai nilai (termasuk
misalnya mekanisme transaksi) dalam sistem inovasi, baik yang bersifat bisnis maupun
non-bisnis. Kajian dalam hal ini dipandang semakin penting karena sangat berkaitan
dengan isu-isu kegagalan pasar dan sistemik yang sangat mempengaruhi keberhasilan
sistem inovasi.
4. Fungsionalitas, yaitu menyangkut fungsi-fungsi utama sistem inovasi (dari elemen,
interaksi dan proses inovasi dan difusi). Terkait dengan hal ini adalah isu proses
pembelajaran yeng terjadi dalam sistem, yang kini semakin menonjol dalam diskusi-
diskusi tentang sistem inovasi.
5. Aktivitas, yaitu menyangkut upaya/proses atau tindakan penting dari proses inovasi
dan difusi. Penadbiran inovasi yang baik dipandang semakin penting untuk
mengembangkan aktivitas komprehensif namun lebih fokus, yang semakin
terkoordinasi, dan dikembangkan bertahap sejalan dengan perkembangan dan
konteksnya, serta diperbaiki secara terus-menerus.

Untuk kebutuhan data/indikator, berbagai upaya umumnya mencermati sistem inovasi


didasarkan atas aktivitas dalam sistem inovasi sebagai suatu sistem produktif. Cara ini lebih
memberikan landasan bagi operasionalisasi konsep, klasifikasi/kategorisasi dan
pengukurannya. OECD misalnya melalui beberapa proyek dan dokumen panduannya (lihat
misalnya Frascati Manual, OECD, 19932) mendefinisikan aktivitas inovatif sebagai
serangkaian aktivitas ilmiah (saintifik), teknologi, organisasional, finansial, dan komersial
sebagai bagian dari proses inovasi dan/atau yang menghasilkan inovasi. Aktivitas inovatif
tersebut pada dasarnya terdiri atas:
 Kegiatan litbang;

1
Ada perbedaan istilah yang digunakan. Beberapa menyebut misalnya “sistem inovasi nasional/daerah
(national/regional innovation system)”, ada juga yang menggunakan istilah “sistem nasional/daerah inovasi
(national/regional system of innovation)” untuk maksud yang sama. Dalam hal ini, penulis lebih condong
memilih menggunakan istilah “sistem inovasi nasional/daerah.” Semata karena pertimbangan semantik
dan kelajiman penggunaannya dalam sebagian besar literatur tentang sistem inovasi.
2
Lihat juga seri dokumen Frascati Family: misalnya OECD (1990, 1995, 1997).

3
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

 Pengembangan peralatan dan teknik/rekayasa industri (tooling-up and industrial


engineering);
 Pemulaan manufaktur dan pengembangan pra-produksi (manufacturing start-up and
preproduction development);
 Pemasaran produk baru (marketing for new products);
 Akuisisi disembodied technology (acquisition of disembodied technology);
 Akuisisi embodied technology (acquisition of embodied technology);
 Desain (design).

Sebagai suatu sistem produktif, sistem inovasi dapat pula digambarkan sebagai
rangkaian “input-proses-output.” Karena itu, sistem inovasi memerlukan sumber daya
sebagai masukan (input) bagi sistem, dan menghasilkan keluaran (output) dari sistem.
Dalam pendataan dan penyusunan indikator, sumber daya sistem tersebut biasanya
ditekankan pada pengukuran sumber dana dan manusia (SDM) yang terlibat. Sumber dana
pemerintah dan swasta serta pendanaan bersama merupakan di antara perhatian paling
umum yang diberikan dalam penghimpunan data statistik.
Sementara itu, pengumpulan data yang terkait dengan keluaran sistem inovasi banyak
dilakukan pada kelompok data yang mencerminkan dan/atau terkait dengan hasil inovasi,
difusi, proses pembelajaran, serta dimensi sosial ekonomi yang terkait dengan pengetahuan.
Pendekatan yang ditawarkan oleh Porter dan Stern (2001) merupakan di antara upaya
yang dapat membantu konseptualisasi dan operasionalisasi dalam penataan data yang
terkait dengan sistem inovasi. Dalam kaitan ini, Porter dan Stern (2001) mengembangkan
konsep ”kapasitas inovatif.” Mereka mendefinisikan “kapasitas inovatif nasional/KIN”
(national innovative capacity/NIC) sebagai “potensi suatu negara (sebagai entitas ekonomi
maupun politik) untuk menghasilkan aliran inovasi relevan yang komersial.” Hal ini tidak saja
mencerminkan tingkat inovasi yang terwujudkan, melainkan juga kondisi-kondisi
fundamental, investasi, dan pilihan-pilihan kebijakan yang menciptakan lingkungan yang
mendukung bagi inovasi di lokasi tertentu (tingkat daerah/lokal) atau suatu negara.
Menurut “klaim” mereka, model ini pada dasarnya merupakan kerangka yang
mensintesiskan dan memperluas tiga teori/konsep sebelumnya, yaitu:
 ideas-driven endogenous growth yang diajukan oleh Romer (melalui makalahnya yang
berjudul Endogenous Technological Change, 1989, 1990),
 cluster-based national industrial competitive advantage pemikiran Porter (dalam
bukunya yang berjudul The Competitive Advantage of Nations, 1990), dan
 national innovation systems yang disampaikan oleh Nelson (dalam bukunya yang
berjudul National Innovation Systems: A Comparative Analysis, 1993).

Porter dan Stern menekankan tiga elemen luas yang mencerminkan bagaimana suatu
lokasi membentuk kemampuan perusahaan di suatu lokasi tertentu untuk berinovasi di
tingkat global, yaitu: infrastruktur inovasi umum (common innovation infrastructure),
lingkungan spesifik-klaster untuk inovasi (the cluster-specific environment for innovation),
dan kualitas keterkaitan (the quality of linkages) (lihat ilustrasi Gambar 2).

Tatang A. Taufik 4
Tiga elemen luas yang mencerminkan bagaimana suatu lokasi membentuk kemampuan
perusahaan di suatu lokasi tertentu untuk berinovasi di tingkat global:

Sehimpunan
investasi dan the “four
Infrastruktur Kondisi diamond”
kebijakan Inovasi Umum Spesifik-
Spesifik-Klaster
“terobosan” yang framework.
mendukung inovasi
dalam keseluruhan
ekonomi.

Kualitas
Keterkaitan

Hubungan
timbal-balik

Instrumen Kebijakan Kontekstual

Sumber : Diadopsi dari Porter dan Stern (2001).

Gambar 2. Kapasitas Inovatif Nasional.

Ketiga elemen dasar yang membentuk kapasitas inovatif tersebut secara singkat
adalah sebagai berikut:
1. Infrastruktur inovasi umum (common innovation infrastructure): yang merupakan
sehimpunan investasi dan kebijakan “terobosan” yang mendukung inovasi dalam
keseluruhan ekonomi. Beberapa contoh infrastruktur inovasi umum misalnya adalah:
a. Sumber daya inovasi:
i. Sumber daya manusia dan keilmuan (human and scientific resources atau
science & engineering workforce);
ii. Akses terhadap pendidikan tinggi;
iii. Ketersediaan permodalan/kapital berisiko (risk capital);
iv. Infrastruktur informasi berkualitas tinggi.

b. National “knowledge” stock:


i. Investasi pada riset “dasar”;
ii. Catatan inovasi kumulatif;
iii. Sofistikasi teknologi secara keseluruhan (tingkat sofistikasi teknologi dari
ekonomi.

c. Kebijakan inovasi, merupakan kebijakan yang mempengaruhi kapasitas inovatif:


i. Program bantuan dan subsidi;

5
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

ii. Kebijakan pajak atas litbang (R&D tax policy);


iii. Kebijakan dan pembiayaan pendidikan;
iv. Kebijakan perlindungan kekayaan intelektual;
v. Keterbukaan terhadap perdagangan dan investasi;
vi. Penegakan hukum atas anti-monopoli (persaingan tak sehat).

2. Lingkungan spesifik-klaster untuk inovasi (the cluster-specific environment for


innovation): yang tercerminkan dalam the “four diamond” framework.

3. Kualitas keterkaitan (the quality of linkages): Hubungan antara infrastruktur inovasi


umum dengan lingkungan klaster industri bersifat timbal-balik. Klaster yang kuat akan
turut mendorong berkembangnya infrastruktur dan mendapatkan manfaat darinya.
Beragam organisasi dan jaringan formal maupun informal (kelembagaan kolaborasi)
dapat menghubungkan keduanya.

Dalam kerangka pikir yang serupa dengan konteks sistem inovasi, pengertian
kapasitas inovatif nasional (KIN), yang mencerminkan sistem inovasi pada tataran nasional
ini juga pada dasarnya esensinya dapat diterapkan bagi pengertian kapasitas inovatif daerah
(KID), yang mencerminkan sistem inovasi pada tataran daerah. Walaupun ini bukan berarti
merupakan analogi secara linier.
Dalam kaitan ini, penulis mendefinisikan kapasitas inovatif daerah (KID) sebagai3
”potensi suatu daerah (sebagai entitas ekonomi maupun politik) untuk menghasilkan
aliran inovasi dan difusi yang relevan yang memiliki nilai kontribusi signifikan terhadap
kemajuan daerah yang bersangkutan.”

Dengan demikian pengertian istilah “inovasi” dalam konteks ini memiliki arti luas terkait
dengan kerangka pendekatan “sistem inovasi,” yang mencakup “temuan atau invensi,”
pengembangan dan komersialisasi serta difusi pengetahuan/teknologi baru dan/atau praktik-
praktik baik/terbaik (good/best practices), beserta interaksi multipihak dan aspek proses
pembelajaran (learning process) serta fungsi pendukung lainnya.
Pada dasarnya, infrastruktur inovasi umum sangat berkaitan dengan kapasitas
penyediaan teknologi (pengetahuan) baru atau menghasilkan inovasi, menyampaikan
(alih/transfer) dan komersialisasinya sesuai dengan kebutuhan klaster-klaster industri
setempat dan proyeksi/ kecenderungannya. Di sisi lain, perkembangan/kemajuan klaster
industri sangat berkaitan dengan kemampuan absorpsi teknologi (pengetahuan) yang baru
(termasuk praktik baik) dan proses penciptaan nilai tambah yang kompetitif dalam jaringan
mata rantai nilai klaster industri tertentu serta kualitas lingkungan bisnis ekonomi mikro yang
mendukung bagi klaster industri yang bersangkutan. Sementara itu, kualitas keterkaitan
sangat berkaitan dengan interaksi dan kolaborasi produktif antar- pihak (termasuk kolaborasi
litbang industri-perguruan tinggi dan lembaga litbang, kemitraan publik-swasta, dan
kemitraan antarswasta, serta kolaborasi nasional dan internasional) dan dukungan layanan

3
Pengertian ini adalah dalam perspektif sistemik/kesisteman tentang inovasi.

Tatang A. Taufik 6
dan sumber daya yang sesuai (termasuk misalnya ketersediaan dan kemudahan akses
pembiayaan seperti modal ventura, bank dan lainnya).
Walaupun pendekatan yang diajukan oleh Porter dan Stern bukanlah satu-satunya
yang dapat digunakan dalam meningkatkan pemahaman tentang kondisi sistem inovasi
daerah atau kapasitas inovatif daerah, namun pemikirannya dinilai sangat bermanfaat oleh
banyak pihak.
Kerangka pikir Porter dan Stern ini memberikan tekanan pentingnya konteks “lokalitas”
dalam kapasitas inovatif. Dalam model ini, ditekankan bahwa kepemimpinan inovasi global
merupakan hasil dari pengungkitan/pembangkitan (leveraging) kapasitas inovatif
lokal/daerah terutama melalui operasi dan strategi perusahaan yang efektif dan maju.
Kapasitas inovatif nasional (ataupun daerah) dapat menjadi sia-sia jika tidak ada manajemen
inovasi yang efektif. Kepemimpinan inovasi di suatu daerah merupakan hasil dari
pengintegrasian antara sumber daya dan kapabilitas internal di daerah yang bersangkutan,
dan pemanfaatan atas sumber daya dan kapabilitas eksternal dari daerah lain sekitar, pada
tataran nasional, regional maupun internasional. Sebaliknya, produktivitas litbang
sebenarnya akan bergantung pada lokasi di mana perusahaan beroperasi. Dalam kaitan ini
partisipasi klaster juga berperan sangat penting bagi keberhasilan inovasi.
Dengan kerangka ini, Porter dan Stern juga menunjukkan keterkaitan kuat secara
empiris antara kapasitas inovatif dengan daya saing negara. Kajian yang dilakukan oleh
Porter (lihat beberapa sumber pada Daftar Pustaka), juga menelaah hal ini dalam konteks
”daerah.” Mengukur kapasitas inovatif dari waktu ke waktu dapat memberikan pandangan
tentang dinamika invensi dalam aktivitas ekonomi, negara, atau wilayah geografis tertentu.
Pandangan demikian dapat digunakan oleh pembuat kebijakan, analis industri atau peneliti
akademis untuk memahami perubahan dalam invensi, teknologi dan daya saing dari aktivitas
ekonomi.
Pada tingkat nasional ataupun daerah, kapasitas inovatif dapat memberikan
perbandingan tentang bagaimana aktivitas inventif dan difusi berubah sepanjang waktu, dan
bagaimana hubungannya dengan faktor-faktor pendorong utama invensi dan proses difusi
seperti misalnya akses terhadap pendidikan, perlindungan atas kekayaan intelektual
(intellectual property), atau pemberlakuan regulasi dan hukum atau peraturan perundangan
serta komersialisasi ataupun alih dan difusi teknologi secara umum. Perancangan kebijakan
untuk membantu mendorong invensi, alih/difusi teknologi ataupun menghindari hal-hal yang
bersifat ”disinsentif” dapat memanfaatkan konsep ini.
Kapasitas inovatif menunjukkan tingkat invensi dan difusi pada periode tertentu atau
perbedaan antara beberapa lokasi dari aktivitas perekonomian atau industri tertentu.
Perbandingan antara aktivitas atau industri untuk menentukan kepemimpinan teknologi
ataupun tingkat adopsi/difusi teknologi merupakan salah satu kegunaan konsep ini.
Kecenderungan menurunnya kapasitas inovatif dari aktivitas atau industri tertentu dapat
berfungsi sebagai peringatan dini tentang tantangan atau kesulitan di masa depan.
Kapasitas inovatif juga menunjukkan kemampuan pembelajaran dari/dalam suatu
sistem inovasi. Perbaikan nilai tambah (atau pertambahan nilai) semakin ditentukan oleh
inovasi dan difusi, yang mau tidak mau ”melibatkan” dan karenanya semakin sarat
pengetahuan (knowledge intensive), dalam arti luas. Seperti banyak diungkapkan dalam
literatur (lihat misalnya OECD, 1999), hal ini tidak selalu berarti (atau diartikan) semakin
sarat litbang (R&D intensive). Dinamika proses pembelajaran antarpihak dan modal sosial
lainnya yang berkembang dalam sistem merupakan elemen yang akan sangat penting bagi
perkembangan kapasitas inovatif atau pemajuan sistem inovasi yang bersangkutan. Karena

7
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

itu, interaksi produktif antarpihak semakin dipandang sebagai faktor yang semakin
menentukan keberhasilan sistem inovasi.
Untuk daerah/wilayah geografis tertentu seperti provinsi, kabupaten atau kota, ataupun
lintas daerah, kapasitas inovatif dapat menjadi indikasi penting tentang bagaimana kinerja
atau kemajuan daerah tersebut sebagai sumber invensi dan teknologi baru atau bagaimana
daerah tersebut mengelola sumber daya dan kapabilitasnya untuk memperoleh,
mengembangkan dan memanfaatkan pengetahuan/teknologi dan/atau keahlian dan
keterampilan. Daerah dengan tingkat kapasitas inovatif lebih tinggi sangat berpotensi untuk
berkembang lebih cepat, menarik talenta, dan meningkatkan perdagangan dan pendapatan
masyarakatnya.
Bagi perekonomian modern seperti di negara-negara maju, paten merupakan jenis
data penting yang biasanya digunakan untuk menganalisis kapasitas inovatif. Bagi negara
berkembang, data yang berkaitan dengan ”difusi inovasi” mungkin lebih penting dibanding
dengan kepentingannya bagi negara maju. Konsep kapasitas inovatif juga akan berkaitan
dengan pemanfaatan beragam data ekonomi dan sosial lainnya, termasuk misalnya yang
berkaitan dengan pekerjaan (lapangan kerja), demografis, pendidikan, pendapatan,
infrastruktur, perdagangan, dan lainnya.
Upaya penilaian lain adalah seperti yang dilakukan oleh Bank Dunia dengan konsep
KAM/Knowledge Assessment Matrix [lihat misalnya Chen dan Dahlman (2005)]. Dalam
publikasinya, Bank Dunia menyajikan alat interaktif untuk mengevaluasi kinerja suatu negara
dalam berbagai dimensi, termasuk yang terkait dengan sistem inovasi (lihat
http://www1.worldbank.org/gdln/kam.htm). KAM menggunakan 80 variabel struktural dan
kualitatif untuk mengukur kinerja suatu negara dalam keempat pilar Ekonomi Pengetahuan,
yaitu: Insentif Ekonomi dan Rejim Kelembagaan (Economic Incentive and Institutional
Regime), Pendidikan (Education), Inovasi (Innovation), dan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (Information & Communications Technology). Sembilan belas variabel sistem
inovasi yang digunakan dalam KAM adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Variabel Sistem Inovasi dalam KAM - Bank Dunia.


Gross Foreign Direct Investment as % of GDP Royalty and License Fees Payments ($ mil)
Royalty and License Fees Payments / Mil. Royalty and License Fees Receipts ($ mil)
Pop.
Royalty and License Fees Receipts / Mil. Pop. Science & Engineering Enrolment Ratio (% of
tertiary students)
Researchers in R&D Researchers in R&D / Mil. Pop.
Science Enrolment Ratio (% of tertiary Total Expenditure for R&D as % of GDP
students)
Manuf. Trade as % of GDP University-Company Research Collaboration
Scientific and Technical Journal Articles Scientific and Technical Journal Articles / Mil.
Pop.
Availability of Venture Capital High-Tech Exports as % of Manuf. Exports
Private Sector Spending on R&D Patent Applications Granted by the USPTO
Patent Applications Granted by the USPTO /
Mil. Pop.

Tatang A. Taufik 8
2.2 Data Relevan Daya Saing Daerah

Istilah daya saing (competitiveness) didefinisikan dan dipahami beragam oleh banyak
pihak. Porter (1990) mengomentari perbedaan pandangan tentang daya saing ini sebagai
berikut: ”There is no accepted definition of competitiveness. Whichever definition of
competitiveness is adopted, an even more serious problem has been there is no generally
accepted theory to explain it.” Namun pada intinya terdapat tiga tataran berbeda tentang
daya saing yang perlu dicermati dalam perspektif ekonomi, yaitu: mikro, meso, dan makro.
Simplifikasi dari pengertian daya saing adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 3.
Secara umum, definisi ”mikro” tentang daya saing adalah pengertian yang paling
mudah diterima secara luas oleh banyak pihak. Di sisi lain, definisi ”makro” tentang daya
saing merupakan pengertian yang paling sulit memperoleh ”kesepakatan penafsiran” atau
kesepahaman oleh banyak kalangan. Beberapa bahasan tentang daya saing dapat dipelajari
lebih lanjut antara lain dalam Porter (1990), McFetridge (1995), Schienstock (1999), Porter
dan Stern. (2001), dan Gardiner (2003).4 Upaya penelaahan daya saing yang dikembangkan
di Indonesia antara lain dilakukan oleh KPPOD (Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi
Daerah), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, c.q., P2KTPW5), dan Pusat
Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia (PPSK-BI) yang bekerja sama
dengan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (FE-UNPAD) adalah di antara yang
melakukan hal demikian dewasa ini.

• Beragam definisi ~ perbedaan keberterimaan (acceptability) oleh


berbagai kalangan (misalnya akademisi, praktisi, pembuat kebijakan).
• “Pembedaan” pada beragam tingkatan:
– Perusahaan (mikro) : definisi yang paling “jelas.”
– Industri (meso) : walaupun beragam, umumnya dapat dipahami:
pergeseran perspektif pendekatan “sektoral”  pendekatan “klaster
industri.”
– Ekonomi (makro) : dipandang sangat penting, walaupun masih sarat
perdebatan dan kritik (latar belakang teori).

Kemampuan suatu perusahaan mengatasi


perubahan dan persaingan pasar dalam
memperbesar dan mempertahankan
Mikro ~ Perusahaan keuntungannya (profitabilitas), pangsa pasar,
dan/atau ukuran bisnisnya (skala usahanya)
Negara / Daerah

Memiliki
pengertian Kemampuan suatu industri (agregasi
perusahaan ~ “sektoral”  “klaster
yang Meso ~ Industri industri”) menghasilkan produktivitas yang
berbeda,
lebih tinggi dari industri pesaing asingnya
tetapi saling
berkaitan Kemampuan/daya tarik (attractiveness);
kemampuan membentuk/menawarkan
“Makro” ~ Ekonomi
lingkungan paling produktif bagi bisnis,
menarik talented people, investasi, dan
mobile factors lain, dsb.; dan Kinerja
“Konteks Telaahan” berkelanjutan.
(Perbandingan) / “Tingkatan Analisis” /
Dimensi Teritorial / Dimensi “Sektoral” Rujukan : a.l. Porter & McFetridge (1995)
Spasial

Gambar 3. Simplifikasi Pengertian Daya Saing.

4
Lihat beberapa bahan rujukan dalam Daftar Pustaka.
5
Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah, Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi.

9
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

KPPOD misalnya mengungkapkan daya saing daerah dengan tekanan perhatian pada
“daya tarik investasi di daerah” yang mencermati perkembangan dari tahun ke tahun.
Penelaahan pada dimensi yang lebih umum tentang daya saing daerah dilakukan oleh
PPSK-BI dan FE-UNPAD (hanya dilakukan sekali, lihat Abdullah, et al, 2002). Sementara itu,
P2KTPW – BPPT (lihat misalnya Widayanto, 2003) melakukan kajian daya saing wilayah
dalam perspektif teknologi, yaitu dengan melihat faktor kemampuan dan iklim teknologi.
Teori/onsep tentang (berkaitan dengan) daya saing mengalami perkembangan dari
waktu ke waktu. Secara sederhana, perkembangan teori/konsep tersebut dapat menjadi
dasar bagi pengembangan pemahaman tentang daya saing daerah (seperti diilustrasikan
pada Gambar 4). Mengingat demikian beragam pengertian yang diadopsi tentang istilah
daya saing dan diterapkan dalam upaya-upaya pengukuran/pengumpulan data dan analisis,
maka konsep operasional yang dianut dalam upaya penataan data perlu didefinisikan.

Pandangan Neoklasik Teori Pertumbuhan Baru

Ekonomi Mikro Kemajuan Iptek

Daya
Daya Saing
Saing Pergeseran Pandangan:
Daerah
Daerah
• Pengetahuan/Teknologi/ Inovasi
• Iklim/ Lingkungan Bisnis
• Pasar Tak Sempurna
dan Inovasi
• Global - Lokal
• Daya Tarik
• Kinerja yang Berkelanjutan
Manajemen /
Strategi Bisnis
Globalisasi

Teori Perdagangan

Gambar 4. Perspektif Teoritis Daya Saing Daerah.

Penulis mendefinisikan ”daya saing daerah” yang dimaksud dalam makalah ini adalah
”kemampuan daerah menciptakan/mengembangkan dan menawarkan: iklim/lingkungan
yang paling produktif bagi bisnis dan inovasi; daya tarik atau menarik “investasi,” talenta
(talented people), dan faktor-faktor mudah bergerak (mobile factors) lainnya; serta potensi
berkinerja unggul secara berkelanjutan di suatu daerah.”

Tatang A. Taufik 10
Ditinjau dari tataran analisis yang berbeda, maka istilah daya saing tersebut
memberikan tekanan pengertian yang berbeda namun saling berkaitan. Karena itu, upaya
”memotret” daya saing daerah akan berkaitan dengan konteks untuk tujuan apa dan pada
tataran mana gambaran tersebut diambil (lihat ilustrasi Gambar 5).
Apabila pengertian daya saing dipandang sebagai suatu konsepsi tentang proses
dinamis yang berkembang dari waktu ke waktu, maka tentunya penelaahan pada beberapa
dimensi yang relevan dan sangat penting berkaitan dengan sisi masukan, proses, dan
keluaran terkait dengan daya saing merupakan hal yang penting untuk digali.
Perlu dipahami bahwa upaya untuk menelaah daya saing terus dikembangkan oleh
banyak pihak dan mengungkapkan tekanan dan cakupan yang berbeda. Sebagai ilustrasi,
Porter dan Stern. (2001) menyampaikan bagaimana kerangka kapasitas inovatif dan
kerangka determinan daya saing (the four diamonds framework) digunakan dalam
menganalisis klaster industri tertentu, seperti diilustrasikan pada Gambar 6.

Produk

• SDM
• Kompetensi
• Spesialisasi
Organisasi/Perus. ~ Mikro

• Himpunan SDM & Entitas Organisasi


• Hubungan - Jaringan - Interaksi
• Kolaborasi - Sinergi

SISTEM INOVASI - KLASTER INDUSTRI ~ Meso

Faktor Lokalitas & Konteks Global


DAERAH ~ Makro

Gambar 5. Kerangka dengan Tataran Berbeda tentang Pengertian Daya saing Daerah.

11
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

Inovasi dan Lingkungan


Bisnis
Konteks
Konteksuntuk
untuk
Strategi
Strategi
Perusahaan
Perusahaandan dan
Persaingan
Persaingan

Infrastruktur inovasi umum:


 Perlindungan HKI
 Keterbukaan thd perdagangan dan
investasi
Kondisi
Kondisi  Konteks lokal yang mendorong investasi
Kondisi
Kondisi
Faktor
Faktor pada aktivitas yang terkait dengan inovasi
Permintaan
Permintaan
(Input)
(Input)  Insentif untuk inovasi

Kondisi spesifik klaster:


 Persaingan ketat industri setempat.
Infrastruktur inovasi umum: Infrastruktur inovasi umum:
 SDM berkualitas, terutama adanya  Peraturan lingkungan yang ketat
sejumlah ilmuwan dan insinyur,  Pengadaan pemerintah yang
serta personil manjerial. mendorong inovasi
 Keunggulan dalam riset, termasuk Industri
Industri Kondisi spesifik klaster:
riset dasar. Pendukung
Pendukung Permintaan pelanggan setempat yang
 Ketersediaan risk capital. dan
 Infrastruktur informasi berkualitas
danTerkait
Terkait canggih dan sangat menuntut bagi
produk barang & jasa klaster.
tinggi.  Kebutuhan konsumen yang
Kondisi spesifik klaster: Infrastruktur inovasi umum: mengantisipasi kebutuhan serupa di

Sumber:
Ketersediaan Porter
peneliti (2001).
spesialis yang  Keluasan klaster dari ekonomi. beragam tempat.
berkualitas.
Kondisi spesifik klaster:
 Kehadiran pemasok klaster
setempat.
Sumber : Porter dan Stern (beragam).  Klaster yang memperkuat
komplementaritas & keterkaitan.

Gambar 6. Kapasitas Inovatif dan Kerangka Determinan Daya Saing.

2.3 Data Relevan Kohesi Sosial

Seperti diungkapkan oleh Jeannotte (2003), istilah kohesi sosial bukan merupakan
konsep yang mudah didefinisikan. Ia mengkaji upaya Jane Jenson dan Paul Bernard
(keduanya dari the University of Montreal - Kanada) dalam mengkaji kohesi sosial. Jenson
menawarkan kerangka lima dimensi kohesi sosial yang mencerminkan tingkat kohesi sosial
dalam suatu masyarakat dalam ranking kontinuum pada setiap dimensi. Sementara itu,
Bernard mengungkapkan kondisi yang mendorong kohesi sosial (misalnya seperti yang
diwujudkan dalam kebijakan dan program pemerintah) atau outcome yang teradi dalam
masyarakat berkaitan dengan kebijakan dan program yang diterapkan dalam enam dimensi
(lihat Gambar 7 berikut).

Tatang A. Taufik 12
Jenson’s Five Dimensions of Social Cohesion

Belonging ------------ Isolation


Inclusion ------------ Exclusion
Participation ------------ Non-involvement
Recognition ------------ Rejection
Legitimacy ------------ Illegitimacy

Bernard’s Formal and Substantive Dimensions of


Social Cohesion
FORMAL SUBSTANTIVE

Equality / Inequality Inclusion / Exclusion

Recognition / Rejection Belonging / Isolation

Legitimacy / Illegitimacy Participation / Non-involvement

Sumber : Jeannotte (2003).

Gambar 7. Dimensi Kohesi Sosial.

Jeannotte (2003), juga mengungkapkan dari berbagai riset (antara lain oleh Jenson
dan Bernard), the Social Cohesion Network (Kanada) mengubah pengertian kohesi sosial,
dari “the ongoing process of developing a community of shared values, shared challenges
and equal opportunity within Canada, based on a sense of trust, hope and reciprocity among
all Canadians” kepada definisi yang dinilai lebih memiliki fokus fungsional pada perilaku.
Pengertian kohesi sosial kemudian ditekankan pada kehendak (willingness) para individu
untuk bermira dan bekerjasama pada seluruh tingkatan dalam mencapai tujuan-tujuan
kolektif.

Sementara itu, McCracken (1998) mendefinisikan kohesi sosial sebagai karakteristik


positif suatu masyarakat berkaitan dengan hubungan antar anggota masyarakat yang
bersangkutan (unit-unit dalam masyarakat, termasuk individu, kelompok, asosiasi, dan
wilayah). Konsep abstrak ini dikaitkan dengan kerangka “jaringan”/network (dalam hal ini
“jaringan sosial”) sebagai cara menjelaskan konsep tersebut. Jika kohesi sosial merupakan
hasil dari keterkaitan yang dapat mengikat kelompok dan kelembagaan yang berbeda, maka
“modal sosial” (social capital) dapat diibaratkan sebagai bagian dari lem/perekat keterkaitan
(keterikatan) tersebut.
McCracken juga mengungkapkan tipologi jaringan di mana manusia/masyarakat
biasanya menjadi bagian darinya:
 Diwariskan (inherited) – misalnya karena kelahiran keluarga;

13
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

 Diharuskan (required) – sebagai pembayar pajak (taxpayer);


 Diperlukan untuk mendapatkan penghasilan (necessary to earn income) – pekerja
(worker), investor;
 Diperlukan untuk mengkonsumsi (necessary to consume) – jaringan konsumen
(“consumer” networks), keterkaitan dengan pengecer;
 Sukarela (voluntary) - politis, sosial, perawatan;
 Diperoleh atau dipilih oleh anggota lain (earned or chosen by other members) –
keluarga saat kini, rejim pemerintahan;
 Fisik atau teknologis (physical or technological) - telepon, Internet, pemirsa TV/radio.

Konsep jaringan yang ditawarkan memungkinkan pendangan tentang eksternalitas dari


kohesi sosial sebagai manfaat tambahan yang diperoleh (social benefit) seseorang selain
manfaat pribadi (private benefit) yang menariknya bergabung dalam jaringan sosial. Dalam
konsep ini, modal sosial mencerminkan sifat dari busur/panah atau aliran antara simpul-
simpul atau anggota jaringan.
McCracken selanjutnya juga mendeskripsikan konsep ini dalam upayanya mengkaji
kohesi sosial di Kanada dan mengaitkannya dengan kinerja ekonomi Kanada, dengan
menelaah beberapa dimensi berikut:
 Dimensi ketenagakerjaan
 Eksklusi sosial
 Distribusi pendapatan
 Kesaling-percayaan (trust)
 Keanggotaan asosiasi
 Penonton TV
 Sirkulasi surat kabar
 Pemungutan suara
 Keragaman kelompok etnis
 Jumlah pengacara.

Sementara itu, kinerja ekonomi ditekankan pada dimensi berikut:


 Pertumbuhan ekonomi (economic growth)
 Pengangguran (unemployment)
 Kinerja investasi (investment performance)
 Pendapatan yang dapat dibelanjakan (real disposable income)
 Inflasi
 Indeks kesejahteraan manusia (economic well-being index).

Tatang A. Taufik 14
3. PRAKARSA AWAL PENATAAN DATA DI DAERAH

Data pada dasarnya merupakan abstraksi tentang fakta berkaitan dengan hal tertentu.
Sebagai prakarsa pada tahap awal, upaya penataan data di daerah disarankan untuk
diarahkan dan ditekankan pada hal yang dinilai sangat penting bagi kepentingan daerah dan
pembandingan.
Dalam makalah ini, yang dimaksud dengan indikator adalah atribut atau faktor yang
(dapat) dikuantifikasi yang menjadi proksi (pendekatan) tentang “perilaku, sifat atau kinerja”
tertentu dari sesuatu yang ditelaah. Dalam hal ini penelaahan difokuskan pada sistem
inovasi dan daya saing daerah. Dalam hal ini, penetapan indikator dan pengukurannya
dianjurkan untuk sedapat mungkin memenuhi prinsip mendasar berikut:
1. Mencerminkan hal yang relevan, penting, dan bermanfaat bagi proses
pembelajaran;
2. Menunjukkan hal (atribut, karakteristik, kinerja) yang spesifik dan dapat dipahami;
3. Merupakan besaran yang dapat diukur (secara kuantitatif ~ nominal, ordinal,
rasio/interval);
4. Secara realistis datanya dapat tersedia (disediakan) dan dapat diakses (dapat
diperoleh);
5. “Terkait” dengan waktu tertentu dan pengukurannya dapat diperoleh dalam
waktu/tempo yang dapat diterima.

3.1 Profil Inovasi Daerah

Dengan mempertimbangkan kenyataan kelemahan data di Indonesia hingga saat kini,


upaya pendataan yang terkait dengan sistem inovasi perlu dimulai dengan konsep yang
secara operasional dapat diterapkan sebagai langkah awal. Hal ini dapat dilakukan dengan
menyusun suatu profil inovasi daerah yang pada dasarnya mencakup data/indikator tertentu
yang mulai mencerminkan perkembangan sistem inovasi daerah.
Profil inovasi daerah menggambarkan bagaimana kapasitas inovatif suatu daerah.6
Data yang berkaitan dengan profil inovasi daerah dinilai semakin penting untuk melengkapi
dokumen “daerah dalam angka” yang umumnya telah diterbitkan secara reguler oleh setiap
daerah. Profil demikian tidak saja penting sebagai gambaran/potret diri daerah yang
bersangkutan di era pengetahuan tetapi juga sebagai bahan evaluasi/pemantauan tentang
capaian-capaian oleh daerah dalam bidang yang sangat penting bagi pewujudan
kesejahteraan masyarakat di tengah dinamika perubahan dan tantangan global.
Profil inovasi yang perlu mulai dikembangkan oleh daerah antara lain mencakup
beberapa data (“ukuran/indikator”) penting tentang masukan (input), aktivitas, dan keluaran
(output) berkaitan dengan sistem inovasi (inovasi dan difusi serta pembelajaran) di daerah.

6
Dalam hal ini yang dimaksud Kapasitas Inovatif Daerah adalah potensi untuk menghasilkan inovasi dan
mendifusikannya. Hal ini tidak hanya inovasi yang terwujud, melainkan juga kondisi-kondisi fundamental,
investasi, dan kebijakan yang menciptakan lingkungan yang mendukung terjadinya inovasi dan difusinya.

15
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

Data tentang masukan (input) berkaitan dengan data/indikator yang menunjukkan


(atau dapat membantu memahami gambaran tentang) potensi atau dukungan:
1. ketersediaan sumber daya manusia,
2. ketersediaan sumber dana (termasuk misalnya pembiayaan litbang oleh pemerintah
dan swasta di daerah, serta pembiayaan bisnis lembaga bank dan non bank), dan
3. ketersediaan infrastruktur iptek (lembaga litbang, laboratorium, perguruan tinggi).

Data aktivitas berkaitan dengan indikator yang menunjukkan (atau dapat membantu
memahami gambaran tentang) aktivitas/proses yang dilakukan oleh para aktor atau
keterkaitan antaraktor dalam sistem inovasi. Sebagai contoh adalah kerjasama litbang,
kegiatan litbang kolektif, atau aktivitas kolaboratif lainnya yang relevan yang dilakukan oleh
para aktor, yang penting bagi kemajuan/perkembangan dalam sistem inovasi daerah.
Sementara itu, data keluaran (output) berkaitan dengan indikator yang menunjukkan (atau
dapat membantu memahami gambaran tentang) capaian yang telah dihasilkan, yang bersifat
“langsung, antara ataupun merupakan dampak” yang penting bagi kemajuan/perkembangan
sosial ekonomi daerah.
Upaya penataan data demikian pada dasarnya merupakan langkah awal yang sangat
penting untuk mengetahui dan mengembangkan profil inovasi daerah. Pada tahapan
berikutnya setiap daerah dapat mengembangkannya lebih lanjut lagi.

3.2 Profil Daya Saing dan Kohesi Sosial Daerah

Kajian tentang daya saing dalam tataran internasional telah banyak dilakukan.
Sementara itu, beberapa pihak juga telah mulai melakukan kajian tentang daya saing
daerah, walaupun masih terbatas. Walaupun mungkin saja kajian-kajian tersebut
mengandung kelemahan/kekurangan, namun sebagai langkah awal, daerah dapat
memanfaatkan hasil-hasil kajian tersebut, terutama yang dapat memberikan gambaran
”posisi” daerah yang bersangkutan dibandingkan dengan daerah lainnya.
Selain itu, beberapa data/informasi yang berkaitan dengan indikator yang menunjukkan
(atau dapat membantu memahami gambaran tentang) daya saing daerah yang penting juga
perlu mulai dikembangkan sebagai tahap awal.
Yang dimaksud dengan daya saing daerah di sini pada intinya adalah kemampuan
daerah menciptakan/ mengembangkan dan menawarkan :
 iklim/lingkungan yang paling produktif bagi bisnis dan inovasi,
 daya tarik atau menarik “investasi,” talenta (talented people), dan faktor-faktor mudah
bergerak (mobile factors) lainnya, serta
 potensi berkinerja unggul secara berkelanjutan.

Sementara itu, yang dimaksud dengan kohesi sosial dalam hal ini identik dengan
sebagaimana dingkapkan oleh McCracken (1998) adalah karakteristik positif suatu
komunitas/masyarakat berkaitan dengan hubungan antar anggota masyarakat yang
bersangkutan (unit-unit dalam masyarakat, termasuk misalnya individu, kelompok, asosiasi).

Tatang A. Taufik 16
3.3 Data Dasar Daerah

Patut diakui bahwa menghimpun/menyusun data (dan indikator) yang berkaitan


dengan profil inovasi (yang mencerminkan sistem inovasi), daya saing dan kohesi sosial
daerah bukan hal yang mudah. Namun kelemahan data demikian disadari merupakan salah
satu kelemahan umum (dan mendasar) yang ditemui baik di tingkat nasional maupun
daerah. Oleh karena itu, prakarsa penataan basis data merupakan salah satu agenda sangat
penting yang perlu dilakukan oleh setiap daerah dalam menumbuhkembangkan sistem
inovasi daerahnya masing-masing. Ia merupakan bagian penting dalam tahapan awal bagi
daerah dalam berstrategi dan merumuskan langkah-langkah pragmatis/operasional
pengembangan sistem inovasi daerah maupun dalam proses evaluasi.
Untuk tujuan pengembangan prakarsa penataan basis data, Taufik (2005a)
mendiskusikan beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh (sebagai bahan masukan
bagi) daerah. Sebagai gambaran umum, data yang dinilai perlu segera dihimpun oleh daerah
antara lain meliputi berikut ini:7
1. Sumber daya manusia yang memiliki keterampilan (jumlah penduduk yang
berpendidikan di atas SMU).
2. Rata-rata lama sekolah (untuk penduduk kelompok usia di atas 15 tahun).
3. Rasio pendaftaran kasar pendidikan tinggi di bidang sains dan enjineering (%).
4. Jumlah peneliti dan/atau perekayasa.
5. Total anggaran litbang pemerintah daerah (dan pemerintah pusat dan propinsi).
6. Pengeluaran swasta untuk kegiatan litbang.
7. Dana pemerintah yang digunakan oleh pihak lain (dana extramural).
8. Kolaborasi riset antara universitas dan/atau lembaga litbang dengan perusahaan atau
pihak lain.
9. Keuangan di daerah.
10. Ketersediaan modal ventura, dalam hal ini besarnya dana yang disalurkan untuk
penelitian.
11. Infrastruktur. Ini terutama menyangkut data:
 Sambungan telepon.
 Pengguna komputer.
 Pengguna internet (Internet hosts).
 Konsumsi energi listrik per kapita.
12. Perijinan usaha/investasi di daerah (lama proses, biaya, mekanisme, kebijakan daerah
yang relevan).

7
Untuk membahas lebih komprehensif dan mendalam tentang indikator kapasitas inovasi dapat dilihat pada
Frascati family, OECD, 2002 serta indikator iptek, LIPI dan KRT, 2002.

17
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

13. Jumlah paten (dan jenis HKI lain).8


14. Spesialisasi daerah. Data ini terutama yang menunjukkan peran relatif sektor ekonomi
daerah dan di daerah itu sendiri.
15. Arus (dinamika) ekonomi daerah.
16. Klaster industri yang berkembang baik.
17. Produktivitas tenaga kerja atau nilai tambah per tenaga kerja (pada setiap sektor).
18. Produktivitas tenaga kerja atau nilai tambah per tenaga kerja (pada setiap klaster
industri).
19. Produktivitas menurut skala usaha.
20. Perkembangan unit usaha.
21. Formasi bisnis (perusahaan) pemula.
22. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
23. Ekspor dalam kategori teknologi menengah dan tinggi (sebagai % dari ekspor total)
dari daerah ke luar daerah (termasuk ke pasar internasional).

Beberapa data/indikator yang mencerminkan kohesi sosial memang tidak mudah untuk
dirumuskan dan dihimpun. Namun beberapa data dasar menyangkut “keamanan,” himpunan
komunitas untuk beraktivitas kolektif, partisipasi dapat dimulai untuk dihimpun. Sementara
beberapa data yang lebih menunjukkan “penilaian” subyektif dapat mulai dikembangkan
dengan melakukan survei opini khusus. Beberapa data dasar tersebut misalnya
menyangkut:
1. Keamanan. Ini misalnya berkaitan dengan:
 kerusuhan sosial.
 tindak pidana.
2. Asosiasi bisnis dan profesi.
3. Partisipasi masyarakat (kelompok masyarakat) dalam pembangunan. Beberapa data
yang dapat dimulai dihimpun misalnya berkaitan dengan:
 Partisipasi kerja dari kelompok masyakat tertentu (misalnya menurut kelompok
usia).
 Partisipasi masyarakat dalam bidang dan/atau aktivitas berinovasi, bisnis dan
sosial tertentu.

Beberapa data yang terkait dengan dimensi berikut juga dapat mulai dikembangkan di
daerah. Observasi tersebut dapat mencakup beberapa dimensi berikut:9
 Dimensi ketenagakerjaan

8
Selain hal tersebut di atas, penerimaan royalti atau pembayaran royalti atas pemanfaatan Hak Kekayaan
Intelektual (HKI) juga merupakan data yang dapat dihimpun oleh daerah. Hal ini dapat diketahui melalui
pembayaran pajak dari penerima royalti.
9
Catatan: beberapa data ini di beberapa daerah sebenarnya telah mulai dihimpun secara reguler.

Tatang A. Taufik 18
 Eksklusi sosial
 Distribusi pendapatan
 Kesaling-percayaan (trust)
 Keanggotaan asosiasi
 Pemirsa TV dan radio (penggunaan komputer, internet telah ada dalam data/indikator
yang disampaikan pada bagian sebelumnya)
 Sirkulasi surat kabar
 Pemungutan suara
 Keragaman kelompok etnis
 Jumlah pengacara.
 Beberapa data terkait dengan kinerja ekonomi seperti:
 pertumbuhan ekonomi
 pengangguran
 kinerja investasi
 pendapatan yang dapat dibelanjakan
 inflasi
 indeks kesejahteraan manusia.

4. CATATAN PENUTUP

Pemahaman tentang konteks sistem yang ditelaah, isu kebijakan, faktor-faktor


penentu/pendorong, dan kinerja sistem, serta dinamika proses perkembangan/ perubahaan
berkaitan dengan sistem inovasi, daya saing dan kohesi sosial merupakan bagian yang
sangat penting dari proses pembelajaran kebijakan inovasi. Proses peningkatan
pemahaman demikian perlu dilakukan antara lain melalui berbagai aktivitas seperti analisis,
kajian, pemantauan, evaluasi, studi pebandingan dan benchmarking, pertukaran informasi
(termasuk good/best practices), peer review, dan lainnya.
Hal ini tentunya hanya dapat dilakukan apabila data (dan informasi) pendukung yang
relevan, akurat, tepat waktu, dan berkelanjutan dalam jumlah dan kualitas yang memadai
dapat tersedia dan terakseskan oleh pihak yang berkepentingan. Kebijakan yang “tepat”
sangat ditentukan/berkaitan dengan “konteks” (baik setting, isu, perkembangan, dan timing)
di mana kebijakan tersebut diterapkan dalam mencapai tujuan tertentu. Kriteria kebijakan
yang baik berkaitan dengan konteks aktualnya (baik berdasarkan perkembangan masa lalu,
kekinian, dan masa depan yang perlu diantisipasi). Oleh karena itu, advis kebijakan yang
baik berpangkal dari kajian yang baik yang didukung oleh data faktual yang memadai.
Berbagai ketertinggalan/kelemahan ketersediaan data yang memadai berkaitan
dengan sistem inovasi, daya saing dan kohesi sosial di Indonesia (pada tataran nasional
maupun daerah) dibanding beberapa negara di ASEAN, Asia dan negara-negara maju perlu
segera diatasi. Kesulitan awal dalam mempelajari bagaimana analisis, kajian, pemantauan,
evaluasi, studi pebandingan dan benchmarking, pertukaran informasi, maupun peer review,

19
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

dapat dilakukan dengan baik berpangkal antara lain dari keterbatasan ketersediaan data
relevan yang memadai (dalam jumlah dan kualitasnya).
Oleh karena itu, makalah ini menyampaikan ajakan kepada berbagai pihak, khususnya
di daerah untuk segera memprakarsai penataan data. Sebagai langkah awal, makalah ini
menawarkan konsep dan pendekatan serta beberapa hal yang dapat diterapkan sebagai
tahapan awal upaya penataan data berkaitan dengan sistem inovasi, daya saing dan kohesi
sosial di daerah. Beberapa pokok atribut data/indikator disampaikan untuk mulai dapat
dimulai pendataannya di daerah dan disarankan untuk dilakukan secara reguler serta
dipublikasikan sebagai pengayaan dalam “daerah dalam angka” yang hingga kini biasanya
diterbitkan oleh setiap daerah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Abdullah, Piter, Armida S. Alisjahbana, Nurry Effendi, dan Boediono (2002). Daya
Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indonesia. Pusat Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan – Bank Indonesia. BPFE. 2002.
2. Arundel, Anthony dan Hugo Hollanders. (2003). Methodology Report. 2003 European
Innovation Scoreboard: Technical Paper No 6. A publication from the Innovation/SMEs
Programme. Enterprise Directorate-General. European Commission. European Trend
Chart on Innovation. November 14, 2003.
3. Boekholt, Patries, Shonie McKibbin dan Philip Sowden. (2004). Benchmarking
‘Innovation Excellence’ as a Tool for Innovation Policy. Background Paper (Using input
from the Trend Chart correspondents and the Synthesis Report by Slavo Radosevic).
Trend Chart Policy Workshop. European Commission. European Trend Chart on
Innovation. Leiden, 11-12 October 2004.
4. Chen, Derek H. C. dan Carl J. Dahlman. (2005). The Knowledge Economy, the KAM
Methodology and World Bank Operations. The World Bank, Washington DC 20433.
October 19, 2005.
5. Clark, John dan Ken Guy (1997). Innovation and Competitiveness. Technopolis. July
1997.
6. Cooke, Philip. (1998). The Role of Innovation in Regional Competitiveness. Paper
presented at the 5th Nordic-Baltic Conference in Regional Science "Global-Local
Interplay in the Baltic Sea Region" held in Pärnu 1-4th October, 1998. dari
http://www.geo.ut.ee/nbc/paper/cooke.htm
7. Gardiner, Ben (2003). Regional Competitiveness Indicators for Europe - Audit,
Database Construction and Analysis. Regional Studies Association International
Conference. Pisa, 12-15 April, 2003.
8. Garelli, Stephane (2003). Competitiveness of Nations: The Fundamentals. IMD World
Competitiveness Yearbook 2003. Dari: http://www.imd.ch/documents/wcy/content/
Fundamentals.pdf
9. Hollanders, Hugo. (2003a). Regional Innovation Performances. 2003 European
Innovation Scoreboard: Technical Paper No 3. A publication from the Innovation/SMEs
Programme. Enterprise Directorate-General. European Commission. European Trend
Chart on Innovation. November 28, 2003.

Tatang A. Taufik 20
10. Hollanders, Hugo. (2003b). Analysis of National Performances. 2003 European
Innovation Scoreboard: Technical Paper No 2. A publication from the Innovation/SMEs
Programme. Enterprise Directorate-General. European Commission. European Trend
Chart on Innovation. November 20, 2003.
11. Hollanders, Hugo. (2003c). Indicators and Definitions. 2003 European Innovation
Scoreboard: Technical Paper No 1. A publication from the Innovation/SMEs
Programme. Enterprise Directorate-General. European Commission. European Trend
Chart on Innovation. November 11, 2003.
12. Jeannotte, M. Sharon. (2003). Social Cohesion: Insights from Canadian Research.
Presented at the Conference on Social Cohesion, Hong Kong – November 29, 2003.
Reference: SRA-788.
13. KPPOD. (berbagai terbutan). (Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah):
14. Malecki, Edward J. (1999). Knowledge and Regional Competitiveness. Paper prepared
for presentation at the International Symposium: “Knowledge, Education and Space.”
Heidelberg, Germany. September 1999.
15. Maskell, Peter dan Anders Malmberg. (1995). Localised Learning and Industrial
Competitiveness. Paper presented at the Regional Studies Association European
Conference on "Regional Futures"Gothenburg, 6. -9. May 1995. BRIE Working Paper
80. October 1995. Dari http://brie.berkeley.edu/pubs/pubs/wp/wp80.html
16. McCracken, Mike. (1998). Social Cohesion and Macroeconomic Performance. CSLS
Conference on the State of Living Standards and the Quality of Life in Canada. October
30 - 31, 1998 Château Laurier Hotel, Ottawa, Ontario – Canada.
17. McFetridge, Donald G. (1995). Competitiveness: Concepts and Measures. Industry
Canada. Occasional Paper Number 5. April 1995.
18. Mytelka, Lynn K. dan Keith Smith. (2001). Innovation Theory and Innovation Policy:
Bridging the Gap. Paper presented to DRUID Conference. Aalborg, June 12-15 2001.
Dari http://www.druid.dk/conferences/nw/paper1/mytelka_smith.pdf
19. NGA / Philip Psilos (Lead Writer) (2002c). A Governor’s Guide to Trade and Global
Competitiveness. National Governors Association.
20. OECD. (1999). Managing National Innovation Systems. Organisation for Economic Co-
operation and Development (OECD). 1999.
21. OECD. (1997). The Measurement of Scientific and Technological Activities - Proposed
Guidelines for Collecting and Interpreting Technological Innovation Data (Oslo
Manual). Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). 1997.
22. OECD. (1995). The Measurement of Scientific and Technological Activities - Manual Of
The Measurement of Human Resources Devoted To S&T (Canberra Manual).
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). 1995.
23. OECD. (1993). The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and
Experimental Development (Frascati Manual 1993). Organisation for Economic Co-
operation and Development (OECD). 1993.
24. OECD. (1990). Proposed Standard Method of Compiling and Interpreting Technology
Balance of Payments Data (TBP Manual). Organisation for Economic Co-operation and
Development (OECD). 1990.

21
Penyusunan Data Dasar Sistem Inovasi, Daya Saing, dan Kohesi Sosial Daerah

25. Porter, Michael E. (2003). Building the Microeconomic Foundations of Prosperiy:


Findings from the Business Competitiveness Index. Dalam “The Global
Competitiveness Report 2003-2004.” World Economic Forum. 2003.
26. Porter, Michael E. (1990). The Competitive Advantage of Nations. The Free Press.
New York.
27. Porter, Michael E dan Scott Stern. (2001). National Innovative Capacity. Dalam “The
Global Competitiveness Report 2001-2002.” New York: Oxford University Press, 2001.
Dari http://www.isc.hbs.edu/
28. Schienstock, Gerd (1999). Regional Competitiveness: A Comparative Study of Eight
European Regions. Paper to be presented at the Danish Research Unit for Industrial
Dynamics (DRUID). Summer Conference on National Innovation Systems, Industrial
Dynamics and Innovation Policy, Rebild, June 9 – 12, 1999.
29. Smith, Keith. (1996). Systems Approaches to Innovation: Some Policy Issues. STEP-
Group, Oslo, Norway.
30. Tassey, Gregory.(1999a). R&D Policy Models and Data Needs. APPAM 1999
Research Conference. November 4, 1999. Alamat web:
http://www.nist.gov/director/planning/ strategicplanning.htm
31. Taufik, Tatang A. (2005). Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif
Kebijakan. P2KTPUDPKM – BPPT dan KRT. 2005.
32. Widayanto, Yudi (2003). Daya Saing Wilayah dalam Perspektif Teknologi: Studi Kasus
119 Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Bali. Makalah dalam Prosiding “Seminar
Teknologi untuk Negeri,” Volume V – Bidang Kebijakan Teknologi. Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi, 20 – 22 Mei 2003.

Tatang A. Taufik 22